Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS KERENTANAN GERAKAN TANAH (LONGSOR) DENGAN

MENGGUNAKAN SIG
Pengertian Umum
Gerakan tanah adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan
timbunan, tanah atau material campuran, bergerak kearah bawah dan keluar lereng (Varnes,
1978 dalam keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No.1452/K/10/MEM/2000).
Zona kerentanan gerakan tanah adalah suatu areal atau daerah yang mempunyai kesamaan
derajat kerentanan relatif (relative susceptibility) untuk terjadi gerakan tanah di suatu daerah.
Beberapa pengertian istilah yang digunakan dalam pemetaan zona kerentanan gerakan tanah
(Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No.1452/K/10/MEM/2000) adalah
sebagai berikut:
1. peta parameter adalah peta-peta tematik yang digunakan sebagai peta dasar dalam
analisis tumpang tindih (overlaying) untuk penentuan kriteria zona kerentanan tanah.
Peta parameter yang digunakan adalah peta geologi, peta sudut lereng dan peta tata
guna lahan,
2. peta geologi adalah peta yang menggambarkan sebaran tiap satuan atau formasi
batuan, struktur geologi dan susunan stratigrafinya,
3. peta sudut lereng adalah peta yang menggambarkan besarnya sudut lereng suatu
wilayah,
4. peta tata lahan adalah peta yang menggambarkan penggunaan lahan suatu wilayah
saat ini,
5. unit adalah daerah satuan kelompok batuan yang memiliki kesamaan dalam peta
geologi,
6. klas adalah daerah yang mempunyai kisaran sudut lereng sama dalam suatu peta sudut
lereng,
7. tipe adalah daerah yang mempunyai kesamaan dalam penggunaan lahan pada peta tata
lahan,
8. skala peta adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak sebenarnya yang
dinyatakan dengan angka atau garis atau gabungan keduanya.
9. peta sebaran gerakan tanah adalah peta yang menggambarkan sebaran gerakan tanah
dalam sebuah wilayah. Pembagian batasan ukuran gerakan tanah dibagi menjadi:
- gerakan tanah besar, mempunyai lebar maksimum lebih besar dari 150m,
- gerakan tanah kecil, mempunyai lebar 15-150m,
- gerakan tanah sangat kecil mempunyai lebar kurang dari 15m, dan
10. lebar gerakan tanah adalah ukuran lebar maksimum pada sumbu yang tegak lurus arah
gerak dari gerakan tanah.
Sistim Informasi Geografis dapat didefenisikan sebagai suatu sistem informasi yang
dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi dan
suatu sistem database dengan kemampuan khusus untuk data yang bereferensi spasial dengan
seperangkat operasi kerja, peta berorde tinggi yang juga mengoperasikan dan menyimpan
data non-spasial (Star&Estes, 1990). Selain itu secara umum sering didefinisikan juga

sebagai suatu sistem berbasis komputer yang dapat memanajemen, memanipulasi dan
menganalisis informasi-informasi kebumian.
Tinjauan Umum Tentang Sistem Infomasi Geografis (SIG)
Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sebuah alat bantu dalam melakukan pekerjaan
yang berkaitan dengan komponen dimensi keruang. Sistem ini menggabungkan semua
kemampuan, baik yang hanya berupa sekedar tampil saja, sistem informasi yang tersaji secara
thematis, bersamaan dengan kemampuan untuk menganalisa lokasi geografis dan informasiinformasi tertentu yang terkait terhadap lokasi yang bersangkutan.
Sistem informasi Geografis (SIG) adalah sebuah aplikasi dinamis, dan akan terus
berkembang. Peta yang dibuat pada aplikasi ini tidak hanya akan berhenti dan terbatas untuk
keperluan saat dibuatnya saja tetapi dengan mudah bisa dilakukan peremajaan terhadap
informasi yang terkait pada peta tersebut, dan secara otomatis peta tersebut akan segera
menunjukkan akan adanya perubahan informasi. Semuanya itu dapat dikerjakan dalam waktu
singkat, tanpa perlu belajar secara khusus. Sistem informasi Geografis (SIG) dapat
menggambarkan dan menganalisa informasi dengan cara pandang baru, mengungkap semua
keterkaitan yang selama ini tersembunyi, pola, dan kecenderungannya.
SIG hanya sebuah sarana untuk pengambilan data, menganalisanya, dari kumpulan data
berbasis pemetaan untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Teknologi SIG banyak
digunakan untuk membantu berbagai kegiatan pekerjaan seperti penyajian informasi pada
saat pembuatan perencanaan, membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan letak
geografis.
Sistem Informasi Geografis terdiri atas seperangkat komponen yang tidak dapat dipisahkan
satu dengan lainnya. Komonen tersebut adalah sebagai berikut:
1. brainware (manusia)
2. data, berupa peta analog, data survey, statistic, foto udara, data SIG sebelumnya, dll
3. hardware (perangkat keras komputer berikut kelengkapan pendukungnya dan perangkat
keras komunikasi) mis: computer, scanner, digitizer,
4. software (perangkat lunak) mislanya : Arc View, Arc Info, Map Info, Surfer, Autocad, dll.
Tinjauan Umum Tentang Kerentanan Gerakan Tanah
Berdasarkan mekanisme dan materialnya (Varnes, 1958 dalam Nitihardjo, 1995), maka maka
gerakan tanah dapat digolongkan menjadi 6 (enam) jenis (tabel 3.1). Gerakan tanah atau
tanah longsor merupakan fenomena alam yang lazim terdapat di Indonesia. Sejak lama
fenomena ini sudah dikenal, yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa fenomena ini
bertambah sering dan dimensinya pun bertambah menjadi besar. Pertambahan baik kualitas
maupun kuantitas dari proses gerakan tanah ini justru bersamaan dengan meningkatnya
pembangunan di Indonesia.
Tabel 3.1: Klasifikasi Gerakan Tanah (Varnes, 1958 dalam Nitihardjo, 1995).

No
1.

2.

Type
Falls

Sllides

Subtype

Description
- Rockfall (bedrock)

Rotational

- Soifall (Loose material)


- Slump (bedrock or cohesive units of

Planar

material
- Block-glide (bedrock or cohesive units
Loose mterial)
- Rockslide (bedrock)

3.

Flows

Dry

- Debris slide (loose material)


- Rock avalanche
- Sand run

Moderately wet

- Loes flow
- Debris avalanche

Very wet

- Earth flow
- Sand or silt flow
- Debris flow
- Mud flow

Karena itu perlu adanya suatu bentuk Informasi mengenai tingkat kerentanan suatu daerah
untuk terkena atau terjadi gerakan tanah. Bentuk Informasi ini diwujudkan dalam suatu peta
zona kerentanan gerakan tanah. Sehingga Informasi tentang kerentanan gerakan tanah dapat
digunakan sebagai informasi awal untuk analisa resiko terjadinya bencana dan analisa
penanggulangan bencana sebagai acuan dasar untuk pengembangan wilayah berikut
pembangunan instruktur. Lingkup kegitan dalam pemetaan zona kerentanan tanah
(Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, No. 1452/K/10/MEM/2000)meliputi:
1. Persyaratan Tenik, yaitu:
Persyaratan peta dimana peta tematik dan peta sebaran gerakan tanah disyaratkan
mempunyai sekala yang sama, dan terdigitasi dalam bentuk polygon.
Pembagian zona kerentanan gerakan tanah, zona kerentanan gerakan tanah dapat dibagi
sebanyak-banyaknya menjadi 4 (empat) yaitu: zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah,
menengah dan tinggi.
2. Metode pemetaan zona kerentanan gerakan tanah. Metode analisis yang dipergunakan
adalah metode analisis gabungan antara pemetaan tidak langsung dan pemetaan langsung.
Pekerjaan ini menggunakan SIG.

Variasi pergerakan massa terjadi ketika tegangan (shear stress) cenderung berpindah
berpindah ke material utama dari penyusun suatu lereng lebih besar dari (resisting strength)
maka tidak akan terjadi keruntuhan lereng. Jadi stabilitas lereng menggambarkan
keseimbangan antara shear stress dan Shear strenght yang dapat digambarkan dengan rumus
saftyratio.

Dikatakan lereng itu stabil jika F>1. Unsur-unsur yang berada dibawah saftyrasio akan
memicu terjadinya gerakan tanah dan kecenderungan ini dapat terjadi apabila shear stressnya
meningkat. Secara teori keruntuhan lereng muncul jika F=1.
Tabel III.2 Klasifikasi kuat batuan (Johannesstrade dalam Process Geomorphology, Dale F.
Ritter1978).
Parameter

1
Very Strong

Intract rock
100-60
strength(Ntype Schmidt
r : 20
hammer R)
Unweathered
Weathering

2
Strong

3
Moderat

4
Weak

5
Very Weak

60-50

50-40

40-35

35-10

r : 18

r : 14

r : 10

r:5

Highly
weathered

Completely
weathered

r:5

r:3

300-50 mm

<50mm

Slightly
weathered

r : 10
Spacing of
Joints

Joint
orientation

Width of
joints

>3m
r : 30
Very
vavorabble
step dip into
slope, cross
joint interlock
r : 20
<0.1>

r:7
None
Continuity of continous
joints
R:7

Outflow of
groundwater

r:9
3-1 m

Moderately
Weathered
r:7
1-0.3

r : 28
r : 21
r : 15
r:8
Vavorabble
Fair Horizontal
Very
step dip into
Unvavorable
dips, vertical
unfavorable
slope, cross
Moderat dips
(hard rocks
steep dips out of
joint
out of slope
only)
slope
interlock
r:9
r : 14
r:5
r : 18
0.1-1 mm
1 5 mm
5-20 mm
>20mm
r:6
Few
continous

r:5
r:4
Countinous no Continous thin
infill
infill

R:6

R:5

None

Trace

Slight
<25l/min/10m2

r:6

r:5

R:4
Moderate

r:2
Countinous
thick infill
R:1
Great

25>125l/min/10m2
125l/min/10m2

r:4
r:3

r:1

Total Rating 100-91

90-71

70-51

50-26

<26

Salah satu faktor bertambahnya nilai shear stress adalah kekuatan batuan, dengan sifat-sifat
seperti kekerasan batuan, tingkat pelapukan, spasi kekar, bukaan kekar, kontinuitas kekar,
airtanah, kemiringan lereng, dan lain sebagainya.
Faktor-faktor tersebut memiliki tingkatan-tingkatan dengan pembobotan tertentu, seperti
yang dikemukakan dalam klasifikasi kuat batuan (Johannesstrade dalam Process
Geomorphology, Dale F. Ritter1978) (Tabel II.1).
Kerentanan gerakan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya; geometri lereng,
struktur geologi, morfologi, iklim, sifat fisik dan mekanik serta gaya-gaya luar yang bekerja
pada lereng tersebut (Sembiring, 1989).
Adapun penjelasan faktor-faktor tersebut, sebagai berikut:
1. Geometri lereng.
Kemiringan dan ketinggian suatu lereng, sangat mempengaruhi kemantapannya. Semakin
besar kemiringan dan ketinggian suatu lereng, maka kemantapannya berkurang.
2. Morfologi.
Morfologi yang dimaksudkan disini adalah keadaan fisik, karakteristik dan bentuk
permukaan bumi. Keadaan morfologi suatu daerah akan mempengaruhi kemantapan lereng.
Hal ini disebabkan karena morfologi sangat menentukan laju erosi, pengendapan,
menentukan arah aliran tanah dan air permukaan dan mempengaruhi pelepukan batuan.
3. Struktur geologi.
Stuktur geologi yang sangat mempengaruhi kemantapan lereng adalah bidang-bidang sesar,
perlapisan, dan kekar-kekar (joint). Bidang-bidang struktur geologi tersebut, merupakan
bidang lemah (diskontinuitas) dan tempat merembesnya air, yang menyebabkan lereng lebih
mudah melongsor.
4. Iklim.
Iklim juga mempengaruhi kemantapan suatu lereng. Hal ini disebabkan karena iklim
mempengaruhi perubahan temperatur, jumlah hujan per tahun, dan yang terpenting, iklim
juga mempengaruhi tingkat pelapukan, maka kekuatan batuan atau tanah menjadi semakin
kecil.
5. Sifat Fisik dan Mekanik.
Sifat fisik batuan yang mempengaruhi kemantapan suatu adalah bobot isi, porositas dan
kandungan air. Kuat tekan, kuat tarik, kuat geser dan sudut geser dalam batuan atau tanah
semakin kecil.
6. Air Tanah.

Dengan adanya air di dalam batuan atau tanah, akan menimbulkan tekanan air pori. Tekanan
air pori akan mengakibatkan kuat geser batuan menjadi kecil. Batuan yang mempunyai kuat
geser yang kecil, akan mudah longsor. Semakin banyak jumlah air dalam batuan, maka
tekanan air pori juga bertambah besar.
7. Air Hujan.
Dengan adanya air hujan, akan mempercepat terjadinya erosi dan biasanya menggerogoti
bagian lapisan yang lemah, sehingga membentuk Under Cut pada muka lereng. Disamping
itu, air hujan juga mengisi rekahan-rekahan yang ada, akibatnya lereng akan lebih mudah
longsor.
Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemantapan lereng sangat penting
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana faktor-faktor tersebut berpengaruh pada daerah
penelitian. Salah satu faktor yang akan dikaji lebih dalam adalah faktor geometri lereng.
Lereng merupakan nilai yang didapatkan dari perbandingan beda tinggi kenampakan
bentangalam pada suatu tempat dengan jarak lurus mendatar dari kedua tempat tersebut.
Kemiringan lereng yang besar akan mempengaruhi kestabilan lereng suatu daerah. Makin
besar kemiringan lereng suatu daerah, maka semakin besar pula kemungkinan akan terjadinya
gerakan tanah (lereng tidak stabil). Kemiringan lereng ini dapat diamati dan diukur langsung
di lapangan namun metode yang digunakan dalam penelitian ini lebih difokuskan pada
analisa peta topografi skala 1:50000.
Analisa peta topografi dilakukan dengan menghitung kemiringan lereng dalam suatu grid
tertentu berdasarkan data ketinggian kontur yang tersaji dalam peta topografi
Metode Pendekatan dan Analisis
Perkembangan teknologi informasi dirasakan pula dalam ilmu kebumian, yang kemudian
melahirkan perangkat lunak (software) yang membantu pekerjaan pengolahan data dan
analisis data. Salah satu perangkat lunak yang berkembang pesat dalam ilmu kebumian
adalah Sistim Informasi Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografis hanyalah sebuah alat
bantu, namun yang paling menentukan kualitas luaran sistim ini tetap berada pada
kemampuan operatornya.
Software yang dipergunakan adalah Arc View, Versi 3,2. Software ini digunakan untuk
menghitung persentase kemiringan lereng, dan menghitung dan mengevaluasi unit, klas atau
tipe mana dari setiap individu peta yang penting (berpengaruh) terhadap kejadian gerakan
tanah.
Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No.1452/K/10/MEM/2000
tentang Pedoman Teknis Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah, pemetaan zona
kerentanan tanah dapat dilakukan dengan pemetaan langsung, pemetaan tidak langsung dan
metoda gabungan.
Selain menggunakan metode SIG, juga dilakukan metode pendekatan berupa metode
kuantitatif (metode statistik). Metode ini didasarkan pada perhitungan kerapatan (density)
gerakan tanah dan nilai bobot (weight value) dari masing-masing unit, klas atau tipe pada

setiap peta parameter. Cara perhitungan yang didasarkan pada perhitungan luas gerakan
tanahnya. Nilai kerapatan (density value) dari tiap unit, klas atau tipe pada setiap peta
parameter dalah pencerminan dari luas kejadian gerakan tanah pada satu satuan (unit, klas
atau tipe) per luas dari luas unit, kals atau tipe parameter.
Kerapatan = Luas Gerakan Tanah pada unit klas atau tipe "A"/Luas unit,Klas atau
tipe "A"
Nilai bobot (weigth value) dari tiap unit, klas atau tipe pada setiap peta parameter
didefinisikan sebagai pengurangan kerapatan gerakan tanah pada tiap unit, klas atau tipe oleh
jumlah seluruh gerakan tanah per luas seluruh peta.
Nilai bobot= Luas gertan pada unit,klas, tipe "A"/Luas unit,klas,tipe "A"
Tiap individu peta parameter yang telah ditumpang tindihkan dengan peta distribusi gerakan
tanah akan menghasilkan kerapatan dan bobot gerakan tanah pada tiap unit, klas atau tipe.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Lampiran Keputusan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Repoblik Indonesia No.1452 K/10/MEM/2000 tentang
Pedoman Teknis Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah. Didalamnya dijelaskan tentang
3 (tiga) cara pemetaan zona kerantanan gerakan tanah, yaitu :
- Pemetaan langsung,
- Pemetaan tidak langsung,
- Pemetaan gabungan
Metode langsung adalah pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dengan menggunakan data
hasil pemetaan langsung di lapangan dengan memperhitungkan faktor: morfologi, litologi,
struktur geologi dan lain-lain. Sedangkan metode tidak langsung adalah dengan prosedur
analisis tumpang tindih (overlaying) untuk mencari pengaruh faktor-faktor yang terdapat
pada peta-peta parameter terhadap sebaran (distribusi) gerakan tanah, kemudian dengan
analisis menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis) dapat ditentukan zonasi kerentanan
gerakan tanahnya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode pemetaan tidak
langsung.
Pengerjaan analisis dengan SIG dalam pemetaan zona kerentanan gerakan tanah secara tidak
langsung, dilakukan dengan menggunakan software Arcview versi 3.2 Berikut ini akan
diuraikan beberapa tahapan dalam studi khusus kerentanan gerakan tanah menggunakan SIG.
1. Tahap pengumpulan data
Dalam tahapan ini dilakukan pengumpulan data-data berupa data geologi, tataguna lahan,
kemiringan lereng. Data-data tersebut umumnya dalam bentuk peta analog.

2. Analisa I
Dalam tahapan ini dilakukan analisa data yang telah dikumpulkan. Analisa awal tersebut
dijadikan acuan dalam merencanakan pemetaan kerentanan gerakan tanah secara langsung di
lapangan.
3. Pengambilan data lapangan
Kegiatan pengambilan data lapangan meliputi pengukuran dimensi gerakan tanah,
pengamatan kondisi geologi berupa kemiringan lereng, kerapatan kekar, bukaan kekar,
kedudukan perlapisan batuan, tebal soil, hidrologi, dan aktivitas manusia.
4. Pengolahan Data
Pengolahan data meliputi pengolahan data lapangan dan konversi peta. Kegiatan pengolahan
data lapangan tersebut akan menghasilkan peta sebaran gerakan tanah. Sedangakan kegiatan
konversi peta dimaksudkan agar peta analog terkonversi menjadi peta digital yang lazim
dinamakan digitasi. Pemberian kode pada saat digitasi untuk menghindari pemberian kode
yang kompleks. Setiap obyek dalam peta digital baik berupa titik (misalnya : titik
ketinggian), unsur garis (misalnya : jalan, sungai), juga unsur poligon (misalnya :
pemukiman, hutan) memuat data non-grafis (atribut) berupa informasi-informasi tekstual
kedalam database.
5. Analisa II
Kegiatan ini mencakup proses pembentukan query (perintah pengambilan dan analisis data)
dengan menggunakan fasilitas fungsi yang ada pada sistem tersebut. Peta-peta tematik hasil
digitasi, dianalisis dengan metode tumpang tindih (overlaying). Tumpang tindih dilakukan
antara peta-peta parameter (geologi, tata lahan dan sudut lereng) terhadap peta distribusi
gerakan tanah. Dari hasil tumpang tindih tersebut dilakukan perhitungan nilai kerapatan
(density value) dan nilai bobot (weight value) dengan menggunakan metode kuantitatif
(metode statistik) sebagai metode pendekatan. Hasil perhitungan nilai bobot setiap peta
parameter dijumlahkan untuk mendapatkan nilai boot akhir. Nilai bobot akhir tersebut
diselang untuk mendapatkan batas atas dari setiap zona kerentanan gerakan tanah. Dari batas
atas nilai bobot tersebut, zona kerentanan gerakan tanah diklasifikasikan menjadi empat zona
yaitu zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah, rendah, menengah dan tinggi.
6. Tahap penyajian data
Dari hasil analisis di atas, dihasilkan peta zona kerentanan gerakan tanah dengan skala dan
warna tertentu untuk memperjelas unur-unsur yang ditampilkan.
Secara rinci prosedur analisa gerakan tanah dengan menggunakan GIS akan diuraikan
sebagai berikut :
1. tumpang tindih antara peta-peta parameter dengan peta distribusi gerakan tanah,
2. hitung luas daerah yang terkena gerakan tanah dan luas seluruh peta,
3. hitung kerapatan gerakan tanah pada seluruh daerah pemetaan,

4. hitung kerapatan gerakan tanah pada setiap unit, klas atau tipe peta parameter,
5. hitung nilai bobot pada setiap unit, klas atau tipe peta parameter,
6. overlay peta-peta parameter
7. jumlahkan semua nilai bobot dari tiap peta parameter dan
8. klasifikasikan hasil dari penjumlahan seluruh nilai bobot menjadi 4 (empat) kelas
klasifikasi pembagian zona, yaitu: kerentanan sangat rendah, rendah, menengah dan tinggi.