Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENGENALAN MINERAL

1.1.

Pengertian Mineral
Mineral adalah bahan padat homogen yang terbentuk secara alamiah
di alam, tersusun atas unsur-unsur anorganik dan mempunyai struktur kristal
yang sempurna maupun tidak sempurna.
Mineral di alam ada yang merupakan unsur bebas dan ada yang
merupakan bentuk persenyawaan (Feet And Judson 1996). Kata mineral
berasal dari kata mineral dan logos, mengenai arti mineral belum banyak
orang yang mengetahuinya hanya mereka mengartikannya sebagai bahan
anorganik.
Dari pengertian di atas kita dapat menerangkan pengertian-pengertian
tersebut di antaranya sebagai berikut :
a. Berupa unsur tunggal :
1) Mineral merupakan unsur tunggal, contohnya graphit (c),
diamond (c).
2) Mineral berupa senyawa kimia sederhana, contohnya zircon
(ZrSi04), barite (BaS04).
3) Mineral dapat berupa senyawa kompleks.
b. Mempunyai sifat fisis kimia yang tetap :

1) Mineral mempunyai sifat fisis yaitu : warna, kilap, kekerasan,


perawakan kristal, belahan, goresan dan lain-lain.

2) Mineral mempunyai sifat kimiawi yang tetap diantaranya reaksi


terhadap api oksidasi, reduksi dan lain-lain.
c. Suatu bahan alam :
3)

Terjadi secara alamiah, bukan suatu zat yang dibuat oleh

manusia namun kadang kristal produk laboratorium sangat sulit


dibedakan bentuk kristalnya tetapi pembuatannya atau zat tersebut
tidak dapat disebut sebagai mineral.
4)
Contoh :
1) NaCl dibuat di alam dan disebut mineral halite.
2) NaCl dibuat di Laboratorium disebut mineral natrium klorida.
5) d.
Pada Umumnya Anorganik :
6)
Batasan ini mengandung pengertian mineral yang lebih
luas: mineral umum bukan sebagai hasil suatu kehidupan tetapi ada
beberapa mineral yang merupakan hasil kehidupan atau disebut
juga mineral organik. Contoh : Coal, Asphalt, Malite.
7) e.
Dapat Berupa Padat Cair & Gas :
1) Berupa zat padat : Fluorite, Gypsum.
2) Berupa zat cair : Air, Air Raksa.
8)

Dalam

hal

ini

bahwa

petrolium

(minyak

bumi)

dikelompokan dalam mineral Fuels bersama dengan Natural Gas,


Coal dan Natural Steam.
9) f.
Homogen :

10)

Mengandung pengertian bahwa suatu mineral tidak dapat

diuraikan menjadi senyawa lain yang lebih sederhana oleh proses


fisis.
11)
12) I.2.
13)

Sifat-Sifat Fisik Mineral

Sifat-sifat fisik suatu mineral sangat di perlikan di dalam

pengenalan mineral dengan cara mengaskopis tanpa menggunakan


mikroskop. Dengan cara ini akan di dapatkan ratusan mineral dalam
beberapa saat dengan cepat. Sifat-sifat fisik suatu mineral tersebut antara
lain : warna (color), perawakan kristal (crystal habit), kilap (luster),
kekerasan (hardness), gores (streak), belahan (cleveage), pecahan (fracture),
daya tahan terhadap pukulan (tenacity), berat jenis (specific gravity),
kemagnetan, derajat transparan, rasa & bau, nama mineral & rumus kimia.
14) I.2.1. Warna ( Color )
15)

Warna adalah kesan mineral setelah mendapatkan cahaya

yang kita tangkap dengan mata. Warna mineral di bedakan atas :


a. Warna hidiokhromatik : apabila warna mineral selalu tetap pada
umumnya mineral yang tembus cahaya atau berkilap logam :
magnetit, galena.
b. Warna allokhromatik : apabila warna mineral tergantung pada
material pengotornya pada umumnya mineral tembus cahaya atau
berkilap nonlogam, contohnya : kuarsa, kalsit.
c. Permainan mineral : warna mineral yang berubah ubah apabila di
gerak gerakan.
d. Opalesen : warna mineral yang bergelombang seperti mutiara.

e. Iridisen : permainan warna yang cemerlang karena adanya selaput


pada permukaan mineral.
f. Chtoyancy : warna pantulan seperti mutiara.
g. Tarnish : warna muka mineral yang lapuk karena pengaruh udara.
h. Asterisme : pantulan sinar yang memberi gambaran seperti bintang.
16) I.2.2. Perawakan Kristal ( Crystal Habit )
17)

Perawakan kristal (crystal habit), bentuk khas mineral

ditentukan oleh bidang yang membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran


relatif bidang-bidang tersebut. Kita perlu mengenal beberapa perawakan
kristal yang terdapat pada jenis mineral tertentu, sehingga perawakan kristal
dapat dipakai untuk penentuan jenis mineral, walaupun perawakan kristal
bukan merupakan ciri tetap mineral. Perawakan kristal dibedakan menjadi 3
golongan (Richard Pearl, 1975) yaitu ;
a. Elongated habits (meniang atau berserabut) :
1) Meniang (Columnar). Contoh : Tourmaline
2) Menyerat (Fibrous). Contoh : Asbestos
3) Menjarum (Acicular). Contoh : Natrolite
4) Menjaring (Reticulate). Contoh : Rulite
5) Merabut (Capillery). Contoh : Cuprite
6) Membintang (Stellated). Contoh : Pirofilit
7) Membenang (Filliform). Contoh : Silver
8) Mondok (Stound, Tubby, Equant). Contoh : Zircon
9) Menjari (Radiated). Contoh : Markasit
b. Flattened habits (lembaran tipis) :
1) Membilah (Bladed). Contoh : Kyanite, Kalaverit
2) Memapan (Tabular). Contoh : Barite, Hypersthene
3) Membata (Blocky). Contoh : Microcline, Calcite
4) Mendaun (Foliated). Contoh : Mika, Chlorite
5) Memencar (Divergen). Contoh : Aragonite
6) Membulu (Plumose). Contoh : Mika
c. Rounded habits (membutir) :
1) Mendada (Mamillary). Contoh : Malachite, Opal
2) Membulat jari (Colloform radial). Contoh : Pyrolorhyte
3) Mengginjal (Rentiform). Contoh : Hematite
4) Membulat (Colloform). Contoh : Glsuconite
5) Membutir (Granular). Contoh : Olivine

6) Stalaktit (Stalactic). Contoh : Goethite


7) Memisolit (Pisolitic). Contoh : Gibbsit, Pisolitic
18) I.2.3. Kilap ( Luster )
19)

Kilap adalah intensitas cahaya yang di pantulkan oleh

permukaan kristal. Kilap di bedakan menjadi :


a. Kilap logam (metallic luster) : bila terkena cahaya mineral akan
memberikan kesan seperti logam.
b. Kilap sublogam (submetallic luster) : bila terkena cahaya yang
akan memberikan kesan setengah logam.
c. Kilap nonlogam (nonmetallic luster) : bila terkena cahaya mineral
tidak memberikan kesan seperti logam. Kilap nonlogam di bedakan
menjadi :
1) Kilap kaca (viterous luster), bila terkena cahaya kilapnya
akanseperti kaca.
2) Kilap intan (adamantain luster), bila kena cahaya kilapnya akan
seperti intan.
3) Kilap sutera (silky luster), bila kena cahaya kilapnya akan
seperti sutera pada umumnya terdapat pada mineral yang
berserat.
4) Kilap damar (resinous luster), bila kena cahaya kilapnya akan
seperti getah damar (kuning).
5) Kilap lemak (greasy luster), bila kena cahaya akan seperti lemak
atau sabun.
6) Kilap mutiara (pearly luster), bila kena cahaya kilapnya akan
seperti mutiara.
20) I.2.4. Kekerasan ( Hardness )

21)

Skala mosh merupakan suatu skala yang di pakai untuk

mengetahui ketahanan suatu mineral terhadap goresan. Mineral yang di


pakai sebagai standar kekerasan adalah mineral yang kekerasan lebih kecil.
22)

Standar kekerasan dari mosh ini mempunyai dari skala, di

mulai dari satu untuk mineral yang terlunak skala 10 untuk mineral yang
terkeras.
23)
24)

Tabel 1.1 Skala Mohs ( http://rio-simatupang01.blogspot.com )

25)

26) I.2.5. Cerat ( Streak )


27)

Warna gores merupakan warna mineral bila di jadikan

bubuk warna ceratnya adalah tetap untuk mineral tertentu. Warna cerat di

dapatkan untuk mengoreskan mineral pada keping cerat porselen bagian


yang tidak licin. Bagi mineral yang lebih keras dari keping cerat, mineral
akan di lumatkan dengan mortir atau di goreskan pada skala kekerasan yang
lebih tinggi dari mineral tersebut.
28) I.2.6. Belahan ( Cleavage )
29)

Belahan kenampakan mineral untuk membelah melalui bidang

belahan yang rata, halus dan ada juga yang tidak rata (kasar), licin serta
pada umumnya selalu berpasangan. Belahan di bedakan antara lain :
a. Belahan sempurna (perfect cleavage), ada bidang belahan dan
mudah di belah. Contohnya : muskovit dan biotit.
b. Belahan baik (good cleavage), ada bidang belahan tetapi tidak
mudah di belah. Contohnya : kalsit, orthoklas, dan gypsum.
c. Belahan tidak jelas (indistinct cleavage), bidang belahan seperti
garis. Contohnnya : plagioklas.
d. Belahan tidak menentu, tidak ada bidang belahan seperti kuarsa.
Apabila di tinjau dari arahan belahnya, maka dapat di bedakan :
1) Belahan satu arah, contohnya : muskovit
2) Belahan dua arah, contohnya : feldspar
3) Belahan tiga arah, contohnya : halite dan kalsit
30) I.2.7. Pecahan ( Fracture )
31)

Pecahan merupakan kenampakan mineral untuk pecah

melalui bidang yang rata atau pun tidak rata. Pecahan mineral di bedakan
menjadi :

a. Pecahan konkoidal (conhcoidal fracture) : pecahan seperti ke


nampakan bagian luar kulit keran atau gelas yang pecah.
Contohnya : kuarsa.
b. Pecahan berserat (fibrous fracture) : pecahan seperti serat daging
contohnya : asbes.
c. Pecahan tidak rata (uneven fracture) : kenampakan pecahan yang
tidak rata dan kasar. Contohnya : garnet.
d. Pecahan rata (even fracture) : permukaan pecahan yang halus dan
teratur. Contohnya : mineral lempung.
e. Pecahan runcing (hackly fracture) : permukaan pecahan yang
runcing dan tidak teratur. Contohnya : emas dan tembaga.
32) I.2.8. Berat Jenis ( Specific Gravity )
33)

Banyak mineral-mineral yang mempunyai sifat fisis yang

banyak persamaannya, dapat dibedakan dari berat jenisnya. Seperti pada


colestite SrSO4 dengan berat jenis 3,95 dapat dengan mudah dibedakan
dengan barite yang mempunyai berat jenis 4,5 salah satu penentuan berat
jenis dengan teliti dapat menggunakan pycnometer.
34)

Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu

mineral di bandingkan dengan berat air pada volume yang sama.


35) I.2.9. Sifat Kemagnetan
36)

Pada acara praktikum mineral fisik ini adalah sifat dari

mineral yang diselidiki apakah paramagnetit (magnetit) ataukah diamagnetit


(non magnetit).
a. Paramagnetit (magnetit) adalah mineral tersebut mempunyai gaya
tarik terhadap magnet.

11

b. Diamagnetit (non magnetit) adalah mineral tersebut mempunyai


gaya tolak terhadap magnet.
37)
38)
39)
40)
41)

42) BAB II
43) PENGENALAN BATUAN
44)
45) II.1. Pengenalan Batuan beku
46)

Kata Igneous berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata

ignis yang berarti api atau pijar. Karena magma merupakan material atau
bahan yang pijar dan sangat panas maka batuan beku disebut dengan
Igneous Rock. Magma adalah cairan silikat yang sangat panas dengan suhu
berkisar 6000 C sampai 12500 C yang bersifat mobile dan terbentuk secara
alamiah (Larsen, 1938). Klasifikasi, penamaan dan pengenalan untuk batuan
beku sangat erat hubungannya dengan cara pembentukan mineral yang
dikandung batuan beku tersebut.
47) II.1.1.Pengertian
48)

Batuan beku adalah penyusun bumi terbesar, terjadi karena

pembekuan atau pendinginan magma jauh di bawah permukaan bumi, dekat


permukaan atau dipermukaan bumi. Batuan beku yang terbentuk jauh di
bawah permukaan bumi adalah batuan beku plutonik, yang dekat dengan
permukaan bumi adalah batuan beku hypabisal, sedangkan batuan beku
yang terbentuk dipermukaan bumi adalah batuan beku vulkanik.
49) II.1.2.Klasifikasi Batuan Beku
a. Berdasarkan terbentuknya terdiri dari :
1) Mineral utama (essential mineral) : mineral penentu penamaan
batuan. Contohnya ; kuarsa, feldspar, mika, amfibol, piroksen,
atau olivin.

12

2) Mineral sekunder (secondary mineral) : mineral yang terbentuk


dari mineral primier yang mengalami proses pelapukan,
hidrotermal atau metamorfisme contoh : kalsit, serpentin, klorit,
serosit, atau, kaolin.
3) Mineral tambahan (accessorys mineral) : mineral yang terbentuk
oleh kristalisasi magma (kehadiran mineral ini 5%).contohnya :
hematit, magmatit, kromit, apatit, zirkon, rutil, atau ilmenit.
b. Berdasarkan terang gelap warna di bagi menjadi asam dan basa :
1) Mineral asam (felsic) : kaya akan silika dan alumina, warna
cerah, mineral cerah : kuarsa feldspar (orthoklas), feldspar
(plagioklas), atau muskovit (mika putih).
2) Mineral basa (mafic) : kaya akan besi, magnesium dan kalsium,
warna gelap, contohnya : biotit (mika hitam), piroksen (augit),
amphibol (hornblende) atau olivin.
50)
Perkecualian : dunit (batu beku basa; warna terang ) dan
obsidian (batu beku asam; warna gelap).
c. Berdasarkan kandungan silika :
1) Asam (acid) : >66%
2) Intermediate : 52 66%
3) Basa (basic) : 45 52%
4) Ultra basa : <45%

14

51)

Mineral mineral yang menyusun batuan beku menurut

Bowen tersusun dalam urutan kristalisasi yang terkenal dengan nama : seri
reaksi Bowen.
52)

Tabel 1.2
Seri Reaksi Bowen ( http://basdargeophysics.wordpress.com )

53)
54)
55)
56)
57)
58)
59)
60)
61)
62)
63)
64)

Kelompok batuan berdasarkan mineralnya :

Batuan ultra basa : (olivin-piroksen); Batuan basa :(olivin-

piroksen-plag, olivin-plag atau piroksen-plag); Batuan intermediet :


(piroksenkuarsa.);

hornblende-plag,
Batuan

asam

hornblende-plag,

hornblende-biotit-plag-

(hornblende-biotit-muscovit-kuarsa,

biotit-

muskovit-k.feldspar-kuarsa, atau biotit-muscovit-kuarsa).


65)
Ciri-ciri mineral seri bowen : Olivin (hijau transparan,hijau
tua, berbentuk butiran); Piroksen (hijau tua hitam, dimensi besar,agak
buram, berbentuk prismatik pendek atau panjang); Hornblende (hitam,
dimensi kecil, agak terang, prismatik, menyudut berbutir kecil, jaraknya
renggang); Biotit (hitam, mengkilap, berlembar, mudah di congkel);
Muskovit (putih ,mengkilap, terang, berlembar, mudah di congkel);
K.Feldspar (kemerahan -

putih, keruh); Kuarsa

bentuk tak beraturan, berbutir).


66) II.1.3.Cara Pemerian Batuan Beku

(transparan bening,

15

a.

Tekstur Batuan Beku


67)

Tekstur dalam batuan beku dapat ditunjukkan oleh :

1) Derajat kristalisasi
68) Derajat kristalisasi merupakan keadaan proporsi antara
massa kristal dan massa gelas dalam batuan. Dikenal tiga kelas
a)

derajat kristalisasi, yaitu :


Holokristalin, apabila batuan tersusun seluruhnya oleh massa
69)
kristal.
b)
Hipokristalin, apabila batuan tersusun seluruhnya oleh
massa gelas dan massa kristal.
c)
Holohyalin, apabila batuan tersusun seluruhnya oleh
massa gelas.
2) Granularitas (grain size)
70) Granularitas (grain size) merupakan ukuran butir kristal
dalam batuan beku, dapat sangat halus yang tidak dapat dikenal
meskipun menggunakan mikroskop, tetapi dapat pula sangat
kasar. Umumnya dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir,
yaitu :
a) Fanerik atau fanerokristalin (faneric) adalah : kristalkristalnya jelas, sehingga dapat dibedakan dengan mata biasa
(megaskopis).

71)
72)
73)
74)

Gambar 1.1 Tekstur Fanerik ( http://dunia-atas.blogspot.com )

16

b) Afanitik (aphanitic) adalah : kristal-kristalnya sangat halus,


sehingga tidak dapat membedakan dengan mata biasa.
75)
76)
77)

78) Gambar 1.2 Tekstur Afanitik ( http://dunia-atas.blogspot.com )

3) Bentuk kristal (fabric)


79) Bentuk kristal (fabric) merupakan bentuk butir dan susunan
hubungan kristal dalam suatu batuan. Bentuk kristal dapat dibagi
beberapa macam, yaitu :
a) Euhedral : batas kristal-kristalnya terlihat jelas oleh bidang
mineralnya.
b) Subhedral : batas kristalnya sebagian tidak tampak.
c) Anhedral : batas kristalnya tidak tampak.
4) Hubungan kristal (relation).
80) Hubungan kristal (relation) merupakan hubungan kristal
satu dengan kristal yang lain, dan dibagi atas dua macam :
a) Equigranular : ukuran kristalnya relatif sama besar.
b) Inequigranular : ukuran mineralnya tidak sama besar.
b. Struktur Batuan Beku
81)
Struktur batuan beku terllihat jelas di lapangan, sedangkan
yang di lihat di laboratorium adalah :
1) Masif : tidak berlubang atau ada struktur aliran.
2) Vesikuler : berlubang oleh pelepasan gas, lubang teratur.
3) Skoria : berlubang besar tidak teratur.
4) Amigdaloidal : lubang gas terisi mineral.
5) Xenolitis : batuan beku diinklusi pecahan batuan lain.
82)
83) II.2. Pengenalan Batuan Sedimen
84)
Batuan sedimen adalah penyusun kerak bumi terbesar
kedua setelah batuan beku, yang biasanya terdapat pada singkapan di

17

permukaan bumi, sehingga seakan-akan batuan inilah yang terbesar. Batuan


sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan ketebalan
antara beberapa centimetersampai beberapa kilometer. Juga ukuran butirnya
dari sangat halus sampai sangat kasar dan beberapa proses yang penting lagi
yang termasuk kedalam batuan sedimen.Di dasar lautan dipenuhi oleh
batuan sedimen dari pantai ke pantai. Ketebalan dari lapisan itu selalu tidak
pasti karena setiap saat selalu bertambah ketebalannya.
85)
86)
87) II.2.1.Pengertian
88)
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari
akumulasi material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya
atau suatu aktivitas kimia maupun organisme, yang di endapkan lapis demi
lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan.
89)
Sifat sifat utama batuan sedimen :
1. Adanya bidang perlapisan yaitu struktur sedimen yang menandakan
adanya proses sedimentasi.
2. Sifat klastik yang menandakan bahwa butir-butir pernah lepas,
terutama pada golongan detritus.
3. Sifat jejak adanya bekas-bekas tanda kehidupan atau fosil.
4. Jika bersifat hablur, selalu monomineralik, misalnya : gypsum,
kalsit, dolomite dan rijing.
90) II.2.2.Klasifikasi Batuan Sedimen
91)
Berdasarkan asalnya batuan sedimen di bagi atas
dua jenis, yaitu :
92)
a.
Batuan sedimen klastik
93)
Batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen yang
tersusun oleh hasil penghancuran atau pelapukan batuan beku,
batuan metamorf dan batuan itu sendiri.

18

b. Batuan sedimen non-klastik


94)

Batuan sedimen non-klastik adalah batuan sedimen yang

berasal dari proses pelarutan secara kimia maupun biologi oleh


reaksi tertentu dan biasanya batuan ini mempunyai susunan kristal
serta butir yang seragam dan belum pernah mengalami transportasi.
95) II.2.3.Cara Pemerian Batuan Sedimen
a. Cara Pemerian Batuan Sedimen Klastik :
1. Tekstur, meliputi :
a) Ukuran Butir (grain size). Dalam pemerian ukuran butir memakai
skala yang di buat oleh Wentworth (1922).
96)

Tabel 1.3 Ukuran Butir ( http://nationalinks.blogspot.com )

97)
98)
99)
100)
101)
102)
103)
b) Derajat pemilahan atau sortasi merupakan keseragaman besar butir
dalam batuan sedimen. Untuk pemilahan dipakai istilah :
1) Pemilahan baik (well sorted)
2) Pemilahan sedang (moderately sorted)
3) Pemilahan jelek (poorly sorted)

19

c) Kebundaran (rounding) : nilai dari membulat atau meruncingnya


butiran. Untuk kebundaran dipakai istilah :
1) Menyudut (angular)
2) Menyudut Tanggung (subangular)
3) Membulat Tanggung (subrounded)
4) Membulat (rounded)
5) Sangat Membulat (well rounded)
d) Kemas merupakan hubungan antar butir dalam material batuan
sedimen. Ada dua (2) macam kemas, yaitu :
1) Kemas terbuka : hubungan antar butiran materialnya tidak saling
bersinggungan.
2) Kemas tertutup : hubungan antar butiran materialnya saling
bersinggungan.
2. Komposisi Mineral
104)
Komposisi mineral, dibedakan menjadi :
a) Fragmen : butiran yang besar, dapat sebagai butiran mineral, batuan
atau fosil.
b) Matrik : butiran yang ukurannya lebih kecil dari fragmen dan
biasanya terletak diantara fragmen.
c) Semen : bahan pengikat matrik dan fragmen. Ada 3 macam semen
yaitu semen karbonat (kalsit, dolomit), semen silika (kuarsa), dan
semen oksida besi (siderit).
105)
3. Struktur
106)
Struktur merupakan dimensi yang lebih besar dan yang
berhubungan dengan unsur luar. Struktur batuan sedimen klastik,
meliputi :
a) Masif, apabila tidak terlihat struktur dalam atau ketebalan lebih dari
120 cm.
b) Perlapisan, terjadi karena adanya variasi warna, perbedaan besar
butir, perbedaan komposisi mineral ataupun perubahan macam
batuan. Perlapisan terbagi menjadi :
1) Perlapisan sejajar : bidang perlapisan sejajar.

20

2) Perlapisan pilihan : bergradasi halus ke kasar.


3) Perlapisan silang siur : perlapisan yang saling berpotongan.
4) Laminasi (lamination) : perlapisan yang berukuran lebih kecil
dari 1 cm.
5) Gelembur gelombang (ripple mark) : struktur di mana
permukaan pada bidang perlapisan nampak bergelombang.
c) Berfosil : apabila tercirikan oleh kandungan fosil yang
memperlihatkan orientasi tertentu.
b. Cara Pemerian Batuan Sedimen Non Klastik :
107) Pemberian batuan sediment non-klastik sama dengan batuan
sedimen klastik, didasarkan pada tekstur, struktur dan komposisi mineral.
1. Tekstur, meliputi :
a) Amorf (tidak kristalin)
b) Kristalin, didasarkan pada skala Wentworth (1922).
2. Komposisi mineral : komposisi mineral sederhana, karena hasil
kristalisasi dari larutan kimia. Contoh : batugamping (kalsit, dolomit),
gypsum (mineral gypsum), Chert (kalsedon), dsb.
3. Struktur, karena terbentuk dari proses kimia ataupun organik, maka
strukturnya ada 3 macam :
a) Berfosil (fosilliferous) : terdiri dari fosil-fosil yang relatif masih
utuh.
b) Oolitis : fragmen-fragmen klastis diselubungi oleh mineral
nonklastik (biasanya mineral karbonat), dengan ukuran lebih kecil
dari 2 mm dan bersifat konsentris.
c) Pisolitis : seperti oolitis, tapi ukurannya lebih besar dari 2 mm.
108)
109) II.3. Pengenalan Batuan Metamorf
110)

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk oleh proses

metamorfosa pada batuan yang telah ada sebelumnya, sehingga mengalami


perubahan komposisi mineral, struktur, tekstur, batuan, tanpa mengubah
komposisi kimia dan tanpa berubah fase (tanpa pernah mencapai fase cair).

21

111)

Proses metamorfosa adalah satuan proses pengubahan

batuan akibat perubahan, tekanan, temperatur, fluida atau variasi ketiga


faktor tersebut. Proses metamorfosa merupakan proses isokimia, dimana
tidak terjadi unsur-unsur kimia pada batuan yang mengalami batuan yang
mengalami metamorfosa. Temperatur berkisar antara 2000 c 8000 c tanpa
melalui fase cair (batuan tetap berada pada fase padat).
112)
Di tinjau dari perubahan dan temperatur, di kenal dua tipe
metamorfosa yaitu :
113)
a.

Metamorfosa progresif, terjadi karena kenaikan

temperatur dan tekanan.


114)
b.
Metamorfosa retrogesif atau diaptoresis, terjadi
karena penurunan temperatur dan tekanan.
115) II.3.1.Pengertian
116)

Batuan metamorf adalah suatu batuan yang terjadi karena

proses ubahan dari batuan asal oleh suatu proses metamorfosa. Jenis-jenis
metamorfosa :
a. Metamorfosa Kontak atau Thermal, di temukan pada tepih-tepih
tubuh batuan beku intrusif, seperti batolit. Contoh : marmer,
hornfels.
b. Metamorfosa Dislokasi Kinematik, terjadi dekat zona deformasi
yang intensif dan dislokasi di temukan di sepanjang zona sesar.
Contoh : milonit.
c. Metamorfosa Regional, terjadi pada daerah yang sangat luas/ribuan
kilometer pada pegunungan lipatan, terbentuk jauh di kedalaman
kerak bumi muncul di permukaan, akibat pengangkatan dan erosi.
Contoh : sekis.
117) II.3.2.Klasifikasi Batuan Metamorf

22

a. Foliasi : Umunya merupakan hasil metamorfosa regional.


b. Non foliasi : Sebagian besar hasil metamorfosa kontak, namun
banyak juga yang tidak.
118) II.3.3.Cara Pemerian Batuan Metamorf
a. Tekstur, terbagi menjadi :
1) Lepidoblastik, tekstur dimana mineral-mineral berbentuk pipih.
Contoh : sekis mika.
2) Nematoblastik, tekstur dimana minereal-mineral penyusun
berbentuk prismatik (piroksen, horblende). Contoh
horblende.
3) Granoblastik,

tekstur

dimana

mineral-mineral

: sekis
penyusun

membutir (granular) (kuarsa, feldspar, kalsit). Contoh :


kwarsite.
4) Hornfelsik, tekstur yang tidak menunjukan pejajaran tapi
mineral-mineral penyusun membutir (granular). Contoh :
hornfels.
b. Struktur, terjadi sebagai penyesuaian dengan kondisi baru akibat
tekanan dan temperatur. Ada dua jenis struktur yaitu :
1) Struktur non foliasi, struktur yang tidak menunjukan adanya
penjajaran mineral dan batuan masif. Ini terjadi akibat batuan
kontak dengan tubuh intrusi batuan beku, batuan yang terbentuk
biasanya berbubtir halus.dan batuan bcerasal dari batuan asal
yang mempunyai batuan tunggal seperti, gamping hingga tidak
terbentuk mineral baru, tetapi kristal-kristal yang kecil tumbuh
lebih besar dalam tekstur interlokin dalam batuan baru. Contoh :
batu gamping menjadi marmer.
2) Struktur foliasi, menunjukan penjajaran mineral :
a) Slaty cleavage : akstruktur yang di ekspresikan oleh
kecenderungan batuan metamorf yang berbutir halus untuk

23

membela sepanjang untuk membelah sepanjang bidang


subparalel yang di akibatkan oleh orientasi penjajaran dari
mineral-mineral pipih yang kecil seperti mika, yalk atau
klorit. Contoh : batu sabak (slate).
b) Schistosity : struktur sifatnya mirip dengan slaty cleavage
tetapi mineral-mineral pipih kebanyakan lebih besar dan
secara keseluruhan batuan metamorf ini tampak menjadi
lebih kasar/medium. Contoh : sekis.
c) Gneissic : struktur yang di bentuk oleh perselingan lapisan
yang komposisinya berbeda dan berbutir kasar (feldspar,
kuarsa). Contoh : Gneis.
c. Komposisi Mineral
119) Berdasarkan resistensinya tahap proses metamorfosa,
mineral pada batuan metamorf dapat di bedakan menjadi dua, yaitu
:
1) Mineral yang tahan terhadap proses metamorfosa. Contoh
mineralnya adalah : kuarsa, staurolit, dan kyanit. Kuarsa adalah
mineral yang sangat resisten sehingga mampu bertahan terhadap
proses metamorfosa.
2) Mineral yang baru terbentuk akibat proses metamorfosa.
Mineral baru yang terbentuk dari mineral yang tidak
tahanterhadap proses metamorfosa. Contohnya : mineral
lempung, olivin, dan andalusit. Selama proses metamorfosa
mineral lempung akan berubah menjadi mineral lain.
120)
121)
122)
123)
124)

24

125)
126)
127)
128)
129)
130)
131)
132)
133)
134)
135)
136)

137) BAB III


138) PENGENALAN FOSIL
139)
140) III.1.Pendahuluan
141)
Fosil adalah sisa atau jejak atau bekas hewan maupun
tumbuhan yang hidup di massa lampau yang terawetkan atau tertimbun
secara alamiah. Menurut defenisi tersebut, maka orang Mesir tidak dapat
dipandang sebagai fosil. Demikian pula dengan peralatan-peralatan hidup
manusia purba. Batas antara masa lampau dan masa kini adalah pada awal
holosen atau kira-kira 11.000 tahun yang lalu.
142)
Paleontologi adalah bagian dari ilmu geologi yang
menguraikan penyelidikan dan interpretasi fosil. Ada dua penggunaan fosil
yang sangat penting, yaitu :
a. Untuk menentukan umur relatif batuan.
b. Untuk menentukan keadaan lingkungan batuan dan ekologi yang
ada ketiga batuan yang mengandung fosil tersebut terbentuk.
143)
144) III.2.Jenis-Jenis Fosil
a. Fosil tidak berubah
145) Semua bagian organisme atau hewan terawetkan baik yang
lunak maupun yang keras, misalnya : Mammoth yang terawetkan
dalam es di Siberia.
146)
b. Fosil yang mengalami perubahan, meliputi :
1) Permineralisasi.

25

26

147)Bagian keras yang porous yang asli terawetkan tetapi


beberapa unsur mineral sekunder mengisi ruang antar sel.
2) Pergantian (Replacement)
148)Mineral sekunder menganti semua material fosil asli,
contohnya kayu yang seluruhnya terganti oleh silika di daerah
wonosari.
3) Rekristalisasi
149)Dalam proses ini setiap butiran yang sangat halus dari
material asli, bagian keras mengalami reorganisasi atau
penyusunan kembali.
c. Fosil berupa fragmen
150) Fosil berupa fragmen-fragmen, dan fragmen-fragmen
tersebut dapat terubah maupun tak terubah.
d. Fosil berupa jejak atau bekas.
151) Tidak semua fosil terawetkan dalam bentuk yang siap
dikenal, sering hanya bukti-bukti tidak langsung dari jejak fosil
yang ada untuk di interpretasikan. Contoh bukti tidak langsung :
1) Mold, Cast dan Imprint
2) Track, Trail dan Burrow
3) Coprolite
4) Fosil Kimia
152)
153)

27

154) III.3.Cara Pengamatan Fosil


155)
Fosil yang terdapat di alam mempunyai ukuran yang
beragam, dari yang besar hingga kecil sehinga perlu alat untuk melihatnya.
Cara pengawetan fosil ada dua (2) yaitu :
a. Makrobiologi : pengawetan tidak perlu alat bantu mikroskop.
b. Mikropaleontologi : pengawetan perlu menggunakan mikroskop.
156)
157)
158)
159)
160)
161)
162)
163)
164)
165)
166)
167)
168)
169)
170)
171)
172)

173) BAB IV
174) PENGENALAN GEOLOGI STRUKTUR
175)
176) IV.1.Pengertian Geologi Struktur
177)
Geologi struktur adalah cabang ilmu geologi yang
mempelajari tentang arsitektur batuan, yang di akibatkan oleh deformasi.
Deformasi di sebabkan oleh adanya gaya yang bekerja pada suatu tubuh
batuan. Gaya yang bekerja di bagi menjadi empat (4) macam yaitu :
a. Tension adalah gaya cenderung menarik pada arah yang
berlawanan.
b. Compression adalah gaya yang cenderung menekang pada arah
yang berlawanan dalam satu garis.
c. Couble adalah gaya yang cenderung sama atau dua gaya yang sama
dan bekerja pada arah yang berlawanan, tetapi tidak dalam satu
garis.
d. Torsion adalah gaya yang bekerja pada dua ujung benda yang
berlawanan.
178)
179) IV.2.Macam-Macam Struktur Geologi
180)
Struktur Geologi di bagi menjadi 3, yaitu :
a. Kekar
181) Kekar adalah rekahan atau retakan yang terjadi karena
tekanan atau tarikan yang di sebabkan oleh gaya yang bekerja pada
kerak bumi, yaitu pengurangan atau hilangnya tekanan dan belum
mengalami pergeseran. Kekar dapat dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu :
1) Kekar sistematik adalah kekar yang terbentuk oleh arah tertentu
dan biasanya berpasangan.
2) Kekar tak sistematik adalah kekar yang terbentuk oleh segala
arah yang acak dan tidak berpasangan.
182) Berdasarkan ukuran, kekar dibedakan menjadi :
a) Micro joint ukuran 1 inc.

28

b) Mayor joint dapat dilihat oleh contoh setangan.


c) Master joint ukurannya kurang lebih dari 100 feet.
183) Berdasarkan cara terjadinya, kekar dibedakan menjadi :
a) Tension joint adalah kekar yang terbentuk akibat tarikan.
b) Shear joint adalah kekar yang terbentuk karena tekanan.
c) Release joint adalah kekar yang disebabkan akibat pengurangan
atau hilangnya tekanan.
b. Sesar
184) Sesar adalah rekahan pada suatu batuan dan telah
mengalami pergeseran. Ciri utama sesar adalah arah gerakan yang
berbeda sejajar dengan permukaan retakan. Bagian-bagian sesar
antara lain:
1) Jurus (Strike) adalah arah garis horizontal yang dibentuk oleh
perpotongan antara bidang yang bersangkutan dengan bidang
bantu horizontal, dimana besarnya jurus atau strike diukur dari
arah utara.

30

2) Kemiringan (Dip) adalah besarnya sudut kemiringan terbesar


yang dibentuk oleh bidang miring yang bersangkutan dengan
bidang horizontal dan diukur tegak lupus terhadap jurus atau
strike.
3) Hade adalah sudut antara bidang sesar dan bidang vertikal.
4) Hangging wall adalah blok yang terletak dibawah bidang sesar.
5) Fault Line adalah perpotongan sesar dengan permukaan bumi
6)

berupa garis lurus atau lengkung.


Bidang sesar terbentuk akibat adanya rekahan yang

mengalami pergeseran. Berdasarkan genetik, klasifikasi dibagi


menjadi tiga macam, yaitu :
a) Sesar naik adalah sesar yang mengalami hanging wall bergerak
relatif ke atas terhadap foot wall.
b) Sesar normal adalah sesar yang hanging wall bergerak relatif ke
bawah terhadap foot wall.
c) Sesar Mendatar adalah sesar yang pergerakan sejajar strike
sesar, komponen dip-slipe lebih kecil di banding dengan
komponen strike atau dip.
c. Lipatan
7)
Lipatan adalah salah satu jenis yang paling umum dari
deformasi struktur yang di temukan dalam rangkaian pegunungan
komplek dan sedikit terdeformasi pada dataran rendah.
8)
Struktur di akibatkan adanya gaya bersifat melipat atau
kompresi atau disebabkan karena gaya yang arahnya vertikal.
Antiklin adalah lipatan yang cembung ke atas dengan sayap-sayap
yang miring menjauhi sumbu. Sinklin adalah lipatan yang cembung
ke bawah dengan sayap-sayapnya yang miring kearah sumbu dan
dicirikan dengan batuan yang paling muda dipusat.
9)

10)
11)
12)
13)
14)
15)
16)
17)
18)
19)
20)
21)
22)
23)
24)

25) BAB V
PENGENALAN PERALATAN GEOLOGI
27)
V.1. Pendahuluan
29)
Seorang geologi setiap hendak melakukan
26)

28)

praktikum di lapangan harus membawa peralatan. Prinsip utama dalam


penelitian geologi adalah melakukan pengamatan di

lapangan (ground

check). Maka dari itu, dalam melakukan kegiatan geologi lapangan kita
memerlukan alat yang menunjang pekerjaan tersebut. peralatan tersebut
digunakan untuk mempelajari, mengumpulkan data, dan mengambil
sampelnya. peralatan tersebut antara lain: kompas geologi, palu geologi, lup,
peta dasar, larutan HCl, GPS, dan peralatan lainnya seperti ; pnetrometer,
hand level, alat ukur, buku lapangan & alat tulis, GPS, kamera, dan kantong

31)

sampel.
30)
V.2. Macam-Macam Peralatan Geologi dan Cara Penggunaannya
a. Kompas Geologi
32)
Kompas digunakan untuk menentukan arah,
kemiringan lereng, bidang sesar, bidang kekar, foliasi, struktur
perlapisan dan lain-lain. Kompas yang sering kita gunakan adalah
kompas bruton yang jumlah lingkarannya dibagi menjadi 0 360.
Angka 270 pada West, angka 180 pada South, angka 90 pada East,
angka 0 pada North.
1) Mengatur Deklinasi :

32

33

33)

Deklinasi adalah sudut yang dibentuk oleh

utara magnetik dan arah utara yang sebenarnya, sehingga


kompas harus dikoreksi. Penggoreksian dengan cara memutar
lingkarang derajat sebesar yang ada pada peta, lalu tempatkan
pada indeks pin yang masih dalam angka mungkin 0.
2) Menentukan Bearing :
34)
Bearing adalah arah kompas dari satu titik ke
titik yang lain. Dalam kompas ini ditunjukkan oleh sighting arm.
Untuk membaca Bearing dengan benar maka harus di perhatikan
tiga hal yang penting, yaitu kompas harus dalam keadaan paras
atau level, titik pandang harus terpusat pada objeknya, jarum
kompas harus terletak mendatar.
3) Menentukan Kemiringan Bidang atau Jurus.
35)
Jurus (Strike) adalah garis yang dibentuk
oleh perpotongan bidang mendatar dan permukaan bidang yang
diukur, sedangkan kemiringan (Dip) adalah kecondongan
permukaan bidang yang tegak lurus.
36)
37)
38)
39)
40)
41)
42)
43)

1)

44)
45)
46)
47)
48) Gambar 1.3 Kompas Geologi ( http://bumi-myearth.blogspot.com )
49)

b. Palu Geologi
50)

Palu

Geologi

yaitu

alat

yang

umum

digunakan oleh para peneliti untuk mengambil sampel batuan, baik


batuan beku, bauan sedimen, dan batuan metamorf, dan masih
banyak lagi kegunaanya. Palu geologi ada dua jenis, yaitu palu
yang runcing untuk batuan beku, dan palu yang lebar untuk batuan
sedimen dan mengambil fosil. Palu geologi juga menjadi lambang
dari himpunan geologi.
1) Palu Batuan Beku (Pick Point), berfungsi untuk memecahkan
batuan beku atau batu yang keras dengan beratnya 1,8 kg.
51)
52)
53)
54)
55) Gambar 1.4 Palu Batuan Beku ( http:// bumi-myearth.blogspot.com )

2) Palu Batuan Sedimen (Chisel Point), kegunaannya untuk


memecahkan batuan yang lunak atau batuan sedimen ddengan
beratnya 0,7 1,2 kg.
56)
57)
58)
59)

35

60)

Gambar 1.5 Palu Batuan Sedimen (


http://bumimyearth.blogspot.com )
61)

c. Lup
62)

Lup dalam kegunaannya adalah untuk melihat dan

memperbesar mineral-mineral yang terkandung didalam suatu


batuan. Karena mineral-mineral tersebut kalau dilihat dengan
secara megaskopis sangat kecil, maka kita harus melihat dengan
lup.
63)
64)
65)
66)
67) Gambar 1.6 Lup ( http://ayobelajargeologi.blogspot.com )
68)
69)

d. Peta Lapangan
70)
Satu hal yang diperlukan dalam praktikum lapangan adalah
peta lapangan atau disebut juga peta topografi, disamping itu peta
ini sangat berguna pada saat kita sedang tersesat, maka kita harus
menggunakannya dengan cara pembacaan peta dan dengan kompas
geologi.
71)

72)
73)
74)
75)
76)
77)
78) Gambar 1.7 Peta Lapangan ( http://bumi-myearth.blogspot.com )

79)
e. Larutan HCl
80)
Pada saat di lapangan, HCl digunakan untuk menguji kadar
karbonat pada batuan. HCl yang digunakan sebaiknya tidak terlalu
pekat, umumnya yang dipakai adalah yang 0,1 N. Larutan ini
adalah senyawa Hidrogen dan Clhorite yang termasuk dalam
kelompok asam kuat. Dalam penggunaannya pun harus berhati-hati
karena jika terkena kulit yang terkelupas akan terasa perih.
81)
82)
83)
84)
85)
86)
87)
88)
89)

Gambar 1.8 Larutan HCl ( http://ayobelajargeologi.blogspot.com )


90)

f. GPS ( Global Positioning System )


91)
GPS berfungsi untuk mendeteksi suatu objek dengan
bantuan satelite, atau untuk menentukan tempat dimana kita berada.
Tetapi dalam geologi GPS biasanya digunakan untuk mencari
sumber mineral, bahan tambang, cadangan air, mendeteksi bencana
(gempa, longsor,dan lain-lain), mendeteksi pergeseran lempeng,

37

aktifitas gunung berapi, dan lain-lain. GPS juga dapat digunakan


untuk tracking yaitu agar kita tau jalan yang sudah kita lewati, dan
mengurangi kemungkinan tersesat apabila memang jalurnya jauh
dan susah. Catatan buat penggunaan GPS jangan lupa bawa baterai
cadangan.
92)
93)
94)
95)
96)
97)
98)
99)
100)
101)
102)
103)
104)
105)
106)

Gambar1.9

GPS ( http://geoyogi.wordpress.com )

107)
g. Peralatan Penyerta
1. Tas lapangan.
2. Buku catatan lapangan.
3. Alat tulis menulis (clipboard, pensil, pensil berwarna satu set,
ballpoint, karet penghapus, rautan pensil, busur derajat,
penggaris, spidol permanen).
4. Kantong plastik atau sejenis tempat sampel batuan.
5. Komparator batuan/besar butir.

6. Pakailah sepatu yang kuat dan awet (safety), baju atau kaos
lengan panjang, Celana panjang, disarankan membawa jaket
khusus lapangan atau korsa dan topi lapangan.
7. Bawa perbekalan pribadi secukupnya.
8. Obat-obatan P3K secukupnya, obat-obat khusus yang bersifat
pribadi (karena mengidap penyakit tertentu).
9. Jangan dilupakan membawa kamera, senter dengan cadangan
batu baterei serta jas hujan atau mantel.
108)
109)
110)
111)
112)
113)
114)
115)
116)
117)
118)
119)
120)
121)
122)
123)
124)
125)
126)

127)
BAB VI
PENGENALAN PETA TOPOGRAFI
129)
130) VI.1. Pendahuluan
131)
128)

Peta

Topografi adalah gambaran bentuk roman muka bumi serta penyebarannya.


132)
Roman
muka bumi, terdiri dari :
1. Relief adalah perbedaan tinggi rendahnya suatu tempat dengan
tempat yang lain, pada satu daerah serta curam atau landainya
kemiringan lereng atau slope yang ada, contoh : lembah, gunung,
bukit dan tebing.
2. Pola aliran adalah pola yang didefenisikan sebagai suatu
keragaman didalam bentuk slope ukuran dan penyebarannya, yang
meliputi : rawa, danau, laut dan lain-lain. Macam-macam pola
aliran :
a) Dentritik yang terdapat pada daerah yang mempunyai formasi
b)
c)
d)
e)
f)
g)

batuan yang horizontal.


Paralel
Trellis yang biasa terdapat pada daerah lipatan.
Rectanggular terdapat pada daerah lipatan.
Radier terdapat pada daerah gunung api
Annular
Controted

40

3. Culture adalah semua hasil karya dan budaya manusia yang


tergambar dalam peta, yang meliputi : kota, desa, jalan raya,
perkebunan dan persawahan.
4.
5. VI.2 .Bagian-Bagian Topografi
1.Judul Peta ; pada umumnya memakai nama daerah atau pulau yang
digambarkan oleh peta tersebut dan ditulis pada bagian tenggah
atas dari peta.
2.Nomor lembar peta ; ditulis pada bagian kanan atas peta. Contoh
peta topografi skala 1 : 100.000 ; nomor lembar 43 atau XLI.
3.Skala Peta, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara
jarak peta dengan jarak yang sebenarnya. Jarak yang diukur dalam
peta adalah jarak horizontal, sehingga untuk mengetahui jarak yang
sebenarnya harus diperlihatkan kemiringan lereng yang biasanya
ditulis dengan skala peta.
4.Arah mata angin ; arah utara dapat dilihat pada sisi kiri bagian
bawah peta sudut yang dibentuk oleh TN dengan MN disebut
deklinasi magnetik, sedangkan TN dengan GN disebut deklinasi
garis.
5.Kedudukan lembar peta; nomor peta sangat penting guna
membandingkan peta disekitarnya dan untuk mengetahui hubungan
antara satu daerah dengan daerah yang lain. Contoh : peta topografi
skala 1 : 50.000 dengan nomor lembar 45 / XXLII.
6.Diagram; sebagai penunjuk dimana dan bagaimana peta tersebut
dibuat. Misalnya : citra foto udara, metode pemetaan lapangan atau
dari hasil sketsa.
7.Legenda; yang menerangkan tanda-tanda atau symbol-simbol.
8.Edisi Peta; tahun pembuatan peta tersembunyi.

41

9.Indeks administrasi; berguna untuk mengetahui administrasi di


dalam peta tersebut atau pembagian wilayah.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.

22. BAB
VII
23. PENGENALAN GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI CITRA
PENGINDRAAN JAUH
24.
25. VII.1.Geomorfologi
26.
Geomorf
ologi adalah salah satu ilmu geologi yang mempelajari bentang alam atau
bentuk-bentuk roman muka bumi yang terjadi karena adanya proses
geomorfik. Proses geomorfik adalah semua perubahan fisika dan kimia yang
memberikan efek bervariasi pada bentuk roman muka bumi. Proses
geomorfik dibedakan menjadi :
a. Proses Eksogenik, adalah proses yang bekerja pada permukaan
bumi dan mempengaruhi bentuk bentangalam yang terjadi. Proses
ini dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Agradasi, proses pembentukan bentuk-bentuk positif atau
pengendapan.
2) Degradasi, proses

pembentukan

bentuk

negatif

atau

merendahkan permukaan tanah. Proses degradasi terdiri dari 3


proses utama, yaitu : pelapukan, gerakan tanah, dan erosi.
a) Pelapukan adalah proses yang menyebabkan batuan pecah
dan mengalami perubahan komposisi oleh kegiatan agenagen asal luar seperti angin, hujan, perubahan suhu,
tumbuhan dan bakteri. Pelapukan secara garis besar
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Pelapukan fisik atau mekanik

(disintegrasi),

yaitu

perubahan pada batuan yang menyebabkan perubahan


volume atau ukuran tanpa merubah komposisinya.

2. Pelapukan kimia atau dekomposisi, yaitu perubahan pada


batuan yang menyebabkan perubahan komposisi kimia
batuan. Penyebab utamanya adalah air hujan.
b) Gerakan tanah adalah pergerakan massa batuan, termasuk
didalamnya tanah atau soil dan rempah-rempah batuan,
menuruni lereng, pergerakan tersebut semata-mata karena
gaya berat. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
gerakan tanah adalah :
1. Lereng terlalu terjal
2. Beban terlalu berat
3. Batuan tidak kompak atau licin
4. Batuan retak karena kekar, sesar atau foliasi.
5. Curah hujan yang besar
6. Gempa bumi.
27.

Macam-

macam gerakan tanah antara lain :


1. Creep atau rayapan, yaitu tanah yang bergerak sangat
pelan, cirinya antara lain adalah pelengkungan pohon,
miringnya tiang-tiang.
2. Solifluction yaitu campuran material kasar sampai halus
yang bergerak karena jenuh air.

43

3. Fall atau jatuhan, yaitu meluncurnya massa karena


gravitasi tanpa bidang peluncur (jatuh bebas).
4. Slide, yaitu pergerakan massa dengan cepat melewati
bidang peluncur.
5. Subsidence atau amblesan, yaitu gerakan ke bawah tanpa
permukaan bebas.
c) Erosi, adalah proses berpindahnya massa batuan dari satu
tempat ke tempat lain yang dibawa oleh tenaga pengangkut
yang bergerak di muka muka bumi. Tenaga pengangkut
tersebut bisa berupa angin, air maupun gletser atau es yang
mencair. Erosi bisa terjadi di darat maupun di Pantai.
6. Proses eksogenik yang bekerja di permukaan bumi dikerjakan
oleh agen geomorfik, yaitu media alam yang mengerjakan dan
mengangkut material pada permukaan bumi. Agen geomorfik
terdiri dari : angina, air dan es.
b. Proses Endogen, adalah proses dari dalam bumi yang terdiri dari :
a) Diastropisme, proses deformasi besar-besaran dari dalam bumi.
Proses ini dibedakan menjadi :
1. Epirogenetik, yaitu penggangkatan dan penurunan kontinen
atau subkontinen.
2. Orogenetik, yaitu proses pembentukan pegunungan.
b) Vulkanisme, proses naik dan munculnya magma di permukaan
bumi. Bentang alam yang dapat terbentuk oleh proses-proses
endogenik antara lain :
1. Pegunungan lipatan (Folded mountain), yaitu pegunungan
yang terbentuk karena struktur lipatan.
2. Pegunungan blok atau patahan (Block mountain), yaitu
pegunungan yang terbentuk karena sesar turun yang banyak.

45

3. Gunung api, merupakan gunung yang terbentuk karena


aktivitas vulkanisme.
c. Proses ekstraterestrial, adalah proses yang berasal dari angkasa
luar, misalnya : jatuhnya meteorit di muka bumi. Bentangalam
yang terbentuk oleh proses dari ekstraterestrial adalah kawan
meteorit, yang terbentuk karena meteorit jatuh di permukaan bumi.
7. Berdasarkan proses-proses yang bekerja di permukaan bumi baik
berasal dari luar maupun dalam bumi, maka terdapat beberapa jenis
bentangalam, antara lain :
8. 1.
Bentang alam Struktural, bentang alam yang diakibatkan
adanya proses tektonik.
9. 2.
Bentang alam Denudasional, bentangalam yang diakibtakan
adanya pelapukan batuan dan pengikisan.
10.3.
Bentang alam Vulkanik, bentangalam yang terjadi akibat
aktivitas gunungapi.
11.4.
Bentang alam Karst, bentangalam yang terbentuk akibat
proses pelarutan air.
12.5.
Bentang alam Eolian, bentangalam yang terjadi karena
aktivitas angin.
13.6.
Bentang alam Marine, bentangalam yang terbentuk oleh air
laut.
14.7.

Bentang alam Glasial, bentangalam yang terbentuk di

daerah bersalju atau es.


15.8.
Bentang alam Fluvial, bentangalam yang terbentuk karena

17.

aktivitas air sungai.


16.
VII.2.Geologi Citra Pengindraan Jauh
18.Peginderaan jauh merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan
informasi mengenai objek lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan

fisik. Penginderaan adalah upaya untuk mengetahui suatu objek dengan


menggunakan sensor, baik alamiah maupun buatan.
19.Sensor adalah berupa mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Sensor
buatan antara lain kamera, sonar, magnetometer, radiometer, dan scanner.
Penginderan jauh (remote sensing) adalah ilmu untuk memperoleh informasi
terhadap objek, daerah atau fenomena melalui analisis dan interpretasi tanpa
menyentuh langsung objek.
20.Interpretasi membutuhkan pemakaian karakteristik citra berikut :
ukuran, bentuk, banyangan, tekstur, rona, pola, situs, dan asosiasi.
21.

22. BAB
VIII
23. KESIMPULAN DAN SARAN
24.
25. VIII.I.Kesimpulan
26.
merupakan salah

Geologi
satu ilmu yang mempelajari, menyelediki dan

menganalisa lapisan-lapisan yang berada jauh dibawah permukaan bumi.


1. Mineral adalah bahan padat homogen yang terbentuk secara
alamiah di alam, tersusun atas unsur-unsur anorganik dan
mempunyai struktur kristal yang sempurna maupun tidak
sempurna. Sifat-sifat fisik suatu mineral tersebut antara lain :
warna, kilap, kekerasan, cerat, belahan, pecahan, bentuk dan
sturktur, berta jenis, sifat dalam, kemagnetan, dan sifat-sifat
lainnya.
2. Batuan beku adalah bahan yang menyusun kerak bumi dan
merupakan suatu agregat atau kumpulan mineral yang telah
mengeras. Batuan di alam ada tiga macam yaitu batuan beku,
batuan sedimen, dan batuan metamorf. Batuan beku adalah
penyusun

bumi

terbesar,

terjadi

karena

pembekuan

atau

pendinginan magma jauh di bawah permukaan bumi, dekat


permukaan atau di permukaan bumi. Batuan beku yang terbentuk
jauh dari permukaan bumi di sebut batuan beku plutonik, yang
dekat dengan permukaan bumi di sebut batuan beku hypabisal,

sedang batuan beku yang terbentuk di permukaan bumi di sebut


batuan beku vulkanik.
3. Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi
material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau
suatu aktivitas kimia maupun organisme, yang di endapkan lapis
demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami
pembatuan.
4. Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk oleh perubahan
tekanan dan temperatur yang tinggi di dalam kulit bumi dari batuan
yang sudah ada perubahan ini akan menimbulkan perubahan
tekstur, struktur, dan komposisi mineral. Faktor-faktor penyebab
terjadinya metamorfisme adalah panas temperatur atau suhu,
tekanan (pressure), tegangan (stress), shear, dan aktivitas pelarutan
secara kimia.
5. Defenisi fosil adalah

sisa atau jejak atau bekas hewan dan

tumbuhan yang hidup pada masa geologi yang lampau yang


terawetkan atau tertimbun atau tersimpan secara alamiah.
6. Dalam melakukan pekerjaan lapangan seorang geologiwan harus
mengetahui alat-alat geologi lapangan. Yang paling utama adalah
palu dan kompas.
7. Palu di gunakan untuk memecahkan sampel batuan. Palu geologi
ada dua jenis ; palu batuan sedimen beratnya 0,7 1,2 kg dan palu
batuan beku beratnya 4,8 kg. Peralatan lain adalah tas, peta, pita

48

8. ukur, lensa pembesar, buku catatan lapangan, penggaris busur


derajat, dan botol untuk larutan HCl.
9. Geologi struktur adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari
tentang arsitektur batuan, yang di akibatkan oleh deformasi.
Deformasi di sebabkan oleh adanya gaya yang bekerja pada suatu
tubuh batuan. Gaya yang bekerja di bagi menjadi empat (4) macam
yaitu : Tension, Compresion, Couple, Torsion.
10. Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang alam atau
bentuk-bentuk roman muka bumi yang terjadi karena adanya
kekuatan-kekuatan yang bekerja dari luar dan dalam bumi. Uraian
tentang alam suatu daerah biasanya berupa asal usul bentang alam,
pengaruh iklim terhadap perkembangan tersebut, proses eksogen
yang bekerja dan tingkat perkembangan.
11. Dan foto udara adalah ilmu yang mempelajari roman muka bumi
dengan menggunakan citra foto atau penginderaan jauh. Di
gunakan media pesawat terbang dengan menggunakan satelit.
Tujuannya menggunakan dengan media pesawat terbang adalah :
Untuk menghemat waktu dan biaya, kita menggunakan suatu
analisis sebelumnya turun langsung ke lapangan.
27.
28.
29.
30.
31. VIII.2.Saran
32.Penulis memberikan saran mengenai laboratorium agar lebih
meningkatkan

mutu

atau

kualitasnya

semaksimal

mungkin,

demi

50

tercapainya praktikum lebih di mengerti lagi sebagai lanjutan apa yang di


pelajari oleh dosen pada saat kuliah.
33.