Anda di halaman 1dari 29

ASURANSI SYARIAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fiqh Muamalah
Kontemporer
Dosen Pengampu: Nur Hidayah, PhD

Disusun oleh:
Kelompok 8
Irfan Gian Pratama
Asmawati
Lia Murdiani

151401696
151401697
151401694

EKONOMI SYARIAH-B/III
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTAN MAULANA HASANUDIN BANTEN
2016

Daftar Isi

Asuransi Syariah
Daftar Isi.....................................................................................................................................i
Kata Pengantar...........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
A.

Latar Belakang.............................................................................................................1

B.

Rumusan Masalah.......................................................................................................2

C.

Tujuan..........................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................3
A.

Asuransi Syariah Dalam Perspektif Hukum Islam......................................................3

B.

Potensi Asuransi Syariah Di Indonesia........................................................................7

C.

Peraturan Perundang-Undangan Asuransi Syariah Di Indonesia................................9

D.

Manajemen Asuransi Syariah Di Indonesia..............................................................10

E.

Peluang, Tantangan dan Permasaahan Asuransi Syariah Di Indonesia.....................16

BAB III PENUTUP..................................................................................................................22


A.

Kesimpulan................................................................................................................22

B.

Saran..........................................................................................................................22

Daftar Pustaka..........................................................................................................................23

Kata Pengantar
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah sederhana
ini, meskipun sangat jauh dari kata sempurna. Shalawat serta salam tak
lupa kami panjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW,
keluarga, sahabat serta para pengikut-pengikut beliau sampai akhir
zaman.
Tujuan dalam pembuatan makalah ini antara lain untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Fiqh Muamalah Kontemporer. Selain itu juga
menambahkan

wawasan

para

pembaca

sekalian

tentang

Asuransi

Syaraiah . Mengingat hal tersebut sangat penting kedudukannya dalam


kehidupan kita. Semoga makalah ini mampu untuk menambah sedikit
ilmu.
Makalah ini memang jauh dari kesempurnaan, baik dalam isi,
susunan, maupun penyajiannya. Untuk itu, segala kritik dan saran dari
teman-teman semuanya dibutuhkan. Agar selanjutnya dapat kami jadikan
sebagai pijakan, supaya pada makalah berikutnya bisa lebih baik lagi.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah
ini bermanfaat bagi para pembaca dan khususnya bagi para mahasiswa.

Serang, Agustus 2016

Penyusun
2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asuransi dalam perkembangannya di Indonesia berasal dari kata belanda
assurantie yang kemudian menjadi " asuransi " dalam Bahasa Indonesia. Secara
umum pengertian asuransi adalah perjanjian antara penanggung (perusahaan asuransi)
dengan tertanggung (peserta asuransi)

yang dengan menerima premi dari

tertanggung,penanggung berjanji akan membayar sejumlah pertanggunan manakala


tertanggung. Sedangkan asuransi syariah secara terminologi adalah tentang tolong
memolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset
dan/atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko
tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.
Asuransi dalam dunia Islam menimbulkan berbagai macam perdebatan di
kalangan ulama. Sebagian setuju dan sebagian yang lainnya menolak adanya asuransi.
Mereka punya berbagai macam alasan tentang sebab-sebab mereka menolak dan
menerima keberadaan asuransi syariah. Terkait berbagai perdebatan yang terjadi di
kalangan masyarakat, membuat jerat baru untuk menghambat pertumbuhannya.
Masyarakat muslim sekarang sangat memerlukan asuransi untuk melindungi
harta dan keluarga mereka dari akibat musibah usaha. Usaha yang maju dan
menguntungkan mungkin bisa bangkrut dalam seketika ketika kebakaran melanda
dalam usahanya. Asuransi memang tidak bisa mencegah musibah tapi setidaknya bisa
menanggulangi akibat keuangan yang terjadi.

B. Rumusan Masalah
1

1. Bagaimana pandangan hukum Islam mengenai asuransi syariah ?


2. Bagaimana potensi perkembangan asuransi syariah di Indonesia ?
3. Apa saja peraturan perundang -undangan asuransi syariah di Indonesia?
4. Bagaimana perkembangan manajemen asuransi syariah di Indonesia?
5. Apa saja peluang, tantangan dan permasalahan asuransi syariah di Indonesia?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam mengenai asuransi syariah.
2. Untuk mengetahui potensi perkembangan asuransi syariah di Indonesia.
3. Untuk mengetahui Apa saja peraturan perundang -undangan asuransi syariah di
Indonesia.
4. Untuk mengetahui perkembangan manajemen asuransi syariah di Indonesia.
5. Untuk mengetahui Apa saja peluang, tantangan dan permasalahan asuransi syariah
di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Asuransi Syariah Dalam Perspektif Hukum Islam


1. Pengertian Asuransi
Asuransi berasal dari kata assurantie dalam bahasa Belanda,
atau assurance dalam

bahasa

atau assurance/insurance dalam

bahasa

berarti

yang

menanggung

sesuatu

perancis,
Inggris.

pasti

Assurance

terjadi,

sedang

Insurance berarti menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak


mungkin terjadi.
Menurut sebagian ahli asuransi berasal dari bahasa Yunani,
yaitu assecurare yang berarti menyakinkan orang. Di dalam
bahasa Arab asuransi dikenal dengan istilah : at Takaful,atau at
Tadhamun yang berarti : saling menanggung. Asuransi ini disebut
juga dengan istilah at-Tamin, berasal dari kata amina, yang
berarti aman, tentram, dan tenang. Lawannya adalah al-khouf,
yang berarti takut dan khawatir. ( al Fayumi, al Misbah al Munir,
hlm : 21 ) Dinamakan at Tamin, karena orang yang melakukan
transaksi ini ( khususnya para peserta ) telah merasa aman dan
tidak terlalu takut terhadap bahaya yang akan menimpanya
dengan adanya transaksi ini.
Adapun asuransi menurut terminologi sebagaimana yang
disebutkan dalam Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1992, :
Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak
atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri
pada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk
memberikan penggantian pada tertanggung karena kerugian,
kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau
tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan
diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak
pasti,

atau

untuk

memberikan

suatu

pembayaran

yang

didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang


dipertanggungkan

2. Asuransi dalam Sudut Pandang Hukum Islam


Mengingat masalah asuransi ini sudah memasyarakt di
Indonesia ini dan di perkirakan ummat Islam banyak terlibat
didalamnya maka perlu juga dilihat dari sudut pandang agama
Islam. Di kalangan ummat Islam ada anggapan bahwa asuransi
itu tidak Islami. Orang yang melakukan asuransi sama halnya
dengan orang yang mengingkari rahmat Allah. Allah-lah yang
menentukan segala-segalanya dan memberikan rezeki kepada
makhluk-Nya sebagaimana firman Allah SWT yang artinya Dan
tidak ada suatu binatang melata pun dibumi mealinkan Allah-lah
yang memberi rezekinya.?dan siapa yang memberikan rezeki
kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada
Tuhan

?? Dan

kami

telah

menjadikan

untukmu

dibumi

keperluan-keprluan hidup dan makhluk-makhluk yang kamu


sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. Dari ketiga ayat
tersebut

dapat

dipahami

bahwa

Allah

sebenarnya

telah

menyiapkan segala-galanya utk keperluan semua makhluk-Nya


termasuk manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Allah telah
menyiapkan bahan mentah bukan bahan matang. Manusia masih
perlu mengolahnya mencarinya dan mengikhtiarkannya. Orang
yang melibatkan diri kedalam asuransi ini adl merupakan salah
satu ikhtiar utk mengahdapi masa depan dan masa tua. Namun
krn masalah asuransi ini tidak ada dijelaskan secara tegas dalam
nash maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihadi yaitu
masalah perbedaan pendapat dan sukar dihindari dan perbedaan
pendapat tersebut juga mesti dihargai.
Perbedaan pendapat itu terlihat pada uraian berikut
a. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya temasuk
asuransi jiwa.

Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq

Abdullah al-Qalqii Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil alMuthi . Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah
4

Asuransi sama dengan judi

Asuransi mengandung ungur-unsur tidak pasti.

Asuransi mengandung unsur riba/renten.

Asurnsi mengandung unsur pemerasan krn pemegang polis


apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya akan
hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi.

Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam


praktek-praktek riba.

Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang


tidak tunai.

Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis dan sama


halnya dengan mendahului takdir Allah.

b. Asuransi di perbolehkan dalam praktek seperti sekarang.


Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd. Wahab
Khalaf Mustafa Akhmad Zarqa Muhammad Yusuf Musa dan
Abd. Rakhman Isa . Mereka beralasan bahwa :
o

Tidak ada nash yang melarang asuransi.

Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak.

Saling menguntungkan kedua belah pihak.

Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum sebab


premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan utk
proyek-proyek yang produktif dan pembangunan.

Asuransi termasuk akad mudhrabah

Asuransi termasuk koperasi .

Asuransi dianalogikan dengan sistem pensiun seperti


taspen.

c. Asuransi yang bersifat sosial diperbolehkan dan yang bersifat


komersial diharamkan.
Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad
Abdu Zahrah . Alasan kelompok ketiga ini sama dengan
kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial
dan sama pula dengan alasan kelompok kedua dalam asuransi
yang bersifat sosial . Alasan golongan yang mengatakan
asuransi syubhat adl krn tidak ada dalil yang tegas haram
atau tidak haramnya asuransi itu. Dari uraian di atas dapat
dipahami bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam
masyarakat pada saat ini masih ada yang mempertanyakan
dan

mengundang

keragu-raguan

sehingga

sukar

utk

menentukan yang mana yang paling dekat kepada ketentuan


hukum yang benar.
Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh tentu
jalan itulah yang pantas dilalui. Jalan alternatif baru yang
ditawarkan adl asuransi menurut ketentuan agama Islam.
Dalam keadaan begini sebaiknya berpegang kepada sabda
Nabi Muhammad SAW Tinggalkan hal-hal yang meragukan
kamu kepada hal-hal yagn tidak meragukan kamu. Asuransi
menurut ajaran agama Islam yang sudah mulai digalakkan
dalam masyarakat kita di Indonesia ini sama seperti asuransi
yang sudah ada selama ini pada PT. Asuransi Bumi Putera
Asuransi Jiwasraya dan asuransi lainnya. Macamnya sama
tetapi

sistem

kerjanya

berbeda

yaitu

dengan

sistem

mudharabah . Kita lihat dalam asuransi Takaful berdasarkan


Syariah ada beberapa macam diantaranya :
o

Takaful Kebakaran

Asuransi takaful kebakaran memberikan perlindungan


tehadap harta benda seperti toko industri kantor dan lainlainnya dari kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran
kejatuhan pesawat terbang ledakan gas dan sambaran
petir.
o

Takaful pengankutan barang


Asuransi bentuk ini memberikan perlindungan terhadap
kerugian atas harta benda yang sedang dalam pengiriman
akibat terjadi resiko yang disebabkan alat pengankutannya
mengalami musibah atau kecelakaan.

Takaful keluarga
Asuransi takaful kelurga ini tercakup didalamnya takaful
berencana pembiayaan berjangka pendidikan kesehatan
wisata dan umroh dan takaful perjalanan haji. Dana yang
terkumpul

dari

peserta

diinvestasikan

sesuai

prinsip

syariah. Kemudian hasil yang diperoleh dengan cara


mudharabah

dibagi

utk

seluruh

peserta

dan

utk

perusahaan. Umpamanya 40% utk peserta dan 60% utk


perusahaan.
Sebagaimana telah disinggung diatas bahwa macam
suransi konvensional sama saja dengan asuransi yang
berlandaskan syariah. Namun dalam pelaksanaanya ada
perbedaan mendasar yaitu bagi hasil pada asuransi yang
berlandaskan syariah dan tidak demikian pada asuransi
konvesional. Disamping itu ada alasan lain lagi yang perlu
jadi bahan pertimbangan terutama oleh golongan yang
menghramkan asuransi konvensional disebabkan oleh tiga
hal yaitu
Gharar Dalam asuransi konvensional ada gharar krn
tidak jelas akad yang melandasinya. Apakah akad Tabaduli
7

atau akad Takafuli . Umpamanya saja sekiranya terjadi


klaim seperti asuransi yang diambil sepuluh tahun dan
pembayaran premi itu adl gharar dan tidak jelas dari mana
asalnya. Berbeda dengan asuransi takaful bahwa sejak
awal polis dibuka sudah diniatkan 95% premi utk tabungan
dan 5% diniatkan utk tabarru . Jika terjadi klaim pada tahun
kelima maka dan yang Rp. 7.500.000- itu tidak gharar
tetapi

jelas

sumbernya

yaitu

dari

dana

kumpulan

terbaru/derma.
Maisir Mengenai judi jelas hukumnya yaitu haram
sebagaimana di firmankan Allah dalam surat al-Maidah 90.
Dalam asuransi konvensional judi timbul krn dua hal
Sekiranya seseorang memasuki satu premi ada saja
kemungkinan dia berhenti krn alasan tertentu. Apabila
berhenti

dijalan

pheriod

dia

sebelum

bisa

mencapai

menerima

masa

uangnya

refreshing

kembali

dan

jumlahnya kira-kira 20% dan uang itu akan hangus. Dalam


keadaan seperti inilah ada unsur judinya.
Sekiranya

perhitungan

kematian

itu

tepat

dan

menentukan jumlah polis itu juga tepat maka pearusahaan


akan untung. Tetapi jika salah dalam perhitungan maka
perusahaan akan rugi. Jadi jelas disini unsur judi . Dalam
asuransi takaful berbeda krn sipenerima polis sebelum
mencapai refreshing period sekalipun bila dia mengambil
dananya maka hal itu di bolehkan. Perusahaan asuransi
ialah sebagai pemegang amanah. Malahan kalu ada
kelebihan/

untung

maka

pemegang

polispun

ada

menerimanya.

B. Potensi Asuransi Syariah Di Indonesia


Otoritas

Jasa

Keuangan

(OJK)

menyebutkan,

pertumbuhan asuransi syariah setiap tahunnya selalu lebih


besar dibandingkan asuransi konvensional. Namun, porsi
pangsa pasar asuransi syariah masih terbilang kecil jika
dibandingkan

konvensional.

"Ini

karena

memang,

terus

terang, permintaannya masih banyak sekali. Cuma memang


kalau dilihat porsinya, syariah dengan konvensional memang
masih

kecil,"

ujar

Kepala

Eksekutif

Pengawas

Industri

Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani, Senin(1/2).


Firdaus menyatakan, pertumbuhan aset asuransi syariah
terbilang tinggi dibandingkan konvensional. Namun, porsi
pangsa pasar asuransi syariah masih sangat kecil. Sehingga,
menurut dia, masih sulit bagi industri asuransi syariah
mengejar ketertinggalan dari konvensional. "Jadi pertumbuhan
30 persen belum berasa juga," jelasnya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), IKNB
syariah memiliki nilai aset sebesar Rp 62,51 triliun pada
November 2015 atau tumbuh 7,1 persen dari Rp 58,37 triliun.
Sementara, aset IKNB konvensional hanya tumbuh 5,1 persen.
Dari data di atas, aset asuransi dan reasuransi syariah tumbuh
13,58 persen menjadi Rp 25,4 triliun pada November 2015.
Meski begitu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Asuransi
Syariah Indonesia (AASI) Tati Febriyanti menilai prospek
asuransi syariah akan semakin baik, apalagi kini pemerintah
ikut berperan aktif. AASI pun yakin pertumbuhan tahun ini
bisa mencapai antara 10 hingga 30 persen.
"Beberapa yang kita usulkan ke pemerintah, bagaimana kalau
beberapa project pemerintah mulai menggunakan perbankan
sama

asuransi

syariah.

Kita

berharap

banyak

kepada

pemerintah," kata Tati.


Selain itu, potensi pasar asuransi syariah akan semakin
meningkat jika didukung tumbuhnya perbankan syariah. Ia

mencontohkan Bank Aceh yang tengah berproses dalam hal


syariah dan akan menjadi bank syariah.
"Itu akan otomatis berpengaruh ke total aset perbankan
syariah. Dan otomatis sekali, (jika) mereka mencanangkan diri
sebagai perbankan syariah, dia wajib menggunakan asuransi
syariah. Itu kan menambah potensi pasar,"kata Tati.
Selain itu, beberapa regulasi yang terbit di tahun ini
juga mendukung pertumbuhan aset asuransi syariah, seperti
regulasi

uang

muka

yang

lebih

rendah

untuk

industri

multifinance. Dengan adanya regulasi itu, industri syariah bisa


ikut

serta

dalam

pertumbuhan.

"Dengan kondisi ekonomi yang susah sekarang, multifinance


kan punya challenge untuk mendapatkan market. Dan kalau
mereka bertumbuh, asuransi syariahnya pasti ikutan. Itu yang
secara signifikan," katanya.
Pihaknya juga berencana menambah jalur distribusi
asuransi untuk memperluas pangsa pasar asuransi syariah.
Upaya tersebut misalnya dengan menambah jalur distribusi ke
pegadaian syariah serta bekerja sama dengan Kementerian
Koperasi dan UMKM, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan
industri

keuangan

non-bank

(IKNB)

syariah.

Berdasarkan data OJK, jumlah premi asuransi konvensional


selama tahun 2015 sebesar Rp 181, 47 triliun, sedangkan
jumlah klaim sebesar Rp 104,87 triliun. Selain itu, jumlah
kontribusi asuransi syariah selama 2015 sebesar Rp 10,49
triliun, sedangkan jumlah klaim bruto sebesar Rp 3,34 triliun.
Premi asuransi tersebut berdasarkan 50 jumlah
perusahaan asuransi yang terdiri atas 50 perusahaan asuransi
jiwa, 76 perusahaan asuransi umum, 6 perusahaan reasuransi,
3 asuransi wajib, dan 8 perusahaan asuransi syariah. Selain
itu,

perusahaan

perusahaan

jasa

pialang

penunjang
asuransi,

37

asuransi

terdiri

perusahaan

atas

pialang

reasuransi, dan 28 perusahaan penilai kerugian asuransi.


10

Fakta Angka Premi Asuransi 181,47 triliun. Premi asuransi


Syariah

Rp 10,49 triliun. Pangsa pasar syariah 5,7 Persen

dibandingkan konvensional.
C. Peraturan Perundang-Undangan Asuransi Syariah Di
Indonesia

Keputusan

Menteri

Keuangan

Republik

Indonesia

Nomor

426/

KMK.06/2003 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusa haan


Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Peraturan inilah yang dapat
dijadikan dasar untuk mendirikan asuransi syariah sebagaimana ketentuan
dalam Pasal 3 yang menyebutkan bahwa Setiap pihak dapat melakukan
usaha asuransi atau usaha reasuransi berdasarkan prinsip syariah
Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah tercantum dalam Pasal
3-4 mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin usaha perusahaan
asuransi danperusahaan reasuransi dengan prinsip syariah, Pasal 32
mengenai pembukaan kantor cabang dengan prinsip syariah dari
perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi konvensional, dan Pasal 33
mengenai pembukaan kantor cabang dengan prinsip syariah dari
o

perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.


Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 424/
KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan
Perusahaan Reasuransi. Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah
tercantum dalam Pasal 15-18 mengenai kekayaan yang diperkenankan
harus dimiliki dan dikuasai oleh perusahaan asuransi dan perusahaan

reasuransi dengan prinsip syariah.


Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan Nomor Kep. 4499/
LK/2000 tentang Jenis, Penilaian dan Pembatasan Investasi Perusahaan

Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dengan Sistem Syariah.


Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 1999 tentang perubahan Atas
Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha

Perasuransian.
Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang

Pedoman Umum Asuransi


Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 53/DSN-MUI/III/2006 Tentang Akad
Tabarru Pada Asuransi Syariah
11

Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 51/DSN-MUI/III/2006 Tentang Akad

Mudharabah Musyarakah Pada Asuransi Syariah


Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 52/DSN-MUI/III/2006 Tentang Akad
Wakalah Bil Ujrah Pada Asuransi Syariah Dan Reasuransi Syariah

D. Manajemen Asuransi Syariah Di Indonesia


1. Manajemen Asuransi Syariah
Dalam UU Hukum Dagang (KUHD) pasal 264 dijelaskan
bahwa asuransi adalah suatu perjanjian (timbal balik) dengan
mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang
tertanggung
dengan
menerima
suatu
premi,
untuk
memberikan penggantian kepadanya, karena suatu krugian,
kerusakan dan kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang
mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa tak tentu.
Manajemen asuransi adalah sebuah cara dalam
mengelola perusahaan asuransi supaya operasionalnya
berjalan dengan baik dan dapat diharapkan menghasilkan
return positif bagi perusahaan beserta para staf yang bekerja
di dalamnya. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam
pengelolahan keuangan, semacam asuransi, akan berjalan
dengan baik dan mempunyai kinerja yang sehat jika dikelola
dengan manajemen yang baik dan sesuai dengan norma
peraturan yang berlaku. Karena asuransi adalah bisnis
berkaitan erat dengan risiko (risk) maka sebuah manajemen
asuransi juga tidak dapat dilepaskan dari bagaimana cara
mengelola risiko itu sendiri.
Penerapan manajemen risiko oleh sebuah perusahaan
menurut TB.M.Najmudin Sutawinangun bertujuan untuk
mengidentifikasi risiko-risiko perusahaan, mengukurnya, dan
mengatasinya pada tingkat toleransi tertentu. Lebih spesifik,
manajemen risiko dalam perusahaan asuransi lebih diarahkan
untuk
mengidentifikasikan
risiko,
menghilangkan
dan
megurangi kemungkinan kerugian yang ditimbulkan oleh
risiko.
Orang matematika melihat risiko dari sudut tingkah laku
daripada fenomenanya, risiko adalah tingkat penyebaran nilai
dalam suatu distribusi di sekitar nilai rata-ratanya. Ini berarti,

12

makin besar tingkat penyebarannya, akan


risikonya.

makin besar

a. Risiko Spekulatif dan Risiko Murni


Kejadian sesungguhnya kadang-kadang menyimpang
dari perkiraan(expectations) ke salah satu dari dua arah.
Artinya,
ada
kemungkinan
penyimpangan
yang
menguntungkan dan ada
pula
penyimpangan yang
merugikan. Jika kedua kemungkinan itu ada, maka kita
katakan risiko itu bersifat spekulatif.
Lawan dari risiko spekulatif adalah risiko murni, yaitu risiko
yang hanya ada kemungkinan kerugian. Seorang pemilik
rumah terbuka kemungkinan terhadap kemungkinan kerugian
karena
kebakaran.
Risiko
ini
hanyalah
mempunyai
kemungkinan kerugian dan tidak mempunyai kemungkinan
untung. Semua orang berharap umur panjang, tetapi ia
mungkin mati muda. Risiko ini adalah juga risiko murni karena
hanya bergerak ke satu arah yaitu ke arah kemungkinan
kerugian.
Risiko murni yang dihadapi seseorang, keluarga, perusahaan,
dan organisasi lain dapat digolong-golongkan ke dalam risiko
pribadi, risiko harta, dan risiko pertanggungjawaban. Risiko
pribadi adalah risiko kemungkinan kerugian atas diri orang itu,
seperti kematian atau cacat. Risiko harta adalah risiko
kerugian atas harta seperti pencurian mobil. Risiko tanggung
gugat (risiko pertanggungjawaban) adalah kemungkinan
bertanggung jawab secara hukum untuk membayar kerusakan
terhadap orang atau barang lain.
b. Sumber Risiko
Risiko menimbulkan kondisi yang kondusif terhadap bencana
yang menyebabkan kerugian. Kerugian adalah penyimpangan
yang tak diharapkan. Kemungkinan kejadian demikian yang
kita
namakan
risiko.
Walaupun
ada
beberapa overlaping(tumpang tindih) di antara kategorikategori itu, namun penyebab kerugian dan risiko dapat
diklasifikasikan sebagai risiko sosial, risiko fisik, dan risiko
ekonomi.Menentukan sumber risiko adalah penting karena
akan mempengaruhi cara penanganannya.
Ada beberapa cara dalah menangani risiko. Antara lain :
13

Menghindari Risiko (risk avoidance)

Berkaitan dengan cara menghindari risiko itu sendiri. Hal


tersebut dapat diartikan bahwa untuk menghindari risiko
jangan melakukan kegiatan apapun yang memungkinkan
terjadinya risiko atau memberi peluang rugi.
o

Mengurangi Risiko (risk reduction)

Tindakan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko


kerugian yang mungkin timbul. Artinya, kemungkinan rugi
tidak dihilangkan, akan tetapi sedapat mungkin diperkecil
kemungkinan terjadinya.
o

Retensi Risiko (risk retention)

Merupakan cara yang paling umum dalam menangani


masalah risiko. Reensi risiko berarti kita tidak melakukan apaapa terhadap risiko tersebut. Kita menyadari bahwa kita
memiliki risiko, tetapi diputuskan untuk tidak melakukan apaapa terhadapnya. Ini adalah retensi risiko yang bersifat
volunteer. Retensi risiko secaravoluntary ini adalah risiko yang
biasanya dapat menimbulkan kerugian yang relatif kecil
secara finansial, atau bila ada peluang kerugian biasanya
nilainya sangat kecil.
o

Membagi Risiko (risk sharing)

Kadang-kadang, bila suatu risiko tidak dapat dihindari, dan


retensi akan memberikan peluang kerugian yang amat besar,
kita dapat memilih risk sharingsebagai salah satu cara
menangani risiko. Dengan membagi risiko dengan pihak-pihak
lain, maka potensi kerugian dapat dibagi dengan pihak tang
bersangkutan.
o

Mentransfer Risiko (risk transfer)

Transfer risiko berarti memindahkan risiko kerugian kepada


pihak lain, biasanya kepada perusahaan asuransi yang
bersedia dan mampu memikul beban risiko. Pengalihan atau
pemindahan tersebut dapat berupa risiko spekulatif maupun
risiko murni. Dalam organisasi perusahaan asuransi, menurut
Huggins, dapat berjalan secara efektif jika didukung oleh lima
faktor,
yakni:
Responsibility,
Authority, Accountability,
Delegation, Dan Coordination.
Dalam manajemen asuransi diperlukan:
14

a.

Marketing

b.

Aktuaria

c.

Underwriting

d.

Costumer Service

e.

Administrasi

f.

Klaim

g.

Investasi

h.

Akuntansi

i.

Hukum
1. Tiga Belas Nilai Utama Manajemen Asuransi Syariah

Menurut Prof. Dr. M. Amin Suma, SH., MA., MM dalam


bukunya yang berjudul Asuransi Syariah dan Asuransi
Konvensional terdapat tiga belas nilai utama manajemen
asuransi syariah:

Tauhid / pemahaesaan Allah atau percaya kepada Nya.

Dalam teologi Islam, tauhidullah (pemahaesaan Allah)


adalah pangkal segala keimanan dan semua aktivitas.
Termasuk aktivitas ekonominya yang tidak boleh berbau
kemusyrikan sekecil apapun. Bagi ummatan muslimatan, tidak
kecuali para pebisnisnya, aktivitas apapun yang dilakukannya
harusberlandaskan tauhidullah dalam konteksnya yang sangat
luas dan menyeluruh.

percaya akan adanya hari akhir, pahala dan siksaan.

Dalam keyakinan Islam, aktivitas bisnis dan aktivitasaktivitas yang lain, bukanlah jangka pendek yang akan selesai
begitu saja urusannya, melainkan bisnis adalah aktivtas yang
memiliki akibat jangka panjang terutama dalam sistem
pertanggung jawabannya di hadapan Allah s.w.t. Dengan
kalimat lain, Islam mengajarkan pemeluk-pemeluknya bahwa
urusan bisnis tidaklah semata-mata bersifat duniawi yang
hanya mengacu ke masa kini, akan tetapi juga masih memiliki
beban kewajiban yang harus dipertanggung-jawabkan di masa
depan di hadapan rabb al-izzati.

15

Kemandirian.

dalam pengertian bahwa seseorang hanya bergantung


kepada Allah semata. Bagi manusia Muslim, Allah yang Maha
Tunggal (Allahu ahad)-lah satu-satunya tempat untuk
bergantung (Allahus-shamad), tidak kepada orang lain. Jika ini
yang dijadikan filsafat hidup dalam mengelola dan
memasarkan sistem ekonomi dan keuangan Syariah termasuk
asuransinya, maka para manajer asuransi Syariah tentu akan
memiliki rasa percaya diri yang kokoh dalam melakukan
kompetisi dengan pasar-pasar asuransi yang menjadi
pesaingnya.

Tanggung jawab dan dapat dipertanggung jawabkan.

Dalam sistem Islam, setiap orang pada dasarnya adalah


manajer (kullukum rain) terhadap apa yang dipercayakan
kepadanya. Termasuk ketika seorang manajer Muslim diberi
amanat untuk mengelola asuransi dan lain sebagainya.

Pengambilan bagian.

Pada dasarnya, Islam menganjurkan pemeluknya


supaya aktif ambil bagian dalam memecahkan berbagai
persoalan yang dihadapi umat manusia. Temasuk persoalan
ekonomi dan keuangan pemilahan kewajiban kepada
kewajiban individu (fardu ain) dan kewajiban kolektif (fardu
kifayah), paling sedikit mengisyaratkan anjuran participation
ini.

Keadilan .

Manajemen asuransi Syariah, bahkan manajemen


lembaga keuangan lainnya yang beroperasi menurut prinsipprinsip Syariah, harus mendasarkan segala sesuatunya
termasuk pemasaran kepada prinsip keadilan (justce). Sebab,
ihwal keadilan itu sendiri sesungguhnya bukanlah monopoli
hukum khususnya pengadilan, melainkan keadilan itu
merupakan
sesuatu
yang
bersifat
universal
dan
keberadaannya mutlak dibutuhkan hampir atau bahkan
seluruh lini kehidupan.

Kepercayaan.

Merupakan salah satu faktor penting dalam manajemen


asuransi Syariah. Terutama dalam bentuk pelayanan
16

(services) sebagai tindak lanjut dari proses pemasaran yang


dilakukan perusahaan asuransi.

Dialog atau percakapan dwicakap.

Dalam pemasaran asuransi Syariah, dialog dwi-cakap


sesungguhnya merupakan suatu keniscayaan yang bukan saja
dilakukan pada saat melakukan transaksi (akad) atau bahkan
sebelum itu, melainkan juga seyogyanya terus berjalan
sampai akad itu sendiri menjadi berakhir. Lebih-lebih ketika
dihubungkan dengan hubungan wakalah (perwakilan) antara
perusahaan asuransi sebagai muwakkil (yang menerima
mandat perwakilan) dengan nasabah sebagai pemberi
wakalah (al-wakil).

Efisiensi pembiayaan.

Efisiensi dalam pembiayaan,merupakan salah satu unsur


penting dalam manajemen pemasaran, termasuk pemasaran
asuransi Syariah. Dengan menggunakan pendekatan mafhum
mukhalafah (pemahaman terbalik), larangan boros (tabdzir)
dalam sejumlah ayat al-Quran, pada intinya memerintahkan
kita supaya berlaku efisien dalam mengelola ekonomi dan
keuangan. Termasuk tentunya efisiensi dalam melakukan
pemasaran.

Efisiensi waktu.

Al-Quran wanti-wanti mengingatkan kita untuk tidak


menyia-nyiakan waktu berlalu tanpa menghasilkan sesuatu
(manfaat). Surat wal-ashri dan sejumlah ayat lain yang
senada mengisyaratkan hal itu. Lebih tepat lagi ketika
efisiensi waktu (time efficiency) dihubungkan dengan dunia
bisnis dan pemasaran sebagaimana tersimbolkan dalam
ungkapan time is money, meski ungkapan ini tidak harus
difahami secara kaku.

Perhatia dan menguntungkan.

Perhatian atau kecermatan dan keuntungan dalam suatu


manajemen perusahaan merupakan dua hal yang saling
terkait. Perusahaan yang manajemennya mengabaikan
perhatian teruatama kepada pelanggan dapat diduga kuat
tidak akan memberikan keuntungan kepada perusahaan;
sebab keuntungan pada dasarnya merupakan buah dari kerja
keras pemasaran yang memerlukan perhatian serius.
17

ramah/ kasih sayang terhadap


binatang, dan lingkungan.

sesama

(manusia),

Dalam pandangan Islam, semua makhluk Allah pada


dasarnya harus disikapi/ disentuh dan atau diperlakukan
dengan ramah dan kasih sayang. Terutama perlakuan
terhadap hewan dan lingkungan. Al-Quran mengingatkan
tentang status hewan yang juga sama-sama sebagai makhluk
Allah.

Hasrat belajar.

Dimensi belajar memiliki cakupan yang sangat luas


tidak harus diartikan dengan duduk dibangku sekolah/kuliah,
akan tetapi juga digunakan untuk pengertian mempelajari
berbagai persoalan yang dibutuhkan oleh setiap insan.
Termasuk para pebisnis dalam hal ini pemasaran yang tidak
ada henti-hentinya.

E. Peluang, Tantangan dan Permasaahan Asuransi Syariah Di


Indonesia

1. Peluang
Asuransi syariah di Indonesia sudah berjalan selama 14 (empat belas)
tahun semenjak pertama kali didirikan pada tahun 1994 yaitu dengan
diresmikannya PT. Takaful Keluarga. Dibandingkan dengan asuransi konvensional
yang sudah beroperasi sejak tahun 1912 dengan berdirinya asuransi Bumiputera
maka usia asuransi syariah masih tergolong relative muda. Namun dilihat dari
jumlah pertumbuhan perusahaan, asuransi syariah sangatlah menggembirakan
yaitu 40 % setiap tahun sementara yang konvensional hanya 25 %.
18

Melihat pertumbuhan yang pesat ini menunjukkan betapa besar


peluang asuransi syariah untuk lebih berkembang lagi. Setidaknya ada dua faktor
penting yang bisa menjadi momentum berharga bagi berkembangnya asuransi
syariah di Indonesia, yaitu :
1. Ruang penetrasi produk asuransi di Indonesia masih sangat luas mengingat
persentase pemegang polis individual di Indonesia baru mencapai kisaran tiga
persen (6,6 juta) dari total penduduk sebesar 220 juta jiwa
2. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan umat Islam, dan kehadiran produk
yang sejalan dengan konsep serta nilai-nilai beragama berpeluang besar untuk bisa
diterima oleh masyarakat luas.
Sedikitnya masyarakat Indonesia yang ikut berasuransi menjadi
peluang bagi asuransi syariah untuk meningkatkan pangsa pasar, sejalan dengan
meningkatnya kebutuhan masyarakat akan jasa asuransi misalnya untuk
kebutuhan meningkatkan pendidikan anak, meningkatnya biaya kesehatan dan
lain-lainnya.
Di samping itu besarnya penduduk Indonesia yang beragama Islam
menjadikan asuransi syariah berpeluang besar untuk lebih berkembang lagi. Hal
ini karena bagi orang muslim menjalankan aktifitas yang sesuai dengan tuntunan
Islam tentunya akan menjadi pilihan utama, demikian juga dalam hal pilihan
berasuransi tentunya seorang muslim akan lebih memilih yang sesuai dengan
ajaran Islam yaitu asuransi syariah dari pada asuransi konvensional yang selama
ini masih diragukan kehalalannya.
Keunggulan konsep asuransi syariah yang dapat memenuhi rasa
keadilan juga menjadi peluang bagi berkembangnya asuransi syariah, misalnya
konsep bagi hasil dalam asuransi syariah dimana jumlah yang dibagi tergantung
hasil yang didapat sehingga tidak ada yang dirugikan. Konsep bagi hasil ini pula
yang membuat perusahaan asuransi syariah dapat bertahan terhadap krisis
ekonomi tahun 1997, sehingga banyak perusahaan asuransi konvensional mulai
melirik produk asuransi syariah.
19

Konsep yang sesuai dengan syariah ini pula yang menjadikan asuransi
syariah tidak hanya hadir di negara yang berpenduduk mayoritas muslim
melainkan juga di negara-negara yang berpenduduk non muslim. Hingga kini di
seluruh dunia sudah ada sekitar 45 (empat puluh lima) asuransi syariah, misalnya
di Singapura, Swiss, Amerika Serikat, Jeneva, Bahamas dan lain-lain.
2. Tantangan
Perkembangan asuransi syariah di Malaysia bisa disimak sebagai
contoh yang bagus. Asuransi syariah di Malaysia mulai muncul pada tahun 1984,
dimana Pemerintah Malaysia ketika menumbuhkan asuransi syariah terlebih
dahulu
membuat Takaful Act atau Islamic
Banking
Act baru
kemudian
dikeluarkanlicense pembukaan perusahaan.
Berbeda dengan Malaysia, di Indonesia asuransi syariah berkembang
dengan cepatnya sedangkan perundang-undangan khusus asuransi syariah belum
ada hingga sekarang. Keadaan ini merupakan tantangan bagi berkembangnya
asuransi syariah karena dikhawatirkan akan menimbulkan kesemrawutan.
Menurut Agus Edi Sumanto, Sekretaris Jenderal Asosiasi Asuransi
Syariah Indonesia, payung hukum asuransi syariah masih sangat minim idealnya
mesti ada undang-undang yang secara khusus mengatur asuransi syariah.
Izin pendirian perusahaan asuransi syariah yang mudah menjadikan
banyaknya perusahaan asuransi syariah yang apabila tanpa dukungan aturan yang
lengkap justru dikhawatirkan membawa dampak negatif. Pasar menjadi sesak
dalam waktu singkat, iklim kompetisipun meningkat sehingga dikhawatirkan
dalam kondisi ini para pemain mulai permisif terhadap praktek-praktek yang
sesungguhnya tidak sesuai dengan syariah.
Secara stuktural, landasan operasional asuransi syariah di Indonesia
masih menginduk pada peraturan yang mengatur usaha perasuransian secara
umum (konvensional).
Peraturan asuransi syariah yang masih menginduk kepada peraturan
asuransi konvensional ini menyebabkan asuransi syariah terbentur ketentuan
perpajakan yaitu tentang premi, sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun
2000 Tentang Perpajakan, penerimaan premi harus dicatat sebagai pendapatan
20

perusahaan dengan demikian premi merupakan objek pajak. Perlakuan ini tidak
sejalan dengan fatwa Dewan Syariah Nasional yang menempatkan premi pada
asuransi syariah bukan milik atau pendapatan perusahaan, melainkan tetap milik
nasabah. Perusahaan hanya pemegang amanah untuk mengelola premi itu
sehingga tidak bisa dijadikan objek pajak. Begitu juga dengan pembayaran bagi
hasil kepada nasabah oleh Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 disetarakan
dengan dividen perusahaan kepada pemegang polis, sehingga terkena ketentuan
pajak sebesar 15 %. Padahal bila Dewan Syariah Nasional menetapkan premi
asuransi syariah bukan objek pajak maka bagi hasilpun bukan objek pajak, karena
bagi hasil akan menjadi biaya underwriting perusahaan yang bukan merupakan
dividen.[ Juga menjadi tantangan bagi asuransi syariah adalah dalam hal
mengembangkan produk asuransi yang memang beda dengan asuransi
konvensional, sehingga adanya anggapan bahwa asuransi syariah hanya
mensyariahkan produk asuransi konvensional dapat dieliminasi.
Menurut Muhaimin Iqbal, Ketua Asosiasi Asuransi Syariah dan Agus
Edi Sumanto, Direktur Utama Asuransi Takaful Keluarga, bahwa asuransi syariah
hanya sekedar memodifikasi produk asuransi konvensional.
Dalam hal PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) asuransi
syariah kebanyakan juga masih memodifikasi dari PSAK asuransi konvensional,
karenanya perbedaan hakiki dari asuransi konvensional dengan syariah menjadi
tidak terlihat misalnya dana tabarru tidak bisa disajikan dalam laporan keuangan
resmi yang ada hanya total premi demikian juga dengan entry bagi hasil tidak
terlihat. Padahal PSAK ini penting untuk dimiliki asuransi syariah untuk membuat
pengukuran kinerja asuransi syariah menjadi lebih valid.
Modal yang kecil juga menjadi tantangan bagi perkembangan asuransi
syariah di Indonesia. Di dalam Keputusan Nomor 426 Tahun 2003, Menteri
Keuangan hanya mensyaratkan modal kerja perusahaan 2 milyar sehingga
menurut Muhammad Syakir Sula, Ketua Islamic Insurance Society banyak yang
asal membuka cabang syariah, padahal dengan dana sekecil itu perhitungan
bisnisnya menjadi kurang masuk akal. Karena itulah Asosiasi Asuransi Syariah
Indonesia (AASI) mendorong pelaku industri asuransi syariah untuk
meningkatkan modal.
Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal di bidang asuransi dan
syariah sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan asuransi syariah di
21

Indonesia, sayangnya menurut Walter L. Gaol, Direktur Asuransi Jiwa Great


Eastern bahwa salah satu kendala penting yang dihadapi adalah kurangnya SDM
syariah. Demikian juga Agus Haryadi menyebutkan bahwa salah satu tantangan
bagi perkembangan asuransi syariah di Indonesia adalah langkanya ketersediaan
SDM yang qualified dan memiliki semangat syariah.
Kesadaran masyarakat untuk ikut berasuransi juga menjadi kendala
bagi perkembangan asuransi syariah di Indonesia, ini terbukti dari jumlah total
penduduk Indonesia, pemegang polis individual baru mencapai kisaran 3 %.
Perkembangan asuransi konvensional yang kurang begitu menggembirakan
dibandingkan dengan kemajunan yang dicapai oleh negara lain walaupun telah
dibuat Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang

Perasuransian dengan

maksud untuk meningkatkan gairah masyarakat untuk memanfaatkan jasa


asuransi

yang

sekaligus

juga

sebagai sarana mobilisasi dana untuk

pembangunan. Hal ini karena dipengaruhi adanya keraguan tentang kehalalan jasa
asuransi konvensional. Kesadaran masyarakat yang masih rendah ini menjadi
tantangan bagi asuransi syariah untuk memberikan pemahaman tentang asuransi
syariah yang terlepas dari unsur maisir, gharar dan riba.

3. Masalah
Masalah terbesar yang dihadapi oleh industri asuransi syariah
bersumber pada dua hal utama yaitu permodalan dan sumber daya manusia.
Masalah-masalah lain seperti masalah, ketidaktahuan masyarakat terhadap
produk asuransi syariah, image dan lain sebagainya merupakan akibat dari dua
masalah utama tersebut.
Minimnya Modal
Beberapa hal yang menjadi penyebab relative rendahnya
penetrasi pasar asuransi syariah dalam sepuluh tahun terakhir adalah
rendahnya dana yang memback up perusahaan asuransi syariah, promosi dan
edukasi pasar yang relative belum dilakukan secara efektif (terkait dengan
lemahnya dana), belum timbulnya industri penunjang asuransi syariah seperti
broker-broker asuransi syariah, agen, adjuster, dan lain sebagainya, produk
22

dan layanan belum diunggulkan diatas produk konvensional, posisi pasar yang
masih ragu antara penerapan konsep syariah yang menyeluruh dengan
kenyataan bisnis di lapangan yang terkadang sangat jauh dari prinsip syariah,
dukungan kapasitas reasuransi yang masih terbatas (terkait jua dengan dana)
dan belum adanya inovasi produk dan layanan yang benar-benar digali dari
konsep dasar syariah.

Kurangnya SDM yang Profesional

Terus bertambahnya perusahaan asuransi syariah merupakan


kabar baik bagi perkembangan industri tersebut. Namun, sayangnya hal itu
tidak diimbangi dengan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) asuransi
syariah yang berkualitas. Seringkali, pembukaan cabang atau divisi asuransi
syariah baru hanya didukung jumlah SDM terbatas.
Berdasarkan data Islamic Insurance Society (IIS) per Maret
lalu, sekitar 80 persen dari seluruh cabang atau divisi asuransi syariah belum
memiliki ajun ahli syariah. IIS mengestimasi asuransi syariah Indonesia per
Maret lalu memiliki sekitar 200 cabang dan hanya didukung 30 ajun ahli
syariah. Jumlah yang cukup sedikit bila dibandingkan kondisi SDM di
asuransi konvensional. Per Maret lalu, sebagian besar cabang asuransi
konvensional telah memiliki sedikitnya seorang ajun ahli asuransi syariah.
Jumlah tersebut sesuai dengan ketentuan departemen keuangan (Depkeu).
Padahal, keahlian ajun ahli syariah sangat dibutuhkan dalam
mendorong perkembangan inovasi produk asuransi syariah. Hal tersebut
berdampak pada kurang berkembangnya produk inovatif di industri asuransi
syariah. Saat ini, sebagian besar cabang atau divisi asuransi syariah lebih
memilih untuk meniru produk asuransi konvensional lalu dikonversi menjadi
syariah (mirroring).

Ketidaktahuan Masyarakat Terhadap Produk Asuransi Syariah

Ketidaktahuan mengenai produk asuransi syariah (takaful) dan


mekanisme kerja merupakan kendala terbesar pertumbuhan asuransi jiwa ini.
Akibatnya, masyarakat tidak tertarik menggunakan asuransi syariah, dan lebih
memilih jasa asuransi konvensional.
Itulah hasil riset Synovate mengenai alasan pemilihan asuransi
syariah. Ketua Umum Asuransi Syariah Indonesia Mohammad Shaifie Zein
mengatakan, dari hasil survei Synovate, sebagian besar responden tidak
tertarik kepada asuransi jiwa syariah.

Dukungan Pemerintah Belum Memadai

Meski sudah menunjukkan eksistensinya, masih banyak


kendala yang dihadapi bagi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Soal
23

pemahaman masyarakat hanya salah satunya. Kendala lainnya yang cukup


berpengaruh adalah dukungan penuh dari para pengambil kebijakan di negeri
ini, terutama menteri-menteri dan lembaga pemerintahan yang memiliki
wewenang dalam menentukan kebijakan ekonomi.
Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pada
masa kampanye pemilu kemarin menyatakan mendukung ekonomi syariah,
belum sepenuhnya mewujudkan dukungannya itu dalam bentuk program kerja
tim ekonomi kabinetnya.
Kendala lainnya adalah masalah regulasi. Penerapan syariah
yang makin meluas dari industri keuangan dan permodalan membutuhkan
regulasi yang tidak saling bertentangan atau tumpang tindih dengan aturan
sistem ekonomi konvensional. Para pelaku ekonomi syariah sangat
mengharapkan regulasi untuk sistem ekonomi syariah ini bisa memudahkan
mereka untuk berekspansi bukan malah membatasi. Saat ini, peraturan tentang
permodalan masih menjadi kendala perbankan syariah untuk melakukan
penetrasi dan ekpansi pasar.

Image

Salah satu masalah besar bisnis asuransi syariah di Indonesia


dan negara lainnya, menurut Zein, adalah meyakinkan masyarakat akan
keuntungan menggunakan asuransi syariah. Perlu sekali mensosialisasikan
asuransi syariah bukan saja berasal dari agama, tetapi memperlihatkan
keuntungan. Kenyataan di lapangan menunjukkan, bahwa para pelaku
ekonomi syariah masih menghadapi masalah berat untuk menanamkan prinsip
syariah sehingga mengakar kuat dalam perekonomian nasional dan umat
Islamnya itu sendiri.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perkembangan asuransi syariah di Indonesia umumnya sangat signifikan dari tahun ke
tahun. Namun tetap saja belum bisa melawan besarnya perkembangan asuransi konvensional
untuk beberapa tahun ke depan. Walaupun demikian, besarnya persentase perkembangan
asuransi syariah ketimbang asuransi konvensional memberikan angin segar bagi para
pengguna investasi asuransi agar berpindah menggunakan asuransi syariah.
24

Di samping tidak adanya unsur-unsur yang tidak diperbolehkan oleh syariat Islam,
asuransi syariah lebih jelas dalam setiap transaksi yang dilaksanakan. Baik masalah premi
dan besarnya jumlah biaya yang di klaim oleh nasabah. Hal tersebut membuat para pemilik
modal tertarik untuk mengembangkan asuransi syariah. Sehinnga diharapkan kedepannya
asuransi yang berbasis syariah dapat berkembang lebih pesat lagi.
Kami juga yakin bahwa dengan melihat kondisi sekarang, suatu saat nanti asuransi
syariah dapat menenggelamkan asuransi konvensiona.

B. Saran
Makalah ini memang jauh dari kesempurnaan, baik dalam isi,
susunan, maupun penyajiannya. Banyak sekali hambatan dalam
menyelesaikan makalah ini. Mulai dari kurangnya sumber referensi
buku yang tersedia hingga kekompakan antar anggota kelompok
yang belum maksimal. Untuk itu, segala kritik dan saran dari temanteman semuanya dibutuhkan. Agar selanjutnya dapat kami jadikan
sebagai pijakan, supaya pada makalah berikutnya bisa lebih baik
lagi.

Daftar Pustaka
Ali, AM. Hasan. 2004. Asuransi Dalam Perspektif hukum Islam.
Jakarta: Prenada Media.
Antonio, Muhammad SyafiI. 1994. Asuransi Dalam Perspektif Islam.
Jakarta : STI.
Aziz, Abdul. 2010. Manajemen Investaisi Syariah. Bandung: Alfabeta.
Dewan Syariah Nasional. 2003. Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional. Edisi
Kedua.Jakarta: DSN-MUI.

25

Dewi,Gemala. 2005. Aspek-aspek Hukum dalam perbankan dan perasuransian di


Indonesai.Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Kasmir. 2004. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. edisi Keenam.


ctk.Kedelapan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Masail Fiqhiyah; Zakat Pajak Asuransi dan Lembaga Keuangan. M Ali
Hasan.Sumber

file al_islam.chm

http://www.aasi.or.id/main/berita/Industri-asuransi-syariah-tumbuhmelesat-Tapi-ada- satu-hal-yang-masih-menjadi-pr.

Di

akses

pada

tanggal 27 Agustus 2016.

http://bukanpinokio.blogspot.co.id/2013/01/regulasi-asuransi-syariah-diindonesia.html. Di akses pada tanggal 27 Agustus 2016.

26