Anda di halaman 1dari 18

Take Home Test

Analisis Cerita Wayang Orang

Disusun untuk memenuhi Ujian Akhir Semester


Kelas Wayang (C)
Oleh : Turita Indah Setyani S.S, M.Hum

Disusun oleh :
Rania Amalia F. Alatas

(1206261636)

FAKULTAS ILMU DAN BUDAYA


UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
JUNI
2016

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Wayang merupakan salah satu seni yang terbentuk dari adaptasi teater
tradisional yang paling tua di Indonesia. Wayang didefinisikan bayangan,
gambaran, lukisan, ataupun ilustrasi mengenai kehidupan di alam semesta.
Wayang sebagai boneka atau penjelamaan dari manusia yang terbuat dari kayu
atau kulit yang dimainkan oleh seorang dalang, dimana dalang berperan dalam
memainkan dan memerankan tokoh-tokoh pewayangan sesuai dengan cerita
yang dibawakan, sedangkan cerita itu sendiri mengandung nilai kehidupan yag
berkaitan dengan Tahun, manusia lain dan alam (lingkungan).
Selain itu, wayang terdiri dari berbagai macam bentuk kesenian, seperti
seni rupa, seni suara, seni musik, seni tari, serta seni sastra, sehingga wayang
menjadi salah satu kekayaan budaya di Indonesia yang sangat bernilai tingi.
Keseluruhan nilai seni tersebut tergabung menjadi satu kesatuan yang
menciptakan sebuah pertunjukkan indah, penuh dengan makna dan nasihat, baik
secara moral, sosial, adat istiadat, hingga spiritual, dan ditampilkan secara
menarik.
Pada laporan ini menjelaskan mengenai wayang orang atau wayang
wong dari pemeran cerita mengenai Ramayana dan Mahabrata dimana
dimainkan oleh aktor dan aktris yang memerankan berbagai tokoh dan
membawa cerita dengan penuh oleh nilai-nilai luhur dari kehidupan dan
penggambaran pendidikan ketuhanan dan kemasyarakatan. Cerita yang dipilih
pada laporan ini adalah Wangsa Bharata yang dimulai ketika seorang Prabu
Sentanu ingin menikahi Dewi Durgandini. Cerita tersebut salah satu bagian dari
cerita Mahabarata yang memiliki berbagai nilai seperti masalah sosial seperti
kekuasaan, hubungan antar keluarga, sopan santun anak kepada orang tua,
hingga nilai spiritual antara Tuhan dengan manusia. Untuk itu akan dijelaskan
pada laporan ini mengenai hasil analisis penokohoan, tema, alur, dan latar cerita
tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada laporan ini adalah sebagai berikut :
2

a. Bagaimana alur cerita yang disampaikan melalui tema, latar, penokohan


dari pertunjukkan wayang orang Wangsa Bharata?
b. Bagaimana nilai dari segi tontonan, tatanan dan tuntunan dari
pertunjukkan wayang orang Wangsa Bharata?
c. Bagaimana nilai dari segi wiraga, wirasa dan wirama dari pertunjukkan
wayang orang Wangsa Bharata?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan pada laporan ini adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui alur cerita yang disampaikan melalui tema, latar, penokohan
dari pertunjukkan wayang orang Wangsa Bharata.
b. Mengetahui nilai dari segi tontonan, tatanan dan tuntunan dari
pertunjukkan wayang orang Wangsa Bharata.
c. Mengetahui nilai dari segi wiraga, wirasa dan wirama dari pertunjukkan
wayang orang Wangsa Bharata.

1.4 Batasan Masalah


Adapun batasan masalah pada laporan ini adalah sebagai berikut :
a. Ulasan cerita mengenai Wangsa Bharata.
b. Keterbatasan penulisan laporan dalam segi tema, latar, penokohan dari
pertunjukkan wayang orang Wangsa Bharata.

1.5 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan pada laporan ini adalah sebagai berikut :
a. Mengulas dari cerita wayang orang Wangsa Bharata dengan lebih
mendalam dengan menjabarkan melalui nilai dari segi tontonan, tatanan
dan tuntunan serta dari segi wiraga, wirasa dan wirama.
b. Memberikan manfaat bagi penulis dalam mempelajari wayang sebagai
salah satu budaya Indonesia.

1.6 Ruang Lingkup


Adapun ruang lingkup pada laporan ini adalah sebagai berikut :
a. Analisis nilai segi tontonan

Pembahasan mengenai wayang yang menjadi sebuah karya seni dan


dijadikan sebagai hiburan yang diminati dan dibudayakan secara
spiritual.
b. Analisis nilai segi tananan
Pembahasan mengenai wayang yang didasari oleh nilai adiluhung yang
disampaikan oleh setiap tokoh peraga dan diamalkan dalam cerita,
sehingga berpengaruh positif dalam tatanan hidup bermasayarak.
c. Analisis nilai segi tuntunan
Pembahasan mengenai wayang yang dijadikan sebagai petunjuk
keteladanan dari pesan kehidupan yang disampaikan secara lebih
mendalam, khususnya hubungan manusia dengan Tuhan secara spiritual.
d. Analisis nilai segi wiraga
Pembahasan mengenai wayang dari segi gerak yang disampaikan oleh
tokoh seperti cara berbicara, bertindak dan bersikap.
e. Analisis nilai segi wirasa
Pembahasan mengenai wayang dari segi penghayatan oleh tokoh dalam
menyampaikan cerita.
f. Analisis nilai segi wirama
Pembahasan mengenai wayang dari segi irama yang disampaikan selama
pertunjukkan melalui dinamika tarian dan musik.

BAB 2
RINGKASAN CERITA WANGSA BHARATA

Di sebuah kerajaan Hastina, seorang Raja bernama Prabu


Santanu pada masa kekerajaan Mahabharata berniat ingin menikahi Dewi
Setyawati (Dewi Durgandhini) anak seorang nelayan, namun Setyawati
telah berjanji hanya akan menikah dengan seseorang yang bisa
memberikan keturunan sebagai seorang raja. Sedangkan Prabu Santanu
memiliki satu orang anak bernama Bisma yang merupakan satu-satunya
penerus kerajaan sebagai putra mahkota dan Bisma merupakan orang
yang adil dan Bijaksana sehingga menjadi calon raja yang ideal. Namun,
sebenarnya Bisma mau merelakan mahkota kerajaannya dan tidak akan
menjadi taja, tetapi keturunannya pasti akan menuntut hal atas tahta
kerajaan dan kerajaan Hastina akan pecah perang saudara.
Dalam keadaan berat hati Sang Prabu meninggalkan Setyawati
menuju istana. Sang Prabu tidak hentinya memikirkan Setyawati hingga
sellau termenung, lupa makan dan akhirnya jatuh sakit. Bisma sebagai
anak yang berbakti sangat khawatir dan bertanya kepada ayahandanya
apakah yang menjadi masalah. Kemudian, setelah mengetahui beban
derita ayahandanya Bisma memutuskan untuk bersumpah dihadapan
para dewata untuk tidak akan menikah selamanya dan tidak akan
mempunya keturunan anak sehingga Sang Prabu dapat menikahi
Setyawati dan Setyawati menjadi kagum kepada Bisma.
Kemudian, Setyawati melahirkan dua orang putra bernama
Citragada dan Wicitrawirya. Sesuai dengan janji Sang Prabu akhir
Citragada menjadi seorang raja dan Bisma menjadi penasihat kerajaan.
Kemudian, Citraga menikahi Ambalika dan Wicitrawirya menikah
dengan Ambika. Citragada merupakan ksatria yang gagah sakti namun ia
memiliki sifat yang sombong dan sering menantang kesaktian para raja
disekitar kerajaan Hastina. Hal tersebut menimbulkan kemarahan para
dewata sehingga dikirimkan raja raksasa bernama Prabu Citrasena untuk
menantang Citragada, lalu Sang adik Wicitrawirya ikut membantu Sang
kakak, ketika kedua pasangan tersebut baru saja menikah dan sedang
5

bulan madu, dan akhirnya kedua saudara tersebut kalah dalam


pertarungan dan terkapar tidak bernyawa.
Dengan gugurnya kedua anaknya di medan perang, Sang Ibu
Setyawati menjadi khawatir, tiba-tiba Setyawati teringat bahwa ia masih
memiliki seorang anak bernama Begawan Abiyasa anak dari
pernikahannya dengan Resi Parasara dari Kerjaan Kosala. Setyawati
mengutus Bisma untuk mencari Abiyasa dan menyampaikan pesannya.
Pada awalnya, Abiyasa sangat menolak pesan Ibundanya namun Bisma
dengan bijaksana menjelaskan maksud dari itu semua dan pada akhirnya
Abiyasa menerima namun tetap tidak sepenuh hati. Abiyasa merupakan
orang yang sakti dan arif bijaksana namun penampilannya mengerikan,
kulitnya hitam, rambutnya gembel, badannya bau amis, dan matanya buta
satu serta kakinya pincang. Kemudian, Setyawati memerintahkan
Abiyasa menikahi Dewi Ambalika dan Ambika, namun kedua putri
tersebut sangat terkejut dan dengan setengah hati menerima permintaan
Setyawati dengan sikap Dewi Ambalika yang terus menutup matanya
sementara Dewi Ambika memalikan mukanya dengan muka pucat.
Setelah menikah, kedua dewi memiliki seorang anak, namun
anak mereka memiliki kelainan. Anak Dewi Ambalika dilahirkan dengan
mata buta yang bernama Dasarata, sedangkan anak Dewi Ambika
dilahirkan dengan kulit pucat pasi dan kepala yang sedikit tengen yang
bernama Pandu. Dari hal tersebut, Setyawati sangat kecewa begitu juga
dengan Abiyasa, Dewi Ambalika dan Dewi Ambika sangat sedih, namun
Bisma sebagai orang yang bijaksana menasihati agar Setyawati dan
orang tuanya dapat menerima keadaan, bagaimanapun mereka anak
kandung Abiyasa.

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1

Tema
Tema dari cerita wayang orang Wangsa Bharata ini adalah

mengenai yakni mengenai asal usul keturunan kerajaan Hastina dengan


nilai budi pekerti melalui cerita perjuangan seorang anak demi
kebahagiaan orangtuanya dan orangtua yang berpendirian kuat untuk
mempertahankan keturunan sebagai penyambung masa depan kerajaan.

3.2

Alur Cerita
Alur Cerita yang dibawakan merupakan alur cerita maju yang

mudah digambarkan sehingga mudah dipahami. Plot tempat pun sangat


mendukung untuk menggambarkan tempat kejadian cerita. Plot waktu
dirasa kurang karena selama pertunjukkan penonton tidak disuguhi
penggambaran waktu yang berlangsung. Namun plot suasana cukup
menggambarkan suasana cerita pada saat itu.

3.3

Penokohan
1. Bisma
Seorang ksatria yang gagah perkasa sebagai satu-satunya anak
raja dari Prabu Santanu yang sangat cocok sebagi calon penerus
raja yang ideal di kerajaan Hastina. Berbudi luhur dan sangat
berbakti kepada orang tua, karena berkorban besar untuk ayahnya
agar dapat menikah dengan Dewi Setyawati dengan bersumpah
kepada para dewata untuk tidak menikah dan rela meninggalkan
kenikmatan dan kemewahan duniawi serta tidak akan menerima
tahta sebagai penerus raja, sehingga mendapat julukan sebagai
Resi Dewabhrata oleh para Dewata. Adil dan bijaksana, karena
menjadi seseorang yang selalu mampu menengahi permasalahan
dalam keluarga raja dan memberikan jalan keluar yang terbaik.
Resi Bhisma berwatak jujur dan membela kebenaran.
2. Dewi Setyawati

Dewi Setyawati mencerminkan karakter wanita yang sangat


ambisius. Wanita yang juga sangat dominan dalam keluarga dan
lingkungannya, namun sifat ambisinya tersebut sebenarnya
membuahkan masalah besar bagi kerjaan Hastina. Namun, ia
memiliki prinsip yang sangat kuat dan berpendirian teguh akan
sumpahnya untuk menjadikan keturunannya menjadi seorang raja
dan setelah kepergian Sang Prabu suaminya ia dapat bersikap
bijaksana pada kedua putranya dan Bisma.
3. Citragada
Citragada adalah anak pertama dari pernikahan Prabu Santanu
dan Dewi Setyawati, merupakan seorang ksatria yang gagah sakti
yang memiliki ilmu yang sangat tinggi dan sangat disegani oleh
rakyatnya, karena setelah Prabu meninggal Citragada menjadi
penerus raja di kerjaan Hastina. Namun, memiliki sikap sombong
dan mulai menantang kesaktian kerjaan disekitar Hastina, karena
merasa memiliki kehidupan Paripuna (kehidupan sempurna),
yaitu memiliki Wisma (Rumah), Curiga (Kekuasaan), Turangga
(Kendaraan), Kukila (Fasilitas dan Hiburan), serta Wanita (Istri),
sehingga banyak kerjaan lain yang merasa tidak simpati
kepadanya hingga dianggap merusak kedamaian dan mendapat
perhatian para Dewata yang kemudian dikirimkan seorang raja
raksasa untuk menaklukkannya, sampai pada akhirnya Citragada
meninggal saat perang tersebut.
4. Wicitrawirya
Wicitrawirya adalah anak kedua dari pernikahan Prabu Santanu
dan Dewi Setyawati, merupakan seorang yang memiliki sifat dan
sikap sopan santun dan sangat menghormati kakaknya Citragada,
Ibunya Dewi Setyawati, dan Bhisma, dengan menuruti seluruh
perintah. Setia dan rela berkorban, karena membantu sang kakak
Citragada saat terjadi perang dengan Raksasa yang di utus oleh
Dewata, sehingga kedua kakak-beradik tersebut meninggal
diakhir peperangan.
5. Begawan Abyasa

Seorang anak dari Dewi Setyawati dengan Resi Parasara dari


Kerjaan Kosala. Seseorang yang tidak mudah berpuas diri dan
bersikap rendah diri atas ilmu yang dimiliki, karena ilmu yang
dimiliki masih dirasa belum cukup ketika diberikan tanggung
jawab sebagai penerus tahta Kerjaan Hastina. Walaupun terdapat
rasa berat hati, tetapi bisa bersikap terbuka atas kritik dan saran
yang diberikan oleh orang lain, dan bijaksana dalam berpikir dan
mempertimbangkannya, sehingga bersedia untuk menerima
menjadi penerus raja Citragada. Juga bertanggung jawab atas
perintah yang diberikan hingga selesai dan menjalankannya
dengan

sebaik-baiknya

saat

Ibunda

Dewi

Setyawati

memerintahkannya menikahi Dewi Ambalika dan Dewi Ambika,


selain itu bertanggung jawab dengan tahta yang telah dipercaya
dan tidak mengecewakan orang yang telah memberikan
kepercayaan.
6. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika
Dua orang putri yang sangat berbakti kepada orang tua, memiliki
sifat dan sikap lemah lembut, berbicara dengan sopan dan santun
ketika mereka dipaksa oleh Ibunda Setyawati untuk menikahi
Abyasa. Rela berkorban demi kelangsungan keturunan kerajaan
Hastina walaupun masih terdapat rasa tidak ikhlas dalam
melakukan pernikahan tersebut.

3.4
3.4.1

Latar
Latar Tempat
Di awal cerita dimulai ketika kerajaan Hastina sedang dalam
keadaan bahagia dari pernikahan Citragada dengan Dewi
Ambalika dan Wicitrawirya dengan Dewi Ambika di sebuah
kerajaan yang besar dan damai, dimana Citragada dan Dewi
Ambalika berada di singgasana raja yang terdapat diatas balai.
Kemudian, dilanjutkan dengan latar cerita di hutan dimana terjadi
peperangan antara Citragada dengan Raksasa Citrasena dengan
banyak pepohonan besar dan asap-asap debu sebagai tanda bahwa
berada di lingkungan asing dan kotor dimana Citragada dan
9

Wicitrawirya gugur di medan perang. Selanjutnya, latar berpindah


ke latar hutan juga namun dimana keadaan hutan yang lebih asri
dengan pepohonan rindah dangat hijau dan tidak terlalu tinggi
seperti latar sebelumnya. Lalu, latar selanjutnya adalah di halaman
kerajaan dengan rumput-rumput asri dan terdapat pagar kerajaan
yang besar ketika Abyasa bertemu dengan Dewi Ambalika dan
Ambika dan kemudian dilatar yang sama lahirlah dua orang anak
Desrata dan Pandu.
3.4.2

Latar Suasana
Latar suasana pada pertunjukkan wayang tersebut cukup
menggambarkan keadaan sesunggunya. Ketika terjadi peperangan
dengan suasana yang menegangkan dengan diiringi oleh musik dan
irama yang mendukung setiap jalannya cerita, ditambah lagi efek
asap dan debu ketika berada dihutan. Efek pencahayaan yang baik
ketika berada di dalam kerajaan yang indah dan damai. Serta efek
terbang dan pencayaan berwarna-warni ketika mengeluarkan
tenaga dalam.

3.5

Aspek Tontonan
Unsur-unsur yang terdapat dalam aspek tontonan wayang dalam

cerita Wangsa Bharata ini adalah:


1. Tubuh Pemain
Pemeran dalam teater wayang ini memiliki tugas sebagai
unsur utama. Pemeran atau lakon dituntut untuk memiliki tubuh
yang hampir serupa dengan wayang kulit. Apabila dalam
wujud wayang kulit mempunyai bentuk tubuh yang besar, maka
pemerannya juga memiliki perawakan tubuh yang besar.
2. Gerak
Dalam pertunjukan wayang erat kaitannya dengan cara seorang
tokoh bertutur kata, bersikap, dan bertingkah laku dalam aktivitas
komunikasinya dengan tokoh yang lain di dalam suatu adegan.
Adapun gerak yang dilakukan pemain juga merupakan gerak tari
yang pada hakikatnya tari dalam pertujukan wayang orang adalah
merupakan bagian keseluruhan pertunjukan wayang orang. Tari
10

yang digunakan di panggung wayang orang ini adalah seni tari


tradisional.
3. Suara
Proses penyuaraan suatu pemain memperlihatkan karakter yang
dibawa oleh setiap tokoh. Tinggi-rendah nada dan berat-ringan
suara juga berperan penting untuk memperagakan tokoh. Dalam
pertunjukan ini aktor cukup baik menampilkan suara.
4. Tutur Kata
Penuturan dan perkataan yang diucapkan seorang tokoh ketika ia
berbicara dengan tokoh yang lain dalam suatu situasi tertentu dan
adegan tertentu pula menggambarkan watak yang dibawakan oleh
pemain. Situasi bertutur kata didasarkan pada aspek status sosial
dan usia tokoh-tokoh yang saling berbicara. Dalam pertunjukan
wayang ini pemain berhasil membuat penonton memahami cerita
yang berlangsung melalui tutur kata yang dibawakan.
5. Dalang
Dalang mempunyai kedudukan sentral dalam pertunjukan
wayang ini. Seorang dalang bertanggung jawab atas seluruh
pergelaran yang sedang berlangsung, memimpin musik, membuat
hidupnya pertunjukan, bertindak sebagai penyaji. Sang dalang,
bapak Edi Sulistyono dengan apik mengantarkan cerita dan
adegan menjadi runtut dan dimengerti.
6. Gamelan dan Sinden
Penyajian musik gamelan sebagai iringan juga terasa pas
melengkapi cerita yang disampaikan.

Fungsi dari gamelan

beserta pengrawitnya adalah untuk mengiringi dan mendukung


suasana yang diinginkan. Sinden yang ada dapat mengikuti
iringan Gendhing Gamelan dengan baik. Selain itu memiliki
keahlian vocal yang bagus dan juga mempunyai kemampuan
komunikasi yang baik agar dapat memeriahkan acara.
7. Alur atau Plot
Alur Cerita yang dibawakan merupakan alur cerita maju yang
mudah digambarkan sehingga mudah dipahami. Plot tempat pun
sangat mendukung untuk menggambarkan tempat kejadian cerita.
11

Plot waktu dirasa kurang karena selama pertunjukkan penonton


tidak disuguhi penggambaran waktu yang berlangsung. Namun
plot suasana cukup menggambarkan suasana cerita pada saat itu.
8. Properti dan Pendukung
Beberapa properti digunakan seperti misalnya panggung dan
pelengkapan lain yaitu layar sebagai latar belakang untuk
pergantian suasana. Busana sebagai kostum yang berfungsi untuk
menghidupkan perwatakan tokoh wayang

yang dibawakan.

Sehingga kostum dan riasan yang dikenakan sudah menunjukkan


siapa dia sebenarnya. Penataan lampu juga dikatakan berhasil
karena dapat menciptakan suasana yang diinginkan, dan memberi
daya hidup pertunjukan secara langsung, yaitu efek sinar lampu
dapat memberi kontribusi pada suasana dramatik pertunjukan.
Sedangkan penataan suara juga dapat menjadi jembatan
komunikasi antara

pertunjukan dengan penonton, artinya

penonton dapat mendengar dengan baik dan jelas tanpa gangguan


apapun sehingga terasa nyaman menikmati pertunjukan.
9. Lelucon dan Pesan Moral
Selama pagelaran awal berlangsung, cerita dibawa dengan sangat
serius. Namun didalam pertunjukan ini juga diselipkan komedi
dan lelucon yang dibawakan oleh punakawan. Mereka memberi
banyolan seputar kain gaib yang didapat Gareng dari tirakatan
yang katanya dapat mengubah hidup ternyata mengubah suara
menjadi sengau. Penonton dibawa sedikit tertawa dengan lakon
mereka. Tapi walaupun kebanyakan lakon punakawan dalam
cerita ini bertujuan untuk menghibur namun mereka adalah
pengasuh yang taat dan memberikan saran pencerahan yang baik
untuk Ksatria Abyasa.

3.6

Aspek Tatanan
Unsur-unsur yang terdapat dalam aspek tuntunan wayang dalam

cerita Wangsa Bharata ini adalah:


1. Keilahian

12

Pernikahan Abyasa dengan Ambika dan Ambilika kemudian


memperoleh 2 orang keturunan. Meskipun sempat menyatakan
kesedihannya atas cacat fisik yang dimiliki kedua cucunya,
Durgandini pada akhirnya tetap menerima. Penerimaan dengan
ikhlas dan lapang dada ini sangat diperlukan karena cacat fisik
tersebut merupakan takdir Ilahi yang nantinya pasti memiliki
hikmah yang dapat dipetik. Selain itu, penonton diajarkan untuk
dapat selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan dan
percaya akan takdir yang telah ditetapkan.
2. Berjuang untuk saudara dan negara
Cerita Wangsa Bharata ini terdapat adegan peperangan yang
disebabkan oleh kepungan musuh, yaitu Raja Citrasena. Pada
saat peperangan, meski sempat bertengkar, tetapi Citragada dan
Wicitrawirya tetap saling membantu dalam memerangi musuh.
Keduanya juga bersungguh-sungguh dalam perang demi
menyelamatkan negaranya.
3. Teguh memegang janji
Pada cerita ini, keteguhan hati ditonjolkan oleh Bhisma yang
tidak ingin menikah karena telah bersumpah wadat, yaitu
sumpah untuk tidak menikah dan rela meninggalkan
kenikmatan dan kemewahan duniawi. Keteguhan ini terlihat
ketika Durgandini meminta Bhisma untuk menikah dengan
Ambika dan Ambilika, tetapi Bhisma menolaknya dengan
alasan sumpah tersebut.
4. Berani memberikan pendapat
Biasanya para pengasuh atau rakyat kecil terkenal dengan
ketaatan pada para atasan atau bangsawan hingga merasa tidak
bisa berbuat apa-apa, termasuk memberikan saran. Namun, pada
cerita Wangsa Bharata ini ditampilkan bahwa seorang petruk
yang berperan sebagai pengasuh dapat memberanikan diri untuk
mengemukakan pendapat dan memberikan saran kepada
Abyasa terkait dilemanya akan pernikahan dan sumpah. Petruk
menyampaikan pendapatnya dengan jelas dan santun sehingga
tidak menyakiti hati Abyasa ataupun membuat Abyasa merasa
13

digurui, bahkan akhirnya saran Petruk dapat mempengaruhi


keputusan yang dibuat oleh Abyasa.
5. Berkorban demi kelanjutan dinasti
Pada dilema antara menikah atau mempertahankan trah
Brahmana (memiliki dharma mensejahterakan dunia dengan
cipta dan samadi, mengesampingkan kenikmatan duniawi),
akhirnya Abyasa memilih untuk tetap menikah. Pengorbanan
yang cukup besar ini berhasil memberikan dampak yang juga
begitu besar, sehingga Dinasti Bharata memiliki generasi
selanjutnya. Pengorbanan ini juga menunjukkan bahwa Abyasa
tidak hanya menggunakan egonya untuk mempertahankan agar
tidak menikah, tetapi juga memilikirkan kelangsungan Dinasti
Bharata.
6. Taat kepada orang tua
Ketaatan pada orang tua ini ditampilkan dalam berbagai
adengan dan tokoh. Pertama, pada saat Bhisma diminta
Durgandini untuk mencari Abyasa, Bhisma memenuhi perintah
tersebut hingga ia menemukan Abyasa dan membawanya ke
kerajaan Astina. Kedua, yaitu ketaatan dari Ambika dan
Ambilika untuk memenuhi permintaan Durgandini sebagai ibu
mertua. Pernimintaan ini berupa keduanya menikah dengan
Abyasa, meskipun sebenarnya mereka masih merasa berat hati
karena masih berduka cita dan merasa terpaksa menikahi orang
yang tidak mereka cintai.
7. Tidak memaksakan kehendak
Pada cerita Wangsa Bharata ini Durgandini terkesan
memaksakan kehendaknya kepada Ambika dan Ambilika untuk
mau menikahi Abyasa. Paksaan semakin terlihat ketika Ambika
dan Ambilika saling meratapi nasib mereka yang harus
menihkah dengan orang yang tidak mereka cintai dan harus
menerima perjodohan yang dilakukan oleh ibu mertuanya.
Paksaan yang dilakukan oleh Durgandini akhirnya memberikan
hasil yang mengecewakan, salah satunya dapat terlihaat dari
kecacatan fisik yang dimiliki oleh kedua cucunya. Oleh karena
14

itu, pesan yang dapat diambil adalah tidak memaksakan


kehendak kepada orang lain meskipun memiliki alasan yang
baik. Hal ini dapat distrategikan dengan melakukan permintaan
atau bujukan dengan halus hingga terjadinya persetujuan antar
pihak sehingga hasilnya tidak mengecewakan.

3.7

Aspek Tuntunan
1. Sebuah tindakan pengorbanan dan bukti bakti kepada orangtua
dapat dilakukan seorang anak demi meraih kebahagiaan
orangtua.
2. Dalam sebuah keluarga, orangtua pasti menginginkan anak
keturunannya dapat berhasil menjadi manusia yang berguna
bagi bangsa dan negara.
3. Seorang pemimpin harus mampu memimpin diri sendiri terlebih
dahulu, baru memimpin orang lain.
4. Menikahi seseorang yang tidak dicintai dan perjodohan yang
tidak didasari dengan rasa cinta biasanya akan menghasilkan
kekecewaan.

3.8

Aspek Wiraga
Dari segi wiraga, seluruh tokoh cerita Wangsa Bharata

menggunakan banyak atribut dalam penampilannya, sehingga menarik


perhatian penonton, ditambah lagi dengan dadanan para tokoh yang bisa
menunjukkan peran tokoh, bagaimana tokoh yang memiliki hati yang
baik dan budi pekerti, bagaimana penampilan tokoh yang memiliki sifat
angkuh dan bagaimana penampilan tokoh yang memiliki hati yang jahat.
Selain itu, komunikasi antar tokoh sangat baik dengan dialog
yang jelas dan mudah dipahami oleh penonton untuk menangkap maksud
dari jalannya cerita, didukung juga oleh ekspresi yang sangat
mendukung, sehingga seluruh amanat dan pesan moral kepada penonton
dapat secara mudah dipahami.

3.9

Aspek Wirama

15

Dari segi wirama, irama musik yang dijadikan sebagai latar


cerita sangat mendukung memberikan kesan yang pas dalam setiap
adegan yang dipertunjukkan, ketika pergantian latar cerita, dan suara
irama dalam setiap suasan keadaan, seperti ketika cerita peperangan
disampaikan dilatari dengan irama musik yang menegangkan, begitu
pula ketika keadaan sedang damai dalam kerjaan diiringi dengan musik
dan merdu dan damai. Irama musik bukan hanya dibawakan oleh para
pemain musik namun juga oleh nyanyian Sinden yang merdu
memberikan kesana yang baik dan mengandung pesan moral dalam
setiap nyanyiannya yang berbahasa jawa.
3.10 Aspek Wirasa
Dari segi wirasa, pertunjukkan Wangsa Bharata ini disampaikan
oleh para tokoh yang sangat mahir membawakan cerita dengan penuh
pengkhayatan sehingga alur cerita yang disampaikan dapat tertangkap
dengan mudah oleh penonton, selain itu penonton dapat terbawa dalam
suasana cerita. Khususnya dalam inti cerita tertentu sifat parah tokoh
sangat dominan ditunjukkan oleh setiap tokoh, tidak ada yang paling
dominan, dan seluruhnya menujukkan pengkhayatan cerita dengan baik.
Oleh karena itu, para penonton dapat mengerti maksud dan dapat menilai
dari pesan moral dari setiap tokoh, apa yang baik dan apa yang buruk
sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat serta yang
terutama adalah pesan spiritual yang disampaikan secara tersirat.

16

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Dari analisis cerita wayang orang mengenai Wangsa Bharata, dapat
disimpulkan sebagai berikut :
a. Segi tontonan menggambarkan cerita tersebut sangat menarik bagi penonton
dan banyak inovasi yang ditunjukkan sehingga mendukung alur cerita.
b. Segi tatanan mengajarkan bahwa kehidupan penting dalam percaya akan
takdir ilahi dimana hubungan antar Tuhan dan manusia akan memberikan
kelancaran dalam hidup, serta hubungan antar manusia akan memberikan
ketentraman dan kedamaian.
c. Segi tuntunan mengajarkan bahwa kehidupan didasari oleh kebaktian kepada
orang tua serta pelajaran menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain.
d. Segi wiraga para tokoh dengan atribut yang apik sehingga menarik perhatian
penonton, dadanan para tokoh menggambarkan setiap peran dan watak, serta
dialog antar tokoh yang sangat baik.
e. Segi wirama pada irama musik sebagai latar cerita sangat mendukung
memberikan kesan yang pas serta ketika pergantian latar cerita setiap suasan
keadaan dengan baik.
f. Segi wirasa para tokoh penuh pengkhayatan sehingga pesan yang disampaikan
dapat dipahami dengan mudah oleh penonton.

4.2 Saran
Dari analisis cerita wayang orang mengenai Wangsa Bharata, saran
yang dapat disampaikan adalah diharapkan lebih banyak masyarakat yang dapat
menonton dan mempelajari cerita serupa yang menggambarkan hubungan
manusia dengan tuhan dan hubungan manusia dengan manusia, terutama cerita
mengenai kehidupan dalam berkeluarga, serta dipetik hikmah dari keseluruhan
cerita dan diterapkan dalam kehidupan beragama dan bersosial.

17

Referensi
https://www.youtube.com/watch?v=7ur_BPnXMl4 (Wayang Orang
Wang Bharata 1) (Di Akses Pada Tanggal 06/06/2016 Pukul
17:10)
https://www.youtube.com/watch?v=eOnKjaWGaUI (Wayang Orang
Wang Bharata 2) (Di Akses Pada Tanggal 06/06/2016 Pukul
20:25)

18