Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Edem paru akut (EPA) adalah akumulasi cairan di paru-paru yang terjadi secara
mendadak. Hal ini dapat disebabkan oleh tekanan intravaskular yang tinggi (edem
paru kardia) atau karena peningkatan permeabilitas membran kapiler (edem paru non
cardiak) yang mengakibatkan terjadinya ekstravasasi cairan secara cepat sehingga
terjadi gangguan pertukaran udara di alveoli secara progresif dan mengakibatkan
hipoksia. Pada sebagian besar edem paru secara klinis mempunyai kedua aspek
tersebut di atas, sebab sangat sulit terjadi gangguan permeabilitas tanpa adanya
gangguan pada mikrosirkulasi atau sebaliknya. Walaupun demikian penting sekali
untuk menetapkan faktor mana yang dominan dari kedua mekanisme tersebut sebagai
pedoman pengobatan.EPA adalah suatu keadaan gawat darurat dengan tingkat
mortalitas yang masih tinggi (1).
Menurut penelitian pada tahun 1994, secara keseluruhan terdapat 74,4 juta
penderita edema paru di dunia. Di nggris sekitr 2,1 juta penderita edema paru yang
perlu pengobatan dan pengawasan secara komprehensif. Di Amerika Serikat
diperkirakan 5,5 juta penduduk menderita edema. Di Jerman 6 juta penduduk. Ini
merupakan angka yang cukup besar yang perlu mendapat perhatian dari perawat di
dalam merawat klien edema paru secara komprehensif bio psiko social dan spiritual
(1)

.
Penyakit edem paru pertama kali di Indonesia ditemukan pada tahun 1971.

Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980
seluruh provinsi di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus
menunjukan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah. Di
Indonesia insiden tersebar terjadi pada 1998 dengan incidence rate (IR)=35,19 per
100.000 penduduk dan CFR=2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar
10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun
2000); 19,24 (tahun 2002) dan 23,87 (tahun 2003) (2).

Dari uraian di atas, maka perlu kiranya pembahasan lebih sistematik dan
detail terkait edem paru akut. Walaupun nantinya judul akan cenderung sangat luas
karena edem paru akut tersebut bias dibagi berdasarkan penyebab dan manifestasi
klinis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Edem paru akut adalah akumulasi cairan di interstisial dan alveoulus paru yang terjadi
secara mendadak. Hal ini dapat disebabkan oleh tekanan intravaskular yang tinggi
(edem paru kardiak) atau karena peningkatan permeabilitas membran kapiler (edem
paru non kardiogenik) yang mengakibatkan terjadinya ekstravasasi cairan secara
cepat sehingga terjadi gangguan pertukaran udara di alveoli secara progresif dan
mengakibatkan hipoksia (1).
Edem paru didefinisikan sebagai akumulasi cairan di interstisial dan alveolus.
Penyebab edem paru (1,2):

Kardiogenik atau edem paru hidrostatik atau edem hemodinamik. Kausa: infark
miokars, hipertensi, penyakit jantung katup, eksaserbasi gagal jantung sistolik/
diastolik dan lainnya.

Nonkardiogenik/ edem paru permeabilitas meningkat. Kausa: ALI dan ARDS.


Anatomi dan Fisiologis
Secara harafiah pernapasan berarti pergerakan oksigen dari atmosfer menuju
ke sel-sel dan keluarnya karbon dioksida dari sel-sel ke udara bebas. Proses
pernapasan terdiri dari beberapa langkah di mana sistem pernapasan, sistem saraf
pusat dan sistem kardiovaskuler memegang peranan yang sangat penting. Pada
dasarnya, sistem pernapasan terdiri dari suatu rangkaian saluran udara yang
menghantarkan udara luar agar bersentuhan dengan membran kapiler alveoli, yang
merupakan pemisah antara sistem pernapasan dengan sistem kardiovaskuler(8,13).

Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring,


laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus atau bronkiolus terminalis. Saluran pernapasan
dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia. Ketika
udara masuk ke dalam rongga hidung, udara tersebut disaring, dihangatkan dan
dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang
terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia dan bersel goblet (8,13).
Setelah bronkiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit fungsional
paru-paru, yaitu tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari (1) bronkiolus
respiratorius, yang terkadang memiliki kantung udara kecil atau alveoli pada
dindingnya, (2) duktus alveolaris, seluruhnya dibatasi oleh alveoli, dan (3)
sakusalveolaristerminalis, merupakan struktur akhir paru-paru(14).
Alveolus pada hakekatnya merupakan suatu gelembung gas yang dikelilingi
oleh suatu jalinan kapiler, maka batas antara cairan dan gas membentuk suatu
tegangan permukaan yang cenderung mencegah suatu pengembangan pada waktu
inspirasi dan cenderung kolaps pada waktu ekspirasi. Tetapi, untunglah alveolus
dilapisi oleh zat lipoprotein yang dinamakan surfaktan, yang dapat mengurangi
tegangan permukaan dan mengurangi resistensi terhadap pengembangan pada waktu
inspirasi, dan mencegah kolaps alveolus pada waktu ekspirasi (13).
Ruang alveolus dipisahkan dari interstisium paru oleh sel epitel alveoli tipe I,
yang dalam kondisi normal membentuk suatu barrier yang relatif non-permeabel
terhadap aliran cairan dari interstisium ke rongga-rongga udara. Fraksi yang besar
ruang interstisial dibentuk oleh kapiler paru yang dindingnya terdiri dari satu lapis sel
endotel di atas membran basal, sedang sisanya merupakan jaringan ikat yang terdiri
dari jalinan kolagen dan jaringan elastik, fibroblas, sel fagositik, dan beberapa sel
lain. Faktor penentu yang penting dalam pembentukan cairan ekstravaskular adalah
perbedaan tekanan hidrostatik dan onkotik dalam lumen kapiler dan ruang interstisial,
serta permeabilitas sel endotel terhadap air, solut, dan molekul besar seperti protein
plasma. Faktor-faktor penentu ini dijabarkan dalam hukum starling (13).

Patofisiologi dan Patogenesis


Pada paru normal, cairan dan protein keluar dari mikrovaskular terutama melalui
celah kecil antara sel endotel kapiler ke ruangan interstisial sesuai dengan selisih
antara tekanan hidrostatik dan osmotik protein, serta permeabilitas membran kapiler.
Cairan dan solute yang keluar dari sirkulasi ke ruang alveolar terdiri atas ikatan yang
sangat rapat. Selain itu, ketika cairan memasuki ruang interstisial, cairan tersebut akan
dialirkan ke ruang peribronkovaskular, yang kemudian dikembalikan oleh siistem
limfatik ke sirkulasi. Perpindahan protein plasma dalam jumlah lebih besar tertahan.
Tekanan hidrostatik yang diperlukan untuk filtrasi cairan keluar dari kirosirkulasi paru
sama dengan tekanan hidrostatik kapiler paru yang dihasilkan sebagian oleh gradien
tekanan onkotik protein (10,11)
Terdapat dua mekanisme terjadinya edem paru (1):
1. Membran kapiler alveoli
Edem paru terjadi jika terdapat perpindahan cairan `dari darah ke ruang interstisial
atau ke alveoli yang melebihi jumlah pengembalian cairan ke dalam pembuluh darah
dan aliran cairan ke sistem pembuluh limfe. Dalam keadaan normal terjadi pertukaran
dari cairan, koloid dan solute dari pembuluh darah ke ruangan interstisial. Studi
eksperimental membuktikan bahwa hukum Starling dapat diterapkan pada sirkulasi
paru sama dengan sirkulasi sistemik.
Q(iv-int)=Kf[(Piv-Pint) df(Iiv-Iint)]
Q = kecepatan transudasi dari pembuluh darah ke ruang interstisial
Piv = tekanan hidrostatik intravaskular
Pint = tekanan hidrostatik interstisial
Iiv = tekanan osmotik koloid intravaskular
Iint = tekanan osmotik koloid interstisial
Df = koefisien refleksi protein
sKf = kondukstan hidraulik

2. Sistem Limfatik
Sistem limfatik ini dipersiapkan untuk menerima larutan koloid dan cairan balik dari
pembuluh darah. Akibat tekanan yang lebih negatif di daerah interstisial peribronkhial
dan perivaskular. Dengan peningkatan kemampuan dari interstisium alveolar ini,
cairan lebih sering meningkat jumlahnya di tempat ini ketika kemampuan memompa
dari saluran limfatik tersebut berlebihan. Bila kapasitas dari saluran limfe terlampaui
dalam hal jumlah cairan maka akan terjadi edema. Diperkirakan pada pasien dengan
berat 70 kg dalam keadaan istirahat kapasitas sistem limfe kira-kira 20 ml/jam. Pada
percobaan didapatkan kapasitas sistem limfe bisa mencapai 200 ml/jam pada orang
dewasa dengan ukuran rata-rata. Jika terjadi peningkatan tekanan atrium kiri yang
kronik, sistem limfe akan mengalami hipertrofi dan mempunyai kemampuan untuk
mentransportasi filtrat kapiler dalam jumlah yang lebih besar yang dapat mencegah
terjadinya edem. Sehingga sebagai konsekuensi terjadinya edema interstisial, saluran
nafas yang kecil dan pembuluh darah akan terkompresi (1,4)
Edem Paru Kardiogenik
Edem paru kardiogenik atau edem volume overload terjadi karena peningkatan
tekanan hidrostatik dalam kapiler paru yang menyebabkan peningkatan filtrasi cairan
transvaskular, ketika tekanan interstisial paru lebih besar daripada tekanan pleural
maka cairan bergerak menuju pleura visceral yang menyebabkan efusi pleura. Sejak
permeabilitas kapiler endotel tetap normal, maka cairan edem ayng meninggalkan
sirkulasi memiliki kandungan protein yang rendah. Peningkatan tekanan hidrostatik di
kapiler pulmonal biasanya berhubungan dengan peningkatan tekanan vena pulmonal
akibat peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri dan tekanan atrium kiri.
Peningkatan ringan tekanan atrium kiri (18-25 mmHg) menyebabkan edema di
perimikrovaskuler dan ruang interstisial peribronkovaskular. Jika tekanan atrium kiri
meningkat lebih tinggi (>25) maka cairan edem akan menembus epitel paru,
membanjiri alveolus. Kejadian tersebut akan menimbulkan lingkaran setan yang terus
memburuk oleh proses sebagai berikut (3,4).

meningkatnya kongesti paru akan menyebabkan desaturasi, menurunnya pasokan


oksigen miokard dan akhirnya semakin memburuknya fungsi jantung

hipoksemia dan meningkatnya cairan di paru menimbulkan vasokonstriksi pulmonal


sehingga meningkatkan tekanan ventrikel kanan. Peningkatan tekanan ventrikel kanan
melalui mekanisme interdependensi ventrikel akan semakin menurunkan fungsi
ventrikel kiri

insufesiensi sirkulasi akan menyebabkan asidosis sehingga memperburuk fungsi


jantung.
Penghapusan cairan edem dari ruang udara paru tergantung pada transpor
aktif natrium dan klorida melintasi barier epitel yang terdapat pada membran apikal
sel epitel alveolar tipe I dan II serta epitel saluran nafas distal. Natrium secara aktif
ditranspor keluar ke ruang instrstisial dengan cara Na/K-ATPase yang terletak pada
membran basolateral sel tipe II. Air secara pasif mengikuti, kemungkinan melalui
aquaporins yang merupakan saluran air yang ditemukan terutama pada epitel alveolar
sel tipe I (3,4)

Edem paru akut kardiogenik ini merupakan bagian dari spektrum klinis Acute
Heart Failure Syndrome (AHFS). AHFS ini didefinisikan sebagai munculnya gejala
dan tanda secara akut yang merupakan sekunder dari fungsi jantung yang tidak
normal (1,3,4).
Secara patofisiologi edem paru kardiogenik ditandai dengan transudai cairan
dengan kandungan protein yang rendah ke paru akibat terjadinya peningkatan tekanan

di atrium kiri dan sebagian kapiler paru. Transudasi ini terjadi tanpa perubahan pada
permeabilitas atau integritas dari membran alveoli-kapiler dan hasil akhir yang terjadi
adalah penurunan kemampuan difusi, hiposemia dan sesak nafas (1,3,4)
Seringkali keadaan ini berlangsung dengan derajat yang berbeda-beda.
Dikatakan pada stage 1 distensi dan keterlibatan pembuluh darah kecil di paru akibat
peningkatan tekanan di atrium kiri, dapat memperbaiki pertukaran udara di paru dan
meningkatkan kemampuan difusi dari gas karbon monoksida. Pada keadaan ini akan
terjadi sesak nafas saat melakukan aktivitas fisik dan disertai ronkhi inspirasi akibat
terbukanya saluran nafas yang tertutup (1,3,4)
Apabila keadaan berlanjut hingga derajat berikutnya atau stage 2, edem
interstisial diakibatkan peningkatan cairan pada daerah interstisial yang longgar
dengan jaringan perivaskular dari pembuluh darah besar, hal ini akan mengakibatkan
hilangnya gambaran paru yang normal secara radiografik dan petanda septum
interlobuler (garis kerley B). Pada derajat ini akan terjadi kompetisi untuk
memperebutkan tempat antara pembuluh darah, saluran nafas dan peningkatan jumlah
cairan di daerah di interstisium yang longgar tersebut, dan akan terjadi pengisian di
lumen saluran nafas yang kecil yang menimbulkan refleks nronkokonstriksi.
Ketidakseimbangan antara ventilasi dan perfusi aka mengakibatkan terjadinya
hipoksemia yang berhubungan dengan ventilasi yang semakin memburuk. Pada
keadaan infark miokard akut misalnya, beratnya hipoksemia berhubungan dengan
tingkat peningkatan tekanan baji kapiler paru. Sehingga seringkali ditemukan
manifestasi klinis takipnea (1,2,4)
Pada proses yang terus berlanjut atau meningkat menjadi stage 3 dari edem
paru tersebut, proses pertukaran gas sudah menjadi abnormal, dengan hipoksemia
yang berat dan seringkali hiperkapnea. Alveolar yang sudah terisi cairan ini terjadi
akibat sebagian besar saluran nafas yang besar terisi cairan berbusa dan mengandung
darah, yang seringkali dibatukkan keluar oleh si pasien. Secara keseluruhan kapasitas
vital dan volume paru semakin berkurang di bawah normal. Terjadi pirai dari kanan
ke kiri pada intrapulmonal akibat perfusi dari alveoli yang telah terisi cairan.
Walaupun hiperkapnea yang terjadi pada awalnya, tetapi apabila keadaan semakin

memburuk maka dapat terjadi hiperkapnea dengan asidosis respiratorik akut apalagi
bila pasien sebelumnya telah menderita penyakit paru obstruktif kronik. Dalam hal ini
terapi morfin yang telah diketahui memiliki efek depresi pada pernafasan, apabila
akan dipergunakan harus dengan pemantau yang ketat (1,3,4)
Edem paru kardiogenik disebabkan oleh peningkatan tekanan hidrostatik
maka sebaliknya edem paru nonkardiogenik disebabkan oleh peningkatan
permeabilitas pembuluh darah paru yang menyebabkan meningkatnya cairan dan
protein masuk ke dalam interstisial paru dan alveolus. Cairan edem paru
nonkardiogenik memiliki kadar protein tinggi karena membran pembuluh darah lebih
permeabel untuk dilewati oleh moleku besar seperti protein plasma. Banyaknya cairan
edem tergantung pada luasnya edem interstisial, ada atau tidak adanya cidera pada
epitel alveolar dan acute lung injury di mana terjadi cedera epitel alveolar yang
menyebabkan penurunan kemampuan untuk menghilangkan cairan alveolar (1,4,5).
Manifestasi Klinis
Gejala paling umum dari pulmonary edem adalah sesak nafas. Ini mungkin adalah
penimbunan yang berangsur-angsur jika prosesnya berkembang secara perlahan, atau
ia dapat mempunyai penimbulan yang tiba-tiba pada kasus dari pulmonary edem akut.
Gejala-gejala

umum

lain

mungkin

termasuk

mudah

lelah,

lebih

cepat

mengembangkan sesak nafas daripada normal dengan aktivitas yang biasa (dyspnea
on exertion), nafas yang cepat (takipnea), kepeningan atau kelemahan (3,4,5,23).
Tingkat oksigen darah yang rendah (hypoxia) mungkin terdeteksi pada pasienpasien dengan pulmonary edem. Lebih jauh, atas pemeriksaan paru-paru dengan
stethoscope, dokter mungkin mendengar suara-suara paru yang abnormal, seperti
rales atau crakles (suara-suara mendidih pendek yang terputus-putus yang
berkoresponden pada muncratan cairan dalam alveoli selama bernafas (3,4,22).

Manifestasi klinis edem paru secara spesifik juga dibagi dalam 3 stadium (23):

Stadium 1
Adanya distensi dan pembuluh darah kecil paru yang prominen akan memperbaiki
pertukaran gas di paru dan sedikit meningkatkan kapasitas difusi gas CO. Keluhan
pada stadium ini mungkin hanya berupa adanya sesak nafas saat bekerja. Pemeriksaan
fisik juga tak jelas menemukan kelainan, kecuali mungkin adanya ronkhi pada saat
inpsirasi karena terbukanya saluran nafas yang tertutup saat inspirasi.

Stadium 2
Pada stadium ini terjadi edem paru interstisial. Batas pembuluh darah paru menjadi
kabur, demikian pula hilus juga menjadi kabur dan septa interlobularis menebal (garis
kerley B). Adanya penumpukan cairan di jaringan kendor interstisial, akan lebih
memperkecil saluran nafas kecil, terutama di daerah basal oleh karena pengaruh
gravitasi. Mungkin pula terjadi refleks bronkhokonstriksi. Sering terdengar takipnea.
Meskipun hal ini merupakan tanda gangguan fungsi ventrikel kiri, tetapi takipnea juga
membantu memompa aliran limfe sehingga penumpukan cairan interstisial
diperlambat. Pada pemeriksaan spirometri hanya terdapat sedikit perubahan saja.

Stadium 3
Pada stadium ini terjadi edem alveolar. Pertukaran gas sangat terganggu, terjadi
hipoksemia dan hipokapsia. Penderita nampak sesak sekali dengan batuk berbuih
kemerahan. Kapasitas vital dan volume paru yang lain turun dengan nyata. Terjadi
right to left intrapulmonary shunt. Penderita biasanya menderita hipokapsia, tetapi
pada kasus yang berat dapat terjadi hiperkapnia dan acute respiratory acidemia. Pada
leadaan ini morphin harus digunakan dengan hati-hati (Ingram dan Braunwald,1988).
Edem paru yang terjadi setelah infark miokard akut biasanya akibat hipertensi
kapiler paru. Namun percobaan pada anjing yang dilakukan ligasi arteriakoronaria,
terjadi edem paru walaupun tekanan kapiler paru normal, yang dapat dicegah dengan
pemberian indomethacin sebelumnya. Diperkirakan bahwa dengan menghambat
cyclooxgenase atau cyclic nucleotide phosphodiesterase akan mengurangi edem paru
sekunder akibat peningkatan permeabilitas alveolar-kapiler. Pada manusia masih

memerlukan penelitian lebih lanjut. Kadang-kadang penderita dengan Infark Miokard


Akut dan edem paru, tekanan kapiler parunya normal. Hal ini mungkin disebabkan
lambatnya pembersihan cairan edem secara radiografi meskipun tekanan kapiler paru
sudah turun atau kemungkinan lain pada beberapa penderita terjadi peningkatan
permeabilitas alveolus kapiler parus ekunder oleh karena adanya isi sekuncup yang
reendah seperti pada cardiogenic shock lung.
Bila edem paru kardiogenik disebabkan oleh peningkatan tekanan hidrostatik
maka

sebaiknya,

edem

paru

nonkardiogenik

disebabkan

oleh

peningkaan

permeabilitas pembuluh darah paru yang menyebabkan meningkatnya cairan dan


protein masuk ke dalam interstisial paru dan alveolus. Cairan edem paru
nonkardiogenik memiliki kadar protein kadar proein tinggi karena membran
pembuluh darah lebih permeabel untuk dilewati oleh protein plasma. Akumulasi
cairan edem ditentukan oleh keseimbangan antara kecepatan filtrasi cairan ke dalam
paru dan kecepaan cairan tersebu dikeluarkan dari alveoli dan interstisial (4,5,24).
Diagnosis
Tampilan klinis edem paru kardiogenik dan nonkardiogenik mempunyai beberapa
kemiripan.
Anamnesis
Anamnesis dapat menjadi petunjuk ke arah kausa edem paru, misalnya adanya
riwayat sakit jantung, riwayat gejala yang sesuai dengan gagal jantung kronik. Edem
paru akut kardiak, kejadiannya sangat cepat dan terjadi hipertensi pada kapiler paru
secara ekstrim. Keadaan ini merupakan pengalaman yang yang menakutkan bagi
pasien karena mereka batuk-batuk dan seperti seseorang yang akan tenggelam (1,5).
Khas pada edem paru non kardiogenik didapatkan bahwa awitan penyakit ini
berbeda-beda, tetapi umumnya akan terjadi secara cepat. Penderita sering sekali
mengeluh tentang kesulitan bernapas atau perasaan tertekan atau perasaan nyeri pada
dada. Biasanya terdapat batuk yang sering menghasilkan riak berbusa dan berwarna
merah muda. Terdapat takipnue serta denyut nadi yang cepat dan lemah, biasanya
penderita tampak sangat pucat dan mungkin sianosis.(2,3,4,5,6,18,19,20).

Pemeriksaan Fisik
Terdapat takipnea, ortopnea (menifestasi lanjutan). Takikardia, hipotensi atau teknan
darah bisa meningkat. Pasien biasanya

dalam posisi duduk agar dapat

mempergunakan otot-otot bantu nafas dengan lebih baik saat respirasi atau sedikit
membungkuk ke depan, akan terlihat retraksi inspirasi pada sela interkostal dan fossa
supraklavikula yang menunjukan tekanan negatif intrapleural yang besar dibutuhkan
pada saat inpsirasi, batuk dengan sputuk yang berwarna kemerahan (pink frothy
sputum) serta JVP meningkat. Pada pemeriksaan paru akan terdengar ronki basah
setengah lapangan paru atau lebih dan terdapat wheezing. Pemeriksaan jantung dapat
ditemukan ditemukan gallop, bunyi jantung 3 dan 4. Terdapat juga edem perifer, akral
dingin dengan sianosis (sda). Dan pada edem paru non kardiogenik didapatkan khas
bahwa Pada pemeriksaan fisik, pada perkusi terdengar keredupan dan pada
pemeriksaan auskultasi di dapat ronki basah dan bergelembung pada bagian bawah
dada(4).
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorim yang relevan diperlukan untuk mengkaji etiologi edem paru.
Pemeriksaan tersebut diantaranya pemeriksaan hematologi/ darah rutin, fungsi ginjal,
elektrolit, kadar protein, urinalisa gas darah, enzim jantung (CK-MB, troponin I) dan
Brain Natriuretic Peptide (BNP). BNP dan prekursornya pro BNP dapat digunakan
sebagai rapid test untuk menilai edem paru kardiogenik pada kondisi gawat darurat.
Kadar BNP plasma berhubungan dengan pulmonary artery occlusion pressure, left
ventricular end-diastolic pressure dan left ventricular ejection fraction. Khususnya
pada pasien gagal jantung, kadar pro BNP sebesar 100pg/ml akurat sebagai prediktor
gagal jantung pada pasien dengan efusi pleura dengan sensitifitas 91% dan spesifitas
93% (Lorraine et al) . Richard dkk melaporkan bahwa nilai BNP dan Pro BNP
berkorelasi dengan LV filling pressure (pasquate 2004). Pemeriksaan BNP ini menjadi
salah satu tes diagnosis untuk menegakkan gagal jantung kronis berdasarkan pedoman

diagnosis dan terapi gagal jantung kronik Eropa dan Amerika. Bukti penelitian
menunjukan bahwa pro BNP/BNP memiliki nilai prediksi negatif dalam
menyingkirkan gagal jantung dari penyakit penyakit lainnya.

Pemeriksaan radiologi
Radiografi
Temuan radiografi toraks dari edema paru hidrostatik pada umumnya pasien dengan
kemungkinan terbesar edema paru hidrostatik akan dicitrakan menggunakan teknik
anteroposterior (AP). Teknik AP dapat membuat diagnosis hidrostatik edema paru
sulit karena pembesaran jantung, yang dihasilkan dari jarak fokus- film yang pendek,
dapat membuat penentuan ukuran jantung tidak dapat dipercaya, terutama pada pasien
dengan volume paru rendah. Selain itu, kongesti vaskular paru sulit untuk dinilai
secara akurat pada pasien nonerect karena pembuluh lobus superior biasanya sering
lebih besar dari pembuluh lobus inferior pada pasien dalam posisi terlentang atau
semierect. Selanjutnya, dilatasi vena azygos, sering dipertimbangkan sebagai
indicator peningkatna tekanan atrium kanan, merupakan temuan umum dan normal
pada posisi supine. Akhirnya, efusi pleura sering muncul sebagai gambaran proyeksi
kabur dibandingkan dengan paru-paru pada pasien dicitrakan dalam posisi terlentang
atau semierect. Namun, gambaran ini tidak spesifik untuk efusi pleura dan dapat
dilihat pada atelektasis posterior luas karena aerasi anterior paru superimposes pada
peningkatan opacity dari atelektasis paru posterior. Pola ini sering terlihat pada pasien
sakit berat dan pasien di unit perawatan intensif, yang merupakan populasi pasien
yang sama pada risiko edema paru hidrostatik
Tanda-tanda awal radiografi toraks pada hipertensi vena pulmonal yaitu
redistribusi vaskular paru, muncul sebagai ekualisasi dari ukuran pembuluh lobus
superior dan lobus inferior, yang berlangsung dengan pembuluh lobus superior
menjadi lebih besar daripada di lobus inferior (kebalikan dari situasi yang

normal ). Dalam keadaan akut, fenomena ini terlihat dengan tekanan atrium kiri
(wedge) dalam kisaran 12 sampai 19 mm Hg. 2 Pada pasien kompensasi kronis,
seperti dengan stenosis mitral, ekualisais pembuluh lobus superior dan lobus inferior
terjadi dengan tekanan atrium kiri antara 15 sampai 25 mm Hg. 2 Dengan
memburuknya keadaan fisiologis, hipertensi vena pulmonal berkembang menjadi
edema paru interstitial, dengan penebalan septum interlobular, sering disebut sebagai
Garis Kerley A dan Kerley B (Gambar. 100-1A), gambaran kabur pada perihilar
(perihilar

indistinctness)

dan

kabut

pada

vascular

(vascular

haze)

(lihat Gambar. 100-1B), peribronchial cuffing (lihat Gambar. 100-1C), dan edema
subpleural (lihat nanti). 2 Temuan dari edema interstitial biasanya terlihat pada
rontgen toraks, dengan tekanan atrium kiri 20 sampai 25 mm Hg pada pasien dalam
keadaan akut dan 25 sampai 30 mm Hg pada pasien kompensasi kronis. 2 Pada
tekananan atrium kiri yang tinggi, terjadi edema alveolar, dengan ekstravasasi cairan
ke alveolar. Pada pasien ini, radiografi toraks akan menunjukkan pola konsolidasi
ruang udara (lihat Gambar. 100-1D) dan nodul asinar, 2 sering superimpose dengan
temuan edema interstitial. Hubungan antara tekanan atrium kiri (pulmonary capillary
wedge) dan temuan radiografi tidak tepat, dan temuan radiografi sering tertinggal
dibandingkan perubahan fisiologis.

Gambaran radiografi toraks untuk edema interstitial (A-C) dan alveolar (D). A,
penebalan septal interlobular. B, Perihilar haze. C, Peribronchila cuffing. D,
Consolidation

CT scan
Pada CT toraks, temuan edema paru hidrostatik termasuk yang terlihat pada
radiografi toraks, seperti cardiomegaly, dilatasi pembuluh darah, dan efusi
pleura. Temuan dari edema interstitial (lihat nanti), juga jelas dan lebih mudah
dengan CT toraks, terutama CT resolusi tinggi (HRCT), dibandingkan dengan
radiografi toraks. Penebalan dinding bronkus, penebalan septum interlobular (Gbr.
100-2), dan ground glass opacity (gambaran kabur, nodul centrilobular kurang
berbatas tegas) merupakan gambaran dari edema paru hidrostatik.

Tanda klasik

Edema interstisial

Temuan edema interstitial pada radiografi toraks biasanya mudah terlihat dengan CT
scan dan, selain temuan tersebut, ground glass opacity dan nodul centrilobular sering
ditemukan pada pasien dengan edema paru hidrostatik.

Penebalan septum interlobular ( Garis Kerley A dan B )


Kedua garis Kerley A dan B mewakili penebalan septum interlobular. Garis Kerley
B adalah garis opak linear horisontal, 1 sampai 2 cm, berhubungan dengan
permukaan pleura. Garis Kerley B paling mudah terlihatpada daerah toraks inferior
dan lateral, dekat sulkus kostofrenikus Gambaran reguler garis Kerley B di basis
paru adalah hasil dari susunan reguler lobulus paru pada basis paru-paru.
Garis Kerley A juga mewakili penebalan septum interlobular namun relatif
jarang dibandingkan dengan garis Kerley B. Garis Kerley A mempunyai gambaran
opak linear oblik dengan panjang beberapa sentimeter, memancar keluar dari sentral
atau perihilar paru-paru. Garis Kerley A memiliki gambaran yang agak berbeda dari
garis Kerley B karena susunan yang berbeda dari lobulus sekunder pada sentral
paru-paru.
Penebalan septum interlobular yang dihasilkan dari edema paru hidrostatis
mudah terlihat pada CT toraks, terutama HRCT. Penebalan septum interlobular pada
pasien dengan edema paru hidrostatik adalah halus dan paling sering terlihat di basis
paru-paru dan di apeks paru. Tidak berbatas tegas, nodul sentralobular dengan
ground-glass attenuation atau lobular ground-glass opacity sering bersamaan.

Kesuraman vascular dan perihilar Haze

Pada pasien dengan hipertensi vena pulmonal dan edema interstitial, cairan transudate
dari pembuluh darah mengelilingi pembuluh darah dan mengaburkan batas tepi pada
radiografi toraks, menyebabkan batas pembuluh darah tidak jelas. Kesuraman
pembuluh darah paru-paru paling sering terlihat di lobus inferior dan dapat terlihat
sebelum adanya garis Kerley.
Perihilar haze adalah istilah yang dulu kadang-kadang digunakan untuk
merujuk kepada sesuatu yang tidak berbatas tegas dan terdapat sedikit peningkatan
opasitas yang mengelilingi pembuluh darah; hal ini tampak sebagai kesuraman
pembuluh darah perihilus dengan hazy or ground-glass appearance Meskipun tidak
selalu mudah dikenali,perihilar haze bisa menjadi temuan yang berguna yang
menunjukkan edema paru hidrostatis pada pasien dengan atelektasis lobus inferior.

Peribronchial cuffing
Peribronchial cuffing merupakan penebalan dinding bronkus, mungkin disertai
dengan sedikit cairan interstitial peribronkial. Peribronchial cuffing paling mudah
dikenali di daerah sentral dan perihilar paru, ketika bronkus terlihat di potongan
melintang. Peribronchial cuffing juga dapat dilihat sebagai tram-track appearance
ketika bronkus dilihat dari potongan longitudinal. Peribronchial cuffing juga dapat
muncul sebagai penebalan nonspesifik dari interstitium memancar keluar dari
hilus. Pada CT toraks, penebalan peribronchial atau Peribronchial cuffing biasanya
muncul

karena

penebalan

dinding

bronkus. Peribronchial

cuffing

mungkin

merupakan temuan dari edema interstitial dalam keadaan klinis yang sesuai, tapi tidak
spesifik untuk diagnosis tersebut; peradangan peribronchial atau tumor juga dapat
menghasilkan temuan ini.

Edema subpleural

Interstitium subpleural ini berdekatan dengan interstitium peribronchovascular


melalui interstitium centrilobular perifer dan septa interlobular. Ketika cairan
menumpuk di dalam septa interlobular, cairan ini dapat melewati interstitium
subpleural, menciptakan penebalan dari kompartemen ini juga. Pada radiografi dan
CT toraks, edema subpleural muncul sebagai penebalan fissural.

Ground-Glass Opacity
Peningkatan abnormal dari cairan di paru dapat menghasilkan peningkatan secara
keseluruhan dalam kekaburan dalam parenkim paru, sering dengan penurunan
volume paru karena berkurangnya compliance paru. Kekaburan ini dapat membuat
penampilan ground-glass opacity (meningkatnya atenuasi tanpa kekaburan
kumpulan pembuluh darah yang terkait) pada radiografi toraks, meskipun temuan
ini biasanya sulit untuk dihargai. Namun, ground-glass opacity yang disebabkan
oleh edema interstitial mudah dikenali pada HRCT, dan kadang-kadang mungkin
muncul sebagai nodul centrilobular.

Edema ruang udara (alveolar)


Sebagai faktor produksi kemajuan edema interstitial, pada akhirnya cairan
interstitial akan mulai menumpuk di dalam ruang udara, menghasilkan edema ruang
udara. Karena cairan edema menggantikan udara dalam alveoli,edema ruang udara
menggambarkan bentuk konsolidasi ruang udara dan muncul sebagai opasitas
konfluen, yang mungkin disertai dengan oleh nodul ruang udara atau asinar.

Distribusi Edema Hidrostatik


Edema hidrostatik mungkin menggambarkan sejumlah perberbeda distribusi,
meskipun distribusi pradominan simetris perihilar dan basilar adalah yang paling
umum. Sebuah distribusi perihilar berbeda dari edema hidrostatik sering disebut
sebagai bat wing or butterfly distribution, dan sering terlihat ketika cairan edema
terakumulasi dengan cepat. Jarang, edema hidrostatis akan terakumulasi dalam
reverse bat wing distribution mengingatkan penyebab lain dari opasitas paru
perifer

BAB III

KESIMPULAN

Edema paru merupakan salah satu kelainan yang memiliki beragam gambaran
radiologi berdasarkan tahapan kelainan. Untuk edema paru interstitial, gambaran
radiologi yang sering adalah Garis Kerley A dan B, Peribronchial cuffing, dan
Perihilar haze pada radiografi thoraks, dan Ground-Glass Opacity pada CT-Scan

thoraks. Sedangkan pada edema paru alveolar, gambaran radiografi thoraks adalah
konsolidasi yang sering membentuk pola seperti bat wing or butterfly distribution.
Oleh sebab itu penting bagi seorang dokter untuk mengetahui berbagai gambaran
radiologi edema paru, agar dapat menjadi penunjang dalam membuat diagnosa yang
tepat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Harun S dan Sally N. EdemParuAkut. 2009. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, SetiatiS,editor. BukuAjarIlmuPenyakitDalam 5th ed. Jakarta:Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. p. 1651-3.
2. Soemantri. 2011. Cardiogenic Pulmonary Edema. NaskahLengkap PKB XXVI
IlmuPenyakitDalam 2011. FKUNAIR-RSUD DR.Soetomo, p.113-9.
3. Alasdair et al. Noninvasive Ventilation in Acute Cardiogenic Pulmonary Edema. N
Engl J Med 2008; 359: 142-51.
4. Lorraine et al. Acute Pulmonary Edema. N Engl J Med. 2005; 353:2788-96.
5. Maria I. 2010. PenatalaksanaanEdemParupadaKasus VSD dan Sepsis VAP.
Anestesia& Critical Care. Vol 28 No.2 Mei 2010 p.52.

6. Koga dan Fujimoto. Kerleys A, B and C Line. N Engl J M 2009;360:15.


7. Ho Vincent. Cardiovascular Imaging. 1 st ed. Elsevier; 2011. p. 1373