Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

Keperawatan Anak II
Pasien dengan Dangue Shock Syndrome ( DSS)
Di IRNA IV HCU RSSA - Malang

Disusun Oleh :
Miftahul Jannah
1401100035
Tingkat 2A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN MALANG
Mei 2016

Dangue Shock Syndrome (DSS)


1. DEFINISI

Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue


haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot
dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopeniadan

diathesis

hemoragik.

Pada

DBD

terjadi

perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan


hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom
renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah
dengue yang ditandai oleh renjatan/syok (Suhendro, Nainggolan,

Chen, 2006).
Penyakit Dengue Shock Syndrom (DSS) adalah penyakit DHF yang

mengalami renjatan atau shock ( Mansjoer, Arief.dkk;2001.428)


Dengue Shock Syndrome (SSD) / Dengue Syok Sindrom (DSS)
adalah kasus deman berdarah dengue disertai dengan manifestasi
kegagalan sirkulasi/ syok/ renjatan. Dengue Shok Syndrome (DSS)
adalah sindroma syok yang terjadi pada penderita Dengue

Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue (DBD).


Menurut klasifikasi WHO (1975) DSS merupakan demam berdarah
dengue derajat III dan IV atau demam berdarah dengue dengan tandatanda kegagalan sirkulasi sampai tingkat renjatan.

2. ETIOLOGI
1. Virus dengue
Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam
Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu
virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat
di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis
virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40
nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam
kultur jaringan baik yang berasal dari sel sel mamalia misalnya sel BHK

(Babby Homster Kidney) maupun sel sel Arthropoda misalnya sel aedes
Albopictus. (Soedarto, 1990).
2. Vektor
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu
nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan
beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan.infeksi
dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup
terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap
serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420).
Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor
penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui
gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah
perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk
tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak pada
genangan Air bersih yang terdapat bejana bejana yang terdapat di dalam
rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat di luar rumah di lubang
lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air
bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai
menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi
hari dan senja hari. (Soedarto, 1990).
3. Host
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia
akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna,
sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama
tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever
(DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus
dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya
atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus
dengue untuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap
dengue dari ibunya melalui plasenta. (Soedarto, 1990).
Virus dengue termasuk group B arthropod borne virus ( arbovirus) dan
sekarang dikenal sebagai genus flavivirus/family flaviviridae yang
mempunyai 4 jenis serotype yang diberi nama Den-1,Den-2,Den-3,dan
Den-4. ( sumarmo,s dkk;2008.156)

Virus dengue dengan serotype Den-1 sampai dengan Den-4 yang


ditularkan melalui vector Nyamuk Aedes Aegypi,Aedes albopictus dan
Aedes Polynesiensis dan beberapa spesies lain yang merupakan vector
yang kurang berperan. Infeksi dengan salah satu serotype akan
menimbulkan

antibody

seumur

hidup

terhadap

serotype

yang

bersangkutan akan tetapi tidak ada perlindungan antibody terhadap


serotype yang lain.(Mansjoer,arief;2001.419)
3. TANDA DAN GEJALA
- Adanya manifestasi perdarahan spontan, seperti bintik-bintik merah di
kulit yang tidak hilang jika ditekan (utamanya di daerah siku, pergelangan
tangan dan kaki), uji tourniquet positif, mimisan, perdarahan gusi,
-

perdarahan yang sulit dihentikan jika disuntik atau terluka


Panas
Oligouri sampai anuria
Adanya pembesaran organ hepar (hati) dan limpa. (Hepatomegali)
Adanya trombositopenia
Adanya penurunan kesadaran
Tekanan darah sangat rendah
Nadi cepat dan lemah
Tangan dan kaki pucat dan dingin
DHF derajat IV: Atau fase syok (disebut juga dengue syok
syndrome/DSS), penderita syok dalam dengan kesadaran sangat menurun
hingga koma, tangan dan kaki dingin dan pucat, nadi sangat lemah sampai

tidak teraba, tekanan nadi tidak dapat terukur.


Wong dkk. (1973) juga mengemkakan beberapa tanda dan gejala yang
perlu diperhatikan dalam diagnosis klinim penderita dengue shock
syndrome, yaitu :
1. Clouding of sensorium
2. Tanda-tanda hipovolemia, seperti akral dingin, tekanan darah menurun.
3. Nyeri perut
4. Tanda-tanda perdarahan diluar kulit, dalam hal ini seperti epistaksis,
hematemesis, melena, hematuri, dan hemoptisis.
5. Trombositopenia berat
6. Adanya pleural efosion pada toraks foto
7. Tanda-tanda miokarditis pada EKG.
4. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi yang terutama pada Dengue Shock Syndrom ialah tejadinya
peninggian permeabilitas dinding pembuluh darah yang mendadak dengan

akibat terjadinya perembesan plasma dan elekrolit melalui endotel dinding


pembuluh

darah

dan

masuk

kedalam

ruang

interstitial,

sehingga

menyebabkan hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia dan efusi cairan


ke rongga serosa.
Pada penderita dengan renjatan berat maka volume plasma dapat berkurang
sampai kurang lebih 30 % dan berlangsung selama 24-48 jam. Renjatan
hipovolemi ini bila tidak segera diatasi maka dapat mengakibatkan anoksia
jaringan, asidosis metabolik, sehingga terjadi pergeseran ion kalium
intraseluler ke ekstraseluler. Mekanisme ini diikuti pula dengan penurunan
kontraksi otot jantung dan venous pooling, sehingga lebi lanjut akan
memperberat renjatan.
Sebab lain kematian penderita DSS ialah perdarahan hebat saluran
pencernaan yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak
diatasi adekuat.
Terjadinya perdarahan ini disebabkan oleh :
a. Trombositopenia hebat, dimana trombosit mulai menurun pada masa
demam dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan.
b. Gangguan fungsi trombosit
c. Kelainan system koagulasi, masa tromboplastin partial, masa protrombin
memanjang sedangkan sebagian besar penderita didapatkan masa thrombin
norma. Beberapa factor pembekuan menurun, termasuk factor II, V, VII, IX,
X dan fibrinogen.
d. Pembekuan intravaskuler yang meluas, DIC (Disseminated Intravascular
Coagulation).
5. KLASIFIKASI
Menurut derajat ringannya penyakit, Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi
menjadi 4 tingkat (UPF IKA, 1994 ; 201) yaitu :
1. Derajat I : Panas 2 7 hari , gejala umum tidak khas, uji taniquet hasilnya
positif
2. Derajat II : Sama dengan derajat I di tambah dengan gejala gejala
pendarahan spontan seperti petekia, ekimosa, epimosa, epistaksis,
haematemesis, melena, perdarahan gusi telinga dan sebagainya.
3. Derajat III : Penderita syok ditandai oleh gejala kegagalan peredaran
darah seperti nadi lemah dan cepat (> 120 / menit) tekanan nadi sempit (<
20 mmHg) tekanan darah menurun (120 / 80 mmHg) sampai tekanan
sistolik dibawah 80 mmHg.

4. Derajat IV : Nadi tidak teraba,tekanan darah tidak terukur (denyut jantung


> 140 mmHg) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit
tampak biru.
Derajat III dan IV disebut DSS (Dangue Shock Syndrome)
6. MASALAH KEPERAWATAN
1. Hipertermi b.d proses infeksi virus dengue (viremia).
2. Kekurangan volume cairan b.d perpindahan cairan dari intravaskuler ke
ekstravaskuler.
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake
inadekuat.
4. Resiko syok hipovolemik b.d permeabilitas membran meningkat.
5. Resiko cedera (perdarahan) b.d trombisitopenia.

7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hasil laboratorium
- Trombosit menurun <100.000/ (pada hari sakit ke 3 7
- Hematokrit meningkat 20% atau lebih
- Albumin cenderung menurun
- SGOT, SGPT sedikit meningkat
- Asidosis metabolik pada lab BGA (pc02 < 35 40 mmHg, HCO3
menurun.
- Dengue blat 19m positif 19G positif pada hari ke 6.
- NS 1 positif
2. Foto rontgen
- Pemeriksaan foto thorax RLD (Right Lateral Dext)
- Efusi Pleura (PEI %)
3. USG
Pada pemeriksaan USG biasanya ditemukan:
- Asites dan Efusi pleura
- Hepatomegali
8. PENATALAKSANAAN
A. Penatalaksanaan Medis
Pada penderita DSS (DBD Grade III dan IV) anak-anak :
1. Cairan Cairan yang diberikan bisa berupa :
- Kristaloid :
Ringer Laktat
5 % Dextrose di dalam larutan Ringer Laktat
5 % Dextrose di dalam larutan Ringer asetat
5 % Dextrose di dalam larutan setengah normal garam faali, dan
5 % Dextrose di dalam larutan normal garam faali.
1) Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam

Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg


dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral
hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Jika nadi
dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan
dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam
dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu (24 jam
dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan). Perhitungan
kebutuhan cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut :
-

100 ml/kgBB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 kg.

75 ml/kgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26 30 kg.

60 ml/kgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31 40 kg.

50 ml/kgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41 50 kg.

2) Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam


keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat
lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma
atau plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10
mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam
kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan
RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang
sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.
3) Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg
BB/ 1 jam keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang
80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita
tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L
atau lainnya) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. Dan dapat diulang
maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam.
-

Koloidal :
Plasma expander dengan berat molekul rendah (Dextran 40)
Plasma.
RL / D 5 % dalam RL / D 5 % dalam Ringer Asetat / larutan normal
garam faali ----> diberikan 10 20 ml/kg BB/ 1 jam.
Pada kasus yang berat (grade IV) dapat diberikan bolus 10 ml/kg BB
(1 x atau 2 x).

Jika renjatan berlangsung terus (HCT tinggi) diberikan larutan koloidal


(Dextran atau Plasma) sejumlah 10 20 ml/kg BB/ 1 jam.
2. Tranfusi darah diberikan pada :
- Kasus dengan renjatan yang sangat berat atau renjatan yang
3.

berkelanjutan.
Gejala perdarahan yang nyata, misal : hematemesis dan melena.
Pemberian darah dapat diulang sesuai dengan jumlah yang dikeluarkan.
Jika jumlah trombosit menunjukkan kecenderungan menurun
Antipiretika : yang diberikan sebaiknya Parasetamol (mencegah

timbulnya Efek samping pedarahan dan asidosis)


4. Obat penenang : diberikan pada kasus yang sangat gelisah. Dapat
diberikan Valium 0,3 0,5 mg/kgBB/kali (bila tidak terjadi gangguan
system pernapasan) atau Largactil 1 mg/kgBB/kali. Bila penderita kejang
dapat diberikan kombinasi Valium (0,3 mg/kgBB) i.v. dan diikuti Dilantin
(2 mg/kgBB/jam 3 kali sehari).
5. Oksigen 2 liter per menit menggunakan masker oksigen
6. Koreksi asidosis Nabic dapat diberikan 1 2 mEq/kgBB, diberikan
dengan kecepatan 1 mEq/menit, atau jumlah Nabic dapat dihitung dengan
rumus : Kebutuhan Nabic : 0,5 x BB x Defisit HCO3- atau 0,3 x BB x
Base defisit
7. Koreksi kelainan-kelainan yang terjadi
8. Kortikosteroid Penggunaannya masih controversial pada pengobatan DSS
-

Bisa diberikan dengan dosis :


Hidrokortison 6 8 mg/kgBB/ 6 8 jam i.v.
Methyl prednisolon 30 mg/kgBB/hari i.v.
Dexamethazon 1 2 mg/kgBB sebagai dosis awal, kemudian 1

mg/kgBB/hari i.v.
Dopamine 8 mcg/kgBB

B. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Tirah baring
2. Pemberian makanan lunak
Bila belum ada nafsu makan dianjurkan untuk minum banyak 1,5-2 liter
dalam 24 jam ( Susu, air dengan gula atau sirup) atau air tawar dengan
garam saja
3. Medikamentos yang bersifat simptomatis. Untuk hiperpeksia dapat
diberikan kompres es di kepala, ketiak dan inguinal.
4. Antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminoven, eukinin atau dipiron,
hindari pemakaian asetosal karena bahaya perdarahan.
5. Antibiotik diberikan bila terdapat kekhawatiran infeksi sekunder.

9. PATHWAY

10.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Identitas : Umur, Alamat (daerah endemis, lingkungan rumah / sekolah
ada yang terkena DB)
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) :
panas, muntah, epistaksis, pendarahan gusi.
2) Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien
saat masuk rumah sakit) : kapan mulai panas?
3)
Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau
penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien)

4)

Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau

penyakit lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik
bersifat genetic atau tidak)
5) Riwayat tumbuh kembang: adakah keterlambatan tumbuh kembang?
6) Riwayat imunisasi
c.
1)

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi (berat badan,

panjang badan, usia)


2)
Pemeriksaan per system
a)
System persepsi sensori :
Penglihatan : edema palpebra, air mata ada/tidak, cekung/normal
Pengecapan : rasa haus meningkat/tidak, tidak lembab/kering
b) System persyarafan : kesadaran, menggigil, kejang, pusing
c) System pernafasan : epistaksis, dispneu, kusmaul, sianosis, cuping
hidung, odem pulmo, krakles
d)
System kardiovaskuler : takikardi, nadi lemah dan cepat/tak teraba,
kapilary refill lambat, akral hangat/dingin, epistaksis, sianosis perifer,
nyeri dada
e)
System gastrointestinal :
Mulut : membrane mukosa lembab/kering, pendarahan gusi
Perut : turgor?, kembung/meteorismus, distensi, nyeri, asites, lingkar
perut?
Informasi tentang tinja : warna (merah, hitam), volume, bau,
konsistensi, darah, melena
f) System integument : RL test (+)?, petekie, ekimosis, kulit
kering/lembab, pendarahan bekas tempat injeksi?
g) System perkemihan : bak 6 jam terakhir, oliguria/anuria
d.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)

Pola Fungsi Kesehatan


Pola persepsi dan pemeliharaan kesenian : sanitasi?
Pola nutrisi dan metabolism : anoreksi, mual, muntah
Pola eliminasi :
Bab : frekuensi, warna (merah?, hitam?), konsistensi, bau, darah
Bak : frekuensi, warna, bak 6 jam terakhir?, oliguria, anuria
Pola aktifitas dan latihan
Pola tidur dan istirahat
Pola kognitif dan perceptual
Pola toleransi dan koping stress
Pola nilai dan keyakinan
Pola hubungan dan peran
Pola seksual dan reproduksi
Pola percaya diri dan konsep diri

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi b.d proses infeksi virus dengue (viremia).
2. Kekurangan volume cairan b.d perpindahan cairan dari intravaskuler
ke ekstravaskuler.
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake
inadekuat.
4. Resiko syok hipovolemik b.d permeabilitas membran meningkat.
5. Resiko cedera (perdarahan) b.d trombisitopenia.
C. Intervensi
1. Hipertermi berhubungan dengan Proses Infeksi Virus Dengue

(Viremia)
Tujuan : Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan tindakan

perawatan.
Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 37 C, membran mukosa basah,

nadi dalam batas normal (80 100 x/mnt), Nyeri otot hilang.
Intervensi :
- Berikan kompres (air biasa / kran).
Rasional : mengurangi panas dengan pemindahan panas secara
konduksi. Air hangat mengontrol pemindahan panas secara
-

perlahan tanpa menyebabkan hipotermi atau menggigil.


Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500 2000
cc/hari (sesuai toleransi).
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat

evaporasi.
Anjurkan keluarga agar mengenakan pakaian yang tipis dan
mudah menyerap keringat pada klien.
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis
mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu

tubuh.
Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan
darah) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.
Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui
keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital

merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.


Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat
antipiretik sesuai program.
Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan
suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan panas
tubuh pasien.

2. Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan Perpindahan Cairan

Dari Intravaskuler Ke Ekstravaskuler


Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan / Tidak terjadi syok

hipovolemik.
Kriteria : Input dan output seimbang, Vital sign dalam batas normal
(TD 100/70 mmHg, N: 80 120 x/mnt), Tidak ada tanda presyok,

Akral hangat, Capilarry refill < 3 detik, Pulsasi kuat.


Intervensi :
- Observas vital sign tiap 3 jam / lebih sering.
Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan
-

intravaskuler
Observasi capillary Refill.
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer
Observasi intake dan output. Catat jumlah, warna, konsentrasi, BJ
urine.
Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ

diduga dehidrasi.
Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi).

Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh peroral


Kolaborasi : Pemberian cairan intravena, plasma atau darah.
Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk
mencegah terjadinya hipovolemic syok.

3. Ketidak Seimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh

berhubungan dengan Intake In Adekuat


Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi.
Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi, tidak terjadi penurunan
berat badan, Nafsu makan meningkat, porsi makanan yang disajikan

mampu dihabiskan klien, mual dan muntah berkurang.


Intervensi :
- Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan
-

intervensi.
Observasi dan catat masukan makanan pasien.
Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan
konsumsi makanan.
Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan).

Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas


-

intervensi.
Berikan / Anjurkan pada klien untuk makanan sedikit namun
sering dan atau makan diantara waktu makan.
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan

meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster.


Berikan dan Bantu oral hygiene.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral.
Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan

mengandung gas.
Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.
Jelaskan pada klien dan keluarga tentang penting nutrisi/ makanan

bagi proses penyembuhan.


Rasional : Nutrisi terpenuhi
Sajikan makanan dalam keadaan hangat.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan
Anjurkan pada klien untuk menarik nafas dalam jika mual.
Rasional : Makanan yang sudah masuk tidak dimuntahkan
Kolaborasi dalam pemberian diet lunak dan rendah serat.
Observasi porsi makan klien, berat badan dan keluhan klien.
Rasional : tidak terjadi penurunan berat badan

4. Resiko Syok Hipovolemik berhubungan dengan Permeabilitas

Membran Meningkat
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik.
Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal.
Intervensi :
- Monitor keadaan umum pasien.
Rasional : Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan
terutama saat terjadi perdarahan. Perawat segera mengetahui
-

tanda-tanda presyok / syok.


Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih.
Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk
memastikan tidak terjadi presyok / shock.
Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera
laporkan jika terjadi perdarahan.
Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tandatanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat

dan tepat dapat segera diberikan.


Kolaborasi : Pemberian cairan intravena.

Rasional
-

: Cairan

intravena

diperlukan

untuk

mengatasi

kehilangan cairan tubuh secara hebat.


Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah
yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih
lanjut.

5. Resiko Cedera (Perdarahan) b.d Trombisitopenia


Tujuan : Tidak terjadi perdarahan selama dalam masa perawatan.
Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80 100 x/menit reguler, pulsasi
kuat, tidak ada perdarahan spontan (gusi, hidung, hematemesis dan

melena), trombosit dalam batas normal (150.000/uL).


Intervensi :
- Anjurkan pada klien untuk banyak istirahat tirah baring (bedrest).
Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat
-

menyebabkan terjadinya perdarahan.


Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang bahaya
yang dapat timbul akibat dari adanya perdarahan, dan anjurkan
untuk segera melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti di gusi,
hidung(epistaksis), berak darah (melena), atau muntah darah
(hematemesis).
Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu

untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan.


Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak,
pelihara kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap
selesai ambil darah dan Observasi tanda-tanda perdarahan serta

tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan).


Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.
Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium secara berkala (darah
lengkap).
Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat
diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan

perdarahan yang dialami pasien.


Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda
klinis.

Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya


kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat
-

menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.


Monitor trombosit setiap hari.
Kolaborasi dalam pemberian transfusi (trombosit concentrate).

DAFTAR PUSTAKA
Rampengan T.H., Laurentz I.R. 1997. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Jakarta:
EGC.
Soegijanto S, et all. 1994. Demam Berdarah Dengue Pedoman Diagnosa dan
Terapi Lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.
Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2,
(terjemahan). Jakarta: EGC.
Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan)..
Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran.
Mansjoer, Arif & Suprohaita. 2000. Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. Fakultas
Kedokteran UI. Jakarta: Media Aescullapius.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Soeparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua. Jakarta: FKUI.
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Soedarto. 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Surabaya: F.K. Universitas
Airlangga.
Rampengan T.H dkk. 1997. penyakit infeksi tropic pada anak. Jakarta: EGC