Anda di halaman 1dari 80

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PERAMALAN BEBAN DAN ALIRAN DAYA


PROYEK 35.000 MW PADA SISTEM INTERKONEKSI 500 KV
JAWA BALI

TESIS

MUHAMMAD PANDU R.P.


1106021701

FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI TEKNIK TENAGA LISTRIK DAN ENERGI
DEPOK
2016

ii

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PERAMALAN BEBAN DAN ALIRAN DAYA


PROYEK 35.000 MW PADA SISTEM INTERKONEKSI 500 KV
JAWA BALI

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Teknik

MUHAMMAD PANDU R.P.


1106021701

FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI TEKNIK TENAGA LISTRIK DAN ENERGI
DEPOK
2016

ii
Universitas Indonesia

iii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama

: Muhammad Pandu R.P.

NPM

: 1106021701

Tanda Tangan

Tanggal

: 8 Februari 2016

iii
Universitas Indonesia

iv

HALAMAN PENGESAHAN

Tesis dengan judul:

ANALISIS PERAMALAN BEBAN DAN ALIRAN DAYA


PROYEK 35.000 MW PADA SISTEM INTERKONEKSI 500 KV
JAWA BALI

dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan menjadi Magister Teknik pada


Program Studi Teknik Elektro, Kekhususan Teknik Tenaga Listrik dan Energi,
Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan disetujui
untuk diajukan dalam sidang tesis.

Depok, Februari 2016

Dosen Pembimbing,

Pembimbing I,

Pembimbing II,

(Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K.,M.T.)

(Dr. Ir. Uno Bintang Sudibyo, DEA)

NIP. 1961 0507 1989 03 1004

NIP. 1946 0405 1975 01 1001

iv
Universitas Indonesia

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis berjudul
Analisis Peramalan Beban Dan Aliran Daya Proyek 35.000 MW Pada Sistem
Interkoneksi 500 kV Jawa Bali. Penulis menyampaikan banyak terima kasih atas
penyusunan tesis ini, terutama kepada:
1. Keluarga penulis yaitu Papa, Mama, dan Bagus serta Eyang.
2. Prof. Dr. Iwa Garniwa M.K dan Dr. Ir. Uno Bintang Sudibyo DEA, sebagai
pembimbing tesis yang telah memberikan banyak masukan dan dukungan
kepada penulis.
3. Bapak Muhammad Tresna Wikara, Mas Jakfar Shadiq, Bapak Gito, serta
rekan-rekan dari PT. PLN (Persero) P3B Jawa Bali atas masukan data bagi
keperluan penyusunan tesis, saran, serta kritik yang membangun.
4. Asisten laboratorium Sistem Tenaga Listrik (Bopal, Fajar, Mila, Janur, dan
Aiman) atas kerjasama dan dukungan moral selama penyusunan tesis ini.
5. Rekan-rekan kontrakan (Ozy, Yoga, Arie, Dante, Rio, Sadewa, Rizal, Oki)
serta keluarga besar Departemen Teknik Elektro 2011 atas dukungan moral
kepada penulis.
6. Teman-teman kelas Tenaga Listrik dan Energi Angkatan 2014.
7. Widya Yuliantika atas dukungan moral dan semangat kepada penulis.
Penulis juga menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan
demi perbaikan pada karya penulis yang lainnya.

Depok, 8 Februari 2016

Muhammad Pandu R.P.

v
Universitas Indonesia

vi

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TESIS UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:
Nama

: Muhammad Pandu R.P.

NPM

: 1106021701

Program Studi

: Teknik Tenaga Listrik dan Energi

Departemen

: Teknik Elektro

Fakultas

: Teknik

Jenis Karya

: Tesis

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
ANALISIS PERAMALAN BEBAN DAN ALIRAN DAYA PROYEK 35.000 MW
PADA SISTEM INTERKONEKSI 500 KV JAWA BALI

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalih
media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat,
dan mempublikasikan tesis saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di
Pada tanggal

: Depok
: 8 Februari 2016

Yang menyatakan

(Muhammad Pandu R.P.)

vi
Universitas Indonesia

vii

ABSTRAK
Nama
: Muhammad Pandu R.P.
Program studi : Teknik Tenaga Listrik dan Energi
Judul
: Analisis Peramalan Beban Dan Aliran Daya Proyek 35.000 MW
pada Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali
Pemerintah membuat target percepatan pembangunan pembangkit sebesar
35.000 MW selama lima tahun (2014-2019) untuk mencapai target pertumbuhan
ekonomi nasional dimana Sistem Interkoneksi Jawa-Bali akan mendapatkan
tambahan pasokan sekitar 18.697 MW atau 59,92% dari Daya Mampu Netto
(DMN) tahun 2014 (31.206 MW). Perhitungan proyeksi kebutuhan beban Sistem
Interkoneksi Jawa Bali pada periode tahun 2015-2019 menggunakan metode Neural
Network. Terdapat dua skenario yang digunakan dalam ekspansi pembangkit
dimana pada Skenario 1 semua pembangkit yang ditargetkan pemerintah masuk ke
dalam Sistem Interkoneksi Jawa-Bali, sedangkan Skenario 2 kapasitas pembangkit
yang masuk menyesuaikan dengan alokasi kebutuhan daya pada masing-masing
Region pada Sistem Interkoneksi Jawa-Bali. Pada masing-masing skenario
dilakukan analisis aliran daya untuk mengetahui kinerja sistem tersebut dengan
mengacu pada profil tegangan bus dan pembebanan Inter Bus Transformer (IBT)
500/150 kV.
Kata kunci: aliran daya, beban puncak, Jawa Bali, Sistem interkoneksi, 500 kV

vii
Universitas Indonesia

viii

ABSTRACT

Name
: Muhammad Pandu R.P.
Concentration Study : Electrical Power and Energy Engineering
Title
: Analysis of Demand Forecasting and Load Flow Study
35.000 Power Plant Project of Java Bali 500 Kv
Interconnected System
Indonesian government has set a target acceleration of building 35.000 MW
over five years (2014-2019) to achieve national economic growth targets where
Java - Bali interconnected system will get an additional power supply about 18.697
MW or 59,92 % of power capicity in 2014 (31.206 MW). The calculation of
demand forecasting Java-Bali Interconnected System in the period 2015-2019 using
Neural Network. There are two scenarios that are used in the expansion of power
plants which the First Scenario all the plants targeted by the government entered
into Interconnection System Java - Bali, while Second Scenario generation capacity
that goes adjust the allocation of power needs in each Region in Java Bali
Interconnected System. In each scenario the load flow analysis to determine the
performance of the system by referring to the bus voltage and load profile Inter Bus
Transformer (IBT) 500/150 kV.
Keywords: interconnected system, Java Bali, load flow, peak demand, 500 kV

viii
Universitas Indonesia

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................................... iii


HALAMAN PENGESAHAN............................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ......................................... vi
ABSTRAK ........................................................................................................................ vii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... ix
BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2. Tujuan Penulisan............................................................................................... 2
1.3. Batasan Masalah ............................................................................................... 2
1.4. Metodologi Penelitian ....................................................................................... 3
1.5. Manfaat Penelitian ............................................................................................ 3
1.6. Sistematika Penulisan ....................................................................................... 3
BAB 2 DASAR TEORI ...................................................................................................... 4
2.1. Sistem Interkoneksi ........................................................................................... 4
2.1.1.

Pembangkit Tenaga Listrik ......................................................................... 4

2.1.2.

Transmisi Tenaga Listrik ............................................................................ 7

2.2. Persoalan Operasi Sistem Interkoneksi ........................................................... 10


2.3. Aliran Daya ..................................................................................................... 11
2.3.1.

Persamaan Aliran Daya [5] ....................................................................... 12

2.3.2.

Metode Newton Raphson .......................................................................... 17

2.4. Peramalan Beban ............................................................................................ 22


2.4.1.

Definisi dan Jenis-Jenis Peramalan Beban................................................ 22

2.4.2.

Metode Peramalan Beban ......................................................................... 23

2.5. Neural Network (NN) ..................................................................................... 24


2.6. Neural Network Backpropagation................................................................... 26
BAB 3 PROFIL SISTEM INTERKONEKSI JAWA BALI DAN PROYEK 35.000 MW
.......................................................................................................................................... 29
3.1. Gambaran Umum ............................................................................................ 29
3.2. Profil Sistem Tenaga Jawa Bali [1]................................................................. 30
3.2.1.

Sistem Pembangkitan ................................................................................ 30

3.2.2.

Beban Puncak............................................................................................ 31

3.2.3.

Sistem Transmisi ....................................................................................... 33

3.3. Proyek 35.000 MW ......................................................................................... 34


3.3.1.

Sistem Pembangkitan ................................................................................ 34

3.3.2.

Sistem Transmisi dan Gardu ..................................................................... 36


ix
Universitas Indonesia

BAB 4 ANALISIS ALIRAN DAYA................................................................................ 39


4.1. Perencanaan Ekspansi Sistem Interkoneksi Jawa Bali.................................... 39
4.2. Peramalan Beban Puncak Sistem Interkoneksi Jawa Bali .............................. 40
4.3. Perancangan Simulasi Aliran Daya................................................................. 45
4.4. Hasil Simulasi Aliran Daya ............................................................................ 51
4.4.1.

Profil Bus 500 kV ..................................................................................... 51

4.4.2.

Pembebanan Inter Bus Transformer 500/150 kV...................................... 58

BAB 5 KESIMPULAN..................................................................................................... 61
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 62
DAFTAR REFERENSI .................................................................................................... 63
LAMPIRAN...................................................................................................................... 65

x
Universitas Indonesia

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Alokasi proyek pembangkit 35.000 MW ........................................... 1

Gambar 2.1 Kurva frekuensi terhadap waktu ......................................................... 6


Gambar 2.2 Kurva kapabilitas generator ................................................................ 7
Gambar 2.3 Sistem dengan 2 bus saling terhubung [5] ........................................ 12
Gambar 2.4 Diagram impedansi sitem 2 rel ......................................................... 13
Gambar 2.5 Penyerdehanaan rangkaian Gambar 2.6 [5] ...................................... 14
Gambar 2.7 Sistem dengan jumlah n-rel [5] ......................................................... 15
Gambar 2.8 Pendekatan fungsi menggunakan metode Newton Raphson [5] ....... 19
Gambar 2.9 Komponen dan fungsi pada Neural Network .................................... 26
Gambar 2.10 Arsitektur Neural Network Backpropagation .................................. 27

Gambar 3.1 Topologi Sistem Interkoneksi Jawa Bali ........................................... 29

Gambar 4.1 Langkah-langkah perencanaan Sistem Tenaga Listrik...................... 40


Gambar 4.2 Diagram alir peramalan beban puncak Sistem Jawa Bali tahun 20152019 ....................................................................................................................... 43
Gambar 4.3 Diagram Alir Simulasi Aliran Daya .................................................. 51
Gambar 4.4 Profil bus 500 kV Sistem Jawa Bali tahun 2015-2019...................... 58

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jenis bus berdasarkan referensinya ....................................................... 17

Tabel 3.1 Kapasitas terpasang pembangkit Jawa Bali [1]..................................... 30


Tabel 3.2 Pertumbuhan beban puncak sistem Jawa Bali tahun 2009-2014 [1] .... 33
Tabel 3.3 Beban puncak diversity dan coincident ................................................ 33
Tabel 3.4 Perkembangan saluran transmisi Sistem Jawa Bali [1] ........................ 34
Tabel 3.5 Perkembangan gardu Sistem Jawa Bali [1]........................................... 34
Tabel 3.6 Proyek Pembangkit 35.000 MW pada Sistem Jawa Bali [10] .............. 35

xi
Universitas Indonesia

xii

Tabel 3.7 Proyek SUTET 500 KV dan GITET untuk evakuasi Proyek
Pembangkit 35.000 MW [10]................................................................................ 37

Tabel 4.1 Data training Neural Network Area 1 ................................................... 44


Tabel 4.2 Data training Neural Network Area 2 ................................................... 44
Tabel 4.3 Data training Neural Network Area 3 ................................................... 44
Tabel 4.4 Data training Neural Network Area 4 ................................................... 44
Tabel 4.5 Beban puncak realisasi vs peramalan menggunakan Neural Network . 45
Tabel 4.6 Kebutuhan beban pada masing-masing Area/Region Sistem
Interkoneksi Jawa Bali .......................................................................................... 47
Tabel 4.7 Daftar pembangkit pada Skenario 2 beserta margin kapasitas-kebutuhan
pada setiap Area/Region ....................................................................................... 47
Tabel 4.8 Daftar pembangkit Skenario 1 dan Skenario 2 ..................................... 48
Tabel 4.9 Margin antara kebutuhan daya dengan ekspansi pembangkit
berdasarkan Skenario 1 dan Skenario 2 ............................................................... 49
Tabel 4.10 Lokasi proyek pembangkit 35.000 MW ............................................. 50
Tabel 4.11 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2015.............................. 52
Tabel 4.12 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2016.............................. 53
Tabel 4.13 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2017.............................. 54
Tabel 4.14 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2018.............................. 55
Tabel 4.15 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2019.............................. 56
Tabel 4.16 Profil bus 500 kV Sistem Jawa Bali tahun 2015-2019 ....................... 58
Tabel 4.17 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2015 ...... 59
Tabel 4.18 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2016 ...... 59
Tabel 4.19 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2017 ...... 60
Tabel 4.20 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2018 ...... 60
Tabel 4.21 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2019 ...... 60

xii
Universitas Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Seiring dengan meningkatknya populasi serta aktivitas manusia, kebutuhan

energi listrik pun semakin meningkat. Kebutuhan beban puncak pada sistem
interkoneksi Jawa Bali selalu mengalami peningkatan selama 5 (lima) tahun
terakhir. Pertumbuhan beban puncak mengalami kenaikan rata-rata sebesar 6,2%
per tahun di mana faktor bebannya juga meningkat dari 77,7% pada tahun 2009
menjadi 79,2% pada tahun 2014 [1].
Pada tahun 2014, Daya Mampu Netto (DMN) pemabangkit sistem
interkoneksi Jawa-Bali adalah sebesar 31.206 MW [1]. Sementara itu, untuk
memenuhi target pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan tambahan kapasitas
pembangkit sebesar 7.000 MW setiap tahun. Sehingga pemerintah membuat target
percepatan pembangunan pembangkit sebesar 35.000 MW selama lima tahun
(2014-2019).
Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Nomor 0074.K/21/MEM/2015 tentang Pengesahan Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik (RUPTL) 2015-2024, pemerintah telah mengeluarkan daftar proyek
pembangkit listrik 35.000 MW. Adapun proyek pembangunan pembangkit listrik
dengan tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia meliputi: Jawa-Bali (18.6

Gambar 1.1. Alokasi proyek pembangkit 35.000 MW


Sumber: www.pln.co.id/wp-content/uploads/2015/04/35000-MW.pdf

1
Universitas Indonesia

MW), Sumatera (10.090 MW), Sulawesi (3.470 MW), Kalimantan (2.635


MW), Nusa Tenggara (670 MW), Maluku (272 MW), Papua (220 MW). Dari 109
proyek tersebut, sekitar 74 proyek pembangunan pembangkit listrik berkapasitas
25.904 MW yang dikerjakan oleh penghasil daya listrik swasta (Independent Power
Producer) dalam 5 (lima) tahun ke depan dan 35 proyek lainnya dengan total
kapistas 10.681 MW dikerjakan oleh PLN.
Apabila proyek pembangkit 35.000 MW terealisasi sepenuhnya, sistem
Interkoneksi Jawa-Bali akan mendapatkan tambahan pasokan sekitar 18.697 MW
atau 59,92% dari DMN tahun 2014. Dengan menggunakan analisa aliran daya, kita
dapat mengetahui pengaruh ekspansi sistem interkoneksi terhadap kinerja sistem
itu sendiri.
1.2.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan Tesis ini yaitu membuat proyeksi kebutuhan beban Sistem

Interkoneksi Jawa Bali pada periode tahun 2015-2019 serta analisis aliran daya
proyek 35.000 MW pada Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali untuk mengetahui
kinerjanya.
1.3.

Batasan Masalah
1. Sistem yang dibahas adalah Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali.
2. Studi aliran daya dilakukan pada saat beban puncak tahun 2015-2019.
3. Studi aliran daya yang dilakukan hanya memperhatikan tegangan bus 500
kV, KHA (Kuat Hantar Arus) saluran transmisi Tegangan Ekstra Tinggi
(TET) dan pembebanan IBT (Inter Bus Transformer) 500/150 kV.
4. Proyek 35.000 MW yang masuk ke Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali
dibagi menjadi dua skenario, yaitu:
a. Skenario 1
Seluruh pembangkit yang direncanakan sesuai proyek 35.000 MW
masuk ke dalam Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali.
b. Skenario 2
Pembangkit yang masuk ke dalam Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa
Bali disesuaikan berdasarkan kebutuhan beban puncak per tahun.

Universitas Indonesia

1.4.

Metodologi Penelitian
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Studi Literatur
Merupakan metode pengumpulan bahan penelitian melalui hand book,
manual book, laporan, jurnal, maupun sumber internet sehinga diperoleh
referensi dan informasi yang akurat.
2. Simulasi
Simulasi berupa peramalan beban puncak menggunakan metode Neural
Network dengan software Matlab R2013 serta analisis aliran daya pada
Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali menggunakan software ETAP 12.6

1.5.

Manfaat Penelitian
1. Memberikan opsi tools untuk analisis aliran daya Sistem Interkoneksi 500
kV Jawa Bali dengan menggunakan software ETAP 12.6 kepada PT. PLN
(Persero) maupun lembaga terkait.
2. Memberikan evaluasi kepada PT. PLN (Persero) maupun lembaga terkait
mengenai rencana percepatan proyek pembangkit 35.000 MW terhadap
Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali.
3. Memberikan masukan kepada PT. PLN (Persero) maupun lembaga terkait
mengenai perencanaan ekspansi Sistem Interkoneksi Jawa Bali 500 kV
untuk memperbaiki kinerja sistem.

1.6.

Sistematika Penulisan
Tesis ini terdiri dari 5 (lima) bab, bab satu membahas mengenai latar

belakang masalah, tujuan penulisan, batasan masalah, metodologi penelitian,


manfaat penelitian dan sistematika penulisan. Bab dua membahas mengenai teori
yang berkaitan dengan sistem interkoneksi, aliran daya serta peramalan beban. Bab
tiga membahas profil Sistem Interekoneksi Jawa Bali serta Proyek 35.000 MW.
Bab empat membahas mengenai kebutuhan beban Sistem Jawa Bali serta simulasi
perhitungan aliran daya mengunakan software ETAP 12.6. Bab lima membahas
mengenai kesimpulan dari tesis.

Universitas Indonesia

BAB 2
ALIRAN DAYA DAN PERAMALAN BEBAN
2.1.

Sistem Interkoneksi
Sistem interkoneksi adalah sistem tenaga listrik yang terdiri dari beberapa

pusat listrik dan Gardu Induk yang terhubung satu sama lain yang terhubung
melalui saluran transmisi dan melayani beban yang ada pada seluruh Gardu Induk.
Sistem interkoneksi dapat diterapkan apabila suatu daerah mengalami defisit energy
sedangkan daerah lainnya mengalami surplus energi listrik. Dalam system
interkoneksi,

semua

pembangkit

perlu

dikoordinir agar tercapai

biaya

pembangkitan minimum, tentunya dengan memperhatikan mutu serta kehandalan.


Demikian juga pada saluran transmisi perlu diperhatikan agar tidak ada peralatan
penyaluran yang mengalami pembebanan lebih.
Sistem interkoneksi memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
1. Meningkatkan mutu dan keandalan pasokan tenaga listrik.
2. Daerah yang surplus energi dapat membantu daerah yang mengalami defisit
energi listrik.
3. Meningkatkan efesiensi biaya dalam pengelolaan penyediaan tenaga listrik.
Namun sistem interkoneksi juga mempunyai beberapa kelemahan, yaitu:
1. Kegagalan pada salah satu unit pembangkit ataupun transmisi akan
menggangggu sistem secara keseluruhan.
2. Diperlukan pengontrolan dan pengaturan yang tepat agar sistem bekerja
secara efisien.
2.1.1. Pembangkit Tenaga Listrik
Pembangkit Tenaga Listrik adalah sebuah perangkat yang dapat
menghasilkan atau memproduksi tenaga listrik dari berbagai sumber energi primer
seperti air, batubara, minyak, gas, angin, matahari dan lain-lain. Sistem pembangkit
itu sendiri merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai jenis pembangkit
seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Air
(PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), dan lain-lain.

4
Universitas Indonesia

Dalam sistem interkoneksi, keseimbangan antara suplai daya listrik dengan


beban harus dipenuhi. Ketidakseimbangan diantara keduanya dapat menyebabkan
penuranan ataupun peningkatan frekuensi pada sistem. Dalam hal ini ketika daya
pembangkitan lebih besar dari beban maka frekuensi sistem akan > 50 Hz, begitu
pula sebaliknya. Oleh karena itu perlu selalu dijaga keadaan yang seimbang antara
pembangkitan dan beban agar tercipta frekuensi sitem yang normal 50 Hz.
Hubungan antara frekuensi dengan keseimbangan antara daya pembangkit
dengan beban dapat dilihat pada hubungan antara torsi mekanik (Tm), torsi elektrik
(Te), jumlah total moment inersia dari rotor (J), dan percepatan angular dari rotor

(2.1)

Dari rumus diatas terlihat bahwa ketika [2] :


1. Torsi mekanik = torsi elektrik maka Ta=0 yang berarti tidak ada percepatan
yang dialami oleh rotor. Karena tidak ada percepatan, maka rotor berputar
pada kecepatan yang tetap sehingga mengahasilkan tegangan dengan
frekuensi yang konstan yaitu di titik A (Gambar 2.1). Keadaan ini terjadi
ketika tercapai keseimbangan antara jumlah energi yang dibangkitkan
dengan energi yang diserap beban .
2. Tm > Te maka tercipta kelebihan torsi sebesar Ta yang menyebabkan
timbulnya percepatan rotor sebesar

sehingga frekuensi dan tegangan

yang dibangkitkan naik sampai tercapai nilai tertentu dan tercipta


keseimbangan baru antara Tm dan Te.
3. Tm < Te maka tercipta kekurangan torsi sebesar Ta yang menyebabkan
timbulnya perlambatan rotor sebesar

sehingga frekuensi dan tegangan

yang dibangkitkan turun sampai tercapai nilai tertentu di titik C dan tercipta
keseimbangan baru antara Tm dan Te di titik B (Gambar 2.1).

Universitas Indonesia

Gambar 2.1 Kurva frekuensi terhadap waktu [2]

Sementara itu salah satu cara untuk melakukan pengaturan tegangan pada
sistem adalah dengan melakukan pengaturan daya reaktif pada generator. Terdapat
tiga hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengaturan daya reaktif
generator, yaitu: batas arus medan, batas arus jangkar, batas daerah pemanasan
generator. Batasan kemampuan daya reaktif suatu pembangkit dibatasi oleh
karakteristik kurva kapabilitas generator seperti Gambar 2.2.
Generator mampu menyerap atau memberikan daya reaktif, namun
kemampuan ini dibatasi oleh kurva kapabilitas reaktif yang dimiliki oleh setiap
generator. Jika generator memberikan / mensuplai daya reaktif, bisa dikatakan
generator bersifat kapasitif, namun jika eksitasinya berlebihan (over excitation)
maka hal ini akan mengakibatkan panas yang berlebihan pada lilitan rotornya. Jika
generator menyerap daya reaktif, bisa dikatakan generator bersifat induktif, namun
jika eksitasinya kurang (under excitation) maka hal ini akan mengakibatkan panas
yang berlebihan pada lilitan statornya. Kondisi over excitation dan under excitation
pada saat pengoperasian harus dihindari, seperti disebutkan diatas dan efek domino
yang diakibatkan tidaklah kecil, karena pemanasan yang berlebihan dapat
mengakibatkan kerusakan laminasi dari lilita-lilitan tersebut dan jika lilitan dari
laminasi rusak maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi hubung singkat antar
fasa atau dengan bodi generator.

Universitas Indonesia

Gambar 2.2 Kurva kapabilitas generator

Pada sistem interkoneksi yang terdiri dari kelompok pembangkit hidro dan
kelompok pembangkit termis, diperlukan pembagian beban antara dua kelompok
pembangkit agar mencapai keadaan operasi yang optimum dalam arti tercapai biaya
bahan bakar minimum. Selain itu dalam melakukan perubahan beban unit
pembangkit terutama kaitannya pada frekuensi sistem, perlu diperhatikan
kemampuan unit pembangkit untuk mengikuti perubahan beban (ramping rate).
Ramping rate unit PLTA adalah yang tertinggi, sedangkan PLTU (batubara) yang
terendah [3].
2.1.2. Transmisi Tenaga Listrik
Pada sistem, transmisi tenaga listrik berfungsi untuk menyalurkan energi
listrik dari sistem pembangkit ke sistem distribusi (konsumen) melalui suatu bahan

Universitas Indonesia

konduktor. Pada umumnya transmisi tenaga listrik menggunakan tenaga tinggi


dengan tujuan untuk mengurangi rugi-rugi daya sehingga penyaluran tenaga listrik
lebih ekonomis dan efisien. Transmisi tegangan tinggi Indonesia pada saat ini
adalah tegangan 70 kV dan 150 kV, sedangkan untuk transmisi tegangan ekstra
tinggi menerapkan tegangan 275 kV dan 500 kV. Ketidaknormalan pada operasi
saluran transmisi dapat mempengaruhi aliran daya aktif dan reaktif pada sistem.
Berdasarkan pemasangannya, saluran transmisi dibagi menjadi dua kategori
antara lain:
a. Saluran Udara (Overhead Lines) yaitu saluran transmisi yang menyalurkan
energi listrik melalui kawat-kawat yang digantung pada isolator antara
menara atau tiang transmisi.
b. Saluran Kabel Bawah Tanah (Underground Cable) yaitu saluran transmisi
yang menyalurkan energi listrik melalui kabel yang dipendam dalam tanah.
c. Saluran Isolasi Gas (Gas Insulated Line) yaitu saluran transmisi yang
diisolasi oleh gas, misalnya: gas SF6.
Komponen yang termasuk dalam fungsi pembawa arus adalah komponen
konduktor SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) dan SUTET (Saluran Udara
Tegangan Ekstra Tinggi) yang berfungsi dalam proses penyaluran arus listrik dari
Pembangkit ke GI (Gardu Induk) / GITET (Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi)
atau dari GI / GITET ke GI / GITET lainnya. Konduktor merupakan suatu media
untuk menghantarkan arus listrik yang direntangkan lewat tiang-tiang SUTT &
SUTET melalui insulator-insulator sebagai penyekat konduktor dengan tiang. Pada
tiang tension, konduktor dipegang oleh tension clamp/compression dead end clamp,
sedangkan pada tiang suspension dipegang oleh suspension clamp. Bahan
konduktor yang dipergunakan untuk saluran energi listrik perlu memiliki sifat-sifat
sebagai berikut:
1. Konduktivitas tinggi
2. Kekuatan tarik mekanik tinggi
3. Berat jenis yang rendah
4. Ekonomis
5. Lentur atau tidak mudah patah

Universitas Indonesia

Biasanya konduktor pada SUTT/SUTET merupakan konduktor berkas


(stranded) atau serabut yang dipilin agar mempunyai kapasitas yang lebih besar
dibanding konduktor pejal dan mempermudah dalam penanganannya. Konduktor
berdasarkan bahannya dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya [4]:
1. Konduktor jenis tembaga (BC: Bare copper)
Konduktor ini merupakan penghantar yang baik karena memiliki
konduktivitas tinggi dan kekuatan mekanik yang cukup baik.
2. Konduktor jenis aluminium
Konduktor dengan bahan aluminium lebih ringan dibandingkan konduktor
jenis tembaga, konduktivitas dan kekuatan mekaniknya lebih rendah. Jenisjenis konduktor aluminium antara lain :
a. Konduktor ACSR (Alumunium Conductor Steel Reinforced)
Konduktor jenis ini bagian dalamnya berupa steel yang mempunyai kuat
mekanik tinggi, sedangkan bagian luarnya berupa aluminium yang
mempunyai konduktivitas tinggi. Karena sifat elektron lebih menyukai
bagian luar konduktor daripada bagian sebelah dalam konduktor, maka
pada sebagian besar SUTT maupun SUTET menggunakan konduktor
jenis ACSR. Saat ini PT. PLN (Persero) menggunakan konduktor tipe
ASCR Gannet dan Dove. Untuk daerah yang udaranya mengandung
kadar belerang tinggi dipakai jenis ACSR/AS, yaitu konduktor jenis
ACSR yang konduktor steel nya dilapisi dengan aluminium.
b. Konduktor jenis TACSR (Thermal Aluminium Conductor Steel
Reinforced)
Pada saluran transmisi yang mempunyai kapasitas penyaluran atau
beban sistem tinggi, maka dipasang konduktor jenis TACSR. Konduktor
jenis ini mempunyai kapasitas lebih besar tetapi berat konduktor tidak
mengalami perubahan yang banyak.
Konduktor berkas adalah konduktor yang terdiri dari dua konduktor atau
lebih yang dipakai sebagai konduktor satu fasa. Konduktor berkas mulai efektif
digunakan pada tegangan diatas 400 kV. Penggunaan konduktor berkas bertujuan
untuk mengurangi risiko terjadi korona dan meningkatkan kapasitar daya hantar
saluran transmisi.

Universitas Indonesia

10

Keuntungan menggunakan konduktor berkas antara lain:


1. Mengurangi reaktansi induktif saluran sehingga jatuh tegangan dapat
diturunkan.
2. Mengurangi gradien tegangan permukaan konduktor sehingga dapat
meningkatkan tegan kritis korona dan mengurangi rugi-rugi daya korona,
audible noise, dan radio interference.
Namun terdapat beberapa kerugian diantaranya:
1. Meningkatkan berat total saluran sehingga berpengaruh pada kontruksi
menara.
2. Meningkatkan kapasitansi saluran.
3. Konstruksi isolator lebih rumit.
4. Meningkatkan investasi awal.
2.2.

Persoalan Operasi Sistem Interkoneksi


Berbagai persoalan-persoalan pokok yang dihadapi dalam pengoperasian

Sistem Interkoneksi adalah [3]:


a. Pengaturan frekuensi
Frekuensi pada sistem mengindikasikan hubungan antara beban dengan
suplai pada Sistem Interkoneksi. Jika daya beban pada sistem lebih besar
daripada suplainya, maka frekuensi sistem akan turun. Begitu pula
sebaliknya, apabila daya beban pada sistem lebih kecil daripada suplainya
maka frekuensi sistem akan naik.
b. Pemeliharaan peralatan
Peralatan yang beroperasi dalam Sistem Interkoneksi perlu dipelihara secara
periodik.
c. Biaya operasi
Biaya operasi khususnya biaya bahan bakar adalah biaya yang terbesar dari
suatu perusahaan listrik, sehingga perlu dipakai teknik-teknik optimasi
untuk menekan biaya tersebut.
d. Kecepatan pembebanan beban unit pembangkit
Dalam melakukan perubahan beban unit pembangkit terutama kaitannya
pada frekuensi sistem, perlu diperhatikan kemampuan unit pembangkit

Universitas Indonesia

11

untuk mengikuti perubahan beban (ramping rate). Ramping rate unit PLTA
adalah yang tertinggi, sedangkan PLTU (batubara) yang terendah.
e. Perkembangan sistem
Beban selalu berubah sepanjang waktu dan juga selalu berkembang seiring
dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi, sehingga perlu
diamati secara terus menerus agar dapat diketahui langkah pengembangan
sistem yang harus dilakukan agar sistem selalu dapat mengikuti
perkembangan beban.
f. Gangguan dalam sistem
Gangguan dalam sistem tenaga listrik merupakan sutu hal yang tidak dapat
dihindarkan. Gangguan yang terjadi dapat berasal dari sumber internal
maupun eksternal.
2.3.

Aliran Daya
Aliran daya atau load flow adalah penentuan atau perhitungan tegangan,

arus, daya aktif dan daya reaktif serta faktor daya yang terdapat pada berbagai
simpul dalam jaringan listrik pada kondisi operasi normal. Studi aliran daya
diperlukan dalam perencanaan pengembangan suatu sistem tenaga karena
pengoperasian sistem tersebut akan bergantung pada penambahan beban,
pembangkit baru ataupun saluran transmisi baru. Pada umumnya tujuan
dilakukannya analisis aliran daya antara lain:
1. Mengetahui aliran daya (MW dan MVAr) dari cabang pada network.
2. Mengetahui efek dari hilangnya sumber daya pada pembebanan sistem.
3. Mengetahui efek dari perubahan komponen pada sistem tenaga, baik
komponen pada sistem pembangkit, transmisi, maupun distribusi terhadap
pembebanan sistem tersebut.
4. Mengetahui tegangan pada busbar.
5. Membuat kondisi optimum pada sistem tenaga.

Universitas Indonesia

12

2.3.1. Persamaan Aliran Daya [5]


Persamaan aliran daya secara sederhana dapat dilihat pada Gambar 2.3
untuk sistem dengan dua bus. Pada setiap bus memiliki sebuah generator dan beban
serta terdapat saluran penghantar yang menghubungkan bus 1 dengan bus 2.

Gambar 2.3 Sistem dengan 2 bus saling terhubung [5]

Besar daya pada rel 1 dan rel 2 adalah


1 = 1 1 = (1 1 ) + (1 1 )

(2.1)

2 = 2 2 = (2 2 ) + (2 2 )

(2.2)

Dengan:
1

: Daya semu yang mengalir pada rel 1 (MVA)

: Daya semu yang berasal dari generator G1 (MVA)

: Daya aktif yang berasal dari generator G1 (MW)

: Daya reaktif yang berasal dari generator G1 (MVAr)

: Tegangan pada rel 1 (kV)

: Sudut tegangan pada rel 1

: Daya semu yang mengalir pada rel 2 (MVA)

: Daya semu yang berasal dari generator G2 (MVA)

: Daya aktif yang berasal dari generator G2 (MW)

: Daya reaktif yang berasal dari generator G2 (MVAr)

: Tegangan pada rel 2 (kV)

: Sudut tegangan pada rel 2

Universitas Indonesia

13

Pada Gambar 2.4 merupakan diagram impedansi dimana generator sinkron


direpresentasikan sebagai sumber yang memiliki reaktansi dan transmisi model .
Beban diasumsikan memiliki impedensi konstan dan daya konstan pada diagram
impedansi.

Gambar 2.4 Diagram impedansi sitem 2 rel [5]

Dengan:
1

: Tegangan generator G1 (kV)

: Arus generator G1 (kA)

: Arus mengalir ke beban 1 (kA)

: Arus mengalir pada rel 1 (kA)

: Tegangan generator G2 (kV)

: Arus generator G2 (kA)

: Arus mengalir ke beban 2 (kA)

: Arus mengalir pada rel 2 (kA)

: Impedansi saluran transmis ()

: Admitansi antara saluran transmisi dengan tanah (Siemens)

besarnya arus yang diinjeksikan pada rel 1 dan rel 2 adalah :


1 = 1 1

(2.3)

2 = 2 2

(2.4)

Universitas Indonesia

14

Pada Gambar merupakan penyerdehanaan dari gambar menjadi rel daya untuk
masing-masing rel.

Gambar 2.5 Penyerdehanaan rangkaian Gambar 2.3 [5]

Dengan:
1

: Tegangan di rel 1 (kV)

: Arus keluar dari rel 1 (kA)

: Arus keluar dari rel 1 yang mengalir pada (kA)

1"

: Arus keluar dari rel 1 mengalir pada (kA)

: Tegangan di rel 2 (kV)

: Arus keluar dari rel 2 (kA)

: Arus keluar dari rel 2 yang mengalir pada (kA)

2"

: Arus keluar dari rel 2 mengalir pada (kA)

Semua besaran diubah dalam sistem per-unit, sehingga :


1 = 1 1 = 1 + 1 1 1 = 1 1

(2.5)

2 = 2 2 = 2 + 2 2 2 = 2 2

(2.6)

Aliran arus dapat dilihat pada Gambar 2.5, dimana arus pada rel 1 adalah :
1 = 1 + 1"

(2.7)

1 = 1 + (1 2 )

(2.8)

1 = ( + )1 + ( )2

(2.9)

Universitas Indonesia

15

1 = 11 1 + 12 2

(2.10)

Dimana Y11 adalah jumlah admitansi terhubung pada rel 1 = yp + ys dan Y12 adalah
admitansi negatif antara rel 1 dengan rel 2 = -ys
Untuk aliran arus pada rel 2 adalah :
2 = 2 + 2"

(2.11)

2 = 2 + (2 1 )

(2.12)

2 = ( + )2 + ( )1

(2.13)

Dari persamaan dapat dibuat dalam bentuk matriks :

[ 1 ] = [ 11
2
21

12 1
][ ]
22 2

(2.14)

(2.15)

Persamaan (2.12) hingga (2.22) yang digunakan pada sistem 2 rel dapat dijadikan
dasar untuk penyelesaian persamaan aliran daya sistem n-rel. Gambar menunjukkan
sistem dengan jumlah n-rel dimana rel 1 terhubung dengan rel lainnya.

Gambar 2.6 Sistem dengan jumlah n-rel [5]

Universitas Indonesia

16

Persamaan yang dihasilkan dari Gambar 2.6 adalah :


1 = (12 + 13 + + 1 + 12 + 13 + + 1 )1 12 2
13 3 1

(2.16)

1 = 11 1 + 12 2 + 13 3 + + 1

(2.17)

Dimana :
11 = 12 + 13 + + 1 + 12 + 13 + + 1

(2.18)

Persamaan (2.27) dapat disubtitusikan ke persamaan (2.12) menjadi persamaan


(2.28) :
1 = =1

(2.19)

1 1 = 1 1 = 1 =1

(2.20)

Persamaan (2.29) merupakan representasi persamaan aliran daya yang nonlinear.


Untuk sistem n-rel, seperti persamaan (2.22) dapat dihasilkan persamaan (2.30)
yaitu :
1
11 12
2

= [ 11 12

1 2
[ ]

1 1
2 2
]

[ ]

(2.21)

Pada studi aliran daya, bus-bus dibagi ke dalam 3 (tiga) tipe, antara lain:
1. Slack bus/swing bus/reference bus atau bus penadah/bus referensi, yaitu bus
yang berfungsi menanggung kekurangan daya pembangkitan setelah solusi
aliran daya diperoleh. Parameter yang diketahui adalah nilai tegangan dan
sudut fase tegangan sebagai referensi, biasanya dilakukan dengan memberi
nilai tegangan dan besar sudutnya dengan 1<0 p.u.
2. Voltage controlled bus atau bus generator atau bus pembangkitan, yaitu bus
dengan parameter injeksi daya aktif dan besar tegangan bus diketahui,
sedangkan peubah atau variabel yang dicari adalah daya reaktif yang
dibangkitkan dan sudut fase tegangan.

Universitas Indonesia

17

3. Load bus atau bus beban, yaitu bus dengan daya aktif dan daya reaktif bus
diketahui, sedangkan variabel yang dicari adalah nilai tegangan bus dan
sudut fase.
Tabel 2.1 Jenis bus berdasarkan referensinya

Gambar 2.1 Pendekatan fungsi menggunakan metode Newton Raphson


[5]Tabel 2.2 Jenis bus berdasarkan referensinya

Metode yang umum digunakan dalam penyelesaian aliran daya yaitu:


Newton Raphson, Gauss Siedel dan Fast Decoupled. Dari persamaan di atas dapat
dilihat bahwa persamaan aliran daya bersifat tidak linier dan penyelesaiannya
menggunakan metode iteratif. Motede Newton Raphson digunakan untuk
penyelesaian persamaan aliran daya karena lebih cepat mencapai konvergen tanpa
mengabaikan nilai resistensi dari jaringan.
2.3.2. Metode Newton Raphson
Metode Newton Raphson dapat digunakan untuk menyelesaikan persamaan
nonlinear. Penyelesaian persamaan ini menggunakan persamaan linear dengan
solusi pendekatan. Untuk persamaan nonlinear yang diasumsikan memiliki sebuah
variabel dimana:
= ()

(2.22)

Persamaan (2.31) dapat diselesaikan dengan membuatnya menjadi persamaan


(2.32)
() = 0

(2.23)

Dengan menggunakan deret Taylor, maka didapat persamaan:

Universitas Indonesia

18

1 (0 )

() = (0 ) + 1!

( 0 ) +

1 2 (0 )
2!

( 0 )2 + +

1 (0 )
!

0 ) = 0

(2.24)

Turunan pertama dari persamaan (2.33) dapat diabaikan, pendekatan linear


menghasilkan persamaan (2.34)
1 (0 )

() = (0 ) + 1!

( 0 ) = 0

(2.25)

Dari :
(0 )
0 )

1 = 0 (

(2.26)

Untuk mengatasi kesalahan notasi, maka persamaan (2.35) diulang seperti


persamaan (2.36)
( (0) )

(1) = (0) ( (0))

(2.27)

Dimana :
(0)

= pendekatan perkiraan

(1)

= pendekatan pertama

Oleh karena itu, rumus tersebut dapat dikembangkan sampai iterasi terakhir (k+1),
mejadi persamaan (2.37).
( () )

(+1) = () ( () )
( () )

(+1) = () ( ())

(2.28)
(2.29)

Sehingga,
( () )

= ( () )

(2.30)

= (+1) ()

(2.31)

Universitas Indonesia

19

Metode Newton Raphson secara grafik dapat dilihat pada Gambar 2.10. Pada
Gambar 2.10 dapat dilihat bahwa kurva garis melengkung diasumsikan grafik
persamaan y = f(x). Nilai x0 pada garis x merupakan nilai perkiraan awal
kemudian dilakukan nilai perkiraan awal kedua, ketiga dan seterusnya.

Gambar 2.7 Pendekatan fungsi menggunakan metode Newton Raphson [5]

Persamaan arus (2.41) pada persamaan sebelumnya dapat diubah ke dalam bentuk
persamaan polar (2.42)
= =1

(2.32)

= =1| || | +

(2.33)

Persamaan (2.42) dapat disubtitusikan ke dalam persamaan daya (2.28) pada


persamaan sebelumnya :
=

(2.34)

= | |

(2.35)

= = | | =1| || | +

(2.36)

= =1| || || | +

(2.37)

Dimana :
( +) cos( + ) + ( + )

(2.38)

Dari persamaan (2.46) dan (2.47) dapat diketahui persamaan daya aktif dan daya
reaktif.
()

= =1|

()

|| ||

()

| cos( + )

(2.39)

Universitas Indonesia

20

()

()
()
= =1| || || | sin( + )

(2.40)

Persamaan (2.48) dan (2.49) merupakan langkah awal perhitungan aliran daya
menggunakan metode Newton Raphson. Penyelesaian aliran daya menggunakan
proses iterasi (k+1). Untuk iterasi pertama merupakan nilai perkiraan awal yang
ditetapkan sebelum memulai perhitungan aliran daya.
Hasil perhitungan aliran daya menggunakan persamaan (2.48) dan (2.49) dengan
nilai Pi dan Qi. Hasil nilai ini digunakan untuk menghitung nilai P dan Q.
Persamaan untuk menghitung nilai P dan Q yaitu :
()

= , ,

()

= , ,

()

(2.41)

()

(2.42)

Hasil perhitungan P dan Q digunakan untuk matriks Jacobian pada persamaan


(2.52)
()

()

()

()
2

()

()

()

2 2

|2 |

()

()

|2 |

()
2

()
()
2 2

()
[ ]

()

|2 |

()
()

|2 |

()

| |

()

| |

(2.43)

()

| |

()

| | ]

Dapat dilihat bahwa perubahan daya berhubungan dengan perubahan besar


tegangan dan sudut fasa. Secara umum persamaan (2.52) dapat disederhanakan
menjadi persamaan (2.53).
[

1
()
() ] = [

2 ()
][
]
4 ||()

(2.44)

Besaran elemen matriks Jacobian persamaan (2.53) adalah :


J1
()

()
()
()
()
= 1| || || | sin( + )

(2.45)

Universitas Indonesia

21

()

()
()
()
()
= | || || |sin( + )

(2.46)

()
()
()
()
= 2| || | + | || | sin( + )

(2.47)

J2
()

| |
()

| |

= |

()

()

|| |cos(

()

+ )

(2.48)

J3
()

()

()
()
()
()
= | || || | cos( + )

= |

()

|| ||

()

()

|cos(

(2.49)

()

+ )

(2.50)

J4
()

| |
()

| |

()
()
()
()
= 2| || | + | || | sin( + )

= |

()

()

|| |sin(

()

+ )

(2.51)
(2.52)

Setelah nilai matriks Jacobian dimasukkan ke dalam persamaan (2.44) maka nilai
(ik) dan V (ik) dapat dicari dengan menginverskan matrik Jacobian seperti
persamaan (2.53).
[

1
()
() ] = [
[]
3

2 1 ()
] [ () ]
4

(2.53)

Setelah nilai () dan | () | diketahui nilainya maka nilai (+1) dan


| (+1) | dapat dicari dengan menggunakan nilai () dan | () | ke dalam
persamaan (2.54) dan (2.55).
(+1) = () ()

(2.54)

| (+1) | = | () | + | () |

(2.55)

Universitas Indonesia

22

Nilai dan V hasil perhitungan dari Persamaan (2.63) dan (2.64) merupakan
perhitungan pada iterasi pertama. Nilai ini digunakan kembali untuk perhitungan
iterasi ke-2 dengan cara memasukan nilai ini ke dalam Persamaan (2.48) dan
(2.49) sebagai langkah awal perhitungan aliran daya. Perhitungan aliran daya pada
iterasi ke-2 mempunyai nilai k = 1. Iterasi perhitungan aliran daya dapat dilakukan
sampai iterasi ke-n. Perhitungan selesai apabila nilai () dan () mencapai
nilai kesalahan yang ditentukan.
Perhitungan aliran daya menggunakan metode Newton Raphson :
1. Membentuk matriks admitansi Yrel sistem.
2. Menentukan nilai awal V(0), (0), Pspec, Qspec
3. Menghitung daya aktif dan daya reaktif berdasarkan Persamaan (2.48) dan
(2.49)
4. Menghitung nilai () dan () beradasarkan Persamaan (2.57) dan
(2.58)
5. Membuat matrik Jacobian berdasarkan Persamaan (2.60) sampai
Persamaan (2.61)
6. Menghitung nilai (+1) dan | (+1) | berdasarkan Persamaan (2.63) dan
(2.64)
7. Hasil nilai (+1) dan | (+1) | dimasukan kedalam Persamaan (2.48) dan
(2.49) untuk mencari nilai P dan Q . Perhitungan akan konvergensi jika
nilai P dan Q 10-4
8. Jika sudah konvergensi maka perhitungan selesai, jika belum konvergensi
maka perhitungan dilanjutkan untuk iterasi berikutnya.
2.4.

Peramalan Beban

2.4.1. Definisi dan Jenis-Jenis Peramalan Beban


Peramalan adalah dugaan atau prakiraan atas suatu kejadian tertentu di
waktu yang akan datang. Menurut Supranto (1984), forecasting atau peramalan
adalah memperkirakan sesuatu pada waktu-waktu yang akan datang berdasarkan
data masa lampau yang dianalisis secara ilmiah, khususnya menggunakan metode
statistika. Menurut Sofjan Assauri (1993), peramalan merupakan seni dan ilmu
dalam memprediksikan kejadian yang mungkin dihadapi pada masa yang akan

Universitas Indonesia

23

datang. Beban sering disebut sebagai demand, merupakan besaran kebutuhan


tenaga listrik yang dinyatakan dengan MWh, MW atau MVA tergantung kepada
konteksnya [1]. Maka definisi dari peramalan beban adalah peramalan beban
tertinggi (puncak) dalam periode tertentu. Berdasarkan periode waktunya, jenis
peramalan beban listrik dapat dibagi menjadi tiga, yakni:
1) Peramalan Jangka Pendek (Short-Term Forecasting)
Peramalan jangka pendek merupakan peramalan yang memprediksikan
keadaan jangka waktu tiap jam hingga harian.
2) Peramalan Jangka Menengah (Mid-Term Forecasting)
Peramalan jangka menengah merupakan permalan yang membuat prediksi
keadaan dalam jangka waktu bulanan hingga mingguan.
3) Peramalan Jangka Panjang (Long-Term Forecasting)
Peramalan jangka panjang merupakan peramalan yang membuat prediksi
keadaan dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan.
2.4.2. Metode Peramalan Beban
Pemilihan metode peramalan yang tepat dan sesuai dapat mengurangi
tingkat atau presentase kesalahan (error). Berbagai metodologi telah digunakan
untuk berbai jenis peramalan, sesuai dengan jenis dan ketersediaan serta keandalan
data yang ada. Ada beberapa metode yang biasa digunakan dalam peramalan [6],
tergantung pada jenis peramalan yang dilakukan. Metode-metode yang digunakan
untuk peramalan beban antara lain:
1) End Use Model
Pendekatan

ini

langsung

mengestimasikan

konsumsi

energi

dengan

menggunakan informasi yang ekstensif pada akhir profil konsumsi konsumen,


seperti peralatan, penggunaan oleh konsumen, umur, ukuran rumah dll. Data
statistik konsumen beserta perubahan dinamisnya menjadi dasar peramalan.
Idealnya pendekatan ini sangat akurat namun sangat sensitif terhadap data
acuan konsumen dan minim data historis beban.
2) Econometric Models
Pendekatan ini mengkombinasikan teori ekonomi dengan teknik satistik untuk
peramalan beban listrik. Pendekatan ini melakukan estimasi hubungan antara

Universitas Indonesia

24

konsumsi energi dan faktor yang mempengaruhi konsumsi tersebut.


Hubungannya akan diestimasikan menggunakan least square atau time series.
3) Statistical Model Based Learning
Metode sebelumnya menggunakan data konsumen dan ekonomi sebagai data
acuan sehingga dapat terjadi komplikasi karena adanya partisipasi manusia
yang membuat satu data dengan data lainnya tidak berkaitan. Oleh karena itu
diperlukan pendekatan terhadap data yang tidak berguna yaitu dengan
menggunakan pembelajaran data historis

yang dihubungkan dengan

menyisihkan pendekatan terhadap data yang tidak berguna.


4) Similar Day Approach
Pendekatan ini dilakukan dengan mencari data historis hari yang sama selama
satu hingga tiga tahun dengan karakterisitik yang sama dengan hari peramalan.
Karakteristik yang sama tersebut berupa cuaca, hari di steiap minggu dan
tanggal. Beban pada hari yang sama juga termasuk dalam peramalan.
5) Koefiesien Beban
Metode ini dipakai untuk meramalkan beban harian dari suatu sistem tenaga
listrik. Beban untuk setiap jam diberi koefisien yang menggambarkan besarnya
beban pada jam tersebut dalam perbandingannya terhadap beban puncak.
Koefisien-koefisien ini berbeda untuk hari Senin sampai dengan Minggu dan
untuk hari libur bukan Minggu. Setelah didapat perkiraan kurva beban harian
dengan metode koefisien, masih perlu dilakukan koreksi-koreksi berdasarkan
informasi-informasi terakhir mengenai peramalan suhu dan kegiatan
masyarakat. Metode ini digunakan oleh P3B PLN Jawa Bali untuk peramalan
beban harian.
2.5.

Neural Network (NN)


Neural Network (NN) adalah sebuah proses informasi dengan kemampuan

untuk belajar, mengingat dan menyelesaikan masalah berdasarkan proses belajar


yang diinginkan. Sistem ini mempunyai struktur yang menyerupai susunan syaraf
manusia. Dengan begitu, Neural Network dapat menyelesaikan masalah yang
berhubungan dengan: klasifikasi dan pencocokan pola, pendekatan fungsi,
optimasiasi vektor, kuantisasi, dan pengelompokan data.

Universitas Indonesia

25

Neural Network terdiri dari process element atau elemen proses (EP) dalam
jumlah besar yang saling terhubung satu sama lain yang membentuk konfigurasi.
EP disebut juga neuron. EP merupakan tempat dimana proses pengolahan sinyal
dilakukan. Pada manusia terdapat 1011 neuron, dengan tipe yang berbeda-beda.
Pada neuron biologis terdapat tiga bagian utama yaitu inti sel, dendrit dan akson.
Komponen-komponen pada Neural Network terdiri dari [7]:
1. Neuron
Neuron merupakan unit yang melakukan proses informasi yang menjadi
dasar untuk pengoperasian NN. Neuron terdiri dari tiga elemen
pembentuknya yaitu:
-

Kumpulan unit yang terhubung dengan jalur koneksi. Tiap jalur


mempunyai bobot yang berbeda-beda. Bobot positif akan
memperkuat sinyal sedangkan bobot negatif akan memperlemah
sinyal.

Suatu unit penjumlah akan menjumlahkan input-input sinyal yang


sudah dikalikan dengan bobotnya.

Fungsi aktivasi yang menentukan keluaran dari sebuah neuron.

2. Jaringan
Jaringan merupakan kumpulan dari neuron-neuron yang saling terkoneksi
dan membentuk lapisan atau layer.
3. Input atau masukan
Nilai input yaitu variabel yang berkorespondensi dengan sebuah atribut
tunggal dari sebuah pola atau data lain dari dunia luar. Sinyal-sinyal input
ini kemudian diteruskan ke lapisan selanjutnya.
4. Output atau keluaran
Nilai output adalah hasil pemahaman jaringan terhadap data input. Tujuan
dari pembangunan NN sendiri untuk mengetahui nilai keluaran.
5. Hidden layer atau lapisan tersembunyi
Hidden layer adalah lapisan yang tidak secara langsung berinteraksi dengan
dunia luar. Lapisan ini memperluas kemampuan dari Neural Network dalam
menghadapi masalah-masalah yang kompleks dan juga variabel-variabel
yang banyak.

Universitas Indonesia

26

6. Bobot
Bobot adalah nilai sitematis dari koneksi yang mentransfer data dari suatu
lapisan ke lapisan lainnya. Bobot digunakan untuk mengatur jaringan agar
ia dapat belajar sehingga NN dapat menghasilkan nilai output yang
diinginkan.

Gambar 2.8 Komponen dan fungsi pada Neural Network [7]

2.6.

Neural Network Backpropagation


Neural Network Backpropagation merupakan suatu algoritma pelatihan

untuk memperkecil nilai error dengan melakukan penyesuaian bobot berdasarkan


perbedaan ouput dan target yang diinginkan [7]. Backpropagation sendiri
merupakan pengembangan dari arsitektur Single Layer Neural Network. Arsitektur
ini terdiri dari input layer, hidden layer, dan output layer dimana setiap lapisan
terdiri dari satu atau lebih artificial neuron. Nama umum dari arsitektur ini adalah
Multilayer Neural Network. Backpropagation memiliki beberapa unit yang berada
di dalam satu atau lebih hidden layer.
Variabel vij merupakan bobot garis dari unit masukan xi ke unit lapisan
tersembunyi zj. Variabel vj0 merupakan bobot garis yang menghubungkan bias di
unit masukan ke unit lapisan tersembunyi zj. Variabel wkl merupakan bobot dari unit
lapisan tersembunyi zj ke unit keluaran yk. Variabel wk0 merupakan bobot dari bias
di lapisan tersembunyi ke unit keluaran yk [8].

Universitas Indonesia

27

Gambar 2.9 Arsitektur Neural Network Backpropagation [7]

Adapun algoritma pelatihan Neural Network backpropagation adalah


sebagai berikut [7]:
1. Inisialisasi bobot awal.
2. Tentukan nilai error dan atau maksimal epoch untuk uji kondisi proses
pembelajaran berhenti.
3. Lakukan langkah ke-4 dan ke-5 untuk tiap pola pembelajaran.
4. Lakukan langkah fase maju (feedforward):
a. Setiap unit input (Xi, i=1,2,3,,n) menerima sinyal xi dan
meneruskan sinyal tersebut ke semua unit pada lapisan tersembunyi.
b. Setiap unit tersembunyi (Zj, j=1,2,3,,p) menjumlahkan sinyalsinyal input terbobot:
= + =1

(2.56)

lalu hitung sinyal output dengan fungsi aktivasi:


= ( )

(2.57)

dan kirim sinyal tersebut ke semua lapisan output.

Universitas Indonesia

28

c. Setiap unit output (Yk, k=1,2,3,,m) menjumlahkan sinyal-sinyal


input terbobot:
= + =1

(2.58)

lalu hitung sinyal output menggunakan fungsi aktivasi:


= ( )

(2.59)

5. Lakukan langkah komputasi backpropagation:


a. Setiap unit ouput (Yk, k=1,2,3,,m) menerima pola target yang
terkait dengan pola input pembelajaran, lalu hitung informasi errornya:
= ( )( )

(2.60)

lalu hitung koreksi bobot untuk memperbaiki bobot :


=

(2.61)

Universitas Indonesia

BAB 3
PROFIL SISTEM INTERKONEKSI JAWA BALI DAN PROYEK
35.000 MW
3.1.

Gambaran Umum
Operasi Sistem Interkoneksi Jawa Bali pada sistem tegangan ekstra tinggi

dan tegangan tinggi dikelola oleh PT PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat Pengatur
Beban Jawa Bali (PLN P3B Jawa Bali). Namun, saat ini Struktur organisasi PT.
PLN (Persero) P3B Jawa Bali dibagi menjadi empat bagian, yaitu unit P2B dan 3
(tiga) Unit Transmisi masing-masing yaitu Unit Transmisi Jawa Bagian Barat,
Tengah dan Timur. Sistem Interkoneksi Jawa Bali terhubung satu sama lain melalui
saluran transmisi 500 kV, 150 kV, dan 70 kV.

Gambar 3.1 Topologi Sistem Interkoneksi Jawa Bali

Sistem interkoneksi memungkinkan adanya transfer antar area, sehingga


kekurangan daya di suatu area akan dapat dipenuhi oleh area lain melalui jaringan
interkoneksi. Sistem interkoneksi ini juga membuat setiap kejadian apapun pada
salah satu komponen di Sistem Interkoneksi akan berpengaruh pada keseluruhan
sistem. Operasi Sistem Jawa Bali dibagi menjadi dua hirarki [9]:
a. Hirarki pertama adalah Java Control Centre (JCC) di bawah Badan Operasi
Sistem (BOPS) yang berada di Gandul, Depok sebagai pengendali sistem

Universitas Indonesia

30

Jawa Bali yang bertanggungjawab terhadap manajemen energi serta


pengendalian operasi sistem penyaluran 500 kV.
b. Hirarki kedua adalah empat Regional Control Centre di masing-masing
region: RCC Cawang untuk Region/Area 1, RCC Cigelereng untuk
Region/Area 2, RCC Ungaran untuk Region/Area 3 serta RCC Waru untuk
Region/Area 4. Khusus untuk wilayah Bali dikendalikan oleh Sub-Region
Control Centre Bali di Denpasar yang secara teknis berfungsi sebagai
region sendiri tetapi secara administratif di bawah Region 4. RCC dan SubRCC bertanggungjawab terhadap pengendalian jaringan 150 kV dan 70 kV
di wilayah kerjanya serta meneruskan perintah JCC ke unit pembangkit
yang beroperasi di sistem 150 kV dan 70 kV.
3.2.

Profil Sistem Tenaga Jawa Bali [1]

3.2.1. Sistem Pembangkitan


Daya Mampu Netto (DMN) pembangkit adalah daya mampu maksimum
netto pembangkit yang memasok sistem (setelah dikurangi pemakaian sendiri dan
lainnya), sesuai dengan kontrak jual-beli. DMN Sistem Jawa Bali yang beroperasi
hingga akhir 2014 adalah 31.377 MW, bertambah 1.282 MW (4,26%) dibanding
2013. Penambahan ini terdiri dari 7 unit baru yang masuk ke jaringan sistem Jawa
Bali yaitu PLTU Pelabuhan Ratu #2 - #3 (UPJB), PLTU Tanjung Awar-awar #1
(UPJB), 2 unit PLTD F Pesanggaran (IP Sewa), 1 unit PLTDE Pesanggaran (IP
Sewa), dan PLTP Patuha (IPP). Selain unit-unit tersebut, ada 1 unit eksisting yang
kembali operasi yaitu PLTGU Tambaklorok #2.3. Pada tahun ini ada unit-unit
pembangkit yang terlambat operasi komersil dari jadwal Rencana Operasi Tahunan
(ROT) 2014 yaitu PLTU Tanjung Awar-awar #2, PLTU Adipala dan PLTMG Bali
Pesanggaran.
Tabel 3.1 Kapasitas terpasang pembangkit Jawa Bali [1]

Universitas Indonesia

31

3.2.2. Karakteristik Beban dan Beban Puncak


Karakteristik beban harian sistem Jawa Bali 2014 hampir tidak berubah
dibanding dengan karakteristik beban tahun-tahun sebelumnya, baik karakteristik
beban hari kerja maupun hari libur/Minggu. Pada hari kerja yakni Senin sampai
Jumat langgam beban seperti Gambar 2.4(b). Beban puncak siang tertinggi 22.915
MW yang terjadi pada 21 Oktober 2014 13:30 WIB, sedangkan beban puncak
malam 23.900 MW yang terjadi pada 21 Oktober 2014 18:00 WIB. Kebutuhan
MVar sistem Jawa Bali tertinggi mencapai 8.390 MVar terjadi pada pukul 14:00,
dengan kebutuhan MVar rata-rata hari kerja sebesar 5.800 MVar.
Hari Libur (Sabtu dan Minggu), sebagian konsumen PLN kelompok industri
dan bisnis tidak menggunakan energi listrik sehingga pada hari sabtu lebih rendah
rata-rata sekitar 1.500 MW dan hari Minggu 3.000 MW dibanding beban puncak
hari kerja. Beban sistem hari Sabtu tertinggi tercatat sebesar 22.003 MW pada 18
Oktober 2014 18:00 WIB dan hari Minggu tertinggi tercatat sebesar 21.052 MW
pada 19 Oktober 2013 18:30 WIB.
30000

23.900

25000

MW

20000

15000

9.509

10000

4.961 4.886

5000

3.665
759
0

Sistem Jawa Bali

APB Jakarta & Banten

APB Jawa Barat

APB Jawa tengah

APB Jawa Timur

APB Bali

Gambar 3.2 Langgam beban harian APB 2014 [13]

Universitas Indonesia

32

30000

23.900

25000

MW

20000

2.2003

15000

21.052

8.390

10000
5000

0:30
1:30
2:30
3:30
4:30
5:30
6:30
7:30
8:30
9:30
10:30
11:30
12:30
13:30
14:30
15:30
16:30
17:30
18:30
19:30
20:30
21:30
22:30
23:30

Hari Kerja SJB

Sabtu, 18 Okt 2014

Minggu, 19 Okt 2014

MVar

Gambar 3.3 Langgam beban harian Sistem Jawa Bali 2014 [13]

Pertumbuhan beban puncak sistem Jawa Bali dalam 5 (lima) tahun terakhir
dapat dilihat pada Tabel 3.2. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa beban puncak
tumbuh relatif rendah, yaitu rata-rata 6,2%, dengan load factor cenderung
meningkat. Hal ini dicerminkan juga oleh pertumbuhan energi yang relatif tinggi,
yaitu rata-rata 7,1%. Perbaikan load factor terjadi karena adanya kebijakan
pembatasan penggunaan daya pada saat beban puncak pada konsumen besar dan
penerapan tarif multiguna untuk mengendalikan pelanggan baru.
Berdasarkan Laporan Evaluasi P3B Jawa Bali 2014, beban puncak Sistem
Jawa Bali tahun 2014 mencapai 23.900 MW, dimana kontribusi terbesar adalah
APB Jakarta & Banten yang melayani seluruh konsumen Distribusi Jaya &
Tangerang dan sebagian konsumen Distribusi Jawa Barat mencapai 41% atau 9.710
MW. Urutan kedua adalah beban APB Jawa Timur dan APB Jawa Barat masingmasing 21% diikuti oleh APB Jawa Tengah dan DIY sebesar 15% dan APB Bali
sebesar 3%.

Universitas Indonesia

33

Untuk pertumbuhan beban puncak dari masing-masing APB (beban puncak


Diversity) dapat dilihat pada Tabel 3.3. Pertumbuhan tertinggi dicapai APB Bali
yaitu 8,20%, kemudian dibawahnya adalah APB Jawa Barat 7,55%, APB Jawa
Tengah & DIY 7,45%, APB Jawa Timur 6,04% dan APB Jakarta & Banten 3,19%.
Tabel 3.3 Pertumbuhan beban puncak sistem Jawa Bali tahun 2009-2014 [1]

Tabel 3.2 Beban puncak diversity dan coincident [13]


Beban Diversity
Area

2013

Beban Coincident
2014

2014

MW

Tumbuh

MW

Tumbuh

MW

Kontribusi

APB DKI & JKB

9.642

4,33%

9.950

3,19%

9.558

40,40%

APB Jabar

4.708

8,01%

5.037

7,55%

4.986

20,70%

APB Jateng

3.503

6,90%

3.764

7,45%

3.684

15,20%

APB Jatim

4.711

4,36%

4.995

6,04%

4.910

20,70%

722

9,06%

781

8,20%

763

3,00%

22.567

6,26%

23.900

5,91%

23.900

100%

APB Bali
Sistem

3.2.3. Sistem Transmisi


Perkembangan kapasitas trafo gardu induk dan sarana penyaluran sistem
Jawa Bali untuk 5 tahun terakhir ditunjukkan pada Tabel 3.5 dan Tabel 3.6. Dari
Tabel 3.5 dapat dilihat bahwa panjang saluran transmisi 70 kV tidak bertambah,
bahkan sedikit berkurang karena ditingkatkan (uprated) menjadi 150 kV guna
meningkatkan kapasitas, keandalan dan perbaikan kualitas pelayanan ke konsumen.
Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas trafo interbus (IBT) da trafo
GI per sistem tegangan 500 kV, 150 kV dan 70 kV dalam kurun waktu 5 tahun
terakhir diperlihatkan pada Tabel 3.5.

Universitas Indonesia

34

Tabel 3.5 Perkembangan saluran transmisi Sistem Jawa Bali [1]

Tabel 3.4 Perkembangan gardu Sistem Jawa Bali [1]

3.3.

Proyek 35.000 MW
Upaya-upaya jangka menengah tahun 2015-2019 yang harus segera

dilaksanakan atau diselesaikan pada sistem Jawa-Bali meliputi penambahan


pembangkit sebesar 19,5 GW, pembangunan GITET 500 kV 30.500 MVA, SUTET
500 kV 2.700 kms, GI 150 kV 32.900 MVA dan transmisi 150 kV 8.600 kms. Selain
penambahan pada periode yang sama, Sistem Jawa Bali juga mendapat
penambahan pasokan pembangkit yang berasal dari program FTP-2 yang belum
selesai pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
3.3.1. Sistem Pembangkitan
Dalam upaya menjaga reserve margin tahun 2015-2017 yang di bawah 30%
tidak makin menipis, diperlukan percepatan pembangunan pembangkit sebagai
berikut:
1. Mempercepat penyelesaian pembangunan PLTU Adipala (660 MW),
PLTMG Peaker Pesanggaran (200 MW), PLTU Celukan Bawang (380
MW), PLTU Cilacap ekspansi (614 MW), PLTU Tanjung Awar-Awar unit2 (350 MW) dan PLTU Banten (625 MW) yang diharapkan dapat beroperasi
tahun 2015/2016.
2. Mempercepat pembangunan PLTGU Muara Tawar Add-on (650 MW),
PLTGU Grati Add-on (150 MW), PLTGU Peaker Grati (450 MW), PLTGU

Universitas Indonesia

35

Peaker Muara Karang (500 MW), PLTGU/MG Peaker Jawa-Bali 1 (400


MW) indikasi lokasi Sunyaragi, PLTGU/MG Peaker Jawa-Bali 2 (500 MW)
indikasi lokasi Perak, PLTGU Peaker Jawa-Bali 3 (500 MW) indikasi lokasi
di Provinsi Banten dan PLTGU/MG Peaker Jawa-Bali 4 (450 MW) indikasi
lokasi di Provinsi Jawa Barat, yang diharapkan dapat beroperasi tahun
2016/2017.
3. Untuk menjaga reserve margin sesuai kriteria pada tahun 2018-2019,
diperlukan percepatan pembangunan pembangkit sebagai berikut:
4. Mempercepat pembangunan PLTGU Load Follower Jawa-1 (2x800 MW)
lokasi di Provinsi Jawa Barat dengan koneksi ke GITET Muara Tawar atau
GITET Cibatu Baru, PLTGU Load Follower Jawa-2 (1x800 MW) lokasi
Priok, PLTGU Load Follower Jawa-3 (1x800 MW) lokasi Gresik, PLTU
Lontar expansi (315 MW), PLTU Jawa-8 (1.000 MW) indikasi lokasi di
Provinsi Jawa Tengah dan PLTU Jawa-9 (600 MW) indikasi lokasi di
Provinsi Banten, yang diharapkan dapat beroperasi tahun 201
5. Mempercepat pembangunan PLTU Indramayu-4 (1.000 MW), PLTA
Upper Cisokan (1.040 MW), PLTU Jawa Tengah (2x950 MW), PLTA
Jatigede (110 MW), PLTU Jawa-1 (1.000 MW), PLTU Jawa-4 (2x1.000
MW), PLTU Jawa-5 (2x1.000 MW), PLTU Jawa-7 (2x1.000 MW), PLTU
Jawa-10 (660 MW) yang diharapkan dapat beroperasi tahun 2019.
Tabel 3.6 Proyek Pembangkit 35.000 MW pada Sistem Jawa Bali [10]
Tahun

2015

No

Pembangkit

PLTU Adipala

Kapasitas
(MW)
660

PLTU Cilacap

614

PLTU Pasanggarahan

200

PLTU Celukan Bawang

380

Total

2016

PLTU Banten

625

PLTU Grati

450

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 4

450

Total

2017

1854

1525

PLTGU Peaker Muara Karang

500

PLTGU Peaker Muara Tawar Add-on Blok 2,3,4

1950

10

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 1

400

11

PLTA Rajamandala

47

Universitas Indonesia

36

12

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 2

500

13

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 3

500

Total

2018

14

PLTU Jawa 9 600 MW

600

15

PLTU Lontar Exp 4 315 MW

315

16

PLTGU Jawa 2 800 MW

800

17

PLTU Jawa 8 1000 MW

1.000

18

PLTGU Jawa 3 800 MW

800

19

PLTU Jawa 7

2.000

20

PLTU Jawa 5

2.000

21

Upper Cisokan

1.040

22

PLTU Jawa Tengah

2.000

23

PLTU Jawa 1

1.000

24

PLTU Indramayu #4

1.000

25

PLTU Jawa 10

600

26

PLTU Jawa 4

Total

2019

3.897

Total
Jumlah

3.515

2.000
11.640
22.431

3.3.2. Sistem Transmisi dan Gardu


Dalam meningkatkan kehandalan operasi Sistem Interkoneksi Jawa Bali,
diperlukan perkuatan SUTET dan GITET 500 kV untuk evakuasi daya dari
pembangkit pembangkit skala besar yang terhubung ke sistem 500 KV sebagai
berikut:
1. Mempercepat penyelesaian pembangunan SUTET 500 kV dari PLTU
Cilacap PLTU Adipala Rawalo/Kesugihan, untuk evakuasi daya dari
PLTU Cilacap ekspansi dan PLTU Adipala, diharapkan dapat beroperasi
tahun 2015.
2. Mempercepat pembangunan looping SUTET 500 kV Kembangan Duri
Kosambi Muara Karang Priok Muara Tawar dan GITET 500 kV
terkaitnya. SUTET ini diperlukan untuk evakuasi daya dari PLTGU Jawa1, PLTGU Jawa-2 dan PLTU Jawa-12, diharapkan dapat beroperasi tahun
2018.
3. Mempercepat pelaksanaan rekonduktoring SUTET 500 kV Suralaya Baru
Bojanegara - Balaraja, dan pembangunan SUTET 500 kV Balaraja

Universitas Indonesia

37

Kembangan untuk evakuasi daya PLTU Jawa-5, PLTU Jawa-7 dan PLTU
Jawa-9, diharapkan dapat beroperasi tahun 2019.
4. Mempercepat pembangunan SUTET 500 KV Tanjung Jati B Tx Ungaran,
sirkit ke-2 Tx Ungaran Pedan, sirkit 2-3 (rekonfigurasi sirkit 1 menjadi 2
sirkit) ruas Mandirancan Bandung Selatan dan Bandung Selatan incomer
(Tasik Depok) untuk evakuasi daya PLTU Jawa-1, PLTU Jawa Tengah
dan PLTU Jawa-4, diharapkan dapat beroperasi tahun 2019.
5. Mempercepat pembangunan SUTET 500 kV PLTU Indramayu Delta Mas
dan GITET baru Delta Mas, untuk evakuasi daya dari PLTU Indramayu-4,
diharapkan dapat beroperasi tahun 2019.
6. Mempercepat pembangunan GITET/IBT baru yaitu: GITET Lengkong,
GITET Cawang Baru, GITET Cibatu Baru, GITET Tambun, GITET Delta
Mas, GITET Cikalong, GITET Ampel, GITET Surabaya Selatan termasuk
SUTET Grati Surabaya Selatan, GITET Pemalang dan beberapa tambahan
IBT di GITET eksisting.
7. Rekonfigurasi SUTET Muara Tawar Cibinong Bekasi Cawang.
8. Penguatan pasokan lainnya terdiri dari beberapa program, yaitu:

Mempercepat pembangunan transmisi interkoneksi HVDC 500 kV


Sumatera-Jawa untuk menyalurkan daya dari PLTU mulut tambang di
Sumsel sebesar 3.000 MW pada tahun 2019.

Mempercepat pembangunan Jawa Bali Crossing 500 kV dari PLTU


Paiton ke New Antosari (tahun 2018) dan GITET Antosari, untuk
memperkuat pasokan ke sistem Bali

Mempercepat pembangunan sirkit 3-4 SUTET 500 kV Tx Ungaran


Pemalang Mandirancan Indramayu Delta Mas.
Tabel 3.7 Proyek SUTET 500 KV dan GITET untuk
evakuasi Proyek Pembangkit 35.000 MW [10]

Tahun

2015

SUTET
Dari

Ke

GITET (500 MVA)

Unit

Bojanegara

Balaraja Baru

Cilacap Exp

Suralaya Baru

Bojanegara

PLTU Adipala

Bekasi

Tx. Mtawar-Cibinong

Kesugihan

Kesugihan

PLTU Adipala

Surabaya Selatan

PLTU Cilacap

Adipala

Universitas Indonesia

38

2016

2017

2018

2019

Surabaya Selatan

Grati

PLTU Banten

Suralaya Baru-Balaraja

Tanjung Jati B

Tx Ungaran

Lengkong

PLTU Banten

Inc (Blrja-Gandul)

Lengkong

Balaraja

Kembangan

Duri Kosambi

Cawang Baru (GIS)

Gandul

Cawang Baru

Kembangan

Duri Kosambi (GIS)

Muara Tawar

Tx Kembangan

Duri Kosambi (GIS)

Tambun

Mandirancan

Bandung Selatan

Cibatu Baru

Tambun

Inc (Bekasi-Cibinong)

Delta Mas

Cibatu Baru

Inc (Cibatu-Cirata)

Ampel

Delta Mas

Inc (Cibatu-Cirata)

Bangil

Ampel

Inc (Ungaran-Pedan)

Bangil

Inc (Paiton-Kediri)

Priok

Muara Tawar

Muara Karang

Priok

jati

Priok

Cikalong
PLTU Cilacap (Jawa
8)
Paiton

Dbphi (BogorX-Tasik)

Cikalong

Inc (Paiton-Kediri)

Pemalang

Watu Dodol

Tandes

Watu Dodol

Segararupek

New Antasari

Gilimanuk

New Antosari

Segararupek

Gilimanuk

Upper Cisokan

Incomer (Cibing-Saglng)

PLTU Jawa 1

Mandiracan

Bogor X dan Converter


St
PLTU Jawa 7

Indramayu

Cibatu

Upper Cisokan

PLTU Jateng

Pemalang

PLTU Indramayu

PLTU Jawa 7

Inc (PLTU Banten-Balaraja)

PLTU Jateng

Tpcut

Ketapang

Bogor X

Inc (Depok-Tasik)

Bogor X

Inc (Cilegon-Cibinong)

Bogor X

Tpcut
Total

2
0

16.500
MVA

Universitas Indonesia

BAB 4
ANALISIS ALIRAN DAYA
4.1.

Perencanaan Ekspansi Sistem Interkoneksi Jawa Bali


Pada perencanaan Sistem Tenaga Listrik pada umumnya dilakukan

langkah-langkah sebagai berikut:


1. Prakiraan kebutuhan demand listrik
Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat prakiraan permintaan
demand listrik atau peramalan beban. Beberapa metode telah dikembangkan
untuk mendapatkan peramalan beban yang akurat. Pada penelitian ini,
digunakan metode Neural Network untuk memperoleh beban puncak per
tahun.
2. Analisis karakteristik beban
Pada Sistem Interkoneksi Jawa Bali, terdapat empat Area/Region dengan
karakteristik beban yang berbeda-beda dimana setiap Area/Region
mempunyai kebutuhan demand listrik yang berbeda-beda. Pada wilayah
Jawa bagian barat mempunyai margin antara kapasitas pembangkit dengan
beban puncak yang lebih rendah dibandingkan dengan wilayah Jawa bagian
timur sehingga terjadi transfer daya dari wilayah timur ke barat.
3. Perencanaan alokasi pembangkit
Perencanaan alokasi pembangkit dilakukan berdasarkan karakteristik beban
pada masing-masing Area/Region. Kapasitas pembangkit yang akan masuk
ke dalam sistem tentu harus lebih besar dari kebutuhan pada sistem itu
sendiri.
4. Analisis lokasi pembangkit
Penentuan lokasi pembangkit sebaiknya memenuhi prinsip keseimbangan
regional. Sehingga transfer daya dari wilayah timur ke barat yang selama
ini terjadi di Sistem Jawa Bali dapat diminimalisir.
5. Perencanaan alokasi sistem transmisi
Pengembangan kapasitas pembangkit tentu harus diikuti dengan
pengambangan sistem transmisinya agar daya dihasilkan pembangkit
mampu disalurkan dengan optimal dan tidak terjadi bootleneck pada sistem

Universitas Indonesia

40

transmisi. Ekspansi sistem transmisi berupa penambahan jalur SUTET 500


kV dan GITET.
6. Analisis kehandalan sistem setelah ekspansi
Sistem tenaga setelah dilakukan ekspansi tentu harus memiliki kinerja yang
lebih baik. Oleh karena itu perlu adanya analisis kehandalan sistem untuk
mengetahui pengaruh ekspansi sistem tenaga. Pada penelitian ini,
kehandalan Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali diketahui dengan
melakukan analisis aliran daya.
Prakiraan Kebutuhan Demand Listrik

Analisa Karakteristik Beban

Perencanaan Alokasi Pembangkit

Analisis Lokasi Pembangkit

Perencanaan Alokasi Sistem Transmisi

Analisis Kehandalan Sistem Setelah Ekspansi


Gambar 4.1 Langkah-langkah perencanaan Sistem Tenaga Listrik

4.2.

Peramalan Beban Puncak Sistem Interkoneksi Jawa Bali


Berdasarkan ketersediaan data dan hubungan antara data input dengan

output maka penulis menentukan lima parameter input yaitu Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB), jumlah penduduk, energi terjual pelanggan rumah tangga,
industri dan bisnis sedangkan output berupa beban puncak pada masing-masing
Area/Region Jawa Bali. Penulis mencari data historis aktual dari tahun 2008-2013
yang digunakan untuk keperluan training Neural Network.

Universitas Indonesia

41

Training tersebut dilakukan untuk mencari nilai bobot dan bias yang tepat
pada jaringan sehingga diperoleh peramalan beban puncak yang akurat. Secara
singkat, pencarian data yang dilakukan meliputi:
1. Jumlah Penduduk
Data jumlah penduduk per tahun diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Semakin banyak jumlah penduduk, semakin besar pula konsumsi energi
listrik sehinggga semakin besar pula beban puncak PLN. Begitu pula
sebaliknya, sehingga jumlah penduduk mempengaruhi beban puncak PLN.
2. Energi Terjual
Energi yang terjual kepada pelanggan, adalah energi (kWh) yang terjual
kepada pelanggan TT (tegangan tinggi), TM (tegangan menengah) dan TR
(tegangan rendah) sesuai dengan jumlah kWh yang dibuat rekening (TUL
III-09). Energi terjual pada pelanggan PLN setiap tahun dapat dibagi
menjadi empat kategori yakni pelanggan rumah tangga, pelanggan
komersial, pelanggan bisnis, dan pelanggan industri. Data energi terjual
setiap kategori pelanggan pada masing-maing area pada Sistem
Interkoneksi Jawa Bali diperoleh dari Buku Statistik PLN.
3. PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)
Menurut situs resmi Bada Pusat Statistik, PDRB adalah total pendapatan
yang diterima oleh faktor-faktor produksi dalam kegiatan proses produksi
di suatu negara selama satu periode setahun. Adanya dinamika masyarakat,
terutama perubahan ekonomi makro sangat berpengaruh dalam perubahan
tingkat kebutuhan akan tenaga listrik.
4. Beban Puncak
Data beban puncak pada masing-masing area pada Sistem Interkoneksi
Jawa Bali digunakan sebagai ouput pada program NN yang digunakan. Data
beban puncak per tahun per area dari tahun 2008-2014 diperoleh Laporan
Evaluasi Tahunan P3B Jawa Bali.
Simulasi peramalan beban dengan Neural Network dilakukan dengan
menggunakan program MATLAB R2013 melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menyusun Training Set Data (TSD), sebagaimana tersaji dalam

Universitas Indonesia

42

2. Membuat jaringan (Network), disain JST dibuat dengan empat buah layer,
dimana pada lapisan pertama yaitu input layer terdapat lima neuron, layer
kedua dan layer ketiga merupakan hidden layer yang masing-masing terdiri
dari sepuluh neuron dan lima neuron serta layer keempat yaitu output layer
yang terdiri dari satu neuron.
3. Melakukan pembelajaran jaringan. Selama pembelajaran dalam simulasi,
JST terus merubah nilai bobot (weight) sampai nilai error yang dihasilkan
kurang atau sama dengan 5x10-4 dengan seting epochs sebesar 10000.
4. Melakukan simulasi peramalan beban menggunakan JST dengan inputan
baru, dimana inputan baru tersebut merupakan data proyeksi dari 5 faktor
yang berpengaruh dalam ramalan beban mulai tahun 2014 sampai dengan
2019.
5. Mencari ramalan beban puncak tahun 2014 yang mendekati dengan nilai
realisasi beban puncak tahun 2014 untuk validasi peramalan beban puncak
tahun 2015-2019 dengan nilai error 5%.
6. Jika validasi peramalan tidak sesuai dengan error yang ditentukan, maka
langkah ke-3 kembali dilakukan.
7. Diperolehnya hasil keluaran peramalan beban puncak Sistem jawa Bali
tahun 2015-2019.

Universitas Indonesia

43

Gambar 4.2 Diagram alir peramalan beban puncak Sistem Jawa Bali tahun 2015-2019

Universitas Indonesia

44

Tabel 4.1 Data training Neural Network Area 1 [11] [12] [13]
Satuan

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Triliun

0,433424

0,454923

0,484175

0,51644

0,549798

0,58314

Data Masukan
PDB (1000 Rupiah)
Jumlah Penduduk (100 Jiwa)
Energi Terjual Rumah Tangga
(100,000)

Juta

0,180984

0,184036

0,187147

0,19032

0,193548

0,19684

GWh

0,107765

0,1161

0,12508

0,13299

0,14404

0,15069

Energi Terjual Industri (100,000)

GWh

0,113417

0,12987

0,14871

0,15793

0,16968

0,18243

Energi Terual Bisnis (100,000)

GWh

0,089455

0,09604

0,10311

0,10882

0,11885

0,12872

MW

0,694

0,7536

0,7846

0,8436

0,9242

0,9642

Data Target
Beban Puncak (10,000)

Tabel 4.2 Data training Neural Network Area 2 [11] [12] [13]
Satuan

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Triliun

0,291206

0,303405

0,322224

0,343194

0,364752

0,38684

Data Masukan
PDB (1000 Rupiah)
Jumlah Penduduk (100 Jiwa)
Energi Terjual Rumah Tangga
(100,000)

Juta

0,390398

0,396567

0,402832

0,409197

0,415663

0,42223

GWh

0,098978

0,10723

0,11617

0,12552

0,13627

0,14486

Energi Terjual Industri (100,000)

GWh

0,130714

0,14336

0,15723

0,1705

0,18534

0,19879

Energi Terjual Bisnis (100,000)

GWh

0,021174

0,02463

0,02865

0,03398

0,03798

0,04298

MW

0,3324

0,3544

0,3753

0,408

0,4359

0,4683

Data Target
Beban Puncak (10,000)

Tabel 4.3 Data training Neural Network Area 3 [11] [12] [13]
Satuan

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Triliun

0,18725

0,19674

0,20804

0,2204

0,23416

0,24767

Data Masukan
PDB (1000 Rupiah)
Jumlah Penduduk (100 Jiwa)
Energi Terjual Rumah Tangga
(100,000)

Juta

0,18098

0,18404

0,18715

0,19032

0,19355

0,19684

GWh

0,06897

0,07357

0,07848

0,08359

0,09041

0,09751

Energi Terjual Industri (100,000)

GWh

0,04371

0,04716

0,05088

0,05429

0,05948

0,067

Energi Terual Bisnis (100,000)

GWh

0,01739

0,01874

0,0202

0,0211

0,02276

0,02492

MW

0,257

0,277

0,289

0,3021

0,3277

0,3503

Data Target
Beban Puncak (10,000)

Tabel 4.4 Data training Neural Network Area 4 [11] [12] [13]
Satuan

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Triliun

0,331449

0,34815

0,37116

0,39774

0,42647

0,444

0,4206

0,42416

0,42777

0,43141

Data Masukan
PDB (1000 Rupiah)
Jumlah Penduduk (100 Jiwa)
Energi Terjual Rumah Tangga
(100,000)

Juta

0,413591

0,41707

GWh

0,088852

0,09298

0,0973

0,10504

0,11429

0,1225

Energi Terjual Industri (100,000)

GWh

0,082809

0,09079

0,09954

0,10725

0,1242

0,12884

Energi Terual Bisnis (100,000)

GWh

0,037561

0,04038

0,04341

0,04412

0,04885

0,05656

MW

0,3817

0,3968

0,4287

0,4514

0,4691

0,4711

Data Target
Beban Puncak (10,000)

Universitas Indonesia

45

Berdasarkan peramalan beban puncak menggunakan Neural Network,


diperoleh proyeksi beban puncak Sistem Jawa Bali tahun 2015-2019 seperti yang
dapat dilihat pada Tabel 4.5. Beban puncak Sistem Jawa Bali pada tahun 2015-2019
secara berturut-turut sebesar 25.638 MW; 27.421 MW; 29.371 MW; 31.503 MW;
33.834 MW. Sehingga selama lima tahun ke depan (2015-2019) dibutuhkan
pasokan daya tambahan sebesar 10.088 MW.
Jika merunut ke belakang, pertumbuhan realisasi beban puncak tahun 20082014 secara rata-rata sebesar 5,75% per tahun. Sementara itu, pertumbuhan
proyeksi beban puncak Sistem Jawa Bali tahun 2015-2019 secara rata-rata sebesar
7,49% per tahun. Hal tersebut dapat terjadi karena realisasi pertumbuhan ekonomi
tahun 2008-2014 secara rata-rata sebesar 5,7% per tahun sedangkan menurut Buku
RUPTL 2015-2024, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015-2019 mencapai
6,7% per tahun.

Area

Tabel 4.5 Beban puncak realisasi vs peramalan menggunakan Neural Network


Beban Puncak (MW)
Realisasi

Ramalan

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

6.940

7.536

7.846

8.436

9.242

9.642

9.950

10.637

11.355

12.127

12.956

13.848

II

3.324

3.544

3.753

4.080

4.359

4.683

5.037

5.668,6

6.093,4

6.556,6

7.062,4

7.615,3

III

2.570

2.770

2.890

3.021

3.277

3.503

3.764

4.029

4.334,8

4.685,5

5.085,5

5.539,5

IV

3.817

3.968

4.287

4.514

4.691

4.711

4.995

5.303

5.638

6.002,5

6.399,4

6.831,9

Total

16.651

17.818

18.776

20.051

21.569

22.539

23.746

25.638

27.421

29.371

31.503

33.834

4.3.

Perancangan Skenario Pembangkit


Pada tesis ini, penambahan kapasitas Pembangkit Tenaga Listrik, Saluran

Transmisi maupun Gardu Induk pada Sistem Interkoneksi Jawa Bali 500 kV
melalui proyek 35.000 MW dibagi menjadi dua skenario yaitu:
1. Skenario 1
Seluruh pembangkit yang direncanakan sesuai proyek 35.000 MW masuk
ke dalam Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali.
2. Skenario 2

Universitas Indonesia

46

Pembangkit yang masuk ke dalam Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali


disesuaikan berdasarkan kebutuhan beban puncak per tahun agar tidak
terjadi defisit daya dimana daya yang dibutuhkan lebih besar dibanding
pembangkit yang masuk ke dalam Sistem Jawa Bali.
Sebagai dasar penentuan pembangkit mana saja yang masuk ke dalam
Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali pada Skenario 2, yaitu menggunakan prinsip
keseimbangan supply dan demand dari masing-masing Region/Area agar kinerja
sistem lebih handal dan efisien. Pada Tabel 4.6 memberikan informasi mengenai
kebutuhan beban pada masing-masing Area/Region serta alokasi daya minimum
dan maksimum.
Alokasi daya minimum artinya kapasitas pembangkit yang dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan beban Sistem Jawa Bali dengan reverse margin sebesar
25% atau kondisi minimum pembangkit yang masuk ke dalam sistem secara total
selama periode 2015-2019 adalah 12.610 MW, dimana cadangan daya sebesar
2.522 MW. Alokasi daya maksimum artinya kapasitas pembangkit yang dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan beban Sistem Jawa Bali dengan reverse margin sebesar
35% atau kondisi maksimum pembangkit yang masuk ke dalam sistem secara total
selama periode 2015-2019 adalah 13.619 MW, dimana cadangan daya sebesar
2.531 MW.
Pada Tabel 4.7 dapat dilihat daftar proyek pembangkit Skenario 2 yang
masuk pada Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali. Dalam upaya untuk memenuhi
kebutuhan beban per Area/Region selama tahun 2015-2019, pembangkit yang
dialokasikan pada masing-masing Area/Region berturut-turut yakni Area 1 sebesar
4.225 MW dengan kebutuhan beban sebesar 3.989 MW, Area 2 sebesar 3.980 MW
dengan kebutuhan beban sebesar 2.578 MW, Area 3 sebesar 2.274 MW dengan
kebutuhan beban sebesar 1.775 MW, serta Area 4 sebesar 2.750 MW dengan
kebutuhan beban sebesar 1.873 MW. Sehingga dengan total alokasi pembangkit
pada Skenario 2 sebesar 13.229 MW untuk memenuhi kebutuhan beban 10.088
MW dalam periode tahun 2015-2019. Alokasi tersebut memenuhi batasan
minimum dan maksimum alokasi pembangkit sebesar 12.610 MW-13.691 MW.

Universitas Indonesia

47

Tabel 4.6 Kebutuhan beban pada masing-masing Area/Region Sistem Interkoneksi Jawa Bali
Kebutuhan (MW)

Total
(MW)

Tahun
2015
2016
2017
2018
2019
Total
Alokasi
Daya
(MW)

Min
Max

Area 1

Area 2

Area 3

Area 4

687

632

265

308

718

425

306

335

772

463

351

365

830

506

400

397

892

553

454

432

3.898

2.578

1.775

1.837

4.872

3.223

2.219

2.296

5.262

3.481

2.397

2.480

1.892
1.784
1.950
2.132
2.331
10.088
12.610
13.619

Tabel 4.7 Daftar pembangkit pada Skenario 2 beserta margin kapasitas-kebutuhan pada setiap
Area/Region
Area 1
Tahun

2015

Pembangkit

Kapasitas
(MW)

Area 2

Kebutuhan
(MW)

Kapasitas
(MW)

Area 3

Kebutuhan
(MW)

Kapasitas
(MW)

PLTU Adipala

660

PLTU Cilacap

614

PLTU Banten

Area 4

Kebutuhan
(MW)

Total

2016

Total

2017

PLTGU Peaker Muara


Karang
PLTGU Peaker Muara
Tawar Add-on Blok 3,4
PLTGU/MG Peaker
Jawa Bali 1

450
625

687

632

1.274

265

650
450
500

718

1.100

425

306

500

1.300
400

1.100

772

PLTGU Jawa 2

1.300

463

351

400

365

800
1.000

PLTGU Jawa 3

800

Total

1.000

PLTU Jawa 7 #2

1.000

830

800

506

400

800

780

2019
PLTU Jawa 10

335

500

Total

PLTU Jawa Tengah

308

500

600

Upper Cisokan

450

500

PLTU Jawa 9

PLTU Jawa 7 #1

Kebutuhan
(MW)

625

PLTU Grati

PLTGU/MG Peaker
Jawa Bali 3
PLTGU/MG Peaker
Jawa Bali 2
PLTGU Peaker Muara
Tawar Add-on Blok 2
PLTGU/MG Peaker
Jawa Bali 4

Kapasitas
(MW)

1.000
600

Universitas Indonesia

397

48

Total
Jumlah

1.000

892

780

553

1.000

454

600

432

4.225

3.898

3.980

2.578

2.274

1.775

2.750

1.837

Margin Kapasitas-Kebutuhan
(MW)

327

1.402

499

913

Tabel 4.8 Daftar pembangkit Skenario 1 dan Skenario 2


Pembangkit
Tahun

Skenario 1

2015

Kapasitas (MW)

No
Skenario 2

Skenario
2

PLTU Adipala

PLTU Adipala

660

660

PLTU Cilacap

PLTU Cilacap

614

614

PLTU Banten

625

PLTU Grati

450

Total

2016

Skenario
1

1.274

2.349

PLTU Banten

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 3

625

500

PLTU Grati

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 2

450

500

PLTGU/MG Peaker Jawa


Bali 4

PLTGU Peaker Muara Tawar


Add-on Blok 2

450

650

1.525

2.100

500

500

1.950

1.300

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 1

400

400

PLTU Jawa 9

500

600

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 4


Total
8
9
10
2017
11
12

PLTGU Peaker Muara


Karang
PLTGU Peaker Muara
Tawar Add-on Blok 2,3,4
PLTGU/MG Peaker Jawa
Bali 1
PLTGU/MG Peaker Jawa
Bali 2
PLTGU/MG Peaker Jawa
Bali 3

PLTGU Peaker Muara Karang


PLTGU Peaker Muara Tawar
Add-on Blok 3,4

450

3.850

2.800

13

PLTU Jawa 9

PLTGU Jawa 2

600

800

14

PLTGU Jawa 2

PLTU Jawa 8

800

1.000

15

PLTU Jawa 8

PLTGU Jawa 3

1.000

800

16

PLTGU Jawa 3

1.784

1.950

800
Total

2019

1.892

500
Total

2018

Kebutuhan
(MW)

3.200

2.600

17

PLTU Jawa 7

PLTU Jawa 7

2.000

1.000

18

PLTU Jawa 5

Upper Cisokan

2.000

780

19

Upper Cisokan

PLTU Jawa Tengah

1.040

1.000

20

PLTU Jawa Tengah

PLTU Jawa 10

2.000

600

21

PLTU Jawa 1

1.000

22

PLTU Indramayu #4

1.000

23

PLTU Jawa 10

24

PLTU Jawa 4

2.132

600
2.000
Total
Jumlah

11.640

3.380

2.331

21.489

13.229

10.088

Universitas Indonesia

49

Tabel 4.9 Margin antara kebutuhan daya dengan ekspansi pembangkit berdasarkan
Skenario 1 dan Skenario 2

Margin
(MW)

Tahun
Skenario
1
Skenario
2

2015

2016

2017

2018

2019

Total

-618

-259

1.900

1.068

9.309

11.401

457

316

850

468

1.049

3.141

Adapun urutan prosedur dalam pembuatan simulasi pada tesis yaitu:


1. Pengumpulan data-data proyek pembangkit 35.000 MW serta ekspansi
saluran transmisi 500 kV maupun GITET 500 kV yang akan masuk ke
dalam Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali dari tahun 2015-2019.
2. Membuat

proyeksi

beban

puncak

tahunan

pada

masing-masing

Area/Region dari tahun 2015-2019 menggunakan metode Neural Network.


3. Kemudian penulis membuat single line diagram Sistem Interkoneksi 500
kV Jawa Bali menggunakan software ETAP 12.6
4. Penulis memasukkan parameter input dari setiap komponen yang terdapat
pada sistem diantaranya:
a. Generator: rating daya, rating tegangan
b. Transformator: rating daya, tegangan primer, tegangan sekunder,
impedansi
c. Saluran transmisi: panjang saluran, resistansi, reaktansi dan
susceptance
d. Tegangan bus yaitu 500 kV
e. Lumped load sebagai representasi beban yang dipikul oleh IBT
500/150 kV
5. Setelah semua data diinput ke masing-masing komponen, penulis
melakukan run loadlow analysis dengan menggunakan metode Newton
Raphson dengan jumlah iterasi 9999 dan toleransi 0,1%. Mengacu pada
standar SPLN CC2.0:2007 tegangan sistem harus dipertahankan dalam
batasan agar peralatan dapat bekerja dengan optimal [12]. Kondisi tegangan
nominal ekstra tinggi 500 kV yaitu 5% untuk kondisi normal, maka standar
minimum untuk tegangan bus 500 kV yang diizinkan adalah 475 kV (0,95
p.u) dan untuk standar maksimum adalah 525 kV (1.05 p.u). Pada simulasi,
ditentukan tiga kondisi pembebanan pada bus 500 kV yaitu normal (0,98
p.u 1.02 p.u), marginal (0,95 p.u 0,98 p.u atau 1,02 p.u 1,05 p.u), dan

Universitas Indonesia

50

kritis (<0,95 p.u atau >1,05 p.u). Untuk pembebanan saluran transmisi 500
kV mengacu pada Kuat Hantar Arus yang dimiliki masing-masing saluran.
Sementara untuk Trafo IBT diusahakan agar pembebananannya tidak
melebihi 80% dari ratingnya.
6. Setelah simulasi selesai, penulis membandingkan output lodflow analysis
yakni tegangan bus 500 kV, trafo IBT 500/150 kV dan saluran transmisi
apakah sesuai dengan standar.
7. Melakukan evaluasi berupa optimasi aliran daya pada sistem tersebut
berdasarkan tiga parameter yang sudah disebutkan, agar kinerjanya menjadi
lebih baik. Langkah ke-3 hingga ke-8 dilakukan sebanyak empat kali
(sistem pada tahun 2015, 2016, 2017, 2018, dan 2019) sebagai representasi
kondisi Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali pada tahun 2015 hingga
tahun 2019.
Beberapa proyek pembangkit belum mendapatkan kepastian mengenai
lokasi pembangkit tersebut. PLN sendiri menyerahkan keputusan mengenai lokasi
pembangkit kepada pemenan tender atau lelang. Sehingga penulis menetukan
lokasi pembangkit yang ideal demi tercapainya kehandalan operasi Sistem Jawa
Bali seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Lokasi proyek pembangkit 35.000 MW
No

Pembangkit

Lokasi

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 1

Surabaya Selatan

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 2

Surabaya Selatan

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 3

Banten

PLTGU/MG Peaker Jawa Bali 4

Cirebon

PLTU Jawa 9

Banten

PLTGU Jawa 2

T. Priok

PLTU Jawa 8

Cilacap

PLTU Jawa 7

Bojonegara

PLTGU Jawa 3

Gresik

10

PLTU Jawa 5

Banten

11

PLTU Jawa 1

Cirebon

12

PLTU Jawa 10

Grati

13

PLTU Jawa 4

T. Jati

Universitas Indonesia

51

Gambar 4.3 Diagram Alir Simulasi Aliran Daya

4.4.

Hasil Simulasi Aliran Daya

4.4.1. Profil Bus 500 kV


Berdasarkan hasil simulasi loadflow analysis menggunakan ETAP 12.6
diperoleh profil tegangan masing-masing bus pada Sistem Interkoneksi 500 kV
Jawa Bali pada saat beban puncak tahun 2015. Pada Skenario 1, terdapat 15 bus
500 kV dengan kondisi normal dan 17 bus 500 kV dengan kondisi marginal. Pada
Skenario 2, terdapat 23 bus 500 kV dengan kondisi normal dan 10 bus 500 kV

Universitas Indonesia

52

dengan kondisi marginal. Sehingga kinerja Sistem Jawa Bali tahun 2015 pada
Skenario 2 lebih baik dibandingakan dengan Skenario 1.
Tabel 4.11 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2015
No

Bus ID

ADIPALA

BANTEN

% Voltage
Skenario 1
98,96

Skenario 2
99,22
102,73

BDGSLTN

97,17

98,09

BJONEGARA

101,33

102,64

BKASI

97,12

98,33

BLARAJA

99,87

101,72

CAWANG

97,04

98,25

CIBATU

96,76

97,82

CIBINONG

97,74

98,95

10

CIRATA

97

97,98

11

CLCAP

99,08

99,33

12

CLGN

101,28

102,49

13

DEPOK

97,96

99,22

14

GNDUL

97,97

99,31

15

GRATI

97,99

98,59

16

GRESIK

97,02

97,69

17

KDIRI

98,33

98,57

18

KMBGN

97,27

98,7

19

KSGHN

98,61

98,91

20

MDCAN

97,19

98,01

21

MTWAR

98,76

99,88

22

NBANG

96,94

97,63

23

NSRLYA

101,59

102,77

24

NUJBRG

97,21

98,1

25

PEDAN

98,07

98,36

26

PITON

100,69

101,14

27

SBBRT

96,9

97,63

28

SBSLTN

98,03

98,44

29

SGLING

97,32

98,29

30

SRLYA

101,56

102,76

31

TASIK

98,14

98,55

32

TJATI

99,7

100,23

33

UNGAR

97,94

98,45

Berdasarkan hasil simulasi loadflow analysis menggunakan ETAP 12.6


diperoleh profil tegangan bus Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali pada saat
beban puncak tahun 2016. Pada Skenario 1, terdapat 13 bus 500 kV dengan kondisi
normal, 20 bus 500 kV. Pada Skenario 2, terdapat 30 bus 500 kV dengan kondisi
normal dan 3 bus 500 kV dengan kondisi marginal. Sehingga kinerja Sistem Jawa
Bali tahun 2016 pada Skenario 2 jauh lebih baik dibandingakan dengan Skenario 1.

Universitas Indonesia

53

Tabel 4.12 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2016
% Voltage

No

Bus ID

ADIPALA

99,03

99,53

BANTEN

100,27

101,75

BDGSLTN

96,02

98,05

BJONEGARA

100,19

101,68

BKASI

96,48

98,67

BLARAJA

99,35

100,84

CAWANG

96,38

98,75

CIBATU

95,64

97,88

CIBINONG

96,96

98,7

10

CIRATA

95,97

97,95

11

CLCAP

99,15

99,62

12

CLGN

100,1

101,58

13

DEPOK

97,28

98,83

14

GNDUL

97,32

98,84

15

GRATI

97,88

98,68

16

GRESIK

97,01

98,16

17

JAWABALI

96,66

99,01

18

KDIRI

98,07

98,5

19

KMBGN

96,77

98,13

20

KSGHN

98,77

99,28

21

MDCAN

96,45

98,7

22

MTWAR

97,56

99,93

Skenario 1

Skenario 2

23

NBANG

96,83

98,03

24

NSRLYA

100,31

101,79

25

NUJBRG

95,75

97,83

26

PEDAN

98,05

98,7

27

PITON

100,35

100,77

28

SBBRT

96,91

98,06

29

SBSLTN

97,4

98,43

30

SGLING

96,32

98,22

31

SRLYA

100,36

101,83

32

TASIK

98,23

98,84

33

TJATI

98,96

100,33

34

UNGAR

97,49

98,82

Berdasarkan hasil simulasi loadflow analysis menggunakan ETAP 12.6


diperoleh profil tegangan bus Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali pada saat
beban puncak tahun 2017. Pada Skenario 1, terdapat 39 bus 500 kV dengan kondisi
normal dan 3 bus 500 kV dengan kondisi marginal. Pada Skenario 2, terdapat 42
bus 500 kV dengan kondisi normal dan 1 bus 500 kV dengan kondisi marginal.
Terdapat perbedaan signifikan profil tegangan bus pada saat beban puncak tahun
2017 dengan tahun 2016 khususnya pada Skenario 1.

Universitas Indonesia

54

Kondisi tersebut dapat terjadi karena pembangkit yang masuk pada tahun
2017 mampu menutupi defisit kebutuhan daya pada tahun 2015 maupun 2016 (lihat
Tabel 4.9). Sehingga kinerja Sistem Jawa Bali tahun 2017 pada Skenario 2 lebih
baik dibandingakan dengan Skenario 1.
Tabel 4.13 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2017
% Voltage

No

Bus ID

Skenario 1

Skenario 2

ADIPALA

99,59

99,33

AMPEL

98,85

98,71

BANGIL

99,3

99,59

BANTEN

101,27

101,61

BDGSLTN

98,76

99,09

BJONEGARA

101,2

101,56

BKASI

99,01

99,45

BLARAJA

100,22

100,57

CAWANG

99,25

99,79

10

CIBATU

98,39

99,07

11

CIBINONG

99,16

99,59

12

CIRATA

98,53

99,15

13

CLCAP

99,67

99,43

14

CLGN

101,19

101,55

15

DELTAMAS

98,38

99,07

16

DEPOK

99,23

99,58

17

DURKOM

99,08

99,51

18

GNDUL

99,23

99,58

19

GRATI

98,38

99,04

20

GRESIK

98,06

98,36

21

JAWABALI

100,74

100,33

22

KDIRI

98,57

98,73

23

KMBGN

99,11

99,51

24

KSGHN

99,32

99,07

25

LENGKONG

99,13

99,41

26

MDCAN

100,34

99,96

27

MTWAR

100,57

101,24

28

MUARAKRG

101,6

29

NBANG

97,66

97,91

30

NCIBATU

98,37

99,04

31

NCWG

99,08

99,33

32

NSRLYA

101,35

101,7

33

NUJBRG

98,54

99,14

34

PEDAN

98,71

98,55

35

PITON

100,53

100,92

36

SBBRT

97,87

98,21

37

SBSLTN

97,22

98,36

38

SGLING

98,8

99,28

39

SRLYA

101,4

101,75

40

TAMBUN

99

99,48

Universitas Indonesia

55

41

TASIK

98,91

98,55

42

TJATI

100,52

100,4

43

UNGAR

99,15

99,03

Berdasarkan hasil simulasi loadflow analysis menggunakan ETAP 12.6


diperoleh profil tegangan bus Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali pada saat
beban puncak tahun 2018. Pada Skenario 1, terdapat 41 bus 500 kV dengan kondisi
normal dan 7 bus 500 kV dengan kondisi marginal. Pada Skenario 2, terdapat 35
bus 500 kV dengan kondisi normal dan 12 bus 500 kV dengan kondisi marginal.
Sehingga kinerja Sistem Jawa Bali tahun 2018 pada Skenario 1 lebih baik
dibandingakan dengan Skenario 2.
Tabel 4.14 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2018
No

Bus ID

ADIPALA

% Voltage
Skenario 1

Skenario 2

100,35

99,33
96,74

AMPEL

98,38

BANGIL

100,01

99,27

BANTEN

100,4

100,64

BDGSLTN

98,44

98,37

BJONEGARA

100,54

100,8

BKASI

98,81

98,41

BLARAJA

100,22

100,44

CAWANG

99,08

98,72

10

CIBATU

98,2

97,87

11

CIBINONG

98,89

98,71

12

CIRATA

98,31

98,01

13

CLCAP

100,51

99,52

14

CLGN

100,44

100,71

15

DELTAMAS

98,19

97,85

16

DEPOK

98,96

98,85

17

DURKOM

98,81

98,94

18

GILIMANUK

102,25

101,47

19

GNDUL

98,97

98,9

20

GRATI

98,55

97,73

21

GRESIK

97,77

96,67

22

JAWABALI

100,44

99,48

23

KDIRI

99

98,26

24

KMBGN

98,86

99

25

KSGHN

99,92

98,87

26

LENGKONG

98,98

99,09

27

MDCAN

100,04

99,09

28

MTWAR

100,54

100,27

29

MUARAKRG

101,36

101,13

30

NANTASARI

101,89

101,11

31

NBANG

97,4

95,9

Universitas Indonesia

56

32

NCIBATU

98,15

97,82

33

NCWG

98,46

97,77

34

NSRLYA

100,55

100,81

35

NUJBRG

98,33

98,06

36

PEDAN

98,6

97,27

37

PITON

101,11

100,35

38

SBBRT

97,64

96,49

39

SBSLTN

97,3

96,58

40

SEGARAUPRK

102,23

101,45

41

SGLING

98,55

98,35

42

SRLYA

100,63

100,92

43

TAMBUN

98,8

98,46

44

TASIK

99,12

98,13

45

TJATI

100,42

98,23

46

TPRIOK

101,37

101,15

47

UNGAR

98,68

97,05

48

WATUDDL

102,21

101,43

Berdasarkan hasil simulasi loadflow analysis menggunakan ETAP 12.6


diperoleh profil tegangan bus Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali pada saat
beban puncak tahun 2019. Pada Skenario 1, terdapat 51 bus 500 kV dengan kondisi
normal dan 2 bus 500 kV dengan kondisi marginal. Pada Skenario 2, juga terdapat
51 bus 500 kV dengan kondisi normal dan 1 bus 500 kV dengan kondisi marginal.
Tabel 4.15 Profil bus 500 kV pada beban puncak tahun 2019
No

Bus ID

% Voltage
Skenario 1

Skenario 2

ADIPALA

100,52

100,29

AMPEL

98,64

98,82

BANGIL

99,72

99,78

BANTEN

101,59

101,8

BATANG

100,67

100,9

BDGSLTN

98,82

98,62

BJONEGARA

101,8

101,85

BKASI

98,02

98,72

BLARAJA

100,18

100,45

10

BOGOR

98,5

98,95

11

CAWANG

98,23

99,18

12

CIBATU

98,28

98,13

13

CIBINONG

98,51

99,01

14

CIRATA

98,32

98,32

15

CISOKAN

98,86

99,07

16

CLCAP

100,62

100,4

17

CLGN

101,3

101,5

18

DELTAMAS

98,24

98,1

19

DEPOK

98,58

99,06

20

DURKOM

98,49

98,92

21

GILIMANUK

101,4

101,55

Universitas Indonesia

57

22

GNDUL

98,55

99,07

23

GRATI

99,08

98,97

24

GRESIK

99,93

98,67

25

INDRMYU

99,03

26

JAWABALI

100,59

100,37

27

KDIRI

98,92

98,83

28

KMBGN

98,56

98,99

29

KSGHN

100,15

99,91

30

LENGKONG

98,69

99,21

31

MDCAN

100,11

100,01

32

MTWAR

99,87

100,78

33

MUARAKRG

100,81

101,52

34

NANTASARI

100,81

100,88

35

NBANG

99,09

97,86

36

NCIBATU

98,24

98,09

37

NCWG

96,68

98,02

38

NSRLYA

101,7

101,88

39

NUJBRG

98,59

98,63

40

PEDAN

98,72

98,88

41

PEMALANG

99,75

99,81

42

PITON

100,66

100,95

43

SBBRT

99,38

98,39

44

SBSLTN

97,47

98,09

45

SEGARAUPRK

101,41

101,56

46

SGLING

98,67

98,74

47

SRLYA

101,71

101,9

48

TAMBUN

98,09

98,71

49

TASIK

99,45

99,09

50

TJATI

100,29

101,19

51

TPRIOK

100,86

101,53

52

UNGAR

99,1

99,22

53

WATUDDL

101,39

101,55

Secara keseluruhan, tidak terdapat perbedaan signifikan antara profil


tegangan bus 500 kV Sistem Interkoneksi Jawa Bali pada Skenario 1 dengan
Skenario 2. Profil tegangan bus 500 kV relatif baik karena tidak ada satu pun bus
yang mengalami kondisi kritis atau ekskursi tegangan di bawah maupun di atas
standar yang ditetapkan oleh PLN yakni < -5% dan > 5% dari tegangan nominalnya.
Khusus tahun 2016 pada Skenario 1, jumlah bus marginal lebih banyak dibanding
dengan jumlah bus normal karena alokasi pembangkit di tahun 2016 dan tahun
sebelumnya (2015) lebih kecil daripada kebutuhan beban sistem sehingga perlu
diantisapasi misalnya dengan penambahan kapasitor bank di beberapa titik.

Universitas Indonesia

58

Tabel 4.16 Profil bus 500 kV Sistem Jawa Bali tahun 2015-2019
Profil Tegangan
Bus 500 KV
Normal

Marginal

Tahun
2015

2016

2017

2018

2019

Skenario 1

15

13

39

41

51

Skenario 2

23

30

42

35

51

Skenario 1

17

20

Skenario 2

10

13

Profil Bus 500 KV Sistem Interkoneksi Jawa Bali


51
42
39

41
35

30
23
17
15
10

20
13
3

2015

2016

3
1
2017

13
7
2
1
2019

2018

Bus Normal Skenario 1

Bus Normal Skenario 2

Bus Marginal Skenario 1

Bus Marginal Skenario 2

Gambar 4.4 Profil bus 500 kV Sistem Jawa Bali tahun 2015-2019

4.4.2. Pembebanan Inter Bus Transformer 500/150 kV


Berdasarkan hasil simulasi loadflow analysis menggunakan ETAP 12.6
diperoleh profil pembebanan IBT 500/150 kV pada saat beban puncak tahun 20152019 seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.17 sampai Tabel 4.21. Pada tahun
2015, terdapat enam IBT yang mengalami pembebanan >80% yaitu IBT Balaraja
dan IBT Gandul yang berada di Region 1 serta IBT Cibatu (2 unit) dan IBT Cirata
(2 unit) yang berada di Region 2. Sedangkan IBT yang mengalami pembebanan
<50% sebanyak 22 unit.
Pada tahun 2016, terdapat empat IBT yang mengalami pembebanan >80%
yaitu IBT Cawang (2 unit) yang berada di Region 1 serta IBT Cibatu (2 unit) yang
berada di Region 2. Namun, unit IBT yang mengalami pembebanan 70%-80%
mengalami peningkatan dari 18 unit pada tahun 2015 menjadi 21 unit pada tahun
2016. Sedangkan IBT yang mengalami pembebanan <50% turun menjadi 17 unit

Universitas Indonesia

59

dari 22 unit pada tahun 2015. Hal tersebut terjadi karena tidak ada penambahan IBT
pada tahun 2016. Kemudian, pada tahun 2017 tidak ada satupun IBT yang
mengalami pembebanan >80%. Sedangkan IBT yang mengalami pembebanan
<50% naik menjadi 32 unit dari 17 unit pada tahun 2016. Pada tahun 2018, terdapat
tiga IBT yang mengalami pembebanan >80% yaitu IBT Bandung Selatan (2 unit)
yang berada di Region 2 serta IBT Gresik yang berada di Region 4. Sedangkan IBT
yang mengalami pembebanan <50% sebanyak 32 unit. Pada tahun 2019, terdapat
empat IBT yang mengalami pembebanan >80% yaitu IBT Balaraja yang berada di
Region 1, IBT Ungaran (2 unit) yang berada pada Region 3 serta IBT Gresik yang
berada di Region 4. Sedangkan IBT yang mengalami pembebanan <50%
mengalami penurunan yaitu 20 unit dari 32 unit pada tahun 2018.
Secara keseluruhan pada kondisi beban puncak tahun 2015-2019, mayoritas
IBT 500/150 kV mengalami pembebanan <50% dari nilai ratingnya yaitu 22 unit
IBT dari total 60 unit (2015), 17 unit IBT dari total 60 unit (2016), 32 unit IBT dari
total 78 unit (2017), 32 unit IBT dari total 85 unit (2018), 20 unit IBT dari total 87
unit (2019). Di sisi lain masih terdapat IBT 500/150 kV yang mengalami
pembebanan >80% dari nilai ratingnya terkecuali tahun 2017. Dengan demikian
alokasi IBT 500/150 kV pada Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali masih kurang
merata dan efisien.
Tabel 4.17 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2015
Area

Pembebanan IBT (Unit)


>80%

70%-80%

60%-70%

50%-60%

<50%

Total IBT
(Unit)

23

II

14

III

IV

15

Total IBT
(Unit)

18

10

22

60

Tabel 4.18 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2016
Area

Pembebanan IBT (Unit)


>80%

70%-80%

60%-70%

50%-60%

<50%

Total IBT
(Unit)

23

II

14

III

IV

15

Total IBT
(Unit)

21

17

60

Universitas Indonesia

60

Tabel 4.19 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2017
Pembebanan IBT (Unit)
>80%

70%-80%

60%-70%

50%-60%

<50%

Total IBT
(Unit)

11

29

Area

II

14

22

III

10

IV

17

Total IBT
(Unit)

13

25

32

78

Tabel 4.20 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2018
Area

Pembebanan IBT (Unit)


>80%

70%-80%

60%-70%

50%-60%

<50%

Total IBT
(Unit)

10

12

32

II

12

22

III

12

IV

19

Total IBT
(Unit)

17

23

10

32

85

Tabel 4.21 Pembebanan IBT 500/150 kV per Area/Region pada tahun 2019
Area

Pembebanan IBT (Unit)


>80%

70%-80%

60%-70%

50%-60%

<50%

Total IBT
(Unit)

13

13

34

II

22

III

12

IV

19

Total IBT
(Unit)

23

30

10

20

87

Universitas Indonesia

BAB 5
KESIMPULAN

1. Berdasarkan peramalan beban puncak menggunakan Neural Network, diperoleh


proyeksi beban puncak Sistem Jawa Bali tahun 2015-2019 secara berturut-turut
sebesar 25.638 MW; 27.421 MW; 29.371 MW; 31.503 MW; 33.834 MW.
Sehingga selama lima tahun ke depan (2015-2019) dibutuhkan pasokan daya
tambahan sebesar 10.088 MW.
2. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara profil tegangan bus 500 kV Sistem
Interkoneksi Jawa Bali pada Skenario 1 dengan Skenario 2 dimana profil
tegangan bus 500 kV relatif baik karena tidak ada satu pun bus yang mengalami
kondisi kritis.
3. Alokasi IBT 500/150 kV pada Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali masih
kurang merata dan efisien.
4. Jika proyek pembangkit 35.000 MW yang dialokasikan ke Sistem Jawa Bali
tidak berhasil terealisasi seluruhnya, Skenario 2 dapat menjadi pertimbangan
untuk mencapai kondisi operasi Sistem Jawa Bali secara handal.

61
Universitas Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
Marsudi, Djiteng. Operasi Sistem Tenaga Listrik. Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.
2006.
Kothari, D.P. Nagrath, I.J. Modern Power System Analysis 4th. Tata McGraw-Hill
Education, New Dehli. 2011.
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2015-2024. PT PLN
(Persero), Jakarta. 2014.

62
Universitas Indonesia

DAFTAR REFERENSI

[1] PT. PLN (Persero), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL)
2015-2024, Jakarta: PT. PLN (Persero), 2014.
[2] PLN PUSDIKLAT, Diklat Pengaturan Operasi Real Time, PT. PLN
(Persero), 2013.
[3] D. Marsudi, Operasi Sistem Tenaga Listrik, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006.
[4] PT. PLN (Persero), "Pedoman SUTT-SUTET," [Online]. Available:
https://id.scribd.com/doc/98733009/1-pedoman-sutt-sutet-180110.
[Accessed 5 Oktober 2015].
[5] T. Destiarini. [Online]. Available:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30225/4/Chapter%20II.pdf.
[Accessed 10 October 2015].
[6] T. A. Gumilang, Studi Peramalan Beban Listrik Jangka Pendek Jaringan
Jawa Bali Tahun 2013 dengan Menggunakan Metode Koefisien Beban,
Depok: Universitas Indonesia, 2014.
[7] F. A. Rahman, Peramalan Beban Listrik Jangka Pendek Menggunakan
Neural Network, Depok: Universitas Indonesia, 2012.
[8] D. A. Sari, Peramalan Kebutuhan Beban Jangka Pendek Menggunakan
Neural Network Backpropagation, Semarang: Universitas Dipenogoro,
2004.
[9] M. T. Wikara, Studi Analisis Perecepatan Tahap I 10.000 MW, Depok:
Universitas Indonesia, 2008.
[10] E. Haryadi, "Program Pengembangan Pembangkit 35.000 MW dan
Kesiapan Infrastruktur Sistem Jawa Bali," PT. PLN (Persero) P3B Jawa
Bali, Depok, 2015.
[11] P. P. (Persero), Buku Statistik PLN 2008-2014, Jakarta: PT. PLN (Persero),
2014.
[12] Badan Pusat Statistik, "Badan Pusat Statistik," 2014. [Online]. Available:
http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1623. [Accessed 22 Desember
2015].

63
Universitas Indonesia

[13] PT. PLN (Persero) Jawa Bali, Evaluasi Operasi Tahunan 2008-2014,
Jakarta: PT. PLN (Persero) Jawa Bali, 2014.
[14] A. Rachman, Analisis Kontingensi Pada Sistem Jawa-Bali 500 KV Untuk
Mendesain Keamanan Operasi, Surabaya: ITS, 2010.
[15] W. S. Sawai, Studi Aliran Daya Sistem Jawa Bali 500 kV Tahun 2007-2011,
Depok: Universitas Indonesia, 2008.

64
Universitas Indonesia

LAMPIRAN

1. Single line diagram Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali.


2. Rating saluran transmisi 500 kV Jawa Bali.
3. Kit PU beban puncak sistem 500 kV Jawa Bali.
4. Transfer IBT sistem 500 kV Jawa Bali.
5. Single line diagram Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa Bali pada ETAP
12.6

65
Universitas Indonesia

U8
800
MW

Sirkit 1 DOVE 64,3 KMS

NEW
SRLYA

U1
400
MW

B
2

3
6
7

U5 U6 U7
600 600 600
MW MW MW

SRLYA

4
I
250
MVA

CLGON

B
3

I
500
MVA

I
500
MVA
A

BKASI

B
2

A1

II
500
MVA
A1

II
500
MVA
A

B
1

CWANG

CIBNG

III
500
MVA

IV
500
MVA

A1

I
500
MVA

A1

III
500
MVA

GT2.2
145
MW

GT2.3
145
MW

GT2.1
145
MW

GT1.3 ST1.4
140 220
MW MW

A2

II
500
MVA

CBATU

A2

10

11

IV
500
MVA

A1
175
MW

13

GT5.1
250
MW

12

KESUGIHAN

Sirkit I DOVE 25,2 KMS

Sirkit 2 DOVE 25,2 KMS

CRATA

III
I
500 A2 500
MVA
MVA

GT4.1
GT3.2
GT4.3
143
143
143
MW
MW
MW
GT3.3
GT4.2
143
143
MTWAR
MW
MW

GT3.1
143
MW

A2

II
500
MVA

ST5.0
125
MW

14

A2
175
MW

A3 A4
175 175
MW MW

A2

1
1

A2

100
MVAR

II
500
MVA

I
500
MVA

PEDAN

I
500
MVA

B
1

U1
660
MW

A2

100 2 x 100
MVAR MVAR

U2
660
MW

U3
660
MW

TJATI

U4
660
MW

II
500
MVA

100
MVar

KDIRI

I
500
MVA

100
MVar

Sirkit 2 DOVE 222,4 KMS

Sirkit 1 DOVE 222,9 KMS

II
500
MVA

A3

I
500
MVA

100
MVar

UNGAR

A4

A4

III
500
MVA

II
500
MVA

NBANG

100
MVar

Sirkit 2 DOVE 207,7 KMS

U1
400
MW

PITON

GT3.3 ST2.0 ST3.0


112,5 188,9 188,9
MW
MW
MW

I
500
MVA

100
MVar

U8
645
MW

PEC

SBBRT

105
MVAR

Sirkit 2 DOVE 23,0 KMS

Sirkit I DOVE 23,94 KMS

GRSIK

A4

U7
645
MW

PEC

BIDANG OPERASI SISTEM

01-10-2014

EDIT TGL:

U9
600
MW

JP

U6
610
MW

JP

PERUSAHAAN
LISTRIK SWASTA

U5
A4
610
III MW
500
MVA

50
MVar

U3
800
MW

PEC

100
MVar

II
500
MVA

GT2.1 GT2.2
112,5 112,5 GT2.3
MW MW 112,5
MW

A4

I
500
MVA
A4

III
500
MVA
A

U2
400
MW

50
MVar

PT PLN (PERSERO)
P3B JAWA BALI

KOFIGURASI JARINGAN 500 kV


SISTEM JAWA BALI

I
II
500
500
MVA A4 MVA

Sirkit I DOVE 267,11 KMS

GRATI

GT1.2
100
MW GT1.
3 100 ST1.0
MW
180
MW

500 GT1.1
MVA 100
MW

Sirkit 2 GANNET 209,1 KMS

Sirkit I GANNET 209,1 KMS

II
500
MVA

A3

Sirkit 2 DOVE 134,8 KMS

Sirkit I DOVE 134,8 KMS

I
II
500
500
MVA MVA
A3

PEDAN

5
UNGAR 3

I
500
MVA
A

A4

MDCAN

II
500
MVA

Sirkit 1 75.3 KMS

BDSLN

II
500
MVA

A2

Sirkit 2 GANNET 37,6 KMS

Sirkit 1 GANNET 37,6 KMS

NEW
UJBRG

SGLNG

I
500
MVA

I A3 II
500
500
MVA MVA

100
MVar

Sirkit 2 DOVE 47,6 KMS

66

Universitas Indonesia

KONFIGURASI JARINGAN 500 kV SISTEM JAWA BALI

GT1.2
140
MW

GT1.1
140
MW

A5 A6 A7 A8
126 126 126 126
MW MW MW MW

A1 A2 A3 A4
126 126 126 126
MW MW MW MW

I
500
MVA

CILACAP

Sirkit 2 GANNET 83,8 KMS

Sirkit 1 GANNET 80,4 KMS

Sirkit 1 ZEBRA 46 KMS

U2 U3 U4
400 400 400
MW MW MW

A1
A1

DOVE 40,9 KMS

TASIK

Sirkit 2 ZEBRA 46 KMS

2
II
250
MVA

Sirkit I GANNET 12,9 KMS


Sirkit 2 GANNET 30,1 KMS

A1

III
500
MVA
II
A1 500
MVA

2
II
500
MVA

A1 III
500
MVA

A1

100
100
MVar MVar

Sirkit 1 GANNET 92,4 KMS

GANET 1,5 KMS

I A1 II
500
500
MVA MVA

B
1
I
500
MVA

KMBGN

Sirkit 2 GANNET 12,9 KMS

3
II
500
MVA

II
500
MVA

PLTU
1X600 MW
IPP

Sirkit 2 GANNET 92,4 KMS

II
500
MVA

A1

A2

PLTU
1X600 MW
PLN

Sirkit I GANET 202,4 KMS


Sirkit 2 GANET 202,4 KMS

BDSLN-MDCAN 2 GANNET 119,4 KMS

LENGKONG

B
1
I
500
MVA

I
500
MVA
A

Sirkit 2 DOVE 48,2 KMS

Sirkit 1 GANNET 304 KMS

BDSLN-MDCAN I GANNET 119,4 KMS

I
500
MVA

Sirkit I GANNET 30,1 KMS

GNDUL

DOVE 16,8 KMS

Sirkit 2 DOVE 275,6 KMS

Sirkit I DOVE 48,2 KMS

DOVE 50,5 KMS

Sirkit 2 GANNET 304 KMS

Sirkit 2 GANNET 87,9 KMS

GANNET 130,8 KMS


Sirkit 2 DOVE 14 KMS

II
500
MVA

DOVE 37,9 KMS

Sirkit I DOVE 275,6 KMS

Sirkit I GANNET 87,9 KMS

A1

II
500
MVA

DEPOK

Sirkit 1 DOVE 14 KMS

NEW
BLRJA
I
500
MVA
A

BOJONEGARA

A1

Sirkit 2 DOVE 7,5 KMS

I
500
MVA

Sirkit 1 DOVE 7,5 KMS

Sirkit 2 DOVE 64,3 KMS

Name

In Folder

Grid

Terminal i Terminal j Length Irated

Z1

R1

Ohm

X1

Ohm

R0

Ohm

X0

k0

23.08922 2.05569

2.7917

13.1489 0.6862

13.1489 0.6862

36.73145 22.9048 110.194 0.6873

22.99752 14.3407 68.9926 0.6873

PEDAN7

PEDAN7

0.5

0.5

0.5

0.5

2.4

2.4

2.4

2.4

2.4

2.4

0.14151

0.14096

0.14096

0.01465

57.65256 5.13295

0.14096

0.01255

57.65256 5.13295

0.14096

0.01255

0.01255

0.01255

0.01255

0.01255

24.67193 15.3848 74.0158 0.6873

24.67193 15.3848 74.0158 0.6873

0.1404

0.1404

0.14075

57.4236

57.4236

0.1404

0.1404

0.1404

0.1404

6.72785

0.08755

0.08755

35.808

0.08755

0.08755

0.08755

0.08755

0.4212

172.271 0.6873

0.4212

0.4212

0.4212

0.6873

172.271 0.6873

0.4212

0.6873

0.08965 0.42225 0.6862

35.808

0.4212

0.6873

0.6873

0.6873

0.6873

4.28527 20.1836 0.6862

4.28527 20.1836 0.6862

6.72785

PAITON7

204.5

0.14096

2.20536

8.464155 5.27804 25.3925 0.6873

BNRAN-PEDAN 1 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

PAITON7

204.5

1.98

0.14096

2.20536

8.497902 0.75659

BNRAN-PEDAN 2 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

PAITON7

2.4

24.7703

6.764196 0.70027

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

PAITON7

0.5

2.4

24.7703

2.4

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

TASIKMALAYA BARU70.5

2.4

1.98

Line Route
PITON-GRATI 1

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

TASIKMALAYA BARU70.5

2.4

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A) GRESIK BARU7


SURABAYA BARAT723.9

Line Route
PITON-GRATI 2

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

87.863

Universitas Indonesia

Type

9.258535 5.89718 27.7756 0.6862

Ohm
9.308553 0.96368

3.01941 14.2214 0.6862

10.66885 6.79547 32.0066 0.6862

Ohm
1.98

10.72649 1.11047

kA

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)


NEW UJUNG BERUNG7
BANDUNG SELATAN7
32.89

1.98

8.38353 39.4863 0.6862

km
37.9

4.74046

Substation Substation
CIBINONG7

4.766069 0.49341

TypLne,TypTow,TypGeo

500kV
BEKASI7

1.98

500kV
OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

16.84

8.38353 39.4863 0.6862

BDSLN-UBRUNG 2
500kV
BEKASI7

13.1621

500kV
CAWANG7

13.1621

BKASI-CIBNG
OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

1.36998

500kV

13.2332

500kV

1.98

BKASI-CWANG

46.757

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

CIRATA7

500kV

CIBATU7

500kV

13.55648 8.63473 40.6694 0.6862

CBATU-CRATA

1.36998

CIBATU7

13.2332

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

1.98

500kV

46.757

500kV

CIRATA7

CBATU-CRATA1

13.55648 8.63473 40.6694 0.6862

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A) MUARA TAWAR7 CIBATU7

13.62971 1.41103

500kV

1.98

500kV

48.158

CBATU-MTWAR

22.99752 14.3407 68.9926 0.6873

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

13.62971 1.41103

500kV

1.98

500kV

2.4

2.7917

81.9
81.9

4.382955

CIBINONG7

3.28333

4.382955

SAGULING7

36.8779

0.4562

1.667325 1.06199 5.00197 0.6862

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

4.406633

0.4562

500kV

2.4

4.406633

CIBINONG7

CIBATU7 MUARA TAWAR748.158

CBATU-MTWAR1
500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A) SAGULING7

23.08922 2.05569

500kV

2.4

CIBNG-SGLNG-1

130.81

1.98

1.676332 0.17354

CIBNG-SGLNG-2

15.57

1.98

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)CILEGON BARU7CIBINONG7


DEPOK7

1.98

500kV

CIBINONG7

15.57

CLBRU-CIBNG
OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

5.923

500kV

DEPOK7

500kV

DEPOK7

DEPOK-CIBNG1

GANDUL7

500kV

CIBINONG7

500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

500kV

1.667325 1.06199 5.00197 0.6862

DEPOK-CIBNG2

1.676332 0.17354

DEPOK-GNDUL -1

1.98

48.9405 235.451 0.6873

5.923

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

DEPOK7

500kV

GANDUL7

500kV

48.9405 235.451 0.6873

DEPOK-GNDUL -2

78.4836

14.31146 9.11561 42.9344 0.6862

78.4836
14.38877 1.48961

14.31146 9.11561 42.9344 0.6862

78.79652 7.01545

12.73593

8.464155 5.27804 25.3925 0.6873

78.79652 7.01545
1.98

14.38877 1.48961

2.4
50.84

1.98

8.497902 0.75659

2.4
45

2.4

1.98

279.5

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)NEW BALARAJA7(1)GANDUL7

50.84

279.5

500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A) NEW BALARAJA7

30.143

TSKBR-DEPOK 1 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)


TASIKMALAYA BARU7

region1

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)NEW BALARAJA7(1)GANDUL7

TSKBR-DEPOK 2 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)


TASIKMALAYA BARU7
500kV
500kV

DEPOK-TSKBR 1

region1

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A) KEMBANGAN7 GANDUL7

30.143

DEPOK-TSKBR 2
GNDUL-BRAJA1
500kV

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A) KEMBANGAN7 GANDUL7

38.0025 0.6862

GNDUL-BRAJA1
500kV
500kV

8.0685

GNDUL-BRAJA2
500kV

12.6675

GNDUL-KMBGN-1
500kV

1.3185

GRBRU-SBBRT 1

GNDUL-KMBGN-2

Line Route
PITON-KDIRI 1

87.863

6.764196 0.70027

Line Route

PITON-KDIRI 2

500kV

GRATI7

1.98

Line Route

PEDAN-TSKBR 1 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

GRATI7

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A) GRESIK BARU7


SURABAYA BARAT723.9

Line Route

PEDAN-TSKBR 2 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

MDRCN-UNGRN

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

500kV

Line Route(1)

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

500kV

Line Route(1)

PITON-GRATI 1

GRBRU-SBBRT 2

Line Route(1)

PITON-GRATI 2

UNGARAN7

Line Route(1)

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

Line Route(1)

67

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)


KEDIRI7

KEDIRI7
0.5

0.5

0.5

km

2.4

2.4

2.4

2.4

kA

0.14096

0.14096

0.14096

0.14096

Ohm

Z1

0.00015

0.01255

0.01255

0.01255

0.01255

Ohm

R1

0.001408

0.1404

0.1404

0.1404

0.1404

Ohm

X1

21.3905

0.0009

0.08755

0.08755

0.08755

0.08755

Ohm

R0

72.9901

100.749

0.00422

0.4212

0.4212

0.4212

0.4212

Ohm

X0

0.6862

0.6862

0.6862

0.6862

0.6862

0.6873

0.6873

0.6873

0.6873

0.6862

MDRCN-BDSLN 1

0.6862

500kV

44.7585

MDRCN-UBRUNG 2

9.5029

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

14.9195

500kV

1.5529

500kV

15.0001

MDRCN-UNGRN 1

1.98

k0

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)


DEPOK7
0.5

0.001415

33.58295

15.4969

194.235

Terminal i Terminal j Length Irated

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)


DEPOK7

1.98

3.49549

24.33005

41.239

193.813

Type

PITON-KDIRI 1

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

0.005

33.76438

2.5324

64.745

41.1494

Grid

Line Route(1)
PITON-KDIRI 2

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)SURABAYA BARAT7

1.98

24.46148

6.739

64.60426

In Folder

Line Route(1)
TSKBR-DEPOK 1

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A) MANDIRANCAN7


BANDUNG SELATAN7
119.3

1.98

65.09477

6.72435

Name

Line Route(1)
TSKBR-DEPOK 2
500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A) MANDIRANCAN7


NEW UJUNG BERUNG7
86.43

1.98

64.95326

Substation Substation

Line Route(1)
500kV
500kV

UNGARAN7MANDIRANCAN7 230

1.98
53

UNGARAN7
NGIMBANG7 UNGARAN7

Universitas Indonesia

TypLne,TypTow,TypGeo

Line SBBRT-REAC
500kV
500kV

229.5

CIBINONG7MUARA TAWAR7

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A) MANDIRANCAN7


OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

500kV
500kV

MDRCN-UNGRN
500kV

40.536

MDRCN-UNGRN 2
MTWAR - CBNGN

8.6064

0.6862

13.512

0.6873

1.4064

43.0535

0.6873

13.585

9.14089

172.271

0.6873

1.98

14.35115

35.808

172.271

0.6873

48

1.49374

57.4236

35.808

165.11

CAWANG7 MUARA TAWAR7

14.42868

5.13295

57.4236

34.3196

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

1.98

57.65256

5.13295

55.0368

500kV

50.981

2.4

57.65256

4.9196

500kV

NGIMBANG7

204.5

2.4

55.25624

MTWAR - CWANG

KEDIRI7

204.5

2.4

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

KEDIRI7

196

500kV

BNRAN-PEDAN 2 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

KESUGIHAN7

500kV

PEDAN-KDIRI 1

BNRAN-PEDAN 1 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)


PEDAN7

NBANG-SBBRT
PEDAN-KDIRI 2

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

0.6873

PEDAN-TSKBR 2

0.6873

PEDAN-KSGHN

165.11

0.6862

0.6873

256.511

0.6873

256.511

34.3196

214.672

0.6873

53.318

53.318

66.895

0.6873

85.5036

55.0368

45.5781

66.895

0.6873

7.64295

85.5036

13.9047

32.8536

0.6862

85.84452

4.9196

71.5573

13.9047

32.8536

0.6862

2.4

7.64295

22.29833

6.8289

21.2527

0.6873

304.5

55.25624

7.44806

22.29833

6.8289

21.2527

0.6873

PEDAN7

85.84452

1.99319

10.9512

4.51226

10.5132

0.6862

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

2.4

71.94388

1.99319

10.9512

4.51226

10.5132

0.6862

PEDAN-TSKBR 1

2.4

22.38724

0.9789

7.084229

2.18525

1.05563

0.6862

PEDAN-TSKBR 1

196

1.98

22.38724

0.9789

7.084229

2.18525

53

0.6862

0.6873
PEDAN7

304.5

2.4

10.99486

0.73736

3.504384

0.22413

53

0.6862

172.271

PEDAN7

2.4

10.99486

0.73736

3.504384

11.2527

57.9327

0.6862

35.808

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

UNGARAN7
SURABAYA BARAT7254.2

2.4

7.1225

0.31325

0.351875

11.2527

65.111

0.6873

57.4236

PEDAN-TSKBR 2

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

79.41

2.4

7.1225

0.31325

17.66666

12.3

169.185

0.6873

5.13295

PEDAN-TSKBR 1
500kV

GRATI7SURABAYA BARAT779.41

1.98

3.518356

0.03663

17.66666

13.824

113.556

57.65256

PEDAN-KSGHN
500kV

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A) SAGULING7


BANDUNG SELATAN7 39

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)


SURABAYA BARAT7GRATI7

25.166

1.98

3.518356

1.83884

19.3109

35.9206

113.556

2.4

PEDAN-TSKBR 1
500kV

SAGULING7

25.166

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A) SAGULING7


BANDUNG SELATAN7 39

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

CIRATA7

CIRATA7

2.4

0.353776

1.83884

21.70365

23.6035

204.5

SBBRT - UNGRN 1
500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

SAGULING7

2.4

17.7621

2.00998

56.39515

23.6035

KEDIRI7

SBBRT-GRATI 1
500kV
500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

12.48

1.98

17.7621

2.25903

37.85184

BNRAN-PEDAN 2 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

SBBRT-GRATI 2
500kV

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)CILEGON BARU7SURALAYA7

12.48

1.98

19.41522

5.8699

37.85184

PEDAN-KDIRI 1

SGLNG-BDSLN1
500kV

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)CILEGON BARU7SURALAYA7

500kV

SURALAYA7SURALAYA BARU 1.25

1.98

21.8209

3.38348

172.271

SGLNG-BDSLN2
500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

SURALAYA7
NEW BALARAJA7(1)
62.759

1.98

56.69981

3.38348

35.808

SGLNG-CRATA1
500kV

region2

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

SURALAYA7
NEW BALARAJA7(1)
62.759

1.98

38.00276

57.4236

SGLNG-CRATA2
500kV

500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

NEW BALARAJA7 68.6

1.98

38.00276

5.13295

SLAYA-CLBRU-1
region2

500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

77.1

2.4

57.65256

SLAYA-CLBRU-2
500kV

region1

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

200.338

2.4

2.4

SLAYA-SRLRU

500kV

500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

UNGARAN7TANJUNG JATI B7 134.8

204.5

SRLAYA-BRAJA 1

region1

500kV

UNGARAN7TANJUNG JATI B7 134.8

KEDIRI7

SRLAYA-BRAJA 2

500kV

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

BNRAN-PEDAN 1 500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

SRLAYA-BRAJA1

500kV

500kV OHL-500kV-ACSR-GANNET 4X392.8mm (2400A)

PEDAN-KDIRI 2

UNGAR-PEDAN 2

500kV

KESUGIHAN7

UNGRN-NBANG

500kV

OHL-500kV-ACSR-DOVE 4X327.9mm (1980A)

UNGRN-TJATI 1P

PEDAN7

UNGRN-TJATI 2P

68