Anda di halaman 1dari 36

UNSUR TRANSISI

PERIODE KEEMPAT
KIMIA

Nama Kelompok 5 :
-

Asrif Fajar Hidayat


Rabiah Alwahab
Dwi Oktaviani
Emritha Della
Layli Juwalia
Metha Indraswary
Muh. Athar Ashari
Muh. Wahyu Nugroho

Kata Pengantar
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berkat rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah kami
yang berjudul periode empat.
Dalam makalah ini kami menjelaskan mengenai periode empat
secara umum. Adapun tujuan kami membuat makalah ini yang utama untuk
memenuhi tugas dari guru pembimbing kami dalam mata pelajaran KIMIA. Di
sisi lain, kami membuat makalah untuk mengetahui lebih rinci mengenai
periode empat.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
sebab itu, diharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan
makalah kami untuk ke depannya. Mudah-mudahan makalah ini dapat
bermanfaat

bagi

kita

semua

terutama

bagi

siswa/siswi

yang

mau

mempelajari lebih luas tentang periode empat.

DAFTAR ISI
KATA

PENGANTAR

1
DAFTAR

ISI

.2
BAB

PENDAHULUAN

3
1.1

Latar

Belakang

.. 3
1.2

Rumusan

Masalah

... 3
1.3

Tujuan

3
BAB

II

PEMBAHASAN

4
1.2.1 Unsur-Unsur

Transisi

Periode

Keempat

. 4
1.2.2 Kelimpahan

Unsur-Unsur

Transisi

Periode

Keempat

Periode

Keempat

Transisi

Periode

Keempat

Transisi

Periode

Keempat

. 6
1.2.3 Sifat-Sifat

Unsur-Unsur

Transisi

9
1.2.4 Pembuatan

Unsur-Unsur

17
1.2.5 Penggunaan

Unsur-Unsur

.. 22

BAB

III

PENUTUP

... 29
Kesimpulan

.. 29
Saran

29
DAFTAR

PUSTAKA

30

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Unsur transisi periode keempat umumnya memiliki elektron valensi
pada subkulit 3d yang belum terisi penuh (kecuali unsur Seng (Zn) pada
3

Golongan IIB). Hal ini menyebabkan unsur transisi periode keempat memiliki
beberapa sifat khas yang tidak dimiliki oleh unsur-unsur golongan utama,
seperti sifat magnetik, warna ion, aktivitas katalitik, serta kemampuan
membentuk senyawa kompleks. Unsur transisi periode keempat terdiri dari
sepuluh unsur, yaitu Skandium (Sc), Titanium (Ti), Vanadium (V), Kromium
(Cr), Mangan (Mn), Besi (Fe), Kobalt (Co), Nikel (Ni), Tembaga (Cu), dan Seng
(Zn).
Dalam satu periode dari kiri (Sc) ke kanan (Zn), keelektronegatifan
unsur hampir sama, tidak meningkat maupun menurun secara signifikan.
Selain itu, ukuran atom (jari-jari unsur) serta energi ionisasi juga tidak
mengalami perubahan signifikan. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa
semua unsur transisi periode keempat memiliki sifat kimia dan sifat fisika
yang serupa. Hal ini berbeda dengan unsur utama yang mengalami
perubahan sifat yang sangat signifikan dalam satu periode.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat ?
1.2.2 Bagaimana Kelimpahan Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat ?
1.2.3 Bagaimana Sifat-Sifat Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat ?
1.2.4 Bagaimana Pembuatan Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat ?
1.2.5 Bagaimana Penggunaan Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.3.1 Mengetahui Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat.
1.3.2 Mengetahui Kelimpahan Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat.
1.3.3 Mengetahui Sifat-Sifat Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat.
1.3.4 Mengetahui Pembuatan Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat.
1.3.5 Mengetahui Penggunaan Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat

BAB 2
4

PEMBAHASAN
1.2.1

Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat

Unsur transisi adalah unsur yang dapat menggunakan elektron pada


kulit terluar dan kulit pertama terluar untuk berikatan dengan unsur-unsur
yang lain.
Unsur transisi periode keempat umumnya memiliki elektron valensi
pada subkulit 3d yang belum terisi penuh (kecuali unsur Seng (Zn) pada
Golongan IIB). Hal ini menyebabkan unsur transisi periode keempat memiliki
beberapa sifat khas yang tidak dimiliki oleh unsur-unsur golongan utama,
seperti sifat magnetik, warna ion, aktivitas katalitik, serta kemampuan
membentuk senyawa kompleks. Unsur transisi periode keempat terdiri dari
sepuluh unsur, yaitu Skandium (Sc), Titanium (Ti), Vanadium (V), Kromium
(Cr), Mangan (Mn), Besi (Fe), Kobalt (Co), Nikel (Ni), Tembaga (Cu), dan Seng
(Zn).
Dalam satu periode dari kiri (Sc) ke kanan (Zn), keelektronegatifan
unsur hampir sama, tidak meningkat maupun menurun secara signifikan.
Selain itu, ukuran atom (jari-jari unsur) serta energi ionisasi juga tidak
mengalami perubahan signifikan. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa
semua unsur transisi periode keempat memiliki sifat kimia dan sifat fisika
yang serupa. Hal ini berbeda dengan unsur utama yang mengalami
perubahan sifat yang sangat signifikan dalam satu periode.
Unsur transisi periode keempat umumnya memiliki keelektronegatifan
yang lebih besar dibandingkan unsur Alkali maupun Alkali tanah, sehingga
kereaktifan unsur transisi tersebut lebih rendah bila dibandingkan Alkali
maupun Alkali Tanah. Sebagian besar unsur transisi periode keempat mudah
teroksidasi (memiliki Ered negatif), kecuali unsur Tembaga yang cenderung
mudah tereduksi (ECu = + 0,34 V). Hal ini berarti bahwa secara teoritis,
sebagian besar unsur transisi periode keempat dapat bereaksi dengan asam
kuat (seperti HCl) menghasilkan gas hidrogen, kecuali unsur Tembaga. Akan
5

tetapi, pada kenyataanya, kebanyakan unsur transisi periode keempat sulit


atau bereaksi lambat dengan larutan asam akibat terbentuknya lapisan
oksida yang dapat menghalangi reaksi lebih lanjut. Hal ini terlihat jelas pada
unsur Kromium. Walaupun memiliki potensial standar reduksi negatif, unsur
ini sulit bereaksi dengan asam akibat terbentuknya lapisan oksida (Cr 2O3)
yang inert. Sifat inilah yang dimanfaatkan dalam proses perlindungan logam
dari korosi (perkaratan).
Dibandingkan unsur Alkali dan Alkali Tanah, unsur-unsur transisi
periode keempat memiliki susunan atom yang lebih rapat (closed packing).
Akibatnya, unsur transisi tersebut memiliki kerapatan (densitas) yang jauh
lebih besar dibandingkan Alkali maupun Alkali Tanah. Dengan demikian,
ikatan logam (metallic bonds) yang terjadi pada unsur transisi lebih kuat.
Hal ini berdampak pada titik didih dan titik leleh unsur transisi yang jauh
lebih tinggi dibandingkan unsur logam golongan utama. Selain itu, entalpi
pelelehan dan entalpi penguapan unsur transisi juga jauh lebih tinggi
dibandingkan unsur logam golongan utama.
Unsur transisi periode keempat memiliki tingkat oksidasi (bilangan
oksidasi) yang bervariasi. Hal ini disebabkan oleh tingkat energi subkulit 3d
dan 4s yang hampir sama. Oleh sebab itu, saat unsur transisi melepaskan
elektron pada subkulit 4s membentuk ion positif (kation), sejumlah elektron
pada subkulit 3d akan ikut dilepaskan. Bilangan oksidasi umum yang
dijumpai pada tiap unsur transisi periode keempat adalah +2 dan +3.
Sementara, bilangan oksidasi tertinggi pada unsur transisi periode keempat
adalah +7 pada unsur Mangan (4s2 3d7). Bilangan oksidasi rendah umumnya
ditemukan pada ion Cr3+, Mn2+, Fe2+, Fe3+, Cu+, dan Cu2+, sedangkan bilangan
oksidasi tinggi ditemukan pada anion oksida, seperti CrO 42-, Cr2O72-, dan
MnO4-.

Unsur

Nomor
Atom

Konfigurasi
Elektron

Orbital

3d

Skandium (Sc)

21

(Ar) 3d1 4s2

Titanium (Ti)

22

(Ar) 3d2 4s2

Vanadium (V)

23

(Ar) 3d3 4s2

Krom (Cr)

24

(Ar) 3d5 4s1

Mangan (Mn)

25

(Ar) 3d5 4s2

Besi (Fe)

26

(Ar) 3d6 4s2

Kobalt (Co)

27

(Ar) 3d7 4s2

Nikel (Ni)

28

(Ar) 3d8 4s2

Tembaga (Cu)

29

(Ar) 3d10 4s1

Seng (Zn)

30

(Ar) 3d10 4s2

1.2.2

Kelimpahan

Unsur-Unsur

4s

Transisi

Periode

Keempat
Unsur unsur yang termasuk periode keempat meliputi tembaga (Cu),
seng (Zn), skadium (Sc), Titanium (Ti), Vanadium (V), kromium (Cr), mangan
(Mn), besi (Fe), kobalt (Co), dan nikel (Ni).
Unsur transisi dapat ditemukan dikerak bumi terutama sebagai bijih
mineral (bijih logam) dengan kadar tertentu. Bijih besi merupakan mineral
terbanyak di alam setelah O, Si, dan Al. Untuk lebih jelasnya keberadaan
unsur transisi di alam dapat dilihat dalam uraian berikut.
7

a. Skandium (Sc)
Skandium (Sc) terdapat dalam mineral torvetit (Sc2SiO7).
b. Titanium (Ti)
Unsur ini terdapat dalam mineralrutil (TiO 2) yang terdapat dalam bijih besi
sebagai I lmenit (FeTi)2O3 dan ferrotitanate (FeTiO3) juga terdapat dalam
karang, silikat, bauksit batubara, dan tanah liat.
c.Vanadium (V)
Vanadium

terdapat

dalam

senyawa

karnotit

(K-uranil-vanadat)

[(K2(UO2)2 (VO4)2.3H2)], dan vanadinit (Pb5(VO4)3Cl).


d. Kromium (Cr)
Bijih utama dari kromium di alam adalah kromit (FeO.Cr 2O2) dan sejumlah
kecil dalam kromoker.
e. Mangan (Mn)
Bijih utamanya berupa pirulosit (batu kawi) (MnO 2), dan rodokrosit
(MnCO3) dan diperkirakan cadangan Mn terbesar terdapat di dasar lautan.
f. Besi (Fe)
Besi (Fe) adalah unsur yang cukup melimpah di kerak bumi (sekitar
6,2% massa kerak bumi). Besi jarang ditemukan dalam keadaan bebas di
alam. Besi umumnya ditemukan dalam bentuk mineral (bijih besi), seperti
hematite (Fe2O3), siderite (FeCO3), dan magnetite (Fe3O4).
Logam Besi bereaksi dengan larutan asam klorida menghasilkan gas
hidrogen. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Fe(s) + 2 H+(aq) > Fe2+(aq) + H2(g)
Larutan asam sulfat pekat dapat mengoksidasi logam Besi menjadi ion
Fe3+. Sementara larutan asam nitrat pekat akan membentuk lapisan oksida
Fe3O4 yang dapat menghambat reaksi lebih lanjut. Umumnya, Besi
dijumpai dalam bentuk senyawa dengan tingkat oksidasi +2 dan +3.
Beberapa contoh senyawa Besi (II) antara lain FeO (hitam), FeSO 4. 7H2O
(hijau), FeCl2 (kuning), dan FeS (hitam). Ion Fe2+ dapat dengan mudah
teroksidasi menjadi ion Fe3+ bila terdapat gas oksigen yang cukup dalam
8

larutan Fe2+. Sementara itu, senyawa yang mengandung ion Besi (III)
adalah Fe2O3 (coklat-merah) dan FeCl3 (coklat).
g. Kobalt (Co)
Kobalt terdapat di alam sebagai arsenida dari Fe, Co, Ni, dan dikenal
sebagai smaltit, kobaltit (CoFeAsS) dan eritrit Co3(AsO4)2.8H2O.
h. Nikel (Ni)
Nikel ditemukan dalam beberapa senyawa berikut ini.
Sebagai senyawa sulfida

: penladit (FeNiS), milerit (NiS)

Sebagai senyawa arsen

: smaltit (NiCOFeAs2)

Sebagai senyawa silikat

: garnierit (Ni.MgSiO3)

i. Tembaga (Cu)
Tembaga (Cu) merupakan unsur yang jarang ditemukan di alam (precious
metal). Tembaga umumnya ditemukan dalam bentuk senyawanya, yaitu
bijih mineral, seperti Pirit tembaga (kalkopirit) CuFeS 2, bornit (Cu3FeS3),
kuprit (Cu2O), melakonit (CuO), malasit (CuCO3.Cu(OH)2).
Semua senyawa Tembaga (I) bersifat diamagnetik dan tidak berwarna
(kecuali Cu2O yang berwarna merah), sedangkan semua senyawa Tembaga
(II)

bersifat

paramagnetik

dan

berwarna.

Senyawa

hidrat

yang

mengandung ion Cu2+ berwarna biru. Beberapa contoh senyawa yang


mengandung Tembaga (II) adalah CuO (hitam), CuSO4.5H2O (biru), dan CuS
(hitam).
j. Seng (Zn)
Seng (Zn) terdapat di alam sebagai senyawa sulfida seperti seng blende
(ZnS), sebagai senyawa karbonat kelamin (ZnCO 3), dan senyawa silikat
seperti hemimorfit (ZnO.ZnSiO3.H2O).
Tabel beberapa mineral dari unsur-unsur transisi periode keempat
Loga

Nama Mineral

Rumus

m
Sc

Torvetit

Sc2SiO7

Ti

Rutile

TiO2

Ilmenit

(FeTi)2O3
FeTiO3

Ferrotitanate
V

Karnotit
vanadat)

(K-uranil- K2(UO2)2 (VO4)2.3H2


Pb5(VO4)3Cl

vanadinit
Cr

Kromit

Cr2O3.FeO

Mn

Pirolusit

MnO2

Manganit

Mn2O3.H2O

Rodokrosit

MnCO3

Hematit

Fe2O3

Magnetit

Fe3O4

Pirit

FeS2

Siderit

FeCO3

Limonit

Fe2O3.H2O

Kobaltit

CoAsS

Eritrit

Co3(AsO4)2.8H2O

Pentlandit

FeNiS

Milerit

NiS

Smaltit

NiCOFeAs2

Garnierit

Ni.MgSiO3

Fe

Co

Ni

10

Cu

Zn

1.2.3

Garnerit

H2(NiMg)SiO4.2H2O

Kalkopirit

CuFeS2

Kalkosite

Cu2S

Malachit

Cu2(OH)2CO3

Bornit

Cu3FeS3

Kuprit

Cu2O

Melkonit

CuO

Seng blende

ZnS

Smith sonite

ZnCO3

Sifat Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat.

A.

Sifat Fisis Unsur Transisi Periode Keempat

I.

Unsur-unsur transisi periode keempat mempunyai sifat-sifat yang khas.


Sifat-sifat khas unsur-unsur transisi periode keempat antara lain :
(1) Unsur-unsur transisi bersifat logam, maka sering disebut logam transisi.
(2)

Bersifat logam, maka mempunyai bilangan oksidasi positif dan pada


umumnya lebih dari satu.

(3) Banyak diantaranya dapat membentuk senyawa kompleks.


(4) Pada umumnya senyawanya berwarna.
(5) Beberapa diantaranya dapat digunakan sebagai katalisator.
(6) Titik didih dan titik leburnya sangat tinggi.
(7) Mudah dibuat lempengan atau kawat dan mengkilap.
(8) Sifatnya makin lunak dari kiri ke kanan.
(9) Dapat menghantarkan arus listrik.
(10) Persenyawaan dengan unsur lain mempunyai oksida positif.
II.

Senyawa yang dibentuk pada umumnya berwarna. Hal ini disebabkan


karena konfigurasi elektron unsur transisi menempati sub kulit d, elektronelektron pada orbital d yang tidak penuh memungkinkan untuk berpindah
11

tempat. Elektron dengan energi rendah akan berpindah ke tingkat energi


yang lebih tinggi (tereksitasi) dengan menyerap warna misalnya energi
cahaya dengan panjang gelombang tertentu karena energi yang diserap
besarnya pun tertentu. Struktur elektron pada orbital d yang bebeda akan
mengasilkan warna yang pula.
Warna senyawa unsur-unsur transisi periode keempat
dengan bilangan oksidasi
+2

+3

+4

+5

+6

+7

Tidak

Tidak

berwar

berwarn

na
Ungu
Hijau

a
Biru
-

Mera

Jingga

h
-

Hijau
-

Ung

Biloks
Unsur
Sc

Ti
V

Ungu

Cr
Mn

Biru
Merah

Hijau
-

Fe

muda
Hijau

Kuning

u
-

Co

muda
Merah

Biru

Ni
Cu
Zn

muda
Hijau
Biru
Tidak

berwar
na
III. Dapat membentuk ion kompleks, yaitu ion yang terdiri dari ion logam
sebagai ion pusat yang menyediakan orbital d,s, dan p-nya yang kosong
untuk elektron-elektron yang berasal dari ion atau molekul yang
diikatnya yang disebut dengan ligan. Sebagai contoh, pada ion [PtCl 6]2-,
12

bilangan oksidasi masing-masing ligan (ion Cl -) adalah -1. Dengan


demikian, bilangan oksidasi Pt (kation logam transisi) adalah +4. Contoh
lain, pada ion [Cu(NH3)4]2+, bilangan oksidasi masing-masing ligan
(molekul NH3) adalah 0 (nol). Dengan demikian, bilangan oksidasi Cu
(kation logam transisi) adalah +2.
Ikatan yang terjadi antara ion pusat dengan ligan, yaitu ikatan
kovalen koordinasi. Banyaknya pasangan elektron yang diterima oleh ion
logam

dinamakan bilangan

koordinasi. Bilangan

koordinasiadalah

jumlah ligan yang terikat pada kation logam transisi. Sebagai contoh,
bilangan koordinasi Ag+ pada ion [Ag(NH3)2]+ adalah dua, bilangan
koordinasi

Cu2+ pada

ion

[Cu(NH3)4]2+ adalah

empat,

dan

bilangan

koordinasi Fe3+ pada ion [Fe(CN)6]3- adalah enam. Bilangan koordinasi


yang sering dijumpai adalah 4 dan 6.
Pada umumnya ligan merupakan basa Lewis, yaitu ion yang dapat
memberikan (donor) sepasang atau lebih elektron bebas. Seperti NH 3,
NO, H2O, F-, Cl-, CO32-, NO2-. Berdasarkan jumlah atom donor

yang

memiliki pasangan elektron bebas (PEB) pada ligan, ligan dapat


dibedakan

menjadi monodentat,bidentat,

dan polidentat.

H2O

dan

NH3 merupakan ligan monodentat (mendonorkan satu pasang elektron).


Sedangkan Etilendiamin (H2N-CH2-CH2-NH2, sering disebut dengan istilah
en) merupakan contoh ligan bidentat (mendonorkan dua pasang
elektron). Ligan bidentat dan polidentat sering disebut sebagai agen
chelat (mampu mencengkram kation logam transisi dengan kuat).
Secara umum penulisan ion kompleks adalah sebagai berikut.

L adalah ion transisi,

x adalah ligan,

n muatan ion kompleks,

m bilangan koordinasi.

13

Umumnya bilangan koordinasi, dua kali lipat dari biloks transisi


terbesar. Contohnya besi (Fe) mempunyai biloks +2 dan +3 maka
umumnya bilangan koordinasinya 6, sehingga jika membentuk ion
kompleks misalnya dengan ion CN- maka terbentuk ion kompleks sebagai
berikut
Fe(CN)64-

Fe(CN)63Ligan

Ligan
Ion Fe2+ sebagai ion pusat

Ion Fe3+ sebagai

ion pusat
Dari kedua contoh diatas ion Fe(CN) 64- dan Fe(CN)63- masing-masing
memiliki muatan ion -4 dan -3. Bilangan oksidasi (biloks) ion pusat dapat
kita tentukan dengan cara sebagai berikut.
Biloks [Fe(CN)6]4- = -4

BO [Fe(CN)6]3- = -3

Biloks (Fe) + (6CN) = -4

BO (Fe) + (6CN) = -3

Biloks (Fe) + (6 x -1) = -4

BO (Fe) + (6 x -1) = -3

Biloks Fe -6 = -4

BO (Fe) -6 = -3

Biloks Fe = -4 + 6

BO (Fe) = -3 + 6

Biloks Fe = +2

BO (Fe) = +3

Penamaan ion/senyawa kompleks dilakukan dengan aturan sebagai berikut.


1. Nama kation ditulis lebih dahulu diikuti anionnya, sama seperti panamaan
senyawa ionik pada umumnya.
2. Penamaan untuk ion kompleks, disebutkan nama ligannya dengan
jumlahnya dan diberi akhiran o.
3. Jumlah ligan yang diikat lebih dari satu diberi awalan di (2), tri(3),
tetra(4), penta (5) dan sebagainya.
4. Bilangan oksidasi logam ditulis dengan angka romawi.

14

5. Jika ion kompleks bermuatan negatif, maka nama logam diberi


akhiran at. Nama kation logam bermuatan negatif dapat dilihat pada
Tabel Nama Kation dan Anion Kompleks.
6. Dalam ion kompleks, nama ligan disusun menurut abjad, kemudian
dilanjutkan dengan nama kation logam transisi.
7. Nama ligan yang sering terlibat dalam pembentukan ion kompleks dapat
dilihat pada Tabel Nama Ligan.
Tabel Nama Ligan Kompleks
Ligan
Amonia, NH3
Sianida, CNAir, H2O
Hidroksida, OHFKlorida, ClNitrit, NO2SCNBromida, BrOksida, O2Karbonat, CO32Oksalat, C2O42Karbon Monoksida,

Nama
Amino
Siano
Aquo
Hidrokso
Fluoro
Kloro
Nitrito
Tiosiano
Bromo
Okso
Karbonato
Oksalato
Karbonil

CO
Etilendiamin

Etilendiamin (en)

Tabel Nama Kation pada Anion Kompleks


Kation

Nama

Kation

Aluminium, Al
Kromium, Cr
Kobalt, Co
Cuprum, Cu
Aurum, Au
Ferrum, Fe
Plumbum, Pb
Mangan, Mn

Kompleks
Aluminat
Kromat
Kobaltat
Cuprat
Aurat
Ferrat
Plumbat
Manganat

pada

Anion

15

Molibdenum, Mo
Nikel, Ni
Argentum, Ag
Stannum, Sn
Tungsten, W
Zink, Zn

Molibdat
Nikelat
Argentat
Stannat
Tungstat
Zinkat

Tabel Nama Ion Pusat Jika Muatannya Negatif


Ligan
Mn
Cu
Co
Cr
Ni
Fe

Nama
Manganat
Kuprat
Kobaltat
Kromat
Nikelat
Ferrat

Contohnya adalah sebagai berikut.


Ag(NH3)22+

: ion diamino argentum I

[Cr(NH3)4Cl2]+
Fe(CN)63-

: ion tetra amino dikloro kromium III


: ion heksasiano ferrat III

K4[Fe(CN)6]

: Kalium heksasiano ferrat II

[Co(NH3)6]4 [Fe(CN)6]3

: Heksa amino kobalt III heksasiano ferrat II

Berikut ini adalah beberapa contoh penulisan nama maupun rumus


kimia dari berbagai senyawa kompleks :
1. Ni(CO)4
Bilangan koordinasi = 4
Muatan ion kompleks = 0
Muatan ligan = 0
Muatan kation logam transisi = 0
Nama senyawa = tetrakarbonil nikel (0) atau nikel tetrakarbonil
2. NaAuF4
Terdiri dari kation sederhana (Na+) dan anion kompleks (AuF4-)
Bilangan koordinasi = 4
16

Muatan anion kompleks = -1


Muatan ligan = -1 x 4 = -4
Muatan kation logam transisi = +3
Nama senyawa = natrium tetrafluoro aurat (III)
3. K3[Fe(CN)6]
Terdiri dari kation sederhana (3 ion K+) dan anion kompleks ([Fe(CN)6]-3)
Bilangan koordinasi = 6
Muatan anion kompleks = -3
Muatan ligan = -1 x 6 = -6
Muatan kation logam transisi = +3
Nama senyawa = kalium heksasiano ferrat (III) atau kalium ferrisianida
4. [Cr(en)3]Cl3
Terdiri dari kation kompleks ([Cr(en)3]3+) dan anion sederhana (3 ion Cl-)
Bilangan koordinasi = 3 x 2 (bidentat) = 6
Muatan kation kompleks = +3
Muatan ligan = 3 x 0 = 0
Muatan kation logam transisi = +3
Nama senyawa = tris-(etilendiamin) kromium (III) klorida
5. Pentaamin kloro kobalt (III) klorida
Terdapat 5 NH3, satu Cl-, satu Co3+, dan ion ClMuatan kation kompleks = (5 x 0) + (1 x -1) + (1 x +3) = +2
Untuk membentuk senyawa kompleks, dibutuhkan dua ion ClRumus senyawa kompleks = [Co(NH3)5Cl]Cl2
6. Dikloro bis-(etilendiamin) platinum (IV) nitrat
Terdapat 2 Cl-, 2 en, satu Pt4+, dan ion NO3Muatan kation kompleks = (2 x -1) + (2 x 0) + (1 x +4) = +2
Untuk membentuk senyawa kompleks, dibutuhkan dua ion NO3Rumus senyawa kompleks = [Pt(en)2Cl2](NO3)2
7. Natrium heksanitro kobaltat (III)
Terdapat 6 NO2-, satu Co3+, dan ion Na+
Muatan anion kompleks = (6 x -1) + (1 x +3) = -3
17

Untuk membentuk senyawa kompleks, dibutuhkan tiga ion Na+


Rumus senyawa kompleks = Na3[Co(NO2)6]
8. Tris-(etilendiamin) kobalt (III) sulfat
Terdapat 3 en, satu Co3+, dan ion SO42Muatan kation kompleks = (3 x 0) + (1 x +3) = +3
Untuk

membentuk

senyawa

kompleks,

dua

kation

kompleks

membutuhkan tiga ion SO42Rumus senyawa kompleks = ([Co(en)3])2(SO4)3


Bentuk ion kompleks dipengaruhi oleh jumlah ligan, jenis ligan, dan
jenis kation logam transisi. Secara umum, bentuk ion kompleks dapat
ditentukan melalui bilangan koordinasi. Hubungan antara bilangan koordinasi
terhadap bentuk ion kompleks dapat dilihat pada tabel berikut :
Bilangan Koordinasi
2
4
6

Bentuk Ion Kompleks


Linear
Tetrahedral atau Square Planar
Oktahedral

A.Sifat Magnetik
Ada beberapa sifat magnet dari unsur-unsur transisi diantaranya:
1.

Diamagnetik, tidak tertarik oleh medan magnet, hal ini disebabkan


karena atom atau molekul dimana elektron dalam orbitalnya semua
berpasangan.

2. Paramagnetik, dapat ditarik oleh medan magnet, hal ini disebabkan


karena ada atom atau molekul dimana elektron dalam orbitalnya ada
yang tidak berpasangan. Jika sifat paramagnetiknya sangat kuat maka
disebut feromagnetik.
Pada unsur-unsur logam transisi periode keempat, umumnya mempunyai
elektron

yang

tidak

berpasangan

dalam

orbital d sehingga

umumnya

bersifat paramagnetik. Perhatikan contoh berikut.


30

Zn : (Ar)
18

Jadi, logam transisi periode keempat yang bersifat diamagnetik adalah Zn


dan Cu. Sedangkan yang bersifat paramagnetik antara lain Sc, Ti, Cr, dan
Mn, dan yang bersifat Feromagnetik adalah Fe, Co, dan Ni.
B. Sifat Logam
Sifat
Jari-jari atom

Sc
1.4

Ti
1.3

V
1.2

Cr
1.1

Mn
1.1

Fe
1.1

Co
1.1

Ni
1.1

Cu
1.1

Zn
1.2

4
-

2
1.0

2
0.9

8
0.8

7
0.8

7
0.7

6
0.7

5
0.8

7
0.8

5
0.8

1.5

0
1.6

3
1.8

7
1.8

1
1.2

5
1.5

9
1.4

3
1.4

7
1.0

8
42

41
2.8

60
3.2

90
3.3

57
2.6

24
1.9

35
2.7

95
2.8

55
2.7

83
2.5

0
90

31
Massa jenis (g 3

87
4.5

80
6

72
7.2

62
7.2

50
7.9

70
8.9

32
8.9

67
8.9

7
7.1

cm-3)
Kekerasan

4.5

2.5

658

650

652

717

759

758

737

745

90

Jari-jari ion X

2+

Titik lebur ( C)
o

Titik didih ( C)

(skala Mohs)
Energi ionisasi 631
(kJ mol-1)
Keelektronegat 1.3

1.5

1.6

1.6

1.5

1.5

1.8

1.8

1.9

6
1.6

ifan
E0 red

-1.2

+0.

0.9

1.1

0.4

0.2

0.2

34

0.7

1
-

9
-

4
-0.4

8
-

5
-

6
-

0.8

0.7

0.2

X2+(aq) -

(volt)
E0 red

X3+(aq) -2.1

-1.2

(volt)

6
4
8
Semua unsur transisi periode keempat bersifat logam. Sifat itu disebabkan
semua unsur transisi memiliki energi ionisasi yang rendah, yaitu kurang dari
1.000 kJ mol-1 dan keelektronegatifannya rendah, yaitu kurang dari 2.

1.2.4

Pembuatan

Unsur-Unsur

Transisi

Periode

Keempat.
19

A.

Pengolahan Logam Dari Bijih (Metalurgi)


Sebagian besar logam terdapat di alam dalam bentuk senyawa. Hanya
sebagian kecil terdapat dalam keadaan bebas seperti emas, perak dan
sedikit tembaga. Pada umumnya terdapat dalam bentuk senyawa sulfida dan
oksida, karena senyawa ini sukar larut dalam air. Contohnya : Fe 2O3, Cu2S,
NiS, ZnS, MnO2.
Pengolahan logam dari bijih disebut metalurgi. Bijih adalah mineral atau
benda alam lainnya yang secara ekonomis dapat diambil logamnya. Karena
logam banyak terdapat dalam bentuk senyawa (oksida, sulfida), maka
prosesnya selalu reduksi.
Ada tiga tingkat proses pengolahan, yaitu :
1. Menaikan konsentrasi bijih.
2. proses reduksi
3. Pembersihan, pembuatan aliase dan pemurnian
1. Menaikan Konsentrasi Bijih.
Memisahkan bijih dari campurannya misalnya dengan ditumbuk, lalu
dipisahkan dengan berbagai cara, misalnya :
a. Dicuci dengan air.
b. Diapungkan dengan deterjen atau zat pembuih (flotasi)
c. Dipisahkan dengan magnet
d. Dengan pemanggangan. Bijih dipanaskan di udara terbuka,
menghasilkan oksidanya.
2 ZnS + 3 O2 2ZnO + 2 SO2
e. Dilarutkan sehingga terbentuk senyawa kompleks
2. Proses Reduksi
Umumnya menggunakan reduktor yang murah yaitu karbon (kokes).
Untuk logam yang reaktif digunakan reduktor yang lebih kuat seperti
20

hidrogen, logam alkali tanah dan alumunium. Logam-logam yang sangat


reaktif dilakukan reduksi elektrolisis (reduksi katodik)
a. Reduksi dengan karbon (C) :
ZnO + C Zn + CO
Fe2O3 + 3 CO 2 Fe + 3CO2
b. Reduksi dengan logam yang lebih reaktif :
TiCl4 + 2 Mg Ti + 2MgCl2
Cr2O3 + 2 Al 2 Cr + Al2O3

3. Proses Pemurnian (refining)


Dengan proses-proses peleburan, destilasi atau dengan elektrolisis.
Proses peleburan misalnya untuk memperoleh tembaga 99% untuk membuat
baja dan sebagainya. Untuk memperoleh tembaga yang murni untuk
keperluan teknik listrik dilakukan dengan elektrolisis. Dengan destilasi
misalnya pada pembuatan air raksa dan seng. Berikut ikhtisar mineral dan
cara memperoleh logam transisi periode 4.
Tabel Mineral dan cara memperoleh logam transisi periode keempat
Uns

Bijih/mineral

ur
Sc

Senyawa yang Peredu

Keteran

direduksi
ksi
Tidak
dibuat

gan

dalam
Ti
V
Cr

Rutile, TiO2
Carnolite, V2O5
Chromite,

skala

industri
TiCl4

Mg atau

V2O5
Na2Cr2O7

Na
Al
C lalu Al
21

Mn
Fe

FeCr2O4
Pyrolucite, MnO2
Haematite,

Co

Fe2O3
Magnetite, Fe3O4
Cobaltite, Co As Co3O4

Ni
Cu

S
Millerite, NiS
NiO
Copper glance, Cu2S

C
S*

Zn

CuS
Zink

C(CO)

Mn3O4
Fe2O3

blende, ZnO

Al
C

atau Dapur

CO

tinggi

Al

ZnS
* Reduksi sendiri : Cu2S(s) + O2 (g) 2 Cu(s) + SO2(g)

Dapur
tinggi

B. Besi Diekstraksi Dari Oksida Besi Dengan Reduktor

Karbon

Pengolahan Besi Baja


Bahan dasar : Bijih besi hematit Fe2O3, magnetit Fe3O4, bahan tambahan
batu gamping, CaCO3 atau pasir (SiO2). Reduktor kokes (C)
Dasar reaksi : Reduksi dengan gas CO, dari pembakaran tak sempurna C
Tempat : Dapur tinggi (tanur tinggi), yang dindingnya terbuat dari batu
tahan api.
Reaksi dalam dapur tinggi adalah kompleks. Secara sederhana
dapat dilihat pada penjelasan berikut. Dalam 24 jam rata-rata
menghasilkan 1.000 2.000 ton besi kasar dan 500 ton kerak
(terutama CaSiO3). Kira-kira 2 ton bijih, 1 ton kokes dan 0,3 ton
gamping dapat menghasilkan 1 ton besi kasar.
Reaksi yang terjadi :
1. Reaksi pembakaran.
Udara yang panas dihembuskan , membakar karbon terjadi gas CO 2 dan
panas. Gas CO2yang naik direduksi oleh C menjadi gas CO.
C + O2 CO2
CO2 + C 2CO
22

2. Proses reduksi
Gas CO mereduksi bijih.
Fe2O3 + 3CO 2 Fe + 3 CO2
Fe3O4 + 4CO 3 Fe + 4 CO2
Besi yang terjadi bersatu dengan C, kemudian mleleh karena suhu t inggi
(1.5000C)
3. Reaksi pembentukan kerak
CaCO3 CaO + CO2
CaO + SiO2 CaSiO3 kerak
Karena suhu yang tinggi baik besi maupun kerak mencair. Besi cair
berada di bawah. Kemudian dikeluarkan melalui lubang bawah, diperoleh
besi kasar dengan kadar C hingga 4,5%. Disamping C mengandung sedikit S,
P, Si dan Mn. Besi kasar yang diperoleh keras tetapi sangat rapuh lalu
diproses lagi untuk membuat baja dengan kadar C sebagai berikut :
baja ringan kadar C : 0,05 0,2 %
baja medium kadar C : 0,2 0,7 %
baja keras kadar C : 0,7 1,6 %

Pembuatan baja :
Dibuat dari besi kasar dengan prinsip mengurangi kadar C dan unsurunsur campuran yang lain. Ada 3 cara :
1. Proses Bessemer :
Besi kasar dibakar dalam alat convertor Bessemer. Dari lubang-lubang
bawah dihembuskan udara panas sehingga C dan unsur-unsur lain terbakar
dan keluar gas. Setelah beberapa waktu kira-kira jam dihentikan lalu
dituang dan dicetak.
2. Open-hearth process

23

Besi kasar, besi tua dan bijih dibakar dalam alat open-hearth. Oksidaoksida besi (besi tua, bijih) bereaksi dengan C dan unsur-unsur lain Si, P, Mn
terjadi besi dan oksida-oksida SiO 2, P2O5, MnO2 dan CO2. dengan demikian
kadar C berkurang.
3. Dengan dapur listrik.
Untuk memperoleh baja yang baik, maka pemanasan dilakukan dalam
dapur listrik. Hingga pembakaran dapat dikontrol sehingga terjadi besi
dengan kadar C yang tertentu.
C. Ekstraksi Tembaga Dari Bijihnya Dilaukan Melalui Rangkaian
Reaksi Redoks.
Pengolahan tembaga
Tembaga terdapat di alam dalam bentuk senyawa Cu 2S, Cu2O. Bijih tembaga
dinaikan konsentrasinya dengan proses pengapungan (flotasi) lalu dikenakan
proses pemanggangan. Maka terjadi proses reduksi intramolekuler, diperoleh
tembaga.
Reaksinya :
Cu2S + O2 2 Cu + SO2
2 Cu2S + 3 O2 2 Cu2O + 2 SO2
Cu2S + 2 Cu2O 6 Cu + SO2
Tembaga yang diperoleh belum murni tetapi sudah dapat digunakan untuk
berbagai keperluan seperti pipa, bejana, dan lain-lain, tetapi belum baik
untuk penghantar listrik. Untuk memurnikan dilakukan proses elektrolis.
Proses pemurnian tembaga :
Susunan : - Katode : logam Cu dilapis tipis dengan karbon grafit.
- Anode : logam Cu tak murni
- Elektrolit : larutan CuSO4
Reaksi : Katode : Cu+2 + 2 e- Cu menempel katode.
Anode : Cu

(An)

Cu+2 + 2e-

24

Logam Tembaga dapat diperoleh melalui pemanggangan kalkopirit,


seperti yang dinyatakan dalam persamaan reaksi di bawah ini :
2 CuFeS2(s) + 4 O2(g) > Cu2S(s) + 2 FeO(s) + 3 SO2(g)
Cu2S(s) + O2(g) > 2Cu(l) + SO2(g)
Logam Tembaga dapat dimurnikan melalui proses elektrolisis. Logam
Tembaga memiliki koduktivitas elektrik yang tinggi. Dengan demikian, logam
tembaga sering digunakan sebagai kawat penghantar listrik. Selain itu,
Tembaga juga digunakan pada pembuatan alloy (sebagai contoh, kuningan,
merupakan alloy dari Cu dan Zn),bahan pembuatan pipa, dan bahan dasar
pembuatan koin (uang logam).
Logam Tembaga bereaksi hanya dengan campuran asam sulfat dan
asam nitrat pekat panas (dikenal dengan istilah aqua regia). Bilangan
oksidasi Tembaga adalah +1 dan +2. Ion Cu+ kurang stabil dan cenderung
mengalami disproporsionasi dalam larutan.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
2 Cu+(aq) > Cu(s) + Cu2+(aq)
Cu(Anode) Cu

(katode)

Yang dapat tereduksi pada katode hanya Cu, sedang logam yang kurang
reaktif (Ag, Au) mengendap di dasar bejana, dan logam yang lebih reaktif
(Fe) tetap dalam larutan, sebagai ion Fe2+, Ag dan Au merupakan hasil
tambahan.

1.2.5

Penggunaan

Unsur-Unsur

Transisi

Periode

Keempat.
1. Skandium (Sc)
Skandium merupakan unsur yang jarang terdapat di alam, walaupun
ada cenderung dalam bentuk senyawa dengan bilangan oksidasi +3
misalnya ScCl3, Sc2O3. Senyawa tidak berwarna dan bersifat diamagnetik,

25

hal

ini

disebabkan

ion

Sc3+ sudah

tidak

memiliki

elektron

dalam

orbital d nya.
Kira-kira 20 kg (dalam bentuk Sc2O3) skandium digunakan setiap tahun
di Amerika Serikat untuk membuat lampu berkeamatan tinggi. Skandium
iodida yang dicampur ke dalam lampu wap raksasa akan menghasilkan
sumber cahaya buatan kecekapan tinggi yang menyerupai cahaya
matahari dan membolehkan salinan warna yang baik untuk kamera
televisi. Lebih kurang 80 kg skandium digunakan sejagat setiap tahun
dalam pembuatan lampu mentol. Isotop radioaktif Sc-46 digunakan dalam
peretak pelapis minyak sebagai agen penyurih.
Penggunaan utamanya dari segi isi padu adalah aloi aluminiumskandium untuk industri aeroangkasa dan juga untuk peralatan sukan
(basikal, bet besbol, senjata api, dan sebagainya) yang memerlukan
bahan berprestasi tinggi. Apabila dicampur dengan aluminium.
2. Titanium (Ti)
Titanium banyak digunakan dalam industri dan konstruksi :
a. Titanium digunakan sebagai bahan konstruksi karena mempunyai sifat
fisik :
1.

Rapatannya rendah (logam ringan),

2.

Kekuatan strukturnya tinggi,

3.

Tahan panas,

4.

Tahan terhadap korosi,.

b. Titanium digunakan sebagai badan pesawat terbang dan pesawat


supersonik, karena pada temperatur tinggi tidak mengalami perubahan
kekuatan (strenght).
c.

Titanium digunakan sebagai bahan katalis dalam industri polimer


polietlen.

d.

Titanium digunakan sebagai pigmen putih, bahan pemutih kertas, kaca,


keramik, dan kosmetik.

e.

Titanium digunakan sebagai katalis pada industri polimer.


26

f.

Karena kerapatan titanium relatif rendah dan kekerasannya tinggi.


Logam ini digunakan untuk bahan struktural terutama dalam mesin jet,
karena mesin jet memerlukan massa yang ringan tetapi stabil pada suhu
tinggi.

g.

Karena logam titanium tahan terhadap cuaca, sehingga dapat digunakan


untuk bahan pembuatan pipa, pompa, dan tabung reaksi dalam industri
kimia.

3.

Vanadium (V)
Vanadium banyak digunakan dalam industri-industri seperti :

a.

Untuk membuat peralatan yang membutuhkan kekuatan dan kelenturan


yang tinggi seperti per mobil dan alat mesin berkecepatan tinggi,

b. Untuk membuat logam campuran,


c. Oksida vanadium (V2O5) digunakan sebagai katalis dalam pembuatan
asam sulfat dengan proses kontak.
d. Umumnya digunakan untuk paduan dengan logam lain seperti baja tahan
karat dan baja untuk peralatan berat karena sifatnya merupakan logam
putih terang, relatif lunak dan liat, tahan terhadap korosif, asam, basa,
dan air garam.
e. V2O5 digunakan sebagai katalis pada proses pembuatan asam sulfat dan
digunakan sebagai reduktor.
4. Khromium (Cr)
Adapun kegunaan kromium antara lain sebagai berikut :
1. Khromium digunakan untuk mengeraskan baja, pembuatan baja tahan
karat dan membentuk banyak alloy (logam campuran) yang berguna.
2. Kebanyakan khromium digunakan dalam proses pelapisan logam untuk
menghasilkan permukaan logam yang keras dan indah dan juga dapat
mencegah korosi.
3. Khromium juga dapat memberikan warna hijau emerald pada kaca.
4. Khromium juga luas digunakan sebagai katalis.

27

5. Industri refraktori menggunakan khromit untuk membentuk batu bata,


karena khromit memiliki titik cair yang tinggi, pemuaian yang relatif
rendah dan kestabilan struktur kristal.
6. Digunakan untuk katalis dan untuk pewarna gelas.
7. Campuran kromium (IV) oksida dan asam sulfat pekat mengahasilkan
larutan pembersih yang dapat digunakan untuk mengeluarkan zat organik
yang menempel pada alat-alat laboratorium dengan hasil yang sangat
bersih, tetapi larutan ini bersifat karsinogenik (menyebabkan penyakit
kanker).
5. Mangan (Mn)
Mangan merupakan logam putih kemerahan atau putih kehijauan,
keras (lebih keras dari besi), sangat mengkilap, dan sangat reaktif banyak
digunakan untuk panduan logam dan membentuk baja keras yang
digunakan untuk mata bor pada pemboran batuan.
Di samping itu, Mangan Oksida (sebagai pilorusit) digunakan sebagai
depolariser dan sel kering baterai dan untuk menghilangkan warna hijau
pada gelas yang disebabkan oleh pengotor besi. Mangan sendiri memberi
warna lembayung pada kaca. Dioksidanya berguna untuk pembuatan
oksigen dan khlorin, dan dalam pengeringan cat hitam. Senyawa
permanganat adalah oksidator yang kuat dan digunakan dalam analisis
kuantitatif dan dalam pengobatan. Mangan juga banyak tersebar dalam
tubuh. Mangan merupakan unsur yang penting untuk penggunaan
vitamin B.
6.

Besi (Fe)
Kegunaan utama dari besi adalah untuk membuat baja. Baja adalah
istilah yang digunakan untuk semua aloi dari besi (aliase). Baja aliase,
yaitu baja spesial yang mengandung unsur tertentu sesuai dengan sifat
yang diinginkan. Salah satu contoh baja yang terkenal adalah stainless
steel, yang merupakan baja tahan karat.
Berikut urai beberapa kegunaan dari besi :

28

1. Sebagai

logam,

kehidupan,

besi

seperti

memiliki

untuk

kegunaan

kontruksi

atau

paling
rangka

luas

dalam

bangunan,

landasan, untuk badan mesindan kendaraan, tulkit mobil, untuk


berbagai peralatan pertanian, bangunan dan lain-lain. Mutu dari
semua bahan yang terbuat dari besi tergantung pada jenis besi
yang digunakan, seperti:
a.

Baja krom (95,9% Fe; 3,5%Cr; 0,3%Mn; 0,3%C)

b.

Baja mangan (11-14%Mn)

c.

Baja karbon (98,1% Fe; 1% Mn; 0,9%C)

d.

Baja wolfram (94%Fe; 5%W; 0,3%Mn; 0,7%C)

2 Fe(OH)3 digunakan untuk bahan cat seperti cat minyak, cat air, atau
cat tembok.
3. Fe2O3 sebagai bahan cat dikenal nama meni besi, digunakan juga
untuk mengkilapkan kaca.
4. FeSO4 digunakan sebagai bahan tinta.
7.

Kobalt (Co)
Kobalt merupakan logam putih keperakan dengan sedikit kebiruan bila
digosok langsung mengkilap lebih keras dan lebih terang dari pada nikel,
tahan terhadap udara, sehingga banyak digunakan untuk pelapis logam.
Selain itu juga digunakan sebagai katalis, untuk paduan logam (baja
kobalt) digunakan sebagai bahan magnet permanen. Campuran Co, Cr,
dan W digunakan untuk peralatan berat dan alat bedah atau operasi.
Campuran Co, Fe, dan Cr (logam festel) digunakan untuk elemen
pemanas listrik.
Kobalt yang dicampur dengan besi, nikel, dan logam lainnya untuk
membuat alnico, alloy dengan kekuatan magnet luar biasa untuk berbagai
keperluan. Alloy stellit, mengandung kobalt, khromium, dan wolfram,
yang bermanfaat untuk peralatan berat, peralatan yang digunakan pada
suhu tinggi, maupun peralatan yang digunakan pada kecepatan yang
tinggi.

29

Kobalt juga diguanakan untuk baja magnet dan tahan karat lainnya.
Selain alloy, digunakan dalam turbin jet, dan generator turbin gas. Logam
diguanakan

dalam

elektropalting

karena

sifat

penampakannya,

kekerasannya, dan sifat tahan oksidasinya.


Garam

kobalt

telah

digunakan

selama

berabad-abad

untuk

menghasilkan warna biru brilian yang permanen pada porselen, kaca, pot,
keramik, dan lapis e-mail gigi. Garam kobalt adalah komponen utama
dalam membuat biru Sevre dan biru Thenard. Larutan kobalt klorida
digunakan sebagai pelembut warna tinta. Kobalt digunakan secraa hatihati dalam bentuk klorida, sulfat, asetat, dan nitrat karena telah
dibuktikan efektif dalam memperbaiki penyakit kekurangan mineral
tertentu pada binatang. Tanah yang layak mengandung hanya 0.13 0.30
ppm kobalt untuk makanan binatang.
8. Nikel (Ni)
Nikel banyak digunakan untuk hal-hal berikut ini:
1.

Merupakan logam putih perak keabuan, dapat ditempa, penghantar


panas yang baik dan tahan terhadap udara, tetapi tidak tahan
terhadap air yang mengandung asam sehingga banyak digunakan
sebagi

komponen

pemanas

listrik

(nikrom)

yang

merupakan

campuran dari Ni, Fe, dan Cr.


2.

Perunggu-nikel digunakan untuk uang logam.

3.

Perak jerman (paduan Cu, Ni, Zn) digunakan untuk barang


perhiasan.

4.

Logam rasein (paduan Ni, Al, Sn, Ag) untuk barang perhiasan.

5.

Pembuatan aloi, battery electrode, dan keramik.

6.

Zat tambahan pada besi tuang dan baja, agar mudah ditempa dan
tahan karat.

7.

Pelapis besi (pernekel).

8.

Sebagai katalis.

9. Tembaga (Cu)

30

Tembaga merupakan logam berwarna kemerahan, mengkilap bila


digosok dapat ditempa, penghantar panas pada listrik yang baik, tidak
mudah berkarat tetapi bila terkena udara warnanya menjadi hijau oleh
terbentuknya tembaga karbonat. Banyak digunakan sebagai rangakian
atau peralatan listrik, kabel listrik, dan untuk paduan logam.
CuSO4 (terusi) banyak digunakan untuk larutan elektrolit dalam sel
elektrokimia, campuran terusi dan Ca(OH)2 dengan sedikit air dapat
digunakan memberantas kutu dan jamur.
Tembaga banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti
untuk kabel listrik, bahan uang logam, untuk bahan mesin pembangkit
tenaga uap dan untuk aloi.
10. Seng (Zn)
Logam seng berguna untuk hal-hal sebagai berikut:
1.

Merupakan logam cukup keras, terang berwarna putih kebiruan,


tahan dalam udara lembab dibanding Fe. Hal ini disebabkan diatas
lapisan

permukaan

seng

terbentuk

lapisan

karbonat

basa

(Zn2(OH)2CO3) yang dapat menghambat oksidasi lebih lanjut. Karena


sifat tersebut, maka seng banyak digunakan untuk melapisi logam
besi (disebut kaleng)
2.

Digunakan juga sebagai elektroda pada elektroda (katoda) pada sel


elektrokimia dan untuk pembuatan paduan logam.

3.

ZnO digunakan untuk bahan cat untuk memberikan warna putih dan
digunakan untuk pembuatan salep seng (ZnO-vaselin).

4.

Logam ini digunakan untuk membentuk berbagai campuran logam


dengan metal lain. Kuningan, perak nikel, perunggu, perak Jerman,
solder lunak dan solder aluminium adalah beberapa contoh campuran
logam tersebut.

5.

Seng dalam jumlah besar digunakan untuk membuat cetakan dalam


industri otomotif, listrik, dan peralatan lain semacamnya.

6. Campuran logam Prestal, yang mengandung 78% seng dan 22%


aluminium dilaporkan sekuat baja tapi sangat mudah dibentuk seperti
31

plastik. Prestal sangat mudah dibentuk dengan cetakan murah dari


keramik atau semen.
7. Seng juga digunakan secara luas untuk menyepuh logam-logam lain
dengan listrik seperti besi untuk menghindari karatan.
8. Seng oksida banyak digunakan dalam pabrik cat, karet, kosmetik,
farmasi, alas lantai, plastik, tinta, sabun, baterai, tekstil, alat-alat
listrik dan produk-produk lainnya.
9.

Lithopone, campuran seng sulfida dan barium sulfat merupakan


pigmen yang penting. Seng sulfida digunakan dalam membuat tombol
bercahaya, sinar X, kaca-kaca TV, dan bola-bola lampu fluorescent.
Klorida dan kromat unsur ini juga merupakan senyawa yang banyak
gunanya.

10. Seng juga merupakan unsur penting dalam pertumbuhan manusia


dan binatang. Banyak tes menunjukkan bahwa binatang memerlukan
50% makanan tambahan untuk mencapai berat yang sama dibanding
binatang yang disuplemen dengan zat seng yang cukup.
B.

DAMPAK NEGATIF UNSUR-UNSUR TRANSISI PERIODE KEEMPAT


Logam besi mudah terkorosi dalam udara lembap, dalam bentuk senyawa
kompleks [k4Fe(CN)6.3H2O], unsur ini bersifat racun bagi tumbuhan. Tembaga
mudah terbakar dalam bentuk serbuk, dalam bentuk senyawa CuCl 2 melalui
pernapasan dapat menyebabkan keracunan. Asam kromium CrO 3 beracun
dan bersifat karsinogenik.

32

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari

pembahasan

Unsur

Transisi

Periode

ini

kami

dapat

menyimpulkan bahwa di dalam Unsur Transisi Periode 4 memiliki Sifat yang


tidak dimiliki Unsur lainnya. Unsur Transisi Periode 4 memiliki 10 Senyawa
yang terdapat diantara golongan III B dan II B.
Dan kita Unsur Transisi Periode 4 banyak digunakan dalam kehidupan seperti
di bidang Analisis Kimia, Industri, dll.
4.2 Saran

33

Mengingat banyaknya kegunaan unsur-unsur periode ke empat dalam


kehidupan sehari-hari, maka siswa/siswi harus benar-benar memahami
mengenai

unsur-unsur

periode

ke

empat,

sehingga

menjadi

sebuah

pengetahuan di masa depan.

Daftar Pustaka
http://chemistry35.blogspot.com/2011/10/kimia-unsur-unsur-transisi-periode4.html
http://www2.jogjabelajar.org/modul/adaptif/kimia/22_UNSUR_TRANSISI_PERIO
DE_KEEMPAT.swf
http://www.google.co.id
http://andykimia03.wordpress.com/2009/10/15/kimia-unsur-golongantransisi-periode-keempat/
34

http://yu-mhi.blogspot.com/2011/12/makalah-kimia-unsur-transisiperiode.html
http://belovediinsblog.blogspot.com/2012/01/makalah-unsur-unsur-transisiperiode-ke.html
http://www.scribd.com/upload-document?archive_doc=49928932#files
http://yu-mhi.blogspot.co.id/2011/12/makalah-kimia-unsur-transisiperiode.html
http://vinaarifitriyanti.blogspot.co.id/2012/12/makalah-kimia-unsur-transisiperiode.html

35