Anda di halaman 1dari 93

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI

DENGAN PERILAKU REMAJA DI SMPN 1 KOTA BANJAR WILAYAH


KERJA PUSKESMAS PATARUMAN 1 KOTA BANJAR TAHUN 2016

PENELITIAN KOMUNITAS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas Kepaniteraan Klinik
Stase Ilmu Kedokteran Komunitas I Program Studi Kedokteran
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Disusun oleh:
Faza Faishal Iskandar
Monica Dea Rosana
Nadhifayanti Fauziah
Rivaldi Puala Yuka Disufa
Rizky Nugraha
Yutika Adnindya
Zainul Fahmi

(26.37.1078.2012)
(26.37.1079.2012)
(26.14.1020.2012)
(26.32.1065.2012)
(26.32.1066.2012)
(26.32.1067.2012)
(26.43.1094.2012)

Dokter Pembimbing:
dr. Hj. Ika Rika Rohantika
dr. Saojah
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS I
PUSKESMAS PATARUMAN 1
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2016

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI


DENGAN PERILAKU REMAJA DI SMPN 1 KOTA BANJAR WILAYAH
KERJA PUSKESMAS PATARUMAN 1 KOTA BANJAR TAHUN 2016
Faza Faishal Iskandar, Monica Dea Rosana, Nadhifayanti Fauziah, Rivaldi
Puala Yuka Disufa, Rizky Nugraha, Yutika Adnindya, Zainul Fahmi
Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas
Muhammadiyah Jakarta
Ika Rika Rohantika, Saojah
Dokter Pembimbing dan Kepala Puskesmas Pataruman 1, Kecamatan
Pataruman, Kota Banjar

ABSTRAK
Latar Belakang: Program kesehatan reproduksi remaja mulai menjadi
perhatian pada beberapa tahun terakhir ini karena beberapa alasan seperti
ancaman penyakit IMS , HIV/AIDS, dan kejadian hamil diluar nikah akibat
dari perilaku penyimpangan seksual dan kurang baiknya perilaku remaja dalam
menjaga kesehatan reproduksinya sejak dini, PKPR (pelayanan kesehatan
peduli remaja) adalah salah satu cakupan program potensial yang harus
dilaksanakan di puskesmas. Dalam upaya terwujudnya program diatas hal
tersebut mendorong kami meneliti apakah siswa mengerti dan paham tentang
pengetahuan seputar kesehatan reproduksi remaja di kalangan siswa SMP dan
bagaimana perilaku siswa tersebut dalam upaya menjaga kesehatan reproduksi
mereka
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah Hubungan antara
pengetahuan dan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja usia SMP di
SMPN 1 wilayah kerja puskesmas Pataruman 1 Kota Banjar.
Metodologi Penelitian: Penelitian ini merupakan jenis deskriptif analitik
dengan menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel sebanyak
272 responden penelitian dilakukan terhadap siswa SMPN 1 Kota Banjar pada
bulan Maret-April 2016 dengan kuisioner penelitian sebagai data primer.
Hasil: Dari 272 responden didapatkan responden dengan pengetahuan buruk
dan perilaku sedang sebanyak 2 orang (0,7%). Responden dengan pengetahuan
sedang dan perilaku buruk sebanyak 1 orang (0,4%), pengetahuan sedang
dengan perilaku sedang sebanyak 5 orang (1,8%), dan pengetahuan sedang
dengan perilaku
baik sebanyak 9 orang (3,3%). Responden dengan
pengetahuan baik dan perilaku buruk sebanyak 7 orang (2,6%), pengetahuan
baik dengan perilaku sedang sebanyak 116 orang (42,6%) dan pengetahuan
baik dengan perilaku baik ditemukan 130 orang (47,8%)
Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi
remaja dengan perilaku remaja di SMPN 1 wilayah kerja puskesmas Pataruman
1 kota Banjar
Kata Kunci: Pengetahuan, Perilaku, Kesehatan Reproduksi Remaja, Siswa

CORRELATION BETWEEN THE KNOWLEDGE OF


REPRODUCTION HEALTH WITH TEEN BEHAVIOR IN JUNIOR
HIGHSCHOOL 1 OF BANJAR CITY WORK AREA OF PATARUMAN 1
HEALTH CLINIC BANJAR CITY YEAR 2016
Faza Faishal Iskandar, Monica Dea Rosana, Nadhifayanti Fauziah, Rivaldi
Puala Yuka Disufa, Rizky Nugraha, Yutika Adnindya, Zainul Fahmi
Medical Bachelor, Faculty of Medicine and Health, University of
Muhammadiyah Jakarta
Ika Rika Rohantika, Saojah
Supervising Doctor and Chairman of Pataruman 1 Health Clinic, Pataruman
Districts, Banjar City
ABSTRACT
Background: The reproductive health program began to attract attention in
recent years due to several reasons such as the threat of disease STI, HIV /
AIDS, and MBA pregnancy outside of marriage as a result of the behavior of a
sexual deviation and lack of good behavior in maintaining reproductive health
from an early age, PKPR is one of the potential scope of the program should be
implemented in health centers. In an effort to realize the above program which
prompted us to examine whether students know and understand about
reproductive health knowledge among junior high school students and how the
students' behavior in an effort to maintain reproductive health.
Purpose: To find the correlation between knowledge and behavior of
reproductive health in junior highschool in the working area of Pataruman 1
health clinic, Banjar city.
Method: This descriptive analytic study using cross sectional design. Sampling
of 272 respondents conducted research on students of Junior Highschool Banjar
in March-April 2016, with a questionnaire study as primary data.
Result: Of the 272 respondents gained as much as 2 (0.7%), poor knowledge
and behavior. Respondents with moderate knowledge and poor behavior as
much as 1 (0.4%), knowledge was the behavior was as much as five people
(1.8%), and knowledge being with good behavior were 9 people (3.3%).
Respondents with the knowledge of good and bad behavior of 7 people (2.6%),
good knowledge of the behavior were as many as 116 people (42.6%) and good
knowledge with good behavior found 130 (47.8%)
Conclusion: There is no correlation between knowledge of reproductive health
with behavior in junior highschool working area of Pataruman 1 health clinic
Banjar city
Keyword: Knowledge, Behavior, Adolescent Reproductive Health, Students

PERSETUJUAN DEWAN PENGUJI

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI


DENGAN PERILAKU REMAJA DI SMPN 1 KOTA BANJAR WILAYAH
KERJA PUSKESMAS PATARUMAN 1 KOTA BANJAR TAHUN 2016
Telah disusun dan dipersiapkan oleh
Faza Faishal Iskandar, Monica Dea Rosana, Nadhifayanti Fauziah, Rivaldi
Puala Yuka Disufa, Rizky Nugraha, Yutika Adnindya, Zainul Fahmi

TELAH DIUJI DAN DIPERTAHANKAN DIHADAPAN DEWAN PENGUJI


Senin, 25 April 2016
Susunan Dewan Penguji

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar

Pembimbing

Utama

Dr. H. Oman Rokhman, S.Sos, M.Kes

dr. Hj. Ika Rika Rohantika

NIP. 19580721 198003 1 008

NIP. 19720102 200604 2 033

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini kami menyatakan bahwa penelitian ini karya asli


dan sepanjang pengetahuan kami juga tidak terdapat karya yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara
tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Jakarta, April 2016

Peneliti

KATA PENGANTAR

Syukur Allhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat, hidayah serta ilmu pengetahuan sehingga kami dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul Hubungan Antara Pengetahuan
Kesehatan Reproduksi Dengan Perilaku Remaja Di SMPN 1 Wilayah
Puskesmas Pataruman 1 Kota Banjar Tahun 2016 dengan baik.
Penyusunan dari penelitian ini sebagai tugas kepaniteraan stase Ikatan
Kedokteran Komunitas 1 (IKAKOM 1). Kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam penyusunan penelitian ini, oleh karena itu diharapkan
adanya kritik dan saran yang dapat membangun kesempurnaan skripsi ini.
1. Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar, Dr. H. Oman Rokhman, S.Sos, M.Kes.
2. Kepala Bidang YanKes, dr. Agus Budiana dan seluruh staff terkait yang telah
membimbing dan mempermudah dalam penyusunan penulisan skripsi
3. Kepala Bidang Dinkesmas, Ibu Ni Nyoman Sukarini, S.St
4. dr. Hj. Ika Rika Rohantika selaku pembimbing yang telah bersedia
membimbing

dan

mengarahkan

kami

dari

awal

penulisan

hingga

terselesaikannya skripsi ini.


5. dr. Saojah selaku pembimbing penelitian ini.
6. Kepala Sekolah SMPN 1 Banjar dan seluruh staff yang telah membantu dalam
penelitian.
7. Puskesmas Pataruman 1 yang telah bersedia menampung kami selama 10
minggu ini untuk bertugas.
8. Drs. Hamdan selaku ketua LSM Matahati kota Banjar yang telah membantu
dalam pendataan
9. Siswa - siswi SMPN 1 Banjar yang telah membantu dalam penelitian.

10. Faza Faishal Iskandar, Monica Dea Rosana, Nadhifayanti Fauziah, Rivaldi
Puala Yuka Disufa, Rizky Nugraha, Yutika Adnindya, Zainul Fahmi sebagai
satu tim dalam penulisan penelitian.
Semoga semua yang telah membantu mendapatkan balasan yang
setimpal dari Allah SWT. Penulis berharap skripsi ini dapat dijadikan acuan
untuk

menghasilkan

karya-karya

ilmiah

selanjutnya

dalam

rangka

pengembangan ilmu, wawasan yang lebih luas, dan sebagai pengabdian.


Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi setiap pembacanya, Aamiin.

Banjar, April 2016


Tim Penulis

DAFTAR ISI

ABSTRAK....i
PERSETUJUAN DEWAN PENGUJI..iii
LEMBAR PERNYATAAN...iv
KATA PENGANTAR.....v
DAFTAR ISI.....vii
DAFTAR TABEL......ix
DAFTAR BAGAN...x
DAFTAR LAMPIRAN..xi

BAB I

PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang..1
B. Rumusan Masalah.....4
C. Tujuan Penelitian..4
1. Tujuan Umum...4
2. Tujuan Khusus..4
D. Ruang Lingkup......5
E. Manfaat Penelitian....5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA.....6
A. Tinjauan Pustaka...6
1. Pengetahuan......6
a. Definisi..6
b. Tingkat Pengetahuan.........6
c. Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan7
2. Kesehatan Reproduksi......9
a. Pengertian..9
b. Alat alat reproduksi..10
1) Alat reproduksi pria..10
2) Alat reproduksi perempuan...11
3) Faktor yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi..16
4) Tujuan kesehatan reproduksi17
5) Perilaku dan perilaku seksual...18
6) Remaja..21
3. Infeksi Menular Seksual (IMS)......26

a.
b.
c.
d.

Pengertian...26
Tanda dan gejala... .26
Jenis IMS berdasarkan kuman penyebab....28
Dampak IMS bagi remaja....36

B. Kerangka Teori....38
C. Kerangka Konsep....39
D. Hipotesis......39
BAB III METODE PENELITIAN....40
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Tempat dan Waktu..40


Desain Penelitian....40
Populasi dan Sampel.......40
Estimasi Besar Sampel........41
Kriteria Inklusi........41
Kriteria Eksklusi..41
Definisi Operasional42
Metode Pengumpulan Data.43
Pengolahan Data.43
Analisis Data...45

BAB IV HASIL PENELITIAN..46


A. Deskripsi Lokasi Penelitian......46
B. Analisis Univariat.46
C. Analisis Bivariat...51
BAB V

PEMBAHASAN...53
A. Keterbatasan Penelitian....53
B. Pembahasan Hasil Penelitian...53

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN....56


A. Kesimpulan..56
B. Saran....56
DAFTAR PUSTAKA....58

LAMPIRAN..61

DAFTAR TABEL

TABEL 3.1

Definisi Operasional Variabel....42

TABEL 4.1

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin....47

TABEL 4.2

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelas......48

TABEL 4.3

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan


Tingkat Pengetahuan...49

TABEL 4.4

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku......50

TABEL 4.5

Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku..51

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Kuesioner Penelitian.....62


LAMPIRAN 2 Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Pengetahuan...69
LAMPIRAN 3 Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Perilaku......72
LAMPIRAN 4 Output SPSS.....74
LAMPIRAN 5 Dokumentasi Pengambilan Data...78

DAFTAR BAGAN

BAGAN 2.1 Kerangka Teori...38


BAGAN 2.2 Kerangka Konsep...39

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, maka
remaja memiliki tugas perkembangan yang tidak mudah. Mereka harus mendapatkan
identitas diri yang positif agar dapat berkembang sebagai dewasa muda yang sehat
dan produktif.1 Masa remaja merupakan salah satu diantara dua masa rentangan
kehidupan individu, dimana terjadi perubahan fisik yang sangat besar yaitu
pematangan organ dan fungsi reproduksi. Berkenaan dengan perubahan tersebut
remaja juga mulai merasakan adanya dorongan seksual serta menunjukkan
ketertarikan terhadap lawan jenis. Akibatnya remaja mulai untuk coba-coba dalam hal
seksualitas.1
Untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas secara
biopsikososial maka penting diketahuinya kesehatan reproduksi sejak dini. Persiapan
dini dapat dimulai sejak usia remaja yang merupakan masa peralihan dari masa anak
menuju masa dewasa. Pesatnya arus globalisasi dan suburnya industri video dan
buku-buku pornografi serta kurangnya kontrol orangtua dan tersedianya sarana yang
menunjang perilaku reproduksi menyimpang dapat menyebabkan remaja lepas
kontrol dalam hal kesehatan reproduksi remaja. Kondisi ini menyebabkan banyaknya
remaja yang hamil pranikah dan tertular infeksi menular seksual akibat kurangnya
pengetahuan dan sikap remaja terhadap perilaku kesehatan reproduksi.2
Hasil SDKI (Survei demografi dan kesehatan Indonesia) 2012 menunjukan bahwa
pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi belum memadai dan masih sangat

kurang yaitu 66,7% remaja yang belum memahami tentang kesehatan reproduksi
remaja, dan sisanya 33,3% remaja baik laki laki maupun perempuan sudah dapat
mengerti dan paham mengenai kesehatan reproduksi4.
Survei demografi dan kesehatan Indonesia 2012 (SDKI 12) di 33 provinsi
terhadap remaja usia sekolah SMP dan SMA, sebanyak 63% remaja mengaku sudah
mengalami hubungan seks sebelum nikah dan 21% diantaranya melakukan aborsi jika
dibandingkan dengan SDKI 2002 dan 2007, terjadi peningkatan hubungan seks
pranikah remaja3.
Meningkatnya

perilaku

seksual

yang

menyimpang

juga

meningkatkan

permasalahan seksual salah satunya adalah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD)
yang akan berdampak pada kasus aborsi dan kematian dua kali lebih tinggi pada
remaja usia 15-18 tahun dibandingkan dengan wanita usia 20-24 tahun. Di Indonesia
sekitar 2,6 juta kasus aborsi setiap tahun. Jika dirata-rata, setiap jamnya terdapat 300
wanita telah menggugurkan kandungannya. Dari jumlah itu, 700 ribu diantaranya
dilakukan oleh remaja usia di bawah 20 tahun dan sebanyak 11,13% dari semua kasus
aborsi di Indonesia dilakukan karena kehamilan yang tidak diinginkan4.
Menurut data survei yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Banjar
didapatkan terdapat kasus Hamil diluar nikah dalam jarak usia 12-15 tahun dan range
umur tersebut adalah umur siswa SMP serta terdapat perbandingan kasus hamil diluar
nikah pada SMP lebih tinggi daripada remaja SMA perbandingannya sebagai berikut :
tahun 2013 SMP : 45% dan SMA 43% , sisanya di jenjang pendidikan D3/S1 ,tahun
2014 SMP : 48% dan SMA : 38% sisanya di jenjang pendidikan D3/S1 , tahun 2015
SMP : 44% dan SMA : 38% sisanya di jenjang pendidikan D3/S1 dan di wilayah
Puskesmas Pataruman 1 tercatat 2013 terdapat 14 kasus , 2014 terdapat 9 kasus, dan

2015 8 kasus , jumlah dari 2013-2015 adalah 31 kasus hamil diluar nikah dan masih
banyak lagi kasus yang belum tercatat dilapangan5.
Infeksi Menular Seksual (IMS) sampai saat ini masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat di seluruh dunia, baik di negara maju (industri) maupun di
negara berkembang Diperkirakan 75-80% penularan terjadi melalui hubungan
seksual4.
Terdapat data IMS di Usia remaja yang tercatat di Puskesmas Pataruman 1 tahun
2013 penyakit Gonorea 7 kasus dan Sifilis 9 kasus, 2014 penyakit Gonorea 6 kasus
dan sifilis 4 kasus, dan 2015 penyakit Gonorea 2 kasus dan sifilis 2 kasus dengan
jumlah tahun 2013-2015 adalah sebanyak 30 kasus meliputi penyakit Gonorea dan
Sifilis selanjutnya diikuti kasus ODHA dan HIV (+) tahun 2013-2015 sebanyak 11
kasus yang diantaranya adalah dengan usia remaja6.
Selain dari penyakit-penyakit yang disebutkan diatas akibat tidak menjaga
kesehatan reproduksi dengan baik LSM Mata Hati Kota Banjar telah mencatat dari
tahun 2013-2015 terdapat kasus penyimpangan-penyimpangan seksual lainnya
didapatkan data sebagai berikut :
Terdapat kelompok WPS (wanita penjajal seksual) sebanyak 79 orang dan 12
diantaranya ialah usia siswa SMP 15 tahun , terdapat kelompok LSL (lelaki seks
dengan lelaki) / Waria sebanyak 1771 orang dan 64 diantaranya adalah usia siswa
SMP 15 tahun dan masih banyak lagi kasus lain yang belum tercatat di LSM
dengan data tersebut bisa dikatakan bahwa adanya penyimpangan seksual yang tidak
di harapkan muncul sebagai suatu permasalahan mengenai kesehatan reproduksi
remaja dan penyimpangan itu bisa terjadi dari usia sejak dini yaitu usia siswa SMP7.
Program kesehatan remaja di Indonesia sejak tahun 2003, kementerian kesehatan

telah mengembangkan model pelayanan kesehatan yang disebut dengan pelayanan


kesehatan peduli remaja (PKPR), mengingat puskesmas merupakan pusat pelayanan
kesehatan dasar yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat termasuk remaja,
maka PKPR sangat potensial dilaksanakan di puskesmas sehingga pada akhir tahun
2019 ditargetkan 45% Puskesmas di Indonesia telah melenggarakan kegiatan
pembinaan mengenai kesehatan remaja secara menyeluruh dan baik8.
Dalam upaya terwujudnya program diatas hal tersebut mendorong kami meneliti
apakah siswa mengerti dan paham tentang pengetahuan seputar kesehatan reproduksi
di kalangan siswa SMP dan bagaimana perilaku siswa SMP tersebut dalam upaya
menjaga kesehatan reproduksi mereka.

B. Rumusan Masalah
Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi dengan
perilaku remaja di SMPN 1 Kota Banjar wilayah kerja puskesmas Pataruman 1 Kota
Banjar Tahun 2016 ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dan perilaku remaja terhadap
kesehatan reproduksi di SMPN 1 Kota Banjar wilayah kerja puskesmas
Pataruman 1 Kota Banjar Tahun 2016 ?
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran pengetahuan siswa terhadap kesehatan reproduksi di
SMPN 1 Kota Banjar wilayah kerja puskesmas Pataruman 1 Kota Banjar
b. Diketahuinya gambaran perilaku siswa terhadap kesehatan reproduksi di

SMPN 1 Kota Banjar wilayah kerja puskesmas Pataruman 1 Kota Banjar


D. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada siswa siswi di SMPN 1 Kota Banjar wilayah kerja
Puskesmas Pataruman 1 Kota Banjar pada bulan Maret April 2016, variabel yang
akan diteliti adalah Pengetahuan, dan perilaku siswa terhadap kesehatan reproduksi.

E. Manfaat Penelitian
1. Peneliti
Sebagai sarana pembelajaran dalam melakukan peneltian dan menambah
pengetahuan peneliti mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku
remaja terhadap kesehatan reproduksi di SMPN 1 Kota Banjar.
2. Siswa
Memberikan pengetahuan kepada siswa tentang pengetahuan kesehatan
reproduksi remaja dan perilaku yang baik dalam menjaga kesehatan reproduksi
remaja.
3. Dinas Kesehatan Kota Banjar
Memberikan gambaran mengenai pengetahuan siswa SMP terhadap
kesehatan reproduksi remaja dan perilakunya dalam menjaga kesehatan
reproduksi remaja.
4. Puskesmas

Memberikan gambaran khususnya di wilayah kerja puskesmas


Pataruman 1 mengenai pengetahuan dan perilaku siswa SMP terhadap
kesehatan reproduksi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka
1) Pengetahuan
a.

Definisi
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar, pengetahuan
manusia diperoleh dari mata dan telinga. 10

b.

Tingkat Pengetahuan
Untuk mengukur tingkat pengetahuan seseorang secara
terperinci terdiri dari 6 tingkatan yaitu11:

Tahu (know)
Yaitu kemampuan untuk mengingat suatu materi yang
telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh badan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2

Memahami (comprehention)

Yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar


tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar.

Menerapkan (application)
Yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

Analisis (analysis)
Yaitu kemampuan untuk menyebarkan materi suatu objek
kedalam komponen komponen, tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

Sintesa (synthesis)
Yaitu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan
bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

Evaluasi (evaluation)
Yaitu

kemampuan

untuk

melakukan

penilaian

menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada, misalnya dapat


membandingkan, menanggapi pendapat dan menafsirkan sebab-sebab
suatu kejadian.
c.

Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan


Pengaruh pengetahuan terhadap pertumbuhan anak maupun
remaja sangat penting. Oleh sebab itu, seseorang yang mempunyai

cukup

pengetahuan

dan

pendidikan

yang

tinggi

akan

lebih

memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Faktor-faktor


yang mempengaruhi pengetahuan seseorang sebagai berikut11:

1) Faktor internal
a) Jasmani
Faktor

jasmani

diantaranya

adalah

kesehatan

indera

adalah

kesehatan

psikis,

seseorang.
b) Rohani
Faktor

rohani

diantaranya

intelektual, psikomotor serta kondisi afektif serta kognitif


individu.
2) Faktor eksternal
a) Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam
memberi respon terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang
yang berpendidikan tinggi akan memberi respon yang lebih
rasional terhadap informasi yang datang, akan berpikir sejauh
mana keuntungan yang mungkin akan diperoleh dari suatu
gagasan.
b) Paparan media massa

Melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik,


berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga
seseorang yang lebih sering terpapar media massa (TV, radio,
majalah, pamflet dan lain-lain) akan memperoleh informasi
lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang tidak pernah
terpapar informasi media. Hal ini berarti paparan media masa
mempengaruhi pengetahuan yang dimiliki seseorang.

3) Umur
Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerta. Dari segi
kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya
dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai
dari pengalaman dan kematangan jiwa.12
4) Pengalaman
Pengalaman seseorang tentang berbagai hal yang dapat
diperoleh

dari

lingkungan

kehidupan

dalam

proses

perkembangannya, misalnya seseorang mengikuti kegiatan-kegiatan


yang mendidik, seperti seminar dan berorganisasi, sehingga dapat
memperluas pengalamannya, karena dari berbagai kegiatan-kegiatan
tersebut, informasi tentang suatu hal dapat diperoleh.12

2) Kesehatan Reproduksi

10

a. Pengertian
Kesehatan

Reproduksi

menurut

WHO

(World

Health

Organizations) adalah salah satu keadaaan fisik, mental dan sosial


yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit kecacatan dalam segala
aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta
prosesnya13.

Suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati

kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses


reproduksinya secara sehat dan aman14. Guna mencapai kesejahteraan
yang berhubungan dengan fungsi dan proses sistem reproduksi, maka
setiap orang (khususnya remaja) perlu mengenal dan memahami
tentang hak-hak reproduksi berikut ini.8
1)

Hak untuk hidup


2) Hak mendapatkan kebebasan dan keamanan
3) Hak atas kesetaraan dan terbebas dari segala bentuk diskriminasi
4) Hak privasi
5) Hak kebebasan berpikir
6) Hak atas informasi dan edukasi
7) Hak memilih untuk menikah atau tidak, serta untuk membentuk
dan merencanakan sebuah keluarga
8) Hak untuk memutuskan apakah ingin dan kapan mempunyai anak
9) Hak atas pelayanan dan proteksi kesehatan

11

10) Hak untuk menikmati kemajuan ilmu pengetahuan


11) Hak atas kebebasan berserikat dan berpatisipasi dalam arena
politik
12)

Hak untuk terbebas dari kesakitan dan kesalahan pengobatan.

b. Alat alat reproduksi


1) Alat alat reproduksi pria
a)

Testis
Pria memiliki dua buah testis untuk meproduksi
sperma yang dibungkus oleh lipatan kulit kantung yang
disebut skrotum. Dimulai sejak masa puber, sepanjang masa
hidupnya pria akan memproduksi sperma. Selain itu, testis
juga menghasilkan hormon testoteron. Di sisi belakang
masing-masing testis terdapat epididimis, yaitu tempat sperma
mengalami kematangan. Saluran selanjutnya adalah vas
deferens merupakan suatu saluran, saluran ini dan masuk ke
vesika seminalis sebagai tempat penampungan sperma.11

b)

Penis
Penis adalah alat reproduksi yang membawa cairan
mani ke dalam vagina. Jika ada rangsangan seksual, maka
darah di dalam penis akan terpompa. Akibatnya, penis menjadi
tegang dan mengeras, lalu cairan semen yang mengandung

12

sperma keluar dari vesika seminalis dan melalui uretra


terpancar keluar. Proses tersebut dikenal dengan istilah
ejakulasi.11

2) Alat alat reproduksi perempuan


a) Organ reproduksi eksternal perempuan

Mons Pubis
Bagian yang menonjol diatas simfisis dan pada
perempuan dewasa ditutup oleh rambut kemaluan.
Berfungsi untuk melindungi alat genetalia dari
masuknya kotoran.11

Klitoris
Merupakan bagian yang erektil , seperti penis
pada laki-laki. Mengandung banyak pembuluh darah
dan serat saraf, sehingga sangat sensitif pada saat
berhubungan seks.11

Labia Mayora
Berasal dari mons veneris bentuknya lonjong
menjurus ke bawah dan bersatu di bagian bawah.
Bagian luar labia mayor terdiri dari kulit berambut,
kelenjar lemak, dan kelenjar keringat, bagian
dalamnya tidak berambut dan mengandung kelenjar

13

lemak, bagian ini mengandung banyak ujung saraf


sehingga sensitif saat berhubungan seks. Berfungsi
menutupi organ-organ genetalia di dalamnya dan
mengeluarkan cairan pelumas pada saat menerima
rangsangan seksual.11

Labia Minora
Merupakan lipatan kecil di bagian dalam labia
mayora. Bagian depannya mengelilingi klitoris.
Kedua labia ini mempunyai pembuluh darah,
sehingga dapat menjadi besar saat keinginan seks
bertambah. Labia ini analog dengan kulit skrotum
pada laki-laki. Berfungsi untuk menutupi organorgan genetalia di dalamya serta merupakan daerah
erotis yang mengandung pembuluh darah dan
saraf.11

Vestibulum
Bagian kelamin ini dibatasi oleh kedua labia
kanan-kiri dan bagian atas oleh klitoris serta bagian
belakang pertemuan labia minora. Pada bagian
vestibulum terdapat muara vagina (liang senggama),
saluran kencing, kelenjar bartolini, dan kelenjar
skene. Berfungsi untuk mengeluarkan cairan apabila
ada rangsangan seksual yang berguna untuk
melumasi vagina pada saat bersenggama.11

14

Himen
Merupakan

selaput

tipis

yang

menutupi

sebagian lubang vagina luar, pada umumnya hymen


berlubang sehingga menjadi saluran aliran darah
menstruasi atau cairan yang dikeluarkan oleh
kelenjar Rahim dan kelenjar endometrium (lapisan
dalam Rahim). Pada saat hubungan seks pertama
hymen akan robek dan mengeluarkan darah. Setelah
melahirkan hymen merupakan tonjolan kecil yang
disebut karunkule mirtiformis.11
b) Organ reproduksi internal perempuan

Vagina
Saluran musculo-membranasea (selaput otot)
yang menghubungkan Rahim dengan saluran luar,
bagian ototnya berasal dari otot levator ani dan otot
sfingter

ani

(otot

dubur)

sehingga

dapat

dikendalikan dan dilatih. Dinding depan vagina


berukuran 9 cm dan dinding belakangnya 11 cm.
Berfungsi sebagai jalan lahir bagian lunak, sebagai
sarana hubungan seksual, saluran untuk mengalirkan
lendir dan darah menstruasi.11

Rahim (uterus)

15

Bentuk uterus seperti buah pir, dengan berat


sekitar 30 gr. Terletak di panggul kecil diantara
rectum (bagian usus sebelum dubur) dan di
depannya terletak kandung kemih. Ruang Rahim
berbentuk segitiga, dengan bagian besar diatasnya.
Bagian-bagian dari Rahim uterus yaitu servik uteri,
korpus uteri, fundus uteri. Secara histologis uterus
dibagi menjadi tiga bagian yaitu: endometrium yaitu
lapisan uterus yang paling dalam yang tiap bulan
lepas sebagai darah menstruasi, myometrium yaitu
lapisan tengan, lapisan tengah ini terdiri dari otot
polos, dan perimetrium merupakan lapisan luar yang
terdiri dari jaringan ikat. Fungsi Rahim adalah
tempat bersarangnya atau tumbuhnya janin di dalam
Rahim, janin makan melalui plasenta yang melekat
pada dinding Rahim, tepat pembuatan hormone
misal HCG (Human Chorionic Gonadotropin).11

Tuba Fallopi
Tuba fallopi berasal dari ujung ligamentum
latum berjalan kearah lateral, dengan panjang sekitar
12 cm. Saluran ini bukan merupakan saluran lurus,
tetapi mempunyai bagian yang lebar sehingga
membedakan menjadi empat bagian. Di ujungnya
terbuka dan mempunyai fibriae, sehingga dapat

16

menangkap ovum saat menjadi pelepasan ovum


(telur). Saluran telur ini merupakan saluran hasil
konsepsi menuju rahim. Berfungsi sebagai saluran
yang membawa ovum yang dilepaskan ovarium ke
dalam uterus, tempat terjadinya fertilisasi, fimbria
mengangkat ovum yang keluar dari ovarium.11

Indung Telur (ovarium)


Terletak antara rahim dan dinding panggul, dan
digantung ke rahim oleh

ligamentum ovarii

properium dan kedinding panggul oleh ligamentum


nifudibulo-pelvikum.

Indung

telur

merupakan

sumber hormone wanita yang paling utama. Saat


lahir bayi perempuan mempunyai sel telur 750.000,
umur 615 tahun sebanyak 439.000, umur 1625
tahun

sebanyak

169.000,

umur

26-35

tahun

sebanyak 59.000, umur 3545 tahun sebanyak


34.000,

dan

masa

menopause

semua

telur

menghilang. Berfungsi memproduksi ovum (sel


telur), sebagai organ yang menghasilkan hormone
(estrogen dan progesterone).11

Parametrium
Merupakan lipatan peritoneum dengan berbagai
penebalan yang menghubungkan rahim dengan
tulang panggul. Lipatan atasnya mengandung tuba

17

fallopi dan ikut serta menyangga indung telur.


Bagian ini sensitif terhadap infeksi sehingga
mengganggu fungsinya. Berfungsi untuk mengikat
atau menahan organ-organ reproduksi wanita agar
terfiksasi dengan baik pada tempatnya, tidak
bergerak

dan

berhubungan

dengan

organ

sekitarnya.11

3) Faktor Faktor yang Berhubungan Dengan Kesehatan


Reproduksi
Secara umum terdapat 4 faktor yang berhubungan dengan
kesehatan reproduksi, yaitu 9 :
a. Faktor

sosial-ekonomi,

dan

demografi.

faktor

ini

berhubungtan dengan kemiskiinan dan tingkat pendidikan


yang rendah dan ketidaktahuan mengenai perkembangan
seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal
yang terpencil.
b. Faktor budaya dan lingkungan, antara lain adalah praktik
tradisional yang berdampak buruk terhadap kesehatan
reproduksi, keyakinan banyak anak banyak rezeki, dan
remaja mengenai fungsi dan proses reproduksi.
c. Faktor psikologis: keretakan orang tua akan memberikan
dampak pada kehidupan remaja, depresi yang disebabkan
oleh ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharganya

18

wanita di mata pria yang membeli kebebasan dengan materi.


d. Faktor biologis, antara lain cacat sejak lahir, cacat pada
saluran reproduksi, dan sebagainya.

4) Tujuan Kesehatan Reproduksi


a. Tujuan Utama
Sehubungan dengan fakta bahwa fungsi dan proses
reproduksi harus didahului oleh hubungan seksual, maka
tujuan

utama

program

kesehatan

reproduksi

adalah

meningkatkan kesadaran kemandirian wanita dalam mengatur


fungsi dan proses reproduksinya, termasuk kehidupan
seksualitasnya,

sehingga

hak-hak

reproduksinya

dapat

terpenuhi yang pada akhirnya menuju peningkatan kualitas


hidup.9

b. Tujuan Khusus
1) Meningkatnya kemandirian wanita dalam memutuskan
peran dan fungsi reproduksinya.
2) Meningkatnya hak dan tanggung jawab sosial wanita
dalam menentukan kapan hamil, jumlah, dan jarak
kehamilan.

19

3) Meningkatnya peran dan tanggung jawab social pria


terhadap akibat dari perilaku seksual dan fertilitasnya
kepada kesehatan dan kesejahteraan pasangan dan anakanaknya.
4) Dukungan yang menunjang wanita untuk membuat
keputusan yang berkaitan dengan proses reproduksi,
berupa pengadaan informasi dan pelayanan yang dapat
memenuhi

kebutuhan

untuk

mencapai

kesehatan

reproduksi secara optimal.

5) Perilaku dan Perilaku Seksual


a. Perilaku
Perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme, baik
dapat diamati secara langsung maupun secara tidak langsung.
Sedangkan perilaku manusia adalah tindakan atau aktivitas
dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang
sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa,
bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Bentuk
perilaku manusia ada dua, yaitu:
1) Perilaku tertutup (Covert behaviour)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk
terselubung atau tertutup (covert). Respons atau reaksi
terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian,

20

persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi


pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum
dapat diamati secara jelas oleh orang lain.10
2) Perilaku terbuka (Overt behaviour)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk
tindakan nyata atau praktek yang dengan mudah dapat
diamati atau dilihat oleh orang lain.10

b. Perilaku Seksual
Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang
didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenis. Bentuk
tingkah laku ini bisa bermacam-macam dari perasaan tertarik
sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama
atau melakukan hubungan seks.13
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual
Perilaku seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1)

Meningkatnya libido seksual, peningkatan hasrat seksual


ini menimbulkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku

2)

tertentu.19
Adanya penundaan usia perkawinan sehigga penyaluran
hasrat seksual tidak dapat segera dilakukan dengan baik
secara hukum, oleh karena itu adanya undang-undang
tentang perkawinan yang menetapkan batas usia nikah,
maupun norma susila yang semakin lama semakin

21

menuntut
3)

persyaratan

yang

semakin

tinggi

untuk

perkawinan.13
Tabu/larangan, sementara usia kawin ditunda normanorma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang

melakukan hubungan seks sebelum menikah.13


Kurangnya informasi tentang seks.13
5) Adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual
4)

melalui media massa.13


6) Orang tua bersikap tertutup mengenai masalah seksual.13
7)
Kecenderungan pergaulan yang semakin bebas antara pria
dan wanita di masyarakat.13
d

Tahap-Tahap Perilaku Seksual


1

French kiss (cium bibir).

Hickey adalah merasakan kenikmatan untuk menghisap


atau menggigit dengan gemas pasangan.

Necking (mencium wajah dan leher).

Petting termasuk merasakan dan mengusap-usap tubuh


pasangan, termasuk lengan, kaki, buah dada, dan kadang
daerah kemaluan (di luar atau di dalam pakaian).

Hubungan intim adalah bersatunya dua orang secara


seksual, yang dilakukan setelah pasangan pria dan wanita
menikah. 14

22

6) Remaja
a. Pengertian
Masa remaja adalah tahapan perkembangan antara pubertas,
usia dimana seseorang memperoleh kemampuan untuk melakukan
reproduksi seksual, dan masa dewasa. Sebelum pubertas, anak
laki-laki dan perempuan menghasilkan tingkat hormone laki-laki
(androgen) dan hormone perempuan (estrogen) yang kurang lebih
sama banyaknya. Namun saat memasuki masa pubertas, kelenjar
pituitary di dalam otak mulai merangsang produksi hormone
adrenal dan reproduksi. Setelah itu, anak laki-laki memiliki
tingkat hormon androgen yang lebih tinggi dari anak perempuan,
dan anak perempuan memiliki tingkat hormon estrogen yang lebih
tinggi daripada anak laki-laki.Usia pubertas rata-rata sekarang
adalah antara 12 tahun 8 bulan pada anak perempuan kulit putih
dan beberapa bulan lebih awal pada anak perempuan kulit hitam.
Kemunculan dan lamanya waktu pubertas yang sangat bervariasi
antar individu.15,20
b. Klasifikasi
Tahap-tahap masa remaja yaitu sebagai berikut:
1) Masa remaja awal:
Yang dimaksud masa remaja awal adalah periode
dimana anak telah lewat dan pubertas dimulai. Secara kasar masa
ini dapat dikatakan merupakan masa transisi dari stadium

23

(Stadium Maturitas Seks) SMS 1 ke SMS 2 sampai sebelum SMS


3. Pada anak perumpuan biasanya terjadi antara umur 10-13 tahun
sedangkan laki-laki 10,5-15 tahun.15

2)

Masa remaja menengah


Masa remaja menengah mencakup stadium SMS 3 dan
4 dari Tanner. Umur kronologis tercapainya stadium ini sangat
bervariasi, bisa berkisar antara umur 11-14 tahun pada anak
perempuan dan 12-15 tahun pada anak laki-laki. Masa ini adalah
perubahan dan pertumbuhan yang paling dramatis.15

3)

Masa remaja akhir


Masa Remaja Akhir adalah tahap terakhir dari
perkembangan pubertas yaitu SMS 5, sebelum masa dewasa.
Umur kronologis pencapaian stadium ini seperti halnya pada
stadium-stadium sebelumnya sangat bervariasi. Pada anak
perempuan berkisar 13-17 tahun pada anak laki-laki antara 14-16
tahun.15

c. Perubahan fisik pada masa remaja


1) Muncul tanda-tanda seks primer:
Yang dimaksud tanda-tanda seks primer adalah organ
seks. Terjadinya haid yang pertama (menarche) pada remaja
perempuan, dan mimpi basah pada remaja laki-laki.9
2)

Munculnya tanda-tanda seks sekunder, yaitu:

24

Pada remaja laki-laki tumbuhnya adams apple, penis


dan buah zakar bertambah besar, terjadinya ereksi dan
ejakulasi, suara bertambah besar, dada lebih lebar, badan
berotot, tumbuh kumis di atas bibir, jambang dan rambut di
sekitar kemaluan dan ketiak. Pada remaja perempuan; pinggul
melebar, pertumbuhan rahim dan vagina, tumbuh rambut
disekitar kemaluan dan ketiak, payudara membesar.9
d. Perubahan kejiwaan pada masa remaja
Perubahan-perubahan yang berkaitan dengan kejiwaan pada
remaja adalah:
1) Perubahan emosi
Perubahan tersebut berupa kondisi:
a) Sensitif atau peka misalnya mudah menangis, cemas,
frustasi dan sebaliknya bisa tertawa tanpa alasan yang
jelas. Utamanya sering terjadi pada remaja putri, lebihlebih sebelum menstruasi.15
b) Mudah beraksi bahkan agresif terhadap gangguan atau
rangsangan luar yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya
mudah terjadi perkelahian. Suka mencari perhatian dan
bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.15
c) Ada kecenderungan tidak patuh pada orang tua, dan
lebihsenang pergi bersama dengan temannya daripada
tinggal dirumah.15

25

2) Perkembangan intelegensia
Pada perkembangan ini menyebabkan remaja:
a) Cenderung mengembangkan cara berpikir abstrak, suka
memberikan kritik.15
b) Cenderung ingin mengetahui hal-hal baru sehingga
muncul perilaku ingin mencoba-coba.15

d. Masalah Kesehatan Alat Reproduksi Remaja


Beberapa waktu yang lampau masalah remaja dengan alat
reproduksinya kurang mendapat perhatian karena umur relative
muda, masih dalam status pendidikan sehingga seolah-olah bebas
dari kemungkinan menghadapi masalah penyulit dan penyakit
yang berkaitan dengan alat reproduksinya. Terbukti bahwa remaja
yang sedang mudah menerima informasi dunia berkaitan dengan
masalah fungsi alat reproduksi sehingga cenderung menjurus
kearah pelaksanaan hubungan seksual yang semakin bebas.16
Penelitian menunjukan bahwa kejadian semakin bebasnya
hubungan seksual, seolah-olah mencoreng muka pendidik, orang
tua, dan masyarakat sehingga menimbulkan kesadaran yang agak
terlambat. Penelitian di Jakarta, Yogyakarta, dan bahkan Denpasar
menunjukan bukti bahwa di kalangan remaja telah terjadi revolusi

26

dalam hubungan seksual menuju arah liberalisasi tanpa batas.


Kebanggaan

terhadap

kemampuan

untuk

mempertahankan

kegadisan sampai pada ke pelaminan telah sirna, oleh karena


kedua belah pihak saling menerima kedudukan baru dalam seni
pergaulan hidupnya.16
Dalam melakukan hubungan seksual sebagian besar remaja
tidak terlindung dari dua kemungkinan yang dapat terjadi yaitu
kehamilan yang tidak dikehendaki dan penyakit hubungan seksual
yang dapat menjurus kearah penyakit radang panggul (PRP). Dua
masalah ini menjadi topic utama yang dihadapi remaja dalam
mencari identitas yang akan menjerumuskan remaja pada
kesulitan pemecahan masalah. Kedua masalah tersebut nyata
memberi dampak yang merugikan remaja dalam menghadapi
masa depan yang lebih baik.16
Penyakit radang panggul wanita merupakan kelanjutan dari
infeksi karena hubungan seksual tidak terlindung dari pengobatan
radikal. Terjadinya penyakit radang panggul ini merupakan
kegagalan dalam upaya pencegahan primer yaitu dengan
menghindari terjadinya penyakit hubungan seksual sampai AIDS
dan menetapkan diagnosis dini disertai pengobatan radikal.
Kejadian penyakit radang panggul semakin meningkat berkaitan
dengan makin bebasnya hubungan seksual pranikah yang melanda
dunia dan terutama terjadi pada remaja.16
Informasi yang makin cepat dalam berbagai bentuk telah
menyebabkan dunia semakin milik remaja. Demikian informasi
tentang kebudayaan hubungan seksual telah mempengaruhi kaum

27

remaja termasuk Indonesia, sehingga terjadi suatu revolusi yang


menjurus makin bebasnya hubungan seksual pranikah. Anggapan
bahwa remaja yang sedang dalam pendidikan dengan usia muda
terbebas dari masalah infeksi alat genital (kelamin), harus
ditinggalkan. Masalah tersebut laksana gunung es yang hanya
permukaannya yang tampak sedangkan kejadian sebenarnya
cukup merisaukan setiap orang dan keluarga yang mempunyai
.

remaja.16
Infeksi Menular Seksual (IMS)
a. Pengertian
Penyakit Menular Seksual (PMS) disebut juga Infeksi Menular
Seksual (IMS) adalah sekelompok infeksi yang ditularkan melalui
hubungan seksual. Kebanyakan PMS dapat ditularkan melalui hubungan
seksual antara penis, vagina, anus dan/atau mulut6.
Menurut DepkesRI (2007), Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah
penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi menular
seksual akan lebih beresiko bila melakukan hubungan seksual dengan
berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal7.
b. Tanda dan gejala
Gejala Infeksi Menular Seksual (IMS) dibedakan menjadi7:
1) Perempuan
a) Luka dengan atau tanpa rasa sakit di sekitar alat kelamin, anus
mulut atau bagian tubuh yang lain, tonjolan kecil kecil, diikuti luka
yang sangat sakit di sekitar alat kelamin.

28

b) Cairan tidak normal yaitu cairan dari vagina bisa gatal,


kekuningan, kehijauan, berbau atau berlendir.
c) Sakit pada saat buang air kecil yaitu IMS pada wanita biasanya
tidak menyebab sakit atau burning urination.
d) Perubahan warna kulit yaitu terutama di bagian telapak tangan atau
kaki, perubahan bisa menyebar ke seluruh bagian tubuh
e) Tonjolan seperti jengger ayam yaitu tumbuh tonjolan seperti
jengger ayam di sekitar alat kelamin.
f) Sakit pada bagian bawah perut yaitu rasa sakit yang muncul dan
bilang yang tidak berkaitan dengan menstruasi bisa menjadi tanda
infeksi saluran reproduksi (infeksi yang telah berpindah kebagian
dalam sistem reproduksi, termasuk tuba falopi dan ovarium).
g) Kemerahan yaitu pada sekitar alat kelamin atau antara kaki.
2) Laki-laki
a) Luka dengan atau tanpa rasa sakit di sekitar alat kelamin, anus
mulut atau bagian tubuh yang lain, tonjolan kecil kecil, diikuti luka
yang sangat sakit di sekitar alat kelamin
b) Cairan tidak normal yaitu cairan bening atau berwarna berasal dari
pembukaan kepala penis atau anus.
c) Sakit pada saat buang air kecil yaitu rasa terbakar atau rasa sakit
selama atau setelah urination.
d) Kemerahan pada sekitar alat kelamin, kemerahan dan sakit di
kantong zakar.
c. Jenis IMS berdasarkan kuman penyebab
Jenis Infeksi Menular Seksual (IMS) berdasarkan penyebab, antara lain7:
1) Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan bakteri
a) Gonorhoe

29

Penyebab : Neisseria gonorhoe


Masa inkubasi : selama 2-10 hari.
Infeksi yang menyerang selaput lendir uretra pada laki-laki
serta leher rahim dan uretra pada wanita.
Pada laki-laki: Berupa rasa gatal dan panas pada saat BAK,
keluar cairan atau nanah kental berwarna kuning kehijauan secara
spontan dari uretra ujung penis tampak merah, bengkak dan
menonjol keluar.
Pada perempuan: Sebagian besar tidak menimbulkan
keluhan atau keluar cairan keputihan berwarna kuning kehijauan
dan kental, kadang-kadang disertai rasa nyeri saat BAK.

Komplikasi
Yang sering terjadi pada laki-laki adalah infeksi pada testis
atau buah zakar, saluran sperma sehingga bisa menimbulkan
penyempitan. Pada wanita bisa terjadi penjalaran infeksi ke rahim
dan saluran telur sehingga dapat menyebabkan kemandulan. Bila
mengenai ibu hamil dapat menularkan ke bayi saat melahirkan
sehingga

menyebabkan

infeksi

pada

mata

yang

dapat

menyebabkan kebutaan7.

b) Sifilis (Raja Singa)


Sifilis disebut juga raja singa, Mai de Naples, morbus gallicus,
lues venerea18.

30

Penyebab: Troponema Pallidum


Macam sifilis
Macam sifilis yaitu7:
Sifilis stadium I (sifilis primer)
Sifilis ini timbul antara 2 -4 minggu setelah kuman masuk,
ditandai dengan adanya benjolan kecil merah biasanya 1
buah kemudian menjadi luka atau koreng yang tidak
disertai rasa nyeri. Lokasi pada laki-laki biasanya pada alat
kelamin sedangkan pada wanita selain pada alat kelamin
luar bisa juga pada vagina maupun leher rahim. Tempat
lain yang bisa terkena adalah pada bibir, lidah, sekitar
dubur.
Stadium II (sifilis sekunder)
Stadium ini terjadi setelah 6-8 minggu dan bisa
berlangsung sampai 9 bulan. Kelainan dimulai dengan
adanya gejala nafsu makan yang menurun, demam, sakit
kepala, nyeri sendi. Stadium ini disebut the great imitator
of the skin deseases karena mempunyai tanda dan gejala
menyerupai penyakit kuht lain berupa bercak bercak
merah, benjolah kecil-kecil seluruh tubuh, tidak gatal,
kebotakan rambut dan sebagainya.
Stadium HI (sifilis tersier)

31

Umumnya timbul antara 3-10 tahun setelah infeksi.


Ditandai dengan 2 macam kelainan yaitu berupa kelainan
yang bersifat destruktif pada kulit, selaput lendir, tulang
sendi dan adanya radang yang terjadi secara perlahanlahan pada jantung, sistem pembuluh darah dan syaraf.

Komplikasi
Komplikasi sifilis, yaitu18:
Dapat menimbulkan kerusakan berat pada otak dan
jantung jika tidak diobati.
Selama kebamilan dapat ditularkan pada bayi dalam
kandungan dan dapat menyebabkan keguguran atau
lahir cacat.
Memudahkan penularan HIV

c. Ulkus molle
Ulkus molle, yaituUlkus molle disebabkan oleh infeksi bakteri
haemophillusducreyi yang menular karena hubungan seksual18.
Gejala:

Luka-luka dan nyeri tanpa radang jelas.


Benjolan mudah pecah dilipatan paha disertai sakit.

Komplikasi:

Luka dan infeksi hingga mematikan jaringan disekitarya.

32

Tertular HIV

d. Granuloma inguinale

Penyebab
Sebuah luka kecil di bagian kemaluan akan menyebar
lama-kelamaan membentuk sebuah masa granulomatous
(benjolan-benjolan kecil) yang bisa menyebabkan kerusakan
berat organ-organ kemaluan19.

Gejala
Pada stadium awal dimulai dengan adanya plenting
kecil yang akan pecah dalam waktu singkat kemudian mejadi
luka, tidak nyeri dan sembuh sendiri dalam waktu singkat
Dalam waktu antara 1 - 4 minggu setelah luka tersebut sembuh
akan timbul pembengkakan kelenjar lipat paha yang disertai
rasa nyeri, keras, berbentuk seperti sosis8.

Komplikasi:
Stadium lanjut pada laki-laki dapat menyebabkan
pembengkaka pada peni dan scrotum (elephantiasis scrotum)
sedang pada wanita menyebabkan pembengkakan bibir
kemaluan (elephantiasis labiae/esthiomene).

2) Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan Virus

33

a) Herpes Genitalis
Herpes genitalis disebabkan virus herpes simplex tipe 1 dan 2
dengan masainfkubasi antara 4 7 hari setelah virus berada
dalam tubuh, dimulai dengan rasa terbakar atau kesemutan pada
tempat masuknya virus. Bagian tubuh yang paling banyak
terinfeksi adalah kepala penis dan preputium (bagian yang
disunat) serta bagian luar alat kelamin, vagina dan serviks18.
Gejala :

Bintil-bintil berkelompok seperti anggur berair dan nyeri


pada kemaluan, kemudian pecah dan meninggalkan luka yang

kering berkerak, lalu hilang dengan sendirinya.


Dapat muncul lagi seperti gejala awal biasana hilang dan
timbul, kambuh apabla ada faktor pencetus, misalnya arena
stres, menstruasi, makan/minum beralkohol, hubungan seks

berlebihan, dan menetap seumur hidup.


Membesarnya kelenjar getah bening di selangkangan.
Susah buang air kecil.

Komplikasi:

Rasa nyeri berasal dari syaraf


Tertular pada bayi dan menyebabkan lahir muda, cacat bayi,

lahir mati.
Radang tenggorokan (faringitis)
Infeksi selaput otak (meningitis)
Tertular HIV
Kanker leher rahim.

34

b) Kondiloma akuiminata

Penyebab
Kondiloma

akuiminata

disebabkan

oleh

virus

human

papilloma tipe 6 dan 11 dengan masa inkubasi 2-3 bulan


setelah kuman masuk ke dalam tubuh18.

Gejala
Gejalanya yaitu terlihat adanya satu atau beberapa kutil (lesi)
di daerah kemaluan dan lesi ini dapat membesar18. Gejala pada
wanita hamil dapat membesar sampai dubur dan mirip jengger
ayam atau bunga kol. Pada laki-laki mengenai alat kelamin
dan saluran BAK bagian dalam. Kadang-kadang kutil tidak
terlihat sehingga tidak disadari biasanya laki-laki baru
menyadari setelah dia menulari pasangannya7.

Komplikasi:
Komplikasi kondiloma akuminata yaitu : kanker leher rahim
atau kanker kulit disekitar kulit kelamin7.

3) Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan jamur


Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan jamur yaitu18:
a) Kandidiasis

Penyebab

35

Infeksi kandidiasis disebabkan oleh jamur Candida albican


yang pada umumnya terdapat di susu dan vagina.

Gejala
Gejalanya yaitu berupa keputihan

menyerupai keju disertai

lecet serta rasa gatal dan iritasi di daerah bibir kemaluan dan
berbau kas18. Gejala kandidiasis yaitu : pada keadaan mormal
jamur ini terdapat dikulit maupun di dalam hang kemaluan
perempuan. Tetapi pada keadaan tertentu jamur ini meluas
sedemikian rupa hingga menimbulkan keputihan. Gejalanya
berupa keputihan berwarna putih seperti susu, bergumpal,
disertai rasa gatal panas dan kemerahan pada kelamin dan di
sekitarnya7.

4) Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan parasit


Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan parasit, yaitu22:
a) Trikomonas Vaginalis
Trikomonas adalah infeksi saluran urogenitalia yang dapat
bersifat akut atau kronik dan disebabkan oleh tricomonas
vaginalis.

Penyebab

36

Tricomonas vaginalis merupakan yang berflagela dengan


masa inkubasi sekitar 1 minggu, tapi dapat berkisar 4-28
hari.

Gejala:
Wanita gatal-gatal dan rasa panas, vagina secret vagina
yang banyak, berbau dan berbusa (sekret yang berbusa
merupakan bentuk klasik dari trikomonas sebanyak 12%,
disuria dengan pruritusedema vulva, perdarahan kecil-kecil
pada permukaan serviks (serviks strawberry).

d. Dampak Infeksi Menular Seksual (IMS) bagi remaja


Dampak Infeksi Menular Seksual (IMS)bagi remaja perempuan dan lakilaki, yaitu7:
1) Infeksi alat reproduksi akan menurunkan kualitas ovulasi sehingga
akan mengganggu siklus dan banyaknya haid serta menurunan
kesuburan.
2) Peradangan alat reproduksi ke organ yang lebih tinggi yang dapat
meningkatkan kecenderungan terjadi kehamilan di luar rahim.

37

3) Melahirkan anak dengan cacat bawaan seperti katarak, gangguan


pendengaran, kelainan jantung dan cacat lainnya.

Secara psikologis dan fisik dampak Infeksi Menular Seksual (IMS) bagi
remaja, sebagai berikut7:
1) Dampak secara psikologis
a. Rendah diri
b. Malu dan takut sehingga tidak mau berobat yang akan
memperberat penyakit atau bahkan akan mengobati jenis dan
dosis tidak tepat yang justru akan memperberat penyakitnya
disamping terjadi resistensi obat.
c. Gangguan hubungan seks setelah menikah karena takut tertular
lagi atau takut menularkan penyakit pada pasangannya.

2) Dampak secara fisik


a. Bekas bisul atau nanah di daerah alat kelamin dapat mengganggu
kualitas hubungan seksual di kemudian hari karena menimbulkan
rasa nyeri dan tidak nyaman waktu berhubungan seks.
b. Nyeri waktu BAK (disuria) karena peradangan mengenai saluran
kemih
c. Gejala neurologi/gangguan syaraf (stadium lanjut sifilis)
d. Lebih mudah terinfeksi HIV
e. Kemandulan dikarenakan perlengketan saluran reproduksi dan
gangguan produksi sperma.

38

B. Kerangka Teori

Berdasarkan tinjauan teori yang telah disampaikan, maka dibuat


kerangka teori sebagai berikut:

PENGETAHUAN KESEHATAN
REPRODUKSI

REMAJA

Perilaku Remaja

Pendidikan
Paparan
media
massa
Umur
Sosial Ekonomi
Adat Istiadat
Faktor Psikologis
Faktor Biologis

Ket:
Diteliti

39

Tidak diteliti

Bagan 2.1 Kerangka Teori

C. Kerangka Konsep

Berdasarkan kebutuhan penelitian, dibuat kerangka konsep sebagai berikut:


Variabel Independen
Dependen
Tingkat pengetahuan
remaja terhadap
kesehatan reproduksi

Variabel

Perilaku remaja

Bagan 2.2 Kerangka Konsep

D. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu penelitian. Hipotesis


dalam penelitian ini adalah Ha: Terdapat hubungan antara tingkat
pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku remaja. Ho: Tidak
terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan reproduki dengan
perilaku remaja.

40

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu


Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Kota Banjar wilayah kerja puskesmas
Pataruman 1 pada tanggal 29 Maret 2016

B. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan desain
cross-sectional untuk mengetahui apakah terdapat hubungna antara pengetahuan
dan sikap remaja tentang seks dengan prilaku seksual pranikah dengan analisis
univariat dan bivariat.

C. Populasi dan Sampel


Populasi dari penelitian ini adalah remaja yang duduk di bangku SMP.
Sedangkan sampel penelitian adalah remaja yang duduk di bangku SMP usia.

D. Estimasi Besar Sample


Rumus pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian yaitu rumus
Slovin44, sebagai berikut:
n=

N
1+N (e)2

n=

856
=272
2
1+856 (0.05)

n = 272 responden
Keterangan:
n = Ukuran Sampel
N = Ukuran populasi
e = Margin error
Dari perhitungan di atas dapat diketahui sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak
272 responden.

E. Kriteria Inklusi
1. Siswa yang terdaftar saat pengambilan data di SMP N 1 Kota Banjar
2. Bersedia menjadi responden

F. Kriteria Eksklusi
1. Siswa yang tidak hadir saat pengambilan data
2. Siswa yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik

G. Definisi Oprasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel
No

Variabel

Definisi

Cara dan

Operasional

Alat Ukur

Hasil Ukur

Pengetahua

Pengetahuan siswa Kuesioner

Baik,

tentang

menjawab benar >

kesehatan

reproduksi remaja.

75 %
Sedang,
menjawab
60-75%
Kurang,
menjawab

Skala

apabila Ordinal

apabila
benar
apabila
benar

<60%
2

Perilaku

Segala tingkah laku Kuesioner

Baik,

apabila Ordinal

yang dilakukan oleh

menjawab benar >

responden

75 %
Sedang,

apabila

mengenai perilaku
menjawab

benar

menyimpang
mengenai kesehatan

60-75%
Kurang,

reproduksi remaja

menjawab

apabila
benar

<60%
3

Jenis

Pembagian

Kelamin

jenis
manusia
ditemukan
biologis

dua Kuesioner
kelamin
yang
secara
yang

1. Laki laki

Nomin

2. Perempuan

al

melekat pada jenis


kelamin tertentu
4

Tingkat

Urutan pendidikan Kuesioner

kelas

formal

responden

1. Kelas VII

Ordinal

2. Kelas VIII

saat ini
3. Kelas IX

H. Metode Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan data primer, dimana peneliti memberikan
kuisioner pada siswa. Sebelum pemberian kuisioner, terdapat form inform consent
yang terlebih dahulu diisi juga sebagai persetujuan responden mengikuti
penelitian ini.
Penelitian dilakukan pada bulan Maret - April dengan menggunakan simple
random sampling. Setelah jumlah sampel terpenuhi, kemudian dilakukan input
data ke computer untuk pengolahan dan analisi data.

I. Pengolahan Data
1. Editing
Pada tahap ini dilakukan pengecekan isi kuesioner apakah kuesioner
sudah diisi dengan lengkap, jawaban dari responden jelas, dan antara jawaban
dengan pertanyaan relevan.

2. Coding

Kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk


bilangan/angka. Kegunaan coding adalah mempermudah pada saat analisis
data dan juga pada saat entry data.
Koding yang diberikan peneliti pada setiap variabel adalah sebagai
berikut:
a. Pengetahuan
1) Baik

:3

2) Sedang

:2

3) Buruk

:1

b. Perilaku
1) Baik
2) Sedang
3) Buruk

:3
:2
:1

3. Processing
Yaitu memindahkan isi data atau memproses isi data dengan memasukkan
data atau entry data kuesioner kedalam komputer dengan menggunakan
program statistik komputer.
4. Cleaning
Pada tahap ini dilakukan pengecekan kembali data yang sudah di entry
apakah ada kesalahan atau tidak.

J. Analisis Data

Analisis data dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan presentasi


tiap variabel yang diteliti. Analisis univariat dilakuakn untuk mengetahui
distribusi frekuensi variabel independen yaitu pengetahuan, lalu variabel
dependen yaitu perilaku.
Analisis bivariat digunakan untuk menguji hubungan antara variabel tersebut
yaitu pengetahuan dengan perilaku kesehatan reproduksi. Dalam menganalisa data
secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji statistik yaitu
sommer yakni menghubungkan pengetahuan siswa SMP tentang kesehatan
reproduksi remaja dengan perilaku siswa SMP terhadap penyimpangan kesehatan
reproduksi remaja. Dengan taraf signifikasn yang digunakan yakni 95% (alfa =
0,05). Pedoman dalam menerima hipotesis: apabila nilai P value <0,05 maka
hipotesis ditolak tetapi apabila P value >0,05 maka hipotesis diterima.

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian


Penelitian dengan judul Hubungan Antara Pengetahuan Kesehatan
Reproduksi Terhadap Perilaku Remaja di SMPN 1 Kota Banjar Wilayah Kerja
Puskesmas Pataruman 1 Kota Banjar Tahun 2016 dilaksanakan pada bulan
Maret sampai April 2016 dengan sampel sebanyak 272 Siswa-Siswi SMP. Jumlah
tersebut merupakan sampel penelitian yang dihitung berdasarkan rumus Slovin.
Penelitian ini menggunakan data primer yang didapatkan dari data kuesioner
pada tanggal 29 Maret 2016.

B. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan, untuk melihat, Jenis Kelamin, Tingkat
Pendidikan, Tingkat Pengetahuan dan Perilaku responden. Gambaran profil
responden dapat dilihat dalam bentuk tabel sebagai berikut:

1. Gambaran Jenis Kelamin Responden

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden


Jenis Kelamin

Jumlah

Persen

Laki-Laki

105

38,6

Perempuan

167

61,4

Total

272

100,0

Berdasarkan tabel 4.1 dari 272 orang, responden yang berjenis


kelamin perempuan sebanyak 167 responden (61,4%) sedangkan yang
berjenis kelamin laki-laki sebanyak 105 responden (38,6%).

2. Gambaran Tingkat Kelas Responden

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Kelas Responden


Kelas

Jumlah

Persen

VII

86

31,6

VIII

96

35,3

IX

90

33,1

Total

272

100,0

Berdasarkan tabel 4.2, responden yang duduk di kelas VII sebanyak


86 responden (31,6%), kelas VIII sebanyak 96 responden (35,3%) dan kelas
IX sebanyak 90 responden (33,1%).

3. Gambaran Tingkat Pengetahuan Responden

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden


Tingkat Pengetahuan

Jumlah

Persen

Buruk

11

4,0

Sedang

71

26,1

Baik

190

69,9

Total

272

100,0

Berdasarkan tabel 4.3 dari 272 responden, sebanyak 11 responden


(4,0%) dengan pengetahuan Buruk, sebanyak 71 responden (26,1%) dengan
pengetahuan Sedang, dan sebanyak 190 responden (69,9%) dengan
pengetahuan Baik.

4. Gambaran Perilaku Responden

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Perilaku Responden


Perilaku

Jumah

Persen

Buruk

10

3,7

Sedang

123

45,2

Baik

139

51,1

Total

272

100,0

Berdasarkan tabel 4.4 dari 272 responden, sebanyak 10 responden


(3,7%) dengan perilaku Buruk, sebanyak 123 responden (45,2%) dengan
perilaku Sedang dan sebanyak 139 responden (51,1%) dengan perilaku Baik.

C. Analisis Bivariat

1. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Responden

Tabel 4.5 Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku


Responden
Perilaku

Pengeta
Buruk

Sedang

Baik

n (%)

n (%)

n (%)

N (%)

Buruk

2 (0,7)

2 (0,7)

0 (0,0)

4 (1,5)

Sedang

1 (0,4)

5 (1,8)

9 (3,3)

15 (5,5)

huan

Korela

p-

si (r)

value

0,110

0,135

Total

Baik

7 (2,6)

Total

10

116 (42,6) 130 (47,8) 253 (93,0)


123

139

272 (100,0)

Berdasarkan tabel 4.5, Responden dengan pengetahuan buruk dan


perilaku buruk sebanyak 2 orang (0,7%), pengetahuan buruk dan perilaku
sedang sebanyak 2 orang (0,7%) sedangkan tidak ditemukan responden
dengan pengetahuan buruk dan perilaku baik. Responden dengan
pengetahuan sedang dan perilaku buruk sebanyak 1 orang (0,4%),
pengetahuan sedang dengan perilaku sedang sebanyak 5 orang (1,8%), dan
pengetahuan sedang dengan perilaku

baik sebanyak 9 orang (3,3%).

Responden dengan pengetahuan baik dan perilaku buruk sebanyak 7 orang


(2,6%), pengetahuan baik dengan perilaku sedang sebanyak 116 orang
(42,6%) dan pengetahuan baik dengan perilaku baik ditemukan 130 orang
(47,8%).
Pada hasil uji Sommer didapatkan p value sebesar 0.135 yang berarti
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan
perilaku responden.

BAB V
PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian
1. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dimana observasi
variabel hanya dilakukan satu kali tanpa melakukan tindak lanjut.
2. Data yang digunakan merupakan data primer yang kualitas datanya
sangat tergantung pada pemahaman responden dalam memberikan
informasi dan keterampilan peneliti dalam menggali informasi melalui
wawancara dan melakukan pengamatan terhadap beberapa variabel
independen.

3. Secara teoritis terdapat banyak faktor yang mempengaruhi hasil dari


penelitian. Contohnya seperti sumber-sumber informasi yang berbeda
yang didapat oleh setiap individu, peranan orang tua, tempat tinggal
dll.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pengetahuan Remaja Mengenai Kesehatan Reproduksi


Hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden dengan
pengetahuan baik sebanyak 190 orang (69.9%), pengetahuan sedang
sebanyak 71 orang (26.1%), dan pengetahuan buruk sebanyak 11
orang (4%).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Amalia Devi
yang dilakukan pada tahun 2015 yang berjudul Hubungan Tingkat
Pengetahuan Kesehatan Reproduksi dengan Perilaku Seksual Remaja
di SMA yang didapatkan sebanyak 75 orang memiliki pengetahuan
baik dan 10 orang dengan pengetahuan buruk.23
Selain itu, didapatkan pula hasil yang sejalan dengan
penelitian Mirna Ayu tahun 2013 yang didapatkan sebanyak 6 orang
memiliki pengetahuan buruk, 52 orang memiliki tingkat pengetahuan
cukup, dan 242 orang memiliki tingkat pengetahuan baik.24

2. Perilaku Remaja
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden dengan
perilaku baik sebanyak 139 orang (51.1%), perilaku sedang sebanyak
123 orang (45.2%), dan perilaku buruk sebanyak 10 orang (3.7%).
Dari penjabaran umum data perilaku diatas bahwa peneliti
mendapatkan remaja tersebut pernah atau sedang berpacaran sebanyak
58,4%, bergandengan tangan sebanyak 23,5%, berpelukan sebanyak
4,4%, berciuman/mencium pipi atau kening sebanyak 4,4%,
masturbasi atau onani sebanyak 11,4%, meraba payudara/paha/organ
kelamin sebanyak 2,2%, melihat film porno bersama pacar/teman
sebanyak 16,9%, coitus dengan pasangan sebanyak 0%, coitus
berganti-ganti pasangan sebanyak 0%.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mirna Ayu
pada tahun 2013 tentang hubungan pengetahuan dan sikap dengan
perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMA 5 Banda Aceh yang
didapatkan bahwa perilaku remaja tersebut mayoritas pada kategori
positif, yaitu sebanyak 41 orang (59.4%) sedangkan pada kategori
negatif sebanyak 28 orang (40.6%).25

3. Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi dengan Perilaku


Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, Responden dengan
pengetahuan buruk dan perilaku buruk sebanyak 2 orang (0,7%),

pengetahuan buruk dan perilaku sedang sebanyak 2 orang (0,7%)


sedangkan tidak ditemukan responden dengan pengetahuan buruk dan
perilaku baik. Responden dengan pengetahuan sedang dan perilaku
buruk sebanyak 1 orang (0,4%), pengetahuan sedang dengan perilaku
sedang sebanyak 5 orang (1,8%), dan pengetahuan sedang dengan
perilaku

baik sebanyak 9 orang (3,3%). Responden dengan

pengetahuan baik dan perilaku buruk sebanyak 7 orang (2,6%),


pengetahuan baik dengan perilaku sedang sebanyak 116 orang
(42,6%) dan pengetahuan baik dengan perilaku baik ditemukan 130
orang (47,8%). Dari hasil uji Sommer didapatkan p value sebesar
0.135 (p value > 0.05) yang berarti tidak terdapat hubungan antara
tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku remaja.
Hal ini sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan Andi Suidan
dimana didapatkan p value 0.73.26

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SMPN 1 Kota
Banjar wilayah kerja pataruman 1 kota Banjar Tahun 2016 dapat disimpulkan
bahwa, pengetahuan dan perilaku responden di SMPN 1 kota Banjar
mayoritas baik. Dengan presentaae pengetahuan baik sebanyak 190
reaponden (69,9%) dan hanya 3,7% responden yang memiliki perilaku buruk.

Yang artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi


remaja dengan perilaku remaja di SMP N 1 Kota Banjar wilayah kerja
puskesmas Pataruman 1 kota Banjar.

B. Saran
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti variabel variabel
lain yang diduga berpengaruh terhadap pengetahuan kesehatan
reproduksi remaja dan perilaku remaja seperti faktor sosial ekonomi,
paparan media masa, adat istiadat, dan lainnya. Sehingga peneliti
selanjutnya dapat menemukan factor-faktor lain yang berpengaruh
terhadap kesehatan reproduksi remaja.
b. Diharapkan ada penelitian yang khusus meneliti kesehatan reproduksi
remaja dan perilaku remaja ditingkat yang lebih dini dari penelitian
yang sudah kami lakukan.
c. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan metode penelitian
lainnya selain cross sectional untuk mendapatkan hasil yang lebih
akurat.
d. Dapat menambahkan pertanyaan mengenai 5 pertanyaan HIV yang
komprehensif pada kuisioner penelitian selanjutnya.

2. Bagi instansi pendidikan


Diharapkan penelitian ini dapat menjadi informasi tambahan bagi
remaja dan instansi pendidikan, dalam menyediakan buku bacaan yang
berhubungan dengan kesehatan reproduksi yang lebih komplit dan

mengikutsertakan peran serta guru-guru dalam penanaman pendidikan


tentang kesehatan reproduksi sejak dini serta penanaman nilai agama.
3. Bagi instansi kesehatan
Diharapkan penelitian ini dapat menjadikan tolak ukur dan
informsasi tambahan mengenai pengetahuan kesehatan reproduksi remaja
dan perilaku remaja agar instansi kesehatan dapat menjaga dan
meningkatkan lagi pengetahuan kesehatan reprodiksi remaja dan
perilakunya.
Serta mengadakan promosi kesehatan dalam hal kesehatan
reproduksi remaja sejak dini kepada para remaja maupun orangtua.

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI, 2003. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja Bagi
Petugas Kesehatan, Jakarta: Departemen Kesehatan.
2. Moschen, R.2004.Pengaruh Bimbingan Kelompok terhadap Peningkatan
Pengetahuan dan Sikap Remaja SMU tentang Kesehatan Reproduksi
Remaja.http://lib.unair.com
3. Dinas Kesehatan Kota Banjar
4. Puskesmas Pataruman 1
5. Lembaga Swadaya Masyarakat Mata Hati

6.

Zakaria, 2012. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama

7. Depkes RI, 2007. Modul Pelatihan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja


(PKPR) Jakarta: Departemen Kesehatan RI
8. Handoyo, A. 2010. Remaja dan Kesehatan: Permasalahan dan Solusi
Praktisnya. Jakarta: PT Perca
9. Depkes-WHO. Ringkasan Eksekutif. Jakarta: Departemen Kesehatan RI;
2011.
10. Depkes RI. Modul Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: Departemen
Kesehetana RI; 2012.
11. Notoatmodjo, S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka
Cipta; 2007.
12. Notoatmodjo, S. 2007. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta; 2007.
13. Hurlock, E. B. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga; 2011.
14. Sarlito Wirawan Sarwono. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Graffindo
Persada; 2006.
15. Soekidjo Notoatmodjo. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta; 2007.
16. Gunarsa Y.S.D. Psikologi Remaja.. Jakarta: Erlangga; 2001.
17. Widyastuti, Yani. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya; 2009.

18. Ardhiyantoro dan Kumalasari. 2010. Kesehatan Reproduksi untuk


Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
19. Handoyo, A. 2010. Remaja dan Kesehatan: Permasalahan dan Solusi
Praktisnya. Jakarta: PT Perca
20. Heri D. J Maulana. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC;2009
21. Fadhilla.hubungan pengetahuan dengan sikap seksual pranikah pada
remaja.Skripsi.

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Sebelas

Maret.Surakarta;2011
22. Nugroho, 2011. Mengupas Tuntas 9 PMS (Penyakit Menular Seksual).
Yogyakarta: Nuha Medika
23. Devi, Amalia. Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi
dengan Perilaku Seksual Remaja di SMAN 1 Sekadau Kalimantan Barat.
Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Jakarta; 2015.
24. Maulinda, Nisa. Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Siswa Terhadap
Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja di SMAN 1 Margahayu. FIK
Universitas Padjajaran Bandung.
25. Ayu, Mirna. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Kesehatan
Reproduksi pada Remaja Putri di SMA 5 Banda Aceh. Skripsi. Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Ubudiyah; 2013
26. Suidhan, A. Seweng, A. Noor, N. Hubungan Pengetahuan Kesehatan
Reproduksi dengan Perilaku Seks Remaja Akhir Pada Mahasiswa Kesehatan

dan Non Kesehatan di Sulawesi Barat. Skripsi. FKM Universitas


Hasanuddin.

LAMPIRAN

Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN

Setelah membaca dan memahami lembar persetujuan ini, saya mengerti


bahwa penelitian ini tidak akan ada pengaruh negative terhadap diri saya dan berguna
untuk pengembangan dunia kedokteran dan pendidikan. Saya mengetahui bahwa
informasi yang saya berikan dijamin kerahasiaannya dan akan segera dimusnahkan
setelah penelitian ini selesai. Dengan demikian saya menyatakan bahwa saya
bersedia menjadi responden pada penelitian ini. Dengan demikian pernyataan ini
saya buat tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Saya berharap partisipasi saya
dalam penelitian ini dapat bermanfaat.
Banjar, April 2016

Responden

KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU REMAJA
TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI DI SMPN 1 KOTA BANJAR

WILAYAH KERJA PUSKESMAS PATARUMAN 1 KOTA BANJAR TAHUN


2016

IDENTITAS RESPONDEN
Jenis Kelamin

: Laki-laki / Perempuan

Kelas

: VII / VIII / IX

I.

PENGETAHUAN
Keterangan :
Lingkari pada kolom huruf (a) apabila pernyataan di bawah ini benar dan pada
kolom huruf (b) apabila pernyataan salah menurut anda
A. Bagian I
1. Kesehatan reproduksi berarti sehat jasmani, rohani, dan bebas dari
penyakit organ reproduksi
a) Benar
b) Salah
2. Pakaian dalam yang basah/lembab dapat meningkatkan potensi timbulnya
jamur dan bakteri yang dapat menginfeksi organ reproduksi
a) Benar
b) Salah
3. Mengganti pakaian dalam minimal dilakukan dua kali sehari setiap selesai
mandi
a) Benar
b) Salah
4. Membersihkan organ reproduksi dengan menggunakan sabun ber PH
tinggi sebaiknya jangan terlalu sering dilakukan
a) Benar
b) Salah

5. Membersihkan alat kemaluan setelah BAB dilakukan mulai dari depan ke


belakang
a) Benar
b) Salah
6. Buang air kecil seharusnya tidak dilakukan sambal berdiri bagi laki - laki
a) Benar
b) Salah
7. Setelah selesai BAB dan BAK sebaiknya alat kelamin dikeringkan
dengan handuk atau tissue
a) Benar
b) Salah
8. Masa pubertas adalah masa matangnya alat reproduksi laki laki dan
perempuan
a) Benar
b) Salah
9. Pubertas pada laki laki ditandai dengan mimpi basah
a) Benar
b) Salah
10. Pubertas pada wanita ditandai dengan menstruasi
a) Benar
b) Salah
11. Usia subur perempuan yaitu mulai haid pertama sampai menopause
a) Benar
b) Salah
12. Usia subur laki laki yaitu sejak mengalami mimpi basah sampai usia
tidak terbatas
a) Benar
b) Salah

13. Sering melakukan masturbasi atau onani dapat menyebabkan kerusakan


pada otak
a) Benar
b) Salah

B. Bagian II
14. Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan infeksi yang ditularkan
melalui hubungan seksual
a) Benar
b) Salah
15. Infeksi Menular Seksual tidak hanya disebabkan oleh virus, tapi juga
bakteri
a) Benar
b) Salah
16. Remaja termasuk ke dalam kelompok risiko tertinggi dalam Infeksi
Menular seksual
a) Benar
b) Salah
17. Infeksi Menular Seksual dapat menyebabkan kematian apabila tidak
diobati dengan benar
a) Benar
b) Salah

C. Bagian III
18. Kencing nanah,bengkak,terasa panas dan nyeri pangkal paha yang
kemudian menjadi lecet adalah gejala penyakit menular seksual
a) Benar
b) Salah

19. Bau busuk pada daerah kelamin, keluar cairan pekat yang menetes di
ujung alat kelamin dan rasa perih saat buang air kecil merupakan gejala
penyakit gonore
a) Benar
b) Salah
20. Penyakit gonore tidak hanya dapat menyerang laki laki, tapi juga
perempuan
a) Benar
b) Salah
21. Apabila seorang perempuan yang menderita gonore melahirkan, maka
kemungkinan bayi yang dilahirkan akan memiliki kelainan pada matanya
a) Benar
b) Salah

D. Bagian IV
22. Gejala awal sifilis yaitu ditemukann luka yang tidak nyeri pada alat
kelamin
a) Benar
b) Salah
23. Penyakit sifilis terdiri dari 4 fase, salah satunya fase laten dimana
penderita tidak akan merasakan gejala apapun seolah olah telah sembuh
a) Benar
b) Salah
24. Gejala sifilis mulai timbul 1 13 minggu setelah terinfeksi
a) Benar
b) Salah
25. Sifilis adalah penyakit menular seksual yang dapat disembuhkan
c) Benar
d) Salah

E. Bagian V
26. Virus HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual
a) Benar
b) Salah
27. Orang yang terinfeksi virus HIV dan tidak menunjukkan adanya
penurunan kekebalan disebut HIV+
a) Benar
b) Salah
28. Bila seseorang menderita AIDS, tubuhnya tidak mempunyai kekebalan
terhadap penyakit lain
a) Benar
b) Salah
29. Untuk mendeteksi HIV dilakukan tes melalui darah
a) Benar
b) Salah

F. Bagian IV
30. Ciuman merupakan hal yang wajar dalam berpacaran karena tidak dapat
mengakibatkan IMS (Infeksi Menular Seksual)
a) Benar
b) Salah
31. Seks bebas dilakukan biasanya di dorong oleh rasa ingin tahu yang besar
untuk mencoba segala hal yang belum diketahui
a) Benar
b) Salah

32. Hubungan seks tidak boleh dilakukan remaja sebagai ekspresi cinta yang
tulus dari pasangannya
a) Benar
b) Salah
33. Hubungan seks tidak boleh dilakukan meskipun tidak menyebabkan
kehamilan
a) Benar
b) Salah
34. Kehamilan dapat terjadi meskipun hubungan seks hanya dilakukan satu
kali
a) Benar
b) Salah
35. Kehamilan pada usia remaja dapat menyebabkan keguguran, perdarahan,
dan melahirkan bayi premature (bayi kurang bulan)
a) Benar
b) Salah

II.

PERILAKU
Keterangan : Berikanlah tanda () sesuai kondisi saudara
No.

Pertanyaan

1.

Anda membersihkan bagian vital dengan menggunakan sabun


ber PH tinggi*

2.

Anda selalu membersihkan alat kelamin setelah buang air kecil


atau buang air besar dengan air bersih

3.

Anda sering menggunakan sabun antiseptic untuk


membersihkan alat kelamin

4.

Pada saat menstruasi, anda mengganti pembalut 4-5 kali dalam


sehari*

5.

Anda selalu mengganti pakaian dalam jika basah

Ya

Tidak

6.

Anda selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah BAK atau


BAB

7.

Anda rutin mencukur rambut kelamin di sekitar alat kelamin

8.

Anda selalu melakukan pemeriksaan ke dokter kulit dan


kelamin jika terdapat rasa gatal, luka dan lecet pada alat
kelamin

9.

Anda sering mengobati sendiri apabila di daerah alat kelamin


anda terasa gatal

10.

Anda selalu membersihkan alat kemaluan setelah BAB mulai


dari depan ke belakang

11.

Anda selalu mengeringkan alat kemaluan setelah BAK atau


BAB dengan handuk kering dan bersih atau tisu

12.

Apakah anda pernah atau sedang berpacaran

13.

Apakah anda pernah menggandeng tangan pacar anda saat


berjalan

14.

Apakah anda pernah berpelukan dengan pacar anda

15.

Apakah anda pernah berciuman/mencium kening atau pipi


pacar anda

16.

Pernahkah anda melakukan masturbasi atau onani ketika


dorongan seks meninggi ?

17.

Apakah anda pernah meraba payudara/paha/organ kelamin


pasangan anda

18.

Apakah anda pernah melihat film porno bersama pacar atau


teman anda

19.

Apakah anda pernah melakukan hubungan suami istri dengan


orang lain

20.

Apakah anda pernah melakukan hubungan suami istri dengan


pasangan yang berbeda - beda

Lampiran 2
Reliability
Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary


N
Valid
Cases

Excludeda
Total

%
10

100.0

.0

10

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in


the procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items

.992

35

Item-Total Statistics
Scale Mean if
Item Deleted

Scale Variance Corrected Itemif Item Deleted


Total
Correlation

Cronbach's
Alpha if Item
Deleted

VAR00001

53.10

242.100

.946

.992

VAR00002

53.20

241.733

.949

.992

VAR00003

53.10

242.100

.946

.992

VAR00004

53.20

241.733

.949

.992

VAR00005

53.10

242.100

.946

.992

VAR00006

53.20

241.733

.949

.992

VAR00007

53.00

245.556

.778

.992

VAR00008

53.20

241.733

.949

.992

VAR00009

53.10

242.100

.946

.992

VAR00010

53.30

244.678

.781

.992

VAR00011

53.10

242.100

.946

.992

VAR00012

53.20

241.733

.949

.992

VAR00013

53.10

242.100

.946

.992

VAR00014

53.10

245.211

.747

.992

VAR00015

53.10

242.100

.946

.992

VAR00016

53.30

244.678

.781

.992

VAR00017

53.10

242.100

.946

.992

VAR00018

53.20

241.733

.949

.992

VAR00019

53.20

245.067

.741

.992

VAR00020

53.30

244.678

.781

.992

VAR00021

53.10

242.100

.946

.992

VAR00022

53.20

241.733

.949

.992

VAR00023

53.10

242.100

.946

.992

VAR00024

53.10

245.878

.705

.992

VAR00025

53.10

242.100

.946

.992

VAR00026

53.10

245.878

.705

.992

VAR00027

53.10

242.100

.946

.992

VAR00028

53.20

241.733

.949

.992

VAR00029

53.00

245.556

.778

.992

VAR00030

53.10

245.656

.719

.992

VAR00031

53.10

242.100

.946

.992

VAR00032

53.20

241.733

.949

.992

VAR00033

53.00

246.000

.748

.992

VAR00034

53.10

245.211

.747

.992

VAR00035

53.10

242.100

.946

.992

Lampiran 3

Reliability
Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary


N
Valid
Cases

Excludeda
Total

%
10

100.0

.0

10

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in


the procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items

.986

20

Item-Total Statistics
Scale Mean if
Item Deleted

Scale Variance Corrected Itemif Item Deleted


Total
Correlation

Cronbach's
Alpha if Item
Deleted

VAR00001

29.10

75.656

.925

.984

VAR00002

29.20

75.289

.948

.984

VAR00003

29.10

76.989

.770

.986

VAR00004

29.30

76.678

.806

.985

VAR00005

29.10

75.656

.925

.984

VAR00006

29.20

75.289

.948

.984

VAR00007

29.00

77.333

.785

.985

VAR00008

29.20

75.289

.948

.984

VAR00009

29.10

75.656

.925

.984

VAR00010

29.30

76.900

.780

.986

VAR00011

29.10

75.656

.925

.984

VAR00012

29.20

75.289

.948

.984

VAR00013

29.10

75.656

.925

.984

VAR00014

29.10

76.989

.770

.986

VAR00015

29.10

75.656

.925

.984

VAR00016

29.30

76.678

.806

.985

VAR00017

29.10

75.656

.925

.984

VAR00018

29.20

75.289

.948

.984

VAR00019

29.20

77.067

.744

.986

VAR00020

29.30

76.900

.780

.986

Lampiran 4

Frequencies

Notes
Output Created

30-MAR-2016 21:10:07

Comments
Data

Input

C:\Users\USER\Documents\data
Penelitian Ikakomm.sav

Active Dataset

DataSet1

Filter

<none>

Weight

<none>

Split File

<none>

N of Rows in Working Data File

272

User-defined missing values are

Definition of Missing

treated as missing.

Missing Value Handling

Statistics are based on all cases

Cases Used

with valid data.


FREQUENCIES
VARIABLES=JenisKelamin
Kelas Pengetahuan Prilaku

Syntax

/STATISTICS=MINIMUM
MAXIMUM MEAN MEDIAN
MODE
/ORDER=ANALYSIS.

Resources

Processor Time

00:00:00,02

Elapsed Time

00:00:00,02

[DataSet1] C:\Users\USER\Documents\data Penelitian Ikakomm.sav

Statistics
Jenis Kelamin

Pengetahuan

Prilaku

272

272

272

272

Mean

1,61

2,01

2,92

2,47

Median

2,00

2,00

3,00

3,00

Mode

Minimum

Maximum

Valid

Kelas

Missing

Frequency Table

Jenis Kelamin
Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Valid

Laki-laki

105

38,6

38,6

38,6

Perempuan

167

61,4

61,4

100,0

Total

272

100,0

100,0

Kelas

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Valid

86

31,6

31,6

31,6

96

35,3

35,3

66,9

90

33,1

33,1

100,0

272

100,0

100,0

Total

Pengetahuan
Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Buruk
Valid

1,5

1,5

1,5

15

5,5

5,5

7,0

Sangat Baik

253

93,0

93,0

100,0

Total

272

100,0

100,0

Baik

Prilaku
Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Buruk
Valid

10

3,7

3,7

3,7

Baik

123

45,2

45,2

48,9

Sangat Baik

139

51,1

51,1

100,0

Total

272

100,0

100,0

Crosstabs

Notes
Output Created

05-APR-2016 14:46:19

Comments

Input

Active Dataset

DataSet1

Filter

<none>

Weight

<none>

Split File

<none>

N of Rows in Working Data File


Missing Value Handling

Definition of Missing

272
User-defined missing values are
treated as missing.

Statistics for each table are


based on all the cases with valid

Cases Used

data in the specified range(s) for


all variables in each table.
CROSSTABS
/TABLES=Pengetahuan BY
Prilaku

Syntax

/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=D
/CELLS=COUNT TOTAL
/COUNT ROUND CELL.

Resources

Processor Time

00:00:00,02

Elapsed Time

00:00:00,02

Dimensions Requested

Cells Available

174762

[DataSet1]

Case Processing Summary


Cases
Valid
N
Pengetahuan * Prilaku

Missing
Percent

272

100,0%

Total

Percent
0

0,0%

Percent
272

100,0%

Pengetahuan * Prilaku Crosstabulation


Prilaku
buruk
buruk

Pengetahuan

baik

sangat baik

Total

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total

baik

Total
sangat baik

0,7%

0,7%

0,0%

1,5%

15

0,4%

1,8%

3,3%

5,5%

116

130

253

2,6%

42,6%

47,8%

93,0%

10

123

139

272

3,7%

45,2%

51,1%

100,0%

Directional Measures
Value

Asymp.

Approx. Tb Approx. Sig.

Std. Errora
Ordinal by Ordinal

Somers' d

Symmetric

,044

,054

,800

,424

Pengetahuan

,027

,034

,800

,424

,110

,135

,800

,424

Dependent
Prilaku Dependent
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.

Lampiran 5