Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Maksud
a. Mengamati batuan secara mikroskopis
b. Mendeskripsikan mineral penyusun batuan secara mikroskopis
c. Menggambarkan petrogenesa batuan secara singkat
d. Pemerian nama batuan secara mikroskopis menggunakan
klasifikasi IUGS
I.2 Tujuan
a. Dapat mengamati batuan secara mikroskopis
b. Dapat mendeskripsikan mineral penyusun batuan secara
mikroskopis
c. Dapat menggambarkan petrogenesa batuan secara singkat
d. Dapat memeriakan nama batuan secara mikroskopis menggunakan
klasifikasi IUGS
I.3 Waktu Pelaksanaan
Praktikum 1:
Hari: Rabu
Tanggal:1 April 2009
Waktu: Pukul 15.15-17.00 WIB
Praktikum 2:
Hari: Rabu
Tanggal: 8 April 2009
Waktu: Pukul 15.15-17.00 WIB

BAB II
DASAR TEORI

II.1 Pengertian Mineral dan Hubungannya dengan Batuan


Mineral adalah substansi yang terbentuk secara alami dengan
struktur internal yang khas yang ditentukan oleh sebuah susunan yang
teratur dari atom atau ion di dalamnya; dan dengan komposisi kimia dan
kandungan fisik yang tetap atau bervariasi dalam kisaran yang terbatas.
(Gilluly et. all, 1968)
Batuan

tersusun

atas

komposisi

mineral.

Selain

dengan

mengetahui sifat fisiknya, batuan dapat diketahui jenisnya dengan


mengetahui komposisi mineral utamanya.
II.2 BATUAN BEKU
-

Pengertian Batuan Beku dan Konsep Mineraloginya


Batuan beku (Igneous Rock) adalah batuan yang terbentuk

langsung dari magma, baik di bawah permukaan bumi (intrusif)


maupun di atas permukaan bumi (ekstrusif). (Turner, 1974)
Bila batuan beku terbentuk di atas permukaan bumi, maka
batuan ini disebut batuan beku vulkanik. Sebaliknya, bila terbentuk di
bawah permukaan bumi, maka batuan ini disebut batuan beku
plutonik.
Batuan beku terdiri dari komposisi mineral yang kristalin dan
amorf. Disebut kristalin, jika pembekuannya cukup lambat sehingga
memungkinkan magma mengkristal. Bila membeku sangat lambat,
kristal ini akan cukup besar hingga bisa terlihat dengan mata
telanjang. Sebaliknya, bila pembekuannya sangat cepat, maka tidak
akan terbentuk kristal tetapi terbentuk silikat yang amorf atau gelas.
(Rachwibowo, 2007)

Menurut Rachwibowo (2007), batuan beku mempunyai dua


ujung sifat yang saling berlawanan, yaitu asam dan basa. Sebagai
pembentuk lempeng benua yang bersifat granitis atau asam,
didominasi oleh jenis mineral yang berwarna terang, seperti: kuarsa,
feldspar-ortoklas, muskovit. Sedangkan yamg membentuk lempeng
benua terdiri dari mineral yang berwarna gelap dan bersifat basa,
seperti: olivine, plagioklas, biotit, dan piroksen.
-

Penggolongan Batuan Beku Menurut Susunan Mineraloginya


Mineral-mineral yang dipakai sebagai acuan adalah Kuarsa dan

Plagioklas. Pothassium Felspar dan Foid untuk mineral-mineral


Felsik, sedangkan Amphibol, Prioksen, dan Olivin untuk mineralmineral Mafik. (Endarto, 2004)
Menurut S. J. Shand (1943) dalam Endarto (2004), batuan beku
dibagi menjadi empat macam, berdasarkan pada mineralogi yang
mempengaruhi indeks warna mineral, di mana akan menunjukkan
perbandingan mineral mafik dengan mineral felsik, yaitu:
a.

Leucrocratic rock,

bila

batuan

beku

tersebut

batuan

beku

tersebut

mengandung 30% mineral mafik.


b.

Mesocratic

rock,

bila

mengandung 30%-60% mineral mafik.


c.

Melanocratic rock, bila batuan beku tersebut


mengandung 60%-90% mineral mafik.

d.

Hipermelanuc rock, bila batuan beku tersebut


mengandung 90% mineral mafik.

Sedangkan S. J. Elis (1948) dalam Endarto (2004) juga


membagi batuan beku menjadi empat golongan, yaitu:
a. Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna < 10%
b. Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10%-40%
c. Mafic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40%-70%
d. Ultra mafic, untuk batuan beku dengan indeks warna > 70%
3

II. 3 Pengamatan Mikroskopik tanpa Nikol


Pengamatan mikroskop polarisasi tanpa nikol dalam praktek
diartikan

bahwa

analisator

tidak

dipergunakan

(berarti

analisator

dikeluarkan dari jalan cahaya di dalam tubus mikroskop,atau arah


analisator diputar sampai sejajar dengan arah polarisator), sedang
polarisator tetap dipasang pada tempatnya dengan arah getarannya
sejajar dengan salah satu benang silang. Cahaya yang dipergunakan
adalah cahaya terpolarisir dalam satu arah getar (satu bidang getar). Sifatsifat optik yang dapat diamati dengan ortoskop tanpa nikol dibagi menjadi
dua golongan sbb:
a. Sifat-sifat optik yang mempunyai hubungan tertentu dengan
sumbu-sumbu kristalografi yaitu yang sejajar atau yang menyudut
tertentu, misalnya: bentuk, belahan, dan pecahan. Semua sifat
tersebut juga dapat diamati baik dengan mikroskop binokular yang
memakai cahaya yang tidak terpolarisir maupun pada contoh
setangan dengan mata biasa.
b. Sifat optik yang mempunyai hubungan erat dengan sumbu-sumbu
sinar/sumbu optik pada kristal yaitu misal: index bias, relief, warna,
dan pleokroisme. Perlu diperhatikan bahwa kejadian-kejadian dari
sifat-sifat tersebut yang nampak di bawah ortoskop pada posisi
meja objek tertentu adalah kejadian dari sinar atau komponen sinar
yang pada posisi tersebut bergetar searah dengan polarisator.
Sifat-sifat ini harus diamati dengan cahaya terpolarisir.
Sifat-sifat optik yang dapat diamati adalah ketembusan
cahaya, inklusi, ukuran, bentuk, belahan dan pecahan, indeks bias
dan relief, warna, dan pleokroisme.
Ketembusan Cahaya

Berdasar atas sifatnya terhadap cahaya, mineral dapat dibagi


menjadi dua golongan yaitu mineral yang tembus cahaya/transparent
dan mineral tidak tembus cahaya /mineral opak/mineral kedap
cahaya.
4

Di bawah ortoskop semua mineral kedap cahaya tampak


sebagai butiran yang gelap/hitam. Mineral jenis ini tidak dapat
dideskripsikan dengan mikroskop polarisasi, dan dapat dipelajari lebih
lanjut dengan mikroskop pantulan. Mineral tembus cahaya dapat
dibagi menjadi dua jenis yaitu mineral berwarna dan mineral tidak
berwarna.

Gambar 2.1 Opacity pada mineral

Inklusi
Pada kristal tertentu, selama proses kristalisasi sebagian

material

asing

yang

terkumpul

pada

permukaan

bidang

pertumbuhannya akan terperangkap dalam kristal, dan seterusnya


menjadi bagian dari kristal tersebut. Material tersebut dapat berupa
kristal yang lebih kecil dari mineral yang berbeda jenisnya, atau
berupa kotoran/impurities pada magma, dapat juga berupa fluida
baik cairan ataupun gas. Kungkungan dapat dikenali di bawah
mikroskop tanpa nikol apabila terdapat perbedaan antara bahan
inklusi dengan kristal yang mengungkungnya, misalnya pada
ketembusannya, relief maupun perbedaan warna. Bidang batas
antara inklusi dengan mineral yang mengungkungnya dapat
bersifat seperti batas bidang kristal biasa.

Ukuran mineral

Bentuk mineral

Belahan

Pecahan

Indeks Bias dan Relief

Warna dan pleokroisme

Warna yang tampak pada mikroskop polarisasi adalah warna


yang dihasilkan oleh oleh sifat cahaya yang bergetar searah
dengan arah polarisator. Pada mineral yang bersifat isotropik hanya
terdapat satu warna saja yang tidak berubah sama sekali walaupun
meja objek diputar, sedangkan pada mineral yang bersifat
anisotropik, dapat terjadi dua atau tiga warna yang berbeda
tergantung pada arah sayatan mana yang diamati.
Seluruh mineral yang menampakkan lebih dari satu warna
disebut pleokroik, yang dicirikan oleh dua warna disebut dikroik,
dan tiga warna

disebut trikroik. Dengan demikian mineral yang

isotropik selalu tidak mempunyai pleokroisme, mineral anisotropik


sumbu satu akan memiliki pleokroisme dikroik (apabila disayat tidak
tegak lurus sumbu optik) dan tanpa pleokroisme (apabila disayat
tegak lurus sumbu optik), dan mineral anisotropik sumbu dua akan
bersifat trikroik, dikroik, maupun tanpa pleokroisme, tergantung
sudut sayatannya.
II.4 Pengamatan Mikroskopik dengan Nikol Bersilang
Pengamatan ortoskopik nikol bersilang (crossed polarized light)
dimaksudkan

bahwa

dalam

pengamatannya

digunakan

analisator

bersilangan dengan polarisator (sinar diserap dalam dua arah yang saling
tegak lurus). Sifat yang dapat diamati adalah sifat optik yang berhubungan
dengan kedudukan dan jumlah sumbu optik. Sifat optik yang diamati
antara lain warna interferensi, gelapan dan kedudukan gelapan serta
kembaran.
Warna Interferensi

- polariser + analyser
- polariser + isotropic mineral + analyser
-

polariser + anisotropic mineral + analyser (position


perpendicular to the optic axis)

- polariser + anisotropic mineral + analyser. Specific position:


extinction position
- polariser + anisotropic mineral + analyser. General position:
interference colour

Gambar 2.2 Perbedaan warna dasar (kiri) dengan warna interferensi (kanan)

Tanda rentang optik


Tanda rentang optik adalah istilah untuk menunjukkan

hubungan

antara

sumbu

kristalografi

(terutama

arah

memanjangnya kristal) dengan sumbu sinar cepat (x) dan lambat


(z).
Tujuannya adalah menentukan sumbu sinar mana (x atau z)
yang kedudukannya berimpit atau dekat (menyudut lancip) dengan
sumbu panjang kristal. Dengan demikian, TRO hanya dimiliki oleh
mineral yang memiliki belahan satu arah atau arah memanjangnya
mineral (sumbu c). Jenis tanda rentang optik yaitu :
- Length slow (+) = sumbu c berimpit /menyudut lancip
dengan arah getar sinar lambat (sumbu z). Keadaan
ini dinamakan Addisi yaitu penambahan orde warna
interferensi pada saat kompensator digunakan.
- Length fast (-) = sumbu c berimpit/menyudut lancip
dengan arah getar sinar cepat (sumbu x). Keadaan ini
dinamakan Substraksi yaitu pengurangan orde warna
interferensi pada saat kompensator digunakan.

Penentuan

tanda

rentang

optik

dilakukan

dengan

pengamatan nikol bersilang dengan menggunakan kompensator


(keping gips/baji kuarsa). Cara menentukan orientasi optik dan
sudut gelapan antara lain :
- Letakkan mineral pada posisi sumbu panjang (c)
sejajar PP (vertikal)
- Putar meja objek sehingga pada terang max
- Catat warna interferensinya, orde
- Masukkan keping kompensator, perhatikan gejala
yang terjadi, addisi atau subtraksi
- Jika subtraksi = z kompensator tegak lurus z
indikatriks mineral, length fast, TRO negatif
- Jika addisi = z kompensator sejajar z indikatriks
mineral, length slow, TRO positif
- Putar meja ke kiri hingga gelap maks, pada
kedudukan ini z atau g sejajar atau tegaklurus PP,
catat kedudukan ini Ao
- Putar kembali meja objek hingga sumbu panjang
kristal sejajar PP, catat kedudukannya Bo
- Sudut gelapannya = A-B

Kembaran
Selama pertumbuhan kristal atau pada kondisi tekanan dan

temperatur tinggi, dua atau lebih kristal intergrown dapat terbentuk


secara simetri. Simetri intergrown inilah yang dikenal sebagai
kembaran.
Kembaran hanya dapat diamati pada nikol bersilang karena
kedudukan

kisi

pada

dua

lembar

kembaran

yang

berdampingan saling berlawanan, sehingga kedudukan gelapan


dan warna interferensi maksimalnya berlainan.

Secara genesa, kembaran dapat terbentuk dalam tiga


proses yang berbeda yaitu kembaran tumbuh, transformasi, dan
deformasi
1. Kembaran tumbuh/Growth Twins
Kembaran ini terbentuk bersamaan pada saat kristalisasi
atau pertumbuhan kristal, di mana dua unit kristal berbagi dan
tumbuh dari satu kisi yang sama dengan orientasi berlawananJenis
kembaran ini terbagi atas kembaran kontak dan kembaran
penetrasi. Contoh jenis kembaran ini adalah kembaran carlsbad
pada ortoklas dan kembaran albit pada plagioklas.

Gambar 2.3 Kembaran tumbuh

2. Kembaran transformasi
Kembaran ini dapat terjadi karena kristal mengalami
transformasi karena perubahan P dan T terutama karena
perubahan T. Hal ini hanya dapat terjadi pada kristal yang
mempunyai struktur dan simetri yang berbeda pada kondisi P dan T
yang berbeda. Pada saat P&T berubah, bagian tertentu dari kristal
ada yang stabil ada yang mengalami perubahan orientasi kisi,
sehingga terjadi perbedaan orientasi pada bagian berbeda dari
kristal. Contoh: kembaran dauphin dan kembaran brazil pada
kuarsa terbentuk karena penurunan T. Contoh lain adalah
kembaran periklin yang terjadi pada saat sanidin (monoklin, high T)
berubah menjadi mikroklin (triklin, low T).

Gambar 2.5 Kembaran transformasi

3. Kembaran Deformasi/Deformation Twins


Kembaran ini terjadi setelah kristalisasi, pada saat kristal
telah padat. Karena deformasi (perubahan P) atom pada kristal
dapat terdorong dari posisi semula. Apabila perubahan posisi ini
terjadi pada susunan yang simetri, akan menghasilkan kembaran.
Contoh kembaran jenis ini adalah polisintetik pada kalsit.

Gambar 2.6 Kembaran deformasi (kanan: kembaran polisintetik plagioklas)

Jenis-jenis kembaran :
Pada sistem monoklin:
Kembaran Manebach
Kembaran swallow tail
Kembaran Carlsbad penetrasi
Kembaran Baveno
Pada sistem triklinik:
Kembaran Albit
Kembaran Periklin
Pada sistem ortorombik:
Kembaran rotasi
Kembaran staurolit

Pada sistem heksagonal:


Kembaran Brasil
Kembaran
Kembaran Jepang
Pada sistem tetragonal:
Kembaran rotasi/putaran
Pada sistem isometrik:
kembaran spinel
kembaran besi

10

Gambar 2.6 Jenis-jenis kembaran (berurutan : Manebach, Albit, Rotasi)

Gelapan dan kedudukan gelapan

Pada pengamatan nikol bersilang, gelapan (keadaan di


mana mineral gelap maksimal) dapat terjadi karena tidak ada
cahaya yang diteruskan oleh analisator hingga mata pengamat.
Pada zat anisotropik syarat terjadinya gelapan adalah kedudukan
sumbu sinar berimpit dengan arah getar polarisator dan/atau
analisator. Sumbu sinar = sinar cepat (x) dan sinar lambat (z).
Sehingga dalam putaran 360 o akan ada empat kedudukan gelapan.
Sebaliknya

kedudukan

terang

maksimal

(warna

interferensi

maksimal) terjadi pada saat sumbu sinar membuat sudut 45o


terhadap arah getar PP dan AA.
-

Gelapan sejajar/paralel
Kedudukan gelapan di mana sumbu panjang kristal
(sumbu c) sejajar dengan arah getar PP dan/atau AA.
Sehingga dapat dikatakan sumbu optik berimpit dengan
sumbu kristalografi.

Gelapan miring
Kedudukan gelapan di mana sumbu panjang kristal
(sumbu c) menyudut terhadap arah getar PP dan/atau AA.
Sehingga dapat dikatakan sumbu optik menyudut terhadap
sumbu kristalografi

Gelapan bergelombang
Terjadi pada mineral yang mengalami tegangan/distorsi
sehingga

orientasi

sebagian

kisi

kristal

mengalami
11

perubahan berangsur, dan kedudukan gelapan masing2


bagian agak berbeda.
-

Gelapan bintik/mottled extinction


Umumnya terjadi pada mineral silikat berlapis (mika), hal
ini terjadi karena perubahan orientasi kisi kristal secara lokal,
sehingga tidak seluruh bagian kristal sumbu sinarnya
berorientasi sama.

Gambar 2.7 Macam kedudukan gelapan (berurutan kiri-kanan : sejajar, miring, bintik, dan bergelombang)

III. 5 Klasifikasi Batuan Beku IUGS


Menurut komposisi mineralnya. Pada semua jenis klasifikasi, batasbatas antara kelas telah ditentukan secara mutlak. International Union of
Geological Sciences (IUGS) sub-komisi tentang sistem batuan beku pada
tahun 1973 menyarankan penggunaan komposisi utama untuk seluruh
batuan beku dengan indeks warna kurang dari 90 (segitiga atas) dan
batuan ultrabasa dengan indeks warna lebih besar daripada 90 (segitiga
bawah).

12

Cara Pembacaan
Pengeplotan batuan pada diagram segitiga ini sangat muda,
tidak seperti kenampakannya. Ketiga komponen, Q (kuarsa)+A
(alkali (Na-K) feldspar)+P (plagioklas), sudah diset menjadi 100
persen. Setiap komponen diwakilkan oleh masing-masing sudut
pada segitiga sama sisi tersebut, dengan panjang sisi-sisinya
terbagi menjadi 100 bagian. Adapun masing-masing sudut memiliki
nilai 100 persen. Bila ada suatu titik di suatu sisi segitiga tersebut,
maka titik tersebut mewakili sebagian besar komposisi sisi tersebut
dan mengandung sebagian kecil sisi segitiga yang lain. Sebagi
13

contoh, batuan dengan 60% Q dan 40% A akan diplotkan di sisi QA


dan lokasinya 60% jauhnya dari A ke Q. Batuan yang mengandung
semua komponen akan diplotkan di tengah segitiga. Karena sisi
segitiganya dibagi menjadi 100 bagian, batuan yang memiliki 20% Q
dan 80% A+P akan diplot pada garis yang sejajar dengan sisi AP
dan 20% jarak ke Q dari sisi AP. Bila batuan yang sama memiliki
30% P dan 50% A, komposisi batuan akan diplotkan pada
perpotongan dari garis 20% Q yang telah dijelaskan di atas dengan
sebuah garis sejajar sisi QA dengan panjang 30% ke arah P dari sisi
QA.

Batuan dengan 25%Q, 35% P, dan 40% A diplotkan pada

daerah granitik, sebaliknya batuan dengan 25% Q, 60% P, dan 15%


A diplotkan di daerah granodiorit.

Gambar Cara Pembacaan Klasifikasi IUGS

Kelebihan dan Kelemahan


Dibandingkan klasifikasi batuan beku lain, klasifikasi IUGS
memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihannya yaitu
kemudahannya dalam penamaan batuan dengan melihat bentuknya
yang

simetris

dan

sistematikanya

yang

mudah

digunakan.

Sementara itu kekurangan dari klasifikasi ini adalah tentang


klasifikasi

batuan

granitik

telah

mendapat

kecaman

karena

memperluas makna dari granit dan merubah nama batuan yang


berlaku umum seperti monsonit kuarsa dan tolanit. Klasifikasi ini
14

kelihatannya mengorbankan pemakaian asli atau dibentuk untuk


suatu rencana klasifikasi yang lebih simetris. Kedua, Granit feldspar
seharusnya dimasukkan dalam daerah granit pada IUGS, dan
adamellite seharusnya dimasukkan ke daerah yang lain. Nama
"quartz monzonite" seharusnya tidak dipergunakan karena hanya
akan membingungkan klasifikasi batuan granit. Tonalite dan diorite
harusnya dibalik dalam skema IUGS karena arti asli dari batuan
yang sebelumnya mengindikasikan afinitas yang lebih pada diorite
dibanding granodiorite.

15

BAB III
LAPORAN RESMI

No Urut
:1
Kode
; D-1
Perbesaran : 4x
Granularitas: Vitrophyric
Kristalisasi : Holohialin
Komposisi Mineral:

Plagioklas: Colorles tapi agak keruh, relief rendah, kembaran

Carlsbad, WI abu2 terang orde I, TO sumbu 2 (-)


Hornblenda: Warna kehijauan/kecoklatan, relief tinggi, pleokroisme kuat
(dikroik/trikroik), belahan 1 arah atau 2 arah 120 o, bentuk prismatik

(biasanya memanjang), gelapan miring 12-30 o


Sanidin: relief sedang, colorless, kembaran Carlsbad.
Kuarsa: Colorless, relief rendah, bentuk tak beraturan, dalam batuan
umumnya anhedral, tidak punya belahan, gelapan bergelombang,

warna interferensi abu2 orde, TO sumbu I (+)


Klinopiroksen: Warna bening, abu-abu kecoklatan, prismatik,
sayatan//c belahan 1arah, sayatan tegak lurus c belahan 2 arah
90o, gelapan miring, augit 45-54o, TO (+) sb2

Kelimpahan Rata-rata:

Plagioklas: 13,36%
Hornblenda: 36,6%
Sanidin: 10%
Kuarsa: 10%
Klinopiroksen: 30%
Gambar

TIDAK ADA GAMBARNYA


Petrogenesa
16

Berdasarkan komposisi mineral berupa plagioklas, hornblende, sanidin,


kuarsa, dan klinopiroksen, maka batuan ini berasal dari pembekuan
magma intermediate. Berdasarkan teksturnya yang vitrophyric granular,
maka dapat ditentukan lokasi pembekuan magmanya yang membeku di
luar dengan cukup lama (sedang), karena mengandung gelas dan kristal.
Nama Batuan: Andesit Augit (IUGS)
No Urut
:2
Kode
: LS 85
Perbesaran : 4x
Granularitas: porphyritic
Kristalisasi : Holokristalin
Komposisi Mineral:

Plagioklas: Colorles tapi agak keruh, relief rendah, kembaran

Carlsbad, WI abu2 terang orde I, TO sumbu 2 (-)


Hornblenda: Warna kehijauan/kecoklatan, relief tinggi, pleokroisme kuat
(dikroik/trikroik), belahan 1 arah atau 2 arah 120 o, bentuk prismatik

(biasanya memanjang), gelapan miring 12-30 o


Opak: Hitam, tidak tembus cahaya
Klinopiroksen: Warna bening, abu-abu kecoklatan, prismatik,
sayatan//c belahan 1arah, sayatan tegak lurus c belahan 2 arah
90o, gelapan miring, augit 45-54o diopsid 37-44o, TO (+) sb2

Kelimpahan Rata-rata:

Plagioklas: 51,66%
Hornblenda: 16,66%
Opak: 10%
Klinopiroksen: 21,66%
Plagioklas

Gambar
Hornblenda

17

Klinopiroksen

Opak

Petrogenesa
Berdasarkan

komposisi

mineral

berupa

klinopiroksen,

plagioklas,

hornblenda, dan opak, maka batuan ini berasal dari pembekuan magma
basa yang berasal dari lempeng samudera. Berdasarkan teksturnya yang
porfiritik granular, maka batuan ini membeku di daerah hypabisal sebagai
intrusi minor berupa sill atau dike.
Nama Batuan: Leuquid-gabbro (IUGS)
No Urut
:3
Kode
: D-2
Perbesaran : 4x
Granularitas: porphyritic
Kristalisasi : Holokristalin
Komposisi Mineral:

Plagioklas: Colorles tapi agak keruh, relief rendah, kembaran

Carlsbad, WI abu2 terang orde I, TO sumbu 2 (-)


Hornblenda: Warna kehijauan/kecoklatan, relief tinggi, pleokroisme kuat
(dikroik/trikroik), belahan 1 arah atau 2 arah 120 o, bentuk prismatik

(biasanya memanjang), gelapan miring 12-30 o


Opak: Hitam, tidak tembus cahaya
Klinopiroksen: Warna bening, abu-abu kecoklatan, prismatik,
sayatan//c belahan 1arah, sayatan tegak lurus c belahan 2 arah
90o, gelapan miring, augit 45-54o diopsid 37-44o, TO (+) sb2
Kelimpahan Rata-rata:

Plagioklas: 11,6%
Hornblenda: 25%
Opak: 30%
Klinopiroksen: 33,3%

18

Hornblenda

Plagioklas

Gambar

Opak

Petrogenesa
Berdasarkan

komposisi

mineral

Klinopiroksen

berupa

klinopiroksen,

plagioklas,

hornblenda, dan opak, maka batuan ini berasal dari pembekuan magma
basa yang berasal dari lempeng samudera. Berdasarkan teksturnya yang
porfiritik granular, maka batuan ini membeku di daerah hypabisal sebagai
intrusi minor berupa sill atau dike.
Nama Batuan: Gabbro (IUGS)

BAB IV
PEMBAHASAN

IV.1 Sayatan D-1


Pada sayatan ini ditemukan adanya kenampakan tekstur vitrophyric
di

mana

kristal-kristalnya

lebih

besar

daripada

matriknya

yang

berkomposisi gelas, dengan kata lain fenokrisnya dibenamkan pada masa


dasar berkomposisi gelas. Karena ada massa kristal dan gelas, maka
derajad kristalisasi batuan ini dinamakan hipokristalin.
Adapun mineral penyusun batuan ini yaitu plagioklas, kuarsa,
hornblende, sanidine, dan klinopiroksen. Adapun sifat optic dari mineralmineral tersebut adalah:

19

Plagioklas: Colorles tapi agak keruh, relief rendah, kembaran

Carlsbad, WI abu2 terang orde I, TO sumbu 2 (-)


Hornblenda: Warna kehijauan/kecoklatan, relief tinggi, pleokroisme kuat
(dikroik/trikroik), belahan 1 arah atau 2 arah 120 o, bentuk prismatik

(biasanya memanjang), gelapan miring 12-30 o


Sanidin: relief sedang, colorless, kembaran Carlsbad.
Kuarsa: Colorless, relief rendah, bentuk tak beraturan, dalam batuan
umumnya anhedral, tidak punya belahan, gelapan bergelombang,

warna interferensi abu2 orde, TO sumbu I (+)


Klinopiroksen: Warna bening, abu-abu kecoklatan, prismatik,
sayatan//c belahan 1arah, sayatan tegak lurus c belahan 2 arah
90o, gelapan miring, augit 45-54o,TO (+) sb2
Berdasarkan komposisi mineral berupa plagioklas, hornblende,

sanidin, kuarsa, dan klinopiroksen, maka batuan ini berasal dari


pembekuan magma intermediate menuju asam yang membeku di luar.
Magma intermediate ini merupakan magma hasil percampuran magma
granitic dan basaltic, atau lempeng benua yang asam dengan lempeng
samudera yang basa. Namun dilihat dari komposisi mineral yang
kebanyakan mengandung mineral asam, maka dapat disimpulkan bahwa
batuan ini terbentuk oleh pembekuan magma yang intermediate menuju
asam.
Berdasarkan teksturnya yang vitrophyric granular, maka dapat
dipastikan bahwa batuan ini terbentuk akibat pembekuan magma effusive
di atas permukaan dengan waktu yang cukup lama. Menurut klasifikasi
IUGS, batuan ini dinamakan Andesit Augit.

IV.2 Sayatan D-2


Pada sayatan ini ditemukan adanya kenampakan tekstur porphyritic
di

mana

kristal-kristalnya

lebih

besar

daripada

matriknya

yang

berkomposisi kristal halus, dengan kata lain fenokrisnya dibenamkan pada


masa dasar berkomposisi kristal. Karena ada fenokirs dan masa dasar
kristal, maka derajad kristalisasi batuan ini dinamakan holokristalin.

20

Adapun mineral penyusun batuan ini yaitu klinopiroksen, plagioklas,


hornblenda, dan opak. Adapun sifat optic dari mineral-mineral tersebut
adalah:

Plagioklas: Colorles tapi agak keruh, relief rendah, kembaran

Carlsbad, WI abu2 terang orde I, TO sumbu 2 (-)


Hornblenda: Warna kehijauan/kecoklatan, relief tinggi, pleokroisme kuat
(dikroik/trikroik), belahan 1 arah atau 2 arah 120 o, bentuk prismatik

(biasanya memanjang), gelapan miring 12-30 o


Opak: Hitam, tidak tembus cahaya
Klinopiroksen: Warna bening, abu-abu kecoklatan, prismatik,
sayatan//c belahan 1arah, sayatan tegak lurus c belahan 2 arah
90o, gelapan miring, augit 45-54o diopsid 37-44o, TO (+) sb2
Berdasarkan komposisi mineral berupa klinopiroksen, plagioklas,
hornblenda, dan opak, maka batuan ini berasal dari pembekuan magma
basa yang berasal dari lempeng samudera. Berdasarkan teksturnya yang
porfiritik granular, maka batuan ini membeku di daerah hypabisal sebagai
intrusi minor berupa sill atau dike. Karena membeku di daerah ini, maka
jangka waktu pembekuan lebih lama daripada yang bertekstur vitrophyric
seperti pada sayatan 1. Hal ini disebabkan karena tidak ada kontak
dengan udara namun masih tetap mendapatkan oksigen karena membeku
pada batuan dekat permukaan, berbeda dengan bila membeku jauh di
bawah permukaan (plutonik). Sebagi tambahan, sill dan dike tidak hanya
terjadi pada intrusi batuan asam dan intermediate saja, namun pada
magma basa, hal itu dapat terjadi dan tergantung dapur magma dan
tekanannya. Menurut klasifikasi IUGS, batuan ini dinamakan Leuqoidgrabbro.
IV.3 Sayatan LS85
Pada sayatan ini ditemukan adanya kenampakan tekstur porphyritic
di

mana

kristal-kristalnya

lebih

besar

daripada

matriknya

yang

berkomposisi kristal halus, dengan kata lain fenokrisnya dibenamkan pada

21

masa dasar berkomposisi kristal. Karena ada fenokirs dan masa dasar
kristal, maka derajad kristalisasi batuan ini dinamakan holokristalin.
Adapun mineral penyusun batuan ini yaitu klinopiroksen, plagioklas,
hornblenda, dan opak. Adapun sifat optic dari mineral-mineral tersebut
adalah:

Plagioklas: Colorles tapi agak keruh, relief rendah, kembaran

Carlsbad, WI abu2 terang orde I, TO sumbu 2 (-)


Hornblenda: Warna kehijauan/kecoklatan, relief tinggi, pleokroisme kuat
(dikroik/trikroik), belahan 1 arah atau 2 arah 120 o, bentuk prismatik

(biasanya memanjang), gelapan miring 12-30 o


Opak: Hitam, tidak tembus cahaya
Klinopiroksen: Warna bening, abu-abu kecoklatan, prismatik,
sayatan//c belahan 1arah, sayatan tegak lurus c belahan 2 arah
90o, gelapan miring, augit 45-54o diopsid 37-44o, TO (+) sb2
Berdasarkan komposisi mineral berupa klinopiroksen, plagioklas,
hornblenda, dan opak, maka batuan ini berasal dari pembekuan magma
basa yang berasal dari lempeng samudera. Berdasarkan teksturnya yang
porfiritik granular, maka batuan ini membeku di daerah hypabisal sebagai
intrusi minor berupa sill atau dike. Karena membeku di daerah ini, maka
jangka waktu pembekuan lebih lama daripada yang bertekstur vitrophyric
seperti pada sayatan 1. Hal ini disebabkan karena tidak ada kontak
dengan udara namun masih tetap mendapatkan oksigen karena membeku
pada batuan dekat permukaan, berbeda dengan bila membeku jauh di
bawah permukaan (plutonik). Sebagi tambahan, sill dan dike tidak hanya
terjadi pada intrusi batuan asam dan intermediate saja, namun pada
magma basa, hal itu dapat terjadi dan tergantung dapur magma dan
tekanannya. Menurut klasifikasi IUGS, batuan ini dinamakan Grabbro.

22

BAB V
KESIMPULAN

Dalam praktikum Petrografi acara batuan beku ini, hasil dari


praktikum adalah:
a.

Batuan beku merupakan batuan yang terbentuk dari proses


pembekuan magma baik di bawah permukaan bumi maupun di atas
permukaan bumi.

b.

Sayatan batuan nomor D-1 memiliki tekstur vitrophyric


granular, dengan derajad granularitas hipokristalin, dan memiliki
kelimpahan mineral plagioklas 13,3%, hornblende 13,36%, sanidin
10%, kuarsa 10%, dan klinopiroksen 20%. Menurut klasifikasi IUGS,
batuan ini dinamakan Andesit Augit.

c.

Sayatan batuan nomor LS85 memiliki tekstur porphyritic


granular, dengan derajad granularitas holokristalin, dan memiliki

23

kelimpahan mineral plagioklas 51,66%, opak 10%, hornblende


16,66%, dan klinopiroksen 21,66%. Menurut klasifikasi IUGS,
batuan ini dinamakan Leuqoid-gabbro.
d.

Sayatan batuan nomor D-2 memiliki tekstur porphyritic


granular, dengan derajad granularitas holokristalin, dan memiliki
kelimpahan mineral plagioklas 11,6%, opak 30%, hornblende 25%,
dan klinopiroksen 33,3%. Menurut klasifikasi IUGS, batuan ini
dinamakan Gabbro.

e.

Dengan mengetahui komposisi mineralnya, kita dapat


mengetahui jenis magma dan asal magmanya.

f.

Dengan mengetahui tekstur batuannya, maka kita dapat


mengetahui genesa dan jenis batuannya.

DAFTAR PUSTAKA

Endarto, Danang. 2004. Pengantar Geologi Dasar. Surakarta: Lembaga


Pengembangan Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
Gilluly, James., Aaron C. Waters, A. O. Woodford. 1968. Principles of
Geology, 3rd Edition. San Francisco and London: W.H. Freeman
dan Company
Rachwibowo, Prakosa. 2007. Buku Ajar Geologi Dasar. Semarang
Tim

Asisten

Petrologi.

2007.

Pengantar

Praktikum

Petrologi.Semarang:Undip

24

Turner, F. J., Ian S.E.C., John Verhoogen. 1974. Igneous Petrology. New
York: Mc. Graw Hill Book Co.

LAMPIRAN

25

BATUAN BEKU PLUTONIK

26

BATUAN BEKU MAFIK

27

BOWEN REACTION SERIES

28

BATUAN
BEKU BASA

29

BATUAN BEKU
PLUTONIK MAFIC

30

BATUAN

VOLKANIK

(IUGS)

31

32

33