Anda di halaman 1dari 24

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI

ALTERNATIF BANDARA BARU


Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

BAB 3
METODOLOGI
Pada metodologi ini terbagi atas empat analisis meliputi analisis fisik
lokasi,

analisis

kondisi

perairan,

analisis

ekonomi,

dan

analisis

transportasi. Keempat analisis tersebut di jabarkan dalam sub sub


sebagai berikut :
3.1 Pekerjaan Lapangan
Data yang diperlukan dalam evaluasi geologi teknik adalah data primer
dan data sekunder. Data sekunder berupa peta topografi, peta geologi
literatur dan peta peta lainnya ( Peta hidrogeologi, potensi bahan galian,
tata guna lahan, dan lain lain).
Data primer dikumpulkan dari hasil penyelidikan geologi teknik di
lapangan berupa : pengambilan contoh tanah dengan kondisi tidak
terganggu maupun terganggu (undisturbed

dan

disturbed samples ),

pengamatan kondisi air tanah, pengamatan fenomena geologi teknik/


geodinamika setempat. Untuk mengambil data sondir, boring dan
Dinamic Cone Penetrometer (DCP)
3.2 Analisis Fisik Lokasi
Dalam analisis fisik lokasi permasalahan yang ditinjau meliputi beberapa
hal antara lain sistem tata guna tanah, survey topografi, dan penyelidikan
tanah
3.1.1. Kondisi / Rona Topograf
Tujuan dari survei topografi adalah untuk memperoleh informasi topografi
dari areal yang disurvei, antara lain berupa :
Laporan Pendahuluan | 3 -1

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Menentukan kepastian posisi areal survei dan sekaligus memasang titik

titik sementara (BM) sebagai titik referensi horisontal maupun vertikal.


Bentuk permukaan areal survei

ditunjukkan oleh bentuk data data

tinggi/garis kontur.

Jenis dan luas tata guna lahan ( land use) yang ada di lokasi survei.

Bentuk dan arah dari areal yang disurvei.

Semua informasi diatas sangat diperlukan untuk menunjang perencanaan


penentuan lokasi suatu pelabuhan. Ruang lingkup dari pekerjaan survei
topografi meliputi beberapa prosedur yaitu :
-

Pengumpulan peta dan data

Penentuan titik awal (BM0) dan pemasangan BM

Pengukuran kerangka horisontal

Pengukuran kerangka vertikal

Pengukuran situasi

Penggambaran

Sebelum pekerjaan dilaksanakan, langkah awal yang dilakukan adalah


mengumpulkan data-data sekunder berupa peta di sekitar lokasi survey,
data administrasi, transportasi dan sebagainya. Peta ini cukup penting
karena digunakan untuk membuat rencana kerja dan mendapatkan
informasi yang antara lain meliputi :

Posisi dan letak areal survey

Jaringan infrastruktur yang sudah ada di sekitar lokasi

Kepastian posisi gerografis

Jenis sumber daya alam yang ada di lokasi dan sekitarnya

Kota/desa yang ada di lokasi dan sekitarnya

Batas-batas administrasi

Cara pencapaian lokasi

Laporan Pendahuluan | 3 -2

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Ketapang,
Barat
Jenis peta yangKabupaten
dipakai sesuai
kebutuhanKalimantan
lokasi rencana

3.3 Analisis Tanah


Data terkait sifat sifat tanah setempat diperoleh melalui pengujian yang
dilakukan di laboratorium mekanika tanah dan batuan terhadap contoh
tanah tak terganggu (undisturbed

dan

disturbed samples ). Sebagian

pengujian mengacu kepada metoda standar American Society for Testing


and Material (ASTM, 1993). Untuk pondasi dangkal dipergunakan metoda
Mayerhof (1974) di dalam Paulus (1996), dengan persamaan empiris
sebagai berikut :

q a=

qc
(B+ D)
40

Dimana :
qa
qc

= Daya Dukung yang diijinkan (kg/cm2)


= Tahanan konus (kg/cm2)

B = Lebar Pondasi (m)


D = Kedalaman pondasi (m)
Tanah dasar (subgrade) adalah permukaan tanah asli, permukaan
galian,atau permukaan tanah timbunan yang merupakan permukaan
untuk perletakan bagianbagian perkerasan lainnya. Fungsi tanah dasar
adalah menerima tekanan akibat beban lalu lintas yang ada diatasnya
oleh karena itu tanah dasar harus mempunyai kapasitas daya dukung
yang optimal sehingga mampu menerima gaya akibat beban lalu lintas
tanpa mengalami kerusakan.
Perkerasan jalan merupakan suatu konstruksi yang sangat dipengaruhi
oleh bearing capacity subgrade. Semakin tinggi nilai bearing capacity
subgrade maka akan semakin tipis tebal lapis perkerasan diatasnya.

Laporan Pendahuluan | 3 -3

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Ketapang,
Kalimantanstratifikasi
Barat lapisan
Salah satu metodeKabupaten
yang digunakan
untuk mengetahui
tanah dan kapasitas dukung lapisan sub-permukaan tanah adalah Metode
Dynamic Cone Penetrometer (DCP) dan California Bearing Ratio {CBR).
DCP atau Dynamic Cone Penetrometer adalah alat yang digunakan untuk
mengukur daya dukung tanah dasar jalan langsung di tempat. Daya
dukung tanah dasar tersebut diperhitungkan berdasarkan pengolahan
atas hasil test DCP yang dilakukan dengan cara mengukur berapa dalam
(mm) ujung konus masuk ke dalam tanah dasar tersebut setelah
mendapat tumbukan palu geser pada landasan batang utamanya. Korelasi
antara banyaknya tumbukan dan penetrasi ujung conus dari alat DCP ke
dalam tanah akan memberikan gambaran kekuatan tanah dasar pada
titik-titik tertentu. Makin dalam konus yang masuk untuk setiap tumbukan
artinya

makin

lunak

tanah

dasar

tersebut.

Pengujian

dengan

menggunakan alat DCP akan menghasilkan data yang setelah diolah akan
menghasilkan CBR lapangan tanah dasar pada titik yang ditinjau.
Kekuatan tanah dasar memegang peranan penting dalam mendukung
suatu konstruksi seperti; jalan, bangunan gedung , jembatan dan
sebagainya. Khusus untuk perencanaan jalan raya kekuatan tanah dasar
ditandai dengan meningkatnya nilai California Bearing Ratio (CBR) dari
tanah tersebut. Untuk mendapatkan nilai CBR dari tanah dasar tersebut
dapat digunakan alat Dinamic Cone Penetrometer (DCP), yaitu alat yang
digunakan untuk mengevaluasi nilai California Bearing Ratio (CBR) pada
pekerjaan konstruksi jalan.

3.3.1. Dynamic Cone Penetrometer (DCP)


Pengujian cara dinamis ini dikembangkan oleh TRL (Transport and Road
Research Laboratory), Crowthorne, Inggris dan mulai diperkenalkan di
Indonesia sejak tahun 1985 / 1986. Pengujian ini dimaksudkan untuk
menentukan nilai CBR (California Bearing Ratio) tanah dasar, timbunan,
dan atau suatu sistem perkerasan. Pengujian ini akan memberikan data
kekuatan tanah sampai kedalaman kurang lebih 70 cm di bawah

Laporan Pendahuluan | 3 -4

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Ketapang,
Kalimantan
Barat
permukaan lapisan
tanah yang
ada atau
permukaan
tanah dasar.
Pengujian ini dilakukan dengan mencatat

data masuknya konus yang tertentu dimensi dan sudutnya, ke dalam


tanah untuk setiap pukulan dari palu/hammer yang berat dan tinggi jatuh
tertentu pula.
Pengujian dengan alat DCP ini pada dasarnya sama dengan Cone
Penetrometer (CP) yaitu sama-sama mencari nilai CBR dari suatu lapisan
tanah langsung di lapangan. Hanya saja pada alat CP dilengkapi dengan
poving ring dan arloji pembacaan, sedangkan pada DCP adalah melalui
ukuran (satuan) dengan menggunakan mistar percobaan dengan alat CP
digunakan untuk mengetahui CBR tanah asli, sedangkan percobaan
dengan alat DCP ini hanya untuk mendapat kekuatan tanah timbunan
pada pembuatan badan jalan, alat ini dipakai pada pekerjaan tanah
karena mudah dipindahkan ke semua titik yang diperlukan tetapi letak
lapisan yang diperiksa tidak sedalam pemeriksaan tanah dengan alat
sondir.
Pengujian dilaksanakan dengan mencatat jumlah pukulan (blow) dan
penetrasi dari konus (kerucut logam) yang tertanam pada tanah/lapisan
pondasi karena pengaruh penumbuk kemudian dengan menggunakan
grafik dan rumus, pembacaan penetrometer diubah menjadi pembacaan
yang setara dengan nilai CBR.
3.3.2. Kepadatan dan Daya Dukung Tanah
Menurut Sukirman (1999), beban kendaraan yang dilimpahkan ke lapis
Perkerasan melalui roda-roda kendaraan selanjutnya disebarkan ke
lapisan-lapisandi bawahnya dan akhirnya diterima oleh tanah dasar.
Dengan demikian tingkat kerusakan konstruksi perkerasan selama masa
pelayanan tidak saja ditentukan oleh kekuatan dari lapis perkerasan tetapi
juga tanah dasar. Daya dukung tanah dasar dipengaruhi oleh jenis tanah,
tingkat kepadatan, kadar air, kondisi drainase
Laporan Pendahuluan | 3 -5

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

dan lain-lain.

Perkerasan jalan diletakkan diatas tanah dasar, dengan demikian secara


keseluruhan mutu dan kuat dukung fondasi perkerasan tak lepas dari sifat
tanah dasar, tanah lempung sangat dipengaruhi oleh kadar air yang
dikandung tanah tersebut, sehingga

mempengaruhi nilai California Bearing Ratio (CBR), nilai ini akan


menentukan tebal lapisan perkerasan jalan tersebut. Daya dukung tanah
dasar pada perencanaan perkerasan lentur dinyatakan dengan nilai CBR
(California Bearing Ratio). CBR pertama kali deperkenalkan oleh California
Division of Highway pada tahun 1928 (Sukirman, 1999)
Sukirman (2003), menyatakan bahwa tanah dasar dapat terdiri dari tanah
dasar tanah asli, tanah dasar tanah galian, atau tanah dasar tanah urug
yang disiapkan dengan cara dipadatkan. Di atas lapis tanah dasar
diletakkan lapis struktur perkerasan lainnya, oleh karena itu mutu daya
dukung tanah dasar ikut mempengaruhi mutu jalan secara keseluruhan.
3.3.3. Penentuan CBR
Alamsyah (2001), menyatakan bahwa metode ini mula-mula diciptakan
oleh O.J. porter, kemudian kemudian dikembangkan oleh California State
Highway Department, tetapi kemudian dikembangkan dan dimodifikasi
oleh corps insinyur tentara Amerika serikat (U.S. Army Corps of
Engineers).

Metode

ini

mengkombinasikan

percobaan

pembebanan

penetrasi di laboratorium atau di lapangan dengan rencana empiris


(empirical design charts) untuk menentukan tebal lapis perkerasan. Hal ini
digunakan sebagai metode perencanaan perkerasan lentur (flexible
pavement) jalan raya dan lapangan terbang. Tebal bagian perkerasan
ditentukan

oleh

nilai

CBR.

CBR

merupakan

suatu

perbandingan

antarabeban percobaan (test load) dengan beban standart (standart load)


dan dinyatakan dalam persentase.

Laporan Pendahuluan | 3 -6

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Barat besarnya
Menurut SukirmanKabupaten
(1999), alatKetapang,
percobaan Kalimantan
untuk menentukan
CBR berupa alat yang mempunyai piston dengan luas 3 inch2. Piston
digerakkan kecepatan 0,05 inch/menit, vertikal ke bawah. Proving ring
digunakan untuk mengukur beban yang dibutuhkan pada penetrasi
tertentu yang diukur dengan arloji pengukur (dial). Pengujian CBR di
laboratorium mengikuti SNI -03-1744 atau AASHTO T193.

3.3.4. CBR Lapangan


Sukirman (1999) menyatakan bahwa CBR Lapangan sering disebut CBR
inplace atau field CBR yang gunanya untuk :
1. Mendapatkan nilai CBR asli di lapangan, sesuai dengan kondisi tanah
dasar saat itu namun digunakan untuk perencanaan tebal lapis
perkerasan

yang

lapis

tanahnya

dasarnya

sudah

tidak

akan

dipadatkan lagi. Pemeriksaan dilakukan dalam kondisi kadar air tanah


tinggi (musim penghujan) atau dalam kondisi terburuk yang mungkin
terjadi.
2. Untuk mengontrol apakah kepadatan yang diperoleh sudah sesuai
dengan yang diinginkan. Pemeriksaan untuk tujuan ini tidak umum
digunakan, lebih sering menggunakan pemeriksaan yang lain seperti
sand cone dan lain-lain.
Sukirman (2003), CBR lapangan, dikenal juga dengan nama CBR inplace
atau field CBR, adalah pengujan CBR yang dilaksanakan langsung
dilapangan, di lokasi tanah dasar rencana. Prosedur pengujian mengikuti
SNI 03-1738 atau ASTM D 4429. CBR lapanganan digunakan untuk
menyatakan daya dukung tanah dasar dimana tanah dasar drencanakan
tidak lagi mengalami proses pemadatan atau peningkatan daya dukung
tanah sebelum lapis pondasi dihampar dan pada saat pengujian tanah
dasar

dalam

kondisi

jenuh.

Dengan

kata

lain

perencanaan

tebal

perkerasan dilakukan berdasarkan kondisi daya dukung tanah dasar pada


saat pengujian CBR lapangan itu. Pengujian dilakukan dengan meletakkan
Laporan Pendahuluan | 3 -7

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Ketapang,
Kalimantan
piston pada elevasi
dimana nilai
CBR hendak
diukur, Barat
lalu dipenetrasi
dengan menggunakan beban yang di limpahkan melalui gandar truk
ataupun alat lainnya dengan kecepatan 0,05 inci/menit. CBR ditentukan
sebagai hasil

perbandingan antara

beban yang

dibutuhkan untuk

penetrasi 0,1 atau 0,2 inci benda uji dengan beban standar.
3.3.5. Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)
Menurut Sukirman (1999), menyatakan lapis perkerasan lentur (flexible
pavement) adalah perkerasan yang menggunakan aspal sebagai bahan
pengikat. Lapisan-lapisan

perkerasannya bersifat memikul dan menyebarkan beban lalulintas ke


tanah dasar (subgrade). Lapis permukaan (surface caurse) adalah bagian
perkerasan jalan paling atas, lapis tersebut mempunyai fungsi sebagai
berikut:
a. Lapis perkerasan penahan beban roda.
b. Lapis kedap air
c. Lapis aus, lapis yang langsung menderita gesekan akibat roda
kendaraan.
d. Lapis yang menyebarkan beban ke lapis bawah, sehingga dapat dipikul
oleh lapis lain yang mempunyai daya dukung lebih jelek.
Penggunaan bahan aspal diperlukan agar lapis dapat bersifat kedap air
dan memberikan bantuan tegangan tarik yang berarti mempertinggi daya
dukung lapis terhadap beban roda lalu lintas. Jenis lapis permukaan yang
umum dipergunakan di Indonesia antara lain :
a. Penetrasi Macadam (Lapen)
b. Lasbutag (Lapis Tanah Galian)
c. Laston (lapis aspal beton)
3.3.6. Lapis Pondasi Atas (Base Course)
Lapis pondasi atas adalah lapis perkerasan yang terletak diantara lapis
pondasi bawah dan lapis permukaan. Fungsi lapis pondasi atas adalah:

Laporan Pendahuluan | 3 -8

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Ketapang,
a. Bagian perkerasan
yang menahan
gayaKalimantan
lintang dari Barat
beban roda dan
menyebarkan beban ke lapis dibawahnya.
b. Lapis peresapan untuk lapis pondasi bawah.
c. Bantalan terhadap lapis permukaan.

3.3.7. Lapis Pondasi Bawah (Subbase Course)


Lapis pondasi bawah adalah lapis perkerasan yang terletak antara lapis
pondasi atas dan tanah dasar. Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai:

a.
b.
c.
d.

Menyebarkan beban roda ke tanah dasar.


Efisiensi Penggunaan material.
Lapis peresapan agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
Lapis untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke
lapis pondasi atas.

3.3.8. Lapis Tanah Dasar (Subgrade)


Lapis tanah dasar adalah lapis tanah setebal 50-100 cm yang di atasnya
akan diletakkan lapis pondasi bawah. Lapis tanah dasar dapat berupa
tanah

asli

yang

dipadatkan jika

tanah aslinya

baik, tanah

yang

didatangkan dari tempat lain dan dipadatkan atau tanah yang distabilisasi
dengan kapur atau bahan lainnya. Guna dapat memberikan rasa aman
dan nyaman bagi pemakai jalan, maka konstruksi perkerasan lentur
haruslah memenuhi persyaratan lalulintas dan struktural. Perkerasan
berfungsi sebagai tumpuan rata-rata, permukaan yang rata menghasilkan
jalan pesawat (kenderaan) yang stabil dan ditinjau dari fungsinya harus
dijamin bahwa tiap-tiap lapis dari atas ke bawah cukup kekerasan dan
ketebalannya sehingga tidak mengalami perubahan karena tidak mampu
menahan beban (Ashford dan Wright, 1979).

Laporan Pendahuluan | 3 -9

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Gambar 3.1 Lapisan Jalan

3.3.9. Metode Pelaksanaan


Pada penelitian ini, terdiri dari dua phase, phase pertama yaitu pengujian
sifat sifat fisis tanah : kadar air, berta jenis, atterberg limit dan analisa
butir. Phase kedua yaitu pengujian sifat mekanis tanah lempung yaitu:
pemadatan, DCP dan CBR.
A. Peralatan
1. Peralatan Utama
Alat DCP terdiri dari tiga bagian utama yang satu sama lain harus
disambung sehingga cukup kuat/kaku, seperti terlihat pada gambar
dibawah ini.

Laporan Pendahuluan | 3 -10

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Gambar 3.2 Penetrometer Konus Dinamis (DCP)

Laporan Pendahuluan | 3 -11

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Gambar 3.3 Penetrometer Konus Dinamis (DCP)

1) Bagian atas
a) Pemegang.
b) Batang bagian atas diameter 16 mm, tinggi jatuh setinggi 575
mm;

Laporan Pendahuluan | 3 -12

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Ketapang,
Kalimantan
Barat
c) Penumbuk
berbentuk silinder
berlubang,
berat 8 kg.
2) Bagian tengah
a) Landasan penahan penumbuk terbuat dari baja;
b) Cincin peredam kejut;
c) Pegangan untuk pelindung mistar penunjuk kedalaman.
3) Bagian bawah
a) Batang bagian bawah, panjang 90 cm, diameter 16 mm;
b) Batang penyambung, panjang antara 40 cm 50 cm, diameter
16 mm
c) Penggaris berskala, panjang 1 meter, terbuat dari plat baja;
d) Konus terbuat dari baja keras berbentuk kerucut dibagian ujung,
diameter 20 mm, sudut 60o atau 30o;
e) Cincin penguat.
b. Peralatan Bantu
Peralatan bantu adalah cangkul, sekop, blincong, pahat, linggis,
palu, core drill apabila pengujian pada lapisan perkerasan beraspal,
alat ukur panjang/pita ukur yang bisa dikunci, kunci pas, formulir
lapangan dan alat tulis.
c. Personil
Pengujian DCP memerlukan 3 orang teknisi, yaitu :

Satu orang memegang peralatan yang sudah terpasang dengan


tegak;

Satu orang untuk mengangkat dan menjatuhkan penumbuk;

Satu orang mencatat hasil.

B. Persiapan Alat dan Likasi Pengujian


Persiapan alat dan lokasi pengujian, sebagai berikut :

Sambungkan seluruh bagian peralatan dan pastikan bahwa


sambungan batang atas dengan landasan serta batang bawah dan
kerucut baja sudah tersambung dengan kokoh;
Laporan Pendahuluan | 3 -13

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Tentukan titik pengujian, catat Sta./Km., kupas dan ratakan


permukaan yang akan diuji;
Buat lubang uji pada bahan perkerasan yang beraspal, sehingga
didapat lapisan tanah dasar;
Ukur ketebalan setiap bahan perkerasan yang ada dan dicatat.
C. Cara Pengujian
a. Letakkan alat DCP pada titik uji di atas lapisan yang akan diuji;
b. Pegang alat yang sudah terpasang pada posisi tegak lurus diatas
dasar yang rata dan stabil, kemudian catat pembacaan awal pada
mistar pengukur kedalaman;
c. Mencatat jumlah tumbukan;
1) Angkat penumbuk pada tangkai bagian atas dengan hati-hati
sehingga
menyentuh batas pegangan;
2) Lepaskan penumbuk sehingga jatuh bebas dan tertahan pada
landasan;
3) Lakukan langkah-langkah pada c.1) dan c.2 diatas, catat jumlah
tumbukan
dan kedalaman pada formulir DCP, sesuai ketentuan-ketentuan
sebagai berikut :
(a) Untuk lapis pondasi bawah atau tanah dasar yang terdiri
dari bahan yang tidak keras maka pembacaan kedalaman
sudah cukup untuk setiap 1 tumbukan atau 2 tumbukan;

(b)Untuk lapis pondasi yang terbuat dari bahan berbutir yang


cukup keras, maka harus dilakukan pembacaan kedalaman
pada setiap 5 tumbukan sampai dengan 10 tumbukan.
4) Hentikan pengujian apabila kecepatan penetrasi kurang dari 1
mm / 3 tumbukan. Selanjutnya lakukan pengeboran atau
Laporan Pendahuluan | 3 -14

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Kalimantan
Barat
penggalian
pada titik Ketapang,
tersebut pada
sampai mencapai
bagian
yang dapat diuji kembali.
b. Pengujian per titik, dilakukan minimum duplo (dua kali ) dengan
jarak 20 cm dari titik uji satu ketitik uji lainnya. Langkah-langkah
setelah pengujian;
1) Siapkan peralatan agar dapat diangkat atau dicabut ke atas;
2) Angkat penumbuk dan pukulkan beberapa kali dengan arah
keatas sehingga menyentuh pegangan dan tangkai bawah
terangkat keatas permukaan tanah;
3) Lepaskan bagian-bagian yang tersambung secara hati-hati,
bersihkan alat dari kotoran dan simpan pada tempatnya;
4) Tutup kembali lubang uji setelah pengujian.
Cara Menentukan Nilai CBR
Pencatatan hasil pengujian dilakukan menggunakan formulir pengujian
Penetrometer Konus Dinamis ( DCP );
a. Periksa hasil pengujian lapangan yang terdapat pada formulir
pengujian Penetrometer Konus Dinamis ( DCP ) dan hitung
akumulasi jumlah tumbukan dan akumulasi penetrasi setelah
dikurangi pembacaan awal pada mistar Penetrometer Konus
Dinamis ( DCP );

b. Gunakan formulir hubungan komulatif (total) tumbukan dan


komulatif penetrasi, terdiri dari sumbu tegak dan sumbu datar,
pada bagian tegak menunjukkan kedalaman penetrasi dan arah
horizontal menunjukkan jumlah tumbukan;
c. Plot hasil pengujian lapangan pada salib sumbu di grafik;

Laporan Pendahuluan | 3 -15

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Ketapang,
Kalimantan
d. Tarik garis
yang mewakili
titik-titik
koordinatBarat
tertentu yang
menunjukkan lapisan yang relatif seragam;
e. Hitung kedalaman lapisan yang mewakili titik-titik tersebut, yaitu
selisih antara perpotongan garis-garis yang dibuat pada 7.d),
dalam satuan mm;
f. Hitung kecepatan rata-rata penetrasi ( DCP, mm/tumbukan atau
cm/tumbukan) untuk lapisan yang relatif seragam;
g. Nilai DCP diperoleh dari seslisih penetrasi dibagi dengan selisih
tumbukan;
h. Gunakan gambar grafik atau hitungan formula hubungan nilai
DCP dengan CBR dengan cara menarik nilai kecepatan penetrasi
pada sumbu horizontal keatas sehingga memotong garis tebal
sudut konus 60o atau garis putus-putus untuk sudut konus 30o;
i. Tarik garis dari titik potong tersebut kearah kiri sehingga nilai CBR
dapat diketahui.

Laporan Pendahuluan | 3 -16

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Gambar 3.4 Grafik Penentuan Nilai CBR

3.4. Analisis Windrose (Arah Angin)


Arah dan kecepatan angin merupakan salah satu unsure cuaca yang
dibutuhkan dalam operasi penerbangan. Seperti yang tercantum dalam
annex 3 (2010), bahwa informasi cuaca termasuk data arah dan
kecepatan angin sangat dibutuhkan untuk take off dan landing. Data arah
dan kecepatan angin yang terkumpul melalui pengamatan satsiun
meteorology penerbangan setiap jam dalam jangka waktu yang lama
dapat digunakan sebagai salah satu dasar uji kelayakan landas pacu
(runway) di suatu bandar udara melalui analisa klimatologi.
Analisa tersebut dilakukan untuk mengetahui frekuensi dan prosentase
angin yang memotong landasan (crosswind) dan ditampilkan dalam
bentuk diagram mawar angina tau dikenal dengan windrose. Namun,
dengan jumlah data yang sangat banyak maka diperlukan suatu aplikasi
Laporan Pendahuluan | 3 -17

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Ketapang,
Kalimantan
Barat
yang dapat melakukan
penghitungan
dengan
cepat. Lakes
Environmental
merupakan perusahaan yang berlokasi di Ontario Kanada melakukan riset

dan pengembangan perangkat lunak yang fokus di bidang pemodelan


penyebaran massa udara yang dapat digunakan oleh perusahaan,
lembaga pemerintahan, maupun akademisi. Salah satu perangkat lunak
yang

dihasilkan

penghitungan

adalah

frekuensi,

WRPLOT
prosentase,

View

yang

serta

dapat

melakukan

menampilkan

diagram

klasifikasi data arah dan kecepatan angin dalam jumlah yang besar.
Angin adalah gerak udara yang sejajar dengan permukaan bumi.
Udarabergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekenan
rendah. Angin diberinama sesuai dengan dari arah mana angin datang,
misalnya angin timur adalah anginyang datang dari arah timur, angin laut
adalah angin dari laut ke darat, dan anginlembah adalah angin yang
datang dari lembah menaiki gunung. (Tjasyono, 1999).
Arah angin adalah arah darimana angin berhembus atau darimana arus
angin datang dan dinyatakan dalam derajat yang ditentukan dengan arah
perputaran jarum jam dan dimulai dari titik utara bumi dengan kata lain
sesuai dengan titik kompas. Umumnya arus angin diberi nama dengan
arah darimana angin tersebut bertiup, misalnya angin yang berhembus
dari utara maka angin utara. Kecepatan angin adalah kecepatan dari
menjalarnya arus angin dan dinyatakan dalam knot atau kilometer per
jam maupun dalam meter per detik (Soepangkat, 1994). Karena
kecepatan angin umumnya berubah-ubah, maka dalam menentukan
kecepatan angin diambil kecepatan rata-ratanya dalam periode waktu
selama sepuluh menit dengan dibulatkan dalam harga satuan knot yang
terdekat. Keadaan ditentukan sebagai angin teduh (calm) jika kecepatan
kurang dari satu knot.
Angin adalah besaran vektor yang mempunyai arah dan kecepatan. Arah
angin dinyatakan dalam derajat (Tjasyono, 1999), yaitu 360 o (Utara),
22,5o(Utara Timur Laut), 45o (Timur Laut), 67,5o (Timur Timur Laut), 90o
Laporan Pendahuluan | 3 -18

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Ketapang,
(Timur), 112,5o (Timur
Tenggara),
135o Kalimantan
(Tenggara), Barat
157,5o (Selatan
Tenggara), 180 (Selatan), 202,5 (Selatan Barat Daya), 225 (Barat
Daya), 247,5 (Barat Barat Daya), 270 (Barat), 292,5 (Barat Barat Laut),
315 (Barat

Laut), 337,5 (Utara Barat Laut), 0 (Angin Tenang/Calm). Secara


Klimatologis arah angin diamati 8 penjuru, tetai dalam dunia penerbangan
angin diamati 16 arah. Kecepatan angin dinyatakan dalam satuan meter
per sekon, kilometer per jam, atau knot (1 knot 0,5 m/s).
Perubahan arah dan kecepatan angin dengan waktu pada suatu lokasi
dapat disajikan secara diagram dalam bentuk mawar angin. Sebuah
mawar angin terdiri atas garis yang memancar dari pusat lingkaran dan
menunjukkan arah dari mana angin bertiup. Panjang setiap garis
menyatakan frekuensi angin dari arah tersebut. Karena angin merupakan
besaran vektor maka angin dinyatakan dalam distribusi frekuensi dua
arah, yaitu arah dan kecepatan angin (Tjasyono, 1999).
Salah

satu

hal

yang

perlu

diperhatikan

dalam

perencanaan

dan

perancangan bandar udara adalah penentuan arah landas pacu yang


memungkinkan di lokasi rencana pembangunan berdasarkan hasil analisis
arah dan kecepatan angin. Selain itu, besar dan kecilnya kecepatan angin
dominan akan mempengaruhi penetapan jenis pesawat yang dapat
dioperasikan di bandar udara tersebut. Data arah dan kecepatan angin
dapat diperoleh dari stasiun meteorologi terdekat dengan rencana lokasi
bandara merupakan pendekatan terbaik untuk mengetahui karakteristik
dan pola arah angin di rencana lokasi bandar udara, karena ketersediaan
data-series yang bisa mencakup rentang waktu yang lama. Pada
umumnya dipergunakan data-series dengan cakupan waktu 5 tahun
terakhir telah mampu menunjukkan kondisi wilayah kajian secara reliabel
dan konsisten (Annex 14, 2009).
Analisis arah angin (windrose analysis) merupakan hal yang sangat
esensial guna penentuan arah landas pacu. Berdasarkan rekomendasi dari
Laporan Pendahuluan | 3 -19

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kalimantan
Barat
ICAO, arah landasKabupaten
pacu sebuahKetapang,
bandar udara
secara prinsip
diupayakan
sedapat mungkin harus searah dengan arah angin yang dominan. Pada
saat pesawat udara mendarat atau lepas landas, pesawat udara dapat
melakukan pergerakan di atas landasan pacu sepanjang komponen angin

yang bertiup tegak lurus dengan bergeraknya pesawat udara (cross wind)
tidak berlebihan. Beberapa referensi ICAO (International Civil Aviation
Organization) dan FAA (Federal Aviation Administration) menyatakan
bahwa besarnya cross wind maksimum yang diperbolehkan bergantung
pada jenis dan ukuran pesawat yang beroperasi, susunan sayap dan
kondisi permukaan landasan pacu. Penentuan arah landas pacu yang
dipersyaratkan oleh ICAO adalah bahwa arah landas pacu sebuah bandar
udara harus diorientasikan sehingga pesawat udara dapat mendarat dan
lepas landas paling sedikit 95% dari seluruh komponen angin yang
bertiup. Adapun besarnya batas kecepatan komponen angin silang (cross
wind) yang diijinkan adalah 10 knot untuk bandar udara dengan panjang
landas pacu kurang dari 1200 m, sebesar 13 knot untuk bandara dengan
panjang landas pacu 1200 1500 m, dan kecepatan angin silang 20 knot
diijinkan untuk bandara dengan panjang landas pacu lebih dari atau sama
dengan 1500 m.
Landas pacu (Runway) adalah jalur perkerasan yang dipergunakan oleh
pesawat terbang untuk mendarat (landing) atau lepas landas (take of).
Menurut Horonjeff (1994) sistem runway di suatu bandara terdiri dari
perkerasan struktur, bahu landasan (shoulder), bantal hembusan (blast
pad), dan daerah aman runway (runway end safety area). Terdapat
banyak konfigurasi runway, diantaranya Runway Tunggal (runway ini
adalah yang paling sederhana). Runway Sejajar, Runway Dua jalur,
Runway Bersilangan, Runway V terbuka. Analisis angin adalah hal yang
mendasar bagi perencanaan runway karena pada umumnya runway
sedapat mungkin harus searah dengan arah angin yang dominan. Pada
saat mendarat dan lepas landas, pesawat terbang dapat melakukan
Laporan Pendahuluan | 3 -20

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Kalimantan
Barattegak lurus
manuver di atas landasan
pacuKetapang,
selama komponen
angin yang
arah bergeraknya pesawat (cross wind) tidak berlebihan besarnya. Jika
tersedia data mengenai arah angin lengkap beserta persentase dari
kecepatan anginnya maka untuk mendapatkan orientasi runway yang
sesuai dengan ketentuan ICAO harus dilakukan langkah-langkah analisis
angin dengan metode Wind Rose.

Wind rose adalah sebuah grafik yang memberikan gambaran tentang


bagaimana arah dan kecepatan angin terdistribusikan di sebuah lokasi
dalam periode tertentu. wind rose merupakan representasi yang sangat
bermanfaat karena dengan jumlah data yang sangat banyak namun dapat
diringkas dalam sebuah diagram. Cara untuk menampilkan data angin
bervariasi. beberapa penyajian menunjukkan kelebihan daripada yang
lain. Akhir-akhir ini jenis windrose baru disajikan sehingga kemampuannya
bisa dipelajari (Crutcher, 1956).Wind rose memberikan gambaran ringkas
namun sarat akan informasi tentang bagaimana arah dan kecepatan
angin terdistribusi pada sebuah lokasi atau area. Ditampilkan dalam
format sirkular, wind rose menampilkan frekuensi dari arah mana angin
berhembus.

Panjang

dari

masing-masing

kriteria

yang

mngelilingi

lingkaran diasumsikan sebagai frekuensi waktu dimana angin berhembus


dari arah tertentu. (http://www.wcc.nrcs.usda.gov).
WRPLOT View adalah windrose program untuk data meteorologi. Software
ini menyediakan tampilan diagram windrose, analisis frekuensi, dan
diagram

untuk

beberapa

format

data

meteorologi.

Windrose

menggambarkan frekuensi kejadian dari angin untuk setap sektor angin


spesifik dan kelas-kelas kecepatan angin untuk setap tempat pada periode
tertentu (Lakes Environmetntal, 2013). Hal lain yang dapat dilakukan
dalam menganalisis data angin dengan menggunakan perkembangan
teknologi computer yang meliputi penentuan temperatur harian (meliputi
suhu maksimum dan minimum serta reratanya) serta penentuan distribusi
arah angin dan kecepatan angin melalui Personal Computer (PC) yang
Laporan Pendahuluan | 3 -21

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Ketapang,dianalisis
Kalimantan
Barat
berbasis Windows.Kabupaten
Data yang terkumpul
frekuensi
arah angin,
kecepatan angin, serta frekuensi temperatur luamya yang tercatat dengan
mempergunakan SPSS for Window.
Analisis meteorologi lingkungan di sekitar PPNY dilakukan dengan
Anemometer yang dilengkapi probe pengukur temperatur {thermistor)
terdiri dari 3 buah mangkuk berbentuk setengah bola (wind cups) sebagai
sensor terhadap kecepatan arigin dan wind
vane untuk sensor terhadap arah angin. Anemometer dihubungkan
dengan kabel pada Game adapter setelah melalui Data Interface Adapter.
Peralatan ini cukup simpel karena bersifat portabel (mudah dibawa) serta
kondisi arah angin, kecepatan angin serta temperatur pada kondisi
pengamatan dapat langsung diamati pada layar monitor komputer.
3.4.1 Pengukuran Kecepatan Angin
WS-IOT Anemometer didesain untuk ditempatkan pada tiang dengan
diameter Iuar 1 inch, serta dilengkapi dengan 40 feet kabel untuk
dihubungkan dengan Game Adapter komputer. Kecepatan angin diukur
oleh 3 buang Wind Cups dan data dalam interval 2 detik akan direratakan
dengan memperhitungkan kecepatan maksimumnya.
3.4.2 Pengukuran Arah Angin
Arah angin ditentukan oleh gerakan Wind vane yang mempunyai bentuk
aerodinamis dan arah angin yang ditunjuk akan terlihat pada monitor
komputer. Tampilan lingkaran monitor menunjukkan 16 daerah utama
arah angin sesuai dengan pembagian sektor lingkaran 360 menjadi
16 bagian. Kecenderungan arah angin dalam 2 detik terhitung dan
diperbaharui dalam tampilan monitor pada akhir selang waktu 2 detik.
Adapun pembagian arah angin atas 16 sektor adalah sebagai berikut : N =
0, NNE = 22,5, NR = 45, ENE = 67,5, E = 90, ESE = 112,5, SE =
135, SSE = 157,5, S = 180, SSW = 202,5, SW = 225, WSW = 247, W
Laporan Pendahuluan | 3 -22

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
BaratN(North) =
= 270, WNW = 292,5,
NW =Ketapang,
315. NNW Kalimantan
= 337,5, dengan
Utara, E (East) = Timur, S (South) = Selatan dan W (West) = Barat.
3.4.3 Alat
1. Anemometer dengan probe pengukur temperature (WS-lOT)
2. Kabel
3. Komputer dengari sistem Windows 3.1.

3.4.4 Cara Kerja


Instalasi

Anemometer

(WS-10T)

dilakukan

dengan

menghubungkan

Anemometer yang dipasang pada atap gedung melalui kabel data Game
Adapter komputer. Setelah melewati Data Interface Adapter. Instalasi
perangkat lunak yang berbasis Windpws dilakukan dengan tersebih dulu
menentukan parameter satuan yang diinginkan seperti: menentukan
direktori untuk font file, lebar monitor, tinggi monitor, satuan kecepatan
angin, (MPH, KMPH, MPS, KNOTS), menentukan satuan temperatur (F
atau C), interval logging (menit), dan drive yang diinginkan untuk
penyimpanan

data.

mengpergunakan

Analisis

SPSS

for

data

yaug

Windows

tercatat

untuk

diiakuan

mengetahui

dengan
distribusi

frekuensi, median, modus, dan analisis statistik lainnya yang berhubungan


dengan hasil yang diharapkan dalam pengambilan kesimpulan.

Laporan Pendahuluan | 3 -23

KAJIAN KONDISI FISIK LAHAN LOKASI


ALTERNATIF BANDARA BARU
Kabupaten
Kalimantan Barat
GambarKetapang,
3.5 Anemometer

Laporan Pendahuluan | 3 -24