Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus yang terdiri dari sel sel
jaringan otot polos, jaringan ikat fibroid dan kolagen.1 Mioma uteri juga dikenal
dengan sebutan fibromioma uteri, uterine fibroid, atau leiomioma uteri. Mioma
uteri berbatas tegas, tidak berkapsul, dan berasal dari otot polos jaringan fibrous
sehingga mioma uteri dapat berkonsistensi padat jika jaringan ikatnya dominan,
dan berkonsistensi lunak jika otot rahimnya yang dominan.2 Mioma uteri
merupakan tumor pelvis yang terbanyak pada organ reproduksi wanita.3 Menurut
letaknya, mioma didapati sebagai mioma submukosum, mioma intramural dan
mioma subserosum.1
Insiden mioma uteri sekitar 20-30% dari seluruh wanita.4 Di Indonesia
mioma uteri ditemukan pada 2,39-11,7% pada semua penderita ginekologi yang
dirawat. Tumor ini paling sering ditemukan pada wanita umur 35-45 tahun yaitu
kurang lebih 25% dan jarang pada wanita 20 tahun dan wanita post menopause.2
Penelitian yang dilakukan di RSUP Prof R.D. Kandou Manado berdasarkan
catatan rekam medik periode 1 Juli 20131 Juli 2014, mioma uteri merupakan
tumor ginekologi kedua terbanyak (31,7%). Dari 127 kasus yang paling banyak
menderita mioma uteri adalah kelompok umur 41-50 tahun (56,7%). Prevalensi
mioma uteri tertinggi pada kelompok umur 41-50 tahun (48,9%). 5 Prevalensi
meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga, ras, obesitas, nullipara,usia
menarche, merokok, hipertensi, dan kegemukan.2,6
Etiologi mioma hingga kini belum jelas. Tumor ini mungkin berasal dari
sel otot yang normal, dari otot imatur yang ada di dalam myometrium atau dari sel
embrional pada dinding pembuluh darah uterus.7 Beberapa penelitian telah
dikembangkan untuk memahami keterlibatan faktor hormonal, faktor genetik,
faktor hormone pertumbuhan, dan biologi molecular dalam pathogenesis mioma
uteri. Faktor yang diduga berperan dalam inisiasi perubahan genetic pada mioma
uteri adalah abnormalitas intrinsic pada miometrium, peningkatan reseptor
estrogen secara congenital pada miometrium, perubahan hormonal, atau respon
terhadap kondisi iskemik ketika haid.3

Diagnosis mioma uteri biasanya didasarkan atas anamnesis, pemeriksaan


fisik, yakni di jumpai adanya pembesaran rahim dan penemuan pada
ultrasonografi. Teknik pencitraan berguna jika diperlukan untuk mengkonfirmasi
diagnosis atau untuk meningkatkan lokalisasi mioma uteri sebelum operasi.6
Penatalaksanaan mioma uteri meliputi konservatif, terapi medikamentosa,
dan terapi pembedahan. Tindakan konservatif ditujukan untuk pasien dengan
mioma kecil dan tanpa gejala, namun harus diawasi perkembangan tumornya.
Beberapa pilihan terapi medikamentosa yang digunakan saat ini antara lain
Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonis, progesteron, danazol, gestrinon,
tamoksifen, goserelin, antiprostaglandin, agen-agen lain (gossipol, amantadine).
Sedangkan terapi pembedahan dapat dilakukan dengan miomektomi atau
histerektomi.
Berikut ini akan dilaporkan kasus mioma uteri pada seorang wanita usia
50 tahun yang dirawat di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Prof. R.D.
Kandou Manado.

BAB II
2

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. SM

Umur

: 50 tahun

Pekerjaan

: IRT

Pendidikan

: SMA

Alamat

: Wiau Lapi Jaga IV Kec. Tareran, Kab. Minahasa Selatan

Agama

: Kristen Protestan

Suku/Bangsa : Minahasa/Indonesia
Tanggal MRS : 12 April 2016
ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Benjolan di perut sejak 1 tahun yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien dikirim oleh dr. spesialis obstetri dan ginekologi dengan diagnosis P 1A0 50
tahun dengan tumor padat ovarium dd/ mioma uteri dan direncanakan untuk
dilakukan Laparatomi HTSOB. Saat ini pasien mengeluh terdapat benjolan di perut
yang dialami pasien sejak 1 tahun yang lalu. Awalnya benjolan di perut hanya
berukuran kecil dan dirasakan membesar perlahan lahan hingga sekarang,
benjolan tidak dapat digerakan dan tidak nyeri. Pasien juga mengeluh adanya
perdarahan dari jalan lahir sejak 1 tahun yang lalu. Perdarahan dari jalan lahir
didalam dan diluar siklus haid, hilang timbul, sedikit-sedikit, tidak bergumpal, tidak
nyeri. Pasien mengeluh 1 tahun terakhir haid lebih lama 6-7 hari dan lebih banyak
4-6 pembalut/hari, namun tidak disertai nyeri saat haid. Riwayat haid teratur,
riwayat post coital bleeding disangkal, penurunan berat badan disangkal. BAB dan
BAK biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu:

Penyakit jantung, penyakit hati, penyakit ginjal, penyakit paru, penyakit


diabetes melitus, hipertensi disangkal
ANAMNESIS GINEKOLOGI
1. Riwayat Perkawinan dan Kehamilan
Kawin

: 1 kali

Kehamilan

: (-)

Para: 1

Abortus: (-)

P1 1988/Perempuan/Spt lbk/Puskesmas Tareran/BBL3500gr/Hidup


2. Riwayat Haid
Menarche: 14 tahun, siklus teratur, lamanya 3-5 hari,
banyaknya 2-3 pembalut/hari
Nyeri saat haid hingga tidak dapat bekerja: (-)
3. Riwayat Kontrasepsi-KB
KB Suntik 3 bulan selama 9 Tahun
4. Riwayat Penyakit, Operasi dan Pemeriksaan
Dahulu
Keputihan

: (-)

Riwayat penyakit kelamin

: (-)

Riwayat operasi

: (-)

PEMERIKSAAN FISIK
Status Praesens
Keadaan Umum

: Sakit Ringan

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital

: Tekanan Darah : 130/80 mmHg


Nadi

: 88 x /menit

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu Badan

: 36,70C

Tinggi Badan

: 158 cm

Berat Badan

: 56 kg

IMT

: 22,43 (normal)

Warna Kulit

: Sawo matang

Kepala

: Normocephal

Mata

: Pupil isokor kiri = kanan, conjungtiva anemis (-/-), sklera


ikterik(-/-)

Lidah

: Beslag (-)

Gigi

: Caries (-)

Tenggorokan

: Hiperemis (-),T1/T1

Telinga

: Serumen (-)

Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening (-)

Toraks
Paru

: Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Pergerakan simetris kiri = kanan


: Stem fremitus kiri = kanan
: Sonor pada kedua lapangan baru

Auskultasi : Sp.vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)


Jantung

: Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Batas jantung normal

Auskultasi : SI-II normal, bising (-)


Abdomen

: Inspeksi
Palpasi

: Cembung
: Teraba massa setinggi 4 jari di atas
pusat, konsistensi padat, permukaan licin,
batas tegas, mobile (-), nyeri tekan (-)

Perkusi

: WD (-)

Auskultasi : Bising usus (+) normal.


Ekstremitas

: Akral hangat, Edema (-/-)

Refleks fisiologis : (+) normal


Refleks patologis : (-)
STATUS GINEKOLOGI
Inspeksi

: Fluksus (-), fluor (-), vulva tidak ada kelainan

Inspekulo

: Fluksus (-), fluor (-), vagina tidak ada kelainan, portio licin,
erosi (-), OUE tertutup

Periksa Dalam

: Fluksus (-), fluor (-), vulva/vagina tidak ada kelainan, portio


kenyal, OUE tertutup, nyeri goyang (-)
CUT

: Setara usia kehamilan 24 -26 minggu


5

A/P bilateral : Nyeri goyang (-), massa (-)


CD
Rectal Toucher

: Tidak menonjol

: TSA cekat, ampula kosong, mukosa licin

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
23 Mei 2016
Hematologi
Leukosit

: 9600 /uL

MCH

: 30,0 pg

Eritrosit

: 4,50 10^6/uL

MCHC

: 31,4 g/dL

Hemoglobin

: 10,8 g/dL

MCV

: 95,3 fL

Hematokrit

: 34,4 %

Trombosit

: 244 10^3/uL

Hemostasis
PT

: Pasien 12,5 detik


Kontrol 12,9 detik

APTT

: Pasien 34,3 detik


Kontrol 29,5 detik

Kimia Klinik
SGOT

: 30 U/L

GDS

: 85 mg/dL

SGPT

: 23 U/L

Uric Acid

: 6,5 mg/dL

Ureum

: 14 mg/dL

Chlorida

: 110 mEq/L

Creatinin

: 0.6 mg/dL

Kalium

4,3

mEq/L
Natrium
2. EKG
Dalam batas normal
3. Foto Thoraks
Cor dan pulmo kesan normal
4. Pemeriksaan Histopatologi
Jaringan serviks

: 110 mEq/L

Kesimpulan : radang menahun menanah+hiperplasia glandulare endometrium


5. USG
Kesan: Tumor padat ovarium dd/ mioma uteri

DIAGNOSIS
P1A0 50 tahun dengan tumor padat ovarium dd/ mioma uteri
TATA LAKSANA
-

MRS

Rencana HTSOB (25 Mei 2016)

RESUME MASUK
Pasien dikirim oleh dr. spesialis obstetri dan ginekologi dengan diagnosis P 1A0 50
tahun dengan tumor padat ovarium dd/ mioma uteri dan direncanakan untuk
dilakukan Laparatomi HTSOB. Saat ini pasien mengeluh terdapat benjolan di perut
yang dialami pasien sejak 1 tahun yang lalu. Awalnya benjolan di perut hanya
berukuran kecil dan dirasakan membesar perlahan lahan hingga sekarang,
benjolan tidak dapat digerakan dan tidak nyeri. Pasien juga mengeluh adanya
perdarahan dari jalan lahir sejak 1 tahun yang lalu. Perdarahan dari jalan lahir
didalam dan diluar siklus haid, hilang timbul, sedikit - sedikit, tidak bergumpal,
tidak nyeri.Pasien mengeluh 1 tahun terakhir haid lebih lama 6-7 hari dan lebih
banyak 4-6 pembalut/hari, namun tidak disertai nyeri saat haid.Riwayat haid
teratur, riwayat post coital bleeding disangkal, penurunan berat badan
disangkal.BAB dan BAK biasa.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Sakit Ringan
Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital

: Tekanan Darah : 130/80 mmHg


Nadi

: 88 x /menit

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu Badan

: 36,70C

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik(-/-)

Toraks

: dalam batas normal

Abdomen

: Inspeksi
Palpasi

: Cembung
: Teraba massa padat setinggi 4 jari di atas
pusat, permukaan licin, mobile (-),
nyeri tekan (-)

Perkusi

: WD (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal.

Status Ginekologi
Inspeksi

: Fluksus (-), fluor (-), vulva tidak ada kelainan


8

Inspekulo

: Fluksus (-), fluor (-), vagina tidak ada kelainan, portio licin,
erosi (-), OUE tertutup

Periksa Dalam : Fluksus (-), fluor (-), vulva/vagina tidak ada kelainan, portio
kenyal, OUE tertutup, nyeri goyang (-)
CUT

: Setara usia kehamilan 24 26 minggu

A/P bilateral : Nyeri goyang (-), massa (-)


CD

: Tidak menonjol

Rectal Toucher : TSA cekat, ampula kosong, mukosa licin


Hasil Laboratorium
23 Mei 2016
Hematologi
Leukosit

: 9600 /uL

MCH

: 30,0 pg

Eritrosit

: 4,50 10^6/uL

MCHC

: 31,4 g/dL

Hemoglobin

: 10,8 g/dL

MCV

: 95,3 fL

Hematokrit

: 34,4 %

Trombosit

: 244 10^3/uL

Hemostasis
PT

: Pasien 12,5 detik


Kontrol 12,9 detik

APTT

: Pasien 34,3 detik


Kontrol 29,5 detik

Kimia Klinik
SGOT

: 30 U/L

GDS

: 85 mg/dL

SGPT

: 23 U/L

Uric Acid

: 6,5 mg/dL

Ureum

: 14 mg/dL

Chlorida

: 110 mEq/L

Creatinin

: 0.6 mg/dL

Kalium

4,3

mEq/L
Natrium
EKG
Foto Thorax
USG

: 110 mEq/L

: Dalam batas normal


:Cor dan pulmo kesan normal
: Kesan tumor padat ovarium dd/ mioma uteri

Pemeriksaan Histopatologi
Jaringan serviks
Kesimpulan : radang menahun menanah+hiperplasia glandulare endometrium
Diagnosis

P1A0 50 tahun dengan tumor padat ovarium dd/ mioma uteri


Sikap/Tindakan

- MRS tanggal 23 Mei 2016


- Rencana HTSOB (25 Mei 2016)

LAPORAN OPERASI
Tanggal Operasi

: 25 Mei 2016

Jam Operasi dimulai : 08.50 WITA


Jam Operasi selesai

: 11.50 WITA

Lama Operasi

: 3 Jam

Operator

: dr. Bismarck Joel Laihad, SpOG (K)

Asisten

: dr. Angga, dr. Adit

Diagnosa pre op

: P1A0 50 tahun dengan tumor padat ovarium dd/ mioma


uteri

Diagnosa post op

: P1A0 50 tahun post HTSOB a.i giant mioma uteri

Tindakan Pembedahan:
Histerektomi Totalis dan Salfingo-ooforektomi Bilateral (HTSOB)
Uraian Pembedahan :
Pasien dibaringkan terlentang diatas meja operasi, dilakukan desinfeksi daerah
abdomen dan sekitarnya dengan povidon iodine lalu ditutup dengan doek steril
kecuali lapangan operasi. Dilakukan insisi linea mediana inferior, insisi
diperdalam lapis dengan lapis. Fascia di jepit 2 kocher, diperlebar ke atas dan ke
bawah. Otot disisihkan secara tumpul ke lateral. Peritoneum dijepit 2 pinset
setelah yakin tidak ada usus dibawahnya digunting kecil dan diperlebar ke atas
dan ke bawah.Setelah peritoneum dibuka tampak uterus membesar ukuran
22x27cm.Eksplorasi lanjut ovarium dan tuba kanan dan kiri baik lalu diputuskan
dilakukan HTSOB. Ligamentum rotundum kiri dijepit dengan dua klem,
digunting dan dijahit demikian sisi sebelahnya. Identifikasi plica vesicouterina,
dijepit dengan pinset, digunting dan diperlebar dengan hak abdomen.Ligamentum

10

latum kiri avaskuler ditembus secara tumpul untuk membuat jendela. Ligamentum
infundibulopelvikum kiri dijepit 3 klem, digunting dan dijahit double ligasi
demikian sisi sebelahnya. Identifikasi arteri uterine kiri dijepit 3 klem digunting
dan dijahit double ligasi, demikian sisi sebelahnya. Identifikasi puncak vagina
dijepit dengan klem bengkok dan digunting hingga uterus dapat diangkat. Puncak
vagina dijepit dengan klem kocher panjang, dimasukkan kassa betadin dan dijahit
secara

jelujur

dengan

safil

1.

Kontrol

perdarahan

(-).

Dilakukan

retroperitonealisasi, kontrol perdarahan (-). Rongga abdomen dibersihkan dari sisa


darah dan bekuan darah kemudian dicuci dengan NaCl 0,9% 100 cc. kontrol
perdarahan (-). Dinding abdomen ditutup lapis demi lapis. Peritoneum dijahit
secara jelujur dengan plain catgut, otot dijahit simpul dengan plain catgut, kulit
dijahit subkutikuler dengan chromic catgut. Luka operasi ditutup dengan kassa
betadin. Kassa dalam vagina dikeluarkan. Operasi selesai.
Perdarahan 1.700cc
Diuresis 200cc

11

FOLLOW UP
Hari I

23 Mei 2016

: Benjolan di perut

: KU : Cukup
Kes : CM

T : 130/80mmHg

R: 20x/menit

N : 88x/menit

Sb: 36,7oC

: P1A0 50 tahun dengan tumor padat ovarium dd/ mioma uteri

: Rencana HTSOB (14 April 2016)

Hari II

24 Mei 2016

: Benjolan di perut

: KU : Cukup
Kes : CM

T : 130/70mmHg

R: 22x/menit

N : 84x/menit

Sb: 36,3oC

Conjungtiva anemis -/A

: P1A0 50 tahun dengan tumor padat ovarium dd/ mioma uteri

: Rencana HTSOB (14 April 2016)


Rencana pre op hari ini.

Hari III

25 Mei 2016

: Benjolan di perut

: KU : Cukup
Kes : CM

T : 120/80mmHg

R: 22x/menit

N : 84x/menit

Sb: 36,4oC

Conjungtiva anemis -/A

: P1A0 50 tahun dengan tumor padat ovarium dd/ mioma uteri

: HTSOB hari ini.

Instruksi Post Op
- IVFD RL:D5% 2:2 30tpm
- Inj Ceftriaxone 1 gr/ 8 jam
- Inj Metronidazole 500mg/8jam

12

- Inj Asam tranexamat 500mg/8jam


- Inj Vitamin C/24 jam
- Kaltrofen sup 1 x II
- Cek Hematologi Lengkap 6 jam post op, bila Hb < 10 g/dL pro transfusi
Hasil Laboratorium Hematologi Lengkap 6 jam post op
Leukosit

13700/uL

Hematokrit

37,5%

Eritrosit

3,94 10^6/uL

Trombosit

212 10^3/uL

Hemoglobin

13,2 g/dL

T : 130/80mmHg

R: 24x/menit

N : 92x/menit

Sb: 36,5oC

Hari IV

26 Mei 2016

:-

: KU : Cukup
Kes : CM

Conjungtiva anemis -/-

Diuresis 50cc/jam

: P1A0 50 tahun post HTSOB a.i mioma uteri H I

: - Inj Ceftriaxone 1 gr/ 8 jam


-

Inj Metronidazole 500mg/12jam

Inj Asam tranexamat 500mg/8jam

Inj Vitamin C/24 jam

Kaltrofen sup k/p

SF 1x1

Hari V

27 Mei 2016

:-

: KU : Cukup
Kes : CM

T : 130/80mmHg

R: 22x/menit

N : 88x/menit

Sb: 36,7oC

Conjungtiva anemis -/-

Diuresis 50cc/jam

Luka operasi terawat


A

: P1A0 50 tahun post HTSOB a.i mioma uteri H II

: - Aff Infus
- Mobilisasi bertahap

13

- Diet TKTP
- Cefadroxyl tab 3x500mg
- Metronidazole tab 2x500mg
- SF tab 1x1
Hari VI

28 Mei 2016

:-

: KU : Cukup
Kes : CM

T : 130/70mmHg

R: 20x/menit

N : 90x/menit

Sb: 36,8oC

Conjungtiva anemis -/-

Diuresis 75cc/jam

Luka operasi terawat


A

: P1A0 50 tahun post HTSOB a.i mioma uteri H III

: - Mobilisasi bertahap
- Diet TKTP
- Cefadroxyl tab 3x500mg
- Metronidazole tab 2x500mg
- SF tab 1x1

Hari VII 29 Mei 2016


S

:-

: KU : Cukup
Kes : CM

T : 110/70mmHg

R: 20x/menit

N : 80x/menit

Sb: 36,2oC

Conjungtiva anemis -/Luka operasi terawat


A

: P1A0 50 tahun post HTSOB a.i mioma uteri H IV

: - Aff kateter
- Mobilisasi bertahap
- Diet TKTP
- Cefadroxyl tab 3x500mg
- Metronidazole tab 2x500mg
- SF tab 1x1

Hari VIII 30 Mei 2016

14

: Belum BAB 4 hari

: KU : Cukup
Kes : CM

T : 120/80mmHg

R: 20x/menit

N : 80x/menit

Sb: 36,5oC

Conjungtiva anemis -/Luka operasi terawat


A

: P1A0 50 tahun post HTSOB a.i mioma uteri H V

: - Mobilisasi bertahap
- Diet TKTP
- Cefadroxyl tab 3x500mg
- Metronidazole tab 2x500mg
- SF tab 1x1
- Dulcolax supp 2 (extra)

Hari IX

31 Mei 2016

:-

: KU : Cukup
Kes : CM

T : 130/90mmHg

R: 20x/menit

N : 80x/menit

Sb: 36,2oC

Conjungtiva anemis -/Luka operasi terawat


A

: P1A0 50 tahun post HTSOB a.i mioma uteri H VI

: - Rencana rawat jalan


- Rawat luka
- Mobilisasi bertahap
- Diet TKTP
- Cefadroxyl tab 3x500mg
- Metronidazole tab 2x500mg
- SF tab 1x1

15

BAB III
PEMBAHASAN
Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai mioma uteri. Diagnosis
mioma uteri ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Selain itu, akan dibahas pula mengenai diagnosis
banding, penanganan, komplikasi, serta prognosis mioma uteri.
DIAGNOSIS
Sebagian besar kasus mioma uteri tidak menunjukkan gejala khas. Gejala
yang timbul tergantung pada lokasi, ukuran, adanya komplikasi dan status
kehamilan penderita.
Pada anamnesis, didapatkan adanya keluhan benjolan di perut yang
membesar sejak 1 tahun, membesar perlahan lahan, tidak dapat digerakan dan
tidak nyeri. Penderita juga mengeluh adanya perdarahan dari jalan lahir sejak 1
tahun yang lalu, hilang timbul, sedikit - sedikit, tidak bergumpal dan tidak
nyeri,.Perdarahan berlangsung baik didalam maupun diluar siklus haid. Bila haid,
darah yang keluar lebih banyak dan berlangsung lebih lama dari biasanya. Hal ini
menunjukkan adanya gejala yang berhubungan dengan mioma uteri. Sesuai
dengan teori, manifestasi klinis yang paling sering terjadi pada mioma uteri adalah
perdarahan uterus yang abnormal, berupa hipermenore, menoragia dan
metroragia. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa faktor diantaranya pengaruh
ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma
endometrium, permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa, atrofi
endometrium di atas mioma submukosum, serta miometrium tidak dapat
berkontrasi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium,
sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.8,9,10
Penderita tidak mengeluh nyeri perut bagian bawah dan nyeri perut saat
haid. Kepustakaan menyebutkan bahwa rasa nyeri bukanlah gejala khas tetapi

16

dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertasi
nekrosis setempat dan peradangan.8,9,10 Mioma yang berukuran besar juga dapat
menyebabkan penyempitan pada kanalis servikalis sehingga terjadi nyeri berupa
dismenore.8
Selain manifestasi klinis, pada kasus juga ditemukan adanya faktor resiko
yang berhubungan dengan terjadinya mioma uteri. Menurut kepustakaan, terdapat
beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan prevalensi terjadinya mioma
uteri seperti faktor usia, ras, genetik, paritas, dan obesitas. 2
Pada kasus, penderita berusia 50 tahun dan memiliki 1 anak. Hal ini
berkaitan dengan faktor resiko usia dan paritas pada mioma uteri, dimana mioma
uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun dan ditemukan sekitar 40%
pada wanita berusia lebih dari 35-50 tahun. Hal ini disebabkan karena pada usia
sebelum menarche kadar estrogen rendah, dan meningkat pada usia reproduksi
serta akan turun pada usia menopause.11 Pada penelitian Stoppler juga mengatakan
bahwa pertumbuhan mioma uteri disebabkan oleh stimulasi hormon estrogen yang
disekresikan oleh ovarium.12 Pada usia reproduksi sekresi hormone estrogen oleh
ovarium meningkat, berkurang pada usia klimakterium, dan pada usia menopause
hormon estrogen tidak disekresikan lagi oleh ovarium.13
Mioma uteri lebih sering terjadi pada wanita nullipara atau wanita yang
hanya mempunyai satu anak. Pada wanita nullipara, kejadian mioma uteri lebih
sering ditemui salah satunya diduga karena sekresi estrogen wanita hamil sifatnya
sangat berbeda dari sekresi oleh ovarium pada wanita yang tidak hamil yaitu
hampir seluruhnya estriol, suatu estrogen yang relatif lemah daripada estradiol
yang disekresikan ovarium. Hal ini berbeda dengan wanita yang tidak pernah
hamil atau melahirkan, estrogen yang ada di tubuhnya adalah murni estrogen
yang dihasilkan oleh ovarium semuanya digunakan untuk proligerasi jaringan
uterus. Penelitian yang dilakukan oleh Parker menyatakan bahwa peningkatan
jumlah paritas akan menurunkan risiko terjadinya mioma uteri.2,6
Pemeriksaan fisik abdomen didapatkan teraba massa setinggi 4 jari di atas
pusat, konsistensi padat, permukaan licin, batas tegas, tidak dapat digerakan dan
tidak nyeri. Kepustakaan yang mengatakan bahwa pada pemeriksaan fisik
abdomen, uterus yang besar dapat dipalpasi pada abdomen. Mioma uteri akan
17

teraba keras, bentuk yang tidak teratur, gerakan bebas (mobile) dan tidak nyeri.
Pada kasus ini pada palpasi abdomen massa tidak dapat digerakan kemungkinan
dikarenakan karena mioma uteri sudah sangat besar sehingga sudah tidak mobile.
Mioma uteri mudah ditemukan melalui

pemeriksaan bimanual rutin uterus.

Diagnosis mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh
satu atau lebih massa yang licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa
massa seperti ini adalah bagian dari uterus.2
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada mioma uteri berupa
pemeriksaan laboratorium, USG (Ultasonography), histereskopi, dan MRI
(Magnetic Resonance Imaging).9Pemeriksaaan laboratorium yang perlu dilakukan
adalah pemeriksaan darah lengkap terutama untuk mencari kadar hemoglobin
karena pada mioma uteri sering terjadi anemia akibat perdarahan uterus yang
berlebihan dan kekurangan zat besi. Pada kasus, kadar hemoglobin penderita yaitu
10,8g/dL.2
Pemeriksaaan dengan USG bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma
uteri dan akan didapat massa padat dan homogen pada uterus. Mioma uteri
berukuran besar terlihat sebagai massa pada abdomen bawah dan pelvis dan
kadang terlihat tumor dengan kalsifikasi. Subserosa atau pedunculated mioma
mirip dengan tumor ovarium. USG dapat menunjukkan asal tumor tapi asal tumor
yang sebenarnya diketahui dari laparotomi. Pada kasus ini pemeriksaan USG
memberikan gambaran tumor padat ovarium dd/ mioma uteri.
Histereskopi dilakukan untuk dapat melihat adanya mioma uteri
submukosa, jika tumornya kecil serta bertangkai. Tumor tersebut sekaligus dapat
diangkat. Sedangkan pada pemeriksaan MRI sangat akurat dalam menggambarkan
jumlah, ukuran, dan lokasi mioma tetapi jarang diperlukan. Pada MRI, mioma
tampak sebagai massa gelap berbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium
normal. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat dilokalisasi dengan
jelas, termasuk mioma submukosa. MRI dapat menjadi alternatif ultrasonografi
pada kasus-kasus yang tidak dapat disimpulkan.9,10 Pada kasus tidak dilakukan
pemeriksaan histereskopi maupun MRI karena anamnesis, pemeriksaan
ginekologi, serta USG

yang telah dilakukan pada kasus sudah menunjang

diagnosis mioma uteri.

18

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding pada kasus ini adalah tumor padat ovarium dan
adenomiosis, karena tumor padat ovarium merupakan massa yang mirip dengan
mioma uteri, dengan konsistensi kenyal sampai padat, permukaan berbenjol dan
mudah digerakkan bila tak ada perlekatan dengan sekitarnya. Tumor ovarium
padat merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan paling sering ditemukan
pada penderita pada massa menopause dan sesudahnya. Pada pemeriksaan, tumor
ovarium berada di samping atau diatas uterus dan dapat ditentukan hubungan
dengan uterus. Pada kasus ini, bila massa abdomen digerakkan atau ditekan ke
bawah maka portio ikut bergerak, ini menandakan bahwa massa tersebut
berhubungan dengan uterus. Sedangkan tumor ovarium, bila massa abdomen
digerakkan ke bawah maka portio tidak ikut bergerak bila tak ada perlekatan.10
Adanya perdarahan abnormal dan pembesaran uterus pada kasus ini
memungkinkan

juga

untuk

didiagnosis

banding

dengan

adenomiosis.

Adenomiosis atau endometriosis interna merupakan lesi pada lapisan miometrium


yang ditandai dengan invasi jinak endometrium yang secara normal hanya
melapisi bagian dalam kavum uteri. Namun, adenomiosis dapat disingkirkan
karena pemeriksaan ginekologi pada kasus didapatkan massa padat yang berbatas
tegas, dimana pembesaran pada adenomiosis bersifat difus (tidak nodular seperti
mioma).9
KOMPLIKASI
Bila terjadi perubahan pasokan darah selama pertumbuhannya, maka
mioma dapat mengalami perubahan sekunder atau degeneratif sebagai berikut.1
a. Atrofi
Sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi kecil.
b. Degenerasi hialin
Perubahan ini sering terjadi pada penderita berusia lanjut. Tumor kehilangan
struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya
sebagian kecil dari padanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut
otot dari kelompok lainnya.
c. Degenerasi kistik

19

Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma
menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi
agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe
sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor
sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
d. Degenerasi membatu (calcereus degeneration)
Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan
dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang
mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto
rontgen.
e. Degenerasi merah (carneus degeneration)
Perubahan ini terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis diperkirakan
karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada
pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna
merah disebabkan pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah
tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus,
sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada
perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai tumor ovarium
atau mioma bertangkai.
f. Degenerasi lemak
Jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin.
Adapun komplikasi yang terjadi pada mioma uteri sebagai berikut.2
a. Degenerasi ganas
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari
seluruh mioma; serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus.
Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang
telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat
membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.
b. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan
sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah

20

sindrom abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak
terjadi.
c. Nekrosis dan infeksi
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan
karena gangguan sirkulasi darah padanya.
Pada kasus ini ditemukan adanya komplikasi berupa anemia sebagai akibat
dari perdarahan uterus abnormal. Sedangkan komplikasi yang lain seperti
infertilitas, infeksi, torsi, dan abortus tidak dijumpai.
PENANGANAN
Secara umum penanganan kasus mioma uteri adalah penanganan
konservatif, medikamentosa dan operatif.
1.

Konservatif
Pasien dengan mioma kecil dan tanpa gejala tidak memerlukan pengobatan,
namun harus diawasi perkembangan tumornya. Tidak ada ukuran standar
pada mioma uteri asimptomatis untuk dilakukan tindakan operasi. Pada
pasien tanpa gejala serta tidak menunjukan tanda-tanda keganasan, usia
pasien, status infertilitas dan keputusan mengangkat uterus atau tidak
dilakukan tindakan operasi menjadi bahan pertimbangan untuk terapi.
Pemeriksaan fisik dan ultrasonografi harus dilakukan dan diulangi dalam 68 minggu untuk mencatat ukuran dan gambaran pertumbuhan. Jika
pertumbuhannya tetap, pasien diikuti tiap 3-4 bulan.3 Pada pasien ini tidak
dilakukan tindakan konservatif karena pasien telah mengalami gejala klinis
yang jelas yaitu berupa perdarahan abnormal dari jalan lahir dan benjolan di
abdomen yang semakin besar. Mioma uteri yang menimbulkan gejala klinis
membutuhkan terapi. Selain itu dari pemeriksaan fisik dan penunjang,
ditemukan mioma uteri dengan ukuran yang cukup besar. Dengan demikian
tindakan konservatif bukan menjadi pilihan.

2.

Medikamentosa
Terapi medikamentosa merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti
sementara dari operatif. Preparat yang saat ini digunakan untuk terapi
medikamentosa

antara

lain:

analog

21

GnRH

(Gonadotropin-releasing

hormone),

progesteron,

danazol,

gestrinon,

tamoksifen,

goserelin,

antiprostaglandin, agen-agen lain (gossipol, amantadine).3Agen tersebut


dibuktikan memberikan hasil dapat memperbaiki gejala klinis yang
ditimbulkan mioma uteri. Pemberian terapi medikamentosa ini bertujuan
untuk mengurangi ukuran mioma uteri dengan jalan menekan produksi
estrogen oleh ovarium. Akan tetapi, terapi medikamentosa ini memiliki efek
samping yaitu terjadinya hirsutism dan efek samping lain selain itu juga
harga yang cukup mahal, serta resiko rekurensi dan pertumbuhan mioma
setelah terapi medikamentosa dihentikan dilaporkan masih tinggi sehingga
seringkali

masih

membutuhkan

tindakan

operasi.14

Dengan

mempertimbangkan hal tersebut, pada pasien ini tidak diberikan terapi


medikamentosa, dan direncanakan ke arah terapi pembedahan.
3.

Operatif
Penanganan operatif dilakukan tergantung usia penderita, paritas, besarnya
mioma uteri, beratnya keluhan yang ditimbulkan serta fungsi reproduksi.
Indikasi terapi bedah untuk myoma uteri menurut American College of
obstetricians and Gyneclogist (ACOG) dan American Society of
Reproductive Medicine (ASRM) adalah:
-

Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif

Curiga adanya keganasan

Pertumbuhan mioma pada masa menopause

Infertilitas kerana ganggaun pada cavum uteri maupun karena


oklusi tuba

Nyeri dan penekanan yang sangat menganggu

Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius

Anemia akibat perdarahan

Tindakan operatif dapat berupa miomektomi atau histerektomi yang dapat


dilakukan trans abdominal, per laparaskopi ataupun transvaginal.
Miomektomi dilakukan bila fungsi reproduksi masih diperlukan (masih
menginginkan anak) serta keadaan mioma memungkinkan. Histerektomi
dilakukan bila fungsi reproduksi sudah tidak diperlukan, pertumbuhan
tumor cepat dan terdapat perdarahan yang membahayakan penderita.11

22

Pada kasus ini direncanakan akan dilakukan histerektomi totalis salfingoooforektomi bilateral mengingat ukuran mioma yang cukup besar, adanya
perdarahan yang bisa membahayakan penderita serta usia penderita yang
menjelang menopause.
Untuk persiapan pra operatif, dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap
yaitu periksa darah lengkap, fungsi hemostasis, fungsi ginjal, fungsi hati, gula
darah, EKG dan foto toraks. Maksud pemeriksaan ini untuk mengetahui penyakit
penyerta dan untuk mengantisipasi adanya penyulit disaat tindakan anestesi saat
operasi dan pasca operasi.
Penanganan penderita setelah operasi berupa pemberian antibiotik,
analgesik dan anti perdarahan untuk mencegah timbulnya komplikasi post operasi.
Penderita kemudian dipindahkan ke ruangan setelah keadaan umum penderita
cukup pulih. Setelah dirawat selama 6 hari post operasi tidak ditemukan adanya
komplikasi dan luka operasi baik maka penderita sudah dapat dipulangkan dan
dianjurkan untuk kontrol kembali ke poliklinik ginekologi RSUP Prof. R.D.
Kandou Manado.
PROGNOSIS
Prognosis pre operasi pada kasus ini adalah dubia ad malam dimana waktu
pemeriksaan ditemukan adanya massa yang membesar setinggi empat jari di atas
umbilikus, permukaan licin, batas tegas, nyeri tekan tidak ada dan adanya
perdarahan abnormal uterus yang sudah berlangsung lama. Penderita telah
dilakukan histerektomi totalis dan salfingo-ooforektomi bilateral sehingga sudah
tidak bisa memiliki anak dan kemungkinan rekurensi sangat kecil karena dapat
terhindar dari komplikasi degenerasi keganasan. Dengan demikian prognosis post
op adalah dubia ad bonam melihat dari keadaan umum dan tanda tanda vital
post operasi baik.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Anwar M, Baziad A, Prabowo P. Tumor jinak miometrium. Ilmu


Kandungan Edisi Ketiga. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
2011
2. Joedosapoetro MS. Tumor Jinak pada Alat-alat Genital. Ilmu Kandungan
Edisi Kedua. Jakarta: PT Bina Pustaka. 2009:38-41
3. Hadibroto, B. Mioma Uteri. Majalah Kedokteran Nusantara, Vol.38,
No.3.2005:1-6
4. Baziad A. Endokrinologi Ginekologi.Edisi ketiga. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI.2008:2015-23.
5. Pasinggi S, Wagey F, Rarung M. Prevalensi mioma uteri berdasarkan
umur di RSUP Prof.R.D.Kandou Manado. Jurnal e-Clinic (eCl) 3
(1).2015:71-76
6. Parker WH. Etiology,Symptomatology and diagnosis of uterine myomas.
Fertility and Sterility Volume 87 No.4. California : Department of
Obstetrics and Gynaecology. 2007: 725-733
7. Derek LJ. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi Edisi 6. Jakarta.
Hipokrates. 2001: 263-266
8. DeCherney, A., Nathan L., Goodwin M., Laufer N.. Benign Disorders of
the

Uterine Corpus. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics &

Gynecology, Tenth,2007:134-145.

24

9. Uterine masses. In: Berek and Novaks gynecology. 14 th ed. Philadelphia:


Lippincott Williams and Wilkins; 2007.p.469-71.
10. Schorge, Schaffer, Halvorson, Hoffman, Bradshaw, Cunningham. Benign
general

gynecology. In: Williams gynecology. The McGraw-Hill

Companies; 2008
11. Andriaansz G. Ilmu kandungan. Edisi 2. Yayasan bina pustaka. Jakarta.
2008 : 274-278
12. Stoppler CM. The Treatment at 98 cases of uterine myoma. Hospital in
Jiangsu. 2006
13. Ganong, William F. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 2. Jakarta, EGC.
2008
14. Padubidri dan Daftary. Fibromyoma. Shaws Texbook of Gynecology,
15th Edition. 2010: 275-364

25