Anda di halaman 1dari 29

USULAN PENELITIAN

FORMULASI TABLET HISAP EKSTRAK DAUN JATI BELANDA


(Guazuma ulmifolia Lamk.) DENGAN
KOMBINASI LAKTOSA DAN MALTODEKSTRIN
SEBAGAI BAHAN PENGISI

SYARI TILA ANUGRAH


F1F113013

PROGRAM STUDI FARMASI


JURUSAN FARMASI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
2016

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelebihan berat badan merupakan masalah kesehatan yang paling umum dijumpai
di negara maju maupun berkembang, termasuk Indonesia. Selain dengan berolahraga dan
mengatur pola makan, masyarakat Indonesia memanfaatkan kekayaan alamnya seperti jati
belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.), teh hijau (Camelia sinensis), dan lain-lain untuk
mengendalikan berat badan yang berlebih (Jasaputra, 2011).
Jati belanda umumnya digunakan masyarakat Indonesia untuk mengurangi berat
badan ataupun mempertahankan kelangsingan tubuh dengan cara diseduh. Dengan rutin
meminum seduhan daun jati belanda terbukti dapat menurunkan 2 kg selama sebulan, 7
kg selama 2 bulan dan 9 kg selama 3 bulan (Suharmiati dan Maryani, 2003). Beberapa
penelitian yang telah ada, ekstrak daun jati belanda telah dibuat dalam bentuk kapsul
(Saing, 2014), namun dalam penelitian ini ekstrak daun jati belanda diformulasikan dalam
bentuk sediaan tablet hisap dengan kombinasi laktosa dan maltodekstrin sebagai bahan
pengisi.
Pertimbangan dalam pemilihan bentuk sediaan tablet hisap, yaitu karena bahan
tablet merupakan bentuk sediaan utuh yang menawarkan kemampuan terbaik dari semua
bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran (dosis), memiliki sifat pencampuran kimia,
dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik dan mudah diproduksi secara besar-besaran
(Lachman, dkk., 1994).
Tablet hisap merupakan sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan
obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis yang dapat membuat tablet
melarut atau hancur perlahan-lahan dalam rongga mulut. Penggunaan tablet hisap lebih
praktis, lebih stabil dalam penyimpanan, dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan
sediaan cairan maupun sediaan oral lainnya.

(Ditjen POM., 1995).


Formulasi tablet hisap ekstrak daun jati belanda ini menggunakan kombinasi
laktosa dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi. Laktosa merupakan bahan pengisi yang
paling banyak digunakan dalam pembuatan tablet, bersifat inert, memiliki waktu hancur
yang cepat (larut air) sehingga perlu dikombinasi dengan maltodekstrin yang merupakan
bahan umum pengisi tablet yang memiliki
sifat alir, kompresibilitas dan daya ikat yang baik (Rowe, dkk., 2009)
Formulasi tablet hisap ekstrak daun jati belanda yang akan dibuat mengacu pada
formula yang telah dilakukan oleh (Widayanti, dkk., 2013), pada penelitian optimasi
kombinasi sukrosa-manitol sebagai pengisi dalam sediaan tablet hisap ekstrak kental biji
pinang (Areca catechu L.) secara granulasi basah. Penelitian tersebut menyatakan hasil
statistik kombinasi pengisi sukrosa-manitol memiliki perbedaan sifat fisik yang bermakna
pada kekerasan dan F5 (1:5) merupakan nilai optimal dan dapat diterima di masyarakat.
Dengan demikian perlu dilakukan penelitian terhadap pengaruh kombinasi laktosa
dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi dalam beberapa variasi
perbandingan kombinasi sehingga dapat diperoleh kombinasi yang menghasilkan tablet
yang memenuhi persyaratan. Metode pembuatan tablet yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode granulasi basah. Keunggulan metode ini adalah baik untuk obat dengan
dosis kecil, bahan dengan sifat yang sukar larut air, tahan pemanasan serta dapat
memperbaiki sifat alir dan kompresibilitas bahan sehingga dapat lebih mudah di bentuk
menjadi tablet (Hadisoewignyo dan Fudholi, 2013; Lachman, dkk., 1989).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka perumusan masalah penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a.

Apakah ekstrak daun jati belanda dengan kombinasi laktosa dan maltodekstrin
sebagai bahan pengisi dapat diformulasikan dalam sediaan tablet hisap?

b.

Apakah ada pengaruh kombinasi laktosa dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi
terhadap sifat fisik tablet?

c.

Apakah tablet hisap ekstrak daun jati belanda dengan kombinasi laktosa dan
maltodekstrin sebagai bahan pengisi dapat diterima oleh responden?

1.3 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka hipotesis penelitian ini adalah
sebagai berikut:

a.

Ekstrak daun jati belanda dapat diformulasikan dalam sediaan tablet hisap dengan
kombinasi laktosa dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi

b.

Kombinasi laktosa dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi dapat mempengaruhi


sifat-sifat fisik tablet

c.

Tablet hisap ekstrak daun jati belanda dengan kombinasi laktosa dan maltodekstrin
sebagai bahan pengisi dapat diterima oleh responden

1.4 Tujuan Penelitian


Berdasarkan hipotesis diatas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.

Untuk membuat sediaan tablet hisap dengan kombinasi laktosa dan maltodekstrin
sebagai bahan pengisi

b.

Untuk mengetahui pengaruh kombinasi laktosa dan maltodekstrin sebagai bahan


pengisi terhadap sifat fisik tablet

c.

Untuk mengetahui tingkat penerimaan responden terhadap tablet hisap ekstrak daun
jati belanda dengan kombinasi laktosa dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi

1.5 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat penelitian ini adalah dapat memberikan alternatif sediaan untuk
mengontrol berat badan yang berasal dari bahan alam, sehingga dapat bermanfaat bagi
bidang kesehatan farmasi dan menarik minat masyarakat dalam mengkonsumsi daun jati
belanda dengan inovasi tablet hisap.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tanaman Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.)


Uraian tanaman meliputi sistematika tanaman, nama daerah, morfologi, habitat
dan daerah tumbuh, kandungan kimia dan khasiat.

Klasifikasi Tanaman
Klasifikasi tanaman jati belanda (Sulaksana dan Dadang, 2005) adalah
sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Malvales

Famili

: Sterculiaceae

Genus

: Guazuma

Spesies

: Guazuma ulmifolia Lamk.

Morfologi Tanaman
Jati belanda merupakan tanaman semak atau pohon dengan tinggi 10 - 20 m, berbatang
keras, bulat, permukaan kasar, beralur banyak, berkayu, bercabang, berwarna hijau
keputih-putihan. Bunga tunggal, muncul dari ketiak daun, panjang 2 - 4 cm, berjumlah
banyak, bentuk agak ramping, memiliki tangkai bunga sekitar 5 mm, kelopak bunga lebih
kurang 3 - 4 mm, warna kuning dan berbau wangi. Berakar tunggang dengan warna putih
kecoklatan. Berdaun tunggal dengan warna hijau, berbentuk bulat telur dengan
permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip,
panjang 4 - 22,5 cm, dan lebar 2 - 10 cm, panjang tangkai daun 5 - 25 mm, mempunyai
daun penumpu berbentuk lanset atau berbentuk paku yang panjangnya 3 - 6 mm. Buah
berbentuk kotak, bulat, keras, permukaan berduri, warna hijau dan menjadi hitam jika
tua (Ditjen POM., 1978; Suharmiati dan Maryani, 2003; Sulaksana dan Dadang, 2005).
Nama Daerah dan Nama Asing
Nama daerah dari tanaman jati belanda adalah jati londo (Jawa Tengah), jati
belanda (Melayu), jati landi dan jatos landi (Jawa), bastard cedar (Inggris), guacimo
(Spanyol), bois dorme (Perancis), hapayillo (Peru), tapaculo (Tamil), ibixuma (Brazil),
guasima (Meksiko), guacimobaba (Cuba) (Andriani, 2005).
Habitat dan Daerah Tumbuh
Tanaman jati belanda berasal dari Amerika yang beriklim tropis, kemudian dibawa
oleh Portugis ke Indonesia di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jati belanda tumbuh secara
liar terutama di pulau Jawa dan penyebarannya pada daerah dataran rendah hingga 800
m di atas permukaan laut (Sulaksana dan Dadang, 2005).
Kandungan Tanaman
Seluruh bagian tanaman jati belanda mengandung senyawa aktif seperti tanin. Kulit
batang juga mengandung damar, tanin dan beberapa zat pahit, glukosa dan asam lemak
(Sulaksana dan Dadang, 2005). Daun jati belanda juga mengandung alkaloid, saponin,

flavonoid, damar, fenol, triterpen, glikosida sianogenik, dan steroid. Buah mengandung
saponin, alkaloid, flavonoid, terpenoid, glikosida jantung. Bunga segar jati belanda
mengandung kaemferitin, kuersetin, dan kaemfenol (Kemenkes RI, 2011; Munim dan
Hanani, 2011).
Khasiat Tanaman
Daun, buah, biji dan kulit kayu bagian dalam merupakan bagian tanaman yang
dapat dipergunakan sebagai obat (Jasaputra, 2011). Daun jati belanda mengandung zat
lendir dan serat untuk melicinkan sehingga mengurangi penyerapan lemak, glukosa,
kolesterol yang terdapat dalam makanan atau minuman sehingga memperlancar buang air
besar (Munim dan Hanani, 2011). Zat lendir adalah suatu polisakarida heterogen dengan
struktur polimer bercabang yang tersusun atas berbagai macam gula dan asam uronat. Zat
lendir bersifat hidrofilik dan mampu menangkap air untuk membentuk gel. Sifat zat lendir
yang mampu menangkap air tersebut menyebabkan zat lendir berfungsi sebagai
pembentukan massa feses (Utomo, 2008). Serat bersifat menyerap air dalam usus sehingga
menimbulkan efek rasa kenyang (Peter dan Billintong, 2009).
Daun jati belanda memiliki rasa agak kelat karena mengandung tanin. Tanin
merupakan senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi dan dapat
membentuk kompleks dengan protein (Utomo, 2008). Tanin yang terdapat dalam daun
berfungsi sebagai astringen dan merupakan zat yang dapat mengendapkan protein
makanan yang terdapat pada mukosa yang melapisi bagian dalam usus sehingga lapisan
ini sulit ditembus maka dapat mengurangi lemak yang masuk ke dalam tubuh. Daun jati
belanda juga banyak dimanfaatkan untuk mengatasi kolesterol (Jasaputra, 2011).
Data Keamanan dan Manfaat
Uji klinis pemberian ekstrak etanol daun jati belanda dosis 100 mg terhadap
manusia dapat menurunkan berat badan 1,2 kg (Saing, 2014). Ekstrak etanol daun jati
belanda adalah bahan yang praktis tidak toksik dan bermakna menurunkan berat badan
pada kelompok tikus wistar yang mendapat perlakuan dengan dosis sama atau lebih dari
dosis yang lazim dipakai di masyarakat (Utomo, 2008) dan dapat menurunkan aktivitas
enzim lipase (Rahardjo, dkk., 2005).
Pemberian ekstrak etanol daun jati belanda dosis bertingkat selama 7 hari terhadap
gambaran histologi duodenum tikus tidak menunjukkan adanya erosi maupun perubahan
pada mukosa duodenum (Gumay dan Noor, 2008).
Pemberian ekstrak kering daun jati belanda dosis 2,4 dan 8 g/kgBB pada tikus
jantan sekali sehari selama 3 bulan tidak menaikkan kadar kreatinin dan urea plasma

serta ukuran diameter rata-rata glomerulus ginjal tikus. Hasil pengamatan mikroskopik
preparat histologi ginjal juga tidak memperlihatkan adanya perbedaan dengan kelompok
kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian jangka panjang daun jati belanda tidak
menganggu fungsi ginjal (Harahap, dkk., 2005).

2.2 Ekstraksi
Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga
terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Hasil ekstraksi disebut
dengan ekstrak, yaitu sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari
simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian
semua atau hampir semua pelarut diuapkan. Simplisia yang digunakan dalam proses
pembuatan ekstrak adalah bahan alamiah yang belum mengalami pengolahan apapun juga
dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM., 2000).
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar).
Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
mengandung zat aktif yang akan larut, karena adanya perbedaan konsentrasi antara
larutan zat aktif di dalam sel dan di luar sel maka larutan terpekat didesak ke luar (Ditjen
POM., 2000).

2.3 Sediaan Tablet Hisap

Uraian umum
Tablet Hisap adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat,
umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis yang dapat membuat tablet melarut
atau hancur perlahan-lahan dalam rongga mulut (Ditjen POM, 1995). Berbeda dengan
tablet biasa, tablet hisap tidak digunakan bahan penghancur, dan bahan yang digunakan
sebagian besar adalah bahan-bahan yang larut air. Tablet hisap cendrung menggunakan
banyak pemanis seperti sukrosa, manitol, sorbitol, selain itu tablet hisap biasanya
berbentuk datar dengan diameter sekitar >18 mm atau kurang dan ditujukan untuk
dihisap dan melarut di mulut. Penggunaan jenis tablet ini dimaksudkan untuk memberi
efek lokal antibakteri pada mulut dan tenggorokan (Peters, 1989).
Persyaratan mutu fisik tablet hisap berbeda dengan tablet biasa, perbedaan
tersebut diantaranya adalah kekerasan lebih tinggi dari tablet biasa, yaitu minimal 10 kg

dan maksimal 20 kg (Parrot, 1971), serta larut atau terkikis secara perlahan dalam mulut
dalam jangka waktu 5 - 10 menit (Banker dan Anderson, 1994).
Tablet hisap yang diperdagangkan dapat dibuat dengan kompres menggunakan mesin
tablet dengan punch yang besar dan datar. Mesin dijalankan pada derajat tekanan yang
tinggi untuk menghasilkan tablet hisap yang lebih keras dari tablet biasa sehingga
perlahan-lahan melarut akan hancur di dalam mulut (Ansel, 1989).
Ada dua tipe lozenges yang telah banyak digunakan karena kemampuannya dalam
menyesuaikan perkembangan teknologi dalam metode pembuatan tablet hisap. Kedua tipe
ini adalah hard candy lozenges dan compressed tablet lozenges: hard candy lozenges adalah
suatu sediaan yang terdiri dari campuran gula dan karbohidrat dalam bentuk amorf atau
kristal. Bentuk ini dapat berupa sirup gula padat yang secara umum mempunyai
kandungan air 0,5% -1,5%. Sedangkan compressed tablet lozenges prinsipnya sama dengan
pembuatan tablet kompresi biasa. Perbedaan yang mendasar adalah pada bahan dasar,
ukuran tablet dan waktu hancur penyimpanan tablet. Biasanya memiliki diameter yang
lebar (antara 5/8 - 3/4 inci), dikempa dengan bobot tablet antara 1,5 - 4,0 g dan
diformulasi agar mengalami disintegrasi dalam mulut secara perlahan-lahan. Metode
granulasi basah ini merupakan metode yang paling sering digunakan dalam memproduksi
tablet (Peters, 1989).
Metode pembuatan tablet
Pembuatan tablet hisap dapat dilakukan seperti pada pembuatan tablet pada
umumnya ada tiga yaitu:
1. Metode kempa langsung
Istilah kempa langsung berlaku untuk proses umum pada pembuatan-pembuatan
tablet yang dikompressi ketika tidak ada perlakuan pendahuluan atau hanya perlakuan
kecil yang dibutuhkan sebelum memasukkan bahan ke dalam mesin tablet (Lachman,
dkk., 1994).
2. Metode granulasi basah
Granulasi basah adalah proses penambahan cairan pada suatu serbuk atau
campuran serbuk dalam suatu wadah yang dilengkapi dengan pengadukan yang akan
menghasilkan granul (Siregar dan Wikarsa, 2010).
3. Metode granulasi kering
Metode ini digunakan pada keadaan dosis efektif terlalu tinggi untuk pencetakan
langsung, obatnya peka terhadap pemanasan, kelembaban, atau keduanya (Lachman,
dkk., 1994).

Metode granulasi kering dibentuk oleh pelembaban atau penambahan bahan


pengikat ke dalam campuran serbuk obat tetapi dengan cara memadatkan massa dalam
jumlah yang besar dari campuran serbuk dan setelah itu memecahkannya dan menjadikan
pecahan-pecahan ke dalam massa granul yang kering. Metode ini khususnya untuk bahanbahan yang tidak dapat diolah dengan metode granulasi basah, karena kepekaannya
terhadap uap air atau karena untuk mengeringkannya diperlukan temperatur yang
dinaikkan (Ansel, 1989).

Komposisi tablet
Pada dasarnya bahan tambahan dalam pembuatan tablet harus bersifat netral,
tidak berbau dan tidak berasa dan sedapat mungkin tidak berwarna (Voight, 1995). Bahanbahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan tablet terdiri atas:
a. Bahan Pengisi (Diluent)
Bahan ini dimaksudkan untuk memperbesar volume tablet (Anief, 2003). Disamping
sifatnya yang harus netral secara kimia dan fisiologis, konstituen semacam itu sebaiknya
juga dapat dicernakan dengan baik (Voight, 1995). Bahan pengisi yang biasa digunakan
antara lain: sukrosa, laktosa, amilum, kalsium karbonat, dekstrosa, manitol, sorbitol dan
bahan lain yang sesuai (Lachman, dkk.,
1994).
b. Bahan Pengikat (Binder)
Bahan ini dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat (Anief,
2003). Juga untuk memberikan kekompakan dan daya tahan tablet. Oleh karena itu bahan
pengikat menjamin penyatuan beberapa partikel serbuk dalam sebuah butir granulat. Cara
penggunaannya dapat ditambahkan dalam keadaan kering yaitu pada proses pembuatan
tablet dengan metode cetak langsung atau dalam bentuk larutan apabila digunakan
metode granulasi basah (Voight, 1995). Penggunaan bahan pengikat yang terlalu banyak
atau berlebihan akan menghasilkan massa yang terlalu basah dan granul yang terlalu
keras, sehingga tablet yang dihasilkan mempunyai waktu hancur yang lama. Sebaliknya,
kekurangan bahan pengikat akan menghasilkan daya rekat yang lemah, sehingga tablet
akan rapuh dan terjadi capping. Sebagai bahan pengikat yang khas antara lain: gula dan
jenis pati, turunan selulosa (juga selulosa kristalin mikro), gom arab, tragakan dan gelatin
(Voight, 1995).
Demikian pula kekompakan tablet dapat dipengaruhi baik oleh tekanan pencetakan
maupun bahan pengikat. Bahan pengikat yang baik akan dapat melepaskan ikatan bahan

obat dan penolongnya dengan bahan penghancur yang ditambahkan. Hal ini akan
mengakibatkan hancurnya tablet menjadi partikel-partikel kecil di dalam larutan media,
sehingga memudahkan penyerapan obat.
c. Bahan Pelicin (lubricant)
Manfaat pelincin dalam pembuatan tablet terdapat dalam beberapa hal, yaitu
mempercepat aliran granul dalam corong, ke dalam ruang cetakan, mencegah melekatnya
granul pada cetakan, selama pengeluaran tablet mengurangi gesekan antara tablet dan
dinding cetakan dan memberikan rupa yang baik pada tablet yang sudah jadi (Ansel,
1989). Biasanya digunakan talkum, magnesium stearat (Anief, 2003).
d. Bahan pemberi rasa dan pemanis
Zat pemberi rasa biasanya dibatasi pada tablet kunyah atau tablet hisap yang
ditujukan untuk larut di dalam mulut. Macam-macam bahan ini antara lain: Mannitol,
sakarin, sukrosa dan aspartam (Banker dan Anderson, 1994).
Evaluasi tablet
a. Keseragaman bobot
Keseragaman berat dari suatu tablet ditentukan oleh variasi penggunaan mesin
cetak tablet seperti perbedaan ukuran atau kedalaman die dan pengaturan tekanan punch
(Gibson, 2000). Selain itu, pada pembuatan tablet dengan metode granulasi ataupun
kempa langsung, dimana perbedaan ukuran antar granul atau serbuk merupakan suatu
hal yang harus diperhatikan karena akan menentukan variasi dari berat tablet yang
dihasilkan (Lachman, dkk., 1994)
b. Kekerasan tablet
Ketahanan tablet terhadap goncangan saat pengangkutan, pengemasan dan
peredaran bergantung pada kekerasan tablet. Kekerasan yang lebih tinggi menghasilkan
tablet yang bagus, tidak rapuh tetapi ini mengakibatkan berkurangnya porositas dari tablet
sehingga sukar dimasuki cairan yang mengakibatkan lamanya waktu hancur. Kekerasan
dinyatakan dalam kg merupakan tenaga yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet.
Kekerasan untuk tablet secara umum yaitu 4 - 8 kg, tablet hisap 10 - 20 kg, tablet kunyah
3 kg (Parrot, 1971). Kekerasan tablet dipengaruhi oleh perbedaan massa granul yang
mengisi die pada saat pencetakan tablet dan tekanan kompresi. Selain itu, berbedanya nilai
kekerasan juga dapat diakibatkan oleh variasi jenis dan jumlah bahan tambahan yang
digunakan pada formulasi. Bahan pengikat adalah contoh bahan tambahan yang bisa
menyebabkan meningkatnya kekerasan tablet bila digunakan terlalu pekat (Lachman, dkk.,
1994).

c. Friabilitas
Kerapuhan ditandai sebagai massa seluruh partikel yang berjatuhan dari tablet
melalui beban pengujian mekanis. Kerapuhan diberikan dalam persen yang diperoleh dari
massa tablet sebelum pengujian (Voight, 1995). Pengujian dilakukan pada kecepatan 25
rpm, menjatuhkan tablet sejauh 6 inci pada setiap putaran, dijalankan sebanyak 100
putaran. Kehilangan berat yang dibenarkan yaitu lebih kecil dari 0,5 sampai 1%
(Lachman,dkk., 1994).
d. Waktu larut
Waktu melarut adalah waktu yang dibutuhkan tablet hisap untuk melarut atau
terkikis secara perlahan di dalam rongga mulut, karena sediaan tablet hisap ini diharapkan
mampu memberikan efek lokal pada mulut dan tenggorokan, meskipun dapat juga
dimaksudkan untuk diabsorbsi secara sistemik setelah ditelan. Waktu melarut yang ideal
bagi tablet hisap adalah selama sekitar 5 sampai 10 menit (Banker dan Anderson, 1994).
Monografi bahan tambahan tablet hisap
a. Laktosa
Laktosa adalah disakarida yang diperoleh dari susu, bentuk anhidrat atau
mengandung satu molekul air hidrat, berbentuk serbuk atau masa hablur, keras, putih
dan putih krem, tidak berbau dan memiliki tingkat kemanisan relatif sama dengan 0,2 kali
tingkat kemanisan sukrosa. Stabil diudara tetapi mudah menyerap bau. Laktosa mudah
larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam
etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam eter. (Ditjen POM., 1995).
Laktosa merupakan bahan pengisi yang paling banyak dipakai karena tidak
bereaksi dengan hampir semua bahan obat, baik yang digunakan dalam bentuk hidrat
atau anhidrat. Umumnya formulasi memakai laktosa menunjukkan laju pelepasan obat
yang baik, granulnya cepat kering dan waktu hancurnya tidak terlalu peka terhadap
perubahan pada kekerasan tablet. Harganya murah, tetapi mungkin mengalami perubahan
warna bila ada zat basa amina garam alkali (Lachman, dkk., 1994).
b. Maltodekstrin
Maltodekstrin pada dasarnya merupakan senyawa hidrolisis pati yang tidak
sempurna, terdiri dari campuran gula-gula dalam bentuk sederhana (mono-dan disakarida)
dalam jumlah kecil. Berupa serbuk atau granul berwarna putih agak kekuningan,memiliki
rasa manis berkisar 10 - 25% rasa manis gula biasa. Maltodekstrin biasanya
dideskripsikan oleh DE (Dextrose Equivalent).

Maltodekstrin dengan DE yang rendah bersifat non-higroskopis, sedangkan maltodekstrin


dengan DE tinggi cenderung menyerap air (higroskopis). Nilai DE maltodekstrin berkisar
antara 3 20 (Blancard, dkk., 1995).
Maltodekstrin memiliki kelarutan yang lebih tinggi, mampu membentuk film,
memiliki

higroskopisitas

rendah,

mampu

sebagai

pembantu

pendispersi.

Mampu

menghambat kristalisasi dan memiliki daya ikat kuat (Blancard, dkk., 1995). Maltodekstrin
tidak berasa, dikenal sebagai bahan tambahan makanan yang aman. Maltodekstrin
merupakan bahan tambahan makan yang telah diapalikasikan selama 35 tahun.
Maltodekstrin lebih mudah larut dari pada pati, harga maltodekstrin lebih murah,
maltodekstrin juga mempunyai rasa yang enak (Sadeghi, dkk., 2008)
c. Avicel PH 102
Avicel merupakan mikrokristalin selulosa (MCC) yang berbentuk sebuk berwarna
putih, tidak larut dalam air, tidak reaktif, dan merupakan bahan pengisi yang baik. Avicel
merupakan bahan penghancur yang sangat efektif dan biasa digunakan dalam konsentrasi
5 - 15% b/b dalam proses granulasi. Avicel biasanya tidak digunakan sebagai bahan
pengisi tunggal, kecuali jika digunakan untuk mengetahui kemampuannya sebagai bahan
pengikat pada formulasi. Avicel akan lebih baik apabila dikombinasi dengan bahan pengisi
yang lain seperti laktosa, manitol, amilum, atau kalsium sulfat (Bandelin, 1989).
Avicel merupakan bentuk depolimerisasi selulosa yang tidak berbau, tidak berasa,
serbuk kristalnya tersusun atas partikel. Berfungsi sebagai bahan pengisi pada tablet,
sebagai bahan penghancur dan sebagai suspending agent. Avicel merupakan bahan pengisi
yang sesuai untuk pembuatan tablet dengan metode granulasi basah maupun kempa
langsung. Avicel juga sesuai untuk berbagai ukuran partikel dan bahan yang lengket
(Peters, 1989).
d. Magnesium stearat
Magnesium stearat merupakan senyawa magnesium dengan campuran asam padat
yang diperoleh dari lemak, terutama terdiri dari magnesium stearat dan magnesium
palmitat dalam berbagai perbandingan tidak kurang dari 6,8% dan tidak lebih dari 8,3%
MgO. Magnesium stearat merupakan serbuk halus, putih, berbau lemak, khas mudah
melekat dikulit, bebas dari butiran. Kelarutan tidak mudah larut dalam air, dalam etanol,
dalam eter. Magnesium stearat digunakan sebagai bahan pelicin pada konsentrasi 0,25 5,0% (Ditjen POM.,1995).
e. Talkum
Talkum adalah magnesium silikat hidrat alam, kadang-kadang mengandung sedikit
aluminium silikat. Berupa serbuk hablur sangat halus, putih, atau kelabu. Berkilat,

mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran (Ditjen POM, 1995). Talkum memiliki 3
keuntungan antara lain dapat berfungsi sebagai bahan pengatur aliran, bahan pelicin dan
bahan pemisah hasil cetakan. Talkum digunakan sebagai glidant dan lubricant pada
konsentrasi 1,0 % - 10,0 % (Voight, 1995).
f. Gelatin
Gelatin adalah suatu zat yang diperoleh dari hidrolisa parsial kolagen dari kulit,
jaringan ikat putih dan tulang hewan. Gelatin berupa lembaran, kepingan, atau potongan
atau serbuk kasar sampai halus, kuning lemah, atau coklat terang. Warna gelatin
bervariasi tergantung ukuran partikelnya, larutannya berbau lemah seperti kaldu, jika
kering stabil di udara, tapi mudah terurai oleh mikroba jika lembab atau dalam bentuk
larutan (Ditjen POM., 1995).
Gelatin yang digunakan dalam pembuatan kapsul atau untuk penyalut tablet dapat
diwarnai dengan pewarna yang diijinkan, dapat mengandung sulfur dioksida tidak lebih
dari 0,15% dan dapat mengandung natrium lauril sulfat dengan kadar yang sesuai serta
zat antimikroba yang sesuai. Gelatin tidak larut dalam air dingin, mengembang dan lunak
bila dicelup dalam air, dalam etanol, kloroform, eter, dalam minyak lemak dan dalam
minyak menguap, larut dalam air panas, dalam asam asetat 6 N dan dalam campuran
panas gliserin dan air (Hadisoewignyo dan Fudholi, 2013).
g. Aspartam
Aspartam adalah senyawa metil ester dipeptida dengan rumus C14H16N2O5
memiliki daya kemanisan 100 - 200 kali sukrosa. Aspartam yang dikenal dengan nama
dagang equal, merupakan salah satu bahan tambahan pangan telah melalui berbagai uji
yang mendalam dan menyeluruh, serta aman bagi penderita diabetes melitus. Sejak tahun
1981 telah diizinkan untuk dipasarkan. Pada penggunannya dalam minuman ringan,
aspartam kurang menguntungkan karena penyimpanan dalam waktu lama akan
mengakibatkan turunnya rasa manis (Cahyadi, 2006).

III. METODE PENELITIAN

Metodologi penelitian ini adalah eksperimental meliputi penyediaan simplisia,


pembuatan ekstrak, pembuatan tablet hisap,evaluasi terhadap mutu fisik sediaan seperti
uji preformulasi, uji evaluasi dan uji ANOVA terhadap data hasil percobaan.
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan di Laboratorium Agroteknologi dan Lingkungan Fakultas Sains
dan Teknologi Universitas Jambi
.
3.2 Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan selama penelitian adalah neraca analitik, peralatan maserasi,
rotary evaporator, oven, granule flow tester, bulk density tester

(Copley), spatel, batang

pengaduk, cawan porselen, desikator, mesin cetak tablet single punch (Erweka), Strong cobb
hardness tester (Copley), Roche friabilator
(Copley), stopwatch, termometer, mortir, stamper, lemari pengering, ayakan 14 mesh,
ayakan 16 mesh dan ayakan 60 mesh, dan alat-alat gelas laboratorium.
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah daun jati belanda, etanol
70%, laktosa, maltodekstrin, avicel PH 102, mg stearat, talkum, aspartam, gelatin.

3.3 Penyiapan Bahan Tanaman


Penyiapan bahan tanaman meliputi pengambilan bahan tanaman, identifikasi
tanaman dan pengolahan bahan tanaman.
Pengambilan bahan tanaman
Metode pengambilan bahan dilakukan secara purposive tanpa membandingkan
dengan bahan yang sama dari daerah lain. Daun jati belanda diperoleh dari Lingkungan
kampus Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Identifikasi tanaman
Identifikasi tanaman dilakukan di Herbarium Bogoriense Bidang Botani Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat penelitian Biologi Bogor.
Pengolahan bahan tanaman

Bahan tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah daun jati belanda yang
masih segar. Daun jati belanda dipisahkan dari pengotor (sortasi basah), lalu dicuci hingga
bersih kemudian ditiriskan dan ditimbang. Selanjutnya daun jati belanda dikeringkan
dalam lemari pengering dengan temperatur 40C secara terpisah sampai daun jati
belanda kering. Simplisia yang telah kering diblender menjadi serbuk, ditimbang.

3.4 Pembuatan Ekstrak


Ditimbang 500 gram serbuk simplisia (Guazuma ulmifolia Lamk.) dimasukkan
kedalam botol gelap, ditambahkan 3,75 L pelarut etanol 70%. Rendam selama 5 hari
sambil sekali-sekali diaduk setelah itu disaring. Ampas yang didapat kemudian di maserasi
dengan 1,25 L pelarut etanol 70% selama dua hari. Filtrat yang diperoleh kemudian
diuapkan dengan alat rotary evaporator dan dipekatkan di atas waterbath.

3.5 Karakterisasi Simplisia


Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik, penetapan
kadar air, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol, penetapan
kadar abu total, dan penetapan kadar abu tidak larut asam (Ditjen POM., 1995).
Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan makroskopik dilakukan terhadap daun jati belanda segar dan
simplisia dengan cara mengamati bentuk, warna, bau, rasa (Ditjen POM., 1979).
Pemeriksaan mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia daun jati belanda,
diletakkan di atas kaca objek yang telah ditetesi dengan larutan kloralhidrat, dipanaskan
di atas lampu spiritus, kemudian ditutup dengan deck glass (kaca penutup), kemudian
dilihat di bawah mikroskop.

Penetapan kadar air


Penetapan kadar air dilakukan menurut metode Azeotropi (destilasi toluena). Alat
terdiri dari labu alas bulat 500 mL, pendingin, tabung penyambung, tabung penerima 5
mL berskala 0,05 mL, alat penampung dan pemanas listrik.
Cara kerja :

Dimasukkan 200 mL toluena dan 2 mL air suling ke dalam labu alas bulat, lalu
didestilasi selama 2 jam. Setelah itu, toluena dibiarkan mendingin selama 30 menit, dan

dibaca volume air pada tabung penerima dengan ketelitian 0,05 mL. Kemudian ke dalam
labu tersebut dimasukkan 5 g serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama, labu
dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluena mendidih, kecepatan tetesan diatur
lebih kurang 2 tetes tiap detik sampai sebagian besar air terdestilasi, kemudian kecepatan
tetesan dinaikkan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bagian dalam
pendingin dibilas dengan toluena. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung
penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Setelah air dan toluena memisah
sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 mL. Selisih kedua volume air yang
dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air
dihitung dalam persen (Ditjen POM., 1995).

Penetapan kadar sari larut dalam air


Sebanyak 5 g serbuk simplisia, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL airkloroform (2,5 mL kloroform dalam air suling sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil
dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring.
Sejumlah 20 mL filtrat pertama diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang
berdasar rata yang telah ditara dan sisa dipanaskan pada suhu 105C sampai bobot tetap.
Kadar dalam persen sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah
dikeringkan (Ditjen POM, 1995).
Penetapan kadar sari larut dalam etanol
Sebanyak 5 g serbuk simplisia, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL etanol
96% dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian
dibiarkan selama 18 jam. Kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol.
Sejumlah 20 mL filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata
yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105C sampai bobot tetap.
Kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol 96% dihitung terhadap bahan yang telah
dikeringkan (Ditjen POM., 1995).
Penetapan kadar abu total
Sebanyak 2 g serbuk simplisia dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar
dan ditara, kemudian diratakan. Krus dipijar perlahan-lahan sampai arang habis, jika
arang masih tidak dapat dihilangkan, ditambahkan air panas, saring melalui kertas saring
bebas abu. Pijarkan sisa dan kertas saring dalam kurs yang sama. Masukkan filtrat ke
dalam kurs, uapkan, pijarkan hingga bobot tetap, timbang. Kadar abu dihitung terhadap
bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM., 1995).

Penetapan kadar abu tidak larut dalam asam


Abu yang diperoleh dalam penetapan kadar abu dididihkan dalam 25 mL asam
klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring
melalui kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas, dipijarkan, kemudian didinginkan
dan ditimbang sampai bobot tetap. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung
terhadap bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM., 1995).

3.6 Prosedur Kerja


Formula sediaan tablet hisap (Widayanti, dkk., 2013)

R/

Ekstrak biji pinang

1,92%

Sukrosa

Manitol

Mg stearat

2%

Talkum

2%

Nipagin

0,1%

Nipasol

0,01

Gelatin

2,5%

Formula modifikasi
Tablet hisap dibuat dengan metode granulasi basah sebanyak 5 formula
yang masing-masingnya terdiri dari 50 tablet. Perbedaan kelima formulasi ini
adalah jumlah laktosa dan maltodekstrin yang divariasikan.

R/

Ekstrak daun jati belanda

100 mg

Laktosa

Maltodekstrin

Avicel PH 102

20%

Mg stearat

1%

Talkum

1%

Aspartam

1%

Larutan gelatin 4%

q.s

Keterangan:
X, Y = perbandingan bahan pengisi

X= Laktosa

X1 = 1436 mg
X2 = X3 = 718 mg
X4= 1005,2 mg
X5= 430,8 mg
Y= Maltodekstrin Y1 = Y2 = 1436 mg
Y3 = 718 mg
Y4= 430,8 mg
Y5= 1005,2 mg

Formula tablet hisap ekstrak daun jati belanda untuk masing-masing

formulasi dapat dilihat diatas.

Tabel 1 Formula tablet hisap ekstrak daun jati belanda

FORMULA
NO

Bahan
F1

F2

F3

F4

F5

Ekstrak daun jati


belanda (mg)

100

100

100

100

100

Avicel PH 102 (mg)

400

400

400

400

400

Laktosa (mg)

1436

718

1005,2

430,8

Maltodekstrin (mg)

1436

718

430,8

1005,2

Aspartam (mg)

20

20

20

20

20

Mg stearat (mg)

20

20

20

20

20

Talkum (mg)

20

20

20

20

20

Gelatin (mg)

Bobot tablet = 2000 mg

Keterangan

F1 = Formula dengan laktosa tanpa maltodekstrin


F2 = Formula dengan maltodekstrin tanpa laktosa
F3 = Formula dengan perbandingan laktosa dan maltodekstrin 1 : 1 F4 =
Formula dengan perbandingan laktosa dan maltodekstrin 2 : 1 F5 = Formula
dengan perbandingan laktosa dan maltodekstrin 1 : 2
Prosedur pembuatan ekstrak kering daun jati belanda
Ekstrak daun jati belanda dikeringkan menjadi serbuk menggunakan avicel PH
102 dengan perbandingan (1:4). Ditimbang 5 g ekstrak kental daun jati belanda dan 20 g
avicel PH 102, digerus ekstrak kental daun jati belanda di dalam lumpang dan
ditambahkan avicel PH 102 sampai homogen. Kemudian diayak dengan 60 mesh,
dikeringkan dalam lemari pengering 40C selama 24 jam.
Prosedur pembuatan tablet hisap
Dimasukkan ke beaker glass serbuk gelatin dalam air dingin kemudian dibiarkan
mengembang lalu dipanaskan di atas penangas air sambil diaduk sampai larut.
Semua bahan ditimbang, ke dalam lumpang dimasukkan serbuk ekstrak daun
jati belanda kemudian diikuti dengan bahan pemanis aspartam lalu diaduk hingga
homogen, ditambahkan bahan pengisi laktosa dan maltodekstrin diaduk kembali hingga
homogen. Ditambahkan gelatin dicampurkan hingga homogen, diayak dengan mesh 14,
dikeringkan dalam lemari pengering 40C selama 24 jam. Granul kering ditimbang dan
diayak dengan mesh 16 kemudian ditambahkan mg stearat dan talkum dicampurkan
hingga homogen. Setelah semua bahan tercampur secara merata, massa cetak tablet dievaluasi sebelum dicetak meliputi : uji kadar air, uji laju alir, sudut diam granul dan indeks
tap.

3.7 Uji Preformulasi


Uji preformulasi yang dilakukan adalah penentuan sudut diam granul, penentuan
waktu alir granul dan penentuan indeks tap.
Uji kadar air
Bahan sebanyak 2 g yang telah digerus dan ditimbang, dimasukkan ke dalam
cawan porselin yang telah ditara kemudian diratakan. Cawan kemudian dimasukkan ke
dalam oven selama 3 jam, ulangi pengerjaan sampai didapatkan bobot tetap. Persyaratan 2
- 5% (Voight, 1995). Kadar air dihitung terhadap sampel.
Kadar air =

berat awal berat akhir

Waktu alir granul

x 100%

berat awal

Penetapan laju alir dilakukan dengan menggunakan corong alir. Seratus gram granul
dimasukkan ke dalam corong yang telah dirangkai, permukaannya diratakan. Penutup
bawah corong dibuka dan secara serentak stopwatch dihidupkan. Stopwatch dihentikan
jika seluruh granul tepat habis melewati corong dan penutup bawah ditutup kembali
kemudian dicatat waktu alirnya.
Syarat: talir < 10 detik (Voight, 1995).
Sudut diam granul
Penetapan sudut diam dilakukan dengan menggunakan corong. Seratus gram granul
dimasukkan ke dalam corong, permukaannya diratakan, lalu penutup bawah corong
dibuka dan dibiarkan granul mengalir melalui corong, setelah semua granul mengalir
penutup bawah ditutup kembali.
Sudut diam dapat ditentukan besar nya dengan rumus :
Tg = 2h/D
Keterangan : = sudut diam
h = tinggi kerucut (cm) D =
diameter (cm)

Syarat: 20 < < 40 (Cartensen, 1977).


Indeks Tap
Dimasukan granul kedalam gelas ukur sampai garis tanda dan dinyatakan sebagai
volume awalnya (V1), Kemudian gelas ukur dihentakkan sebanyak 20 kali sehingga
diperoleh volume akhir (V2) yang konstan.

Indeks tap dapat dihitung dengan rumus :

Indeks tap =

(V1-V2)

x 100%

V1

Keterangan : V1 = Volume sebelum hentakan awal V2 =


Volume setelah hentakan

Syarat indeks tap yaitu sama atau lebih kecil dari 20% (Voight, 1995).

3.8 Proses Pencetakan Tablet


Granul kering ditambahkan fase luar dan dihomogenkan. Masa granul
dicetak menjadi tablet dengan berat 2000 mg dan diameter 20 mm.

3.9 Evaluasi Tablet Hisap


Pemeriksaan penampilan fisik tablet hisap
Tablet dilihat bentuknya secara visual meliputi penampilan tablet, aroma atau bau
tablet dan rasa tablet.
Uji keseragaman ukuran
Diambil secara acak sebanyak 10 buah tablet, diukur diameter dan tebal tablet
dengan menggunakan jangka sorong. Syarat: diameter tidak lebih dari 3 kali
dan tidak kurang dari 113 kali tebal tablet (Ditjen POM., 1979).
Uji stabilitas
Tablet hisap ekstrak daun jati belanda diuji stabilitasnya dengan cara disimpan
selama 3 bulan pada suhu kamar dan suhu 40oC. Selama penyimpanan dievaluasi mutu
fisik tablet. Uji mutu fisik tablet meliputi uji organoleptik, keseragaman bobot,
keseragaman ukuran, kekerasan, friabilitas, dan waktu hancur (Kartiningsih, 2012).
Uji keseragaman bobot
Ditimbang 20 tablet satu per satu dan dihitung bobot rata-rata (X) tiap tablet.
Harga simpangan baku relatif atau koefisien variasinya (KV) juga dihitung. Rumus yang
digunakan :
Deviasi =

Bobot tablet-bobot rata-rata

x 100%

Bobot rata-rata

Persyaratan keseragaman bobot dapat dilihat pada Tabel 3.2.


Tabel 2 Tabel persyaratan keseragaman bobot

Penyimpangan

Bobot Rata-Rata
A

25 mg atau kurang

15%

30%

26 mg s/d 150 mg

10%

20%

151 mg s/d 300 mg

7,5%

15%

Lebih dari 300 mg

5%

10%

Persyaratan: Jika ditimbang satu-persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet


menyimpang dari bobot rata-rata dari harga yang ditetapkan pada kolom A dan tidak boleh
satu tablet pun yang menyimpang dari bobot rata-rata dari harga yang ditetapkan pada
kolom B.
Jika tidak mencukupi 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet dengan persyaratan :
tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang
ditetapkan pada kolom A dan kolom B (Ditjen POM.,1979).
Kekerasan tablet
Alat : Hardness Tester (Copley)
Cara : Diambil tablet, masing-masing diletakkan pada tempat yang tersedia pada alat
dengan posisi tidur, alat diatur, kemudian ditekan tombol start. Pada saat tablet pecah
angka yang tertera pada layar digital dicatat. Percobaan ini dilakukan untuk 5 tablet.
Syarat kekerasan tablet hisap yaitu 10 20 kg (Parrot, 1971).
Friabilitas
Awalnya 20 tablet dibersihkan dari debu dan ditimbang lalu masukkan 20 tablet
tersebut ke dalam alat dan jalankan alat dengan kecepatan 25 rpm selama 4 menit (100
kali putaran). Kemudian keluarkan tablet, bersihkan dari debu dan timbang kembali.
Hitung selisih berat sebelum dan sesudah perlakuan.

F=

x 100%

Keterangan :
a = bobot total tablet sebelum diuji b = bobot
total tablet setelah diuji

Tablet tersebut dinyatakan memenuhi persyaratan jika memiliki keregasan kurang


dari 1%.

Waktu larut

Waktu melarut adalah waktu yang dibutuhkan tablet hisap untuk melarut
atau terkikis secara perlahan di dalam rongga mulut, karena sediaan tablet hisap ini
diharapkan mampu memberikan efek lokal pada mulut dan tenggorokan, meskipun dapat
juga dimaksudkan untuk diabsorbsi secara sistemik setelah ditelan. Waktu melarut yang
ideal bagi tablet hisap adalah selama sekitar 5 sampai 10 menit (Banker dan Anderson,
1994).

3.10 Uji Akseptabilitas


Uji dilakukan terhadap ke-5 formula tablet hisap pada 20 responden dewasa baik
laki-laki ataupun perempuan yang diminta untuk mencium aroma atau mengisap tablet
dari ke-5 formula tersebut. Kemudian responden melakukan penilaian yang berupa
kuesioner untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap penampilan, rasa dan aroma
masing-masing tablet hisap dengan cara mengikuti instruksi yang terdapat dalam
kuesioner. Nilai tanggapan terhadap penampilan, rasa dan aroma berdasarkan rating yang
telah ditentukan. Hasilnya kemudian diuji secara statistik menggunakan program SPSS.
Skala uji akseptabilitas dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Skala uji akseptabilitas

Skala akseptabilitas
Sangat suka
Suka
Agak tidak suka
Tidak suka
Sangat tidak suka
(Hana dan Nailul, 2010).

DAFTAR PUSTAKA

Skala numerik
1
2
3
4
5

Andriani, Y. (2005). Toksisitas Aktif Steroid Ekstrak Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.)
Terhadap Aktivitas Serum Glutamat Oksalat Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamat
Piruvat Transaminase (SGPT) Pada Tikus Putih.
Jurnal Gradien. 4(2): 365-371.

Anief, (2003). Ilmu Meracik Obat, Teori dan Praktek. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Halaman 161-162.

Ansel, H.C. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV . Introduction to Pharmaceutical
Dosage Form. Jakarta: UI Press. Halaman 248.

Bandelin, F.J., (1989). Compressed Tablet by Wet Granulation, In Lieberman, H.A., Kanig, J.L
(Eds). Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets. Vol I, Edisi 2. New York: Marcel Dekker.
Halaman 131-171.

Banker, G.S., dan Anderson, N.R. (1994). Tablet. Dalam: Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi
III. Jilid II. Editor: Lachman, L. Penerjemah: Siti Suyatmi. Jakarta: UI-Press. Halaman 643.

Blancard, P.H., dan Katz, F.R. (1995). Strach Hydrolysates. In: A. M. Stephen (ed). Food
Polysaccharides and Their Application. New York: Marcel Dekker, Inc. Halaman 121.

Cahyadi, W. (2006). Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Bumi
Aksara. Halaman 4-7.

Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Halaman 6-7.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Halaman 970-971, 999, 1083-1087.

Ditjen POM. (2000). Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI. Halaman 6-9, 39-47.

Gumay, A.R., dan Noor, W. (2008). Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Jati Belanda (Guazuma
ulmifolia Lamk.) Dosis Bertingkat Terhadap Gambaran Hispatologi Duodenum tikus Wistar.
Artikel Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Halaman
1-14.

Hadisoewignyo, L., dan Fudholi, A., (2013). Sediaan Solida. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman
21-23.

Harahap, Y., Dadang, K., dan Indah, W. (2005). Uji Keamanan Sediaan Jadi Ekstrak Kering Daun
Jati Belanda ( Guazuma ulmifolia Lamk.) terhadap Fungsi dan Histologi Ginjal Tikus
Jantan. Jurnal Bahan Alam Indonesia. 3(2): 194-197.

Kemenkes RI. (2011). Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Volume I. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI. Halaman 64-67.

Lachman, L., Lieberman, H.A., dan Kanig, J.L. (1994). Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III.
Jakarta: UI Press. Halaman 654-658.

Lachman, L., Lieberman, H.A., dan Kanig, J.L. (1989). Pharmaceutical Dosage Form: Tablets. Vol I,
Edisi II. New York: Marcel Deke. Halaman 512-518.

Munim, A., dan Hanani, E. (2011). Fitoterapi Dasar. Jakarta: Dian Rakyat. Halaman 229-232,
240-241.

Parrot, L. (1971) . Pharmaceutical Technology. Amerika Serikat: Burges Publishing Company.


United Stated of America. Halaman 82.

Peter, J.V.ST., dan Billington, C.J. (2009). Obesity. Dalam: Pharmacotherapy a Pathophysiologic
Approach. Edisi VII. Editor: Joseph T. Dipiro, Robert L, Talbert, Gary C.Yee, Gary R.
Matzke, Barbara G. Wells, dan L.Michael Posey. San Fransisco Chicago: Mc Graw Hill.
Halaman 2437-2451.

Peters, D. (1989). Medicated Lozenges, dalam Lachman. L., & Lieberman, H.A., (Eds.),
Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets. Vol I, Edisi II. New York: Marcel Dekke. Halaman
339-367.
Rahardjo, S.S., Ngatijan., dan Suwijiyo, P. (2005). Influence of Etanol Extract Of Jati Belanda
Leaves (Guazuma ulmifolia Lamk.) on Lipase Enzym Activity of Rattus Norvegicus Serum:
Majalah

Inovasi.

4(17):48-54.

http://id.scribd.com/doc/9685551/inovasi-Vol-4-XVII-

Januari-2016.

Sadeghi, A., Shahidi, F., Mortazavi, S.A., and Mahalati, N. (2008). Evaluation of Different
Parameters Effect on Maltodextrin Production by -amilase Termamyl 2-x. World Applied
Sciences Journal. 3(1): 34-39.

Saing, M. (2014). Uji Klinis Pendahuluan Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Jati Belanda
(Guazuma ulmifolia Lamk.) Pada Penderita Obesitas. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Medan.

Soekarto, ST. (1981). Penilaian Organoleptik. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Halaman 46.

Suhiarmati., dan Maryani. (2003). Khasiat dan Manfaat Jati Belanda Si Pelangsing Tubuh dan
Peluruh Kolesterol. Jakarta: Agromedia Pustaka. Halaman 1-45.

Sulaksana, J., dan Dadang, I.J. (2005). Kemuning dan Jati Belanda, Budi daya dan Pemanfaatan
untuk obat. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 12, 18, 21-25, 49-51.

Utomo, A.W. (2008). Uji Toksisitas Akut Ekstrak Alkohol Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia
Lamk.) Pada Tikus Wistar. Artikel Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro Semarang. Halaman 2-15. (diunduh 25 september 2015). http://eprints.
Undip.ac.id/23952/1/Astika.

Voight, R. (1995). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Cetakan II. Yogyakarta: UGM-Press. Halaman
159.