Anda di halaman 1dari 17

TRADISI TINGKEBAN DALAM MASYARAKAT KEDIRI

JAWA TIMUR

Disusun untuk Memenuhi Persyaratan


Perbaikan Nilai Mata Kuliah
Bahasa dan Sastra

Oleh:
Zulaihah (1301225006)

PRODI SASTRA JAWA KUNO


FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

DAFTAR ISI
BAB I
A. Pendahuluanii
B. Rumusan Masalahiii
C. Tujuan......iii
BAB II
Pembahasan...1
A. Sejarah munculnya Tingkeban..1
B. Perlengkapan Upacara Tingkeban2
C. Rangkaian Acara Tingkeban..4
BAB III
Simpulan.7
Daftar Pustaka9
Lampiran-Lampiran10

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tingkeban

sebagai salah satu dari keberagaman budaya Bangsa Indonesia,

sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Kediri Jawa Timur. Menurut ilmu sosial
dan budaya, mitoni dan ritual-ritual lain yang sejenis adalah suatu bentuk inisiasi, yaitu
sarana yang digunakan guna melewati suatu kecemasan. Dalam hal ini, kecemasan
calon orang tua terhadap terkabulnya harapan mereka baik selama masa mengandung,
ketika melahirkan, bahkan harapan akan anak yang terlahir nanti. Maka dari itu,
dimulai dari nenek moyang terdahulu yang belum mengenal agama, menciptakan
suatu ritual yang syarat akan makna tersebut, dan hingga saat ini masih diyakini oleh
sebagian masyarakat Kediri.
Sedemikian rumitnya ritual Tingkeban, hingga memerlukan tenaga, pikiran,
bahkan materi baik dalam persiapan maupun ketika pelaksanaannya. Semua tahaptahap tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai tahap-tahap yang harus dilalui. Mulai
dari pemilihan hari dan tanggal pelaksanaan saja harus memenuhi syarat dan ketentuan
yang ada. Persiapan yang tidak sedikit jumlahnya tentu membutuhkan dana yang tidak
sedikit pula. Dalam persiapannya, khususnya yang berupa makanan ada yang
memerlukan waktu hingga tiga hari sebelum pelaksanaan acara, seperti jenang dodol
Dari beberapa pemaparan di atas, penulis memilih judul tersebut karena
merupakan tradisi warisan leluhur yang masih dianggap sangat sakral.

ii

B. Rumusan Masalah
1. Seperti apa sejarah munculnya Tingkeban itu?
2. Apa saja perlengkapannya serta bagaimana prosesinya?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah munculnya upacara Tingkeban.
2. Untuk mengetahui hal-hal yang disiapkan serta jalannya upacara Tingkeban.

iii

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Munculnya Tingkeban
Tingkeban menurut cerita yang dikembangkan turun-temurun secara lisan,
memang sudah ada sejak zaman dahulu.Menurut cerita asal nama Tingkeban adalah
berasal dari nama seorang ibu yang bernama Niken Satingkeb, yaitu istri dari Ki Sedya.
Mereka berdua memiliki sembilan orang anak akan tetapi kesembilan anaknya tersebut
selalu mati pada usia dini. Berbagai usaha telah mereka jalani, tetapi tidak pula
membuahkan hasil. Hingga suatu saat mereka memberanikan diri untuk menghadap
kepada Kanjeng Sinuwun Jayabaya.
Jayabaya akhirnya menasehati mereka agar menjalani beberapa ritual. Namun
sebagai syarat pokok, mereka harus rajin manembah mring Hyang Widhi laku
becik,welas asih mring sapada, menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan
khusyu, dan senantiaasa berbuat baik welas asih kepada sesama. Selain itu, mereka
harus mensucikan diri, mandi dengan menggunakan air suci yang berasal dari tujuh
sumber air. Kemudian berpasrah diri lahir batin dengan dibarengi permohonan kepada
Gusti Allah,apa yang menjadi kehendak mereka, terutama untuk kesehatan dan
kesejahteraan si bayi. Supaya mendapat berkah dari Gusti Allah, dengan menyertakan
sesaji yang diantaranya adalah takir plontang, kembang setaman, serta kelapa gading
yang masih muda.
Setelah serangkaian ritual yang dianjurkan oleh Raja Jayabaya, ternyata Gusti Kang
Murbeng Dumadi yaitu Gusti Allah mengabulkan permohonan mereka. Ki Sedya dan
Niken Satingkeb mendapat momongan yang sehat dan berumur panjang. Untuk
mengingat nama Niken Satingkeb, serangkaian ritual tersebut ditiru oleh para generasi
selanjutnya hingga sekarang dan diberi nama Tingkeban Dengan harapan mendapat
kemudahan dan tidak ada halangan selama hamil, melahirkan, hingga si anak tumbuh
dewasa. Atas dasar inilah akhirnya hingga kini ritual tingkeban tetap dilaksanakan
bahkan menjadi suatu keharusan bagi masyaraka Jawa khususnya di daerah Kediri dan
sekitarnya.

B. Perlengkapan Upacara Tingkeban


Dahulu masyarakat Kediri mengenal tiga teradisii yang harus dilaksanakan
selama masa mengandung. Ketiga teradisi tersebut adalah tradisi Neloni, Tingkeban
atau Rujakan dan Procotan. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, ketiga tradisi
tersebut diringkas secara pelaksanaannya menjadi satu, yaitu ketika waktu Tingkeban
atau tujuh bulan. Walaupun diringkas secara waktu tetapi ubo rampe atau piranti yang
harus disiapkan dari tiap-tiap ritual tetap disediakan.
Jauh-jauh hari sebelum usia kandungan memasuki tujuh bulan, calon orang tua
bayi harus mementukan hari yang baik sesuai petungan Jawa atau keberuntungan,
Selain penentuan hari yang ada aturannya, segala sesajian atau piranti juga sangat
dibutuhkan. Masing-masing ritual ada piranti sendiri-sendiri yang beraneka ragam.
Semua

piranti

tersebut

disediakan

bukan

tanpa

maksud.

Dari

sumuanya

memiliki werdi atau makna sendiri-sendiri. Piranti yang diperlukan saat upacara
tingkeban, diantaranya :
1.

Tingkeban

Tujuh bulan dari Woh-wohan


masa kehamilan

Punar 2 buah
Kembang setaman
Sesaji dakripin(Suro ganep)
Daun dadap srep
Daun beringin
Daun andong
Janur
Mayang
Jenang abang
Jenang putih
Jenang kuning
Jenang ireng

Jenang waras
Jenang sengkolo

Sebelum acara dimulai sesepuh desa menata beberapa lembar kain jarit batik di
tengah rumah shohibul hajat. Secangkir air putih dan kelapa muda serta sebuah sabitr
besar diletakkan di depan pintu. Sedangkan di sisi pintu luar tepatnya di teras rumah
telah menunngu orang tua shohibul hajat dengan membawa lemper dan bumbu
rujak.Setelah semua siap dan waktu pelaksanaannya tiba, kedua shohibul hajat masuk
ke rumah dan duduk bersanding di atas kain jari yang telah tertata.
Sesepuh desa membaca beberapa mantra dan mengajari beberapa kalimat untuk
ducapkan oleh shohibul hajat.Salah satu penggalan kalimat tersebut adalah Niat
ingsun nylameti jabang bayi, supaya kalis ing rubeda, nir ing sambikala, saka
kersaning Gusti Allah. Dadiyo bocah kang bisa mikul dhuwur mendhem jero wong
tuwa, migunani mring sesama,ambeg utama, yen lanang kadya Raden Kamajaya,
yen wadon kadya Dewi Kamaratih kabeh saka kersaning Gusti.
Usai prosesi tersebut keduanya berjalan keluar rumah dengan larangan tidak
boleh menengok ke belakang. Sesampainya di depan pintu, calon bapak memecah
kelapa muda dengan sabit yang dibarengi dengan calon ibu menyampar cangkir.
Upacara ini disebut juga upacara brojolan, yaitu memasukkan sepasang kelapa gading
muda yang telah digambari Kamajaya dan Kamaratih atau Arjuna dan Sembadra ke
dalam sarung dari atas perut calon ibu. Makna simbolis dari upacara ini adalah agar
kelak bayi lahir dengan mudah tanpa kesulitan.

Di sisi lain nenek dari jabang bayi tersebut menumbuk bumbu rujak yang telah
disiapkan hingga halus. Usai menyampar cangkir dan memecah kelapa muda, keduanya
mandi dan kembali ke dalam rumah melalui pintu utama. Sesampainya di dalam rumah
akan dilanjut dengan prosesi ganti busana. Prosesi ini dilakukan oleh calon ibi dengan
tujuh jenis kain batik dengan motif yang berbeda. Ibu akan memakai model kain yang
terbaik dengan harapan agar kelak si bayi juga memiliki kebaikan-kebaikan yang
tersirat dalam lambang kain.
3

Jenis Kain dan Maknanya.


No

Jenis Kain Batik

Maknanya

Sidomukti

Kebahagiaan

Sidoluhur

Kemuliaan

Truntun

Nilai-nilai yang selalu dipegang teguh

Parang Kusuma

Perjuangan untuk hidup

Semen Rama

Akan lahir anak yang cinta kasih kepada orang


tua yang sebentar lagi akan menjadi bapak dan
ibu tetap bertahan selama-lamanya.

Udan Riris

Anak yang akan lahir akan menyenagkan


dalam kehadirannya di masyarakat

Cakar Ayam

Anak yang lahir dapat mandiri dan memenuhi


kebutuhannya sendiri.

Bumbu rujak yang telah dihaluskan oleh calon nenek jabang bayi tersebut
selanjutnya dibawa ke dapur untuk segera dicampur dengan beberapa buah-buahhn
dan dihidangkan kepada para undangan.
Tak lama berselang dari prosesi inti yaitu tingkeban maka langsung melanjutkan
prosesi terakhir. Dalam prosesi ini semua piranti dihidangkan di hadapan undangan,
setelah tersaji sesepuh desa ngujubne dan di saksikan oleh undangan dengan menjawab
kalimat- kalimat sesepuh tersebut dengan kata nggeh. Seusai prosesi tersebut di
akhiri dengan doa dan memakan hidangan yang ada.
C. Rangkaian Acara Tingkeban
1. Pembacaan Ayat Suci Al Quran
2. Sungkeman
Sungkeman ini dilakukan oleh istri kepada suami dan dilanjutkan oleh
suami istri pada orangtuanya

3. Siraman
Siraman ini dilakukan kepada calon orang tua jabang bayi dengan air dari 7 sumber
dan dilakukan oleh tujuh orang sesepuh keluarga. Gayung yang dipakai untuk siraman
ini terbuat dari kelapa yang masih ada dagingnya dan bagian dasarnya diberi lobang.
Setelah siraman si calon ibu dpakaikan kain 7 warna, yang melambangkan sifat-sifat
baik yang akan dibawa oleh jabang bayi dalam kandungan.
4. Pantes-pantes (Ganti Busana 7 kali)
Dalam acara pantes-pantes ini calon ibu dipakaikan kain dan kebaya 7 macam.
Kain dan kebaya yang pertama sampai yang ke enam merupakan busana yang
menunjukkan kemewahan dan kebesaran. Ibu-ibu yang hadir saat ditanya apakah si
calon ibu pantas menggunakan busana-busana tersebut menberikan jawaban : dereng
Pantes (belum pantas). Setelah dipakaikan busana ke tujuh yang berupa kain lurik
dengan motif sederhana baru ibu-ibu yang hadir menjawab : pantes (pantas). Di sini
merupakan perlambang bahwa ibu yang sedang mengandung sebiknya tidak
memikirkan hal yang sifatnya keduniawian dan berpenampilan bersahaja.
5. Tigas Kendit
Calon ibu kemudian diikat perutnya (dikenditi) dengan janur kuning. Ikatan
janur ini harus dipotong (ditigas) oleh calon ayah si bayi untuk membuka ikatan yang
menghalangi lahirnya si jabang bayi. Ikatan tersebut dipotong dengan keris yang
ujungnya diberi kunyit sebagai tolak bala.

6. Brojolan
Dalam acara brojolan ini, dua buah Cengkir gading (kelapa gading muda) yang
telah diberi gambar wayang (biasanya gambar Betara Kamajaya-Dewi Ratih atau
Harjuna Sembadra) dimasukkan oleh calon ayah melalui perut calon ibu dan diterima
oleh nenek jabang bayi. Harapan dari acara ini adalah supaya si jabang bayi yang lahir
memiliki fisik dan sifat seperti tokoh wayang tersebut.
7. Angrem
5

Di sini Calon Ibu duduk di tumpukan kain yang tadi digunakan dalam acara
Pantes-pantes seperti ayam betina yang sedang mengerami telurnya. Harapannya
adalah agar si jabang bayi dapat lahir cukup bulan.
8. Dhahar Ajang Cowek
Di sini calon ayah duduk mendamping calon ibu di tumpukan kain dan berdua
mengambil makanan yang disediakan dengan alas makan cowek (cobek)dan mereka
berdua memakannya sampai habis. Harapannya adalah supaya plasenta bayi menjadi
sehat sehingga si jabang bayi dapat bertumbuh dengan sehat.
Calon ayah si bayi kemudian menjatuhkan tropong (alat tenun tradisional ) di
sela kain 7 warna yang melambangkan proses kelahiran si bayi kelak yang berjalan
lancar dan sempurna.

BAB III
SIMPULAN
Berdasarkan uraian panjang di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tingkeban
adalah suatu bentuk inisiasi masyarakat pada jaman dahulu, yang mengharapkan
dikaruniai anak yang seperti diharapkan serta memperoleh kelancaran baik ketika
mengandung maupun saat melahirkan. Tradisi ini dipercaya berawal pada masa
Jayabaya yang di wariskan turun temurun hingga sekarang dan ditaati oleh sebagian
besar masyarakat Jawa Timur, khususnya Kediri.
Tingkeban merupakan rangkaian upacara siklus hidup yang sampai saat ini
masih dilakukan oleh sebagian masyarakat jawa. Upacara tingkeban merupakan suatu
adat kebiasaan atau suatu upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan
pertama seorang perempuan dengan tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu
yang mengandung senantiasa memperoleh keselamatan. Pada hakekatnya upacara ini
dipercaya sebagai sarana menghilangkan petaka.
Upacara adat 7 bulanan yang disebut tingkeban ini mengajarkan kepada
masyarakat untuk saling kerjasama menghargai terhadap sesama.tidak hanya itu,
tingkeban ini mengangkat berbagai macam kain-kain yang dipakai oleh calon ibu yang
mempunyai makna masing-masing. Dari makna-makna tersebut kita dapat mengambil
pelajaran, yaitu kita sebagai manusia makhluk ciptaan Tuhan hendaknya harus cermat
serta harus merencanakan bagaimana kita hidup di dunia ini yang penuh dengan
kesenangan ataupun sendau gurau dan lainnya. Jika kita sebagai manusia hidup di
dunia ini tidak mempunyai tujuan hidup yaitu akhirat, alangkah menyesalnya kita
sebagai manusia. Oleh sebab itu kita harus mempunyai rencana- rencana maupun
7

target-target hidup di masa mendatang kelak, sehingga kita menjadi manusia yang
sukses tidak hanya di dunia namun di akherat pun juga. Dalam prosesi tingkeban juga
dijelaskan bahwa yang memimpin upacara adalah ibu yang sudah berpengalaman,
disini bisa dilihat bahwa dalam suatu acara maupun kepanitiaan maupun
kepemerintahan, sudah tentu kita hendaknya memilih seseorang yang lebih mengerti
maupun lebih berpengalaman untuk memimpin suatu kelompok.
Upacara tingkeban merupakan adat, tradisi dan budaya bangsa Indonesia,
khususnya masyarakat yang ada di pulau Jawa dan terlebih lagi bagi masyarakat di
Jawa Timur,maupun di Daerah Istimewa Yogjakarta.
Pada dasarnya Tingkeban merupakan ritual yang bernilai sakral dan bertujuan
sangat mulia. Karena di dalam ritual Tingkeban terdapat permohonan doa kepada
Tuhan atau Guti Allah.

DAFTAR PUSTAKA
1.. http://www.jelajahbudaya.com
2. . Betaljemur Adimmakna. Yogyakarta: Soemodidjaja Mahadewa, 1880.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(Gambar yang ada di buah kelapa saat upacara tingkeban dilaksanakan)


7 Motif Kain yang digunakan sang Ibu dalam upacara Tingkeban

Sido Mukti

10

Sido luhur

Truntun

11

Parang Kusuma

Semen Rama

12

Udan Riris

Cakar Ayam

13