Anda di halaman 1dari 3

UJI KEMAMPUAN MINYAK HASIL PIROLISIS PLASTIK

SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF DIBANDINGKAN


DENGAN MINYAK TANAH DAN SOLAR
Jatmiko Wahyudi, Hermain Teguh Prayitno dan Arieyanti Dwi Astuti, Peneliti, Kantor
Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati. Penggunaan plastik dan kantong
plastik terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Walhasil, jumlah sampah
plastik pun ikut bertambah. Data dari Deputi Pengendalian Pencemaran
Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2008) menyebutkan, setiap individu ratarata menghasilkan 0,8 kilogram sampah dalam satu hari di mana 15 persennya
adalah plastik. Dengan asumsi ada sekitar 220 juta penduduk di Indonesia, maka
sampah plastik yang tertimbun mencapai 26.500 ton per hari sedangkan jumlah
timbunan sampah nasional diperkirakan mencapai 176.000 ton per hari. Data
statistik persampahan domestik Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup 2008,
menyebutkan jenis sampah plastik sebesar 5,4 juta ton/tahun. Jumlah ini
mengalami peningkatan dan mampu menggeser posisi sampah kertas dengan
jumlah 3,6 juta ton/tahun (Kementerian Lingkungan Hidup, 2008).
Banyaknya jumlah sampah plastik yang ada harus dimusnahkan. Namun
pemusnahan sampah plastik dengan cara pembakaran (incineration), kurang efektif
dan berisiko sebab dengan pembakaran akan muncul polutan dari emisi gas buang
(CO2, CO, NOx, HCN dan SOx) dan beberapa partikulat pencemar lainnya sehingga
diperlukan cara pengolahan lain untuk mengolah sampah plastik. Hidrogen sianida
(HCN) berasal dari polimer berbahan dasar akrilonitril, sedangkan karbon
monoksida sebagai hasil dari pembakaran tidak sempurna. Dengan metode landfill
maupun open dumping pada TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) juga tidak
memungkinkan karena penguraian plastik secara alami membutuhkan waktu yang
sangat lama. Hal inilah yang menyebabkan sampah plastik sebagai salah satu
penyebab pencemaran udara dan mengakibatkan efek jangka panjang berupa
pemanasan secara global pada atmosfer bumi. Perlu adanya alternatif proses daur
ulang yang lebih menjanjikan dan berprospek ke depan. Salah satunya
mengkonversi sampah plastik menjadi minyak melalui proses pirolisis. Hal ini bisa
dilakukan karena pada dasarnya plastik berasal dari minyak bumi, sehingga tinggal
dikembalikan ke bentuk semula. Selain itu plastik juga mempunyai nilai kalor cukup
tinggi, setara dengan bahan bakar fosil seperti bensin dan solar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan minyak hasil pirolisis
sampah plastik melalui uji sederhana massa jenis, lama pembakaran, temperatur
air dan volume air yang hilang (menguap) saat dimasak menggunakan minyak
tersebut; 2) membandingkan kemampuan minyak hasil pirolisis tersebut dengan
bahan bakar lain yang setara yaitu minyak tanah dan solar.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli September 2013. Proses eksperimen
pirolisis plastik dilakukan di Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data yang
digunakan merupakan data primer hasil ekperimen untuk kemudian dibandingkan
dengan standar spesifikasi berat jenis bahan bakar minyak tanah dan solar
menurut Kementerian ESDM (2006). Pengambilan minyak dilakukan dengan cara
pirolisis, pertama-tama sampah plastik kering dari gelas plastik bekas air minum
kemasan sebanyak 200 gram yang telah disiapkan. Plastik tersebut kemudian
dimasukkan ke dalam alat pirolisa yang dilengkapi sistem pendingin dan
penampung destilat. Setelah semuanya siap, pemanas yang berupa kompor elpiji
dinyalakan hingga temperatur optimal selama kurang lebih 2 4 jam. Minyak yang

mengalir dari kondensor 1 ditampung dalam penampung destilat 1 yang sudah


disiapkan. Begitu pula minyak yang keluar dari kondensor 2 akan ditampung dalam
penampung destilat 2. Kemampuan minyak pirolisis plastik tersebut akan
dibandingkan dengan minyak tanah dan solar untuk diuji secara sederhana.
Dari hasil penghitungan massa jenis terlihat bahwa massa jenis minyak hasil
pirolisis plastik jenis PP berada dibawah massa jenis minyak solar namun diatas
massa jenis minyak tanah sebesar 0,8 gr/ml. Massa jenis minyak solar dan minyak
tanah ini juga masuk dalam kisaran spesifikasi standar menurut Kementerian ESDM
(2006) yaitu 0,815 0,87 gr/ml untuk minyak solar dan 0,79 0,83 gr/ml untuk
minyak tanah.
Suatu benda yang memiliki massa jenis yang semakin tinggi maka semakin besar
pula massa setiap volumenya. Dari ketiga jenis minyak diatas, minyak solar
memiliki massa paling besar pada setiap volumenya. Sedangkan minyak tanah
memiliki massa yang paling rendah pada setiap volumenya. Hal ini
mengindikasikan bahwa minyak solar masih memiliki banyak pengotor karena
dihasilkan dari proses penyulingan bahan bakar mentah pertama sehingga
kualitasnya masih berada di bawah minyak tanah dan minyak pirolisis.
Lama pembakaran digunakan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan minyak
untuk membakar habis suatu benda. Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui
bahwa minyak solar menghasilkan waktu pembakaran yang paling lama
dibandingkan minyak tanah dan minyak pirolisis yaitu 5,59 menit. Hal ini
dikarenakan minyak solar memiliki titik nyala paling tinggi diantara kedua minyak
lainnya yaitu 55C (Kementerian ESDM, 2006), sedangkan titik nyala minyak tanah
adalah 47,8C (Kahar, 2007). Titik nyala suatu bahan bakar adalah suhu terendah
dimana bahan bakar dapat dipanaskan sehingga uap mengeluarkan nyala sebentar
bila dilewatkan suatu nyala api (United Nations Environment Programme, 2006).
Titik nyala berhubungan langsung dengan mudah atau tidaknya suatu bahan bakar
dapat terbakar. Titik nyala yang semakin rendah menyebabkan zat tersebut
semakin mudah dibakar, sehingga sifat fisis ini sangat penting sekali sebagai syarat
suatu zat dikatakan sebagai bahan bakar.
Minyak hasil pirolisis plastik diuji dengan menggunakannya sebagai bahan bakar
untuk memasak air sehingga dapat diketahui besarnya temperatur air. Temperatur
air yang dihasilkan dari pemasakan menggunakan minyak pirolisis akan
dibandingkan dengan temperatur air hasil pemasakan menggunakan minyak tanah
dan minyak solar. Lama pembakaran dan temperatur air memiliki hubungan yang
berbanding terbalik, dimana semakin lama pembakaran maka temperatur air yang
dihasilkan akan semakin rendah. Pengukuran temperatur ini dilakukan pada waktu
yang sama pada masing-masing jenis minyak. Sehingga ketika cawan air yang
dibakar menggunakan minyak tanah sudah panas, maka cawan air yang dibakar
menggunakan minyak pirolisis mulai panas namun cawan air yang dibakar
menggunakan minyak solar belum panas.
Minyak solar membutuhkan waktu yang paling lama untuk terbakar karena memiliki
titik nyala paling tinggi (55C) diantara kedua minyak lainnya sehingga air yang
dimasak menggunakan minyak solar memiliki temperatur yang paling rendah 74C.
Sedangkan air yang dimasak menggunakan bahan bakar minyak pirolisis memiliki
temperatur 75C. Temperatur ini berada diantara minyak tanah dan minyak solar
karena minyak pirolisis plastik memiliki titik nyala yang juga berada diantara
minyak tanah dan minyak solar. Begitu pula minyak tanah yang menghasilkan
temperatur pada air paling tinggi yaitu 80C, karena memiliki titik nyala paling
rendah (47,8C).

Selain dengan mengukur temperatur pada pemasakan air, uji kemampuan minyak
pirolisis juga dilakukan dengan mengukur banyaknya volume air yang hilang
(menguap) pada proses pemasakan air menggunakan minyak tersebut. Volume
awal dari air yang dipanaskan pada cawan adalah 15 ml. Volume air yang menguap
paling tinggi dihasilkan dari pemasakan air menggunakan minyak solar (13,2 ml),
diikuti minyak pirolisis (12,6 ml) dan yang paling rendah adalah minyak tanah (8,4
ml). Volume air yang menguap ini seharusnya memiliki hubungan yang berbanding
lurus dengan temperatur air. Minyak solar yang menghasilkan temperatur air yang
dimasak paling rendah justru mampu menguapkan air paling tinggi. Begitu pula
dengan minyak tanah, yang memiliki temperatur air paling tinggi justru hanya
mampu menguapkan air dengan volume paling rendah. Hal ini berkaitan dengan
titik nyala minyak. Semakin tinggi titik nyala maka akan semakin lama nyala dari
pembakaran minyak tersebut. Kondisi ini sesuai dengan lama pembakaran yang
menggambarkan bahwa minyak solar memiliki waktu pembakaran yang paling
lama, diikuti minyak pirolisis baru kemudian minyak tanah.
Rekomendasi yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini adalah: 1) Untuk bisa
mendapatkan teknologi tepat guna dari pirolisis plastik ini, bahan bakar yang
digunakan untuk memanaskan alat pirolisis sebaiknya menggunakan bahan bakar
yang murah dan ramah lingkungan (biogas) sehingga diharapkan hasil yang
diperoleh lebih murah dan aplikatif; 2) Perlu dilakukan pengujian standar spesifikasi
bahan bakar minyak pirolisis, sehingga dapat diketahui pemanfaataannya,
termasuk kekurangan dan kelebihannya dibanding bahan bakar minyak yang saat
ini sudah ada di pasaran.

Anda mungkin juga menyukai