Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang kehidupan

yang membawa kesejahteraan bagi umat manusia, pada kenyataannya juga menimbulkan
berbagai akibat yang tidak diharapkan. Salah satu diantara akibat yang tidak diharapkan
tersebut adalah meningkatnya kuantitas maupun kualitas mengenai cara atau teknik
pelaksanaan tindak pidana, khususnya yang berkaitan dengan upaya pelaku tindak pidana
dalam usaha meniadakan barang bukti, sehingga tidak jarang dijumpai kesulitan bagi para
petugas hukum untuk mengetahui korban atau pelakunya. (Ristania et al., 2011)
Dewasa ini terlihat peningkatan kualitas kejahatan dimana pelakunya sering berusaha
menyembunyikan korbannya yang bertujuan untuk menghilangkan jejak serta barang bukti
agar pelaku dan korbannya tidak dikenal lagi, dengan demikian seringkali korban ditemukan
sudah tinggal tulang belulang. (Ristania et al., 2011)
Selain itu, kemajuan teknologi yang dijumpai dan pembangunan gedung-gedung besar
dan bertingkat di kota-kota besar yang semuanya mempunyai resiko terhadap adanya
kemungkinan terjadinya musibah kecelakaan masal atau kebakaran, demikian pula
persenjataan perang dan bencana alam yang akan dapat menghancurkan semua benda dan
manusia yang menjadi korbannya sehingga sulit atau bahkan tidak dapat dikenali lagi.
Disinilah proses identifikasi mempunyai arti penting baik ditinjau dari segi kepentingan
forensik maupun non-forensik. (Marini, 2013)

Dalam proses penyelidikan suatu tindak pidana, mengetahui identitas korban


merupakan suatu hal yang mempunyai arti yang sangat penting, yaitu sebagai langkah awal
penyidikan yang harus dibuat jelas lebih dahulu sebelum dapat dilakukan langkah-langkah
selanjutnya dalam proses penyidikan tersebut. Apabila identitas korban tidak dapat diketahui,
maka penyidikan menjadi tidak mungkin dilakukan. Selanjutnya apabila penyidikan tidak
sampai menemukan identitas korban, maka dapat dihindari adanya kekeliruan dalam proses
peradilan yang dapat berakibat fatal. (Ristania et al., 2011)
Identifikasi manusia adalah hal yang sangat penting di bidang forensik karena
identifikasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia baik dari sisi
sosial maupun hukum (Filho et al., 2009). Pada dasarnya identifikasi merupakan penentuan
atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati berdasarkan ciri khas yang terdapat
pada orang tersebut, sedangkan identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui
identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses
peradilan (Fatmah, 2011).
Secara garis besar terdapat dua metode dalam identifikasi forensik, yaitu identifikasi
primer dan identifikasi sekunder. Identifikasi primer meliputi pemeriksaan DNA, sidik jari
(finger print), serta identifikasi gigi (odontology), sedangkan identifikasi sekunder meliputi
wajah/foto, rambut, tinggi badan, serta tanda-tanda khusus lainnya (tatto, tanda lahir, jaringan
parut bekas luka lama, dll) (Novanka, 2012).
Terdapat lima persyaratan teknis dasar yang harus dipenuhi untuk bisa menjamin
penggunaan suatu proses identifikasi, yaitu : (1) unicity, individuality or variability; (2)
immutability; (3) perennity (persistence); (4) practicability; serta (5) possibility of
classification (Filho et al., 2009). Di Indonesia pelaksanaan proses identifikasi ini

dikendalikan oleh dua institusi, yaitu kepolisian selaku penyidik serta pihak kedokteran
forensik dari kalangan medik (Novanka, 2012).
Identifikasi visual adalah cara identifikasi yang paling sering digunakan pada kasus
forensik karena kebanyakan kematian tidak terjadi dalam keadaan yang luar biasa (unusual
circumtances), melainkan merupakan kejadian yang dapat diidentifikasi secara visual. Namun
pada kejadian-kejadian tertentu yang memerlukan identifikasi kompleks dibutuhkan metode
yang lebih objektif dan akurat. Metode yang biasa digunakan adalah identifikasi primer yang
karakteristiknya sangat individualistik yaitu sidik jari, gigi, serta DNA. (Bansode et al., 2009)
Pemeriksaan sidik jari digunakan sebagai standar suatu identifikasi, tetapi
pemeriksaan sidik jari postmortem seringkali tidak bisa dilakukan terutama pada kasus
kebakaran, dekomposisi, dan trauma berat. Selain itu, pada keadaan tertentu dimana
pemeriksaan gigi tidak dapat dilakukan, misalnya pada rahang yang edentulous (ompong),
maka analisis terhadap sinus maksilaris dapat menjadi metode alternatif pada proses
identifikasi (Teke et al., 2007)