Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH TEKNOLOGI KERTAS PRODUKSI BERSIH PADA

INDUSTRI PULP

PENDAHULUAN
1. Konsep Dasar Produksi Bersih.
Produksi Bersih merupakan salah satu sistem pengelolaan lingkungan yang
dilaksanakan secara sukarela (Voluntary) sebab penerapannya bersifat tidak wajib. Konsep
Produksi Bersih merupakan pemikiran baru untuk lebih meningkatkan kualitas lingkungan
dengan lebih bersifat proaktif. Produksi Bersih merupakan istilah yang digunakan untuk
menjelaskan pendekatan secara konseptual dan operasional terhadap proses produksi dan
jasa, dengan meminimumkan dampak terhadap lingkungan dan manusia dari keseluruhan
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal, 1995) mendefinisikan Produksi Bersih
sebagai suatu strategi pengelolaan lingkungan yang preventif dan diterapkan secara terusmenerus pada proses produksi, serta daur hidup produk dan jasa untuk meningkatkan ekoefisiensi dengan tujuan mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungandaur hidup
produknya.
Strategi Produksi Bersih mempunyai arti yang sangat luas karena di dalamnya
termasuk upaya pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pilihan jenis
proses yang akrab lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur hidup produk, dan teknologi
bersih. Pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan adalah strategi yang perlu
diprioritaskan dalam upaya mewujudkan industri dan jasa yang berwawasan lingkungan,
namun bukanlah merupakan satu satunya strategi yang harus diterapkan.Strategi lain seperti
program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap diperlukan, sehingga dapat
saling melengkapi satu dengan lainnya.
Strategi untuk menghilangkan limbah atau mengurangi limbah sebelum terjadi
(preventive strategy), lebih baik daripada strategi pengolahan limbah atau pembuangan
limbah yang telah ditimbulkan (treatment strategy). Kombinasi kedua strategi tersebut sesuai
dengan skala prioritas pelaksanaan Produksi Bersih adalah sebagai berikut:

1. Eliminasi.
Strategi ini dimasukkan sebagai metode pengurangan limbah secara total. Bila perlu tidak
mengeluarkan limbah sama sekali (zero discharge).
2. Mengurangi sumber limbah.
Strategi pengurangan limbah yang terbaik adalah strategi yang menjaga agar limbah
tidak terbentuk pada tahap awal. Pencegahan limbah mungkin memerlukan beberapa
perubahan penting dalam proses produksi, tetapi dapat meningkatkan efisiensi ekonomi yang
besar dan menekan pencemaran lingkungan.
3. Daur Ulang.
Jika timbulnya limbah tidak dapat dihindarkan dalam suatu proses, maka harus dicari
strategi-strategi untuk meminimumkan limbah tersebut sampai batas tertinggi yang mungkin
dilakukan, seperti misalnya daur ulang (recycle) dan/atau penggunaan kembali (reuse). Jika
limbah tidak dapat dicegah atau diminimumkan melalui penggunaan kembali atau daur ulang,
strategi-strategi yang mengurangi volume atau kadar racunnya melalui pengolahan limbah
dapat dilakukan. Walaupun strategi ini kadang-kadang dapat mengurangi jumlah limbah,
tetapi tidak sama efektifnya dengan mencegah limbah di tahap awal.
4. Pengolahan Limbah.
Strategi yang terpaksa dilakukan mengingat pada proses perancangan produksi
perusahaan belum mengantisipasi adanya teknologi baru yang sudah bebas limbah. Artinya
limbah memang sudah terjadi dan ada dalam sistem produksinya, namun kualitas dan
kuantitas limbah yang ada dikendalikan agar tidak melebihi baku mutu yang disyaratkan.
5. Pembuangan Limbah.
Strategi terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah metode-metode pembuangan
alternatif. Pembuangan limbah yang tepat merupakan suatu komponen penting dari
keseluruhan program manajemen lingkungan, meskipun ini adalah teknik yang paling tidak
efektif.
6. Remediasi.
Strategi penggunaan kembali bahan-bahan yang terbuang bersama limbah. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi kadar racun dan kuantitas limbah yang ada.

2. Peluang Dan Tantangan Penerapan Produksi


Bersih.
Produksi
Bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmonisasikan upaya perlindungan
lingkungan dengan kegiatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Peluang penerapan
Produksi Bersih adalah :
1. Memberi keuntungan ekonomi,sebab didalam Produksi Bersih terdapat strategi pencegahan
pencemaran pada sumbernya (source reduction dan in-process recycling) yaitu pencegahan
terbentuknya limbah secara dini dengan demikian dapat mengurangi biaya investasi yang
harus dikeluarkan untuk pengolahan dan pembuangan limbah atau upaya perbaikan
lingkungan.
2. Mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan.
3.

Memelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang melalui


konservasi sumber daya, bahan baku dan energi.

4. Mendorong pengembangan teknologi baru yang lebih efisien dan akrab lingkungan
5. Mendukung prinsip environmental equity dalam rangka pembangunan berkelanjutan.
6.

Mencegah atau memperlambat terjadinya proses degradasi lingkungan dan pemanfaatan


sumberdaya alam.

7. Memelihara ekosistem lingkungan.


8. Memperkuat daya saing produk di pasar internasional.
9. Tantangan Penerapan Produksi Bersih, antara lain :
10. Tercapainya efisiensi produksi yang optimal
11. Diperolehnya penghargaan masyarakat terhadap sistem produksi yang akrab lingkungan
12. Mendapatkan insentif.
Pengembangan pelaksanaan dan penerapan Produksi Bersih intinya adalah merubah
pola pikir tradisional end-of-pipe dengan paradima baru dalam pengelolaan pencemaran
lingkunan, yaitu penerapan Produksi Bersih, yang dapat meningkatkan efisiensi produksi
sehingga akan memberikan peningkatan keuntungan baik secara finansial, teknik maupun
regulasi. Meskipun demikian, hambatan ekonomi akan timbul bila kalangan usaha merasa
tidak akan mendapat keuntungan dalam penerapan Produksi Bersih. Sekecil apapun

penerapan Produksi Bersih, bila tidak menguntungkan bagi perusahaan maka akan sulit bagi
manajemen untuk membuat keputusan tentang penerapan Produksi Bersih.
.
3.Strategi Penerapan Produksi Bersih.
Komitmen Nasional Produksi Bersih merupakan upaya penggalangan penerapan
Produksi Bersih secara sukarela oleh berbagai kalangan, baik itu pemerintah, kalangan
industri dan jasa, bahkan para peneliti dan konsultan yang terlibat. Komitmen Nasional ini
antara lain adalah dengan melaksanakan:
1. Produksi Bersih dipertimbangkan pada tahap sedini mungkin dalam pengembangan proyekproyek baru, atau pada saat mengkaji proses dan/atau aktivitas yang sedang berlangsung.
2.

Semua pihak turut bertanggung jawab dan terlibat dalam program dan rencana tindakan
Produksi Bersih dan bekerjasama untuk mengharmonisasikan pendekatan-pendekatan
Produksi Bersih.

3. Agar Produksi Bersih dapat dilaksanakan secara efektif, semua pendekatan melalui peraturan
perundang-undangan, instrumen ekonomi maupun upaya sukarela harus dipertimbangkan.
4. Program Produksi Bersih menekankan pada upaya perbaikan yang berlanjut.
5. Produksi Bersih hendaknya melibatkan pertimbangan daur hidup suatu produk.

PENANGANAN BAHAN BAKU


1. Bahan Baku
Bahan baku berasal dari jenis kayu Accasia Mangium yang akan mengalami
beberapa proses untuk menghasilkan pulp. Bahan baku tersebut dperoleh dari Hutan
Tanaman Industri PT. Musi Hutan Persada (PT MHP).
Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam dan merupakan
bahan mentahyang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan
teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan lain.
Sifat umum yang terdapat pada kayu adalah :
1. Semua batang pohon mempunyai pengatur vertical dan sifat simetris radial.
2. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan sel nyaterdiri
dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemiselulosa (unsure karbohidrat) serta berupa lignin
(non karbohidrat).
3. Semua kayu bersifat anisotripic, yaitu memperlihatkan sifat yang berlainan jika diujimenurut
tiga arah utamanya (longitudinal, tangensial, dan radial). Hal ini disebabkanstruktur dan
orientasi selulosa dalam dinding sel , bentuk memanjang sel kayu dan pengaturan sel
terhadap sumber vertical dan horizontal pada batang pohon.
4.

Kayu merupakan suatu yang bersifat higroskopik , yaitu bertambah kelembabannyaakibat


perubahan kelembaban dan suhu udara sekitarnya.5.Kayu dapat diserang oleh makhluk hidup
perusak kayu, dapat juga terbakar terutamakayu dalam keadaan kering.

2. Sifat Kimia Kayu.


Komponen

didalam

kayu

mempunyai

arti

penting,

karena

menentukan

kegunaan dari jenis kayu tersebut, pada umumnya komponen kimia kayu daun lebar dan
kayu daun jarumterdiri dari 3 unsur :
a.

Karbohidrat terdiri dari sellulosa dan hemiselulosa .

b. Non karbohidrat yang berupa lignin.


c.

Ekstraktif, yaitu yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan.


Distribusi komponen kimia tersebut dalam dinding sel kayu merata, dan kadar
selulosa sertahemiselulosanya banyak terdapat dalam dinding sekunder. Sedangkan lignin

banyak terdapatdalam dinding primer dan lamella tengah. Zat ekstraktif terdapat diluar
dinding sel kayu.
Unsur-unsur kimia dalam zat kayu adalah:
a.

Karbohidrat 50 %

b. Hidrogen 6 %
c.

Nitrogen 0,04 0,1 %

d. Abu 0,2-0,5%
e.

Sisanya O
3. Sifat Fisik Kayu
Beberapa sifat fisik yang terdapat pada kayu adalah sebagai berikut :

1. Berat Jenis.
Kayu mempunyai berat jenis yang berbeda, yaitu antara 0,2 1,8. Berat jenis
merupakan petunjuk penting bagi beberapa sifat kayu, makin berat kayu maka pada
umumnya makinkuat pula kayu tersebut. Berat jenis kayu ditentukan oleh tebal dinding sel
kayu, dankecilnya rongga sel kayu yang membentuk pori-pori.
2. Keawetan Alami Kayu.
Keawetan alami kayu adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsure
unsure perusak kayu dari luar, seperti ; jamur, rayap, bubuk, cacing dan lainnya yang
diukur dalam jangka tahunan.
3. Warna Kayu.
Ada beberapa macam warna kayu, antara lain warna kuning, keputih-putihan,
coklatmuda,

coklat tua, kehitam-hitaman, dan kemerah-merahan. Warna pada kayu

disebabkanoleh zat pengisi warna.


4.

Higroskopik Higroskopik adalah suatu sifat yang dapat menyerap atau melepaskan air
ataukelembaban kayu sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu udara.

5. Berat Kayu.
Berat suatu jenis kayu tergantung dari jumlah zat kayu.

4. Proses Produksi.
Bahan baku berasal dari jenis kayu Accasia Mangium akan mengalami
beberapa tahap proses dari tahap persiapan hingga akhir menjadi pulp.

5.Bahan baku kayu


a.Pengulitan
Barkstorage merupakan tempat penampungan limbah yang berupa kulit
kayu yang sudah dikecilkan dengan menggunakan pallman chipper, debu
kayu atau serbuk kayu yang digunakan sebagai bahan bakar multi fuel
boiler. Tiap proses pengulitan dan serpihan kayu memilki conveyor
tersediri yang tujuannya untuk mengumpulkan dan membawa kulit dan
serbuk kayu yang terpisah dari kayu yang sudah diolah.
Pemanfaatan limbah padat
Contoh dari limbah padat (sludge) berasal dari limbah cair yang
telah melewati pengolahan dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai
pupuk dan bahan campuran untuk pembakaran di boiler. Selain itu,
limbah padat (sludge)juga dapat dimanfaatkan untuk memproduksi kertas
embosse atau tutup kor pada gulungan kertas.
Pada sistem pengolahan air limbah, selain diharapkan akan
dihasilkan effluent yang sesuai dengan baku mutu yang ada maka akan
selalu dihasilkan juga biasanya berbentuk cairan semi padat yang
mengandung 93 99.5 % air, 0.2 1.2 % padatan dan zat-zat terlarut
yang dikandung oleh air limbah atau dikulturkan oleh proses penanganan
air limbah. Karakteristik lumpur mempengaruhi kelayakan dari alternatifalternatif

pemanfaatan

dan

pembauangannya.

Karakteristik

lumpur

tersebut dipengaruhi oleh komposisi air limbah yang ditangani serta


proses-proses penanganan air limbah. Hal ini akan terlihat jelas pada
lumpur yang dihasilkan oleh sistem penanganan air limbah yang
menerima buangan-buangan industri dalam jumlah yang besar.

2. Bak Pengendap I (Primary Clarifier)


Saat dialirkan ke bak pengendap I, limbah ditambahkan dengan
koagulan dan flokulan. Jenis koagulan yang digunakan adalah alum atau
PAC (Poly Aluminium Chloride), sedangkan flokulan yang digunakan
adalah jenis polimer. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Al2(SO4)3 + 6H2O 2Al(OH)3 + 3H2SO4
Senyawa

Al(OH)3

akan

memberikan

efek

flokulasi

dengan

cara

menjembatani partikel-partikel serat sehingga terbentuk flok-flok besar.


Flok-flok inilah yang kemudian diendapkan pada bak pengendap I. Filtrat
yang dihasilkan dialirkan ke

belt press

atau didaur ulang untuk

pemasakan
bubur di hydra pulper. Bak pengendap I ini juga dilengkapi dengan
scrapper untuk menggiring kotoran yang mengapung di tepi agar menuju
ke tengah dan dapat disedot oleh pompa yang berada di tengah bak
pengendap. Air limbah yang tersisa kemudian dialirkan ke bak aerasi
untuk diproses secara biologis.

3. Bak Aerasi
Pada bak aerasi terjadi pengolahan air limbah secara mikrobiologi
dengan menggunakan lumpur aktif yang mengandung bakteri jenis
Sarcodina atau Rotutoria. Prinsip lumpur aktif adalah memanfaatkan
bakteri-bakteri aerob untuk mengurai polutan dalam air, yang nutrisinya
dipenuhi oleh nitrogen dan fosfor. Bakteri ini berasal dari kotoran kerbau
dan akan memakan sisa-sisa serat.
Jenis Jenis Proses
1. Proses Mekanik

Proses mekanik digunakan pada pembuatan kertas tingkat rendah yang memiliki
stabilitas warna rendah, seperti koran, kertas pembungkus dan kertas karton. Pelepasan serat
pada proses me kanis dilakukan dengan penggerindaan dan penggerusan.
Beberapa cara pembuatan pulp secara mekanis adalah:
1. Stone Ground Wood Pulping (SGP) : Pada proses ini digunakan batu gerinda untuk
menguraikan bahan baku. Bahan baku kayu digiling dan disemprotkan air. Rendemen
yang diperoleh antara 93-98%. Kekuatan dan derajat putih pulp yang dihasilkan
rendah. Energi dan air yang diperlukan cukup banyak.
2. Refiner Mechanical Pulping (RMP) : Proses ini menggunakan penggilingan dengan
cakram untuk menguraikan bahan baku. Bahan baku utama yang digunakan adalah
kayu jarum karena sifat fisik yang dihasilkan lebih baik dibandingkan pulp kayu asah,
sedangkan energi yang digunakan lebih rendah jika dibandingkan dengan proses SGP.
3. Thermo Mechanical Pulping (TMP) : Proses ini juga menggunakan penggilingan
dengan cakram untuk menguraikan bahan baku. Namun, perbedaan TMP dengan
RMP adalah adanya proses pemanasan sebelum penggilingan sehingga ikatan-ikatan
yang dibentuk lignin dilemahkan. Proses ini menyebabkan jumlah serat panjang lebih
banyak sehingga memiliki kekuatan yang lebih besar. Perlakuan awal dengan
pemanasan pada suhu tinggi menyebabkan komponen lignin menjadi lunak, serta
komponen yang mudah larut dalam air dan mudah menguap hilang.
4. Chemical Thermo Mechanical Pulping (CTMP) : Proses ini adalah pengembangan da
ri proses TMP. Pada proses ini, perlakuan awal yang diberikan selain pemanasan
adalah perlakuan kimiawi yang diharapkan dapat lebih mudah menghilangkan lignin.
Rendemen yang dihasilkan lebih rendah dari proses mekanik biasa tetapi
menghasilkan pulp yang memiliki sifat fisik yang lebih baik. Fraksi serat panjang
yang dihasilkan lebih banyak dari pulp yang berasal dari proses mekanik lainnya.
2. Proses Semi Kimia.
Proses ini merupakan gabungan dari proses mekanik dan proses kimia. Tahap awal dari
proses ini adalah pengolahan bahan baku dengan menggunakan bahan kimia untuk
memutuskan ikatan lignin, selulosa, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan kimia. Contoh
pros es ini adalah proses pemasakan pulp dengan menggunakan Na2SO3 yang mengandung

larutan buffer untuk menetralkan asam-asam organik yang terbentuk pada pemanasan sampai
120 oC atau lebih. Fungsi buffer adalah untuk mencegah korosi, menaikkan rendemen dan
mengurangi waktu pemasakan. Contoh buffer adalah campuran NaOH dengan Na2CO3 atau
Na2S dengan Na2 SO4 . Buffer yang sering digunakan adalah NaHCO3 karena menghasilkan
pulp dengan warna yang lebih baik dan dengan pemakaian bahan kimia yang lebih sedikit.
Proses semi kimia yang lain adalah proses alkali dingin yaitu perendeman bahan baku dalam
larutan NaOH pada suhu kamar dan tekanan atmosfer. Brightness kertas yang dihasilkan
lebih rendah jika dibandingkan dengan proses netral sulfit.
3. Proses Kimia.
Pembuatan pulp dengan proses kimia adalah proses untuk merusak dan melarutkan zat
pengikat serat yang terdiri dari lignin, pentosa dan lainnya dengan menggunakan bahanbahan kimia. Proses untuk merusak dan melarutkan ini umum disebut sebagai proses
pemasakan. Proses pemasakan bahan baku dengan larutan kimia dilakukan dalam reaktor
yang disebut sebagai digester. Selama pemasakan berlangsung, lignin bereaksi dengan larutan
kimia pemasak dan membentuk senyawa-senyawa terlarut yang mudah dicuci. Namun
karena kesamaan sifat fisik dan kimia dari selulosa dan lignin, sebagian selulosa ikut bereaksi
juga, sehingga dapat menurunkan rendemen pulp yang dihasilkan. Berdasarkan bahan kimia
yang digunakan untuk pemasakan, pembuatan pulp dengan proses kimia dapat dibedakan
menjadi tiga macam, yaitu:
1. Proses Sulfat.
Pada proses sulfat, larutan pemasak yang digunakan adalah sodium hidroxide dan sodium
sulfite. Sodium sulfite dihasilkan dari reduksi sulfat selama proses pembakaran dengan
reaksi:

Na2SO4+ 2C Na2 S + 2CO2

Sodium hidroxide dihasilkan dari hidrolisis sodium sulfite di dalam air dengan
reaksi:

Na2S + H2O NaOH + NaHS

NaHS berfungsi sebagai buffer dan mengurangi efek degradasi selulosa oleh NaOH. NaHS
dapat bereaksi dengan lignin menghasilkan thio-lignin yang mudah larut dalam alkali
sehingga pemasakan dapat berlangsung lebih singkat dan temperatur dapat diturunkan sekitar
160-170 0C. Serat yang dihasilkan sangat baik tetapi memiliki warna yang jelek, sehingga
proses ini digunakan untuk membuat kertas berkekuatan tinggi seperti kantong semen dan
kertas bungkus.Proses sulfat memakai alkali aktif dan sulfiditas sebagai bahan pemasak,
sebagai bahan baku hampir semua jenis kayu dan non kayu baik kayu lunak maupun kayu
keras. Pulp yang dihasilkan berwarna coklat dan mempunyai kekuatan fisik yang tinggi

sehingga biasanya digunakan untuk pembuatan kertas semen, kertas bungkus dan kertas liner,
dan udah diputihkan ( bleaching ).
2.ProsesSulfit.
Proses ini menggunakan bahan kimia aktif, yaitu asam sulfit, kalsium bisulfit, sulfur
dioksida yang dinyatakan dalam larutan Ca(HSO3)2 dengan H2SO3 berlebih. Bahan baku
yang digunakan biasanya kayu lunak dan larutan pemasak SO2 dan Ca(HCO3)2.
Reaksi pembuatan larutan pemasak adalah:
S + O2 > SO2
2SO2 + H2 O + CaCO3 > Ca(HSO3)2 + CO2
Lignin

yang

terikat

pada

selulosa

akan

bereaksi

dengan

larutan

Ca(HSO3)2 membentuk lignin sulfonat dengan reaksi sebagai berikut:


Ca(HSO3)2 > Ca 2+ + 2HSO3Lignin + HSO 3- -> SO2+ Lignin-OH
Lignin-OH + HSO3 > Lignin-SO3 + H2O
Pulp yang dihasilkan dari proses sulfit baik untuk pembuatan kertas tissue dan kertaskertas cetak bermutu.

Beberapa keuntungan pulp sulfit adalah:


1. Rendemen yang lebih tinggi pada bilangan kappa tertentu, yang melibatkan
kebutuhan kayu yang rendah;
2. Derajat putih pulp yang tidak dikelantang lebih tinggi; dan
3. Persoalan pencemaran sedikit.
Cara ini sudah sangat jarang dipakai, karena biayanya yang terlalu mahal
4. Proses Soda (NaOH)
Proses ini digunakan untuk bahan baku non kayu seperti bagasse, jerami, damen dan
jenis rumput-rumputan yang lain. Larutan pemasak yang digunakan adalah NaOH sebanyak
18-35% berat bahan baku kering. Degradasi selulosa oleh larutan NaOH pekat dapat terjadi

pada suhu di atas 100 0C. Semakin tinggi temperatur pemasakan maka perbandingan jumlah
selulosa yang hilang akan lebih banyak daripada lignin yang hilang.
Beberapa hal yang berpangaruh pada proses soda adalah:
a.

Perbandingan cairan pemasak terhadap bahan baku yang digunakan.


Kekurangan bahan kimia atau laru tan pemasak menyebabkan pulp berwarna gelap dan
sukar diputihkan pada tahap bleaching . Namun, bahan pemasak yang berlebihan dapat
menurunkan rendemen dengan terjadinyadegradasi serat-serat selulosa.

b. Waktu dan temperatur pemasakan.


Bila waktu pemasakan terlalu lama maka selulosa juga akan larut dalam jumlah besar.
Jika temperatur terlalu tinggi, jumlah karbohidrat yang terdegradasi akan lebih besar daripada
lignin yang terlarut sehingga akan menurunkan rendemen dan kekentalan pulp.

5. Proses Organosolv
Pembuatan biomassa secara efisien dapat dilakukan dengan menerapkan konsep
biomass refining yaitu pemrosesan dengan menggunakan pelarut organik ( organosolve
process ). Prinsipnya adalah melakukan fraksionasi biomassa menjadi komponen-komponen
utama penyusunnya (selulosa, hemiselulosa, dan lignin) tanpa banyak merusak ataupun
mengubahnya, serta dapat diolah lebih lanjut menjadi produk yang dapat dipasarkan.
Fraksionasi biomassa menggunakan pelarut organik yang telah menjadi suatu metode
alternatif bagi proses-proses konvensional dalam pembuatan pulp, yang lebih dikenal dengan
organosolve pulping.
Kelebihan dari proses organosolv dibandingkan dengan proses konvensional adalah:
1.

Berdampak kecil bagi lingkungan, yaitu tidak menyebabkan timbulnya pencemaran seperti
gas-gas berbau yang disebabkan oleh belerang.

2.

Cairan pemasak (pelarut organik) bekas dapat digunakan kembali setelah dimurnikan terlebih
dahulu.

3.

Produk samping mempunyai daya jual seperti glukosa, pentosa, fulfural, adhesiv serta bahanbahan kimia.

6. Proses Bioteknologi
Peningkatan kualitas kayu yang menyangkut modifikasi biokimia kayu sangat berkaitan
erat dengan usaha-usaha dalam memodifikasi kandungan lignin dalam kayu. Lignin bersamasama dengan selulosa merupakan suatu komponen penting pada tumbuhan-tumbuhan

berpembuluh dan dapat ditemukan dalam jumlah yang besar pada dinding sel sekunder, serat
dan pembuluh angkut xilem.

Fungsi lignin dalam tumbuhan selain sebagai penunjang

mekanik (mecanical support) juga sangat penting dalam membantu pertahanan tumbuhan
terhadap patogen. Untuk kepentingan industri ada dua kemungkinan berlawanan yang
menyangkut modifikasi kandungan lignin dalam kayu. Pertama, bila kayu yang diproduksi
diperlukan untuk penghasil energi, maka kandungan lignin perlu ditingkatkan karena secara
kimia lignin mengandung energi yang banyak bila dibandingkan dengan komponenkomponen kayu lainnya. Kedua, bila kayu yang diproduksi diperlukan sebagai bahan baku
kertas dan pulp, maka kandungan lignin di dalam kayu perlu dikurangi karena dalam
pembuatan kertas dan pulp yang diperlukan hanyalah selulosa. Jadi untuk keperluan ini
bioteknologi dapat digunakan dalam usaha meningkatkan kandungan selulosa dan
mengurangi kandungan lignin dalam kayu tanpa melewati batas-batas fungsi kedua senyawa
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Joedodibroto, R. 1983. Prospek Pemanfaatan Eceng Gondok dalam Industri Pulp
dan Kertas. Berita Selulosa. Edisi Maret 1983. Vol. XIX No. 1. Balai Besar
Selulosa. Bandung.
Muladi, S. 2001. Kajian Eceng Gondok sebagai Bahan Baku Industri dan
Penyelamat Lingkungan Hidup di Perairan. Prosiding Seminar Nasional IV
Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI). Samarinda.oksidase, laccase dan lignin
peroksidase.