Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KELOMPOK

MODUL 4
PERDARAHAN KONTAK
SISTEM ONKOLOGI

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 7
KHAIRUNNISA 10542020210
AHMAD ABDUL HADIY AZ-ZAKIY 10542016110
ANDI FITRI EKAWATI 10542016810
NURMARIFAH 10542017310
MUH. FADLAN RAMADHAN 10542017510
ANDI DEWI URLYANA 10542020810
FAJRUL SIYAM ANSAR 10542021210
ANDI ANISSA ULIA 10542022210
ABDUL QADIR AIN KOLLY 10542024510
HAJRAH 10542025010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2013
1

SKENARIO 2
Seorang perempuan berusia 55 tahun P5A1, menopause 5 tahun yang lalu datang dengan
keluhan perdarahan dari jalan lahir yang dialami 2 minggu terakhir. Riwayat perdarahan
sebelumnya ada 1 bulan yang lalu setelah pasien berhubungan dengan suaminya. Pada
pemeriksaan fisis didapat pasien mengidap penyakit diabetes mellitus dan hipertensi.

KATA KUNCI :
-

Perempuan 55 tahun, P5A1

Menopause 5 tahun yang lalu

Perdarahan jalan lahir 2 minggu terakhir

Riwayat perdarahan sebelumnya 1 bulan yang lalu pasca coitus

Pemeriksaan fisis : Diabetes mellitus dan Hipertensi (+)

PERTANYAAN :
1. Anatomi dan histologi yang terkait dengan skenario
2. Patomekanisme terjadinya perdarahan kontak
3. Hubungan antara perdarahan kontak dengan diabetes mellitus dan hipertensi
4. Etiologi dan faktor resiko perdarahan kontak
5. Penegakan diagnosis ( anamnesis tambahan dan pemeriksaan fisis )
6. Diferensial diagnosis

JAWABAN :
1. Anatomi dan fisiologi
Jawab :

Organ genitalia interna pada wanita meliputi ovarium, tuba fallopii, uterus, dan vagina.
berikut organ genitalia interna pada wanita:
Ovarium

Sebuah ovarium terletak di setiap sisi uterus, di bawah dan di belakang tuba fallopii.
Dua ligament mengikat ovarium pada tempatnya, yaitu bagian mesovarium ligament
lebar uterus, yang memisahkan ovarium dari sisi dinding pelvis lateral setinggi Krista
iliaka anterosuperior, dan ligamentum ovarii proprium, yang mengikat ovarium ke
uterus. pada palpasi overium dapat digerakkan.
Ovarium memiliki asal yang sama (homolog) dengan testis pria. Ukuran dan bentuk
setiap ovarium menyerupai sebuah almon berukuran besar. Saat ovulasi, ukuran ovarium
dapat menjadi dua kali lipat untuk sementara. Ovarium yang berbentuk oval ini memiliki
konsistensi yang padat dan sedikit kenyal. Sebelum menarche, permukaan ovarium licin.
Setelah maturitas seksual, luka parut akibat ovulasi dan rupture folikel yang berulang
membuat permukaan nodular menjadi kasar.
Dua fungsi dari ovarium adalah untuk ovulasi dan mmemproduksi hormone. Saat lahir
ovarium wanita normal mengandung sangat banyak ovum primordial (primitif). Diantara
interval selama masa usia subur (umumnya setiap bulan), satu atau lebih ovum matur
dan mengalami ovulasi.
Ovarium juga merupakan tempat utama produksi hormone seks steroid (estrogen,
progesterone, dan adrogen) dalam jumlah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan,
perkembangan, dan fungsi wanita normal.
Tuba Fallopii

Sepasang tuba fallopii melekat pada fundus uterus. tuba ini memanjang ke arah lateral,
mencapai ujung bebas ligament lebar dan berlekuk-lekuk mengelilingi setiap ovarium.
Tuba memiliki panjang sekitar 10 cm dengan diameter 0,6 cm. Setiap tuba mempunyai
lapisan peritoneum bagian luar, lapisan otot tipis di bagian tengah, dan lapisan mukosa
di bagian dalam. Lapisan mukosa terdiri dari sel-sel kolumnar, ebberapa diantaranya
bersilia dan beberapa yang lain mengeluarkan secret. Lapisan mukosa paling tipis saat
menstruasi. Setiap tuba dan lapisan mukosanya menyatu dengan mukosa uterus dan
vagina.
Terdapat 4 segmen yang berubah di sepanjang struktur tuba fallopii, diantaranya :
Infundibulum
Merupakan bagian yang paling distal muaranya yang berbentuk seperti terompet
dikelilingi oleh fimbria. Fimbria menjadi bengkak dan hamper erektil saat ovulasi.
Ampula
Ampula ini membangun segmen distal dan segmen tengah tuba. Sperma dan ovum
bersatu dan fertilisasi terjadi di ampula.
Istmus
Istmus terletak proksimal terhadap ampula.
Intersitital
Bagian ini melewati miometrium antara fundus dan korpus uteri dan mempunyai lumen
berukuran paling kecil berdiameter < 1 mm. Sebelum ovum yang dibuahi dapat
melewati lumen ini, ovum tersebut harus melepaskan sel-sel granulose yang
membungkusnya.
Tuba fallopii merupakan jalan bagi ovum. Tonjolan-tonjolan infundibulum yang
menyerupai jari (fimbria) menarik ovum ke dalam tuba dengan gerakan seperti
gelombang. Ovum didorong disepanjang tuba, sebagian oleh silia, tetapi terutama oleh
peristaltic lapisan otot. Estrogen dan prostaglandin mempengaruhi gerakan peristaltic.
Aktivitas peristaltic tuba fallopii dan fungsi sekresi lapisan mukosa yang terbesar adalah
pada saat ovulasi. Sel-sek kolumnar mensekresi nutrient untuk menyokong ovum selama
berada di dalam tuba.
Uterus
Uterus merupakan organ brdinding tebal, muscular, pipih, cekung yang mirip buah pir
terbalik yang terletak antara kandung kemih dan rectum pada pelvis wanita. Pada wanita
yang belum melahirkan, berat uterus matang sekitar 30-40 gr sedangkan pada wanita
yang pernah melahirkan, berat uterusnya adalah 75-100 gr. uterus normal memiliki
bentuk simetris, nyeri bila ditekan, licin, dan teraba padat. Derajat kepadatan tergantung
dari beberapa factor, diantaranya uterus lebih banyak mengandung rongga selama fase
sekresi siklus menstruasi, lebih lunak selama masa hamil, dan lebih padat setelah
menopause.
Uterus diikat pada pelvis oleh tiga set ligamen jaringan ikat, yaitu :
Ligament rotundum
4

Ligament rotundum melekat ke kornu uterus pada bagian anterior insersi tuba fallopii.
Struktur yang menyerupai tali ini melewati pelvis, lalu memasuki cincin inguinal pada
dua sisi dan mengikat osteum dari tulang pelvis dengan kuat. Ligamin ini memberikan
stabilitas bagian atas uterus.
Ligament cardinal
Ligament ini menghubungkan uterus ke dinding abdomen anterior setinggi serviks.
Ligament uterosakral
Ligament uterosakral melekat pada uterus di bagian posterior setinggi serviks dan
behubungan dengan tulang sacrum.
Fungsi dari ligament cardinal dan uterosakral adalah sebagai penopang yang kuat pada
dasar pelvis wanita. Kerusakan-kerusakan pada ligament ini, termasuk akibat tegangan
saat melahirkan, dapat menyebabkan prolaps uterus dan dasar pelvis ke dalam vagina
bahkan melewati vagina dan mencapai vulva.
Berdasarkan fungsi dan anatomisnya, uterus dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
Fundus
Merupakan tonjolan bulat di bagian atas yang terletak di atas insersi tuba fallopii.
Korpus
Korpus merupakan bagian utama yang mengelilingi kavum uteri.
Istmus
Merupakan bagian konstriksi yang menghubungkan korpus dengan serviks yang dikenal
sebagai segmen uterus bawah pada masa hamil.
Tiga fungsi dari uterus adalah siklus menstruasi dengan peremajaan endometrium,
kehamilan, dan persalinan.
Dinding uterus
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan, yaitu endometrium, miometrium, dan sebagian
lapisan luar peritoneum parietalis.
Endometrium yang banyak mengandung pembuluh darah adalah suatu lapisan
membrane mukosa yang terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan permukaan padat, lapisan
tengah jaringan ikat yang berongga, dan lapisan dalam padat yang menghubungkan
endometrium dengan miometrium. Selama menstruasi dan sesudah melahirkan, lapisan
permukaan yang padat dan lapisan tengah yang berongga tanggal. Segera setelah aliran
menstruasi berkahir, tebal endometrium 0,5 mm. Mendekati akhir siklus endometrium,
sesaat sebelum menstruasi mulai lagi, tebal endometrium menjadi 5 mm.
Miometrium yang tebal tersusun atas lapisan-lapisan serabut otot polos yang
membentang ke tiga arah (longitudinal, transversa, dan oblik). Miometrium paling tebal
di fundus, semakin menipis ke arah istmus, dan paling tipis di serviks.
Serabut longitudinal membentuk lapisan luar miometrium yang paling banyak
ditemukan di fundus, sehingga lapisan ini cocok untuk mendorong bayi pada persalinan.
Pada lapisan miometrium tengah yang tebal, terjadi kontraksi yang memicu kerja
hemostatis. Sedangkan pada lapisan dalam, kerja sfingter untuk mencegah regurgitasi
darah menstruasi dari tuba fallopii selama menstruasi. Kerja sfingter di sekitar ostium
5

serviks interna membantu mepertahankan isi uterus selama hamil. Cedera pada sfingter
ini dapat memperlemah ostium interna dan menyebabkan ostium interna serviks
inkompeten.
Miometrium bekerja sebagau suatu kesatuan yang utuh. Struktur miometrium yang
memberi kekuatan dan elastisitas merupakan contoh adaptasi dari fungsi :
Untuk menjadi lebih tipis, tertarik ke atas, membuka serviks, dan mendorong
janin ke luar uterus, fundus harus berkontraksi dengan dorongan paling besar.
Kontraksi serabut otot polos yang saling menjalin dan mengelilingi pembuluh
darah ini mengontrol kehilangan darah setelah aborsi atau persalinan. Karena
kemampuannya untuk menutup (irigasi) pembuluh darah yang berada di antara serabut
tersebut, maak serabut otot polos disebut sebagai ikatan hidup.
Peritoneum parietalis, suatu membrane serosa yang melapisi seluruh korpus uteri,
kecuali seperempat permukaan anterior bagian bawah, dimana terdapat kandung kemih
dan serviks.
Vagina
Vagina, suatu struktur tubular yang terletak di depan rectum dan di belakng kandung
kemih dan uretra yang memanjang dari introitus (muara eksterna di vestibulum di antara
labia minor / vulva) sampai serviks. Saat wanita berdiri, vagina condong ke arah
belakang dank e atas.
Vagina merupakan suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu meregang
secara luas. Karena tonjolan serviks ke bagian atas vagina, panjang dinding anterior
vagina hanya sekitar 7,5 cm, sedangkan panjang dinding posterior sekitar 9 cm.
Cairan vagina berasal dari traktus genitalia atas dan bawah. Cairan sedikit asam.
Interaksi antara laktobasilus vagina dan glikogen memeprtahankan keasaman. Apabila
pH naik > 5, insiden infeksi vagina meningkat. Cairan yang terus mengalir dari vagina
mempertahnakan kebersihan relative vagina. Oleh karena itu, penyemporotan cairan ke
vagina dalam lingkaran normal tidak diperlukan dan tidak dianjurkan.
Sejumlah besar suplai darah ke vagina berasal dari cabang-cabang desenden arteri
uterus, arteri vaginalis, dan arteri pudenda interna. Vagina relative tidak sensitive, hal ini
dikarenakan persarafan pada vagina minimal dan tidak ada ujung saraf khusus. Vagina
merupakan sejumlah kecil sensasi ketika individu terangsang secara seksual dan
melakukan koitus dan hanya menimbulkan sedikit nyeri pada tahap kedua persalinan.
Daerah G (G-spot)adalah daerah di dinding vagina anterior di bawah uretra yang
didefinisikan oleh Graefenberg sebagai bagian analog dengan kelenjar prostat pria.
Selama bangkitan seksual, daerah G dapat distimulasi sampai timbul orgasme yang
disretai ejakulasi cairan yang sifatnya sama dengan cairan prostat ke dalam uretra.
Fungsi dari vagina adalah sebagai organ untuk koitus dan jalan lahir.
Anatomi Organ Genitalia Eksterna
6

Gambar 2 Anatomi genitalia feminine externa


1) Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons
pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae
externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.
2) Mons pubis / mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. Pada masa pubertas daerah ini
mulai ditumbuhi rambut pubis.
3) Labia mayora
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak
mengandung pleksus vena. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria.
Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia mayora.
Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura posterior).
4) Labia minora
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak
terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.
5) Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus
clitoridis
yang
tertanam
di
dalam
dinding
anterior
vagina.
Homolog embriologik dengan penis pada pria. Terdapat juga reseptor androgen pada
clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat sensitif.
6) Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora.
Berasal dari sinus urogenital. Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae
externum, introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus
Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.
7) Introitus / orificium vagina
Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis
bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan. Hymen normal terdapat
7

lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval,
cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat robek
dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk
fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous. Corrunculae myrtiformis adalah
sisa-sisa selaput dara yang robek yang tampak pada wanita pernah melahirkan / para.
Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata)
menutup total lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di
rongga genitalia interna.
8).Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma
pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis
transversus profunda, m.constrictor urethra). Perineal body adalah raphe median
m.levator ani, antara anus dan vagina. Perineum meregang pada persalinan, kadang
perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.
Histologi Organ Genitalia yang berhubungan dengan skenario (Serviks)
a. Uterus

Gambar 3 Histologi uterus


Pada endometrium memiliki 3 komponen yaitu : (1) lapisan paling dalam : epitel
selapi kolumnar melapisi lumen. (2) endometrial stroma : daerah lamina propria
yang sangat tebal. (3) endometrial glands : berkembang sebagai invaginasi
luminal epithelium dan sebagian besar memanjang ke miometrium.
Endometrium dibagi atas 2 daerah, yaitu:
Stratum fungsionale: melapisi rongga uterine. Divaskularisasi oleh
A.spiralis yang berkelok-kelok sehingga disebut juga coiled
arteri.
Stratum basale: dekat dengan miometrium. Divaskularisasi oleh A.
basalis/ A. straight yang berbentuk lurus dan pendek.
Myometrium terdiri dari 3 lapisan otot yang tidak berbatas tegas.
Lapisan paling luar dan paling dalam berjalan longitudinal/oblique, sedangkan
lapisan yang ditengah berjalan sirkular. Pada lapisan yang di tengah terdapat
8

pembulu-pembuluh darah besar sehingga disebut stratum vaskulare. Lapisan ini


diperdarahi oleh A. arcuata. Makin ke arah serviks sel-sel otot makin berkurang
digantikan oleh jaringan pengikat fibrosa. Di serviks, myometrium terdiri dari
jaringan pengikat padat irregular yang banyakmengandung serabut elastic dan
hanya sedikit sel-sel otot polos.
Pada perimetrium yaitu pada bagian anterior uterus ditutupi
oleh tunika (jaringan pengikat tanpa sel epitel) yang menutupi urinary
bladder dan membentuk vesicouterina pouch. Sedangkan bagian
fundus & posterior ditutupi oleh tunika serosa (yang terdiri dari selapis sel
epitel gepeng yang disebut mesoteldan jaringan pengikat longgar) yang
melapisirectum dan membentuk rectouterine pouch.
b.) Serviks
Secara histology terdiri dari:
a) Epitelium
b) Jaringan stroma
Kedua lapisan ini dipisahkan oleh membrane basalis.
Histologi Ektoserviks

Gambar 4 Histologi ektoserviks


Epitel Ektoserviks adalah skuamosa berlapis dan tidak berkeratin, terdiri dari
lapisan superficial- intermediate- parabasal- basal.
Lapisan superficial bervariasi dalam ketebalannya, tergantung pada derajat
stimulasi estrogen.
Lapisan basal terdiri dari satu lapis sel dan berada di atas membrane basalis
yang tipis
Mitosis aktif terjadi pada lapisan ini
Histologi Endoserviks

Gambar 5 histologi endoserviks


Lapisan endoserviks ditutupi oleh epitel kolumnair selapis yang mensekresi
mucin.

2. Patomekanisme terjadinya perdarahan kontak


Jawab:
Pendarahan kontak dapat didefinisikan sebagai perdarahan rahim abnormal tanpa
penyebab organik (sesuai dengan fisiologi organ) yang terjadi pada saat coitus atau
pasca coitus. Dengan kata lain, perdarahan tersebut terjadi disebabkan oleh faktor-faktor
yang dapat menyebabkan disfungsional dari organ itu sendiri, seperti kanker, tumor,
polip, dan lain-lain. Pada suatu waktu, seorang wanita dapat mengalami perdarahan
rahim yang abnormal, kejadian ini berkaitan dengan pekerjaan, masalah di rumah
tangga, dan kehidupan seksual. Mekanisme dari perdarahan kontak berhubungan dengan
faktor penyebabnya. Umumnya sangat berhubungan dengan sifat epitel dari jalan lahir.
Seperti adanya erosi pada serviks dan Ca Serviks yang menyebabkan dinding dari
serviks menjadi lebih tipis sehingga jika coitus terjadi, dapat menyebabkan perlukaan
dan menyebakan perdarahan. Salah satu diagnosis yang dapat membedakan antara
perdarahan kontak dan fisiologis adalah dari gejala klinisnya. Umumnya, perdarahan
fisiologis terjadi pada masa-masa tertentu sesuai dengan kondisi dari penderita, seperti
masa menstruasi. Sedangkan perdarahan kontak ini juga dapat terjadi dalam keadaan
tertentu yang berhubungan dengn gangguan dari struktur pada jalan lahir.
3. Hubungan antara perdarahan kontak dengan diabetes mellitus dan hipertensi
Jawab :
Terjadinya diabetes mellitus dan hipertensi karena adanya kekacauan pada fungsi
hipofisis. Disfungsi hipofisis tidak hanya dapat menyebabkan kelainan metabolism, tapi
juga perubahan keganasan endometrium. Karena lobus anterior hipofisis mensekresi
berlebihan hormon pertumbuhan yang dapat menyebabkan diabetes mellitus, timbul
10

hiperglikemia, dan obesitas, lalu timbul hipertensi. Fungsi gonadotropik dari hipofisis
juga dapat hiperaktif, sekresi FSH berlebih. Ovarium kehilangan daya ovulasi,
kekurangan antagonis dari progestin, endometrium mengalami hyperplasia
berkepanjangan, dapat menimbulkan perubahan keganasan.
4. Etiologi perdarahan kontak
Jawab :
Perdarahan kontak dibagi atas :
Perdarahan kontak fisiologis
-

Perlukaan vagina atau vulva

Robeknya hymen

Perdarahan kontak patologis


-

Kerusakan pada struktur genitalia interna (infeksi, tumor, dysplasia serviks)

5. Penegakan diagnosis ( anamnesis tambahan dan pemeriksaan fisis )


Jawab :
Anamnesis tambahan :
-

Apakah ada keputihan

Apakah pasien memakai kontrasepsi yang berkepanjangan

Apakah pasien memakai obat-obat anti hormonal

Bagaimana aktifitas sexualnya

Apakah ada nyeri panggul

Riwayak penyakit

Riwayat keluarga

Pemeriksaan fisis :
11

Inspeksi : - IMT
-

Pemeriksaan abdomen

Pemeriksaan OUE

Introitus vaginal secret

Pembesaran vulva ( + / - )

Dengan inspekulo : asal perdarahan. Permukaan serviks, warna, secret

Palpasi : nyeri tekan ( +/- ) dan VT

6. Diferensial diagnosis
Jawab :
Karsinoma serviks
Epidemiologi
Kanker serviks merupakan penyakit kanker perempuan yang menimbulkan kematian
terbanyak akibat penyakit kanker terutama di negara berkembang. Diperkirakan
dijumpai kanker serviks baru sebanyak 500.000 orang diseluruh dunia dan sebagian
besar terjadi di Negara berkembang. Di China, setiap tahun terdapat 131.500 kasus baru,
insiden pada kelompok usia muda cenderung meningkat. Insidens kanker serviks
invasive di berbagai Negara bervariasi sangat besar. Data akhir tahun 1980an
menunjukkan, Kolombia merupakan area insiden tinggi di dunia, insiden terstandarisasi
adalah 48,2/100.000, sedangkan Israel paling rendah, yaitu 3,8/100.000. menurut
laporan gabungan mortalitas disesuaikan untuk kanker serviks dari 50 negara selama
1986-1988, yang tertinggi adalah Meksiko (14,7/100.000) merupakan 24,5 kali lipat dari
yang terendah yaitu Thailand (0,6/100.000). wanita segala usia dapat terkena karsinoma
serviks uteri, tapi jarang ditemukan pada usia sebelum 20 tahu. pertumbuhan 30-60
tahun relati cepat, 40-60 tahun insiden tertinggi.
Faktor risiko
Berhubungan dan disebabkan oleh infeksi virus papilloma humanis (hPV) khususnya
tipe 16, 18, 31, dan 45. Faktor risiko lain yang berhubungan dengan kanker serviks
adalah aktivitas seksual pada usia muda (< 16 tahun ), hubungan seksual dengan
12

multipartner, menderita HIV atau mendapat penyakit/penekanan kekebalan


(immunosuppressive) yang bersamaan dengan infeksi hPV, dan perempuan perokok.
Histopatologik kasinoma serviks

Kasus dapat diklasifikasikan dalam karsinoma serviks bila pertumbuhan primernya dari
serviks. Delapan puluh lima persen jenis histopatolgik adalah karsinoma sel skuamosa,
10% adenokarsinoma, dan 5% adenoskuamosa, sel jernih, sel kecil, sel verukosa dan
lain-lain. Secara histopatologik kanker serviks dibagi menjadi : Neoplasia intaepitel
serviks, derajat III, karsinoma skuamosa insitu, karsinoma skuamosa (berkeratinisasi,
tidak berkeratinisasi, verukosa), adenokarsinoma insitu, adenokarsinoma insitu tipe
endoservikal, adenokarsinoma endometriod, adenokarsinoma sel jernih, karsinoma
adenoskuamosa, karsinoma kistik adenoid, karsinoma sel jernih dan karsinoma
undifferentiated. Derajat hostopatologik : diferensiasi baik, diferensiasi sedang, dan
diferensiasi buruk.
Patofisiologi karsinoma serviks
Karsinoma serviks adalah penyakit yang progresif, mulai dengan intraepitel, berubah
menjadi neoplastik, dan akhirnya menjadi kanker serviks setelah 10 tahun atau lebih.
Secara histopatologi lesi pre invasif biasanya berkembang melalui beberapa stadium
displasia (ringan, sedang dan berat) menjadi karsinoma insitu dan akhirnya invasif.
Berdasarkan karsinogenesis umum, proses perubahan menjadi kanker diakibatkan oleh
adanya mutasi gen pengendali siklus sel. Gen pengendali tersebut adalah onkogen,
tumor supresor gene, dan repair genes. Onkogen dan tumor supresor gen mempunyai
efek yang berlawanan dalam karsinogenesis, dimana onkogen memperantarai timbulnya
transformasi maligna, sedangkan tumor supresor gen akan menghambat perkembangan
13

tumor yang diatur oleh gen yang terlibat dalam pertumbuhan sel. Meskipun kanker
invasive berkembang melalui perubahan intraepitel, tidak semua perubahan ini progres
menjadi invasif. Lesi preinvasif akan mengalami regresi secara spontan sebanyak 3
-35%. Bentuk ringan (displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang
tinggi. Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu (KIS) berkisar
antara 1 7 tahun, sedangkan waktu yang diperlukan dari karsinoma insitu menjadi
invasif adalah 3 20 tahun (TIM FKUI, 1992). Proses perkembangan kanker serviks
berlangsung lambat, diawali adanya perubahan displasia yang perlahan-lahan menjadi
progresif. Displasia ini dapat muncul bila ada aktivitas regenerasi epitel yang meningkat
misalnya akibat trauma mekanik atau kimiawi, infeksi virus atau bakteri dan gangguan
keseimbangan hormon. Dalam jangka waktu 7 10 tahun perkembangan tersebut
menjadi bentuk preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma serviks dengan
adanya proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka,
pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi dapat meluas
ke forniks, jaringan pada serviks, parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum
dan atau vesika urinaria. Virus DNA ini menyerang epitel permukaan serviks pada sel
basal zona transformasi, dibantu oleh faktor risiko lain mengakibatkan perubahan gen
pada molekul vital yang tidak dapat diperbaiki, menetap, dan kehilangan sifat serta
kontrol pertumbuhan sel normal sehingga terjadi keganasan (Suryohudoyo, 1998;
Debbie, 1998). Berbagai jenis protein diekspresikan oleh HPV yang pada dasarnya
merupakan pendukung siklus hidup alami virus tersebut. Protein tersebut adalah E1, E2,
E4, E5, E6, dan E7 yang merupakan segmen open reading frame (ORF). Di tingkat
seluler, infeksi HPV pada fase laten bersifat epigenetic. Pada infeksi fase laten, terjadi
terjadi ekspresi E1 dan E2 yang menstimulus ekspresi terutama terutama L1 selain L2
yang berfungsi pada replikasi dan perakitan virus baru. Virus baru tersebut menginfeksi
kembali sel epitel serviks. Di samping itu, pada infeksi fase laten ini muncul reaksi imun
tipe lambat dengan terbentuknya antibodi E1 dan E2 yang mengakibatkan penurunan
ekspresi E1 dan E2. Penurunan ekspresi E1 dan E2 dan jumlah HPV lebih dari 50.000
virion per sel dapat mendorong terjadinya integrasi antara DNA virus dengan DNA sel
penjamu untuk kemudian infeksi HPV memasuki fase aktif (Djoerban, 2000). Ekspresi
E1 dan E2 rendah hilang pada pos integrasi ini menstimulus ekspresi onkoprotein E6
dan E7. Selain itu, dalam karsinogenesis kanker serviks terinfeksi HPV, protein 53 (p53)
sebagai supresor tumor diduga paling banyak berperan. Fungsi p53 wild type sebagai
negative control cell cycle dan guardian of genom mengalami degradasi karena
membentuk kompleks p53-E6 atau mutasi p53. Kompleks p53-E6 dan p53 mutan adalah
stabil, sedangkan p53 wild type adalah labil dan hanya bertahan 20-30 menit. Apabila
terjadi degradasi fungsi p53 maka proses karsinogenesis berjalan tanpa kontrol oleh p53.
Oleh karena itu, p53 juga dapat dipakai sebagai indikator prognosis molekuler untuk
menilai baik perkembangan lesi pre-kanker maupun keberhasilan terapi kanker serviks
(Kaufman et al, 2000). Dengan demikian dapatlah diasumsikan bahwa pada kanker
serviks terinfeksi HPV terjadi peningkatan kompleks p53-E6. Dengan pernyataan lain,
14

terjadi penurunan p53 pada kanker serviks terinfeksi HPV. Dan, seharusnya p53 dapat
dipakai indikator molekuler untuk menentukan prognosis kanker serviks. Bila pembuluh
limfe terkena invasi, kanker dapat menyebar ke pembuluh getah bening pada servikal
dan parametria, kelenjar getah bening obtupator, iliaka eksterna dan kelenjar getah
bening hipogastrika. Dari sini tumor menyebar ke kelenjar getah bening iliaka komunis
dan pada aorta. Secara hematogen, tempat penyebaran terutama adalah paru-paru,
kelenjar getah bening mediastinum dan supravesikuler, tulang, hepar, empedu, pankreas
dan otak (Prayetni, 1997).
Gejala klinis
Kanker serviks uteri stadium dini dapat tanpa symptom jelas, gejala yang utama adalah :
-

Perdarahan per vaginam : pada stadium awal terjadi perdarahan sedikit pasca kontak,
sering terjadi pasca coitus atau periksa dalam. Dengan progresi penyakit, frekuensi
dan volume perdarahan tiap kali bertambah, dapat timbul hemoragi massif, penyebab
perdarahan per vaginam adalah eksfoliasi jaringan kanker.

Secret pervaginam : pada stadium awal berupa keputihan bertambah, disebabkan


iritasi oleh lesi kanker atau peradangan glandula serviks, disebabkan hipersekresi.
Dengan progresi penyakit, secret bertambah, encer seperti air, berbau amis, bila
terjadi infeksi timbul bau busuk atau bersiat purulent

Nyeri : umumnya pada stadium sedan, lanjut, atau bila disertai infeksi. Sering
berlokasi di abdomen bawah, regiogluteal atau sakrokoksigeal.

Gejala saluran urinarius : sering kali karena infeksi, dapat timbul polakisuria, urgensi,
dysuria.

Gejala saluran pencernaan

Gejala sistemik : semangat melemah, letih, demam, mengurus, anemia, udem.

Diagnosis
Berdasarkan gejala dan tanda fisik, diagnosis kanker serviks tidak sulit, tapi kanker
serviks stadium dini atau tipe kanalis servikalis dapat asimtomatik, tanda fisik juga tidak
jelas, umumnya secara visual sulit diketahui, jika tidak memakai alat bantu diagnosis,
sering terjadi diagnosis terlewatkan atau diagnosis keliru, metode membantu diagnosis
yang sering digunakan adalah :
-

Pulasan kerokan serviks


15

Sitology pilasan tipis (TCT = thinprep cytologic test)

Deteksi DNA HPV

Pemeriksaan kolposkopi

Biopsy serviks uteri dan kerokan kanalis servikalis

Konisasi serviks uteri

Petanda tumor

Pemeriksaan penunjang khusus = pemeriksaan sistoskopi : kanker serviks uteri


stadium sedang dan lanjut bila disertai gejala sistem urinarius dan kolorektoskopi :
untuk pasien dengan gejala saluran pencernaan bawah atau dicurigai kolon, rectum
terkena.

Klasifikasi stadium
Klasiikasi stadium TNM
Tis : karsinoma in situ (karsinoma preinvasif)
T1 : kanker terbatas pada serviks uteri
T2 : invasi kanker melebihi uterus, tapi belum mencapai dinding pelvis atau belum
menginvasi 1/3 bawah vagina
T3: kanker ekspansi ke dinding pelvis dan atau mengenai 1/3 vagina dan atau
menimbulkan hidronerosis atau gagal ginjal
T4 : kanker menginvasi mukosa buli-buli atau rectum dan atau melebihi pelvis minor
N0 : tanpa metastasis kelenjar limfe regional
N1 : ada metastasis kelenjar lime regional
M0 : tanpa metastasis jauh
M1 : ada metastasis jauh
Pembagian menurut FIGO
Stadium 0 : karsinoma in situ atau karsinoma intraepitel
16

Stadium I : kanker terbatas pada serviks uteri


Ia : kanker serviks uteri preklinis, diagnosis hanya dibwah mikroskop
Ia1: di bawah mikroskop tampak invasi ringan interstisial, kedalaman invasi < 3 mm,
lebar 7 mm.
Ia2 : kanker mikroskopik yang dapat diukur, kedalaman invasi interstisial 3-5mm, lebar
7 mm.
Ib : linkup tumor lebih besar dari Ia2, tidak peduli apakah tampak secara klinis. Invasi
interstisial yang ada tidak mengubah stadium.
Ib1 : lesi kanker tampak secara visual berukuran 4 cm
Ib2 : lesi kanker tampak secara visual berukuran > 4 cm.
Stadium II : lesi kanker melebihi serviks uteri, tapi belum mengenai 1/3 bawah vagina,
invasi parametrium belum mencapai dinding pelvis.
IIa : kanker mengenai 2/3 atas vagina, taka da invasi jelas parametrium.
IIb : kanker jelas menginvasi parametrium, tapi belum mencapai dinding pelvis
Stadium III : kanker menginvasi 1/3 bawah vagina atau menginvasi parametrium sampai
ke dinding pelvis; atau kanker menimbulkan hidronefrosis atau insufisiensi ginjal
IIIa : kanker mengenai 1/3 bawah vagina
IIIb : kanker menginvasi parametrium sampai ke dinding pelvis, atau timbul
hidronefrosis atau insufisiensi ginjal akibat kanker
Stadium IV : penyebaran kanker melewati pelvis minor atau kanker menginvasi mukosa
buli-buli atau mukosa rectum
IVa : invasi kanker meluas ke organ di dekatnya
IVb : kanker menginvasi melebihi pelvis minor, ada metastasis jauh.

17

Terapi
Terapi untuk karsinoma intraepitel (CIN) :
-

CIN I : terapi fisika atau observasi dan tindak lanjut

CIN II : dapat dengan terapi konservatif ataupun konisasi, seperti laser, krioterapi,
elektrokoagulasi, konisasi pisau dingin, LEEP.

CIN III : terdapat hyperplasia atipik berat dan karsinoma in situ, perlu konisasi, untuk
pasien berusia lebih tinggi atau tak memerlukan reproduksi lagi dapat dilakukan
histeroktomi total.

Terapi karsinoma serviks uteri invasif :


1. Terapi operasi
IA1 : dengan histerektomi total, bila perlu konservasi unsi reproduksi, dapat dengan
konisasi
IA2 : dengan histerektomi radikal modifikasi ditambah pembersihan kelenjar limfe
kavum pelvis bilateral
IB1-IIA : dengan histerektomi radikal modifikasi atau histerektomi radikal ditambah
pembersihan kelenjar lime kavum pelvis bilateral
2. Radioterapi
-

radioterapi radikal

radioterapi praoperasi
18

radioterapi pascaoperasi

3. kemoterapi
terapi ini digunakan untuk terapi kasus stadium sedang dan lanjut pra-operasi atau
kasus rekuren, metastasis.
Komplikasi
-

retensi urin

kista limfatik pelvis

sistitis radiasi dan rektitis radiasi

Faktor prognosis
Faktor utama yang menimbulkan residif termasuk invasi limfo-vaskuler, metastasis ke
kelenjar getah bening, kedalaman invasi stroma, batas sayatan operasi, dan ukuran tumor.
Karsinoma endometrium

19

Epidemiologi
Karsinoma endometrium berasal dari endometrium, karena berasal dari korpus uteri, juga
disebut karsinoma korpus uteri. Karsinoma endometrium merupakan alah satu keganasan
ginekologik yang paling sering ditemukan. Di seluruh dunia kasus baru karsinoma
endometrium setiap tahun berjumlah 150.000. perbandingan insiden di dunia, Amerika
Utara, Eropa Utara memiliki insiden tertinggi, kawasan Asia lebih rendah. Meskipun
karsinoma endometrium dapat timbul pada setiap usia, tapi pada dasarnya merupakan
penyakit wanita lansia, usia rata-rata kejadian adalah sekitar 55 tahun, 10 tahun lebih
lanjut di banding karsinoma serviks uteri.
Etiologi
Etiologi karsinoma endometrium belum jelas. Melalui survey epidemiologis dan
eksperimen serta penelitian klinis dianggap etiologinya mungkin berkaitan dengan factor
berikut :
-

Stimulasi berlebihan jangka panjang hormon estrogen


Beberapa factor risiko penyebab meningginya kadar hormone estrogen tubuh adalah
berikut ini :
1. Infertilitas atau partus sedikit
2. Menarke dini atau menopause tertunda
3. Kekacauan fungsi hipofisis

20

4. Penyakit ovary feminisasi


5. Hormone estrogen eksogen
6. Obat antiestrogen
-

Faktor nutrisi

Faktor lainnya : defek imunitas herediter, karsinomatosis multiple, riwayat iradiasi


kavum pelvis, dll.

Gejala klinis
Pasien karsinoma endometrium stadium dini dapat tak memiliki gejala jelas. Sejalan
progresi penyakit, dapat timbul gejala berikut :
1. Perdarahan abnormal per vaginam
Ini merupakan gejala paling utama dari karsinoma endometrium. Manifestasi dapat
berupa perdarahan per vaginam pasca menoupose, kekacauan siklus haid pada wanita
usia reproduksi, masa haid memanjang, menoragia bahkan perdarahan masif, dll.
2. Sekresi abnormal per vaginam
Manifestasi berupa sekresi sanguineus atau seperti air, ini disebabkan lelehan atau
perdarahan dari tumor, bila disertai infeksi dapat timbul secret purulent dan berbau
busuk. Gejala ini timbul lebih awal dari perdarahan per vaginam, umumnya pada
pasien pasaca menopause, sedangkan pada pasien premenopause gejala ini jarang
ditemukan.
3. Nyeri
Pasien stadium dini tak nyeri tau hanya ringan dan terabaikan, dengan progresi
penyakit, dapat timbul nyeri tegang abdomen bawah atau nyeri intermiten, umumnya
berkaitan dengan retensi darah atau pus dalam kavum uteri atau infeksi sekunder.
Juga dapat dikarenakan pertumbuhan tumor, uterus membesar jelas, atau beradhesi
dan terfiksasi dengan organ pelvis, mendesak pleksus sara sacral, hingga timbul nyeri
tungkai bawah atau lumboskral. Yang belakangan biasanya timbul pada stadium
lanjut.
4. Manifestasi metastasis kanker
Diagnosis
21

Biopsi endometrium dan kuretase segmental

Pemeriksaan histeroskopik

Pemeriksaan sitology

Diagnosis USG bila penyakit progresi lebih lanjut, tumor dapat membentuk massa
tak beraturan dalam kavum uteri, endometrium dapat tampak menebal jelas dan tidak
beraturan. Bila tumor menginvasi lapisan otot, USG dapat menunjukkan lapisan otot
menipis atau berubah bentuk. Bila tumor menginvasi leher Rahim, dapat tampak
leher Rahim bertambah lebar, eko membentuk gumpalan terang tidak beraturan.

Pemeriksaan CT dan MRI dapat secara lebih akurat membedakan leher rahim dan
badan Rahim, endometrium dan alpisan otot, juga dapat secara lebih akurat
membedakan derajat invasi ke lapisan otot dan situasi metastasis ke kelenjar limfe.

Zat petanda tumor CA125 merupakan zat petanda tumor pada karsinoma
epithelial ovary yang telah dipastikan.

Klasifikasi stadium
Pada tahun 1988 FIGO menetapkan standar klasifikasi stadium klinis :
Stadium I : lesi terbatas pada uterus
Ia : lesi terbats pada endometrium
Ib : lesi mengenai lapisan otot Rahim < 1/2
Ic : lesi mengenai lapisan otot Rahim 1/2
Stadium II : kanker mengenai leher Rahim
IIa : lesi mengenai glandula endoserviks uteri
IIb : lesi mengenai interstisium serviks uteri
Stadium IIIa : kanker mengenai lapisan serosa uterus atau dan salping, atau dan sitology
kavum abdomen positif.
IIIb : metastasis vaginal
IIIc : metastasis kavum pelvis atau dan kelenjar limfe para aorta abdominal
22

Stadium IVa : kanker mengenai buli-buli atau dan adhesi usus


IVb : metastasis jauh, termasuk ke organ intra abdomen dan atau kelenjar limfe
inguinal.

Terapi

Operasi terpi bedah karsinoma endometrium terutama terdiri atas 3 teknik


operasi, sebagai berikut :
1. Histerosalpingektomi total atau histerosalpingektomi diperluas
2. Histerektomi ekstensif
3. Histerektomi total ekstensif + eksisi limfatik iliopelvik bilateral/eksisi
limfatik para-aorta abdominal atau biopsy
Pemilihan ketiga teknik operasi ini harus didasarkan atas stadium klinis
tumor, jenis patologik, tingkat diferensiasi sel, dan kondisi fisik pasien secara
individual.

Radioterapi
1. Radioterapi radikal
2. Radioterapi dikombinasi operasi

Terapi medikamentosa
1. Terapi dengan hormone progestin
2. Terapi anti estrogen
3. Terapi dengan obat anti tumor

Prognosis
Banyak factor yang mempengaruhi prognosis karsinoma endometrium, di antaranya
stadium klinis memegang posisi menentukan dalam prognosis. Semakin lanjut stadium,
prognosis semakin buruk. Oleh karena itu, tingkatkan kewaspadaan terhadap keganasan
ini, agar dapat didiagnosis dini dan diterapi secepatnya secara tepat, itulah tindakan
23

utama untuk meningkatkan survival pasien karsinoma endometrium dan memperbaiki


prognosisnya.
Kanker vagina
Epidemiologi
Jarang terjadi, biasanya diderita oleh wanita berumur 50 tahun ke atas. Insidensi < dari 1
kasus baru per 100.000 populasi wanita setahun.
Patologi
Terbanyak (hampir 99%) adalah squamous cell carcinoma (epidermoid karsinoma),
sisanya adenokarsinoma, dan embrional rhabdomiosarkoma (sarkoma botrioides).
Tumor primer vagina jauh lebih jarang dibandingkan dengan tumor sekunder yang
berasal dari penyebaran jaringan di sekitarnya (serviks uterus atau vulva) dan biasanya
terdapat pada wanita usia 50-70 tahun, kecuali sarkoma botrioides pada bayi dan anakanak. Biasanya lesi muncul pada sepertiga bagian proksimal dinding dinding belakang
vagina, yang kemudian akan melibatkan septum rektovaginal. Tumor mulai sebagai lesi
ulseratif dengan tepi induratif yang mudah berdarah pada sentuhan. Tingkatan PraMaligna
Sebelum menjadi invasif, lesi itu melalui tingkatan pra-maligna yang idsebut NIV
(Neoplasia Intraepitelial Vagina) I, II, III (displasia ringan, sedang, berat) dan KIS
(Karsinoma In Situ), yang berlangsung beberapa tahun dan dapat dideteksi awal melalui
Papsmear atau bilaman perlu biopsi terarah dengan bimbingan kolposkop terhadap
lesi yang mencurigakan. Leukoplakia mukosa vagia dapat dianggap sebagai lesi pramaligna.
Penyebaran
Penyebaran tumor menuju ke kelenjar getah bening tergantung pada lokasi tumor. Bila
proses ganas terdapat pada seprtiga bagian atas vagina, penyebarannya akan terjadi
seperti karsinoma serviks; bila berlokasi pada sepertiga bagian distal vagina,
penyebarannya
akan
menyerupai
karsinoma
vulva.

Stadium klinik
Stadium klinik berdasarkan FIGO sebagai berikut :
Stadium 0 : karsinoma insitu, karsinoma intraepitel
Stadium I : karsinoma terbatas pada dinding vagina

24

Stadium II : karsinoma telah menyebar ke jaringan submukosa tapi belum meluas ke


dinding panggul
Stadium IIa : tumor menginfiltrasi ke submukosa tetapi tidak ke parametrium
IIb : tumor telah menginfiltrasi ke parametrium, tetapi belum sampai ke dinding
panggul
Stadium III : karsinoma telah meluas ke dinding panggul
Stadium IV : karsinoma telah keluar dari panggul kecil atau telah menginfiltrasi ke
mukosa kandung kemih atau rectum ; bullous oedema pada mukosa
tersebut belum dianggap sebagai stadium IV
IVa : tumor telah menginfiltrasi ke mukosa kandung kemih dan atau rectum adan
atau ke luar panggul kecil
IVb : menyebar dan bermetastasis jauh

Gambaran Klinis dan diagnosis


Karsinoma in situ lebih sering didapat sebagai proses yang multifokal. Ia dapat
ditemukan secara bersama-sama dari tumor jenis lain pada bagian lain dari traktus
genitalis, atau setelah pembedahan secara radikal pada karsinoma in situ serviks uteri,
atau pasca radiasi karsinoma serviks uterus. Adenokarsinoma vagina yang jarang, terjadi
berasal dari urethra, kelenjar bartholin, atau metastasis dari karsinoma
endometrium/ovarium. Karena dinding vagina begitu tipis, sehingga kebanyakan kanker
vagina yang invasif pada saat didiagnosis, ditemukan dalam tingkat II. Penderita
dispareuni dan berdarah, kemungkinan ia mengidap tumor ganas ini perlu dipikirkan.
Pada tingkat penyakit lebih lanjut dapat ditemukan flour albus, foetor. Pada pemeriksan
in spekulo dapat ditemukan ulkus dengan tepi yang induratif atau pertumbuhan tumor
eksofitik seperti bunga kol (cauliflower) yang mudah berdarah pada sentuhan. Biopsi
harus dibuat pada daerah yang dicurigai, sehingga bukti histologik dapat menegakkan
diagnosis.

Diagnosis dini
Untuk menangkap lesi pramaligna dikerjakan usapan vaginal untuk pemeriksaan sitologi
eksfoliatif dengan pengecatan menurut Papanicolaou (Pap smear). Pada pemeriksaan
rutin berkala, dilakukan pengambilan bahan dari ekto- dan endoserviks.
25

Kolpomiksrokopi dilakukan untuk mendeteksi dini. Diagnosis karsinoma vagian primer


hanya boleh dibuat, setelah dilakukan pemeriksaan secara teliti. Kemungkinan
metastasis dari tumor lain dapat disingkirkan. Endometriosis di kavum Douglas, dapat
menembus ke bagian atas/ proksimal vagina dengan gambaran klinik menyerupai
karsinoma. Dengan biopsi dua kelainan tersebut dapat dibedakan. Untuk metastasis
koriokarsinoma di vagina, yang tidak dapat dibiopsi karena akan ada perdarahan banyak
yang dapat berakibat fatal, dengan penetapan Beta-HCG (petanda/marker tumor) mudah
dibedakan.
Penanganan
Untuk tingkat 0, dapat dilakukan vaginektomi, elektrokoterisasi, bedahkrio (cryosurgery), penggunaan sitostatika topikal atau sinar laser. Untuk klinik I dan II dilakukan
operasi atau penyinaran. Operasi pada tumor di bagian atas vagina sama dengan operasi
pada karsinoma serviks uterus, hanya vaginektomi dilakukan lebih luas (>1/2 puncak
vagina harus diangkat), sedangkan operasi pada bagian bawah vagina mendektai operasi
pada karsinoma vulva. Sehubungan dengan letak kandung kemih atau rektum sangat
dekat, menjalarnya proses ke salah satu alat tersebut, kadang-kadang memerlukan
pertimabangan eksenterasi panggul posterio/anterior dengan kolostomi dan/atau
ureterostomi (ini termasuk operasi onkologik yang canggih, memerlukan keterampilan
operator dan seleksi pasien yang ketat). Radioterapi eksternal dengan sumber Cobalt-60
atau Linac (Linear accelerator) dengan dosis total 4000-6000 rad, sendang penyinaran
internal dengan brakiterapi menggunakan sumber radium atau Cesium-137
intrakaviter/intersttial. Kemoterapi dengan peraturan VAC (Vincristine, Actinomisin-D,
dan Cytoxan/Endoxan) hanya untuk pengobatan embrional rabdomiosarkoma (sarkoma
botrioides) pada anak-anak, yang ternata efektif. Tumor ini berbentuk polipoid seperti
anggur yang berasal dari bagian atas vagina dan dapat menonjol keluar sampai di
introitus vagina. Penyebarannya secara hematogen ke paru-paru atau tulang.
Prognosis
AKH-5 tahun kurang menggembirakan, berkisar antara 20%-48%.
POLIP SERVIKS
Umumnya bertangkai, berasal dari mucosa intracervikal tapi kadang-kadang dapat pula
tumbuh dari daerah portio.
Makroskopis
Dapat tunggal atau multipel dengan ukuran beberapa sentimeter, warna kemerahmerahan dan rapuh. Kadang-kadang tangkainya jadi panjang sampai menonjol dari
introitus. Kalau asalnya dari portio konsistensinya lebih keras dan pucat dengan tangkai
yang tebal.
26

Tanda dan Gejala


Sering tidak memberikan gejala apa-apa dan baru diketahui pada pemeriksaan rutin
lainnya. Kalau besar dapat menyebabkan fluor dan perdarahan intermenstrual atau
perdarahan kontak setelah koitus. Mengejan terlalu kuat seperti waktu defekasi dapat
pula menyebabkan perdarahan. Seringkali gejala gejalanya mirip dengan carsinoma pada
stadium awal.
Terapi :
-

Ekstirpasi (+ curetase)

Cauterisasi

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, M , dkk. 2011. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga. Jakarta : PT Bina Sarwono
Prawirohardjo
Sylvia A. Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 6. Jakarta :
Penerbit buku Kedokteran EGC
Wan Desen. 2011. Buku Ajar Onkologi Klinis Edisi 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

27