Anda di halaman 1dari 43

BAB 6. JEMBATAN BETON BERTULANG BALOK - T

SUB POKOK BAHASAN :

6.1. Pendahuluan

6.2. Bagian – bagian jembatan balok t

6.3. Perencanaan Balok – T

6.4. Aplikasi dan perhitungan jembatan beton

1. Tujuan Pembelajaran Umum :

Mampu mengenal Jenis-jenis jembatan dan mengidentifikasi bagian-bagian struktur dari masing - masing Jenis Jembatan serta dapat merencanakan dan menghitung Bangunan Atas Struktur jembatan, Bangunan Bawah jembatan sesuai dengan kondisi stuktur tanah yang ada.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus :

a. Mampu menjelaskan bentuk dan kriteria perencanaan jembatan beton

b. Mampu melakukan analisa jembatan balok – T (jembatan beton)

6.1. Pendahuluan

Jembatan beton adalah bangunan jembatan yang strukturnya menggunakan material beton bertulang khususnya pada bangunan atas (upper structure). Dalam hal ini mutu beton menjadi suatu hal yang sangat penting. Mutu beton dipengaruhi oleh:

Mutumaterial:pasir,batupecah,semen,air.

Mutualat:pencampur,pengangkut,pemadat.

Mutuperencanaancampuran(mixdesign).

Mutuformwork.

Mutuprosespengecoran.

Mutupemeliharaan.

Jembatanstrukturatasbetonyangdimaksudkandisiniadalahjembatanyangdibuatdarimaterialbetonbaik

padakeseluruhanataupunsebagianelemenstrukturpembentuknya.Elemenstrukturhorizontalpadajembatan

strukturbetonbiasanyadapatberupagelagarbetoni-Girder,T-Girder,boxgirder,concreteslab(pelatbeton),

Jurusan Teknik Sipil Fak. Sains dan Teknik UNDANA KUPANG
Jurusan Teknik Sipil Fak. Sains dan Teknik UNDANA KUPANG

Jurusan Teknik Sipil Fak. Sains dan Teknik UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 1

voidedslab(pelatberongga).PadajembatanStrukturbetonl-GirderatauT-Girder,balokgelagarjembatan

dibuatterpisahpadasaatpembuatannyakemudiansetelahereksendisatukandenganpelatkendaraansecara

integralagarterjadikomposit.Adapunboxgirder,pelatkendaraandisatukandenganelemengelagarnyasecara

integraldaripembuatanawalnya

6.2. Bagian – bagian jembatan Balok T

Jembatan beton juga merupakan suatu bangunan struktural yang digunakan untuk melewatkan orang atau kendaraan di atas dua daerah/ kawasan atau ruang yang terpisah oleh sungai, lembah, jurang, jalan atau hambatan fisik lainnya. Secara umum struktur jembatan terbagi atas dua bagian :

l. struktur atas jembatan (superstructure)

2. struktur bawah jembatan (substructure)

3. Fondasi

Adapun yang dirnaksud dengan struktur atas jembatan adalah semua komponen yang berada di atas perletakan jembatan. Fungsi dari struktur atas adalah sebagai elemen horizontal yang menahan beban-beban di atas lantai kendaraan untuk ditransferkan elemen struktur bawah atau ke perletakan.

ditransferkan elemen struktur bawah atau ke perletakan. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
ditransferkan elemen struktur bawah atau ke perletakan. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
ditransferkan elemen struktur bawah atau ke perletakan. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Sturktur atas jembatan terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut : 1. Permukaan atas jembatan( wearing surface).

Sturktur atas jembatan terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut :

1. Permukaan atas jembatan( wearing surface).

Porsi dari potongan penampang pelat lantai jembatan yang menahan lalu-lintas kendaraan secara langsung. Biasanya bagian ini terbagi menjadi beberapa lapisan yang terbuat dari

bahan bituminuous.

2. Pelat lantai jembatan

Pelat lantai jembatan adalah komponen strukturjembatan yang menahan langsung lalu lintas kendaraan di atas jembatan. Fungsi utama struktur pelat lantai adalah mendistribusikan beban-beban sepanjang jembatan secara longitudinal atau mendistribusikan beban secara tranversal.

3. Member Primer

Member primer fungsinya mendistribusikan beban secara longitudinal (searah lalu lintas) dan

secara prinsif biasanya direncanakan untuk menahan lenturan. Member utama tipe balok seperti beton I-girder, T-girder, box-girder atau lainnya.

4. Member Sekunder

Member sekunder adalah pengaku diafragma atau ikatan antara member primer yang direncanakanu ntuk menahand eformasi struktur atas dalam potongan arah melintang dan membantu mendistribusikan sebagian beban vertikal di antara girder-girder.

sebagian beban vertikal di antara girder-girder. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
sebagian beban vertikal di antara girder-girder. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 4
JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 4
JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 4

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 5
JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 5
JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 5

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

6.3. Perencanaan Balok - T Dalamsistempelatlantaiseringkalipelatdicorbersamaandenganbaloksecaramonolit,dalamhalinipelat

dapatbekerjasebagaisayapdaribalok'T'sepertiterlihatpadaGambar4.8.Padasistemtersebutpelat

diasumsikanmenyalurkanbebansatuarahyaitutegaklurusterhadaparahaxisbalok

Padatampakterdefleksidalamgambar4.9,balokTiniakanmengalamimomenpositifditengahbentang

(potonganA-A)dannegatifmomendiatasperletakan(potonganB-B)

(potonganA-A)dannegatifmomendiatasperletakan(potonganB-B) JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
(potonganA-A)dannegatifmomendiatasperletakan(potonganB-B) JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
(potonganA-A)dannegatifmomendiatasperletakan(potonganB-B) JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Pada daerah perletakan balok T pada umumnya diperlakukansebagaibalokpersegi,karenadaerah

Pada daerah perletakan balok T pada umumnya diperlakukansebagaibalokpersegi,karenadaerah

tekanbetonakibatmomennegatifberbentukpersegisepertiterlihatpadagambar4.9c.Adapunpadatengah

bentangbalokTdapatdiperlakukandenganduakemungkinan,dapatdianalisissebagaibalokTsemu (balokpersegi)ataubalokTsebenarnya. UntukmenentukanbalokTsemuatausebenarnyaperludigunakanpemeriksaanterlebihdahulutinggiblok tekanbeton,a denganasumsiawaltinggibloktekanbetonmemotongflens.

a denganasumsiawaltinggibloktekanbetonmemotongflens. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
a denganasumsiawaltinggibloktekanbetonmemotongflens. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
a denganasumsiawaltinggibloktekanbetonmemotongflens. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
a denganasumsiawaltinggibloktekanbetonmemotongflens. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 8
JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 8
JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 8
JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H. Frans, ST || 8

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

6.3. Aplikasi dan Perhitungan Balok - T

Data Perencanaan :

Bentang jembatan

= 10 m

Muatan

= Kelas I

Lebar jembatan

= Lebar jalan

= 8 m

Lebar trotoar = 1 m

Beban lalu lintas

Lantai kendaraan

Balok melintang

Balok memanjang

Begel

Mutu baja profil = B37

Ukuran Balok induk

Jarak balok melintang = 3 m

BJ aspal

BJ beton = 2,4 t/m 3

Tebal slab beton

Tebal perkerasan jalan= 5 cm

Beban roda = 10 ton

Harga pipa baja

Harga besi beton

Harga beton segar

Harga aspal

Harga begesting dan schaffolding

= Peraturan Muatan no. 12 /1970 Bina Marga

= Beton f’c 25 Mpa, Baja U 39 (fy= 400 Mpa)

= Beton f’c 25 Mpa, Baja U 39, (fy= 400 Mpa)

= Beton f’c 25 Mpa, Baja U 39 , (fy= 400 Mpa)

= U 24

= 40 x 120 cm

= 2 t/m 3

= 20 cm

= Rp 12.000,00 /kg

= Rp 17.000,00 /kg

= Rp 600.000,00 /m 3

= Rp 1.000.000,00 /ton

= Rp 6.000.000,00 /m 3

Diminta:

1. Merencanakan jembatan jembatan dengan gambar denah, potongan dan penjelasan

lengkap.

2. Harga konstruksi atas lengkap.

dan penjelasan lengkap. 2. Harga konstruksi atas lengkap. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
dan penjelasan lengkap. 2. Harga konstruksi atas lengkap. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

1.

Perencanaan Struktur Atas

1.1. Perencanaan Lantai Kendaraan

16 100 800 100 40 100 50 20 20 20 40 20 40 40 40
16
100
800
100
40
100
50
20
20
20
40
20
40
40
40
40
40
40
40
40

160

160

160

160

160

Gambar 1. Sistem lantai kendaraan

a.

Pembebanan

 

Berat

jenis

air

:

1

t/m 3

Berat

jenis

aspal

: 2

t/m 3

Berat

jenis

beton

: 2,4 t/m 3

1)

Beban Mati ( Dead Load )

- Berat air hujan ( 3cm )

= 0,03 . 1 . 1

= 0,03 t/m

- Berat Aspal ( tebal 10 cm )

= 0,1 . 1 . 2

= 0,20 t/m

- Berat slab beton (tebal 20cm ) = 0, 2 . 1 . 2,4

 

qdl 1

= 0,48 t/m = 0,71 t/m

Berat pipa sandaran ( ø60,5 ) = 2 . ¼ . p. 0,0605 2 . 10 = 0,0574 t/m

( ø 60,5 ) = 2 . ¼ . p . 0,0605 2 . 10 =
( ø 60,5 ) = 2 . ¼ . p . 0,0605 2 . 10 =

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Berat trotoar dan sandaran

:

- Berat air hujan ( 3cm ) = 0,03 . 1 . 1

= 0,0300 t/m

- Berat sendiri plat beton

= 0,2 . 1 . 2,4 – 0,1 . 0,6 . 2,4

= 0,3360 t/m

- Berat tegel dan spesi (5cm)

= 0,05 . 1 . 2,2

= 0,1100 t/m

- Berat tiang sandaran dan besi

= 0,12 . 0,16 . 2,4 + 0,0517

= 0,0978 t/m

qdl 2

= 0,5738 t/m

Menurut SK Menteri PU No. 378/KPTS/1987 tentang Pedoman Perencanaan Jembatan Jalan

Raya pasal 4.1 maka beban lantai kendaraan adalah sebagai berikut:

qdl = qdl 1 + 1/L.

2qdl 2

= 0,71 + 1/8 . (2 . 0,5738)

= 0,8535 t/m

2) Beban Hidup (Live Load)

Beban hidup yang diperhitungkan pada lantai kendaraan adalah beban T (PPPJJR pasal 1.2.3.

halaman 5). Beban T adalah beban yang merupakan kendaraan truk yang mempunyai beban

roda ganda sebesar 10 ton. Penyebaran gaya akan menurut sudut 45 o sebagai berikut:

5 0 2 0 1 0 1 0 45 4 5 1 0 9 0
5 0
2 0
1 0
1 0
45
4 5
1 0
9 0
cm
6 0
c m

Gambar 2. Penyebaran pembebanan roda

P =

gaya

10

=

luas

x

0,9 0,6

= 18,518

t/m 2

ql = 18,518 . 1 = 18,518 t/m

luas x 0,9 0,6 = 18,518 t/m 2 ql = 18,518 . 1 = 18,518 t/m
luas x 0,9 0,6 = 18,518 t/m 2 ql = 18,518 . 1 = 18,518 t/m

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

b. Analisa Mekanika Lantai Kendaraan

Pelat lantai merupakan plat menerus satu arah dengan koefisien momen sebagai berikut (pasal 13.2 halaman 120)

- 1 / 3

- 2 / 3

- 2 / 3

- 2 / 3

- 2 / 3

- 1 / 3

halaman 120) - 1 / 3 - 2 / 3 - 2 / 3 - 2

5 / 8halaman 120) - 1 / 3 - 2 / 3 - 2 / 3 - 2

120) - 1 / 3 - 2 / 3 - 2 / 3 - 2 /
120) - 1 / 3 - 2 / 3 - 2 / 3 - 2 /
120) - 1 / 3 - 2 / 3 - 2 / 3 - 2 /
120) - 1 / 3 - 2 / 3 - 2 / 3 - 2 /

3 / 4

5 / 8

5 / 8

3 / 4

M1 M2 M3 M4 M5 M6
M1
M2
M3
M4
M5
M6

Gambar 3. Koefisien distribusi momen lantai kendaraan

Mo adalah momen yang timbul dengan anggapan perletakan sendi rol, besarnya Mo dicari sebagai berikut:

1)

Beban Mati

qdl

= 0,8535 t/m

Mdl

= 1/8

. qdl . lx 2

= 1/8 . 0,8535 . 1,6 2

= 0,2731 tm

2) Beban Hidup

Ditinjau dari kondisi pembebanan yang mungkin terjadi, selanjutnya dipilih momen maksimum dari kondisi pembebanan tersebut

a. Kondisi saat 1 roda berada pada plat

R A . 1,6 R A . 1,6

A

saat 1 roda berada pada plat R A . 1,6 R A . 1,6 A q

q = 0,8535 t/m

pada plat R A . 1,6 R A . 1,6 A q = 0,8535 t/m 0
pada plat R A . 1,6 R A . 1,6 A q = 0,8535 t/m 0
pada plat R A . 1,6 R A . 1,6 A q = 0,8535 t/m 0
pada plat R A . 1,6 R A . 1,6 A q = 0,8535 t/m 0
pada plat R A . 1,6 R A . 1,6 A q = 0,8535 t/m 0
pada plat R A . 1,6 R A . 1,6 A q = 0,8535 t/m 0
pada plat R A . 1,6 R A . 1,6 A q = 0,8535 t/m 0
pada plat R A . 1,6 R A . 1,6 A q = 0,8535 t/m 0

0 ,3 5

0 ,9

0 ,3 5

B

Gambar 4. Kondisi saat 1 roda berada pada plat = (q . 0,9)(0,5 . 0,9 + 0,35 ) = (18,518 . 0,9) (0,8)

plat = (q . 0,9)(0,5 . 0,9 + 0,35 ) = (18,518 . 0,9) (0,8) JurusanTeknikSipil
plat = (q . 0,9)(0,5 . 0,9 + 0,35 ) = (18,518 . 0,9) (0,8) JurusanTeknikSipil

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Mmax

R A = 8,333 ton = R A . 0,8 – (q . 0,45) (0,5 . 0,45)

= 8,333 . 0,8 – (18,353 . 0,45) (0,225)

= 4,8082 tm

b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat

A

= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6
= 4,8082 tm b. Kondisi saat 2 roda berada pada plat A 0 ,42 0,7 6

0 ,42

0,7 6

0,4 2

B

Gambar 5. Kondisi saat 2 roda berada pada plat

R A . 1,6 R A . 1,6

= (q . 0,42)(0,5 . 0,42) + (q. 0,42) (0,5 . 0,42 +1,18) = (18,353 . 0,42)(0,5 . 0,42) + (18,353. 0,42) (1,39)

Mmax

R A = 7,7083 ton = R A . 0,8 – (q . 0,42) (0,5 . 0,42 + 0,38)

= 7,7083 . 0,8 – (18,353 . 0,42) (0,59)

= 1,6188 tm

Diambil Mll terbesar yaitu : 4,8082 tm

Mo

= 1,2 Mdl + 1,6 Mll

= 1,2 . 0,2718 + 1,6 . 4,8082

= 8,0193 tm

Sehingga berdasarkan koefisien momen maka diperoleh momen sebagi berikut:

§ Momen Tumpuan M 1 = M 6 = -1/3 . 8,0193 = - 2,6731 tm M 2 = M 3 = M 4 = M 5 = -2/3 . 8,0193 = - 5,3462 tm

§ Momen lapangan M 12 = M 56 = 3/4 . 8,0193 = 6,0145 tm

lapangan M 1 2 = M 5 6 = 3/4 . 8,0193 = 6,0145 tm JurusanTeknikSipil
lapangan M 1 2 = M 5 6 = 3/4 . 8,0193 = 6,0145 tm JurusanTeknikSipil

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

M 23 = M 34 = M 45 = 5/8 . 8,0193 = 5,0121 tm

c. Penulangan Lantai Kendaraan

Dipakai :

f’c = 25 MPa

Mutu baja tulangan U39 fy = 400 Mpa

b

h

30MPa β = 0,85

d = 180 mm d’ = 20 mm

= 1000 mm = 400 mm

r

min =

ρb

=

1,4

1,4

=

fy

400

= 0,0035

0,85.

b

1

.

f

'

c

x

600

fy

600 + fy

r

max

0,85x0,85x25

Ê

600

=

Á

 

400

Ë

600 + 400

= 0,0271

=

= 0,75 x 0,0271

= 0,0203

0,75

xrb

ˆ

˜

¯

a. Tulangan Tumpuan

Mu

Mn

Rn

m

= 5,3462 tm = 5,3462. 10 7 Nmm

=

=

=

Mu

5,3462.10

7

=

f

0,8

= 6,6828.10

7 Nmm

Mn = 6,6828.10

1000 .180

7

bd

2

2

= 2,06259

fy

0,85

f

'

c

=

400

0,85. 25

= 18,823

N

/

mm

2

2,06259 fy 0,85 f ' c = 400 0,85. 25 = 18,823 N / mm 2
2,06259 fy 0,85 f ' c = 400 0,85. 25 = 18,823 N / mm 2

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

rperlu

=

1

m

Ï

Ì

Ó

1

1

-

=

18,823

= 0,0054

2. m . Rn ¸ 1 - ˝ fy ˛ Ï 2.18,823.2,06259 ¸ Ì 1
2.
m . Rn
¸
1
-
˝
fy
˛
Ï
2.18,823.2,06259
¸
Ì 1
-
1
-
˝
400
Ó
˛

ρ perlu < ρmax tulangan tunggal, dipakai ρ = 0,0056

As

= ρ perlu . b . d

= 0,0054 . 1000 . 180

2

= 978,19 mm

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

=

=

As

0,25 16 2

b

p

= 4,8676

5 buah

= 1000 = 200 mm

n

5

Dipakai tulangan pokok

Tulangan pembagi menurut PBI pasal 9.1.3 halaman 90:

As

= D16 - 200 As = 1005,3097 mm 2

= 20% . 1005,3097

= 201,0619 mm 2

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

=

=

As

0,25 13 2

b

1000

p

=

n 2

= 1,515

= 500

2 buah

2

Dipakai tulangan pembagi = D13 – 500 As = 265,4646 mm

b. Tulangan Lapangan

Mu = 6,0145 tm = 6,0145. 10 7 Nmm

6,0145.10

Mn =

Mu

7

=

f

0,8

= 7,518.10

7

Nmm

Rn =

7

Mn = 7,518.10

bd

2

1000 .180

2

= 2,32037

N

/

mm

2

7 M n = 7,518.10 bd 2 1000 .180 2 = 2,32037 N / mm 2
7 M n = 7,518.10 bd 2 1000 .180 2 = 2,32037 N / mm 2

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

m

rperlu

fy 400 = = = 18,8235 0,85 f ' c 0,85. 25 1 Ï 2.
fy
400
=
=
= 18,8235
0,85
f
'
c
0,85. 25
1
Ï
2.
m . Rn
¸
=
Ì
1
-
1
-
˝
fy
m Ó
˛
1
Ï
2.18,8235.2,32037
=
Ì 1
-
1
-
18,8235
400
Ó

= 0,0062

ρ perlu >

As

ρmin \ dipakai ρ perlu = 0,0062

= ρmin . b . d

= 0,0062 . 1000 . 180

= 1116 mm 2

¸

˝

˛

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

 

As

 

=

= 5,553

6 buah

 

0,25 16 2

p

 

b

1000

=

=

= 166,67 150

 

n

6

Dipakai tulangan pokok

Tulangan pembagi menurut PBI pasal 9.1.3 halaman 90:

As

2

= D16 - 150 As = 1205,76 mm

= 20% . 1205,76

= 241,152 mm 2

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

=

=

As

0,25 13 2

1000

b

p

=

n 3

= 1,818

3 buah

=

333,33

Æ

300

Dipakai tulangan pembagi = D13 – 300 As = 397,995 mm 2

tulangan pembagi = D13 – 300 → As = 397,995 mm 2 JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John
tulangan pembagi = D13 – 300 → As = 397,995 mm 2 JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

 

Ø13-300

  Ø13-300 Ø13-300
  Ø13-300 Ø13-300

Ø13-300

Ø16-150

 
Ø16-150  
 
     
   
 
 
 
 
  Ø13-300 Ø13-300 Ø16-150           Ø16-150  
  Ø13-300 Ø13-300 Ø16-150           Ø16-150  
  Ø13-300 Ø13-300 Ø16-150           Ø16-150  

Ø16-150

Ø16-150  
Ø16-150  
Ø16-150  
 

10m

8m

Gambar 6. Sketsa penulangan lantai kendaraan

d.

Plat Kantilever

1)

Pembebanan

§ Beban Mati (Dead Load) Beban Trotoar

- Berat plat

- Berat tegel dan spesi = 0,05 . 1 . 2

= 0,2 . 1 . 2,4 – 0,1 . 0,6 . 2,4

= 0,336 t/m

= 0,100 t/m qdl = 0,436 t/m

§ Beban Hidup

Menurut PPPJJR Bab III pasal 1.2.5.a. halaman 10 disyaratkan bahwa konstruksi trotoar harus

diperhitungkan terhadap beban hidup sebesar 500 kg/m 2

qll

= 500 . 1

=

500kg/m = 0,5 t/m

qu

= 1,2 qdl + 1,6 qll

= 1,2 . 0,436 + 1,6 . 0,5

= 1,3232 t/m

= 1,2 qdl + 1,6 qll = 1,2 . 0,436 + 1,6 . 0,5 = 1,3232
= 1,2 qdl + 1,6 qll = 1,2 . 0,436 + 1,6 . 0,5 = 1,3232

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Beban Terpusat:

berat tiang sandaran dan besi = 0,1 . 0,16 . 2,4 . 1 + 0,0517 . 2 = 0,1418 t

2)

Penulangan

P = 0,1418 t q = 1,3232 t/m 1,08
P = 0,1418 t
q = 1,3232 t/m
1,08

Gambar 7. Sketsa plat kantilever

Dipakai :

f’c = 25 MPa

Mutu baja tulangan U39 fy = 400 Mpa

> 30MPa β = 0,85

b

= 1000 mm

d = 180 mm

h

= 400 mm

d’ = 20 mm

r

min =

1,4

1,4

=

fy

400

= 0,0035

r

b

r

max

Mu

=

0,85

x

b

xf ' c

Ê

Á

Á

Ë

600

fy

600 +

fy

ˆ

˜

˜

¯

=

0,85 x 0,85 x 25 Ê

Á

Ë

600

400

600

+

400

= 0,0271

=

= 0,75 x 0,0271

= 0,0203

= ½ . qu . L 2 +

0,75

xrb

P . L

ˆ

˜

¯

= ½ . 1,3232 . 1,08 2 + 0,1418 . 1,08

= 0,9248 tm

= 0,9248 . 10 7 Nmm

2 + 0,1418 . 1,08 = 0,9248 tm = 0,9248 . 10 7 Nmm JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik
2 + 0,1418 . 1,08 = 0,9248 tm = 0,9248 . 10 7 Nmm JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

7 Mu 0,9248.10 7 Mn = = = 1,156.10 Nmm f 0,8 7 Mn =
7
Mu
0,9248.10
7
Mn
=
=
= 1,156.10
Nmm
f 0,8
7
Mn =
1,156.10
2
Rn
=
= 0,35679
N
/
mm
2
bd
2 1000 .180
fy
400
m
=
=
= 18,824
0,85
f
'
c
0,85 . 25
1
Ï
2.
m . Rn
¸
rperlu
=
Ì 1
-
1
-
˝
m
fy
Ó
˛
1
Ï
2.18,824.0,35679
¸
=
Ì 1
-
1
-
˝
18,824
400 ˛
Ó
= 0,00089

ρ perlu < ρmin tulangan tunggal, dipakai ρmin = 0,0035

As

= ρmin . b . d

= 0,0035. 1000 . 180

= 630 mm 2

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

Dipakai tulangan pokok

=

=

As

0,25 16 2

b

1000

p

=

n 4

= 3,1349

= 250 mm

4 buah

= D16 - 250 As = 804,2477 mm 2

Tulangan pembagi menurut PBI pasal 9.1.3 halaman 90:

As

= 20% . 804,2477

2

= 160,84954 mm

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

=

=

As

0,25 13 2

1000

b

p

=

n

4

= 1,2118

= 250

4 buah

2

Dipakai tulangan pembagi = D13 – 250 As = 452,389 mm

Dipakai tulangan pembagi = D13 – 250 → As = 452,389 mm JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John
Dipakai tulangan pembagi = D13 – 250 → As = 452,389 mm JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

2.

Desain Trotoar

20 60 20
20
60
20
20 60 20
20 60 20

Gambar 8. Sketsa trotoar

a. Pembebanan Trotoar

1. Beban Mati

5

10

10

20

a. Berat sendiri

= 0,10 x 1 x 2,4

= 0,24 t/m = 0,10 t/m = 0,03 t/m

b. Berat spesi

= 0,05 x 1 x 2,0

c. Berat air hujan

= 0,03 x 1 x 1,0

 

qDL

= 0,37 t/m

2. Beban hidup Menurut PPPJJR Bab III pasal 1.2.5.a. halaman 10 disyaratkan bahwa konstruksi trotoar harus diperhitungkan terhadap beban hidup sebesar 500 kg/m 2 qll = 500 . 1 = 500 kg/m = 0,50 t/m

qu

= 1,2 qdl + 1,6 qll

= 1,2 . 0,37 + 1,6 . 0,5

= 1,244 t/m

Menurut PBI pasal 13.1.3.a halaman 192,

Bentang teoritis(lt)

= 1 - 0,4 + 0,05

13.1.3.a halaman 192, Bentang teoritis(lt) = 1 - 0,4 + 0,05 JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
13.1.3.a halaman 192, Bentang teoritis(lt) = 1 - 0,4 + 0,05 JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

= 0,65 m

Mu lapangan

Mu

= 1/8 quLt 2

= 1/8.1,244.0,65 2

= 0,0656988 tm

= 65,6988.10 4 Nmm Mu tumpuan

Mu

= 1/3 Mu lapangan

= 1/3. 65,6988.10 4 Nmm

= 21,8996.10 4 Nmm

b.Penulangan Trotoar

PBI

pasal 13.1.3.a halaman 192

f’c

=

25

MPa

b 1 = 0,85 untuk f’c < 30 Mpa

fy

=

390

MPa

h

=

100

mm

d

=

80 mm

 

b

= 1000

mm

d’

=

20

mm

 

1,4

1,4

ρ min

=

fy

= 400

=

0,0035

 

ρb

ρ max

0,85.

b

1

.

f

'

c

600

=

fy

x

600 + fy

= 0,75 x 0,0271

= 0,0271

= 0,75 x ρb

= 0,0203

a. Tulangan Lapangan

=

0,85x0,85x25

Ê

Á

600

400

Ë

600 + 400

Tulangan utama

Mu

= 65,6988.10 4 Nmm

Mn

=

Mu

65,6988.10 4

=

f 0,8

= 82,1235.10 4 Nmm

ˆ

˜

¯

8 8 . 1 0 4 = f 0,8 = 82,1235.10 4 Nmm ˆ ˜ ¯
8 8 . 1 0 4 = f 0,8 = 82,1235.10 4 Nmm ˆ ˜ ¯

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

ρ

Rn =

Mn

82,1235.10

4

=

b.d

2 1000.80

2

=

0,128 N/mm 2

m

fy 400 = = 0,85 . 25 = 18,823 0,85 f ' c È 2.
fy
400
=
= 0,85 . 25
=
18,823
0,85
f
'
c
È 2.
m Rn
.
˘
1
Ï
=
1 1
-
1
-
= 1
Í
˙
Ì
m
fy
˚ 18,353
Î
Ó
= 0,00032

-

2.18,353.0,128 ¸ 1 - ˝ 400 ˛
2.18,353.0,128
¸
1
-
˝
400
˛

ρ perlu < ρmin tulangan tunggal, dipakai ρmin = 0,0035

As = ρmin . b . d

= 0,0035 . 1000 . 80

= 280 mm 2

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

=

As

0,25

p

13 2

=

2,11

3 buah

=

b

=

1000

=

333,333

ª

300

n

3

Dipakai tulangan pokok

= ø13 - 300 As = 398,197 mm 2

Tulangan pembagi menurut PBI pasal 9.1.3 halaman 90:

As

= 20% . 398,197 = 79,639 mm

2

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

=

=

As

0,25 13 2

1000

b

p

=

n 2

= 0,6

= 500

2 buah

2

Dipakai tulangan pembagi = ø13 – 500 As = 265,465 mm

b. Tulangan Tumpuan

Tulangan utama

Mu

= 21,8996.10 4 Nmm

Mn

=

Mu

21,8996.10 4

=

f 0,8

= 27,3745.10 4 Nmm

, 8 9 9 6 . 1 0 4 = f 0,8 = 27,3745.10 4 Nmm
, 8 9 9 6 . 1 0 4 = f 0,8 = 27,3745.10 4 Nmm

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Rn

=

Mn

27,3745.10

4

=

b.d

2 1000.80

2

=

0,0428 N/mm 2

m

ρ

=

=

fy 400 = 18,8235 0,85 f ' c = 0,85 . 25 È ˘ 2.
fy
400
= 18,8235
0,85
f
'
c
= 0,85 . 25
È ˘
2.
m Rn
.
1
Ï
1 1
-
1
-
= 1
Í
˙
Ì
fy
˚ 18,8235
m Î
Ó
1
1

- -

2.18,8235.0,0428

400

= 0,00011

ρ perlu < ρmin tulangan tunggal, dipakai ρmin = 0,0035

As

= ρmin . b . d

= 0,0035 . 1000 . 80

= 280 mm 2

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

=

As

0,25

p

13 2

=

2,11

3 buah

=

b

=

1000

=

333,333

ª

300

n

3

Dipakai tulangan pokok

= ø13 - 300 As = 398,197 mm 2

¸

˝

˛

Tulangan pembagi menurut PBI pasal 9.1.3 halaman 90:

As = 20% . 398,197

2

= 79,639 mm

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

=

=

As

0,25 13 2

b

1000

p

=

n 2

= 0,6

= 500

2 buah

2

Dipakai tulangan pembagi = ø13 – 500 As = 265,465 mm

3. Perencanaan Kerb

Menurut PPPJJR Bab III pasal 1.2.5.b halaman 10 disyaratkan kerb yang terdapat pada tepi- tepi lantai kendaraan harus diperhitungkan untuk dapat menahan satu beban horisontal ke arah melintang jembatan sebesar 500 kg yan bekerja pada puncak kerb yang bersangkutan pada tinggi 25 cm diatas permukaan lantai kendaraan.

pada tinggi 25 cm diatas permukaan lantai kendaraan. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
pada tinggi 25 cm diatas permukaan lantai kendaraan. JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

20

20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .

20

60

20

500 kg

20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .
20 20 60 20 500 kg Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan Mu = 500 .

Gambar 9. Perencanaan Kerb dan pembebanan

Mu = 500 . h

= 500 . 0,2

= 100 kgm = 10 6 Nmm

a. Penulangan Kerb

Dipakai :

f’c = 25 Mpa < 30MPa β = 0,85

Mutu baja tulangan U39 fy = 390 Mpa

b

= 200 mm

d = 180 mm

h

= 200 mm

d’ = 20 mm

1,4

1,4

 

=

= 0,0035

fy

400

'

ˆ

0,85

f cx

b1

Ê

Á

600

˜

˜

=

fy

Á

Ë

600

+ fy

¯

=

0,85x25x0,85

Ê

Á

600

400

Ë

600 + 400

ˆ

˜

¯

r min =

ρb

ρ max

Mu

= 0,0271

= 0,75 x ρb

= 0,75 x 0,0271

= 0,0203

= 10 6 Nmm

0,0271 = 0,75 x ρb = 0,75 x 0,0271 = 0,0203 = 10 6 Nmm JurusanTeknikSipil
0,0271 = 0,75 x ρb = 0,75 x 0,0271 = 0,0203 = 10 6 Nmm JurusanTeknikSipil

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

6 Mu 10 Mn = = = 1,25.10 6 Nmm f 0,8 4 Mn =
6
Mu
10
Mn
=
=
= 1,25.10
6 Nmm
f 0,8
4
Mn =
1,25.10
Rn
=
= 0,193
N
/
mm
2
bd
2 200 .180
fy
400
m =
=
= 18,83
0,85
f
'
c
0,85. 25
1
Ï 2.
m . Rn
¸
rperlu
=
Ì 1
-
1
-
˝
m
Ó fy
˛
1
Ï
2.18,823.0,193
¸
=
Ì 1
-
1
-
˝
18,823
Ó 400
˛

= 0,00048

2

ρ perlu < ρmin tulangan tunggal, dipakai ρmin = 0,0035

As

=

ρmin . b . d

=

0,0035 . 200 . 180

=

126 mm 2

Jumlah

tulangan (n)

=

Jarak tulangan

=

As

0,25 13 2

b

p

200

=

= 0,949

= 100

n

2

2 buah

Dipakai tulangan pokok

= ø13 - 100 As = 265,465 mm 2

tulangan pokok = ø 1 3 - 100 → As = 265,465 mm 2 JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik
tulangan pokok = ø 1 3 - 100 → As = 265,465 mm 2 JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

4.

Desain Tiang Sandaran

Menurut PPPJJR Bab III pasal 1.2.5.c halaman 10 disyaratkan bahwa tiang sandaran pada tepi

trotoir diperhitungkan untuk dapat menahan beban horizontal sebesar 100 kg/m yang bekerja

pada tinggi 90 cm diatas trotoir

10

40

50

20

20

16

Dimensi 12/16

100 kg/m
100 kg/m
10 40 50 20 20 16 Dimensi 12/16 100 kg/m 120 160 Gambar 10. Rencana tiang
120
120
120
120
120
120
120
120
120
120
120
120
120
120
120
120

120

120
120
120

160

Gambar 10. Rencana tiang sandaran

Gaya horisontal (H) sebesar 100kg bekerja sepanjang 2 meter (jarak antar tiang sandaran) dengan ketinggian (L) 0,9 m di atas lantai trotoar. Dari tabel profil Konstruksi Baja susunan Ir. Morisco halaman 46 dan 48 didapat:

- Tegangan yang diijinkan

- Diameter

- Section Modulus (Wx)

- Weight (q) q total = 3,3 + 100 = 103,3 kg/m

M pipa sandaran = 1/8 . q total . l 2

=

=

=

1400 kg/m 2 60,5 mm 5,9 cm 3

= 3,3 kg/m

= 1/8 . 103,3 . 2 2

= 51,65 kgm = 5165 kgcm

Tegangan yang terjadi:

103,3 . 2 2 = 51,65 kgm = 5165 kgcm Tegangan yang terjadi: JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG
103,3 . 2 2 = 51,65 kgm = 5165 kgcm Tegangan yang terjadi: JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Fy

=

M max

5165

=

Wx

5,9

= 875,424

kg

/

cm

2

<

1400 kg/cm 2

a. Penghitungan momen pada tiang sandaran

Momen yang ditahan tiang sandaran sebesar :

Mu

= 1/2 . q. L 2

 

=1/2 . 100 . 0,9 2

 

= 40,5 kgm

= 40,5.10 4 Nmm

Mn =

Mu

=

40,5.10

4

= 50,625.10

4 Nmm

f

0,8

b. Penghitungan tulangan tarik tiang sandaran

Dipakai :

f’c = 25 MPa

Mutu baja tulangan U24 fy = 240 Mpa

< 30MPa β = 0,85

b = 120 mm d = 140 mm h = 160 mm d’ = 20
b
= 120 mm
d = 140 mm
h
= 160 mm
d’ = 20 mm
160
120
Gambar 11. Rencana dimensi tiang sandaran
d
= h – d’

= 160 – 20 = 140 mm

r

r

min =

1,4

1,4

=

fy

240

= 0,00583

b

=

0,85

x

b

xf ' c

Ê

Á

Á

Ë

600

fy

600 +

fy

ˆ

˜

˜

¯

=

0,85 x 0,85

x

25 Ê

Á

Ë

600

240

600

+

240

= 0,054

ˆ

˜

¯

x 0,85 x 25 Ê Á Ë 600 240 600 + 240 = 0,054 ˆ ˜
x 0,85 x 25 Ê Á Ë 600 240 600 + 240 = 0,054 ˆ ˜

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

r

max

=

0,75

xrb

 

=

0,75 x 0,054

=

0,041

Mn = 50,625.10 4 Nmm

4 Mn = 50,625.10 Rn = = 0,2152 N / mm 2 bd 2 120
4
Mn =
50,625.10
Rn =
= 0,2152
N
/
mm
2
bd
2 120 .140
fy
240
m
=
=
= 11,29
0,85
f
'
c
0,85 . 25
Ï 2.
m . Rn
¸
rperlu
=
1 1
Ì
-
1
-
˝
m Ó fy
˛
1
Ï 2.11,29.0,2152
¸
=
Ì
1
-
1
-
˝
11,29
Ó 240
˛

= 0,0009

2

ρ perlu < ρmin tulangan tunggal, dipakai ρmin = 0,00583

As

= ρmin . b . d

= 0,00583 . 120 . 140

=

97,944 mm 2

Jumlah tulangan (n)

Jarak tulangan

=

=

As

=

0,25.

b

p

.13

120

2

=

= 60

n

2

97,944

0,25.

p

.13

2

= 0,738

2 buah

, dipakai s = 50mm

Dipakai tulangan pokok

= ø13 - 50 As = 265,465 mm 2

c. Penghitungan tulangan geser tiang sandaran

Gaya lintang nominal:

V ll

= 2 x H

= 2 x 100

200 kg

= = 2000 N

Gaya lintang rencana:

V u

= 1,6 x V ll

= 1,6 x 2000

N Gaya lintang rencana: V u = 1,6 x V l l = 1,6 x 2000
N Gaya lintang rencana: V u = 1,6 x V l l = 1,6 x 2000

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

= 3200 N

Vu V n = f 3200 = = 5333,3 N 0,6 V = 1/6 .
Vu
V
n
= f
3200
=
= 5333,3 N
0,6
V
= 1/6 .
f 'c . b . d
c
= 1/6 .
25 . 120 . 140
= 14000 N
V
< V c
n

3200 < 14000 Aman, sehingga tidak diperlukan tulangan geser.

Meski dalam hitungan tidak diperlukan tulangan, namun untuk kemudahan pelaksanaan diberi

tulangan ulir 8 – 200 mm.

1 0 0 k g /m A A
1 0 0
k g /m
A
A

T u la n g an g eser

Ø 8 -2 0 0 P o to n g a n A -A
Ø 8 -2 0 0
P o to n g a n
A -A

T u lan g a n tarik

2 Ø 1 3

Gambar 12. Sketsa penulangan tiang sandaran

Checking jarak antar tulangan:

120 – (2 x 20) – (2 x 13) – (2 x 13) 25

28 mm

25 mm

Aman

½ øVc = ½ . 0,6 . 14000

= 4200 N

PBI 1971

mm → Aman ½ ø Vc = ½ . 0,6 . 14000 = 4200 N PBI
mm → Aman ½ ø Vc = ½ . 0,6 . 14000 = 4200 N PBI

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

S maks= ½ . d

Av

Vs

=

½ . 140

 

=

70 mm

Vu

3200

=

=

= 0,095 mm

 

fy d

.

240.140

Av. fy.d

 

=

 

s

0,095.240.140

 

=

 

70

=

45,6 N

2

Meski

dalam hitungan tidak diperlukan tulangan bagi, namun untuk kemudahan pelaksanaan diberi

Vu > ½ øVc

3200 < 4200 Aman, sehingga tidak diperlukan tulangan geser

tulangan ulir ø8 – 70mm. Ø 60.5 Ø 8 -2 00
tulangan ulir ø8 – 70mm.
Ø 60.5
Ø 8 -2 00

Gambar 13. Sketsa penulangan trotoar, kerb, dan tiang sandaran

13. Sketsa penulangan trotoar, kerb, dan tiang sandaran JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
13. Sketsa penulangan trotoar, kerb, dan tiang sandaran JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

d.

Perencanaan Gelagar Utama

1)

Analisa Pembebanan Beban Mati ( Dead Load ) Akibat beban sendiri Girder

- Berat air hujan (3cm)

= 0,4 . 1,2. 2,4

= 0,03 . 1,60 . 1,0

= 1,152 t/m

Akibat beban mati tambahan

= 0,0480 t/m

- Berat aspal (5cm)

= 0,5 . 1,60 . 2,2

= 0,176 t/m

- Berat slab beton (20cm)

= 0,02 . 1,60 . 2,4

= 0,0768 t/m

- Berat trotoar dan tiang sandaran

= 0,5720 t/m

 

qdl

= 2,0248 t/m

 

P akibat balok anak (terletak per 4 m bentang , dimensi balok 30/40)

Pdl = 0,3 . 0,4 . 1,6 . 2,4

= 0,4608 ton

2)

Beban Hidup ( Live Load )

 

Menurut PPPJJR pasal 1.2.2.4.a halaman 6 untuk perhitungan kekuatan gelagar-gelagar harus digunakan beban “ D “. Beban D adalah susunan beban pada setiap jalur lalu lintas yang terdiri dari beban terbagi rata sebesar “q” ton per meter panjang per jalur, dan beban garis “P” ton per jalur lalu lintas tersebut. Untuk memperhitungkan pengaruh getaran-getaran dan pengaruh dinamis lainnya, tegangan- tegangan akibat beban garis P harus dikalikan dengan koefisien kejut. Sedangkan beban merata q tidak dikalikan dengan koefisien kejut. Besarnya koefisien kejut ditentukan sesuai dengan PPPJJR pasal 1.3. hal 10:

Faktor kejut (K)

=

1

20

+ 50 + L

= 1 +

20

50

+

10

= 1,333

kejut (K) = 1 20 + 50 + L = 1 + 20 50 + 10
kejut (K) = 1 20 + 50 + L = 1 + 20 50 + 10

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Beban hidup per gelagar:

qll = 2,2 t/m untuk L < 30 m

qll =

2,2

2,75

.1,6.1,333

=1,706 t/m

Pll =

12

2,75

.1,6.1,333

= 9,307 t

e.

1)

Analisa Mekanika Akibat Beban Mati

PdI=0,461t PdI=0,461t PdI=0,461t
PdI=0,461t
PdI=0,461t
PdI=0,461t

qdI=2,025t/m

PdI=0,461 t

PdI=0,461t

PdI=0,461t PdI=0,461t qdI=2,025t/m PdI=0,461 t PdI=0,461t 10 m Gambar 14. Pembebanan akibat beban mati gelagar utama

10 m

Gambar 14. Pembebanan akibat beban mati gelagar utama

2)

Akibat Beban Hidup

PII=9,307t

beban mati gelagar utama 2) Akibat Beban Hidup PII=9,307t qII=1,706 t/m 10 m Gambar 15. Pembebanan
beban mati gelagar utama 2) Akibat Beban Hidup PII=9,307t qII=1,706 t/m 10 m Gambar 15. Pembebanan

qII=1,706 t/m

gelagar utama 2) Akibat Beban Hidup PII=9,307t qII=1,706 t/m 10 m Gambar 15. Pembebanan akibat beban
gelagar utama 2) Akibat Beban Hidup PII=9,307t qII=1,706 t/m 10 m Gambar 15. Pembebanan akibat beban

10 m

utama 2) Akibat Beban Hidup PII=9,307t qII=1,706 t/m 10 m Gambar 15. Pembebanan akibat beban hidup
utama 2) Akibat Beban Hidup PII=9,307t qII=1,706 t/m 10 m Gambar 15. Pembebanan akibat beban hidup

Gambar 15. Pembebanan akibat beban hidup gelagar utama

10 m Gambar 15. Pembebanan akibat beban hidup gelagar utama JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
10 m Gambar 15. Pembebanan akibat beban hidup gelagar utama JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

3)

Akibat Beban Mati & Hidup

qdI=2,025 t/m PII=9,307t PdI=0,461 t PdI=0,0,461t PdI=0,461t PdI=0,461t PdI=0,461t qII=1,706 t/m 10 m
qdI=2,025 t/m
PII=9,307t
PdI=0,461 t
PdI=0,0,461t
PdI=0,461t
PdI=0,461t
PdI=0,461t
qII=1,706 t/m
10 m
PdI=0,461t PdI=0,461t PdI=0,461t qII=1,706 t/m 10 m Gambar 16. Pembebanan akibat beban hidup dan beban mati
PdI=0,461t PdI=0,461t PdI=0,461t qII=1,706 t/m 10 m Gambar 16. Pembebanan akibat beban hidup dan beban mati

Gambar 16. Pembebanan akibat beban hidup dan beban mati gelagar utama

c.

Penentuan Letak Beban Hidup Bergerak

Alternatif 1

RA =

ton

5

x

3

10

= 1,5

3m

5m

5

t

10 t

Alternatif 1 RA = ton 5 x 3 10 = 1,5 3m 5m 5 t 10

A

B Alternatif 1 RA = ton 5 x 3 10 = 1,5 3m 5m 5 t 10
B

10 t

3m

4m

3m

 

10 m

1,5 3m 5m 5 t 10 t A B 10 t 3m 4m 3m   10
1,5 3m 5m 5 t 10 t A B 10 t 3m 4m 3m   10
Mt Mc 5 x 7 + 10 x 10 = RB = 13,5 ton 10
Mt
Mc
5 x
7
+ 10
x
10 =
RB =
13,5
ton
10
10 m Mt Mc 5 x 7 + 10 x 10 = RB = 13,5 ton
10 m Mt Mc 5 x 7 + 10 x 10 = RB = 13,5 ton

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Mt

= 1,5x3 = 4,5 tm

Mc

= 1,5x7 = 10,5 tm

Alternatif

2

 

3m

5m

5 t

10t

10t

A

A

 

5m

BA   5m A   5m

2m

3m

 

10m

Mt Mc 5 x 8 + 10 x RA = 5 = 9 ton 10
Mt
Mc
5
x
8
+ 10
x
RA =
5 = 9
ton
10
5
x
2
+
10
x
5
+
10
x
10 =
RB =
16
ton
10
Mt
= 9x2
= 18
tm
Mc
= 9x5 - 5x3 = 30
tm
16 ton 10 Mt = 9x2 = 18 tm Mc = 9x5 - 5x3 = 30
16 ton 10 Mt = 9x2 = 18 tm Mc = 9x5 - 5x3 = 30

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Alternatif 3

 

3 m

5 m

5t

10t

10t

A

A

1 m

3 m

5 m

1 m

B

B

5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc
5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc
5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc
5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc
5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc
5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc
5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc
5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc

10 m

5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc
5t 10t 10t A 1 m 3 m 5 m 1 m B 10 m Mc
Mc Md Mt
Mc
Md
Mt
5 x 9 + 10 x 6 + 10 x 1 RA = = 11,5
5
x
9
+
10
x
6
+
10
x
1
RA =
= 11,5
ton
10
5
x
1
+
10
x
4
+
10
x
9
RB =
= 13,5
ton
10
Mc
= 11,5x1 = 11,5 tm
Mt
= 11,5x4 - 5x3 = 31 tm
Md
= 13,5x1 = 13,5 tm
Alternatif 4
3 m
5 m
5t
10t
10t
A
B
3 m
5 m
2 m
10 m
Mc
Mt
5
x
10
+
10
x
7
+
10
x
2
RA =
= 14
ton
10
10
x
8
+
10
x
RB =
3 = 11
ton
10
= = 14 ton 10 10 x 8 + 10 x RB = 3 = 11
= = 14 ton 10 10 x 8 + 10 x RB = 3 = 11

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Mc

= 14x3 - 5x3 = 27 tm

Mt

= 11x2 = 22 tm

Jadi diperoleh momen paling maksimum pada alternatif 3 sebesar 31 tm yaitu beban roda

berada pada tengah-tengah bentang.

d. Penulangan Gelagar

Dipakai:

f’c = 20 MPa

Mutu baja U39 fy = 400 Mpa

b

h

> 30MPa β = 0,85

d = 1140 mm d’ = 60 mm

= 400 mm = 1200 mm

r

r

r

min =

1,4

1,4

=

fy

400

= 0,0035

b

max

=

0,85

x

b

xf ' c

Ê

Á

Á

Ë

600

fy

600 +

fy

ˆ

˜

˜

¯

=

0,85 x 0,85

x

25 Ê

600

400

Á

Ë

600

+

400

= 0,0271

=

= 0,75 x 0,0271

= 0,0203

0,75

xrb

ˆ

˜

¯

= 0,0271 = = 0,75 x 0,0271 = 0,0203 0,75 x r b ˆ ˜ ¯
= 0,0271 = = 0,75 x 0,0271 = 0,0203 0,75 x r b ˆ ˜ ¯

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

b = 1600 mm

b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm
b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm
b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm
b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm
b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm
b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm
b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm
b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm

h = 1200 mm

b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm

bw = 400 mm

b = 1600 mm h = 1200 mm bw = 400 mm hf = 200 mm

hf = 200 mm

Gambar 17. Penampang Balok T

e. Penulangan Lapangan

Berdasarkan hasil perhitungan SAP didapatkan :

Mu = 149,27 tm = 149,27. 10 7 Nmm

149,27 .10

Mn =

Mu

7

=

f 0,8

= 186,588.10

7

Nmm

Mencari b :

b

b

¼ . L = ¼ . 10 = 2,5

bw + 16 . hf

= 400 + 16 . 200 = 3600 mm

m = 2500 mm

b

diambil b terkecil b = 1600 mm

Check apakah balok T asli / palsu:

Ln = 1,6 m = 1600 mm

Mn

= 0,85 . f’c . a .b . (d – a/ 2)

149,27.10 7

= 0,85 . 25 . a .1600 . (1140-a/2)

a = 39,185 mm <

hf

= 0,85 . 25 . a .1600 . (1140-a/2) a = 39,185 mm < hf Balok

Balok T palsu

. a .1600 . (1140-a/2) a = 39,185 mm < hf Balok T palsu JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik
. a .1600 . (1140-a/2) a = 39,185 mm < hf Balok T palsu JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

Perhitungan memakai balok persegi b = 400 mm 7 Mn = 149,27.10 2 Rn =
Perhitungan memakai balok persegi
b = 400 mm
7
Mn =
149,27.10
2
Rn =
= 2,871
N
/
mm
2
2
bd
400 .1140
fy
400
m
=
=
= 18,824
0,85
f
'
c
0,85 . 25
1
Ï
2.
m . Rn
¸
rperlu
=
Ì
1
-
1
-
˝
m
fy
Ó
˛
1
Ï 2.18,824.2,871
¸
=
Ì 1
-
1
-
˝
18,824
400
Ó
˛
= 0,0077
ρ min <
ρ perlu < ρmax
→ 0,0036 < 0,0077 < 0,021 → tulangan tunggal
As
= ρ perlu . b . d
= 0,0077. 400 . 1140
=3511,2 mm 2
As
Jumlah tulangan (n)
=
= 7,156
→ 8 buah
0,25
p 25 2

As ada = 8 . 0,25 . p .25 2 = 3925 mm 2

Dipakai tulangan pokok

= 8ø25

>

As perlu

f. Penulangan Tumpuan

Mu

= 1/3 . Mlapangan

= 1/3 . 149,27. 10 7 Nmm

= 49,757 . 10 7 Nmm

Mn =

Rn

m

Mu

=

49,757 .10

7

= 62,1957.10

7 Nmm

f

0,8

 

Mn =

62,1957.10

7

= 1,196

N

/

 

2

=

 

mm

bd

2

400 .1140

2

 

=

fy

=

400

=

18,824

 
 

0,85

f '

c

400 = 18,824     0,85 f ' c JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.
400 = 18,824     0,85 f ' c JurusanTeknikSipil Fak.SainsdanTeknik UNDANAKUPANG John H.

JurusanTeknikSipil

Fak.SainsdanTeknik

1 Ï 2. m . Rn ¸ rperlu = Ì 1 - 1 - ˝
1
Ï 2.
m . Rn
¸
rperlu
=
Ì
1
-
1
-
˝
m
Ó fy
˛
Ï
2.18,824.1,196
¸
=
1 1
Ì
-
1
-
˝
18,824
Ó 400