Anda di halaman 1dari 3

IATA International Air Transport Association

1. Asosiasi transportasi udara internasional


2. IATA berkantor pusat di Montreal, Quebec, Kanada. Dikota yang sama,
Organisasi penerbangan sipil internasional (ICAO) juga berkantor pusat disana.
Perbedaannya, IATA beranggotakan maskapai maskapai penerbangan , baik
berjadwal maupun tidak berjadwal. ICAO beranggotakan Negara negara. Kedua
badan ini mengatur regulasi terkait dengan penerbangan internasional sesuai
dengan porsinya masing masing.
3. Pendirian IATA dirintis oleh angkutan udara komersial pasca dunia I (1914-1918).
Pada tahun 1919, para pelaku usaha angkutan udara mendirikan International Air
Traffic Association (IATA) di Den Hag, Belanda. Pasca perang dunia II, bulan april
1945 organisasi di revisi di Havana, Kuba dan namanya berubah menjadi
International Air Transport Association (IATA) seperti yang dikenal selama ini.
4. Anggota IATA saat ini sekitar 230 Airlines dari 140 negara di lima benua. Pada
awal pendiriannya, IATA beranggotakan 57 Airlines dari 31 Negara, terutama
Negara-negara di eropa dan amerika utara.
5. Sejak awal berdirinya, IATA memikirkan kepentingan anggotanya secara Global.
System dan prosedur dibuat sedemikian rupa agar sesame anggota dapat
bekerja sama secara efektif. Salah satu misi IATA adalah agar para anggotanya
secara bersama-sama untuk melayani pengguna jasa, antara lain clearing house
(pusat kliring), Billing and Settlement Plan BSP (system penagihan dan
pelunasan bersama) dan system yang sama untuk kargo atau CASS (cargo
account settlement system) serta perjanjian layanan pindah pesawat yang
berlaku multilateral atau MITA (Multilateral Interline Traffic Agreement).
6. Disamping itu, maskapai penerbangan anggota IATA juga menikmati image dan
prestige bertaraf internasional , karena maskapai yang beroperasi di jaringan
internasional adalah anggota aktif IATA, sedangkan merka yang beroperasi
dijaringan domestic berstatus sebagai anggota tidak enuh (associate member)
IATA.
7. Dilingkungan IATA, dunia ini dibagi dalam tiga wilayah (Traffic Conference TC).
TC I meliputi benua Amerika dari utara sampai ke selatan, TC 2 terdiri dari dua
benua, yaitu eropa dan afrika, sedangkan TC -3 adalah seluruh kawasan benua
asia dan Australia, termasuk didalamnya Indonesia. Pembagian wilayah ini
dilakukan untuk mempermudah penetapan regulasi terhadap kawasan di mana
Negara-negara yang berada didalamnya mempunyai karakteristik yang sama
atau hamper sama.

IATA Operational Safety Audit IOSA


1. Audit Keselamatan Operasional IATA.
2. Sistem audit manajemen operasional dan sistem kontrol perusahaan
penerbangan, yang berlaku bagi seluruh anggota IATA
3. System audit IOSA mencakup 8 aspek atau 900 standar operasional
penerbangan dan system kontrol perusahaan penerbangan, yaitu organisasi
& manajemen (organization and management), operasional penerbangan
(flight operation), system kontrol penerbangan & keberangkatan pesawat
(operational control & flight dispatch), penanganan pesawat di darat (ground
handling), system perawatan & engineering pesawat (maintenance), awak
pesawat (cabin operations), penangan operasional kargo (cargo operations),
dan keamanan operasional penerbangan (aviation security).
4. IOSA menjadi standar dana acuan aspek safety dan quality dalam industry
penerbangan dunia.
5. IOSA diterima sebagai benchmark global safety management oleh ICAO,
Federal Aviation Administration (FAA) amerika serikat, dan European Aviation
Safety Agency (EASA) Uni Eropa, bahkan beberapa Negara menerapkan
standar IOSA secara mandatory bagi airlines ny, antara lain ; Turki, Mesir,
Meksiko, Cile,.
6. Hingga saat ini maskapai Indonesia yang memenuhi standar IOSA adalah
Garuda Indonesia (14 Mei 2008) dan mandala Airlines (18 Maret 2010).
Jumlah Airlines di dunia yang memenuhi standar IOSA hingga awal agustus
2010 sebanyak 339 airlines.
7. Maskapai penerbangan yang memenuhi standar IOSA, wajib menjalani
evaluasi secara konsisten setiap dua tahun

Airline Industry Deregulation


1. Deregulasi industry penerbangan
2. Deregulasi industry penerbangan di Indonesia dilaksanakan mulai tahun 2000,
ketika Pemerintah membuka izin seluas-luasnya bagi pendirian perusahaan
penerbangan, termasuk mengizinkan maskapai baru menerbangi rute-rute
gemuk, yang sebelumnya hanya dikuasai Garuda Indonesia dan Merpati
Nusantara. Tidak itu saja, dalam upaya meningkatkan kemampuan armada
perusahaan penerbangan,
3. Pemerintah melalui Keppres Nomor 33 Tahun 2000 mencabut larangan masuk
dan izin pengoperasian pesawat yang diatur dalam Inpres Nomor 1 tahun 1980.
Dengan demikian airlines bebas menentukan tipe pesawat yang dioperasikan
sesuai kemampuan perusahaan. Umur pesawat tidak ditentukan secara eksplisit,
asal pesawat memenuhi persyaratan dan peraturan kelaikan udara.
4. Bahkan dalam penyelenggaraan angkutan udara, melalui Keputusan Menteri
Perhubungan (Kepmenhub) Nomor 11 tahun 2001 antara lain menetapkan
perusahaan penerbangan cukup menguasai dua pesawat yang laik terbang
dalam menjalankan usahanya. Tidak mengherankan jika kemudian banyak
pengusaha yang memiliki surat izin pendirian,- sekalipun perusahaan
penerbangan tersebut tidak segera beroperasi, karena armada yang dibutuhkan
masih dalam proses negoisasi.
5. Pasca deregulasi tahun 2000, industry penerbangan Indonesia mengalami
perkembangan pesat. Jumlah maskapai penumpang berjadwal mencapai 15
airlines, padahal sebelum dergulasi hanya lima airlines.
6. Harga tiket penerbangan yang sebelumnya diatur Pemerintah, seiring era
deregulasi diserahkan kepada mekanisme pasar; dan pemerintah hanya
menentukan patokan harga tiket batas bawah. sehingga persaingan antar
maskapai berlangsung ketat dan harga tiket semakinmurah, sehingga
penumpang pesawat mengalami peningkatan significant.
7. Bila tahun 1998 hanya 6 juta orang, maka tahun 2009 (setelah deregulasi
penerbangan) melonjak menjadi 40 juta orang lebih. Bahkan murahnya tiket
angkutan udara menggerus moda transportasi darat dan laut.