Anda di halaman 1dari 6

MARKET DEVELOPMENT TEAM

HARVEST PROCESSING
A. Metode Pelaksanaan Kegiatan
Metode

yang

digunakan

untuk

memecahkan

masalah

dalam

memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan melalui pelatihan


teknis adalah:
1. Studi Banding
Kegiatan studi banding dilakukan diantara pelatihan teknis dan
pendampingan teknis, karena hal ini berfungsi untuk penyempurnaan produk
tambahan setelah pelatihan teknis. Studi Banding diikuti oleh seluruh peserta
pelatihan. Secara umum studi banding memiliki tujuan:
a. Melalui kunjungan ke tempat yang sudah berhasil di bidang pengolahan
makanan akan memperluas wawasan dan memperkuat serta memotivasi
usaha di bidang makanan
b. Petani memiliki kesempatan untuk melihat praktek langsung pada
kunjungan studi banding dan melihat aneka produk makanan yang terbuat
dari bahan baku yang sama sehingga terbangun gagasan dan kreativitas
mengenai proses produksi dan pemasaran di tingkat dasar.
c. Melalui kunjungan ke pusat oleh oleh makanan akan membuka wawasan
warga, diversifikasi produk apa saja yang laku dipasar dan bagaimana
packaging dan pemasarannya.
2. Pelatihan Teknis
Pelatihan teknis dan pelatihan metode pemasaran produk makanan secara
umum bertujuan:
a. Menambah pengetahuan peserta untuk kemampuan sebagai berikut :
1. Cara Produksi Pangan yang Baik
2. Ergonomi dan Tata Letak Produksi
3. Diversifikasi produk makanan
4. Packaging/ pengemasan
5. Metode pemasaran praktis produksi makanan.

b. Meningkatkan kapasitas teknis produksi makanan dan peningkatan


kapasitas metode pemasaran para petani melalui program pelatihan praktis
selama 5 hari.
Tujuan khusus pelatihan teknis:
1. Semua peserta yang terlibat

dalam

pelatihan

teknis

dapat

mengembangkan keahlian dan pengetahuan dalam peningkatan mutu


produk makanan.
2. Semua peserta yang

terlibat

dalam

pelatihan

teknis

dapat

mengembangkan keahlian dan pengetahuan keamanan pangan dalam


memproduksi makanan.
3. Semua peserta yang terlibat dalam pelatihan teknis memperoleh
keahlian teknik dalam memproduksi makanan berbahan singkong.
4. Semua peserta yang terlibat dalam pelatihan teknis memperoleh
keahlian teknik penyempurnaan dalam memproduksi makanan
berbahan singkong.
5. Semua peserta yang terlibat dalam pelatihan teknis memperoleh
keahlian teknik pengemasan atau packaging berbagai macam produk.
Metode pelatihan teknis dilakukan dengan metode: ceramah dan tanya
jawab, demonstrasi, latihan dan praktik, display dan pameran.
B. Tahap Pelaksanaan Pelatihan
Kegiatan penerapan teknologi dalam bentuk pelatihan teknis kepada para
warga beberapa Desa di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Bengkayang ini
diberikan untuk meningkatkan keterampilan dan pendapatan. Pelatihan diberikan
berupa pemberian keterampilan pengembangan produk berbasis potensi lokal
yang merupakan kekayaan wilayah desa tersebut. Setelah dilakukan pelatihan,
para anggota warga dibimbing untuk menerapkan hasil pelatihan dalam
mengembangkan usahanya. Adapun tahapan pelaksanaan pelatihan yang diberikan
adalah sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
a. Survey ketersediaan bahan baku
b. Penentuan lokasi dan sasaran

c. Penyusunan bahan pelatihan, yang meliputi: Diversifikasi Olahan produk,


Pengemasan dan Pelabelan, Sertifikasi Cara Produksi Pangan yang Baik,
Ergonomi Kerja, Kewirausahaan, Perhitungan harga jual dan titik impas,
serta materi praktek pengembangan berbagai produk olahan.
2. Tahap Pelaksanaan Pelatihan
Tahap pelatihan dilakukan setelah persiapan untuk memberikan pelatihan
pengembangan produk aneka olahan dari potensi lokal kepada warga beberapa
Desa di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Beng. Adapun tahapan pelatihan
adalah sebagai berikut:
a. Tahap pertama: pelatihan yang menitik beratkan pada kemampuan kognitif
tentang Diversifikasi Olahan produk, Cara Produksi Pangan yang Baik,
Ergonomi Kerja, dan Kewirausahaan, Pengemasan, Sertifikasi dan
Pelabelan, Perhitungan harga jual dan titik impas produksi serta
pengetahuan tentang kewirausahaan.
b. Tahap kedua: pelatihan yang berupa latihan dan praktek pengolahan yang
meliputi pemilihan bahan, pengembangan produk, pengemasan dan
pelabelan.
C. Lokasi Kegiatan dan Produk Olahan yang ditawarkan
Adapun desa yang akan dituju untuk mendapatkan kegiatan pelatihan pembuatan
produk olahan adalah:
1. Desa Mekar Sari
Desa Mekar Sari mempunyai potensi penghasil jagung, sehingga Diversifikasi Produk
olahan berbasis jagung yang akan diolah adalah:

a. Pembuatan Tepung jagung, Pembuatan dodol jagung, Pembuatan Jus jagung,


Pembuatan Sirup jagung, Pembuatan Tortila, Pembuatan emping jagung,
Pembuatan cake jagung, Pembuatan Jeli jagung.
b. Perbaikan pengemasan produk dan pelabelan.
2. Desa Teluk Bakung
Desa Teluk Bakung hanya memiliki potensi penghasil karet dan kayu, tapi belum
mempunyai potensi tanaman budidaya pertanian seperti jagung, singkong, dan ubi jalar.
Diharapkan Desa Teluk Bakung memiliki ciri khas tersendiri agar dapat memberikan

peran dalam peningkatan ekonomi keluarga. Untuk itu, Desa Teluk Bakung perlu
diprogramkan penanaman komoditi pertanian seperti jagung, singkong dan ubi jalar atau
komoditi lainnya. Setelah program tersebut berjalan, dilakukan teknologi pengolahan
hasil pertanian dengan melakukan berbagai produk diversifikasi seperti:

a. Pembuatan Tepung jagung, Pembuatan dodol jagung, Pembuatan Jus


jagung, Pembuatan Sirup jagung, Pembuatan Tortila, Pembuatan emping
jagung, Pembuatan cake jagung, Pembuatan Jeli jagung
b. Pembuatan tepung singkong dan olahannya yaitu stick casava, donat
casava, brownies casava, ceriping dan mie casava.
c. Pembuatan Tepung, keripik dan es krim ubi jalar ungu.
d. Perbaikan pengemasan produk dan pelabelan.
3. Desa Sui Ambangah
Desa Sungai Ambangah mempunyai potensi penghasil singkong, jagung,
nenas, ubi jalar ungu dan sagu. Sehingga Diversifikasi Produk olahan yang akan
dibuat adalah:
a. Pembuatan tepung singkong dan olahannya yaitu stick casava, donat
casava, brownies casava, ceriping dan mie casava.
b. Pembuatan sirup nanas, keripik, selai dan dodol nanas.
c. Pembuatan Tepung jagung, Pembuatan dodol jagung, Pembuatan Jus
jagung, Pembuatan Sirup jagung, Pembuatan Tortila, Pembuatan emping
jagung, Pembuatan cake jagung, Pembuatan Jeli jagung.
d. Pembuatan tepung, keripik dan es krim ubi jalar ungu.
e. Perbaikan pengemasan produk dan pelabelan.

4. Desa Korek
Desa Korek memiliki potensi komoditi pertanian seperti padi, sayursayuran dan jahe. Adapun diversifikasi produk olahan yang dapat ditawarkan
dalam kegiatan ini adalah:
a. Pembuatan simplisia jahe
b. Pembuatan minuman herbal instan dari jahe
c. Perbaikan kemasan/Packaging sayur-sayuran untuk dipasarkan
5. Desa Rasau Jaya II

Desa Rasau Jaya II mempunyai potensi penghasil singkong, jagung, nanas,


pisang, papaya, jahe, kunyit, kencur, rosella, keribang, kacang panjang, kedelai,
timun, ubi rambat. Adapun diversifikasi produk olahan yang dapat ditawarkan
adalah:
a. Pembuatan keripik pisang
b. Pembuatan tepung singkong dan olahannya yaitu stick casava, donat
c.
d.
e.
f.
g.
h.

casava, brownies casava, ceriping dan mie casava.


Pembuatan sirup dan selai nanas
Pembuatan sirup rosella
Pembuatan simplisia jahe dan kencur
Pembuatan tepung ubi jalar dan es krim ubi jalar
Pembuatan selai pepaya
Perbaikan pengemasan produk dan pelabelan.

6. Desa Rasau Jaya Umum


Desa Rasau Jaya Umum sudah terdapat produk olahan seperti sirup nanas,
selai nanas, dodol nanas dan keripik nanas. Selain itu, Desa Rasau Jaya Umum
masih ada komoditi unggulan seperti singkong dan keribang. Adapun kegiatan
yang akan ditawarkan adalah:
a. Perbaikan kualitas pengemasan produk olahan nanas
b. Pembuatan tepung singkong dan olahannya yaitu stick casava, donat
casava, brownies casava, ceriping dan mie cassava
c. Pembuatan tepung keribang
d. Pembuatan selai keribang

e. Perbaikan pengemasan produk dan pelabelan.


7. Desa Sui jaga A
Desa Sungai Jaga A memiliki komoditi unggulan kakao dan kopra.
Adapun kegiatan yang akan ditawarkan kepada masyarakat adalah:
a.
b.
c.
d.

Perbaikan kualitas biji kakao dengan melalui proses fermentasi


Pembuatan minyak VCO
Perbaikan kualitas kopra
Perbaikan pengemasan produk dan pelabelan.

8. Desa Sungai Duri

Desa Sungai Duri memiliki potensi komoditi nanas yng ditumpangsari


dengan tanaman karet. Bila perlu ada penambahan program penanaman budidaya
singkong, ubi jalar. Adapun kegiatan yang akan ditawarkan adalah:
a. Pembuatan sirup nanas, keripik, selai dan dodol nanas.
b. Pembuatan tepung singkong dan olahannya yaitu stick casava, donat
casava, brownies casava, ceriping dan mie cassava
c. Pembuatan tepung ubi jalar, selai ubi jalar, keripik ubi jalar.
d. Perbaikan pengemasan produk dan pelabelan.
9. Desa Sui Pangkalan II
Desa Sungai Pangkalan II memiliki potensi komoditi pisang, ubi jalar,
singkong. Adapun kegiatan yang ditawarkan adalah:
a. Pengolahan keripik pisang, selai pisang
b. Pengolahan keripik ubi jalar, tepung ubi jalar dan selai ubi jalar
c. Pembuatan tepung singkong dan olahannya yaitu stick casava, donat
casava, brownies casava, ceriping dan mie cassava
d. Perbaikan pengemasan produk dan pelabelan.

10. Desa Sungai Keran


Desa Sungai Keran memiliki komoditi unggulan seperti jeruk, pisang, karet, daun
pudak/pandan, rosella dan kelapa sawit. Adapun kegiatan yang akan ditawarkan adalah
a.
b.
c.
d.
e.

Pengolahan jus jeruk, dan selai jeruk


Pengolahan keripik pisang
Perbaikan kualitas tikar pandan dengan berbagai inovasi bentuk dan warna tikar
Pengolahan sirup rosella dan rosella kering
Perbaikan kemasan produk dan pelabelan