Anda di halaman 1dari 6

Perbandingan astigmatisma sebelum dan setelah operasi pterygium

Introduction
Pterygium merupakan bahasa yunani untuk sayap dan digambarkan oleh Hippocrates,
Gallen dan lain-lain (Duke-Elder S1965). Pterygium berbentuk seperti sayap yang berasal dari
pertumbuhan jaringan ikat firbovaskular di konjungtiva bulbar dan dapat mengenai kornea yang
menyebabkan astigmatisma. Pterygium biasanya di bagian dekat hidung tetapi dapat juga
terdapat di bagian temporal. Pterigium kemungkinan di sebabkan pada daerah yang beriklim
tropis, kontak sinar matahari, dan/atau radiasi sinar UV.
Selain menyebabkan masalah iritasi dan kosmetik, pterygium juga dapat menyebabkan
masalah penurunan penglihatan yang dikarenakan perubahan pada sumbu aksis dan
menyebabkan astigmatisma
Beberapa mekanisme telah diusulkan untuk menjelaskan penyebab astigmatisma tersebut
antara lain (a) penyatan dari tear film di tepi permukaan dari pterigium, dan (b) traksi mekanik
yang disebabkan pterygium pada kornea (Oldenburg J B et al, 1990)
Astigmatisma dan gejala perubahan permukaan pada pterygium telah di pelajari oleh
(Hansen A, Norn M et al 1980) dan mereka menemukan peningkatan astigmatisma dengan
kaidah (lebih besar 0,5D pada 46%, lebih besar atau sama dengan 4 D pada 13%) tanpa
gangguan penglihatan.
Eksisi pada pterygium diindikasikan jika ptreygium berjalan progresif, yang mengancam
sumbu aksis penglihatan; diplopia disebabkan karena terdapat jaringan fibrosis yang ekstrim,
sebelum di lakukan tindakan LASIK. Meskipun tindakan eksisi pterygium merupakan tindakan
yang sederhana, masalah utamanya adalah kekambuhan setelah eksisi.
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi prospektif refraksi kornea sebelum dan
setelah pembedahan pterygium dan ini berhubungan dengan ukuran pterygium pra operatif.
MATERIALS AND METHODS
Sebuah studi prospektif secara acak, untuk membandingkan refraksi astigmatisma
sebelum dan setelah eksisi pterygium, dilakukan pada 50 mata dari 46 pasien yang memiliki
masalah utama pterygium pada satu atau kedua mata.
Hanya pada pasien yang menderita masalah utama pterygium pada satu atau kedua mata
yang dilibatkan pada penelitian ini. Pasien dengan pterygium berulang, pseudopterygium, pasien
dengan keratokonus, lentikonus, distrofi kornea tidak di masukan pada penelitian ini. Pasien
dengan katarak dan masalah retina dimana setelah eksisi pterygium tidak menolong pada
peningkatan penglihatan tidak termasuk pada penelitian ini

Penilaian pre operatif dari astigmatisma dilakukan dengan refraksi objektif, refraksi
subjektif, dan keratometry. Objektif refraksi dilakukan dengan retinoscopy pada jarak 0,5 m
dengan streak retinoscope setelah dilatasi cycloplegic dari pupil BCVA dan secara subyektif di
toleransikan silinder pada pasien yang tercatat. Keratometry di lakukan dengan menggunakan
autokeratometer. Kornea astigmatisma dihitung mengambil dari perbedaan K1 dan K2 yang
berkaitan dengan aksis K1. Lensa silinder cekung pada 180 0200 dianggap sebagai astigmatisma
di meridian horizontal; lensa silindris cekung pada 90 0200 dianggap sebagai astigmatisma di
meridian vertikal.
RESULTS AND OBSERVATIONS
Penelitian ini dilakukan pada 50 mata dari 46 pasien. Dua pasien memiliki kekambuhan
setelah 8 minggu dilakukan eksisi pterygium, mereka termasuk di dalam penelitian dan pasien
baru di masukan
Distribusi umur dan jenis kelamin:
Rata-rata umur dari pasien adalah 32.548.03 tahun (berkisar 20-64 tahun). Total pasien pria dan
wanita adalah 26 dan 20 pasien. Tetapi satu pasien wanita memiliki grade 2 pterygium pada mata
satu dan grade 3 pterygium pada mata lainnya (table 1)
Table 1. distribusi umur dan jenis kelamin pasien pterygium
Derajat

Total mata

Kisaran usia

Rata-rata usia Laki-laki (%)

Perempuan

pterygium
1
2
3
4
Rata-rata

4
26
6
4

25-31
20-64
20-40
28-42

SD
28,502,60
31,928,00
36,009,43
37,005,52
32,548,03

(%)
2 (4,35%)
16 (34,78%)
2 (4,35%)

2 (4,35%)
18 (39,13%)
3 (6,52%)
4 (8,70%)

umur pasien
Derajat pterygium:
Derajat 1- apeks melewati limbus
Derajat 2 - apeks di pertengahan antara limbus dan pupil
Derajat 3 - apeks sampai dengan margin papillary
Derajat 4 apeks melewati margin papillary
Pterygium yang timbul di dekat hidung mempresentasikan pada semua mata. 4 (8%) mata
memiliki derajat 1 pterygium; 36 (72%) mata memiliki derajat 2 pterygium; 6 (12%)mata
memiliki derajat 3 pterygium dan derajat 4 pterygium pada 4 (8%) mata.
Jumlah astigmatisma:

Besarnya rata-rata astigmatisma dari pre operatif yang diukur menggunakan keratometer
adalah 1,381,39D, dan dapat dilihat peningkatannya dengan peningkatan ukuran pterygium dan
memiliki nilai yang signifikan secara statistik dengan p=0,0012 (table 2)
Jumlah dari preoperatif astigmatisma terlihat meningkat sejalan dengan derajat pterygium
(table 2;fig 3). Rata-rata astigmatisma preoperatif pada derajat 1 adalah 0.530,05D dan pada
derajat 2 0,940,64D. derajat 3 dan derajat 4 pterygium memiliki 2,361,28D dan 4,731,44D.
Derajat 1 pterygium, dari 4 mata, 1 mata menunjukkan astigmatisma pada meridian oblik
dimana menunjukkan astigmatisma 0,62D dan 3 mata menunjukkan rata-rata astigmatisma
0,50D pada meridian vertical.
Pada derajat 2 pterygium, dari 36 mata, 14 mata menunjukkan rata-rata astigmatisma
1,370,87D pada meridian horizontal, 14 mata memiliki rata-rata 0,640,32D pada meridian
oblik dan pada meridian vertical 8 mata memiliki rata-rata astigmatisma sebesar 0,750,22D
Derajat 3 pterygium menunjukkan pada 6 mata, 3 mata berada pada meridian horizontal
di mana rata- rata astigmatisma sebesar 2,541,57D dan 3 mata lainnya berada pada meridian
oblik yang memiliki rata-rata astigmatisma sebesar 2,180,87D
Pada 4 mata yang memiliki ptyrigium derajat 4. 2 mata memiliki rata-rata astigmatisma
sebesar 5,950,95D pada meridian horizontal dan 2 mata pada meridian oblik yang memiliki
rata-rata astigmatisma 3,500,50D
Penurunan yang signifikan pada astigmatisma tercatat setelah eksisi ptrygium. Setelah 1
bulan eksisi ptrygium pada derajat 1 ptrygium rata-rata preoperatif astigmatisma dari
0,530,05D berkurang menjadi 0,28V0,11D setelah post operatif. Pada derajat 2 pterygium
berkurang dari 0,940,18D menjadi 0,450,15D. derajat 3 pterygium menunjukkan penurunan
yang signifikan dari preoperatif astigmatisma 2,360,07D menjadi 0,880,23D post operatif.
Pada derajat 4 pterygium rata-rata pre operatif astigmatisma 4,731,44D berkurang sampai
0,650,18D setelah eksisi ptrygium.
Tidak banyak perbedaan yang tercatat antara rata-rata postoperatif astigmatisma yang
diukur pada saat 1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan setelah eksisi ptrygium.
Efek dari postoperatif terhadap meridian astigmatisma
Perubahan pada meridian astigmatisma tercatat setelah post operatif. Perubahan paling
besar dari pre operatif astigmatisma terdapat pada meridian horizontal, diamana terdapat
penurunan yang signifikan setelah eksisi pterygium, tetapi jumlah mata yang mengalami
horizontal meridian post operatif meningkat. Peningkatan ini berhubungan dengan berkurangnya
jumlah mata meridian oblik post operatif. Jumlah mata pada meridian vertikal pre operatif sama
dengan post operatif.

Table 2. derajat pterygium dan astigmatisma


Derajat

Astigmatisma

pterygium

rata-rata

1
2
3
4

operatif SD
0,53 0,05 D
0,94 0,18 D
2,36 0,70 D
4,73 1,44 D

pre

Astigmatisma rata-rata post astigmatisma SD


1 bulan
3 bulan
6 bulan
0,28 0,11 D
0,450,15 D
0,880,23 D
0,650,18 D

0,210,15 D
0,430,16 D
0,840,28 D
0,560,16 D

0,190,15 D
0,390,20 D
0,800,32 D
0,480,18 D

Table 3. meridian astigmatisma pada derajat 1 pterygium


meridian pada

Pre operatif

Post operatif

Post operatif

Post operatif

astigmatisma
Horizontal
Oblik
vertikal

0
1
3

1bulan
2
0
2

3bulan
2
0
2

6bulan
1
3
0

Table 4. meridian astigmatisma pada derajat 2 pterygium


meridian pada
astigmatisma
Horizontal
Oblik
vertikal

Pre operatif

Post operatif

Post operatif

Post operatif

14
14
8

1bulan
14
13
9

3bulan
16
12
8

6bulan
18
8
10

Table 5. meridian astigmatisma pada derajat 3 pterygium


meridian pada

Pre operatif

Post operatif

Post operatif

Post operatif

astigmatisma
Horizontal
Oblik
vertikal

3
3
0

1bulan
3
3
0

3bulan
4
2
0

6bulan
5
1
0

Table 6. meridian astigmatisma pada derajat 4 pterygium


meridian pada
astigmatisma
Horizontal
Oblik

Pre operatif

Post operatif

Post operatif

Post operatif

2
2

1bulan
4
0

3bulan
4
0

6bulan
2
1

vertikal

Diskusi
Pterygium dapat di klasifikasikan dengan stasioner dan progresif. Stasioner pterygium
menunjukan sedikit atau tidak ada sama sekali pertumbuhan dalam jangka panjang sedangkan
pada pterygium yang progresif menunjukkan pertumbuhan yang agresif dengan mempercepat
pertumbuhan margin kekeruhan berwarna abu-abu dan hiperemis pada jaringan. Pterygium
mingkin dapat menginvasi cornea perifer superfisial (dengan puncak mengarah ke kornea) yang
akhirnya menybabkan distorsi kornea dan kehilangan penglihatan (Kanski J, 1999; Poirier RH,
1984)
Terdapat korelasi yang signifikan antara pertumbuhan pterygium yang sampai kornea
dengan jumlah astigmatisma. Pterygium sepertinya memiliki efek minimal pada central kornea
sampai mereka melewati 45% dari radius kornea. Setelah ukuran tersebut tercapai, dapat
menyebabkan peningkatan astigmatisma.(Lin A, 1998) setelah di lakukan pengamatan terhadap
luas pterygium pada kornea memiliki hubungan yang signifikan dengan astigmatisma; semakin
luas semakin besar kemungkinan astigmatisma (Ashaye AO, 2002). Seperti pengamatan yang
terdapat pada penilitian ini. Besarnya rata-rata pre operatif astigmatisma adalah 1,38 D, dimana
terlihat peningkatan sejalan dengan derajat pterygium, derajat tertinggi pada pterygium pada
mata adalah derajat 4 dan derajat paling rendah adalah derajat 1.
Pertumbuhan dari pterygium dapat menyebabkan distorsi kornea dan astigmatisma yang
signifikan. Pada sebuah penelitian di temukan bahwa pterygium menginduksi jumlah yang
signifikan terhadap regular dan irregular astigmatisma berdasarkan ukuran, yang dimana dapat di
hilangkan setelah pembedahan (Tomidokoro et al, 1999)
Pada penelitain terkini, pterygium menginduksi astigmatisma ditemukan di semua
meridian. Aksis atau meridian dari kornea astigmatisma di horizontal meridian adalah sebesar
51%, di meridian oblik 29,4% dan di meridian vertikal sebesar 19,5%. Salah satu penelitian
mengamati bahwa luas pterygium berhubungan secara signifikan dengan derajat astigmatisma.
Fong et al, 1998 mengamati bahwa eksisi pterygium biasanya menginduksi perubahan
pada kornea, eksisi pterygium yang berhasil seharusnya dapat mengurangi refraksi astigmatisma
dan penigkatan kualitas penglihatan yang di sebabkan pterygium. (Pavilack MA 1995)
Rata-rata astigmatisma pre operatif pada derajat 4 pterygium berkurang dari 4,73D
menjadi 0,65D setelah 1 bulan post operatif. Pada derajat 3 pterygium menunjukkan penurunan
astigmatisma pre operatif dari 2,36 D menjadi 0,88 D 1 bulan post operatif. Derajat 2 pterygium

menunjukkan penurunan dari 0,94 D menjadi 0,45 D dan pada derajat 1 pterygium berkurang
dari 0,53 D menjadi 0,28 D dilihat setelah 1 bulan post operatif.
Semakin tinggi astigmatisma pre operatif, semakin tinggi juga perbedaan antara pre
operatif dan post operatif astigmatisma yang tercatat dalam penelitian , dimana sesuai dengan
penemuan.
Pada derajat 1 dan 2 pterygium peningkatan tajam penglihatan mendekati normal setelah
eksisi pterygium tetapi pada beberapa pterygium grade 3 dan 4 tajam penglihatan hanya
berkurang sedikit, sejalan dengan distorsi kornea yang menetap dengan semakin tinggi derajat
pterygium. Penemuan ini sejalan dengan pengamatan.
Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa eksisi pada pterygium menginduksi kembalinya
kornea yang rata. Penurunan yang signifikan pada astigmatisma dan meningkatkan ketajaman
penglihatan didapatkan setelah post operatif