Anda di halaman 1dari 13

Sabtu, 04 Agustus 2012

Praktikum Penentuan HCG dalam Urin

BAB I
PENDAHULUAN
Darah merupakan cairan tubuh yang mempunyai fungsi sangat penting, terutama pada hewan
dan manusia, salah satunya karena selain sebagai pengangkut hormon, pengedar panas dalam
tubuh serta sebagai antibody, darah juga merupakan zat antara (medium tranport) yang
membawa zat-zat makanan ke berbagai bagian tubuh kemudian membuang sisa-sisa hasil
metabolisme.
Darah mempunyai tingkat keasaman atau kebasaan tertentu. Keadaan pH darah pada tiap-tiap
makhluk hidup berbeda-beda. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor
intrinsik yang terdiri atas volume darah dan jenis kelamin. Selain itu juga dapat disebabkan
karena faktor ekstrinsik yang berupa status gizi yang diberikan dan pengaruh lingkungan.
Urine atau disebut juga dengan air kemih merupakan hasil filtrasi ginjal. Sebagian dari hasil
pemecahan yang terdapat akan disaring oleh ginjal. Pada acara praktikum kali ini tidak hanya
dibahas tentang urine manusia normal tetapi juga dilakukan percobaan dengan wanita hamil.
Pada urine wanita hamil dilakukan penelitian untuk mengetahui berapa bulan kandungan. Pada
awal kehamilan juga diekskreikan HCG ( Human Chorionik Gonadotropin ) yang merupakan
glikoprotein yang mengadung galaktosa dan heksosamin ke dalam urine. Didalam HCG tersebut
juga terdapat proses reaksi antigen antibodi.

Ureter adalah organ yang menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kencing (blader). Cara
masuknya ureter menembus dinding blader sedemikian rupa, sehingga membentuk suatu katub
yang mencegah arus balik urine ke ginjal. Leher kantung kencing (blader) bersambungan dengan
uretra, dan otot dinding blader bagian leher tersusun secara melingkar, membentuk suatu sfiagler
yang mengontrol lewatnya urine masuk ke uretra.
BAB II
TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum dalam penentuan HCG dalam urine adalah untuk mengetahui prinsip - prinsip
dan cara-cara penentuan HCG dalam urine secara kualitatif. Selain itu praktikan diharapkan
mampu menggunakan alat test slide untuk mengadakan percobaan HCG dalam urine.
Manfaat dalam praktikum dasar fisiologi ternak ini memberikan pengetahuan tentang apa yang
dimaksud dengan HCG yang terdapat dalam urine serta dapat mendeteksi urine pada wanita
hamil.
BAB III
Tinjauan Pustaka
Sistem urinasi bertujuan untuk berlangsungnya ekskresi bermacam-macam produk buangan dari
dalam tubuh. Sistem ini juga penting sebagai faktor untuk mempertahankan homeokinetis
(homeostatis), yaitu suatu keadaan yang relatif konstan dari lingkungan internal di dalam tubuh.
Hal tersebut mencakup faktor-faktor yang beragam seperti keseimbangan air, pH, tekanan
osmotik, tingkat elektrolit dan konsentrasi banyak zat didalam plasma (Frandson, 1993).
Menurut Frandson (1993) Human Chorinic Gonadotropin (HCG) adalah suatau glikoprotein
yang mengandung galaktosa dan heksosamin. Kadar HCG meningkat dalam darah dan urine
segera setelah implantasi ovum yang sudah dibuahi. Dengan demikian ditemukannya HCG
merupakan dasar bagi banyak tes kehamilan (Murray et al, 1999). Tes kehamilan menggunakan
urine, ,karena dalam wanita hamil mengadung HCG (Human Chorionic Gonadotropin). HCG
yaitu suatau hormon glikoprotein yang mempertahankan system reproduksi eanita dalam
keadaan cocok untuk kehamiln . HCG disentesa pada retikulum endoplasma kasar, glikosilasi
disempurnakan apparatus golgi (Johnson,1994). HCG dapat juga digunakan dalam upaya
mersinkronkan ovulasi dan perkawianan yang diperlukan agar terjadi suatu konsepsi
(Frandson,1993). Bila terdapat HCG dalam urine , HCG terikat pada antibodi dan dengan
demikian akan mencegah aglutinasi partikel lateks yang dilapisi HCG yang diperlihatkan oleh
antibodi tersebut. Dengan demikian uji kehamilan positif apabila tidak terjadi aglutinasi, dan
kehamilan negatif jika terjadi aglutinasi (Pearce , 1997 ).
Volume urine yang dikeluarkan kemungkinan besar dikarenakan variasi jumlah air yang masuk
dalam tubuh dan eliminasinya oleh paru-paru dan kulit. Rata-rata volume yang dikeluarkan
berkisar antara 1 sampai 1,5 liter perhari. Volume air habis oleh paru-paru selalu konstan,
sedangkan yang disekresikan oleh kulit berfariasi tergantung pada temperature dan kelembaban

udara dan intensitas panas yang dihasilkan oleh aktivitas otak.(Tuttle & Schotelius,1961). Urin
yang diekskresikan selama 24 jam, pada diet biasa meliputi air 1,2 L; urea 30 gr; asam urat 0,5
gr; kreatinin 1,0 gr; lainnya 10,0 gr; materi organik 3,0 gr. (Tuttle dan Schottelius, 1961).
Dalam urine juga terdapat tingkat keasaman (pH). Urine dalam keadaan asam dengan pH yang
lebih rendah dari 6, ada asam yang dapat ditibrasi, ada ion-ion amonium, tetapi tidak ada ion
bikarbonat. Sel-sel tubulus renal memiliki kemampuan untuk membentuk amoniak ( NH3 ) dari
deaminasi asam-asam amino. Amonia tersebut berdifusi ke dalam tubulus dan segera bereaksi
dengan ion-ion hidrogen membentuk ion-ion amonium ( NH4+ ) yang kemudian diekskresikan
ke dalam urine, dalam kombinasi dengan klorida atau ion-ion negatif lainnya. Ini adalah cara
untuk memindahkan ion hidrogen dan klorida, sementara garam netral amonium klorida
membantu mempertahankan pH yang normal dari filtrat. Reabsorbsi bikarbonat dan ion-ion Na+
ke dalam plasma darah, merupakan cara yang penting guna mengotrol keseimbangan asam basa.
pH urine yang terakhir, tergantung pada kuantitas berbagai ion yang terdapat di dalamnya.
Peningkatan bikarbonat menyebabkan meningkatnya kebasaan ( alkalinitas ) urine. Urine yang
asam dapat dihasilkan oleh pertukaran natrium dengan ion-ion hidrogen atau amonium klorida.
( Frandson , 1993 ).
Urine yang terus menerus bersifat asam dapat terjadi pada asidosis respiratorik atau asidosis
metabolik & pada piroksida (demam) , sedangkan urine yang terus menerus bersifat basa
menyatakan adanya infeksi pada saluran kemih oleh organisme yang menguraikan urea. Contoh
pada infeksi proteus, pH urine tetap sebesar 8 atau lebih tinggi lagi. Urine yang terus menerus
bersifat basa juga terjadi pada renal tubular asidosis (penyakit ginjal dimana bikarbonat tidak
dapat dikonservasi), pada kekurangan kalium & pada sindroma Fanconi (penyakit ginjal dimana
terjadi gangguan ekskresi amonia) (S.A. Price d Sistem uriner terdiri dari dua ginjal dua ureter,
kandung kencing , dan uretra. Ginjal melakukan fungsi vital sebagai pengatur volume dan
komposisi kimia darah dengan mengekskresikan solut dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal
dilakukan dalam organ dengan filtrasi plasma darah melalui glomerulus, diikuti dengan proses
reabsorbsi sejumlah cairan dan air sesuai disepanjang tubulus ginjal. Kelebihan solut dan air
akan diekskresikan sebagai urine melalui sistem keluar tubuh. Menurut Pearce (1997) Dalam
ginjal terjadi rangkaian proses pembentukan urine, yaitu sebagai berikut :
1. Penyaringan atau filtrasi zat-zat sisa metabolisme. Proses ini dilakukan oleh simpai Bowmen.
2. Penyerapan kembali atau reabsorbsi zat-zat yang masih berguna bagi tubuh. Proses ini
berlangsung di sepanjang tubulus kontortus proksimal hingga gelung Henle.
3. Pengeluaran zat yang tidak diperlukan dan tidak dapat disimpan dalam tubuh yang disebut
augmentasi. Proses ini terdapat di tubulus kontortus distal hingga tubulus kolektifus.
Pengeluaran glukosa yang terus meningkat akan menyebabkan diabetes. Hal ini disebabkan
karena jika konsentrasi glukosa yang memasuki tubulus ginjal lebih dari 225 mg per menit,
sebagian besar glukosa ini akan keluar melalui urine. Nilai itu sesuai dengan konsentrasi plasma
yaitu 180 mg per 100 ml dan disebut renal threshoid.. Jika konsentrasi glukosa naik terus
melebihi 325 mg per menit, yaitu nilai Tm untuk glukosa. Diginjal kelebihan glukosa ini keluar
melalui urine. Karena pada penderita diabetes yang tidak diobati, dapat mencapai nilai gula
darah diantara 300-500 mg per 100 ml, maka beberapa ratus gram glukosa dapat keluar melalui

urine per hari (Effendi, 1991). Meski glukosa dapat melalui membran glomerolus, dalam
keadaan normal konsentrasi glukosa dipertahankan melalui reabsorbsi yang sempurna. Dalam
kenyataannya, adanya glukosa didalam urine merupakan keadaan yang tidak normal
( Tjokroprawiro , 1992 ).
BAB IV
METODOLOGI PRAKTIKUM
Praktikum Dasar Fisiologi Ternak tentang penentuan HCG dalam urin dilaksanakan pada hari
Selasa tanggal 27 Mei 2008 pada pukul 07.00 - 09.00 WIB di Laboratorium Struktur dan Fungsi
Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Diponegoro Semarang.
4.1. Materi
Bahan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah urine wanita hamil dan urine wanita dewasa
yang tidak hamil (urine normal). Alat yang diperlukan dalam praktikum ini adalah test slide dan
gelas transparan.
4.2. Metode
Menyiapkan urine wanita hamil dan urine wanita dewasa tidak hamil (urine normal). Langkah
selanjutnya adalah menyelupkan test slide ke dalam tabung yang berisi sampel urine, sampai
tanda panah pada slide, tunggu selama 20 detik, lalu angkat test slide dan letakkan dalam tempat
yang kering, lakukan pengamatan pada test slide setelah 3 menit. Bila pada indikator terdapat
satu strip berarti hasilnya negatif, tetapi apabila pada indikator terdapat dua strip berarti hasilnya
positif. Mengulangi test pada urine wanita hamil pada temperatur di bawah temperatur kamar.
BAB V
HASIL PERCOBAAN
Dari hasil praktikum tentang Penentuan HCG Dalam Urine dapat diketahui bahwa urine pada
wanita hamil menunjukkan dua strip pada test slide yang berarti hamil sedangkan pada urine
wanita dewasa yang tidak hamil (urine normal) menunjukkan satu strip pada test slide yang
berarti tidak hamil.
BAB VI
PEMBAHASAN
Dari hasil percobaan diperoleh hasil pada wanita hamil menunjukkan dua strip pada test slide
yang berarti positif sedangkan pada wanita yang tidak hamil (urine normal) menunjukkan satu
strip pada test slide yang berarti negative.

HCG berfungsi untuk mempertahankan corpus luteum yang membuat estrogen dan progesteron
sampai saat plasenta terbentuk sepenuhnya dan dapat membuat sendiri cukup estrogen dan
progesteron. Pada waktu itu kadar HCG juga turun. (Prawirohardjo, 1976). Human Chorionic
Gonadotropic adalah hormon yang terdapat pada urine semasa kebuntingan pada manusia. Oleh
sebab itu HCG hanya dapat digunakan pada manusia saja, sedangkan pada hewan tidak dapat
digunakan (Pearce, 1997).
HGC dalam urine akan diketahui pada wanita hamil karena HGC terbentuk hanya pada wanita
yang sedang hamil. Adanya HCG dapat dideteksi 8-9 hari setelah adanya peristiwa ovulasi. HCG
dalam urine berisi dua reagen, pertama adalah suspensi partikel lateks yang dilapisi atau terikat
secara kovalen dengan HCG dan yang lain berisi larutan antibodi HCG. Bila terdapat HCG
dalam urine, HCG terikat pada antibodi dan dengan demikian akan mencegah aglutinasi partikel
lateks yang dilapisi HCG yang diperlihatkan oleh antibodi tersebut. Dengan demikian uji
kehamilan positif, apabila tidak terjadi aglutinasi, dan kehamilan negatif jika terjadi aglutinasi.
Identifikasi HCG ini dapat dilakukan pada awal-awal kehamilan (Murray et al, 1999).
Test slide ini sangat tergantung pada kerja sama antibodi dan antigen. Antibodi ini zat kimia yang
dihasilkan oleh limfosit dan struktur lain di dalam tubuh. Sedangkan antigen, zat asing yang
masuk dan merangsang reaksi kimia tubuh. Jika antigen masuk ke dalam jaringan tubuh, antibodi
bereaksi sehingga antigen tidak berbahaya lagi. Tiap antibodi hanya bereaksi terhadap antigen
tertentu. Antibodi-antibodi itulah yang ditambatkan pada media tes, yang mempunyai dua strip
(garis) indicator (Pearce, 1997).
Pada fase kehamilan bulan ketiga dan keempat, korpus luteum masih menghasilkan hormon
estrogen dan progresteron. Kedua hormon tersebut mempunyai peranan dalam mengatur dinding
uterus sehingga siap untuk menerima implantasi dan memberikan segala sesuatu yang
dibutuhkan oleh zigot yang sedang berkembang. Pada fase ini, juga sudah terjadi rangsangan
pada kelenjar susu, sehingga pada saat diperlukannya sudah siap berfungsi. Selanjutnya fungsi
korpus luteum diganti oleh plasenta yang menghasilkan hormon yang diperlukan untuk
kehidupan janin dalam rahim. Hormon HCG (Human Chorionic Ganadotropin) yang bekerja dari
hari kedelapan sampai minggu kedelapan kehamilan dapat digunakan untuk mengetes
kehamilan, karena hormon tersebut dijumpai dalam urine orang yang hamil. Hormon lain yang
dihasilkan oleh plasenta adalah hormon yang mempengaruhi kerja kelenjar susu untuk mengatur
metabolisme ibu yang hamil, sehingga apa yang dibutuhkan ibu bisa dikurangi dan disalurkan
kejanin, dan juga untuk mempersiapkan kebutuhan energi bagi ibu. Hormon penting lain yang
juga dihasilkan plasenta adalah relaksin yang mempengaruhi fleksibilitas simfisis pubis dan
organ-organ lain di daerah tersebut sehingga mempermudah kelahiran.(Kimball, 1994).
BAB VII
KESIMPULAN
HCG (Human Chorinic Gonadotropin ) dalam urine wanita hamil menunjukkan dua stip pada
test slide yang berarti wanita tersebut mengalami kehamilan sedangkan pada urine wanita tidak
hamil (urine normal) menunjukkan satu stip pada test slide yang berarti wanita tersebut tidak
mengalami kehamilan.

Hormon HCG dapat ditemukan pada urine wanita hamil. Hormon ini dihasilkan oleh jaringan
plasenta yang sedang berkembang sesaat setelah terjadi pembuahan. HCG dapat digunakan
sebagai pendeteksi kehamilan. Prinsip kerja HCG test adalah reaksi penghambatan aglutinasi
yang digunakan untuk menunjukkan hormon HCG yang disekresikan kedalam urine selama
masa kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA
Effendi hasjim. DR, et all. 1991. Fisiologi dan Pathofisiologi Ginjal. Alumni, Bandung.
Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
(diterjemahkan oleh B. Srigandono & Koen Praseno).
Johnson K. E. 1994. Histologi dan Fisiologi Sel. Binarupa Aksara, Jakarta.
Murray, Robert K. et al. 1999 Biokimia Harper. ECG. Jakarta.
Pearce, E. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Prawirohardjo, S. 1976. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
One Med Health Care. Test Kehamilan Instant. Dep. Kes. RI. KL.
0101200105.
Tuttle, W.W. and Schottelius, Byron A. 1961. Texbook of Physiology The C. V. Mosby
Company, St. Louis, USA.

Referensi Laporan Reproduksi Fister


------one and a half year ago----- 2012
BAHAN PRAKTIKUM V REPRODUKSI
MENENTUKAN HCG (Human Chorionic Gonadotropin) DALAM URIN

BAB I
PENDAHULUAN

Urin merupakan hasil filtrasi dari ginjal. Pada urine wanita hamil dilakukan penelitian
untuk mengetahui berapa bulan kandungan. Pada awal kehamilan diekskreikan HCG (Human
Chorionik Gonadotropin) yang mengadung galaktosa dan heksosamin ke dalam urine yang
terjadi reaksi antigen-antibodi.
Manfaat dalam praktikum ini adalah mengetahui kadar glukosa normal dalam darah dan
mengetahui apa yang dimaksud dengan HCG yang terdapat dalam urine serta dapat mendeteksi
kehamilan yang terjadi pada manusia.
BAB II
TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum menentukan HCG agar mengetahui prinsip dan cara penentuan HCG
dalam urin secara kualitatif. Selain itu praktikan diharapkan mampu menggunakan test pack
untuk mengadakan percobaan HCG dalam urine.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1.

Human Chorinic Gonadotropin (HCG)


Human Chorinic Gonadotropin (HCG) adalah suatu glikoprotein yang mengandung

galaktosa dan heksosamin. Kadar HCG meningkat setelah implantasi ovum yang sudah dibuahi
(Frandson, 1993). Prinsip kerja immunological HCG test adalah suatu reaksi penghambatan
aglutinasi yang digunakan untuk menunjukkan hormon Human Chorionic Gonadotropin yang
disekresikan kedalam urine selama masa kehamilan. Partikel-partikel antigen secara kimia akan
berikatan dengan antibodi HCG dan menyebabkan aglutinasi. Terdapatnya HCG bebas didalam
urine akan menetralisir antibodi sehingga tidak terjadi aglutinasi (Prawirohardjo, 1991).
3.2.

Kadar HCG dalam Darah Pada Kehamilan Antibodi dan Antigen

Kira-kira sepuluh hari setelah sel telur dibuahi akan bergerak menuju rahim dan melekat
pada dindingnya. Sejak saat itulah plasenta mulai berkembang dan memproduksi HCG yang
dapat ditemukan dalam darah serta air seni. Keberadaan hormon protein ini sudah dapat dideteksi
dalam darah sejak hari pertama keterlambatan haid, kira-kira hari keenam sejak pelekatan janin
pada dinding rahim (Will, 1984). Kadar hormon ini terus bertambah hingga minggu ke 14-16
kehamilan, terhitung sejak hari terakhir menstruasi. Sebagian besar ibu hamil mengalami
penambahan kadar hormon HCG sebanyak dua kali lipat setiap 3 hari. Peningkatan kadar
hormon ini biasanya ditandai dengan mual dan pusing yang sering dirasakan para ibu hamil.
Setelah itu kadarnya menurun terus secara perlahan dan hampir mencapai kadar normal setelah
persalinan. Tetapi adakalanya kadar hormon ini masih di atas normal sampai 4 minggu setelah
persalinan atau keguguran (Rose, 2006).
Dalam urine yang normal komposisinya terdiri dari bahan sepaerti air, urea, dan natrium
klorida (Frandson, 1993). Kadar HCG yang lebih tinggi terjadi pada ibu kembar dan kasus hamil
anggur (mola). Perempuan yang tidak hamil menandakan kadar HCG di atas normal. Kadar
HCG yang terlalu rendah pada ibu hamil pun patut diwaspadai, karena dapat berarti kehamilan
terjadi di luar rahim (ektopik) atau kematian janin yang biasa disebut aborsi spontan. Sebagian
besar merk test pack yang beredar di pasaran sudah dapat mendeteksi HCG dengan kadar 25
IU/L-50 IU/L, sehingga cukup akurat untuk menentukan ada atau tidaknya kehamilan pada hari
pertama keterlambatan menstruasi. Uji kehamilan yang akurat adalah tes kuantitatif hormon
HCG dalam darah. Biasanya yang diukur adalah jumlah subunit beta hormon HCG (Pearce,
1997).
3.3.

Alat Uji Kehamilan - Urin


Cara mendeteksi HCG biasa dilakukan dengan uji kehamilan yang biasa dikenal dengan

test pack. Pengecekan kualitatif ini cukup mudah yakni dengan mencelupkan ujung alat ke dalam
urin, biasanya alat uji ini memiliki indikator berupa dua buah garis. Waktu yang tepat untuk
melakukan tes urin biasanya adalah 4-5 hari atau 1 minggu setelah terlambat haid, karena
sebagian besar test pack sudah dapat mendeteksi HCG dengan kadar 50 IU/ml. Tes dilakukan
untuk mengetahui diagnosa kehamilan HCG (human chorionic gonadotrophin) pada darah dan
urin wanita. HCG diproduksi oleh embrio bila seorang wanita sedang hamil. Beberapa test yang

paling modern dan canggih dapat mendeteksi kehamilan melalui darah dan urine hanya satu
minggu setelah pembuahan, hanya saja belum banyak tersedia (Prawirohardjo, 1991). Tes urine
dapat dilakukan sendiri dengan alat test yang sudah tersedia di supermarket ataupun apotik.
Berupa test pack yang direndam dalam urin untuk mengetahui terjadinya kehamilan atau tidak,
hanya dengan melihat jumlah garis setelah 5 menit perendaman. Test urine memiliki ketepatan
98% namun kesalahan dapat terjadi, dikarenakan test yang terlalu dini dikerjakan, keenceran
urine atau kerena terlalu lama disimpan sebelum test dan urine terkontaminasi dengan zat sabun
detergent atau yang lainnya (Rose, 2006).
BAB IV
METODE PRAKTIKUM
Praktikum Dasar Fisiologi Ternak dengan materi Reproduksi dilaksanakan pada hari
Senin tanggal 21 Mei 2012 pada pukul 13.30-15.00 WIB di Laboratorium Biologi Struktur dan
Fungsi Hewan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Diponegoro,
Semarang.
4.1.

Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum mengukur menentukan HCG (Human Chorionic

Gonadotropin) adalah aluminium foil, test pack, dan botol kering. Bahan yang digunakan adalah
urin pertama pagi hari pada ibu hamil umur 1-3 bulan dan urin pada ternak sapi.
4.2.

Metode
Urin pertama pagi hari ibu hamil umur 1-3 bulan, ditampung dalam botol kering dan
bersih. Dibuka aluminium foil dari test pack dan dikeluarkan strip, kemudian dicelupkan dalam
sampel urin sampai batas maksimum selama 30 detik. Strip diangkat dari sampel urin yang diuji
dan diletakkan di tempat kering. Setelah 2-3 menit akan keluar hasil dari test yang dilakukan
bila pada strip muncul satu garis indikator, berarti hasilnya negatif (tidak ada kehamilan), Bila

pada strip muncul dua garis indikator, berarti hasilnya positif (hamil). Test diulangi pada urin ibu
hamil pada temperatur di bawah temperatur kamar.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.

Hasil Percobaan
Pada wanita hamil, garis indikator dua strip (positif), warna garis indikator merah. Pada

hewan bunting, garis indikator satu strip (negatif), warna garis indikator merah.
Ilustrasi 1. Hasil Observasi Urin
Sumber: Data primer praktikum Fisiologi, 2012.
5.2.

Pembahasan Percobaan
Hasil percobaan penentuan HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam urin

diperoleh hasil yaitu wanita hamil menunjukkan dua strip pada test slide yang berarti positif.
Karena urin mengandung HCG. Test slide ini sangat tergantung pada kerja sama antibodi dan
antigen. Antibodi ini zat kimia yang dihasilkan oleh limfosit dan struktur lain di dalam tubuh.
Hal ini sesuai dengan Pearce (1997) yang menyatakan tiap antibodi hanya bereaksi terhadap
antigen tertentu. Oleh sebab itu HCG hanya terdapat pada manusia saja, sedang pada hewan
tidak dapat digunakan. Urin tersebut diambil dari wanita hamil 2,5 bulan, sehingga HGC dalam
urine ini akan diketahui pada wanita hamil antara 1-3 bulan. Hal ini sesuai dengan Will (1984)
yang menyatakan keberadaan hormon protein ini sudah dapat dideteksi dalam darah sejak hari
pertama keterlambatan haid yang kira-kira merupakan hari keenam sejak pelekatan janin pada
dinding rahim hingga usia kehamilan mencapai bulan ketiga dan puncaknya pada bulan keempat
setelah itu produksi HCG akan beransur turun hingga akhirnya berhenti.
BAB VI
SIMPULAN

Urin wanita hamil mengadung HCG dan

dapat dideteksi, sedangkan pada hewan

bunting tidak terjadi produksi HCG sehingga hasil pengujian testpack menghasilkan satu strip
yang menandakan hasil negatif. Hal ini karena tiap antibodi yang terdapat dalam HCG hanya
bereaksi terhadap antigen tertentu. Antibodi-antibodi itulah yang ditambatkan pada media tes
yang mempunyai dua strip (garis) indikator yang terdapat pada urin semasa kehamilan hanya
pada manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Frandson R. D. 1993. Anatomi dan fisiologi Ternak. Yogyakarta, Gajah Mada University Press.
Pearce, E. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Prawirohardjo, S. 1991. Ilmu Kandungan. Cetakan kelima. Jakarta, Yayasan Bina Pustaka.
Rose. W. 2006. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta, Dian Rakyat.
Will. 1984. Embriologi Untuk Mahasiswa Biologi dan Kedokteran. Bandung, Taksito.

PEMBAHASAN PRAKTIKUM TES HCG


PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan adanya hormone HCG di dalam urin
untuk tes kehamilan dengan teknik imunologik. Hormone HCG atau human chorionic
gonadotropine merupakan hormon glikoprotein dari keluarga gonadotropin yang
awalnya
disintesis
oleh embrio manusia,
dan
kemudian
dilanjutkan
oleh syncytiotrophoblast, bagian dari plasenta, selama masa kehamilan. Hcg
berfungsi untuk memicu sel-sel interstisial ovarium, memicu terjadinya ovulasi,
memicu luteinisasi pada sel-sel granulase, mempertahankan fungsi dan umur korpus
luteum serta menaikkan sekresi progesterone oleh sel-sel korpus luteum.
Pada praktikum ini pengujian kehamilan dilakukan dengan dua cara. Yang
pertama dengan menggunakan reagen beta gravindex dan yang kedua dengan
menggunakan alat uji kehamilan test pack.
Uji kehamilan dengan test gravindex didasarkan pada aglutinasi
penghambatan lateks. Adanya aglutinasi menunjukkan indikasi kehamilan. Tes
menggunakn reagen beta gravindex sangat sederhana, tidak mahal dan hanya
membutuhkan waktu dua menit untuk melakukannya. Tes menggunakan beta
gravindex akan menunjukkan hasil positif 2 hari setelah terlambat menstruasi.

Wanita yang akan melakukan tes kehamilan dengan menggunakan reagen beta
gravindex disarankan untuk membatasi asupan cairan pada malam hari. Sampel urin
yang baik digunakan untuk test uji kehamilan adalah urin segar yaitu urin yang
pertama keluar pada pagi hari, dikarenakan urin pada saat itu adalah urin dengan
konsentrasi hcg paling banyak.
Pengujian kehamilan dengan menggunakan reagen beta gravindex dilakukan
dengan cara menempatkan urin 1 sampai 3 tetes pada lempeng objek kemudian
ditambahkan dengan reagen beta gravindex, aduk dan tunggu selama 2 menit. Jika
pada campuran urin dengan reagen beta gravindex terbentuk agutinasi (butiranbutiran kecil berwarna putih) maka urin tersebut positif dan jika tidak terbentuk
aglutinasi maka urin tersebut negative.
Reagen beta gravindex merupakan suatu reagen berisi serum hcg (latex),
dasar dari tes kehamilan dengan menggunakan reagen beta gravindex adalah reaksi
antigen-antibodi dengan hcg sebagai antigen. Pada suatu urin dengan tingkat hcg
tinggi maka zat antibody akan menggumpalkan partikel lateks HCG berlapis dan
menyebabkan terbentuknya aglutinasi sedangkan pada urin dengan tingkat hcg
rendah, maka hcg akan berikatan dengan antibody dan antibody yang tidak akan
menggumpalkan partikel lateks hcg berlapis sehingga aglutinasi tidak terbentuk.
Jika tidak yakin dengan suatu kehamilan maka dapat dilakukan tes dengan
cara meneteskan urin sebanyak 1- 2 tetes pada bagian tengah lempeng objek,
kemudian pada sisi kanan dan kiri diberi control positif dan control negative, control
positif sudah disediakan dalam botol dengan tutup berwarna merah dan control
negative yang berisi kotrol dan serum anti hcg ditandai dengan warna biru. Pada
praktikum ini hal ini tidak dilakukan karena urin yang dibawa sebagai sampel sudah
jelas diketahui kebenarannya, mana yang positif dan mana yang negative.
Pengujian kehamilan yang kedua dilakukan dengan menggunakan alat uji
kehamilan test pack. Pada praktikum ini uji kehamilan dengan menggunakan test
pack hanya dilakukan pada urin yang positif saja, tujuannya adalah hanya untuk
melihat bagaimana parameter positif pada test pack.
Test pack merupakan suatu alat uji kehamilan yang banyak diperjual belikan
di apotek. Test pack adalah alat uji kehamilan yang praktis karena dapat dilakukan
sendiri di rumah. Setiap strip test pack mengandung campuran nitrocellulose
membrane dengan 0,6 mikogram Anti-HCG capture antibodi. 0,6 mikogram AntiMouse IgG. 0,07 mikogram dan Anti-HCG antibodi gold. Test pack bekerja dengan
cara mendeteksi adanya hormone hcg dalam urin dengan kepekaan tertentu. Test
pack yang kami gunakan memiliki kepekaan 25 mIU / ml urin.

Test pack digunakan dengan cara mencelupkan bagian strip ke dalam urin
yang telah ditampung dalam suatu wadah yang bersih hingga batas, diamkan selama
1-3 menit, angkat dan baca hasilnya.
Dalam test pack terdapat control line dan capture/test line. Alat test
kehamilan sebenarnya hanya terdiri dari membrane yang telah dilapisi dengan
antigen-antibodi anti hcg pada daerah capture/test linenya, sehingga daerah itu
hanya akan membentuk garis warna apabila ada hcg dalam urin sampel. Control line
akan tetap berwarna merah pada kondisi positif atau negative,sehingga control line
menjadi tanda acuan ketepatan hasil tes.