Anda di halaman 1dari 41

CHILLER

A. Pengertian Chiller
Chiller adalah mesin refrigerasi yang memiliki fungsi utama mendinginkan air
pada sisi evaporatornya. Air dingin yang dihasilkan selanjutnya didistribusikan ke
mesin penukar kalor ( FCU / Fan Coil Unit ).
B. Mekanisme Kerja Chiller
Penarikan panas atau kalor dimulai pada evaporator. Heat Exchanger disini
adalah sebuah pipa yang ada pipa lain didalamnya, berfungsi untuk mengalirkan air
pada pipa besar sedangkan pip didalamnya berfungsi mengalirkan udara atau
refrigeran. Seperti yang terlihat pada gambar dibawah:

Gambar 1. Pipa Exchanger Chiller


Pada bagian Heat Exchanger seperti diatas berlangsung proses pertukaran
kalor antara refrigeran yang dengan air. Kalor dari air ditarik ke refrigeran sehingga
setelah melewati Heat exchanger menyebabkan air didalamnya menjadi semakin
dingin. Air yang sudah menjadi dingin tersebut lalu diteruskan mengalir ke AHU (Air
Handling Unit) yang berfungsi untuk menjadikan udara menjadi dingin. AHU terdiri
dari Heat exchanger yaitu pipa dengan kisi-kisi yang mempunyai fungsi utama
mendinginkan air dan udara dengan proses pertukaran antara kedua komponen
tersebut sehingga menghasilkan suhu tertentu sesuai yang di inginkan.

Gambar 2. Siklus Chiller


Air yang dalam kondisi dingin ini akan melewati AHU kemudian suhunya
akan naik karena pertukaran kalor dari udara, kemudian air tersebut diteruskan
kembali ke chiller untuk di dinginkan lagi. Begitulah seterusnya cara kerja chiller ini
berulang-ulang sehingga dapat membantu mendinginkan udara misalnya pada sistem
pendingin ruangan atau Air Conditioner.
C. Jenis-jenis Chiller
1. Berdasarkan jenis kompressornya :
Kompresor Piston (Reciprocating compressor)
a. Kompresor piston kerja tunggal
Kopresor piston kerja tunggal adalah kompresor yang memanfaatkan
perpindahan piston, kompresor jenis ini menggunakan piston yang
didorong oleh poros engkol (crankshaft) untuk memampatkan udara/ gas.
Udara akan masuk ke silinder kompresi ketika piston bergerak pada posisi
awal dan udara akan keluar saat piston/torak bergerak pada posisi
akhir/depan.

Gambar 3. Kompressor Kerja Tunggal


b. Kompresor piston kerja ganda
Kompresor piston kerja ganda beroperasi sama persis dengan kerja
tunggal, hanya saja yang menjadi perbedaan adalah pada kompresor kerja
ganda, silinder kompresi memiliki port inlet dan outlet pada kedua sisinya.
Sehingga meningkatkan kinerja kompresor dan menghasilkan udara
bertekanan yang lebih tinggi dari pada kerja tunggal.

Gambar 4. Kompressor Kerja Ganda


c. Kompresor diafragma
Kompresor diafragma adalah jenis klasik dari kompresor piston, dan
mempunyai kesamaan dengan kompresor piston, hanya yang membedakan
adalah, jika pada kompresor piston menggunakan piston untuk
memampatkan udara, pada kompresor diafragma menggunakan membran
fleksible atau difragma.

Gambar 5. Kompressor Diafragma


Kompresor Kisar (Rotary compressor)
a. Kompresor screw (Rotary screw compressor)
Kompresor screw merupakan jenis kompresor dengan mekanisme putar
perpindahan positif, yang umumnya digunakan untuk mengganti
kompresor piston, bila diperlukan udara bertekanan tinggi dengan volume
yang lebih besar.

Gambar 6. Kompresor Screw


Kompresor Ulir (Screw compressor)
5

Kompresor Sentrifugal (Centrifugal compressor)


Kompresor sentrifugal merupakan kompresor yang memanfaatkan gaya
sentrifugal yang dihasilkan oleh impeller untuk mempercepat aliran fluida
udara (gaya kinetik), yang kemudian diubah menjadi peningkatan potensi
tekanan (menjadi gaya tekan) dengan memperlambat aliran melalui diffuser.
2. Berdasarkan jenis cara pendinginan kondensornya :
a. Air Cooler

Gambar 7. Air Cool Chiller


Mesin refrigerasi dengan pendinginan udara (air cooled chiller), pada
prinsipnya hampir sama dengan split duct AC, tetapi dalam ukuran besar. Unit
mesin ini pada umumnya berada diatas atap beton dari sebuah bangunan.
Komponen utama dari 1 unit ACC adalah 2 kompresor atau lebih, dengan
katup ekspansi dan evaporator berada dalam unit utama, termasuk
kondensornya. Evaporator mendinginkan air dan air dingin disirkulasi kesetiap
tingkat melalui alat pengatur udara (air handling unit) atau disingkat AHU.
Dari AHU dengan blower besar menyalurkan udara dingin, yang diperoleh
dari hembusan melalui pipa-pipa aliran air dingin unit utama diatas, keruangan
yang akan dikondisikan. Udara dingin yang masuk kedalam ruangan dari AHU
ini diatur dengan diffuser yang ada disetiap ruangan, Atau kadang-kadang
dengan pipa-pipa langsung keruangan melalui alat kipas koil (Fan coil unit)
atau disingkat FCU.

Dalam desain gedung, bila menggunakan air cooled chiller perlu


diperhatikan lokasi dan luas atap beton untuk penempatan unit-unit chillernya.
Yang sering kurang diperhatikan dalam desain atap untuk air cooled chiller
adalah akses untuk pemeliharaan unit tersebut. Ada kalanya terjadi perubahan
desain dari water cooled chiller ke air cooled chiller, karena terutama masalah
waktu instalasi ataupun keadaan air setempat. Tetapi perubahan seperti itu
pada akhirnya berakibat fatal terhadap konstruksi air cooled chiller tersebut
yang mengambil ruang (space) apa adanya.
b. Water Cooler

Gambar 8. Water Cool Chiller


Mesin refrigerasi dengan pendinginan air (water cooled chiller), pada
prinsipnya hampir sama dengan Mesin refrigerasi pendinginan udara (air
cooled chiller)

dalam distribusi udara dingin melalui AHU atau FCU.

Perbedaan utamanya adalah pendinginan refrigerannya, bukan dengan udara,


tetapi dengan air, dimana airnya didinginkan melalui menara air atau cooling
tower. Mesin refrigerasi dengan pendinginan air, pada umumnya ditempatkan
dalam lantai bawah (basement) suatu bangunan. Dalam desain yang perlu
diperhatikan adalah ventilasi keruangan chiller harus dihitung dengan baik,
agar ruangan tersebut jangan menjadi neraka bagi pengerjanya.
Sama halnya dengan Mesin refrigerasi pedinginan udara, refrigeran
dari kompresor ditekan melalui katup ekspansi masuk berembun dalam alat
evaporator. Evaporator mendinginkan air dan air dingin disirkulasi kesetiap
tingkat melalui alat pengatur udara (air handling unit) atau disingkat AHU.
7

Dari AHU dengan blower besar menyalurkan udara dingin, yang diperoleh
dari hembusan melalui pipa-pipa aliran air dingin unit utama diatas, keruangan
yang akan dikondisikan. Udara dingin yang masuk kedalam ruangan dari AHU
ini diatur dengan diffuser yang ada disetiap ruangan, Atau kadang-kadang
dengan pipa-pipa langsung keruangan melalui alat kipas koil (Fan coil unit)
atau disingkat FCU.
Pendinginan air melalui menara air (cooling tower), dalam desain
gedung perlu diperhatikan aliran udara yang diperoleh dari kipas udara. Aliran
udara dan aliran air didalam menara pendingin ini dapat berlawanan arah
(counter flow), arah melintang (cross flow), aliran paralel (paralel flow) aliran
melalui dek atau aliran pancar.

Gambar 9. Water Cool Chiller System


c. Absorpsi Chiller

Gambar 10. Contoh Absorpsi Chiller

Salah satu cara tertua untuk melakukan pendinginan suatu ruangan secara
mekanis adalah teknologi absorbsi (absorption technology). Kelihatan tak masuk akal
dengan membakar sesuatu untuk menghasilkan pendinginan, tetapi hal itu yang terjadi
dalam

suatu

chiller

absorpsi.

Teknologi

absorbsi

ini

sebenarnya

mudah

pengoperasiannya maupun pemeliharaannya, tetapi pada masa kini teknologi ini mulai
hampir tidak digunakan karena tidak fleksibel penggunaannya.

Refrigeran yang digunakan oleh chiller jenis ini adalah sebenarnya air, karena
perubahan fase yang terjadi dan yang memberi dampak pendinginan adalah melalui
media air. Fluide kedua yang mengatur proses ini adalah garam, yang dikatakan
sebagai Litium Bromida (lithium bromide). Panas dibutuhkan untuk memisahkan
kedua fluida ini, yang kemudian dipertemukan kembali dalam lingkungan yang
hampir vakum. Air ini mengalami perubahan fase pada waktu dicampur kembali
dengan garam pada suhu yang sangat rendah. (pada tekanan atmosfir yang normal, air
menguap pada suhu 212F, dalam suatu alat absorbsi, air menguap cukup dingin untuk
menghasilkan air dingin pada 46F.
Karena suhu air dingin yang dihasilkan oleh chiller absorbsi paling rendah
adalah 46F, maka chiller jenis ini tidak dapat digunakan dalam penerapan refrigerasi
dengan suhu rendah. Peralatan tata udara dengan Sistem absorbsi ini sebenarnya
sangat efisien dan pemeliharaanya mudah, tetapi bila ada kerusakan pada peralatan ini
perbaikannya memerlukan waktu lama dan biaya yang besar. Bahkan untuk kerusakan
9

tertentu, maka seluruh unit tidak dapat difungsikan kembali. Ini menyebabkan
penggunaan peralatan pengkondisian udara dengan sistem absorbsi ini kurang
diminati.
Pendingin penyerapan mendinginkan air menggunakan energi yang disediakan
oleh sumber panas.Mereka berbeda dari konvensional sistem (kompresi uap)
pendinginan dalam dua cara.Proses penyerapan termokimia di alam, sebagai lawan
mekanik.Juga, pendingin penyerapan beredar air sebagai pendingin bukan
chlorofluorocarbons atau chlorofluorocarbons hidro (CFC atau HCFC, yang juga
dikenal sebagai Freon). Sistem chiller penyerapan standar menggunakan air, sebagai
pendingin, dan bromida lithium, sebagai penyerap, dalam siklus.Bromida lithium
memiliki afinitas yang tinggi untuk air.Proses ini berlangsung dalam ruang hampa,
memungkinkan refrigerant (air) mendidih pada suhu yang lebih rendah dan tekanan
daripada biasanya akan, membantu untuk mentransfer panas dari satu tempat ke
tempat lain. Perumahan berukuran unit-unit kecil menggunakan amonia sebagai
refrigeran, dan air sebagai penyerap.
D. Aplikasi
Selain menjadi langsung dipecat oleh gas alam, pendingin penyerapan dapat
menjalankan off air panas, uap, atau limbah panas, membuat mereka merupakan
bagian integral dari sistem kogenerasi atau ke mana pun limbah panas dalam bentuk
apapun yang tersedia. Pendingin penyerapan umumnya digunakan di mana tingkat
kebisingan dan getaran yang menjadi masalah, terutama di rumah sakit, sekolah, dan
gedung perkantoran.
E. Peralatan Pilihan
Pendingin penyerapan bisa dipecat langsung maupun tidak langsung, dan
dapat tunggal-efek atau efek ganda.Pendingin langsung dipecat menggunakan panas
dari sumber lain, sedangkan pendingin langsung dipecat menggunakan kompor gas
alam untuk daya siklus.Efek ganda pendingin mendaur ulang beberapa limbah panas
yang dihasilkan selama siklus, dan dengan demikian lebih efisien per unit input
panas;Efisiensi ini datang pada biaya yang membutuhkan input panas seperti uap atau
gas alam. Ukuran peralatan berkisar dari 4,5 ton pendinginan hingga beberapa ratus
ton pendinginan.
10

F. Sumber Daya
1. Equipment Manufacturer database
2. Gas AC Konsorsium
G. Cara Kerja Chiller Absorpsi
Efek siklus penyerapan tunggal menggunakan air sebagai pendingin dan
bromida lithium sebagai penyerap. Ini adalah afinitas kuat bahwa dua zat tersebut
memiliki satu sama lain yang membuat pekerjaan siklus. Seluruh proses terjadi di
hampir vakum lengkap.
Solusi Pompa: Sebuah solusi bromide encer lithium (konsentrasi 63%) dikumpulkan
di bagian bawah shell absorber. Dari sini, pompa solusi kedap udara bergerak solusi
melalui shell dan tube heat exchanger untuk pemanasan.
Generator: Setelah keluar dari penukar panas, solusi encer bergerak ke shell atas.
Solusinya mengelilingi bundel tabung yang membawa baik uap atau air panas. Uap
atau air panas transfer panas ke dalam kolam larutan encer lithium bromide. Solusinya
bisul, mengirim uap refrigeran ke atas ke kondensor dan meninggalkan bromida
lithium terkonsentrasi. Solusi lithium bromide terkonsentrasi bergerak ke penukar
panas, di mana ia didinginkan oleh larutan lemah yang dipompa ke generator.
Kondensor: Uap refrigeran bermigrasi melalui eliminator kabut dengan bundel
tabung kondensor. Uap refrigeran mengembun pada tabung. Panas dihapus oleh air
pendingin yang bergerak melalui bagian dalam tabung. Sebagai refrigeran
mengembun, itu terkumpul dalam palungan di bagian bawah kondensor.
Evaporator: Bergerak cairan pendingin dari kondensor dalam shell atas sampai ke
evaporator dalam shell yang lebih rendah dan disemprotkan di atas bundel tabung
evaporator. Karena vakum ekstrim dari shell yang lebih rendah [6 mm Hg (0,8 kPa)
tekanan absolut], cairan pendingin mendidih pada sekitar 39 F (4 C), menciptakan
efek pendingin. (Vakum ini diciptakan oleh tindakan higroskopis - bromida afinitas
lithium yang kuat memiliki air - di Absorber langsung di bawah.)
Absorber: Sebagai uap refrigeran berpindah ke absorber dari evaporator, solusi
lithium bromide yang kuat dari generator disemprotkan dari atas bundel tabung
absorber. Solusi lithium bromide yang kuat sebenarnya menarik uap refrigeran ke
dalam larutan, menciptakan vakum ekstrim dalam evaporator. Penyerapan uap
11

refrigeran ke dalam larutan lithium bromide juga menghasilkan panas yang


dikeluarkan

oleh air pendingin.

Sekarang larutan encer

lithium

bromide

mengumpulkan di bagian bawah shell yang lebih rendah, di mana ia mengalir ke


pompa solusi. Siklus dingin sekarang selesai dan proses dimulai lagi.
H. Penggolongan Sistim Pengkondisian Udara
Jenis yang mendasari adalah sistim pengkondisian udara sentral. Untuk
menjamin pengaturan pengkondisian udara ruangan yang di teliti, maka sesuai dengan
kemajuan teknik pengkondisian udara yang telah dicapai sampai pada saat ini, dapat
dikembangkan beberapa sistim. Hal tersebut terutama menyangkut perkembangan
elemen pendinginnya.
I. Jenis jenis sistim penghantar udara adalah sebagai berikut :
a. Sistim Saluran Tunggal
Sistim ini merupakan sistim penghantar udara yang paling banyak
dipergunakan. campuran udara ruangan didinginkan dan dilembabkan, kemudian
dialirkan kembali kedalam ruangan melalui saluran udara.
Keuntungan dari sistim ini adalah :
Sederhana, mudah perancangannya, pemasangan,

pemakaian

dan

perawatannnya.
Biaya awal lebih rendah dan murah.

Kerugian dari sistim ini adalah :

Saluran utama berukuran besar, sehingga memerlukan tempat yang lebih

besar.
Kesulitan dalam mengatur temperature dan kelembaban dari ruangan yang
sedang dikondisikan, karena beban kalor dari ruangan yang berbeda satu
dengan yang lainnya.
Pada dasarnya sistim pengaturan untuk sistim saluran tunggal menyangkut

pengaturan temperature udara melalui bagian-bagian utama dari saluran. Dalam


hal tersebut, laju aliran air dingin, laju aliran air panas atau uap ke koil udara,
diatur sedemikian rupa sehingga temperature udara dapat diubah. Sistim ini
dinamakan sistim volume konstan temperature variable, yang sudah banyak
dipergunakan dalam sistim penghantar udara.

12

Dalam keadaan dimana beban kalor dari beberapa ruangan yang akan
dilayani ini berbeda-beda, boleh dikatakan tidak mungkin mempertahankan udara
ruangan pada suatu temperature tertentu, kecuali bagi beberapa ruangan utama
saja. Jadi masalah tersebut dapat dipecahkan dengan melayani ruangan dengan
beban kalor yang sama oleh satu pengolah udara secara sentral.
Sistim saluran udara tunggal yang lain adalah sistim pemanasan ulang,
dimana udara segar yang mengalir didalam saluran utama tersebut dapat
dipertahankan konstan, pada temperature yang rendah. Kemudian udara tersebut
masuk kedalam ruangan melalui alat pemanas yang dipasang pada saluransaluran cabang masing-masing. Pemanas tersebut memanaskan udara dan diatur
sedemikian rupa sehingga diperoleh temperature udara tang sesuai dengan
temperature udara ruangan yang di inginkan. Sistim ini dinamakan sistim
pemanasaan ulang terminal dan banyak digunakan untuk melayani beberapa
ruangan pribadi yang ada didalam gedung perkantoran umum.
Ada pula sistim saluran tunggal yang bekerja dengan volume variable
dimana jumlah aliran udara dapat diubah sesuai dengan beban kalornya, jadi,
volume aliran udara akan berkurang dengan turunnya beban kalor dari ruangan
yang harus dilayani.pengaturab volume aliran udara dilakukan dengan mengatur
posisi damper atau dengan unit volume variable damper. Ada beberapa macam
unit volume variable damper. Salash satu diantaranya seperti gambar dibawah ini

Gambar 11. Unit Volume Udara Variabel

13

Pada hal tersebut terakhir terdapat dua saluran; satu saluran menyalurkan
jumlah udara yang minimal diperlukan, sedangkan saluran lainnya menyalurkan
jumlah udara sesuai dengan pembukaan katup udara yang diatur oleh thermostat.
Pemasukan udara diatur oleh tekanan udara yang bekerja pada tirai dari alat
pengatur volume konstan dan gaya pegas. Pemasukan udara minimum harus
diatur supaya distribusi udara didalam ruangan dapat berlangsung sebaik-baiknya,
dengan jumlah ventilasi udara yang minimal. Jumlah udara masuk akan berkurang
dengan turunnya beban kalor, sehingga apabila jumlah udara masuk menjadi lebih
kecil daripada jumlah udara masuk yang minimal, maka temperature udara masuk
akan berubah. Dalam sistim volume variable, putaran atau sudu isap dari kipas
udara dapat diatus sesuai dengan perubahan pemasukan udara yang diinginkan.
Sistim pengaturan kipas udara tersebut diatas memungkinkan penghematan daya
listrik yang diperlukan untuk menggerakan kipas udara pada beban parsial.
b. Sistim Dua Saluran
Selain sistim saluran tunggal, terdapat pula sistim dua saluran yang dapat
menutupi kekurangan daru sistim saluran tunggal. Sistim ini kebanyakan
digunakan di gedung-gedung besar, dalam hal tersebut udara panas dan udara
dingin dihasilkan secara terpisah oleh mesin penyegar udara yang bersangkutan.
Kedua jenis udara itupun disalurkan melalui saluran yang terpisah satu sama lain.
Tetapi kemudian dicampur sedemikian rupa sehingga tercapai tingkat keadaan
yang sesuai dengan beban kalor dari ruangan yang akan disegarkan. Sesudah itu
disalurkan kedalam ruangan yang bersangkutan. Sistim ini dinamakan sistim dua
saluran.
Dalam sistim ini, alat yang diperlukan untuk mencampur udara panas dan
udara dingin

dalam perbandingan jumlah aliran yang ditetapkan untuk

memperoleh kondisi akhir yang diinginkan, dinamai alat pencampur. Sistim dua
saluran dapat memberikan hasil pengaturan yang lebih teliti. Tetapi memerlukan
lebih banyak energi kalor dan lebih tinggi harga awalnya. Ada dua jenis sistim dua
saluran, yaitu sistim volume konstan dan sistim volume variabel.

14

Gambar 12. Sistem Dua Saluran


c. Sistim Air Udara
Dalam sistim air udara, unit koil kipas udara atau unit induksi dipasang
didalam ruagan yang akan dikondisikan. Air dingin dialirkan kedalam unit
tersebut, sedangkan udara ruangan dialirkan melalui unit tersebut sehingga
menjadi dingin. Selanjutnya udara tersebut bersirkulasi didalam ruangan.
Demikian pula untuk keperluan ventilasi, udara luar yang telah didinginkan dan
dikeringkan atau udara luar yang telah dipanaskan dan dilembabkan dialirkan dari
mesin pengolah udara jenis sentral keruangan yang akan di kondisikan.
Oleh karena berat jenis dan kalor spesifik air lebih besar dari pada udara,
maka baik daya yang diperlukan untuk mengalirkan maupun ukuran pipa yang
diperlukan untuk memindahkan kalor yang sama adalah lebih kecil. Dengan
demikian, untuk mengatasi beban kalor dari ruangan yang akan di kondisikan,
banyaknya udara yang mengalir dari mesin pengolah udara jenis sentral adalah
lebih kecil. Disamping itu, ukuran mesin pengolah udara maupun daya yang
diperlukan adalah lebih kecil jika dibandingkan dengan yang diperlukan oleh
sistim udara penuh.
d. Unit Koil Kipas Udara dan Unit Induksi
Unit ini dinamakan unit terminal dan dipasang didalam ruangan. Semua
unit tersebut merupakan bagian dari sistim penghantar udara yang berfungsi sama.
Didalam unit tersebut Koil udara ditempatkan didalam kabinet kecil, dimana
dialirkan air dingin. Pada unit koil kipas udara, udara dialirkan oleh kipas udara
yang dipasang didalam unit tersebut. Pada unit induksi, udara primer berkecepatan
15

tinggi di alirkan melalui beberapa nosel. Selanjutnya dengan efek induksi secara
primer, udara ruangan terisap masuk kedalam unit dan didinginkanoleh koil udara,
kemudian disirkulasikan kembali kedalam ruangan.
Contoh Water Cool Chiller
Unit Chiller yang digunakan pada sistim ini merupakan jenis Water Cooled
Water Chiller dengan menggunakan kompresor jenis sentrifugal 3 tahap / 3 stage
centrifugal compressor ( Kompresor sentrifugal 3 tingkat ), yang diproduksi oleh
salah satu pabrikan unit AC yang cukup terkenal yaitu Trane Company. Unit ini
berkapasitas 320 Ton Refrigerant / 320 TR, dengan menggunakan sistim negative
pressure, dimana jika terjadi kebocoran pada unit Chiller maka refrigerant yang
terdapat didalamnya tidak akan terbuangan ke udara, melainkan udara luar yang
akan masuk kedalam sistim. Didalam sistim Chiller sendiri terdapat satu unit
pembuang udara yang masuk saat terjadi kebocoran tadi yang dinamakan Purging
Unit. cara kerja purging seperti ini : saat Chiller mengalami kebocoran, maka
udara luar akan masuk kedalam sistim chiller sehingga refrigerant atau freon akan
bercampur dengan udara luar yang mengandung uap air, sensor pada purging unit
akan membaca perbedaan tekanan pada sistim dan kelembaban refrigerant pada
sistim sehingga akan mengaktifkan purging unit tersebut.
Saat purging unit bekerja, Chiller tetap beroperasi sebagaimana mestinya
tanpa terganggu. Udara yang terhisap masuk kedalam sistim akan di tekan keluar
oleh purging unit, sehingga tekanan pada sistim mengalami kondisi stabil barulah
unit Chiller dapat di perbaiki. Untuk media pendingin yang digunakan oleh unit
Chiller yaitu refrigerant jenis R 123 dan untuk Purging unit berjenis R 134 A,
kedua sudah ramah lingkungan.

16

Gambar 12. Water Cooled Centrifugal Chiller

Gambar 13. Purging Unit


Chilled Water & Condenser Water Pump
Guna keperluan mensirkulasikan air yang sudah didinginkan oleh unit
Chiller ke AHU maupun air yang mendinginkan unit condenser di Chiller ke
Cooling Tower, maka di gunakan masing-masing sistim satu paket Pompa
sirkulasi air dingin dan Pompa sirkulasi air pendingin. Jenis kedua pompa ini
adalah sama, yaitu digunakan jenis End Suction Centrifugal Pump dengan
tekanan kerja pompa adalah 10 kg/cm2.
Pada sistim ini, sistim Chilled Water atau air yang didinginkan
menggunakan 2 buah pompa yang beroperasi sekaligus, hal ini dirancang agar
umur pompa dapat lebih lama mengingat jarak antara ruang pompa dan lokasi
17

hotel cukup jauh. Sedangkan untuk sistim air pendinginan hanya di gunakan satu
buah pompa sirkulasi, mengingat jarak ruang pompa dan unit Cooling Tower
cukup dekat.

Gambar 14. Chilled Water dan Condensor water Pump


Cooling Tower Unit
Unit ini berfungsi sebagai pendingin unit condenser pada unit Chiller
dengan media yang digunakan adalah air, dimana sistim kerja Cooling Tower
dapat di jelaskan sebagai berikut : condenser di unit Chiller akan memiliki
temperature dan tekanan yang tinggi akibat tekanan kerja dari Kompresor,
sehingga diperlukan media pendingin untuk merubah fase refrigerant di
condenser tersebut, untuk itu dibuat suatu sistim pendinginan dengan
menggunakan media air yang disirkulasikan oleh pompa ke unit Cooling Tower,
dimana air yang disirkulasikan tersebut akan membawa kalor dari condenser
untuk kemudian di lepaskan kalornya ke udara di Cooling Tower, sehingga air
akan mengalami penurunan temperature dan kembali disirkulasikan kembali ke
unit condenser. Unit Cooling Tower sendiri terdiri dari : satu unit casing Cooling
Tower, Motor Blower, Basin dan Water Filler atau jika diartikan menjadi sirip
sirip pendingin air.

18

Gambar 15. Unit Cooling Tower


Air Handling Unit dan Fan Coil Unit
Baik Air Handling Unit maupun Fan Coil Unit memiliki kesamaan fungsi,
Air Handiling unit di fokuskan untuk menangani kapasitas pendinginan yang
lebih besar sedangkan Fan Coil Unit di fokuskan untuk kapasitas pendinginan
yang lebih kecil, dalam sistim ini AHU di gunakan untuk mengkondisikan fresh
air (udara segar) dari udara luar yang akan di distribusikan sebagai tambahan
udara segar untuk FCU dan kamar juga sebagai distribusi suplai udara dingin
guna keperluan koridor di masing-masing lantai.
Komponen komponen dari AHU maupun FCU sebernanya cukup
sederhana yang terdiri dari : Casing, Koil, Filter Udara dan Motor Blower.

PERBEDAAN ANTARA CHILLER DAN AC


A. Sistem Kerja AC Split

19

Gambar 16. AC Split


Prinsip kerja AC Split maupun pada mesin pendingin model lainnya adalah
sama yaitu menyerap panas udara didalam ruangan yang didinginkan, kemudian
melepaskan panas keluar ruangan. Jadi pengertian AC Split adalah seperangkat alat
yang mampu mengkondisikan suhu ruangan sesuai yang kita inginkan, terutama
mengkondisikan suhu ruangan menjadi lebih rendah suhunya dibanding suhu
lingkungan sekitarnya. Pada Air Conditioner udara rungan terhisap disirkulasikan
secara terus menerus oleh blower (pada indoor unit) melalui sirip evaporator yang
mempunyai suhu yang lebih dingin dari suhu ruangan, saat udara ruangan bersirkulasi
melewati evaporator, udara ruangan yang bertemperatur lebih tinggi dari evaporator
diserap panasnya oleh bahan pendingin/refrigeran (evaporator), kemudian calor yang
diterima evaporator dilepaskan ke luar ruangan ketika aliran refrigeran melewati
condenser (unit outdor).
Jadi , temperatur udara yang rendah atau dingin yang kita rasakan pada
ruangan sebenarnya adalah sirkulasi udara di dalam ruangan, bukan udara yang
dihasilkan oleh perangkat AC Split. Unit AC hanyalah tempat bersikulasinya udara
ruangan yang sekaligus menangkap kalor (panas) pada udara ruangan yang
bersirkulasi melewati evaporator hingga mencapai temperatur yang diinginkan.
Berikut komponen komponen yang ada pada AC Split:
1. Bagian indor .
20

Pada AC Split pada bagian indoor unit AC Split umumnya terdapat komponen
utama yaitu :
a. Evaporator
Pada mesin pendingin AC Split evaporator terbuat dari pipa tembaga
dengan panjang dan diameter tertentu yang di bentuk berlekuk lekuk agar
menghemat tempat dan lebih efektif menyerap panas dari udara ruangan yang
bersirkulasi melaluinya. Karena pipa evaporator dilewati refrigerant yang
memiliki suhu yang sangat rendah, maka suhu evaporator mejadi rendah
(dingin) dengan kisaran suhu hingga mencapai 5C dengan begitu, suhu udara
ruangan akan menjadi rendah (dingin) ketika melewati evaporator.
b. Motor Blower & Motor Pengatur Aliran Udara (motor stepper)
Motor Blower berfungsi untuk mensirkulasikan udara dalam ruangan,
sehingga udara ruangan dapat bersirkulasi melewati evaporator, setelah udara
melewati evaporator aliran udara di arahkan ke ruangan oleh pengatur aliran
udara (motor Stepper). Blower akan bekerja sampai temperatur udara ruangan
sesuai keinginan. Dengan kata lain blower akan berhenti kerja (Off) ketika
temperatur udara ruangan mencapai suhu yang kita inginkan (setting suhu
pada pengaturan remote kontrol AC Split).
c. Saringan ( filter ) Udara
Pada Indoor AC Split Saringan (filter udara) berfungsi menyaring
udara yang melewati evaporator, sehingga udara yang bersirkulasi dalam
ruangan menjadi lebih bersih. Pada unit AC Split model baru juga dilengkapi
dengan filter anti bakteri atau anti racun untuk menangkal bibit penyakit dan
menyaring polutan berbahaya bagi tubuh manusia yang terbawa melalui udara
ruangan.

d. Kontrol Panel Electrik & Sensor Suhu (Thermistor)


Pada bagian indoor AC Split terdapat Kontrol Panel Electric dan sensor
suhu (thermistor) yang berfungsi mengatur kerja mesin pendingin secara
keseluruhan yang meliputi mengatur kerja blower, motor pengatur aliran
udara, compressor, fan outdor dan fungsi timer.

21

2. Bagian outdoor
Pada bagian outdoor AC Split secara umum terdapat komponen utama, yaitu :
a. Kondensor
Ketika refrigeran keluar melewati bagian indoor AC Split (evaporator),
kalor (panas) udara ruangan yang terbawa akan dilepaskan di bagian
kondensor. Serupa dengan evaporator, kondensor terbuat dari pipa tembaga
yang dibuat berkelok kelok dan dilengkapi sirip sirip yang bertujuan untuk
melepas kalor udara berjalan dengan efektif dan kalor (panas) udara yang
terbawa oleh refrigerant (Freon) lebih cepat dilepaskan atau dibuang ke udara
bebas (luar ruangan).
b. Kipas (fan)
Pada bagian kondensor AC Split juga dilengkapi dengan kipas (fan).
Fungsinya adalah membuang panas pada condensor ke udara bebas.
c. Accumulator
Accumulator pada mesin pendingin berfungsi sebagai penampung
sementara refrigeran cair bertemperatur rendah dan campuran minyak pelumas
evaporator. Selain itu, accumulator berfungsi mengatur sirkulasi aliran bahan
refrigeran agar bisa keluar-masuk melalui saluran isap kompresor. Untuk
mencegah agar refrigeran cair tidak mengalir ke kompresor, accumulator
mengkondisikan wujud refrigeran yang masuk ke kompresor tetap dalam
wujud gas. Sebab, ketika wujud refrigeran berbentuk gas akan lebih mudah
masuk ke dalam kompresor dan tidak merusak bagian dalam kompresor.
d. Kompresor
Kompresor AC Split berfungsi mensirkulasikan aliran refrigeran. Dari
kompresor refrigerant (Freon) akan dipompa dan dialirkan menuju komponen
utama AC Split yaitu : kondenser, pipa kapiler, evaporator dan kembali lagi ke
kompresor. Refrigeran secara terus menerus melewati 4 komponen utam AC.
e. Saringan Refrigeran (strainer)
Setelah melepaskan kalor (panas) di kondensor, refrigeran akan
dipompa oleh kompresor menuju ke filter (strainer) Agar kotoran yang
terbawa oleh refrigeran tidak ikut terbawa ke pipa kapiler. Jika kotoran
( seperti karat atau serpihan logam ) terbawa kedalam pipa kapiler, bisa
menyebabkan kerusakan kompresor dan penyumbatan yang menyebabkan
sistem pendingi tidak bekerja optimal.
22

f. Pipa Kapiler
Pipa Kapiler / Katup ekspansi pada unit AC Split berfungsi
menurunkan tekanan refrigeran sehingga merubah wujud refrigerant cair
menjadi uap ketika zat pendingin meninggalkan katup ekspansi / pipa kapiler
dan memasuki evaporator.
B. Sirkulasi Refrigeran (bahan pendingin / Freon) di dalam AC Split
Pada AC Split Refrigeran (Freon) merupakan zat atau bahan yang bersikulasi
secara terus menerus melewati komponen utama sistem pendingin (kompresor,
kondenser, pipa kapiler, dan evaporator). Bahan pendingin atau refrigeran tidak akan
berkurang selama tidak terjadi kebocoran pada sitem pendingin. Saat melewati
komponen utama pendingin, refrigeran akan mengalami perubahan wujud, temperatur
dan tekanananya. Sirkulasi refrigeran dalam unit AC disebut siklus refrigerasi kopresi
uap. Sekarang mari kita tinjau sirkulasi refrigeran pada komponen utama AC. Dari
skema kerja refrigeran, ada empat tahapan proses kerja.

1. Proses kompresi
Proses kompresi pada mesin pendingin dimulai ketika refrigeran
meninggalkan evaporator (Proses 12). Masuknya refrigeran (bahan pendingin /
freon) kedalam kompresor melalui pipa masukan kompresor (intake). Dilihat dari
wujud, suhu, dan tekanan, ketika akan masuk kedalam kompresor , refrigeran
berwujud gas atau uap, bertemperatur rendah dan bertekanan rendah. Selanjutnya,
melalui kompresor, refrigeran dikondisiskan tetap berwujud gas, tetapi memiliki
tekanan dan suhu tinggi. Hal tersebut bisa dilakukan karena kompresor dapat
mengisap gas dan mengkompresi refrigeran hingga mencapai tekanan kondensasi.
Setelah tekanan dan suhu refrigeran diubah, selanjutkan refrigeran dipompa dan di
alirkan menuju kondenser.
2. Proses kondensi
23

Proses kondensasi pada mesin pendingin dimulai ketika refrigeran


meninggalkan kopresor (proses 23). Refrigeran berwujud gas yang bertekanan
dan bertemperatur tinggi dialirkan menuju kondensor . Didalam kondensor, wujud
gas refrigeran berubah menjadi wujud cair, panas yang di hasilkan refrigeran
dipindahkan ke udara luar pipa kondensor . Agar proses kondensasi lebih efektif,
digunakan kipas (fan) yang dapat menghembuskan udara luar tepat dipermukaan
pipa kondensor. Dengan begitu , panas pada refrigeran dapat dengan mudah
dipindahkan ke udara luar. Setelah melewati proses kondensai, refrigeran menjadi
berwujud cair yang bertemperatur lebih rendah, tetapi tekanannya masih tinggi.
Selanjutnya, refrigeran di alirkan menuju ke pipa kapiler.
3. Proses penurunan tekanan.
Proses penurunan tekanan

refrigeran

dimulai

ketika

refrigeran

meninggalkan kondenser (proses 34). Didalam pipa kapiler, terjadi proses


penurunan tekanan refrigeran sehingga refrigeran yang keluar memiliki tekanan
yang rendah. Selain itu, pipa kapiler juga berfungsi mengontrol aliran refrigeran di
antara 2 sisi tekanan yang berbeda, yaitu tekanan tinggi dan rendah. Selanjutnya,
refrigeran cair yang memiliki suhu dan tekanan rendah di alirkan menuju
evaporator. Proses ini disebut proses pendinginan.
4. Proses Evaporasi
Proses evaporasi pada mesin pendingin dimulai ketika refrigeran akan
masuk ke dalam evaporator. Dalam keadaan ini, refrigeran berwujud cair,
bertemperatur rendah, dan bertekanan rendah. Kondisi refrigeran semacam ini
dimanfaatkan untuk mendinginkan udara luar yang melewati permukaan
evaporator. Agar lebih efektif mendinginkan udara ruangan, di gunakan blower
(indoor) untuk mengatur sirkulasi udara agar melewati evaporator. Proses yang
terjadi pada pendinginan udara ruangan Adalah : Proses penangkapan kalor
(panas). Udara ruangan yang mempunyai temperatur lebih tinggi dibandingkan
dengan refrigeran yang mengalir didalam evaporator. Karena evaporator
menyerap panas udara di dalam ruangan, wujud refrigeran cair dalam evaporator
akan menjadi wujud gas, Selanjutnya, refrigeran akan mengalir menuju ke
kompresor . Proses ini terjadi berulang dan terus menerus sampai suhu atau
temperatur ruangan sesuai dengan keinginan.
24

C. Sistem Kerja AC Sentral

Gambar 17. AC Sentral


Sistem tata udara (AC) sentral berarti bahwa proses pendinginan udara
terpusat pada satu lokasi yang kemudian didistribusikan ke semua arah atau lokasi.
Sistem ini memiliki beberapa komponen utama yaitu unit pendingin atau Chiller, Unit
penanganan udara atau Air Handling Unit (AHU), Cooling Tower, system pemipaan,
system saluran udara atau ducting dan system control & kelistrikan. Pada unit
pendingin atau chiller yang menganut system kompresi uap, komponennya terdiri dari
kompresor, kondensor, alat ekspansi dan evaporator. Pada chiller biasanya tipe
kondensornya adalah water-cooled condenser. Air untuk mendinginkan kondensor
dialirkan melalui pipa yang kemudian outputnya didinginkan kembali secara
evaporative cooling pada cooling tower. Pada komponen evaporator, jika sistemnya
indirect cooling maka fluida yang didinginkan tidak langsung udara melainkan air
yang dialirkan melalui system pemipaan. Air yang mengalami pendinginan pada
evaporator dialirkan menuju system penanganan udara (AHU) menuju koil pendingin.
Berikut komponen yang ada di dalam setiap AHU/FCU akan memiliki :

25

1. Filter merupakan penyaring udara dari kotoran, debu, atau partikel-partikel


lainnya sehingga diharapkan udara yang dihasilkan lebih bersih. Filter ini
dibedakan berdasarkan kelas-kelasnya.
2. Centrifugal fan merupakan kipas/blower sentrifugal yang berfungsi untuk
mendistribusikan udara melewati ducting menuju ruangan-ruangan.
3. Koil pendingin, merupakan komponen yang berfungsi menurunkan temperatur
udara. Prinsip kerja secara sederhana pada unit penanganan udara ini adalah
menyedot udara dari ruangan (return air) yang kemudian dicampur dengan udara
segar dari lingkungan (fresh air) dengan komposisi yang bisa diubah-ubah sesuai
keinginan. Campuran udara tersebut masuk menuju AHU melewati filter, fan
sentrifugal dan koil pendingin. Setelah itu udara yang telah mengalami penurunan
temperatur didistribusikan secara merata ke setiap ruangan melewati saluran udara
(ducting) yang telah dirancang terlebih dahulu sehingga lokasi yang jauh
sekalipun bisa terjangkau. Beberapa kelemahan dari sistem ini adalah jika satu
komponen mengalami kerusakan dan sistem AC sentral tidak hidup maka semua
ruangan tidak akan merasakan udara sejuk. Selain itu jika temperatur udara terlalu
rendah atau dingin maka pengaturannya harus pada termostat di koil pendingin
pada komponen AHU.
Jadi, Sistem AC Sentral (Central) merupakan suatu sistem AC dimana proses
pendinginan udara terpusat pada satu lokasi yang kemudian didistribusikan/dialirkan
ke semua arah atau lokasi (satu Outdoor dengan beberapa indoor). Sistem ini
memiliki beberapa komponen utama yaitu unit pendingin atau Chiller, Unit pengatur
udara atau Air Handling Unit (AHU), Cooling Tower, system pemipaan, system
saluran udara atau ducting dan system control & kelistrikan. Berikut adalah
komponen, cara kerja AC Ruangan Sentral, dan Preventif Maintenance AC Sentral
Ruangan.

26

CONTOH PENGGUNAAN CHILLER DI SISTEM KOGENERASI


Kajian Kelayakan Sistem Kogenerasi Turbin Gas Bandara Udara
A. Profil Penggunaan Energi Listrik
Profil penggunaan energi akan menentukan kecocokan sistem kogenerasi yang
akan dipilih. Komposisi kebutuhan energi bandara udara akan berbeda dengan
kebutuhan energi pada hotel. Komposisi tersebut bergantung pada jenis peralatan
listrik yang digunakan dan karakteristik dan variasi beban internal gedung serta
kondisi udara di luar gedung. Demikian juga skedul beban listrik dari masing-masing
komponen energi tersebut akan berbeda antara suatu peruntukan gedung dengan yang
lainnya. Gambar 3 memberikan sebuah ilustrasi tentang profil beban listrik di suatu
obyek gedung komersial. Data tersebut menunjukkan kebutuhan listrik HVAC cukup
besar, sedangkan pencahayaan butuh energi listrik 5%.

27

Gambar 18. Contoh distribusi konsumsi energi listrik di suatu gedung komersial
Untuk gedung yang beban total listriknya di luar HVAC yang kecil, koneksi
ke sistem listrik sentral atas kelebihan produksi listriknya sangat perlu dilakukan
sehingga sistem HVAC pada gedung yang punya sistem kogenerasi dapat beroperasi
tanpa adanya chiller mekanikal. Dengan demikian kapasitas pembangkit listrik sentral
dengan efisiensi rendah dapat dikurangi. Semua ini akan berdampak pada
penghematan penggunaan energi fosil dan mengurangi emisi gas ke atmosfir.
B. Sistem Kogenerasi dan Pembangkitan Daya Mandiri
Aplikasi kogenerasi yang lazim digunakan adalah pembangkitan energi listrik
dan pemanfaatan energi termal. Energi listrik digunakan sebagai catu daya bagi
peralatan kelistrikan, sedangkan energi termal yang berupa panas sisa dapat
dimanfaatkan untuk pembangkitan uap, penyediaan air panas, atau pemanfaatan
langsung gas buang untuk memanaskan generator chiller absorpsi. Sistem yang
memanfaatkan panas dan daya listrik ini juga dikenal dengan nama sistem Combined
Heat Power (CHP).
Bandara udara merupakan obyek yang menarik untuk penerapan sistem
kogenerasi karena kebutuhan listrik yang besar dan sistem Heating, Ventilation, dan
Air-Conditioning

(HVAC)

yang

juga

besar.

Dengan

luas

gedung

yang

berpengondisian udara di atas 100.000 m2, kebutuhan energi listriknya yang cukup
besar dan berada di atas 5000 kWe. Bandara udara yang masuk dalam rentang tersebut
banyak terdapat di Indonesia. Dengan ukuran yang besar ini, penerapan pembangkitan
daya kogenerasi diharapkan lebih efektif dari aspek teknis dan keuntungan ekonomis
yang berarti mungkin dapat diperoleh. Bandara udara besar dengan luas jauh lebih
besar dari angka tersebut di atas akan membutuhkan energi yang lebih besar lagi.
Sistem pembangkitan daya kogenerasi mandiri dapat mengurangi kebutuhan daya
yang harus dihasilkan oleh pembangkit sentral. Pembangkitan tenaga listrik Indonesia
masih bergantung pada energi fosil dan kinerja konversi energi juga rendah perlu
diatasi dengan paradigma yang tepat. Rencana pemerintah sebagaimana tertuang
dalam Kepmen ESDM RI No.0074.K/21/MEM/2015 tentang pengesahan rencana
28

usaha penyediaan tenaga listrik PT PLN tahun 2015 2024. Dalam rencana tersebut
pembangunan pembangkit listrik dari periode 2015 - 2019 sebesar 35.000 MWe.
Sistem kogenerasi belum menjadi bagian rencana penyediaan tenaga listrik Indonesia
serta belum mendapat perhatian ataupun insentif untuk pengembangannya. Walaupun
demikian keputusan politik harus mendukung pertumbuhan sistem kogenerasi yang
bisa memaksimalkan pemanfaatan bahan bakar.
Kogenerasi turbin gas memiliki perkembangan yang cepat akhir-akhir ini
karena besar ketersediaan gas alam di negara-negara maju, kemajuan teknologi yang
cepat, penurunan biaya pemasangan yang cukup berarti, dan dampak ke lingkungan
yang lebih kecil. Masa persiapan untuk pengembangan sebuah proyek lebih pendek
dan peralatan dapat dikirim dengan cara modul. Turbin gas memiliki waktu start-up
yang pendek dan memberi fleksibilitas operasi yang berubah-ubah. Walaupun turbin
gas tersebut memiliki efisiensi rendah dalam pemanfaatan bahan bakar khususnya
untuk kapasitas kecil, karena panas buangnya bertemperatur tinggi dapat
dimanfaatkan kembali sehingga juga menarik untuk diterapkan. Kemajuan teknologi
chiller absorpsi dengan kinerja lebih tinggi dari 1,2 untuk efek ganda dan tripel juga
mengindikasi mampu bersaing dengan teknologi chiller mekanikal. Jika keluaran
panas buang kurang dari kebutuhan, pembakaran tambahan gas alam dimungkinkan
dengan cara mencampurkan bahan bakar tambahan terhadap gas buang yang masih
kaya dengan oksigen untuk meningkatkan temperatur keluaran dalam pemenuhan
kebutuhan dalam chiller sudah diakomodasi dalam beberapa teknologi chiller.
1. Pembangkoitan Daya Kogenerasi Turbin Gas Mandiri
Sistem pembangkit daya kogenerasi mandiri sangat menarik untuk dikaji
bila kebutuhan listrik, panas ataupun dingin terjadi bersama-sama. Sistem ini
butuh dukungan sumber energi primer untuk dapat beroperasi. Dengan memilih
sistem n+1 untuk pembangkitan daya, maka turbin gas generator dioperasikan
dengan jumlah n buah operasi untuk faktor beban 1 dan ditambah sebuah turbin
gas generator juga dioperasikan sehingga faktor beban kurang dari 1 dan bila
terjadi gangguan pada sebuah turbin gas generator, black out tidak akan terjadi
sepanjang pasokan sumber gas itu handal. Di samping itu sebuah turbin gas
generator juga standby dan akan dioperasikan bila salah satu dari sistem n+1
mengalami kerusakan. Sesuai dengan fokus pada topik ini untuk bandara udara,
masalah lahan untuk sistem pembangkit tidak akan menjadi masalah penting.
29

Masalah yang lain adalah ketersediaan bahan bakar untuk sistem pembangkit juga
dianggap tidak ada. Untuk kepraktisan dan lingkungan yang bersih ketersediaan
bahan bakar gas sudah menjadi suatu keharusan untuk pembangunan sistem
pembangkit mandiri untuk bandara.
Green airport harus diwujudkan dari berbagai aspek baik itu arsitek,
konstruksi bangunan maupun utilisasi energi di gedung, terminal, perkantoran
yang ada di bandara udara. Untuk utilisasi energi secara umum di bandara, sistem
kogenerasi sangat penting untuk dikaji dari berbagai aspek baik kehandalan, serta
efisiensi pemanfaatan bahan bakar dan tingkat emisi lingkungan yang mungkin
ditimbulkan serta dari aspek keekonomiannya. Untuk layanan yang sama,
konsumsi energi yang berkurang akan secara langsung akan mengurangi biaya
bahan bakar dan emisi lingkungan.
C. Proses Kogenerasi Turbin Gas Dengan Penggunaan Chiller
Ilustrasi untuk pemanfaatan bahan bakar untuk menghasilkan daya listrik dan
menghasilkan air dingin untuk dialirkan ke AHU (Air Handling Unit) dan FCU (Fan
Coil Unit) dan juga untuk aplikasi pendinginan udara masuk kompresor turbin dan
juga generator diberikan pada Gambar 2. Pemanfaatan gas buang langsung oleh
chiller untuk sistem pendinginan air dilakukan langsung. Untuk kasus kebutuhan air
dingin sistem HVAC masih ada banyak sisa dari potensi yang dimiliki, air dingin
digunakan juga pendinginan sistem turbin gas sehingga daya yang dihasilkan bisa
lebih besar dan menaikkan efisiensi dan daya keluaran turbin gas. Bila inlet air
cooler belum terpasang, maka kapasitas pendinginan dapat diatur dengan mengatur
bukaan damper. Chiller akan memproduksi air dingin untuk dialirkan ke sistem
header dan sirkulasi air dingin yang dialirkan ke FCU dan AHU untuk mendinginkan
udara yang dialirkan ruangan yang dikondisikan dan juga ke pendingin udara masuk
sistem turbin gas. Damper dan cerobong dipasang antara turbin dan chiller untuk
mengatur aliran gas ke chiller dan dapat disesuaikan dengan beban pendinginan yang
dialami. Pendingin udara masuk untuk pendinginan generator dan untuk pendinginan
udara yang masuk ke kompresor sistem turbin gas. Bila chiller tidak bekerja, maka
gas buang dapat di-bypass langsung ke cerobong.

30

Gambar 19. Sistem kogenerasi turbin gas dengan kegunaan air dingin alternatif.

D. Data Teknis dan Ekonomi


Dalam kajian termal dan ekonomis sejumlah data dibutuhkan sehingga analisis
dapat dilakukan. Ada 2 kajian yang dibahas pada paper ini yaitu kajian termal dan
kajian ekonomi dengan metode life cycle cost (LCC). Untuk melihat keunggulan dan
juga kelemahan sistem kogenerasi, penggunaan energi sistem konvensional yang
bergantungan penuh pada pasokan listrik dari perusahaan listrik dijadikan sebagai
pembandingnya. Kajian termal meliputi kinerja pemanfaatan bahan bakar dari sistem
kogenerasi yang berbasiskan turbin gas. Efisiensi pemanfaatan bahan bakar yang
tinggi akan menjadi sasaran dalam pengembangan. Untuk dapat melakukan kajian
tersebut, data-data yang diberikan pada Tabel 1 dibutuhkan untuk kedua kajian sistem
alternatif.
Tabel 1 Data-data utama dalam kajian LCC
No
1.

Harga Listrik

Parameter*
1400

Nilai

Unit
Rp/kWh

2.

Harga Air

15000

Rp/m3

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Harga Bahan Bakar Gas


Turbin Gas + Generator
Genset
OpHar Turbin Gas + Generator (kecuali bahan bakar)
Chiller Sentrifugal
Chiller Absorpsi Efek Ganda
HVAC (kecuali Chiller + Menara Pendingin)
Menara Pendingin (termasuk pompa + pemipaan)
OpHar HVAC (kecuali listrik/bahan bakar + chiller)
OpHar Chiller Absorpsi (kecuali bahan bakar dan

91000
10400000
6500000
90
4550000
10400000
2000000
1750000
25
30

Rp/MMBtu
Rp/kWe
Rp/kWe
Rp/kWh
Rp/TR
Rp/TR
Rp/TR
Rp/TR
Rp/TR-jam
Rp/TR-jam

13.
14.

listrik)
OpHar Chiller Sentrifugal (kecuali listrik)
Harga Gedung Mesin

65
4000000

Rp/TR-jam
Rp/m2

31

15.
16.
17.
18.

Umur Ekonomi Mesin


Umur Ekonomi Gedung
Suku Bunga
Jumlah Hari Operasi setiap Tahun

15
20
0,12
365

tahun
tahun
hari

*OpHar: biaya operasi dan pemeliharaa


E. Pemilihan Turbin Gas dan Chiller Absorpsi
Dalam sistem kogenerasi yang diusulkan ini, komponen yang penting dan
perlu mendapatkan perhatian adalah turbin gas dan chiller absorpsi. Jenis dan
kapasitas yang dipilih mengacu pada perkembangan teknologi dan produk yang ada di
pasaran serta beban listrik dan pendinginan maksimum yang terjadi di bandara.
Dengan sistem n+1 yang telah ditetapkan dalam studi ini, kapasitas yang
dipilih akan menentukan jumlah serta rasio beban generator. Oleh karena bila ada
rencana pengembangan harus juga menjadi bagian pertimbangan dalam studi
sehingga ketika kondisi akhir telah tercapai maka aktual LCC dapat menjadi rendah.
Dalam studi ini, alternatif yang mungkin adalah turbin gas operasi 3 unit dan sebuah
standby dengan kapasitas masing-masing adalah 3500 kWe. Koreksi atas kondisi
operasi dengan kondisi ISO dianggap ada pengurangan daya sebesar 15%. Potensi
maksimum panas yang diambil dari gas buang untuk laju massa gas buang pada
kondisi ini untuk chiller adalah 68365 kg/s pada 445 oC serta batas temperatur keluar
chiller diambil 130oC, sehingga potensi laju panas yang dimanfaatkan menjadi:
q mcp T = 68365 kg/s 1,005 kJ/(kg o C) (445 130)o C = 6012 kW
Dengan mengasumsikan COP chiller absorpsi 1,2, kapasitas chiller maksimum yang
diperoleh untuk turbin gas beroperasi maksimum adalah 2051 TR. Karena dalam
operasi tersebut rasio beban setiap generator hanya 57%, sehingga chiller absorpsi
yang dipilih 1000 TR untuk setiap turbin gas. Rasio beban yang diperbesar dengan
jumlah mesin yang lebih banyak sehingga kapasitas mesinnya lebih kecil. Karena
total kapasitas pendingin yang dibutuhkan 5000 TR, sementara untuk 3 unit chiller
absorpsi hanya menghasilkan 3000 TR, sehingga kekurangan 2000 TR dipilih chiller
sentrifugal. Untuk fleksibilitas dalam operasi dan biaya investasi yang murah, 2 unit
chiller sentrifugal operasi dan sebuah unit standby dengan kapasitas masing-masing
1000 TR dipilih untuk konfigurasi chiller.
F. Hasil Kajian Dua Sistem Utilisasi Energi
a. Sistem Energi Konvensional
32

Sistem utilisasi energi konvensional ini merupakan sistem energi di


bandara udara yang kebutuhan energinya dipasok oleh sistem pembangkit daya
sentral yang dibeli dari perusahaan listrik. Pemanfaatan bahan bakar yang
berbasiskan bahan bakar gas pada PLTGU mempunyai efisiensi maksimum di
kisaran 48 - 50%. sedangkan untuk sistem PLTMG (gas engine) berkisar pada
kisaran 40%. Demikian juga untuk sistem dengan PLTG efisiensi termalnya akan
kurang dari 35%. Tabel 2 menyajikan data -data yang digunakan dalam kajian
ekonomi sistem energi konvensional. Kapasitas total chiller 6400 TR mengikuti
data sesuai dengan chiller yang terpasang.

Tabel 2. Data-data utama sistem konvensional


No
1
2
3
4
5
6
7

Parameter
Total Daya Listrik (Max)
Kapasitas Total Chiller Sentrifugal
Beban Pendinginan Maksimum
Beban Pendinginan Menara Pendingin
Kapasitas Total Menara Pendingin
Daya Listrik Chiller Sentrifugal
Daya Listrik HVAC (AHU, FCU, sirkulasi air

Nilai
7328
6400
5000
6800
8000
0,65
0,2

Satuan
kWe
TR
TR
TR
TR
kW/TR
kW/TR

8
9
10
11
12

dingin)
Daya Listrik Menara Pendingin
Total Daya Listrik HVAC (Max)
Total Daya Listrik non HVAC (Max)
Air Penambah Menara Pendingin
Luas Ruang Mesin

0,085
4828
2500
0,25
336

kW/TR
kW
kW
lpm/TR
m2

Hasil perhitungan kajian ekonomi terhadap sistem konvensional tersebut


diberikan pada Tabel 3. Hasil perhitungan biaya komponen ini menunjukkan
bahwa porsi biaya untuk listrik HVAC adalah terbesar dengan besar 44%, dan
yang mendapatkan urutan kedua adalah biaya listrik non HVAC dengan besar
27%. Sedangkan biaya atas investasi genset mendapatkan urutan ketiga sebanyak
9% dan air menempatkan urutan keempat yaitu sebesar 7%.
Tabel 3. Hasil kajian sistem konvensional
No
1
2
3
4

Rincian Biaya
Biaya Chiller Sentrifugal
Biaya Investasi Menara Pendingin
Biaya Investasi HVAC (kecuali

Rp
29.120.000.000
14.000.000.000
10.000.000.000

LCC tahunan, Rp
4.275.521.859
2.055.539.355
1.468.242.396

Chiller+Menara Pendingin)
Biaya Investasi Genset (backup)

47.632.000.000

6.993.532.183

33

5
6
7
8
9

Biaya Listrik HVAC setahun


Biaya Listrik non HVAC
OpHar HVAC (kecuali listrik)
Biaya Air setahun
Biaya Gedung setahun
Total

36.019.776.800
22.036.875.000
2.398.050.000
5.707.359.000
1.344.000.000

36.019.776.800
22.036.875.000
2.398.050.000
5.707.359.000
179.933.080
81.134.829.673

G. Sistem Kogenerasi Turbin Gas


Sistem energi kogenerasi turbin gas ini merupakan sistem pembangkitan
energi alternatif di bandara udara yang membutuhkan energi bahan bakar gas untuk
operasinya. Dari kajian pemilihan spesifikasi dan konfigurasi sistem kogenerasi ini,
pertimbangan sistem n+1 serta faktor beban antara satu dan setengah ketika operasi
normal dan faktor beban tidak lebih dari satu ketika situasi darurat yakni satu mesin
mendadak mati dijadikan dasar pertimbangan. Tabel 4 merupakan data-data yang
digunakan dalam perhitungan. Data-data ini mengacu pada data utama dan konsumsi
energi spesifik mengacu pada kinerja produknya banyak digunakan serta ada koreksi
atas beban parsial ketika dioperasikan.
Tabel 4. Data-data utama sistem kogenerasi
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Parameter
Daya Listrik non HVAC
Daya Listrik Total
Beban Pendinginan Maksimum
Daya Listrik Chiller Absorpsi
Daya Listrik Chiller Sentrifugal
Daya Listrik HVAC (AHU, FCU, loop air dingin)
Daya Listrik Menara Pendingin
Air Penambah Menara Pendingin

Nilai
2500
5045
5000
0,03
0,65
0,2
0,085
0,25

Satuan
kWe
kWe
TR
kW/TR
kW/TR
kW/TR
kW/TR
lpm/TR

Tabel 5 merupakan data-data yang digunakan dalam kajian ekonomi. Datadata ini merupakan hasil iterasi untuk pemenuhan beban dan tetap mengacu pada data
dan spesifikasi produk yang ada di pasaran serta data teknis lainnya. Koreksi atas
beban parsial dan kondisi operasi ketika dioperasikan juga dimasukkan dalam proses
ini. Dengan unit turbin gas yang telah dipilih dalam perhitungan ini, unit gas turbin
generator dengan beban 57%, sedangkan chiller absorpsi beroperasi pada kapasitas
pendinginan 100% dengan pemanfaatan gas buang kondisi 57%. Dengan cara ini
investasi chiller dapat dikurangi serta chiller standby yang ditetapkan adalah chiller
sentrifugal yang juga investasi yang lebih murah.
34

Tabel 5. Spesifikasi dan konfigurasi sistem kogenerasi


No
1

Parameter
Turbin Gas + Generator (Operasi)

Nilai
3

Unit
Unit

Turbin Gas + Generator (Standby)

Unit

Daya Generator

3500

kWe/Unit

4
5
6
7
8
9
10

Jumlah Chiller Absorpsi (Operasi)


Jumlah Chiller Absorpsi (Standby)
Kapasitas Chiller Absorpsi
Jumlah Chiller Sentrifugal (Operasi)
Jumlah Chiller Sentrifugal (Standby)
Kapasitas Chiller Sentrifugal
Efisiensi (Turbin Gas + Generator)

3
0
1000
2
1
1000
0,265

Unit
Unit
TR/Unit
Unit
Unit
TR/Unit

11
12
13
14

Koreksi Kondisi ISO


Rasio Beban Generator Normal
Rasio Beban Generator Darurat
Kapasitas Total Menara Pendingin Chiller

0,85
0,57
0,85
5100

TR

15

Absorpsi
Kapasitas Total Menara Pendingin Chiller

3750

TR

16
17

Sentrifugal
Daya Listrik HVAC
Konsumsi Bahan Bakar

18

Luas Ruangan Mesin

2543
422024
588

kWe
MMBtu/tahu
n
m2

Hasil perhitungan kajian ekonomi terhadap konfigurasi sistem yang telah


ditetapkan tersebut diberikan pada Tabel 6. Hasil atas komponen ini menunjukkan
bahwa porsi biaya untuk bahan bakar merupakan yang terbesar 48%, dan yang
mendapatkan urutan kedua adalah biaya atas turbin gas dan generator dengan besar
27%. Prosentase biaya turbin gas dan generator yang besar ini sebagai konsekuensi
harga komponen ini yang mahal dan juga penerapan sistem n+1 untuk kehandalan
sistem serta rasio beban generator hanya 57%. Rasio beban ini dapat menjadi lebih
besar bila kapasitas turbin gas generator lebih kecil yang dipilih sehingga jumlah
mesin menjadi lebih banyak, sehingga rasio beban generator menjadi lebih besar. Bila
perubahan konfigurasi dan spesifikasi ini dilakukan akan berdampak pula pada biaya
alat dan kinerja sistem serta kebutuhan ruangan yang lebih besar. Sedangkan chiller
absorpsi mendapatkan urutan keempat sebesar 6%.
35

Tabel 6. Hasil kajian sistem kogenerasi


No

Rincian Biaya

Rp

LCC tahunan,
Rp

1
2
3

Investasi Chiller Absorpsi


Investasi Chiller Sentrifugal
Investasi HVAC (kecuali

4
5
6
7

Pendingin)
Investasi Menara Pendingin
Investasi Turbin Gas + Generator
Biaya Bahan Bakar
OpHar Turbin Gas + Generator (kecuali bahan

8
9
10

chiller

Menara

bakar)
OpHar HVAC (kecuali listrik dan bahan bakar)
Biaya Air Penambah
Investasi Ruang Mesin
Total

33.000.000.000
13.650.000.000
10.000.000.000

4.845.199.908
2.004.150.871
1.468.242.396

8.926.487.500
145.600.000.000
38.404.174.420
2.949.962.850

1.310.624.740
21.377.609.293
38.404.174.420
2.949.962.850

1.630.002.277
6.378.813.000
2.352.000.000

1.630.002.277
6.378.813.000
178.673.009
80.547.452.764

H. Analisis
Hasil kajian dua sistem tersebut menunjukkan bahwa sistem kogenerasi turbin
gas mempunyai keunggulan dari efisiensi pemanfaatan bahan bakar. Hasil
perbandingan yang lebih rinci diberikan pada Tabel 7. Sistem n+1 telah menjadi
sistem kogenerasi tidak butuh backup 100% genset Diesel. Berbeda dengan sistem
konvensional yang masih membutuhkan sistem backup genset Diesel, sistem
kogenerasi turbin gas n+1 sudah dapat menjamin listrik tidak akan pernah padam
sepanjang ada pasokan bahan bakar gas dan efisiensi pemanfaatan bahan bakarnya
cukup tinggi sekitar 80% dan jauh lebih besar dari unit pembangkitan sistem PLGU
yang dimiliki PLN ataupun yang dioperasikan Indonesia Power. Chiller mekanikal
masih dibutuhkan pada sistem kogenerasi turbin gas sebesar 40% untuk operasi
normal. Chiller yang standby dengan kapasitas 20% beban maksimum adalah chiller
mekanikal. Potensi gas buang yang dimanfaatkan lebih kecil dari kebutuhkan ini
memberikan konsekuensi kapasitas chiller absorpsi tidak mencukupi. Bagaimanapun
juga komponen peralatan yang harus dioperasikan menjadi lebih banyak serta
investasi awal menjadi lebih mahal.
Tabel 7. Perbandingan parameter teknis, operasi dan kinerja operasi normal
36

Sistem Daya

Konvensional
Kogenerasi

Chiller

Chiller

Efisiensi

Absorpsi

Mekanikal

Bahan Bakar

0%
60%

100%
40%

max 50%
80%

Komponen

Genset

100%
140%

Butuh
Tidak

Turbin Gas

Tabel 8 memberikan perbandingan antara sistem konvensional dan kogenerasi


turbin gas mengenai kebutuhan ruang, air penambah. Secara umum ruang yang lebih
besar dibutuhkan untuk sistem kogenerasi. Demikian juga jumlah air penambah yang
dibutuhkan untuk chiller menjadi lebih banyak karena ada 2 pendinginan pada
absorpsi pendingin yaitu kondensor dan absorber sehingga jumlah air yang
dibutuhkan meningkat 20%. Kebutuhan energi listrik pada sistem kogenerasi dengan
adanya 60% kapasitas pendinginan dari chiller absorpsi menyebabkan daya listrik
yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit. Dengan sistem konfigurasi yang telah
diusulkan ini, total beban listriknya menjadi berkurang 31%. Hal yang lain sebagai
konsekuensi jumlah mesin lebih banyak adalah lahan yang lebih luas dan ruang mesin
yang lebih besar.
Tabel 8. Perbandingan kogenerasi dan non kogenerasi
Jenis Sistem
Konvensional
Kogenerasi Turbin
Gas

Lahan
100%
130%

Rumah Mesin
100%
135%

Air

Daya

Penambah

Listrik

100%
120%

100%
69%

Komposisi atas komponen biaya pada LCC tahunan dengan mengacu pada
data-data yang diberikan pada Tabel 1 diperlihatkan pada Gambar 5. Demikian juga
jumlah air penambah yang dibutuhkan untuk chiller menjadi lebih banyak karena ada
2 pendinginan pada absorpsi pendingin yaitu kondensor dan absorber. Kebutuhan
energi listrik pada sistem kogenerasi dengan adanya separuh chiller absorpsi daya
listrik yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit.

37

Tabel 9. Pengaruh harga listrik dan bahan bakar gas pada LCC tahunan
Sistem Konvensional
Harga Listrik,
LCC Tahunan,

Sistem Kogenerasi Turbin Gas


Harga Gas,
LCC Tahunan,

Rp/kWh
1000

Rp
64.547.214.873

Rp/MMBtu
50000

Rp
63.244.473.080

1100
1200
1300
1400
1500
1600

68.694.118.573
72.841.022.273
76.987.925.973
81.134.829.673
85.281.733.373
89.428.637.073

60000
70000
80000
90000
100000
110000

67.464.712.028
71.684.950.975
75.905.189.922
80.125.428.869
84.345.667.816
88.565.906.764

1700
1800
1900
2000
2100
2200
2300
2400
2500

93.575.540.773
97.722.444.473
101.869.348.173
106.016.251.873
110.163.155.573
114.310.059.273
118.456.962.973
122.603.866.673
126.750.770.373

120000
130000
140000
150000
160000
170000
180000
190000
200000

92.786.145.711
97.006.384.658
101.226.623.605
105.446.862.552
109.667.101.500
113.887.340.447
118.107.579.394
122.327.818.341
126.548.057.289

Sesuai amanat dengan UU RI No. 30 tahun 2007 tentang Energi pasal 25,
pemerintah wajib melakukan tindakan insentif dan disinsentif untuk mendukung
konservasi energi. Hal ini juga telah dijabarkan dalam PP RI no. 70 tahun 2009
tentang konservasi energi. Dari hasil kinerja sistem kogenerasi yang pemanfaatan
bahan bakarnya 80%, harus mendapat dukungan dalam kebijaksanaan pemerintah.
Bila harga listrik yang berlaku di Indonesia dikritisi, harga dihitung dengan aturan
yang berlaku dan harga itu juga ditentukan oleh semua jenis bahan bakar termasuk
juga PLTU, bila pajak energi yang sangat murah, maka harga listrik yang murah itu
38

tidak akan mendukung implementasi sistem kogenerasi turbin gas walaupun efisiensi
pemanfaatan bahan bakar jauh lebih tinggi dan penggunaan sistem sejalan dengan
aturan yang berlaku. Oleh karena itu kebijaksanaan pajak energi yang besar atas
produksi listrik PLTP dan PLTA diperlukan sebagai kontribusi atas pemanfaatan
sumber energi alam. PLTU batubara juga butuh pajak besar atas dampak lingkungan
yang diberikannya. Kebijaksanaan dan peraturan harga listrik sedapat mungkin
menghasilkan harga listrik lebih mahal dari ongkos produksi listrik yang berbasiskan
bahan bakar gas alam sehingga sistem-sistem kogenerasi yang ramah lingkungan
dapat berkembang pesat dan penghematan konsumsi gas nasional dapat tercapai serta
kehandalan listrik dapat ditingkatkan.
I. Kesimpulan
Dari kajian kelayakan implementasi kogenerasi turbin gas yang telah
dilakukan, beberapa kesimpulan dapat dihasilkan antara lain :

Kajian kelayakan telah dilakukan untuk membandingkan sistem energi


konvensional dan sistem kogenerasi turbin gas untuk bandara udara. Kajian
energi, teknis dan LCC tahunan telah dijadikan parameter dalam
pembandingan tersebut.

Sistem kogenerasi turbin gas memberikan keunggulan dalam pemanfaatan


bahan bakar dibanding dengan sistem konvensional yang bergantungan pada
sistem pembangkitan tenaga listrik sentral.

Sistem kogenerasi turbin gas n+1 memberikan kehandalan dalam penyediaan


listrik, walaupun investasi yang lebih dibutuhkan dari sistem n.

LCC tahunan untuk kogenerasi turbin gas hanya sedikit lebih murah mengacu
pada harga listrik dan bahan bakar gas yang sedang berlaku pada industri.

Kebijaksanaan pajak energi yang besar atas produksi listrik PLTP, PLTU batu
bara, dan PLTA diperlukan dan harga listrik sedapat mungkin mengacu pada
ongkos produksi listrik yang berbasiskan bahan bakar gas alam sehingga
sistem sistem kogenerasi yang ramah lingkungan dapat berkembang pesat dan
penghematan konsumsi gas nasional dapat tercapai.

39

DAFTAR PUSTAKA
I Made Astina dan Arief Hariyanto. 2015. Kajian Kelayakan Sistem Kogenerasi Turbin
Gas Bandara Udara. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Indra.

2012.

Sistem

Kerja

AC

Split.

(Online,
40

https://indra95.wordpress.com/2012/09/08/sistem-kerja-ac-split/, diakses tanggal 9


Maret 2016).
Anonim.

2013.

Cara

Kerja

AC

Central.

http://hamparanmandiri.blogspot.co.id/2013/12/cara-kerja-ac-central.html,

(Online,
diakses

tanggal 9 Maret 2016).


Neji,

Tio.

Mesin

Pendingin

Chiller.

(Online,

http://www.academia.edu/11985475/Mesin_Pendingin_Chiller, diakses tanggal 9 Maret


2016).

41