Anda di halaman 1dari 24

BAB I

LAPORAN KASUS
1.1.

IDENTIFIKASI
Nama
: Amina Binti Hadin
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir : 1 Juli 1953 (63 tahun)
Alamat
:
Status
: Menikah
Pekerjaan
:
Kebangsaan
:
Agama
: Islam
Rekam Medis : 955590
MRS
:

1.2.

ANAMNESIS (26 Juli 2016)


Keluhan Utama
Nyeri pinggang sebelah kanan
Riwayat Perjalanan Penyakit
2 bulan SMRS pasien merasakan nyeri pinggang sebelah kanan, Nyeri
hilang timbul dengan spontan, nyeri dirasakan bertambah parah, nyeri
dirasakan menjalar hingga ke perut bagian depan dan terkadang ke perut
bagian bawah, nyeri saat BAK (-), sering BAK (-), warna BAK biasa,
BAK berpasir/keluar batu saat BAK (-), BAK terasa tidak puas (-), terasa
ada sisa saat BAK (-), demam disangkal, BAB biasa, perut kembung (-),
mual muntah (-), riwayat trauma di daerah pinggang disangkal, riwayat
sering mengangkat benda berat disangkal, demam (-).
1 tahun yang lalu pasien peratama kali merasakan nyeri di pinggang
kanan, nyeri hilang timbul dengan spontan, ada riwayat BAB biasa, ,
riwayat BAK berdarah (+), warna BAK keruh (+), berbau amis (+), BAK
berpasir atau keluar batu (-),

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat hipertensi (-)
Riwayat kencing manis (-)
Riwayat gout atritis (-)

Riwayat Penyakit dalam Keluarga


Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama

1.3.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Kesadaran
: compos mentis
Tekanan Darah : mmHg
Nadi
: x/menit
Pernapasan
: x/menit
Suhu
: 36,6oC
Pemeriksaan Khusus
Kepala dan Leher
Kepala
: rambut putih, tidak mudah dicabut, distribusi merata
Mata
: konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor,
Hidung

reflex cahaya (+/+)


: nafas cuping hidung (-), tidak ada discharge, tidak ada

Leher

deviasi septum
: tidak ada pembesaran KGB

Thorax
Paru
I: statis dan dinamis simetris
P: stem fremitus kanan=kiri
P: sonor diseluruh lapangan paru
A: suara nafas vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)
Cor
I : iktus cordis tidak terlihat
P: iktus cordis tidak teraba
P: batas atas ICS II linea midclavikularis sinistra, batas kiri ICS IV linea
para sternalis sinistra, batas kiri ICS III linea aksilaris anterior sinistra
A: denyut jantung 82 x/menit, bunyi jantung I/II normal, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen
I: datar, tidak ada benjolan
P: lemas, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, ballottement (+), Murphy
sign (-)
P: timpani
A: bising usus (+) normal
Ekstremitas

Tidak ada deformitas, pucat (-), sianosis(-), hangat, edema (-)


Genitalia
Dalam batas normal
Status lokalis
CVA
Pemeriksaan
Inspeksi
Palpasi

Kanan
Bulging (-)
Nyeri tekan
nyeri ketok (+)

Supra pubik
Inspeksi : bulging (-)
Palpasi: lemas, nyeri tekan (-)
1.4.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium (23-8-2014)
Hematologi
Hemoglobin
Eritrosit
Leukosit
Hematokrit

: 11,6 mg/dl*
: 4,09 juta/mm3*
: 6.400
: 35%*

Kimia klinik
Bilirubin total

: 0,69mg/dl

Billirubin direck : 0,42mg/dl


Billirubin indireck: 0,27 mg/dl
SGOT

: 17 U/l

SGPT

: 11U/l

Protein total

: 10,7 g/dl

Albumin

: 2,9 g/dl

Globulin

: 7,8 g/dl

Metabolisme Glukosa
Glukosa darah sewaktu : 89 mg/dl

(+),

kiri
Bulging (-)
Nyeri tekan (-),
nyeri ketok (-)

Ginjal
Ureum

: 28 mg/dl

Asam urat

: 5,00 mg/dl

Kreatinin

: 1,00mg/dl

Elektrolit
Na

: 140 mg/dl

: 5,3 mg/dl

Ca

: 9,0 mg/dl

Phospor

: 3,6 mg/dl

Cl

: 108 mg/dl

Urinalisa
pH

:5

berat jenis

: 1,010

Glukosa

: negative

Protein

: ++

Billirubin

: negative

Urobilinogen

: negative

Nitrit

: negative

Keton

: negative

Sedimen
Leukosit

: penuh

Eritrosit

: 2-3/LPB

Epitel

: 1-2/LPB

Silinder

0/LPB

Kristal

: 0/LPB

Pemeriksaan Radiologis
BNO-APG
IVP

Ekpertise pemeriksaan BNO dan IVP


-

Pemeriksaan BNO
Pre peritoneal fat line baik, M. Psoas mayor simetris.
Distribusi udara usus sampai distal
Contour kedua ginjal tidak membesar
Tampak bayangan batu opak di proyeksi ginjal kanan dengan ukuran 3,5
x 1,5 cm setinggi L 2-3-4 kanan
Tulang-tulang vertebra lumbal normal
Pemeriksaan IVP
Sekresi dan eksresi ginjal kiri telah terlihat sejak menit ke 5
Ginjal kiri tampak normal, tak tampak pendataran, bulging atau ballooning
system pelviokalises
Sekresi dan eksresi ginjal kanan non visualisasi sampai menit ke 120
Eksresi ureter kiri normal, tak tampak hambatan/dilatasi
Tak tampak eksresi ureter kanan sampai menit ke 120
Buli penuh besar dan bentuk normal, tak tampak filling defek/additional
shadow/batu
Post voiding sisi urine minimal
Kesan:
Batu ginjal kanan dengan ukuran 3,5 x 1,5 cm setinggi L 2-3-4 kanan
Non visualisasi ginjal serta ureter kanan sampai menit ke 120.
Fungsi sekresi dan eksresi ginjal kiri normal.

USG

Ekspertise USG
Ginjal Kanan : ukuran membesar, tak terjangkau probe, bentuk tampak
ballooning, tampak penipisan korteks, tampak batu ukuran
Ginjal kiri

sebesar 1,9 cm pada PCS


: bentuk dan ukuran normal, ekogenesitas tak meningkat,
kortiko medular baik, tak tampak penipisan korteks, tak
tampak batu, system pelvikalises baik

Vesica Urinaria : dinding tak menebal, permukaan rata, tak tampak batu,
tak tampak masa
Kesan

: severe hidronefrosis dekstra ec nefrolitiasis terbesar 1,9


cm pada PCS kanan

1.5.

Diagnosis kerja
Batu ginjal kanan + severe hidronefrosis + non visual ginjal kanan

1.6.

Penatalaksanaan
Pro nefroktomi dekstra

1.7.

Prognosis
Vitam : bonam
Fungsional : dubia ad malam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi Ginjal

Gambar
parenkim

2.1 Ginjal,
dan pelvis
ginjal terpapar (Netter, 2003 hal. 334)

Ginjal terselubungi oleh suatu lapis jaringan fibrosa yang disebut hilum
yang tampak halus akan tetapi kuat. Lapisan ini menyelubungi ginjal dengan
sangat ketat, tetapi dapat terbuka dengan mudah. Di bawah lapisan tersebut maka
dapat terlihat ginjal dengan permukaannya yang halus dan berwarna merah tua. Di
tengah-tengah ginjal terdapat rongga yang disebut sinus; rongga tersebut juga
terlapisi oleh hilum (Gray, 1995).
Segala benda seperti pembuluh darah dan duktus ekskretorik akan
memasuki ginjal melalui fisura tersebut. Duktus ekskretorik ginjal, ureter setelah
masuk ke dalam ginjal akan melebar seperti sebuah kerucut, struktur ini
dinamakan pelvis. Pelvis akan bercabang menjadi dua atau tiga percabangan yang
akan memisah lagi yang disebut dengan calices atau infundibula; semua struktur
tersebut berada di dalam rongga ginjal (Gray, 1995).
Bagian korteks dari ginjal berwarna merah muda, lunak, granular, dan
mudah terlaserasi. Bagian yang memisah sisi-sisi dari dua piramid dimana arteri
dan nervus masuk, dan dimana vena dan kelenjar limfe keluar dari ginjal disebut

cortical coloumn atau columna Bertini; sementara porsi yang menghubungkan


antara satu cortical coloumn dengan yang lainnya disebut cortical arch dengan
kedalaman yang bervariasi dari 0,8-1,3 cm (Gray, 1995).
Bagian medulla dari ginjal, seperti yang telah ditulis sebelumnya,
berwarna merah, striated, dan memiliki massa berbentuk kerucut, pyramids of
Malpighi; jumlahnya bervariasi dari 8-18 bergantung pada pembentukan lobus
organ pada masa embrional (Gray, 1995).
Tubuli uriniferi yang membentuk sebagian besar dari ginjal mulai dari
korteks ginjal, lalu membentuk suatu sirkuit melalui korteks dan medulla, dan
akhirnya berakhir di apeks Malpighian pyramids dimana cairan yang berada di
dalam tubulus tersebut mengalir ke kaliks yang berada di dalam sinus ginjal. Bila
permukaan dari salah satu papila diamati, maka dapat terlihat bahwa permukaan
papila tersebut bertaburkan dengan depresi-depresi yang berjumlah 16-20, dan
bila sediaan ginjal yang segar diberi tekanan maka dapat terlihat cairan yang
terpancarkan dari depresi-depresi tersebut. Depresi-depresi tersebut bermula di
korteks sebagai Malphigian bodies, Badan-badan tersebut hanya terdapat pada
bagian korteks ginjal. Setiap badan tersebut terbagi atas dua bagian: suatu
gumpalan pembuluh darah, Malphigian tuft; dan suatu membran pembungkus,
Malphigian capsule, atau capsule of Bowman (Gray, 1995).
Tubuli

uriniferi

yang

bermula

pada

Malphigian

bodies

dalam

perjalanannya melewati korteks dan medulla dari ginjal. Setelah melewati


Malphigian capsule akan ada suatu penyempitan yang disebut neck atau leher dari
tubulus tersebut. Setelah itu maka tubulus akan berbelit pada bagian korteks
membentuk proximal convoluted tubule. Dalam perjalanannya ke daerah medulla
tubulus membentuk suatu spiral yang disebut spiral tube of Schachowa. Pada
daerah medulla, tubulus tiba-tiba mengecil dan melandai ke dalam piramid dengan
kedalaman yang bervariasi membentuk descending limb of Henles loop; lalu
tubulus akan melengkung naik (loop of Henle), membesar membentuk ascending
limb of Henles loop dan kembali memasuki ke korteks. Ascending limb of Henle
lalu membentuk distal convoluted tubule yang menyerupai proximal convoluted

tubule; ini akan berakhir dengan suatu lengkungan yang memasuki collecting tube
(Gray, 1995).
2.2
Fisiologi Ginjal
2.2.1 Proses PembentukanUrin
Proses filtrasi di glomerulus
Terjadi penyerapan darah yang tersaring adalah bagian cairan darah
kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang
terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat, lalu diteruskan ke
tubulus ginjal. Cairan yang disaring disebut filtrat glomerulus.
Proses reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa,
sodium, klorida fosfat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif
(obligator reabsorbsi) di tubulus proximal. Sedangkan pada tubulus distal terjadi
kembali penyerapan sodium dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan
terjadi secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla
renalis.
Proses sekresi
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke
papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar (Roehrborn, 2009).
2.2.2 Proses Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan
urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
a. Kandung kemih terisi secara progesif hingga tegangan pada dindingnya
meningkat melampaui nilai ambang batas, keadaan ini akan mencetuskan tahap
kedua.
b. Adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan
kandung kemih. Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang
belakang). Sebagian besar pengosongan diluar kendali tetapi pengontrolan
dapat dipelajari latih. Sistem saraf simpatis : impuls menghambat vesika
urinaria dan gerak spinchter interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter
interna konstriksi. Sistem saraf parasimpatis : impuls menyebabkan otot

detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi mikturisi


(Roehrborn, 2009).
2.2

Batu Saluran Kemih

2.2.1 Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan
gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan
keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah
terjadinya batu saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor
intrinsik, yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik,
yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan disekitarnya.
Faktor intrinsik itu antara lain adalah:
1. Herediter : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya
2. Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
3. Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan
dengan pasien perempuan.
Beberapa faktor ekstrinsik diantaranya:
1. Geografi : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran
kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah
stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah batu di Afrika Selatan hampir tidak
dijumpai penyakit batu saluran kemih.
2. Iklim dan temperature
3. Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada
air yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih
4. Diet : diet banyak purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya
penyakit batu saluran kemih
5. Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak
duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life.
2.2.2. Teori Proses Pembentukan Batu Saluran Kemih
Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih terutama
pada tempat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (stasis urine),

yaitu pada sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada
pelvikalises (stenosis utero-pelvis) divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti
pada hyperplasia prostat benigna, striktura dan buli-buli neurogenik merupakan
keadaan-keadaan yang memudahkan terjadinya pembentukan batu.
Batu terdiri atas Kristal-kristal yang tersususn oleh bahan-bahan organic
maupun anorganik yang terlarut di dalam urine. Kristal-kristal tersebut tetap
berada dalam keadaan metastable (tetap larut) dalam urine jika tidak ada keadaankeadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi Kristal. Kristal-kristal
yang saling mengadakan prisipitasi membentuk inti batu (nukleasi) yang
kemudian akan mengadakan agregasi dan menarik bahan-bahan lain sehingga
menjadi kristal yang lebih besar. Meskipun ukurannya cukup besar, agregat kristal
masih rapuh dan belum cukup mampu membuntu saluran kemih. Untuk itu
agregat kristal menempel pada epitel saluran kemih (membentuk retensi kristal)
dan dari sini bahan-bahan lain diendapkan pada agregat itu sehingga membentuk
batu yang cukup besar untuk menyumbat saluran kemih.
Kondisi metastable dipengaruhi oleh suhu, pH larutan, adanya koloid
didalam urune, konsentrasi solute di dalam urine, laju aliran urine didalam saluran
kemih dan adanya korpus alienum didalam saluran kemih yang bertindak sebagai
inti batu.
Lebih dari 80% batu saluran kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang
berikatan dengan oksalat maupun dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalat
dan kalsium fosfat. Sedangkan sisanya berasal dari batu asam urat, batu
magnesium ammonium fosfat (batu infeksi), batu xanthyn, batu sistein dan batu
lainnya. Meskipun pathogenesis pembentukan batu-batu diatas hampir sama,
tetapi suasana di dalam saliran kemih yang memungkinkan terbentuknya jenis
batu itu tidak sama. Dalam hal ini misalkan batu asam urat mudah terbentuk
dalam suasana asam, sedangkan batu magnesium ammonium fosfat terbentuk
karena urine bersifat basa.
2.2.3. Penghambat Pembentukan Batu Saluran Kemih

Terbentuk atau tidaknya batu di dalam saluran kemih ditentukan juga oleh
adanya keseimbangan antara zat pembentuk batu dan zat inhibitor, yaitu zat yang
mampu mencegah timbulnya batu. Dikenal beberapa zat yang dapat menghambat
terbentuknnya batu saluran kemih, yang bekerja mulai dari proses reabsorbsi
kalsium dalam usus, proses pembentukan inti batu atau kristal, proses agregasi
kristal, hingga retentis kristal.
Ion magnesium dikenal dapat menghambat pembentukan batu karena jika
berikatan dengan oksalat, membentuk garam magnesium oksalat sehingga jumlah
oksalat yang akan berikatan dengan kalsium untuk membentuk kalsum oksalat
menurun. Demikian pula sitrat jika berikatan dengan ion kalsium membentuk
garam kalsium sitrat; sehingga jumlah kalsium yang akan berikatan dengan
oksalat atau fosfat berkurang. Hal ini menyebabkan Kristal kalsium oksalat atau
kalsium fosfat jumlahnya berkurang.
Beberapa protein atau senyawa organic lain mampu bertindak sebagai
inhibitor dengan cara menghambat pertumbuhan kristal, mengambat agregasi
kristal, maupun menghambat retensi kristal. Senyawa itu antara lain adalah:
glukosaminoglikan, protein Tamm Horsfall atau uromukoid, nefrokalsin dan
osteopontin. Defisiensi zat-zat yang berfungsi sebagai inhibitor batu merupakan
salah satu faktor penyebab timbulnya batu saluran kemih.
2.2.4. Komposisi Batu
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat
atau kalsum fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat, xanthyn dan sistin,
silikat dan senyawa lainnya. Data mengenai kandungan/komposisi zat yang
terdapat pada batu sangat penting untuk usaha pencegahan terhadap kemungkinan
timbulnya batu residif.
Batu kalsium
Batu jenis ini paling banyak dijumpai, yaitu kurang lebih 70-80% dari batu
saluran kemih. Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium
fosfat atau campuran dari kedua unsure tersebut.

Batu struvit
Batu struvit disebut juga sebagai batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah
kuman golongan pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim
urease dan merubah urin menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi
amoniak.
Suasana

basa

ini

yang

memudahkan

garam-garam

magnesium,

ammonium, fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium ammonium fosfat


dan karbonat apatit.
Kuman yang termasuk pemecah urea di antaranya adalah proteus sp,
klebsiella, serratia, enterobakter, pseudomonas dan stafilokokus. Meskipun E coli
banyak menimbulkan infeksi saluran kemih tetapi kuman ini bukan termasuk
pemecah urea.
Batu asam urat
Batu asam urat merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran kemih. Di
antara 75-80% batu asam urat terdiri atas asam urat murni dan sisanya merupakan
campuran kalsium oksalat. Penyakit batu asam urat banyak diderita oleh pasienpasien penyakit gout, penyakit mieloproliferatif, pasien yang mendapat terapi
antikanker dan yang banyak mempergunakan obat urikosurik diantaranya adalah
sulfinpirazone, thiazide dan salisilat. Kegemukan, peminum alcohol, dan diet
tinggi protein mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan penyakit
ini.
Batu jenis lain
Batu sistin, batu xanthin, batu triamteren dan batu silikat sangat jarang
dijumpai. Batu sistin didapatkan karena kelainan metabolism sistin, yaitu kelainan
dalam absorbsi sistin di mukosa usus. Demikian batu xanthin terbentuk karena
penyakit bawaan berupa defisiensi enzim xanthin oksidase yang mengkatalisis
perubahan hipoxanthin menjadi xanthin dan xanthin menjadi asam urat.

Pemakaian antaside yang mengandung silikat yang berlebihan dan dalam jangka
waktu lama dapat menyebabkan timbulnya batu silikat.
2.1.5. Batu Ginjal dan Batu Ureter
Batu ginjal terbentuk pada tubuli ginjal kemudian berada dikaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks
ginjal. batu yang mengisi pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal memberikan
gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu staghorn. Kelainan atau
obstruksi pada system pelvikalises ginjal (penyempitan infundibulum dan stensosi
ureteropelvik) mempermudah timbulnya batu saluran kemih.
Batu yang tidak terlalu besar didorong oleh peristaltic otot-otot system
pelvikalisis dan turun ke ureter menjadi batu ureter. Tenaga peristalstik ureter
mencoba untuk mengeluarkan batu sehingga turun ke buli-buli. Batu yang
ukurannya kecil (<5mm) pada umumnya dapat keluar spontan sedangkan yang
lebih besar seringkali tetap berada diureter dan meyebabkan reaksi radang serta
menimbulkan obstruksi kronis berupa hidroureter atau hidronefrosis.
Batu yang terletak pada ureter maupun system pelvikalises mampu
menimbulkan obstruksi saluran kemih dan menimbulkan kelainan struktur saluran
kemih sebelah atas. Obstruksi di ureter menimbulkan hidrouretar dan
hidronefrosis, batu dipielum dapat menimbulkan hidronefrosis dan batu dikaliks
mayor dapat menimbulkan kaliekstasis pada kaliks yang bersangkutan. Jika
disertai dengan infeksi sekunder dapat menimbulkan pionefrosis, urosepsis, abses
ginjal, abses perinefrik, abses para nefrik ataupun pielonefritis. Pada keadaan yang
lanjut dapat terjadi kerusakan ginjal, dan jika mengenai kedua sisi mengakibatkan
gagal ginjal permanen.
2.1.6. Gambaran Klinis
Keluhan yang disampaikan pasien tergantung pada: posisi atau letak batu,
besar batu, dan penyulit yang telah terjadi. Keluhan yang paling dirasakan oleh
pasien adalah nyeri pada pinggang. Nyeri ini mungkin bisa berupa nyeri kolik

ataupun bukan kolik. Nyeri kolik terjadi karena aktifitas peristaltic otot polos
sistem kalises ataupun ureter meningkat dalam usaha untuk mengeluarkan batu
dari

saluran

kemih.

Peningkatan

peristaltic

itu

menyebabkan

tekanan

intraluminalnya meningkat sehingga terjadi perenggangan dari terminal saraf yang


memberikan sensasi nyeri. Nyeri non kolik terjadi akibat perengggangan kapsul
ginjal karena terjadi hidronefrosis atau infeksi pada ginjal.
Batu yang terletak disebelah distal ureter dirasakan oleh pasien sebagai
nyeri pada saat kencing atau sering kencing. Batu dengan ukuran kecil mungkin
dapat keluar spontan setelah melalui hambatan pada perbatasan ureto-pelvik, saat
ureter menyilang vasa iliaka dan saat ureter masuk ke dalam buli-buli. Hematuria
sering kali dikeluhkan oleh pasien akibat trauma pada mukosa kemih yang
disebabkan oleh batu. Kadang kadang hematuria didapatkan dari pemeriksaan
urinalisa berupa hematuria mikroskopik.
Jika didapatkan demam harus dicurigai suatu urosepsis dan ini merupakan
kedaruratan dibidang urologi. Dalam hal ini secepatnya ditentukan letak kelainan
anatomic pada saluran kemih yang menadasari timbulnya urosesis dan segera
dilakukan terapi drainase dan pemberian antibiotika.
2.1.7. Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik antara lain :
a.
b.
c.
d.

Kadang-kadang teraba ginjal yang mengalami hidronefrosis/obstruktif.


Nyeri tekan/ketok pada pinggang.
Batu uretra anterior bisa di raba.
Pada keadaan akut paling sering ditemukan adalah kelembutan di daerah
pinggul (flank tenderness), ini disebabkan oleh hidronefrosis akibat obstruksi
sementara yaitu saat batu melewati ureter menuju kandung kemih.

2.1.8. Pemeriksaan Laboratorium


Pada urin biasanya dijumpai hematuria dan kadang-kadang kristaluria.
Hematuria biasanya terlihat secara mikroskopis, dan derajat hematuria bukan
merupakan ukuran untuk memperkirakan besar batu atau kemungkinan lewatnya
suatu batu. Tidak adanya hematuria dapat menyokong adanya suatu obstruksi

komplit, dan ketiadaan ini juga biasanya berhubungan dengan penyakit batu yang
tidak aktif. Pada pemeriksaan sedimen urin, jenis kristal yang ditemukan dapat
memberi petunjuk jenis batu. Pemeriksaan pH urin < 5 menyokong suatu batu
asam urat, sedangkan bila terjadi peningkatan pH (7) menyokong adanya
organism pemecah urea seperti Proteus sp, Klebsiella sp, Pseudomonas sp dan
batu struvit.
2.1.8. Pemeriksaan Radiologis
Ada beberapa jenis pemeriksaan radiologis yaitu :
a. Foto polos abdomen
Foto polos abdomen dapat menentukan besar, macam dan lokasi batu
radiopaque. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat
radiopaque dan paling sering dijumpai diantara batu jenis lain, sedangkan batu
asam urat bersifat radiolusen.
b. Intravenous Pyelogram (IVP)
IVP dapat menentukan dengan tepat letak batu, terutama batu-batu yang
radiolusen dan untuk melihat fungsi ginjal. Selain itu IVP dapat mendeteksi
adanya batu semi opaque ataupun batu non opaque yang tidak dapat terlihat
oleh foto polos abdomen.
c. CT Scan
CT Scan (Computerized Tomography) adalah tipe diagnosis sinar X yang dapat
membedakan batu dari tulang atau bahan radiopaque lain.
d. Retrograte Pielografi (RPG)
Dilakukan bila pada kasus-kasus di mana IVP tidak jelas, alergi zat kontras,
dan IVP tidak mungkin dilakukan.
e. Ultrasonografi (USG)

USG dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu
pada keadaan-keadaan : alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang
menurun dan pada wanita yang sedang hamil. USG ginjal merupakan
pencitraan yang lebih peka untuk mendeteksi batu ginjal dan batu
radiolusendaripada foto polos abdomen. Cara terbaik untuk mendeteksi BSK
ialah dengan kombinasi USG dan foto polos abdomen. USG dapat melihat
bayangan batu baik di ginjal maupun di dalam kandung kemih dan adanya
tanda-tanda obstruksi urin.
f. Radioisotop
Untuk mengetahui fungsi ginjal secara satu persatu, sekaligus adanya sumbatan
pada gagal ginjal.

2.1.9. Penatalaksanaan Batu Saluran Kemih


Berhasilnya penatalaksanaan medis batu saluran kemih ditentukan oleh
lima faktor yaitu ketetapan diagnosis, lokasi batu, adanya infeksi dan derajat
beratnya, derajat kerusakan fungsi ginjal, serta tata laksana yang tepat. Terapi
dinyatakan berhasil bila: keluhan menghilang, kekambuhan batu dapat dicegah,
infeksi telah dapat dieradikasi dan fungsi ginjal dapat dipertahankan.
Terapi Konservatif
Batu kecil dalam ginjal yang tidak memberi tanda (silent stone) dapat
diobati secara konservatif dengan menunggu sampai batu dapat keluar dengan
sendiri. Pasien diberikan air minum minimal 2-3 liter per hari. Selain itu juga
dilakukan pembatasan diet kalsium, oksalat, natrium, fosfat dan protein
tergantung pada penyebab batu.
Pengobatan Medik Selektif dengan Pemberian Obat-obatan
Pemberian obat-obatan pada penderita batu saluran kemih bertujuan
mengurangi rasa sakit yang hebat, mengusahakan agar batu keluar spontan,

disolusi batu dan mencegah kambuhnya batu. Beberapa jenis obat yang diberikan
antara lain spasmolitika yang dicampur dengan analgesik untuk mengatasi nyeri,
kalium sitrat untuk meningkatkan pH urin, selulosa fosfat untuk menghambat
absorbsi usus, antibiotika untuk mencegah infeksi, tiazid untuk diuresis dan
sebagainya.
Tanpa Operasi
1. Medikamentosa
Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5
mm, karena diharapkan batu dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan
bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan pemberian
diuretikum, dan minum banyak supaya dapat mendorong batu keluar dari
saluran kemih.
2. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy
pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal
atau batu kandung kemih tanpa melalui tindakan invasif dan tanpapembiusan.
Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudahdikeluarkan
melalui saluran kemih. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yangsedang keluar
menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkanhematuria.
Persyaratan BSK yang dapat ditangani dengan ESWL :
a. Batu ginjal berukuran mulai dari 5 mm hingga 20 mm.
b. Batu ureter berukuran 5 mm hingga 10 mm.
c. Fungsi ginjal masih baik.
d. Tidak ada sumbatan distal dari batu.
3. Endourologi

Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan


batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan mengeluarkannya
dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran
kemih. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit
(perkutan). Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik, dengan
memakai energi hidroulik, energi gelombang suara atau energi laser.
Tindakan Operasi
1. Bedah Laparoskopi
Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang
berkembang. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.
2. Bedah Terbuka
Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk
tindakan-tindakan endourologi, laparoskopi maupun ESWL, pengambilan batu
masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu antara
lain adalah : pielolitomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran
ginjal, dan ureterolitotomi untuk batu di ureter. Tidak jarang pasien harus
menjalani tindakan nefrektomi atau pengambilan ginjal karena ginjalnya sudah
tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteksnya sudah sangat tipis
atau mengalami pengkerutan akibat BSK yang menimbulkan obstruksi dan
infeksi yang menahun.

BAB III
ANALISIS KASUS
Pasien berjenis kelamin perempuan, usia 39 tahun. Pada anamnesis
didapatkan keluhan utama adalah nyeri pinggang sebelah kanan. Ada beberapa
organ yang dapat penyebab nyeri pinggang sebelah kanan, seperti otot, vertebrae,
nervus (hernia nucleus pulposus), ginjal, ureter, selanjutnya pasien menambahkan
nyeri juga dirasakan pada perut kanan, organ-organ yang dapat menyebabkan
terjadinya nyeri perut bagian kanan adalah hepar, vesica fellia, duodenum, dan
kolon. Pada anamnesis pasien mengeluhkan nyeri yang hilang timbul (nyeri kolik)
secara spontan, tidak ada riwayat trauma dan riwayat sering mengangkat berat,
sehingga dapat disimpulkan bahwa nyeri yang dirasakan oleh penderita berasal
dari obstruksi organ yang berongga seperti ginjal, ureter, vesika fellia, duodenum

dan kolon. Nyeri kadang dirasakan menjalar hingga ke perut bagian bawah, jika
terdapat gangguan pada vesica fellia nyeri biasanya menjalar ke subskapula dan
bahu kanan, tetapi hal ini belum bisa menyingkirkan diagnosis gangguan pada
vesica fellia (kolesistitis atau kolelitiasis). Pasien mengatakan tidak ada gangguan
BAB, perut terasa kembung juga disangkal, pada pemeriksaan fisik bising usus
normal sehingga kelainan pada duodenum dan kolon juga bisa disingkirkan.
Pasien mengaku pernah mengalami BAK berdarah, warna kekeruhan dan berbau
amis, BAK berpasir atau keluar batu disangkal. Dari anamnesis dapat disimpulkan
bahwa penyebab nyeri pinggang kanan pada pasien ini adalah kelainan traktus
urinarius (ginjal atau ureter) tetapi kelainan pada kantung empedu belum dapat
disingkirkan.
Pada pemeriksaan fisik, terdapat nyeri tekan dan teraba masa di kuadran
akan atas, Murphy sign negative, ballottement positif, kemungkinan terdapat
pembesaran ginjal (hidronefrosis). Pada pemeriksaan lokalis terdapat nyeri tekan
dan nyeri ketuk pada region CVA dekstra memperkuat bahwa sumber rasa nyeri
berasal dari ginjal atau ureter dan kelainan pada kandung empedu dapat
disingkirkan.
Pada pemeriksaan radiologi, foto polos abdomen terlihat masa radioopak
seukuran 3,5 x 1,5 cm setinggi L2-3-4 dilinea para sternalis dekstra, dilanjutkan
dengan foto IVP ginjal kanan sekresi dan eksresi ginjal kanan non visual hingga
menit ke 120, dianjurkan untuk pemeriksaan CT-Scan untuk menilai ginjal kanan.
Dari pemeriksaan USG terlihat adanya pembesaran pada ginjal kanan, bentuk
ballooning dan terdapat penipisan korteks, selain itu terlihat adanya batu seukuran
paling besar 1,9 cm di PCS. jadi kesimpulannnya penyebab nyeri pinggang pada
pasien ini adalah adanya batu ginjal kanan, hidronefrosis derajat 4 dan non visual
ginjal kanan. Dengan keadaan ginjal yang tidak terlihat pada foto rongten dan
tampak sangat membesar dengan parenkim ginjal yang sangat tipis pada USG
kemungkinan ginjal kanan pasien ini tidak lagi berfungsi, sehingga tatalaksana
yang paling tepat adalah nefroktomi ginjal kanan.

DAFTAR PUSTAKA

Purnomo, Basuki B. 2011. Dasar-Dasar Urologi Edisi ketiga. Malang: Seto Agung
Tanagho, Emil A dan Jack W. McAninch.2008. Smiths Generat Urology. 17th
Edition. McGraw-Hill Companies: New York