Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Definisi
Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela

zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus
yang terjadi setelah infeksi primer. Herpes zoster disebut juga dampa atau cacar
ular.
1.2.

Epidemiologi
Herpes zoster dapat muncul di sepanjang tahun karena tidak dipengaruhi

oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia. Angka kejadian herpes zoster
tidak berhubungan dengan angka kejadian varisela. Pada studi tahun 2000, insiden
herpes zoster pada semua umur adalah 1,2-4,8 kasus dalam 1000 populasi/tahun,
insiden herpes zoster pada usia > 60 tahun adalah 7,2-11,8 kasus dalam 1000
populasi/tahun. Insiden herpes zoster tergantung pada faktor yang yang
mempengaruhi hubungan antara host dan virus, yaitu usia, penyakit dan obat yang
mempengaruhi sistem imunitas tubuh.
1.3.

Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella zoster, yaitu virus yang

termasuk famili Herpeviridae. Virus ini memiliki envelope dan DNA untaian
ganda. Virus varicella zoster ini dormant di ganglion dorsalis dan nervus kranialis.
Virus ini akan tereaktivasi apabila terjadi kondisi-kondisi berikut:
- infeksi berat atau keganasan
- penggunaan obat-obat tertentu yang bersifat imunosupresan
- stres emosional.(3)

Gambar 1.1 Virus varisela zoster


1.4.

Patogenesis
Infeksi primer dari virus varicella zoster pertama kali terjadi di daerah

nasofaring. Virus mengadakan replikasi dan dilepas ke darah sehingga terjadi


viremia permulaan yang sifatnya terbatas dan asimptomatik. Keaadaan ini diikuti
masuknya virus ke dalam Reticulo Endothelil System (RES) yang kemudian
mengadakan replikasi kedua yang bersifat viremianya lebih luas dan simptomatik
dengan penyebaran virus ke kulit dan mukosa. Sebagaian virus juga menjalar
melalui serat-serat sensoris ke satu atau lebih ganglion sensoris dan berdiam diri
atau laten di dalam neuron. Selama antibodi yang beredar di dalam darah masih
tinggi, reaktivasi dari virus yang laten dapat dinetralisir, tetapi pada saat tertentu
dimana antibody turun makaakan terjadi reaktivasi dari virus sehingga terjadi
herpes zoster.(4)
Selama perjalanan dari varicella, virus varisella zoster lewat melalui lesi di
kulit dan permukaan mukosa ke ujung saraf sensorik dan diangkut secara
sentripetal sampai serabut saraf sensorik ke ganglia sensoris. Di ganglia, virus
membentuk infeksi laten yang bertahan untuk hidup. Herpes zoster terjadi paling

sering pada dermatom dimana ruam varicella terbanyak yang diinervasi oleh saraf
oftalmikus dari ganglia sensoris trigeminal dari T1 ke L2.(4)
Walaupun virus laten di ganglia mempertahankan potensi untuk
infektivitas penuh, reaktivasi bisa sewaktu-waktu dan jarang, infeksi virus tidak
sampai fase laten. Mekanisme yang telibat dalam reaktivasi virus varisella zoster
laten tidak jelas, namun reaktivasi telah dikaitkan dengan immunosupresi, stress
emosional, radiasi dari sumsum tulang belakang, keterlibatan tumor, serabut
ganglion dorsalis, atau struktur yang berdekatan, trauma local, manipulasi bedah
tulang belakang, dan sinusitis frontalis (sebagai endapan zoster oftalmica), yang
paling penting adalah penurunan kekebalan seluler virus varisella zoster spesifik
yang terjadi dengan bertambahnya usia.(4)

Gambar 1.2 Patogenesis herpes zoster

Virus varisella zoster juga dapat diaktifkan kembali tanpa menghasilkan


penyakit yang jelas. Jumlah kecil yang dilepaskan antigen virus selama reaktivasi
tersebut, diharapakan dapat merangsang dan mempertahankan system kekebalan
tubuh virus varisella zoster.(4)

Ketika kekebalan seluler virus varisella zoster spesifik berada pada titik
yang paling rendah, reaktivasi virus tidak terbendung lagi. Virus berkembang biak
dan menyebar di dalam ganglion, menyebabkan nekrosis neuronal dan
peradangan, sebuah proses yang sering disertai dengan neuralgia. Infeksi virus
varisella zoster kemudian menyebar secara antidromikal menuruni saraf sensorik,
menyebabkan neuritis, dan dilepaskan dari saraf sensorik yang berakhir di kulit,
dimana ia menghasilkan karakteristik dari vesikel zoster. Penyebaran infeksi
ganglionik proksimal sepanjang akar saraf posterior ke meninges dan hasil serabut
di leptomeningitis local, pleocyosis cairan serevrospinal, dan myelitis segmental.
Infeksi motor neuron di kornu anterior dan radang akut akar saraf anterior untuk
palsi local yang mungkin menyertai erosi kulit, dan infeksi berkelanjutan dalam
system saraf pusat (SSP) dapat mengakibatkan komplikasi herpes zoster
(meningoenchepalitis, myelitis melintang).(4)
Cedera saraf perifer dapat memicu sinyal rasa nyeri pada saraf di daerah
ganglion aferen. Peradangan di kulit dapat memicu sinyal nosiseptif yang lebih
terasa nyeri di kulit. Release asam amino yang berelebihan dan neuropeptida yang
disebabkan impuls afferent selama fase akut dan prodormal pada herpes zoster
kemungkinan dapat menyebabkan cedera eksitotoksik dan hilangnya hambatan
interneuron di sumsum tulang belakang. Kerusakan neuron di sumsum tulang
belakang, ganglion dan saraf perifer, adalah penting dalam pathogenesis PHN.
Kerusakan saraf afferent primer dapat menjadi aktif secara spontan dan peka
terhadap rangsangan perifer dan simpatis, aktivasi nosiseptor yang berlebihan dan
impuls ektopik mungkin menurunkan sensitivitas SSP. Penambahan dan
perpanjangan rangsangan pada pusat itu berbahaya. Pada klinis, ini dinamakan

allodynia yaitu nyeri dan atau sensasi yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan
oleh rangsangan yang biasanya tidak menyakitkan (sentuhan ringan) dengan
rangsang sensori sedikit atau tidak sama sekali.(4)

Gambar 1.3 Patofisiologi PHN


Perubahan anatomi dan fisiologi bertanggung jawab terhadap manifestasi
PHN yang dibentuk di awal perjalanan dari herpes zoster. Hal ini akan
menjelaskan korelasi antara keparahan nyeri awal dan adanya nyeri prodormal
dengan perkemabnagn selanjutnya dari PHN, dan kegagalan terapi antivirus untuk
mencegah PHN.(4)
1.5.

Gambaran Klinis
Herpes zoster terjadi unilateral dalam distribusi saraf kranial atau saraf

spinal sensorik, sering diikuti dengan penyebaran dermatom di bagian atas atau
bawah. Dermatom tubuh yang biasanya menjadi tempat predileksi, antara lain
thorakal (55%), kranial (20% dengan nervus trigeminal sebagai nervus yang
sering diserang), lumbal (15%), dan sakral (5%).(5)
Gambar 1.4 Dermatom

Gejala klinis yang muncul dibagi menjadi tiga stadium, yaitu:(6)

a. Stadium prodromal :
Biasanya berupa rasa sakit dan parestesi pada dermatom yang terkena
disertai dengan panas, malaise dan nyeri kepala.
b. Stadium erupsi :
Mula-mula timbul papul atau plakat berbentuk urtika yang setelah 1-2 hari
akan timbul gerombolan vesikel diatas kulit yang eritematus, sedangkan
kulit diantara gerombolan tetap normal, usia lesi pada satu gerombolan lain
adalah sama sedangkan usia lesi dengan gerombolan lain adalah tidak sama.

Lokasi lesi sesuai dermatom, unilateral dan biasanya tidak melewati garis
tengah dari tubuh.
c. Stadium krustasi :
Vesikel menjadi purulen, mengalami krustasi dan lepas dalam waktu 1-2
minggu. Sering terjadi neuralgi pasca herpetika terutama pada orang tua
yang dapat berlangsung berbulan-bulan parestesi yang bersifat sementara.
Gambar 1.5 Gambaran Klinis Herpes Zoster

1.6.

Klasifikasi
Menurut lokasi, herpes zoster dibagi menjadi(4) :
a. Herpes zoster oftalmikus
Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus varicella zoster
yang mengenai bagian ganglion gisseri yang menerima serabut saraf dari
cabang oftalmikus saraf trigeminus (N.V), Fotofobia, epifora, edema
palpebra dan kesulitan membuka mata. Perhatikan adanya Hutchinsons
sign yaitu adanya vesikel pada sisi ujung hidung sebagi prediktor lesi
okular.

Gambar 1.6 Herpes zoster oftalmikus


b. Herpes zoster fasialis
Infeksi varicella zoster mengenai ganglion gisseri yang menerima serabut
saraf fasialis (N.VII).

Gambar 1.7 Herpes zoster fasialis


c. Herpes zoster servikalis
Infeksi varicella zoster mengenai pleksus servikalis

Gambar 1.8 Herpes zoster servikalis


d. Herpes zoster thorakalis
Infeksi varicella zoster mengenai pleksus thorakalis.

Gambar 1.9 Herpes zoster thorakalis


e. Herpes zoster lumbalis
Infeksi varicella zoster mengenai pleksus lumbalis.

Gambar 1.10 Herpes zoster lumbalis


f. Herpes zoster sakralis
Infeksi varicella zoster mengenai pleksus sakralis.

Gambar 1.11 Herpes zoster sakralis


g. Herpes Zoster Diseminata
Herpes zoster diseminata atau disebut juga generalisata
didefinisikan sebagai herpes zoster yang mengenai lebih dari 20

segmen diluar dermatom yang terkena. Sering terjadi pada pasien


berusia tua atau individu dengan status imun rendah, khususnya pasien
dengan limfoma maligna atau AIDS. Level serum VZV antibodi
merupakan faktor resiko signifikan untuk memprediksi penyebaran
penyakit. Lesi dermatom dapat berdarah atau membentuk gangren.

Gambar 1.12 Herpes zoster diseminata


1.7.

Diagnosis
Diagnosis herpes zoster ditegakkan secara(7) :
A Anamnesa dan pemeriksaan fisik: ditemukan tanda-tanda klinis seperti

yang telah disebutkan di atas.


B Pemeriksaan penunjang :
a Sitologi : Tzanc-smear ; ditemukan adanya sel-sel berinti besar dengan
perubahan nukleus (multinucleated giant cells).
Gambar 1.13 Multinucleated giant cells.

10

Histopatologi kulit : ditemukan adanya vesikel intraepidermal, akantolisis,


degenerasi retikular, dan dermis dibawahnya nampak edema, lymphositic

infiltration dan vaskulitis


Kultur virus : kultur virus dimungkinkan, tetapi virus varicella-zoster itu

labil dan relatif sulit untuk pulih dari penyeka lesi kulit.
Direct imunofluorescence Assay (DFA): lebih sensitif dibandingkan kultur
virus dan memiliki tambahan keuntungan dari biaya yang lebih murah dan
waktu yang lebih cepat. Seperti kultur virus, direct imunofluorescence
assay dapat membedakan infeksi virus herpes simplex dengan infeksi

e
1.8.

virus varisela-zoster.
Polymerase-chain-reaction techniques yang berguna untuk mendeteksi
DNA virus varicella-zoster di cairan dan jaringan
Diagnosis Banding

Herpes Simpleks

Definisi : Penyakit akut yang ditandai dengan


timbulnya vesikula yang berkelompok diatas dasar
eritema,

berulang,

mengenai

permukaan

mukokutaneus.
Etiologi : Disebabkan oleh virus herpes simplex.
Gejala klinis :Lesi primer didahului gejala
prodromal berupa rasa panas ( terbakar ) dan gatal.
Setelah timbul lesi dapat terjadi demam, malaise dan
nyeri otot.
Predileksi : mukosa
Status dermatologi : berupa vesikel yang mudah
pecah, erosi, ulcus dangkal bergerombol di atas dasar
eritema

dan disertai rasa nyeri. Predileksi pada

wanita antara lain labium mayor, labium minor,


klitoris, vagina, serviks dan anus. Pada laki-laki
antara lain di batang penis, glans penis dan anus.
Ekstragenital yaitu hidung, bibir, lidah, palatum dan
Varisella

faring.(1)
Definisi

vesikula

yang

tersebar,

terutama

11

menyerang anak-anak, bersifat mudah menular


Etiologi : virus Varisela zoster.
Predileksi : Paling banyak di badan, kemudian
muka, kepala dan ekstremitas.
Gejala Klinis : Pada stadium prodomal timbul
banyak makula atau papula yang cepat berubah
menjadi vesikula, yang umur dari lesi tersebut tidak
sama. Kulit sekitar lesi eritematus. Pada anamnesa
ada kontak dengan penderita varisela atau herpes
zoster. Khas pada infeksi virus pada vesikula ada
bentukan umbilikasi (delle) yaitu vesikula yang
ditengah nya cekung kedalam. Distribusinya bersifat
Dermatitis
Kontak
Alergika

sentripetal.(7)
Definisi : Dermatitis yang disebabkan terpaparnya
kulit dengan bahan yang bersifat sebagai alergen.
Disini ada riwayat alergi dan merupakan paparan
ulang.
Predileksi : Seluruh tubuh
Status dermatologis : Dapat akut, subakut dan
kronis. Lesi akut berupa lesi polimorf yaitu tampak
makula yang eritematus, batas tidak jelas pada
efloresensi dan diatas makula yang eritematus
terdapat papul, vesikel, bula yang bila pecah menjadi

Dermatitis
herpetiformis

lesi yang eksudatif.(1)


Definisi : Dermatitis yang bersifat kronis dan rasa
gatal yang sangat dengan kekambuhan yang tinggi.
Status dermatologi : berupa berupa lesi polimorf
yang bergerombol pada dasar yang eritematus.
Predileksi : pada kepala, kuduk, lipatan ketiak
bagian belakang, sakrum, bokong dan lengan bawah.

Dermatitis
Venenata

Distribusinya simetris, akut dan polimorf.(1)


Definisi : Dermatitis venenata adalah kelainan akibat
gigitan atau tusukan serangga yang disebabkan

12

reaksi terhadap toksin atau alergen yang dikeluarkan


arthropoda penyerang
Predileksi : Seluruh tubuh
Status Dermatologis : Berupa eritema, edema,
panas, nyeri, bisa berbentuk papula, pustule, maupun
krusta. (1)
Terdapat 2 macam lesi yang diakibatkan oleh gigitan
a

serangga, yaitu : (1)


Nodul eritematus, akibat serangga memasukkan
(menyuntikkan) bahan bahan berbahaya ke dalam

kulit yang menyebabkan keradangan.


Dermatitis kontak iritan, akibat
dikeluarkan

serangga

waktu

cairan

yang

berbenturan

bersentuhan dengan kulit.


1.9.

Tatalaksana
Tujuan dari terapi herpes zoster adalah mencegah penyebaran lebih lanjut,

durasi, derajat keparahan, mencegah terjadinya infeksi sekunder, dan post


herpetic neuralgia (PHN). Obat antiviral yang dapat digunakan yaitu acyclovir
( 800 mg sebanyak 5 kali sehari selama 7 hari), famciclovir (500 mg sebanyak 3
kali sehari selama 7 hari), atau dapat juga digunakan valacyclovir (1 gr sebanyak
3 kali sehari selama 7 hari). Untuk terapi simtomatik terhadap keluhan nyeri dapat
diberikan analgetik golongan NSAID seperti asam mefenamat 3x500 mg per hari,
indometasin 3x25 mg per hari, atau ibuprofen 3x400 mg per hari. Untuk
pengobatan topikal, pada lesi dapat diberikan bedak kalamin atau phenol-zinc
maupun kompres dingin.(1)
Pasien dengan komplikasi neuralgian postherpetic dapat diberikan terapi
kombinasi atau tunggal dengan pilihan sebagai berikut(1):

13

1. Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin dengan dosis 10-25 mg


per hari pada

malam hari;

2. Gabapentin bila pemberian antidepresan tidak berhasil. Dosis


gabapentin 100-300 mg per hari;
3. Penambahan opiat kerja pendek, bila nyeri tidak tertangani dengan
gabapentin atau antidepresan trsiklik saja;
4. Kapsaicin topical pada kulit yang intak (lesi telah sembuh),
pemberiannya dapat menimbulkan sensasi terbakar; dan
5. Lidocain patch 5% jangka pendek.
1.10. Prognosis
Lesi biasanya menghilang pada 10-15 hari. Prognosis untuk pasien usia
muda dan tanpa immunosupresi sangat baik. Wanita hamil dan pasien
imunosupresi memiliki risiko tertinggi gejala sisa yang serius. Orang tua memiliki
peningkatan risiko yang signifikan dari komplikasi, termasuk PHN, infeksi
bakteri,dan jaringan parut.(3)

14

BAB 2
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas pasien
Nama
: Ny.S
Jenis kelamin
: Perempuan
Umur
: 29 th
Alamat
: Semampir Surabaya
Agama
: Islam
Status perkawinan
: Sudah menikah
Pekerjaan
: Swasta
Suku bangsa
: Jawa
Tanggal pemeriksaan : 10 Desember 2015
2.2 Anamnesis
Keluhan utama: muncul bintil kemerahan
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSU Haji Surabaya dengan
keluhan muncul bintil-bintil kemerahan pada dada kanan sekitar puting
dan punggung kanan sejak 5 hari yang lalu. Bintil berisi cairan, terasa
nyeri dan panas, kadang terasa gatal. Awalnya bintil hanya di punggung,
kemudian muncul juga di sekitar puting kanan. Beberapa bintil sudah ada

yang mengering. Keluhan belum diobati sama sekali oleh pasien.


Riwayat penyakit dahulu
- Tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.
- Riwayat terkena cacar air (+) saat SMP.
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ditemukan riwayat penyakit seperti ini
Riwayat sosial :
Pasien menjaga kebersihan tubuh. Tinggal di rumah/lingkungan yang

bersih, sumber air PDAM.


2.3 Pemeriksaan fisik
Status generalis

o
o
o
o
o
o

Keadaan Umum
Kesadaran
Vital sign
Kepala
Leher
Thorak

: Baik
: Compos mentis
: Tidak dievaluasi
: Tidak dievaluasi
: Tidak dievaluasi
: lihat status dermatologis
15

o Aksilla
o Abdomen
o Ektremitas

Status lokalis
o Regio
o Effloresensi

: Tidak dievaluasi
: Tidak dievaluasi
: Tidak dievaluasi

: thorakalis anterior dextra, thorakalis posterior


dextra
: vesikel dan krusta kehitaman bergerombol dengan

dasar eritematosa, ukuran vesikel bervariasi, di sekitar gerombolan


vesikel terdapat kulit yang sehat. Letak lesi unilateral dan sesuai
dengan dermatomnya.

Gambar 2.1 Pemeriksaan fisik

2.4 Pemeriksaan penunjang


Tzank smear

16

Tampak seperti multinucleated giant cell


2.5 Problem list
o Laki-laki 29 tahun
o Multiple vesikel dan krusta kehitaman bergerombol dengan dasar
eritematosa pada thorax dextra bagian antero- posterior, nyeri (+)
o Pemeriksaan tzank smear: multinucleated giant cell
2.6 Resume
Laki-laki, 29 tahun, datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSU Haji Surabaya
dengan keluhan muncul bintil-bintil kemerahan pada dada kanan sekitar puting
dan punggung kanan yang berisi cairan, terasa nyeri dan panas sejak 5 hari yang
lalu. Dari hasil pemeriksaan didapatkan multiple vesikel dan krusta kehitaman
bergerombol dengan dasar eritematosa, di sekitar gerombolan vesikel terdapat
kulit yang sehat. Letak lesi unilateral dan sesuai dengan dermatomnya.
Pemeriksaan tzank smear tampak gambaran multinucleated giant cell.
2.7 Asessement
Herpes Zoster
2.8 Diagnosis banding
Herpes simpleks, varicella, dermatitis herpetiformis, dematitis venenata
2.9 Planning
Diagnosis
Terapi
Acyclovir tab 400 mg , 5 x 2 tablet
Asam mefenamat 500 mg, 3 x 1 tablet
Topikal bedak salicyl 2% dipakai sehabis mandi
Monitoring
-

keluhan nyeri pasien

17

effloresensi

Edukasi
o Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyakit pasien dan
penyebab dari penyakit tersebut.
o Menjelaskan terapi yang diberikan kepada pasien dan efek samping
o

obat.
Menjelaskan tentang kemungkinan terjadi neuralgia post herpetik

setelah pengobatan selesai atau herpesnya sembuh.


o Menjelaskan kepada pasien untuk tidak menggaruk lesi, karena jika
digaruk lesi sulit sembuh atau dapat terbentuk jaringan parut/skar.

BAB 3

18

PEMBAHASAN

Pada anamnesa didapatkan data laki-laki, usia 29 tahun, mengeluh muncul


bintil-bintil kemerahan pada dada kanan dekat puting dan punggung kanan sejak 5
hari yang lalu. Bintil tersebut berisi cairan serta terasa nyeri dan panas, kadang
terasa gatal. Riwayat varicella saat SMP. Dari hasil pemeriksaan fisik pada region
thorakalis dextra bagian anterior dan posterior didapatkan multiple vesikel dan
krusta kehitaman bergerombol dengan dasar eritematosa, di sekitar gerombolan
vesikel terdapat kulit yang sehat. Letak lesi unilateral dan sesuai dengan
dermatomnya.
Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Varisela-Zoster
yang sifatnya localized, terutama menyerang orang dewasa dengan ciri khas
berupa nyeri radikuler, unilateral dan gerombolan vesikelnya tersebar sesuai
dermatom yang diinervasi oleh ganglion saraf sensoris. Pada awal penyakit dapat
timbul gejala prodromal sistemik (demam, pusing, malaise) maupun gejala
prodromal lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal).
Gejala prodromal yang dirasakan pasien pada kasus ini berupa rasa gatal
yang kemudian berkembang menjadi lesi berupa gerombolan vesikel yang terasa
nyeri. Pada pasien ini didapatkan bentukan lesi khas yang menjadi dasar diagnosa
pada herpes zoster berupa group vesikel dengan dasar eritamatosa, unilateral dan
sesuai dengan dermatomnya. Lesi ini muncul akibat reaktivasi virus varicella
zoster laten yang ada pada ganglion saraf, dalam kasus ini dermatom yang terkena
adalah T4-T5 dilihat dari tinggi lesi setinggi papilla mammae.

19

Gambar 4.1 dermatom lesi

Berdasarkan anamnesis pasien mengaku pernah menderita varicella saat


masih SMP. Hal ini sangat mendukung diagnosis herpes zoster yang terjadi akibat
reaktivasi virus varisella zoster. Mekanisme yang telibat dalam reaktivasi virus
varisella zoster laten tidak jelas, namun reaktivasi telah dikaitkan dengan
immunosupresi, stress emosional, radiasi dari sumsum tulang belakang,
keterlibatan tumor, serabut ganglion dorsalis, atau struktur yang berdekatan,
trauma lokal, manipulasi bedah tulang belakang, dan sinusitis frontalis (sebagai
endapan zoster oftalmica), yang paling penting adalah penurunan kekebalan
seluler virus varisella zoster spesifik yang terjadi dengan bertambahnya usia. Pada
kasus ini faktor yang menjadi pemicu rektivasi bisa jadi penurunan system imun
pasien atau stress emosional.
Pada kasus dilakukakn pemeriksaan tzank smear dengan sediaan yang
diambil kerokan pada dasar lesi dan dilakukan pewarnaan dengan Giemsa, lalu
diperiksa dengan mikroskop. Hasil pemeriksaan kurang begitu jelas adanya
multinucleated giant cell. Hal ini bisa terjadi karena pengambilan sediaan atau
pewarnaan yang kurang tepat, maupun karena adanya kerusakan pada mikroskop.

20

Pasien kemudian diberikan terapi berupa acyclovir 400 mg yang diminum


sebanyak 2 tablet 5 kali sehari. Terapi dapat diberikan secara efektif maksimal 72
jam setelah lesi terakhir muncul, yang pada pasien ini sudah lewat dari masa
efektif. Konsumsi obat harus teratur dan dosinya cukup besar, diminum 5 kali
sehari sehingga perlu edukasi agar pasien dapat meminum obat dengan teratur
dengan memakai alarm. Asiklovir diberikan selama tujuh hari.
Selain antivirus sistemik diberikan pula salep acyclovir untuk pengobatan
topikal, namun pemberiannya secara topical tidak efektif untuk ruam pada herpes
zoster. Obat topikal lain yang dapat dipakai untuk mengurangi gejala dan
mempercepat keringnya vesikel adalah bedak salycil. Untuk nyeri yang timbul
pada pasien diberikan asam mefenamat (mefinal) 3x500 mg sebagai analgesik.
Edukasi terhadap pasien diberikan untuk mendukung kesembuhan pasien.
Lesi yang timbul jangan digaruk sebab dapat menimbulkan infeksi sekunder dan
dapat menimbulkan jaringan parut. Selain itu pasien juga disarankan untuk
menggunakan masker untuk mencegah penularan virus kepada orang lain di
sekitarnya.

21

BAB 5
KESIMPULAN

Pada kasus ini didapatkan laki-laki, 29 tahun, datang ke Poli Kulit dan
Kelamin RSU Haji Surabaya dengan keluhan muncul bintil-bintil kemerahan pada
dada kanan sekitar puting dan punggung kanan yang berisi cairan, terasa nyeri
dan panas sejak 5 hari yang lalu. Dari hasil pemeriksaan didapatkan multiple
vesikel dan krusta kehitaman bergerombol dengan dasar eritematosa, di sekitar
gerombolan vesikel terdapat kulit yang sehat. Letak lesi unilateral dan sesuai
dengan dermatomnya. Pemeriksaan tzank smear tampak gambaran multinucleated
giant cell.
Diagnosis pada pasien ini adalah Herpes zoster berdasarkan bentuk lesi
yang khas berupa grup vesikel yang bergerombol, unilateral, dan sesuai dengan
dermatomnya. Pentalaksanaan yang dilakukan berupa pemberian Acyclovir 5800
mg per hari sebagai antivirus, asam mefenamat 3500 mg per hari dan sebagai
antinyeri, dan bedak salycil untuk mempercepat keringnya vesikel. Prognosis
pasien ini baik.

DAFTAR PUSTAKA
1

Djuanda, Adhi. Penyakit Virus. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.
5, cetakan kelima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2010. p.110-118

22

Zhang J, Xie F, et al. Association Between Vaccination for Herpes Zoster and
Risk of Herpes Zoster Infection Among Older Patients With Selected
Immune-Mediated Diseases. American Medical Association. Vol 308 no 1.
Available on: http://jama.jamanetwork.com/. Accessed on: December 10th
2015.

eMedicine

Dermatology.

Herpes

Zoster.

Available

on:

http://emedicine.medscape.com/article/1132465. Accessed on December 14th


2015.
4

Wolff, Klaus et al. Varicella and Herpes Zoster. In: Fitzpatricks Dermatology
in General Medicine. 8th ed. New York: Mc Graw Hill Medical. 2012. p 23832401.

James, William D et al. Zoster (Shingles, herpes zoster). In: Andrews Disease
of the Skin Clinical Dermatology. 11th ed. Philadephia: W.B. Saunder
Company. 2011. p. 371-376

Murtiastutik D, Ervianti E, Sawitri. Herpes Zoster. Pedoman Diagnosis dan


Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 3th. Surabaya : Fakultas
Kedokteran, Universitas Airlangga, 2005, pp. 56-58.

Burns, Tony et al. Varicella Zoster Virus. In: Rooks Textbook of Dermatology.
8th ed. UK: Blackwell Publishing. 2010. Vol II, 42. p. 33.22-33.28

23