Anda di halaman 1dari 8

1.

2 KAJIAN PUSTAKA
Diplomasi Koersif

Diplomasi koersif didefinisikan oleh Bruce Jentleson sebagai ... a


diplomatic strategy with a degree of limited coercion. Sebagai strategi diplomasi
yang mengandalkan ancaman sebagai instrumen utama maka kekuatan militer
menjadi aset penting yang harus dimiliki oleh pihak yang menggunakan cara
tersebut untuk memaksa pihak lain melakukan sesuatu. Namun demikian,
pemberian insentif juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Dalam istilah
Jentleson disebutkan bahwa dalam diplomasi koersif carrots may be included,
but so too are sticks (economic sanctions, military forces) (Jentleson, 2006).
Pada dasarnya, bentuk diplomasi tersebut berlawanan dengan prinsip
diplomasi klasik yang menekankan pada dialog dan cara-cara damai. Namun
demikian, diplomasi koersif memiliki tujuan yang sama dengan prinsip dasar
diplomasi, yaitu bertujuan menghindari perang.
Seperti yang dikatakan Jentleson:
Coercive diplomacy applies pressure in a manner and magnitude that
seeks to persuade an opponent to cease aggression rather than bludgeon
him into stoppingjust enough force of an appropriate kind to
demonstrate resolution and to give credibility to the threat that greater
force will be used if necessary (Jentleson, 2006).
Jadi, dalam diplomasi koersif ancaman digunakan sebagai instrumen intimidasi
agar suatu negara patuh. Artinya, instrumen ancaman dan insentif harus digunakan
secara terukur agar tidak berakhir dengan perang.

Secara garis besar, menurut Jentleson ada dua faktor yang menentukan
keberhasilan

diplomasi

koersif:

strategi

coercer

(pihak

penekan)

dan

counterstrategy pihak target.


1. Strategi coercer (pihak penekan)
Ada tiga aspek penting dalam strategi pihak penekan: proportionality,
reciprocity, dan coercive credibility.
a. Aspek proportionality terkait dengan hubungan antara lingkup dan sifat
tujuan diplomasi koersif dan kekuatan yang digunakan dalam upaya
diplomasi koersif. Proporsionalitas akan menentukan seberapa besar
sumber daya yang harus digunakan untuk mencapai tujuan koersi.
Semakin besar kebutuhan negara penekan terhadap negara target maka
pihak penekan akan dituntut untuk menggunakan strategi yang dapat
meningkatkan kerugian negara target bila ia memilih sikap tidak patuh dan
keuntungan negara target bila memilih sikap patuh (Jentleson & Whytock,
2006). Dalam hal ini dapat dipahami bahwa harus ada kesesuaian antara
sumber daya yang digunakan oleh negara penekan dengan tingkat
kebutuhan negara penekan terhadap kepatuhan negara target. Terlalu besar
sumber daya bisa menyebabkan porsi ancaman terlalu besar sehingga
berpotensi untuk perang. Terlalu sedikit sumber daya akan mengakibatkan
upaya yang dilakukan gagal sejak awal. Jentleson dan Whytock
menyebutkan bahwa tidak proporsionalnya diplomasi koersif biasanya
terjadi karena adanya penyimpangan dari tujuan awal (perubahan
kebijakan) menjadi perubahan rezim:
The main source of disproportionality is an objective that goes beyond
policy change to regime change (Jentleson & Whytock, 2006).

b. Aspek kedua, reciprocity, terkait dengan adanya saling pengertian (tacit


understanding) tentang keterhubungan antara insentif pihak penekan dan
koersi pihak target. Pergerakan pertukaran ditujukan untuk menghasilkan
resolusi akhir secara bertahap. Artinya, pada setiap tahapan penting kedua
pihak harus percaya mereka akan mendapatkan something for
something daripada nothing for something. Jika salah satu pihak tidak
yakin bahwa dalam proses tersebut akan mendapatkan sesuatu, maka aksireaksi tidak akan menghasilkan sesuatu yang konkrit. Oleh karena itu,
peran insentif atau carrot menjadi penting dalam proses ini.
c. Aspek coercive credibility terkait dengan pemahaman pihak target bahwa
penolakan untuk bekerjasama memiliki konsekuensi yang serius
(walaupun

tetap

melakukan

kalkulasi

tentang

untung-ruginya

bekerjasama). Di sinilah elemen intimidasi dibentuk. Elemen tersebut


penting untuk membuat pihak target memenuhi tuntutan walaupun
menuntut konsesi untuk itu. Jika kredibilitas ancaman tidak ada, maka
esensi diplomasi koersif tidak ada. Yang perlu dicatat di sini adalah bahwa
superioritas militer dan ekonomi tidak menjamin keberhasilan, Dua kasus
diplomasi koersif AS terhadap Iran dan Korea Utara membuktikan hal
tersebut.
Jentleson juga menekankan faktor penting yang menentukan keberhasilan
strategi diplomasi koersif selanjutnya yaitu international & domestic poilitical
context (constraints). Pihak coercer perlu memastikan apakah aktor internasional
lainnya mendukung upaya diplomasi koersif tersebut. Selain itu, negara penekan
juga harus memastikan bahwa oposisi di dalam negaranya juga mendukung
tindakan koersif tersebut. Seperti contoh dalam kasus Libya yang membuktikan

adanya dukungan dari lingkup domestik AS, terutama dari keluarga korban
pesawat Pan Am 103-Lockerbie yang ditembak jatuh oleh militer Libya.
Intinya, keberhasilan diplomasi koersif negara penekan tergantung pada
biaya ketidakpatuhan yang bisa dilakukan terhadap negara target dan
keuntungan dari kepatuhan yang bisa diberikan oleh negara penekan kepada
negara target.
2. Counterstrategy pihak target
Sementara aspek-aspek lainnya yang menentukan keberhasilan diplomasi
koersif terkait dengan negara target. Aspek-aspek tersebut antara lain:
a. Orientasi publik domestik
Yang dimaksud oleh Jentleson dengan orientasi publik domestik adalah
opini publik yang ada dalam negara target. Dengan demikian sistem politik
negara target juga akan mempengaruhi dinamikanya. Di negara yang
memperhatikan opini publik maka hal tersebut akan sangat berpengaruh.
Sementara di negara yang relatif otoriter, kemungkinan arah opini publik
tidak akan banyak mempengaruhi tindakan pemerintah.
b. Kekuatan ekonomi
Kekuatan ekonomi negara target juga akan menentukan apakah negara
target akan responsif atau mengabaikan saja ancaman dari negara penekan.
Kapasitas ekonomi sebuah negara menjadi indikasi bahwa negara tersebut
mampu menjamin keberlangsungan kepentingannya, termasuk yang terkait
dengan negara lain. Oleh karena itu, kapasitas ekonomi akan ikut
mempengaruhi seberapa siap negara tersebut menerima ancaman sehingga
mempengaruhi tingkat kepatuhannya.
c. Kapasitas mengatasi resiko
Selain kekuatan ekonomi ada aspek lain yang digunakan untuk mengukur
kapasitas negara mengatasi ancaman. Berbeda dengan kapasitas ekonomi,

kapasitas mengatasi resiko terkait dengan perhitungan strategis terkait


dampak ancaman. Kapasitas tersebut akan mempengaruhi seberapa besar
ancaman yang mampu diterima jika tidak bersedia mematuhi tuntutan
negara penekan. Kekuatan dan fleksibilitas ekonomi domestik negara
target dan kapasitasnya untuk menyerap atau mengatasi kerugian dapat
dilakukan melalui penyediaan anggaran yang cukup, substitusi impor,
mitra dagang alternatif, dan penggunaan cara-cara lain yang dapat
mengurangi kerentanan ekonomi (Jentleson & Whytock, 2006).
d. Kepentingan elit
Aspek selanjutnya terkait kepentingan elit domestik di negara target.
Jentleson mengkategorisasikannya menjadi dia: elit sebagai CIRCUIT
BREAKERS or TRANSMISSION BELTS. Elit berfungsi sebagai
circuit breaker jika posisi elit di negara target mendukung pemerintahnya.
Artinya, elit tersebut berpotensi menggagalkan diplomasi koersif karena
justru setuju dengan pemerintahnya. Sementara elit berfungsi sebagai
transmission belts jika posisi elit di negara target justru mendukung
tindakan diplomasi koersif dari negara penekan sehingga kredibilitas
ancaman negara penekan menjadi semakin kuat.

Tabel Operasionalisasi
Konsep
Strategi Coercer

Variabel
Proportionality

Indikator
Kesesuaian
sumber

antara

tujuan

daya/koersi

dan
yang

dikeluarkan negara penekan


Tuntutan perubahan kebijakan
tanpa

perubahan

rezim

negara

Reciprocity

target.
Adanya insentif bagi konsesi atau

Coercive Credibility

kepatuhan negara target.


Kapabilitas/superioritas militer dan
ekonomi negara penekan
Legitimasi dan dampak ekonomi
dari sanksi yang digunakan oleh

Counter-strategy

Orientasi Publik

Pihak Target

Domestik

penekan
Kapasitas intelijen
Sistem politik negara target
Opini
publik
negara

target

mengenai diplomasi koersif pihak

Kepentingan elit

penekan
Kondisi ekonomi negara target
Ketersediaan anggaran
Kemampuan subtitusi impor
Adanya mitra dagang alternatif
a.
Dukungan
elit
terhadap

a. Circuit Breakers

pemerintahnya

b. Transmission

b.

Kekuatan ekonomi
Kapasitas mengatasi
resiko

Dukungan

elit

terhadap

Belts
diplomasi koersif negara penekan
Sumber: Jentleson (2003) dan Jentleson & Whytock 92006)

Alur Pemikiran

Sanksi AS ke Korea Utara

Diplomasi Koersif AS ke Korea Utara:


A. Strategi Coercer (AS): DUKUNGAN
INTERNASIONAL MELALUI FORUM
MULTILATERAL
B. Counterstrategy Target (Korea Utara):
PENGGUNAAN FORUM
MULTILATERAL

Perubahan Perilaku Korea Utara

1.3 DESAIN DAN METODE PENELITIAN


1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif
sesuai dengan tujuan penelitian dan sifat objek penelitian. Metode kualitatif
memungkinkan peneliti untuk melakukan analisa terhadap struktur, perilaku, dan
tindakan sosial dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian melalui
pemahaman mendalam terhadap fakta-fakta sosial (Moloeng, 1985). Dengan

demikian, peneliti akan terbantu dalam memahami konteks permasalahan secara


akurat untuk membangun generalisasi tentang subjek penelitian (Moloeng, 1985).

2. Ruang Lingkup Penelitian


Meliputi aktivitas multilateralisme terkait bantuan kemanusiaan yang
mempengaruhi berjalannya sanksi internasional terhadap Korea Utara. Periode
penelitian sesuai dengan durasi berjalannya bantuan kemanusiaan ke Korea Utara
pasca bencana alam tahun 1995.

3. Sumber Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan
data sekunder yang akan diperoleh dari berbagai sumber, terutama publikasi resmi
pemerintah dan organisasi internasional seperti PBB dan WFP (World Food
Programme) sebagai organisasi internasional yang menangani masalah pangan.

4. Prosedur Pengumpulan dan Analisis Data


Proses pengumpulan data akan dilakukan melalui pengumpulan data dari
publikasi resmi dan media yang dinilai kredibel sebagai sumber informasi. Data
akan dianalisa secara deskriptif analitis dengan menggunakan logika berpikir
deduktif dan induktif sesuai kebutuhan interpretasi data.