Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu dan praktik keperawatan adalah dua hal yang sangat perlu
dikembangkan oleh perawat untuk dapat memberikan asuhan keperawatan
yang professional. Perawat yang berada pada tingkat praktisi, peneliti atau
pendidik atau pada posisi lain diharapkan untuk dapat mengembangkan usaha
penerapan teori keperawatan yang sudah ada dalam ke dalam praktik
keperawatan yang baik dan benar. Teori keperawatan yang telah ada
sebenarnya dapat membantu mengarahkan praktik keperawatan menuju
asuhan keperawatan yang lebih baik.
Teori keperawatan merupakan suatu teori yang berkembang yang
didasarkan

pada

pengetahuan

ilmu

keperawatan

bukan

berdasarkan

pengetahuan ilmu lain. Perkembangan pada teori keperawatan merupakan


aspek yang signifikan pada evolusi ilmiah dan batu loncatan dari ilmu
keperawatan.
Alligood &Tomey (2006) menjelaskan bahwa teori muncul atas usaha
individual dari para pemimpin keperawatan. Perkembangan teori muncul
sebagai produk dari ilmu professional dan proses pertumbuhan dari pemimpin
keperawatan, administrator, pendidik, dan praktisioner yang telah mendapat
pendidikan tinggi dan melihat keterbatasan dari disiplin ilmu lain. Dalam
membuat suatu teori mereka mempunyai filosofi atau falsafah sebagai
pedoman untuk mengkaji tentang penyebab dan hukum-hukum yang
mendasari realitas, serta keingin-tahuan tentang gambaran sesuatu yang lebih
berdasarkan pada alasan logis dari pada metode empiris. Dengan cara
menganalisis suatu fenomena keperawatan secara rasional dan logis.
Salah satu teoris dengan teorinya Philosophy and Science of Caring yaitu
Jean Watson menggunakan suatu filosofi untuk mendeskripsikan teorinya. Dia
percaya bahwa perawat harus mengembangkan filosofi kemanusiaan dan
system nilai. Karena kedua hal tersebut merupakan dasar yang kuat dari ilmu
caring. Salah satu contoh aplikasi teori Philosophy and Science of Caring pada

pasien yang baru keluar dari ruang ICU. Penerapan teori model watson
dipercaya dapat meningkatkan kualitas hidup . Karena penerapan model
caring ini memandang manusia sebagai mahkluk yang holistik: biologis,
psikologis,

sosial,

spiritual,

kultural.

Model

teori

caring

Watson

direkomendasikan pada perawat yang merawat pasien dengan pasien yang


baru keluar dari ruang ICU agar meraka dapat meningkatkan kemampuannya
dan lebih efektif dalam pemulihan kondisi setelah keluar dari ruang perawatan
intensif dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pada makalah ini penulis akan berusaha memaparkan salah satu teori
keperawatan, yaitu teori dari Jean Watson tentang Philosophy and Science of
Caring dan penerapan teori tersebut dalam kasus pasien dengan pemulihan
kondisi setelah keluar dari ruang perawatan itensif.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana teori dari Jean Watson tentang Philosophy and Science of
Caring sebagai philosophical theory dan penerapan teori tersebut dalam
kasus pasien setelah keluar dari ruang ICU?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui teori dari Jean
Watson tentang Philosophy and Science of Caring dan penerapan teori
tersebut dalam kasus pasien keluar setelah peratawatan ICU.
1.4 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa dapat
mengambil makna dari filosofi teori keperawatan agar dapat menerapkan pada
praktik keperawatan baik dalam pendidikan, pelayanan dan penelitian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Keperawatan
Teori keperawatan adalah suatu kerangka kerja yang terorganisir konsep
dan tujuan yang dirancang untuk memandu praktik keperawatan.Profesional
keperawatan

menerapkan

Teori

Keperawatan

untuk

menggambarkan,

menjelaskan, memprediksi atau meresepkan praktik keperawatan.


Ada empat tingkatan teori: meta-teori, teori grand, teori mid range, dan
teori praktek.Metateory sangat abstrak dan tidak mudah untuk diuji coba,
meta

theory

menyediakan

arti-arti,

kalimat-kalimat,

situasi

struktur

interkoneksi, dan bahkan observasi oleh perawat-perawat dalam skala global.


Meta theory dapat terdiri dari beberapa grand theory, middle range theory,
bahkan practice theory.
Meta theory keperawatan adalah teori keperawatan tentang teori
keperawatan. Meta theory dapat dikritik, terbatas, abstrak dan sangat sulit
untuk diaplikasikan dalam praktik. Metatheory adalah teori dengan level
tertinggi dan dijelaskan dengan prefix meta, yang berarti perubahan pada
posisi, diluar, pada level tertinggi, atau melebihi dan merujuk pada body
of knowledge tentang body of knowledge atau tentang suatu bidang
pembelajaran seperti metamatematika.
Metatheory dalam keperawatan akan tampil sebagai superstruktur dengan
aplikasi praktik ganda dan kesempatan tambahan untuk peneliti-peneliti guna
penemuan grand theory-grand theory, middle range theory, paradigma yang
berhubungan, serta model-model dan mengeksplorasi bagaimana keperawatan
merekonstruksi dan direkonstruksi.

Bates (2005) membahas perbedaan antara metateori, teori, dan model,


yang seringkali digunakan secara bergantian. Metateori merupakan landasan
filsafat dari sebuah teori; sebagai serangkaian ide mendasar tentang bagaimana
seharusnya sebuah fenomena tertentu dipikirkan dan dipelajari.
Pengertian seperti ini seringkali bertumpangan dengan pengertian
paradigma yang dipopulerkan oleh Thomas Kuhn dan yang oleh dia
dianggap sebagai gabungan dari metateori, teori, metodologi, dan etika yang
dipakai oleh sebuah disiplin tertentu. Jadi, paradigma lebih luas dari metateori,
tetapi pada saat sama metateori adalah inti dari paradigma itu.
Sedangkan teori dapat dilihat sebagai keseluruhan generalisasi dan prinsip
yang dikembangkan untuk satu bidang tertentu. Selain itu, teori juga adalah
sebuah sistem asumsi, prinsip, dan antarhubungan yang dibuat untuk
menjelaskan serangkaian fenomena tertentu. Secara implisit, teori seringkali
mengandung metateori dan metodologi. Namun, pada umumnya, inti dari
teori adalah ide pokok yang menjelaskan makna dari sebuah fenomena
tertentu .
Dalam

sains

(science)

dan

ilmu-ilmu

alam,

teori

mengalami

perkembangan amat pesat. Secara klasik perkembangan teori ini mengikuti


proses description, prediction, explanation. Pada tahap pertama, sebuah
fenomena alam mendapat penjelasan alias deskripsi. Tentu saja sulit
menyelidiki sesuatu tanpa menjelaskannya lebih dahulu. Lalu, ketika sudah
ada beberapa pengetahuan tentang sebuah fenomena tertentu, ilmuwan mulai
membuat dugaan atau prediksi tentang keterkaitan, proses, atau urutan kejadan
(sequences) tentang fenomena tersebut. Lalu, berdasarkan pengujian tentang

dugaan-dugaan tersebut, dikembangkanlah penjelasan atau eksplanasi, dan


inilah yang kemudian disebut teori.
Dalam bidang sains pula lah pengertian teori dikaitkan dengan metode
ilmiah yang biasa disebut metode sederhana untuk melakukan induksideduksi (nave inductive-deductive method) . Ben-Ari menguraikan bahwa
kegiatan seorang ilmuan dimulai dari pengamatan terhadap jagat raya
(universe) dan merekam hasil pengamatannya itu sebagai fakta ilmiah. Setelah
itu

melakukan

proses

induksi:

dengan

memeriksa

berbagai

hasil

pengamatannya itu, kemudian membuat generalisasi yang dapat disebut


sebagai sebuah teori tentang fakta yang bersangkutan. Selanjutnya, ia
melakukan deduksi: ilmuan menggunakan logika untuk memperkirakan benartidaknya teori tersebut dengan melakukan berbagai eksperimen. Jika
eksperimennya berhasil, maka teori tersebut mendapatkan pembenarannya.
Jika tidak, maka teori tersebut dapat dianggap salah.
Metateori (teori tentang teori) adalah cara untuk mengkonstruksi sebuah
teori. Setiap institusi pendidikan di dunia ini mengalami kesulitan dan
perbedaan cara dalam memetakan sebuah teori. Meteteori hadir untuk
menggambarkan dan menjelaskan perbedaan tersebut. Sehingga saat
mengkonstruksi sebuah teori, ilmuan atau peniliti dapat menentukan teori
mana yang cocok untuk mendukung teorinya.
2.2 Teori jean Watson Philosophical and Science of Caring
Jean Watson lahir pada tahun 1940, dia adalah BS dalam keperawatan,
MS dalam Psychiatric-Mental Health Nursing dari University of Colorado,
Denver, dan PhD dalam Educational Psycology. Watson adalah pengarang
banyak artikel, chapter buku dan buku lainnya. Penelitiannya tentang
perawatan manusia dan kehilangan. Teorinya yang telah dipublikasikan dalam
keperawatan adalah Human Science and Human Care. Dia percaya bahwa
focus utama dalam keperawatan adalah pada carative factor dimana ia berasal
dari Humanistik perpective yang dikombinasikan dengan dasar ilmu
pengetahuan ilmiah. Untuk perawat pengembangan humanistic filisofi dan
system nilai, serta latar belakang seni yang kuat itu perlu. Filososfi dan system

nilai akan memberikan fondasi yang kokoh untuk ilmu asuhan keperawatan.
Dasar seni dapat membantu perawat untuk mengembangkan visi mereka serta
nilai-nilai dunia dan untuk mengembangkan ketrampilan berfikir kritis.
Pengembangan ketrampilan ini dibutuhkan dalam asuhan keperawatan dimana
focusnya lebih kepada peningkatan kesehatan daripada pengobatan penyakit.

Asumsi Watson
Watson mengusulkan 7 asumsi tentang ilmu perawatan dan 10 carative
factor utama yang membentuk teorinya. Dasar asumsinya adalah :
1. Asuhan keperawatan dapat dutujukan secara efektif dan dapat
dipraktekkan hanya secara interpersonal.
2. Asuhan keperawatan terdiri dari carative factor yang menghasilkan
kepuasan pada kebutuhan manusia tertentu.
3. Efektifitas

asuhan

keperawatan

meningkatkan

kesehatan

dan

pertumbuhan individu dan keluarga.


4. Respon asuhan keperawatan menerima seseorang tidak hanya sebagai ia
sekarang tapi juga hal-hal yang mungkin terjadi padanya.
5. Lingkungan asuhan keperawatan adalah sesuatu yang menawarkan
kemungkinan perkembangan sementara mengizinkan seseorang untuk
memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya pada saat diberikan
kesempatan.
6. Asuhan lebih healthogenic dari pada pengobatan. Praktek asuhan
terintegrasi dengan pengetahuan biofisikal dengan perilaku manusia untuk
meningkatkan kesehatan orang yang sakit. Asuhan keperawatan
melengkapi pengobatan.
7. Praktek asuhan adalah sentral dari keperawatan.

Struktur Asuhan Keperawatan Menurut Watson

Dalam penilaian Watson, penyakit mungkin diobati, tapi sakit akan tetap
ada tanpa perawatan sehingga sehat tidak tercapai. Asuhan merupakan intisari
keperawatan dan mengandung arti responsive antara perawat dan pasien.
Asuhan dapat membantu seseorang lebih terkontrol, lebih berpengetahuan
dan dapat meningkatkan kesehatan.
Struktur asuhan dibangun oleh 10 carative factor, yaitu :
1. Pembentukan nilai humanistic-altruisticsistem
2. Penamaan Faith hope (kepercayaan harapan)
3. Mengembangkan sensitivitas untuk diri sendiri dan orang lain.
4. Membangun hubungan helping trust.
5. Meningkatkan dan menerima pengekspresian perasaan baik positif
maupun negative.
6. Menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematik dalam
pengambilan keputusan.
7. Peningkatan pengalaman belajar-mengajar interpersonal.
8. Menyediakan dukungan melindungi dan atau memperbaiki lingkungan
mental, fisik, sosiokultural dan spiritual.
9. Membantu dengan memenuhi kebutuhan dasar manusia.
10. Menghargai untuk kekuatan eksistensial- phenomenological.

BAB III
STUDI KASUS
Tn.A, 56 thn dipindahkan dari ruang ICU ke ruang kelas tiga. Saat ini
kondisi klien cukup tenang, sekitar jam 22.00 WIB istri klien datang dengan
membawa seperangkat peralatan tidur. Perawat jaga malam menegur dengan nada
tinggi Apakah ibu tidak tahu peraturan Rumah Sakit? Siapa yang mengijinkan
ibu masuk? pasiennya marah pada perawat jaga malam dengan ungkapan kasar,
Suster tidak punya perasaan . Dan menyebabkan perawat semakin marah serta
memanggil keamanan untuk mengusir istri pasien untuk segera membawa
peralatan tidurnya keluar dari ruang perawatan

BAB IV
PEMBAHASAN
(APLIKASI TEORI PHILOSOPHICAL AND SCIENCEOF CARING
PADA KASUS)
Ada beberapa teori yang berkembang pada level metateori, salah satunya
adalah teori philosophycal and science of caring yang dikemukakan oleh Watson.
Watson mengemukakan bahwa asuhan keperawatan didasarkan pada filosofi
humanistik dan sistem nilai yang tertuang dalam sepuluh carative factors. Sepuluh
carative factors disini merupakan suatu kerangka untuk memberikan suatu bentuk
dan focus terhadap fenomena keperawatan yang dinilai masih global dan sulit
untuk diaplikasikan langsung dan perlu spesifikasi lebih lanjut dalam
pelaksanaannya. Sepuluh carative factor tersebut merupakan sebuah struktur
interkoneksi dan hasil observasi secara global dalam keperawatan.
Aplikasi teori keperawatan pada level metateori memang sulit, akan tetapi
secara tersirat dapat dilihat pada aplikasi asuhan keperawatan sehari-hari secara
terintegrasi. Karena metateori sulit diaplikasi secara independen dalam asuhan
keperawatan, sehingga perlu diintegrasikan dengan teori keperawatan lain.
Berikut ini akan dibahas mengenai aplikasi metateori yang dikemukakan oleh
Watson dalam asuhan keperawatan pasien dengan hipertensi.
Pasien yang pernah dirawat di ICU adalah pasien dengan penyakit kronis
tertentu dan degenerative yang perlu pengawasan ketat dan mengancam jiwa
dapat mempengaruhi kualitas hidup dari pasien. Beberapa penelitian menetapkan
bahwa penyakit kronis dan degenerative menghasilkan kualitas hidup yang
negative. Kualitas hidup didefinisikan semua situasi dan factor factor yang dapat
mempengaruhi

pada individu. Hal ini termasuk aktifitas fisik, kesehatan,

perawatan diri, kepercayaan diri, perilaku positif pada orang lain dan kehidupan,
partisipasi sosial, tidak merasakan sakit, memahami hidup, kepuasan dan
kenyaman kerja.
Meskipun terdapat kemungkinan orang yang pernah dirawat di ruang
intensif dapat mempertahankan kualitas hidup yang baik dengan dukungan

pelayanan kesehatan yang baik, namun kualitas hidup ini bisa rusak, muncul
komplikasi dan

kematian dapat terjadi jika tidak ada perlindungan dan

pencegahan.
Individu dengan penyakit kronis memerlukan dukungan, penerimaan, dan
pemahaman sehingga mereka bisa mengatur gaya hidup sehat mereka dan
mengatasi masalah mereka.

Peran perawat di sini adalah dengan merawat

(caring) dan mendukung kebutuhan pasien secara individual. Studi menunjukkan


bahwa dengan dukungan pelayanan kesehatan , modifikasi gaya hidup, latihan
aerobic dan terapi diet,penyakit kronis dan degeneratif dapat menurun dan
kebutuhan akan terapi farmakologi menurun.Perawat dapat memberikan
perawatan yang holistic dengan menggunakan model caring yang dibuat oleh Jean
Watson. Model Caring Watson ini sudah mencakup seni dan ilmu, disana terdapat
kerangka kerja yang menghubungkan antara seni, humanstik, spiritualitas, dan
dimensi baru antara mind-body spirit medicine and nursing. Menurut McCance 1t
al (1999) dalam Erci (2003) sebagai aplikasi untuk intervensi dari teori Caring,
Watson telah memiliki 10 carative factor. Factor tersebut antara lain:
1. Pembentukan nilai humanistic-altruistic
2. Penamaan Faith hope (kepercayaan harapan)
3. Mengembangkan sensitivitas untuk diri sendiri dan orang lain.
4. Membangun hubungan helping trust.
5. Meningkatkan dan menerima pengekspresian perasaan baik positif
maupun negative.
6. Menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematik dalam
pengambilan keputusan.
7. Peningkatan pengalaman belajar-mengajar interpersonal.
8. Menyediakan

dukungan

melindungi

dan

atau

memperbaiki

lingkungan mental, fisik, sosiokultural dan spiritual.


9. Membantu dengan memenuhi kebutuhan dasar manusia.
10. Menghargai untuk kekuatan eksistensial- phenomenological.

Dengan menggunakan panduan 10 carative factor dari Watson Caring


theory yang kemudian diturunkan menjadi caritas proses yang lebih aplikatif
perawat dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi.
Seperti pada kasus di bab3 bahwa pasien mendapatkan penyakit hipertensi karena
ada penyakit ginjal yang telah mendahuluinya, karena kerja

ginjal

mempengaruhi tekanan darah. Hal tersebut telah berjalan selama 30 tahun dengan
tekanan darah yang selalu tidak stabil. Dalam kasus tidak ditunjukkan bagaimana
kondisi fisik pasien, emosi dan kualitas hidup dari pasien tersebut.

Penyakit

hipertensi sekunder seperti pada kasus tidak bisa disembuhkan tetapi bisa di
stabilkan dengan terapi yang meliputi modifikasi diet, perubahan gaya hidup,
latihan, dan tentunya dukungan dari perawat dengan melakukan kunjungan
rumah.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Erci et al (2003), perawat yang
melakukan kunjungan rumah pada pasien hipertensi dengan tujuan meningkatkan
kualitas hidup mereka dibekali terlebih dahulu dengan pemahaman dan pelatihan
tentang model Caring dari Watson. Pada pertemuan mereka dengan pasien,
mereka memberi tahu tentang tujuan mereka datang yaitu membantu mereka
mengatasi hipertensi dengan memeberikankeyakinan dan harapan bahwa itu
semua akan berlalu. Perawat membuat hubungan tersebut hubungan yang saling
membantu dan saling percaya bahwa pasien dapat mengatasi hipertensinya.
Perawat memberikan edukasi mengenai hipertensi, peningkatan kesehatan diri,
dan system kepercayaan. Pasien di yakinkan bahwa perawat akanada dan selalu
mendukung pasien untuk mengekspresikan perasaan mereka baik positif maupun
negative. Pasien dibantu untuk mengunakan cara kreatif untuk menggunakan
dirinya sebagai bagian dari proses caring. Perawat dapat menggunakan seni dari
caring-healing process pemenuhan kebutuhan dasar secara holistic.
Perawat memberikan pemikiran secara logis dan benar mengenai penyakit
pasien dan juga pasien dikuti selalu pengobatan medisnya, diet hipertensi, dan
pasien dilindungi dari posisi yang berisiko dari hipertensi.
Pada penilitian yang dilakukan oleh Erci et al (2003) Perawatan
berdasarkan caring theory ini dilakukan satu kali dalam semingguselama 3 bulan

ternyata dapat menurunkan tekanan darah dengan hasil perbedaan yang signifikan
serta komponen kualitas hidup yang lain seperti aktifitas fisik yang meningkat,
penurunan gejala, dan interaksi dengan pelayanan kesehatan menjadi lebih baik.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Metateori merupakan level teori yang paling tinggi dibandingkan yang
lainnya dan dijadikan sebagai dasar pengembangan teori-teori selanjutnya.
Metateori berfokus pada filosofi yang mengakomodasi berbagai sudut
pandang mengenai teori keperawatan. Aplikasi teori keperawatan pada level
meteteori memang sulit, akan tetapi secara tersirat dapat dilihat pada aplikasi
asuhan keperawatan sehari-hari. Dalam pelaksanaanya metateori terintegrasi
dengan teori keperawatan lain yang dapat mendefinisikan metateori menjadi

sebuah teori yang aplikatif. Dalam hal ini, Watson mengemukakan teori
philosophycal and science caring yang berada pada level metateori, dimana
dalam aplikasinya didukung dengan teorinya yang lain yaitu clinical caritas
caring yang lebih aplikatif dalam proses asuhan keperawatan. Hal ini
menunjukkan bahwa sebuah metateori dapat dilihat hasilnya dari pelaksanaan
level teori dibawahnya.
5.2 Saran
a. Perlu dilakukan penelitian secara spesifik terhadap metateori agar terlahir
teori-teori baru yang aplikatif
b. Pengkajian ulang atau kritisi terhadap metateori sangat penting untuk
mengembangkan teori keperawatan

DAFTAR PUSTAKA
1. Alligood &Tomey (2006) Nursing theory and their works 7th edition. USA :
Mosby
2. Current

nursing

(2011).

Jean

Watson's

Philosophy

of

Nursing.http://currentnursing.com/nursing_theory/Watson.htmldiakses
tanggal 10September 2014
3. Erci. B. et all (2003). The effectiveness of Watsons Caring Model on the
quality of life and blood pressure of patients with hypertension. Journal Of
Advanced Nursing, 41(2), 130-139
4. Bates, M.J. (2005), An introduction to metatheories, theories, and models
dalam Theories of Information Behavior, ed. K.E. Fisher, S. Erdelez dan L.
McKechnie, Asist Monograph Series, Medford, N.J : Information Today Inc.,
hal. 1 24.
5. Ben-Ari, M. (2005), Just A Theory : Exploring the Nature of Science, New
York : Promotheus Books.
6. Watson,

Jean.

(2004).

Theory

of

human

caring.

Http://www2.uchsc.edu/son/caring. diakses tanggal 10 September 2014