Anda di halaman 1dari 11

A.

Definisi Epilepsi
Epilepsi adalah kejang yang menyerang seseorang yang tampak sehat atau
sebagai suatu ekserbasi dalam kondisi sakit kronis sebagai akibat oleh
disfungsi otak sesaat dimanifestasikan sebagai fenomena motorik, sensorik,
otonomik, atau psikis yang abnormal. Epilepsi merupakan akibat dari
gangguan otak kronis dengan serangan kejang spontan yang berulang
(Satyanegara, 2010)
Epilepsi adalah setiap kelompok sindrom yang ditandai dengan gangguan
otak sementara yang bersifat paroksimal yang dimanifestasikan berupa
gangguan atau penurunan kesadaran yang episodik, fenoena motorik yang
abnormal, gangguan psikis, sensorik, dan sistem otonom; gejala gejalanya
disebabkan oleh aktivitas listrik otak (Kumala, et al, 1998)
B. Etiologi Epilepsi
Menurut Mansjoer, Arif etiologi dari epilepsi adalah:
1. Idiopatik: sebagian besar epilepsy pada anak
2. Factor herediter,ada beberapa penyakit yang bersifat herediter yang
disertai bangkitan kejang seperti sklerosis tuberose, neurofibromatosis,
angiomatosis ensefalotrigeminal, fenilketonuria, hipoparatiroidisme,
hipoglikemia.
3. Factor genetic: pada kejang demem dan breath holding spells
4. Kelainan congenital otak: atropi, porensefali, agenesis korpus kalosum
5. Gangguan metabolik: hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia
6. Infeksi: radang yang disebabkan bakteri atau virus pada otak dan
selaputnya,toxoplasmosis
7. Trauma: kontusio serebri, hematoma subaraknoid, hematoma subdural
8. Neoplasma otak dan selaputnya
9. Kelainan pembuluh darah, malformasi, penyakit kolagen
10. Keracunan: timbale (Pb), kapur barus, fenotiazin,air
11. Lain-lain: penyakit darah,gangguan keseimbangan hormone,degenerasi
serebral,dan lain-lain.
C. Manifestasi Klinis
Kejang terbagi dalam dua macam, yaitu:
1. Kejang parsial
a. Kejang Parsial Sederhana
o Tetap sadar dan waspada
o Gejala motorik teralokasi pada salah satu sisi tubuh
o Gejala somatosensori, psikis, otonomik
Manifestasi :
- Kejang aversive : mata dan kepala saling menjauh dari sisi fokus
dan ada kesadaran terhadap gerakan
- Kejang Rolandic (sylvian) : gerakan tonik klonik yang melibatkan
wajah, salivasi, bicara berhenti, paling umum selama tidur.
- Gerakan Jacksonia : berkembang secara berurutan dimulai dari
kaki, tangan, atau wajah.
b. Kejang Sensori Khusus

Dicirikan dengan berbagai sensasi, seperti: kebas, kesemutan, rasa


tertusuk, parestesia, atau nyeri yang berasal dari satu area (misal
wajah atau ekstermitas) dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.
c. Parsial Kompleks
o Aura : perasaan kuat pada dasar lambung yang naik ke tenggorok;
halusinasi rasa atau pendengaran serta penglihatan.
o Kerusakan kesadaran : tampak linglung, tidak dapat berespon atau
mengikuti instruksi
o Automatisme: menjadi lemas atau kaku, mengulang kata-kata,
menarik-narik pakaian, mengunyah, atau bertindak agresif.
o Pasca Kejang : setelah kejang anak dapat merasa disorientsi, tidak
mempunyai ingatan tentang fase kejang.
2. Kejang umum
a. Kejang tonik-klonik (Grand Mal)
- Fase tonik: mata ke atas, kesadaran hilang segera, bila berdiri dapat
jatuh, kekakuan pada seluruh otot tubuh, lengan fleksi, kaki-kepala
dan leher ekstensi, tangisan melengking, apnea, peningkatan
salivasi
- Fase klonik : gerakkan menyentak kasar pada saat tubuh dan
ekstermitas berada pada kontraksi dan relaksasi yang berirama,
berbusa pada mulut karena hipersalivasi, dapat mengalami
inkontinensia urin dan feses.
- Saat kejang berakhir : gerakan berkurang lalu berhenti secara
keseluruhan
- Status epileptikus : urutan kejang dengan interval yang terlalu
singkat untuk memungkinkan anak sadar kembal diantara episode
sebelum dan sesudahnya. Dapat menimbulkan kelelahan, gagal
napas, dan kematian.
- Status pasca kejang : tampak rileks, semi-sadar namun suli untuk
bangun, terbangun dalam beberapa menit, koordinasi buruk,
kerusakan ringan pada motorik halus, dapat mengalami kesulitan
penglihatan dan bicara, muntah atau mengeluh kepala sakit berat,
tidak timbul reflek menelan setelah beberapa menit, waktu tidur
lebih lama, dan tidak ada ingatan mengenai seluruh kejadian.
b. Tidak ada kejang (petit mal atau lapses)
Ditandai dengan, kehilangan kesadaran singkat, berakhir sekitar 510detik, kehilangan sedikit tonus otot, kedutan di bola mata atau
wajah, tidak disertai inkontinensia, dan amnesia pada episode.
c. Kejang atonik (Serangan drop)
Kehilangan tonus otot, tidak dapat menyangga jatuh dengan
menyangga tangan, dapat menyebabkan cedera serius pada kepala,
wajah, atau bahu, dan dapat atau tidak mengalami kehilangan
kesadaran sementara.
d. Kejang akinetik

Gerakan kurang tanpa kehilangan tonus otot, anak kakau pada posisi
tertentu dan tidak jatuh, serta dapat terjadi gangguan atau hilangnya
kesadaran.
e. Kejang mioklonik
Terjadi sesekali atau berulang, tidak kehilangan kesadaran, dapat
dikacaukan dengan reflek kejut yang berlebih. Biasanya terjadi pada
pagi hari, dengan sentakan yang tiba-tiba.
D. Patofisiologis
Adanya predisposisi yang memungkinkan gangguan pada sistem listrik
dari sel sel saraf pusat pada suatu bagian otak akan menjadikan sel-sel
tersebut memberikan muatan listrik yang abnormal, berlebihan, secara
berulang, dan tidak terkontrol.
Aktivitas serangan epilepsi dapat terjadi setelah gangguan pada otak da
sebagian ditentukan oleh derajat dan lokasi dari lesi. Lesi pada mensefalon,
talamus, dan korteks serebri kemungkinan besar bersifat epileptogenik
sedangkan lesi pada srebelum dan batang otak biasanya tidak menimbulkan
serangan epilepsi (Bruner, 2003)

E. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium:
- Pemeriksaan darah tepi secara rutin
- Pemeriksaan lain sesuai indikasi misal kadar gula darah, elektrolit
- Pemeriksaan CSS mengetahui tekanan, warna, kejernihan, berdarah,
jumlah sel, kadar protein, gula, NaCl.
Pemeriksaan EEG
- Dischargelepileptiform activity seperti spike dan wave paroksimal slow
activity
- Dapat menentukan fokus serta jenis epilepsi, apakah fokal, multifokal,
kortikal, subkortikal, misalnya: petit mal mempunyai gambaran 3cps spike
and wave dan spasme infantil mempunyai gambaran hipsatitmia
Pemeriksaan radiologis
Hasil foto tengkorak memperlihatkan:
- Tulang tengkorak simetri
- Destruksi tulang
- Intrakranium yang abnormal (disebabkan oleh tumor, hematoma menahun,
toksoplasmosis), tanda peninggian intrakranial: pelebaran sutura.
F.

Penatalaksanaan
1. Non farmakologi
a Amati faktor pemicu
b Menghindari faktor pemicu, misalnya: stress, konsumsi kopi atau
alkohol, perubahan jadwal tidur, terlambat makan, dlln.
2. Farmakologi
a. Obat anti epilepsi OAE mulai diberikan apabila diagnosis epilepsi
sudah dipastikan, terdapat minimum 2 kali bangkitan dalam setahun.
Selain itu pasien dan keluarganya harus terlebih dahulu diberi
penjelasan mengenai tujuan pengobatan dan efek samping dari
pengobatan tersebut.
b. Terapi dimulai dengan monoterapi
c. Pemberian obat dimulai dengan dosis rendah dan dinaikka secara
bertahap sampai dengan dosis efektif tercapai atau timbul efek
samping obat.
d. Apabila dengan OAE dosis maksimum tidak dapat mengontrol
bangkitan, maka ditambahkan OAE pertama dosisnya diturunkan
secara perlahan.
e. Adapun penambahan OAE ketiga baru diberikan setelah terbukti
bangkitan tidak terkontrol dengan pemberian OAE pertama dan kedua.

Jenis
bangkitan
Tonikklonik
Petit mal

OAE
lini pertama
Sodium valporat
Lamotrigine
Topiramate
Carbamazepine
Sodium valporat
Lamotrigine

Mioklonik

Sodium valporat
Topiramate

Tonik

Sodium valporat
Lamotrigine

Atonik

Sodium valporat
Lamotrigine

Fokal
dengan
atau tanpa
bangkitan
umum

Sodium valporat
Lamotrigine
Topiramate
Carbamazepine
Oxarbazepine

OAE
lini kedua
Clozabam
Levetiracetam
Oxarbazepine

OAE yang
dipertimbangkan
Clonazepam
Phenobarbital
Phenytoin
Acetazolamide

Clozabam
Topiramate
Clozabam
Topiramate
Lamotrigine
Levetiracetam
Piracetam
Clozabam
Topiramate
Levetiracetam
Clozabam
Topiramate
Levetiracetam
Sodium valporat
Lamotrigine
Topiramate
Carbamazepine
Oxarbazepine
Tiagabine

OAE
yang dihindari

Carbamazepine
Gabapentin
Oxarbazepine
Carbamazepine
Gabapentin
Oxarbazepine
Phenobarbital
Phenytoin

Carbamazepine
Oxarbazepine

Phenobarbital
Acetazolamide

Carbamazepine
Oxarbazepine
Phenytoin

Clonazepam
Phenobarbital
Acetazolamide

Setelah bangkitan terkontrol dalam jangka waktu tertentu, OAE


dapat dihentikan tanpa kekambuhan. Penghentina pada anak dlakukan
secara bertahap setelah 2 tahun bebas dari bangkitan kejang.
G. Perawatan Sesaat dan Sesudah Kejang
Selama Kejang:
1. Berikan privasi dan lindungan dari penonton yang ingin tahu,
2. Mengamankan pasien di lantai, jika memungkinkan
3. Melindungi kepala dengan bantalan untuk mengurangi cedera
4. Lepas pakaian yang ketat
5. Singkirkan semua perabotan yang dapat mencederai pasien selama kejang
6. Jika pasien ditempat tidur singkirkan bantal dan tinggikan pagar tempat
tidur
7. Jika nampak akan menggigit lidah berikan spatel lidah dibungkus kasa
diantara gigi
8. Jangan berusaha membuka rahang yang terkatup untuk mengurangi
fraktur dan memasukkan sesuatu seperti air agar tidak tersedak
9. Tidak ada upaya untuk direstrain karena saat kejang terjadi otot kontraksi
dan dapat erjadi kekakuan sehingga dapat menimbulkan cedera

10. Jika mungkin fleksikan kepala ke depan, yang memungkinkan lidah jatuh
dan memudahkan pengeluaran saliva dan mukus. Jika sedia penghisap,
hisap sekret
Setelah Kejang:
1. Pertahankan pasien pada satu sisi untuk mencegah aspirasi. Yakinkan
bahwa jalan napas paten
2. Periode apnea dapat terjadi selama atau secara tiba-tiba setelah kejang
3. Saat pasien sadar harus diorientasikan dengan lingkungan
H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Anamnesa
1. Biodata: nama, jenis kelaim, umur,
2. Riwayat kesehatan: riwayat kejang sebelumnya, penyakit yang
diderita klien sebelumnya
3. Riwayat prenatal: ibu penderita DM, status gizi saat hamil, konsumsi
obat-obatan, alkohol
4. Riwayat persalinan : secara spontan, lamanya persalinan
5. Riwayat aktivitas kejang : gambaran perilaku anak saat kejang, kejang
terjadi saat anak makan, minum, istirahat atau aktivitas, adanya faktor
pencetus misal: demam, trauma kepala, infeksi, keletihan, ansietas,
6. Observasi saat kejang:
a. Urutan kejadian kejang mulai dari sebelum,saat dan sesudah
b. Lamanya kejang sampai anak sadar atau episode selanjutnya
c. Awitan: bising, kegirangan, atau emosi berlebihan, perubahan
ekspresi wajah, seperti ada rasa takut.
d. Gerakan: tangan, jari, mulut, kedutan menyentak, urutan bagian
yang kena, dan perubahan dalam karakteristik gerakan
e. Wajah: warna pucat, sianosi kemerahan, keringat, mulut
menyimpang ke salah satu sisi, gigi mengatup, lidah tergigi, mulut
berbusa, flek darah atau perdarahan, posisi mata yang
menyimpang ke atas atau keluar,
f. Pernapasan: adanya stertor (menggorok) atau ada dan lamanya
apnea.
7. Observasi sesudah kejang: status kesadaran tidak respon, mengantuk,
perubahan kekuatan otot motorik, bicara kesulitan, terdapat nyeri atau
tidak, adanya kerusakan sensori pendengaran dan penglihatan,
Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital
2. Pemeriksaan kepala leher
- Penyebaran rambut dan warna
- Terpasang oksigen, ngt
- Bibir kering pucat
3. Pemeriksaan sirkulasi
- Pola napas: dyspneu, apneu
- Retraksi otot bantu napas

- Pernapasan cuping hidung


4. Pemeriksaan metabolik-integumen
- Sianosis atau kemerahan
- Terdapat edema, dan terpasang selang infus atau cateter
- Abdomen acites, dan bising usus
5. Pemeriksaan dada thorak
- Bentuk dada: barrel chest, funnel chest, pigeon chest
- Suara napas tambahan atau tidak
6. Pemeriksaan ektermitas
- Kekuatan ekstermitas dan reflek terhadap rangsangan
7. Pemeriksaan genetalia
- Terdapat lesi, bengkak.
2. Diagnosa Keperawatan
- Ketidakefektifan jalan napas b.d spasme jalan napas, obstruksi
trakeobronkial
- Ketidakmampuan koping keluarga b.d stress akibat epilepsi
- Harga diri rendah b.d perubahan perkembangan
- Kerusakan memori b.d gangguan neurologis
- Risiko cidera b.d resiko tingkat kesadaran, gelisah, gerakan
involunter, dan kejang
- Isolasi sosial b.d gangguan kondisi kesehatan
- Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kendali dan masa otot,
gangguan sensori perseptual
- Ansietas b.d. perubahan pola interaksi sosial
- Defisiensi pengetahuan b.d kurangnya informasi penatalaksanaan
kejang
3. Rencana Tindakan Keperawatan
Dx
Ketidakefektifan
jalan napas b.d
spasme jalan
napas, obstruksi
trakeobronkial

Tujuan dan kriteria


hasil
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
diharapkan jalan
napas menjadi
efektif, dengan
kriteria:
NOC:
Respiratory status:
ventilation
Respiratory status:
airway patency
Kriteria hail:
1. Tidak ada dsypneu
dan sianosis,
mampu

Intervensi

Rasional

- Auskultasi suara
napas
- Berikan terapi
O2 sesuai
kebutuhan dan
posisikan pasien
- Monitor vital
sign
- Ajarkan dan
lakukan
fisioterapi dada
- Berikan obat
terapi
bronkodilator
bila perlu
-

- Memonitor bila
ada peningkatan
sekret
- Memaksimalkan
ventilasi
- Abnormalitas
TTV
menunjukkan
ketidakefektifan
pola napas
- Membantu
mengeluarkan
sekret dan agar
dapat dilakukan
keluarga secara
mandiri bila

Risiko cidera b.d


resiko tingkat
kesadaran,
gelisah, gerakan
involunter, dan
kejang

mengeluarkan
sputum, mampu
bernapas dengan
mudah
2. Menunjukkan
jalan napas paten,
tidak tercekik,
tidak ada suara
tambahan
3. TTV dalam batas
normal:
N: 130x/mnt,
S: 36,5-37,5C
RR: 21-30x/mnt
TD: 70-90/ 50
mmHg
Setelah dilakukan
tidakan keperawatan
selama serangan
kejang, diharapkan
tidak terjadi cedera
dengan kriteria:
NOC: Risk kontrol
Kriteria Hasil:
1. Klien terbebas dari
cidera
2. Keluarga klien
mampu mencegah
cidera
3. Keluarga klien
mampu
menjelaskan faktor
risiko lingkungan
4. Mampu mengenali
perubahan status
kesehatan

sudah KRS
- Mempercepat
proses
keperawatan

- Selama serangan
kejang sediakan
lingkungan yang
aman untuk
privasi pasien
- Lindungi kepala
dengan bantalan
untuk mencegah
cedera
- Buka pakaian
yang ketat
- Memasang side
rail tempat tidur
- Jika kejang
dengan
menggigit lidah
atau bibir maka
berikan spatel
lidah yang
dibungkus kasa
dan diletakkan
diantara gigi
- Jangan
memasukkan
sesuatu seperti
minum saat
kejang terjadi
- Jangan biarkan
klien sendirian
bila dipinggir
kolam, sungai,
atau sumur

- Saat kejang,
pakaian klien
dapat tersingkap,
sehingga privasi
tetap terjaga
- Melindungi klien
dari trauma
kepala akibat
benturan
- Pakaian yang
ketat
mengganggu
sistem
pernapasan
- Pasang pagar
tempat tidur
menghindari dari
pasien terjatuh
- Saat kejang lidah
dapat tergigit
- Menghindari
tersedak sesuatu
- Serangan dapat
terjadi secara
mendadak tanpa
melihat lokasi
- Tindakan ini
memungkinkan
lidah jatuh
kedepan, dan
pengeluaran
saliva dan mukus.

- Saat kejang
miringkan klien
dengan kepala
fleksi kedepan
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan, koping
keluarga membaik
dengan kriteria:
NOC:
- Family coping
disable
- Parenting,
impaired
Kriteria hasil:
Ketidakmampuan 1. Keluarga klien
koping keluarga
dapat mengatasi
b.d stress akibat
masalah yang
epilepsi
dihadapi
2. Keluarga klien
dapat memahami
kondisi dan
keterbatasan yang
diakibatkan
epilepsi
3. Keluarga klien
mau bekerjasama
dengan petugas
kesehatan
Defisiensi
pengetahuan b.d
kurangnya
informasi
penatalaksanaan
kejang

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan,
pengetahuan
keluarga dan klien
dapat meningkat
dengan kriteria:
NOC:
- Knowledge :
disease process
- Knowledge: health
behavior
Kriteria hasil:
1. Keluarga dapat
menyebutkan
gejala, penyebab,
dan perawatan

Jika disediakan
penghisap
gunakan untuk
membersihkan
sekret.

- Klien dengan
perilaku epilepsi
biasanya
diasingkan dari
- Kaji perasaan
berbagai aktivitas
takut, asing,
- Klien epilepsi
depresi, dan tidak
dapat mengalami
asing
masalah
- Kaji adanya
kerusakan otak
masalah
sehingga
psikologis seperti
memerlukan
skizofrenia dan
penanganan
impulsi atau
kesehatan mental
perilaku cepat
yang
marah
komperhensif
- Lakukan
- Konseling dapat
konseling terhadap
membantu
individu dan
keluarga
keluarga
memahami
kondisi dan
terebatasan akibat
dari epilepsi
- Berikan
pendidikan
mengenai
penyebab,
pencegahan, dan
cara perawatan
epilepsi
- Ajarkan keluarga
cara perwatan
bila terjadi
serangan kejang
- Baritahukan
keluarga untuk
melakukan
kontrol secara
teratur ke unit
pelayanan

- Pendidikan
epilepsi
bermanfaat
untuk
mengubah
perilaku klien
dan keluarga
terhadap
penyakitnya
sendiri
- Dengan
mengetahui
perawatan bila
terjadi serangan
dapat mencegah
risiko cidera
pada klien

epilepsi
2. Keluarga dapat
bkerjasama dengan
petuga kesehatan
selama perawatan
3. Keluarga dapat
melakukan kontrol
kesehatan secara
teratur ke unit
pelayanan
kesehatan
4. Klien
mengkonsumsi
obat sesuai resep
dokter

kesehatan
- Beritahukan
klien untuk rajin
mengkonsumsi
obat yang
diresepkan

- Kontrol secara
teratur ke unit
pelayanan
kesehatan dapat
meningkatkan
status kesehatan
klien
- Dapat
mengurangi
risiko terjadinya
konumsi obat
lain yang justru
berbahaya bagi
kesehatan klien

DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif.2008. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem
persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan Sitem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
NANDA NIC-NOC.2015.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC Jilid 3. Jogjakarta: Mediaction Jogja.
Wong, Donna L. 1996. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta:
Kedokteran EGC
Setiawan, Doni dkk. 2014. Keperawatan Anak dan Tumbuh Kembang
(Pengkajian dan Pengukuran). Yogyakarta: Nuha Medika.