Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

SKIZOFRENIA PARANOID

Rivaldi Puala Yuka Disufa


2012730151

Pembimbing : dr. Prasila SpKJ

STASE PSIKIATRI
RS JIWA ISLAM KLENDER
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
2016

STATUS PSIKIATRI

A. IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Tempat/Tanggal Lahir
Usia
Agama
Suku bangsa
Pendidikan Terakhir
Status pernikahan
Alamat
Datang Ke Rumah Sakit
Riwayat perawatan
Rawat Jalan
Rawat Inap

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Tn. R
Laki-laki
Jakarta, 5 Oktober 1991
25 tahun
Islam
Betawi
SMA
Belum menikah
Bekasi
11 Agustus 2016

: Sejak tahun 2014 sampai saat ini


: Pada tahun 2014 dirawat 1 kali selama 2 bulan.
Tahun 2016 sejak 11 agustus sampai saat ini.

B. RIWAYAT PSIKIATRI
Berdasarkan
Autoanamnesa : Diambil tanggal 11 dan 15 agustus 2016.
Alloanamnesis : Diambil tanggal 15 Agustus 2016, dari kakak pasien.
Keluhan Utama
Pasien melakukan pemukulan terhadap ibu kandung pasien sebelum
masuk Rumah Sakit (SMRS).
Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien datang ke Rumah Sakit Jiwa Islam Klender dengan diantar oleh
petugas kepolisian dan keluarganya pada tanggal 11 Agustus 2016, karena
Pasien memukul ibu kandungnya dengan pukulan tangan di sekitar pelipis

kanan. Pasien mengaku hanya ingin memukul tembok karena kesal dengan
ibunya tetapi secara tidak sengaja terkena kepala ibu. Sudah 2 minggu ini
pasien merasa gelisah dan terganggu dengan ibunya, pasien merasa ibunya
sering membicarakannya dan menjelek-jelekannya kepada orang-orang
sekitar. Pasien juga sering dikeluhkan warung sekitar dikarenakan sering
mengutang rokok maupun makanan dan tidak membayar. Hal tersebut
membuat keluarga melarang warung disekitar rumah untuk tidak memberikan
makanan ataupun rokok terhadapnya bila ia mengutang. Hal tersebut
membuat pasien merasa sangat marah karena pasien merasa sudah membayar
dengan uangnya sendiri dari hasil gaji yang ia dapatkan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien pernah dirawat di RS selama 2 bulan pada tahun 2014 karena keluhan
yang sama yaitu memukul ibunya dengan pukulan tangan karena merasa ibunya
sering membicarakannya dan menjelek-jelekannya kepada orang-orang sekitar.
Pasien berbicara kacau, tidak bisa tidur dan sering tertawa sendiri. Pasien curiga
merasa ada orang yang akan membunuhnya.
Riwayat medis umum :
Pasien tidak memiliki kelainan bawan sejak lahir. Pasien tidak pernah
dirawat di RS. Pasien tidak memiliki riwayat kejang dan trauma kepala.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Di keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama seperti pasien.
Riwayat Alergi :
Pasien tidak ada alergi makanan atau obat obatan.
Riwayat Penggunaan NAPZA :
Tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang maupun minum-minuman beralkohol
tetapi pasien merokok.
Riwayat Premorbid

1) Riwayat Prenatal
Selama kehamilan, ibu pasien tidak pernah mengalami penyakit atau hal
yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin. Pasien lahir dari pernikahan
yang sah, cukup bulan dalam kandungan ibu, dan lahir secara normal dan saat
lahir bayi langsung menangis dengan dibantu oleh bidan. Tidak ada penggunaan
obat-obatan selama masa kehamilan.
2) Masa Kanak-Kanak Dini (0-3 tahun)
Pasien diasuh oleh kedua orangtuanya serta kakak-kakaknya yang lain.
Pasien mendapat asupan ASI selama + 1 tahun. Pasien bisa bicara usia 2 tahun,
dan berjalan usia 1,5 tahun. Pasien merupakan anak yang cukup baik, menurut
kepada orang-tua dan agak manja.
3) Masa Kanak-Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien termasuk anak yang baik, patuh kepada kedua orang tuanya. Pasien
juga berteman dengan siapa saja. Semasa sekolah dasar, pasien tidak pernah
tinggal kelas.
4) Masa Pubertas dan Remaja
Hubungan Sosial
Pasien termasuk orang terbuka terhadap orang lain, serta mudah
berteman dengan siapa saja. Namun pasien juga pernah bertengkar
dengan orang yang berbeda pendapat dengannya.

Riwayat Pendidikan Formal


Pasien pernah sampai mengikuti perkuliahan di universitas swasta namun
pasein sering tidak masuk karena malas dan lebih memilih diam dirumah,
pada saat masa sekolah prestasi pasien di sekolah cukup baik. Pasien
tidak pernah membuat masalah serius seperti memukul temannya atau
membuat kekacauan di sekolah.

Perkembangan Motorik dan Kognitif


Dalam Perkembangan motorik dan kognitif pasien tidak ada gangguan.
Pasien tidak mengalami kesulitan dalam hal keterampilan intelektual
maupun motorik.

Riwayat Psikoseksual
Pasien tidak mempunyai riwayat gangguan psikoseksual. Pasien
memiliki sifat terbuka.

STATUS GENERALIS
Keadaan umum : Baik
Kesadaran
: Compos mentis
Orientasi
: Baik
Daya Ingat
Segera
: Buruk
Pendek
: Baik
Panjang
: Baik
Konsentrasi
: Terganggu
Kemampuan Baca dan Tulis : Baik
Daya Nilai
: Terganggu
Pengendalian Impuls : Baik
Tilikan
: Derajat 3
Tanda Vital
-

Tekanan darah
Frekuensi nadi
Frekuensi napas
Suhu

:
:
:
:

120/70 mmHg
86 x/menit
20 x/menit
36,5oC

Pemeriksaan Fisik Umum


-

Kepala
:Sistem Kardiovaskuler : Dalam batas normal
Sistem Gastrointestinal : Dalam batas normal
Kelainan khusus : Tidak ada

Status Neurologik :
Tanda Rangsang Meningeal : Tidak ada
Refleks Fisiologis
: Normal
Refleks Patologis
Tonus
Turgor
Kekuatan
Koordinasi
Sensibilitas
Kelainan khusus

: Tidak ada
:
:
:
:
:

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
: Tidak ada

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Deskripsi Umum : Laki-laki gemuk dengan penampilan rapih, mengenakan
kaos hijau, celana pendek dengan rambut botak ditengah, menggunakan sendal
jepit, perilaku aktif, sikap kooperatif
Mood : Eutim
Afek : Normal
Keserasian afek : serasi
Pembicaraan : normal, volume normal, kualitas dan kuantitas cukup
Persepsi : Halusinasi auditorik, tidak terdapat ilusi, tidak ada depersonalisasi,
tidak ada derealisasi
Proses Pikir : flight of ideas, tidak ada hendaya bahasa
Isi Pikir : Waham rujukan
DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II : F20 konsentrasi mudah terganggu, daya ingat kurang.
Aksis III : Aksis IV : masalah ekonomi
Aksis V : GAF 1 tahun yang lalu : 65
GAF saat ini : 78
PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi :
Antipsikotik golongan 1 (tipikal) atau Antipsikotik golongan 2 (atipikal)
APG-1 :
1. Golongan Phenothiazine
:
Chlorpromazine,
Perphenazine,
Trifluoperazine, Thioridazine
2. Golongan butyrophenone
: Haloperidol
3. Golongan Diphenylbutypiperidine : Primozide
APG-2 :
1. Golongan Benzamide: Sulpiride
2. Golongan Dibenzodiazepin : Clozapine, Olanzepine, Quetiapine, Zotepine
3. Golongan Benzisoxazole
: Risperidon, Aripiprazole
Gold standard pada pasien ini diberikan APG-2 karena efektif untuk gejala
negatif dan positif pada pasien.

Terapi Psikososial :
Mencakup berbagai

metode

untuk

meningkatkan

kemampuan

kecukupan diri, keterampilan, dan komunikasi intrapersonal.

sosial,

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizeinyang berarti terpisahatau
pecah, dan phren yang artinya jiwa. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau
ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku. Secara umum, simptom
skizofrenia dapat dibagi menjadi tiga golongan: yaitu simptom positif, simptom
negatif, dan gangguan dalam hubungan interpersonal. Skizofrenia merupakan suatu
deskripsi dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit
(tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada
umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari
pikiran dan persepsi , serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul
(blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual
biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang
kemudian.
Subtipe paranoid. DSM-IV menyebutkan bahwa tipe paranoid ditandai oleh
keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi dengar yang
sering, dan tidak ada perilaku spesifik lain yang mengarahkan pada tipe
terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik, skizofrenia tipe paranoid ditandai
terutama oleh adanya waham persekutorik (waham kejar) atau waham kebesaran.
Pasien skizofrenik paranoid biasanya berumur lebih tua daripada pasien skizofrenik
terorganisasi atau katatonika jika mereka mengalami episode pertama penyakitnya.
Pasien yang sehat samai akhir usia 20-30 tahunan biasanya mencapai kehidupan
social yang dapat membantu mereka melewati penyakitnya. Juga, kekuatan ego
pasien paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik dan terdisorganisasi.
Pasien skizofrenik paranoid menunjukan regresi yang lambat dari kemampuan
mentalnya, respon emosional, dan perilakunya dibandingkan tipe lain pasien
skizofrenik.
Pasien skizofrenik paranoid tipikal adalah tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak
ramah. Mereka juga dapat bersikap bermusuhan atau agresif. Pasien skizofrenik
paranoid kadang-kadang dapat menempatkan diri mereka sendiri secara adekuat di

dalam situasi social. Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oeleh kecenderungan


psikosis mereka dan tetap intak.
Faktor-faktor resiko tinggi untuk berkembangnya skizofrenia adalah Mempunyai
anggota keluarga yang menderita skizofrenia, terutama jika salah satu orang
tuanya/saudara kembar monozygotnya menderita skizofrenia, kesulitan pada waktu
persalinan yang mungkin menyebabkan trauma pada otak, terdapat penyimpangan
dalam perkembangan kepribadian, yang terlihat sebagai anak yang sangat pemalu,
menarik diri, tidak mempunyai teman, amat tidak patuh, atau sangat penurut, proses
berpikir idiosinkratik, sensitive dengan perpisahan, mempunyai orang tua denga
sikap paranoid dan gangguan berpikir normal, memiliki gerakan bola mata yang
abnormal, menyalahgunakan zat tertentu seperti amfetamin, kanabis, kokain,
Mempunyai riwayat epilepsi, memilki ketidakstabilan vasomotor, gangguan pola
tidur, control suhu tubuh yang jelek dan tonus otot yang jelek.
B. Gejala Skizofrenia
- Gangguan pikiran :
Gangguan proses pikir
Pasien biasanya mengalami gangguan proses pikir. Pikiran mereka sering
tidak dapat dimengerti oleh orang lain dan terlihat tidak logis. Tandatandanya adalah :
a. Asosiasi longgar : ide pasien sering tidak menyambung (terjadi
keseimbangan penyampaian dari satu ke ide yang lain). Ide tersebut
seolah dapat melompat dari satu topic ke topic yang lain yang tak
berhubungan sehingga membingungkkan pendengar. Gangguan ini
sering terjadi misalnya di pertengahan kalimat sehingga pembicaraan
sering tidak koheren.
b. Pemasukan berlebihan : arus pikiran pasien secara terus-menerus
mengalami gangguan karena pikirannya sering dimasuki informasi
yang tidak relevan.
c. Neologisme : pasien menciptakan kata-kata baru (yang bagi mereka
mungkin mengandung arti simbolik)
d. Terhambat : pembicaraan tiba-tiba berhenti (sering pada pertengahan
kalimat) dan disambung kembali beberapa saat (atau beberapa menit)
kemudian, biasanya dengan topic yang lain. Ini dapat menunjukan
bahwa ada interupsi. Biasanya pikiran-pikiran lain masuk ke dalam

ide pasien sering sangat mudah teralih dan jangka waktu atensinya
singkat.
e. Klang asosiasi : pasien memilih kata-kata berikut mereka berdasarkan
bunyi kata-kata yang baru saja diucapkan dan bukan isi pikirannya.
f. Ekolalia : pasien mengulang kata-kata atau kalimat-kalimat yang baru
saja diucapakan oleh seseorang.
g. Konkritisasi : pasien dengan IQ rata-rata normal atau lebih tinggi,
sangat buruk kemampuan berpikir abstraknya.
h. Alogia : pasien berbicara sangat sedikit tetapi bukan disebabkan oleh
reistensi yang disengaja (miskin pembicaraan) atau dapat berbicara
dalam jumlah normal tetapi sangat sedikit ide yang disampaikan
(miskin isi pembicaraan)

Gangguan isi pikir


a. Waham
Waham adalah suatu kepercayaan palsu yang menetap yang tak
sesuai dengan fakta dan kepercayaan tersebut mungkin aneh
(misalnya; mata saya adalah computer yang dapat mengontrol dunia)
atau bisa pula tidak aneh (hanya sangat tidak mungkin, misalnya;
FBI mengikuti saya) dan tetap dipertahanan meskipun telah
diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya. Waham
sering ditemui pada gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham
yang spesifik sering ditemukan pada skizofrenia. Semakin akut
skizofrenia semakin sering ditemui waham disorganisasi atau waham
tidak sistematis:
o Waham kejar
o Waham kebesaran
o Waham rujukan, yaitu pasien meyakini ada arti di balik
peristiwa-peristiwa dan meyakini bahwa peristiwa-peristiwa atau
perbuatan orang lain tersebut seolah-olah diarahkan kepada
mereka.
o Waham penyiaran pikiran yaitu kepercayaan bahwa orang lain
dapat membaca pikiran mereka.
o Waham penyisipan pikiran yaitu kepercayaan bahwa pikiran orang
lain dimasukkan ke dalam benak pasien.
b. Tilikan

Kebanyakan pasien skizofrenia mengalami pengurangan


tilikan yaitu pasien tidak menyadari penyakitnya serta kebutuhannya
terhadap pengobatan, meskipun gangguan yang ada pada dirinya
dapat dilihat oleh orang lain.
-

Gangguan persepsi
Halusinasi
Halusinasi

paling

sering

ditemui,

bilasanya

bentuk

pendengaran tetapi bisa juga bentuk penglihatan, penciuman dan


perabaan. Halusinasi pendengaran (paling sering suara, satu atau
beberapa orang) dapat pula komentar tentang pasien atau peristiwaperistiwa sekirar pasien. Komentar-komentar tersebut dapat berbentuk
ancaman atau perintah perintah langsung ditujukan kepada pasien
(halusinasi komando). Suara-suara sering (tetapi tidak selalu) diterima
pasien sebagai sesuatu yang berasal dari luar kepala pasien dan
kadang-kadang pasien dapat mendengar pikiran-pikiran mereka
sendiri berbicara keras (sering memalukannya atau suara yang
memalukan). Suara-suara cukup nyata menurut pasien kecuali pada
fase awal skizofrenia.

Ilusi dan depersonalisasi


Pasien juga dapat mengalami ilusi atau depersonalisasi. Ilusi
yaitu

adanya

misinterpretasi

panca

indra

terhadap

objek.

Depersonalisasi yaitu adanya perasaan asing terhadap lingkungan


sekitarnya misalnya dunia terlihat tidak nyata.
-

Gangguan emosi
Pasien skizofrenia dapat memperlihatkan berbagai emosi dan dapat
berpindah dari satu emosi ke emosi yang lain dalam jangka waktu
singkat. Ada tiga efek dasar yang sering (tetapi tidak patognomonik):
a. Afek tumpul atau datar: ekspresi emosi pasien sangat sedikit bahkan
ketika

afek

tersebut

seharusnya

diekspresikan.

Pasien

tidak

menunjukkan kehangatan.
b. Afek tak serasi : afeknya mungkin bersemangat atau kuat tetapi tidak
sesuai dengan pikiran dan pemikiran pasien.
c. Afek labil : dalam jangka pendek terjadi perubahan afek yang jelas.
-

Gangguan perilaku

Berbagai perilaku tak sesuai atau aneh dapat terlihat seperti gerakan
tumbuh yang aneh, wajah dan menyeringai, perilaku ritual, sangat
ketolol-tololan, agresif, dan perilaku seksual yang tidak pantas.
Skizofrenia dapat berlangsung berapa bulan atau bertahun-tahun (lebih
sering). Kebanyakan pasien mengalami kekambuhan, dalam bentuk
episode aktif, secara periodic, dalam kehidupannya, secara khas dengan
jarak beberapa bulan atau tahun. Selama masa pengobatan, pasien
biasanya memperlihatkan gejala residual (sering dengan derajat
keparahan yang meningkat setelah beberapa tahun). Walaupun demikian,
ada sebagian kecil pasien yang mengalami remisi.
Sebagian besar pasien-pasien skizofrenia yang dalam keadaan remisi
dapat memperlihatkan tanda-tanda awal kekambuhan. Tanda-tanda awal
tersebut meliputi peningkatan kegelisahan dan ketegangan, penurunan
napsu makan, depresi ringan dan anhedonia, tidak bisa tidur, dan
konsentrasi terganggu.
C. Kriteria Diagnosis skizofrenia
1. Gejala karakteristik : dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan
untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika
diobati dengan berhasil) :
Waham
Halusinasi
Bicara terdisorganisasi (misalnya, sering menyimpang atau inkoheren)
Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
Gejala negative, yaitu, pendataran afektif, alogia, atau tidak ada kemauan
(avolition)
Catatan : hanya satu gejala criteria A yang diperlukan jika waham adalah
kacau atau halusinasi terdiri dari suara yang terus-menerus mengomentari
perilaku atau pikiran pasien, atau dua atau lebih suara yang saling bercakap
satu sama lainnya.
2. Disfungsi social atau pekerjaan : untuk bagian waktu yang bermakna sejak
onset gangguan, satu atau lenih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan
interpersonal, atau perawatan diri, adalah jelas di bawah ini tingkat yang
dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja,
kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal, akademik, atau
pekerjaan yang diharapkan).

3. Durasi : tanda gangguan terus menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan.


Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang
jika diobati dengan berhasil) yang menenuhi criteria A (yaitu, gejala fase
aktif) dan mungkin termasuk perode gejala prodromal atau residual, tanda
gangguan mungkin dimanifestasikan hanya oleh gejala negative atau dua atau
lebih gejala yang dituliskan dalam criteria A dalam bentuk yang diperlemah
(misalnya, keyanikan yang aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim).
4. Penyingkiran gangguan skizofektif dan gangguan mood: gangguan
skizoafektif dan gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan
karena : (1) tidak ada episode depresi berat, manik, atau campuran yang telah
terjadi bersama-sama dengan gejala fase aktif; atau (2) jika episode mood
telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya adalah relative singkat
dibandingkan durasi periode aktif dan residual.
5. Penyingkiran zat/kondisi medis umum: gangguan tidak disebabkan oleh efek
fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, suatu
medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
6. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif: jika terdapat riwayat
adanya gangguan autistic atau gangguan perkembangan pervasif lainnya,
diagnosis tambahan skizofrenia dibuat hanya jiwa waham atau halusinasi
yang menonjol juga ditemukan untuk sekurangnya satu bulan (atau kurang
jika diobati secara berhasil).
Kriteria Diagnosis Tipe Paranoid
Suatu tipe skizofrenia di mana criteria berikut ini terpenuhi :
o

Preokupasi dengan satu atau lebih waham atau halusinasi

yang menonjol.
Tidak ada dari berikut ini yang menonjol : bicara
terdisorganisasi, perilaku terdisorganisasi atau katatonik, atau afek yang
datar atau tidak sesuai.

D. Diagnosis banding
Gejala psikotik yang terlihat pada skizofrenik mungkin identik dengan yang
terlihat pada gangguan skizofreniform, gangguan psikotik singkat, dan gangguan
skizoafektif. Gangguan skizofreniform berbeda dari skizofrenia karena memiliki

lama (durasi) gejala yang sekurangnya satu bulan tetapi kurang daripada enam bulan.
Gangguan psikotik berlangsung singkat adalah diagnosis yang tepat jika gejala
berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan jika pasien tidak
kembali ke tingkat fungsi pramorbidnya. Gangguan skizoafektif adalah diagnosis
yang tepat jika sindroma manik atau depresif berkembang bersama-sama dengan
gejala utama skizofrenia.
Suatu diagnosis gangguan delusional diperlukan jika waham yang tidak aneh
(nonbizzare) telah ada selama sekurangnya satu bulan tanpa adanya gejala
skizofrenia lainnya atau suatu gangguan mood.
E. PROGNOSIS
Secara umum prognosis skizofrenia tergantung pada:
1. Usia pertama kali timbul ( onset): makin muda makin buruk.
2. Mula timbulnya akut atau kronik: bila akut lebih baik.

Prognosis Buruk
Onset muda
Tidak ada factor pencetus
Onset tidak jelas
Riwayat social dan pekerjaan

pekerjaan premorbid yang baik


Gejala
gangguan
mood

(terutama gangguan depresif)

premorbid yang buruk


Prilaku menarik diri atau autistic
Tidak menikah, bercerai atau janda/

Menikah
Riwayat keluarga

duda
Sistem pendukung yang buruk
Gejala negatif
Tanda dan gejala neurologist
Riwayat trauma perinatal
Tidak ada remisi dalam 3 tahun
Banyak relaps
Riwayat penyerangan

Prognosis Baik
Onset lambat
Faktor pencetus yang jelas
Onset akut
Riwayat sosial, seksual dan

gangguan

mood

Sistem pendukung yang baik

Gejala positif

3. Tipe skizofrenia: episode skizofrenia akut dan katatonik lebih baik.


4. Cepat, tepat serta teraturnya pengobatan yang didapat.
5. Ada atau tidaknya faktor pencetusnya: jika ada lebih baik.
6. Ada atau tidaknya faktor keturunan: jika ada lebih jelek.
7. Kepribadian prepsikotik: jika skizoid, skizotim atau introvred lebih jelek.
8. Keadaan sosial ekonomi: bila rendah lebih jelek.
F. PENATALAKSANAAN

Perawatan di Rumah Sakit


Indikasi utama perawatan di rumah sakit adalah :
1. Untuk tujuan diagnostik.
2. Menstabilkan medikasi.
3. Keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh.
4. Perilaku yang sangat kacau atau tidak sesuai.
5. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Tujuan utama perawatan di rumah sakit adalah ikatan efektif antara pasien dan
system pendukung masyarakat.
Terapi somatik
i. Antipsikotik
Prinsip-Prinsip Terapetik
1. Klinis harus secara cermat menentukan gejala sasaran yang akan diobati
2. Suatu antipsikotik yang telah bekerja dengan baik di masa lalu pada pasien
harus digunakan lagi.
3. Lama minimal percobaan antipsikotik adalah empat sampai enam minggu
pada dosis yang adekuat.
4. Penggunaan pada lebih dari satu medikasi antipsikotik pada satu waktu
adalah jarang diindikasikan.
5. Pasien harus dipertahankan pada dosis efektif yang serendah mungkin yang
diperlukan untuk mencapai pengendalian gejala selama periode psikotik.
Obat antipsikotik merupakan obat terpilih yang mengatasi gangguan
waham. Pada kondisi gawat darurat, klien yang teragitasi parah, harus
diberikan obat antipsikotik secara intramuskular. Sedangkan jika klien gagal
berespon dengan obat pada dosis yang cukup dalam waktu 6 minggu, anti
psikotik dari kelas lain harus diberikan. Penyebab kegagalan pengobatan
yang paling sering adalah ketidakpatuhan klien minum obat. Kondisi ini
harus diperhitungkan oleh dokter dan perawat. Sedangkan terapi yang
berhasil dapat ditandai adanya suatu penyesuaian sosial, dan bukan hilangnya
waham pada klien.
Jenis- jenis obat antipsikotik antara lain :
a. Antagonis Reseptor Dopamin

Adalah obat antipsikotik yang klasik dan efektif dalam pengobatan


skizofrenia. Obat ini memiliki dua kekurangan utama, yaitu:
Hanya sejumlah kecil pasien, cukup tertolong untuk mendapatkan
kembali jumlah fungsi mental yang cukup normal.
Disertai dengan efek merugikan yang mengganggu dan serius. Efek
mengganggu yang paling utama adalah akatisia dan gejala mirip
parkinsonisme berupa rigiditas dan tremor. Efek serius yang potensial
adalah tardive dyskinesia dan sindroma neuroleptik malignan.
Yang termasuk antipsikotik antagonis reseptor dopamine adalah :
Chlorpromazine
Untuk mengatasi psikosa, premidikasi dalam anestesi,

dan

mengurangi gejala emesis. Untuk gangguan jiwa, dosis awal : 325


mg, kemudian dapat ditingkatkan supaya optimal, dengan dosis
tertinggi : 1000 mg/hari secara oral.
Trifluoperazine
Untuk terapi gangguan jiwa organik, dan gangguan psikotik menarik
diri. Dosis awal : 31 mg, dan bertahap dinaikkan sampai 50 mg/hari.
Haloperidol
Untuk keadaan ansietas, ketegangan, psikosomatik, psikosis,dan
mania. Dosis awal : 30,5 mg sampai 3 mg.
b. Serotonin dopamin antagonis (SDA)
Risperidone
Adalah suatu obat antispikotik dengan aktivitas antagonis yang
bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 ( 5-HT2 ) dan pada reseptor
dopamine tipe 2 ( d2 ). Risperidone menjadi obat lini pertama dalam
pengobatan skizofrenia karena kemungkinan obat ini adalah lebih
efektif dan lebih aman daripada antagonis reseptor dopaminergik yang
tipikal.
Clozapine
Adalah suatu obat antipsikotik yang efektif. Mekanisme kerjanya
belum diketahui secara pasti. Clozapine adalah suatu antagonis lemah
terhadap reseptor D2 tetapi merupakan antagonis yang kuat terhadap
reseptor D4 dan mempunyai aktivitas antagonistic pada reseptor
serotogenik. Agranulositosis merupakan suatu efek samping yang

mengharuskan monitoring setiap minggu pada indeks-indeks darah.


Obat ini merupakan lini kedua, diindikasikan pada pasien dengan
tardive dyskinesia karena data yang tersedia menyatakan bahwa
clozapine tidak disertai dengan perkembangan atau eksaserbasi
gangguan tersebut.
Kontraindikasi Utama Antipsikotik:
1. Riwayat respon alergi yang serius
2. Kemungkinan bahwa pasien telah mengingesti zat yang akan berinteraksi
dengan antipsikotik sehingga menyebabkan depresi sistem saraf pusat.
3. Resiko tinggi untuk kejang dari penyebab organic atau audiopatik.
4. Adanya glukoma sudut sempit jika digunakan suatu antupsikotik dengan
aktivitas antikolinergik yang bermakna.
G. Anti Parkinson
Triheksipenydil (Artane), untuk semua bentuk parkinsonisme, dan untuk
menghilangkan

reaksi

ekstrapiramidal

akibat

obat.

Dosis

yang

digunakan : 1-15 mg/hari


H. Anti Depresan
Amitriptylin
Untuk gejala depresi, depresi oleh karena ansietas, dan keluhan
somatik. Dosis : 75-300 mg/hari.
Imipramin
Untuk depresi dengan hambatan psikomotorik, dan depresi neurotik.
Dosis awal : 25 mg/hari, dosis pemeliharaan : 50-75 mg/hari.
I. Anti Ansietas
Anti ansietas digunakan untuk mengotrol ansietas, kelainan somatroform,
kelainan disosiatif, kelainan kejang, dan untuk meringankan sementara
gejala-gejala insomnia dan ansietas. Obat- obat yang termasuk anti
ansietas antara lain:
Fenobarbital : 16-320 mg/hari
Meprobamat : 200-2400 mg/hari
Klordiazepoksida : 15-100 mg/hari
J. Obat Lain
Lithium

Efektif dalam menurunkan gejala psikotik lebih lanjut pada sampai 50


persen pasien dengan skizofrenia dan merupakan obat yang beralasan
untuk dicoba pada pasien yang tidak mampu menggunakan medikasi
antipsikotik.
Antikonvulsan
Carbamazepine dan valproat dapat digunakan sendiri-sendiri atau
dalam kombinasi dengan lithium atau suatu antipsikotik. Walaupun
tidak terbukti efektif dalam menurunkan gejala psikotik pada
skizofrenia, namun jika digunakan sendiri-sendiri mungkin efektif
dalam menurunkan episode kekerasan pada beberapa pasien
skizofrenia.

Benzodiazepin
Pemakaian bersama-sama alprazolam ( xanax ) dan antipsikotik bagi
pasien yang tidak berespo terhadap pemberian antipsikotik saja, dan
pasien skizofrenia yang berespon terhadap dosis tinggi diazepam
( valium ) saja. Tetapi keparahan psikosis dapat di eksaserbasi
seteloah putus dari benzodiazepine.
Kegagalan Pengobatan
1. Ketidakpatuhan dengan antipsikotik merupakan alasan utama untuk
terjadinya relaps dan kegagalan percobaan obat.
2. Waktu percobaan yang tidak mencukupi.
Setelah menghilangkan alasan lain yang mungkin bagi kagagalan terapi
antipsikotik, dapat dicoba antipsikotik kedua dengan struktur kimiawi yang
berbeda dari obat yang pertama. Strategi tambahan adalah suplementasi
antipsikotik

dengan

lithium

(eskalith),

suatu

antikonvulsan

seperti

carbamazepine atau valproate (depakene), atau suatu benzodiazepine.


Pemakaian terapi antipsikotik dosis-mega jarang diindikasikan, karena
hamper tidak ada data yang mendukung praktek tersebut.
Terapi Somatik Lainnya
Elektrokonvulsif ( ECT ) dapat diindikasikan pada pasien katatonik dan
bagi pasien yang karena suatu alasan tidak dapat menggunakan antipsikotik

( kurang efektif ). Pasien yang telah sakit selama kurang dari satu tahun
adalah yang paling mungkin berespon.
Dimasa lalu skizofrenia diobati dengan koma yang di timbulkan insulin
(insulin-induced coma) dan koma yang ditimbulkan barbiturat (barbiturateinduced coma).
Terapi Psikososial
a. Terapi Perilaku
Tehnik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan
social untuk meningkatkan kemampuan social, kemampuan memenuhi diri
sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah
didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang
diharapkan. Dengan demikian frekuensi perilaku mal adaptif atau
menyimpang dapat diturunkan.
Latihan Keterampilan Perilaku ( Behavioral Skills Trainning )
Sering dinamakan terapi keterampilan sosial ( social skills therapy ).
Terapi ini dapat secara langsung membantu dan berguna bagi pasien dan
merupakan tambahan alami bagi terapi farmakologis. Latihan keterampilan
ini melibatkan penggunaan kaset videon orang lain dan pasien permainan
simulasi ( role playing ) dalam terapi, dan pekerjaan rumah tentang
keterampilan yang telah dilakukan.
b. Terapi Berorientasi Keluarga
Pusat dari terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk
mengidentifikasik dan menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan
kesulitan. Jika masalah memang timbul pada pasien di dalam keluarga, pusat
terapi harus pada pemecahan masalah secara cepat.
Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas dalam
terapi keluarga adalah proses pemulihan khususnya lama dan kecepatannya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Buku ajar Psikiatri FKUI. Edisi kedua. 2014
2. Maslim. R: Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia, edisi 3,Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan RI,
Jakarta, 2002, hal 46-51.

3. W.F. Maramis, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Universitas Airlangga,1980,


hal:215-35
4. Maslim. R: Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik, edisi 3,
Penerbit Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa, FK Unika Atma Jaya, Jakarta, 2001,
hal 14-23.
5. Hawari, Dadang:Skizofrenia dalam Pendekatan Holistik Pada Gangguan
Jiwa, Penerbit FKUI, Jakarta, 2003.