Anda di halaman 1dari 10

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

INDIKASI GUNUNG API PURBA DI DAERAH


MOROWALI SULAWESI TENGAH
Sri Mulyaningsih1
1

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta
sri_mulyaningsih@yahoo.com
Diterima tanggal : 15 November 2013

Abstract
Daerah Morowali Sulawesi Tengah merupakan wilayah dengan litologi yang tersusun atas batuan
beku ultra basa dan batugamping. Di permukaan, batuan ultra basa tersebut sebagian besar telah
lapuk membentuk nikel laterit dengan penyebaran yang luas. Keberadaan batuan beku ultra basa
memiliki arti sebagai asal batuan ofiolit, yang secara genesis merupakan batuan gunung api
punggungan tengah samudera (MORB). Hasil analisis data permukaan dan bawah permukaan
mengindikasikan bahwa sebaran batuan ultra basa dan sedimen yang menutupinya tersebut sangat
luas dan tebal, mencapai belasan hingga beberapa puluh meter. Secara stratigrafi, litologi yang
menyusunnya adalah batuan metamorf serpentinit, batuan beku peridotit, beberapa gabro, dan dunit
yang sebagian tertutup sedimen asal laut yaitu batugamping terumbu, batugamping klastika dan
batulempung. Beberapa sesar mendatar dan sesar naik juga dijumpai di wilayah ini. Meskipun
litologi tersebut telah banyak mengalami deformasi, namun diinterpretasi peridotit dan gabro yang
sebagian telah mengalami serpentinisasi terbentuk tidak jauh dari lokasi awalnya. Hal itu dapat
diinterpretasi bahwa daerah penelitian merupakan zona gunung api purba bagian dari gugusan
punggungan tengah samudera (MORB).
Kata kunci: batuan ultra basa, gunung api, purba, dan MORB

Abstract
Morowali area - Central Sulawesi is a region with the lithology is composed by ultra mafic
igneous rocks and limestones. On the surface, the ultra-mafic rocks are deeply weathered
forming nickel laterite with a wide spread. The existence of ultra mafic igneous rocks is
meaning as ophiolite rocks, which is a volcanic rock origin that formed within mid oceanic
ridge (MORB). Surface and subsurface data analysis indicate wide distributions of ultramafic and sediment rocks that cover the very broad and thick sequences, reaching dozens
to several hundred meters. Stratigraphically, this area is composed by metamorphic rocks
of serpentinite; igneous rocks of peridotites, some gabbros, and dunites; and are partially
covered by marine sedimentary origin of reefs, clastical limestones and claystones. Some
horizontal faults and reverse faults are also found in this region. Although the lithology has
been deformed, the presence of peridotites and gabbros which are some of them have
getting serpentinized, can be interpreted formed not far from its original location. It can be
interpreted that the research area is ancient volcanic zone part of the cluster of the oceanic
ridge volcanism (MORB).
Key words: ultra mafic rocks, volcano, ancient and MORB

PENDAHULUAN

Daerah penelitian terletak di desa Lalemo (-3,14662214oN dan 122,4272843E) dan desa
Lamontoli (-3,1424075N dan 122,4015481E) Kecamatan Kaleroang dan Kecamatan
Bungku Selatan, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah di batas timur dan Desa
Culambatu (Lamonae I), Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara (-3.1657181N
202

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

dan 122.2985513E) dan Desa Matarape, Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten


Morowali (-3.1903993N dan 122.330137E), Provinsi Sulawesi Tengah di batas barat
(Gambar 1). Di samping adanya ancaman bencana gerakan massa yang terjadi pada hampir
tiap-tiap musim hujan, daerah ini juga diketahui sebagai daerah yang kaya akan sumber
daya alam berupa laterit nikel. Ketebalan laterit nikel mencapai 8 meter dengan ketebalan
rata-rata 4 meter. Kandungan nikel dalam laterit bervariasi dari 0,03 % hingga 1,9 %.
Kerentanan daerah dan keberadaan laterit nikel di daerah penelitian tersebut tidak lepas
dari kondisi geologinya.

Gambar 1. Peta lokasi daerah penelitian (tanpa sekala)


Secara geologi, litologi daerah penelitian tersusun atas seri batuan ofiolit yang terdiri
atas batuan ultra basa, yaitu peridotit, harzburgit, dunit, gabro dan serpentinit yang
berumur Kapur, serta batugamping klastik dan non klastik yang berumur Oligosen.
Geomorfologinya dicirikan oleh perbukitan karst di bagian tenggara-selatan, bergelombang
kuat di bagian tengah-barat, sedang sampai lemah hingga dataran serta ber-rawa di sisi
utara (dekat pantai). Ketinggian daerah berada pada 15 m dpl sampai 660 m dpl,
kemiringan lereng 5o di dekat pantai sampai 45o di daerah bagian selatan-tenggara, dengan
kemiringan lereng rata-rata 5-25o. Keberadaan batuan ofiolit dan kondisi geomorfologi di
daerah penelitian tersebut menarik untuk dikaji. Daerah penelitian diduga sebagai pusat
gunung api purba bawah laut yang menghasilkan batuan ofiolit MORB (mid oceanic ridge
basalt), yang antara lain ditunjukkan oleh diketemukannya peridotit, dunit, harsburgit dan
serpentinit. Sejalan dengan perkembangan geologi, daerah ini selanjutnya mengalami
pendangkalan, sehingga terbentuk batuan karbonatan yang menumpang di atas sisa-sisa
tubuh gunung api purba bawah laut tersebut. Kini, wilayah ini telah mengalami tektonisme
secara berulang-ulang hingga kini muncul di permukaan bumi. Dengan ditemukannya
fasies pusat gunung api bawah laut tersebut, maka eksplorasi laterit nikel dapat
disentralisasi.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk membuktikan bahwa proses geologi
yang mengontrol pembentukan geologi di daerah penelitian adalah aktivitas gunung api,
mengetahui pusat erupsinya dan mengetahui penyebarannya. Metodologi pengumpulan
data adalah melalui pemetaan geologi permukaan dan bawah permukaan. Data geologi
203

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

permukaan didapatkan dari pemetaan geologi di permukaan, sedangkan data bawah


permukaan didapatkan dari pemboran dangkal kedalaman maksumum 30 m dan dari data
test paritan. Data geokimia batuan diketahui dari analisis XRF (X-Ray Fluorescene), yang
didukung oleh data analisis petrografi terhadap beberapa contoh batuan yang diambil dari
inti bor dan contoh di permukaan. Minimnya contoh batuan di permukaan yang segar
untuk dapat dilakukan analisis geokimia, maka analisis dilakukan pada kebanyakan contoh
inti bor.

GEOLOGI REGIONAL
Sulawesi terletak pada pertemuan tiga lempeng yang saling bertabrakan; yaitu Lempeng
Benua Eurasia yang relatif diam, Lempeng Pasifik yang bergerak relatif ke barat dan
Lempeng Australia-Hindia yang bergerak relatif ke utara (Hamilton, 1978, 1979, 1988; dan
Katili, 1978, 1989). Berdasarkan kondisi stratigrafi dan perkembangan tektoniknya
tersebut, Surono (2011) membagi Sulawesi menjadi empat mendala geologi, yaitu Lajur
Gunung Api Sulawesi Barat, Lajur Malihan Sulawesi Tengah, Lajur Ofiolit Sulawesi
Timur dan Kepingan Benua Renik. Daerah penelitian termasuk Lajur Ofiolit Sulawesi
Timur. Lajur Malihan Sulawesi Tengah diduga terbentuk karena subduksi pada Kapur.
Lajur Ofiolit Sulawesi Timur merupakan hasil pemekaran Samodra Pasifik pada Kapur
Eosen. Sedangkan kepingan benua yang tersebar di bagian timur Sulawesi merupakan
pecahan tepi utara Australia. Tektonostratigrafi Lajur Sulawesi Timur dapat dibagi menjadi
empat tahapan, yaitu tahap prapemekaran, selama pemekaran, setelah pemekaran, dan
selama orogenesa. Kompresi akibat bergeraknya kepingan benua di bagian timur Sulawesi
yang berlangsung terus sampai saat ini, telah membentuk sesar aktif dan pengangkatan di
beberapa bagian pulau di Sulawesi dan di beberapa daerah di sekitarnya. Berdasarkan hasil
analisis geokimia terhadap beberapa contoh batuan basalt yang diambil dari komplek
ofiolit tersebut, Surono dan Sukarna (1995) menginterpretasinya sebagai batuan asal
punggungan tengah samudera.
Mengacu pada van Leewen et. al (1994), daerah penelitian termasuk ke dalam sabuk
metamorfik Sulawesi Tengah (Gambar 2), yang tersusun dari Komplek sekis Pompangeo
dan ofiolit melange. Menurut Kadarusman (2004) dan van Leewen (1981), sabuk ofiolit
dari Sulawesi Tengah tersebut merupakan bagian dari sabuk Ofiolit Sulawesi Timur, yang
penyebarannya dimulai dari lengan timur Sulawesi hingga lengan selatan Sulawesi. Lebih
jauh lagi, menurut Kadarusman, ofiolit Sulawesi Timur ini berasal dari punggungan tengah
samudra (mid oceanic ridge) dan oceanic plateau Pasifik yang teralih-tempatkan. Pada
lengan timur Sulawesi terdapat bagian yang lengkap dari sekuen ofiolit, sedangkan di
beberapa tempat lain litologinya sangat bervariasi, mulai dari sekuen ultramafik yang hadir
sangat dominan di daerah lengan tenggara Sulawesi dan Pulau Kabaena, dan batuan basal
vulkanik seperti di daerah Lamasi. Di beberapa lokasi, terutama di daerah dekat pantai,
batuan metamorfik dan ofiolit tersebut ditutupi oleh batuan karbonat klastik dan non
klastik yang bervariasi umurnya, dari Oligosen hingga Pliosen.

HASIL PENELITIAN
Didasarkan atas data hasil pemetaan geologi permukaan, menjumpai batuan beku ultra
basa, yaitu peridotit, dunit, harsburgit dan basal yang tersebar di bagian baratlaut dan
tengah dari daerah penelitian. Batuan-batuan ultra basa tersebut tersebar pada morfologi
yang landai hingga bergelombang sedang-kuat. Di bagian tengah daerah peelitian, pada
geomorfologi yang curam, litologinya tersusun atas batugamping klastik dan non klastik;
sebagian besar batugamping nonklastik telah mengalami dolomitisasi. Di bagian timur
daerah penelitian dan bagian utara tersingkap batuan sedimen klastika yang bersifat
silisiklastik, yang terdiri atas batupasir, batulempung/lanau dan konglomerat. Dalam

204

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

batupasir dan konglomerat ditemukan fragmen-fragmen batuan beku ultrabasa dan


batugamping. Gambar 3 memperlihatkan sebaran litologi di daerah penelitian.
Geomorfologi daerah penelitian dicirikan oleh perbukitan bergelombang lemah hingga
dataran di bagian utara, lemah hingga sedang di bagian barat dan perbukitan bergelombang
kuat di bagian selatan dan timur-tenggara. Kontrol struktur juga dijumpai pada
geomorfologi bergelombang kuat, yang dicirikan oleh adanya struktur sesar geser oblik
sinistral dan sesar normal. Didasarkan pada data pemboran inti, menunjukkan bahwa
batugamping hanya menumpang tipis di atas basalt dan dunit, serta serpentinit.
Penelitian geokimia selanjutnya difokuskan pada kondisi geologi batuan ultrabasa,
serta beberapa pemboran dangkal untuk mengetahui penyebaran batuan ultrabasa secara
vertikal.

Lawanopo
Fault
Kolaka
Fault

Gambar 2. Peta geologi regional Sulawesi menurut van Leuwen et. al (1994), daerah
penelitian terletak pada sayap utara Mandala Timur, litologinya merupakan bagian dari
sabuk metamorfik Sulawesi Tengah
Pemboran dangkal (hingga kedalaman 30 meter) telah selesai dilaksanakan, dan
mendapatkan data sebaran litologi, yaitu dunit dan peridotit yang sangat luas hingga
kedalaman di bawah 30 m. Peridotit dicirikan oleh warna hitam keabu-abuan, masif,
fanerik halus, tersusun atas mineral olivin, piroksen klino dan plagioklas anorthit (Gambar
3).

205

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

Gambar 3. Peridotit di
daerah penelitian yang
didapatkan dari inti bor pada
kedalaman 15 m; dicirikan
oleh warna abu-abu gelap
kehitaman, fanerik, tersusun
atas olivin, piroksen klino
dan anorthit, beberapa
garnaerit
Sebagian dari peridotit ini mengalami alterasi dan dijumpai urat-urat kuarsa selebar 1-3
mm. Di beberapa lokasi secara lokal, juga dijumpai peridotit yang telah mengalami
metamorfisme membentuk serpentinit (Gambar 4). Serpentinit dicirikan oleh warna abuabu gelap kehijauan, terfoliasi, tersusun atas mineral serpentin warna hijau gelap. Di atas
batuan ofolit secara stratigrafi adalah batugamping klastik dan non klastik, serta batupasir
dan konglomerat. Beberapa batugamping non klastik telah mengalami dolomitisasi
sedangkan batugamping klastik tersusun atas boundstone dan packstone, dengan struktur
berlapis tebal perlapisan 40-60 cm. Di atas batugamping adalah batupasir, yang dicirikan
oleh warna coklat hingga abu-abu gelap, kondisi lapuk sampai sangat lapuk dan secara
setempat dijumpai fragmen batuan beku (peridotit dan serpentinit). Secara setempat
dijumpai konglomerat, yang dicirikan oleh struktur masif-berlapis (15-40 cm), sortasi
sedang-baik, kemas tertutup, tersusun atas fragmen peridotit, dunit, dan batugamping
dengan bentuk butir membulat tanggung. Di beberapa tempat secara lokal juga dijumpai
perlapisan basalt dan basalt dengan struktur bantal, dengan luas sebaran secara lokal-likal.
Sebaran litologi di daerah penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 4. Serpentinit di daerah


penelitian yang didapatkan dari inti
bor pada kedalaman 7 m; dicirikan
oleh warna abu-abu kehijauan,
terfoliasi dan tersusun atas mineral
serpentin
Hasil analisis kimia batuan terhadap beberapa contoh yang didapatkan dari inti bor
menjumpai kandungan SiO2 33,05-43,66 %, Fe2O3 19,65-34,32 %, K2O+Na2O 0,09-0,56 %
dan kandungan Ni 0,16-0,76 % (Tabel 1).

206

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

Tabel 1. Data hasil analisis XRF contoh inti bor di daerah penelitian (dalam %)
Analyte :

Ni

Co

Al2O3 CaO Cr2O3 Fe2O3

K2O MgO MnO Na2O P2O5

SiO2 TiO2

Zn

SUM

DH/3/02

0,58

0,036

14,95

0,27

0,71

25

0,29

4,19

0,38

0,18 0,04

40,4

0,82

0,03

99,13

DH/3/03

0,76

0,029

13,51

0,46

0,69

22,06

0,27

5,58

0,45

0,13 0,03

43,66 0,72

0,04

99,22

DH/6/04

0,37

0,048

16,37

0,52

1,04

21,5

0,17

4,66

0,86

0,13 0,03

42,04 1,03

0,02

99,52

DH/3/02 UP

0,58

0,036

15,02

0,3

0,7

25,06

0,29

4,23

0,38

0,13 0,04

40,57 0,82

0,03

99,49

DH/9/06

0,56

0,032

14,34 0,32

0,76

24,35

0,24

5,64 0,46

0,10 0,03

41,04 0,84

0,04 99,46

DH/9/06 EP

0,55 0,032

14,27

0,33

0,77

24,16

0,24

5,60

0,46

0,10

0,03 40,77 0,85

0,04 99,01

C72 - 01

0,46 0,043

11,86

0,74

0,94

26,66

0,06

4,82

0,63

0,15

0,04 39,98 0,64

0,02 99,48

C73 - 05

0,48 0,027

14,60

0,45

0,68

24,10

0,20

4,87

0,35

0,06

0,03 40,77 0,82

0,02 98,47

C73 - 06

0,59 0,026

12,90

0,59

0,88

26,04

0,18

5,85

0,33

0,07

0,03 40,58 0,65

0,02 99,41

C/2/010/1

0,47 0,026

13,06

2,59

0,80

21,39

0,16

7,64

0,41

0,33

0,03 43,22 0,81

0,01 99,72

C/2/010/10

0,50 0,019

10,33

3,88

0,94

22,53

0,12

8,32

0,22

0,32

0,05 43,61 0,56

0,02 99,17

C/3/3/0/1

0,46 0,038

11,26

0,96

0,92

25,47

0,04

5,84

0,54

0,14

0,03 41,80 0,64

0,01 98,13

C/3/1/0/2

0,88 0,026

8,20

1,17

1,05

25,60

0,03

6,93

0,36

0,15

0,02 40,75 0,34

0,02 98,44

C/3/1/0/3

0,90 0,033

9,57

1,01

1,04

26,81

0,03

7,17

0,41

0,15

0,01 40,69 0,35

0,02 98,86

C/3/1/0/11

0,32 0,002

13,37 11,14

0,37

10,79

0,35

8,95

0,29

0,23

0,10 40,96 0,98

0,01 98,57

C/2/7/0/2

0,40 0,015

16,76

1,68

0,37

20,24

0,30

4,84

0,46

0,21

0,03 40,59 1,27

0,01 98,14

C/3/1/11 EP

0,29 <0,001 13,28

1,19

0,23

10,76

0,35

8,93

0,29

0,24

0,10

0,01 98,18

207

40,79 0,96

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

Gambar 5. Peta geologi daerah penelitian

208

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

PEMBAHASAN
Mengacu pada deskripsi gunung api, magma yang keluar melalui suatu rekahan (celah)
yang menjangkau hingga ke permukaan bumi membentuk lava, maka dapat digunakan
sebagai petunjuk adanya gunung api (Decker & Decker, 1997; Schminche, 2004).
Runtunan batuan ofiolit secara stratigrafi, umumnya dari bawah ke atas tersusun atas gabro,
peridotit dan harsburgit, dunit dan basalt. Batuan-batuan tersebut selanjutnya ditumpangi
oleh batuan sedimen asal laut dalam, seperti batugamping merah dan rijang. Namun, secara
geomorfologi tidak semua runtunan endapan tersebut dapat dibentuk. Jika lingkungan
geologi gunung api yang membentuknya terletak di darat, maka runtunan yang mungkin
terbentuk adalah batuan intrusi ultrabasa yang kaya olivin dan basalt berstruktur Aa dan
Pahoehoe, sedangkan jika lingkungan pengendapannya berada pada lingkungan laut
dangkal maka runtunan batuan ultra basa tersebut ditumpangi oleh batuan sedimen klastik
dan karbonat laut dangkal. Begitu juga yang dijumpai di daerah penelitian.
Batuan beku ultrabasa, seperti basalt yang juga berasosiasi dengan batuan intrusi
dangkal seperti dunit dan peridotit, dihasilkan oleh aktivitas gunung api yang berasosiasi
dengan gunung api gugusan punggungan tengah samudera (mid oceanic ridge basalt),
yang sering membentuk tipe gunung api perisai. Di daerah penelitian dijumpai batuanbatuan beku ultrabasa, yaitu basalt, yang berasasiasi dengan dunit, peridotit dan gabro serta
batuan metamorf serpentinit. Hasil analisis geokimia plot SiO2 dan K2O+Na2O pada
beberapa contoh peridotit () yang diambil dalam contoh inti bor di daerah penelitian,
menunjukkan bahwa peridotit tersebut kebanyakan merupakan seri batuan subalkalin
(mengacu pada MacDonald, 1968). Batuan subalkalin dihasilkan dari magma primitif asal
astenosfer; sedangkan batuan alkalin merupakan batuan yang berasal dari magma yang
telah mengalami differensiasi dengan batuan dinding / batuan di sepanjang yang dilaluinya.

Gambar 6. Plot SiO2 dan K2O+Na2O pada contoh peridotit inti bor di daerah penelitian ();
sebagai perbandingan bulat biru dan bulat merah adalah contoh batuan MORB di Hawaii
(setelah MacDonald, 1968)
Mengacu pada Peccerillo & Taylor (1976), peridotit di daerah penelitian termasuk ke
dalam seri batuan tholeiit K rendah (Gambar 7). Hal itu mengindikasikan bahwa peridotit
di daerah penelitian berasosiasi dengan batuan vulkanik tengah samudera. Proses
pengangkatan yang berlangsung secara berulang-ulang, menyebabkan wilayah ini memiliki
geomorfologi yang sangat curam, serta asosiasi batuan vulkanik di atasnya, yang tersusun
atas basalt dan endapan asal laut dalam tererosi, menyisakan batuan intrusi yang lebih
209

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

resisten. Keberadaan peridotit, harsburgit, dunit dan serpentinit, mengindikasikan bahwa


batuan-batuan tersebut berada pada fasies pusat gunung apinya. Basalt yang seharusnya
terdapat di atas batuan-batuan tersebut telah lapuk dan tererosi menyisakan soil laterit.

Gambar 7. Plot SiO2 dan K2O pada contoh peridotit inti bor di daerah penelitian (setelah
Peccerillo & Taylor, 1976)

KESIMPULAN
Batuan ofiolit yang dijumpai di daerah penelitian merupakan batuan seri tholiit, yang
keberadaannya berasosiasi dengan batuan vulkanik laut dalam. Secara tektonik, batuanbatuan tersebut dibentuk oleh kemunculan magma ke permukaan bumi, melalui rekahan
punggungan tengah samudera (zona pemekaran). Proses tektonik yang berlangsung secara
berulang-ulang, menyebabkan runtunan batuan ofiolit tersebut terangkat menjadi daratan
yang selanjutnya tererosi, menyisakan batuan intrusif yang ada di bawahnya.

References:
[1] Decker, R., & Decker, B., Volcanous, W.H. Freeman & Co: 322 pp.1997.
[2] Hamilton, W. Tectonic map of the Indonesian region. U.S. Geological Survey,
Miss. Inv. Ser. Map, 1-875-D. , 1978.
[3] Hamilton, W. Tectonics of the Indonesian Region. U.S. Geol. Survey Prof. Paper,
pp. 1078, 1979.
[4] Hamilton, W. Plate tectonics and island arcs. Geological Society of America
Bulletin 100, 1503-1527, 1988.
[5] Kadarusman, A., Miyashita, S., Maruyama, S., Parkinson, C.D. and Ishikawa, A.
Petrology, geochemistry and paleogeographic reconstruction of the East Sulawesi
Ophiolite, Indonesia. Tectonophysic, 392: 55-83, 2004.
[6] Katili, J. Past and present geotectonic position of Sulawesi, Indonesia.
Tectonophysics 45, 289-322, 1978.
[7] Katili, J. Evolution of the southeast Asian Arc complex. Indonesian Geology 12,
113-143, 1989.
[8] Van Leeuwen, T., The geology of southwest Sulawesi with special reference to
the Biru area. In: A.J. Barber & S. Wiryosayono (eds.) The geology and tectonics
of Eastern Indonesia. Geol. Res. Dev. Centre, Bandung, Spec. Publ. 2, p. 277,
1981.

210

M04

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6


Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, 11-12 Desember 2013

[9] Van Leuwen, T., M., Taylor, R., Coote, A., Longstaffe, F.J., Porphyry
molybdenum mineralization in a continental collision setting at Malala, northwest
Sulawesi, Indonesia, Journal of Geochemical Exploration, Volume 50, Issues 13,
pp 279315, 1994.
[10] Macdonald, G. A., Volcanoes, Prentice-Hall, Englewood Cliffs, New Jersey, 510,
1972
[11] Peccerillo, A. & Taylor, S. R, Geochemistry of Eocene calc-alkaline volcanic
rocks from the Kastamonu area, Northern Turkey. Contributions to Mineralogy
and Petrology 58, 6381, 1976.
[12] Schminche, H.U., Volcanism, Springer-Verlag, 333 pages, 2004.
[13] Surono and Sukarna, D. The Eastern Sulawesi Ophiolite Belt, Eastern Indonesia.
A review of it's origin with special reference to the Kendari area. Journal of
Geology and Mineral Resources 46, 8-16, 1995.
[14] Surono, Tektono-Stratigrafi bagian timur Sulawesi, Prosiding PIT IAGI 2011,
Joint Convention IAGI ke 40 dan HAGI ke 36, Makasar, abstract, 2011.

211

Anda mungkin juga menyukai