Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH FORENSIK

Pengguguran Kandungan dan Terminasi Kehamilan

Kelompok 8

1. Rachmawati Putri
2. Vicky Zein D F
3. Alfarezi Ramadhan
4. Andini Yuliana
5. Anto Triwibowo
6. Bernio Yustindra
7. Dicky Ardian
8. Dylan Darient J
9. Fiareza Dilaga
10. Ira Rahmawati

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2015

BAB I

PENDAHULUAN

Pengguguran kandungan menurut hukum ialah tindakan menghentikan kehamilan atau


mematikan janian sebelum waktu kelahiran, tanpa melihat usia kandungannya. pengguguran
kandungan yang tujuannya selain dari pada untuk menyelamatkan/ menyembuhkan si ibu,
dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang
dibenarkan oleh undang-undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus
provocatus criminalis,karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan.
Pengguguran kandungan pada kasus kali ini diduga dilakukan oleh seorang dokter. Para
dokter dan tenaga medis lainnya, hendaklah selalu menjaga sumpah profesi dan kode etiknya
dalam melakukan pekerjaan. Jika hal ini secara konsekwen dilakukan pengurangan kejadian
abortus buatan ilegal akan secara signifikan dapat dikurangi.
Dalam deklarasi Oslo (1970) tentang pengguguran kandungan atas indikasi medik,
disebutkan bahwa moral dasar yang dijiwai seorang dokter adalah butir Lafal Sumpah Dokter
yang berbunyi : Saya akan menghormati hidup insani sejak saat pembuahan : oleh karena
itu Abortus buatan dengan indikasi medik, hanya dapat dilakukan dengan syarat-syarat
berikut:
1. Pengguguran hanya dilakukan sebagai suatu tindakan terapeutik
2. Suatu keputusan untuk menghentikan kehamilan, sedapat mungkin disetujui
secara tertulis oleh dua orang dokter yang dipilih berkat kompetensi
profesional mereka.
3. Prosedur itu hendaklah dilakukan seorang dokter yang kompeten di instalasi
yang diakui oleh suatu otoritas yang sah.
4. Jika dokter itu merasa bahwa hati nuraninya tidak memberanikan ia
melakukan pengguguran tersebut, maka ia hendak mengundurkan diri dan
menyerahkan pelaksanaan tindakan medik itu kepada sejawatnya yang lain
yang kompeten.
5. Selain memahami dan menghayati sumpah profesi dan kode etik, para tenaga
kesehatan perlu pula meningkatkan pemahaman agama yang dianutnya.
Melalui pemahaman agama yang benar, diharapkan para tenaga kesehatan dalam
menjalankan profesinya selalu mendasarkan tindakannya kepada agama.1

Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia ,aborsi atau penggurguran janin


termasuk kejahatan yang dikenal dengan istilah Abortus Provocatus Criminalis. Dimana
orang yang dikenakan sanksi antara lain wanita yang melakukan aborsi dan dokter yang
membantu aborsi. Bila ditinjau dari segi social tentu saja aborsi merupakan salah satu
tindakan yang bertentangan dengan HAM (hak asasi manusia) untuk hidup.
Bila ditinjau dari segi budaya ,aborsi sebagai salah satu dampak dari pergaulan seks
bebas, telah menyimpang dari norma agama yang berlaku. Tindakan aborsi perlu mendapat
perhatian khusus dari berbagai pihak.
Untuk itu dalam makalah ini Kelompok 8 akan membahas tentang kasus dugaan
pengguguran kandungan dari aspek kedokteran.

BAB II

LAPORAN KASUS
Anda kebetulan sedang berdinas jaga di laboratorium di sebuah rumah sakit tipe B. Seorang
angggota polisi membawa sebuah botol ukuran 2 liter yang disebutnya sebagai botol dari sebuah
alatsuction curre milik seorang dokter di kota anda. Masalahnya adalah bahwa dokter tersebut
disangka tleah melakukan pengguguran kandungan yang ilegal dan di dalam botol tersebut terdapagt
campuran darah dan jaringan hasil suction. Polisi menerangkan dalam surat perminyaanya,bahwa
darah dan jaringan dalam botol berasal dari tiga perempuan yang saat ini sedang diperisakan ke
bagaina kebidanan di rumah sakit anda. Penyidik membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang dapat
menjelaskan apakah benar telah terjadi penggguguran kandungan dan apakah benar bahwa ketiga
perempuan yang sedang diperiksa di kebidanan adalah perempuan yang kandunggannya digugurkan
oleh dokter tersebut.
Anda tahu bahwa harus ada komuniakasi antar anda dengann dokter kebidanan yang memeriksa
perempuan-perempuan diatas, agar pemeriksaaan medis dapat memberi manfaaat yang sebesarbesarnya bagi pendyidikan dan penegakan hukum.

Mind mapping
Aspek
Hukum

V et R

Barang
bukti

Prosedur
medikolegal
Pemeriksaan
medis
Pengguguran kandungan

kesimpula
n

Pemeriksaan
laboratorium

BAB III

Tersang
ka

PEMBAHASAN
A.

Aspek Hukum
Tindakan aborsi menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) di Indonesia

dikategorikan sebagai tindakan kriminal. Menurut KUHP, aborsi merupakan:

Pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadium perkembangannya sebelum masa


kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu).

Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan (berat kurang
dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu).
Dari segi mediko legal maka istilah abortus, keguguran, dan kelahiran premature

mempunyai arti yang sama dan menunjukkan pengeluaran janin sebelum usia kehamilan
yang cukup.
Tindakan aborsi yang dibenarkan oleh undang-undang sampai saat ini, yaitu sebagaimana
termuat dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, Pasal 15, hanya dalam keadaan
darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil. Dan ini pun hanya dapat dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk ini, serta
berdasarkan pertimbangan tim ahli, dan harus ada persetujuan ibu hamil yang bersangkutan
atau suami atau keluarganya, danharusdilakukan di sarana kesehatan tertentu (rumah sakit).
Tindakan aborsi atas indikasi-indikasi lain seperti sosial, humaniten dan eugenetik, seperti
di negara-negara lain, yang bukan hanya untuk menolong si ibu, melainkan juga dengan
pertimbangan demi keselamatan si anak, baik jasmaniah maupun rohaniyahnya, sampai saat
ini di Indonesia belum ada undang-undangnya.Memang dengan alasan kemajuan dalam
bidang diagnostik prenatal, dengan dapat ditemukannya berbagai penyakit bawaan yang berat
dan penyakit genetik yang tidak memungkinkan bayinya dapat hidup normal, sudah banyak
tuntutan untuk dibuat undang-undang yang memperbolehkan dilakukannya tindakan aborsi
dengan indikasi yang lebih luas.

Pasal 346

Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau


menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348
(1)Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan kandungan seorang
wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam
bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 349
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan
pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348,
maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat
dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.
Pasal 299
(1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati,
dengan memberitahukan atau menimbulkan harapan bahwa dengan pengobatan itu
kandungannya dapat digugurkan, diancam pidana penjara paling lama empat tahun atau
pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah.
(2) Bila yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan
perbuatan tersebut sebagai pekerjaan atau kebiasaan, atau bila dia seorang dokter, bidan
atau juru-obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
(3) Bila yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pekerjaannya, maka
haknya untuk melakukan pekerjaan itu dapat dicabut.

Pasal 535

Barang siapa terang-terangan mempertunjukkan sesuatu sarana untuk menggugurkan


kandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta menawarkan, ataupun secara
terang-terangan atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjuksebagaibisadidapat,
sarana atau perantaraan yang demikian itu, diancam dengan pidana denda paling banyak
empat ribu lima ratus rupiah.
Undang UndangNomor 36 Tahun 2009 TentangKesehatan
Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau
cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi
tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca
tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah2,3.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
1. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir,
kecuali dalam hal kedaruratan medis;
2. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki
sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
3. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
4. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
5. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 194

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama
10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
PenjelasanPasal 77
Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa persetujuan
perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak profesional,
tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan yang berlaku, diskriminatif, atau lebih
mengutamakan imbalan materi dari pada indikasi medis.
Pasal 15 Undang-Undang No.23 Tahun 1992
(1) Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang
karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma
kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu
atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu.
(2) Butir a:
Indikasi medisa dalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan
medis tertentu, sebab tanpa tindakan medis tertentu itu, ibu hamil dan janinnya terancam
bahaya maut.
Butir b:
Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang
memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya, yaitu seorang dokter ahli
kebidanan dan penyakit kandungan.
Butir c:
Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan, kecuali
dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya, dapat diminta
dari suami atau keluarganya.
Butir d:
Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan
yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah.
(3) Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain
mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, tenaga
kesehaan mempunyai keahliandan kewenangan, bentuk persetujuan, dan sarana kesehatan
yang ditunjuk.
Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa:

a. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh orang lain,
diancam hukuman empat tahun penjara
b. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan tanpa persetujuan
ibu hamil tersebut, diancam hukuman penjara 12 tahun, dan jika ibu hamil tersebut mati,
diancam 15 tahun penjara.
c. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara dan bila ibu
hamilnya mati diancam hukuman 7 tahun penjara.
d. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut seorang dokter,
bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan
hak untuk berpraktek dapat dicabut.
Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)
tahun dan pidana denda paling banyakRp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah)2

B.

Masalah
1. Polisi datang membawa botol berisi campuran darah dan jaringan hasil suction
berasal dari tiga perempuan
2. penyidik membutuhkan pembuktian telah terjadinya pengguguran kandungan yang
dilakukan oleh seorang dokter, dan membuktikan tiga perempuan tersebut telah
menggugurkan kandungannya

C.

Hipotesis
Pengguguran kandungan ilegal/abortus kriminalis

D.

Aspek Etik dan Profesi


Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap

perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitasnya.Penilaian tersebut dari
sisi moral dilihat menggunakan pendekatan teoriatika yang cukup banyak jumlahnya.
Aspek etik dan profesi mencantumkan juga kewajiban memnuhi standar profesi
mengakibatkan penilaian perilaku etik profesi seseorang dokter yang diadukan tidak dapat
dipisahkan dengan penilaian perilaku disiplin profesinya.Etik profesi memiliki sanksi moral.

IDI (ikatan dokter Indonesia) memiliki system pengawasan dan penilaian pelaksaan etik
profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan cabang, serta lembaga
MKEK ( majelis kehormatan etik kedokteran) di tingkat pusat atau cabang.
Pada dasarnya, suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar hanya membawa
akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. Namun suatu pelanggaran etik profesi dapat dikenai
sanksi disiplin profesi, dalam bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat seperti
kewajiban menjalani pendidikan / pelatihan tertentu(bila akibat kurang kompeten) dan
pencabutan haknya berpraktik. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam rapat/
sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi) kedokteran.3

E. Pemeriksaan perempuan tersangka


Pemeriksaan pada korban abortus hidup perlu diperhatikan tanda kehamilan, biasanya
untuk memastikan wanita tersebut pernah mengandung dalam waktu yang dekat dapat dilihat
dari tanda-tanda kehamilan, diantaranya perubahan pada payudara, areola mammae yang
biasanya mengalami hiperpigmentasi, perubahan hormonal yang mengindikasikan kehamilan
sebelumnya. Selain diperiksa tanda-tanda kehamilan, perlu dibuktikan adanya usaha
penghentian kehamilan, misalnya tanda kekerasan pada bagian genitalia interna dan eksterna,
dan daerah perut bagian bawah.
Pemeriksaan toksikologik diperlukan untuk mengetahui adanya obat/zat yang
menyebabkan abortus. Perlu pula dilakukan pemeriksaan terhadap hasil usaha penghentian
kehamilan, dan pemeriksaan mikroskopik terhadap sisa-sisa jaringan.
Abortus yang dilakukan oleh ahli yang terampil mungkin tidak meninggalkan bekas
dan bila telah berlangsung satu hari atau lebih, maka komplikasi yang timbul atau penyakit
yang menyertai mungkin mengaburkan tanda-tanda abortus kriminal.4

F. Pemeriksaan laboratorium5

Telah di temukan darah dalam botol, disini perlu di tentukan apakah darah tersebut
merupakan darah atau bukan darah.

Di dapatkan :
1. Tes penyaring ( Benizidintes)
Sepotong kertas saring di gosokan pada darah terdapatpada botol kemudian di
teteskan 1 tetes H2O2 20% dan 1 tetes reagen benizidin.
Hasil
: timbul warna biru gelap pada kertas saring (+)
Interpretasi :mungkin merupakan darah

2. Tes penentu ( reaksi teichman )


Seujung jarum bercak kering di letakkan pada kaca obyek, tambahkan satu
butir Kristal NaCl dan 1 tetes asam asetat glacial, tutup dengan kaca penutup dan
dipanaskan
Hasil

: tampak Kristal hemin-HCl berbentuk batang berwarna coklat pada

mikroskop (+)
Interpretasi

:merupakan darah

3. Tes penentuan spesies (reaksi cincin )


Serum globulin manusia dimasukan kedalam tabung reaksi kecil kemudian di
tuangkan ekstrak darah perlahan melalui tepi tabung. Didiamkan selama 1 jam 30
menit.

Hasil

: tampak cincin presipitasi keruh pada perbatasan kedua cairan (+)

Interpretasi

: merupakan darah manusia

4. Golongan darah

Darah dalam botol :


1 tetes serum anti A, anti B, dan serum anti AB di teteskan pada obyek glas kemudian
di tambahkan 1 tetes darah (di ambil dari dalam botol)
Hasil

: terjadi penggumpalan ( aglutinasi ) pada obyek glass yang berisi

serum anti A
Interpretasi : golongan darah A

5. PA jaringan (mikroskopik)
Hasil

:pemeriksaan mikroskopik pada jaringan dalam botol :


Terlihat adanya kerusakan pada jaringan
Terlihat sel trofoblas
Ditemukan sel PMN

Interpretasi

: jaringan dalam botol kemungkinan berasal dari jaringan sisa kuretase

yang mengindikasikan adanya kehamilan yang di terminasi karena ditemukan


trofoblas yang merupakan tanda kehamilan dan sel PMN yang merupakan tanda
intravitalitas.
6. Tes DNA
Untuk memastikan jaringan yang terdapat dalam botol ada hubungannya dengan
perempuan tsb
7. Tes B-HCG
Untuk menentukan kehamilan
8. Uji Toksikologi

Untuk mengetahui adanya obat/zat yang dapat mengakibatkan Abortus. Racun


umumnya digunakan dengan harapan agar janin mati tetapi Ibu masih cukup kuat
untuk bertahan. Hasil yang diperoleh sangat bergantung pada dosis/ takaran,
sensitivitas individu dan keadaan kandungan (usia gestasi).

G.Indentifikasi hubungan antara jaringan dengan tersangka


Untuk mengidentifikasi hubungan antara jaringan dengan tersangka perlu
ditemukan adanya suatu hal yang memiliki kesamaan dan memiliki spesifisitas yang
tinggi agar dapat dipastikan bahwa jaringan yang berada pada botol suction curret
adalah benar janin yang berasal dari tersangka atau bukan. Saat ini telah diketahui
bahwa kesamaan yang sangat spesifik dan akurat antara jaringan pada botol dengan
tersangka dapat ditemukan pada tingkatan molekulernya yaitu DNA.9 Cabang ilmu
kedokteran forensik molekuler adalah cabang ilmu yang memanfaatkan pengetahuan
kedokteran dan biologi pada tingkat molekul atau DNA sehingga ilmu inilah yang
diterapkan untuk kepentingan pemeriksaan identifikasi personal seperti pada kasus ini.
Alasan mengapa DNA yang dipakai untuk identifikasi personal adalah sifat
polimorfisme lokus spesifik pada DNA.9 Polimorfisme adalah istilah yang
menunjukan adanya suatu bentuk yang berbeda dari suatu struktur dasar yang sama
sehingga lokus spesifik pada DNA yang memiliki sifat polimorfisme ini dapat
menunjukan variasi individu dan membedakan antara individu satu dengan yang lain.
Telah dikenal pula adanya sifat polimorfisme pada protein seperti sistim golongan
darah, golongan protein serum, golongan enzim eritrosit, dan HLA. Namun sifat
polimorfisme pada DNA memiliki beberapa kelebihan dibandingkan polimorfisme
protein.9
Jika dibandingkan, polimorfisme DNA menunjukan tingkat polimorfis yang
jauh lebih tinggi sehingga tidak perlu dilakukan pemeriksaan pada sistem yang lain
untuk memastikan identifikasi.9 Selain itu tingkat kestabilan yang jauh lebih tinggi
dan distribusi yang luas meliputi seluruh sel pada tubuh dapat memungkinkannya
pengambilan sampel pada berbagai bahan dan dapat pula diambil dari jenazah yang

sudah membusuk, mengalami mumifikasi, atau bahkan tulang-belulang.9 Keuntungan


terakhir adalah dengan ditemukannya metode PCR (Polymerase Chain Reaction),
bahan DNA yang tidak segar dan sedikit jumlahnya dapat diperbanyak sehingga
masih mungkin untuk dianalisis.9
Pemeriksaan polimorfisme pada DNA meliputi pemeriksaan DNA fingerprint,
VNTR (Variable Number of Tandem Repeats) dan RLFP (Restriction Fragment
Length Polymorphisms), secara Southern Blot atau dengan PCR.
DNA fingerprint
Pemeriksaan ini didasarkan dengan adanya intron, yaitu daerah non-coding
atau tidak mengkode protein apapun, yang ternyata merupakan urutan
basa tertentu yang berulang sebanyak n kali dimana n ini berjumlah
berbeda pada setiap individunya sehingga kemungkinannya sangat kecil
sekali untuk 2 orang individu yang berbeda memiliki potongan DNA yang
sama.9 Intron ini tersebar pada seluruh genom sehingga dikatakan
multilokus.9
Intron disebut juga dengan VNTR dan umumnya tersebar pada
bagian ujung kromosom dan seperti pada DNA umumnya, VNTR ini
diturunkan dari kedua orang tuanya menurut hukum Mendel sehingga
keberadaannya dapat dilacak secara tidak langsung dari orang tua,
suadara kandung, atau anaknya.9 Sehingga pada kaitannya dengan kasus
ini, VNTR dapat dijadikan sebagai hal yang dicocokan antara tersangka
dengan sampel jaringan pada botol dan dapat pula memastikan apakah
benar di dalam botol tersebut terdapat jaringan yang berasal dari 3 janin
yang berbeda.
VNTR menjadi semakin banyak variasinya setelah penggunaan
enzim restriksi, sistem labeling, dan pelacak yang berbeda. Variasi pun
terjadi pada panjangnya potongan DNA akibat terjadinya mutasi tertentu
pada lokasi pemotongan oleh enzim sehingga akhirnya lokasi tersebut
tidak dapat dipotong oleh enzim restriksi dan kemudian menghasilkan
potongan DNA yang lebih panjang.9 Variasi panjang ini dinamakan dengan
RFLP sehingga RFLP pun dapat dipakai sebagai hal yang akan dianalisis
pada DNA.
Pemeriksaan ini diawali dengan pengambilan sampel jaringan pada
botol dan pada tersangka dan kemudian dilakukan extraksi DNA dari sel
berinti, lalu memotongnya dengan enzim restriksi sehingga DNA menjadi
potongan-potongan. Potongan-potongan DNA ini kemudian dipisahkan

berdasarkan berat molekulnya dengan melakukan elektroforesis pada gel


agarose ataupun diperbanyak dengan metode PCR terlebih dahulu pada
potongan tertentu yang telah diketahui susunan basanya dan terutama
bagian yang merupakan VNTR atau RFLP yang akan dianalisis dan
kemudian baru dilakukan elektroforesis. 9
Setelah dilakukan elektroforesis pada agel agarose, potonganpotongan DNA yang berada pada permukaan agar akan diserap dengan
menggunakan suatu membran nitroselulosa dengan metode Southern
Blot. Membran yang kemudian telah mengandung potongan DNA ini akan
diproses untuk membentuk DNA untai tunggal dengan proses denaturasi.
Potongan DNA untai tunggal kemudian dicampurkan dengan pelacak DNA
yang telah dilabel dengan bahan radiaktif. Proses ini desebut sebagai
proses hibridisasi. DNA yang telah berhibridisasi dengan pelacak ini
dipaparkan ke suatu film di atas membran sehingga film akan terbakar
oleh radiasi radioaktif pada pelacak berlabel tersebut sehingga
menghasilkan gambaran berupa pita-pita pada film yang membentuk
gambaran berupa barcode.
Pita-pita ini yang kemudian akan dipakai untuk membandingkan
DNA pada sampel jaringan dalam botol dan DNA pada sampel tersangka.
Jika ternyata didapatkan bahwa separuh pita pada sampel jaringan pada
botol cocok dengan separuh pita pada sampel tersangka maka dapat
dipastikan bahwa tersangka telah melakukan aborsi dan jaringan yang ada
pada botol adalah janin yang berasal dari tersangka.

H.Visum et repertum
Struktur dan Isi Visum et Repertum
Kerangka dasar visum et repertum terdiri dari :
1.ProYustitia
Pro Yustitia di bagian atas visum dianggap sama dengan kertas materai.
Penulisan kata Pro Yustitia pada bagian atas dari visum lebih diartikan agar pembuat
maupun pemakai visum dari semula menyadari bahwa laporan itu adalah demi
keadilan (Pro Yustitia). Jadi dokter sejak semula memahami bahwa laporan yang

dibuatnya tersebut adalah sebagai partisipasinya secara tidak langsung dalam


menegakkan hukum dan keadilan dengan memeriksa korban sebagai salah satu alat
bukti yang sah dalam menegakkan hukum dan keadilan.
2.Pendahuluan
Bagian pendahuluan berisi tentang siapa yang memeriksa, siapa yang
diperiksa, saat pemeriksaan (tanggal, hari dan jam), di mana diperiksa, mengapa
diperiksa dan atas permintaan siapa visum itu dibuat. Data diri korban diisi sesuai
dengan yang tercantum dalam permintaan visum.
3.Pemeriksaan
Pada bagian ini dokter melaporkan hasil pemeriksaannya secara objektif.
Biasanya pada bagian ini dokter menuliskan luka, cedera dan kelainan pada tubuh
korban seperti apa adanya, termasuk bentuk luka, ukurannya, maupun tepinya.
Sebagai tambahan pada bagian pemeriksaan ini, bila dokter mendapatkan kelainan
yang banyak atau luas dan akan sulit menjelaskannya dengan kata-kata, maka
sebaiknya penjelasan ini disertai dengan lampiran foto atau sketsa. Pada kasus aborsi,
disertakan pula hasil pemeriksaan ginekologi mengenai adanya tanda kehamilan serta
bentuk kekerasan dari dalam yang menjadi usaha pelaku menggugurkan
kandungannya, seperti manipulasi vagina/uterus. Selain itu, juga disertakan hasil
pemeriksaan

toksikologi

berkaitan

dengan

upaya

pengguguran

kandungan.

4. Kesimpulan

Pada bagian ini dokter menyimpulkan kelainan yang terjadi pada korban
menurut keahliannya. Pada kasus aborsi dituliskan mengenai tanda kehamilan, bukti
usaha penghentian kehamilan, hasil pemeriksaan toksikologi, dan hasil pemeriksaan
mikroskopik sisa jaringan. Pada kebanyakan visum yang dibuat dokter, bagian
kesimpulan ini perlu mendapat perhatian agar visum lebih berdaya guna dan lebih
informatif.
5.Penutup

Bagian ini mengingatkan pembuat dan pemakai visum bahwa laporan tersebut
dibuat sejujur-jujurnya dan mengingat sumpah. Untuk menguatkan pernyataan itu
dokter mencantumkan Staatsblad 1937 No.350 atau dalam konsep visum yang baru
ditulis sesuai KUHP.

I. Abortus6,7
1.

Definisi Abortus
Menurut hukum ialah tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan

janin sebelum waktu kelahiran, tanpa melihat usia kandungannya. Juga tidak
dipersoalkan apakah dengan pengguguran kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau
mati (Yurisprudensi Hoge Raad HR 12 April 1898). Yang dianggap penting adalah
bahwa sewaktu pengguguran kehamilan dilakukan, kandungan tersebut masih hidup.
(1)

Pengertian pengguguran kandungan menurut hukum tentu saja berbeda


dengan pengertian abortus menurut kedokteran, yaitu berakhirnya kehamilan melalui
cara apapun sebelum janin mampu bertahan hidup pada usia kehamilan sebelum 20
minggu didasarkan pada tanggal hari pertama haid normal terakhir atau berat janin
kurang dari 500 gram.(2)
2.

Klasifikasi Abortus

Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:


Menurut terjadinya dibedakan atas:
1. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja atau
dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis, sematamata
disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.

2. Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja tanpa indikasi
medis, baik

dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat. Abortus ini

terbagi lagi menjadi:


a) Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena
tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat
membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat
persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
b) Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakantindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya
dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.(2)

J.

Tindakan Abortus Provokatus8


Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita.

Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia tidak merasakan apa-apa dan
langsung boleh pulang. Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama
mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi.
Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi:
1. Resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik
2. Resiko gangguan psikologis
Resiko kesehatan dan keselamatan fisik
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan
dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku Facts of Life yang ditulis oleh Brian
Clowes, Phd yaitu:
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan

4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation)


5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada
anak berikutnya
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10. Kelainan

pada

placenta/ari-ari

(Placenta

Previa)

yang

akan

menyebabkan

cacat

pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

Resiko kesehatan mental


Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan
keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebatterhadap
keadaan mental seorang wanita.
Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai Post-Abortion Syndrome (Sindrom Paska-Aborsi)
atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam Psychological Reactions Reported After Abortion di
dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994).
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut ini:
1.

Kehilangan harga diri (82%)

2.

Berteriak-teriak histeris (51%)

3.

Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)

4.

Ingin melakukan bunuh diri (28%)

5.

Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)

6.

Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)


Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan

bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik(ginekologi) dan laboratorium ditemukan tandatanda kehamilan. Pada pemeriksaan sediaan apus darah tepi dapat dibuktikan bahwa darah
milik wanita tersebut. Pada pemeriksaan DNA ditemukan kecocokan dengan ketiga wanita
tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pengguguran kandungan illegal.

DAFTAR PUSTAKA

1. Syafrudin, SH, MH. Abortus Provocatus dan Hukum. [cited 17 april 2015] available
from: http://repository.usu.ac.id
2. Safitri, oktavinda. Kompilasi Peraturan Perundang-undangan Terkait Praktik Kedokteran.
Jakarta: Departemen ilmu kedokteran forensik dan mediikolegal FKUI;2014;38-40
3. Budi Sampurna,dkk. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Jakarta: Pustaka Dwipar;2005
4. Budiyanto,Arif,dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta:Bagian Forensik FKUI;1997;163
5. Budiyanto,Arif,dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta:Bagian Forensik FKUI;1997;836
6. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Mun'im TWA, Sidhi, Hertian S, et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1997. p.159
7. Abortus. [internet] 2015. [accessed on

2015

April

16]

Available

from:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23479/4/Chapter%20II.pdf
8. Risiko aborsi.[internet] 2002-2004. [cited 2015 Apr 17]. Available

from:

http://www.aborsi.org/resiko.htm

9. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Mun'im TWA, Sidhi, Hertian S, et al. Ilmu


Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1997. p.207-13