Anda di halaman 1dari 25

BAB II

DASAR TEORI
2.1 Harmonisa
2.1.1 Pengertian Harmonisa
Sistem tenaga listrik dirancang untuk beroperasi pada frekuensi 50 Hz
atau 60 Hz. Di Indonesia frekuensi yang digunakan adalah 50 Hz, akan tetapi
pada aplikasinya beberapa beban menyebabkan munculnya arus/tegangan
yang frekuensinya merupakan kelipatan 50 Hz. Frekuensi 50 Hz disebut
dengan frekuensi fundamental dan kelipatannya disebut frekuensi harmonisa,
seperti ditunjukkan dalam tabel 2.1.
Tabel 2.1 Frekuensi Fundamental dan Kelipatannya
Frekuensi (Hz)

Istilah

50

Frekuensi Fundamental

100

Harmonisa Kedua

150

Harmonisa Ketiga

200

Harmonisa Keempat

250

Harmonisa Kelima

Dan seterusnya

Dan seterusnya

Dalam sistem tenaga listrik yang ideal, bentuk gelombang tegangan


yang disalurkan ke peralatan konsumen dan bentuk gelombang arus yang
dihasilkan adalah gelombang sinus murni.
Harmonisa adalah gangguan yang terjadi dalam sistem distribusi
tenaga listrik yang disebabkan adanya distorsi gelombang arus dan tegangan.
Distorsi gelombang arus dan tegangan ini disebabkan adanya pembentukan
gelombang-gelombang dengan frekuensi kelipatan bulat dari frekuensi
dasarnya. Hal ini disebut frekuensi harmonisa yang timbul pada bentuk
gelombang aslinya sedangkan bilangan bulat pengali frekuensi dasar disebut
angka urutan harmonisa atau orde harmonisa. Misalnya, frekuensi dasar suatu
5

sistem tenaga listrik adalah 50 Hz, maka harmonisa keduanya adalah


gelombang dengan frekuensi sebesar 100 Hz, harmonisa ketiga adalah
gelombang dengan frekuensi sebesar 150 Hz dan seterusnya. Gelombanggelombang ini kemudian menumpang pada gelombang aslinya sehingga
terbentuk gelombang cacat yang merupakan jumlah antara gelombang murni
sesaat dengan gelombang harmonisanya.
Harmonisa urutan genap biasanya memiliki Root Mean Square (RMS)
yang lebih kecil dibandingkan dengan harmonisa urutan ganjil. Jumlah antara
frekuensi fundamental dan kelipatannya akan menyebabkan frekuensi
fundamental tidak lagi berbentuk sinus murni, tetapi mengalami distorsi.

Gambar 2.1 Bentuk gelombang yang terdistorsi akibat


harmonisa ganjil
Sumber : Alamsyah. Reza Perkasa.2010. Universitas Indonesia
2.1.2 Sumber Harmonisa
Beban tidak linear yang umumnya merupakan peralatan elektronik
yang didalamnya

banyak terdapat

komponen semikonduktor, proses

kerjanya berlaku sebagai saklar yang bekerja pada setiap siklus gelombang
dari sumber tegangan. Proses kerja ini akan menghasilkan gangguan atau
distorsi gelombang arus yang tidak sinusoidal.
Beban

tidak linear

gelombang-gelombang arus

adalah
yang

peralatan

berbentuk

yang

menghasilkan

sinusoidal

berfrekuensi

tinggi yang disebut dengan arus harmonisa. Kecendrungan penggunaan


beban-beban elektronika dalam jumlah besar akan menimbulkan masalah
yang tidak terelakkan sebelumnya. Berbeda dengan beban-beban listrik
yang

menarik

arus

sinusoidal

(sebentuk

dengan

tegangan

yang

mensuplainya), beban-beban elektronik menarik arus dengan bentuk


tidak sinusoidal walaupun disuplai oleh tegangan sinusoidal. Beban yang
memiliki sifat ini disebut sebagai beban tidak linear.

Gambar 2.2 Gelombang Fundamental, Harmonik Ketiga & Hasil


Penjumlahannya
Sumber : Aditya. I Gede Anom.2013. Implementasi Fuzzy Logic Controller
Pada Filter Active Shunt.
Gambar 2.1 menunjukkan sebuah gelombang sinus yang terdistorsi
akibat adanya harmonik pertama, ketiga, kelima, ketujuh, dan seterusnya.
Nampak bahwa bentuk gelombang berubah sangat berbeda dari bentuk
sebuah gelombang sinus. Hal ini menyebabkan perubahan pada nilai besaranbesaran gelombang tersebut (misalnya nilai rms). Sedangkan pada gambar
2.2, terlihat penjumlahan gelombang fundamental dengan harmonisa ke-3,
menghasilkan amplitude yang lebih besar.
Beberapa peralatan yang dapat menyebabkan timbulnya harmonisa
antara lain power supply, komputer, lampu flourescent yang menggunakan
elektronik ballast (lampu hemat energi), power elektronik (Thyristor), dan

peralatan elektronik yang didalamnya banyak terdapat komponen semi


konduktor atau elektronika daya sebagai rangkaian pengendali motor listrik.
Peralatan ini dirancang untuk menggunakan arus listrik secara hemat
dan efisien karena arus listrik hanya dapat melalui komponen semi
konduktornya selama periode pengaturan yang telah ditentukan. Namun
disisi lain hal ini akan menyebabkan gelombang mengalami gangguan
gelombang arus dan tegangan yang pada akhirnya akan kembali ke bagian
lain sistem tenaga listrik. Fenomena ini akan menimbulkan gangguan beban
tidak linear satu phase. Hal di atas banyak terjadi pada distribusi yang
memasok pada areal perkantoran/komersial. Sedangkan pada areal
perindustrian gangguan yang terjadi adalah beban tidak linear tiga phase
yang disebabkan oleh motor listrik, kontrol kecepatan motor, batere
charger, dan dapur busur listrik. Peralatan ini banyak menggunakan
dioda, dan Silicon C ontrolled R ectifier (SCR).
2.1.3 Istilah-istilah yang Terdapat dalam Harmonisa
1. Orde Harmonisa
Orde harmonisa adalah perbandingan frekuensi harmonisa dan
frekuensi dasar, dimana :

(2.1)

Dengan :
n = Orde harmonisa
fn = Frekuensi harmonisa ke-n
F = Frekuensi dasar atau fundamental
Sesuai dengan definisi diatas maka orde harmonisa frekuensi dasar
(F) adalah 1. Artinya orde ke-1 bukan merupakan harmonisa, sehingga yang
dianggap sebagai harmonisa dimulai dari orde ke-2 hingga orde ke-n.

2. Spektrum
Spektrum adalah distribusi dari semua amplitudo harmonik sebagai
fungsi dari orde harmoniknya, dan diilustrasikan menggunakan histogram.

Gambar 2.3 Bentuk spektrum harmonik


sumber : Alamsyah. Reza Perkasa.2010. Universitas Indonesia
3. Distorsi Harmonisa ( Total Harmonic Distortion = THD )
Pengertian distorsi secara umum adalah perubahan dalam bentuk
gelombang yang terjadi. Salah satu distorsi yang terjadi pada sistem tenaga
listrik adalah distorsi harmonisa. Distorsi harmonisa disebabkan oleh bebanbeban

tidak linear dalam sistem tenaga listrik. Gelombang arus yang

mengandung komponen harmonisa disebut arus yang terdistorsi.


Dalam pengukuran harmonisa ada beberapa petunjuk penting
yang harus dipahami, yaitu Individual Harmonic Distortion (IHD) dan
Total Harmonic Distortion (THD).
IHD adalah perbandingan antara nilai rms dari individual harmonisa
terhadap nilai rms fundamentalnya. IHD ini berlaku untuk tegangan dan
arus.

10

(2.2)

Misalnya, asumsikan bahwa nilai rms harmonisa ketiganya pada


beban non-linier adalah 20 A, nilai harmonisa kelimanya adalah 10 A dan
nilai fundamentalnya adalah 60 A, maka nilai distorsi arus individual pada
harmonisa ketiga adalah:

= 0,333 = 33,3 %

.(2.3)

Dan distorsi arus individual pada harmonisa kelima adalah

= 0,166 = 16,66 %

Berdasarkan pengertian diatas,

(2.4)

nilai

IHD i adalah selalu 100%.

Metode

perhitungan harmonisa ini dikenal sebagai distorsi harmonisa yang berdasarkan pada
nilai fundamentalnya. Perhitungan ini digunakan oleh Institute of Electrical
and Electronic Engineers (IEEE).
THD adalah perbandingan antara nilai rms dari seluruh komponen
harmonisa terhadap nilai rms nilai fundamentalnya. Sebagai contoh, jika arus
non linear mempunyai komponen fundamental I 1 dan komponen harmonisanya
I2, I3, I4, I5, I6, I7, ....., maka nilai rms harmonisanya adalah:

(2.5)

Dengan demikian THD dapat dinyatakan :

11

THD =

X 100%

(2.6)

Atau besar THD dapat juga dinyatakan dengan persamaan :

THD =

x 100%

(2.7)

Dimana :
THD

: Total Harmonic Distortion (%)

Xn

: Nilai RMS dari arus atau tegangan harmonisa ke-n

X1

: Nilai RMS dari arus atau tegangan pada frekuensi dasar


(fundamental)

Indeks THD ini digunakan untuk mengukur besarnya penyimpangan


dari bentuk gelombang periodik yang mengandung harmonisa dari gelombang
sinusiodal murninya. Untuk gelombang sinusoidal sempurna nilai dari THD adalah
bernilai 0%. Harmonisa terdiri dari distorsi harmonisa arus (THD I) dan
distorsi harmonisa tegangan (THDv). Distorsi harmonisa arus terjadi akibat dari
pemakaian beban yang tidak linear ( non-linier) pada pengguna tenaga listrik.
Sedangkan distorsi harmonisa tegangan terjadi karena adanya harmonisa arus
yang melewati impedansi di sisi beban.
Persamaan untuk menentukan THD tegangan dan THD arus adalah :

x 100%

(2.8)

12

x 100%

(2.9)

Dimana :
Vn ; In

= komponen harmonisa

V1 ; I1

= komponen fundamental

THD

= Total Harmonic Distortion

= orde harmonisa

THD yang juga dikenal sebagai Harmonic Distortion Factor adalah


indeks untuk mengukur level distorsi harmonisa.

4. Nilai Root Mean Square (RMS)


RMS dapat didefinisikan sebagai akar kuadrat rata-rata dari fungsi
yang terdapat amplitudo dari fungsi berkalanya pada suatu periode,
sehingga RMS dapat diartikan dengan persamaan berikut :

(2.10)

Sedangkan untuk menghitung tegangan dan arus atau VRMS

(2.11)

(2.12)

(2.13)

13

Sedangkan untuk mengetahui nilai IRMS adalah :

(2.14)

(2.15)

(2.16)

2.1.4 Standar Distorsi Harmonisa


Standar harmonisa yang digunakan pada penelitian ini adalah standar
dari IEEE 519-1992.

Ada

dua

kriteria

yang

digunakan

untuk

mengevaluasi distorsi harmonisa yaitu batas harmonisa untuk arus


(THDI) dan batas harmonisa untuk tegangan (THD V). Batas untuk

harmonisa arus ditentukan oleh perbandingan

adalah arus

hubung singkat yang ada pada Point of Common Coupling (PCC ) atau
titik sambung bersama, sedangkan IL adalah arus beban fundamental.
Batas distorsi arus yang diakibatkan harmonisa yang diijinkan oleh
IEEE 519-1992 ditunjukkan pada Tabel 2.2 berikut ini
Tabel 2.2 Batas distorsi arus yang diakibatkan harmonisa menurut IEEE 519-1992

14

Untuk batas harmonisa tegangan ditentukan dari besarnya tegangan


sistem yang terpasang atau dipakai. Batas distorsi tegangan yang
diakibatkan harmonisa yang diijinkan oleh IEEE 519-1992 ditunjukkan
pada Tabel 2.3 berikut ini.

Tabel 2.3 Batas distorsi tegangan yang diakibatkan harmonisa menurut IEEE
519-1992
Distorsi
Tegangan Individu

THD

69 kV dan dibawah

3.0%

5.0%

69.001 kV-161 kV

1.5%

2.5%

Diatas 161 kV

1.0%

1.5%

Tegangan Bus Pada PCC

2.1.5 Akibat yang Ditimbulkan Harmonisa


Ada beberapa akibat yang ditimbulkan oleh adanya harmonisa dalam sistem
tenaga listrik, antara lain :
1. Dengan adanya harmonisa akan meningkatkan nilai efektif (RMS) arus
listrik, sehingga rugi-rugi tembaga (I2R) juga semakin meningkat.
2. Dengan adanya harmonisa yang berfrekuensi lebih tinggi, akan
meningkatkan rugi-rugi inti (histeresis dan arus pusar) pada mesin-mesin
listrik (misalnya transformator).

15

3. Harmonisa akan meningkatkan nilai efektif tegangan sehingga akan


meningkatkan kerapatan medan magnet pada inti besi yang juga akan
meningkatkan rugi-rugi inti (transformator).
4. Dengan meningkatnya rugi-rugi pada poin pertama sampai dengan poin
ketiga di atas, suhu kerja peralatan juga semakin tinggi dan pada
akhirnya akan mengurangi umur peralatan. Selain itu, meningkatnya
rugi-rugi akan menurunkan efisiensi peralatan.
5. Tegangan efektif yang meningkat akibat adanya harmonisa ini juga akan
meningkatkan kuat medan listrik yang dipikul oleh isolasi peralatan.
6. Menimbulkan panas yang berlebih pada isolasi kapasitor.

16

Tabel 2.4 Dampak harmonisa pada berbagai peralatan sistem tenaga listrik.
Peralatan

Konduktor

Dampak Harmonisa

Akibat

Peningkatan daya nyata yang


diserap oleh konduktor

Rugi-rugi jaringan meningkat

Reaktansi induktif sama


dengan reaktansi kapasitif
sehingga terjadi resonansi

Rugi-rugi dielektrik
meningkat
Menambah thermal stress

Transformator

Harmonisa tegangan
menyebabkan tegangan
transformator meningkat dan
penekanan pada isolasi

Pemanasan pada
transformator
Mengurangi umur operasi
Daya mampu menurun
Arus netral meningkat

Penambahan komponen torsi


Relay

Kesalahan pembacaan

Karakteristik waktu tunda relay Kesalahan trip dari relay


berubah
Peningkatan rugi-rugi

Pemanasan pada mesin


berputar
Menambah thermal stress
Mengurangi umur operasi

Mesin berputar

Harmonisa tegangan
menghasilkan medan magnet
berputar pada kecepatan sesuai
frekuensi harmonisa

Mengurangi effisiensi
Getaran mekanik bising
Peningkatan rugi-rugi inti dan
tembaga pada kumparan stator
dan rotor

Alat ukur
elektromekanik

Harmonisa menghasilkan
penambahan torsi pada
piringan yang dapat
menyebabkan operasi tidak
sesuai karena peralatan
dikalibrasi pada frekuensi
dasarnya

Kesalahan pembacaan

17

Jaringan
telekomunikasi

Harmonisa arus dan tegangan


dapat menghasilkan kopling
induktif yang akan merusak
kinerja sistem komunikasi

Menimbulkan interferensi
pasa saluran komunikasi
radio, telepon

Sumber : chapter II, Universitas Sumatera Utara


2.1.6 Dasar-dasar Pengontrolan Harmonisa
Ketika sebuah sistem tenaga listrik mengalami permasalahan distorsi
harmonik, ada beberapa cara dasar untuk mengatasinya, yaitu dengan:
1. Mengurangi arus harmonik yang dihasilkan oleh beban.
2. Menambah filter untuk mengalihkan arus harmonik dari sistem, memblok
arus yang memasuki sistem, atau melokalisir arus harmonik.
3. Merubah respon frekuensi dengan menggunakan filter, induktor, dan
kapasitor.
2.1.7 Memfilter Harmonisa
Filter shunt bekerja dengan menghubung singkat arus harmonisa
sedekat mungkin kepada sumber distorsi secara praktis. Hal ini menjaga arus
agar tetap jauh dari sistem. Ini merupakan tipe filter yang banyak diaplikasikan
karena pertimbangan ekonomis dan juga karena filter cenderung memperhalus
tegangan pada sisi beban sebaik cara memindahkan/meredam arus harmonisa.
Pendekatan lain adalah dengan memakai filter seri yang dapat
memblok arus harmonisa. Cara semacam ini merupakan rangkaian paralleltuned yang memberikan impedansi yang besar kepada arus harmonisa. Filter
semacam ini jarang digunakan karena sulit untuk mengisolasinya dari jalur
listrik dan tegangan pada sisi beban dapat sangat terdistorsi.
2.2 Filter Harmonisa
Didalam merancang suatu filter, perlu dilakukan studi untuk
menentukan kompensasi daya reaktif yang diperlukan oleh sistem. Filter harus
didesain untuk menyediakan daya reaktif dalam jumlah yang tepat. Jika tidak
diperlukan daya reaktif, filter harus didesain minimum, artinya filter harus

18

cukup menekan harmonisa pada biaya yang paling rendah dan mensuplai
beberapa daya reaktif, tapi tidak semua yang diperlukan.
Prosedur umum dalam menganalisis harmonisa adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi kondisi harmonisa
2. Mendesain skema filter untuk menekan harmonisa
3. Menganalisis unjuk kerja filter
Beberapa metode yang digunakan untuk mengatasi masalah
harmonisa adalah kompensasi fluks magnektik ( Magnetic flux compensation),
injeksi harmonik (harmonic injection), shunt filter, injeksi riak DC ( D.C.
ripple injection).
Ada dua jenis filter, yaitu filter aktif dan filter pasif. Filter pasif
banyak digunakan di industri. Namun, filter ini memiliki beberapa kelemahan,
terutama filter pasif tergantung pada impedansi sumber sistem tenaga,
frekuensi sistem dan toleransi komponen. Lebih jauh, filter ini menarik
harmonik dari beban lain dalam sistem. Maka dirancanglah filter aktif untuk
mengurangi harmonisa selain menggunakan filter pasif yang masih memiliki
beberapa kekurangan.
2.2.1 Filter Aktif
Filter aktif adalah suatu perangkat elektronik yang dapat memperbaiki
kualitas daya yang dikirimkan dari sumber ke beban. Filter sistem tenaga listrik
biasanya terdiri dari filter aktif dan filter pasif. Menurut Izhar et al, pemakaian
filter aktif pada sistem tenaga listrik lebih fleksibel daripada filter pasif karena
dari segi penggunaan dan unjuk kerja (performance) filter aktif lebih
ekonomis.
Untuk mengurangi permasalahan yang ditimbulkan oleh kualitas daya
pada sistem tenaga tergantung pada koneksi filter aktif yang diperlihatkan pada
tabel 2.4.

19

Tabel 2.5 Aplikasi filter aktif tergantung pada permasalahan kualitas daya

Koneksi
Filter Aktif

Sumber Permasalahan
Efek Beban terhadap Suplai
Arus Bolak Balik

Efek Suplai Arus Bolak


Balik terhadap Beban

~ Memfilter Arus Harmonisa


Shunt

~ Kompensasi Arus Reaktif


~ Arus Tak Seimbang

~ Flicker Tegangan

Seri

Seri Shunt

~ Memfilter Arus Harmonisa

~ Tegangan Sag/Swell

~ Kompensasi Arus Reaktif

~ Tegangan tak seimbang

~ Arus Tak Seimbang

~ Distorsi Tegangan

~ Flicker Tegangan

~ Tegangan Notching

~ Tegangan tak seimbang

~ Flicker Tegangan

~ Memfilter Arus Harmonisa

~ Tegangan Sag/Swell

~ Kompensasi Arus Reaktif

~ Tegangan tak seimbang

~ Arus Tak Seimbang

~ Distorsi Tegangan

~ Flicker Tegangan

~ Tegangan Notching

~ Tegangan tak seimbang

~ Flicker Tegangan

Sumber : chapter II, Universitas Sumatera Utara


Filter aktif biasanya menggunakan

perangkat pensaklaran berupa

pengatur modulasi lebar pulsa tegangan atau arus yang disebut Pulse Witdh
Modulation Voltage Source Inverter (PWM VSI) atau Current Source Inverter
(CSI) yang dihubungkan ke level sistem tegangan rendah dan juga tegangan
tinggi tergantung pada permasalahan kualitas daya. Menurut Akagi pada
dasarnya filter aktif dalam sistem tenaga dibagi dalam 2 topologi yaitu topologi

20

secara paralel disebut Shunt Active Filter dan secara seri disebut Series Active
Filter.
2.2.2 Filter Aktif Paralel (Shunt Active Filter)
Prinsip dasar filter aktif paralel adalah menyaring arus harmonisa
dengan menghasilkan arus filter kompensasi (ifilter) yang berbanding secara
terbalik arus harmonisa beban (ibeban). Saat fasa arus filter aktif shunt dan fasa
arus beban mempunyai fasa yang sama ataupun fasanya berlawanan pada
frekuensi harmonisa maka kedua fasa akan saling meniadakan sehingga jumlah
vektor arus menjadi nol pada suplai arus (i suplai) di Point of Common Coupling
(PCC) sehingga arus suplai mendekati sinusoidal, seperti diperlihatkan pada
gambar 2.4 dan gambar 2.5 merupakan topologi filter aktif paralel (Shunt) dan
bentuk gelombangnya.

Gambar 2.4 Topologi Filter Aktif Paralel (Shunt)


Sumber : chapter II, Universitas Sumatera Utara
Filter aktif paralel terdiri dari inverter, keluaran inverter dihubung
dengan L ataupun LC dipasang secara paralel dengan beban yang mengandung
arus harmonisa sehingga terjadi kompensasi arus.

21

Gambar 2.5 Bentuk gelombang setelah dipasang filter aktif paralel, arus
sumber, arus beban non liniear dan arus kompensasi.
Sumber : chapter II, Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.6 Filter Aktif dengan Menggunakan Inverter Sumber


Tegangan
Sumber : chapter II, Universitas Sumatera Utara
Peralatan pensaklaran yang digunakan untuk filter aktif dapat berupa
mosfet, IGBT, transistor daya, Pulse Width Modulation (PWM) dan
memerlukan pensaklaran antara peralatan dan juga periode arus nol.

22

2.3 Voltage Source Inverter (VSI)


Definisi secara umum dari inverter adalah peralatan elektronika daya
yang berfungsi mengubah tegangan searah (DC) menjadi tegangan bolak-balik
(AC). Single Phase VSI adalah inverter yang paling sederhana. Single Phase
VSI terdiri dari 2 saklar (switching device) S1, S2, dan 2 dioda antiparalel D1
dan D2 sebagai jalan arus untuk kembali ke sisi DC apabila diperlukan.
Inverter 3 fasa dapat dibentuk dengan 3 kali inverter 1 fasa terdiri dari
6 buah saklar S1, S2, S3, S4, S5, dan S6 dengan tipe sinyal kontrol yang dapat
dipakai yaitu konduksi 120o atau 180o. Pada inverter 3 fasa dengan mode
konduksi 120o memungkinkan setiap komponen pensaklaran akan konduksi
selama 120o dengan pasangan konduksi yang berbeda, misal 60o pertama antara
S1 dan S2, 60o kedua antara S1 dan S2. Tegangan suplai merupakan sumber dc
dengan tegangan sebesar Vs/2. Khusus pada tipe ini menggunakan mosfet
daya, 2 atau lebih mosfet daya akan dikonduksi secara bersamaan dengan
urutan tertentu. Dibawah ini merupakan contoh rangkaian daya pada inverter 3
fasa yang dapat dioperasikan dengan mode konduksi 120o.

Gambar 2.7 Inverter Tiga Fasa


Sumber : Rusadi, Anugrah Rahman. 2013. Inverter.

23

Tabel 2.5 Pensaklaran Inverter 3 fasa konduksi 120o

Saklar
Waktu

S1
S6
0-60o

S2
S1
o
60 -120o

S3
S2
120o-180o

S4
S3
180o-240o

S5
S4
240o-300o

S6
S5
300o-360o

Gambar 2.8 Bentuk Gelombang Arus Fasa dengan Tegangan Garis pada Inverter 3
Fasa Persegi
Sumber : Rusadi, Anugrah Rahman. 2013. Inverter.

Gambar 2.9 Bentuk Gelombang Keluaran Sinusoidal pada Inverter 3 Fasa


Konduksi 120o
Sumber : Rusadi, Anugrah Rahman. 2013. Inverter.
24

2.4 Fuzzy Logic


Pada tahun 1990 pertama kali dibuat mesin cuci dengan logika fuzzy
di Jepang. Sistem fuzzy digunakan untuk menentukan putaran yang tepat
secara otomatis berdasarkan jenis dan banyaknya kotoran serta jumlah yang
akan dicuci. Input yang digunakan adalah seberapa kotor, jenis kotoran dan
banyaknya yang dicuci. Mesin ini menggunakan sensor optik, mengeluarkan
cahaya ke air dan mengukur bagaimana cahaya tersebut sampai ke ujung
lainnya. Makin kotor, maka sinar yang sampai makin redup. Disamping itu,
sistem juga dapat menentukan jenis kotoran (daki atau minyak).
Logika fuzzy adalah suatu cara untuk memetakan suatu ruang
masukan ke dalam suatu ruang keluaran. Antara masukan dan keluaran
terdapat satu kotak hitam yang harus memetakan masukan ke keluaran yang
sesuai.
Menurut Kusumadewi (2004), ada beberapa alasan mengapa logika fuzzy
banyak digunakan, antara lain :
1.

Konsep logika fuzzy mudah dimengerti. Konsep matematis yang


mendasari penalaran fuzzy sangat sederhana dan mudah dimengerti.

2.

Logika fuzzy sangat fleksibel.

3.

Logika fuzzy memiliki toleransi terhadap data-data yang tidak tepat.

4.

Logika fuzzy mampu memodelkan fungsi-fungsi tidak linier yang sangat


komplek.
Sebelum

menggunakan

logika

fuzzy,

biasanya

komputansi

menggunakan himpunan crisp. Pada himpunan tegas (crips), nilai keanggotaan


suatu item x dalam suatu himpunan A, yang sering ditulis dengan A[x],
memiliki 2 kemungkinan, yaitu :

satu (1), yang berarti bahwa suatu item menjadi anggota dalam suatu
himpunan, atau
25

nol (0), yang berarti bahwa suatu item tidak menjadi anggota
dalam suatu himpunan.
Tetapi penggunaan himpunan crisp untuk menyatakan suatu

keanggotaan terkadang sangat tidak adil, adanya perubahan kecil saja pada
suatu nilai mengakibatkan perbedaan kategori yang cukup signifikan. Contoh
jika variabel umur dibagi menjadi 2 kategori yaitu umur < 40 tahun disebut
muda dan umur 40 disebut tua, maka bagaimana jika seseorang berusia 40
tahun kurang 1 hari.
Himpunan fuzzy digunakan untuk mengantisipasi hal tersebut.
Seberapa besar eksistensi dalam suatu himpunan dapat dilihat pada nilai
keanggotaannya.
1.

Fuzzifikasi
Proses ini berfungsi untuk merubah suatu besaran analog menjadi fuzzy
input. Prosesnya adalah :
1.

Suatu besaran analog dimasukkan sebagai masukan.

2.

Masukan kemudian dimasukkan pada batas scope / domain sehingga


masukan tersebut dapat dinyatakan sebagai label seperti normal,
sedang, tinggi dari fungsi keanggotaan (input membership functions).

3.

Dari fungsi keanggotaan ini dapat diketahui berapa derajat


keanggotannya (degree of membership).

4.

Hasil dari fuzzifikasi ini adalah fuzzy input.

Fuzzifikasi memiliki peranan untuk mentransformasikan bilangan tegas


yang diperoleh dari sebuah pengukuran ke dalam penaksiran dari nilai
subjektif, atau bisa didefinisikan sebagai pemetaan dari ruang masukan ke
himpunan fuzzy dalam semesta pembicaraan masukan nyata.
a. Fungsi keanggotaan
Fungsi keanggotaan (membership function) adalah suatu kurva yang
menunjukkan pemetaan titik-titik masukan data ke dalam nilai
26

keanggotaannya (derajat keanggotaan) yang memiliki beda antara 0


sampai 1. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan
nilai keanggotaan adalah dengan melalui pendekatan fungsi. Ada
beberapa fungsi yang dapat digunakan yaitu :

1. Kurva Linier

b
a

Gambar 2.9 Representasi fungsi keanggotaan linear


Fungsi keanggotaan :
x

xb
ab

(2.17)

2. Kurva segitiga

Gambar 2.10 Representasi fungsi keanggotaan segitiga


Fungsi keanggotaan segitiga terbentuk oleh tiga parameter : a, b, dan
c sebagai berikut.

27

(2.18)
3. Kurva Trapesium

Gambar 2.11 Representasi fungsi keanggotaan trapesium


Fungsi keanggotaan trapesium dibentuk oleh empat parameter : a, b,
c, dan d sebagai berikut.

(2.19)
2.

Evaluasi Rule
Proses ini berfungsi untuk untuk mencari suatu nilai fuzzy output
dari fuzzy input. Prosesnya adalah suatu nilai fuzzy input yang berasal dari
proses fuzzifikasi kemudian dimasukkan kedalam sebuah rule yang telah
dibuat untuk dijadikan sebuah fuzzy output.
Ini merupakan bagian utama dari fuzzy, karena disinilah sistem akan
menjadi pintar atau tidak. Jika tidak pintar dalam mengatur rule (basis
aturannya) maka sistem yang akan dikontrol menjadi kacau.

28

Basis aturan berisi aturan-aturan fuzzy yang digunakan untuk


pengendalian sistem. Aturan-aturan ini dibuat berdasarkan logika dan
intuisi manusia, serta berkaitan erat dengan jalan pikiran dan pengalaman
pribadi yang membuatnya. Jadi tidak salah bila dikatakan bahwa aturan ini
bersifat subjektif, tergantung dari ketajaman yang membuat. Aturan yang
telah ditetapkan digunakan untuk menghubungkan antara variabel-variabel
masukan dan variabel-variabel keluaran. Aturan ini berbentuk JIKA
MAKA (IF THEN).
3.

Defuzzifikasi
Defuzzifikasi merupakan cara untuk mendapatkan nilai tegas dari
nilai fuzzy secara representatif. Secara mendasar defuzzifikasi adalah
pemetaan dari ruang aksi kendali fuzzy yang didefinisikan dalam semesta
pembicaraan keluaran ke dalam ruang aksi kendali nyata (non-fuzzy).
Proses ini berfungsi untuk menentukan suatu nilai crisp output.
Prosesnya adalah sebagai berikut: suatu nilai fuzzy output yang berasal dari
evaluasi rule diambil kemudian dimasukkan ke dalam suatu fungsi
keanggotaan keluaran (membership function output). Besar nilai fuzzy
output dinyatakan sebagai degree of membership function output. Nilainilai tersebut dimasukkan ke dalam suatu rumus untuk mendapatkan hasil
akhir yang disebut crisp output. Crisp output adalah suatu nilai analog
yang akan kita butuhkan untuk mengolah data pada sistem yang telah
dirancang.

29