Anda di halaman 1dari 5

NAMA

: HANDIA FAHRURROZI

NIM : A1C 011 050

CRITICAL REVIEW
PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DAN DANA
PERIMBANGAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH
KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI ACEH
I.

PEMAHAMAN TERHADAP PENELITIAN


Berlakunya Undang-Undang 32 tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah memungkinkan

daerah untuk mengatur sendiri urusan

pemerintahan dan urusan masyarakat melalui sistem yang dikenal


dengan

otonomi

daerah.

Pemerintah

Daerah

(provinsi/kabupaten/kota) diberikan kemandirian dalam mengelola


daerah

masing-masing

sehingga

berhasil

atau

tidaknya

suatu

pembangunan di daerah tergantung dari daerah itu sendiri. Dalam


melaksanakan pembangunan di daerah pemerintah daerah dapat
memaksimalkan potensi yang sumber daya yang ada di daerah
melalui pendapatan asli daerah dan juga mendapat bantuan dana
perimbangan dari Pemerintah. Dengan adanya Dana Perimbangan
serta Pendapatan Asli Daerah, pemerintah daerah seharusnya dapat
melaksanakan pembangunan daerahnya secara maksimal, namun
dalam penelitian ini disebutkan bahwa berdasarkan data dari media
online secara khusus di Provinsi Aceh ditemukan bahwa belum
maksimalnya pengelolaan keuangan daerah yang hal ini tentunya
berdampak pada tidak maksimalnya kinerja keuangan yang ada di
Provinsi Aceh. Hal inilah yang memotivasi penulis untuk melakukan
penelitian, karena berdasarkan logika awal dari penulis semestinya
dengan adanya sumber dana yang berasal dari potensi pendapatan
yang ada di daerah serta yang berasal dari Pemerintah sudah barang

tentu cukup untuk melaksanakan pembangunan atau melaksanakan


visi sehingga hal ini akan dapat mempengaruhi kinerja keuangan dari
daerah itu sendiri. Alat ukur yang digunakan untuk mencerminkan
kinerja pemerintah sangatlah dangkal, semestinya ada hal yang lebih
spesifik yang digunakan sebagai alat ukur menentukan kinerja
pemerintah, jika alat ukurnya hanya PAD dan Dana Perimbangan
maka hanya kinerja keuangan saja yang dapat diukur sementara itu
kinerja keuangan hanya merupakan salah satu bagian dari kinerja
pemerintah.
Tema utama yang ingin diberikan konsentrasi lebih oleh penulis
adalah implikasi adanya otonomi daerah dengan segala perangkat
kewenangan serta dana yang diberikan yang semestinya dapat
memberikan hal yang positif berupa baiknya kinerja keuangan
pemerintah daerah akibat dari pengelolaan keuangan yang dilakukan
secara mandiri oleh daerah dengan kenyataan yang ditemukan
dalam praktek yang ada seperti di Provinsi Aceh, dimana pengeloalan
keuanganya buruk, yang dibuktikan dengan Ikhtisar laporan BPK
tentang dana yang berpotensi disalahgunakan. Lebih jauh, tantangan
yang dihadapi dalam penelitian ini adalah bagaimana ia dapat
menjelaskan seperti halnya logika berpikir awal tentang pengaruh
dana yang dikelola secara mandiri oleh daerah terhadap kinerja
keuangan daerah itu sendiri.
Untuk

menguatkan

logika

berpikir

yang

dibangun

tentang

pendapatan penulis mengacu pada UU Nomor 17 tahun 2003 tentang


Keuangan Negara yang menyatakan pendapatan daerah adalah hak
pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekyaan
bersih. (Yuwono: 2005:107) menyatakan bahwa Pendapatan darah
adalah semua penerimaan kas yang menjadi hak daerah dan diakui
sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam satu tahun anggaran
dan tidak perlu di bayar kembali oleh pemerintah.
Permendagri 32 tahun 2008 menjelaskan tentang tujuan ada dana
perimbangan adalah untuk mengurangi kesenjangan fiskal antara

pemerintah dengan daerah dan antar daerah, serta meningkatkan


kapasitas daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah. (Elmi,
2002:55) mengungkapkan bahwa dengan adanya kebijakan tersebut
diharapkan akan terjadi pembagian keuanga yang adil dan rasional.
Pasal 1 ayat 19 UU nomor 33 tahun 2004 menjelaskan bahwa Dana
Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasi kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah
dalam rangka pelaksanaan desantaralisasi.
(Bastian,

2006:117)

mengatakan

bahwa

kinerja

merupakan

gambaran pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mencapai


tujuan,

visi

dan

misi

suatu

organisasi.

Pengukuruan

kinerja

pemerintah dapat diukur dengan menilai efisiensi atas realisasi dari


alokasi yang dilakukan pemerintah terhadap suatu anggaran.
Berdasarkan

teori

tentang

pendapatan

asli

daerah,

dana

perimbangan serta kinerja pemerintah terdapat suatu hubungan


yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Pendapatan Asli
Daerah serta Dana Perimbangan merupakan instrumen utama untuk
melaksanakan

pembangunan

di

daerah

yang

tertuang

dalam

program-program pemerintah daerah dalam APBD. Pelaksanaan


terhadap program-program yang telah disusun tersebut nantinya
secara langsung akan berdampak pada kinerja pemerintah, dimana
jika dana yang diperuntukkan untuk suatu program tidak ada maka
program tersebut secara otomatis urung dilaksanakan dan jika
program tidak terlaksana maka dapat diasumsikan bahwa kinerja
pemerintah menurun akibat dari kegagalan terhadap program
tersebut.
Logika berpikir yang telah dibangun di atas sejalan dengan beberapa
penelitan terdahulu yang lakukan oleh Nasution (2010) dan Florida
(2006).
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode sensus di 23
kabupaten/kota yang ada di Provinsi Aceh dengan data sekunder

yang berasal dari ABPK dan realisasi APBD selama tiga tahun yakni
tahun 2009 sampai tahun 2011. Alat analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode analisis regresi linier berganda. Metode
sensus yang digunakan tidak mencerminkan berdasarkan data yang
diambil oleh penulis. Kontradiksi antara metode dengan jumlah
sampel

yang

diberikan

mencerminkan

bahwa

metode

yang

digunakan sebenarnya bukanlah metode sensus.

II.

KARAKTERISTIK KUALITATIF PENELITIAN


a. Valliditas Internal
Validitas internal

menurut

kemampuan dari

Jogiyanto

akan

suatu instrumen riset

menunjukkan

untuk

mengukur

sesuatu apa yang seharusnya diukur dari suatu konsep. Dalam


penelitian ini, penulis mencoba menjelaskan tentang kinerja
pemerintah

di

Provinsi

Aceh

menggunakan

tolak

ukur

Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan. Asumsi


yang dibangun oleh penulis adalah dengan adanya symber
dana dari Pendapatan Asli Daerah serta Dana Perimbangan
akan menghasilkan pelaksanaan visi dan pembangunan daerah
yang lebih baik. Berdasarkan asumsi ini maka antara PAD dan
Dana Perimbangan memiliki hubungan kausal karena dengan
tidak adanya dan atau berkurangnya dana yang ada di daerah
maka kinerja pemerintah akan semkain menurun.
b. Validitas Eksternal
Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebanyak 26 SKPD dengan masing-masing SKPD sebanyak 3
orang (Kepala SKPD, PPK, dan staff keuangan) sehingga jumlah
data yang digunakan adalah 26 x 3 = 78 orang, dengan
metode analisis regresi sampel tersebut telah cukup. Namun,
dengan metode sensus jumlah tersebut belumlah bisa disebut
representatif.

Metode penyempelan yang menggunakan regresi berganda


dengan metode kuantitatif menggunakan kuisioner dengan
menggunakan skala linkert. Dari pengujian statistik dengan
data yang digunakan telah sesuai dan juga terdapat konsistensi
dalam penelitian yang telah digunakan.
c. Dari simpulan, dampak penelitian serta konsistensi penelitian
ditemukan bahwa peneliti telah terdapat konsistensi dalam
penarikan penarikan kesimpulan dengan perumusan hipotesis
yang dibuat di awal. Namun, dalam dampak penelitian masih
belum konsisten dengan perumusan dan hipotesis yang telah
dibuat.
d. Penulisan daftar pustaka yang telah dibuat juga memiliki
beberapa kekurangan antaranya dengan tidak mencantumkan
beberapa sumber yang semestinya ada dalam daftar pustaka,
kedua terdapat penulisan dalam sistematika penulisan daftar
pustaka.