Anda di halaman 1dari 22

1

A. Rangkuman Skripsi
1. BAB I : Pendahuluan
Nurhamzah memulai penulisan bab pertama yang berisi
latar belakang masalah. Background of problem yang diajukan
cukup menarik yakni tradisi sebelum nikah yang terjadi di Desa
Bayur Kidul, Kec. Cilamaya, Kab. Karawang. Demi membatasi
pembahasan. Penulis membatasi kajian judul ini hanya pada
presepsi

masyarakat

setempat

pada

tradisi

tinjauannya dalam perspektif Urf.


Penulis menguraikan analisis secara

tersebut

dan

deduktif, tentang

tradisi jalukan ini. Pertama-tama menguraikan pernikahan secara


praktis dan teoritis di Indonesia, lalu lebih kajiannya lebih
berfokus pada pembahasan mahar. Dijelaskan bahwa mahar
adalah

syarat

sahnya

sebuah

akad

perkawinan.

Mahar

didefinisikan sebagai harta tertentu yang memiliki nilai ekonomis


atau manfaat tertentu yang diberikan oleh suami kepada istri.
Pada paragraf-paragraf berikutnya disinggung batas minimal dan
maksimal mahar dalam fiqh.
Menuju ke inti permasalahhan, yaitu mahar yang ukurannya
berlebihan dalam menimbulkan kesulitan bagi pemuda untuk
melangungkan perkawinannya. Terutama banyak terdapat tradisi
di berbagai masyarakat adat di Indonesia yang memiliki tradisi
seperti di atas. Yang menjadi fokus masalah adalah tradisi
jalukan di masyarakat desa Bayur Kidul. Jalukan adalah suatu
permintaan dari pihak perempuan terhadap pihak laki-laki yang
disepakati keduanya sebelum melaksanakan pernikahan. Barang

yang disepakati oleh kedua belah pihak dalam jalukan tidak


disebutkan pada saat akad nikah. Tujuan jalukan sendiri adalah
untuk

mengangkat

derajat

perempuan

serta

menunjukkan

keseriusan pihak mempelai pria. Di samping itu mempelai peria


harus mempersiapkan biaya yang tidak sedikit untuk pernikahan
dan memenuhi jalukan tersebut.
2. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini penulis memulai dengan membuktikan
originalitas

penelitiannya

Dengan

cara

mencari

penelitian-

penelitian terdahulu yang hampir sama atau sejenis dengan


penelitiannya yang telah diteliti oleh peneliti lain sebelumnya.
Diantara penelitian yang mirip dengan penelitian ini adalah :
a. Skripsi oleh M. Farid Hahami Tahun 2011 dengan judul
"Ritual Srah-Srahan Dalam Perkawinan Adat Jawa" (Kasus di
Desa Jatongan, Kec.Merjosari, Kab. Mojokerto.)
b. Skripsi oleh Idrus Salam Tahun 2008 berjudul "Tinjauan
Hukum Islam Terhadap Doi' Menre' Dalam Pernikahan Adat
Bugis di Jambi" (Studi Kasus di Desa Simbur Naik, Kec.
Muaro Sobak, Kab. Tanjung Jabur Timur, Jambi.
Selanjutnya dalam kerangka teori dipaparkan konsep, dasar
hukum, hikah, macam khitbah dan 'urf dari berbagai sudut
pandang untuk memudahkan proses analisis dalam penelitian ini.
Khitbah didefinisikan sebagai perminttan seorang laki-laki
untuk meminang seorang wanita tertentu dengan keluarganya
dalam urusan kebersamaan hidup. Dalam Kompilasi Hukum
Isalam Pasal 1 ayat (1) BAB 1 tentang Hukum perkainan,

menyatakan bahwa yang dimaksud dengan peminangan adalah


kegiatan upaya ke arah terjadinya hubungan perjodohan antara
seorang pria dengan seorang wanita. Khitbah atau peminangan
adalah penyampaian keinginan untuk menkah dengan seorang
wanita. Jika keinginannya disetujui maka kedudukan persetujuan
sama dengan janji untuk melangsungkan pernikahan. Juga
disebutkan dasar hukum khitbah yaitu auat 235 Q.S. dari surat
ke-2 Al-Quran yaitu surat Al-Baqarah.
Selain

itu

khitbah

juga

memiliki

beberapa

hikmah,

misalnya : 1) Wadah perkenalan antara dua belah pihak yang


akan melangsungkan pernikahan. 2) Sebagai penguat ikatan
perkawinan yang akan dilangsungkan sesudah peminangan
dilakukan, karena dalam peminangan kedua belah pihak baik
mempelai atau keluarga mempelai dapat mengenal lebih baik
dan dalam.
Khitbah atau peminangan menurut ilmu fiqh dibagi menjadi
dua, yaitu khitbah shorih dan khitbah ghoiru shorih :
a. Khitbah shorih, adalah peminangan yang menggunakan
ucapa yang jelas dan terus terang sehingga tidak mungkin
ucapan tersebut dipahami dengan arti lain kecuali untuk
peminangan.

Misalnya

Saya

berkeinginan

untuk

menikahimu.
b. Khitbah ghoiru shorih, adalah peminagan dengan ucapan
yang tidak jelas dan tidak terus terang yang dikenal dengan

ungkapan kinayah.

Misalnya pengucapan tidak ada

seorang lelaki di dunia yang tidak menginginkanmu sebagi


istri.
Berkenaan

dengan

hal-hal

yang

berkaitan

dengan

peminangan, penulis mencamtumkan beberapa hal, diantaranya


adalah :
a. Norma Calon Pengantin Setelah Peminangan
Peminangan adalah prosesi yang biasa terjadi sebelum
perkawinan, akan tetapi bukan termasuk pernikahan itu
sendiri.

Peminangan

tidak

memiliki

pengaruh

hukum

terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan.


Maka dari itu walaupun telah terjadi peminangan,
norma-norma pergaulan antara calon suami dan calon istri
masih tetap sebgaimana biasa. Tidak diperbolehkan untuk
melakukan

sesuatu

yang

telah

diperbolehkan

bagi

pasangan suami istri yang telah sah menikah.


b. Peminangan Terhadap Seseorang yang Telah Dipinang
Seluruh ulama bersepakat bahwa peminangan
seseorang yang telah dipinang sebelumnya hukumnya
haram.
c. Orang-Orang yang Boleh Dipinang
Pada dasarnya seluruh orang yang boleh dinikahi boleh
untuk dipinang, baik khitbah shorih maupun ghoiru shorih.
d. Batas yang Boleh Dilihat Ketika Khitbah
Dalam hal ini ulama, para ulama membagi dalam lima
bagian, yaitu :

1) Muka dan telapak tangan. Mayoritas ulama fiqh


berpendapat demikian berdasarkan bahwa muka
dan telapak tangan acuan untuk menilai kecantikan
atau ketampanan seseorang.
Sesuai dengan judul skripsi ini yaitu Tradisi Jalukan
Sebelum Melakukan Perkawinan Perspektif Urf, maka penulis
juga mencamtumkan topic urf dalam kerangka teorinya. Urf dan
adat

dalam pemahaman ilmu ushul fiqh berperan penting

dalam proses penetapan hukum. Kata urf yang berasal dari kata
arafa mempunyai derivasi dengan kata al-maruf yang berarti
sesuatu yang sudah dikenal atau diketahui.
3. BAB III : Metode Penelitian
Penelitian yang dikakukan oleh Nur Hamzah ini termasuk
penelitian
Kecamatan

empiris

yang

Cilamaya,

dilakukan
Kabupaten

di

Desa

Karawang.

Bayur

Kidul,

Pendekatan

penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang menghasilkan


data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan perilaku yang diamati yang tidak dituangkan ke dalam
variabel atau hipotesis.
Yang menjadi sumber data penelitian ini adalah data
lapangan yang didapat dengan interview. Data Primer, yaitu data
yang diperoleh secara langsung dari sumber utama yakni para
pihak yang menjadi objek dari penelitian. Peneliti menggali
sumber secara langsung dengan wawancara partisipatif dengan

masyarakat Desa Bayur Kidul, informam terdiri dari berbagai


kalangan yang telah biasa melakukan tradisi jalukan.
Informan Penelitian:

Nama
Hj. Makiyah
Ajat
Nia
Ust. Abdul

Sebagai
Pelaku
Pelaku
Pelaku
Tokoh Agama

Hamid
Ust. Manhun
Bpk. Wahidin
Hj. Khodijah
H. Syarifudin

Tokoh Agama
Mudin
Masyarakat
Masyarakat

Data sekunder, berupa data-data yang telah diteliti, diolah,


dikumpulkan dan dipublikasikan oleh pihak lain, baik berupa
laporan atau buku yang berhubungan dengan tema yang
diangkat oleh peneliti.
Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan wawancara
dengan tanya jawab kepada informan yang bersangkutan. Jenis
wawancara

yang

interviewer

menanyakan

dipersiapkan

dilakukan

sebelumnya,

adalah

rentetan
namun

semi-struktur,

pertanyaan
juga

artinya

yang

tidak

telah

menutup

kemungkinan untuk bertanya sesuatu yang belum dipersiapkan


sebelumnya, agar peneliti lebih bebas dalam mengorek informasi
dari para informan.
Di samping itu, peneliti juga melakukan dokumentasi
terhadap beberapa referensi yang memiliki korelasi dengan judul
yang peneliti angkat, baik berupa rekaman, foto dan tulisan
wawancara.

Setelah

data-data

yang

diperlukan

telah

berhasil

dikumpulkan, lalu data tersebut diolah dengan teknik analisa


deskriptif, artinya peneliti berupaya menggambarkan kembali
data yang terkumpul mengenai tradisi jalukan.
Analisis data dimulai dengan editing, klarifikasi, verifikasi,
analisis dan kesimpulan.
4. BAB IV : Paparan Data dan Analisis Data
Dalam bab ini dijelaskan tentang gambaran singkat Desa
Bayur Kidul, berawal dari Desa Bayur, Kecamatan Cilamaya,
Kabupaten

Karawang

dipimpin

oleh

seorang

Kepala

Desa

Pertama bernama H. Thoyib pada tahun 1913. Desa bayur terdiri


dari empat (4) dusun yaitu : Dusun Bayur Lort, Dusun Krajan,
Dusun Babakan dan Dusun Kecemek.
Kondisi wilayah Desa Bayur Kidul Kecatan cilamaya Kulan
merupakan daerah agraris yang berbasis pertanian. Kebanyakan
lahan yang berada di Desa Bayur Kidul adalah lahan pertanian.
Sedangkan agama yang dianut oleh masyarakat Bayur Kidul
adalah agama Islam.
Mayoritas mata pencaharian masyarakat Bayur Kidul adalah
petani dengan produksi utama berupa hasil pertanian sawah.
Wilayah Desa Bayur Kidul seluas 305 Ha, yang terdiri dari lahan
pertanian 260 Ha dan tanah pemukiman penduduk seluas 40 Ha.
Skripsi yang sifatnya empiris ini membutuhkan kajian
langsung ke lapangan untuk mendapatkan data utama yaitu data
yang sifatnya empiris. Peneliti skripsi ini memilih teknik interview
untuk mendapatkan data di lapangan. Dari beberapa informan
yang telah dicantumkan di atas, peneliti melakukan interview

untuk mengetahui seluk beluk dari tradisi jalukan di masyarakat


Desa Bayur Kidul ini.
Hal pertama yang dipaparkan adalah perihal pemahama
informan

mengenai

tradisi

jalukan.

Setelah

melakukan

wawancara kepada tiga orang informan, maka disimpulkan


jalukan adalah jalukan adalah permintaan dari pihak calon
memperlai perempuan kepada pihak calin mempelai laki-laki
yang

disepakati

pernikahan.

dan

Jalukan

diputuskan

merupakan

sebelum

salah

satu

melaksanakan
stradisi

yang

dilakukan masyarakat desa Bayur Kidul sebelum melaksanakan


perkawainan, masyarakat melakukannya untuk mengikuti ajaranajaran irang tua terdahulu yang melakukan tradisi ini, walaupun
tidak ada penjelasanan dari orang-orang terdahulu namun
masyarakat memahami jalukan itu sebagai symbol keseriusan
seseraong untuk menikah khususnya untuk calon memepali lakilaki.

Jalukan di luar mahan (mas kawin) yang memang sudah

menjadi syarat sahnya pernikahahan.


Wawancara selanjutnya mengeanai pendapat masyarakat
desa

Bayur

Kidul

tentang

sahnya

pernikahan

yang

tidak

menggunakan jalukan. Kesimpulan dari jawaban tiga informan


adalah pernikahan tanpa menggunakan jalukan itu sah, karena
jalukan sifatnya inter-family. Jalukan hanya dilakukan bila terjadi
kesepakatan antara pihak-pihak keluarga mempelai laki-laki dan
wanita.

Meski

berdampak

pada

pernikahan

jika

tidak

menggunakan jalukan, menjadi perbincangan masyarakat sekitar

dan dianggap telah ingkat terhadap ajaran-ajaran orang tua


terdahulu yang menciptakan tradisi jalukan tersebut.
Jalukan adalah suatu tradisi yang dilakukan sebelum
pernikahan berlangsung, yang terbagi ke dalam lima tahap.
a. Gedor Lawang
Pada tahap

ini

keluarga

calon

mempelau

pria

mendatangi atau mengirim utusan kepada keluarga calin


mempelai

perempuan

untuk

menyampaikan

niat

dan

keinginan untuk meminang puteri mereka. Pada acara ini


kedua keluarga jika belum saling mengenal dapat lebih jauh
saling mengenal satu dengan yang lainnya dan berbincangbincang

mengenai

hal-hal

yang

berhubungan

dengan

pernikahan nanti. Biasanya pihak keluarga calon perempuan


mempunya

hak

lebih banyak, misalnya

jalukan yang

dijelaskan sebelumnya, seperti ada tidaknya jalukan, besar


kecilnya nilai jalukan. Pemaran ini adalah kesimpulan dari
tiga informan.
b. Nekani
Pada prosesi ini kesepakatan dan permintaan nilai
jalukan yang telah dibicarakan pada prosesi gedor lawang.
Pada tahan ini juga ada tawar menawar antara keluarga
calon mempelai laki-laki dan calon mempelai perempuan.
Tahap ini hanya berlaku apabila pihak orang tua
perempuan menysaratkan jalukan untuk orang yang hendak
menikahi puterinya.
c. Lamaran

10

Tahap melamar atau meminang adalah tindak lanjut


dari tahap pertama dan kedua. Proses ini dilakukan dkedua
keluarga calon mempelai. Tahap ini hampir mirip dengan
nekani, bedanya dengan lamaran adalah keluarga mempelai
laki-laki

mendatangi

keluarga

perempuan

dengan

membawa banyak barang yang dapat berupa seperangkat


pakaian, cincin pertunangan, kue-kue tradisional, makanan
atau bahkan uang dengan tujuan sebagai tali pengkat
antara putera dan puteri mereka.
d. Sasrahan
Pemberian dari calon mempelai laki-laki kepada calon
mempelai
tangga

perempuan

(lemari,

yang

kasur,

berupa

meja,

perabotan

kursi,

lemari

rumah

hias

dan

sebagainya), perabotan dapur, kompor, rak , piring, gelas


dan sebagainya. Serta perhiasan untuk memperlai wanita
juga

pakaian,

make

up,

sepatu,

makanan

dan

lain

sebagainya disebut dengan sasrahan.


Prosesi ini biasanya dilakukan saat hari pernikahan,
kira-kira satu jam sebelum pelaksanaan akad nikah. Di
mana

keluarga

calon

mempelai

laki-laki

mendatangi

kediaman calon mempelai perempuan dengan membawa


barang sasrahan tersebut.
e. Penyerahan Jalukan
Setelah tahap-tahap di atas telah terpenuhi, maka
tahap

terakhir

adalah

tahap

penyerahan

jalukan.

Penyerahan dilakukan sebelum terjadinya akad nikah. Pada

11

saat penyerahan jalukan orang tua menunjuk mudin untuk


menjadi penceramah tentang pernikahan, pembaca doa,
sekaligus menjadi pembawa acara serah terima jalukan.
Penyerahan emas dilakukan oleh mempelai laki-laki kepada
mempelai

perempuan.

Sedangkan

penyerahan

harta

jalukan dilakukan oleh orang tua mempelai laki-laki kepada


orang tua mempelai perempuan.
Tradisi jalukan merupakan tradisi budaya leluhur yang
seharusnya dilestarikan. Masyarakat Desa Bayur Kidul dalam
melaksanakan tradisi perkawinan yang ada, tidak mengharuskan
dan mewajibkan untuk melaksanakan jalukan. Sebagian besar
masyarakat desa Bayur Kidul melaukan tradisi jalukan dan
berjalan seperti itu, tidak melakukan tradisi tersebut menurut
mereka bukan berarti tidak menghormati akan tradisi jalukan.
Mereka tidak melakukannya karena kondisi-kondisi tertentu, atau
memang

sudah

menjadi

kesepaatan

kedua

eluarga

calon

mempelai. Alas an yang mereka kemukakan hampir semuanya


sama, mengatakan bahwa tradisi jalukan itu bertujuan bak dan
banyak mengandung maslahat.
Dalam perspektif urf tradisi jalukan di desa Bayur Kidul
sudah dapat dikategorikan menjadi urf shohih. Di antara
alasannya adalah :
a. Urf itu bernilai maslahat dan dapat diterima akal sehat.

12

Syarat ini mutlak ada pada urf shohih sehingga dapat


diterima pada masyrakat umum. Sebaliknya apabila urf itu
mendatangkan kerusakan dan tidak dapat diterima akal,
maka ini tidak dapat dibenarkan dalam islam, seperti ritual
atau

upacara

mengorbankan

yang

mengandung

sesuatu

atau

syirk

hewan,

yang

harus

meskipun

ritual

semacam ini dipandang bik dalam golongan masyarakat


tertentu, tapi tidak dapat diterima oleh akal sehat.
b. Urf itu berlaku umum dan merata di kalangan orang-orang
yang berda dalam lingkungan masyarakat atau sebagian
besar warganya.
Syarat yang kedua adalah urf tersebut berlaku secara
luas dalam masyarakat dalam arti semua orang mengakui
dan menggunakan urf tersebut dalam kehidupan mereka
sehari-hari.
Tradisi jalukan dalam masyarakat setempat berlaku
umum untuk siapa saja, tidak memandang status sosial,
garis keturunan, tingkat ekonomi serta kelas sosial lainnya,
c. Urf yang dijadikan sandaran dalam penetapan hukum itu
telah ada (berlaku) pada saat itu, bukan urf yang muncul
kemudian.
Maksud dari syarat ini adalah urf itu telah berlaku
sebelum penetapan hukum, jika urf datang setelahnya,
maka tidak dapat dianggap urf. Tradisi jalukan ini telah ada
sebelum penetapan hukum, artinya tradisi jalukan yang
terjadi pada saat itu sudah dilakukan oleh masyarakat desa

13

Bayur Kidul yang kemudian datang ketetapan hukumnya


untuk dijadikan sandaran.
d. Urf tidak bertentangan dan melalaikan dalil syara yang ada
atau bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum islam.
Pada
dasarnya
syarat ini
untuk
memperkuat
terwujudnya urf yang shahih. Karena bila suatu urf
bertentangan dengan maksud nash atau prinsip syara yang
qothi, maka tradisi tersebut disebut urf fasid. Dengan kata
lain,

urf

yang

shohih

adalah

tradisi

yang

tidak

menghalalkan apa yang haram dalam nash dan tidak


mengharamkan apa yang dihalalkan dalam nash.
5. BAB V : Penutup
Masyarakat desa Bayur Kidul telh menganggap baik tujuan
tradisi jalukan. Yaitu, sebagai bentuk penghormatan laki-laki
terhadap perempuan dan untuk menjadi modal awal dalam
membangun

keluarga

yang

baru

demi

terciptanya

tujaun

pernikahan. Dalam proses berlangsungnya tradisi jalukan, hanya


sebagian saja masyarakat yang tidak melakukan tradisi jalukan,
hal itu dikarenakan adanya kendala-kendala. Akan tetapi hampir
semua masyarakat desa Bayur Kidul melakukan tradisi jalukan
bahkan sebagian masyarakat menganjurkan untuk melakukan
tradisi ini.
Tradisi jalukan dikategorikan dalam urf shohih yang mana
tradisi ini dapat diterima keberadaannya dan dilaksanakan
secara terus menerus oleh masyarakat setempat. Selain itu juga
tidak bertentangan dengan nash apapun, baik al-Quran atau
hadits nabawi.
B. Analisis Skripsi

14

1. Sistem Adminstrasi Penulisan Karya Ilmiah


a. Pada Bab III menurut Buku Pedoman Karya Tulis Ilmiah urutan
sub-bab pada Bab III seharusnya sebagai berikut :
A)
B)
C)
D)
E)

Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Lokasi Penelitian
Sumber Data
Teknik Pengumpulan Data

Namun dalam skripsi ini sub-bab yang diletakkan terbalik


seperti di bawah ini :
A)
B)
C)
D)
E)

Lokasi Penelitian
Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Sumber Data
Teknik Pengumpulan Data

b. Dalam penulisan kata asing, penulis sering kali tidak


memiringkan kata (italic) yang seharusnya ditulis miring.
Misalnya penulisan kata :
- Sasrahan seharunya Sasrahan (hlm.64)
- Syara seharusnya Syara (hlm.73)
- Maslahat seharunya Maslahat (hlm.73)
c. Pada penulisan teks di dalam table penulis memberikan jarak
2 spasi seharunya dalam Buku Pedoman Karya Tulis Ilmiah
2013 berjarak satu spasi. (hlm.39)
2. Footnote
a. Menurut

Buku

Pedoman

Penulisan

Karya

Ilmiah

2013

penulisan catatan kaki halaman pada buku referensi disingkat


dengan

(h.-)

bukan

dengan

(hal.-).

kesalahan tersebut pada catatan kaki :

Penulis

melakukan

15
7

Al-Imam Abu Daud Sulaiman bin Al-Asyat As-Sijistani, Sunan Abi Daud Juz

II (Beirut : Dar Al-Fikr) hal. 228-229

Seharusnya penulisan footnote yang tepat adalah :


7

Al-Imam Abu Daud Sulaiman bin Al-Asyat As-Sijistani, Sunan Abi Daud Juz

II (Beirut : Dar Al-Fikr) h. 228-229

b. Penulisan referensi dari ayat al-Quran juga menyalahi aturan


BPPKI 2013, misalnya :
3

QS. Al-Baqarah(2) : 235

Penulisan yang benar adalah diberi 1 spasi antara nama surat


dan nomor urut surat, yang seharusnya :
3

QS. Al-Baqarah (2) : 235

c. Di samping itu, penulisan referensi yang ditulis oleh lebih dari


satu orang kurang tepat.
18

Abdul Aziz Muhammad Azam, Abdul Wahab Sayyed Hawwas, Fiqh

Munakahat; Khitbah, Nikah dan Talak (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2009),
h.9

Penulisan nama pengarang pertama dan kedua seharusnya


dipisahkan dengan dan bukan dengan tanda koma (,). Jadi
penulisan yang benar adalah :
18

Abdul Aziz Muhammad Azam dan Abdul Wahab Sayyed Hawwas, Fiqh

Munakahat; Khitbah, Nikah dan Talak (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2009),
h.9

d. Catatan kaki yang berasal dari skripsi ditulis kurang tepat.


14

Idrus Salam, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Doi Menre Dalam

Pernikahan Adat Bugis di Jambi (Studi Kasus di Desa Simbur Naik Kec.
Muaro Sabak Kab. Tanjung Jabur timur, Jambi), Skripsi, (Yogyakarta: UIN
Yogyakarta, 2008)

Yang seharusnya

16
14

Idrus Salam, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Doi Menre Dalam

Pernikahan Adat Bugis di Jambi (Studi Kasus di Desa Simbur Naik Kec.
Muaro Sabak Kab. Tanjung Jabur timur, Jambi), Skripsi, (Yogyakarta: UIN
Yogyakarta, 2008)

3. Transliterasi
a. Muthlak seharusnya Muthlaq (hlm.70)
b. Syirik seharusnya Syrik (hlm.70)
c. Shohih seharusnya Shohh (hlm.70)
4. Sinkronisasi
BAB I : Pendahuluan ditulis dengan pola penulisan deduktif,
namun dalam perpindahan antara paragraf satu dengan yang
lainnya kurang bagus. Jika dianalogikan seharusnya penulisan
dengan pola deduktif adalah piramida terbalik, namun dalam
skripsi ini adalah tabung yang kerucut di bagaian bawahnya.
Pada Bab II : Tinjauan Pustaka penulis memaparkan panjang
lebar konsep urf serta penjelasannya namun dalam analisis data
hanya digunakan dalam beberapa paragraf saja.
Dalam bab lain, sinkronisasi sudah cukup, baik antar
paragraf maupun antar sub-bab dan bab lainnya.
5. Tata Bahasa
a. Penulis juga sering melakukan kesalahan pengetikan kata,
misalnya :
- Landsung seharusnya langsung (hlm.37)
- Mencataat seharusnya mencatat (hlm.37)
- Kekeluarga seharusnya ke keluarga (hlm.61)
- Kepuasaan seharusnya kepuasan (hlm.73)
- Hambali seharusnya Hanbali (hlm.26)
b. Penggunaan imbuhan yang kurang tepat juga sering dilakukan
penulis, contohnya :
- di bicarakan seharunya dibicarakan (hlm.61)
c. Huruf kapital yang dipakai pada kata awal kalimat, nama kota,
nama orang juga sering terabaikan. Sebagai contoh :
- urf itu harus sudah menjadi kebiasaan seharusnya Urf
itu harus sudah menjadi kebiasaan (hlm.72)
d. Penggunaan bahasa yang tidak baku.

17

- Putri seharusnya puteri (hlm.61)


- Putra seharusnya putera (hlm.61)
e. Penulis sering menggunakan bahasa lisan dalam penulisan
kalimat, misalnya kalimat :
- Syarat ini sebenarnya memperkuat terwujudnya urf yang
shahih. seharusnya Syarat ini bertujuan untuk
mewujudkan urf shahih.
f. Penulisan kalimat yang tidak dapat dimengerti, misalnya :
- Dalam hal ini, para ulama terbagi menjadi lima bagian
seharunya Dalam hal ini, ada lima perbedaan pendapat
ulama. (hlm.25)
g. Sering sekali penulis menggunakan bahasa lisan, antara lain :
- Oleh karenanya, peneliti harus mampu memahami
sumber data yang mesti digunakan dalam penelitiannya
itu seharusnya Oleh karena itu, peneliti harus paham
jenis sumber data apa yang harus digunakan dalam
penelitiannya.
C. Analisis Daftar Pustaka
1. Penggunaan Huruf dan Spasi
Seharusnya penulisan daftar pustaka menggunakan font
times new roman ukuran 12 dan setiap baris berjarak satu spasi.
Dalam daftar pustaka skripsi ini sudah menggunakan font times
new roman serta berukuran 12, namun jarak antar baris masih
1,5 spasi bukan 1 spasi 5seperti yang tercantum dalam buku
pedoman.
2. Penulisan Nama dan Buku
Cara penulisan sumber dalam daftar pustakan berbeda
dengan penulisan sumber dalam footnote, dimulai dengan nama
akhir, koma, nama pertama, titik, judul buku (italic), titik, volume

18

(jika ada),titik, jilid (jika ada), titik, cetakan, (dengan angka


romawi), titik, kota, titik dua, penerbit, dan tahun terbitan titik.
Penulis menuliskan seluruh daftar pustaka dengan
kesalahan yang sama, misalnya :
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan
Praktek, Jakarta : Rieneke Cipta. 2002
Seharusnya pemisah antara nama pertama dan judul buku
adalah tanda titik (.) bukan dengan tanda koma (,), jadi
seharusnya penulisan yang tepat adalah :
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan
Praktek. Jakarta : Rieneke Cipta. 2002
Dijelaskan pada awal pembahasan bahwa nama penulis
ditulis secara terbalik, seharusnya nama akhir, koma, nama awal
dan seterusnya. Kesalahan ini masih ditemukan dalam skripsi ini:
Muhammad, Husein, Fiqh Perempuan : Refleks Kiyai atas
Wacana Agama dan Gender, Yogyakarta:LKIS, 2001.
Seharusnya penulisan yang benar adalah :
Husein, Muhammad. Fiqh Perempuan : Refleks Kiyai atas
Wacana Agama dan Gender. Yogyakarta:LKIS. 2001.
3. Dua Sumber dengan Penulis yang Sama
Penulisan dua sumber atau lebih yang ditulis oleh satu
orang sudah sesuai dengan pedoman penulisan karya ilmiah.
4. Pengurutan Nama Penulis
Pengurutan nama penulis pada nama arab yang berawalan
dengan

al-

diurutkan

dengan

huruf

pertama

setelahnya.

Kesalahan ini ditemukan pada skripsi ini. pada baris kedua dan
ketiga tertuliskan nama pengarang. Al-Khalaf dan Al-Nashir,
seharusnya Al-Khalaf berada pada urutan nama penulisyang
berawalan huruf K, pada halaman dua daftar pustaka, begitu pula

19

Al-Nashir seharusnya berada pada urutan nama penulis yang


berawalan huruf N, yaitu pada halaman ketiga daftar pustaka.
D. Analisis Khusus Metode Penelitian
Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Dalam skripsi ini, penulis menggunakan jenis penelitian
empiris

sebab

masyarakan

akan

Desa

mencantumkan

mendeskripsikan
Bayur

penelitian

Kidul.
fikih

tradasi

Namun,

atau

hukum

jalukan

penulis
islam

di

juga
karena

berhubungan dengan perkawinan. Sedangkan fokus penelitian ini


bukan pada akad perkawinan itu sendiri melainkan berfokus pada
tradisi jalukan yang secara prosedural tidak berdampak sama
sekali terhadap sah atau tidaknya pernikahan. Jadi, jika penelitian
ini tidak dapat disebut dengan penelitian fikih atau hukum islam
karena tidak secara langsung meneliti tentang perkembangan
hukum islam atau presepsi masyarakat tentang hukum islam.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan kualitatif adalah jenis pendekatan yang tepat
untuk mendeskripsikan hasil penelitian ini. Pendekatan kualitatif
menyajikan informasi deskriptif dari data yang dikumpulkan
secara langsung dari lapangan. Penulis juga memaparkan
tentang urgensi dan relevansi pendekatan ini dengan jenis
penelitian dan metode pengumpulan data yang dilakukan dalam
penelitian ini.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian seharusnya ditulis secara rinci, meliputi
letak geografis, nama desa, kecamatan, kabupaten/kota. Dalam
penelitian

ini

penulis

hanya

menulis

sekilas

dari

lokasi

20

penelitiannya

yatu

Desa

Bayur

Kidur,

Kecamatan

Cilaya,

Kabupaten Karawang tanpa dilengkapi dengan letak geografis.


4. Data Penelitian
Sesuai dengan jenis penelitian skripsi ini yaitu empiris,
penulis mencantumkan dua jenis sumber data. Sumber data
pertama didapatkan dari informan yang berkaitan dengan topik
penelitian. Penulis kurang tepat memilih informan yang akan
diwawancarai seputar topik penelitian. Pemilihannya berdasarkan
posisi atau peran sosial dalam masyarakat. Padahal objek
penelitan berupa tradisi jalukan

yang berhubungan dengan

harta, seharus peneliti juga memasukkan informan dari taraf


ekonomi rendah, menengah dan atas. Dan sumber data kedua
berupa laporan, dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang
berhubungan

dengan

judul

skripsi

ini,

data

sekunder

ini

digunakan sebagai pelengkap.


5. Metode Pengumpulan Data
Wawancara dan dokumentasi adalah teknik pengumpulan
data yang dipilih penulis dalam penelitian empiris ini. Keduanya
dijelaskan secara rinci, baik proses, hubungannya dengan
pendekatan

penelitian,

jenis-jenis

serta

urgensinya.

Teknik

wawancara yang dipilih adalah Semi-structural Interview yang


memungkinkan interview berjalan dengan bebas dan tidak akan
jauh keluar dari topik yang menjadi fokus penelitian.
6. Metode Pengolahan Data
Metode pengolahan data adalah proses bagaimana data
yang didapat dari sumbernya diolah agar menjadi data yang
mudah untuk dipahami sesuai dengan pendekatan penelitian
yang digunakan.

21

MAKALAH ANALISIS SKRIPSI

Tradisi Jalukan Sebelum Melakukan Perkawinan


Perspektif Urf
(Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Metodelogi Penelitian Hukum)
Dosen Pengampu: Miftah Solehuddin, M.HI

Penulis :
Rahmat Abdul Aziz(12110134)

AL AHWAL AL SYAHSIYAH
FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2016

22