Anda di halaman 1dari 40

Gangguan Atau Penyakit Dalam Sistem

Gerak Dan Pemanfaatan Teknologi Dalam


Mengatasi Gangguan Sistem Gerak

Disusun oleh :
Thomas Candra Yudha (23)

Jalan Ki Ageng Giring No.3, Kepek,


Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul,
Daerah Istimewa Yogyakarta (0274)
391122

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kita panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga saya
dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Dalam makalah ini kami membahas mengenai Gangguan Atau
Penyakit Dalam Sistem Gerak Dan Pemanfaatan Teknologi Dalam
Mengatasi Gangguan Sistem Gerak
Makalah ini dibuat dengan berbagai referensi dan bantuan dari
berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan makalah ini. Oleh
karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang
mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang
pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun
kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
kita sekalian.

Gunungkidul, 25 Agustus 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
i

Kata pengantar................................................................................................................ i
Daftar isi..........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

Latar belakaang................................................................................................................1
Rumusan masalah............................................................................................................1
Tujuan..............................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

Gangguan atau penyakit dalam sistem


gerak................................................................................................................................2
Gangguan dan Kelainan Tulang pada
Manusia...........................................................................................................................2
Cara Mengatasi gangguan dan penyakit pada
tulang...............................................................................................................................8
Kelainan dan penyakit pada
sendi.................................................................................................................................9
Cara Menjaga Kesehatan Tulang
Sendi...............................................................................................................................10
Kelainan dan penyakit pada
otot..................................................................................................................................12
Cara Menjaga Kesehatan Otot........................................................................................13
Pemanfaatan teknologi dalam mengatasi gangguan sistem gerak..................................14
Sinar-X Pada Tulang Belakang ......................................................................................14
Scanning Tomografi Terkomputerisasi Pada Tulang Belakang......................................16
Pencitraan Resonansi Magnetik Pada Rangka ...............................................................19
Scanning Tomografi Terkomputerisasi Pada Rangka......................................................22
Scanning Tomografi Terkomputerisasi Pada Dada..........................................................26
Scanning Tulang ............................................................................................................30
Vertebroplasti....................................................................................................................32
ii

Veselplasti.........................................................................................................................32
Sekrup berbahan tulang.....................................................................................................33

BAB III PENUTUP

Kesimpulan......................................................................................................................34
Saran.................................................................................................................................35
Daftar pustaka..................................................................................................................36

BAB 1 PENDAHULUAN
iii

1.1 Latar belakang


Pada umumnya, kelainan sistem gerak terjadi pada bagian
tulang, persendian, dan otot dalam melaksanakan tugasnya.
Kelainan tersebut dapat saja disebabkan oleh kecelakaan,
penyakit atau faktor usia. Gangguan ini juga dapat terjadi,
karena tulang dan otot di dalam tubuh sering menanggung beban
terlalu berat, maupun karena pengaruh hormon, vitamin, infeksi
kuman penyakit, dan lain-lain.
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin hari
semakin pesat. Begitu juga dengan teknologi kedokteran yang
berkembang dengan pesatnya mengikuti semakin modernnya
zaman.
Dengan hal itu lah dapat memunculkan teknologiteknologi yang dapat menolong umat manusia mengobati
penyakit. Di makalah ini dijelaskan teknologi-teknologi yang
dapat menolong pasien di dalam kelainan system gerak.
Sebelum itu akan dijelaskan terlebih dahulu tentang system
gerak dan kelainan dalam system gerak.

1.2 Rumusan masalah


1.2.1 Apa saja kelainan pada sistem gerak manusia?
1.2.2 Apa saja pemanfaatan teknologi untuk Mengatasi
gangguan dan kelainan pada sistem gerak manusia?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui lebih jauh tentang kelainan pada
sistem gerak manusiaUntuk mengetahui lebih jauh
tentang pemanfaatan teknologi untuk Mengatasi
gangguan dan kelainan pada sistem gerak manusia
1.3.2 Untuk mengetahui lebih jauh tentang pemanfaatan
teknologi untuk Mengatasi gangguan dan kelainan pada
sistem gerak manusia
1
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Gangguan atau penyakit dalam sistem gerak


2.1.1 Gangguan dan Kelainan Tulang pada Manusia
Tulang-tulang pada manusia sering mengalami gangguan baik gangguan
tulang sejak lahir, karena makanan yang kita konsumsi setiap hari, posisi tubuh
yang salah, terkena penyakit, kecelakaan, dan lain-lain.
Di bawah ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan gangguan tulang
atau penyakit pada tulang:
2.1.1.1 Gangguan pada tulang belakang
Posisi duduk yang salah dapat menyebabkan gangguan pada tulang. Jika
posisi duduk dengan punggung membungkuk maka tulang belakang akan
melengkung ke kiri, ke kanan, ke depan, atau ke belakang.
Melengkungnya tulang belakang tersebut dipengaruhi oleh posisi dan
kebiasaan duduk. Kelainan tulang punggung dapat dibedakan menjadi tiga:
2.1.1.1.1 Skoliosis
Skoliosis yaitu tulang punggung yang terlalu melengkung ke kiri atau ke
kanan.
2.1.1.1.2 Kifosis
Kifosis yaitu tulang punggung terlalu melengkung ke belakang.
2.1.1.1.3 Lordosis
Lordosis yaitu tulang punggung yang terlalu melengkung ke depan.

Oleh karena itu kita harus membiasakan duduk dengan sikap yang benar
yaitu duduk dengan sikap tegak dan tidak membengkok ke kanan atau ke kiri.

2.1.1.2 Gangguan tulang karena


2 penyakit

Beberapa penyakit tulang dapat disebabkan oleh mikroorganisme, baik


virus maupun bakteri, di antaranya sebagai berikut :
2.1.1.2.1 Polio
Penyakit ini disebabkan oleh virus polio yang menyerang tulang,
sehingga menjadi lumpuh (tidak bertenaga) atau pertumbuhannya mengecil dan
tidak sempurna.
2.1.1.2.2 Layuh semu
Layuh semu terjadi akibat infeksi penyakit sifilis pada anak semasa
dalam kandungan akibat tertular oleh ibu yang mengidap penyakit sifilis,
akibatnya tulang-tulang anggota gerak pada bayi atau anak menjadi layuh atau
tidak bertenaga.
2.1.1.2.3 Kaku sendi
Kaku sendi merupakan cacat pada persendian di mana sendi tidak dapat
digerakkan. Penyakit ini disebabkan karena persendian terinfeksi penyakit
sifillis atau gonorhoe sehingga minyak sendi menjadi kering dan tidak dapat
digerakkan, misalnya pada lutut yang tidak dapat dibengkokkan. Kaku sendi
biasanya ini terjadi pada orang dewasa.
2.1.1.2.4 Kanker tulang
Virus juga dapat merusak pertumbuhan sel-sel tulang yang tidak
terkendali, sehingga di beberapa tempat pada tulang dapat tumbuh benjolanbenjolan yang dapat berpindah-pindah dan timbul rasa sakit. Penyakit ini dapat
menyebabkan kematian.
2.1.1.2.5 TBC tulang
TBC tulang adalah penyakit pada tulang akibat infeksi oleh Tubercolosis
sehingga tulang menjadi rusak.

2.1.1.3 Gangguan/kelainan tulang yang disebabkan oleh faktor keturunan


(sifat keturunan)
3

Suatu sifat keturunan pada orang tua yang bersifat menurun akan
diwariskan kepada keturunannya, sifat itu disebut gen.
Misalnya, kelainan bentuk tulang punggung yang dialami orang tua yang
disebabkan oleh gen maka akan diwariskan kepada keturunannya.

2.1.1.4 Gangguan/kelainan tulang yang disebabkan oleh makanan


Pertumbuhan tulang-tulang sangat tergantung dari makanan yang kita
makan setiap hari. Makanan yang kita makan harus mengandung zat-zat yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang. Misalnya, mengandung zat kapur, fosfor
dan vitamin D.
Kekurangan zat kapur (kalsium) dan vitamin D pada tulang, dapat
menyebabkan pertumbuhan tulang pada kaki terganggu, akibatnya tulang
menjadi lunak dan bengkok.
Jika bengkoknya ke dalam, kaki membentuk huruf X, tetapi jika
bengkoknya keluar, membentuk huruf O. Pada orang tua, jika kekurangan
kalsium maka punggung dapat membungkuk.

2.1.1.5 Gangguan mekanik


Gangguan/kelainan tulang karena kecelakaan antara lain:
2.1.1.5.1 Fraktura
Umumnya terjadi pada tulang pipa akibat benturan, kelebihan beban,
tekanan, dan lain sebagainya. Fraktura tulang sederhana yaitu keretakan tulang
yang tidak melukai organ-organ yang ada di sekelilingnya. Fraktura kompleks
adalah keretakan tulang yang menyebabkan luka pada organ di sekitarnya.
Ada beberapa jenis patah tulang, yaitu:
4

2.1.1.5.1.1 Patah tulang terbuka


Tulang yang patah mencuat keluar sehingga merobek kulit;
2.1.1.5.1.2 Patah tulang tertutup
Tulang yang patah tidak melukai kulit.
2.1.1.5.2 Fisura
Dapat diperbaiki oleh periosteum dengan membentuk kalus.

Tulang pada anak-anak berbeda dengan tulang pada orang dewasa,


perbedaannya ialah adanya lempeng pertumbuhan pada masing-masing
jenis tulang dan penutupan lempeng pertumbuhan masing-masing tulang
berbeda-beda. Fungsi dari lempeng pertumbuhan adalah membuat tulang
menjadi lebih besar dan lebih panjang seiring dengan kepadatan tulang
yang juga meningkat.
Selain itu tulang pada anak-anak dilengkapi dengan lapisan
pembungkus tulang yang lebih tebal dan lebih kuat dan bila terjadi patah
tulang, patahan tulangnya masih dalam pembungkus tulangnya sehingga
penyambungannya akan kembali ke bentuk semula, walaupun bentuk
patahannya tumpang tindih. Proses penyambungan patah tulang pada
anak-anak lebih baik dari orang dewasa karena lapisan pembungkus
tulang masih tebal, perdarahan lebih baik dan daya remodellingnya juga
baik (hal ini tidak terdapat pada proses penyambungan tulang pada orang
dewasa), hal inilah yang membuat tulang pada anak-anak lebih mudah
menyambung dan hasilnya baik siapapun yang menanganinya.

2.1.1.5.3 Urai sendi


5

jika terjadi pergeseran sendi karena selaput sendi sobek.


2.1.1.5.4 Kalus

Jika tulang yang patah akibat kecelakaan, kemudian timbul


gelembung pada bagian sambungan tulang, tempat sambungan tulang
yang menggelembung setelah sembuh.
2.1.1.5.5 Greenstick
Apabila tulang mengalami retak sebagian dan tidak sampai memisah.
2.1.1.5.6 Komminudet
Apabila tulang mengalami retak menjadi beberapa bagian tetapi tidak
sampai keluar dari otot.

2.1.1.6 Gangguan fisiologis


Gangguan fisiologis bisa disebabkan karena kelainan fungsi vitamin atau
hormon. Contoh gangguan fisiologis ialah rakhitis, mikrosefalus, hidrosefalus,
akromegali, nekrosis, dan osteoporosis.
2.1.1.6.1 Osteoporosis
Kondisi di mana tulang rapuh. keropos dan mudah patah.
Umumnya osteoporisis disebabkan oleh hormon jantan / betina yang
kurang sempurna atau akibat kekurangan asupan kalsium untuk tulang.

2.1.1.6.2 Nekrosis
Kerusakan pada selaput tulang (periosteum) hingga bagian tulang
mati dan mengering.

2.1.1.6.3 Mikrosefalus
6

Penderita kelainan ini akan mengalami keadaan di mana pertumbuhan


tulang-tulang tengkorak terlambat, sehingga bentuk kepala kecil. Kelainan ini

merupakan bawaan dari lahir. Ini disebabkan karena ketika sedang hamil,
seorang ibu kurang mendapat vitamin A dan zat kapur/kalsium. Oleh sebab itu,
ibu hamil dianjurkan banyak mengkonsumsi vitamin A yang banyak terdapat
pada sayuran yang berwarna merah dan kuning, kuning telur, mentega, minyak
ikan, hati, dan susu. Sedangkan zat kapur (kalsium) dapat diperoleh dari sayuran
kubis, brokoli, biji-bijian, susu, kerang, ikan dan keju.
2.1.1.6.4 Hidrocephalus
Suatu kelainan yang ditandai pengumpulan abnormal cairan spinal
dan terjadi pelebaran rongga dalam otak sehingga kepala membesar, disebut
juga megalochephalus.
2.1.1.6.5 Akromegali
Penyakit pada tulang pipa yang menebal karena kelebihan somatotropin
yang bersifat lokal.
2.1.1.6.6 Rakhitis
Penyakit tulang karena kekurangan vitamin D. Vitamin D berfungsi
membantu proses penimbunan zat kapur pada waktu pembentukan tulang. Jadi,
jika kekurangan vitamin D menyebabkan tulang anggota gerak berbentuk X
atau O.

2.1.2 Cara Mengatasi gangguan dan penyakit pada tulang


7

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan dan penyakit


pada tulang, antara lain :
2.1.2.1 Setiap hari makan makanan yang mengandung kalsium, fosfor,
dan vitamin D
2.1.2.2 Membiasakan duduk dengan posisi yang benar.
2.1.2.3 Memvaksinasi polio pada anak-anak balita.
2.1.2.4 Menghindari penyakit sifilis
Dengan cara hidup sehat dan berperilaku sehat serta bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.1.2.5 Berolahraga yang teratur.
2.1.2.6 Hindari kecelakaan
Dengan berhati-hati di jalan atau di tempat lain.
2.1.2.7 Seringkali mendapatkan sinar matahari pagi.
Demikian pembahasan tentang gangguan pada tulang, kelainan pada
tulang, penyakit pada tulang, gangguan pada sistem gerak beserta cara
mengatasinya.

2.1.3 Kelainan dan penyakit pada sendi


8

Berikut ini adalah contoh kelainan dan penyakit pada sendi:


2.1.3.1 Terkilir atau keseleo
Terkilir atau keseleo adalah gangguan sendi akibat gerakan pada sendi
yang tidak biasa, dipaksakan atau bergerak secara tiba-tiba. Umumnya kesleo
bisa menyebabkan rasa yang sangat sakit dan bengkak pada bagian yang
keseleo.
2.1.3.2 Dislokasi
Adalah gangguan pada sendi seseorang di mana terjadi pergeseran sendi
dari kedudukan awal.
2.1.3.3 Ankilosis
Ankilosis adalah gangguan pada sendi di menyabbkan sendi tidak dapat
digerakkan di mana ujung-ujung antar tulang serasa bersatu.
2.1.3.4 Artritis
Peradangan pada persendian yang disertai dengan rasa sakit untuk
digerakkan.
2.1.3.4.1 Atritis eksudatif
Adalah peradangan pada sendi yang menyebabkan sendi terinfeksi
dan bernanah.
2.1.3.4.2 Atritis sika
Adalah peradangan pada sendi hingga cairan sendi menjadi kering
karena kehilangan minyak sendi (sinovial).
2.1.3.4.3 Reumatoid
Merupakan penyakit kronis pada jaringan penghubung sendi.
2.1.3.4.4 Gout arthritis
Gangguan persendian karena metabolisme asam urat yang
gagal.
2.1.3.4.5 Osteoartritis

Penyakit sendi karena menipisnya tulang rawan.


2.1.3.5 Layu sendi
Adalah keadaan tidak bertenaga pada persendian akibat rusaknya cakra
epifisis tulang rongga gerak.

2.1.4 Cara Menjaga Kesehatan Tulang Sendi


Dibawah ini adalah salah satu cara menjaga kesehatan sendi, yaitu :
2.1.4.1 Hindari Duduk Terlalu Lama
Bagi para pegawai kantor, duduk menjadi hal yang sering dilakukan,
apalagi ketika bekerja menghadapi monitor komputer. Padahal duduk dalam
waktu yang lama bisa menimbulkan beberapa gangguan yang menyerang
bagian-bagian tubuh tertentu, terutama bagian sendi. Maka dari itu, sebaiknya
hindari duduk terlalu lama. Anda harus selingi dengan berdiri atau berjalan
pendek agar sendi menjadi lemak dan tidak kaku.

2.1.4.2 Nyamankan Posisi Duduk


Selain dengan sesekali berdiri atau berjalan pendek, sebaiknya posisi
duduk juga harus diperhatikan. Sebisa mungkin untuk membuat tubuh dalam
keadaan posisi yang tepat dan nyaman. Hal ini sangat penting, untuk mencegah
nyeri sendi yang kapan saja bisa datang.
2.1.4.3 Rilekskan Tubuh
Sebisa mungkin untuk menjaga tubuh tetap santai dan hindari stres dan
ketegangan. Pada saat tubuh tegang, maka bagian-bagian tubuh tertentu akan
menimbulkan tekanan yang cukup tinggi pada sendi dan apabila hal ini terjadi
terus-menerus bisa berakibat buruk bagi kesehatan sendi. Maka dari itu, jaga
tubuh tetap rileks dan hindari keadaan tubuh yang tegang karena bisa
mempengaruhi kesehatan sendi Anda.

2.1.4.4 Luangkan Waktu untuk10


Istirahat

Ketika bekerja tentu saja ada waktu luang yang telah disedikan untuk
berisitirahat. Manfaatkan waktu istirahat tersebut untuk mengistirahatkan tubuh
dan rilekskan tubuh Anda sehingga ketika Anda bekerja kembali menjadi lebih
maksimal. Ketika tubuh berisitirahat dengan tenang, maka bagian sendi juga
menjai lebih rileks.
2.1.4.5 Makanan yang Tepat
Makanan juga merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga
kesehatan sendi Anda. Karena itu, pilihlah makanan yang memiliki nutrisi yang
tepat sehingga baik bagi tubuh termasuk baik juga bagi kesehatan tulang dan
bagian sendi Anda. Untuk membantu dalam proses pembentukan sel-sel sendi
yang sehat bisa dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung omega 3
dan vitamin C, vitamin D dan juga kalsium.
2.1.4.6 Olahraga secara Teratur
Olahraga secara teratur merupakan hal yang wajib dilakukan untuk
menjaga kesehatan sendi Anda. Minimal Anda harus meluangkan waktu untuk
berjalan-jalan sebentar pada pagi hari. Selain masih segar, udara pagi juga
bermanfaat untuk kesehatan tulang, apalagi jika mendapatkan sinar matahari
pada pagi hari. Sinar matahari bisa merangsang tubuh untuk memproduksi
vitamin D. Selain berjalan-jalan, olahraga lain yang dapat menguatkan tulang
yakni aerobik misalnya beresepeda atau berenang.
2.1.4.7 Jaga Berat Badan
Untuk menjaga kesehatan sendi, menjaga berat badan merupakan
salahsatu hal yang harus diperhatikan. Berat badan akan memberikan beban
pada persendian, misal pada sendi lutut, pinggul dan punggung. Hal tersebutlah
yang menjadikan masalah sendi pada orang yang memiliki berat badan berlebih.
Jika Anda memiliki berat badan berlebih sebaiknya segera turunkan berat badan
Anda sehingga tekanan sendi akan menjadi lebih berkurang.
2.1.4.8 Membentuk Otot
Memiliki otot yang kuat bisa membantu fungsi sendi dengan baik. Untuk
membentuk otot, diperlukan latihan beban. Namun, Anda harus berhati-hati
memilih latihan beban untuk tubuh Anda. Sebaiknya konsultasikan terlebih
dahulu dengan dokter untuk mendapatkan saran terbaik.

2.1.4.9 Batasi Latihan


11

Meskipun Olahraga baik bagi kesehatan tubuh. Tetapi sebaiknya Anda


hindari beberapa olahraga yang bisa jadi terlalu berat bagi persendian Anda.
Maka dari itu pilihlah olahraga yang tidak membuat sendi Anda bermasalah.

2.1.5 Kelainan dan penyakit pada otot


Kelainan dan penyakit pada otot diantaranya yaitu:
2.1.4.1 Atropi
Suatu kondisi dimana otot mereduksi atau mengecil sehingga tidak kuat
untuk melakukan gerakan.
2.1.4.2 Hipertropi
Suatu kondisi dimana otot membesar. Hal ini disebabkan aktivitas otot
yang berlebihan (misalnya bekerja atau olah raga)
2.1.4.3 Hernia abdominal
Apabila dinding otot abdominal (bagian perut) sobek pada bagian yang
lemah. Akibatnya usus menjadi melorot ke bawah masuk kedalam rongga perut.
2.1.4.4 Kelelahan otot
Terjadi karena otot terus menerus melakukan aktivitas dan pada
puncaknya terjadi kram atau kekejangan.
2.1.4.5 Stiff
Terjadi karena peradangan otot trapesius leher akibat kesalahan gerak,
sehingga leher menjadi sakit dan terasa kaku jika diherakkan.
2.1.4.6 Tetanus
Merupakan penyakit yang menyebabkan otot menjadi kejang karena
toksin bakteri tetanus (Clostridium tetani) yang masuk ke dalam luka.
2.1.4.7 Distrofi otot
Merupakan penyakit kronis pada otot sejak anak-anak dan diduga
merupakan penyakit genetis (bawaan).
2.1.4.8 Miestenia gravis
Adalah melemahnya otot secara berangsur-angsur sehingga menyebabkan
kelumpuhan bahkan kematian.
12

2.1.6 Cara Menjaga Kesehatan Otot


Menjaga kesehatan otot dan mengantisipasi jika terjadi kelainan pada
otot. Usaha-usaha tersebut antara lain :
2.1.5.1 Latihan otot dapat membuat otot menjadi kuat, sehingga dapat
terhindar dari atrofi otot;
2.1.5.2 Melakukan olahraga secara teratur;
2.1.5.3 Aktivitas yang banyak menyebabkan otot lelah sehingga dapat
mengakibatkan kram otot, untuk itu kita dapat mengatur aktivitas supaya tidak
terjadi gangguan otot;
2.1.5.4 Hindarilah stres berat dengan pola hidup yang benar

13

2.2 Pemanfaatan teknologi dalam mengatasi gangguan sistem


gerak
2.2.1 Sinar-X Pada Tulang Belakang
Tes ini memungkinkan pemeriksaan terhadap seluruh rangkaian tulang
belakang atau sebagian. Pada umumnya tes ini digunakan untuk mengevaluasi
deformitas, patah tulang, dislokasi dan kelainan lain pada tulang belakang.
Sinar-X pada tulang menggambarkan densitas, tekstur, erosi dan perubahan
yang terjadi pada sambungan tulang. SinarX pada sendi dapat menampakkan
adanya cairan pembentukan taji, dan perubahan pada struktur sendi.

2.2.1.1 Mengapa pemeriksaan sinar-X pada tulang belakang


dilakukan?
Sinar-X pada tulang belakang dilakukan karena beberapa alasan berikut
ini :
2.2.1.1.1 Untuk mendeteksi patah tulang, dislokasi, subluksasi, dan
deformitas.
2.2.1.1.2 Untuk mendeteksi kelainan degeneratif, infeksi dan
kengenital.
2.2.1.1.3 Untuk mendeteksi kelainan pada ruas intravertebra
2.2.1.1.4 Untuk menentukan efek arthritis dan kondisi-kondisi lain
pada tulang belakang

2.2.1.2 Apa yang harus Anda ketahui sebelum pemeriksaan sinar-X


pada tulang belakang?
2.2.1.2.1 Anda akan mempelajari pemeriksaan sinar-X pada tulang
belakang, termasuk siapa yang akan melakukan, dimana dan perkiraan
lamanya tes (sekitar 15 sampai 30 menit). Selama tes Anda akan
diposisikan dengan berbagai posisi terhadap film sinar-X. Walaupun
beberapa posisi akan sedikit tidak nyaman, cobalah untuk tidak bergerak.
Jika Anda bergerak maka hasil tes menjadi tidak akurat.
2.2.1.2.2 Anda tidak perlu berpuasa sebelum tes.

14

2.2.1.3 Apa yang terjadi selama pemeriksaan sinar-X pada tulang


belakang?
2.2.1.3.1 Untuk smeentara Anda dibaringkan terlentang di meja
penyinaran untuk penyinaran dari depan ke belakang.
2.2.1.3.2 Anda mungkin akan diubah posisinya pada sisi sampig
untuk sinar-X tambahan, tergantung tulang belakang yang akan
diperiksa.

2.2.1.4 Apa yang terjadi setelah pemeriksaan sinar-X pada tulang


belakang?
Anda akan menerima obat anti nyeri dan bantalan penghangat untuk
menghilangkan rasa nyeri.

2.2.1.5 Apakah tes ini berisiko?


Sinar-X pada tulang belakang tidak boleng dilakukan pada wanita hamil
tiga bulan pertama, kecuali keuntungannya lebih besar dari risiko pemaparan
janin terhadapa sinar-X

2.2.1.6 Apa yang dimaksud dengan hasil yang normal?


Tulang belakang tidak tampak ada patah tulang, dislokasi, pelengkungan,
atau kelainan lainnya. Posisi spesifik dan perenggangan tulang belakang dapat
bervariasi sesuai umur penderita.

2.2.1.7 Apa yang dimaksud dengan hasil abnormal?


Pembacaan hasil sinar-X menunjukkan adanya penggeseran letak, patah
tulang, dislokasi, pemipihan, dan beberapa deformitas seperti kifosis, scoliosis,
dan lordosis. Informasi dari tes ini dapat digunakan untuk mengkonfirmasi
beberapa kelainan. Kelainan ini meliputi keabnormalan congenital, seperti
osteoarthritis dan penyempitan antaruas, tumor spinal jinak atau aganas; rupture
ruas tulang dan sindroma ruas cervical; arthritis rheumatoid, spondylitis
ankylosing, osteoporosis dan penyakit paget.
Tergantung pada hasil sinar-X diagnosa pasti mungkin memerlkan tes
tambahan seperti CAT scan.

15

2.2.2 Scanning Tomografi Terkomputerisasi Pada Tulang


Belakang.
Scanning Tomografi Terkomputerisasi menghasilkan citra tulang
belakang yang detail dan beresolusi tinggi. Selama proses scanning
berlangsung, penyinaran sinar-X ganda diarahkan pada tulang belakang dari
berbagai sudut. Sinar-X melalui tubuh dan ditangkap oleh detector radiasi yang
menghasilkan getaran listrik yang dikonversikan oleh sebuah computer menjadi
citra tiga dimensi. Citra tersebut ditampikan pada layar monitor.

2.2.2.1 Mengapa Scanning Tomografi Terkomputerisasi dilakukan?


Scanning Tomografi Terkomputerisasi pada tulang belakang dapat
dilakukan dengan alasan sebagai berikut:
2.2.2.1.1 Untuk mengetahui visualisasi tulang belakang
2.2.2.1.2 Untuk mendiagnosa lesi tulang belakang kerusakan
jaringan dan abnormalitas lainnya.

2.2.2.2 Apa yang seharusnya Anda ketahui sebelum Scanning


Tomografi Terkomputerisasi pada tulang belakang?
2.2.2.2.1 Jika tidak menggunakan cairan kontras Anda tidak perlu
membatasi makanan dan minuman sebelum tes. Tetapi jika digunakan
suatu cairan kontras selama tes , maka Anda diminta untuk berpuasa
selama 4 jam sebelum tes.
2.2.2.2.2 Seorang perawat atau teknisi akan menjelaskan
prosedurnya pada Anda tes ini berlangsung 30-60 menit.
2.2.2.2.3 Cara ini tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi bila
dilakukan dalam jangka waktu yang lama mungkin akan menimbulkan
sedikit rasa yang kurang nyaman.
2.2.2.2.4 Jika digunakan cairan kontras, setelah cairan disuntikkan
Anda akan merasa hangat, kemerah-merahan dan mungkin mengalami
sakit kepala singkat, rasa asin, dan mual atau ingin muntah. Reaksi
tersebut normal.
2.2.2.2.5 Anda akan diminta mengenakan baju rumah sakit atau
pakaian yang nyaman serta menanggalkan benda-benda logam di tempat
yang akan di scan.

16

2.2.2.2.6 Riwayat kesehatan akan diperiksa apakah pernah


mengalami reaksi alergi terhadap kerang-kerangan, yodium atau cairan
khusus. Jika pernah mengalami Anda akan menerima pengobatan
alternative atau tes dilakukan tanpa cairan kontras.
2.2.2.2.7 Anda diminta untuk menandatangani pernyataan
kesediaan melakukan tes sebelum tes dilaksanakan.

2.2.2.3 Apa yang terjadi selama tes Scanning Tomografi


Terkomputerisasi pada tulang belakang?
2.2.2.3.1 Anda diminta untuk berbaring pada meja khusus dalam
suatu unit alat scanning dan diminta untuk tenang.
2.2.2.3.2 Meja bergerak menuju lubang sirkuler dari unit scannner.
Scanner berputar di sekeliling Anda, mengambil gambar pada intervalinterval yang dtentukan.
2.2.2.3.3 Setelah scanning pertama dilakukan Anda dipindah dari
scanner. Cairan kontras disuntikkan.
2.2.2.3.4 Anda diperiksa apakah tejadi tanda-tanda, gejala-gejala
reaksi hipersensitivitas, seperti gatal-gatal, ruam dan kesulitan pernafasan
selama 30 menit setelah cairan disuntikkan.
2.2.2.3.5 Setelah cairan disuntikkan Anda dipindah kembali
menuju scanner dan dilakukan scanning selanjutnya. Citra yang diperoleh
ditampilkan pada monitor video selama proses berlangsung dan direkam
pada pita magnetic..

2.2.2.4 Apa yang terjadi setelah tes Scanning Tomografi


Terkomputerisasi pada tulang belakang?
2.2.2.4.1 Setelah dilakukan scanning dengan cairan kontras Anda
juga dimonitor apakah terjadi efek samping dari penggunaan cairan
kontras seperti sakit kepala, mual dan ingin muntah.
2.2.2.4.2 Anda dapat melanjutkan kembali pola makan sepeerti
biasa.

17

2.2.2.5 Apakah tes Scanning Tomografi Terkomputerisasi pada


tulang belakang berisiko?
2.2.2.5.1 Scanning Tomografi Terkomputerisasi dengan cairan
kontras tidak direkomendasikan bagi mereka yang hipersensitif terhadapa
yodium, kerang-kerangan atau cairan kontras yang digunakan pada studi
radiografi.
2.2.2.5.2 Beberapa orang mengalami perasaan klaustrofobia atau
mengalami cemas ketika mereka masuk dalam unit Scanning Tomografi
Terkomputerisasi. Obat sedative ringan dapat diberikan untuk
mengurangi kecemasan.

2.2.2.6 Apa yang dimaksud dengan hasil normal?


Dalam citra tomografi computer, jaringan tulang belakang tampak
putih, hitam atau abu-abu tergantung densitasnya..

2.2.2.7 Apa yang dimaksud dengan hasil yang abnormal?


Dengan menandai daerah-daerah yang berubah densitasnya dan
citra malformasi struktur, sebuah Scanning Tomografi Terkomputerisasi dapat
mengungkapkan. Jenis-jenis yang berbeda suatu kerusakan jaringan tulang
belakang dan abnormalitasnya.
Khususnya Scanning Tomografi Terkomputerisasi berguna dalam deteksi
dan identifikasi tumor. Scanning Tomografi Terkomputerisasi juga dapat
mengungkapkan proses degeneratif dan perubahan struktur, seperti kompresi
system saraf tulang belakang. Tipe lain kelainan-kelainan ditunjukkan sebagai
perubahan jaringan yang tertekan, yang akan berakibat kompresi saraf.
Malformasi pembuluh darah, akan menjadi jelas setelah disuntikkan cairan
kontras, akan tampak sebagai gumpalan atau massa. Malformasi tulang
belakang congenital, seperti spina bifida, ditunjukkan dengan ukurannya yang
membesar secara abnormal, serta celah gelap antara ruas tulang belakang.

18

2.2.3 Pencitraan Resonansi Magnetik Pada Rangka


Pencitraan resonansi magnetik adalah teknik diagnostic tanpa adanya
benda yang memasuki tubuh, yang menghasilkan citra yang jelas dari tulang
dan jaringan lunak. Pencitraan resonansi magnetic pada rangka menghasilkan
citra 3 dimensi dari suatu area yang tidak dapat diperoleh dengan mudah dengan
menggunakan sinar-X atau Scanning Tomografi Terkomputerisasi. Metode ini
mengurangi beberapa risiko yang berhubungan dengan pemaparan sinar-X yang
menyebabkan bahaya terhadap sel yang tidak diketahui.

2.2.3.1 Mengapa tes Pencitraan resonansi magnetic pada


rangka dilakukan?
Pencitraan resonansi magnetic pada rangka dapat dilakukan dengan
alasan-alasan sebagai berikut:
2.2.3.1.1 Untuk memeriksa tulang dan jaringan-jaringan
lunak.
2.2.3.1.2 Untuk mengevaluasi tumor tulang dan jaringan
lunak.
2.2.3.1.3 Untuk mengidentifikasi perubahan komposisi
sumsum tulang
2.2.3.1.4 Untuk mengidentifikasi kelainan-kelainan tulang
belakang.

2.2.3.2 Apa yang seharusnya Anda ketahui sebelum tes


Pencitraan resonansi magnetic pada rangka?
2.2.3.2.1 Tes Pencitraan resonansi magnetic pada rangka
membutuhkan waktu sampai 90 menit. Walaupun Pencitraan
resonansi magnetic pada rangka tidak menimbulkan rasa sakit dan
tidak melibatkan paparan radiasi, cairan kontras radioaktif
mungkin digunakan tergantung pada jenis jaringan yang diperiksa.
2.2.3.2.2 Seorang perawat atau teknisi akan menjelaskan
prosedurnya. Anda akan mengetahui bahwa pintu masuk untuk
kepala dan badan pernah menjadi masalah Anda, obat sedative
ringan mungkin saja membantu Anda.
2.2.3.2.3 Sementara dilakukan tes Pencitraan resonansi
magnetic pada rangka, Anda akan mendengar alat menghentak,
menderu dan mengetuk-ngetuk selama alat tersebut bergerak di

tempatnya. Anda dapat berkomunikasi dengan teknisi sepanjang


waktu.
2.2.3.2.4 Anda diminta untuk menanggalkan seluruh bendabenda logam, termasuk perhiasan, jepit rambut atau jam tangan
sebelum tes.
19
2.2.3.2.5 Ceritakan pada teknisi jika Anda mempunyai sandi
implantasi, jepit, klip, katup, pompa atau alat pacu jantung yang
mengandung logam. Jika Anda menggunakannya Anda tidak dapat
menjalani tes ini.
2.2.3.2.6 Anda diminta untuk menandatangani kesediaan
menjalankan tes Pencitraan resonansi magnetic pada rangka
sebelum tes.

2.2.3.3 Apa yang terjadi sebelum tes?


2.2.3.3.1 Pada pintu ruangan Anda diperiksa untuk terakhir
kali apakah terdapat benda-benda logam.
2.2.3.3.2 Anda ditempatkan di atas tempat tidur yang sempit
yang bergerak menuju tempat scanner. Kipas angin secara terus
menerus menggerakan udara di dalam tempat scanner dan ada
sebuah bel untuk memanggil atau intercom digunakan alat
komunikasi verbal
2.2.3.3.3 Anda diharuskan tetap tenang selama prosedur
dilakukan.

2.2.3.4 Apa yang terjadi setelah tes Pencitraan resonansi


magnetic pada rangka?
2.2.3.4.1 Jika tes Pencitraan resonansi magnetic pada rangka
dilakukan untuk jangka waktu yang lama, Anda akan merasakan
sakit kepala ringan atau pingsan ketika bangun atau berdiri.
2.2.3.4.2 Anda dapat melanjutkan kembali ke aktivitasaktivitas normal setelah tes.

2.2.3.5 Apakah tes Pencitraan resonansi magnetic pada rangka


berisiko?
2.2.3.5.1 Pencitraan resonansi magnetic pada rangka tidak
dapat dilakukan pada orang yang menggunakan alat pacu jantung,
klip aneurisma intracranial,atau alat-alat implantasi yang terbuat

dari besi atau logam. Ventilator, pompa infuse intravena dan alatalat penunjang computer harus dijauhkan dari daerah Pencitraan
resonansi magnetic pada rangka.
2.2.3.5.2 Jika diperlukan, kadar oksigen darah, detak jantung
20
dan status pernafasan dimonitor
selama tes. Seorang ahli anastesi
depat memonitor orang yang sedasi berat.

2.2.3.6 Apa yang dimaksud dengan hasil normal?


Hasil Pencitraan resonansi magnetic pada rangka tidak
menunjukkan adanya kelainan pada tulang, otot dan sendi.

2.2.3.7 Apa yang dimaksud dengan hasil yang abnormal?


Pencitraan resonansi magnetic pada rangka sangat sempurna
memberikan citra penyakit-penyakit tulang belakang dan saraf tulang
belakang. Serta bagi identifikasi tumor tulang. Hal ini membantu
menggambarkan otot-otot, ligament dan tulang. Gambar-gambar tersebut
menggambarkan dengan jelas kondisi, jinak dan ganasnya suatu kanker.

21

2.2.4 Scanning Tomografi Terkomputerisasi Pada


Rangka
Scanning tomografi terkomputerisasi pada rangka memberikan
serangkaian citra sinar-X dari tulang-tulang rangka. Sebuah computer
mengkonstruksi citra ini menjadi citra yang terpisah-pisah yang
ditampilkan pada layar monitor.
Teknik khusus, seperti yang menggunakan cairan yang disebut
cairan kontras, meningkatkan resolusi dan akurasi citra. 1000 dari 2000
citra dapat dikombinasikan untuk menciptakan citra 3 dimensi dari
tulang.

2.2.4.1 Mengapa tes Scanning tomografi


terkomputerisasi pada rangka dilakukan?
2.2.4.1.1 Scanning tomografi terkomputerisasi pada
rangka dapat dilakukan dengan alasan-alasan sebagai
berikut:
2.2.4.1.2 Untuk memungkinkan dokter mengamati
tulang-tulang dan persendian.
2.2.4.1.3 Untuk memeriksa tumor tulang, penyebaran
kanker melalui rangka dan tumor jaringan lunak.
2.2.4.1.4 Untuk mendiagnosa abnormalitas sendi yang
sulit dideteksi dengan metoda lain.

2.2.4.2 Apa yang seharusnya Anda ketahui sebelum


pemeriksaan?
2.2.4.2.1 Jika cairan kontras tidak digunakan, Anda
tidak perlu membatasi makanan dan minuman sebelum tes
Scanning tomografi terkomputerisasi pada rangka. Jika
digunakan cairan kontras Anda diminta untuk puasa selama
4 jam sebelum tes Scanning tomografi terkomputerisasi pada
rangka.
2.2.4.2.2 Tes Scanning tomografi terkomputerisasi
pada rangka membutuhkan waktu 30-60 menit dan tidak
menimbulkan rasa sakit.
2.2.4.2.3 Seorang perawat atau teknisi akan
menjelaskan prosedurnya pada Anda. Anda diminta untuk

berbaring setenang mungkin selama tes Scanning tomografi


terkomputerisasi pada rangka karena pergerakan akan
menyebabkan pengaburan citra.
2.2.4.2.4 Jika digunakan
cairan kontras, Anda akan
22
merasa hangat, kemerah-merahan dan mungkin akan
mengalami sakit kepala singkat, rasa asin di mulut, mual
atau ingin muntah setelah cairan kontras disuntikkan. Reaksi
tersebut normal.
2.2.4.2.5 Anda diminta untuk mengenakan baju rumah
sakit dan menanggalkan barang-barang yang mengandung
logam serta perhiasan-perhiasan yang mungkin akan muncul
pada daerah sinar-X.
2.2.4.2.6 Anda akan diminta untuk menandatangani
pernyataan kesediaan menjalankan tes Scanning tomografi
terkomputerisasi pada rangka sebelum menjalani tes.
2.2.4.2.7 Histori pengobatan anda akan diperiksa
apakah pernah terjadi reaksi terhadap yodium, kerangkerangan atau cairan kontras pada tes medis lain. Jika Anda
pernah mengalami reaksi-reaksi tersebut dokter akan
memberikan obat-obat tertentu sebelum tes atau dipilih
untuk tidak menggunakan cairan kontras.
2.2.4.2.8 Jika Anda merasa cemas atau khawatir
tentang prosedur yang akan dijalani, obat sedative ringan
akan diberikan.

2.2.4.3 Apa yang terjadi selama tes Scanning tomografi


terkomputerisasi pada rangka?
2.2.4.3.1 Anda ditempatkan di atas meja sinar-X dan
diminta untuk tenang.
2.2.4.3.2 Meja akan bergerak menuju pintu sirkuler
pada scanner. Computer pengontrol pada scanner berputar
mengelilingi Anda dan melakukan scanning berkali-kali.
2.2.4.3.3 Setelah scanning yang pertama dilakukan
Anda akan dipindahkan dari scanner, kemudian cairan
kontras akan diberikan bila diperlukan.

23

2.2.4.3.4 Anda diamati apakah terjadi tanda-tanda dan


gejala-gejala reaksi pernafasan, selama 30 menit setelah
cairan kontras disuntikkan.
2.2.4.3.5 Setelah cairan kontras disuntikkan, Anda
akan dipindahkan kembali ke dalam alat scanner dan
serangkaian scanning dilakukan. Citra yang dihasilkan dari
proses scanning ditampilkan dalam monitor video dan
disimpan dalam pita magnetic untuk membuat rekaman
permanent untuk penelitian lebih lanjut.

2.2.4.4 Apa yang terjadi setelah tes Scanning tomografi


terkomputerisasi pada rangka?
2.2.4.4.1 Jika digunakan cairan kontras Anda akan
diamati untuk kemungkinan adanya reaksi alergi yang
tertunda dan diberikan perawatan yang tepat bila diperlukan.
2.2.4.4.2 Anda diminta untuk minum sebanyakbanyaknya untuk membantu pengeluaran cairan dari system
tubuh Anda.
2.2.4.4.3 Anda dapat melanjutkan kembali aktivitas
sehari-hari dan kembali pada pola makan semula.

2.2.4.5 Apakah tes Scanning tomografi terkomputerisasi pada


rangka berisiko?
2.2.4.5.1 Orang-orang yang alergi terhadap yodium, kerangkerangan atau cairan kontras tidak seharusnya menjalani Scanning
tomografi terkomputerisasi pada rangka dengan cairan kontras,.
2.2.4.5.2 Beberapa orang mungkin mengalami klaustrofobia
atau kecemasan ketika memasuki alat scanner. Bagi mereka
mungkin akan diberikan sedative ringan untuk membantu
mengurangi kecemasan.
2.2.4.5.3 Bagi orang-orang dengan nyeri tulang atau sendi,
obat penahan rasa sakit diberikan sehingga dapat tetap tenang
selama berlangsung scanning.

2.2.4.6 Apa yang dimaksud dengan hasil normal?


Hasil scanning menunjukkan tidak terdapat masalah pada tulang
dan persendian.
24

2.2.4.7 Apa yang dimaksud dengan hasil yang abnormal?


Karena dapat ditampilkan citra potongan melintang tubuh,
Scanning tomografi terkomputerisasi pada rangka berguna untuk
memeriksa tulang bahu, pelvis, tulang belakang dan tulang pinggul. Hasil
scanning dapat mengungkapkan beberapa tumor tulang dan tumor jarring
lunak sebagaimana dapat juga diamati kanker yang telah menyebar dari
satu bagian ke bagian yang lain. Dapat juga mengungkapkan kelainankelainan sendi yang sulit untuk dideteksi tes lain.

25

2.2.5 Scanning Tomografi Terkomputerisasi Pada Dada


Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada menghasilkan citra
dengan potongan melintang dada dengan cara melewatkan pancaran sinar-X
dari suatu alat scanning yang terkomputerisasi pada seluruh tubuh dengan
sudut-sudut yang berbeda. Nama lainnya adalah Tomografi Thorax
Terkomputerisasi.
Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada dapat dilakukan dengan
atau tanpa injeksi cairan kontras. Cairan kontras adalah cairan khusus yang
menandai pembuluh darah dan mengahasilkan citra yang lebih jelas.
Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada menghasilkan citra tiga
dimensi dan khususnya berguna dalam deteksi perubahan kecil densitas pada
jaringan. Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada juga memberikan
informasi dalam diagnosa massa di dada dan penyakit Hodgkin. Juga
bermanfaat bagi evaluasi kelainan-kelainan paru-paru.

2.2.5.1 Mengapa tes Scanning tomografi terkomputerisasi


pada dada dilakukan ?
Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada dapat dilakukan
dengan alasan-alasan sebagai berikut :
2.2.5.1.1 Untuk mendapatkan sedikit perubahan densitas
jaringan.
2.2.5.1.2 Untuk menentukan dugaan adanya tumor, seperti
penyakit Hodgkin.
2.2.5.1.3 Untuk membedakan tumor dengan perubahan
jaringan lunak lainnya, seperti perubahan yang mengindikasikan
tuberculosis.
2.2.5.1.4 Untuk membedakan tumor dekat aorta dengan
aneurisma aorta.
2.2.5.1.5 Untuk mendetekasi pergerakan massa di leher
menuju dada.
2.2.5.1.6 Untuk mengevaluasi nodus limfa di daerah dada.

2.2.5.2 Apa yang seharusnya Anda ketahui sebelum tes


Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada?

26

2.2.5.2.1 Jika cairan kontras tidak digunakan, Anda tidak


perlu membatasi makanan dan minuman sebelum tes Scanning
tomografi terkomputerisasi pada dada. Jika digunakan cairan
kontras Anda diminta untuk puasa selama 4 jam sebelum tes
Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada.
2.2.5.2.2 Tes Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada
membutuhkan waktu 90 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit.
2.2.5.2.3 Seorang perawat atau teknisi akan menjelaskan
prosedurnya pada Anda. Anda diminta untuk berbaring setenang
mungkin selama tes Scanning tomografi terkomputerisasi pada
dada karena pergerakan akan menyebabkan pengaburan citra.
2.2.5.2.4 Jika digunakan cairan kontras disuntikkan ke vena
di lengan bawah Anda, Anda akan merasa hangat, kemerahmerahan dan mungkin akan mengalami sakit kepala singkat, rasa
asin di mulut, mual atau ingin muntah setelah cairan kontras
disuntikkan. Reaksi tersebut normal.
2.2.5.2.5 Anda diminta untuk mengenakan baju rumah sakit
dan menanggalkan barang-barang yang mengandung logam serta
perhiasan-perhiasan yang mungkin akan muncul pada daerah sinarX.
2.2.5.2.6 Anda akan diminta untuk menandatangani
pernyataan kesediaan menjalankan tes Scanning tomografi
terkomputerisasi pada dada sebelum menjalani tes.
2.2.5.2.7 Histori pengobatan anda akan diperiksa apakah
pernah terjadi reaksi terhadap yodium, kerang-kerangan atau cairan
kontras pada tes medis lain. Jika Anda pernah mengalami reaksireaksi tersebut dokter akan memberikan obat-obat tertentu sebelum
tes atau dipilih untuk tidak menggunakan cairan kontras.
2.2.5.2.8 Jika Anda merasa cemas atau khawatir tentang
prosedur yang akan dijalani, obat sedative ringan akan diberikan.

2.2.5.3 Apa yang terjadi selama tes Scanning tomografi


terkomputerisasi pada dada?
Anda ditempatkan di atas meja sinar-X dan diminta untuk tenang.

27

2.2.5.3.1 Meja akan bergerak menuju pintu sirkuler pada


scanner. Computer pengontrol pada scanner berputar mengelilingi
Anda dan melakukan scanning berkali-kali.
2.2.5.3.2 Setelah scanning yang pertama dilakukan Anda
akan dipindahkan dari scanner, kemudian cairan kontras akan
diberikan bila diperlukan.
2.2.5.3.3 Anda diamati apakah terjadi tanda-tanda dan
gejala-gejala reaksi pernafasan, selama 30 menit setelah cairan
kontras disuntikkan.
2.2.5.3.4 Setelah cairan kontras disuntikkan, Anda akan
dipindahkan kembali ke dalam alat scanner dan serangkaian
scanning dilakukan. Citra yang dihasilkan dari proses scanning
ditampilkan dalam monitor video dan disimpan dalam pita
magnetic untuk membuat rekaman permanent untuk penelitian
lebih lanjut.

2.2.5.4 Apa yang terjadi setelah tes Scanning tomografi


terkomputerisasi pada dada?
2.2.5.4.1 Jika digunakan cairan kontras Anda akan diamati
untuk kemungkinan adanya reaksi alergi yang tertunda dan
diberikan perawatan yang tepat bila diperlukan.
2.2.5.4.2 Anda diminta untuk minum sebanyak-banyaknya
untuk membantu pengeluaran cairan dari system tubuh Anda.
2.2.5.4.3 Anda dapat melanjutkan kembali aktivitas seharihari dan kembali pada pola makan semula.

2.2.5.5 Apakah tes Scanning tomografi terkomputerisasi pada


dada berisiko?
Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada tidak direkomendasikan
untuk wanita hamil atau jika digunakan cairan juga tidak direkomendasikan
pada orang yang alergi terhadap yodium, kerang-kerangan atau cairan yang
digunakan pada tes sinar-X

28

2.2.5.6 Apa yang dimaksud dengan hasil normal?


Daerah hitam dan putih pada hasil Scanning tomografi terkomputerisasi
pada dada membantu ahli radiology untuk membedakan densitas udara dan
tulang. Bayangan abu-abu berkaitan dengan densitas air, lemak dan jaringan
lunak.

2.2.5.7 Apa yang dimaksud dengan hasil yang abnormal?


Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada mengungkapkan tumor,
nodul, kista, aneurisma aorta, pembesaran nodus limfa, efusi pleural dan
akumulasi darah, cairan atau lemak.

2.2.6 Scanning Tulang


29

Scanning tulang digunakan untuk memeriksa rangka dan membantu


dokter mendeteksi kanker dan masalah lain jauh sebelum deteksi sinar-X
memungkinkan. Dalam prosedur Scanning tulang dokter menyuntikkan larutan
radiaktif ringan pada vena lengan Anda. Larutan terakumulasi dalam jaringan
tulang dimana terdapat abnormalitas. Kamera khusus menyorot seluruh tubuh
skema tes dan dapat menentukan tempat-tempat yang abnormal, yang disebut
hot spot.

2.2.6.1 Mengapa tes Scanning tulang dilakukan?


Scanning tulang dapat dilakukan dengan alasan-alasan sebagai
berikut:
2.2.6.1.1 Untuk mendeteksi atau menjaga kemungkinan
adanya tumor tulang ketika hasil sinar-X normal, tetapi
dikonfirmasikan adanya kanker.
2.2.6.1.2 Untuk mendeteksi fraktur tulang yang sulit
ditemukan
2.2.6.1.3 Untuk memonitor kelainan-kelainan tulang
degeneratif.
2.2.6.1.4 Untuk mendeteksi infeksi tulang.
2.2.6.1.5 Untuk mengevaluasi nyeri tulang yang belum dapat
dijelaskan pernyebabnya.

2.2.6.1.6 Apa yang seharusnya Anda ketahui sebelum tes


Scanning tulang?
2.2.6.1.7 Anda akan mempelajari, siapa yang akan
menjalankan tes dan dimana. Selama tes Anda diminta bergantiganti posisi di atas meja scanner. Anda harus tetap tenang selama
tes.
2.2.6.1.8 Anda akan diberi penjelasan tentang proses
tersebut, yang akan berlangsung sekitar 1 jam, tes Scanning tulang
tidak menyebabkan rasa sakit dan larutan radioaktif mengemisikan
lebih sedikit radioaktif daripada sinar-X yang lain.
2.2.6.1.9 Perawat akan meminta Anda untuk buang air kecil
sebelum dilakukan tes dan akan diberi obat penahan rasa sakit.

30

2.2.6.1.10 Anda diminta untuk menandatangani pernyataan


kesediaan untuk menjalani tes Scanning tulang. Bacalah baik-baik
dan tanyakan bila terdapat bagian yang kurang jelas.

2.2.6.2 Apa yang terjadi selama tes Scanning tulang?


2.2.6.2.1 Dokter menyuntikkan larutan ke dalam vena di
lengan Anda. Selama 1-3 jam selanjutnya, Anda diminta untuk
minum 4-6 gelas (sekitar 2 liter) air atau teh.
2.2.6.2.2 Setelah itu, anda diminta berbaring di atas meja
scanner. Scanner bergerak ke depan dan ke belakang di atas tubuh
Anda. Alat tersebut mendeteksi kadar rendah radiasi yang
diemisikan oleh rangka dan diterjemahkan ke dalam film atau
kertas, atau keduanya.
2.2.6.2.3 Scanner mengambil citra yang sesuai dengan
kebutuhan untuk suatu area.
2.2.6.2.4 Anda dapat mengubah posisi beberapa kali selama
tes untuk mendapatkan citra yang terbaik.

2.2.6.3 Apa yang terjadi selama tes?


Anda mungkin aka mengalami pembengkakan dan pucat pada
tempat bekas suntikan.

2.2.6.4 Apakah tes Scanning tulang berisiko?


Sebaiknya tes Scanning tulang tidak dilakukan pada masa
kehamilan dan menyusui.

2.2.6.5 Apa yang dimaksud dengan hasil yang normal?


Larutan akan terkonsentrasi pada jaringan tulang, terletak di daerah
pembentukan tulang baru.

2.2.6.6 Apa yang dimaksud dengan hasil abnormal?


Walaupun Scanning tulang menunjukkan hot spot yang
mengidentifikasikan letak formasi tulang, hal tersebut tidak membedakan
formasi tulang yang normal dan yang abnormal. Tetapi hasil scaning
dapat mengidentifikasi semua jenis kanker tulang, infeksi, fraktur, dan
kelainan-kelainan lain yang diperolah pada riwayat kesehatan dan
ditemukan pada operasi,atau hasil sinar-X dan tes kesehatan lainnya.
31

2.2.7 Vertebroplasti

Vertebroplasti adalah teknik perbaikan patah tulang pada bagian tulang


belakang dengan cara memasukkan semen tulang melalui jarum suntik khusus.
Pemberian semen tulang di maksudkan untuk menyangga dan memberi
kekuatan pada tulang dari dalam. Dalam hal ini semen akan mengeras setelah
15 menit kemudian dan keesokan harinya pasien sudah dapat berjalan.
Teknik Vertebroplasti pertama kali dikembangkan di prancis tahun 1984
kemudian di sempurnakan di amerika serikat, para pasien Osteoporosis yang
melakukan pengobatan dengan vertebroplasti dapat terbebas dari rasa nyeri lima
sampai sepuluh tahun. Di indonesia, teknik ini telah diterapkan di RSPDA Gatot
subroto (sejak tahun 2001) dan di RS pluit (tahun 2003).

2.2.8 Veselplasti

Veselplasti adalah teknik bedah endolaparoskopik terbaru. Teknik ini


merupakan hasil perkembangan dari teknik Vertebroplasti. Di sebut veselplasti
karena teknik ini menggunakan balon sebagai pengganti pembuluh darah
buatan. Kemudian balon tersebut diisi dengan bahan tulang yang memiliki
sistem hidrolik sehingga pasien dapat tegak seperti sediakala.
Pada teknik ini, pasien tidak perlu menjalani pembedahan. Untuk
perbaikan tulang tersebut, pasien hanya memerlukan sayatan kecil untuk
memasukkan alat pengisi bahan tulang.

32

Teknik veselplasti telah dikuasai oleh sejumlah dokter di indonesia dan


telah di lakukan uji coba di sebuah rumah sakit di jakarta. Uji coba di lakukan
terhadap pasien berusia 60 tahun yang mengalami patah tulang karena
osteoporosis. Dalam waktu 2 jam setelah operasi, pasien sudah dapat langsung
duduk dan berjalan.

2.2.9 Sekrup berbahan tulang

Patah tulang dapat juga di sembuhkan dengan menggunakan sekrup dari


bahan tulang. Teknik ini dikembangkan oleh Yuji Uchio, seorang guru besar
Universitas Shimane, jepang. Menurut Uchio, teknik ini di rancang untuk
menyembuhkan retakan kecil seperti pada sendi pergelangan tangan. Sepotong
tulang seukuran biji kacang tanah diambil dari pasien kemudian memprosesnya
menjadi sekrup berdiameter 1 hingga 5 milimeter.
Pda teknik ini, sekrup tulang berfungsi menghubungkan bagian-bagian
tulang yang akhirnya tumbuh menjadi tulang. Teknik ini di harapkan dapat
mengurangi biaya pengobatan dan beban fisik si pasien. Perlu di ketahui, harga
sekrup metal yang di gunakan dalam perawatan patah tulang dapat mencapai
100.000 yen persatuannya. Dalam hal ini, pasien harus menjalani dua kali
operasi yaitu pada saat penanaman dan pengambilan. Namun teknik
penyembuhan dengan menggunakan sekrup berbahan tulang masih sulit
digunakan untuk merawat keretakan pada tulang yang besar, seperti tulang paha.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN


33

3.1 Kesimpulan
Kita dapat mengetahui berbagai macam kelainan, penyakit
dan gangguan pada tulang, sendi, dan otot dan cara
mencegah dan mengatasinya
Scanning tulang digunakan untuk memeriksa rangka dan
membantu dokter mendeteksi kanker dan masalah lain
jauh sebelum deteksi sinar-X memungkinkan. Dalam
prosedur Scanning tulang dokter menyuntikkan larutan
radiaktif ringan pada vena lengan Anda. Larutan
terakumulasi dalam jaringan tulang dimana terdapat
abnormalitas. Kamera khusus menyorot seluruh tubuh
skema tes dan dapat menentukan tempat-tempat yang
abnormal, yang disebut hot spot.
Scanning tomografi terkomputerisasi pada dada
menghasilkan citra dengan potongan melintang dada
dengan cara melewatkan pancaran sinar-X dari suatu alat
scanning yang terkomputerisasi pada seluruh tubuh dengan
sudut-sudut yang berbeda. Nama lainnya adalah Tomografi
Thorax Terkomputerisasi
Scanning tomografi terkomputerisasi pada rangka
memberikan serangkaian citra sinar-X dari tulang-tulang
rangka. Sebuah computer mengkonstruksi citra ini menjadi
citra yang terpisah-pisah yang ditampilkan pada layar
monitor
Pencitraan resonansi magnetik adalah teknik diagnostic
tanpa adanya benda yang memasuki tubuh, yang
menghasilkan citra yang jelas dari tulang dan jaringan
lunak. Pencitraan resonansi magnetic pada rangka
menghasilkan citra 3 dimensi dari suatu area yang tidak
dapat diperoleh dengan mudah dengan menggunakan
sinar-X atau Scanning Tomografi Terkomputerisasi.
Metode ini mengurangi beberapa risiko yang berhubungan
dengan pemaparan sinar-X yang menyebabkan bahaya
terhadap sel yang tidak diketahui.
34

Scanning Tomografi Terkomputerisasi menghasilkan citra


tulang belakang yang detail dan beresolusi tinggi. Selama
proses scanning berlangsung, penyinaran sinar-X ganda
diarahkan pada tulang belakang dari berbagai sudut. SinarX melalui tubuh dan ditangkap oleh detector radiasi yang
menghasilkan getaran listrik yang dikonversikan oleh
sebuah computer menjadi citra tiga dimensi. Citra tersebut
ditampikan pada layar monitor
Tes ini memungkinkan pemeriksaan terhadap seluruh
rangkaian tulang belakang atau sebagian. Pada umumnya
tes ini digunakan untuk mengevaluasi deformitas, patah
tulang, dislokasi dan kelainan lain pada tulang belakang.
Sinar-X pada tulang menggambarkan densitas, tekstur,
erosi dan perubahan yang terjadi pada sambungan tulang.
SinarX pada sendi dapat menampakkan adanya cairan
pembentukan taji, dan perubahan pada struktur sendi.

3.2 Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.
Kami banyak berharap para pembaca yang budiman
memberikan kritik dan saran yang membangun kepada kami demi
sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan
berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi kami khususnya juga
para pembaca yang budiman pada umumnya.

DAFTAR 35
PUSTAKA

http://wahyuningtriyadi.blogspot.co.id/2012/11/kelainan-dan-penyakit-padasistem-gerak.html
http://pustaka.pandani.web.id/2013/08/gangguan-penyakit-dan-kelainanpada.html
http://www.cpuik.com/2013/09/gangguan-dan-penyakit-pada-sistem-gerak.html
http://www.belajarbagus.com/2015/02/kelainan-pada-sistem-gerak.html
http://hariansehat.com/cara-menjaga-kesehatan-tulang-sendi/
http://syakir-berbagiilmu.blogspot.co.id/2012/05/teknologi-untuk-mengatasikelainan-pada.html
http://alunlinuxer.blogspot.co.id/2011/11/teknologi-pengobatan-kelainanpada.html

36