Anda di halaman 1dari 12

IDENTIFIKASI POTENSI BAHAYA TANAH LONGSOR DI DAERAH

PERBUKITAN HARGODUMILAH KABUPATEN GUNUNG KIDUL DAN


SEKITARNYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE SEISMIK REFRAKSI
RIZKI PURWINANTO, ADITYA PRATAMA DANDIKA, NOVIA SETYA WULANDARI,
FENDRI YOSUA, FADHIL, NITA CHAYANI, AGUNG SUPROBO
115.140.004, 115.140.016, 115.140.018, 115.140.037, 115.140.049, 115.140.073, 115.140.077
Program Studi Teknik Geofisika, Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta Jalan SWK 104 Condongcatur Yogyakarta

INTISARI
Penelitian dilakukan di daerah perbukitan Hargodumilah atau yang sering dikenal
sebagai bukit bintang di daerah Piyungan dan Pathuk Gunungkidul. Tujuan dari penelitian
ini ialah untuk mengetahui potensi bahaya dari tanah longsor daerah penelitian.
Digunakan metode seismik refraksi dengan instrumen alat seismik PASI seismograph.
Metode seismik refraksi merupakan salah satu metode geofisika yang memanfaatkan
peramabatan gelombang seismik yang merambat menjalar dibawah permukaan.
Gelombang yang digunakan disini adalah gelombang bias. Dari data cepat rambat
gelombang yang didapat kemudian dilakukan pengolahan serta analisa kecepatan dan
analisa kedalaman. Pengolahan data dengan perhitungan metode T-X ITM dan metode
Delay Time metode GRM. Lokasi pengambilan data dilakukan di 3 lokasi berbeda dan
mengambil 15 buah lintasan. Pada stopsite 1, 2, 3 didapatkan berbagai nilai kecepatan

lapisan adalah 700 m/s diinterpretasikan adalah sand dan lapisan dengan nilai
kecepatan 2800 m/s adalah clay. Pada paper ini dikhususkan membahahas
keadaan stopsite 1 pada lintasan 3. Sehingga dapat disimpulkan bahwa daerah
telitian dengan litologi seperti di atas memungkinkan terjadi longsor jika terjadi
hujan yang cukup lebat dan daerah telitian memiliki lapisan kemiringan yang
memungkinkan terjadi longsor.
Kata Kunci : clay, metode T-X, ITM, metode Delay Time, metode GRM, PASI
seismograph, sand.
ABSTRACT
The study was conducted in hilly areas Hargodumilah often known as the star
of the hill in the area of Gunung Piyungan and Pathuk. The purpose of this study was to
determine the potential danger of landslides area of research. Seismic refraction method
is used with the instrument tool PASI seismic seismograph. Seismic refraction method is a
geophysical method that utilizes seismic waves propagate peramabatan spread below the
surface. Wave that is used here is the wave of bias. Fast propagation of the data obtained
and then do the processing and analyzing the speed and depth of analysis. Data
processing with the calculation method of T-X ITM and methods Delay Time GRM
method. Location data collection is done in 3 different locations and took 15 pieces of
track. In stopsite 1, 2, 3 obtained various speed grades layer is 700 m / s are
interpreted is sand and a layer with a velocity value of 2800 m / s is clay. In this paper
devoted membahahas state stopsite 1 on the track 3. It can be concluded that the area
carefully situations with lithology as above allows a landslide when it rains fairly dense
and carefully situations region has a layer that allows landslide slope.
Keywords : clay , methods of T - X , ITM , Time Delay methods , methods of
GRM , PASI seismograph , sand.

1. PENDAHULUAN
Perkembangan saat ini ilmu geofisika
digunakan untuk banyak hal seperti
untuk eksplorasi bahan galian, penelitian
kebumian, eksplorasi migas dan
sebagainya. Di dalam eksplorasi dengan
geofisika terdapat banyak metode. Salah
satunya adalah metode seimik.
Metode seismik dibagi menjadi 2
yaitu metode seimik refraksi dan metode
seimik refleksi. Pada prinsipnya, metode
seismik refraksi maupun seismik refleksi
sama-sama memanfaatkan perambatan
gelombang seismik yang merambat
dalam bumi. Perbedaan pemanfaatan
gelombang ini berdasar hasil pembiasan
gelombang yang merupakan metode
seismik refraksi dan pemantulan
gelombang pada metode seimik refleksi.
Pada dasarnya dalam metode ini
diberikan suatu gangguan berupa
gelombang seismik pada suatu sistem
kemudian gelombang tersebut ditangkap
melalui geophone. Waktu tempuh oleh
gelombang antara sumber dan penerima
akan menghasilkan gambaran tentang
kecepatan dan kedalaman lapisan.
Metode T-X Intercept Time adalah
metode paling sederhana dari metode
seismik refraksi. Dimana merupakan
materi dasar perhitungan dalam metode
seismik. Metode ini dibagi menjadi satu
lapisan, banyak lapisan dan lapisan
miring. Metode GRM (Generalized
Reciprocal Method) merupakan turunan
dari metode Delay Time yang digunakan
untuk mencari Hidden Layer dan Blind
Zone menggunakan dasar XY Direct dan
XY Observasi yang menggunakan nilai
kasar dan undulasi refraktor.
2. DASAR TEORI
2.1. Seismik Refraksi
Metode seismik merupakan
salah satu metode yang sangat penting
dan banyak dipakai di dalam teknik
geofisika. Hal ini disebabkan metode
seismik mempunyai ketepatan serta
resolusi yang tinggi di dalam
memodelkan struktur geologi di bawah
permukaan bumi. Dalam menentukan
struktur geologi, metode seismik
dikategorikan ke dalam dua bagian yang

besar yaitu seismik bias dangkal (head


wave or refrected seismic) dan seismik
refleksi (reflected seismic). Seismik
refraksi efektif digunakan untuk
penentuan struktur geologi yang dangkal
sedang seismik refleksi untuk struktur
geologi yang dalam (tidak dibahas
dalam makalah ini).
Dasar teknik seismik dapat
digambarkan sebagai berikut. Suatu
sumber gelombang dibangkitkan di
permukaan bumi. Karena material bumi
bersifat elastik maka gelombang seismik
yang terjadi akan dijalarkan ke dalam
bumi dalam berbagai arah. Pada bidang
batas antar lapisan, gelombang ini
sebagian dipantulkan dan sebagian lain
dibiaskan
untuk
diteruskan
ke
permukaan bumi. Dipermukaan bumi
gelombang tersebut diterima oleh
serangkaian detektor (geophone) yang
umumnya disusun membentuk garis
lurus dengan sumber ledakan (profil
line), kemudian dicatat/direkam oleh
suatu
alat
seismogram.
Dengan
mengetahui waktu tempuh gelombang
dan jarak antar geophone dan sumber
ledakan, struktur lapisan geologi di
bawah
permukaan
bumi
dapat
diperkirakan
berdasarkan
besar
kecepatannya.
2.2. Metode Intercept Time Metode
ITM
Metode Intercept Time atau
Intercept
Time
Methode
(ITM)
merupakan
metode
yang
paling
sederhana, hasilnya cukup kasar dan
merupakan metode paling dasar dalam
pengolahan data seismik.
Asumsi yang digunakan metode
ini adalah:
a Lapisan homogen (kecepatan lapisa
relatif seragam)
b Bidang batas lapisan rata (tanpa
undulasi)
Intercept time artinya waktu
penjalaran gelombang seismik dari
source ke geophone secara tegak lurus
(zero offset).
Pengolahan data seismik refraksi
menggunakan metode ITM terdiri atas
dua macam:
2

a
b

Satu
lapisan
datar
(Single
Horizontal Layer)
Banyak Lapisan Datar (Multi
Horizontal Layers)

2.2.1 Metode Intercept Time Satu Lapis

ti=

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

(2.5)
Kecepatan lapisan pertama (V 1) dan
lapisan kedua (V2),
V 1=

1
m1

y1 y0
x1 x0
Gambar 2.1. Kurva Travel Time Dan
Penjalaran Gelombang Pada Satu Lapisan

Gambar ini menjelaskan bahwa


titik O (source) dan R (geophone), dan
S-M-P-R merupakan jejak penjalaran
gelombang refraksi, maka persamaan
waktu total (Tt) untuk satu lapisan dari
sumber menuju geofon yaitu,
Tt=

OM MP PR
+
+
V 1 V 2 V 1 (2.1)

Dapat disederhanakan menjadi:


Tt=

X 2 Z cos ic
+
V2
V1

(2.2)
Berdasarkan definisi Intercept Time (ti),
maka X=0, maka Tt=ti, sehingga ;
Tt=

2 Z cos ic
V1

V 2=

y2 y0
x2 x0

dimana

m1=

dimana

m2=

(2.6)

1
m2
(2.7)

m1 dan m2 merupakan slope/


kemiringan tendensi waktu gelombang
lansung dan refraksi. Persamaan (2.6)
dan (2.7) hanya berlaku bila surveynya
menggunakan penembakanan maju.
Dengan kata lain, kecepatan V1
didapat dari slope tendensi gelombang
lansung, sedangkan kecepatan V2 dari
slope tendensi gelombang refraksi pada
grafik jarak vs waktu.
2.2.2 Metode Intercept Time Banyak
Lapis

(2.3)
Maka, ketebalan lapisan pertama (Z1)
dapat dicari dengan persamaan,
Z1=

1 t 1 v1
2 cos i c

(2.4)
Persamaan Intercept Time (ti) sendiri
yaitu:

Gambar
2.2.
Ilustrasi
Penjalaran
Gelombang Seismik Dua Lapisan Datar
YangBerhubungan Dengan Kurva JarakWaktu

V2>V
V3>v

Gambar tersebut menjelaskan


bahwa titik O=Sumber (source) dan G=
geofon, dan O-M-M-P-P-R = jejak
penjalaran gelombang refraksi lapisan
ke dua, maka persamaan waktu total (Tt)
untuk dua lapisan mulai dari source
menuju geofon yaitu,

t 12 V 1
Z1=

Dapat disederhanakan menjadi:

Z2=

2 Z 2 cos i c 2 2 Z 2 cos i c
+
V2
V1

V1
)
V3
t i 3
V1
cos(sin1
)
V2

cos(sin1

2 cos(sin1

(2.9)
Berdasarkan Intercept time (ti), X=0,
maka Tt=t12, sehingga :

2 Z2 cos i c 2 2 Z 2 cos i c
+
Tt=t12=
V2
V1
(2.10
Maka, ketebalan lapisan kedua (Z2)
dapat dicari dengan persamaan,

Z2

2 Z1 cos i c
)
V1
2 cos i c2

V 2(t 12

(2.11)
Untuk lapisan yang lebih dari 2 lapisan
Waktu total dicari dengan persamaan:

Tt=

n1
2 Z 1 cos i ci
X
+
V n i1
Vi

(2.12)
Sedangkan untuk 3 lapisan datar,
kedalaman Z1,Z2, dan Z3dapat dicari
dengan:

V1
)
V2

(2.13)

(2.8)

Tt= V 3 +

1
2

SA AB BC CF
+
+
+
V1 V2 V3 V1

Tt=

2 cos (sin

V2
)
V3

(2.14)
Z3=

V1
V2
)
2 Z 2 cos (sin 1
)
V4
V3
t i4

V1
V2
cos(sin 1
)
V2

cos (sin1

)(

2 cos(sin
V3

V2
)
V4

(2.15)

2.2.3 Metode Intercept Time Untuk


Lapisan Miring
Bila reflektor mempunyai dip,
maka:
a. Kecepatan pada kurva T-X bukan
kecepatan sebenarnya (true velocity),
melainkan kecepatan semu (apparent
velocity)
b. Membutuhkan dua jenis penembakan:
Forward dan Reverse Shoot
c.
Intercept
time
pada
kedua
penembakan berbeda, maka ketebalan
refraktor juga berbeda
Apparent Velocity ialah kecepatan yang
merambat di sepanjang bentangan
geophone

[ ( ) ( )]

V
V
1
sin 1 1 sin 1 1
2
Vd
V2

(2.19)

1
Gambar
2.3.
Skema
Perambatan
Gelombang Pada Lapisan Miring Dan
Hubungannya Dengan Kurva T-X Pada
Lapisan Miring Menggunakan Forward Dan
Reverse Shoot.

Metode
sebelumnya
hanya
menggunakan
forward
shooting,
sedangkan untuk aplikasi lapisan miring
menggunakan forward shooting dan
reverse shooting. Pada gambar 4, titik A
= sumber dan B= geophone (forward
shooting),sedangkan titik B= sumber
dan A= geophone (reverse shooting).
Sumber energI di titik A menghasilkan
gelombang
refraksi
down-going
(raypath A-M-P-B) , dan sumber energi
di titik B menghasilkan gelombang
refraksi up-going (ray path B-P-M-A).
Waktu rambat ABCD (Tt) pada lapisan
miring sebagai berikut:

Tt=

c= 2

Sedangkan waktu rambat Down-Dip dan


Up-Dip:
Td=

X sin(c + ) 2 Z a cos c X
+
= +t a
V1
V1
Vd
(2.17)
Tu=

X sin(c ) 2 Z a cos c X
+
= + ta
V1
V1
Vd

Vd dan Vu merupakan kecepatan semu,


didapat dengan:
Vd =

V1
sin(c + )

dan Vu =

V1
sin(c ) (2.21)
Dimana, V1>Vd dan V1<Vu
Sedangkan persamaan Intercept Time
pada lapisan miring (X=0) antara lain:
Td=ttd=

2 Z d cos c
V1

Tu=ttu=

2 Zu cos c
V1

dan

(2.22)

Sehingga, kedalaman di bawah sumber


A (Za) dan sumber B (Zb) dapat dicari
menggunakan persamaan:
Za=

2td V 1
2 cos

Zb=

2t u V 1
2 cos

(2.23)
Berbeda
dengan
cara-cara
sebelumnya,
dengan
mempertimbangkan adanya kecepatan
semu (Vapp), maka kecepatan V1 dan V2
dapat dicari dengan persamaan,

(2.18)
Besar sudut kemiringan lapisan (

V1
V
+ sin1 1
Vd
V2

(2.20)

X cos ( Z a + Z b ) cos c
+
V2
V1

(2.16)

[ ( ) ( )]
sin 1

V 1=

V 1 up +V 1 down
2

(2.24)

dan sudut kemiringan (c), dapat dicari


dengan:

V2=

V 2 up +V 2 down
2

(2.25)

dimana,

x1 x0
V1up= y 1 y 0
x1 x0
y1 y0

V1down=

(2.26)

Serta

x1 x1
V2up= y 1 y 1
x1 x1
y1 y1

V2down=

(2.27)

Persamaan (2.26) dan (2.27) berlaku


untuk semua metode yang surveynya
menggunakan kombinasi penembakan
maju dan mundur (forward dan reverse
shooting).
3.3. Metode Delay Time Metode GRM
Merupakan
penggambaran
terakhir dari metode waktu tunda (plus
minus).
Interpretasi
akhir
dapat
diterapkan pada medium yang memiliki
kecepatan tidak homogen.

Gambar 2.4. Model seismik bias dua


lapis

Pada metode ini pertama kali


dihitung fungsi kecepatan untuk tiaptiap geophone sesuai jarak (XY),
misalnya XY = 1,2 3,.dst (gambar a).
fungsi tersebut diberikan sebagai :

T ( AG , XY )=

T AY T BX T AB
2

(2.28)
Dengan Tv adalah waktu jalar dari
A ke G yang terletak diantara E dan F
(lihat gambar b). Jika dapat diperoleh
harga XY optimum maka titik E dan F
akan berimpit sehingga didapatkan
bentuk biasan dari dua arah dengan titik
bias yang sama.
Pemilihan XY optimum ini
dilakukan dengan menggambar semua
grafik analisis kecepatan, dan ditentukan
grafik yang tidak banyak berundulasi
(regresi linearnya memiliki koefisien
korelasi paling besar)
Setelah diperoleh besarnya XY
optimum dihitung kecepatan rerata (V
avg) yang dirumuskan sebagai berikut :

Vavg=

V 2XY
XY +2 T G V

(2.29)
dimana :

AB+

XY
V'

(2.30)

T AY T BX
T G ( AG , XY ) =
Dengan V adalah kecepatan
semu dibawah titik G (diperoleh dari
slope lapisan pertama di bawah
geophone). Vavg adalah kecepatan rerata,
dan XY adalah jarak optimumnya.
Berdasarkan hasil kecepatan
rerata persamaan dibawah dapat
diperoleh kedalaman bidang pembias di
bawah titik G sebagai :

hp=

T G V avg
cos i

(2.31)
I=

sin 1

V avg
V

Geometri
pembias
dapat

(2.32)
kedalaman
diperoleh

mengeplot kedalaman

Gam

bidang
dengan

h p pada tiap

bar 3.3. Desain Survei LP 3

3.3. Peralatan dan Perlengkapan

tiap geophone.
3. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Kegiatan lapangan praktikum
seismik refraksi ini dilakukan oleh
mahasiswa yang menempuh praktikum
seismik refraksi. Kegiatan ini dilakukan
di jalan Wonosari tepatnya di desa
Tambalan RT 06 Pos Piyungan, Bantul
dan sekitarnya. Acara ini berlangsung
tiga hari, Kamis, Jumat dan Minggu
tanggal 5 sampai 7 Mei 2016.

Gambar 4.4. Peralatan Dan Perlengkapan

a.

3.2. Desain Survei


b.
c.

Gambar 4.1. Desain Survei LP 1

d.
e.

Gambar 3.2. Desain Survei LP 2

f.
g.
h.

Peralatan serta perlengkapan


lapangan yang digunakan sebagai
berikut :
PASI Seismograph : merupakan
alat untuk merekam gelombang
dan mendisplaynya.
Geophone : merupakan alat untuk
menerima
gelombang
yang
dipancarkan oleh source.
Bantalan Seismik : merupakan alat
yang fungsinya sebagai source
yang memancarkan gelombang
setelah dipukul dengan palu.
Trigger : Memperkuat sinyal
yang ditempelkan pada palu
seismik.
Palu : merupakan alat yang
digunakan bersamaan dengan
bantalan
seismik
untuk
menghasilkan sumber gelombang.
Meteran : merupakan alat ntuk
mengukur panjang lintasan dan
jarak antar geophone.
Kompas Geologi : merupakan alat
untuk menunjukkan arah pada
lokasi penelitian.
GPS : merupakan alat untuk
menunjukkan koordinat x,y,z
tempat dilakukannya penelitian.

3.4. Diagram Alir Pengambilan Data

Dari seismometer dibaca rekaman


data seismiknya dan kemudian
dapat kita picking gelombangnya.
Langkah-langkah pengambilan data
selesai dilakukan.

3.5. Diagram Alir Pengolahan Data

Gambar 3.4. Diagram Alir Pengambilan


Data

3.5. Pembahasan Diagram Alir


Pengambilan Data
Prosedur langkah-langkah untuk
pengambilan data dari praktikum
Eskursi ini adalah sebagai berikut :
Hal pertama yang dilakukan adalah
mempersiapkan alat-alat yang akan
digunakan dalam akuisisi atau
pengambilan data.
Langkah
berikutnya
ialah
kemudian membentangkan meteran
sepanjang 32 m.
Selanjutnya menanam plat baja
sesmik dalam tanah usahakan
selalu tetap dalam keadaan datar
atau horisontal.
Setelah itu pasang geophone pada
masing-masing titik metetran atau
spasi antar geophone yang telah
ditetapkan sebelumnya. Geophone
juga harus tersambung dengan
seismometer.
Lalu
melakukan
pengukuran,
pengukuran dilakukan pertama
dengan memukulkan palu seismik
ke plat baja, kemudian getaran
yang berasal dari pemukulan
tersebut direkam oleh geophone
kemudian diteruskan sebagai sinyal
ke seismometer.

Gambar 3.5. Diagram Alir Pengolahan Data

3.6. Pembahasan Diagram Alir


Pengolahan Data
Dibawah ini merupakan langkahlanghah
yang
digunakan
dalam
pengolahan data seismik refraksi
dijabarkan sebagai berikut :
Pertama kali didapatkan data
pengukuran dari lapangan.yaitu data
offset atau jarak (x), t (time)
forward dan reverse lapisan miring.
Kemudian data dimasukkan dalam
Microsoft Excel untuk dilakukan
perhitungan ketebalan pada lapisan
miring.
Lalu dari data dibuat sebuah grafik
T-X.
Perhitungan pertama menentukan ti,
kecepatan forward dan kecepatan
reverse, kemudian menghitung
kecepatan. Setelah nilai kecepatan
didapatkan hitung nilai Ic dan

serta nilai cos Ic dan cos

kemudian dimasukkan dalam rumus


metode T-X ITM untuk mencari
ketebalan dan kedalaman.
Langkah selanjutnya membuat profil
bawah permukaan dari hasil
perhitungan lapisan miring.
Selain itu dibuat juga suatu peta
kedalaman, peta V1 serta peta V2
dari semua data menggunakan
software surfer11.
Selanjutnya melakukan pengolahan
menggunakan metode GRM.
Kemudian dari hasil semua dapat
dibahas antara grafik T-X, profil
bawah permukaan pada lapisan
miring serta hasil dari pembuatan
peta kedalaman, peta V1 serta peta
V2 dalam metode ITM. Tidak lupa
pula dikaitkan dengan geologi
regional maupun informasi lain
tentang geologi pada daerah
penelitian.
Selanjutnya dari semua yang telah
dilakukan dan dengan hasil yang
telah didapatkan dapat ditarik
kesimpulan.
Terakhir pengolahan data seismik
metode T-X ITM dan CDM selesai.

4. PEMBAHASAN
4.1. Metode T-X ITM
4.1.1. Line 3
4.1.1.1. Tabel Pengolahan
Metode T-X Metode ITM

Data

Tabel 4.1. Tabel Pengolahan Data Line 3

Gambar 4.1. Grafik

Berdasarkan grafik yang telah


dibuat menggunakan microsoft excel
diatas, dijelaskan bahwa telah dilakukan
pengukuran dengan jarak 32 m dengan
geophone
berjumlah
16
titik.
Gelombang langsung pada pengukuran
forward ditunjukkan oleh grafik
berwarna biru. Gelombang refraksi pada
pengukuran forward ditunjukkan oleh
grafik berwarna merah. Gelombang
langsung pada pengukuran reverse
ditunjukkan oleh grafik berwarna hijau.
Dan
gelombang
refraksi
pada
pengukuran reverse ditunjukkan oleh
grafik berwarna ungu.
Dari data diatas didapatkan
gelombang refraksi pada pengukuran
forward terdapat pada jarak 6 m dengan
kecepatan
8,46
ms.
Sedangkan
gelombang refraksi pada pengukuran
reverse terdapat pada jarak 30 m dengan
kecepatan
2,78
ms.
Dengan
menggunakan rumus yang telah ada,
didapatkan hasil pada gelombang
forward dengan nilai T1 sebesar 6,6612
ms, V1 sebesar 714,28 m/s dan V2
sebesar 2338,41 m/s. Dan pada
gelombang reverse didapatkan pula nilai
T1 sebesar 1,7338 ms, V1 sebesar
833,33 m/s dan V2 sebesar 1913,10 m/s.
Dari hasil yang didapat dapat dihitung
V1 rata-rata sebesar 773,81 m/s dengan
nilai sudut kritis sebesar 21,59o dan
sebesar 2,27o dan diketahui pula nilai
kedalaman terdalam terdapat pada jarak
32 dengan nilai kedalaman 2,64 meter,
dan nilai kedalaman terdangkal terdapat
pada jarak 0 meter dengan nilai
kedalaman 0,83 meter.
4.1.1.3. Profil Kedalaman

4.1.1.2. Grafik

Gambar 4.2. Profil Kedalaman

Gambar diatas menunjukkan


profil bawah permukaan dari daerah
penelitian. Dari profil kedalaman
diatas didapatkan dua lapisan,
lapisan pertama berupa soil dan
lapisan kedua berupa sand. Jenis
batuan
tersebut
didapatkan
berdasarkan tabel kecepatan Telford.
Lapisan tersebut berupa lapisan
miring, dimana arah kemiringannya
dari arah tenggara ke barat laut.
Kedalaman pada bidang batas
lapisan pada offset 0 sebesar 0,83 m,
sedangkan pada offset 32 sebesar
2,64 m.
4.2. Metode Delay Time GRM
4.2.1. Line 1
4.2.1.1. Tabel Pengolahan
Metode Delay Time GRM

Data

Tabel 4.2. Tabel Pengolahan Data Line 3

4.1.1.2. Grafik

Gambar 4.3. Grafik

Dari data diatas didapatkan


gelombang
refraksi
pada
pengukuran forward terdapat pada
jarak 6 m dengan kecepatan 6,05

detik. Sedangkan gelombang


refraksi pada pengukuran reverse
terdapat pada jarak 30 dengan
waktu 3,89 detik. Ttotal yang
didapatkan sebesar 18,57 ms,
XYobservasi yang didapatkan 4
m, dengan V senilai 2115,38 m/s,
sedangkan nilai kecepatan Va
yang didapat sebesar 972,98 m/s,
dengan sudut kritis Ic sebesar
27,38, sehingga nilai cos Ic
sebesar 0,89, tan Ic sebesar 0,52
dan H Rerata sebesar -3,86 m

Gambar 4.4. Grafik Analisa Kecepatan dan


Analisa Kedalaman
Grafik analisa kecepatan diatas
menunjukkan tren grafik yang naik. Dari
grafik diatas dapat diambil informasi bahwa
nilai kecepatan tertinggi terdapat pada offset
30 m dengan nilai kecepatan sebesar 17,2
ms. Sedangkan nilai kecepatan terendah
terdapat pada offset 6 m dengan nilai
kecepatan sebesar 5,8 ms.

Grafik analisa kedalaman diatas


menunjukkan tren grafik yang fluktuatif.
Hal tersebut menunjukkan bahwa
lapisan pada daerah yang diteliti
berundulasi atau tidak rata. Dari grafik
diatas dapat diambil informasi bahwa
nilai kedalaman tertinggi terdapat pada
offset 10 m dengan nilai kedalaman
sebesar 4,4 m. Sedangkan nilai
kedalaman terendah terdapat pada offset
30 m dengan nilai kedalaman sebesar 2
m.
4.1.1.3. Profil Kedalaman

10

4.2. Korelasi Penampang Kecepatan


Stopsite 1

Gambar 4.5. Profil Kedalaman


Gambar diatas menunjukkan profil
bawah permukaan dari lintasan kelompok 3
berdasarkan pengolahan menggunakan
metode GRM. Dari profil kedalaman diatas
didapatkan dua lapisan, lapisan pertama
berupa soil dan lapisan kedua berupa sand.
Jenis
batuan
tersebut
didapatkan
berdasarkan tabel kecepatan Telford. Dari
profil diatas menunjukkan terdapatnya
undulasi dibawah permukaan.

4.1.1.4. Penampang Kecepatan

Gambar 4.6. Penampang Kecepatan

Pada penampang kecepatan


metode GRM pada lintasan kelompok 3
diatas,
nilai
kecepatan
rambat
gelombang dibagi dalam tiga kategori
nilai, yaitu dengan kecepatan tinggi,
kecepatan sedang, dan kecepatan
rendah. Nilai kecepatan rendah berkisar
antara 400 - 520 m/s yang ditunjukkan
oleh warna ungu hingga biru. Nilai
kecepatan sedang berkisar antara 580 700 m/s yang ditunjukkan oleh warna
hijau hingga kuning. Nilai kecepatan
tinggi berkisar antara 760 - 880 m/s
yang ditunjukkan oleh warna oranye
hingga merah. Garis hitam pada
penampang
menunjukkan
bidang
perlapisan. Lapisan pertama pada
penampang diatas memiliki kecepatan
rambat gelombang sebesar 417,49 ms
yang diinterpretasikan sebagai soil.
Lapisan kedua pada penampang diatas
memiliki kecepatan rambat gelombang
sebesar
862,74
ms
yang
diinterpretasikan sebagai sand.

Gambar 4.7. Peta Korelasi Penampang


Kecepatan Stopsite 1

Gambar
diatas
merupakan
korelasi dari penampang kecepatan pada
stopsite 1. Dimana urutan dari atas
adalah lintasan kelompok 11, 3 dan 12.
Semakin kebawah menunjukkan nilai
kecepatan
yang
besar
semakin
berkurang. Hal itu menunjukkan nilai
kecepatan semakin ke selatan semakin
berkurang. Jika ditinjau dari kondisi
dilapangannya semakin ke selatan maka
kita akan mendekati jurang.
4.2. Perbandingan Metode ITM dan
GRM
Pada dasarnya kedua metode
tersebut menghasilkan interpretasinya
relatif sama, baik dalam peta kecepatan,
peta kedalaman, maupun peta 3D. Yang
membedakan adalah pada metode ITM
proses pengolahannya lebih sederhana
dan hasil dari profil bawah permukaan
cukup sederhana, sedangkan metode
GRM pengolahannya lebih ribet jika
dibandingkan dengan metode ITM dan
hasil dari profil bawah permukaannya
dapat mengetahui bentuk geometrinya.
5. KESIMPULAN
Dari data yang telah di akuisisi
dan diolah serta diinterpretasikan, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa :
Kecepatan lapisan batuan di lintasan 3
keseluruhan didapat yaitu antara
sekitar 700 m/s hingga 2900 m/s.

11

Pada stopsite 1 baik menggunakan


metode
ITM
maupun
GRM
didapatkan lapisan 1 adalah sand dan
lapisan 2 adalah clay. Pada stopsite
ini, terdapat bidang gelincir berupa
batulempung. Jika curah hujan pada
stopsite
ini
tinggi,
sangat
memungkinkan
untuk
terjadinya
longsor
Pada stopsite 2 baik menggunakan
metode
ITM
maupun
GRM
didapatkan lapisan 1 adalah soil dan
lapisan 2 adalah sand. Jika potensi
longsor ditinjau dari litologi, maka
daerah tersebut bisa dikatakan stabil.
Pada stopsite 3 baik menggunakan
metode
ITM
maupun
GRM
didapatkan lapisan 1 adalah sand dan
lapisan 2 adalah clay. Jika potensi

longsor ditinjau dari litologi, maka


daerah tersebut bisa dikatakan stabil.
DAFTAR PUSTAKA
Staff Asisten Praktikum Seismik Refraksi.
2016. Buku Panduan Praktikum Seismik
Refraksi,
Laboratorium
Geofisika
Eksplorasi, Jurusan Teknik Geofisika,
Fakultas Teknologi Mineral, Universitas
Pembangunan
Nasional
Veteran
Yogyakarta.
Anonim,
(http://digilib.unila.ac.id/6855/14/15_BAB
%20III%20TEORI%20DASAR.pdf,
diakses tanggal 18 Mei 2016)
Anonim,
(http://digilib.unila.ac.id/127/11/BAB
%20III.pdf, diakses tanggal 14 Mei 2016)

12