Anda di halaman 1dari 16

LONTAR

TUTUR RARE ANGON


Teks Lontar
Om
Awighnam
Namo Siddham!

Terjemahan
Astu Semoga tidak ada halangan, semoga
berhasil!

Nihan lingning Tatwa Rare


Angon,
kengetakna,
nimittaning manusa pada,
patemwan
rare
angon,
lawan rare cili, katatwaning
pradana purusa, tambyaning
i rare angwan matemu
smara, metu tang kama
petak, i rare cili metu kama
bang, parok tang kama
bang, lawan kama petak,
umunggwa ring dhaleming
kundha cucupu manik, sira
Sang
Hyang
Amretha
sabwana,
asuta
dhah
rahining kulem, ya to
matangyan
tang
rare
mungsang ring dhaleming
garbhawasaning ibu,

Inilah merupakan uraian dari Tatwa Rare


Angon, agar selalu diingat, oleh karena
kita sebagai manusia di dunia ini, yang
dipertemukan sesama rare angon dengan
rare cili (manusia lelaki dengan perempuan), dan juga perihal pradana purusa
(unsur laki dan wanita = unsur abadi dan
berubah-ubah), yang menjadi asal mula
sang rare angon mempertemukan asmara,
dari pertemuan - itu lalu timbul kama
petak, sedangkan i rare cili menimbulkan
kama bang, yakni timbulnya sperma dan
sel telur. Maka membaurlah kama bang
(sel telur), dengan kama petak (sperma),
kemudian berada di dalam kundha cecupu
manik, itulah yang bergelar "Sang Hyang
Amreta Sabuana", yang menyebabkan
melahirkan anak pada malam hari. Itulah
sebabnya jabang bayi bertempat tinggal di
dalam perut sang ibu.

Awawarah ri rare angwan


munggwing aji, katatwaning
i rare:
sawulan ring jero, nga. Sang
Hyang
Manik
Kamma
Gumuh.
Rong lek, nga. Sang Hyang
Manik Kamma Bhusana.
Tigang lek, nga. Sang

Sekarang akan dijelaskan kepada sang rare


angon perihal pengetahuan tentang sang
rare angon (manusia).
Setelah sebulan lamanya berada dalam
kandungan, jabang bayi itu bernama :
Sang Hyang Manik Kama Gumuh.
Setelah dua bulan bernama: Sang Hyang
Manik Kama Bhusana.
Tiga bulan di dalam kandungan sang ibu,

Hyang Manik Tigawarna.


Patang lek, nga. Sang
Hyang Manik Srigadhing.
Limang lek nga. Sang
Hyang
Manik
Kembangwarna.
Nemang lek, nga. Sang
Hyang Manik Kutalengis.
Pitung lek, nga. Sang hyang
Manik Wimbasamaya.
Wwalung. lek, nga. Sang
Hyang Waringin Sungsang.

bernama: Sang Hyang Manik Tigawarna.


Empat bulan berada dalam kandungan ibu,
namanya : Sang Hyang Manik Srigadhing.
Kemudian sudah selama lima bulan berada
dalam kandungan ibu, bernama : Sang
Hyang Manik Kembang warna.
Enam
bulan
dalam
kandungan,
bernama:Sang Hyang Manik Kutalengis.
Setelah tujuh bulan, namanya : Sang
Hyang Manik Wimbasamaya.
Selanjutnya sesudah selama delapan bulan
sang jabang bayi dalam kandungan,
bernama:
Sang
Hyang
Waringin
Sungsang.
Sangang lek, nga. Sang Setelah sembilan bulan, bernama: Sang
Hyang Tungtung Bwana.
Hyang Tungtung Bwana.
Mangkana katatwaning rare Demikianlah keterangan tentang si jabang
ring dalem, lingning Aji bayi, selama masih berada dalam
Tatwa Rare Angwan.
kandungan sang ibu, menurut isi: AJI
TATWA RARE ANGON
Nihan i wetuning rare, Sang
Hyang Kawaspadhana, duk
sumalah ring pretiwi, nga.
Sang
Hyang
Prana
Bwanakosa.
Duk tinegesan hari-harinya,
nga.
Sang
Hyang
Nagangelak.
Duk ingadegaken, nga.
Sang Hyang Sarining.
Duk sinuswan, ikang rare,
Sang Hyang Nagagombang.
Duk linekas, nga.Sang
Hyang Malengis.
Duk sinuwukan ikang rare,
nga.
Sang
Hyang

Demikian
tentang
kelahiran
seseorang bocah, Itu Sang Hyang
Kawaspadana, ketika menginjak bumi
(lahir dari kandungan sang ibu), bernama:
Sang Hyang Prana Bwanakosa.
Ketika baru dilepas ari-arinya, bernama :
Sang Hyang Nagangelak.
Ketika baru digerakan arah berdiri, baru
diambil dari tempat dimana bocah itu
lahir, bernama : Sang Hyang Sarining.
Ketika disusukan (diberi air susu sang ibu),
bocah itu disebut : Sang Hyang
Nagagombang.
Ketika dibusanai (busana bocah), disebut :
Sang Hyang Malengis.
Ketika diupacarai yang namanya
upacara sasuwuk, bocah itu bernama :

Tuturbwana.
Duk ingemban, nga. Sang
Hyang Windhusaka,
Duk sinuswan, nga. Sang
Hyang Bhuta Pranasakti.
Duk dinulang-dulang,
Hyang Anantabhoga.
Duk sinambat, nga.
Hyang Kakarsana.
Duk lumingling, nga.
Hyang Menget.
Duk kumerab, nga.
Hyang Nagasesa.

Sang
Sang
Sang
Sang

Duk bisa miri, nga. Sang


Hyang Bhayumiri.
Duk bisa alungguh, nga.
Sang Hyang Gana.
Duk
wawu
ngadeg,
ngantem, nga. Sang Hyang
Tala.
Duk wawu lumaku, nga.
Sang Hyang Bhuta Gelis.
Duk wawu bisa anambat
bapa babu, nga. Sang Hyang
Tuturmenget.
Duk wawu acecapet, nga.
Sang Hyang Ajalila.
Duk bisa abusana, nga.
Sang Hyang Kumara.

Sang Hyang Tutur bwana.


Ketika ditimang - timang, disebut : Sang
Hyang Windhusaka.
Bilamana disusukan (minum air susu
ibunya), bocah itu disebut: Sang Hyang
Bhuta Prana Sakti.
Ketika ditimang - timang selanjutnya,
disebut dengan: Sang Hyang Anantaboga.
Ketika disapa (dipanggil) bayi itu, disebut:
Sang Hyang Kakarsana.
Ketika melirik, disebut dengan : Sang
Hyang Menget.
Ketika
diumumkan
(nama
bocah
tersebut), disebut dengan: Sang Hyang
Nagasesa.
Ketika bocah itu mampu menggerakan
tubuhnya (memiringkan badan), disebut;
Sang Hyang Bhayumiri.
Ketika sang bocah sudah bisa duduk,
disebut dengan: Sang Hyang Gana.
Ketika sang bocah sudah mampu berdiri,
sudah mampu berpegangan sendiri,
disebut dengan: Sang Hyang Tala.
Ketika baru bisa melangkahkan kaki
(berjalan), disebut dengan: Sang
Hyang Bhuta Gelis.
Sejak mulai pasih memanggil ibu dan
bapak,
dinamai:
Sang
Hyang
Tuturmenget.
Setelah mampu menyapa, dinamakan :
Sang Hyang Aj alila.
Setelah/sem enjak
m ampu
berpakaian, disebut : Sang Hyang
Kumara.
Sejak mahir bertanya dan menjawab,
bernama : Sang Hyang Jatiwarna.

Duk wruhing sabda mwang


angucap, nga. Sang Hyang
Jatiwarna.
Duk rumajaputra, nga. Sang Setelah memasuki usia akil
Hyang Twas.
namanya: Sang Hyang Twas.

balig,

Duk angaji sastra, nga. Weruh ring sastragama, nga.


Sang Hyang Tatwajnana.
Duk weruh ring asamadhi,
weruh ring wedhya, nga.
Sang Hyang Mahawidya.
Mangkana
katatwaning
manusa, lingning Aji Tatwa
Hampyalwadhi.

Ketika mulai belajar aksara /ilmu


pengetahuan, disebut : Sang Hyang
Tatwadnyana.
Ketika sudah mahir melaksanakan yoga
semadi, mahir akan isi weda, disebut: Sang
Hyang Mahawidya.
Demikianlah uraian tentang filsafat
manusia, sesuai.dengan isi : Aji Tatwa
Hampyalwadhi.

Nihan kramaning manusa


wang
garbini,
yan
ngutamayang sarira, Miring
mangupakara
parikrama,
wenang angrujaki, lwir
sadhananya:
salwiring
pisang, salwiring wohwohan, makadi badung,
kacubung, wrak tawun, gula
salwiring
gughakilang,
madhu, manggala, pasir,
gawenin
rujak,
tibanin
mirah, ungguhakna ring
batil, gedhah, pinuja de
Sang Pandhita, lingning aji,
Icwara Paridhuna.

Inilah tatakrama orang memelihara


kandungan yang diawali ngidam, apabila
mengutamakan tatakrama pada diri yang
sedang hamil. Disini disebutkan proses
upakara /upacara yadnya mengenai
kehamilan seseorang wanita/ ibu. Pertamatama wanita yang sedang hamil tersebut
hendaknya memakan/meminum rujak.
Adapun bahan-bahan rujak tersebut
adalah: jenis pisang, jenis buah-buahan
lainnya, seperti buah badung, kecubung,
werak tawun(?), gula aren (gula kelapa,
enau, atau gula lontar), madu, gula pasir.
Itu semuanya dibikin menjadi rujak.
Kemudian direndami dengan mirah (kalau
mungkin mirah delima), taruh pada batil,
atau toples/botol yang terbuat dari pada
kaca, kemudian dipuja mantra oleh: Sang
pendeta, demikian disebutkan oleh : Tutur
Aji Iswara Paridhana.

Yan sampun matuwuh


tigang lek ikang wwang
ameteng, hana papalinya,
tutuging parikrama, wenang
masakapan, istri kakung,
kramanya maka sadhana,
kang lanang manuhuk lawe
ireng, tinunggwan sang ning

Apabila sudah berumur tiga bulan


kandungan seseorang, ada sejenis upacara
yang harus ditempuh (dilakoni). Setelah
tiba saat proses yang harus dijalani,
pasangan lelaki wanita itu harus menjalani
"Upacara Pesakapan" sarana utama di
dalam proses pelaksanaan upacara tersebut
adalah: sang lelaki menyiapkan benang

rabi. Mangawa glanggang


buluh, manumbak roning
kumbang winungkus mesi
iwak Iwah, kang istri
manyuhun ceraken, pinuja
de Sang Pandhita, kang isri
manguntal mirah apasang.
Mangkana kramanya.

hitam, serta didampingi oleh sang istri.


Juga sang lelaki menyiapkan glanggang
bambu (bambu yang diruncingi = alat
pemukul padi sepingan = padi local Bali).
Gelanggang itu dipergunakan untuk
menusuk daun kumbang (semacam talas
liar) yang dipakai membungkus ikan
sungai. Sang wanita /ibu, menjunjung
ceraken (tempat rempah / isin rong yang
terbuat dari lontar atau papan), serta dipuja
mantrai oleh Sang pendeta/Sulinggih),
sang wanita menelan permata mirah itu
sepasang (dua butir). Demikianlah proses
pelaksanaannya.

Kunang tegesing upakara


ika, beneng nga. beneng.
selem, nga. seta. Nuhuk,
nga. tedah. Numbak, nga.
ngembak.
Gelanggang
buluh, nga. nggang galang,
aluh.
Nyuhun,
nga.
kasungsung. Ceraken, nga.
parekan, nga. ajakan, apan
tan sah i nyama catur
rumaket ring sarira, pareng
huma. Mirah tegesipun, nga.
suteja, suteja, nga. rupa.
Mangke tetep rupaning rare.
Mangungkus
kumbang
maisi iwak Iwah. Kumbang,
nga. embang, ulam, nga. be,
nga. beds, mangda sampun
kabeda-beda antuk I nyama
catur.

Adapun makna dari sarana upakara itu


adalah : beneng berarti beneng, atau lurus.
Selem artinya sela atau terang (tidak
terhalangi oleh sesuatu). Nuhuk yang
berarti tedah, yang artinya terasakan atau
dapat dirasakan. Numbak berarti ngembak,
membuka jalan. Gelanggang buluh atau
gelanggang bambu, bermakna : enggang
atau terbuka /terkuak, enggang juga berarti
caluh (Bhs Bali), yang artinya leluasa.
Nyuhun
artinya
kasungsung,
atau
dijunjung. Ceraken artinya parekan, yang
berarti selalu dekat, karena kita tidak boleh
jauh dari keempat saudara (sang catur
sanak) kita tersebut, yang selamanya
melekat pada diri kita. karena senantiasa
kita bersama-sama mereka. Permata mirah
bermakna, suteja, yang artinya bersinar
gemilang, juga agar paras serta wajah itu
bercahaya gemilang. Agar sedemikianlah
hendaknya paras dari anak itu kelak,
apabila lahir ke dunia ini.Terbungkus
dengan daun kumbang (talas liar),
kumbang berarti embang (kebebasan atau

keleluasaan), ulam (ikan sungai), ulam


berarti be, be yang berarti beda yang
berarti gangguan, maknanya agar tidak
diganggu oleh sang catur sanak (saudara
empat kita).
Ring wetuning rare ring
bwana agung, nga. Sang
Hyang
Atmaja
Kawaspadan, lingning Aji
Rare Angwan.

Setelah sang jabang bayi lahir ke dunia ini,


disebut dengan : Sang Hyang Atmaja
Kawas padan, demikian isi dari : Aji Rare
Angwan (Rare Angon).

Nihan tegesing katatwaning


hari-hari ika, pinaka sawa,
karananing hari-hari ika
kawangsuh den abresih,
mabungkus antuk kasa
madaging
anget-anget,
mawadah klapa, klapa ika
mawak
padma,
raris
mapendem,
ring luhuring amendem,
madaging kembang wadi,
ring sandingnya madaging
baleman.

Inilah arti serta filsafat tentang ari-ari itu.


Ariari itu diumpamakan sebagai mayat,
makanya ariari itu harus dibersihkan atau
dimandikan
hingga
bersih
sekali,
selanjutnya dibungkus dengan kain kasa
yang berisi rempah-rempah, sebagai
wadahnya adalah kelapa yang sudah
dibuang serabutnya, kelapa itu sebagai
padma, lalu dipendam.
Diatas pendaman itu, berisi kembang wadi
(?), didekatnya itu berisi baleman atau
tabunan (api dengan sekam hingga tidak
menyala,
namun
asapnya
selalu
mengepul).
Selain itu, juga diisi pelita, sanggar cucuk
yang diatapi dengan daun pandan. Makna
dari semuanya itu adalah: pelita (sundar)
itu, symbol dari angenan (pelita pada
mayat
manusia,
ketika
upacara
pengabenan.
Sanggar
cucuk,
melambangkan prajapati. Baleman atau
tabunan (api dalam sekam), simbul dari
alat pembakaran mayat. Ari-ari itu,
sebagai mayat. Adapun lama dari waktu
pembuatan baleman itu abulan pitung diva
(empat puluh dua hari = akambuhan).
Apabila tidak sedemikian tidak akan

Mwang sundar, sanggah,


tegesnya sundar pawaking
angenan, sanggah pawaking
prajapati. Baleman ika,
pawaking
pengesengan
sawa,
hari-hari
ika,
pawaking sawa, lawasnya
agawe baleman, abulan
pitung ding. Yan tan
samangkana,
tan
sida
geseng sawa ika, mangkana
katatwanya, lingning Aji
Rare Angwan.

terbakar angus mayat itu. Demikian


uraiannya, sesuai dengan isi dari Aji Rare
Angon.
Nihan pangupakara kepus
pungsed, magawe pratiti
masa, mwah manyaluk
pasikepan
rare,
make
kambuh,
nga.
mwang
ngupeti
Sang
Hyang
Kumara, pralingga luhuring
rare
aturu,
mwang
wangunen sanggar ring
unggwaning ananem luhu,
unggwan
sato
yoni,
mangkana
katatwanya,
anglukati
nyama
catur
sanak, manglebur malaning
wetu, manglepas awon, nga.
lingning Aji Rare Angwan.

Inilah upacara seorang bayi/bocah yang


baru tanggal pusarnya, pertama-tama
dibuatkan pratiti (catatan hari lahir seorang
bayi sesuai kepercayaan /ajaran Agama
Hindu, terutama di Bali), dan juga harus
dibuatkan pasikepan rare (azimat untuk
bocah), upacara mekekambuh (penangkal
dari tetanus bagi sang ibu, karena
melahirkan) atau karena tali pusarnya yang
dulunya terpotong agar tidak terkena
tetanus,
itu
bermakna
mulai
bersemayamnya Sang Hyang Kumara
pada bayi tersebut, juga dibuatkan
pralingga di atas tempat tidur bayi itu, juga
dibuatkan sanggar di tempat menanam
sampah atau limbah akibat melahirkan itu.
Di situlah tempat yang sato yoni.
Begitulah isi filsafatnya. Juga dilakukan
ruwatan bagi saudara yang empat itu
(nyama catur = catur sanak), selain dari
pada itu, upacara itu juga bermakna
peleburan yang dianggap buruk pada hari
kelahiran itu. Presesi itu disebut dengan
manglepas awon (membuang abunya).
Demikian keterangannya, sesuai dengan
isi dari Rare Angon.

Ri wus dwadasa lemeng


tuwuhing
rare,
hana
pangupakaranya, tegesnya
amagehaken
atma,
pramananing rare, i nyama
catur sanak, linukat, aganti
haran,
Anggapati,
Mrajapati,
Banaspati,

Setelah dua belas hari dari kelahiran


seseorang bayi. ada upakara/upacaranya,
yang bermakna sebagai memperkokoh
kehadiran Sang Hyang Atma, pada jiwa
dan raga sang bocah tersebut. sang catur
sanak (saudara yang berjumlah empat) itu
diruwat, seraya bayi itu berganti nama
(sebutannya),
menjadi:
Anggapati,

Banaspatiraja,
mangkana Mrajapati, Banaspati, Banas patiraja.
katatwanya, lingning Aji Demikianlah filsafatnya, sesuai dengan isi
Tatwa Kandha Pat.
Aji Tatwa Kanda Pat.
Ri sampun sawulan pitung
dina tuwuhning rare, hana
pangupakaranya,
mangluwaraken kakambuh.
Manganti sasikepaning rare,
atmaraksa
palanya.
Kadhirgahayusa
palanya,
kaluputaning lara wighna,
ikang
sanak,
kinenan
palukatan, mwang ibuning
rare, linukat den abresih,
mwang tinirtan, tegesipun
ngalukat malaning ibunya,
pecake ngawetwang mala,
mangkana
katatwaning
lingning Aji Tatwa Dharma
Usada.

Setelah sang bocah berusia sebulan tujuh


hari (empat puluh dua hari), ada upakara,
upacaranya,
dibuatkan
kekambuh,
demikian pula sesikepan bocah itu diganti,
yang bermakna penjagaan bagi Sang
Hyang Atma, itu akan membuat panjang
umur, bebas dari penyakit serta kecemaran
Iainnya. Saudara empat itu juga diberi
ruwatan, ibu serta sang bocah juga
diruwat, supaya betulbetul bersih (suci),
selanjutnya diperciki tirtha (air suci). Itu
bermakna membersihkan segala kekotoran
serta kecemaran sang ibu, yang dahulu
mengeluarkan kekotoran, demikian isi dari
filsafat Aji Tatwa Dharma Usada.

Ri wus telung sasih tuwuh


rare, hana upakaranya,
tegesnya, ikang rare aminta
nugraha
ri
Bhatara
Siwaditya,
tembenya
anganggo bhusana, ratna
kancana adi, mwang i
nyama sanak linukat, sareng
rare ika, sahupakara i catur
sanak magentos haran, I
malipa I malipi, I bapa
bajang, I babu bajang,
mangkana
katatwanya,
lingning
Aji
Tatwa
Jarayuhantra.

Setelah sang bocah berumur tiga bulan,


ada
jenis
upakara/upacaranya.
Itu
bermakna, bahwa sang bocah, memohon
anugrah dari Sang Hyang Siwaditya, untuk
selanjutnya mengenakan busana atau
perhiasan yang terbuat dari permata, emas
- emasan yang mahal (logam mulia).
Demikian juga saudara kita yang empat
jenis itu juga mendapatkan ruwatan,
bersama-sama dengan sang bocah itu,
beserta upakara/upacara sebagai mana
mestinya. Sang Catur Sanak lalu berganti
nama/sebutan yakni: I Mlipa, I Mlipi, I
Bapa Bajang, dan I Babu Bajang,
demikianlah
uraiannya,
menurut
keterangan/isi Aji Tatwa Jarayuhantra.

Ri sampune aketus untu Setelah bocah itu tanggal gigi susunya

ikang rare, citaning rare


kahanan budi satwa rajah
tamah, yogya uruk mangaji,
mwah yogya matepong
karma, manurut gama Siwa
Budha,
mangkana
katatwanya, lingning Aji
Tatwa Iswara Paridana.

(maketus Bhs.Bali), pribadi bocah itu


sudah kemasukan : satwa (kejujuran),
rajah (kegelapan), dan tamah (kelobaan).
Sudah sepatutnya memulai belajar ilmu
pengetahuan, juga bertusuk telinga, sesuai
dengan ajaran Agama Siwa Budha,
demikian uraiannya, sesuai dengan isi
Tatwa Aji Iswara Paridana.

Ri sampuning tutuging
daha, kahanan brahmatya,
hana
pangupakaranya,
tegesipun
pamarisudan
kaletuhan sang kahanan
kabrahmatya, Ling Aji
Tatwa Anggastya.

Setelah akil balig, sudah kemasukan jiwa


pancaroba (brahmatya), ada sejenis
upakara/ upacaranya, yang berarti atau
bermakna pembersihan atau ruwatan
terhadap kecemaran akibat mengalami
brahmatya
(panca
roba)
tersebut.
Demikian menurut isi dari: Aji Tatwa
Anggastya.

Ri
sampun
mayusa,16
tahun, hana upakaranya,
nga. matatah, amotong untu,
tegesipun
ninggalang
malaning untu, malaning
carma, malaning rambut,
mwah i nyama catur sanak,
kinenan palukatan, kaping
rwaning
pangupakara,
amuja
smara
ratih,
anamtami
kayowanan,
mangkana
katatwanya,
lingning
Aji
Tatwa
Jarayutantra.

Setelah berusia 16 tahun, ada sejenis


upakara berupa upacara yang disebut
dengan: matatah, lazim disebut dengan:
Upacara Potong Gigi, yang bermakna
membuang kekotoran serta kecemaran
pada gigi, kekotoran serta kecemaran pada
kulit, kekotoran serta kecemaran pada
rambut. Demikian pula Sang Catur Sanak
(saudara kita berempat), diberi ruwatan,
selanjutnya upakara/ upacaranya dengan
memuja Sang Hyang Semara dan Sang
Hyang Ratih, untuk membenahi usia muda
(kayowanan). Demikian filsafatnya, sesuai
dengan isi dari : Aji Tatwa Jarayutantra.

Nihan tingkahing Gama


Kapatyan,
hinaranan
atitiwa, katama de sang
catur warna, kateka tekeng
mangke.
ri
huwusning
patinggaling
urip,
ndi
unggwaning atma? Ring

Inilah
tatacara
perihal
kematian,
pelaksanaannya disebut dengan atitiwa
(atiwa-tiwa). Hal itulah yang diwarisi oleh
Sang Caturwarna (di Bali), sampai waktu
kini. Setelah jiwa manusia itu melayang,
di mana stana Sang Hyang Atma?
Tempatnya di hawa (di alam gaib?), mayat

hawa, ikang sawa wenang


inupakara, tutug parikrama
kapatyan
mabresih,
amarisudha letuhing sawa,
Ring
huwusing
sawa
abresih, kinenan pamanah
de sang pandhita, kaupti
stiti ikang atma, mulih
maring stananya nguni,
dinuluran
upakaraning
kunapa,
ikang
atma
kabhisekaneng
sang
pandhya, tinuduh de sang
pandhitha
mamatyaksa
parisentana,
Ri huwusing atma amukti,
mwah tinuduh de sang
pandhita, umaiwi maring
windu rupaka. Mangkana
katatwaning sawa rinaksa ri
graham pomahan.

seseorang itu harus diupacarai. Apabila


sudah waktunya, bilangan hari dari
kematian itu, harus dilakukan ruwatan,
membebaskan mayat itu dari kecemaran.
Setelah mayat itu dibersihkan, lalu
dilakukan upacara panahan oleh Sang
Pendeta, dilakukan Upacara Upti dan Stiti
pada Atma itu, agar kembali ke tempatnya
dahulu, yang disertai upacara/upakara
terhadap mayat, Sang Hyang Atma lalu
dinobatkan oleh Sang Pendeta, lalu
disuruhlah
oleh
Sang
Pendeta
memeriksa/menyelidiki pars keturunan
(sentana).
Setelah Sang Hyang Atma diberi suguhan
atau mendapatkan suguhan, lalu disuruh
Sang Pendeta agar kembali ke tempat yang
namanya : windurupaka. Demikianlah
filsafat mayat bila mau menjaganya di
perumahan.

Kunang
ikang
sawa
pinendem, ring smasana
hinaranan
makingsan,
dinunungaken ring Sang
Hyang Ibu Pratiwi. ikang
atma rinaksa denira Bhatari
Nini
Durgghadewi,
panguluning setra agung.
Mangkana katatwanya sawa
mapendhem.
Ri tekaning mamreteka
sawa, ingaranan ngaben,
ring atetiwa, hana upakara
ngulapin, hana nugraha ri
Sang Hyang Ibu Pretiwi,
mwang ring sedahan sema,
amwitamreteka
sawa,

Apabila mayat itu akan dikuburkan, di


setra (kuburan Adat Umat Hindu), itu
disebut dengan istilah mekingsan (dikubur
sementara, menungguwaktu pengabenan),
itu dihaturkan ke hadapan Sang Hyang Ibu
Pretiwi, sedangkan Sang Hyang Atma
dipegang /dijaga oleh Batari Nini
Durgadewi, yang bersemayam di Hulu
Setra Agung (kuburan). Demikianlah
tatakrama mayat yang dikuburkan.
Bila sudah waktunya memproses Upacara/
Upakara mayat (pembakaran) yang dengan
istilah ngaben, biasa disebut dengan:
atetiwa atetiwan, ada upacaranya yang
disebut : ngulapin, dan perlu adanya
anugrah dari Sang Hyang Ibu Pretiwi,
demikian pula dari Betari Durgadewi, dan

kunang ikang atma gawenen


awak-awakan,
manut
parikrama
sakawenang,
gawenen
kadununganya
nguni duking mahurip,
inucap benjanging atitiwa,
ikang atma sinangaskara de
sang guru, ring dewa
pakraman. Tegesipun Sang
Hyang Pitra anuhun padha
ring sang adi guru, anda
Waranugraha,
wisik,
marganyan kinelepasaken
sakeng
papa
sangsara,
matangyan ikang wang
hurip,
katekeng
pati,
sinenggah sisyane sang
pandhita.
Sisya,
nga.
parekan, nga. wetu saking
sang adiguru, ri kaping
rwaning janma, mangkana
katatwanya, lingning Aji
Tatwa Purwaka.
Kunang tahulaning wangke
ika ring setra, wangunen
gawenen kuwu, kinenan palukatan, mwang pabresihan,
dahar kasturi suci, dinaning
atitiwa, tunggalakena awakawakaning pitra ika, lawan
tahulaning wangke ika, ring
smasana, inentas de sang
pandhita,

juga dari : sedahan sema, untuk mohon


pamit mengupacarai mayat. Adapun Sang
Hyang Atma dibuatkan awak-awakan,
sesuai tatakrama dibenarkan semuanya,
upacarailah di tempatnya dahulu ketika
masih hidup, sehari sebelum hari
pembakaran mayat (atiwa-tiwa), atman
itudisucikan oleh Sang Pendeta/Sulinggih,
sesuai dengan widi widana. Artinya Sang
Hyang Atma memohon anugrah ke
hadapan Sang Adiguru (Tuhan), agar
mendapatkan jalan yang baik melalui puja
Sang
Sulinggih/Pendeta,
agar
mendapatkan jalan untuk melepaskan diri
dari kesengsaraan, itulah sebabnya, orang
sejak menjelma (masih hidup) sampai
dengan tiba ajalnya, dianggap murid dari
Sang Pendeta/Sulinggih. Sisya berarti
parekan, artinya orang yang selalu dekat,
karena terlahir dari Sang Guru Utama pada
kelahiran untuk kedua kalinya (dwija),
demikian keterangannya, sesuai dengan isi
Aji Tatwa Purwaka.

Adapun kerangka atau tulang belulang dari


mayat itu yang terkubur di setra (kuburan
Adat Hindu), harus diangkat dan
dibuatkan dangau (bangsal), serta diberi
pensucian berupa ruwatan, pembersihan,
disertai punjung kasturi, suci. Pada hari
pembakaran mayat itu, satukanlah awak,
awakan pitra (pengawak = praraga =
simbul dari raga sang meninggal yang
akan diaben), dengan tulang belulang yang
diangkat dari kuburan itu, lalu diruwat
oleh Sang Pendeta.
Tegesing tirtha pabresihan, Adapun makna dari tirta pabersihan itu
mresihin cihnaning mati,
adalah: membersihkan atau mensucikan
kematian seseorang.

tirtha pangentas, tegesipun


ngentasang pitresnan sang
mati ring sarat. Mangkana
katatwanya, lingning Aji
Tatwa Purwaka.

Tirta pengentas bermakna, mengentaskan


atau membebaskan seseorang yang telah
meninggal, agar terbebas sang meninggal
tersebut dari keterikatan dunia maya ini.
Demikianlah filsafatnya, sesuai dengan isi
atau uraian Aji Tatwa Purwaka.

Kunang
sawa
yan
inupakara,
atemahanya
mandadi naraka, mwang
munggwing
alang-alang
aking, mangebeking waduri
ragas, katiksnan dening
panasning surya, manangis
mangisekisek,
sumambe
anak putunya, sang kari
mahurip, lwir sabdaning
atma papa,

Adapun mayat (seseorang yang telah


meninggal),
yang
meskipun
telah
diupacarai, ada juga yang mendapatkan
atau
tiba
di
Neraka
(kawah),
keberadaannya pada ilalang kering, pohon
maduri yang meranggas, kepanasan oleh
teriknya matahari, maka pitara (arwah
sang mati) itu menangis tersedu-sedu,
menyebut-nyebut anak cucunya, yang
masih hidup, demikianlah suara isak tangis
sang pitara tersebut, yang menderita hina
papa:
"Oh, anak-anaku yang masih berada di
dunia maya, kok tak sedikitpun Engkau
menyatakan belas kasihan pada orang
tuamu, Kamu tidak pernah memberikan
makanan berupa bubur ataupun seteguk
air, sebenarnya aku banyak mempunyai
anak cucu, dan kepada semuanya itu telah
kuberikan kebaikan, demikian pula segala
yang aku miliki, semuanya telah dipegangnya, tak sedikitpun kubawa mati, mereka
jugalah yang memiliki semuanya, kuharap
agar dipergunakan secara baik-baik, utamanya agar mereka tidak menghilang dari
ayah dan ibu, juga dari kawitan (leluhur),
akan tetapi Kamu tidak memberikan tirta
pangentas (tirta pembebasan), jah tasmat,
moga-moga Kamu anak-anaku Kau
mendapatkan pendek usia"
Demikianlah kutukan dari leluhur yang
mendapatkan kesengsaraan terhadap para

"Duh anaku ring madhya


padha, tanhana matra welas
ring kawitan, maweh bubur
mwang we setahap akweh
mami madrewe, anak putu,
sami pada maweh kasukan
ri sira, mwah druwe mami,
kagamel de nira, tan hana
wawanku mati, sira juga
sami sesa kabeh, anggen
den abecik-becik, tan hilang
sira
ring
ramarena,
kawitanta, tan aweh tirtha
pangentas, jah tasmat, kita
anaku wastu kita amangguh
alpayusa".
Mangkana temah atma papa
ri
Santana,
mangkana

katatwanya lingning
Purwa Tatwa.

Aji turunannya. Demikianlah isi dari filsafat


yang termuat atau tertulis pada Aji Purwa
Tatwa.

Katrangan Agama Tirtha,


indike matirtha, maketis
ping
telu,
tetuwekipun
ngaturang pamarisudha ring
kawitan, sane tigang pawas,
malih mangimum ping tiga,
tegesipun, pangleburan i
trimala malih mereraup ping
tiga, maksud ipun, mresihin
icatur lokapala ri sarira.
Awanan amangan wija
pitung siki, maksud ipun
bibit saking sapta tirtha, tan
wenang remekaken, amangan mwang analed juga,
mangde sidaning hurip,
nguripang i sapta pramana,
madewek uriping sajagat,
Awinan masekar tetuwekipun, reh sampun sudha i
trimala, tri kaya parisudha,
dados madewek wangi,
lingning Aji Tatwa Kapandhitan, mwang ring Mageswari Tatwa, Indraloka.

Ketrangan dari filsafat Agama Tirtha,


tatakrama matirtha (diperciki air suci =
tirtha), yakni: memercikan tiga kali,
maksudnya menghaturkan pembersihan ke
hadapan Betara Kawitan, yang tiga tahap
lagi, juga meminum tiga kali, bermakna
melebur yang namanya : trimala (tiga
kekotoran), setanjutnya meraup tiga kali,
maknanya, membersihkan sang catur
lokapala pada badan kita.
Maksud dari menelan bija (beras)
sebanyak tujuh butir, maknanya adatah:
agar bibit yang berasal dari sapta tirtha
tidak boleh diremukan, akan tetapi
dimakan atau ditelan juga, agar
keberhasilan kehidupan ini terwujud, yang
menghidupkan sang sapta pramana, yang
merupakan jiwa dari jagat raya.
Maksud dari mempersunting sekuntum
bunga, yaitu: setelah terbebas dari trimala
menjadi trikaya parisudha, kemudian akan
menjadi harum semerbak. Demikianlah isi
dari Aji Tatwa Kapandhitan, dan juga pada
Meghaswari Tatwa-Indraloka.

Nyan
pangupakaraning Inilah upacara / Upakara Padiksan (penomadiksa, lwir sajinya, ne batan untuk menjadi seorang Pandita,
ring gurukrama,
Sulinggih, atau Wiku) ada pula
menyebutkan Sadaka. Jenis sesajinya :
yang di Gurukrama,
dhaksina, 4.siki.
daksina 4 buah,
dewadewi, 4.siki,
dewa-dewi 4 buah,
panglemek, 4.tamas,
panglemek 4 tamas,
tigasan putih, madaging tigasan putih, berisi uang kepeng bolong

jinah 225,
matali suntagi,
kwangi sawijiwiji,
tegen-tegenan,
sedah woh, 1.tamas,
ring soring gurukrama,
sesayut,
tumpeng bang,
ayam wiring mapanggang,
sampyan andong bang,
jinah. 225.
dhaksina, 1.
majinah 4000,
Malih ring arepan gurukrama,
majinah 4.kranjang,
majinah sami, 4000. sawiji.

225 (satak selae),


tali suntagi (bersilang),
berisi kwangi (kwangen) satu-satu.
Lain dari pada itu, tegen-tegenan,
sedhah woh atamas,
Di bawah Gurukrama:
sesayut,
tumpeng bang,
ayam wiring yang dipanggang,
sampian andong bang,
uang kepeng bolong sebanyak 225,
daksina 1,
dengan uangnya:4000,
Lagi di depan Gurukrama,

Malih ring sanggar tutwan


madulu wetan, munggah
suci asoroh, sapuput ipun,
malih dhaksina, 2. daging
ipun kadi arep, saruntutan
jinah, 2 kranjang, mametang
taiian, dewa-dewi, 2. siki,
haywa tan sang diniksan,
sesayut abatekan, tan hilu
sesate
bebali,
kewala
byakala,
upakaran sang diniksan,
pabresihan, saha busana
wastra putih saparadeg,
Ponjen wiji sowang, katur
ring sang aji asiki,

Agar didirikan sanggar tutwan di timur, di


sana diisi suci asoroh, selengkapnya, juga
disertakan daksina 2 buah, isinya seperti
tersebut di depan, di sertakan pula uang 2
kranjang, dengan jumlah uangnya empat
ribuan, dewa-dewi 2 buah, sebagai
pemuput karya yadnya harus sang pendeta,
sesayut abatekan, tidak disertai sesate
sebagai upakara, hanya ada beakala.

suci
asoroh
arepan
Pawedayan,
panguriaga,
jauman,
sagenep
ipun,
dhaksina, majinah nista

uang 4 kranjang,
tiap kranjang berisi uang : 4000.

Perlengkapan orang yang akan diniksan


(yang akan dinobatkan sebagai pendeta),
pabersihan, yang disertai busana serba
putih selengkapnya (saparadeg. Masingmasing berisi ponjen (?) satu-satu, dipersembahkan kepada Sang Guru sebuah,
suci asoroh di depan pawedan, panguriaga
(punia), jauman selengkapnya, daksina,
dengan jumlah uangnya: nista, madya dan
utama,

madya utama,
tan kari sedah suhun, saha tak ketinggalan pula sirih
dudus lukat.
(ampinan),
yang
disertai
pedudusan dan pelukatan.

suhunan
dengan

Nyan
kramaning
pawintenan, lwir sajinya,
ngwangun sanggar tutwan,
sajinya
suci
asoroh
sapuputipun, 2. dewa dewi.1.
sedhah
woh,1.
sesayut
ghana,1.
jinah
3.kranjang, madaging sami,
4000, kang sawiji, dhaksina,
1.tatabane abatekan, labaan
sang mawinten, biu kayu,
20.
gegodoh,
2.jenang
prajnyan, runtutanya saha
sedhah, jambe sang urip,
tinulis dening : Ka Kha Ga
Gha Nga, Sa, Ra, La Wa.
Sang mawinten tinulisan de
sang pandhita, aksaranya
manut nista madyottama,
sajining
pawedayan,
lwirnya suci asoroh, peras
dhaksina, majinah nurut
manista madyottama.

Inilah tatakrama orang melakukan atau


menjalani upacara pawintenan. Jenis-jenis
upakaranya: pertama-tama dibuat sanggar
tutwan, bebantennya yakni: suci asoroh
selengkapnya dewa-dewi 1, sedhah woh 1,
sesayut gana 1, uang sebanyak tiga
kranjang, masing-masing berisi uang
4000, daksina 1, tataban abatekan, Iabaan
sang mawinten, biu kayu 20 buah, jajan
gegodoh, 2 jenang pradnyan, dilengkapi
dengan sirih, pinang sang urip berisi
tulisan : Ka Kha Ga Gha Nga, Sa, Ra, La
Wa. Yang akan diwinten ditulisi oleh sang
Pandita?Sulinggih,
aksaranya
sesuai
dengan nista madya mottama. adapun
sesaji pada pawedaan, diantaranya suci
asoroh, peras daksina, dengan uangnya
sosual dengan bilangan: nista madya dan
utama.

Hana wwang tan panahur


sot, sinangkala pinupuh
dening bhuta Galungan, sira
wisesa ring sot, sira ya
migraha.

Bila ada orang yang tidak membayar kaul


berupa sot, akan dibikin celaka yakni
didera oleh Sang Bhuta Galungan, dialah
yang menguasai kaul sot itu, dia juga yang
akan menimpakan hukuman.

Ageng papanya wwang


adwa,
yan linyoking sarwa satwa,
sadasa tahun papanya,

Besar dosa orang yang bersifat durhaka,


atau berbohong,
apabila berbohong kepada jenis hewan,
maka selama sepuluh tahun kehinaan akan
menimpa dirinya,

yan adwa ring sang wiku,


kadi hilining banyu, papa
kapangguhnya, apan sang
wiku
mawak
bhatara,
wenang manganu-graheng
janma,
manglepas-aken
karyya rahayu.

demikian pula bila berbohong kepada


Sang Pendeta/Wiku, bagaikan aliran air
kehinaan akan menimpa dirinya. Oleh
karena Sang Pendeta/Wiku itu perwujudan
dari para dewata (betara), yang mampu
memberi anugrah kepada manusia, serta
mensukseskan
segala
jenis
karya
(perbuatan) yang bertujuan baik.

Matuwuh, 6 sasih tuwuh


ikang rare, nga. maotonan,
hana
pangupakaranya,
tegesipun ikang rare, aminta
nugraha
ring
Bhatari
Pretiwi,
tan
kataman
upadrawa
de
Bhatara,
tembenya anapak lemah,
ikang i catur sanak, kinenan
palukatan,
malih aganti haran, lwir
haranya: Sang Garga, Sang
Maitri, Sang Kurusya, Sang
Pretanjala, tinuduh de sang
pandhita, mulih maring unggwanya
sowang-sowang,
Mangkana katatwanya, lingning Aji Tatwa Jarayutantra.

Apabila seorang bocah telah berumur


enam bulan, sudah disebut aoton. Adalah
sejenis upakara / upacara nya, artinya
bocah itu memohon anugrah dari Sang
Hyang Ibu Pretiwi, agar tidak terkena
kutuk pastu dari Betara Pretiwi, dan untuk
selanjutnya buat pertama kalinya sang
bocah itu menginjakkan kaki di tanah, dan
Sang Catur Sanak juga harus mendapat
ruwatan.
Selanjutnya lagi berganti nama, yakni:
Sang Garga, Sang Maitri, Sang Kurusya,
Sang Pretanjala. Kemudian lalu disuruh
oleh Sang Pendeta agar pulang ke tempat
masing-masing. Demikian riwayatnya,
sesuai dengan isi Aji Tatwa Jarayutantra.

Om Santi Santi Santi Om.

Semoga damai di hati, damai di dunia,


damai selalu.

Anda mungkin juga menyukai