Anda di halaman 1dari 8

VAGINITIS

A. Definisi
Vaginitis berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari vagina atau lubang kemaluan
wanita dan -itis yang berarti peradangan. Jadi, vaginitis berarti peradangan pada
vagina. Peradangan dari vagina dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu infeksi
bakteri, virus, jamur, gangguan keseimbangan hormon, bahkan alergi. Penyakit ini
merupakan salah satu penyakit tersering yang menyebabkan wanita pencari
pengobatan ke dokter. Pada wanita, terdapat 3 lubang pada kemaluan dengan
fungsinya masing-masing, yaitu (Barry, 2011):
1. Uretra atau saluran kencing/BAK;
2. Vagina atau lubang kemaluan untuk fungsi seksual dan tempat jalan lahir;
3. Anus atau saluran BAB.
Sedangkan pada pria, hanya terdapat dua saluran, yaitu :
1. Uretra atau saluran kencing dan saluran untuk keluarnya sperma menjadi satu
pada penis;
2. Anus atau saluran untuk BAB.
B. Etiologi
Penyebab dari vaginitis dapat bermacam-macam, yaitu infeksi bakteri, virus, jamur,
gangguan keseimbangan hormon, bahkan alergi. Penyebab vaginitis yang berbedabeda menyebabkan gejala da npengobatan yang diperlukan berbeda-beda pula.
Berikut ini adalah vaginitis yang sering ditemukan, yaitu: ( Barry, 2011)
1.

Vaginosis bakterialis

2.

Trikomoniasis

3.

Kandidiasis vulvavagina

4.

Vaginitis atrofi

C. Gejala
1. Vaginosis bakterialis
Gejala yang ditemukan dapat bermacam-macam, yaitu:
1.Tidak ada gejala : pada 50% dari penderita yang diagnosis dengan penyakit
ini tidak merasakan gejala apapun. Pada pemeriksaan dari sekret atau cairan
vagina secara mikroskopis dapat ditemukan bakteri anaerob walaupun
penderita tidak menunjukkan gejala apapun.
2. Bau amis yang tidak sedap : ini merupakan gejala tersering yang
dikeluhkan penderita. Bau amis makin terasa pada saat setelah berhubungan
seksual dan saat menstruasi.
3. Cairan atau sekret vagina berwarna keabu-abuan : sekret vagina yang
normal berwarna bening hingga putih. Perubahan warna pada sekret dari
vagina dapat menjadi salah satu penanda terjadinya peradangan pada vagina
4. Kadang dapat ditemukan gatal pada kemaluan : keluhan ini jarang
ditemukan
5. Tidak ada nyeri dan kemerahan pada kemaluan

2. Trikomoniasis
Gejala yang dapat ditemukan pada trikomoniasis adalah
1. Tidak ada gejala
2. Bau busuk yang tidak sedap
3. Sekret atau cairan vagina yang berbusa dan berwarna kuning hingga
kehijauan
4. Dapat disertai dengan iritasi atau kemerahan pada kemaluan
5. Nyeri saat berhubungan seksual
6. Nyeri saat berkemih

3.Kandidiasis vulvavagina
Gejala yang dapat ditemukan pada Kandidiasis vulvavagina adalah
1. Gatal pada kemaluan sehingga dapat ditemukan bekas-bekas garukan.
Kadang bekas garukan tersebut hingga menyebabkan luka pada kulit.
2. Kemerahan pada kemaluan
3. Sekret atau cairan vagina berwarna putih dan kental
4. Sensasi rasa terbakar pada kemaluan
5. Nyeri pada saat berkemih
6. Nyeri pada saat berhubungan seksual

4.Vaginitis atrofi
Gejala yang dapat ditemukan paca vaginitis atrofi adalah
1. Keluhan dirasakan pada saat menopause
2. Iritasi dan kemerahan pada kemaluan
3. Nyeri pada saat berhubungan seksual dan vagina kering
4. Sekret atau cairan vagina dapat berwarna kuning kehijauan dan tidak
berbau

PENYEBAB
1. Vaginosis bakterialis
Vaginosis bakterialis dapat ditemukan 10-30% pada wanita usia subur
dan merupakan penyebab tersering dari peradangan pada vagina. Pada kondisi
vagina yang sehat, terdapat bakteri lactobacillusyang merupakan flora normal
dari vagina. Bakteri tersebut bersifat asam dan melindungi vagina dari bakteribakteri anaerob (bakteri yang tidak memerlukan oksigen untuk berkembang
biak). Apabila terjadi penurunan jumlah dari bakteri lactobacillus dan terjadi
peningkatan jumlah dari bakteri-bakterianaerob, maka dapat terjadi vaginosis
bakterialis. Contoh bakteri yang dapat menyebabkan vaginosis bakterialis
adalah Gardnerellavaginalis,Mycoplasmahominis, danbakteri anaerob lainnya
( Barry, 2011). Faktor resiko untuk penyakit ini adalah
1. Sosial ekonomi rendah
2. Sering mencuci vagina terutama yang mengandung antiseptik

3. Merokok
4. Penggunaan KB spiral/IUD
5. Penggunaan spermisida dosis tinggi
6. Hubungan seksual tanpa pengaman
2. Trikomoniasis
Penyakit

trikominiasis

disebabkan

oleh

infeksi

dari

parasit Trichomonas vaginalis. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit


penular seksual (PMS) yang sangat mudah untuk menyebar ke orang lain.
Seringkali penyakit ini ditemukan secara tidak sengaja pada saat penderita
melakukan pemeriksaan Pap smear. Faktor resiko untuk penyakit ini adalah
( Barry, 2011):
1. Sosial ekonomi rendah
2. Berganti-ganti pasangan seksual
3. Hubungan seksual tanpa pengaman
4. Merokok
3. Kandidiasis vulvavagina
Penyakit kandidiasis vulvavagina disebabkan oleh infeksi jamur
Candida, sp. Menurut penelitian, sekitar 75% wanita pernah mengalami
penyakit ini dan 40-45% mengalami keluhan berulang. Candida sp.
merupakan salah satu flora normal yang terdapat di kulit manusia. Jamur
dapat berkembang menjadi penyakit pada penderita apabila terdapat kondisi
yang mendukung. Contoh kondisi tersebut adalah penggunaan antibiotik

dalam jangka waktu lama, kencing manis yang tidak terkontrol, hamil, dan
imunitas yang rendah ( Barry, 2011).
4.Vaginitis atrofi
Vaginitis atrofi terjadi akibat penurunan kadar estrogen pada saat
menopause. Penurunan kadar estrogen tersebut menyebabkan sel-sel lapisan
vagina menjadi lebih tipis sehingga pH dan flora bakteri normal vagina
terganggu. Normalnya, vagina sehat memiliki pH asam (<4,5) untuk
mencegah infeksi.
D. Penatalaksanaan
1. Vaginosis bakterialis
Untuk mendiagnosis vaginosis bakterialis digunakan kriteria Amsel,
yaitu:
1. Sekret atau cairan vagina yang homogen dan encer
2. pH vagina > 4,5
3. Tes Whiff yang positif dimana ditemukan bau amis pada penambahan KOH
10% pada sekret vagina
4. Ditemukan 20% sel clue pada pemeriksaan mikroskopis
Apabila ditemukan 3 dari 4 kriteria tersebut sudah dapat mendiagnosis
vaginosis bakterialis. Untuk pengobatan dapat diberikan antibiotik untuk
bakteri anaerob. Probiotik lactobacillus juga dapat diberikan. Pengobatan
kepada pasangan tidak diperlukan pada penyakit ini. Vaginosis bakterialis

ditelah dikaitkan dengan meningkatnya resiko untuk HIV/AIDS, keguguran


dan pecah ketuban dini.
2. Trikomoniasis
Untuk diagnosis dari trikomoniasis, perlu dilakukan pemeriksaan
mikroskopis dari sekret atau cairan vagina. Apabila ditemukan bakteri
Trichomonas vaginalis dan sel darah putih yang banyak, maka dapat
didiagnosis dengan trikomoniasis.
Untuk pengobatan dapat diberikan antibiotik untuk membunuh parasit.
Penyakit ini merupakan salah satu penyakit PMS. Oleh karena itu, perlu
dilakukan pemeriksaan terhadap pasangan. Selama pengobatan tidak boleh
berhubungan seksual sampai sembuh agar mencegah penularan kembali
terhadap diri sendiri maupun orang lain. Trikomoniasis telah dikaitkan dengan
peningkatan resiko terhadap HIV/AIDS.
3.Kandidiasis vulvavagina
Untuk mendiagnosis kandidiasis vulvavagina dengan cara pemeriksaan
mikroskopis pada sekret vagina. Nilai pH pada penyakit ini normal, yaitu <
4,5. Untuk pengobatan dari penyakit ini dapat diberikan obat anti jamur. Selain
itu, perlu dicari kondisi yang mendukung jamur ini untuk dapat berkembang
biak. Kondisi tersebut perlu diatasi agar tidak terjadi infeksi berulang.
4.Vaginitis atrofi

Untuk mendiagnosis penyakit ini dapat dilakukan pemeriksaan pH dan


pemeriksaan mikroskopis. Nilai pH meningkat, yaitu 5- 7. Pada pemeriksaan
mikroskopis ditemukan sel lapisan vagina bagian dasar yang normalnya tidak
ditemukan apabila sel lapisan vagina masih tebal.
Umumnya penyakit ini tidak memerlukan pengobatan kecuali keluhan
berat dan mengganggu. Penderita tidak perlu khawatir karena penyakit ini
disebabkan oleh perubahan hormon pada tubuh dan tidak berbahaya. Pada
kondisi yang berat dapat diberikan terapi estrogen untuk mengurangi gejala.
Umumnya gejala berkurang dalam beberapa minggu setelah terapi.
Penggunaan lubrikan dapat membantu keluhan kering pada vagina.

DAFTAR PUSTAKA

ARRY L. HAINER, MD, and MARIA V. GIBSON, MD, PhD, Medical University of
South Carolina, Charleston, South CarolinAm Fam Physician. 2011 Apr
1 ;83 (7) :807-815