Anda di halaman 1dari 7

FIXED DRUG ERUPTION

Vina Chanthyca Ayu, S.Ked


Bagian/Departemen Dermatologi danVenereologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Moh. Hoesin Palembang
2016

PENDAHULUAN
Fixed Drug Eruption (FDE) merupakan salah satu jenis erupsi obat yang sering
dijumpai1. Lesi pada fixed drug eruptions kambuh di tempat yang sama dengan setiap paparan
obat. Waktu dari masuknya agen penyebab hingga muncul gejala adalah antara 30 menit dan 8
jam, rata-rata 2 jam. Pada sebagian besar pasien, dapat ditemukan enam lesi atau lebih sedikit,
dan sering hanya satu lesi. Fix drug eruption dapat timbul dimana saja namun sebagian besar
FDE ditemukan genital dan area perianal2.
Fixed drug eruption dapat terjadi pada segala usia. Insidensi pada wanita sebanding
dengan pria. Penyakit ini tidak memiliki predileksi ras manapun. Frekuensi fixed drug
eruption sekitar 16-21% dari semua penyakit kulit yang disebabkan oleh erupsi obat3.
Lesi fixed drug eruption berupa makula merah terang atau merah gelap yang mungkin
berkembang menjadi plak, bula, eritem, soliter atau multipel. Munculnya lesi pada kulit juga
sering disertai dengan sensasi rasa seperti terbakar, atau tersengat dan gejala lain seperi
demam, malaise1.
Referat ini akan membahas fixed drug eruption. Referat ini diharapkan dapat
menambah pengetahuan mengenai fixed drug eruption yang digunakan untuk menegakkan
diagnosis pasien sehingga pengobatan dapat diberikan dengan cepat dan tepat.
DEFINISI
Fixed Drug Eruption (FDE) adalah salah satu jenis erupsi obat yang sering dijumpai.
Lesi fixed drug eruption berupa makula merah terang atau merah gelap yang mungkin
berkembang menjadi plak, bula, eritema, soliter atau multipel. Generalized bullous fixed drug
eruption (GBFDE) merupakan tipe khas atau lesi FDE dengan bula melibatkan setidaknya
tiga predileksi yang berbeda: kepala dan leher (termasuk bibir), trunkus anterior, tungkai atas,
tungkai bawah, dan kelamin3.

ETIOLOGI
Obat yang menyebabkan fixed drug eruption sangat banyak. Namun, sebagian besar
fixed drug eruption adalah karena satu atau lebih obat (Tabel 1). Penyebab
terjadinya fixed drug eruption meliputi antibiotik, antiepileptik, dan AINS meskipun zat lain
dan makanan tertentu juga dapat menjadi penyebab 3. Yang paling sering menyebabkan FDE
antibiotik (co-trimoxazole, tetrasiklin, ampisilin), antiepileptik (derivat barbiturat), AINS
(oxyphenbutazone)3.
Tabel 1. Obat obat yang menyebabkan FDE3
Antibiotik
Co-trimoxazole, Trimetropin
Tetrasiklin
Penisilin
ampisilin
Eritromisin
Trimetropin
Nistatin
Griseovulvin
Dapson
Arsenik
Mtronidazole
Clioquinol
Thioacetazone
p-Asam amino salisilat
Antiepileptik
Derivat barbiturat
Opium alkaloid
Cloral hidrat
Benzodiazepin : klodiazepoxide
Dextrometropan
Anticonvulsan

Non-streroid anti inflamasi


Aspirin
Oxyphenbutazone
Ibuprofen
Paracetamol
Metamizole
Lain-lain
Kodein
Hidralazin
Oleoresin
Simpatomimetik
Simpatolitik
Parasimpatolitik
Magnesium Hidrosi
Magnesium tetrasilikat
Anthralin
Klortiazon
Klorpenesin kabamat
Makanan tertentu

PATOGENESIS
Patofisiologi fixed drug eruption belum diketahui secara pasti. Namun penelitian
terakhir menyebutkan adanya peran sel mediator yang mengawali munculnya lesi yang aktif.
Proses ini meliputi suatu antibodi-dependent dan reaksi sel mediator sitotoksik3.
Obat-obat yang masuk dianggap sebagai hapten yang berikatan dengan sel basal
keratinosit atau dengan melanosit pada lapisan basal epidermis, yang menyebabkan terjadinya
reaksi

inflamasi.

Melalui

pelepasan

sitokin,

seperti TNF-,

keratinosit

mengekspresikan intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1). Pengaturan ICAM-1 akan


mendorong sel T (CD4 dan CD8) berpindah ke lokasi lesi. Datangnya sel CD8 dan bertahan
2

di lokasi lesi akan menyebabkan kerusakan jaringan yang terus-menerus akibat produk
inflamasi, seperti sitokin interferon gamma dan TNF-3.
Sel CD4 memproduksi IL-10, yang menekan sistem imun, yang menyebabkan lesi
yang terus aktif. Jika respon inflamasinya sudah hilang, IL-15 yang diekspresikan keratinosit
akan membantu mempertahankan sel CD8, yang akan memberikan memori fenotipe.
Sehingga ketika paparan obat berulang, respon akan berkembang lebih cepat pada lokasi yang
sama3.
MANIFESTASI KLINIK
Fixed drug eruption dapat timbul dalam waktu 30 menit sampai 8 jam setelah ingesti
obat, rata-rata 2 jam. Erupsi diawali dengan eritem multiformis seperti urtikaria, nodul, lesi
ekzema (Gambar 1). Lesi awal soliter tetapi pada serangan yang berulang lesi baru biasanya
akan muncul dan ada lesi yang mungkin bertambah besar. Sensasi seperti rasa terbakar dan
gatal sering terjadi pada FDE. Predileksi FDE dapat terjadi di bibir, telapak tangan, telapak
kaki, glans penis, dan pangkal paha. Setelah penghentian obat penyebab lesi akan sembuh dan
sebagian besar meninggalkan hiperpigmentasi biasanya tampak makula atau plak abu-abukecoklatan pada kulit atau membran mukosa atau keduanya untuk waktu yang lama, kecuali
obat penyebab diberikan4.

Gambar 1. Fixed Drug Eruption4

Dalam beberapa kasus, lesi menjadi lebih luas dengan lesi bulosa dan manifestasi
sistemik, seperti demam tinggi dan arthralgia, meniru sindrom stevens-johnson (SJS) atau
toksik epidermal nekrolisis (TEN) yaitu generalized bullous fixed drug eruption (GBFDE).

Lesi generalized bullous fixed drug eruption berupa bula yang melibatkan setidaknya tiga
predileksi meliputi kepala, leher, bibir, trunkus anterior, tungkai atas, tungkai bawah, dan
kelamin (Gambar 2)4.

Gambar 2. Generalized Bollous Fixed Drug Eruption4

DIAGNOSIS
A. Anamnesis
Keluhan pasien berupa kemerahan atau luka pada sekitar mulut, bibir, atau di kelamin,
yang terasa panas. Keluhan timbul setelah mengkonsumsi obat-obat yang sering menjadi
penyebab seperti Sulfonamid, barbiturat, trimetoprim, dan analgetik. Anamnesis yang
dilakukan harus mencakup riwayat penggunaan obat-obatan atau jamu. Kelainan timbul
secara akut atau dapat juga beberapa hari setelah mengkonsumsi obat. Keluhan lain adalah
rasa gatal yang dapat disertai dengan demam yang subfebris6.
Faktor Risiko6 :
1. Riwayat konsumsi obat (jumlah, jenis, dosis, cara pemberian)
2. Riwayat alergi obat sebelumnya
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik tanda patognomonis lesi khas berupa vesikel, bercak eritema, lesi
target berbentuk bulat lonjong atau numular, kadang-kadang disertai erosi, bercak
hiperpigmentasi dengan kemerahan di tepinya, terutama pada lesi berulang6.
C. Pemeriksaan Penunjang
Diperlukan untuk membuktikan jenis obat yang diduga sebagai penyebab yaitu6 :

a. Uji tempel tertutup dengan uji kulit yang digunakan untuk memastikan penyebab/
alergen yang diduga menjadi penyebab. Dilakukan dengan menempelkan alergen
penyebab di kulit.
b. Uji tusuk merupakan salah satu jenis tes kulit untuk menegakkan diagnosis alergi dan
memastikan penyebabnya. Alergen disuntikkan ke kulit disuntikkan ke kulit akan
berinteraksi dengan IgE sehingga vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas
pembuluh darah sehingga eritem/ bentol pada kulit tersebut .
c. Uji provokasi obat merupakan metode pemberian obat terkontrol untuk menegakkan
diagnosis reaksi hipersensitivitas terhadap obat pada pasien dengan riwayat dugaan
alergi obat.
PENATALAKSANAAN

A. Umum:
Prinsip tatalaksana adalah menghentikan obat terduga. Pada dasarnya erupsi obat akan
sembuh bila obat penyebabnya dapat diketahui dan segera dihentikan. Edukasi untuk pasien
FDE meliputi6:
1. Prinsipnya adalah eliminasi obat terduga.
2. Pasien dan keluarga diberi catatan kecil tentang alergi obat yang dideritanya.
3. Pasien diberi informasi jika meminum obat penyebab maka lesi yang sama, pada
tempat yang sama akan timbul kembali.
B. Khusus
1. Topikal
a. Pemberian topikal tergantung dari keadaan lesi, bila terjadi erosi dapat
dilakukan kompres terbuka NaCl 0,9% atau larutan permanganas kalikus
1/10.000 dengan 3 lapis kasa selama 10-15 menit. Kompres dilakukan 3 kali
sehari sampai lesi kering6.
b. Terapi dilanjutkan dengan pemakaian topikal kortikosteroid potensi ringan
sedang, misalnya krim hidrokortison 2,5% atau krim mometason furoat 0,1%1.
2. Sistemik
a. Kortikosteroid sistemik, digunakan untuk antiinflamasi dan imunosupresan.
Tablet prednison 1-2 mg/kgBB/hari1.
b. Antihistamin sistemik, terapi simtomatik untuk mengurangi gatal misalnya
tablet hidroksisin 10 mg/hari 2 kali sehari selama 7 hari atau tablet loratadin
1x10 mg/hari selama 7 hari1.
PROGNOSIS
5

Quo ad vitam

:dubia ad bonam,

Quo ad fungsionam

:dubia ad bonam

Quo ad sanasionam

:dubia ad bonam

KESIMPULAN
Fixed Drug Eruption (FDE) merupakan salah satu jenis erupsi obat yang sering
dijumpai1. Lesi pada fixed Drug Eruptions kambuh di tempat yang sama dengan setiap
paparan obat. Lesi fixed drug eruption berupa makula merah terang atau merah gelap yang
mungkin berkembang menjadi plak, bula, eritema, soliter atau multipel. Generalized bullous
fixed drug eruption (GBFDE) merupakan tipe khas dengan bula melibatkan setidaknya tiga
predileksi yang berbeda yaitu kepala dan leher (termasuk bibir), trunkus anterior, tungkai
atas, tungkai bawah, dan kelamin.
Prinsip tatalaksana fixed drug eruption merupakan penghentian obat penyebab.
Tatalaksana yang diberikan sistemik dan topikal yaitu, untuk topikal dilakukan kompres
terbuka dan kortikosteroid krim. Sistemik diberikan obat kortikosteroid oral untuk
antiinflamasi dan imunosupresan, dan antihistamin untuk mengurangi gatal.

DAFTAR PUSTAKA
1

Neil H Shear.Cutaneous Reaction to Drug. Fitzpatricks Dermatology in General


Medicine. 8th ed. New York: McGraw-Hill, 2013: p.449-457.

James WD, Berger TG, Elston DM, editors. fixed drug eruption. Andrews Disease of
The Skin Clinical Dermatology. 11th ed. Philadelphia, USA: Saunders Elsevier; 2011: P.
118-119.

Bunker CB, Gotch F. HIV and the Skin. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C,
editors, Rooks Textbook of Dermatology. 8th ed. Massachusetts, USA: Willey-Blackwell
Publishing, 2010. P. 35.1

Hang lee, cheng, et al. Fixed-drug eruption: A retrospective study in a

single referral center in northern Taiwan. USA: Saunders Elsevier; 2012;


P. 11-15.
5

Shiohara T. Fixed drug eruption: pathogenesis and diagnostic test. Tokyo; japan;
Department of Dermatology, Kyorin University School of Medicine, 2009: P. 316-321

Ikatan Dokter Indonesia .Panduan paraktik klinik bagi dokter. 2014. Jakarta.