Anda di halaman 1dari 31

KONSEP ADVOKASI DALAM PROMOSI KESEHATAN

A. PENGERTIAN
Kurang berhasil atau kegagalan suatu program kesehatan, sering di sebabkan oleh karena
kurang atau tidak adanya dukungan dari para pembuat keputusan, baik di tingktak nasional
maupun lokal (provinsi, kabupaten, atau kecamatan). Akibat kurangnya dukungan itu, antara lain
rendahnya alokasi anggaran untuk program kesehatan, kurangnya sarana dan prasarana, tidak
adanya kebijakan yang menguntungkan bagi kesehatan dan sebagainya. Untuk memperoleh atau
meningkatkan dukungan atau komitmen dari para pembuat kebijakan, termasuk para pejabat
lintas sektoral diperlukan upaya disebut advokasi.
Advokasi secara harfiah berarti pembelaan, sokongan atau bantuan terhadap seseorang
yang mempunyai permasalahan. Istilah advokasi mula-mula digunakan dibidang hukum atau
pengadilan. Sesorang yang sedang tersangkut perkara atau pelanggaran hukum, agar memperoleh
keadilan yang sesungguh-sungguhnya. Mengacu kepada istilah advokasi dibidang hukum
tersebut, maka advokasi dalam kesehatan diartikan upaya untuk memperoleh pembelaan,
bantuan,
atau
dukungan
terhadap
program
kesehatan.
Menurut Wesbter Encyclopedia advokasi adalah "act of pleading for supporting or
recommending active espousal" atau tindakan pembelaan, dukungan, atau rekomendasi :
dukungan aktif.
Menurut ahli retorika ( Foss and Foss, et al : 1980) advokasi diartikan sebagai upaya
persuasi yang mencakup kegiatan : penyadaran, rasionalisasi, argumentasi dan rekomendasi
tindak lanjut mengenai sesuatu hal.
Menurut Hopkins (1990) advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik
melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif. Dari beberapa catatan tersebut dapat
disimpulkan secara ringkas, bahwa advokasi adalah upaya atau proses untuk memperoleh
komitmen yang dilakukan secara persuasif dengan menggunakan informasi yang akurat dan
tepat.

B. PROSES DAN ARAH ADVOKASI

Proses advocacy(advokasi) di bidang kesehatan mulai digunakan dalam program


kesehatan masyarakat pertama kali oleh WHO pada tahun 1984, sebagai salah satu strategi
global Pendidikan atau promosi kesehatan.
WHO merumuskan, bahwa dalam mewujudkan visi dan misi Promosi Kesehatan secara
efektif menggunakan 3 strategi pokok, yakni: 1. advocacy(advokasi), 2. Social
Support ( dukungan sosial) dan 3. Empowerment(pemberdayaan masyarakat).
Strategi global ini dimaksudkan bahwa, dalam pelaksanaan suatu program kesehatan
didalam masyarakat, maka langkah yang di ambil adalah:
1. Melakukan pendekatan / lobi dengan para pembuat keputusan setempat, agar mereka ini
menerima dan "commited". Dan akhirnya mereka bersedia mengeluarkan kebijakan, atau
keputusan-keputusan untuk membantu atau mendukung program tersebut. Kegiatan inilah yang
disebut advokasi. Dalam kesehatan para pembuat keputusan baik di tingkat pusat maupun daerah
ini disebut sasaran tersier.
2. Langkah selanjutnya adalah mekakukan pendekatan dan pelatihan kepada tokoh masyarakat
formal maupun informal.
3. Selanjutnya petugas kesehatan bersama-sama tokoh masyarakat tersebut melakukan kegiatan
penyuluhan kesehatan, konseling, dan sebagainya, melalui berbagai kesempatan dan media.
Advokasi di artikan sebagai upaya pendekatan terhadap orang lain yang dianggap
mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan.
Oleh karena itu, orang yang menjadi sasaran atau target advokasi ini para pimpinan suatu
organisasi atau institusi kerja baik di lingkungan pemerintah maupun swasta dan organisasi
kemasyarakatan di berbagai jenjang administrasi pemerintahan ( tingkat pusat, provinsi,
kabupaten, kecamatan dan kelurahan)
Dalam advokasi peran komunikasi sangat penting sebab dalam advokasi merupakan
aplikasi dari komunikasi interpersonal, maupun massa yang di tujukan kepada para penentu
kebijakan (policy makers) atau para pembuat keputusan ( decission makers)pada semua tingkat
dan tatanan sosial.

ARUS KOMUNIKASI ADVOKASI KESEHATAN

Arus komunikasi advokasi Kesehatan. Komunikasi dalam rangka advokasi kesehatan


memerlukan kiat khusus agar komunikasi tersebut efektif antara lain sebagai berikut:
1. Jelas (clear): pesan yang disampaikan kepada sasaran harus disusun sedemikian rupa sehingga
jelas, baik isinya maupun bahasa yang digunakan.

2. Benar (correct): apa yg disampaikan (pesan) harus didasarkan kepada kebenaran. Pesan yang
benar adalah pesan yang disertai fakta atau data empiris.
3. Kongkret (concrete): apabila petugas kesehatan dalam advokasi mengajukan usulan program
yang dimintakan dukungan dari para pejabat terkait, maka harus dirumuskan dalam bentuk yang
kongkrit (bukan kira-kira) atau dalam bentuk operasional.
4. Lengkap (complete): timbulnya kesalahpahaman atau mis komunikasi adalah karena belum
lengkapnya pesan yang disampaikan kepada orang lain.
5. Ringkas (concise) : pesan komunikasi harus lengkap, tetapi padat, tidak bertele-tele.
6. Meyakinkan ( convince) : agar komunikasi advokasi kita di terima oleh para pejabat, maka harus
meyakinkan, agar komunikasi advokasi kita diterima
7. Kontekstual ( contextual): advokasi kesehatan hendaknya bersifat kontekstual. Artinya pesan
atau program yang akan diadvokasi harus diletakkan atau di kaitkan dengan masalah
pembangunan daerah bersangkutan. Pesan-pesan atau program-program kesehatan apapun harus
dikaitkan dengan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pemerintah setempat.
8. Berani (courage): seorang petugas kesehatan yang akan melakukan advokasi kepada para
pejabat, harus mempunyai keberanian berargumentasi dan berdiskusi dengan para pejabat yang
bersangkutan.
9. Hati-hati ( contious): meskipun berani, tetapi harus hati-hati dan tidak boleh keluar dari etika
berkomunikasi dengan para pejabat, hindari sikap "menggurui" para pejabat yang bersangkutan.
10. Sopan (courteous): disamping hati-hati, advokator harus bersikap sopan, baik sopan dalam tutur
kata maupun penampilan fisik, termasuk cara berpakaian.
Advokasi adalah suatu kegiatan untuk memperoleh komitmen politik, dukungan
kebijakan, penerimaan sosial, dan dukungan sistem dari para pembuat keputusan atau pejabat
pembuat kebijakan (WHO, 1989). Oleh karena itu, tujuan utama advokasi adalah memberikan
dorongan dan dukungan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan publik yang berkaitan dengan
program-program kesehatan.
C. PRINSIP DASAR ADVOKASI
Advokasi adalah kombinasi antara pendekatan atau kegiatan individu dan sosial, untuk
memperoleh komitmen politik, dukungan kebijakan, penerimaan sosial, dan adanya sistem yang
mendukung terhadap suatu program kesehatan. Untuk mencapai tujuan advokasi ini, dapat
diwujudkan dengan berbagai kegiatan atau pendekatan. Untuk melakukan kegiatan advokasi
yang efektif memerlukan argumen yang kuat. Oleh sebab itu, prinsip-prinsip advokasi ini akan
membahas tentang tujuan, kegiatan, dan argumentasi-argumentasi advokasi.
Dari batasan advokasi tersebut, secara inklusif terkandung tujuan-tujuan advokasi,
yakni: political commitment, policy support, social aceptance dansistem support.
a. Komitmen politik (political comitment)

Komitmen para pembuat keputusan atau alat penentu kebijakan di tingkat dan disektor manapun
terhadap permasalahan kesehatan tersebut. Pembangunan nasional tidak terlepas dari pengaruh
kekuasaaan politik yang sedang berjal.
b. Dukungan kebijakan (policy support)
Dukungan kongkrit yang diberikan oleh para pemimpin institusi disemua tingkat dan disemua
sektor yang terkait dalam rangka mewujudkan pembangunan di sektor kesehatan. Dukungan
politik tidak akan berarti tanpa dilanjutkan dengan dikeluarkannya kebijakan kongkret dari para
pembuat keputusan tersebut.
c. Penerimaan Sosial ( social acceptance)
Penerimaan sosial, artinya diterimanya suatu program oleh masyarakat. Suatu program kesehatan
apapun hendaknya memperoleh dukungan dari sasaran utama program tersebut, yakni
masyarakat, terutama tokoh masyarakat.
d. Dukungan Sistem (System Support)
Adanya sistem atau organisasi kerja yang memasukkan uinit pelayanan atau program kesehatan
dalam suatu institusi atau sektor pembangunan adalah mengindikasikan adanya dukungan sistem

D. METODE DAN TEHNIK ADVOKASI


Seperti yang diuraikan di atas, bahwa tujuan utama advokasi di sektor kesehatan adalah
memperoleh komitmen dan dukungan kebijakan para penentu kebijakan atau pembuat keputusan
di segala tingkat.
Metode atau cara dan tehnik advokasi untuk mencapai tujuan itu semua ada bermacammacam, antara lain:
1. Lobi Politik (political lobying)
Lobi adalah bincang-bincangsecara informal dengan para pejabat untuk menginformasikan dan
membahas masalah dan program kesehatan yang dilaksanakan
2. Serminar / Presentasi
Seminar / presentasi yang di hadiri oleh para pejabat lintas program dan sektoral. Petugas
kesehatan menyajikan maslah kesehatan diwilayah kerjanya, lengkap dengan data dan ilustrasi
yang menarik, serta rencana program pemecahannya. Kemudian dibahas bersama-sama, yang
akhirnya dharafkan memproleh komitmen dan dukungan terhadap program yang akan
dilaksanakan tersebut.
3. Media
Advokasi media (media advocacy)adalah melakukan kegiatan advokasi dengan mengumpulkan
media, khususnya media massa.
4. Perkumpulan (asosiasi) Peminat
Asosiasi atau perkumpulan orang-orang yang mempunyai minat atau interes terhadap
permaslahan tertentu atau perkumpulan profesi, juga merupakan bentuk advokasi.
E. ARGUMENTASI UNTUK ADVOKASI

a.

1)
2)
3)

Secara sederhana, advokasi adlah kegiatan untuk meyakinkan para penentu kebijakan atau
para pembuat keputusan sedemikian rupa sehingga mereka memberikan dukungan baik
kebijakan, fasilitas dan dana terhadap program yang ditawakan.
Meyakinkan para pejabat terhadap pentingnya program kesehatan tidaklah mudah,
memerlukan argumentasi argumentasi yang kuat. Dengan kata lain, berhasil tidaknya advokasi
bergantung pada kuat atau tidaknya kita menyiapkan argumentasi. Dibawah ini ada beberapa hal
yang dapat memperkuat argumen dalam melakukan kegiatan advokasi, antara lain:
Kredibilitas (Creadible)
Kredibilitas (Creadible) adalah suatu sifat pada seseorang atau institusi yang menyebabkan orang
atau pihak lain mempercayainya atau meyakininya.
Orang yang akan melalukan advokasi (petugas kesehatan) harus Creadible. Seseorang
itu Creadible apabila mempunyai 3 sifat, yakni:
Capability (kapabilitas), yakni mempunyai kemampuan tentang bidangnya.
Autority ( otoritas), yakni adanya otoritas atau wewenang yang dimiliki seseorang berdasarkan
aturan organisasi yang bersangutan.
Integrity (integritas), adalah komitmen seseorang tehadap jabatan atau tanggung jawab yang
diberikan kepadanya.

b. Layak (Feasible)
Artinya program yang diajukan tersebut baik secara tehnik, politik, maupun ekonomi
dimungkinkan atau layak. Secara tehnik layak (feasible) artinya program tersebut dapat
dilaksanakan. Artinya dari segi petugas yang akan melaksanakan program tersebut, mempunyai
kemampuan yang baik atau cukup.

c.

Relevan (Relevant)
Artinya program yang yang diajukan tersebut tidak mencakup 2 kriteria, yakni : memenuhi
kebutuhan masyarakat dan benar-benar memecahkan masalah yang dirasakan masyarakat.
d. Penting dan Mendesak (Urgent)
Artinya program yang diajukan harus mempunyai urgensi yang tinggi: harus segera dilaksanakan
dan kalau tidak segera dilaksanakan akan menimbulkan masalah
F. UNSUR DASAR ADVOKASI
Ada 8 unsur dasar advokasi yaitu:
1. Penetapan tujuan advokasi
2. Pemanfaatan data riset untuk advokasi
3. Identifikasi khalayak sasaran advokasi
4. Pengembangan dan penyampaian pesan advokasi
5. Membangun koalisi
6. Membuat presentasi yang persuasif
7. Penggalangan dana untuk advokasi
8. Evaluasi upayaadvokasi
G. PENDEKATAN UTAMA ADVOKASI
Ada 5 pendekatan utama dalam advokasi (UNFPA dan BKKBN 2002) yaitu:
1. Melibatkan para pemimpin
Para pembuat undang-undang, mereka yang terlibat dalam penyusunan hukum, peraturan
maupun pemimpin politik, yaitu mereka yang menetapkan kebijakan publik sangat berpengaruh
dalam menciptakan perubahan yang terkait dengan masalah sosial termasuk kesehatan dan
kependudukan. Oleh karena itu sangat penting melibatkan meraka semaksimum mungkin dalam
isu yang akan diadvokasikan.
2. Bekerja dengan media massa
Media massa sangat penting berperan dalam membentuk opini publik. Media juga sangat kuat
dalam mempengaruhi persepsi publik atas isu atau masalah tertentu. Mengenal, membangun dan
menjaga kemitraan dengan media massa sangat penting dalam proses advokasi.
3. Membangun kemitraan
Dalam upaya advokasi sangat penting dilakukan upaya jaringan, kemitraan yang berkelanjutan
dengan individu, organisasi-organisasi dan sektor lain yang bergerak dalam isu yang sama.

Kemitraan ini dibentuk oleh individu, kelompok yang bekerja sama yang bertujuan untuk
mencapai tujuan umum yang sama/hampir sama.
4. Memobilisasi massa
Memobilisasi massa merupakam suatu proses mengorganisasikan individu yang telah termotivasi
ke dalam kelompok-kelompok atau mengorganisasikan kelompok yang sudah ada. Dengan
mobilisasi dimaksudkan agar termotivasi individu dapat diubah menjadi tindakan kolektif
5. Membangun kapasitas
Membangu kapasitas disini di maksudkan melembagakan kemampuan untuk mengembangakan
dan mengelola program yang komprehensif dan membangun critical mass pendukung yang
memiliki keterampilan advokasi. Kelompok ini dapat diidentifikasi dari LSM tertentu, kelompok
profesi serta kelompok lain.
H. LANGKAH-LANGKAH ADVOKASI
Advokasi adalah proses atau kegiatan yang hasil akhirnya adalah diperolehnya dukungan
dari para pembuat keputusan terhadap program kesehatan yang ditawarkan atau diusulkan. Oleh
sebab itu, proses ini antara lain melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
Persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan (materi) atau instrumen
advokasi.
2. Tahap pelaksanaan
Pelaksanaan advokasi sangat tergantung dari metode atau cara advokasi. Cara advokasi yang
sering digunakan adalah lobbi dan seminar atau presentasi.
3. Tahap penilaian
Seperti yang disebutkan diatas bahwa hasil advokasi yang diharafkan adalah adanya dukungan
dari pembuat keputusan, baik dalam bentuk perangkat lunak (software)maupun perangkat
keras (hardware). Oleh sebab itu, untuk menilai atau mengevaluasi keberhasilan advokasi dapat
menggunakan indikator-indikator seperti dibawah ini:
a. Software (piranti lunak): misalnya dikeluarkannya:
- Undang-undang
- Peraturan pemerintah
- Peraturan pemerintah daerah (perda)
- Keputusan menteri
- Surat keputusan gubernur/ bupati
- Nota kesepahaman(MOU), dan sebagainya
b. Hardware (piranti keras): misalnya:
- Meningkatnya anggaran kesehatan dalam APBN atau APBD
- Meningkatnya anggaran untuk satu program yang di prioritaskan
- Adanya bantuan peralatan, sarana atau prasarana program dan sebagainya.

ADVOKASI DALAM PROMOSI KESEHATAN


Advokasi secara harfiah berarti pembelaan , sokongan atau bantuan terhadap seseorang yang
mempunyai permasalahan . Istilah advokasi mula mula digunakan dibidang hokum atau
pengadilan . Advokasi dalam kesehatan diartikan upaya untuk memperoleh pembelaan ,
bantuan , atau dukungan terhadap program kesehatan .
Menurut Wobster Encyclopedia advokasi adalah act of pleading for supporting or
recommending active espousal atau tindakan pembelaan , dukungan , atau rekomendasi :
dukungan aktif menurut ahli retorika ( foss and foss , et al : 1980 ) Advokasi diartikan sebagai
upaya persuasi yang mencakup kegiatan : penyadaran , rasionalisasi , argumentasi dan
rekomendasi tindak lanjut mengenai sesuatu hal .
Menurut Johns Hopkins ( 1990 ) Advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kabijakan publik
melalui bermacam macam bentuk komunikasi persuasip . Dari beberapa catatan tersebut ,
dapat disimpulkan secara ringkas , bahwa advokasi adalah upaya atau proses untuk memperoleh
komitmen , yang dilakukan secara persuasip dengan menggunakan informasi yang akurat dan
tepat sehingga advokasi dapat diilustrasikan sebagai berikut
PROSES DAN ARAH ADVOKASI
Istilah Advocacy / Advokasi dibidang kesehaan mulai digunakan dalam program kesehatan
masyarakat pertama kali oleh WHO pada tahun 1984 sebagai salah satu strategi global
pendidikan atau promosi kesehatan . WHO merumuskan bahwa dalam mewujudkan visi dan misi
promosi kesehatan secara efektif menggunakan strategi pokok , yaitu :
1. Advocacy ( advokasi ) ,
2. Sosial support ( dukungan social ) ,
3. Empowermen ( pemberdayaan masyarakat ) .
Advokasi diartikan sebagai upaya pendekatan terhadap orang lain yang dianggap mempunyai
pengaruh terhadap keberhasilan suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan . Oleh karena itu
yang menjadi sasaran advokasi adalah para pemimpin atau pengambil kebijakan ( policy
makers ) atau pembuat keputusan (decision makers ) baik di institusi pemerintah maupun
swasta .
ARUS KOMUNIKASI ADVOKASI KESEHATAN
Komunikasi dalam rangka advokasi kesehatan memerlukan kiat khusus agar komunikasi tersebut
efektif . Kiat kiat agar komunikasi advokasi efektif antara lain sebagai berikut :
1. Jelas ( clear ) : pesan yang akan disampaikan kepada sasaran harus disusun sedemikian
rupa sehingga jelas , baik isinya maupun bahasa yang digunakan .
2. Benar ( correct ) : apa yang disampaikan ( pesan ) harus didasarkan kepada kebenaran .

3. Konkret ( concrete ) : apabila petugas kesehatan dalam advokasinya mengajukan usulan


program yang dimintakan dukungan dari pejabat terkait , maka harus dirumuskan dalam
bentuk yang kongkrit ( bukan kira kira ) atau dalam bentuk oprasional .
4. Lengkap ( complete ) : timbulnya kesalah pahaman atau mis komunikasi adalah karena
belum atau tidak lengkapnya pesan yang disampaikan kepada orang lain .
5. Ringkas ( concise ) : pesan komunikasi harus lengkap , tetapi padat , tidak bertele tele.
6. Meyakinkan ( convince ) : Agar komunikasi advokasi kita diterima oleh para pejabat ,
maka harus meyakinkan .
7. Kontekstual ( contextual ) : advokasi kesehatan hendaknya bersipat kontekstual , artinya
pesan atau program yang akan di apokasikan harus diletakkan atau dikaitkan dengan
masalah pembangunan daerah yang bersangkutan .
8. Berani ( courage ) : seorang petugas kesehatan yang akan melakukan advokasi kepada
para pejabat , harus mempunyai keberanian berargumentasi dan berdiskusi dengan para
pejabat yang bersangkutan .
9. Hati hati ( coutious ) : meskipun berani , tetapi harus berhati hati dan tidak boleh
keluar dari etika berkomunikasi dengan para pejabat , hindari sikap menggurui para
pejabat yang bersangkutan .
10. Sopan ( courtous ) : disamping hati hati , advokator harus bersikap sopan , baik sopan
dalam tutur kata maupyn penampilan pisik , termasuk cara berpakaian .
PRINSIP DASAR ADVOKASI
Advokasi tidak hanya sekedar melakukan lobby politik , tetapi mencakup kegiatan persuasip ,
memberikan semangat dan bahkan sampai memberikan pressure atau tekanan kepada para
pemimpin institusi .
Tujuan advokasi yaitu :
1. Komitmen politik ( political commicment ) Komitmen para pembuat keputusan atau
penentu kebijakan sangat penting untuk mendukung atau mengeluarkan peraturan
peraturan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat , misalnya untuk pembahasan
kenaikan anggaran kesehatan , contoh : konkrit pencanangan indonesia sehat 2010 oleh
presiden . Untuk meningkatkan komitmen ini sangat dibutuhkan advokasi yang baik .
2. Adanya komitmen politik dari para eksekutif , maka perlu ditindak lanjuti dengan
advokasi lagi agar dikeluarkan kebijakan untuk mendukung program yang telah
memperoleh komitmen politik tersebut . dukungan kebijakan ini dapat berupa undang
undang , peraturan pemerintah atau peraturan daerah , surat keputusan pimpinan institusi
baik pemerintah maupun suasta .

3. Penerimaan sosial ( socil acceptance ) : penerimaan sosial artinya diterimanya suatu


program oleh masyarakat . Suatu program kesehatan yang telah memperoleh komitmen
dan dukungan kebijakan , maka langkah selanjutnya adalah mensosialisasikan program
tersebut untuk memperoleh dukungan .
4. Dukungan sistem ( sistem suport ) Agar suatu program kesehatan berjalan baik maka
perlunya sistem atau prosedur kerja yang jelas mendukung .
METODE DAN TEKHNIK ADVOKASI
Metode atau cara dan tehknik advokasi untuk mencapai tujuan ada bermacam macam :
1. Lobi politik ( political lobiying ) Lobi adalah berbincang bincang secara informal
dengan para pejabat untuk mengimpormasikan dan membahas masalah dan program
kesehatan yang akan dilaksanakan .
2. Seminar / presentasi : Seminar atau presentasi yang dihadiri oleh para pejabat lintas
program dan lintas sektoral .
3. Media Advokasi media ( media adpocasy ) adalah melakukan kegiatan advokasi dengan
menggunakan media , khususnya media masa .
4. Perkumpulan ( asosiasi ) peminat Asosiasi atau perkumpulan orang orang yang
mempunyai minat atau interes terhadap permasalahan tertentu atau perkumpulan propesi ,
juga merupakan bentuk advokasi .
ARGUMENTASI UNTUK ADVOKASI
Meyakinkan para pejabat terhadap pentingnya program kesehatan tidaklah mudah , memerlukan
argumentasi yang kuat . Dibawah ini ada beberapa hal yang dapat memperkuat argumen dalam
melakukan kegiatan aplikasi antara lain :
1. Creadible : Credibilatas ( creadible ) adalah suatu sipat pada seseorang atau institusi yang
menyebabkan orang atau pihak lain mempercayainya .
2. Layak ( feasibel ) Artinya program yang diajukan tersebut baik secara tekhnik , politik ,
maupun ekonomi dimungkinkan atau layak .
3. Relevan ( relevant ) Program yang diajukan tersebut paling tidak harus mencakup 2
kriteria , yakni : memenuhi kebutuhan masyarakat , dan benar benar memecahkan
masalah yang dirasakan masyarakat .
4. Penting dan mendesak ( urgent ) Artinya program yang diajukan harus mempunyai
urgensi yang tinggi : harus segera dilaksanakan dan kalau tidak segera dilaksanakan akan
menimbulkan masalah yang lebih besar lagi .

5. Prioritas tinggi ( haigh priority ) Artinya program yang diajukan tersebut harus
mempunyai prioritas yang tinggi
LANGKAH LANGKAH ADVOKASI
1. Tahap persiapan adalah Persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan /
materi atau bukti informasi instrumen advokasi . Bahan advokasi adalah : data yang
dikemas dalam bentuk tabel , grapik atau diagram yang menjelaskan besarnya masalah
kesehatan , akibat atau dampak masalah ,dampak ekonomi , program yang diusulkan
/proposal program.
2. Tahap pelaksanaan adalah Pelaksanaan advokasi tergantung dari metode atau cara
advokasi.
3. Tahap penilaian Untuk menilai keberhasilan advokasi dapat menggunakan indikaror
sebagai berikut :

a. Softwer,misalnya : dikeluarkannya UU,PP,Perda,KepMen,SK Bupati,MOU,dsb

b. Hardwer,misalnya : meningkatkannya anggaran kesehatan,adanya

UNSUR DASAR ADVOKASI


1. Penetapan tujuan advokasi, Sering sekali masalah kesehatan masyarakat sangat
kompleks,banyak faktor dan saling berpengaruh. Agar upaya advokasi dapat berhasil
tujuan,advokasi perlu dibuat lebih spesifik.
2. Pemanfaatan data dan riset untuk advokasi, Adanya data dan riset untuk pendukung
sangaat penting agar keputusan dibuat berdasarkan informasi yang tepat dan benar.
3. Identifikasi khalayak sasaran advokasi, Bila isu dan tujuan telah disusun,upaya advokasi
telah disususn,upaya advokasi harus ditunjukan bagi kelompok yang dapat membuat
keputusan dan idealnya ditujukan bagi orang yang berpengaruh dalam pembuatan
keputusan,misalnya staf,penasihat,orang tua yang berpengaruh,media masa dan
masyarakat.
4. Pengembangan dan penyampaian pesan advokasi, Khalayak sasaran berbeda bereaksi
tidak sama atas pesan yang berbeda. Seorang tokoh politik mungkin termotivasi kalau dia
mengetahui bahwa banyak dari konstituen yang diwakilinya peduli terhadap masalah
tertentu.
5. Membangun koalisi, Sering kali kekuatan sebuah advokasi dipengaruhi oleh jumlah
orang atau organisasi yang mendukung advokasi tersebut. Hal ini sangat penting dimana
situasi dinegara tertentu sedang membangun masyarakat demokratis dan advokasi
merupakan suatu hal yang relatif baru.

6. Membuat persentasi yang persuasif, Kesempatan untuk mempengaruhu khalayak sasaran


kunci sering sekali terbatas waktunya.
7. Penggalangan dana untuk advokasi, Semua kegiatan termasuk upaya advokasi
memerlukan dana.
8. Evaluasi upaya advokasi, Untuk menjadi atvokator yang tangguh diperlukan unpan balik
berkelanjutan serta evaluasi atas upaya advokasi yang telah dilakukan.
PENDEKATAN UTAMA ADVOKASI
Ada 4 pendekatan dalam advokasi :
1. Melibatkan para pemimpin
2. Bekerja dengan media masa
3. Membangun kemitraan
4. Memobilisasi massa.

KEMITRAAN DALAM PROMOSI


KESEHATAN
Indonesia sehat 2010 yang telah dicanangkan oleh departemen kesehatan, mempunyai
visi yang sangat ideal, yakni masyarakat Indonesia yang penduduknya hidup dalam
lingkunganan prilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan
merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi tingginya.

Untuk mewujudkan visi tersebut telah ditetapkan empat misi pembangunan kesehatan yang harus
dilaksanakan beriringan :
1. Mengerakkan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan
terjangkau
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta
lingkungannya.
Untuk merealisasi visi ini, jelas tidak dapat terwujud jika dibebankan pada sektor
kesehatan saja karena kesehatan merupakan dampak dari pembangunan dai semua semua faktor
pembangunan, oleh karena itu semua sektor harus saling bahu membahu mewujududkan misi
indonesia sehat 2010. memang departemen kesehatan yang paling bertanggung jawab namun
dalam mengiplementasi kebijakan dan program, intervensi harus bersama sama dengan sektor
lain baik pemerintah maupun swasta. Dengan kata lain sektor kesehatan merupakan pemrakarsa
dalam menjalin kerjasama atau kemitraan ( partnership ) dengan sektor terkait
Kemitraan adalah upaya yang melibatkan berbagai sektor, kelompok masyarakat,
lembaga pemerintah maupun bukan pemerintah, untuk bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan
bersama berdasarkan kesepakatan prinsip dan peran masing-masing.dengan demikian untuk
membangun kemitraan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu persamaan perhatian, saling
percaya dan saling menghormati, harus saling menyadari pentingnya kemitraan, harus ada
kesepakatan misi, visi, tujuan dan nilai yang sama, harus berpijak padalandasan yang sama,
kesediaan untuk berkorban

Kemitraan dapat disimpulkan berhasil jika banyaknya mitra yang terlibat, sumberdaya
(3M) tersedia ( input ), pertemuan-pertemuan, lokakarya, kesepakatan bersama,seminat
( proses ), terbentuknya jaringan kerja, tersusunnya program dan pelaksanaan kegiatan bersama (
output ), membaiknya indikator derajat kesehatan ( outcome )

A. Pengertian Kemitraan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata mitra adalah teman, kawan
kerja, pasangan kerja, rekan. Kemitraan artinya perihal hubungan atau jalinan kerjasama sebagai
mitra.Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari
berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok.

Menurut Notoatmodjo (2003), Kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individuindividu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan
tertentu.
Sedangkan menurut Depkes (2006) dalam promosi kesehatan Online mengemukana
bahwa Kemitraan adalah hubungan (kerjsama) antara dua pihak atau lebih, berdasarkan
kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan manfaat).
B.
1.
2.
3.
4.

Unsur-unsur Kemitraan
Adapun unsur-unsur kemitraan adalah :
Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih
Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut
Adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-pihak tersebut
Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi manfaat.
Menurut Ansarul Fahruda, dkk (2005), untuk membangun sebuah kemitraan, harus
didasarkan pada hal-hal berikut :
a. Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan,
b. Saling mempercayai dan saling menghormati
c. Tujuan yang jelas dan terukur
d. Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang lain.

C. Dasar Kemitraan
1. Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan
Dalam membangun kemitraan,masing-masing anggota harusmerasa mempunyai perhatian dan
kepentingan bersama. Tanpaadanya perhatian dan kepentingan yang sama terhadap suatumasalah
niscaya kemitraan tidak akan terjadi. Sektor kesehatan harus mampu menimbulkan perhatian
terhadap masalah kesehatan bagi sektor-sektor lain non kesehatan, dengan upaya-upaya
informasi dan advokasi secara intensif.
2. Saling mempercayai dan saling menghormati
Kepercayaan (trust) adalah modal dasar setiap relasi/hubungan antar manusia, kesehatan harus
mampu menimbulkan trust bagi partnernya.
3. Tujuan yang jelas dan terukur
Arti penting dari kemitraan adalah mewujudkan kebersamaan antar anggota untuk menghasilkan
sesuatu yang menuju kearah perbaikan kesehatan masyarakat pada khususnya, kesejahteraan
masyarakat pada umumnya. Penting dilakukan advokasi dan informasi.
4. Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang lain.

Visi, misi, tujuan dan nilai tentang kesehatan perlu disepakatibersama, dan akan sangat
memudahkan untuk timbulnya komitmen bersama untuk menanggulangi masalah kesehatan
bersama, hal ini harus meliputi semua tingkatan organisasi sampai petugas lapangan.
D. Prinsip Prinsip Kemitraan
1. Saling menguntungkan (mutual benefit)
Saling menguntungkan disini bukan hanya materi tetapi juga non materi, yaitu dilihat dari
kebersamaan atau sinergisme dalam mencapai tujuan
2. Pendekatan berorientasi hasil
Tindakan kemanusiaan yang efektif harus didasari pada realitas dan berorientasi pada tindakan.
Hal ini membutuhkan koordinasi yang berorientasi hasil dan berbasis pada kemampuan efektif
dan kapasitas operasional yang konkrit
3. Keterbukaan (transparansi)
Apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan tiapanggota mitra harus diketahhui oleh anggota
yang lain Transparansi dicapai melalui dialog (pada tingkat yang setara) dengan menekankan
konsultasi dan pembagian informasi terlebih dahulu. Komunikasi dan transparansi, termasuk
transparansi finansial, membantu meningkatkan kepercayaan antar organisasi
4. Kesetaraan
Masing-masing pihak yang bermitra harus merasa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi,
tidak boleh satu anggota memaksakan kehendak kepada yang lain. Kesetaraan membutuhkan
rasa saling menghormati antar anggota kemitraan tanpa melihat besaran dan kekuatan. Para
peserta harus saling menghormati mandat kewajiban dan kemandirian dari anggota yang lain
serta memahami keterbatasan dan komitmen yang dimiliki satu sama lain. Sikap saling
menghormati tidak menghalangi masing-masing organisasi untuk terlibat dalam pertukaran
pendapat yang konstruktif
5. Tanggung Jawab
Organisasi kemanusiaan memiliki tanggung jawab etis terhadap satu sama lain dalam menempuh
tugas-tugasnya secara bertanggung jawab dengan integritas dan cara yang relevan dan tepat.
Organisasi kemanusiaan harus meyakinkan bahwa mereka hanya akan berkomitmen terhadap
sesuatu kegiatan ketika mereka memang memiliki alat, kompetensi, keahlian dan kapasitas untuk
mewujudkan komitmen tersebut. Pencegahan yang tegas dan jelas terhadap penyelewengan yang
dilakukan oleh para pekerja kemanusiaan harus menjadi usaha yang berkelanjutan
6. Saling Melengkapi
Keragaman dari komunitas kemanusiaan adalah sebuah aset bila dibangun atas kelebihankelebihan komparatif dan saling melengkapi kontribusi yang satu dengan yang lain. Kapasitas

lokal adalah salah satu aset penting untuk ditingkatkan dan menjadi dasar pengembangang.
Ketika memungkinkan, organisasi-organisasi kemanusiaan harus berjuang untuk menjadikan aset
lokal sebagai bagian integral dari tindakan tanggap darurat dimana hambatan budaya dan bahasa

1.
2.
3.
4.
5.

harus diatasi.
Prinsip-prinsip kemitraan menurut WHO untuk membangun kemitraan kesehatan
Policy-makers (pengambil kebijakan)
Health managers
Health professionals
Academic institutions
Communities institutions

E.

RuangLingkupKemitraan
Adapunruanglingkupkemitraansecaragarisbesaradalah :
a) Persiapan;
b) Inisiasi Kemitraan;
c) Pelaksanaan kerjasama;
d) Pelaporan;
e) Publikasi hasil pelaksanaan.

F.

Tahap tahap Kemitraan


Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara konsep terdiri atas 3 tahap yaitu:
Kemitraan lintas program di lingkungan sektor kesehatan sendiri
Kemitraan lintas sektor di lingkungan institusi pemerintah
Membangun kemitraan yang lebih luas, lintas program, lintas sektor lintas bidang dan lintas

1.
2.
3.
a)
b)
c)
d)

organisasi, yang mencakup:


Unsur pemerintah
Unsur swasta atau dunnia usaha
Unsur LSM da organisasi massa
Unsur organisasi profesi

G. Dasar Pemikiran Kemitraan dalam Kesehatan


1. Kesehatan adalah hak azasi manusia, merupakan investasi, dan sekaligus merupakan kewajiban
2.

bagi semua pihak.


Masalah kesehatan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dengan masalah lain, seperti
masalah pendidikan, ekonomi, sosial, agama, politik, keamanan, ketenagakerjaan, pemerintahan,

3.

dll.
Karenanya masalah kesehatan tidak dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan
semua pihak juga perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut, khususnya kalangan swasta.

4.

Dengan peduli pada masalah kesehatan tersebut, berbagai pihak khususnya pihak swasta
diharapkan juga memperoleh manfaat, karena kesehatan meningkatan kualitas SDM dan

5.

meningkatkan produktivitas.
Pentingnya kemitraan (partnership) ini mulai digencarkan oleh WHO pada konfrensi

6.

internasional promosi kesehatan yang keempat di Jakarta pada tahun 1997.


Sehubungan dengan itu perlu dikembangkan upaya kerjsama yang saling memberikan manfaat.
Hubungan kerjasama tersebut akan lebih efektif dan efisien apabila juga didasari dengan
kesetaraan.

H. Tujuan Kemitraan
Tujuan umum :
Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya
pembangunan pada umumnya.
Tujuan khusus :
1.

Meningkatkan saling pengertian

2.

Meningkatkan saling percaya

3.

Meningkatkan saling memerlukan

4.

Meningkatkan rasa kedekatan

5.

Membuka peluang untuk saling membantu

6.

Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan

7.

Meningkatkan rasa saling menghargai

Hasil yang diharapkan :


Adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk kesehatan.
I.

Perilaku Kemitraan :
Adalah semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur pemerintah, Lembaga Perwakilan
Rakyat, perguruan tinggi, media massa, penyandang dana, dan lain-lain, khususnya swasta.

J.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

6 langkah pengembangan kemitraan :


penjajagan/persiapan,
penyamaan persepsi,
pengaturan peran,
komunikasi intensif,
melakukan kegiatan, dan
melakukan pemantauan & penilaian.

K. Beberapa alternatif peran yang dapat dilakukan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat
1.

adalah :
Initiator : memprakarsai kemitraan dalam rangka sosialisasi dan operasionalisasi Indonesia

2.
3.

Sehat.
Motor/dinamisator : sebagai penggerak kemitraan, melalui pertemuan, kegiatan bersama, dll.
Fasilitator : memfasiltasi, memberi kemudahan sehingga kegiatan kemitraan dapat berjalan

4.
5.
6.
7.

lancar.
Anggota aktif : berperan sebagai anggota kemitraan yang aktif.
Peserta kreatif : sebagai peserta kegiatan kemitraan yang kreatif.
Pemasok input teknis : memberi masukan teknis (program kesehatan).
Dukungan sumber daya : memberi dukungan sumber daya sesuai keadaan, masalah dan potensi
yang ada.

L.
1.
2.

Indikator keberhasilan dalam kemitraan


Indikator input : Jumlah mitra yang menjadi anggota.
Indikator proses :Kontribusi mitra dalam jaringan kemitraan, jumlah pertemuan yang
diselenggarakan, jumlah dan jenis kegiatan bersama yang dilakukan, keberlangsungan kemitraan
yang dijalankan.

3.

Indikator output : Jumlah produk yang dihasilkan, percepatan upaya yang dilakukan, efektivitas
dan efisiensi upaya yang diselenggarakan.

M. Contoh Kemitraan dalam Kesehatan


1. AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia)
2.

Balai Keperawatan

3.

Kemitraan antara bidan dengan dukun bayi

4.

Paguyuban Penderita Tuberkulosis Kec. Sumberjambe, kab. Jember

KESIMPULAN
1.

Kemitraan kesehatan adalah hubungan kerjasama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan
kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat

2.
a)
b)
c)
d)

mengenai kesehatan.
Adapun unsur-unsur kemitraan adalah :
Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih
Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut
Adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-pihak tersebut
Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi manfaat

3.
a)
b)
c)
d)
e)

RuangLingkupKemitraan
Persiapan
Inisiasi Kemitraan
Pelaksanaan kerjasama
Pelaporan
Publikasi hasil pelaksanaan

4.
a)
b)
c)
5.
a)
b)
c)
d)
e)

Prinsip prinsip kemitraan


Persamaan atau equality
Keterbukaan atau transparansi
Saling menguntungkan atau mutual benefit.
Model kemitraan
Kepemimpinan (manageralism) (Rees, 2005),
Pluralisme baru (new-pluralism),
Radikalisme berorientasi pada negara (state-oriented radicalism),
Kewirausahaan (entrepreneurialism) dan
Membangun gerakan (movement-building) (Batsler dan Randall, 1992).

DAFTAR PUSTAKA
http://muhammadwahyudi123.blogspot.com/p/kesmas-berbasis-evidence-evidence-base.html
http://nesyairmalia.blogspot.com/2012/03/kemitraan-dalam-promosi-kesehatan.html
http://nezfine.wordpress.com/tag/kemitraan/
http://www.hidayatjayagiri.net/2012/10/mengenal-kemitraan.html
http://www.artikata.com/arti-371870-kemitraan.html

Advokasi Dalam Promkes


May13
A.PENGERTIAN
Advoksai secara harfiah berarti pembelaan,sokongan atau bantuan terhadap
seseorang yang mempunyai permasalahan.Istilah advokasi mula-mula digunakan di
bidang hukum atau pengadilan.
Menurut Johns Hopkins (1990) advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi
kebijakan publik melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif.
Istilah advocacy/advokasi di bidang kesehatan mulai digunakan dalam program
kesehatan masyarakat pertama kali oleh WHO pada tahun 1984 sebagai salah satu
strategi global Pendidikan atau Promosi Kesehatan.WHO merumuskan bahwa dalam
mewujudkan visi dan misi Promosi Kesehatan secara efektif

menggunakan 3

strategi pokok,yaitu :1).Advocacy,2).Social support,3).Empowerment.


Advokasi diartikan sebagai upaya pendekatan terhadap orang lain yang
dianggap mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan suatu program

atau

kegiatan yang dilaksanakan.Oleh karena itu yang menjadi sasaran advokasi adalah

para

pemimpin

atau

pengambil

kebijakan(

policy

makers)

atau

pembuat

keputusan(decision makers) baik di institusi pemerintah maupun swasta.


Dalam advokasi peran komunikasi sangat penting,sehingga komunikasi dalam
rangka advokasi kesehatan memerlukan kiat khusus agar komunikasi efektif.Kiatkiatnya antara lain sebagai berikut :
1. Jelas ( clear )
2. Benar ( correct )
3. Konkret ( concrete )
4. Lengkap ( complete )
5. Ringkas ( concise )
6. Meyakinkan ( Convince )
7. Konstekstual ( contexual )
8. Berani ( courage )
9. Hati hati ( coutious )
10.Sopan ( courteous )
B. PRINSIP DASAR ADVOKASI
Advokasi tidak hanya sekedar melakukan lobby politik,tetapi mencakup kegiatan
persuasif ,memberikan semangat dan bahkan sampai memberikan pressure atau
tekanan kepada para pemimpin institusi.
Tujuan advokasi yaitu :
1. Komitmen politik ( Political commitment )
Komitmen para pembuat keputusan atau penentu kebijakan sangat penting
untuk

mendukung atau mengeluarkan peraturan-peraturan yang berkaitan

dengan

kesehatan

anggaran

kesehatan,contoh konkrit pencanangan Indonesia Sehat 2010 oleh

presiden.Untuk

masyarakat,misalnya

untuk

pembahasan

kenaikan

meningkatkan komitmen ini sangat dibutuhkan advokasi yang

baik.
1. Dukungan kebijakan ( Policy support )
Adanya komitmen politik dari para eksekuti,maka perlu ditindaklanjuti
dengan

advokasi lagi agar dikeluarkan kebijakan untuk mendukung program yang

telah

memperoleh komitmen politik tersebut.

1. Penerimaan sosial ( Social acceptance )


Penerimaan
masyarakat.Suatu
dukungan

sosial

artinya

diterimanya

suatu

program

oleh

program kesehatan yang telah memperoleh komitmen dan

kebijakan,maka langkah selanjutnya adalah mensosialisasikan program

tersebut

untuk memperoleh dukungan masyarakat.

1. Dukungan sistem ( System support )


Agar suatu program kesehatan berjalan baik maka perlunya sistem atau
prosedur

kerja yang jelas mendukung.

C. METODE DAN TEHNIK ADVOKASI


Metode atau cara dan teknik advokasi untuk mencapai tujuan ada bermacammacam,yaitu :
1. Lobi politik ( political lobying )
2. Seminar/presentasi

3. Media
4. Perkumpulan
D. UNSUR-UNSUR ADVOKASI
Ada 8 unsur dasar advokasi,yaitu :
1. Penetepan tujuan advokasi
2. Pemanfaatan data dan riset untuk advokasi
3. Identifikasi khalayak sasaran
4. Pengembangan dan penyampaian pesan advokasi
5. Membangun koalisi
6. Membuat presentasi yang persuasif
7. Penggalangan dana untuk advokasi
8. Evaluasi upaya advokasi.
E. PENDEKATAN UTAMA ADVOKASI
Ada 5 pendekatan utama advokasi,yaitu :
1. Melibatkan para pemimpin
2. Bekerja dengan media massa
3. Membangun kemitraan
4. Memobilisasi massa
5. Membangun kapasitas.
F. LANGKAH-LANGKAH ADVOKASI
1. Tahap Persiapan

Persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan/materi atau


instrumen advokasi.Bahan advokasi adalah:data- informasi bukti yang
dikemas dalam bentuk tabel,grafik atau diagram yang mnjelaskan besarnya
masalah kesehatan,akibat atau dampak masalah,dampak ekonomi,dan
program

yang diusulkan/proposal program.

2. Tahap pelaksanaan
Pelaksanaan advokasi tergantung dari metode atau cara advokasi.
3. Tahap Penilaian
Untuk menilai keberhasilan advokasi dapat menggunakan indikator
sebagai

berikut :
a.Software,misalnya:

dikeluarkannya

UU,PP,Perda,KepMen,SK

Bupati,MOU,dsb
b.Hardware,misalnya:meningkatnya anggaran kesehatan,adanya bantuan
sarana.
https://syehaceh.wordpress.com/2008/05/13/advokasi-dalam-promkes/
https://www.scribd.com/doc/76634404/MAKALAH-ADVOKASI
https://www.scribd.com/doc/54173398/Kemitraan-Dalam-Pembangunan-Kesehatan

ADVOKASI DALAM PROMOSI KESEHATAN


Advokasi secara harfiah berarti pembelaan , sokongan atau bantuan terhadap seseorang yang
mempunyai permasalahan . Istilah advokasi mula mula digunakan dibidang hokum atau
pengadilan . Advokasi dalam kesehatan diartikan upaya untuk memperoleh pembelaan ,
bantuan , atau dukungan terhadap program kesehatan .
Menurut Wobster Encyclopedia advokasi adalah act of pleading for supporting or

recommending active espousal atau tindakan pembelaan , dukungan , atau rekomendasi :


dukungan aktif menurut ahli retorika ( foss and foss , et al : 1980 ) Advokasi diartikan sebagai
upaya persuasi yang mencakup kegiatan : penyadaran , rasionalisasi , argumentasi dan
rekomendasi tindak lanjut mengenai sesuatu hal .
Menurut Johns Hopkins ( 1990 ) Advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kabijakan publik
melalui bermacam macam bentuk komunikasi persuasip . Dari beberapa catatan tersebut ,
dapat disimpulkan secara ringkas , bahwa advokasi adalah upaya atau proses untuk memperoleh
komitmen , yang dilakukan secara persuasip dengan menggunakan informasi yang akurat dan
tepat sehingga advokasi dapat diilustrasikan sebagai berikut
PROSES DAN ARAH ADVOKASI
Istilah Advocacy / Advokasi dibidang kesehaan mulai digunakan dalam program kesehatan
masyarakat pertama kali oleh WHO pada tahun 1984 sebagai salah satu strategi global
pendidikan atau promosi kesehatan . WHO merumuskan bahwa dalam mewujudkan visi dan misi
promosi kesehatan secara efektif menggunakan strategi pokok , yaitu :
1. Advocacy ( advokasi ) ,
2. Sosial support ( dukungan social ) ,
3. Empowermen ( pemberdayaan masyarakat ) .
Advokasi diartikan sebagai upaya pendekatan terhadap orang lain yang dianggap mempunyai
pengaruh terhadap keberhasilan suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan . Oleh karena itu
yang menjadi sasaran advokasi adalah para pemimpin atau pengambil kebijakan ( policy
makers ) atau pembuat keputusan (decision makers ) baik di institusi pemerintah maupun
swasta .
ARUS KOMUNIKASI ADVOKASI KESEHATAN
Komunikasi dalam rangka advokasi kesehatan memerlukan kiat khusus agar komunikasi tersebut
efektif . Kiat kiat agar komunikasi advokasi efektif antara lain sebagai berikut :
1. Jelas ( clear ) : pesan yang akan disampaikan kepada sasaran harus disusun sedemikian
rupa sehingga jelas , baik isinya maupun bahasa yang digunakan .
2. Benar ( correct ) : apa yang disampaikan ( pesan ) harus didasarkan kepada kebenaran .
3. Konkret ( concrete ) : apabila petugas kesehatan dalam advokasinya mengajukan usulan
program yang dimintakan dukungan dari pejabat terkait , maka harus dirumuskan dalam
bentuk yang kongkrit ( bukan kira kira ) atau dalam bentuk oprasional .
4. Lengkap ( complete ) : timbulnya kesalah pahaman atau mis komunikasi adalah karena
belum atau tidak lengkapnya pesan yang disampaikan kepada orang lain .
5. Ringkas ( concise ) : pesan komunikasi harus lengkap , tetapi padat , tidak bertele tele.

6. Meyakinkan ( convince ) : Agar komunikasi advokasi kita diterima oleh para pejabat ,
maka harus meyakinkan .
7. Kontekstual ( contextual ) : advokasi kesehatan hendaknya bersipat kontekstual , artinya
pesan atau program yang akan di apokasikan harus diletakkan atau dikaitkan dengan
masalah pembangunan daerah yang bersangkutan .
8. Berani ( courage ) : seorang petugas kesehatan yang akan melakukan advokasi kepada
para pejabat , harus mempunyai keberanian berargumentasi dan berdiskusi dengan para
pejabat yang bersangkutan .
9. Hati hati ( coutious ) : meskipun berani , tetapi harus berhati hati dan tidak boleh
keluar dari etika berkomunikasi dengan para pejabat , hindari sikap menggurui para
pejabat yang bersangkutan .
10. Sopan ( courtous ) : disamping hati hati , advokator harus bersikap sopan , baik sopan
dalam tutur kata maupyn penampilan pisik , termasuk cara berpakaian .
PRINSIP DASAR ADVOKASI
Advokasi tidak hanya sekedar melakukan lobby politik , tetapi mencakup kegiatan persuasip ,
memberikan semangat dan bahkan sampai memberikan pressure atau tekanan kepada para
pemimpin institusi .
Tujuan advokasi yaitu :
1. Komitmen politik ( political commicment ) Komitmen para pembuat keputusan atau
penentu kebijakan sangat penting untuk mendukung atau mengeluarkan peraturan
peraturan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat , misalnya untuk pembahasan
kenaikan anggaran kesehatan , contoh : konkrit pencanangan indonesia sehat 2010 oleh
presiden . Untuk meningkatkan komitmen ini sangat dibutuhkan advokasi yang baik .
2. Adanya komitmen politik dari para eksekutif , maka perlu ditindak lanjuti dengan
advokasi lagi agar dikeluarkan kebijakan untuk mendukung program yang telah
memperoleh komitmen politik tersebut . dukungan kebijakan ini dapat berupa undang
undang , peraturan pemerintah atau peraturan daerah , surat keputusan pimpinan institusi
baik pemerintah maupun suasta .
3. Penerimaan sosial ( socil acceptance ) : penerimaan sosial artinya diterimanya suatu
program oleh masyarakat . Suatu program kesehatan yang telah memperoleh komitmen
dan dukungan kebijakan , maka langkah selanjutnya adalah mensosialisasikan program
tersebut untuk memperoleh dukungan .
4. Dukungan sistem ( sistem suport ) Agar suatu program kesehatan berjalan baik maka
perlunya sistem atau prosedur kerja yang jelas mendukung .

METODE DAN TEKHNIK ADVOKASI


Metode atau cara dan tehknik advokasi untuk mencapai tujuan ada bermacam macam :
1. Lobi politik ( political lobiying ) Lobi adalah berbincang bincang secara informal
dengan para pejabat untuk mengimpormasikan dan membahas masalah dan program
kesehatan yang akan dilaksanakan .
2. Seminar / presentasi : Seminar atau presentasi yang dihadiri oleh para pejabat lintas
program dan lintas sektoral .
3. Media Advokasi media ( media adpocasy ) adalah melakukan kegiatan advokasi dengan
menggunakan media , khususnya media masa .
4. Perkumpulan ( asosiasi ) peminat Asosiasi atau perkumpulan orang orang yang
mempunyai minat atau interes terhadap permasalahan tertentu atau perkumpulan propesi ,
juga merupakan bentuk advokasi .
ARGUMENTASI UNTUK ADVOKASI
Meyakinkan para pejabat terhadap pentingnya program kesehatan tidaklah mudah , memerlukan
argumentasi yang kuat . Dibawah ini ada beberapa hal yang dapat memperkuat argumen dalam
melakukan kegiatan aplikasi antara lain :
1. Creadible : Credibilatas ( creadible ) adalah suatu sipat pada seseorang atau institusi yang
menyebabkan orang atau pihak lain mempercayainya .
2. Layak ( feasibel ) Artinya program yang diajukan tersebut baik secara tekhnik , politik ,
maupun ekonomi dimungkinkan atau layak .
3. Relevan ( relevant ) Program yang diajukan tersebut paling tidak harus mencakup 2
kriteria , yakni : memenuhi kebutuhan masyarakat , dan benar benar memecahkan
masalah yang dirasakan masyarakat .
4. Penting dan mendesak ( urgent ) Artinya program yang diajukan harus mempunyai
urgensi yang tinggi : harus segera dilaksanakan dan kalau tidak segera dilaksanakan akan
menimbulkan masalah yang lebih besar lagi .
5. Prioritas tinggi ( haigh priority ) Artinya program yang diajukan tersebut harus
mempunyai prioritas yang tinggi
LANGKAH LANGKAH ADVOKASI
1. Tahap persiapan adalah Persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan /
materi atau bukti informasi instrumen advokasi . Bahan advokasi adalah : data yang

dikemas dalam bentuk tabel , grapik atau diagram yang menjelaskan besarnya masalah
kesehatan , akibat atau dampak masalah ,dampak ekonomi , program yang diusulkan
/proposal program.
2. Tahap pelaksanaan adalah Pelaksanaan advokasi tergantung dari metode atau cara
advokasi.
3. Tahap penilaian Untuk menilai keberhasilan advokasi dapat menggunakan indikaror
sebagai berikut :

a. Softwer,misalnya : dikeluarkannya UU,PP,Perda,KepMen,SK Bupati,MOU,dsb

b. Hardwer,misalnya : meningkatkannya anggaran kesehatan,adanya

UNSUR DASAR ADVOKASI


1. Penetapan tujuan advokasi, Sering sekali masalah kesehatan masyarakat sangat
kompleks,banyak faktor dan saling berpengaruh. Agar upaya advokasi dapat berhasil
tujuan,advokasi perlu dibuat lebih spesifik.
2. Pemanfaatan data dan riset untuk advokasi, Adanya data dan riset untuk pendukung
sangaat penting agar keputusan dibuat berdasarkan informasi yang tepat dan benar.
3. Identifikasi khalayak sasaran advokasi, Bila isu dan tujuan telah disusun,upaya advokasi
telah disususn,upaya advokasi harus ditunjukan bagi kelompok yang dapat membuat
keputusan dan idealnya ditujukan bagi orang yang berpengaruh dalam pembuatan
keputusan,misalnya staf,penasihat,orang tua yang berpengaruh,media masa dan
masyarakat.
4. Pengembangan dan penyampaian pesan advokasi, Khalayak sasaran berbeda bereaksi
tidak sama atas pesan yang berbeda. Seorang tokoh politik mungkin termotivasi kalau dia
mengetahui bahwa banyak dari konstituen yang diwakilinya peduli terhadap masalah
tertentu.
5. Membangun koalisi, Sering kali kekuatan sebuah advokasi dipengaruhi oleh jumlah
orang atau organisasi yang mendukung advokasi tersebut. Hal ini sangat penting dimana
situasi dinegara tertentu sedang membangun masyarakat demokratis dan advokasi
merupakan suatu hal yang relatif baru.
6. Membuat persentasi yang persuasif, Kesempatan untuk mempengaruhu khalayak sasaran
kunci sering sekali terbatas waktunya.
7. Penggalangan dana untuk advokasi, Semua kegiatan termasuk upaya advokasi
memerlukan dana.

8. Evaluasi upaya advokasi, Untuk menjadi atvokator yang tangguh diperlukan unpan balik
berkelanjutan serta evaluasi atas upaya advokasi yang telah dilakukan.
PENDEKATAN UTAMA ADVOKASI
Ada 4 pendekatan dalam advokasi :
1. Melibatkan para pemimpin
2. Bekerja dengan media masa
3. Membangun kemitraan
4. Memobilisasi massa.