Anda di halaman 1dari 51

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL (BEDAH)

RUMAH SAKIT AULIA


2016

Daftar Isi

1. Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Ringan..................................


2. Asuhan Keperawatan Appendiksitis................................................
3. Asuhan Keperawatan Hernia...........................................................
4. Asuhan Keperawatan Soft Tumor Kista.........................................
5. Asuhan Keperawatan Fimosis..........................................................
6. Asuhan Keperawatan Hammorhoid.................................................
7. Asuhan Keperawatan Drainage Abcess........................................
8. Asuhan Keperawatan Ganglion.......................................................
9. Asuhan Keperawatan Lipoma..........................................................
10.........................................................................................................As
uhan Keperawatan Nail Extraction..................................................

ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA KEPALA RINGAN


Pengertian

Cedera kepala merupakan suatu proses yang dinamis, karena perubahan


kondisi klinis bisa dalam waktu menit ( menit, jam, hari ) mendatang. Perubahan
kondisi klinis tersebut harus diantisipasi sesegera mungkin karena, kita tahu
bahwa otak dan syaraf sulit reversible.
Guna menurunkan angka kesakitan dan angka kematian kasus trauma
kepala khususnya dan trauma lain umumnya, diperlukan beberapa macam
faktor, dari sosial budaya, asuransi, sistem rujukan, sumber daya kesehatan.

Pembagian klinis cedera kepala


a.

Komosio serebri
Komosio serebri adalah gegar otak tanpa perdarahan, tanpa gangguan
kontinuitas jaringan
Gejala dan tanda

Pingsan tidak lebih dari 10 menit

Tanda-tanda vital dalam batas normal/menurun

Setelah sadar timbul keluhan pusing, nyeri muntah

Amnesia restrogad

Tidak terdapat gejala kelainan neorologik lainnya

b.

Edema Serebri Traumatik


Gejala dan tanda hampir sama dengan komosio serebri dan sifatnya lebih
berat dengan fase pingsan dapat berjam-jam. Tekanan darah dan nadi
menurun. Pada pemeriksaan tidak terdapat kelainan neorologik lainnnya.

c.

Kontusio Serebri
Pada kontusio serebri terdapat perdarahan otak tanpa gangguan kontinuitas
jaringan.

Gejala dan tanda :

Pingsan berlangsung lama sampai berminggu minggu.

Kelainan neorologik timbul tergantung pada dan luasnya lesi. Lesi pada
batang otak lebih berbahaya.

Lesi pada ensefalon pernafasan biasa atau cheyne stokes, pupil mengecil
dengan reflek cahaya balik, mata tetap ditengah pada pergerakan kepala,
kaku pada kedua tungkai dalam sikap ekstensi dan lemas dalam fleksi.

Lesi

pada

Masensefalon

dan

Ponds

penurunan

kesadaran,

koma,

hiperventilasi, pupil melebar dan reflek cahaya hilang, pergerakan mata bola
tidak teratur, posisi tungkai dan lengan ekstensi.

Lesi pada medula oblongata pernafasan tersengal sengal tidak teratur


kemudian berhenti.

d.

Pada pemeriksaan LP didapatkan cairan Serebo Spinal berdarah.

Hematom Epidural
Pada hematom epidural terjadi perdarahan diantara tengkorak dan duramater
akibat robeknya arteri meningea atau cabang cabangnya.
Gejala dan tanda tandanya :

Penurunan kesadaran atau nyeri kepala sebentar, kemudian membaik.

Beberapa jam kemudian timbul gejala yang berat dan sifatnya progresif
seperti : nyeri kepala hebat, pusing, penurunan kesadaran.

Tekanan darah naik, nadi menurun.

Pada kepala terdapat hematom subkutan, pupil pada sisi hematom melebar.

Pada sisi hematom kontra lateral terjadi hemiparise, refleks tendo meninggi
dan reflek reflek patologis lainnya.

e.

LP cairan Serebro Spinal jernih dengan peninggian tekanan.

Fundoscopi edema pupil nervus II

Penatalaksanaan.

Operasi segera untuk mengeluarkan gumpalan gmpalan darah.

Hematom Subdural

Pendarahan terjadi pada rongga antara duramater dan Arachnoid

Gejala dan tanda tanda :


Pada

perdarahan

besar

gejala

sama

dengan

hematom epidural.
Pada perdarahan ringan gejala permulaan ringan

keadaan berlanjut.
Penatalaksanaan :

Operasi segera untuk mengeluarkan hematom.

f.

Hematom Subarachnoid
Perdarahan terjadi dalam rongga sub arachnoid, sering menyertai contusio
cerebri.
LP ditemukan cairan serebro spinal berdarah.
Penatalaksanaan sama dengan kontusio serebri.

g.

Fraktur Tengkorak
Fraktur tengkorak tidak memerlukan tindakan pengobatan istimewa apabila
ada fraktur impresi tulang, operasi dilakukan untuk mengembalikan posisi.
Pada fraktur basis kranium aliran serebro spinal berhenti dalam 5 6 hari dan
terdapat

hematom

kacamata

yaitu

hematom

sekitar

orbita.

Selama

menunggu penyembuhan spontan, biarkan saja cairan serebro spinal mengalir


keluar, dijaga jangan sampai aliran terbendung. Pemberian antibiotik untuk
mencegah infeksi.

PENGKAJIAN
A. Pemeriksaan lokal
-

Inspeksi :
Adalah membuat perician dari luka ( memar, sayat dll ), mengenai
dimensinya ( ukurannya ), dan apa yang terlihat keluar ( tulang, liquor,
cortex cerebri, pasir dll ). Adakah perdarahan mulut, telinga dan hidung
serta Racoon eyes.
-

Palpasi:

Apakah teraba adanya

garis fraktur linier, depress, fragmen tulang,

avulsi ?

B. Pemeriksaan Umum
-

Kesadaran.
Untuk menilai kesadaran menggunakan Glasgow Coma Scale ( GCS ).

Vital sign
Tekanan darah :biasanya normal, bila tekanannya tinggi dicurigai
adanya hipertensi sebelum trauma.Bila demikian kemungkinan besar
pasien menderita stroke, sehingga perlu informasi tambahan. Tekanan
darah rendah / presyok waspadai adanya perdarahan tersembunyi
ditempat lain. Karena gegar otak saja tidak menimbulkan syok.
Nadi : sering dijumpai normal atau sedikit bertambah, bila nadi
melebihi 100 x/menit, waspadai adanya presyok. Bila nadi > 120
x/menit mungkin ada rangsangan batang otak sehingga prognosa jelek.

Respirasi : frekuensi nafas harusnya normal ( 14 22 x/menit ), bila >


24 x/menit prognosa kurang baik, karena merupakan tanda adanya
rangsangan batang otak atau trauma dinding dada. Bila ada pola nafas
biot, cheynes Stokes, atau ataksik, ini merupakan salah satu tanda
adanya kerusakan batang otak yang luas. Biasanya pasien seperti ini
segera jatuh apneu.
Temperatur / suhu tubuh : kenaikan suhu pada gegar otak biasanya
tidak bisa dikontrol dengan antipiretik, kenaikan suhu tubuh tersebut
bersifat central, karena kontrol suhu tubuh dari dienchephalons
( hypothalamus ) rusak.
-

Neurologis
Pemeriksaan kesadaran dengan GCS dicatat M/O/B = E/M/V
Syaraf otak 12 pasang, apakah ada gangguan syaraf otak :

o N. I : Olfactorius,apakah ada anosmia kiri atau kanan.


o

N.II : opticus, adakah keluhan mengenai visus, lapangan pandang,


fundus biasanya normal.

N III : occulomotoris , menginervasi otot intrinsic dan ekstrinsik bola


mata sehingga kelumpuhanya mengakibatkan pupil medriasis.
Biasanya tanda dari proses Herniasi Uncal sepihak. Miosis
bilateral merupakan tanda adanya kerusakan pons, atau over dosis
narkoba. Ptosis merupakan gangguan dari N III dan N VII.

N. IV : trochlearis, mirip dengan N III hanya kurang sensitive.


o

N. V : trigeminal, adakah Blink Reflek ialah reflek kedip mata bila


cornea disentuh, normal (+).

N. VI : abduscen, ini menginervasi otot mata, musculus rektus


lateralis oculi, kedua nervus ini ( N IV dan VI ) yang bertangggung
jawab terhadap deviasi congjugae ( mata melirik terus kesatu arah),
diplopia.

N. VII ; Facialis, bila gangguan central menyebabkan keringnya


cornea mata, bila ganggguan perifer menyebabkan ptosis dan
deviasai sudut mulut terutama menangis.

N. VIII : Acusticus, syaraf ini bertanggung jawab terhadap Dollseyes Phenomenon atau oculachepalik test dan vestibulochepalik
karena ganggun dari batang otak.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Gangguan rasa nyaman : nyeri lokal berhubungan dengan adanya edema
cerebral dan hipoksia.
2. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan edema cerebral
dan hipoksia.
Diagnosa

Tujuan

Intervensi

Keperawatan
1. Gangguan

rasa

nyaman : nyeri lokal

Gangguan

nyaman dapat diatasi.

berhubungan
dengan

1. Kaji tipe, lokasi dan


durasi nyeri.
2. Jelaskan

adanya

patofisiologis

terjadinya nyeri akibat

edema cerebral dan


hipoksia

rasa

dari cedera.
Kriteria ;

3. Batasi
pada

pergerakan
daerah

yang

Pasien

tak

Hematom

Pasien mengeluh nyeri

pembengkakan

daerah kepala

hilang/

Terdapat

edema

cerebral.

Pasien

Gangguan

2. Gangguan

perfusi
cerebral

berhubungan
dengan

edema

dapat

cerebral

dan

hipoksia.

Kriteria :

Pasien

dapat

kompres

dingin

pada

lokasi

cedera.
8. Observasi

perubahan

terhadap

perilaku

perasaan

tidak

nyaman.
kesehatan : pemberian

kejadian

tingkat

sebelumnya.
o

Tanda-tanda
vital

ingatan,

batas normal.

perubahan respon

dan

dalam

Pengisian kapiler
3-5 detik, tidak

motorik.

ada sianosis dan

b. Perubahan tandatanda vital.

7. Berikan

obat-obatan anti nyeri.

kesadaran, hilang

sensorik

5. Observasi tanda-tanda

9. Kerja sama dengan tim

mengingat
G

angguan

Kesadaran mulai
membaik.

Data Penujang :
a.

perfusi

jaringan dapat diatasi.

intensitas nyeri.

Ajarkan tehnikrelaksasi.

berkurang.
o

perubahan

vital tiap 1 2 jam.

istirahat tenang.

GCS 10.

jaringan

4. Kaji

mengeluh nyeri

Data Penunjang :

cedera.

pucat.
o

Akral hangat.

1. Identifikasi

penyebab

penurunan

perfusi

cerebral.
2. Observasi tanda-tanda
vital tiap 1 jam.
3. Observasi

pupil,

pernafasan.
4. Berikan kompres bila
terjadi

peningkatan

suhu.
5. Observasi intake adan
output tidak lebih dari
800 cc/ 24 jam.
6. Tinggikan

bagian

kepala
15-45

derajat

mendorong

untuk

drainage

vena dan mengurangi


bendungan
cerebral.

pada

7. Ajurkan pasien untuk


mengurangi

aktivitas

dan bedrest total.


8. Kerja sama dengan tim
kesehatan :
Pemberian O2.
-

Pemberian

obat-

obat sesuai terapi


dokter.

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN APENDISITIS

PENGERTIAN
Apendisitis merupakan inflamasi apendiks, suatu bagian seperti kantung yang
non fungsional dan terletak di bagian inferior sekum. Penyebab yang paling
umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh feses, yang akhirnya merusak
suplai darah dan merobek mukosa yang menyebabkan inflamasi. Komplikasi
utama berhubungan dengan apendisitis adalah peritonitis, yang dapat terjadi bila
apendiks ruptur. Apendiktomi ( pembuangan apendiks ) adalah satu-satunya
tindakan.
PATOFISIOLOGI
Bila apendiks tersumbat, tekanan intraluminal meningkat, menimbulkan
penurunan drainase vena, trombosis, edema, dan invansi bakteri dinding usus.
Bila obstruksi berlanjut, apendiks menjadi semakin hiperemik, hangat, dan
tertutup eksudat yang seterusnya menjadi ganggren dan perforasi.
PENATALAKSANAAN

Tidak

ada

penatalaksanaan

medikal

terhadap

apendisitis.

Sampai

pembedahan dapat dilakukan , cairan intravena dan antibiotik diberikan.


PENGKAJIAN
1. Aktivitas / istirahat.

Malaise
2. Sirkulasi
Takikardia
3. Eliminasi
Konstipasi pada awitan awal.
Diare kadang-kadang
4. Makanan/ cairan
Anoreksia
5. Nyeri/ kenyamanan
Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus, yang meningkat
berat dan terlokalisasi pada titik McBurney ( setengah jarak antara
umbilikus dan tulang ileum kanan ), meningkat karena berjalan, bersin,
batuk, atau bernafas dalam ( nyeri berhenti tiba-tiba diduga perforasi
atau infark pada apendiks ).
Keluhan berbagai rasa nyeri / gejala tak jelas ( sehubungan dengan
lokasi apendiks ).
Berbaring ke samping atau terlentang dengan lutut ditekuk.
Meningkatnya nyeri pada kwadran kanan bawah karena posisi ekstensi
kaki kanan / posisi duduk tegak.
Nyeri lepas pada sisi kiri diduga inflamasi peritonial.
6. Pernafasan.
Takipnea, pernafasan dangkal.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.

SDP : Leukositosis diatas 12000/mm3, neutropil meningkat sampai 75 %.


2. Urinalis : normal, tetapi eritrosit/ leukosit mungkin ada.
3. Foto abdomen : dapat menyatakan adanya pengerasan material pada
apendiks ( fekalit ), ileus terlokalisir.

KEMUNGKINAN DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL

Sebelum Operasi
1. Gangguan rasa nyaman , nyeri abdomen berhubungan dengan adanya
peradangan apendiks.
2. Potensial kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan pemasukan
cairan yang kurang.
3. Cemas sehubungan dengan prosedur operasi.

Setelah Operasi
1. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan luka operasi
2. Potensial

kekurangan

cairan

berhubungan

dengan

hambatan

pemasukan peroral.
3. Potensial terinfeksi berhubungan dengan luka operasi.

DIAGNOSA SEBELUM OPERASI


Diagnosa
Keperawatan

Tujuan

Intervensi

1. Gangguan
rasa
nyaman , nyeri
abdomen
berhubungan
dengan
adanya
peradangan
apendiks.

Nyeri berkurang rasa


nyaman terpenuhi.

1. Kaji
rasa
nyeri,
perhatikan
lokasi
dan
intensitas
miring.
2. Atur posisi pasien
semifowler.
3. Anjurkan
tehnik
relaksasi
nafas
dalam.
4. Monitor tanda-tanda
vital.

DS :
Pasien
menyatakan nyeri
pada
daerah
abdomen
kanan

Kriteria :
Nyeri berkurang /
hilang
Ekspresi
wajah
rileks.
Pasien
tampak
tenang
tidak
gelisah.

dari

bawah.
DO :
Ekspresi
wajah
tampak kesakitan
Nadi meningkat

2. Potensial
kekurangan cairan
tubuh
berhubungan
dengan
pemasukan cairan
yang kurang.
DS :
Pasien mengeluh
mual,muntah.
DO :

Kebutuhan
terpenuhi.

cairan

Kriteria :
Pemasukan cairan
memadai.
Mukosa bibir basah
Tanda-tanda
vital
normal.

1. Kaji
membran
mukosa
bibir,
turgor kulit.
2. Monitor
tandatanda vital.
3. Monitor intake dan
output
4. Kolaborasi dengan
dokter
dalam
pemberian cairan.

Pasien
dalam
keadaan puasa

3. Cemas
sehubungan
dengan prosedur
operasi
DS :
Pasien
mengungkapkan
rasa cemas secara
verbal
DO :
Pasien
kelihatan
gelisah,
banyak
bertanya,
tidak
bisa tidur.

Pasien
dapat
mengurangi
rasa
cemasnya
setelah
diberi penjelasan.
Kriteria :
Pasien
dapat
mengungkapkan
prosedur operasi.
Ekpresi
wajah
tenang,
tidak
banyak bicara.

1. Observasi tingkat
rasa cemas.
2. Jelaskan
pada
pasien
dan
keluarga
tentang
prosedur tindakan
pembedahan dan
akibat yang akan
terjadi
setelah
pembedahan.
3. Berikan
support
mental dan ikut
sertakan keluarga.
4. Anjurkan
pada
pasien agar berdoa
menurut
agama
dan
kepercayaannya

sebelum dilakukan
operasi.
5. Berikan obat sesuai
program
untuk
persiapan operasi.
DIAGNOSA KEPERAWATAN SETELAH OPERASI
Diagnosa
Keperawatan

Tujuan

Intervensi

1. Gangguan
rasa
nyaman,
nyeri
berhubungan
dengan luka operasi

Gangguan
rasa
nyaman nyeri dapat
teratasi.

DS:

Kriteria :

Pasien mengeluh nyeri


pada luka operasi.

Pasien
menyatakan nyeri
berkurang.
Ekspresi
wajah
tenang,
tidak
meringis.

1. Observasi
tingkat
rasa nyeri pasien
2. Berikan penjelasan
tentang penyebab
rasa sakit.
3. Ajarkan
pada
pasien
tehnik
relaksasi.
4. Observasi
tandatanda vital.

DO:
Pasien
kesakitan

tampak

Tanda-tanda vital
normal.

Ekspresi wajah tegang

2. Potensial
kekurangan cairan
berhubungan
dengan hambatan
dari
pemasukan
peroral
(
misal
puasa ).
DS : DO :
Pasien puasa

Pasien
dapat
mempertahankan
keseimbangan cairan
yang adequat.

5. Berikan obat sesuai


dengan
program
dokter
untuk
mengurangi
rasa
nyeri.
1. Monitor
tandatanda vital tiap 3
jam
2. Raba denyut nadi,
perifer,
periksa
turgor kulit
3. Monitor intake dan
output.
4. Berikan
cairan
parenteral
sesuai
dengan
program
dokter.

Kriteria :
Membran mukosa
basah.
Turgor
kulit
elastis.
Tanda-tanda vital
dalam
batas
normal.
Paien tidak puasa.

1. Monitor
suhu
tubuh, catat bila
terjadi peningkatan
suhu tubuh.
2. Observasi keadaan
luka
3. Catat
adanya
inflamasi

Infeksi tidak terjadi


selama perawatan.
3. Potensial terinfeksi
berhubungan
dengan
luka
operasi.

Kriteria :
Tanda-tanda vital
dalam
batas
normal
Leukosit normal
Luka bersih tak
ada tanda-tanda
infeksi : panas,
kemerahan,
bengkak,
bernanah.

4. Perhatikan
dan
lakukan perawatan
luka dengan tehnik
steril dan gunakan
pembalut
yang
kering.
5. Berikan antibiotika
sesuai
dengan
program dokter.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN


DENGAN HERNIA

PENGERTIAN
Hernia adalah prostusi abnormal organ, jaringan atau bagian organ melalui
struktur yang secaraa normal berisi bagian ini.

PATOFISIOLOGI
Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena kelemahan jaringan atau
ruang luas pada ligamen inguinal, atau dapat disebabkan karena trauma.
Tekanan intra abdominal paling umum meningkat sebagai akibat dari kehamilan
atau kegemukan. Mengangkat berat juga menyebabkan peningkatan tekanan,
seperti pada batuk dan cedera traumatik karena tekanan tumpul. Bila dua faktor
ini ada bersama dengan kelemahan otot, individu akan mengalami hernia.
Bila isi kantung hernia dapat dipindahkan ke rongga abdomen dengan
manipulasi, hernia disebut redusibel. Hernia iredusibel dan inkarserata adalah
istilah yang menunjukan hernia yang tidak dapat dipindahkan atau dikurangi
dengan manipulasi.

Macam Hernia
1.
Hernia Inguinalis Indirek
Hernia ini melalui cincin inguinalis dan melewati korda spermtikus melalui kanalis
inguinalis. Ini umumnya terjadi pada pria daripada wanita. Hernia ini dapat
menjadi besar dan sering turun ke skrotum.
2.
Hernia Inguinalis Direk
Hernia ini dapat melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak
melalui kanal seperti hernia inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih umum pada
lansia. Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini
karena defisiensi kongenital.
3. Hernia Femoralis
Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita
daripada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak kanalis femoralis yang
membesar dan secara bertahap menarik peritonium dan hampir tidak dapat
dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung.
4. Hernia Umbilikalis
Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena
peningkatan tekanan abdominalis. Ini biasanya terjadi pada klien gemuk dan
wanita multipara.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dibagi :
1. Medikal
Hernia yang tidak terstrangulata atau inkarserata dapat secara mekanis
berkurang. Suatu penyokong dapat digunakan untuk mempertahankakn hernia
berkurang.

2. Bedah
Perbaikan hernia dilakukan dengan menggunakan insisi kecil secra langsung di
atas area yang lemah.

KEMUNGKINAN DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL


1. Gangguan rasa nyaman ; nyeri sehubungan dengan
patologis dari
penyakitnya ( kondisi hernia ), intervensi pembedahan.
2. Cemas berhubungan dengan akan dilakukan operasi.
3. Potensial infeksi sehubungan dengan adanya luka pembedahan.
Diagnosa
Keperawatan
1. Gangguan
rasa
nyaman
:
nyeri
berhubungan
dengan
patologis
dari
penyakitnya
( kondisi hernia ),
intervensi
pembedahan.
Data Subyektif
Klien
mengeluh
nyeri
dan
ada
benjolan
pada
lipatan paha.
Data obyektif
Pasien
tampak
menahan nyeri.
Distensi
menyebabkan
nyeri dan tidak
nyaman.
Pasien
tampak
gelisah.
Tachikardi,
keringat dingin.

Tujuan

Intervensi

Gangguan
rasa 1. Beri motivasi pada paien
sebab
dan
akibat
nyaman dapat diatasi.
terjadinya nyeri.
2. Kaji tingkat dan karakter
nyeri
3. Beri pasien posisi yang
Kriteria evaluasi
nyaman.
Rasa nyaman / 4. Monitor
tanda-tanda
vital
nyeri terkontrol
Pasien
dapat 5. Ajarkan tehnik relaksasi.
6. Beri tahu pasien untuk
beristirahat
mengindari
mengejan,
dengan tenang.
meregang, batuk dan
Ekspresi
wajah
mengangkat berat.
rileks.
7. Ajarkan pasien untuk
menekan insisi dengan
tangan
atau
bantal
slama batuk.
8. Ajarkakan
pasien
tentang
pemasangan
penyokong skrotal atau
kompres es yang sering
diprogramkan
untuk
membatasi edema dan
mengendalikan
nyeri
setelah perbaikan hernia
inguinalis.
9. Berikan analgesik sesuai
program.

Kecemasan berkurang
/ hilang.

2. Cemas
berhubungan

1. Jelaskan
tentang
penyakitnya dan kena
apa perlu dioperasi.

dengan
akan
dilakukan operasi.
Data Subyektif
Pasien
bertanya
tindakan
yang
akan dilakukan.
Data Obyektif
Pasien tampak
cemas,
dan
bertanya-tanya
terus.

Kriteria Hasil :
Pasien
mau 2. Orientasikan pasien dan
keluarga
terhadap
bertanya
dan
ruangan, perawat atau
membicarakan
tim kesehatan lainnya.
masalahnya.
Pasien
mengatakan
keseluruhan
cemas berkurang / 3. Jelaskan
tentang :
hilang.
Jadwal operasi
Istirahat
pasien
Situasi ruang operasi
cukup.
untuk pemulihan.
Pasien
mau
Prosedur
operasi
bekerja
sama
dalam
setiap
secara umum.
tindakan
Jenis anestesi
persiapan operasi.
Apa yang dirasakan
dan dialami setelah
operasi
serta
penatalaksanaan
post operasi.
Resiko operasi.
4.
Anj
u
r
k
a
n
d
a
n
b
e
r
i
k
e
s
e
m
p
a
t
a
n
k
e
p
a
d

a
k
e
l
u
a
r
g
a
u
n
t
u
k
m
e
m
b
e
r
i
k
a
n
d
u
k
u
n
g
a
n
k
e
p
a
d
a
p
a
s
i
e
n
.
5.
Jela
s
k
a

n
p
a
d
a
p
a
s
i
e
n
t
e
n
t
a
n
g
p
e
r
s
i
a
p
a
n
o
p
e
r
a
s
i
.
6.
Ber
i
k
e
s
e
m
p
a
t
a
n

p
a
s
i
e
n
u
n
t
u
k
m
e
n
g
e
k
s
p
r
e
s
i
k
a
n
p
e
r
a
s
a
a
n
n
y
a
.
7.
Ber
i
m
o
t
i
v
a
s
i
p
a
d

a
p
a
s
i
e
n
u
n
t
u
k
b
e
r
d
o
a
d
a
n
m
e
n
d
e
k
a
t
k
a
n
d
i
r
i
s
e
s
u
a
i
d
e
n
g
a
n
a

g
a
m
a
d
a
n
k
e
p
e
r
c
a
y
a
a
n
n
y
a
.

ASUHAN KEPERAWATAN KISTA OVARIUM

A. DEFINISI
Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di mana
saja dan jenisnya bermacam-macam (Jacoeb, 2007).
Kista adalah suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan dinding tipis, berisi cairan
atau bahan setengah cair (Soemadi, 2006).
Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung
telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh semacam selaput
yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium ( Agusfarly, 2008).
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan/abnormal pada ovarium yang
membentuk seperti kantong. Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat
bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus mentsruasi. (Lowdermilk, dkk. 2005)

B. ANATOMI FISIOLOGI
Sebuah ovarium terletak disetiap sisi uterus, di bawah dan di belakang tuba falopii. Dua
ligamen mengikat ovarium pada tempatnya, yakni bagian messovarium ligamen lebar uterus,
yang memisahkan ovarium dari sisi dinding pelvis lateral kira-kira setinggi spina illiaka
anterior superior, dan ligamentum ovarii propium, yang mengikat ovarium ke uterus. Pada
palpasi,ovarium dapat digerakkan.Ovarium memiliki asal yang sama (homolog) dengan testis
pada pria. Ukuran dan bentuk ovarium menyerupai sebuah almond berukuran besar. Saat
ovulasi, ukuran ovarium dapat berubah menjadi dua kali lipat untuk sementara. Ovarium yang
berbentuk oval ini memiliki konsistensi yang padat dan sedikit kenyal. Sebelum menarche,
permukaan ovarium licin. Setelah maturasi seksual, luka parut akibat ovulasi dan ruptur
folikel yang berulang membuat permukaan nodular menjadi kasar. Ovarium terdiri dari dua
bagian:
1. Korteks Ovarii
a. Mengandung folikel primordiaL
b. Berbagai fase pertumbuhan folikel menuju folikel degraf
c. Terdapat korpus luteum dan albicantes
2. Medula Ovarii
a. Terdapat pembuluh darah dan limfe
b. Terdapat serat saraf
Dua fungsi ovarium ialah menyelenggarakan ovulasi dan memproduksi hormon. Saat
lahir, ovarium wanita normal mengandung sangat banyak ovum primordial (primitive). Di
antara interval selama masa suburnya (umumnya setiap bulan), satu atau lebih ovum matur
dan mengalami ovulasi. Ovarium juga merupakan tempatutama produksi hormone seks
steroid (estrogen, progesterone, dan androgen) dalam jumlah banyak yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan, perkembangan dan fungsi wanita normal.
C. ETIOLOGI
Kista ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah yang nantinya
akan menentukan tipe dari kista. Diantara beberapa tipe kista ovarium, tipe folikuler
merupakan tipe kista yang paling banyak ditemukan. Kista jenis ini terbentuk oleh karena
pertumbuhan folikel ovarium yang tidak terkontrol. Folikel adalah suatu rongga cairan yang
normal terdapat dalam ovarium. Pada keadaan normal, folikel yang berisi sel telur ini
akan terbuka saat siklus menstruasi untuk melepaskan sel telur. Namun pada beberapa kasus,
folikel ini tidak terbuka sehingga menimbulkan bendungan carian yang nantinya akan menjadi kista.
Cairan yang mengisi kista sebagian besar berupa darah yang keluar akibat dari perlukaan yang

terjadi pada pembuluh darah kecil ovarium. Pada beberapa kasus, kista dapat pula diisi oleh
jaringan abnormal tubuh seperti rambut dan gigi. Kista jenis ini disebut dengan Kista Dermoid.
Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti tapi ada beberapa factor pemicu yaitu :
1. Gaya hidup tidak sehat.
Diantaranya
a. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
b. Zat tambahan pada makanan
c. Kurang olah raga
d. Merokok dan konsumsi alkohol
e. Terpapar dengan polusi dan agen infeksius
f.

Sering stress

g. Zat polutan
2. Faktor genetik
Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut
protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat
karsinogen , polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini
dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

D. KLASIFIKASI
1. Kista folikel
Kista folikel berkembang pada wanita muda wanita muda sebagian akibat folikel de graft
yang matang karena tidak dapat meyerap cairan setelah ovulsi.kista ini bisanya asimptomotik
keculi jika robek.dimana kasus ini paraf jika tedapat nyeri pada panggul.jika kista tidak
robek,bisanya meyusut setelah 2-3 siklus menstrusi.
2. Kista corpus luteum
Terjadi setelah ovulasi dan karena peningkatan sekresi dari progesterone akibat dari
peningkatan cairan di korpus luteum ditandai dengan nyeri, tendenderness pada ovari,
keterlambatan mens dan siklus mens yang tidak teratur atau terlalu panjang. Rupture dapat
mengakibatkan haemoraghe intraperitoneal. Biasanya kista corpus luteum hilang dengan
selama 1-2 siklus menstruasi.
3. Syndroma rolycystik ovarium
Terjadi ketika endocrine tidak seimbang sebagai akibat dari estrogen yang terlalu tinggi,
testosoron dan luteinizing hormone dan penurunan sekresi fsh. Tanda dan gejala terdiri dari
obesitas, hirsurism (kelebihan rambut di badan) mens tidak teratur, infertelitas.

4. Kista Theca- lutein


Biasanya bersama dangan mola hydatidosa. Kista ini berkembang akibat lamanya
stimulasi ovarium dari human chorionik gonadotropine( HCG ).

( Lowdermik,dkk.

2005:273 ).
E. PATOFISIOLOGI
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut Folikel
de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan
melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat
matang memiliki struktur 1,5 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi
pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun
bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual
akan mengecil selama kehamilan.
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu
jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista theca-lutein.
Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista fungsional
multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap
gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan
choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes, HCg
menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi
ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate,
dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan pemberian
HCG.
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol
dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal dari
semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel
permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa
dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain
dapat terdiri dari area

kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex

cord

sel

dan

primordial.

Endometrioma

germ

cel

tumor

dari

germ sel

adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada

sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik
berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram. Kista-kista itu sendiri bukan menjadi
problem utama dan diskusi tentang penyakit tersebut diluar cakupan artikel ini.

F. TANDA DAN GEJALA


Seperti pada penyakit ganas, tumor ovarium dapat tumbuh dengan tenang dan jarang
penyebab gejala sampai setelah mencapai ukuran besar. Ketika tumor berkembang akan
terjadi distensi abdominal. Pengaruh berat tekanan terhadap usus dan kandung kemih.
Pertumbuhan tumor ovarium dapat memberikan gejala karena besarnya, terdapat perubahan
hormonal atau penyulit yang terjadi. Tumor jinak ovarium diameternya kecil sering
ditemukan secara kebetulan dan tidak memberikan gejala klinik yang berarti.
Sebagian besar tanda dan gejala adalah akibat dari :
1. Gejala akibat pertumbuhan
a) Menimbulkan rasa berat di abdomen bagian bawah
b) Mengganggu miksi atau defekasi
c) Tekanan tumor dapat menimbulkan konstipasi atau edema pada tungkai bawah
2. Gejala akibat perubahan hormonal
Ovarium merupakan sumber hormon utama wanita, sehingga bila berhubungan dengan tumor
menimbulkan gangguan menstruasi, tumor sel granulase
3. Gejala klinik akibat komplikasi yang terjadi pada tumor
a) Perdarahan ke dalam kista (intra tumor)
Bila terjadi perdarahan dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan nyeri abdomen
mendadak dan memerlukan tindakan cepat.
b) Robek dinding kista
Pada torsi tangkai kista ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumpah ke dalam
ruang abdomen.
c) Degenerasi ganas kista ovarium
Keganasan kista ovarium sering dijumpai :
a. Kista pada usia sebelum menarche
b. Kista pada usia diatas 48 tahun
d) Sindrome Meigs
Sindrom yang ditemukan oleh meigs menyebutkan terdapat fibroma ovari, acites dan
hidrothorak dengan tindakan operasi fibroma ovari maka sindroma akan menghilang dengan
sendirinya.
Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri yang
tidak berbahaya. Tetapi ada pula kista yang berkembang menjadi besar dan menimpulkan
nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena mungkin

gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang panggul, kehamilan
ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium.
Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh
Anda untuk mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejala berikut mungkin muncul bila
anda mempunyai kista ovarium :
1. Perut terasa penuh, berat, kembung
2. Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)
3. Haid tidak teratur
4. Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke punggung bawah dan
paha.
5. Nyeri sanggama
6. Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil.
Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan kesehatan segera:
1. Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba
2. Nyeri bersamaan dengan demam
3. Rasa ingin muntah

G. KOMPLIKASI
Menurut manuaba ( 1998:417 ) komplikasi dari kista ovarium yaitu :
1. Perdarahan intra tumor
Perdarahan menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan
yang cepat.
2. Perputaran tangkai
Tumor bertangkai mendadak menimbulkan nyeri abdomen.
3. Infeksi pada tumor
Menimbulkan gejala: badan panas, nyeri pada abdomen, mengganggu aktifitas sehari-hari.
4. Robekan dinding kista
Pada torsi tangkai ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumpah kedalam
rungan abdomen.
5. Keganasan kista ovarium
Terjadi pada kista pada usia sebelum menarche dan pada usia diatas 45 tahun.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemastian diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan:
1. Ultrasonografi (USG)
Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk mengirim dan
menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) yang menembus bagian panggul,
dan menampilkan gambaran rahim dan ovarium di layar monitor. Gambaran ini dapat dicetak
dan dianalisis oleh dokter untuk memastikan keberadaan kista, membantu mengenali
lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung
lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Laparoskopi
Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui

pembedahan kecil

di bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap cairan dari kista atau mengambil
bahan percontoh untuk biopsi.
3. Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis.
4. Foto Rongent
Berguna untuk menentukan adanya hidrothoraks, selanjutnya pada kista dermoid kadangkadang dapat dilihat adanya gigi pada kista.
I. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah, misal
laparatomi, kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi.
2. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kista.
3. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah serupa
dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan satu pengecualian penurunan
tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya
mengarah pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan gurita
abdomen sebagai penyangga.
4. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan pengobatan dan
manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti kompres hangat pada
abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan
terjadi seperti tanda tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi. ( Lowdermilk.dkk.
2005:273 ).
A. PENGAKAJIAN

Menurut doenges ( 2000.997 ) hal - hal yang terus terkaji pada klien dengan post operasi
laparatomi adalah :
1. Data biografi klien
2. Aktivitas/Istirahat
Kelemahan atau keletihan. perubahan pola istirahat dan jam kebisaan tidur, adanya faktorfaktor yang mempengaruhi tidur misal : nyeri, ansietas, keterbatasan, partisipasi dalam hobi
dan latihan.
3. Sirkulasi
Palpitasi, nyeri dada, perubahan pada TD
4. Integritas ego
Faktor stress dan cara mengatasi stress, masalah tentang perubahan dalam penampilan insisi
pembedahan, perasaan tidak berdaya, putus asa,depresi,menarik diri.
5. Eliminasi
Perubahan pada pola defekasi misal:darah pada feces,nyeri pada defekasi, perubahan
eliminasi urinarius misalnya: nyeri, perubahan pada bising usus.
6. Makanan/cairan
Anoreksia, mual / muntah.intoleransi makanan, perubahan pada berat badan penurunan BB,
perubahan pada kelembaban / turgor kulit, edema.
7. Neurosensori
Pusing, sinkop
8. Nyeri / kenyamanan
Tidak ada nyeri / derajat bervariasi misalnya : ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat
( dihubungkan dengan proses penyakit ).
9. Pernapasan
Merokok, pemajanan abses
10. Keamanan
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama, berlebihan, demam,
ruam kulit / ulserasi.
11. Seksualitas
Perubahan pada tingkat kepuasan
12. Interaksi social
Ketidak adekuatan / kelemahan system pendukung, riwayat perkawinan, masalah tentang
fungsi / tanggung jawab peran.
13. Penyuluhan / pembelajaran
Riwayat penyakit pada kelurga, riwayat pengobatan, pengobatan sebelumnya atau operasi.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman : nyeri abdomen berhubungan dengan insisi pada abdomen
2. Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang
adequat.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangakatan bedah kulit.( jaringan,
perubahan sirkulasi).
4. Gangguan eliminasi urine (retensio)berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan
neoplasma pada daerah sekitarnya, gangguan sensorik/motorik.

5.

Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang


penyakit dan penatalaksanaannya.

6. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan pervaginam


berlebihan.
7. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki
anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat pada hubungan seksual.
C. INTERVENSI
Diagnosa I
Gangguan rasa nyaman : nyeri abdomen berhubungan dengan insisi pada abdomen.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil : skala nyeri 0, pasien mengungkapkan berkurangnya rasa nyeri, tanda-tanda
vital normal.
a.

INTERVENSI
Kaji tingkat dan intensitas nyeri.

b. Atur posisi senyaman mungkin.


c.

Kolaborasi

untuk

pemberian

analgetik.

RASIONAL
a. Mengidentifikasi lingkup
masalah.
b. Menurunkan tingkat ketegangan
pada daerah nyeri.
obat c. Menghilangkan rasa nyeri.
d. Merelaksasi otot-otot tubuh.

d. Ajarkan dan lakukan telhnik relaksasi.


Diagnosa II
Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang adequat.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi (TTV normal, tidak ada peningkatan leukosit).
INTERVENSI
RASIONAL
a. pantau dan observasi terus tentang
a. deteksi dini tentang terjadi nya infeksi
keadaan luka operasi.
b.

yang lebih berat.

Lakukan perawatan luka operasi


b.
secara aseptik dan antiseptik.

c.

Kolaborasi
antibiotik.

dalam

Menekan sekecil mungkin sumber


penularan eksterna.

pemberian
c.

Membunuh mikro organisme secara


rasional.

Diagnosa III

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangkatan bedah kulit.

( jaringan,

perubahan sirkulasi).
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan kulit yang berat.
Kriteria hasil : kulit tidak terlihat berwarna merah

INTERVENSI
a. Kaji balutan / untuk karakteristik

RASIONAL
a. Untuk melihat terjadi nya kerusakan

drainase, kemerahan dan nyeri pada

kulit setelah operasi.

insisi dan lengan.


b. Untuk mengurangi rasa nyeri yang di
b. Tempatkan pada posisi semi fowler
rasakan pasien.
pada punggung / sisi yang tidak sakit
dengan lengan tinggi dan disokong c.
dengan bantal.
c. Jangan melakukan pengukaran TD,

Agar tidak terjadi kerusakan dan nyeri


yg lebih kuat.

menginjeksikan obat / memasukan IV

Diagnosa

pada lengan yang sakit

IV
Ganguan

eliminasi urine (retensio)berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada
daerah sekitarnya, gangguan sensorik/motorik.
Tujuan : pola eliminasi urine kembali normal
Kriteria hasil :
Klien memehami terjadinya retensi urine
Klien bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi retensi urine.
INTERVENSI
a. Catat pola miksi dan monitor

RASIONAL
a. Melihat perubahan pola eliminasi

pengeluaran urine.
urine.
b. Lakukan palpasi pada kandung kemih,
b. Menentukan tingkat nyeri yang
observasi adanya ketidaknyamanan
c.

dan rasa nyeri.


Anjurkan klien untuk merangsang

dirasakan oleh klien.


c.

Mencegah terjadinya retensi.

miksi dengan pemberian air hangat,


mengatur posisi.
d. Periksa semua urine, catat adanya
keluaran batu dan kirim

d. Mengetahui seberapa banyak urine


yang dikeluarkan dan mengetahui

e.

kelaboratorium untuk analisa data.


Dorong klien untuk meningkatkan

e.

dalam urine adanya batu atau tidak.


Mendorong urine untuk keluar.

pemasukan cairan.
Diagnosa V
Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakit dan penatalaksanaannya.
Tujuan
: Pasien mengetahui tentang efek sawing dari operasinya.
Kriteria hasil : Pasien menyatakan memahami tentang kondisinya.
Diagnosa VI
INTERVENSI
RASIONAL
a.

Kaji ulang tingakt pemahaman pasiena.

tentang penyakitnya.
b. Dorong klien untuk mengungkapkan
c.

pikiran dan perasaannya.


Berikan informasi tentang

pemahaman pasien tentang apa yang


dijelaskan.
b. Dengan cara ini akan membantu
mengurangi cemas klien.
c. Membantu klien dalam memahami

penyakitnya, prognosis, dan


pengobatan secara prosedur secara

tentang penyakitnya.
d. Respon fisik akan menggambarkan

jelas dan akurat.


d. Monitor tanda-tanda vital.
e.

Mengetahui sejauh mana

tingkat kecemasan klien.


e. Mengetahui tingkat kecemasan

Minta pasien untuk memberi umpan

pasien.

balik tentang apa yang telah terjadi.


Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan pervaginam
berlebihan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam tidak terjadi

kekurangan

volume cairan tubuh.


Kriteria hasil :
Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan cairan.
Tanda-tanda vital dalam batas normal.
INTERVENSI
RASIONAL
a. Kaji tanda-tanda kekurangan cairan. a. Mengetahui lebih awal apabila
b. Pantau masukan urine dan haluaran
kekurangan cairan.
urine.
b. Mengetahui keseimbangan antara input
c. Monitor TTV.
dan output.
c. Dari hasil observasi TTV akan
d. Observasi perdarahan.
e.

Kolaborasi pemberian cairan

diketahui bila kekurangan cairan.


d. Mengetahui seberapa banyak darah
yang keluar.
e. Membatu mencegah kekurangan

parenteral

cairan tubuh.

Diagnosa VII
Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki
anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat pada hubungan seksual.
Tujuan : tidak terjadi gangguan konsep diri.
Kriteria hasil :
Klien dapat menerima kondisinya
Klien tenang
INTERVENSI
RASIONAL
a. Kaji sejauh mana rasa khawatir klien. a. Mengetahui sejauh mana rasa khawatir
b. Beri kesempatan klien untuk
klien.
mengungkapkan perasaannya
b. Supaya mengurangi beban klien.
c. Lakukan prosedur perawatan yang
c. Gangguan konsep diri diri tidak
tepat sehingga tidak terjadi komplikasi
bertambah.
berupa cacat fisik .
d. Beri support mental dan ajak keluarga
dalam memberikan support

d.

Klien merasa masih ada orang yang


masih peduli sama klien

DAFTAR PUSTAKA
A.Price, Sylvia. (2006). Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC.
Doengoes, Marylinn. E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta:EGC

Lowdermilk, Perta. (2005). Maternity Womens Health Care. Seventh edit.


Mansjoer, Arief dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Manuaba. (2008). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana.
Jakarta:EGC.
Mc Closky & Bulechek. (2000). Nursing Intervention Classification (NIC). United States of
America:Mosby.
Meidian, JM. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of
America:Mosby.
William Helm, C. Ovarian Cysts. (2005). American College of Obstetricians and
Gynecologists ( cited 2005 September 16 ). Available at http://emedicine.com
Winknjosastro, Hanifa. (2005). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN FIMOSIS


1.

PENGERTIAN
Fimosis adalah suatu penyempitan lubang kulit preputium, sehingga
tidak dapat ditarik (diretraksi) ke atas glans penis.

Fimosis adalah suatu keadaan dimana kulit penis (prepusium) melekat


pada bagian glans penis dan mengakibatkan tersumbatnya lubang saluran
ais seni sehingga bayi kesulitan dan kesakitan saat berkemih.
Fimosis adalah keadaan di mana kulit penis (preputium) melekat pada
bagian kepala penis (glans) dan mengakibatkan tersumbatnya lubang saluran
air seni, sehingga bayi dan anak jadi kesulitan dan kesakitan saat kencing.
1.

ETIOLOGI
Fimosis dapat terjadi karena infeksi bakteri di daerah preputium.

1.

PATOFISIOLOGI
Pada bayi, preputium normalnya melekat pada glans tapi sekresi
materi subaseum kental secara bertahap melonggarkannya. Menjelang umur
5 tahun, preputium dapat ditarik ke atas glans penis tanpa kesulitan atau
paksaan.
Tapi karena adanya komplikasi sirkumsisi, dimana terlalu banyak
prepusium tertinggal, atau bisa sekunder terhadap infeksi yng timbul di
bawah prepusium yang berlebihan. Sehingga pada akhirnya, prepusium
menjadi melekat dan fibrotik kronis di bawah prepusium dan mencegah
retraksiMANIFESTASI KLINIS

a. Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin


b. Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat
mulai miksi yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut
disebabkan oleh karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam
ruangan yang dibatasi oleh kulit pada ujung penis sebelum keluar melalui
muaranya yang sempit.
c. Biasanya bayi menangis dan mengejan saat BAK karena timbul rasa sakit.
d. Kulit penis tak bias ditarik kea rah pangkal ketika akan dibersihkan
e. Air seni keluar tidak lancer. Kadang-kadang menetes dan kadang-kadang
memancar dengan arah yang tidak dapat diduga
f. Bisa juga disertai demam
g. Iritasi pada penis
1.

PEMERIKSAAN PENUJANG
Sampai saat ini tidak ada pemeriksaa penunjang untuk fimosis.

1.

PENGOBATAN ATAU TERAPI

Tidak menarik prepusium ke belakang secara paksa karena bisa


menyebabkan infeksi.Menjaga personal hygiene terutama penis dan tidak
mencuci penis dengan banyak sabun. Melakukan sirkumsisi (khitan),
sebaiknya sirkumsisi dilakukan sebelum bayi berumur 7 tahun.
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1.

PENGKAJIAN

a. Auto anamnesa
b. Pengkajian fisik
1) Keadaan umum pasien.
2) Tanda tanda infeksi
c. Pemeriksaan penunjang
Sampai saat ini pada pasien fimosis belum ada pemeriksaan penunjang.
1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Diagnosa keperawatan pre op


1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kurangnya perawatan penis
3) Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan infeksi pada saluran
perkemihan
b. Diagnosa keparawatan post op
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi
1.

FOKUS INTERVENSI

a. Diagnosa keperawatan pre op


1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
diharapkan nyeri dapat berkurang atau hilang dengan
K.H : Pasien terlihat tenang
Intervensi :

a) Kaji skala nyeri

b) Ajarkan teknik distrksi kepada orang tuanya


c) Atur posisi anak senyaman mungkin
d) Berikan lingkungan yang nyaman
e) Kaloborasi dengan pemberian analgesik
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kurangnya perawatan penis
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan
faktor resiko infeksi akan hilang dengan
K.H :
tidak adanya tanda tanda infeksi
Menunjukan hygiene pribadi yang adekuat
Intevensi :
a) kaji tanda tanda infeksi
b) Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi
c) Anjurkan kepada ibu pasien untuk meningkatkan hygiene pribadi pasien
d) Ajarkan teknik pencucian tangan yang benar kepada keluarga
e) Anjurkan keluarga untuk mencuci tangan sebelum ingin kontak langsung
dengan pasien
f) Kaloborasi dengan pemberian antibiotik
3) Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan infeksi pada saluran
perkemihan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan
gangguan pola eliminasi urin dapat di atasi dengan
K.H :
pasien dapat berkemih > 50 100 cc setiap kali
Tidak adanya hematuria
Intervensi :
a) Pantau eliminasi urine meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume dan warna
yang tepat
b) Anjurkan kepada keluarga untuk mencatat haluaran urine
c) Kaloborasi dengan dokter untuk segera disunat

b. Diagnosa keparawatan post op


1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan nyeri
dapat berkurang atau hilang dengan
K.H : Pasien terlihat tenang
Intervensi :
a) Kaji skala nyeri
b) Ajarkan teknik distrksi kepada orang tuanya
c) Atur posisi anak senyaman mungkin
d) Berikan lingkungan yang nyaman
e) Kaloborasi dengan pemberian analgesik
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan
faktor resiko infeksi akan hilang dengan
K.H :
Tidak adanya tanda tanda infeksi
Menunjukan hygiene pribadi yang adekuat
Intevensi :
a) Kaji tanda tanda infeksi
b) Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi
c) Anjurkan kepada ibu pasien untuk meningkatkan hygiene pribadi pasien
d) Ajarkan teknik pencucian tangan yang benar kepada keluarga
e) Anjurkan keluarga untuk mencuci tangan sebelum berkontak dengan pasien
f) Kaloborasi dengan pemberian antibiotik

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer. C. Suzanne. Bare. G. Brenda.2001.Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth edisi 8 vol 3.Jakarta : EGC
Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006.Ahli Bahasa Budi
Santosa. Jakarta: Prima Medika
Wilkinson. M. Judith. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan
Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC

ASUHAN KEPERAWATAN
HEMOROID
A. DEFINISI

Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus
yang berasal dari plexus hemorrhoidalis.
Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi di dalam kanal anal. Hemoroid
sangat umum terjadi. Pada usia 50-an, sekitar 50 % individu mengalami berbagai tipe
hemoroid berdasarkan luasnya vena yang terkena.
Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu hemoroid interna yang terjadi
diatas sfingter anal dan hemoroid eksternal yang terjadi diluar sfingter anal.
B. PATOGENESIS

Hemoroid timbul karena dilatasi, pembengkakan, atau inflamasi vena hemoroidalis


yang disebabkan oleh faktor-faktor risiko/pencetus. Faktor risiko hemoroid antara lain
mengejan pada saat buang air besar yang sulit, pola buang air besar yang salah (lebih
banyak memakai jamban duduk, terlalu lama duduk di jamban sambil membaca),
peningkatan tekanan intra abdomen yang disebabkan oleh tumor (tumor usus, tumor
abdomen), kehamilan (disebabkan karena tekanan janin pada abdomen dan perubahan
hormonal), usia tua, konstipasi kronik, diare kronik atau diare yang berlebihan, hubungan
seks per-anal, kurang minum air, kurang makan makanan berserat (sayur dan buah),
kurang olahraga/imobilisasi.
C. PATOFISIOLOGI

Hemoroid adalah bantalan jaringan ikat dibawah lapisan epitel saluran anus.
Sebagai bantalan, maka ia berfungsi untuk:

Mengelilingi dan menahan anastomosis antara arteri rektalis superior


dengan vena rektalis superior, media, dan inferior.

Mengandung lapisan otot polos di bawah epitel yang membentuk masa


bantalan.

Memberi informasi sensorik penting dalam membedakan benda padat,


cair, atau gas.

Secara teoritis, manusia memiliki tiga buah bantalan pada posterior kanan,
anterior kanan, dan lateral kiri.

Kelainan-kelainan bantalan yang terjadi adalah pembesaran, penonjolan keluar,


trombosis, nyeri, dan perdarahan yang kemudian disebut/menjadi ciri dari hemoroid.

D. KLASIFIKASI

Hemoroid diklasifikasikan menjadi hemoroid eksterna dan interna.


Hemoroid interna dibagi berdasarkan gambaran klinis, yaitu:
1) Derajat I: bila terjadi pembesaran hemoroid yang tidak prolaps keluar
kanal anus. Hanya dapat dilihat dengan anorektoskop;
2) Derajat II: pembesaran hemoroid yang prolaps dan menghilang atau
masuk sendiri ke dalam anus secara spontan.
3) Derajat III: pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk lagi ke
dalam anus dengan bantuan dorongan jari.
4) Derajat IV: prolaps hemoroid yang permanen, rentan, dan cenderung
untuk mengalami trombosis atau infark.

Untuk melihat risiko perdarahan, hemoroid dapat dideteksi olek adanya stigmata
perdarahan berupa bekuan darah yang masih menempel, erosi, kemerahan di atas
hemoroid.
E. PENEGAKAN DIAGNOSIS

Diagnosis hemoroid ditegakkan berdasarkan anamnesis keluhan klinis dari


hemoroid berdasarkan klasifikasi hemoroid (derajat I sampai dengan derajat IV) dan
pemeriksaan anoskopi dan kolonoskopi. Untuk memastikan, diperlukan pemeriksaan
rontgen barium enema atau kolonoskopi total.
F. MANIFESTASI KLINIS

Hemoroid menyebabkan tanda dan gejala:


Rasa gatal dan nyeri
Perdarahan berwarna merah terang pada saat BAB
Pada hemoroid eksternal, sering timbul nyeri hebat akibat inflamasi dan
edema yang disebabkan oleh trombosis (pembekuan darah dalam
hemoroid) sehingga dapat menimbulkan iskemia dan nekrosis pada area
tersebut.
G. ETIOLOGI

Penyebab terjadinya hemoroid antara lain:

1) Terlalu banyak duduk


2) Diare menahun/kronis
3) Kehamilan: disebabkan oleh karena perubahan hormon
4) Keturunan penderita wasir
5) Hubungan seks tidak lazim (perianal)
6) Penyakit yang membuat penderita mengejan
7) Sembelit/ konstipasi/ obstipasi menahun
8) Penekanan kembali aliran darah vena
9) Melahirkan
10)

Obesitas

11)

Usia lanjut

12)

Batuk berat

13)

Mengangkat beban berat

14)

Tumor di abdomen/usus proksimal

H. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan hemoroid terdiri dari penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan


bedah.
1) Penatalaksanaan Medis

Ditujukan untuk hemoroid interna derajat I sampai III atau semua derajat hemoroid
yang ada kontraindikasi operasi atau klien yang menolak operasi.
a. Non-farmakologis

Bertujuan untuk mencegah perburukan penyakit dengan cara memperbaiki


defekasi.
Pelaksanaan berupa perbaikan pola hidup, perbaikan pola makan dan minum,
perbaikan pola/cara defekasi. Perbaikan defekasi disebut Bowel Management
Program (BMP) yang terdiri atas diet, cairan, serat tambahan, pelicin feses, dan
perubahan perilaku defekasi (defekasi dalam posisi jongkok/squatting). Selain itu,
lakukan tindakan kebersihan lokal dengan cara merendam anus dalam air selama
10-15 menit, 2-4 kali sehari. Dengan perendaman ini, eksudat/sisa tinja yang

lengket dapat dibersihkan. Eksudat/sisa tinja yang lengket dapat menimbulkan


iritasi dan rasa gatal bila dibiarkan.
b. Farmakologi

Bertujuan memperbaiki defekasi dan meredakan atau menghilangkan keluhan dan


gejala.
Obat-obat farmakologis hemoroid dapat dibagi atas empat macam, yaitu:
1) Obat yang memperbaiki defekasi

Terdapat dua macam obat yaitu suplement serat (fiber suplement) dan pelicin
tinja (stool softener). Suplemen serat komersial yang yang banyak dipakai
antara lain psylium atau isphaluga Husk (ex.: Vegeta, Mulax, Metamucil,
Mucofalk) yang berasal dari kulit biji plantago ovate yang dikeringkan dan
digiling menjadi bubuk. Obat ini bekerja dengan cara membesarkan volume
tinja dan meningkatkan peristaltik usus. Efek samping antara lain ketut dan
kembung. Obat kedua adalah laxant atau pencahar (ex.: laxadine, dulcolax,
dll).
2) Obat simptomatik

Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri,


atau kerusakan kulit di daerah anus. Jenis sediaan misalnya Anusol, Boraginol
N/S dan Faktu. Sediaan yang mengandung kortikosteroid digunakan untuk
mengurangi radang daerah hemoroid atau anus. Contoh obat misalnya
Ultraproct, Anusol HC, Scheriproct.
3) Obat penghenti perdarahan

Perdarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya vena
hemoroid yang dindingnya tipis. Psyllium, citrus bioflavanoida yang berasal
dari jeruk lemon dan paprika berfungsi memperbaiki permeabilitas dinding
pembuluh darah.
4) Obat penyembuh dan pencegah serangan

Menggunakan Ardium 500 mg dan plasebo 32 tablet selama 4 hari, lalu 22


tablet selama 3 hari. Pengobatan ini dapat memberikan perbaikan terhadap
gejala inflamasi, kongesti, edema, dan prolaps.
c. Minimal Invasif

Bertujuan untuk menghentikan atau memperlambat perburukan penyakit dengan


tindakan-tindakan pengobatan yang tidak terlalu invasif antara lain skleroterapi
hemoroid atau ligasi hemoroid atau terapi laser. Dilakukan jika pengobatan
farmakologis dan non-farmakologis tidak berhasil.

2) Penatalaksanaan Tindakan Operatif

Ditujukan untuk hemoroid interna derajat IV dan eksterna atau semua derajat
hemoroid yang tidak berespon terhadap pengobatan medis.
Prosedur ligasi pita karet
Hemoroidektomi kriosirurgi
Laser Nd: YAG
Hemoroidektomi
3) Penatalaksanaan Tindakan non-operatif
Fotokoagulasi inframerah, diatermi bipolar, terapi laser adalah tekhnik
terbaru yang digunakan untuk melekatkan mukosa ke otot yang
mendasarinya
Injeksi larutan sklerosan juga efektif untuk hemoroid berukuran kecil
dan berdarah. Membantu mencegah prolaps.

Nursing Assesment:
Personal Hygiene yang baik terutama didaerah anal
Menghindari mengejan selama defekasi
Diet tinggi serat
Bedrest/tirah baring untuk mengurangi pembesaran hemoroid
I. PENCEGAHAN

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hemoroid antara lain:
1) Jalankan pola hidup sehat
2) Olah raga secara teratur (ex.: berjalan)
3) Makan makanan berserat
4) Hindari terlalu banyak duduk
5) Jangan merokok, minum minuman keras, narkoba, dll.
6) Hindari hubunga seks yang tidak wajar
7) Minum air yang cukup

8) Jangan menahan kencing dan berak


9) Jangan menggaruk dubur secara berlebihan
10)

Jangan mengejan berlebihan

11)

Duduk berendam pada air hangat

12)

Minum obat sesuai anjuran dokter

J. ASUHAN KEPERAWATAN
1) Pengkajian
a) Aktivitas/ istirahat

Gejala : kelemahan, kelelahan, malaise,cepat lelah, insomnia, tidak tidur


semalaman karena diare, gelisah, ansietas, penbatasan aktivitas/ kerja sehubungna
dengna efek proses penyakit
b) Sirkulasi

Tanda : takipnea( respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi dan nyeri,
kemerahan, ekimosis)
c) Eliminasi

Gejala : perubahn pola defekasi, defekasi berdarah/ pus / mukosa dengan atau
tanpa keluar feses perdarahan perectal
Tanda : nyeri tekan abdomen, distensi, menurunnya bising usus, tidak ada
peristaltik
d) Makanan/cairan

Gejala : anoreksia, mual muntah, penurunan BB, nyeri ulu hati


Tanda : muntah, berat urin meningkat, kelemahan, tonus otot dan turgor kulit
buruk
e) Higiene

Tanda : ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri


f) Nyeri / kenyamanan

Gejala : rasa ketidaknyaman, nyeri saat defekasi.


Tanda : Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, berkeringat

g) Sirkulasi

Tanda : hipotensi, takikardi, disritmia, kelemahan, warna kulit lambat


2) Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri akut berhubungan dengan gangguan pada jaringan kulit
b) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerantanan bakteri sekunder
terhadap luka
c) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kekurangan suply O2 dengan
kebutuhan
d) Resiko tinggi kekurangan volume caiaran
kehilangan berlebihan melalui hemoragik

berhubungan

dengan

e) Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan penurunan peristaltik


usus.
f) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus.

INTERVENSI DAN RASIONALISASI


1.

Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan kulit .

Kriteria Hasil :
a. Keluhan nyeri berkurang
b.Pasien dapat beristirahat tidur.
c. Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan
Intervensi dan Rasionalisasi

Intervensi
Rasionalisasi
ansietas.
Intervensi

: mengkaji nyeri, karakteristik, intensitas dengan skala 1-10


:membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan, mengurangi

: mengkaji TTV dan KU pasien

Rasionalisasi

: menurunkan ansietas dapat meningkatkan relaksasi.

Intervensi

: membantu melakukan rentang gerak dan dorong ambulasi dini.

Rasionalisasi
normal.

:menurunkan kekakuan otot, ambulasi mengembalikan ke posisi

Intervensi

:mengkaji ulang factor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.

Rasionalisasi

:membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi.

Intervensi

: berikan rendam duduk dengan tepat

Rasionalisasi
peri ana

:meningkatkan kebersihan dan kenyamanan adanya iritasi fiseral

2.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerentanan bakteri sekunder terhadap
luka
Kriteria Hasil :
Pasien menunjukkan penyembuhan luka utuh
Jaringan tampak bergranulasi
Bebas tanda-tanda infeksi.
Intervensi dan Rasionalisasi :
Intervensi

: memantau TTV dan perhatikan peningkatan suhu

Rasionalisasi
: suhu meningkat pada malam harii memuncak dan kembali ke
normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi
Intervens

: observasi adanya inflamasi.

Rasionalisasi

: perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan

Intervensi

: observasi adanya gejala peritonitis

Rasionalisasi

: peritonitis dapat terjadi bila usus terganggu.

Intervensi

: memberikan obat sesuai dengan indikasi (antibiotic)

Rasionalisasi

: diberikan secara prolaktik dan untuk mengatasi infeksi.

Intervensi

: melakukan irigasi luka sesuai dengan kebutuhan.

Rasionalisasi

: mengatasi infeksi bila ada.

3.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kekurangan suply O2dengan
kebutuhan
Kriteria Hasil :
Menunjukkan tehnik/ perilaku yang mampu kembali melakukan aktivitas.
Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
Intervensi dan Rasionalisasi :
Intervensi
yang tenang.

: meningkatkan tirah baring/duduk dan memeberikan lingkungan

Rasionalisasi

: meningkatkan istirahat dan ketenangan

Intervensi

: mengubah posisi dengan sering.

Rasionalisasi

: menurunkan resiko kerusakan jaringan.

Intervensi

: meningkatkan aktivitas sesuai toleransi.

Rasionalisasi

: tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan.

Intervensi

: melakukakn tugas dengan cepat dan sesuai indikasi.

Rasionalisasi

: memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan.

Intervensi

: memberikan aktivitas hiburan yang tepat

Rasionalisasi

: meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.

4.
Resiko tinggi kekurangan volume caiaran berhubungan dengan kehilangan
berlebihan melalui hemoragik
Kriteria Hasil :
Mempertahankan keseimbangan cairan

Turgor kulit baik


Hidrasi adekuat dibuktikan oleh menbran mukosa lembab
Intervensi dan Rasionalisai :
Intervensi

: mengawasi masukan dan haluaran

Rasionalisasi
: fungsi ginjal dan control penyakit usus juga merupakan pedoman
untuk penggantian cairan.
Intervensi

: mengkaji TTV

Rasionalisasi

:hipotensi, demam dapat menunjukan efek kehilangan cairan

Intervensi

: observasi kulit kering berlebihan dan membrane mukosa

Rasionalisasi

: kehilangan cairan yang berlebihan

Intervensi

: observasi perdarahan dan tes feses setiap hari

Rasionalisasi
: diet tak adekuat dan penurunan absorpsi menimbulkan defisiensi
dan vitamin K, potensial resiko perdarahan
Intervensi

: mengukur BB setiap hari

Rasionalisasi

: indicator cairan dan status nutrisi

Intervensi

: memberikan cairan sesuai indikasi

Rasionalisasi

: penggantian cairan tergantung pada derajat hipovolemia

5.

Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus.

Kriteria Hasil :
Mempertahankan pola fungsi usus normal
Intervensi dan Rasionaisasi
Intervensi

: auskultasi bising usus

Rasionalisasi
: kembalinya fungsi GI mungkin terlambat oleh efek depresan, dari
anestesi dan obat-obatan. Adanya bunyi abnormal menunjukan adanya komplikasi.
Intervensi

: selidi keluhan abdomen

Rasionalisasi

: mungkinberhubungan dengan distensi gas

Intervensi

: observasi gerakan usus, perhatikan warna, konsistensi dan jumlah

Rasionalisasi
intervensi

6.

:indicator kembalinya fungsi GI, mengidentifikasi ketepatan

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus.

Kriteria Hasil :
Menunjukkan jaringan atau kulit utuh yang bebas akskoriasi.
Melaporkan tak ada atau penurunan pruritus.
Intervensi dan Rasionalisasi :
Intervensi

: catat iritasi, kemerahan, ukur daerah pruritus

Rasionalisasi

: memantau proses penyembuhan

Intervensi

: berikan pelindung kulit yang efektif

Rasionalisasi

: mencegah trauma dan melindungi kulit

Intervensi

: selidiki keluhan rasa terbakar / gatal

Rasionalisasi

: memerlukan tindakan intervensi

Intervensi

: berikan sprei kortikosteroid dan bedak nistatinn sessui indikasi

Rasionalisasi

: membantu penyembuhan

DAFTAR PUSTAKA

Leff, E: Hemorrhoidectomy Laser vs non-laser: out patient surgical experience at:


www.medscape.com.
Keigley MRB. 2001. Hemorrhoidal Disease in Surgery of the Anus, Rectum and Colon,
2nd edition. WB Saunders: London.

Iwagaki: The Laser Treatment of Hemorrhoids: result of a study on 1816 patients in


Surgery Today, vol 19 on 6 November 1989.
Gurley, D: hemorrhoid at: www.emedicine.com.
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta.
(Doenges, 1999; 455-457)
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid I edisi IV.