Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATERIKULASI PERPAJAKAN

TAX AMNESTY

OLEH
HANDIA FAHRURROZI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MATARAM
2016

TAX AMNESTY
A. Latar Belakang
Pajak merupakan salah instrument penting penerimaan negara. Melalui sector perpajakan
pada tahun 2016 Pemerintah menargetkan penerimaan negara sebesar 1.546,7 triliun rupiah
sebagaimana tercantum dalam APBN 2016, nilai tersebut meningkat 19,1 triliun menjadi 1.565,8
triliun rupiah pada RAPBN 2016. Jika dipersentase maka penerimaan negara lewat jalur perpajakan
sebesar 84,8% dari total pendapatan negara dari dalam negeri pada RAPBN perubahan yang
senilai 1.846,1 triliun rupiah. (sumber: Keterangan Pers, Kementerian Keuangan)
Sebagai sumber utama penerimaan negara pajak memiliki beberapa fungsi yaitu: anggaran,
alat pengatur, alat penjaga stabilitas, dan retribusi pendapatan (sumber: www.artikelsiana.com).
Sebagai fungsi anggaran pajak merupakan instrument utama dari penerimaan negara yakni
sebesar 84,8%. Sebagai alat pengatur pajak berperan dalam melindungi kepentingan negara untuk
mencapai tujuan tertentu. Misalkan saja dalam pengaturan pajak eksport dan import. Fungsi
selanjutnya dari perpajakan adalah sebagai penjaga stabilitas, hal ini bermakna bahwa Pemerintah
dapat menggunakan pajak untuk menjaga stabilitas ekonomi sedangkan dalam retribusi
pendapatan penerimaan dari sector pajak nantinya akan digunakan untuk kepentingan
pembangunan yang merata, jadi tidak selalu pembangunan menumpuk pada daerah yang memiliki
penyumbang pajak terbesar.
Guna mewujudkan fungsi pajak tersebut, realisasi penerimaan negara haruslah sesuai dengan
target yang ditetapakan oleh Pemerintah. Sayangnya, pada kuartal I tahun 2016 untuk bulan
Januari sampai Maret 2016 realisasi pajak sebesar Rp 199,0 triliun atau sebesar 14,6 persen.
Sementara sampai dengan semester satu tahun 2016 realisasi pajak hanya 364,1 triliun rupiah
atau sebesar 26,8 persen, nilai ini justru menurun dari nilai realisasi pajak pada tahun 2015
sebesar 29,13 persen (sumber: tempo.co, 10 Juni 2016). Oleh karena itu, untuk meningkatkan
realisasi pajak Pemerintah menggulirkan program tax amnesty.
Tax amnesty atau pengampunan pajak merupakan penghapusan pajak yang seharusnya
terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan,
dengan cara mengungkap Harta dan membayar Uang Tebusan sebagai mana diatur dalam
Undang-Undang. Selain untuk meningkatkan peneriamaan negara pengampunan pajak memiliki
2|Page

tujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan Harta
(sumber: UU Nomor 11 tahun 2016). Walaupun pengampunan pajak memliki tujuan yang baik,
namun adanya kata penghapusan pajak terutang dari sanksi administrasi dan pidana di bidang
perpajakan dalam definisi pengampunan pajak memberikan kesan keistimewaan kepada wajib
pajak yang tidak patuh, hal ini tentunya tidak memberikan rasa keadilan bagi wajib pajak yang
telah patuh membayar pajak sehingga ada kekhawatiran penurunan kepatuhan wajib pajak.
Dengan demikian, mengulas lebih dalam mengenai konsep pengampunan pajak dan bagaimana
sikap kita terhadap pengampunan pajak menjadi topik yang sangat menarik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan fenomena-fenomena pengampunan pajak di atas dapat kita
sajikan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa itu pengampunan pajak?
2. Apakah pengampunan pajak telah memberikan rasa keadilan bagi wajib pajak?

C. Pembahasan
1. Definisi Pengampunan Pajak
Pengampunan pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi
administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap Harta
dan membayar Uang Tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Pengampunan pajak
bertujuan untuk:
i. Mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan Harta, yang
antara lain berdampak terhadap peningkatan likuiditas domestic, perbaikan nilai tukar
Rupiah, penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi.
ii. Mendorong reformasi perpajakan menuju system perpajakan yang lebih berkeadilan serta
perluasan basis data perpajakan yang lebih valid, komprehensif, dan terintegrasi.
iii. Meningkatkan penerimaan pajak, antara lain akan digunakan untuk pembiayaan
pembangunan.
Subjek pengampunan pajak merupakan wajib pajak pribadi maupun badan yang telah
melakukan pengungkapan harta yang dimilikinya dalam surat pernyataan. Sementara itu, yang
menjadi objek pengampunan pajak adalah kewajiban terhadap Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak
3|Page

Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
(PPnBM) dengan membayar uang tebusan. Uang tebusan menurut UU Nomor 11 tahun 2016
tentang Pengampunan Pajak merupakan sejumlah uang yang dibayarkan ke kas negara untuk
mendapatkan Pengampunan Pajak, dengan tarif dan cara perhitungan sebagai berikut:
Jenis Tarif

Besaran Tarif
2%

Repatriasi

3%

5%

4%

Jangka Waktu/Nilai

Keterangan

Bulan pertam sampai akhir bulan

* Repatriasi : Aset di Luar

ketiga

Negeri dibawa ke Indonesia

Bulan Keempat sampai 31


Desember 2016

** Deklarasi : Aset di Luar

1 Januari 2017 sampai 31 Maret

Negeri tidak dibawa ke

2017

Indonesia

Bulan pertam sampai akhir bulan


ketiga

Deklarasi

6%

Bulan Keempat sampai 31


Desember 2016

10 %

1 Januari 2017 sampai 31 Maret


2017

UMKM

0,5 %
2%

Harta sampai Rp 10.000.000.000


Harta > Rp 10.000.000.000

Sumber: UU Nomor 11 tahun 2016

Sementara itu, dasar pengenaan uang tebusannya dihitung berdasarkan nilai harta bersih.
Dimana nilai harta bersih ini diperoleh dari total harta yang diungkapkan dikurangi dengan total
hutang sehingga rumusan matematisnya adalah sebagai berikut:
Harta Bersih = Total Harta Total Hutang
Uang Tebusan = Tarif x Harta Bersih
Setelah mengetahui definisi, tujuan, tarif dan dasar pengenaan uang tebusan untuk
pengampunan pajak maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah pengampunan pajak
memberikan rasa keadilan bagi wajib pajak yang patuh.
2. Pengampunan Pajak dan Keadilan pajak
4|Page

Setiap kebijakan yang buat selalu memiliki sisi positif dan negative, tidak terkecuali dengan
kebijakan pengampunan pajak. Sisi positif dari pengampunan pajak telah disampaikan dalam
tujuan pengampunan pajak antara lain meningkatkan likuiditas harta melalui opsi repatrasi harta.
Repatrasi berarti aset wajib pajak yang belum dilaporkan dan berada di luar negeri melalui
repatrasi diungkapkan dan diinvestasikan ke dalam negeri melalui Surat Utang Negara, Obligasi
Pemerintah/BUMN/Swasta, atau diinvestasikan pada bank persepsi yang telah ditunjuk. Opsi
repatrasi yang akan dilakukan oleh wajib pajak juga dikenakan tarif uang tebusan lebih rendah
daripada tidak menggunakan repatrasi. Dengan demikian, harapannya adalah semakin banyak
wajib pajak yang menggunakan opsi ini akan berbanding lurus dengan peningkatan investasi di
dalam negeri oleh karena itu hal ini juga memberikan efek secara tidak langsung terhadap
pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pengampunan pajak juga akan memberikan validasi data yang lebih baik,
komprehensif dimasa mendatang. Hal ini dapat terjadi karena, wajib pajak yang sebelumnya tidak
melaporkan pajak terutangnya baik karena lalai, takut terkena sanksi dan alasan lainnya melalui
pengampunan pajak akan melaporkan kondisi harta yang sebenarnya, sehingga prinsip keadilan
dalam pajak pada masa mendatang dapat tercapai.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Ditjen Pajak sampai dengan tanggal 18 Agustus 2016
realisasi uang tebusan telah mencapai Rp 748 miliar, dengan harta deklarasi dalam negeri sebesar
Rp 31,0 triliun, deklarasi luar negeri sebesar Rp 4,46 triliun dan repatrasi sebesar Rp 1,26 triliun
yang bersumber dari 3.000 WP (sumber: Merdeka.com, 19 Agustus 2016).
Namun, segala hal yang menguntungkan bagi wajib pajak yang akan melaksanakan
pengampunan pajak merupakan suatu ketidakadilan bagi wajib pajak yang telah patuh
melaksanakan pajak. Berikut beberapa ketidakadilan tersebut antara lain:
1. Penghapusan pajak terutang (PPh dan PPN dan/atau PPnBM, sanksi administrasi, dan
sanksi pidana yang belum diterbitkan ketetapan pajaknya.
2. Penghapusan sanksi administrasi atas ketetapan pajak yang telah diterbitkan.
3. Tidak dilakukan pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan
Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.
4. Penghentian pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan dan penyidikan Tindak
Pidana di Bidang Perpajakan, dalam hal Wajib Pajak sedang dilakukan pemeriksaan

5|Page

pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan Tindak Pidana di Bidang


Perpajakan.
5. Penghapusan PPh Final atas pengalihan Harta berupa tanah dan/atau bangunan serta
saham. (sumber: slide pengampunan pajak, Kemenkeu)
Oleh karena itu, agar mendapatkan rasa keadilan yang berimbang Pemerintah juga sudah
sewajarnya memberikan reward kepada wajib pajak yang telah patuh dalam melaporkan dan
membayar kewajiban perpajakannya. Meningkatkan pendapatan negara melalui pengampunan
pajak perlu juga dibarengi dengan kewajiban revaluasi aset bagi wajib pajak yang melaksanakan
pengampunan pajak. Karena dengan adanya revaluasi, nilai aset yang dilaporkan akan
mencerminkan kondisi yang sebenarnya untuk keseluruhan aset yang dimiliki tidak hanya
terhadap harta yang belum dilaporkan saja.
D. Kesimpulan
Pengampunan pajak dapat memberikan rasa keadilan bagi wajib pajak jika pelaksanaan
pengampunan pajak dibarengi dengan revaluasi aset pada tahun berikutnya.
E. Referensi
1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak
2. Keterangan Pers, Kementerian Keuangan tahun 2016
3. www.artikelsiana.com
4. tempo.co, 10 Juni 2016
5. Merdeka.com, 19 Agustus 2016
6. Slide pengampunan pajak, Kemenkeu

6|Page