Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN NYERI

A. Definisi
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat
subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala
atau tingatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau
mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya (Aziz Alimul, 2006). Nyeri
didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan
ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan
meningkatkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
(Judith M. Wilkinson 2002). Sensori yang tidak menyenangkan dan
pengalaman emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan
jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan. Serangan mendadak atau
pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan
akhir yang dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bulan (Asosiasi
Studi Nyeri Internasional).
Nyeri dapat digolongkan menjadi 2 (dua) jenis karakteristik yaitu:
1. Nyeri akut ialah pengalaman emosional dan sensori yang tidak
menyenagkan yang muncul dari kerusakan jaringan secara actual atau
potensial atau menunjukan adanya kerusakan (Association for the study of
pain ): srangan mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat
dapat diantisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan. (Nanda)
2. Nyeri kronis ialah pengalaman emosional dan sensori yang tidak
menyenagkan yang muncul dari kerusakan jaringan secara actual atau
potensial atau menunjukan adanya kerusakan (Association for the study of
pain) srangan mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai
berat,nyeri konstan atau berulang yang tidak dapat dantisipasi atau
diprediksi kesembuhannya dengan durasi nyeri lebih dari 6 bulan. (Nanda)

B. Fisiologi Nyeri (fungsi normal system syaraf)


Reseptor nyeri atau nosireseptor adalah organ tubuh yang berfungsi untuk
menerima rangsangan nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor
nyeri adalah ujung-ujung saraf bebas dalam kulit yang berespons hanya
terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak.
Reseptor nyeri di sebut juga nosiseptor, ada yang bermielin dan ada yang
tidak dari saraf aferen. Berdasarkan letak nosiseptor dapat dilaporkan
dalam beberapa bagian tubuh yaitu pada kulit (kutaneus), somatic dalam
(deep somatic), dan pada daerah visceral. Karena letaknya yang berbedabeda inilah, maka nyeri yang timbul juga memiliki sensassi yang berbeda.
Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen, yaitu:
serabut A-Delta: serabut komponen cepat, kec. Transmisi 6-30
m/dt, mungkin nyeri tajam dan akan cepat hilang apabila penyebab

ny
Serabut C :seraby=ut komponen lambat kec. Transmisi 0,5-2 m/dt,
terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri bersifat tumpul dan

sulit
dilokalisasi.
Nosiseptor somantik dalam:
Reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pem.darah, otot dan
jaringan penyangga lainya
Nyeri yang muncul adalah nyeri tumpuldan sulit dilokalisasi
Nosiseptor visceral
Meliputi organ-organ visceral seperti jantung, hati, usus, ginjal, dll
Nyeri yang timbul biasanya difus (terus-menerus, tidak sensitif
pada pemotongan organ tetapi sangat sensitive pada penekanan,

iskemia, dan inflamasi)


Nyeri visceral dapat menyebabkan nyeri alih (reffered pain) yaitu
nyeri yang dapat timbul pada daerah yang berbeda/jauh dari organ
asal stimulus nyeri tersebut adanya sinaps jaringan viseral pada
medulla spinalis dengan serabut yang berasal dari jaringan

subkutan tubuh.
Transmisi nyeri terdapat dua macam transmitter impuls nyeri yang
berfungsi untuk menghantarkan sensasi nyeri dan sensasi yang lain seperti
rasa dingin,hangat,sentuhan,dan sebagainya. Reseptor berdiameter kecil
2

(serabut A delta dan serabut C) berfungsi untuk mentransmisikan nyeri


yang sifatnya keras dan reseptor ini berupa ujung saraf bebas yang terdapat
di seluruh permukaan kulit dan pada struktur tubuh yang lebih dalam
seperti tendon,fascia dan tulang serta organ-organ interna. Sedangkan
transmitter yang berdiameter besar (serabut A-Beta) memiliki yang
terdapat

pada

menstransmisikan

struktur

permukaan

sensasi

nyeri,

tubuh
juga

dan
lebih

fungsinya

selain

berfungsi

untuk

menstransmisikan sensasi lain seperti sensasi getaran,sentuhan,sensasi


panas/dingin,seta juga terhadap tekanan halus. Serabut A-Beta mempunyai
sifat inhibitor (penghambat) yang ditransmisikan ke serabut A dan A-delta.
Kornu dorsalis yang terdapat pada medulla spinalis (cornu posterius
medullae spinallis). Di medulla spinalis terjadi interaksi antara serabut
berdiameter besar dan serabut berdiameter kecil di suatu area khusus yang
disebut dengan substansta galantnosa (SG). Pada substantia galatinosa ini
dapat terjadi perubahan,modifikasi,serta mempengaruhi apakah sensasi
nyeri yang diterima oleh medulla spinalis akan diteruskan ke otak atau
akan dihambat.
Thalamus bertindak sebagai penerima input sensori (impuls nyeri ) dari
traktus spinotalamikus lateral untuk kemudian diteruskan kekorteks.
Neuroregulator nyeri atau substansi yang berperan dalam transmisi
stimulus saraf dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu neurotransmitter
dan

neuromodulator.

Neurotransmitter

mengirimkan

impuls-impuls

elektrik melewati rongga sinaps antara dua serabutsaraf,dan dapat bersifat


sebagai

penghambat

atau

dapat

pula

mengeksitasi.

Sedangkan

neuromodulator bekerja untuk memodifikasi aktivitas neuron tanpa


menstransfer secara langsung sinyal-sinyal menuju sinaps. Neuro
modulator dipercaya bekarja secara tidak langsung dengan meningkatkan
atau menurunkan efek partikuler neurotransmitter.
Beberapa neuroregulator yang berperan dalam penghantaran impuls nyeri
antara lain adalah:
1. Neurotransmitter
a. Substansi P (Peptida)

Ditemukan pada neuron nyeri di kornu dorsalis (Peptida

ektisator)
Diperlukan untuk menstransmisi nyeri dari perifer otak
Menyebabkan vasodilatasi dan edema
b. serotonin
Dilepaskan oleh batang otak dan kornu dorsalis untuk
menghambat transmisi nyeri
c. Prostaglandin
Dibangkitkan dari pemecahan pospolipid di membrane sel
Dipercaya dapat meningkatkan sensitivitas terhadap sel
2. Neuromodulator
a. Endofrin (morfin endogen)
Merupakan substansi sejenis morfin yang disuplay oleh tubuh
Aktivasi oleh daya stress dan nyeri
Terdapat pada otak, spinal, dan traktus gastrointestinal
Memberi efek analgesic
b. Bradikinin
Dilepaskan oleh plasma dan pecah di sekitar pembuluh darah

yang mengalami cedera


Bekerja pada reseptor saraf perifer, menyebabkan stimulus

nyari
Bekerja pada sel, menyebabkan reaksi berantai sehingga terjadi
pelepasan prostaglandin

Respon fisik timul karena pada saat impuls nyeri ditransmisikan oleh
medula spinalis menuju batang otak dan talamus, system saraf otonom
terstimulasi, sehingga menimbulakn respon yang serupa dengan respon
tubuh terhadap stress.
Pada sekala nyeri ringan sampai moderat serta pada nyeri superficial,
tubuh bereaksi membangkitkan General Adaptatoin syndrome (Reaksi
Fight or Flight), dengan merangsang system saraf simpatis. Sedangkan
pada nyeri yang berat dan tidak dapat di toleransi serta nyeri yang berasal
dari organ visceral, akan mengakibatkan stimulasi terhadap saraf
parasimpatis.
Respons fisiologis tubuh terhadap nyeri:

C. Klasifikasi Nyeri
Klasifikasi nyeri secara umum di bagi menjadi dua, yakni nyeri akut dan
kronis. Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat
menghilang, yang tidak melebihi 6 bulan dan di tandai adanya peningkatan
tegangan otot.
Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahan-lahan, biasanya
berlangsung cukup lama, yaitu lebih dari 6 bulan. Termasuk dalam kategori
nyeri kronis adalah nyeri terminal, sindrom nyeri kronis, dan nyeri
psikosomatis. Ditinjau dari sifat terjadinya, nyeri dapat dibagi kedalam
beberapa kategori, di antaranya nyeri tersusuk dan nyeri terbakar.
D. Stimulus Nyeri
Seseorang dapat meneloransi, menahan nyeri (pain tolerance) atau mengenali
jumlah stimulus nyeri sebelum merasakan nyeri (pain tolerance). Terdapat
beberapa jenis stimulus nyeri, di antaranya:

1. Trauma pada jaringan tubuh, misalnya karena bedah akibat terjadinya


kerusakan jaringan dari iritasi secara langsung pada reseptor.
2. Gangguan pada jaringan tubuh, misalnya pada edema akibat terjadinya
penekanan pada reseptor nyeri.
3. Tumor, dapat juga menekan pada reseptor nyeri.
4. Iskemia pada jaringan, misalnya terjadi pada blockade pada arceria
koronaria yang menstimulasi resptor nyeri akibat tumpukan asam laktat.
E. Teori Nyeri
Tedapat beberapa teori tentang terjadinya rangsangan nyeri, di antaranya
1. Teori Pemisahan (Specificity Theory). Menurut teori ini, rangsangan sakit
masuk ke medulla spinalis (spinal cord) melalui karnu dorsalis yang
bersinaps di daerah posterior, kemudian naik ke tractus lissur dan
menyilang di garis median ke sisi lainnya, dan berakhir di korteks sensoris
tempat rangsangan nyeri tersebut diteruskan.
2. Teori Pola (Pattren Theory). Rangsangan nyeri masuk melalui akar
ganglion dorsal ke medulla spinalis dan merangsang aktivitas sel T. Hal ini
mengakibatkan suatu respons yang merangsan ke bagian yang lebih tinggi,
yaitu korteks serebri, serta kontraksi menimbulkan response dan otot
berkontraksi sehingga menimbulkan nyeri. Persepsi di pengaruhi oleh
modalitas respons dari reaksi sel T.
3. Teori Pengendali Gebang (Gate Control Theory). Menurut teori ini, nyeri
tergantung dari kerja serat saraf besar dan kecil yang keduanya berada di
dalam akar ganglion doralis. Rangsangan pada serat besar akan
meninggalkan aktivitas subtansia gelatinosa yang mengakibatkan tutupnya
pintu mekanisme sehingga aktivitas sel T terhambat dan menyebabkan
hantaran rangsangan ikut terhambat. Rangsangan serat besar dapat
langsung

merangsang

korteks

serebri.

Hasil

persepsi

ini

akan

dikembalikan kedalam medulla spinalis melalui serat eferen dan reaksinta

mempengaruhi aktivitas sel T. Rangsangan pada serat kecil akan


menghambat

aktivitas

substansi

gelatinosa

dan

membuka

pintu

mekanisme,sehingga merangsang aktivitas sel T yang selanjutnya akan


menghantarkan rangsangan nyeri.
4. Teori transmisi dan inhibisi. Adanya stimulus pada niciceptor melalui
transmisi impuls-implus saraf, sehingga implus nyeri menjadi efektif oleh
neurotransmitter yang spesifik. Kemudian, inhibisi implus nyeri menjadi
efektif oleh implus-implus pada serabut-serabut besar yang memblok
implus-implus pada serabut lamban dan endogen opiate system supresif.
F. Faktor-Faktor Mempengaruhi Nyeri
Factor-faktor yang mempengaruhi persepsi tentang nyeri pada seorang
individu meliputi:
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Budaya
4. Pengetahuan tentang nyeri dan penyebabnya
5. Makna nyeri
6. Perhatian klien
7. Tingkat kecemasan
8. Tingkat stres
9. Tingkat energy
10. Pengalaman sebelumnya
11. Pola koping
12. Dukungan keluarga dan social
Factor-faktor yang meningkatkan toleransi terhadap nyeri adalah sebagai
berikut:
1. Alcohol
2. Obat-obatan
3. Hypnosis
4. Panas
5. Gesekan/garukan
6. Pengalihan perhatian
7. Kepercayaan yang kuat
Factor-faktor yang menurunkan toleransi terhadap nyeri antara lain:
1. Kelelahan
2. Marah
3. Kebosanan, depresi
4. Kecemasan
5. Nyeri kronis
7

6. Sakit/penderitaan
G. Cara Mengukur Intensitas Nyeri
Rencana asuhan keperawatan klien dengan gangguan kebutuhan
a. Pengkajian
1. Riwayat keperawatan
Kaji masalah kesehatan sekarang, riwayat penyakit dahulu, satus
kesehatan keluarga, dan status perkembangan.
2. Pemeriksaan fisik: data focus
a. Pendekatan klinis terhadap nyeri klien
A: Ask (tanyakan nyeri secara teratur)
A: Assess (kaji nyeri secara sistematis) .
B: Behavior (percaya apa yang dilaporkan klien dan keluarga serta

apa yang mereka lakukan untuk menghilangkan nyeri)


C: Choose (pilih cara pengontrolan nyeri yang cocok untuk klien)
- Nonfarmakologi
Penatalaksanaan nonfarmakologis terdiri dari berbagai tindakan
penanganan nyeri berdasarkan stimulasi fisik maupun perilaku
kognitif. Penanganan fisik meliputi stimulasi kulit, stimulasi
elekrik saraf kulit transkutan (TENS, Transcutaneous Electric
Nerve Stimulation ), akupuntur, dan pemberian placebo.
Intervensi perilaku kognitif meliputi tindakan distraksi, teknik
relaksasi,

imajinasi

terbimbing,

umpan-balik

biologis,

hypnosis, dan sentuhan terapeutik.


Penanganan nyeri dengan tindakan fisik dilakukan dengan
tujuan sebagai berikut:
Meningkatkan kenyamanan
Memperbaiki adanya disfungsi fisik
Mengubah respons fsikologik
Menurunkan kecemasan yang berhubungan

dengan

imobilisasi karena nyeri atau adanya pembatasan aktivitas


Stimulasi kulit dapat member efek penurunan nyeri yang
efektif. Tindakan ini mengalihkan perhatian sehingga klien
berfokus pada stimulus taktil dan mengabaikan sensasi nyeri,
yang pada akhirnya dapat menurunkan persepsi nyeri.stimulasi
kulit juga dipercaya dapat:

Meningkatkan

pelepasan

endorphin

tang

memblok

transmisi stimulus nyeri


Menstimulasi serabut saraf berdiameter besar A-Beta sehingga
menurunkan transmisi impuls nyeri melalui serabut kecil ADelta dan serabut saraf C

Yang termasuk teknik stimulasi kulit meliputi:


Masase
Kompres panas dan dingin
Akupuntur
Stimulasi kontralateral
b. Ekspresi Nyeri Klien
Laporan klien tentang nyeri yang dirasakan merupakan indicator
tunggal yang paling dapat dipercaya tentang keberadaan dan
intensitas

nyeri

dan

apapun

ketidaknyamanan.
c. Karakteristik
P:
Provokatif/paliatif

yang

(apa

berhubungan

penyebab,

apa

dengan

yang

memunculkannya, apa yang menguraninya ? )


Q: Qualitas (bagaimana rasanya ? )
- Remuk/sensasi pukul
- Berdenyut
- Tajam/tumpul
- Terbakar
- Tidak dapat dijelaskan
R: Regio/radiasi (dibagian mana nyeri terjadi?, apakah
menyebar?)
S: Severiti

(bagaimana

intensitas

nyeri

dengan

menggunakan skala nyeri?,bagaimana pengaruh nyeri

terhadap aktivitas?)
Skala Penilaian Numerik 0-10
- 0-3 tidak nyeri/nyeri ringan
4-7 nyeri sedang
8-10 sangat nyeri/nyeri berat
Skala Penilaian Numerik 0-5
0: tidak ada nyeri
1: nyeri ringan
2: nyeri sedang
3: nyeri berat
4: nyeri sangat berat
9

5: nyeri yang paling buruk

Skala wajah Wong-bakers untuk mengukur nyeri

T: Time (kaoan mulai terjadi nyeri?, berapa lama nyeri terjadi?,apakah


awitanya tiba-tiba atau bertahap?,seberapa sering hal itu terjadi?)

H. Pengkajian
Pengkajian nyeri yang akurat penting untuk upaya pelaksanaan nyeri yang
efektif. Karena nyeri merupakan pengalaman yang subjektif dan dirasakan
secara berbeda pada masing-masing individu, maka perawat perlu mengkaji
semua factor yang mempengaruhi nyeri seperti factor fisiologis, psikologis,
perilaku, emosional, dan sosiokultural. Pengkajian nyeri terdiri atas dua
kompenen utama yaitu :
1. Riwayat nyeri untuk mendapatkan data dari klien.
2. Observasi langsung pada respons perilaku dan fisiologis klien.
Tujuan pengkajian adalah untuk mendapatkan pemahaman objektif terhadap
pengalaman subjektif. Mnemonic untuk pengkajian nyeri.
P

Provoking atau pemicu yaitu factor yang memicu timbulnya

Q
R
S

nyeri
Quality atau kualitas nyeri
Region atau daerah perjalanan ke daerah lain
Severity atau keganasan, yaitu intensitasnya

10

Time atau waktu, yaitu serangan, lamanya, kekerapan, dan


sebab

I. Etiologi Nyeri
Adapun Etiologi Nyeri yaitu:
1. Trauma pada jaringan tubuh, misalnya kerusakkan jaringan akibat bedah
atau cidera.
2.

Iskemik jaringan.

3. Spasmus otot merupakan suatu keadaan kontraksi yang tak disadari atau
tak

terkendali, dan sering menimbulkan rasa sakit. Spasme biasanya

terjadi pada otot yang kelelahan dan bekerja berlebihan, khususnya ketika
otot teregang berlebihan atau diam menahan beban pada posisi yang tetap
dalam waktu yang lama.
Inflamasi pembengkakan jaringan mengakibatkan peningkatan tekanan
lokal dan juga karena ada pengeluaran zat histamin dan zat kimia bioaktif
lainnya.
4. Post operasi setelah dilakukan pembedahan.

I. Manifestasi Klinis
1. Gangguam tidur
2. Posisi menghindari nyeri
3. Gerakan meng hindari nyeri
4. Raut wajah kesakitan (menangis,merintih)
5. Perubahan nafsu makan
6. Tekanan darah meningkat
7. Nadi meningkat
8. Pernafasan meningkat
9. Depresi
J. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
11

1. Non farmakologi
a. Relaksasi distraksi, mengalihkan perhatian klien terhadap sesuatu
Contoh : membaca buku, menonton tv , mendengarkan musik dan
bermain
b. Stimulaisi kulit, beberapa teknik untuk stimulasi kulit antara lain :
Kompres dingin
Counteriritan, seperti plester hangat.
2. Farmakologi adalah obat:
Obat
Injeksi
K. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
Diagnosa 1 : Nyeri akut
1. Nyeri akut adalah keadaan ketika individu mengalami atau melaporkan
adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak
menyenagkan selama enam bulan atau kurang.
2. Batasan karakteristik:
Subjektif:
Komunikasi verbal atau nonverbal tentang nyeri.
Objektif:

Perilaku sangat berhati-hati,melindungi organ yang sakit


Memusatkan diri
Mempersempit fokus (perubahan persepsi,menarik diri dari hubungan

social,gangguan proses berpikir)


Perilaku distraksi (mengerang, menangis, mondar-mandir, mencari

orang lain,gelisah)
Raut wajah kesakitan (mata kuyu, terlihat lelah, menangis)
Perubahan tondus otot
Respon autonom: diaphoresis, peningkatan TD dan nadi, dilatasi pupil,
perubahan frekuensi pernafasan (biasany tidak terlihat pada nyeri

kronis/stabil)
3. Faktor yang berhubungan:
Yang berhubungan dengan kontraksi uterus selama persalinan
Yang berhubungan dengan trauma pada perineum selama persalinan
Yang berhubungan dengan involusi uterus dan pembengkakan
payudara

12

Yang berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot


skunder terhadap
Gangguan muskuluskeletal:
- Fraktur
- Artritis
- Kontraktur
- Gangguan medulla spinalis
- Spasme
Gangguan visceral:
- Jantung
- Hepatik
- Paru
- Ginjal
- Usus
- Kanker
Gangguan vascular:
- Vasospasme
- Flebitis
- Oklusi
- Vasodilatasi
Yang berhubungan inflamasi pada
- Saraf
- Sendi
- Tendon
- Otot
- Bursae
- Struktur yukstoartikuler
Yang berhubungan dengan keletihan,malaise dan pruritus

skunder terhadap
- Penyakit cacar,rubella
- Pankreatitis
- hepatitis
Yang berhubungan dengan pengaruh kanker pada (sebutkan

organnya)
Yang berhubungan dengan kram abdomen,diare dan muntah

skunder terhadap
- Gastroenteritis
- Ulkus gastrium
Yang berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot skunder
terhadap
- Batu ginjal
- Infeksi gastrointestinal

13

Diagnose 2 : Nyeri kronis


1. Nyeri kronis adalah keadaan seorang individu mengalani nyeri yang
menetap atau intermiten dan berlangsung lebih dari enam bulan.
2. Batasan karakteristik:
Subjektif:
Individu melaporkan bahwa nyeri telah ada sejak lebih dari enam
bulan
Objektif:

3.

Ketidaknyamanan
Marah,frustasi,defresi karena situasi
Raut wajah kesakitan
Anoreksia,penurunan berat badan
Insomnia
Gerakan yang sangat berhati-hati
Spasme otot
Kemerahan,bengkak,panas
Perubahan warna pada area yang terganggu
Abnormalitas refleks
Factor yang berhubungan:
Yang berhubungan dengan kontraksi uterus selama persalinan
Yang berhubungan dengan trauma pada perineum selama

persalinan
Yang berhubungan dengan involusi uterus dan pembengkakan

payudara
Yang berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot

skunder terhadap
Gangguan muskuluskeletal:
- Fraktur
- Artritis
- Kontraktur
- Gangguan medulla spinalis
- Spasme
Gangguan visceral:
- Jantung
- Hepatik
- Paru
- Ginjal
- Usus
- Kanker

14

Gangguan vascular:
- Vasospasme
- Flebitis
- Oklusi
- Vasodilatasi
Yang berhubungan inflamasi pada
- Saraf
- Sendi
- Tendon
- Otot
- Bursae
- Struktur yukstoartikuler
Yang berhubungan dengan keletihan,malaise dan pruritus skunder

terhadap
- Penyakit cacar,rubella
- Pankreatitis
- hepatitis
Yang berhubungan dengan pengaruh kanker pada (sebutkan

organnya)
Yang berhubungan dengan kram abdomen,diare dan muntah

skunder terhadap
- Gastroenteritis
- Ulkus gastrium
Yang berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot skunder terhadap
- Batu ginjal
- Infeksi gastrointestinal

b. Perencanaan
Diagnose 1 : Nyeri akut
1. Tujuan:
- Nyeri berkurang /teratasi
Kriteria hasil:
Klien mengatakan kenyamanan menjadi lebih baik
Perilaku klien atau gejala yang berhubungan dengan nyeri

berkurang atau hilang


Klien
memperagakan

usaha

untukmengurang

nyeri,menguraikan obat yang digunakan,menyatakan kapan


harus minta pertolongan ke layanan kesehatan (bila telah

pulang)
Klien menghubungakan

pengurangan

melakukan tindakan penurunan rasa nyeri


15

nyeri

setelah

2. Rencana tindakan
Intervensi
Rasional
1. Kaji derajat nyeri
1. Pengkajian
nyeri
dengan
2. Observasi tanda-tanda vital
menggunakan skala 0-10,skala
3. Tingkatkan pengetahuan:
visual analog atau skala Mc
Jelaskan penyebab nyeri
Jelaskan berapa lama
Gill,dan pada anak-anak dapat
nyeri akan berlangsung
menggunakan skala wajah Wong Jelaskan
karakteristik
Baker
nyeri yang mungkin
2. Pada
klien
dangan
nyeri
timbul selama prosedur
diagnostic
4. Berikan informasi yang akurat
untuk mengurangi rasa nyeri
5. Tunjukan penerimaan perawat
terhadap respons nyeri individu:
Kenali adanya rasa nyeri
Dengarkan
dengan
penuh perhatian tentang

nyeri yang terjadi


Tunjukan
bahwa
perawat

sedang

mengkaji nyeri klien


6. Diskusikan alasan mengapa
individu
peningkatan
nyeri
7. Ajarkan

dan

peningkatan nadi sering terjadi


3. Pengetahuan
yang
memadai
orientasi tentang penyakit yang
lebih baik,mengurangi kecemasan
yang dapat meningkatkan sensasi
nyeri,sekaligus

hubungan perawat-klien dalam


meningkatkan rasa aman
4. Kekakuan dapat menjadi factor
yang meningkatkan sensasi nyeri
5. Tindakan member perhatian
kepada klien akan meningkatkan
rasa

percaya

selama nyeri akut


8. Ajarkan metode

klien

perawat,sehingga

penurunan

data nyeri,menurunkan hambatan

distraksi
penurunan

nyeri noninvatif
9. Berikan analgesik

dapat

kepada

mengalami

saat
metode

meningkatkan

menyampaikan

menyampaikan

tergali
dalam

keluhan,serta

meningkatkan rasa aman yang


secara

tidak

langsung

dapat

mengurangi persepsi nyeri


6. Memberi dasar pengetahuan
objektif

tentang

nyeri

dan

tindakan yang harus atau tidak

16

boleh dilakukan oleh klien


7. Distraksi dapat memberikan
manipulasi pada tingkat persepsi
(tingkat tinggi otak) sehingga
menurunkan nyeri
8. Tindakan nyeri noninvatif antara
lain:
Relaksasi
Stimilasi kutan
Distraksi
9. Memblok impuls nyeri

dari

serabut-serabut nyeri agar tidak


disampaikan ke thalamus.

Daftar Pustaka

17

Aziz. (2006). Nursing Interventions Classification (NIC). Solo: Mosby An


Affiliate Of Elsefer
Tarmasuri, Anas. (2006). Konsep dan Penatalaksanaan Nyeri. Jakarta: EGC
WHO. (2005). Pedoman Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
NANDA. (2005-2006). Panduan Diagnosa keperawatan
Nanda International. 2011. Nursing Diagnoses: Definition & classification 20122014, Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Priharjo, Robert. (1993). Perawatan Nyeri Pemenuhan Aktivitas Istirahat Pasien.
Jakarta: EGC
Wilkinson,judith. (2002).Buku Saku Diagnosis Keperawatan NIC NOC Edisi 7.
Jakarta : EGC

18