Anda di halaman 1dari 2

Sesat Pikir Lahan Gambut di Area Tropis

Dari berita diatas, bisa dilihat bahwa narasumber ingin menyampaikan tentang adanya salah
paham terhadap pemanfaatan lahan gambut. Kalyana Sundram, yang merupakan yang ketua dari
Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menyatakan bahwa terdapat sesat informasi di kalangan
masyarakat mengenai keberadaan lahan gambut yang dimanfaaatkan untuk budidaya tanaman
seakan-akan hanya akan merusak lingkungan. Pada kenyataannya, keberadaan lahan gambut
memiliki peranan yang sangat penting baik dalam lingkup lokal, regional maupun global. Lahan
gambut disamping memiliki fungsi ekologis juga memiliki fungsi ekonomi dan sosial budaya.
Fungsi ekologis yang diperankan lahan gambut diantaranya menjaga keanekaragaman hayati,
penyimpan karbon, penghasil oksigen dan pengelolaan air. Sedangkan fungsi ekonomi dan sosial
budaya dari lahan gambut diantaranya sebagai penghasil kayu dan sumber penghidupan
masyarakat, ekowisata serta tempat pendidikan dan penelitian.
Seperti diketahui bahwa keanekaragaman hayati di lahan gambut, disamping memiliki
peranan ekologis juga memiliki peranan ekonomi dan sosial budaya bagi masyarakat. Hal tersebut
karena lahan gambut memiliki keanekaragaman hayati dengan nilai ekonomi tinggi seperti
tumbuhan penghasil produk kayu dan non-kayu, penghasil ikan, jamur dan tanaman obat-obatan
serta lebah hutan penghasil madu untuk kebutuhan pangan masyarakat (Agus dan Subiksa, 2008).
Dengan banyaknya manfaat yang diberikan oleh lahan gambut, maka dibutuhkan pengelolaan
sumber daya alam hayati yang baik untuk menghindari adanya eksploitasi berlebihan.
Meningkatnya ancaman terhadap kelestarian lahan gambut seperti kebakaran dan konversi menjadi
area perkebunan, menjadikan ancaman juga terhadap kelestarian keanekaragaman hayati yang ada
di dalamnya.
Sebagian besar lahan gambut yang ada kini mengalami kerusakan yang cukup
mengkhawatirkan sebagai adanya akibat yang kurang / tidak bewawasan lingkungan (Rizali,2015).
Kegiatan yang merusak antara lain pembakaran lahan gambut dalam rangka persiapan lahan
pertanian, perkebunan, pemukiman dan lain-lain; serta penebangan hutan gambut yang tidak
terkendali (baik legal maupun ilegal) untuk diambil kayunya.
Kegiatan-kegiatan diatas tidak hanya menyebabkan rusaknya fisik lahan/hutan gambut seperti
amblasan, terbakar dan berkurangnya luasan gambut, tapi juga menyebabkan hilangnya fungsi
gambut sebagai penyimpan dan penyerap karbon, sebagai daerah resapan air yang mampu
mencegah banjir pada wilayah disekitarnya pada musim hujan.
Memperhatikan manfaat dan ancaman kerusakan lahan gambut, maka perlu dilakukan upaya
secara bersama-sama, agar dapat menyelamatkan dan melestarikan kawasan lahan gambut bagi

kesejahteraan kita semua melalui beberapa upaya seperti restorasi dan suksesi lahan gambut yang
sudah rusak, pengaplikasian wawasan lingkungan untuk mengolah atau menggunakan lahan
gambut, melindungi hutan yang tumbuh diatas lahan gambut, serta pemanfaatan lahan gambut
secara lebih bijaksana untuk meminimalisir kerusakan dan eksploitasi lahan gambut.

Daftar Pustaka:
Fahmuddin Agus dan Subiksa I.G. Made. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan
Aspek Lingkungan. Bogor: Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre
(ICRAF)
Rizalli Akhmad dan Buchori Damayanti. 2015. Lahan Gambut dan Keanekaragaman Hayati.
IPN Toolbox Tema C. www.cifor.org diakses pada 28 Agustus 2016