Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH HUKUM DAN ETIKA BISNIS| 1

MAKALAH
HUKUM DAN ETIKA ETIKA BISNIS
CYBER LAW DAN CYBER CRIME PADA ETIKA
PROFESI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

OLEH :
AGAPE YESELIA JUJATI SELLY
NIM : 811.2.142.003MM
PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
KONSENTRASI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA


KUPANG
2016

MAKALAH HUKUM DAN ETIKA BISNIS| 2

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha


Esa,
karena dengan Rahmat-Nya penulis telah dapat menyelesaikan
penyusunan Makalah Hukum dan Etika Bisnis tentang Cyber Law & Cyber
Crime Pada Etika Profesi Teknologi Informasi dan Komunikasi ini. Dan
penulis mengucapkan terima kasih pula untuk Dosen dan teman-teman
sekalian yang telah mendukung dan membantu menyelesaikan makalah ini
dengan sebaik mungkin. Makalah ini dibuat bertujuan untuk mendapatkan
nilai UAS (Ujian Akhir Semester). penulis berharap semua pihak dapat
mendukung makalah ini.
Penulis
menyadari
bahwa
makalah
ini
masih
perlu
ditingkatkan mutunya. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk
teman-teman yang membacanya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan. Tujuan pembuatan makalah ini adalah salah satu syarat
untuk mendapat nilai UAS (Ujian Akhir Semester) terbaik pada program
studi Hukum dan Etika Bisnis di Universitas Widya Mandira Katolik Kupang
.
Sebagai
bahan penulisan, diambil dari proses observasi,
dan
wawancara serta beberapa narasumber yang mendukung pembuatan makalah
ini.
Penulis menyadari tanpa kerjasama yang baik dan dukungan
semua pihak, maka makalah ini tidak akan berjalan dengan lancar. Oleh
karena itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima
kasih kepada :
1. Tuhan Yesus Kristus, yang telah memberi Rahmat dan Hikmt-Nya kepada
penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
2. Bapak Frumentius Mandaru, SH. M.Hum selaku Dosen pembimbing pada
mata kuliah Hukum dan Etika Bisnis,
yang
banyak memberikan
bimbingan pelajaran dan pengarahan kepada kami.
3. Serta teman-teman yang telah turut serta dalam pembuatan tugas makalah
ini hingga dapat terselesaikan . Kami menyadari bahwa pembuatan
makalah ini masih banyak kekurangan , tapi kami berharap makalah
ini dapat berguna untuk semuanya.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua
pihak, meskipun dalam laporan ini masih banyak kekurangannya. Oleh sebab itu
kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Kupang, 30 Juli 2016

MAKALAH HUKUM DAN ETIKA BISNIS| 3

DAFTAR ISI
Halama
n
Lembar Judul Makalah Hukum dan Etika Bisnis
.........................................................
1
Kata
Pengantar.......................................................................................................
.....
2
Daftar isi
......................................................................................................................
3
BAB I
PENDAHULUAN............................................................................
....
4
1.1. Latar Belakang
...............................................................................
4
1.2. Metode
Penulisan..........................................................................
4
1.3. Tujuan Penulisan
...........................................................................
4
1.4. Sistematika
Penulisan....................................................................
5
BAB II
PEMBAHASAN
.................................................................................
6
2.1. Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik)
............
6
2.2. Pengertian Cyber
Crime.................................................................
6
2.3. Motif Kegiatan Cyber Crime
..........................................................
7
2.4. Faktor
Penyebab............................................................................
7
2.5. Karakteristik Cyber Cyber
Crime....................................................
7
2.6. Jenis-jenis Cyber
Crime..................................................................
8
2.7. Perkembangan Cyber Crime di Indonesia
.....................................
9
2.8. Cara Penanganan dan Contoh Kasus Cyber Crime
........................
10
2.8.1. Cara Penanganannya
...........................................................
10
2.8.1.1 Internet
Firewall..........................................................
10
2.8.1.2 Kriptograf
...................................................................
10
2.8.1.3 Secure Socket Layer
(SSL)............................................
10
2.8.2. Contoh Kasus
.......................................................................
10
Kasus 1 : Penggelapan Uang di Bank melalui Komputer
........
11
Kasus 2 : Pornograf
................................................................
11
Kasus 3 : Hacking
....................................................................
13

MAKALAH HUKUM DAN ETIKA BISNIS| 4

Kasus 4 :
Carding.....................................................................
13
Kasus 5 :
Cybersquatting.........................................................
14
Kasus 6 : Perjudian Online
......................................................
15
Kasus 7 : Pencemaran diri pribadi orang lain
.........................
16
Kasus 8 : Asusila dalam media
elektronik...............................
17
Kasus 9 : Pencemaran nama baik di media elektonik
............
18
Kasus 10 : Penipuan Lowongan Kerja di Media elekronik
......
19
Contoh lain dari Kasus Cyber Crime baru-baru ini
terjadi..........
20
Kesal, Pendiri Facebook Telepon Presiden Obama
.............
20
5 Ponsel Pejabat Indonesia yang disadap Australia
............
21
FBI ingin sadap Facebook, Gmail, YM dan Skype
................
22
Hukum yang menyangkut kasus diatas
..............................
23
2.9. Pengertian Cyber
Law....................................................................
25
2.10. Ruang Lingkup Cyber
Law..............................................................
26
2.11. Topik-topik Cyber Law
...................................................................
28
2.12. Asas-asas Cyber Law
......................................................................
28
2.13. Contoh Kasus Cyber Law
...............................................................
29
BAB III
PENUTUP
.........................................................................................
33
3.1. Kesimpulan dan Saran
...................................................................
33
DAFTAR PUSTAKA
.......................................................................................................
34

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 . Latar Belakang
Pemanfaatan Teknologi Informasi, media, dan komunikasi telah mengubah
baik perilaku masyarakat maupun peradaban manusia secara global.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah pula menyebabkan
hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan
sosial, ekonomi, dan budaya secara signifikan berlangsung demikian cepat.
Teknologi Informasi saat ini menjadi pedang bermata dua karena selain
memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan,
kemajuan,
dan
peradaban manusia, sekaligus menjadi sarana efektif perbuatan melawan hukum.
Salah satu perkembangan teknologi yang sering digunakan dan dibutuhkan
semua kalangan masyarakat adalah computer. Dengan computer seseorang dapat
dengan mudah mempergunakannya, tetapi dengan adanya computer seseorang
menggunakannya dengan ada hal yang baik dan tidaknya. Cyber crime dan cyber
law dimana kejahatan ini sudah melanggar hukum dalam teknologi dan seseorang
yang mengerjakannya dapat di kenakan hukum pidana dan perdata.
1. 2. Metode Penulisan
Makalah ini merupakan salah satu tugas untuk mendapatkan nilai pengganti
UJian Akhir Semester (UAS) dalam mata kuliah Hukum dan Etika Bisnis.
Penyusunan malakah ini, menitikberatkan pada kegiatan melanggar hukum di
dunia maya yang di sebut dengan Cyber Crime dan Cyber Law. Makalah
ini merupakan hasil pengumpulan data dan informasi melalui media internet yang
di dalamnya terdapat banyak artikel dan informasi yang menjelaskan tentang
Cyber Crime & Cyber Law ini.
1. 3. Tujuan Penulisan
Makalah ini di susun agar pemahaman tentang tindak kejahatan melalui
media internet dengan sebutan Cyber Crime dan Cyber Law ini menjadi lebih
mudah di mengerti bagi setiap orang yang membacanya. Dan khususnya untuk
para pengguna media online,
makalah ini merupakan informasi yang harus
diaplikasikan dalam menggunakan media internet sebagai wadah untuk
melakukan berbagai aktifitas dengan baik dan hati-hati.
Makalah ini secara khusus ingin mengaplikasikan teori mata kuliah Hukum
dan Etika Bisnis dengan mencari referensi dan menyebarkan informasinya melalui
desain blog, untuk lebih memahami tentang apa itu cybercrime dan Cyberlaw
berikut karakteristiknya dan seluk beluknya, dan juga disediakan pula beberapa
contoh kasus untuk bisa lebih menerangkan Cyberlaw. Selain itu, makalah ini
juga dibuat untuk mendapatkan nilai Ujian Akhir Semester mata kuliah
Hukum dan Etika Bisnis.

1. 4. Sistematika Penulisan
Sebelum membahas lebih lanjut, sebaiknya penulis menjelaskan dahulu
secara garis besar mengenai sistematika penulisan,
sehingga memudahkan
pembaca memahami isi makalah ini. Dalam penjelasan sistematika penulisan
makalah ini adalah :
Bab I Pendahuluan
Berisikan tentang :
1. 1 Latar belakang
1. 2 Metode Penulisan
1. 3 Tujuan Penulisan
1. 4 Sistematika Penulisan
Bab II Pembahasan
Berisikan tentang :
2. 1 Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Eletronik)
2. 2 Pengertian Cyber crime
2. 3. Motif kegiatan Cyber Crime
2. 4. Faktor Penyebab
2. 5. Karakteristik Cyber Crime
2. 6. Jenis Cyber Crime
2. 7. Perkembangan Cyber Crime Di Indonesia
2. 8. Cara Penanganan Dan Contoh Kasus
2. 9 Pengertian Cyber law
2. 10. Ruang Lingkup Cyber Law
2. 11. Topik Seputar Cyber Law
2. 12. Asas-asas Cyber Law
2. 13. Contoh Kasus Cyber Law
Bab III Penutup
Berisikan tentang :
3. 1 Kesimpulan
3. 2 Saran

BAB II
PEMBAHASAN
2. 1. Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Eletronik)
Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah Ketentuan yang
berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur
dalam Undang-undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia
maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di
wilayah Indonesia dan /atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan
kepentingan indonesia.
UU ITE mengatur berbagai perlindungan hukum atas kegiatan yang
memnafaatkan internet sebagai medianya, baik transaksi maupun pemanfaatan
informasinya. Pada UUITE juga diatur berbagai ancaman hukuman bagi kejahatn
melalui internet. UUITE mengakomodir kebutuhan para pelaku bisnis di internet
dan masyarakat pada umumnya guna mendapatkan kepastian hukum, dengan
diakuinya bukti elektronik dan tanda tangan digital sebagi bukti yang sah di
pengadilan
2. 2. Pengertian Cyber Crime
Kejahatan dunia maya (Inggris: cybercrime) adalah istilah yang mengacu
kepada aktivitas kejahatan dengan komputer atau jaringan komputer menjadi alat,
sasaran atau tempat terjadinya kejahatan. Termasuk ke dalam kejahatan dunia
maya antara lain adalah penipuan lelang secara online, pemalsuan cek,
penipuan kartu kredit/carding, confidence fraud, penipuan identitas, pornografi
anak, dll. Walaupun kejahatan dunia maya atau cybercrime umumnya mengacu
kepada aktivitas kejahatan dengan komputer atau jaringan komputer sebagai unsur
utamanya, istilah ini juga digunakan untuk kegiatan kejahatan tradisional di mana
komputer atau jaringan komputer digunakan untuk mempermudah atau
memungkinkan kejahatan itu terjadi.
Contoh kejahatan dunia maya di mana komputer sebagai alat
adalah spamming dan kejahatan terhadap hak cipta dan kekayaan intelektual.
Contoh kejahatan dunia maya di mana komputer sebagai sasarannya adalah akses
ilegal (mengelabui kontrol akses), malware dan serangan DoS. Contoh kejahatan
dunia maya di mana komputer sebagai tempatnya adalah penipuan identitas.
Sedangkan contoh kejahatan tradisional dengan komputer sebagai alatnya
adalah pornografi anak dan judi online. Beberapa situs-situs penipuan berkedok
judi online termasuk dalam sebuah situs yang merupakan situs kejahatan di dunia
maya yang sedang dipantau oleh pihak kepolisian dengan pelanggaran pasal 303
KUHP tentang perjudian dan pasal 378 KUHP tentang penipuan berkedok
permainan online dengan cara memaksa pemilik website tersebut untuk menutup
website melalui metode DDOS website yang bersangkutan, begitupun penipuan
identitas di game online hanya mengisi alamat identitas palsu game online
tersebut bingung dengan alamat identitas palsu karena mereka sadar akan
berjalannya cybercrime jika hal tersebut terus terus terjadi maka game online
tersebut akan rugi/bangkrut. (28/12/2011)

2. 3. Motif Kegiatan Cyber crime


a) Cybercrime yang menyerang individu :
Kejahatan yang dilakukan terhadap orang lain dengan motif dendam atau iseng
yang bertujuan untuk merusak nama baik, mencoba ataupun mempermaikan
seseorang untuk mendapatkan kepuasan pribadi.
Contoh : Pornografi, cyberstalking, dll
b)
Cybercrime yang menyerang hak milik (Against Property) :
Kejahatan yang dilakukan terhadap hasil karya seseorang dengan motif
menggandakan, memasarkan, mengubah yang bertujuan untuk kepentingan
pribadi/umum ataupun demi materi/nonmateri.
c) Cybercrime yang menyerang pemerintah :
Kejahatan yang dilakukan dengan pemerintah sebagai objek dengan motif
melakukan terror, membajak ataupun merusak keamanan suatu pemerintahan
yang bertujuan untuk mengacaukan system pemerintahan, atau menghancurkan
suatu Negara.
2. 4. Faktor Penyebab
Jika dipandang dari sudut pandang yang lebih luas, latar belakang terjadinya
kejahatan di dunia maya ini terbagi menjadi dua faktor penting, yaitu :
1.
Faktor Teknis
Dengan adanya teknologi internet akan menghilangkan batas wilayah
negara yang menjadikan dunia ini menjadi begitu dekat dan sempit. Saling
terhubungnya antara jaringan yang satu dengan yang lain memudahkan pelaku
kejahatan untuk melakukan aksinya. Kemudian, tidak meratanya penyebaran
teknologi menjadikan pihak yang satu lebih kuat daripada yang lain.
2.
Faktor Sosial ekonomi
Cybercrime dapat dipandang sebagai produk ekonomi. Isu global yang
kemudian dihubungkan dengan kejahatan tersebut adalah keamanan jaringan.
Keamanan jaringan merupakan isu global yang muncul bersamaan dengan
internet. Sebagai komoditi ekonomi, banyak negara yang tentunya sangat
membutuhkan perangkat keamanan jaringan.
Melihat kenyataan seperti itu,
Cybercrime berada dalam skenerio besar dari kegiatan ekonomi dunia.
2. 5. Karakteristik Cyber Crime
Selama ini dalam kejahatan konvensional, kita menganl adanya 2 jenis kejahatan
sebagai berikut:
A.
Kejahatan kerah biru (blue collar criem)
Kejahatan jenis ini merupakan jenis kejahatan atau tindak criminal yang dilakukan
secara konvensional, misalnya perampokan, pencurian, dan lain-lain. Para
pelaku kejahatan jenis ini biasanya digambarkan memiliki steorotip tertentu
misalnya, dari kelas sosial bawah, kurang terdidik, dan lain-lain.
B.
Kejahatan kerah putih (white collar crime)

Kejahatan jenis ini terbagi dalam 4 kelompok kejahatan yakni kejahatan


korporasi, kejahatan birokrat, malpraktek, dan kejahatan individu.
Pelakunya biasanya bekebalikan dari blue collar, mereka memiliki penghasilan
tinggi, berpendidikan, memegang jabatan-jabatan terhormat di masyarakat.
Cybercrime sendiri sebagai kejahatan yang muncul sebagai akibat adanya
komunitas dunia maya di internet, memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda
dengan kedua model di atas.
Karakteristik unik dari kejahatan di dunia maya tersebut antara lain menyangkut
lima hal berikut:
1.
Ruang lingkup kejahatan
Sesuai sifat global internet, ruang lingkup kejahatan ini jga bersifat global.
Cybercrime seringkali dilakukan secara transnasional, melintasi batas negara
sehingga sulit dipastikan yuridikasi hukum negara yang berlaku terhadap pelaku.
Karakteristik internet di mana orang dapat berlalu-lalang tanpa
identitas(anonymous) memungkinkan terjadinya berbagai aktivitas jahat yang tak
tersentuh hukum.
2.
Sifat kejahatan
Bersifat non-violence, atau tidak menimbulkan kekacauan yang mudah terlihat.
Jika kejahatan konvensional sering kali menimbulkan kekacauan makan kejahatan
di internet bersifat sebaliknya.
3.
Pelaku kejahatan
Bersifat lebih universal, meski memiliki cirri khusus yaitu kejahatan dilakukan
oleh orang-orang yang menguasai penggunaan internet beserta aplikasinya.
Pelaku kejahatan tersebut tidak terbatas pada usia dan stereotip tertentu, mereka
yang sempat tertangkap remaja, bahkan beberapa di antaranya masih anak-anak.
4.
Modus kejahatan
Keunikan kejahatan ini adalah penggunaan teknologi informasi dalam modus
operandi, itulah sebabnya mengapa modus operandi dalam dunia cyber tersebut
sulit dimengerti oleh orang-orang yang tidak menguasai pengetahuan tentang
komputer, teknik pemrograman dan seluk beluk dunia cyber.
5.
Jenis kerugian yang ditimbulkan
Dapat bersifat material maupun non-material. Seperti waktu, nilai, jasa, uang,
barang, harga diri, martabat bahkan kerahasiaan informasi.
2. 6. Jenis-Jenis Cyber Crime
Berdasarkan Jenis Kejahatan
1. CARDING adalah berbelanja menggunakan nomor dan identitas kartu
kredit orang lain, yang diperoleh secara ilegal, biasanya dengan mencuri
data di internet. Sebutan pelakunya adalah carder. Sebutan lain untuk
kejahatan jenis ini adalahcyberfroud alias penipuan di dunia maya.
2.
HACKING adalah menerobos program komputer milik orang/pihak lain.
Hackeradalah orang yang gemar ngoprek komputer, memiliki keahlian
membuat dan membaca program tertentu dan terobsesi mengamati
keamanan (security)-nya.

3.

4.

5.

6.

7.

CRACKING adalah hacking untuk tujuan jahat. Sebutan untuk cracker


adalah hacker bertopi hitam (black hat hacker). Berbeda dengan carder
yang hanya mengintip kartu kredit, cracker mengintip simpanan para
nasabah di berbagai bank atau pusat data sensitif lainnya untuk keuntungan
diri sendiri. Meski sama-sama menerobos keamanan komputer orang lain,
hacker lebih fokus pada prosesnya. Sedangkan cracker lebih fokus
untuk menikmati hasilnya.
DEFACING adalah kegiatan mengubah halaman situs/website pihak lain,
seperti yang terjadi pada situs Menkominfo dan Partai Golkar, BI baru-baru
ini dan situs KPU saat pemilu 2004 lalu. Tindakan deface ada yang sematamata iseng, unjuk kebolehan, pamer kemampuan membuat program, tapi
ada juga yang jahat, untuk mencuri data dan dijual kepada pihak lain.
PHISING adalah
kegiatan
memancing
pemakai
komputer
di
internet (user) agar mau memberikan informasi data diri pemakai
(username) dan kata sandinya (password) pada suatu website yang sudah dideface. Phising biasanya diarahkan kepada pengguna online banking. Isian
data pemakai dan password yang vital.
SPAMMING adalah pengiriman berita atau iklan lewat surat elektronik
(e-mail) yang tak dikehendaki. Spam sering disebut juga sebagai bulk email atau junk e-mailalias sampah.
MALWARE adalah program komputer yang mencari kelemahan dari
suatu software.
Umumnya malware diciptakan untuk membobol atau
merusak suatu software atauoperating system. Malware terdiri dari berbagai
macam, yaitu: virus, worm, trojan horse, adware, browser hijacker, dll.

2. 7. Perkembangan Cyber Crime di Indonesia


Di Indonesia sendiri perkembangan cyber crime patut diacungi jempol.
Walau di dunia nyata kita dianggap sebagai salah satu negara terbelakang dalam
segala hal, namun prestasi yang sangat berhasil ditorehkan oleh para hacker,
cracker dan carder lokal.
Virus komputer yang dulunya banyak diproduksi di US dan Eropa sepertinya
juga mengalami outsourcing dan globalisasi. Di tahun 1986 2003, epicenter
virus computer dideteksi kebanyakan berasal dari Eropa dan Amerika dan
beberapa negara lainnya seperti Jepang, Australia, dan India. Namun hasil
penelitian mengatakan di beberapa tahun mendatang Mexico, India dan Africa
yang akan menjadi epicenter virus terbesar di dunia,
dan juga bayangkan,
Indonesia juga termasuk dalam 10 besar.
Dalam 5 tahun belakangan ini China , Eropa, dan Brazil yang meneruskan
perkembangan virus2 yang saat ini mengancam komputer kita semua dan tidak
akan lama lagi Indonesia akan terkenal namun dengan nama yang kurang bagus
mengapa? mungkin pemerintah kurang ketat dalam pengontrolan dalam dunia
cyber, terus terang para hacker di Amerika tidak akan berani untuk bergerak
karna pengaturan yang ketat dan system kontrol yang lebih high-tech lagi yang
dipunyai pemerintah Amerika Serikat.

2. 8. Cara Penanganan Dan Contoh Kasus Cyber Crime


2. 8. 1. Cara Penanganannya
Untuk menjaga keamanan data-data pada saat data tersebut dikirim dan pada saat
data tersebut telah disimpan di jaringan komputer, maka dikembangkan beberapa
teknik pengamanan data. Beberapa teknik pengamanan data yang ada saat ini
antara lain:
2. 8. 1. 1. Internet Firewall
Jaringan komputer yang terhubung ke Internet perlu dilengkapi dengan internet
Firewall. Internet Firewall berfungsi untuk mencegah akses dari pihak luar ke
sistem internal. Dengan demikian data-data yang berada dalam jaringan komputer
tidak dapat diakses oleh pihak-pihak luar yang tidak bertanggung jawab. Firewall
bekerja dengan 2 cara: menggunakan filter dan proxy. Firewall filtermenyaring
komunikasi agar terjadi seperlunya saja, hanya aplikasi tertentu saja yang bisa
lewat dan hanya komputer dengan identitas tertentu saja yang bisa berhubungan.
Firewall proxy berarti mengizinkan pemakai dari dalam untukmengakses internet
seluas-luasnya, namun dari luar hanya dapat mengakses satu computer tertentu
saja.
2. 8. 1. 2. Kriptografi
Kriptografi adalah seni menyandikan data.
Data yang akan dikirim
disandikanterlebih dahulu sebelum dikirim melalui internet. Di komputer tujuan,
data tersebut dikembalikan ke bentuk aslinya sehingga dapat dibaca dan
dimengerti oleh penerima. Data yang disandikan dimaksudkan agar apabila ada
pihak-pihak yang menyadap pengiriman data, pihak tersebut tidak dapat mengerti
isi data yang dikirim karena masih berupa kata sandi. Dengan demikian
keamanan data dapat dijaga. Ada dua proses yang terjadi dalam kriptografi, yaitu
proses enkripsi dan dekripsi. Proses enkripsi adalah proses mengubah data asli
menjadi data sandi, sedangkan proses dekripsi adalah proses megembalikan data
sandi menjadi data aslinya. Data aslin atau data yang akan disandikan disebut
dengan plain text, sedangkan data hasil penyadian disebut cipher text. Proses
enkripsi terjadi di komputer pengirim sebelum data tersebut dikirimkan,
sedangkan proses dekripsi terjadi di komputer penerima sesaat setelah data
diterima sehingga si penerima dapat mengerti data yang dikirim.
2. 8. 1. 3. Secure Socket Layer (SSL)
Jalur pengiriman data melalui internet melalui banyak transisi dan dikuasai oleh
banyak orang. Hal ini menyebabkan pengiriman data melalui Internet rawan oleh
penyadapan. Maka dari itu, browser di lengkapi dengan Secure Socket Layer
yang berfungsi untuk menyandikan data. Dengan cara ini, komputer-komputer
yang berada di antara komputer pengirim dan penerima tidak dapat lagi membaca
isi data.
2. 8. 2. Contoh Kasus
Seiring dengan perkembangan teknologi Internet,
menyebabkan munculnya
kejahatan yang disebut dengan CyberCrime atau kejahatan melalui jaringan
Internet.
Munculnya beberapa kasus CyberCrime di Indonesia,
seperti
pencurian kartu kredit, hacking beberapa situs, menyadap transmisi data orang
lain, misalnya email, dan memanipulasi data dengan cara menyiapkan perintah

yang tidak dikehendaki ke dalam programmer komputer.


Sehingga dalam
kejahatan komputer dimungkinkan adanya delik formil dan delik materil. Delik
formil adalah perbuatan seseorang yang memasuki komputer orang lain tanpa ijin,
sedangkan delik materil adalah perbuatan yang menimbulkan akibat kerugian bagi
orang lain. Adanya CyberCrime telah menjadi ancaman stabilitas, sehingga
pemerintah sulit mengimbangi teknik kejahatan yang dilakukan dengan teknologi
komputer, khususnya jaringan internet dan intranet.
Berikut adalah 10 contoh kasus Cyber Crime yang pernah terjadi beserta modus
dan analisa penyelesaiannya:

Kasus 1 Tentang Penggelapan Uang di Bank melalui Komputer


Pada tahun 1982 telah terjadi penggelapan uang di bank melalui komputer
sebagaimana diberitakan Suara Pembaharuan edisi 10 Januari 1991 tentang dua
orang mahasiswa yang membobol uang dari sebuah bank swasta di Jakarta
sebanyak Rp.
372. 100. 000, 00 dengan menggunakan sarana komputer.
Perkembangan lebih lanjut dari teknologi komputer adalah berupa computer
network yang kemudian melahirkan suatu ruang komunikasi dan informasi global
yang dikenal dengan internet. Pada kasus tersebut, kasus ini modusnya adalah
murni criminal, kejahatan jenis ini biasanya menggunakan internet hanya sebagai
sarana kejahatan.
Penyelesaiannya, karena kejahatan ini termasuk penggelapan uang pada bank
dengan menggunakan komputer sebagai alat melakukan kejahatan. Sesuai dengan
undang-undang yang ada di Indonesia maka, orang tersebut diancam dengan
pasal 362 KUHP atau Pasal 378 KUHP, tergantung dari modus perbuatan yang
dilakukannya.
Bunyi Pasal 362 KUHP
barang siapa dengan sengaja mengambil barang yang sepenuhnya atau sebagian
milik orang lain dengan melawan hukum maka dihukum sebagai pencurian
dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 th atau denda paling banyak Rp.
900, 00
Kasus 2 Tentang Pornografi
Kasus ini terjadi saat ini dan sedang dibicarakan banyak orang, kasus video porno
Ariel PeterPan dengan Luna Maya dan Cut Tari, video tersebut di unggah di
internet oleh seorang yang berinisial RJ dan sekarang kasus ini sedang dalam
proses.

Pada kasus tersebut, modus sasaran serangannya ditujukan kepada perorangan


atau individu yang memiliki sifat atau kriteria tertentu sesuai tujuan penyerangan
tersebut.
Penyelesaian kasus ini pun dengan jalur hukum, penunggah dan orang yang
terkait dalam video tersebut pun turut diseret pasal-pasal sebagai berikut, Pasal
29 UURI No. 44 th 2008 tentang Pornografi Pasal 56, dengan hukuman minimal
6 bulan sampai 12 tahun. Atau dengan denda minimal Rp 250 juta hingga Rp 6
milyar. Dan atau Pasal 282 ayat 1 KUHP.

Pengaturan pornografi melalui internet dalam UU ITE


Dalam UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juga
tidak ada istilah pornografi,
tetapi muatan ya n g mel an ggar kesu
sil aan . Penyebarluasan muatan yang melanggar kesusilaan melalui internet
diatur dalam pasal 27 ayat (1) UU ITE mengenai Perbuatan yang Dilarang, yaitu;
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
Pelanggaran terhadap pasal 27 ayat (1) UU ITE dipidana dengan pidana penjara
paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 milyar (pasal 45 ayat
[1] UU ITE).
Dalam pasal 53 UU ITE,
dinyatakan bahwa seluruh peraturan perundangundangan yang telah ada sebelumnya dinyatakan tetap berlaku, selama tidak
bertentangan dengan UU ITE tersebut.
Bunyi pasal 29 UU RI NO. 44 tahun 2008 tentang pornografi:
Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan,
menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan,
memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat
6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda
paling sedikit Rp250. 000. 000, 00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp6. 000. 000. 000, 00 (enam miliar rupiah).
Pasal 282 KUHP berbunyi:
Barangsiapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum
tulisan, gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan,
atau barangsiapa dengan maksud untuk disiarkan,
dipertunjukkan atau
ditempelkan di muka umum, membikin tulisan, gambaran atau benda tersebut,
memasukkannya ke dalam negeri, meneruskannya, mengeluarkannya dari
negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barangsiapa secara terang-terangan
atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta,
menawarkannya atau
menunjukkannya sebagai bisa diperoleh, diancam dengan pidana penjara paling
lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima

ratus rupiah. Dari kabar yang beredar di Mabes Polri, bahwa Luna dan Tari
sudah menyandang predikat tersangka sejak beberapa hari lalu.
Kasus 3 Tentang Hacking
Istilah hacker biasanya mengacu pada seseorang yang punya minat besar untuk
mempelajari sistem komputer secara detail dan bagaimana meningkatkan
kapabilitasnya. Adapun mereka yang sering melakukan aksi-aksi perusakan di
internet lazimnya disebut cracker. Boleh dibilang cracker ini sebenarnya adalah
hacker yang yang memanfaatkan kemampuannya untuk hal-hal yang negatif.
Aktivitas cracking di internet memiliki lingkup yang sangat luas, mulai dari
pembajakan account milik orang lain,
pembajakan situs web,
probing,
menyebarkan virus, hingga pelumpuhan target sasaran. Tindakan yang terakhir
disebut sebagai DoS (Denial Of Service). Dos attack merupakan serangan yang
bertujuan melumpuhkan target (hang, crash) sehingga tidak dapat memberikan
layanan.
Pada kasus Hacking ini biasanya modus seorang hacker adalah untuk menipu atau
mengacak-acak data sehingga pemilik tersebut tidak dapat mengakses web
miliknya. Untuk kasus ini Pasal 406 KUHP dapat dikenakan pada kasus deface
atau hacking yang membuat sistem milik orang lain, seperti website atau program
menjadi tidak berfungsi atau dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Bunyi pasal 406 KUHP :
Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan,
membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya
atau sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.
Kasus 4 Tentang Carding
Carding, salah satu jenis cyber crime yang terjadi di Bandung sekitar Tahun
2003. Carding merupakan kejahatan yang dilakukan untuk mencuri nomor kartu
kredit milik orang lain dan digunakan dalam transaksi perdagangan di internet.
Para pelaku yang kebanyakan remaja tanggung dan mahasiswa ini, digerebek
aparat kepolisian setelah beberapa kali berhasil melakukan transaksi di internet
menggunakan kartu kredit orang lain. Para pelaku, rata-rata beroperasi dari
warnet-warnet yang tersebar di kota Bandung. Mereka biasa bertransaksi dengan
menggunakan nomor kartu kredit yang mereka peroleh dari beberapa situs.
Namun lagi-lagi, para petugas kepolisian ini menolak menyebutkan situs yang
dipergunakan dengan alasan masih dalam penyelidikan lebih lanjut.
Modus kejahatan ini adalah pencurian, karena pelaku memakai kartu kredit orang
lain untuk mencari barang yang mereka inginkan di situs lelang barang. Karena

kejahatan yang mereka lakukan, mereka akan dibidik dengan pelanggaran Pasal
378 KUHP tentang penipuan, Pasal 363 tentang Pencurian dan Pasal 263 tentang
Pemalsuan Identitas.
Bunyi dari pasal 378 KUHP yang memuat tentang tindakan penipuan adalah
sebagai berikut :
Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain
secara melawan hukum, memakai nama/ keadaan palsu dengan tipu muslihat
agar memberikan barang membuat utang atau menghapus utang diancam karena
penipuan dengan pidana penjara maksimum 4 tahun.
Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat yang berbunyi bahwa:
barang siapa membuat secara palsu atau memalsukan sesuatu yang dapat
menimbulkan suatu hak, perikatan atau suatu pembebasan utang atau yang
diperuntukkan sebagai bukti suatu bagi suatu tindakan, dengan maksud untuk
menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakannnya seolah-olah asli dan
tidak palsu, jika karena penggunaan itu dapat menimbulkan suatu kerugian,
diancam karena pemalsuan surat dengan pidana penjara maksimum enam tahun;
diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja dengan sengaja
menggunakan surat yang isinya secara palsu dibuat atau yang dipalsukan
tersebut, seolah-olah asli dan tidak palsu jika karena itu menimbulkan kerugian.
Kasus 5 Tentang Cybersquatting
Cybersquatting adalah mendaftar,
menjual atau menggunakan nama domain
dengan maksud mengambil keuntungan dari merek dagang atau nama orang lain.
Umumnya mengacu pada praktek membeli nama domain yang menggunakan
nama-nama bisnis yang sudah ada atau nama orang orang terkenal dengan maksud
untuk menjual nama untuk keuntungan bagi bisnis mereka .
Contoh kasus
cybersquatting, Carlos Slim, orang terkaya di dunia itu pun kurang sigap dalam
mengelola brandingnya di internet, sampai domainnya diserobot orang lain.
Beruntung kasusnya bisa digolongkan cybersquat sehingga domain carlosslim.
com bisa diambil alih. Modusnya memperdagangkan popularitas perusahaan dan
keyword Carlos Slim dengan cara menjual iklan Google kepada para pesaingnya.
Penyelesaian kasus ini adalah dengan menggunakan prosedur Anticybersquatting
Consumer Protection Act (ACPA), memberi hak untuk pemilik merek dagang
untuk menuntut sebuah cybersquatter di pengadilan federal dan mentransfer nama
domain kembali ke pemilik merek dagang. Dalam beberapa kasus, cybersquatter
harus membayar ganti rugi uang.
Untuk kasus-kasus cybersquatting dengan menggunakan pasal-pasal dalam Kitab
Undang-undang Pidana Umum, seperti misalnya pasal 382 bis KUHP tentang
Persaingan Curang, pasal 493 KUHP tentang Pelanggaran Keamanan Umum
Bagi Orang atau Barang dan Kesehatan Umum,
pasal 362 KUHP tentang
Pencurian, dan pasal 378 KUHP tentang Penipuan; dan

Pasal 22 dan 60 Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi


untuk tindakan domain hijacking
Kasus 6 Tentang Perjudian Online
Perjudian online,
pelaku menggunakan sarana internet untuk melakukan
perjudian. Seperti yang terjadi di Semarang, Desember 2006 silam. Para pelaku
melakukan praktiknya dengan menggunakan system member yang semua
anggotanya mendaftar ke admin situs itu,
atau menghubungi HP ke
0811XXXXXX dan 024-356XXXX. Mereka melakukan transaki online lewat
internet dan HP untuk mempertaruhkan pertarungan bola Liga Inggris, Liga Italia
dan Liga Jerman yang ditayangkan di televisi. Untuk setiap petaruh yang berhasil
menebak skor dan memasang uang Rp 100 ribu bisa mendapatkan uang Rp 100
ribu, atau bisa lebih. Modus para pelaku bermain judi online adalah untuk
mendapatkan uang dengan cara instan. Dan sanksi menjerat para pelaku yakni
dikenakan pasal 303 tentang perjudian dan UU 7/1974 pasal 8 yang ancamannya
lebih dari 5 tahun.
PASAL 303 KUHP Tentang PERJUDIAN
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana
denda paling banyak dua puluh lima juta rupiah, barang siapa tanpa mendapat
izin:
1. dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan untuk permainan
judi dan menjadikannya sebagai pencarian, atau dengan sengaja turut serta
dalam suatu perusahaan untuk itu;
2. dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak
umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam perusahaan
untuk itu, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan kesempatan adanya
sesuatu syarat atau dipenuhinya sesuatu tata-cara;
3. menjadikan turut serta pada permainan judi sebagai pencarian
(2) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalakan
pencariannya, maka dapat dicabut hak nya untuk menjalankan pencarian itu.
(3) Yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana pada
umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada peruntungan belaka,
juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala
pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainanlain-lainnya yang
tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga
segala pertaruhan lainnya.
Kasus judi online seperti yang dipaparkan diatas setidaknya bisa dijerat dengan 3
pasal dalam UU Informasi dan Transaksi Elektonik (ITE) atau UU No. 11 Tahun
2008.
Selain dengan Pasal 303 KUHP menurut pihak Kepolisian diatas, maka pelaku
juga bisa dikenai pelanggaran Pasal 27 ayat 2 UU ITE, yaitu Setiap Orang

dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan


dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik yang memiliki muatan perjudian. Oleh karena pelanggaran pada
Pasal tersebut maka menurut Pasal 43 ayat 1, yang bersangkutan bisa ditangkap
oleh Polisi atau Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia,
Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah yang lingkup
tugas dan tanggung jawabnya di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi
Elektronik diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud
dalam UndangUndang tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan
penyidikan tindak pidana di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi
Elektronik.
Sementara sanksi yang dikenakan adalah Pasal 45 ayat 1, yaitu Setiap Orang
yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2),
ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp1. 000. 000. 000, 00 (satu miliar rupiah).
Kasus 7 tentang Mencemarkan diri pribadi orang lain dalam ranah internet
Prita Mulyasari adalah seorang ibu rumah tangga, mantan pasien Rumah Sakit
Omni Internasional Alam Sutra Tangerang. Saat dirawat di Rumah Sakit tersebut
Prita tidak mendapat kesembuhan namun penyakitnya malah bertambah parah.
Pihak rumah sakit tidak memberikan keterangan yang pasti mengenai penyakit
Prita,
serta pihak Rumah Sakitpun tidak memberikan rekam medis yang
diperlukan oleh Prita. Kemudian Prita Mulyasari mengeluhkan pelayanan rumah
sakit tersebut melalui surat elektronik yang kemudian menyebar ke berbagai
mailing list di dunia maya. Akibatnya, pihak Rumah Sakit Omni Internasional
marah, dan merasa dicemarkan.
Lalu RS Omni International mengadukan Prita Mulyasari secara pidana.
Sebelumnya Prita Mulyasari sudah diputus bersalah dalam pengadilan perdata.
Dan waktu itupun Prita sempat ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Tangerang sejak 13 Mei 2009 karena dijerat pasal pencemaran nama baik dengan
menggunakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Kasus ini kemudian banyak menyedot perhatian publik yang berimbas dengan
munculnya gerakan solidaritas Koin Kepedulian untuk Prita. Pada tanggal 29
Desember 2009, Ibu Prita Mulyasari divonis Bebas oleh Pengadilan Negeri
Tangerang. (kasus yang telah terjerat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008,
Pasal 27 ayat 3 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)).
Kemudian hampir di akhir tahun 2009 muncul kembali kasus yang terjerat oleh
UU No. 11 pasal 27 ayat 3 tahun 2008 tentang UU ITE yang dialami oleh artis
cantik kita yaitu Luna Maya. Kasus yang menimpa Luna Maya kini menyedot
perhatian publik. Apalagi Luna Maya juga sebagai publik figur, pasti akan
menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Kasus ini berawal dari tulisan Luna

Maya dalam akun twitter yang menyebutkan infotainment derajatnya lebih hina
dari pada pelacur dan pembunuh. Sebenarnya hal itu tidak perlu untuk ditulis
dalam akun Twitternya, karena hal tersebut terlalu berlebihan apalagi disertai
dengan pelontaran sumpah serapah yang menghina dan merendahkan profesi para
pekerja infotainment. (kasus yang telah terjerat Undang-undang Nomor 11 Tahun
2008, Pasal 27 ayat 3 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE))
Bunyi pasal tersebut adalah sebagai berikut:
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau
pencemaran nama.
Kasus 8 tentang Asusila dalam media elektronik
Aktor Taura Denang Sudiro alias Tora Sudiro dan Darius Sinathrya, mendatangi
Sentra Pelayanan Kepolisian Polda Metro Jaya untuk membuat laporan
penyebaran dan pendistribusian gambar atau foto hasil rekayasa yang melanggar
kesusilaan di media elektronik.
"Saya membuat laporan,
sesuai apa yang saya lihat di media twitter.
Sebenarnya, saya sudah melihat gambar itu bertahun-tahun lalu. Awalnya biasa
saja, namun sekarang anak saya sudah gede, nenek saya juga marah-marah.
Padahal sudah dijelaskan kalau itu adalah editan, " ujar Tora, di depan Gedung
Direktorat Reserse Kriminal Khusus, Polda Metro Jaya, Rabu (15/5).
Ia melanjutkan, pihaknya memutuskan untuk membuat laporan dengan nomor
TBL/1608//V/2013/PMJ/Dit Krimsus,
tertanggal 15 Mei 2013,
karena
penyebaran foto asusila itu kian ramai dan mengganggu privasinya.
"Saya merasa dirugikan. Sekarang juga kembali ramai (penyebarannya), Darius
juga terganggu. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat laporan. Pelakunya
belum tahu siapa, namun kami sudah meminta polisi untuk menelusurinya,
" ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Darius, menyampaikan dirinya juga sudah
mengetahui beredarnya foto rekayasa adegan syur sesama jenis itu, sejak
beberapa tahun lalu.
"Sudah tahu gambar itu, beberapa tahun lalu. Awalnya saya cuek, mungkin
kerjaan orang iseng saja. Namun, sekarang banyak teman-teman di daerah
menerima gambar itu via broadcast BBM. Bahkan, anak kecil saja bisa melihat.
Ini yang sangat mengganggu saya, " jelasnya.

Darius yang merupakan saksi dan korban dalam laporan itu menambahkan,
banyak teman-teman daerah memintanya untuk mengklarifikasi apakah benar atau
tidak foto itu. "Ya, jelas foto ini palsu. Makanya kami laporkan, " katanya.
Sementara itu, Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP
Audie Latuheru, menuturkan berdasarkan penyeledikan sementara, disimpulkan
jika foto itu merupakan rekayasa atau editan.
"Kami baru melakukan penyelidikan awal dan menyimpulkan ini foto editan,
bukan foto asli. Hanya kepala mereka (Tora, Darius dan Mike) dipasang ke
dalam gambar asli, kemudian ditambahkan pemasangan poster Film Naga Bonar
untuk menguatkan karakter itu benar-benar Tora. Selain itu tak ada yang diganti.
Editor tidak terlalu bekerja keras (mengubah), karena hampir mirip gambar asli,
" paparnya.
Langkah selanjutnya, kata Audie, pihaknya bakal segera melakukan penelusuran
terkait siapa yang memposting gambar itu pertama kali.
"Kami akan mencoba menelusuri siapa yang mengedit dan memposting gambar
itu pertama kali. Ini diedit kira-kira 3 tahun lalu, tahun 2010. Kesulitan
melacak memang ada, karena terkendala waktu yang sudah cukup lama. Jika
pelaku tertangkap, ia bakal dijerat Pasal 27 Ayat (1) Jo Pasal 45 Ayat (1) UU RI
2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, " tegasnya.
Diketahui, sebuah foto rekayasa adegan syur sesama jenis yang menampilkan
wajah Tora Sudiro, Darius Sinathrya dan Mike (mantan VJ MTV), beredar di
dunia maya. Nampak adegan oral seks di dalam foto itu.
Kasus 9 tentang Pencemaran nama baik di media elektronik
Suami Inggrid Kansil,
Syarief Hasan tak main-main dengan kicauan yang
dilontarkan TrioMacan2000 di Twitter. Berbagai pasal sudah disiapkan polisi
untuk menjerat pemilik akun anonim tersebut.
"Saya secara resmi melaporkan akun TrioMacan2000 yang telah mencemarkan
nama baik saya dan keluarga dengan melakukan kejahatan elektronik informasi
teknologi, " tandas Syarief usai membuat laporan di Polda Metro Jaya, Kamis
(16/5) petang.
Dalam laporannya, Menteri Koperasi dan UKM itu membawa bukti berupa printout kicauan TrioMacan2000 di Twitter. "Saya ingin buktikan secara clear, bahwa
ini betul-betul fitnah. Dan ini kita harus berantas dan lawan, " sebut dia.

TrioMacan2000 dilaporkan dengan pasal berlapis yaitu pasal 310, 311 KUHP dan
27 UU ITE tentang fitnah dan pencemaran nama baik. "Hukumannya 6 tahun,
" tegas Syarief.
Syarief mengaku terpaksa menempuh kasus ini hingga ke Polda Metro Jaya. Ia
berharap,
ke depannya tak ada lagi kasus serupa seperti yang menimpa
keluarganya.
"Ini kan merusak nama baik saya dan keluarga, menyebarkan fitnah. Ini tidak
boleh terjadi. Saya harap saya dan keluarga yang terakhir. Pihak kepolisian
akan tuntut sampai tuntas. Apalagi saya dengar ini mudah dilacak, " tutup
Syarief.
Kasus 10 tentang penipuan loker pada media elektronik
Pada awal bulan Desember 2012 tersangka MUHAMMAD NURSIDI Alias
CIDING Alias ANDY HERMANSYAH Alias FIRMANSYAH Bin
MUHAMMAD NATSIR D melalui alamat websitehttp://lowongan-kerja.
tokobagus.
com/hrd-rekrutmen/lowongan-kerja-adaro-indonesia4669270.
html mengiklankan lowongan pekerjaan yang isinya akan menerima
karyawan dalam sejumlah posisi termasuk HRGA (Human Resource-General
Affairs) Foreman dengan menggunakan nama PT. ADARO INDONESIA.
Pada tanggal 22 Desember 2012 korban kemudian mengirim Surat Lamaran
Kerja, Biodata Diri (CV) dan pas Foto Warna terbaru ke email hrd. adaro@gmail.
com milik tersangka, setelah e-mail tersebut diterima oleh tersangka selanjutnya
tersangka membalas e-mail tersebut dengan mengirimkan surat yang isinya
panggilan seleksi rekruitmen karyawan yang seakan-akan benar jika surat
panggilan tersebut berasal dari PT. ADARO INDONESIA, di dalam surat
tersebut dicantumkan waktu tes, syarat-syarat yang harus dilaksanakan oleh
korban, tahapan dan jadwal seleksi dan juga nama-nama peserta yang berhak
untuk mengikuti tes wawancara PT. ADARO INDONESIA, selain itu untuk
konfirmasi korban diarahkan untuk menghubungi nomor HP. 085331541444 via
SMS untuk konfirmasi kehadiran dengan format
ADARO#NAMA#KOTA#HADIR/TIDAK dan dalam surat tersebut juga
dilampirkan nama Travel yakni OXI TOUR & TRAVEL untuk melakukan
reservasi pemesanan tiket serta mobilisasi (penjemputan peserta di bandara
menuju ke tempat pelaksanaan kegiatan) dengan penanggung jawab
FIRMANSYAH, Contact Person 082 341 055 575.
Selanjutnya korban kemudian menghubungi nomor HP. 082 341 055 575 dan
diangkat oleh tersangka yang mengaku Lk. FIRMANSYAH selaku karyawan
OXI TOUR & TRAVEL yang mengurus masalah tiket maupun mobilisasi
(penjemputan peserta di bandara menuju ke tempat pelaksanaan kegiatan) PT.
ADARO INDONESIA telah bekerja sama dengan OXI TOUR & TRAVEL dalam

hal transportasi terhadap peserta yang lulus seleksi penerimaan karyawan,


korbanpun kemudian mengirimkan nama lengkap untuk pemesanan tiket dan
alamat email untuk menerima lembar tiket melalui SMS ke nomor HP. 082 341
055 575 sesuai dengan yang diminta oleh tersangka, adapun alamat e-mail korban
yakni lanarditenripakkua@gmail. com.
Setelah korban mengirim nama lengkap dan alamat email pribadi,
korban
kemudian mendapat balasan sms dari nomor yang sama yang berisi total biaya
dan nomor rekening. Isi smsnya adalah Total biaya pembayaran IDR 2. 000. 00,
- Silakan transfer via BANK BNI no. rek:0272477663 a/n:MUHAMMAD
FARID selanjutnya korbanpun kemudian mentransfer uang sebesar Rp. 2. 000.
000, - (dua juta rupiah) untuk pembelian tiket, setelah mentransfer uang korban
kembali menghubungi Lk.
FIRMANSYAH untuk menanyakan kepastian
pengiriman tiketnya, namun dijawab oleh tersangka jika kode aktivasi tiket
harus Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Polisi, Endi Sutendi
mengatakan bahwa dengan adanya kecurigaan setelah tahu jika aktivasinya
dilakukan dengan menu transfer. Sehingga pada hari itu juga Minggu tanggal 23
Desember 2012 korban langsung melaporkan kejadian tersebut di SPKT Polda
Sulsel. Dengan Laporan Polisi Nomor : LP / 625 / XII / 2012 / SPKT, Tanggal
23 Desember 2012, katanya.
Menurut Endi adapun Nomor HP. yang digunakan oleh tersangka adalah
082341055575 digunakan sebagai nomor Contact Person dan mengaku sebagai
penanggung jawab OXI TOUR & TRAVEL, 085331541444 digunakan untuk
SMS Konfirmasi bagi korban dan 02140826777 digunakan untuk mengaku
sebagai telepon kantor jika korban meminta nomor kantor PT.
ADARO
INDONESIA ataupun OXI TOUR & TRAVEL, paparnya.
Sehingga Penyidik dari Polda Sulsel menetapkan tersangka yakni MUHAMMAD
NURSIDI Alias CIDING Alias ANDY HERMANSYAH Alias FIRMANSYAH
Bin MUHAMMAD NATSIR D, (29) warga Jl. Badak No. 3 A Pangkajene Kab.
Sidrap. dan Korban SUNARDI H Bin HAWI, (28)warga Jl. Dg. Ramang
Permata Sudiang Raya Blok K. 13 No. 7 Makassar. Dan menurut Endi pelaku
dijerat hukuman Pasal 28 ayat (1) Jo. Pasal 45 ayat (2) UU RI No. 11 tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektonik Subs. Pasal 378 KUHPidana.

Contoh lain dari Kasus Cyber Crime yang baru-baru ini terjadi :

Kesal, Pendiri Facebook Telepon Presiden Obama


Jumat, 14 Maret 2014 | 09.15 WIB
Pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg

KOMPAS.com Manuver-manuver yang dilakukan lembaga sandi negara


Amerika Serikat, NSA (National Security Agency), ternyata membuat CEO
Facebook Mark Zuckerberg gerah. Karena itu, pada Kamis (13/3/2014),

Zuckerberg dikabarkan mengadu "kenakalan" NSA tersebut langsung ke Presiden


Amerika Serikat Barack Obama melalui telepon. Bukan rahasia lagi jika
Zuckerberg menganggap NSA sudah kelewatan dalam hal praktik pengintaian
data. "Saya telah menelepon Presiden Obama untuk mengungkapkan rasa frustrasi
saya. Pemerintah telah merusak masa depan," tulis Zuckerberg dalam
kolomupdate status di akun Facebook resminya.
Menurut Cnet, update status Zuckerberg tersebut muncul setelah Edward
Snowden mengungkapkan dokumen yang membongkar praktik NSA yang
ternyata menggunakan Facebook sebagai perantara menyebarkan malware
pengintainya. NSA bahkan membuat tiruan server Facebook untuk menginfeksi
komputer incarannya yang ingin dimata-matai. Facebook dikatakan Zuckerberg
telah berupaya mengidentifikasi kelemahan di jaringan miliknya dan layanan lain
sebagai upaya menciptakan jaringan internet yang kuat.
Namun, upaya Zuckerberg tersebut seolah menjadi sia-sia setelah mengetahui
bahwa Pemerintah AS justru bertindak yang sebaliknya. "Saya jadi bingung dan
frustrasi
setelah
banyak
laporan
mengenai
perilaku
Pemerintah
AS,developer kami sudah capek-capek meningkatkan keamanan, kami
membayangkan bisa melindungi Anda dari para kriminal, namun bukan dari
pemerintah kita sendiri," demikian keluh Zuckerberg.
Sebelumnya, Zuckerberg juga sudah mengungkapkan kekesalannya terhadap NSA
pada Februari 2014 lalu. Saat itu, Zuckerberg mengatakan, usaha Facebook
menghubungkan lebih banyak manusia dengan internet akan sulit terwujud karena
perilaku NSA.
Di akhir tulisannya, Zuckerberg sendiri pun mengungkapkan pesimismenya. Ia
merasa reformasi yang ia inginkan di tubuh Pemerintah AS masih akan
membutuhkan waktu lama.

5 Model Ponsel Pejabat Indonesia yang Disadap Australia


Senin, 18 November 2013 | 16.40 WIB
Nokia E90.
KOMPAS.com Pemerintah Australia diduga telah berusaha menyadap
percakapan telepon seluler milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Informasi mengejutkan ini terungkap dari dokumen rahasia yang dibocorkan
mantan karyawan Badan Keamanan Nasional AS, Edward Snowden.
Seperti dilansir Australian Broadcasting Corporation (ABC), tak hanya Presiden
SBY, ponsel Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri dalam kabinet pun
ikut disadap. Dalam salah satu dokumen yang berjudul "3G Impact and Update"
tercantum sepuluh nama pejabat Indonesia lengkap dengan merek ponsel yang
mereka gunakan.

Tercatat, ada lima merek ponsel yang ikut menjadi "korban" penyadapan badan
mata-mata Australia. Lima model ponsel tersebut berasal dari tiga vendor, yaitu
BlackBerry, Nokia, dan Samsung. Nokia menyumbang ponsel yang paling
banyak, dengan tiga model, yaitu Nokia E90, E71, dan E66. Adapun BlackBerry
hanya satu model, yaitu BlackBerry 9000. BlackBerry seri Bold yang disadap
digunakan oleh Boediono (Wakil Presiden) dan Dino Pati Djalal (kala itu Juru
Bicara Presiden Urusan Luar Negeri). Samsung pun hanya diwakili satu model,
yaitu SGH-Z370 yang digunakan oleh Jusuf Kalla. Ponsel yang disadap memang
model-model yang banyak beredar di pasaran mulai tahun 2006 hingga 2008.
Aksi penyadapan sendiri dilakukan pada tahun 2009.
Berikut adalah daftar nama pejabat itu, yang telah diperoleh ABC dari Snowden.
1. Susilo Bambang Yudhoyono, jenis ponsel Nokia E90-1
2. Kristiani Herawati (Ani Yudhoyono), jenis ponsel Nokia E90-1
3. Boediono (Wakil Presiden), jenis ponsel Blacberry Bold (9000)
4. Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden), jenis ponsel Samsung SGH-Z370
5. Dino Pati Djalal (saat itu juru bicara presiden urusan luar negeri), jenis
ponsel Blackberry Bold (9000)
6. Andi Mallarangeng (saat itu juru bicara presiden urusan dalam negeri), jenis
ponsel Nokia E71-1
7. Hatta Rajasa (saat itu Menteri Sekretaris Negara), jenis ponsel Nokia E90-1
8. Sri Mulyani Indrawati (saat itu Pelaksana Tugas Menko Perekonomian),
jenis ponsel Nokia E90-1
9. Widodo Adi Sucipto (saat itu Menkopolhukam), jenis ponsel Nokia E66-1
10. Sofyan Djalil (saat itu Menteri BUMN), jenis ponsel Nokia E90-1
Sumber: ABCNews

FBI Ingin Sadap Facebook, Gmail, YM, dan Skype


Minggu, 6 Mei 2012 | 16.37 WIB

KOMPAS.com Biro keamanan AS, FBI, saat ini tengah gencar melakukan
"pendekatan" ke beberapa perusahaan internet, seperti Yahoo dan Google.
Seperti dilansir Cnet, pendekatan ini dilakukan agar Yahoo dan Google mau
menyetujui sebuah proposal yang akan mewajibkan perusahaan internet tersebut
memasukkan "backdoor" di seluruh produknya sebagai bagian dari program
pengawasan pemerintah. Jika proposal ini disetujui, berarti seluruh gerak-gerik
pengguna produk Yahoo, seperti Yahoo Mail, Yahoo Messenger (YM), dan
produk milik Google, seperti Gmail, Google+, dan GTalk, akan dapat diawasi
FBI. FBI juga diam-diam telah bertemu dengan perwakilan dari perusahaan
lainnya, seperti Microsoft (pemilik Hotmail dan Skype), dan Facebook.
Tujuannya sama seperti saat menyambangi Yahoo dan Google, FBI menginginkan
produk-produk yang dimiliki Microsoft dan Facebook, seperti situs jejaring sosial,
VoIP, instant messaging, dan layanan e-mail, harus diubah kodenya. Tujuan
pengubahan kode-kode program ini dimaksudkan agar FBI dapat dengan mudah
menyisipkan tools untuk kepentingan penyadapan. FBI sebelumnya telah

mengeluh kepada Kongres atas kesulitannya melakukan pengawasan penyadapan


karena tren komunikasi telah beralih dari layanan telepon tradisional ke internet.
Sebelumnya, sudah terdapat undang-undang di AS (CALEA) yang mewajibkan
perusahaan telekomunikasi untuk membuat sistem mereka siap disadap
pemerintah. Kemudian, peraturan ini diperluas dengan diterapkannya ke
perusahaan layanan internet. Namun, perusahaan web (seperti Facebook, Google,
dan Microsoft) tak diatur dalam undang-undang tersebut. Langkah yang dilakukan
FBI ini sepertinya akan memaksa pemerintah untuk merevisi undang-undang yang
ada sehingga mereka bisa secara legal menyadap apa yang sedang
diperbincangkan di Facebook, YM, Skype, dan layanan-layanan e-mail.

Hukum yang menyangkut kasus diatas :


Sejauh ini, aturan penyadapan tersebar di berbagai peraturan perundangundangan. Pada prinsipnya, seperti yang berlaku di negara-negara lain, tindakan
penyadapan dilarang di Indonesia, kecuali untuk tujuan tertentu yang
pelaksanaannya sangat dibatasi oleh undang-undang. Umumnya, tujuan tersebut
terkait dengan penegakan hukum. Sejalan dengan itu, pihak yang diberi
kewenangan melakukan penyadapan juga terbatas.
Undang-Undang No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, misalnya,
menegaskan bahwa ...pada dasarnya informasi yang dimiliki seseorang adalah
hak pribadi yang harus dilindungi sehingga penyadapan harus dilarang
(penjelasan Pasal 40).
Di luar UU Telekomunikasi, beberapa peraturan perundang-undangan yang juga
mengatur tentang tindak penyadapan antara lain UU No. 30 Tahun 2002 tentang
KPK, UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan
UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pada tingkat di bawah undang-undang,
terdapat Permenkominfo No 11/PER/M.KOMINFO/020/2006. Atau pada
lembaga penegak hukum tertentu seperti KPK memiliki standard operating
procedure tentang teknis penyadapan.
Ragamnya peraturan perundang-undangan yang mengatur penyadapan sayangnya
mengandung kelemahan. Satu aturan bertentangan atau tidak sejalan dengan
aturan yang lain. UU Telekomunikasi yang dibentuk sebelum lahirnya KPK,
misalnya, belum mengakomodir keberadaan lembaga pimpinan Tumpak
Hatorangan Panggabean ini. Atau prosedur penyadapan yang diatur dalam UU
Narkotika berbeda dengan prosedur yang selama ini digunakan KPK. Akibatnya,
tindakan penyadapan oleh penegak hukum berjalan sporadis.

Peraturan Terkait Kewenangan Penyadapan


1. UU No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika
2. UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (diubah dengan UU No 35
Tahun 2009)
3. UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
4. UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
5. PP No. 19 Tahun 2000 tentang Tim Gabungan Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi
6. Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme
7. UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat
8. PP No. 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi
9. UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang
10. UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
. KUHP Pasal 430 ayat 2
. Permenkominfo No. 11 Tahun 2006 tentang Teknis Penyadapan Terhadap
Informasi
Dari paparan di atas, jelas terlihat sinkronisasi nyaris tidak ada dalam hal
pengaturan penyadapan. Makanya, pembentukan aturan khusus, idealnya pada
level undang-undang, tentang penyadapan sangat diperlukan untuk
mengkodifikasi berbagai aturan penyadapan yang berlaku saat ini. Beberapa tahun
lalu, Amien Sunaryadi, ketika menjadi Anggota KPK, sempat mengusulkan agar
DPR membentuk UU Penyadapan. Amin menyadari betapa lemahnya dasar
hukum tindakan penyadapan yang dijalankan KPK, khususnya berkaitan dengan
aspek teknis. Faktanya, kewenangan KPK yang satu ini beberapa pernah
dipersoalkan di pengadilan.
sinkronisasi n 1 perihal menyinkronkan; penyerentakan: dl melaksanakan
tugasnya masing-masing, semua unsur departemen wajib menerapkan prinsip
koordinasi, integrasi, dan --; 2 penyesuaian antara bunyi (suara) dng sikap mulut
atau mimik (tt film): -- bunyi (suara) dng sikap mulut harus diperhatikan
(http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php )
Usulan yang sama belum lama ini juga disuarakan oleh Menkominfo Tifatul
Sembiring. Bedanya, Tifatul mengusulkan pembentukan PP Penyadapan, bukan
UU Penyadapan. Usulan ini ditentang keras oleh para penggiat anti korupsi.
Merujuk pada substansi rancangan PP, pemrotes menenggarai Menkominfo
hendak membuat aturan yang mempersulit gerak KPK dalam memberantas
korupsi. Teriakan pemprotes relatif berhasil karena wacana PP Penyadapan
kemudian tenggelam dengan sendirinya.
Terlepas dari kontroversi yang menyelimutinya, aturan khusus dan komprehensif
tentang penyadapan tetap diperlukan. Setidaknya untuk memperkuat basis hukum
tindakan penyadapan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Terkait hal ini,
tahun 2010 adalah momen strategis karena DPR telah menetapkan RUU Hukum
Acara Pidana sebagai prioritas yang akan dibahas. Sebagai bagian dari proses
hukum, penyadapan tentunya sangat relevan untuk dimasukkan ke dalam

rancangan. KUHAP lama yang dibentuk tahun 1981 tentunya belum mengenal
apa yang namanya penyadapan.
Aturan khusus tentang penyadapan menjadi sangat penting karena seiring dengan
perkembangan teknologi, metode penyadapan tentunya akan semakin populer dan
juga efektif untuk mengungkap kejahatan yang semakin kompleks.
2. 9. Pengertian Cyber Law
Cyberlaw adalah hukum yang digunakan di dunia cyber (dunia maya), yang
umumnya diasosiasikan dengan Internet. Cyberlaw dibutuhkan karena dasar atau
fondasi dari hukum di banyak negara adalah "ruang dan waktu". Sementara itu,
Internet dan jaringan komputer mendobrak batas ruang dan waktu ini.
Contoh permasalahan yang berhubungan dengan hilangnya ruang dan waktu
antara lain:
a.
Seorang penjahat komputer (cracker) yang berkebangsaan
Indonesia, berada di Australia, mengobrak-abrik server di Amerika, yang
ditempati (hosting) sebuah perusahaan Inggris. Hukum mana yang akan
dipakai untuk mengadili kejahatan cracker tersebut? Contoh kasus yang
mungkin berhubungan adalah adanya hacker Indonesia yang tertangkap di
Singapura karena melakukan cracking terhadap sebuah server perusahaan
di Singapura. Dia diadili dengan hukum Singapura karena kebetulan
semuanya berada di Singapura.
b.
Nama domain (. com, . net, . org, . id, . sg, dan seterusnya) pada
mulanya tidak memiliki nilai apa-apa. Akan tetapi pada perkembangan
Internet, nama domain adalah identitas dari perusahaan. Bahkan karena
dominannya perusahaan Internet yang menggunakan domain ". com"
sehingga perusahaan-perusahaan tersebut sering disebut perusahaan
"dotcom". Pemilihan nama domain sering berbernturan dengan trademark,
nama orang terkenal, dan seterusnya. Contoh kasus adalah pendaftaran
domain JuliaRoberts. com oleh orang yagn bukan Julia Roberts.
(Akhirnya pengadilan memutuskan Julia Roberts yang betulan yang
menang. ) Adanya perdagangan global, WTO, WIPO, dan lain lain
membuat permasalahan menjadi semakin keruh.
Trademark menjadi
global.
c.
Pajak (tax) juga merupakan salah satu masalah yang cukup pelik.
Dalam transaksi yang dilakukan oleh multi nasional, pajak mana yang
akan digunakan? Seperti contoh di atas, server berada di Amerika,
dimiliki oleh orang Belanda, dan pembeli dari Rusia. Bagaimana dengan
pajaknya? Apakah perlu dipajak? Ada usulan dari pemerintah Amerika
Serikat dimana pajak untuk produk yang dikirimkan (delivery) melalui
saluran Internet tidak perlu dikenakan pajak. Produk-produk ini biasanya

dikenal dengan istilah "digitalized products", yaitu produk yang dapat didigital-kan, seperti musik, film, software, dan buku. Barang yang
secara fisik dikirimkan secara konvensional dan melalui pabean,
diusulkan tetap dikenakan pajak.
Secara yuridis, cyber law tidak sama lagi dengan ukuran dan kualifikasi hukum
tradisional. Kegiatan cyber meskipun bersifat virtual dapat dikategorikan sebagai
tindakan dan perbuatan hukum yang nyata. Kegiatan cyber adalah kegiatan
virtual yang berdampak sangat nyata meskipun alat buktinya bersifat elektronik.
Dengan demikian subjek pelakunya harus dikualifikasikan pula sebagai orang
yang telah melakukan perbuatan hukum secara nyata.
2. 10. Ruang Lingkup Cyber Law
Keadaan Cyber law di Indonesia
Untuk dapat memahami sejauh mana perkembangan Cyber Law di Indonesia
maka kita akan membahas secara ringkas tentang landasan fundamental yang ada
didalam aspek yuridis yang mengatur lalu lintas internet sebagai sebuah rezim
hukum khusus, dimana terdapat komponen utama yang menliputi persoalan yang
ada dalam dunia maya tersebut, yaitu :
I.

II.

III.
IV.

V.
VI.

VII.

Tentang yurisdiksi hukum dan aspek-aspek terkait; komponen ini


menganalisa dan menentukan keberlakuan hukum yang berlaku dan
diterapkan di dalam dunia maya itu.
Tentang landasan penggunaan internet sebagai sarana untuk melakukan
kebebasan berpendapat yang berhubungan dengan tanggung jawab pihak
yang menyampaikan, aspek accountability, tangung jawab dalam
memberikan jasa online dan penyedia jasa internet (internet provider), serta
tanggung jawab hukum bagi penyedia jasa pendidikan melalui jaringan
internet.
Tentang aspek hak milik intelektual dimana adanya aspek tentang patent,
merek dagang rahasia yang diterapkan serta berlaku di dalam dunia cyber.
Tentang aspek kerahasiaan yang dijamin oleh ketentuan hokum yang
berlaku di masing-masing yurisdiksi negara asal dari pihak yang
mempergunakan atau memanfaatkan dunia maya sebagai bagian dari sistem
atau mekanisme jasa yang mereka lakukan.
Tentang aspek hukum yang menjamin keamanan dari setiap pengguna
internet.
Tentang ketentuan hukum yang memformulasikan aspek kepemilikan dalam
internet sebagai bagian dari nilai investasi yang dapat dihitung sesuai
dengan prinisip-prinsip keuangan atau akuntansi.
Tentang aspek hukum yang memberikan legalisasi atas internet sebagai
bagian dari perdagangan atau bisnis usaha.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas maka kita akan dapat melakukan


penilaian untuk menjustifikasi sejauh mana perkembangan dari hukum yang
mengatur sistem dan mekanisme internet di Indonesia. Perkembangan internet di
Indonesia mengalami percepatan yang sangat tinggi serta memiliki jumlah
pelanggan atau pihak pengguna jaringan internet yang terus meningkat sejak
paruh tahun 90an.
Salah satu indikator untuk melihat bagaimana aplikasi hukum tentang internet
diperlukan di Indonesia adalah dengan melihat banyaknya perusahaan yang
menjadi provider untuk pengguna jasa internet di Indonesia. Perusahaanperusahaan yang memberikan jasa provider di Indonesia sadar atau tidak
merupakan pihak yang berperanan sangat penting dalam memajukan
perkembangan cyber law di Indonesia dimana fungsi-fungsi yang mereka lakukan
seperti :
1.
Perjanjian aplikasi rekening pelanggan internet;
2.
Perjanjian pembuatan desain home page komersial;
3.
Perjanjian reseller penempatan data-data di internet server;
4.
Penawaran-penawaran penjualan produk-produk komersial melalui internet;
5.
Pemberian informasi yang di update setiap hari oleh home page komersial;
6.
Pemberian pendapat atau polling online melalui internet.
7. Merupakan faktor dan tindakan yang dapat digolongkan sebagai tindakan
yang berhubungan dengan aplikasi hukum tentang cyber di Indonesia. Oleh
sebab itu ada baiknya didalam perkembangan selanjutnya agar setiap
pemberi jasa atau pengguna internet dapat terjamin maka hukum tentang
internet perlu dikembangkan serta dikaji sebagai sebuah hukum yang
memiliki displin tersendiri di Indonesia.
Ada beberapa lingkup cyberlaw yang memerlukan perhatian khusus di Indonesia
saat ini yakni :
a) Kriminalisasi cybercrime atau kejahatan didunia maya Dampak negative
dari kejahatan didunia maya ini telah banyak terjadi Indonesia, namun
perangkat aturan yang ada pada saat ini belum cukup kuat menjerat pelaku
dengan sanksi tegas, kejahatan ini semakin berkembang seiring
perkembangan teknologi informasi. Kejahatan sebenanya tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat, tidak ada kejahatan tanpa masyaraat.
b) Aspek Pembuktian Saat ini sistem pembuktian hukum di Indonesia
(khususnya dalam pasal 184 KUHP) belum mengenal istilah bukti
elektronik/digital sebagai bukti yang sah menurut undang-undang. Masih
banyak perdebatan khususnya antarra akademisi dan praktisi mengenai hal
ini. Untuk aspek perdata, pada dasarnya hakim dapat bahkan dituntun
untuk melakukan rechstivinding (penemuan hukum). Tapi untuk pidana
tidak demikian, asas legalitas menetapkan bahwa tidak ada suatu

c)

d)

e)
f)

g)
h)

perbuatan dapat dipidana jika tidak ada aturan hukum yang mengaturnya
(nullum delictum nulla poena sine previe lege poenali). Untuk itulah
dibutuhkan adanya dalil yang cukup kuat sehingga perdebatan akademisi
dan praktisi mengenai hal ini tidak perlu terjadi lagi.
Aspek Hak Atas Kekayaan Intelektual Termasuk didalamnya Hak Cipta
dan Hak Milik Industrial yang cukup paten, merk, desain industry, rahasia
dagang, sirkuit terpadu dan lain-lain.
Standarisasi di Bidang Telamatika Penetapan standarisasi bidang
telematika akan membantu masyarakat untuk mendapatkan keamanan dan
kenyamanan dalam menggunakan teknologi informasi.
Aturan-aturan di Bidang E-Bussiness Termasuk didalamnya perlindungan
konsumen dan pelaku bisnis.
Aturan-aturan di Bidang E-Government Apabila E-Government di
Indonesia telah terintegrasi dengan baik maka efeknya adalah pelayanan
kepada masyrakat menjadi lebuh baik.
Aturan Tentanng Jaminan Keamanan dan Kerahasiaan Informasi Dalam
menggunakan teknologi informasi.
Yuridikasi Hukum Cyberlaw tidak akan berhasil jika aspek ini diabaikan.
Karena pemetaan yang mengatur cyberspace menyangkut juga hubungan
antar kawasan, antar wilayah dan antar Negara. Sehingga penetapan
yuridikasi yang jelas mutlak diperlukan.

2. 11. Topic-topik cyber law


Secara garis besar ada lima topic dari cyberlaw di setiap negara yaitu:
Information security, menyangkut masalah keotentikan pengirim atau penerima
dan integritas dari pesan yang mengalir melalui internet. Dalam hal ini diatur
masalah kerahasiaan dan keabsahan tanda tangan elektronik.
On-line transaction, meliputi penawaran,
pengiriman barang melalui internet.

jual-beli,

pembayaran sampai

Right in electronic information, soal hak cipta dan hak-hak yang muncul bagi
pengguna maupun penyedia content.
Regulation information content, sejauh mana perangkat hukum mengatur
content yang dialirkan melalui internet.
Regulation on-line contact, tata karma dalam berkomunikasi dan berbisnis
melalui internet termasuk perpajakan, retriksi eksport-import, kriminalitas dan
yurisdiksi hukum.
2. 12. Asas-Asas Cyber law
Dalam kaitannya dengan penentuan hukum yang berlaku dikenal beberapa asas
yang biasa digunakan, yaitu :

Subjective territoriality,
yang menekankan bahwa keberlakuan hukum
ditentukan berdasarkan tempat perbuatan dilakukan dan penyelesaian tindak
pidananya dilakukan di negara lain.
Objective territoriality, yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku adalah
hukum dimana akibat utama perbuatan itu terjadi dan memberikan dampak yang
sangat merugikan bagi negara yang bersangkutan.
nationality yang menentukan bahwa negara mempunyai jurisdiksi untuk
menentukan hukum berdasarkan kewarganegaraan pelaku.
passive nationality yang menekankan jurisdiksi berdasarkan kewarganegaraan
korban.
protective principle yang menyatakan berlakunya hukum didasarkan atas
keinginan negara untuk melindungi kepentingan negara dari kejahatan yang
dilakukan di luar wilayahnya, yang umumnya digunakan apabila korban adalah
negara atau pemerintah,
Universality. Asas ini selayaknya memperoleh perhatian khusus terkait
dengan penanganan hukum kasus-kasus cyber. Asas ini disebut juga sebagai
universal interest jurisdiction. Pada mulanya asas ini menentukan bahwa setiap
negara berhak untuk menangkap dan menghukum para pelaku pembajakan. Asas
ini kemudian diperluas sehingga mencakup pula kejahatan terhadap kemanusiaan
(crimes against humanity), misalnya penyiksaan, genosida, pembajakan udara
dan lain-lain. Meskipun di masa mendatang asas jurisdiksi universal ini mungkin
dikembangkan untuk internet piracy, seperti computer, cracking, carding,
hacking and viruses, namun perlu dipertimbangkan bahwa penggunaan asas ini
hanya diberlakukan untuk kejahatan sangat serius berdasarkan perkembangan
dalam hukum internasional. Oleh karena itu, untuk ruang cyber dibutuhkan suatu
hukum baru yang menggunakan pendekatan yang berbeda dengan hukum yang
dibuat berdasarkan batas-batas wilayah. Ruang cyber dapat diibaratkan sebagai
suatu tempat yang hanya dibatasi oleh screens and passwords. Secara radikal,
ruang cyber telah mengubah hubungan antara legally significant (online)
phenomena and physical location.
2. 13. Contoh Kasus Cyber Law
Beberapa Contoh Kasus CYBER LAW dan Hukumnya .
1. Penyebaran Virus
Virus dan Worm mulai menyebar dengan cepat membuat komputer cacat,
dan membuat internet berhenti. Kejahatan dunia maya, kata Markus, saat ini
jauh lebih canggih. Modus : supaya tidak terdeteksi, berkompromi dengan
banyak PC, mencuri banyak identitas dan uang sebanyak mungkin sebelum
tertangkap. Penanggulangan : kita dapat menggunakan anti virus untuk mencegah
virus masuk ke PC. Penyebaran virus dengan sengaja, ini adalah salah satu jenis
cyber crime yang terjadi pada bulan Juli 2009.
Twitter (salah satu jejaring sosial) kembali menjadi media infeksi
modifikasi New Koobface, worm yang mampu membajak akun Twitter dan
menular melalui postingannya, dan mengjangkit semua followers. Semua kasus
ini hanya sebagian dari sekian banyak kasus penyebaran Malware di seantero

jejaring sosial. Twitter ta kalah jadi target, pada Agustus 2009 di serang oleh
penjahat cyber yang mengiklankan video erotis. Ketika pengguna mengkliknya,
maka otomatis mendownload Trojan-Downloader. Win32. Banload. sco.
Analisa Kasus : menurut kami seharusnya para pengguna jejaring sosial
harus berhati-hati dengan adanya penyebaran virus yg disengaja karena akan
merusak sistem jaringan komputer kita. Modus serangannya adalah selain
menginfeksi virus akun yang bersangkutan bahkan si pemiliknya terkena imbas.
Karena si pelaku mampu mencuri nama dan password pengguna,
lalu
menyebarkan pesan palsu yang mampu merugikan orang lain, seperti permintaan
transfer uang .
Untuk penyelesaian kasus ini,
Tim keamanan dari Twitter sudah
membuang infeksi tersebut.
Tapi perihal hukuman yang diberikan kepada
penyebar virusnya belum ada kepastian hukum. Adapun Hukum yang dapat
menjerat Para Penyebar Virus tersebut tercantum dalam UU ITE pasal 33 yaitu
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan
tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau
mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Pelanggaran UU ITE ini akan dikenakan denda 1 ( Satu ) Milliar rupiah.
2. Spyware
Sesuai dengan namanya, spy yang berarti mata-mata dan ware yang
berarti program, maka spyware yang masuk dalam katagori malicious software
ini, memang dibuat agar bisa memata-matai komputer yang kita gunakan. Tentu
saja, sesuai dengan karakter dan sifat mata-mata, semua itu dilakukan tanpa
sepengetahuan si empunya.
Setelah memperoleh data dari hasil monitoring,
nantinya spyware akan melaporkan aktivitas yang terjadi pada PC tersebut kepada
pihak ketiga atau si pembuat spyware. Spyware awalnya tidak berbahaya karena
tidak merusak data seperti halnya yang dilakukan virus.
Berbeda dengan virus atau worm, spyware tidak berkembang biak dan
tidak menyebarkan diri ke PC lainnya dalam jaringan yang sama . Modus :
perkembangan teknologi dan kecanggihan akal manusia, spyware yang semula
hanya berwujud iklan atau banner dengan maksud untuk mendapatkan profit
semata, sekarang berubah menjadi salah satu media yang merusak, bahkan
cenderung merugikan. Penanggulangan: Jangan sembarang menginstall sebuah
software karena bisa jadi software tersebut terdapar spyware.
Pelakunya dapat dijerat UU ITE Pasal 27 (1) yaitu setiap orang dilarang
menggunakan dan atau mengakses komputer dan atau sistem elektronik dengan
cara apapun tanpa hak, untuk memperoleh, mengubah, merusak, atau
menghilangkan informasi dalam komputer dan atau sistem elektronik.
Dengan hukuman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp1. 000. 000. 000, 00 (satu miliar rupiah).
3. Thiefware
Difungsikan untuk mengarahkan pengunjung situs ke situs lain yang
mereka kehendaki. Oleh karena itu, adanya kecerobohan yang kita lakukan akan
menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Apalagi jika menyangkut materi
seperti melakukan sembarangan transaksi via internet dengan menggunakan kartu

kredit atau sejenisnya. Modus : Nomor rekening atau kartu kredit kita akan
tercatat oleh mereka dan kembali dipergunakan untuk sebuah transaksi yang
ilegal. (Dari berbagai sumber) penanggulangan : jangan sembarang menggunakan
kartu kredit dalam transaksi internet, karena bisa jd no rekening kita disadap oleh
orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Pelakunya dapat dijerat UU ITE Pasal 31 (1) yaitu setiap orang dilarang
menggunakan dan atau mengaskses komputer dan atau sistem elektronik secara
tanpa hak atau melampaui wewenangnya untuk memperoleh keuntungan atau
memperoleh informasi keuangan dari bank sentral, lembaga perbankan atau
lembaga keuangan, penerbit kartu kredit, atau kartu pembayaran atau yang
mengandung data laporan nasabahnya.
Atau Pasal 31 (2) yaitu setiap orang dilarang menggunakan dan atau mengakses
dengan cara apapun kartu kredit atau kartu pembayaran milik orang lain secara
tanpa hak dalam transaksi elektronik untuk memperoleh keuntunga.
Dengan hukuman pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp800. 000. 000, 00 (delapan ratus juta rupiah).
4. Cyber Sabotage and Exortion
Kejahatan ini dilakukan dengan membuat gangguan, perusakan atau
penghancuran terhadap suatu data,
program komputer atau sistem jaringan
komputer yang terhubung dengan Internet. Modus : kejahatan ini dilakukan
dengan menyusupkan suatu logic bomb, virus komputer ataupun suatu program
tertentu, sehingga data, program komputer atau sistem jaringan komputer tidak
dapat digunakan,
tidak berjalan sebagaimana mestinya,
atau berjalan
sebagaimana yang dikehendaki oleh pelaku.
Penanggulangan : Harus lebih
ditingkatkan untuk security pada jaringan.
Pelakunya dapat dijerat UU ITE Pasal 27 (1) yaitu setiap orang dilarang
menggunakan dan atau mengakses komputer dan atau sistem elektronik dengan
cara apapun tanpa hak, untuk memperoleh, mengubah, merusak, atau
menghilangkan informasi dalam komputer dan atau sistem elektronik.
Dengan hukuman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp1. 000. 000. 000, 00 (satu miliar rupiah).
5. Browser Hijackers
Browser kita dimasukkan secara paksa ke link tertentu dan memaksa kita
masuk pada sebuah situs tertentu walaupun sebenarnya kita sudah benar mengetik
alamat domain situs yang kita tuju. Modus : program browser yang kita pakai
secara tidak langsung sudah dibajak dan diarahkan ke situs tertentu.
Penanggulangan : lebih waspada membuka link yang tidak dikenal pada browser.
Pelakunya dapat dijerat Pasal 23 (2) yaitu pemilikan dan penggunaan nama
domain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib didasarkan pada etikad baik,
tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat, dan tidak melanggar hak
orang lain. (tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat
dituntut atas pengaduan dari orang yang terkena tindak pidana.

Dengan hukuman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp100. 000. 000, 00 (seratus juta rupiah).
6. Search hijackers
Adalah kontrol yang dilakukan sebuah search engine pada browser.
Modus : Bila salah menulis alamat, program biasanya menampilkan begitu
banyak pop up iklan yang tidak karuan. Penanggulangan : jangan sembarang
membuka pop up iklan yang tidak dikenal.
Pelakunya dapat dijerat Pasal 23 (2) yaitu pemilikan dan penggunaan nama
domain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib didasarkan pada etikad baik,
tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat, dan tidak melanggar hak
orang lain. (tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat
dituntut atas pengaduan dari orang yang terkena tindak pidana. Dengan hukuman
pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.
000. 000, 00 (seratus juta rupiah).
7. Surveillance software
Salah satu program yang berbahaya dengan cara mencatat kegiatan pada
sebuah komputer, termasuk data penting, password, dan lainnya. Modus :
mengirim data setelah seseorang selesai melakukan aktivitas. Penanggulangan :
Selalu hati-hati ketika ingin menginstal software. Jangan sekali-kali menginstal
software yang tidak dikenal. Pelakunya dapat dijerat Pasal 22 (1) yaitu
penyelenggara agen elektronik tertentu wajib menyediakan fitur pada agen
elektronik yang dioperasikannya yang memungkinkan penggunanya melakukan
yang melakukan perubahan informasi yang masih dalam proses transaksi.
Atau Pasal 25 yaitu penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang
menyangkut data tentang hak pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan
dari orang yang bersangkutan, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang
undangan. Dengan hukuman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp100. 000. 000, 00 (seratus juta rupiah).

BAB III
PENUTUP

3. 1. Kesimpulan
Di dunia ini banyak hal yang memiliki dualisme yang kedua sisinya saling
berlawanan. Seperti teknologi informasi dan komunikasi, hal ini diyakini sebagai
hasil karya cipta peradaban manusia tertinggi pada zaman ini. Namun karena
keberadaannya
yang bagai memiliki dua mata pisau yang saling berlawanan, satu mata
pisau dapat menjadi manfaat bagi banyak orang, sedangkan mata pisau lainnya
dapat menjadi sumber kerugian bagi yang lain, banyak pihak yang memilih untuk
tidak berinteraksi dengan teknologi informasi dan komunikasi. Sebagai manusia
yang beradab, dalam menyikapi dan menggunakan teknologi ini, mestinya kita
dapat memilah mana yang baik, benar dan bermanfaat bagi sesama, kemudian
mengambilnya sebagai penyambung mata rantai kebaikan terhadap sesama, kita
juga mesti pandai melihat mana yang buruk dan merugikan bagi orang lain untuk
selanjutnya kita menghindari atau memberantasnya jika hal itu ada di hadapan
kita.
3. 2. Saran
Cybercrime adalah bentuk kejahatan yang mestinya kita hindari atau kita
berantas keberadaannya. Cyberlaw adalah salah satu perangkat yang dipakai oleh
suatu negara untuk melawan dan mengendalikan kejahatan dunia maya
(cybercrime) khususnya dalam hal kasus cybercrime yang sedang tumbuh di
wilayah negara tersebut. Seperti layaknya pelanggar hukum dan penegak hukum.
Demikian makalah ini kami susun dengan usaha yang maksimal dari tim
kami, kami mengharapkan yang terbaik bagi kami dalam penyusunan makalah ini
maupun bagi para pembaca semoga dapat mengambil manfaat dengan
bertambahnya wawasan dan pengetahuan baru setelah membaca tulisan yang ada
pada makalah ini. Namun demikian, sebagai manusia biasa kami menyadari
keterbatasan kami dalam segala hal termasuk dalam penyusunan makalah ini,
maka dari itu kami mengharapkan kritik atau saran yang membangun demi
terciptanya penyusunan makalah yang lebih sempurna di masa yang akan datang.
Atas segala perhatiannya kami haturkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

http://teknoinfo.web.id/undang-undang-baru-di-indonesia /
http://id.wikipedia.org/wiki/Kejahatan_dunia_may a/
http://en.wikipedia.org/wiki/Cyber_crim e/
http://id.wikipedia.org/wiki/Perangkat_perusak /
http://abangs03.wordpress.com/2011/10/22/hello-worl d/
http://ihsanirawan001.blogspot.com/2013/10/contoh-study-kasus-cyber-crime-dan.html
http://komputerteknik07.blogspot.com/2013/10/makalah-pembahasan-cyber-crime dan2655. html

http://komputerteknik07. blogspot. com/2013/10/contoh-kasus-cyber-law. html


http://timcyber. blogspot. com/2012/11/8-contoh-kasus-cyber-crime-dan. html
http://etikabsi124j11.blogspot.com/p/blog-page_1.html
http://tekno.kompas.com/read/2014/03/14/0915456/kesal.pendiri.facebook.telepon.presid
en.obama
http://tekno.kompas.com/read/2013/11/18/1640492/5.model.ponsel.pejabat.indonesia.yan
g.disadap.australia
http://tekno.kompas.com/read/2012/05/06/16372714/fbi.ingin.sadap.facebook.gmail.ym.d
an.skype