Anda di halaman 1dari 142

STUDI PENENTUAN PRIORITAS PENINGKATAN RUAS JALAN

(STUDI KASUS: RUAS JALAN PROVINSI DI KABUPATEN


SAMOSIR)

TESIS

Oleh
IRWAN SURANTA SEMBIRING
057016008/TS

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

STUDI PENENTUAN PRIORITAS PENINGKATAN RUAS JALAN


(STUDI KASUS: RUAS JALAN PROVINSI DI KABUPATEN
SAMOSIR)

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik


dalam Program Studi Magister Teknik Sipil
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh
IRWAN SURANTA SEMBIRING
057016008/TS

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Judul Tesis

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

: STUDI PENENTUAN PRIORITAS PENINGKATAN


RUAS JALAN (STUDI KASUS: RUAS JALAN
PROVINSI DI KABUPATEN SAMOSIR)
: Irwan Suranta Sembiring
: 057016008
: Teknik Sipil

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Dr. Ir. A. Perwira Mulia Tarigan, M.Sc)


Ketua

Ketua Program Studi,

(Dr. Ir. Roesyanto, MSCE)

(Ir. Medis Sejahtera Surbakti, MT)


Anggota

Direktur

(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc)

Tanggal lulus : 20 September 2008

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Telah diuji pada


Tanggal 20 September 2008

PANITIA PENGUJI TESIS


Ketua

: Dr. Ir. A. Perwira Mulia Tarigan, M.Sc

Anggota

: 1. Ir. Medis Sejahtera Surbakti, MT


2. Dr. Ir. Roesyanto, MSCE
3. Ir. Zulkarnain A. Muis, M.Eng, Sc
4. Ir. Syahrizal, MT
5. Ir. Rudi Iskandar, MT

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

ABSTRAK
Kabupaten Samosir merupakan kabupaten yang baru dimekarkan dari
Kabupaten Toba Samosir sesuai dengan UU RI Nomor 36 Tahun 2003. Terbentuknya
Samosir sebagai kabupaten baru merupakan langkah awal untuk memulai percepatan
pembangunan jalan yang sesuai konsep RTRW Provinsi Sumatera Utara dalam
pengembangan ruang yang mengarah pada pengembangan pariwisata dan
meningkatkan sentra-sentra produksi dimana disadari bahwa jalan merupakan sarana
vital yang perlu dijaga dan ditingkatkan fungsinya untuk memperlancar arus
transportasi darat
Tujuan dari studi ini adalah menentukan prioritas dalam peningkatan ruas
jalan berdasarkan kriteria teknis sebagai dasar menentukan kebijakan peningkatan
ruas jalan di Kabupaten Samosir. Penelitian dilaksanakan dengan meninjau kondisi
geometrik jalan, arus lalulintas, hambatan samping, perekonomian, PDRB serta
literatur terdahulu yang digunakan untuk menentukan kriteria dalam analisis. Kriteria
yang dipakai adalah kriteria kecepatan, volume capacity ratio (VCR), bangkitan
tarikan dan kepadatan penduduk. Hasil analisis ini kemudian dipakai menjadi dasar
dalam pemakaian metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan membagikan
kuesioner kepada pihak Bappeda Tk II Samosir dan PU agar dapat direkomendasikan
prioritas peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir.
Dari hasil analisa nilai cut off dalam penskoran kriteria diatas, kepadatan
penduduk dapat diabaikan. Kemudian dengan metode AHP, bobot masing-masing
kriteria yang dipakai diurut sebagai berikut: kecepatan, VCR, serta bangkitan tarikan.
Urutan kriteria yang mempunyai bobot yang paling besar dalam pengembangan
jaringan jalan adalah kecepatan (59,5%), VCR (27,6%), dan bangkitan tarikan
(12,8%). Kriteria tersebut diaplikasisikan kepada 9 ruas jalan pilihan yang merupakan
jalan lingkar Kabupaten Samosir.
Hasil analisa AHP dengan bobot kriteria di atas memberikan urutan prioritas
ruas jalan dalam peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir sebagai berikut:
1)Simanindo-Onan Runggu, 2)Onan Runggu Nainggolan, 3)Harian Sitiotio,
4)Nainggolan Palipi, 5)Pangururan Sianjur Mulamula, 6)Pangururan
Simanindo, 7)Palipi Pangururan dan 8)Pangururan - Ronggur Nihuta, 9)HarianPangururan. Ruas jalan Simanindo Onan Runggu duduk di peringkat pertama
karena kondisinya sangat parah padahal ruas tersebut sangat penting perannya dalam
dua hal berikut. Pertama untuk menyambung jalan melingkar sepanjang pantai Pulau
Samosir dan kedua untuk mengembangkan potensi yang ada di Kecamatan Onan
Runggu. Sedangkan ruas jalan Harian-Pangururan di urutan terakhir karena ruas jalan
tersebut melalui daerah yang bertebing curam, sehingga sangat sulit untuk dilakukan
peningkatan ruas jalan.
Kata kunci : prioritas, analytic hierarchy process (AHP), peningkatan ruas jalan.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

ABSTRACT

Samosir Regency is a decentralization of Toba Samosir Regency according to


the constitution of Republic Indonesia No. 36/2003. The forming of Samosir as a
new regency is an initial step to encourage the acceleration of road development
under the RTRW concept of North Sumatra in space development instructing at
tourism development and improve the production by awareness and recognition
that road is a vital facility needs to be maintained and improved to facilitate the
land transportation.
The objective of this study is determine the priority in road improvment
based on technical criterion for determination of road improvement policy in
Samosir Regency. The research is carried out by assessing the geometrical
condition of road, traffic flow, side obstacle, economic, GRDP and pre existing
literatures used to determine criterion in analysis. The criterion used include speed,
volume capacity ratio (VCR), awaken attraction and population density. The result
of analysis will used as base in Analytical Hierarchy Process Method (AHP) by
distributing the question form to Bappeda Level II of Samosir Regency and Public
Work for recomending the priority of road improvement in Samosir Regency.
From the result of cut off value, the population density can be ignored. And
then through AHP method, the weight of each criterion is made in the following
rank: speed, VCR, and awaken attraction. The largest weight of criteria rank in
development of road line is speed (59.5%), VCR (27,6%), and pull arouse
(12.8%). The criteria have been applied to nine selected road lines as circle road in
Samosir Regency.
The result of AHP analysis with weight criteria above indicates the priority
rank of road line in improvement of road line in Samosir Regency, as follows: 1)
Simanindo-Onan Runggu, 2) Onan Runggu-Nainggolan, 3) Harian Sitiotio,
4)Nainggolan Palipi, 5)Pangururan Sianjur Mulamula, 6)Pangururan
Simanindo, 7)Palipi Pangururan dan 8)Pangururan - Ronggur Nihuta, 9)HarianPangururan. The Simanindo-Onan Runggu road possition on first rank because it
is bad condition, in the same time the road is very important role in the following
two function. First, to connect the circle road along Samosir island coast, and
second to develop the existing potencies in subdistrict of Onan Runggu. However,
the road line of Harian-Pangururan possition in last rank because the road is
passing through steep fields, thus it is very difficult to improve the road line.
Keywords : priority, analytical hierarchy process (AHP), road improvement

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
kasih karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan Tesis dengan judul Studi Penentuan
Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus: Pada Jalan Propinsi di Kabupaten
Samosir) dengan baik dan lancar. Adapun maksud penulisan tesis ini adalah sebagai
salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Teknik
Sipil, Bidang Manajemen Prasarana Publik, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak baik dalam pencarian data ataupun penyusunannya. Oleh karena itu,
dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Roesyanto, MSCE selaku Ketua Program Studi Magister Teknik
Sipil Universitas Sumatera Utara, juga selaku Penguji yang telah memberikan
masukan, arahan dan motivasi yang berguna dalam penyempurnaan tesis ini.
2. Bapak Ir. Zulkarnain A. Muis, M.Eng, Sc, Bapak Ir. Syahrizal, MT dan Bapak Ir.
Rudi Iskandar, MT selaku Dosen Pembahas dan Penguji yang telah memberikan
masukan dan saran demi penyempurnaan tesis ini
3. Dr. Ir. A. Perwira Mulia Tarigan, M.Sc, Alm. Ir. Kumpul Sembiring, M. Eng dan
Ir. Medis Sejahtera Surbakti, MT selaku Pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan, petunjuk, motivasi dan saran yang berguna dalam
penyempurnaan tesis ini.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

4. Kedua orang tuaku (Alm) Ir. A. M. Sembiring dan Rosalina Ginting, istriku
terkasih dr. Lora Desika Kaban dan anakku tersayang Claudia Priscilia
Sembiring yang terus berdoa dan memberikan dorongan hingga Tesis ini selesai
5. Para Dosen Program Studi Magister Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara
yang telah memberikan bekal ilmu selama masa perkuliahan.
6. Rekan-rekan mahasiswa Program Magister Teknik Sipil, Bidang Manajemen
Prasarana Publik khususnya Angakatan 2005 yang selalu memberi dorongan dan
bantuan dalam penyelesaian tesis ini.
7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu penulis dalam penyelesaian tesis ini.

Semoga bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapakan imbalan


yang layak dari Tuhan Yang Maha Esa. Akhir kata, penulis menyadari bahwa tesis ini
masih jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritik yang bersifat membangun
sangat diharapkan demi kesempurnaan tesis ini. Semoga tesis ini dapat memberikan
manfaat bagi yang membutuhkan.

Medan,

September 2008

Penulis,

Irwan Suranta Sembiring

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ..............................................................................................................

ABSTRACT .............................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................

DAFTAR TABEL .................................................................................................. ix


DAFTAR GAMBAR.............................................................................................. xi
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................ xii
DAFTAR NOTASI ................................................................................................ xiii
BAB I

PENDAHULUAN ....................................................................................

1.1 Latar belakang ..................................................................................

1.2 Maksud dan Tujuan ..........................................................................

1.3 Ruang lingkup ...................................................................................

1.3.1 Ruang lingkup wilayah ...........................................................

1.3.2 Ruang lingkup materi .............................................................

1.4 Sistematika Penulisan ........................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................

2.1 Prioritas ............................................................................................

2.2 Kriteria dalam penentuan prioritas .................................................. 11


2.3 Analytic Hierarchy Process (AHP) ................................................. 15
2.3.1 Dekomposisi masalah ............................................................. 16

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

2.3.2 Penilaian/Perbandingan Elemen ............................................. 17


2.3.3 Sintetis Penilaian..................................................................... 20
2.4 Analisis kebutuhan peningkatan ruas jalan....................................... 22
2.4.1 Analisis kebutuhan pergerakan ............................................... 22
2.4.2 Analisis kinerja ruas jalan ....................................................... 23
2.4.2.1 Volume Capacity Ratio (VCR).................................. 24
2.4.2.2 Kecepatan pergerakan rata-rata ................................ 26
2.4.2.3 Tingkat pelayanan..................................................... 29
2.4.3 Model Bangkitan Pergerakan ................................................. 35
2.5 Kriteria umum peningkatan ruas jalan ............................................. 36
2.6 Standar Jaringan Jalan...................................................................... 38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN............................................................. 41
3.1 Jenis Penelitian ................................................................................ 41
3.2 Pendekatan studi .............................................................................. 41
3.3 Tempat dan waktu penelitian ........................................................... 42
3.4 Rancangan penelitian........................................................................ 42
3.5 Teknik pengumpulan data ................................................................ 45
3.5.1 Alat penelitian ......................................................................... 45
3.5.2 Teknik pelaksanaan ................................................................ 45
3.6 Populasi ............................................................................................ 46
3.7 Teknik analisa data ........................................................................... 48

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI .......................................... 49


4.1 Umum ............................................................................................... 49
4.2 Geografi ............................................................................................ 49
4.3 Luas wilayah..................................................................................... 52
4.4 Penduduk .......................................................................................... 53
4.5 Pemerintahan .................................................................................... 55
4.6 Transportasi ...................................................................................... 56
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN............................................................ 60
5.1 Pemilihan Kriteria Analisa ............................................................... 60
5.2 Kondisi jalan .................................................................................... 62
5.2.1 Kondisi ruas jalan

................................................................ 62

5.2.2 Volume lalulintas rata-rata .................................................. 64


5.2.3 Analisis VCR

...................................................................... 66

5.3 Kecepatan Rata-rata ........................................................................ 68


5.3.1 Data waktu tempuh kendaraan ............................................... 68
5.3.2 Analisis kecepatan .................................................................. 72
5.4 Model bangkitan pergerakan ........................................................... 77
5.4.1 Data bangkitan dan tarikan ..................................................... 77
5.4.2 Data struktur ekonomi............................................................. 77
5.4.3 Analisis bangkitan dan tarikan ............................................... 79
5.4.3.1 Penentuan sistem zona .............................................. 79
5.4.3.2 Analisa Bangkitan Pergerakan................................... 80

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

5.5 Analisis Prioritas Pengembangan Ruas Jalan .................................. 86


BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 99
6.1 Kesimpulan ..................................................................................... 99
6.2 Saran ................................................................................................ 101
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 102

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

DAFTAR TABEL
Nomor

Judul

Halaman

2.1

Skala matriks perbandingan berpasangan.................................................... 18

2.2

Perbandingan antar kriteria........................................................................... 19

2.3

Perbandingan antar pilihan untuk kriteria C1................................................20

2.4

Sintesa Penilaian.......................................................................................... 21

2.5

Nilai VCR pada berbagai kondisi................................................................. 25

2.6

Tingkat Pelayanan dan karakteristik operasi untuk jalan arteri primer

4.1

Letak geografis menurut kecamatan .............................................................

........

50
4.2

Jarak dari kota kecamatan ke ibukota Kabupaten Samosir ..........................51

4.3

Luas wilayah, rasio luas dan jumlah desa menurut kecamatan.................... 52

4.4

Jumlah penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin .............................


54

4.5

Luas wilayah, jumlah kk, penduduk dan kepadatan penduduk menurut


Kecamatan.....................................................................................................55

4.6

Jumlah desa/kelurahan menurut kecamatan..................................................56

4.7

Panjang jalan kabupaten menurut kecamatan .............................................. 58

4.8

Jumlah kunjungan kapal, penumpang dan barang pada angkutan danau


menurut dermaga.......................................................................................... 59

5.1

Seleksi Kriteria..............................................................................................61

5.2

Kondisi ruas jalan di Kabupaten Samosir.................................................... 63

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

33

5.3

Volume lalulintas rata-rata di Kabupaten Samosir....................................... 66

5.4

Hasil analisis VCR pada ruas jalan di Kabupaten Samosir.......................... 68

5.5

Kecepatan rata-rata pada ruas jalan di Kabupaten Samosir......................... 76

5.6

Kode zona wilayah studi berdasarkan kecamatan.........................................79

5.7

PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dari kecamatan di


Kabupaten Samosir...................................................................................... 82

5.8

Hasil analisa terhadap bangkitan penumpang dan bangkitan barang .......... 84

5.9

Hasil analisa terhadap tarikan penumpang dan bangkitan barang................ 85

5.10

Matriks perbandingan dari semua analisa......................................................


88

5.11

Nilai RI menurut jumlah unsur dalam mariks...............................................90

5.12

Matriks hubungan metode-metode pembenahan lalulintas dengan


ketiga aspek................................................................................................. 97

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

2.1

Dekomposisi masalah................................................................................. 16

2.2

Tingkat pelayanan tergantung arus............................................................. 34

2.3

Hubungan antara nisbah waktu perjalanan (kondisi aktual/arus bebas)


dengan nisbah (volume/kapasitas).............................................................. 35

3.1

Bagan alir penelitian.................................................................................... 44

4.1

Peta kecamatan di Kabupaten Samosir...................................................... 53

5.1

Peta jalur masuk dan keluar di Kabupaten Samosir.................................... 65

5.2

Diagram struktur ekonomi di Kabupaten Samosir..................................... 78

5.3

Persentase distribusi PDRB atas harga berlaku di Kabupaten Samosir

5.4

Skema hirarki untuk Analisis Prioritas Peningkatan Ruas Jalan di


Kabupaten Samosir....................................................................................... 87

......

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

81

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

Halaman

Peta Wilayah Studi...................................................................................

105

Formulir IR-1 Data Masukan MKJI (Data umum dan Geometrik


Jalan).......................................................................................................... 106

Formulir IR-2 Data masukan MKJI (Arus Lalulintas dan Hambatan


Samping)...................................................................................................

115

Analisa Kecepatan dan VCR (MKJI)......................................................... 124

Foto Kondisi Ruas Jalan Wilayah Studi..................................................... 125

Formulir Kuesioner...................................................................................

Hasil Kuesioner.......................................................................................... 146

130

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

DAFTAR NOTASI

maks

= principal eigen value maksimum

bopi

= nilai/ bobot untuk pilihan ke i

= Kapasitas jalan

C0

= Kapasitas dasar

CI

= Consistency index

CR

= Consistency Ratio

= jarak (km)

FCW

= Faktor penyesuaian lebar jalan lalulintas

FCSP

= Faktor penyesuaian pemisah arah

FCSF

= Faktor penyesuaian hambatan samping

LQ

= Location Quotient

Ni

= Nilai produksi kegiatan di sub wilayah

= Nilai produksi kegiatan wilayah

RI

= Random Index

= Nilai produksi kegiatan ekonomi di wilayah

Si

= Nilai produksi kegiatan ekonomi i di Sub Wilayah

= waktu untuk melintasi (detik)


= Time mean speed tiap kendaraan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Ui

= spot speed tiap kendaraan yang diamat

= kecepatan (km/jam)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Wilayah Provinsi Sumatera Utara, sebagaimana halnya dengan wilayah lain di
Indonesia memiliki permasalahan yang hampir sama yaitu pengembangan yang tidak
merata di setiap daerahnya. Kesenjangan wilayah (regional disparity) antar wilayah
di Sumatera Utara sangat terasa, baik dari aktivitas perekonomian, penyediaan
infrastruktur, penyebaran penduduk maupun tingkat kesejahteraan masyarakat.
Kabupaten Samosir adalah kabupaten yang baru dimekarkan dari Kabupaten
Toba Samosir sesuai dengan UU RI Nomor 36 Tahun 2003 pada tanggal 18
Desember 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang
Bedagai. Terbentuknya Samosir sebagai kabupaten baru merupakan langkah awal
untuk memulai percepatan pembangunan menuju masyarakat yang lebih sejahtera.
Pemekaran wilayah merupakan salah satu perwujudan sistem pemerintahan
desentralisasi yang memberikan otonomi yang setingkat kepada masing-masing
daerah yang dimekarkan. Sejalan dengan pemberian otonomi tersebut, pemerintah
daerah bertanggungjawab memikul kewenangan serta kewajiban yang lebih besar
dalam pengelolaan pemerintah dan aspek-aspek pembangunan daerah maupun
pembinaan sosial kemasyarakatan (Sihaloho, 2007). Salah satu usaha untuk
mengembangkan wilayah Kabupaten Samosir adalah dengan menyediakan Impuls

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

infrastruktur transportasi sebagai entry point yang paling baik bagi tumbuhnya
kegiatan ekonomi di wilayah ini.
Menurut Nadjid, Tamin, Sjafruddin, dan Santoso (2005), pengembangan
infrastruktur jalan yang disusun oleh pemerintah pada saat ini berdasarkan tingkat
pelayanan jalan. Peningkatan jalan dilakukan berdasarkan tingkat pelayanan rendah
dengan kebuntuan lalulintas. Hal ini berdasarkan atas prinsip persediaan pelayanan
dilakukan atas permintaan atau yang dikenal dengan

ship follow the trade.

Konsekuensi dari pendekatan ini adalah aksesibilitas dari daerah pusat menjadi baik
dan daerah lainnya yang mempunyai aksesibilitas rendah menjadi buruk. Untuk itu
perlu dilakukan suatu pendekatan dimana pelayanan bukan hanya berdasarkan pada
permintaan atau yang dikenal dengan trade follow the ship.
Dengan pendekatan ini diharapkan pengembangan wilayah Kabupaten
Samosir menjadi lebih baik, dan diharapkan percepatan pertumbuhan ekonomi segera
terjadi di seluruh wilayah. Selanjutnya, dalam konteks integrasi pembangunan di
wilayah Provinsi Sumatera Utara, maka pengembangan transportasi di Kabupaten
Samosir harus terpadu dengan rencana pengembangan di wilayah Provinsi Sumatera
Utara secara keseluruhan dalam RTRW Provinsi Sumatera Utara 2001 2016. Bagi
pembangunan Kabupaten Samosir, strategi pengembangan wilayah dilakukan melalui
pengembangan jalan sebagai pendorongnya yang harus dikembangkan dalam konsep
pengembangan kewilayahan.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Utara,
Kabupaten Samosir masuk dalam wilayah kerja pembangunan dengan kegiatan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

utamanya adalah pariwisata, pertanian, pertambangan, kehutanan dan pendidikan.


Terhadap kondisi pusat-pusat kegiatan yang tersebar harus diberikan akses sehingga
produk yang ada (pertanian, pertambangan dan kehutanan) dapat didistribusikan ke
daerah lain secara lancar.
Nejad, Badkoo, Monajjem (2003) mengatakan bahwa pembuatan dan
peningkatan jaringan jalan merupakan salah satu dari pilihan terbaik untuk
mengurangi biaya transportasi dan meningkatkan efisiensi manajemen ke seluruh
daerah. Berdasarkan hal ini maka Kabupaten Samosir membutuhkan peningkatan
jaringan jalan dalam mengembangkan wilayahnya karena jalan merupakan sarana
vital yang perlu dijaga dan ditingkatkan fungsinya untuk memperlancar arus
transportasi darat.
Ada 9 ruas jalan yang sangat berpengaruh pada jaringan jalan di Kabupaten
Samosir dimana ruas jalan ini merupakan jalan propinsi yang juga penghubung antar
kecamatan dan ruas jalan yang melingkari seluruh daerah di Kabupaten Samosir
dimana kondisi ruas jalan ini rata-rata buruk. Ruas jalan itu adalah ruas jalan
Pangururan-Simanindo,
Nainggolan-Palipi,

Simanindo-Onan

Palipi-Pangururan,

Runggu,

Onan

Runggu-Nainggolan,

Harian-Pangururan,

Harian-Sitiotio,

Pangururan-Ronggur Nihuta, Pangururan-Sianjur Mulamula. Dalam hal ini perlu


ditetapkan mana yang menjadi prioritas dalam peningkatan jaringan jalan berdasarkan
kriteria yang berpengaruh.
Dasar pemikiran yang melandasi dilakukannya studi terhadap peningkatan ruas
jalan di wilayah Kabupaten Samosir adalah :

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

1. Adanya ketimpangan perkembangan daerah di Kabupaten Samosir yang


terindentifikasi melalui:
a. Konsentrasi kegiatan ekonomi produktif
b. Konsentrasi penduduk
c. Ketersediaan infrastruktur khusus jaringan jalan
d. Ketersediaan fasilitas pelayanan skala regional
2. Adanya upaya membangun wilayah Kabupaten Samosir melalui kebijakan
dan pengembangan kegiatan ekonomi produktif yaitu kegiatan ekonomi yang
memanfaatkan potensi dari Kabupaten Samosir;
3. Adanya upaya peningkatan ruas jalan untuk mempercepat pengembangan
ekonomi di wilayah Kabupatan Samosir dalam rangka mempermudah dan
mempercepat koleksi-distribusi antar simpul-simpul kegiatan khususnya
antara sentra-sentra produksi dengan pasar yang terkait

Untuk itu perlu dilakukan suatu studi peningkatan ruas jalan di Kabupaten
Samosir yang berisikan kajian-kajian teknis berdasarkan dasar pemikiran di atas.
Najid, Tamin, Sjafruddin, dan Santoso (2005) mengatakan bahwa dalam
pengembangan jaringan jalan diperlukan keputusan yang tepat berdasarkan suatu
kriteria peningkatan ruas jalan yang bukan hanya dari segi level of service tetapi juga
dari kriteria lain seperti tingkat derajat kejenuhan (DS) atau volume capacity ratio
(VCR), bangkitan tarikan, aksesibilitas yang dapat ditinjau dari segi kecepatan dan
kepadatan penduduk.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

1.2 Maksud dan Tujuan


Kegiatan studi dimaksudkan untuk menyiapkan kerangka teknis bagi perencanaan
sistem transportasi di Kabupaten Samosir yang meliputi peningkatan ruas jalan
yang sesuai konsep RTRW Provinsi Sumatera Utara dalam pengembangan ruang
yang mengarah pemerataan pembangunan antar daerah.
Adapun tujuan dari studi ini adalah menentukan prioritas dalam peningkatan
ruas jalan berdasarkan kriteria teknis sebagai dasar menentukan kebijakan
peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir.

1.3 Ruang Lingkup


1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah studi peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir
adalah Kabupaten Samosir dimana ruas jalan yang diteliti adalah ruas jalan propinsi
yang mengelilingi Kabupaten Samosir dan juga sebagai jalan strategis di Kabupaten
Samosir.
Ruas jalan tersebut yaitu:
a. Ruas jalan Pangururan Simanindo
b. Ruas jalan Simanindo Onan Runggu
c. Ruas jalan Onan Runggu Nainggolan
d. Ruas jalan Nainggolan Palipi
e. Ruas jalan Palipi Pangururan
f. Ruas jalan Harian Pangururan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

g. Ruas jalan Harian Sitio-tio


h. Ruas jalan Pangururan Ronggur Nihuta
i.

Ruas jalan Pangururan Sianjur Mula-mula

1.3.2 Ruang Lingkup Materi


Untuk tercapainya maksud dan tujuan studi, dibutuhkan beberapa ruang
lingkup materi kegiatan dan analisis sebagai berikut :
a. Tinjauan, telaah terhadap RTRW Provinsi Sumatera Utara dan RTRW
Kabupaten Samosir khususnya yang terkait dengan rencana pengembangan
ekonomi wilayah dan sistem transportasi jalan.
b. Pengumpulan data primer dan sekunder serta studi-studi terdahulu yang
terkait dengan rencana peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir
c. Analisis kebutuhan transportasi yang merupakan kebutuhan perpindahan
orang dan barang menurut asal/tujuan perjalanan dalam jaringan transportasi
yang ada.
d. Analisis kapasitas lalulintas yang merupakan volume lalulintas dikaitkan
dengan jenis, ukuran, daya angkut dan kecepatan.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

e. Analisis penentuan prioritas peningkatan ruas jalan dengan menggunakan


AHP (Analytic Hierarchy Process) berdasarkan kriteria peningkatan ruas
jalan.
.
1.4 Sistematika Penulisan
Rancangan sistematika penulisan secara keseluruhan pada penelitian ini terdiri dari
6 bab, yang mana uraian masing-masing bab adalah sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN, dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang

permasalahan yang diambil sebagai tema penelitian, pokok permasalahan yang ada
di lapangan, maksud dan tujuan, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan
laporan penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, dalam bab ini mencakup segala hal yang dapat
dijadikan sebagai dasar bagi pengambilan tema penelitian, penentuan langkah
pelaksanaan dan metode penganalisaan yang diambil dari beberapa pustaka yang
ada yang memiliki tema sesuai dengan tema penelitian ini. Di dalam bab II juga
dicantumkan beberapa penelitian serupa dengan penelitian ini yang telah dilakukan
sebelumnya untuk melihat perbandingan tujuan, metode dan hasil analisa yang ada.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN, dalam bab ini diuraikan pola pikir
penelitian, data yang dibutuhkan, langkah-langkah cara pengambilan data di
lapangan, serta metode penyajian dan analisa data yang akan dipakai untuk
mengolah data yang nantinya didapatkan.
BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI, dalam bab ini disajikan
mengenai kondisi dan gambaran wilayah studi, data-data yang diperoleh mengenai
wilayah studi. Penyajian data umumnya berupa tabulasi hingga bersifat mudah
dibaca. Dari hasil penyajian ini dapat diketahui kondisi wilayah studi sehingga
dapat diketahui kondisi dan gambaran umum mengenai wilayah studi.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN, dalam bab ini akan disajikan datadata yang diperoleh dalam pelaksanaan survei lapangan dan sekaligus uraian
pembahasan untuk menjawab tujuan penelitian ini. Penyajian data umumnya berupa
tabulasi hingga bersifat mudah dibaca dan aplikatif terhadap metode analisa yang
dipakai, kemudian dilakukan proses analisa berdasarkan data-data eksisting yang
didapat dari penelitian di lapangan. Hasil analisa ini selanjutnya dibahas secara rinci
untuk memudahkan penarikan kesimpulan hasil penelitian.
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI, bab ini merupakan kumpulan
dari butir-butir kesimpulan hasil analisa dan pembahasan penelitian yang telah
dilakukan. Kesimpulan juga disertai dengan rekomendasi yang ditujukan untuk
peneliti selanjutnya atau untuk penerapan hasil penelitian di lapangan.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prioritas
Keterbatasan waktu, tenaga, dan dana menyebabkan ketidakmungkinan untuk
melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan sehingga perlu itu dilakukan
prioritas. Prioritas itu penting karena keterbatasan tadi padahal perlu dilakukan
pembenahan dalam banyak hal, dan semuanya harus dilakukan dengan waktu yang
cepat, dana yang cukup dan kualitas yang utama sehingga perlu dilakukan suatu cara,
yaitu: dengan menyusun prioritas (Roy & Sandra Sembel, 2003).
Prioritas dapat memberi arah bagi kegiatan yang harus dilaksanakan. Jika
prioritas, telah disusun maka tidak akan bingung kegiatan mana yang harus dilakukan
terlebih dahulu, kegiatan mana yang dilakukan selanjutnya, sampai tercapai tujuan
yang telah ditetapkan. Jika dalam tujuan untuk melakukan kegiatan yang
berkesinambungan, maka diprioritaskan kegiatan sesuai dengan kebutuhan, maka
arah kegiatan adalah pada pengembangan, bukan semata-mata pada pembangunan.
Dengan demikian arah kegiatan bukanlah pada pembangunan yang sebesar-besarnya,
melainkan pada pengembangan yang berkelanjutan. Prioritas juga membantu dalam
memecahkan masalah. Jika konsisten pada prioritas yang telah ditetapkan maka
prioritas akan membantu untuk memecahkan masalah.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Roy & Sandra Sembel (2003) mengatakan bahwa penentuan prioritas dapat
dilakukan dengan terlebih dahulu menjawab lima pertanyaan berikut:
1. Apa hasil akhir yang ingin dicapai?
Prioritas disusun untuk mencapai tujuan. Jadi sebelum prioritas ditetapkan,
tujuanlah yang perlu dibuat.
2. Apa yang penting untuk dilakukan untuk mencapai tujuan?
Setelah tujuan ditetapkan maka perlu mengidentifikasikan faktor-faktor yang
memang penting untuk dilakukan guna mencapai tujuan. Tujuan yang telah
diketahui jauh hari sebelumnya akan memudahkan kita untuk merealisasikan.
3. Apakah harus dilakukan hal tersebut?
Pertanyaan kedua ini akan membantu dalam memilah kegiatan yang memang
harus dilakukan, dan kegiatan yang bisa dilakukan oleh orang lain.
4. Apa keuntungan yang didapat dari kegiatan tersebut?
Prinsip 80/2 yang dicetuskan oleh Vilfredo Pareto seperti yang dikutip Sembel
(2003) menyatakan bahwa hanya 20% dari kegiatan yang dapat memberikan
80% keuntungan sehingga perlu memfokuskan tenaga dan pemikiran serta sarana
yang dimiliki agar dapat memberikan keuntungan maksimal.
5. Bagaimana melaksanakan prioritas?
Setelah prioritas ditentukan maka perlu melakukan beberapa langkah lagi untuk
memastikan bisa dilaksanakan dengan hasil yang positif yaitu evaluasi. Selalu
evaluasi hal-hal yang perlu dan yang tidak perlu dilakukan.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Ada hal-hal yang memang harus dilakukan (tidak bisa dilakukan oleh pihak
lain). Tapi banyak juga hal yang perlu dilakukan tapi tidak harus dilakukan sendiri.
Perlu juga dilakukan evaluasi apakah suatu kegiatan memang memberikan banyak
manfaat jika dilakukan. Jika ternyata dampak positifnya kecil sekali sedangkan usaha
yang harus diberikan secara signifikan cukup besar, maka dapat dipertimbangkan
untuk tidak melakukan hal tersebut dan mencari hal-hal lain yang bisa memberikan
dampak positif berkelanjutan yang besar. Evaluasi lain bisa diarahkan pada kegiatan
yang sanggup dan tidak sanggup dilakukan. Jika sanggup untuk dilakukan dalam
jangka waktu yang telah ditentukan, maka segera dapat dilaksanakan. Sebaliknya,
jika kegiatan tersebut memerlukan hal-hal yang tidak dimiliki, maka dapat dicari
tindakan lain yang bisa diprioritaskan.
Untuk dapat berhasil maka perlu disusun prioritas yang dapat memberikan
arah bagi untuk mencapai tujuan. Prioritas juga membantu dalam memecahkan
masalah dan mengambil keputusan yang terbaik. Prioritas dapat disusun dengan
mengajukan pertanyaan yang tepat. Setelah segala sesuatunya dipertimbangkan dan
direncanakan dengan matang dalam menentukan suatu prioritas, langkah selanjutnya
yang adalah melaksanakan prioritas yang telah ditetapkan.

2.2 Kriteria dalam penentuan prioritas


Dalam menentukan prioritas diperlukan beberapa kriteria yang menjadi
dasar dalam pemberian bobot pilihan. Beberapa peneliti sebelumnya

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

menggunakan kriteria yang berbeda-beda dalam menentukan prioritas


peningkatan ruas jalan menurut kondisi daerah yang ditelitinya.
Penelitian

yang

pernah

dilakukan

dalam

penentuan

prioritas

peningkatan ruas jalan menurut kriterianya, antara lain:


I.

Sanaei, B.Badkoo, Monajjem (2006) dalam Using GIS for Priority


Assessment of Road Construction in Kermanshah Province menggunakan
kriteria paramater, yaitu:
1. Parameter Ekonomi, yaitu:
a. Industri
b. Pertanian
2. Parameter Jalan:
a. Bangkitan dan tarikan
b. Panjang jalan
c. Fasilitas umum (terminal)
d. Tata guna lahan dan topografi
e. Tipe jalan
f. Kapasitas jalan
3. Politik dan keamanan
4. Faktor Manusia
a. Populasi
b. Distribusi ruang dari populasi
c. Struktur populasi

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

5. Parameter Kendaraan
a. Tinggi
b. Tipe kendaraan dan as roda
c. Berat Kendaraan
d. Kecepatan
II.

Najid, Tamin, Sjafruddin dan Santoso (2005) dalam Determination priority


of road improvement alternatives based on region optimization menentukan
prioritas peningkatan ruas jalan berdasarkan optimisasi wilayah diperlukan
beberapa kriteria seperti:
1. Travel time
2. Average travel time
3. Trip Generation
4. Trip Attraction
5. Kepadatan pemukiman (residential density)
6. Kepadatan jumlah tenaga kerja (employment density)

III.

Indryani dan Bahri (2007) dalam Prioritas penanganan peningkatan jalan


pada ruas-ruas jalan di Kabupaten Kapuas dengan metode AHP,
mengunakan kriteria:
1. Kondisi jalan
2. LHR
3. Anggaran dana
4. Kebijakan legislatif

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

IV.

Rochim dan Prajitmo (2007) dalam Methode analitycal hierachy process


untuk menentukan prioritas penanganan jalan di wilayah Balai Pemeliharaan
Jalan Mojokerto, menggunakan kriteria:
1. Kerusakan pada perkerasan
a. Keadaan permukaan jalan
b. Retak-retak
c. Lubang-lubang
2. Kerusakan samping jalan
3. Perilaku laju
a. Derajat kejenuhan (VCR)
b. Waktu tempuh
c. LHR
Berdasarkan studi yang pernah dilakukan dalam peningkatan ruas jalan dan

sesuai dengan kondisi wilayah studi di Kabupaten Samosir maka dipilih beberapa
kriteria sering digunakan dalam menentukan prioritas peningkatan ruas jalan, yaitu:
a. Kriteria kapasitas yaitu volume capacity ratio (VCR)
b. Kriteria bangkitan dan tarikan
c. Kriteria kecepatan
d. Kriteria kepadatan penduduk

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

2.3 Analytic Hierarchy Process (AHP)

Dalam pengambilan keputusan hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat
pengambilan data, dimana data ini diharapkan dapat mendekati nilai yang
sesungguhnya. Salah satu analisa yang dapat digunakan dalam menentukan prioritas
adalah dengan menggunakan Proses Hirarki Analitik atau AHP.
AHP merupakan salah satu

metode untuk membantu menyusun suatu

prioritas dari berbagai pilihan dengan menggunakan beberapa kriteria (multi criteria).
Karena sifatnya yang multi kriteria, AHP cukup banyak digunakan dalam penyusunan
prioritas. Di samping bersifat multi kriteria, AHP juga didasarkan pada suatu proses
yang terstruktur dan logis.(Wayan R. Susila dan Ernawati Munadi, 2007)
AHP adalah prosedur yang berbasis matematis yang sangat baik dan sesuai
untuk kondisi evaluasi atribut-atribut kualitatif. Atribut-atribut tersebut secara
matematik dikuantitatif dalam satu set perbandingan berpasangan. Kelebihan AHP
dibandingkan dengan yang lainnya karena adanya struktur yang hirarki, sebagai
konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai kepada sub-sub kriteria yang paling
mendetail. Memperhitungkan validasi sampai dengan batas toleransi inkonsistensi
berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan (Saaty, 1993).
Pemilihan atau penyusunan prioritas dilakukan dengan suatu prosedur yang
logis dan terstruktur. Kegiatan tersebut dilakukan oleh ahli-ahli yang representatif
berkaitan dengan alternatif-alternatif yang akan disusun prioritasnya.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Secara garis besar, ada tiga tahapan AHP dalam penyusunan prioritas, yaitu :
1. Dekomposisi dari masalah;
2. Penilaian untuk membandingkan elemen-elemen hasildekomposisi; dan
3. Sintesis dari prioritas.

2.3.1 Dekomposisi Masalah


Dalam menyusun prioritas, maka masalah penyusunan prioritas harus mampu
didekomposisi menjadi tujuan (goal) dari suatu kegiatan, identifikasi pilihan-pilihan
(options), dan perumusan kriteria (criteria) untuk memilih prioritas (Gambar 2.1).
Langkah pertama adalah merumuskan tujuan dari suatu kegiatan penyusunan
prioritas yang dilanjutkan dengan menentukan kriteria dari tujuan. Berdasarkan
tujuan dan kriteria, maka beberapa pilihan perlu diidentifkasi agar pilihan tersebut
merupakan pilihan yang potensial sehingga jumlah pilihan tidak terlalu banyak.
Tujuan

Kriteria 1

Kriteria 2

Kriteria 3

Kriteria 4

Pilihan 1

Pilihan 2

Pilihan3

Pilihan 4

Gambar 2.1 Dekomposisi masalah

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

2.3.2 Penilaian/Pembandingan Elemen


Setelah masalah terdekomposisi, maka ada dua tahap penilaian atau
membandingkan antar elemen yaitu perbandingan antar kriteria dan perbandingan
antar pilihan untuk setiap kriteria. Perbandingan antar kriteria dimaksudkan untuk
menentukan bobot untuk masing-masing kriteria. Di sisi lain, perbandingan antar
pilihan untuk setiap kriteria dimaksudkan untuk melihat bobot suatu pilihan untuk
suatu kriteria. Dengan perkataan lain, penilaian ini dimaksudkan untuk melihat
seberapa penting suatu pilihan dilihat dari kriteria tertentu.
Untuk mengkuantifikasi pendapat kualitatif tersebut digunakan skala
penilaian sehingga akan diperoleh nilai pendapat dalam bentuk angka (kuantitatif).
Menurut Saaty (2003), untuk berbagai permasalahan, skala 1 sampai 9 merupakan
skala yang terbaik dalam mengkualifikasikan pendapat, yaitu berdasarkan akurasinya
berdasarkan nilai RMS (Root Mean Square Deviation) dan MAD (Median Absolute
Deviation). Nilai dan definisi pendapat kualitatif dalam skala perbandingan Saaty ada
pada Tabel 2.1.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Tabel 2.1 Skala matriks perbandingan berpasangan


Intensitas
Kepentingan

Definisi

Penjelasan

Elemen yang satu samapentingnya Kedua elemen menyumbang


1

dibanding dengan elemen yang lain sama besar pada sifat tersebut
(equal importance)

Elemen yang satu sedikit lebih Pengalaman

menyatakan

penting dari pada elemen yang lain sedikitmemihak

pada

(moderate more importance)

elemen

Elemen yang satu jelas lebih Pengalaman


4

menunjukkan

penting dari pada elemen yang lain secara kuat memihak pada satu
(essential,strong more importance)

satu

elemen

Elemen yang satu sangat jelas lebih Pengalaman

menunjukkan

penting dari pada elemen yang lain secara

disukai

(demonstrated importance)

kuat

dan

didominasi oleh sebuah elemen


tampak dalam praktek

Elemen yang satu mutlak lebih Pengalaman menunjukkan satu


9

penting dari pada elemen yang lain elemen


(absolutely more importance)

sangat

lebih

diberikan

bila

penting

Apabila ragu-ragu antara dua nilai Nilai


2,4,6,8

jelas

yang berdekatan (grey area)

ini

diperlukan kompromi

Jika kriteria C1 mendapatkan satu Jika kriteria C1 mempunyai


angka bila dibandingkan dengan nilai
kriteria
1/(2-9)

C2

memiliki

nilai dengan

kebalikan bila dibandingkan C1

bila
kriteria

dibandingkan
C2,

maka

kriteria C2 mendapatkan nilai


1/x bila dibandingkan kriteria
C1

Sumber: Saaty, Thomas L., 1993, Pengambilan Keputusan bagi para pemimpin
Proses Hirarki Analitik

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Dengan menggunakan penilaian seperti tabel 2.1, maka perbandingan antar


kriteria akan menghasilkan tabel 2.2 berikut:

Kriteria

Tabel 2.2 Perbandingan antar kriteria


CR1
CR2
CR3
CR4
Jumlah

Bobot

CR1

C12

C13

C14

C1

bc1=c1/c

CR2

C21

C23

C24

C2

bc2=c2/c

CR3

C31

C32

C34

C3

bc3=c3/c

CR4

C41

C42

C43

C4

bc4=c4/c

Jumlah

Dengan menggunakan prosedur yang sama, maka dilakukan perbandingan


antar pilihan (OP) untuk masing-masing kriteria. Tabel 2.3 berikut mengilustrasikan
perbandingan antar pilihan (4 pilihan) untuk kriteria 1 (C1) dengan penjelasan sebagai
berikut :
1. oij merupakan hasil penilaian/perbandingan antara pilihan i dengan k untuk
kriteria ke j
2. oi. merupakan penjumlahan nilai yang dimiliki pilihan ke i
3. o merupakan penjumlahan semua nilai oi
4. boij merupakan nilai pilihan ke i untuk kriteria ke j
Proses penilaian antar pilihan ini terus dilakukan untuk semua kriteria.
Sebagai catatan, penilaian sebaiknya dilakukan oleh ahlinya dan stakeholder utama.
Biasanya, jumlah ahli bervariasi, bergantung pada ketersediaan sumberdaya.
Penilaian dapat dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada masing-masing ahli
ataupun dengan melakukan suatu pertemuan para ahli untuk melakukan penilaian

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

tersebut. Untuk studi kasus ini, penilaian dilakukan dengan mengumpulkan para
tenaga ahli.
Tabel 2.3. Perbandingan antar pilihan untuk kriteria C1
C1

OP1

OP2

OP3

OP4

Jumlah

Bobot

OP1

o12

o13

o14

o1

bo11=o1/o

OP2

o21

o23

o24

o2

bo21=o2/o

OP3

o31

o32

o34

o3

bo31=o3/o

OP4

o41

o42

o43

o4

bo41=o4/o

Jumlah

2.3.3 Sintesis Penilaian


Sintesis hasil penilaian merupakan tahap akhir dari AHP. Pada dasarnya,
sintesis ini merupakan penjumlahan dari bobot yang diperoleh setiap pilihan pada
masing-masing kriteria setelah diberi bobot dari kriteria tersebut. Secara umum, nilai
suatu pilihan adalah sebagai berikut :

(2.1)
dimana: bopi = nilai/ bobot untuk pilihan ke i
Formula tersebut juga dapat disajikan dalam bentuk tabel. Untuk
memudahkan, diasumsikan ada empat kriteria dengan empat pilihan seperti Tabel 2.4
berikut. Sebagai contoh nilai prioritas/bobot pilihan 1 (OP1) diperoleh dengan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

mengalikan nilai bobot pada ktiteria dengan nilai yang terkait dengan kriteria tersebut
untuk pilihan 1 sebagai berikut:
bopi = bo11* bc1+ bo12* bc2 + bo13* bc3+ bo14* bc4 ................ (2.2)

Hal yang identik dilakukan untuk pilihan 2, 3 dan 4. Dengan membandingkan


nilai yang diperoleh masing-masing pilihan, prioritas dapat disusun berdasarkan
besarnya nilai tersebut. Semakin tinggi nilai suatu pilihan, semakin tinggi
prioritasnya, dan sebaliknya.

CR1

Tabel 2.4 Sintesa penilaian


CR2
CR3
CR4

Prioritas

bc1

bc2

bc3

bc4

bopi

OP1

bo11

bo12

bo13

bo14

bop1

OP2

bo21

bo22

bo23

bo24

bop2

OP3

bo31

bo32

bo33

bo34

bop3

OP4

bo41

bo42

bo43

bo44

bop4

Derajat kepentingan dapat dilakukan dengan pendekatan perbandingan


berpasangan. Perbandingan berpasangan sering digunakan untuk menentukan
kepentingan relatif dari elemen-elemen dan kriteria-kriteria yang ada. Perbandingan
berpasangan tensebut diulang untuk semua elemen dalam tiap tingkat. Elemen dengan
bobot paling tinggi adalah pilihan keputusan yang layak dipertimbangkan untuk
diambil. Untuk setiap kriteria dan alternatif, kita harus melakukan perbandingan
berpasangan (pairwise comparison) yaitu membandingkan setiap elemen dengan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

elemen yang lainnya pada setiap tingkat hirarki secara berpasangan sehingga didapat
nilai tingkat kepentingan elemen dalam bentuk pendapat kualitatif.
Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukanperingkat
relatif dari seluruh alternatif. Baik kriteria kualitatif, maupun kriteria kuantitatif,
dapat dibandingkan sesuai dengan judgment yang telah ditentukan untuk
menghasilkan bobot dan prioritas
Dari hasil analisis dampak lalulintas, dapat diketahui dampak-dampak yang
lain, yang sangat mungkin terdapat dampak positif dan negatif dari ruas jalan.
Dampak

negatif

tersebut

tentunya

membutuhkan

juga

penanganan,

agar

pengembangan jaringan jalan nantinya akan memberikan hasil yang optimum.


Penilaian tersebut dibuat dalam bentuk matriks, selanjutnya nilai matriks
tertinggi merupakan rangking tertinggi yang selanjutnya diusulkan sebagai prioritas
penanganan jaringan jalan.

2.4 Analisis kebutuhan peningkatan ruas jalan


2.4.1 Analisis kebutuhan pergerakan
Salah satu dasar penentuan tingkat kebutuhan peningkatan ruas jalan di
Kabupaten Samosir, perlu diketahui besarnya kebutuhan pergerakan/volume dan
karakteristik lalulintasnya pada masa tertentu. Untuk masa yang akan datang, besaran
dan karakteristik lalulintas tersebut dapat diprediksi melalui tahapan pemodelan
transportasi.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

2.4.2 Analisis kinerja ruas jalan


Dalam mengevaluasi permasalahan lalulintas perlu ditinjau klasifikasi fungsi
dan sistem ruas-ruas jalan yang ada. Klasifikasi berdasarkan fungsi jalan dibedakan
antara jalan arteri, kolektor dan lokal, sedangkan berdasarkan sistem jaringan terdiri
dari jalan primer dan sekunder (Tata cara perencanaan geometrik jalan antar kota,
Dirjen Bina Marga, 1997).
Jalan luar kota adalah jalan dengan ruas yang tidak ada pengembangan yang
menerus pada sisi manapun, meskipun mungkin terdapat pengembangan permanen
yang jarang terjadi seperti rumah makan, pabrik atau perkampungan. Kios kecil dan
kedai pada sisi jalan bukan merupakan pengembangan permanen. Jenis jalan luar kota
yang didefenisikan pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 pada umumnya
sama dengan jenis jalan perkotaan, kecuali tidak dicantumkannya jalan satu arah
dalam daftar jenis jalan luar kota.
Ruas jalan didefenisiskan sebagai suatu panjang jalan :
a. Diantara dan tak terpengaruh oleh simpang utama, dan
b. Mempunyai rencana geometrik dan arus serta komposisi lalulintas yang
serupa di seluruh panjangnya.
Titik dimana karakteristik jalan berubah secara berarti berarti otomatis menjadi batas
ruas sekalipun tidak ada simpang didekatnya. Ruas jalan luar kota secara umum
diharapkan jauh lebih panjang dari ruas jalan perkotaan atau semi perkotaan karena
pada umumnya karakteristik geometrik dan karakteristik lainnya tidak sering berubah
dan simpang utamanya tidak selalu berdekatan. Panjangnya mungkin puluhan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

kilometer, tetapi perlu untuk menetapkan batas ruas dimana terdapat perubahan
karakteristik yang penting, walupun ruas yang dihasilkan lebih pendek.
Karakteristik utama jalan yang akan mempengaruhi kapasitas dan kinerja
jalan luar kota apabila dibebani lalulintas antara lain: geometrik, arus, komposisi
pemisah arah, pengendalian lalulintas, hambatan samping, fungsi dan guna lahan.
Kinerja untuk ruas jalan luar kota dapat dinilai dengan menggunakan
parameter lalulintas sebagai berikut:
1. VCR (Volume Capacity Ratio)
2. Kecepatan Pergerakan Rata-rata
3. Tingkat Pelayanan

2.4.2.1 Volume Capacity Ratio (VCR)


Nilai VCR untuk ruas jalan di dalam daerah pengaruh didapat berdasarkan
hasil survei volume lalulintas di ruas jalan serta survei geometrik untuk mendapatkan
besarnya kapasitas pada saat ini (eksisting)
Kapasitas jalan diartikan sebagai jumlah maksimal kendaraan yang dapat
dilewati suatu ruas jalan tertentu dalam periode tertentu tanpa kepadatan lalulintas
yang menyebabkan hambatan waktu, bahaya atau mengurangi kebebasan pengemudi
dalam menjalankan kendaraanya pada kondisi jalan dan lalulintas yang ideal. Kondisi
ideal dapat dipenuhi dengan mengikuti kondisi seperti lebar jalur tidak kurang dari
3,5 m, kebebasan samping tidak kurang dari 1,75m, standar geometrik jalan yang

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

baik, hanya dilalui oleh kendaraan penumpang dan tidak ada batas kecepatan.
(Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, Dirjen Bina marga, 1988).
Kapasitas jalan biasanya dinyatakan dengan kendaraan/jam atau smp/jam dan
menggunakan rumus:
C = C0 x FCW x FCSP x FCSF (2.3)
dimana :
C

= Kapasitas jalan

C0

= Kapasitas dasar

FCW = Faktor penyesuaian lebar jalan lalulintas


FCSP = Faktor penyesuaian pemisah arah
FCSF = Faktor penyesuaian hambatan samping

Besarnya faktor pertumbuhan lalulintas didasarkan pada tingkat pertumbuhan


normal dan tingkat pertumbuhan bangkitan yang ditimbulkan oleh adanya
pembangunan. Nilai VCR untuk berbagai kondisi dapat dikelompokkan seperti yang
diterlihat pada Tabel 2.5
Tabel 2.5 Nilai VCR pada berbagai kondisi
VCR
Keterangan
< 0,75

Kondisi Stabil

0,75 1,0

Kondisi tidak stabil

>1

Kondisi Kritis

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

2.4.2.2 Kecepatan Pergerakan Rata-rata


Kecepatan adalah laju dari suatu pergerakan kendaraan dihitung dalam jarak
persatuan waktu (km/jam). Kecepatan dirumuskan sebagai berikut:
.. (2.4)
dimana:
V = kecepatan (km/jam)
d

= jarak (km)

T = waktu untuk melintasi (detik)

Dalam suatu arus lalulintas tiap kendaraan berjalan dengan kecepatan yang
berbeda-beda. Dengan demikian, dalam arus lalulintas tidak dikenal adanya suatu
karakteristik kecepatan kendaraan tunggal, tetapi distribusi dari kecepatan kendaraan
secara keseluruhan. Distribusi kecepatan kendaraan yang berlainan itu nilai rataratanya dapat digunakan sebagai dasar untuk menggolongkan arus lalulintas secara
keseluruhan.
Kecepatan pergerakan rata-rata dibagi dua bagian, yaitu:
a. Kecepatan rerata waktu dan kecepatan rerata ruang
Pada suatu aliran lalulintas kendaraan tidak selalu berjalan secara seragam,
tetapi bergerak pada kecepatan yang berbeda. Permasalahan yang timbul
kapan, dimana, dan bagaimana mendapatkan ukuran kecepatan yang
representative pada suatu aliran lalulintas, bukanlah hal yang sederhana.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Sebagai contoh kecepatan kendaraan-kendaraan yang diambil datanya pada


suatu titik pengamatan pada periode waktu tertentu. Kecepatan ini dikenal
sebagai kecepatan sesaat (spot speed). Sebagai alternatif adalah kecepatan dari
keseluruhan kendaraan yang menempati suatu panjang yang diambil pada saat
yang sama atau juga dengan pemotretan udara suatu jalan yang dilakukan dua
kali pada interval waktu terpisah, maka dapat diperoleh kecepatan dari tiap
kendaraan dengan cara membagi jarak tempuh dengan interval waktu. Metode
bagaimana ukuran kecepatan diambil dan bagaimana cara perhitungannya
sangat berpengaruh pada hasil dan interpretasi dari besarnya angka yang
diperoleh.
Dua metode untuk menghitung nilai rata-rata kecepatan adalah:
kecepatan rata-rata waktu (time mean speed, TMS) dan kecepatan rata-rata
ruang (space mean speed, SMS). Time mean speed (TMS) didefenisikan
sebagai kecepatan rata-rata dari seluruh kendaraan yang dilewati suatu titik
dari jalan selama periode waktu tertentu atau nilai rata-rata dari spot speed.
Rumus dari time mean speed :
. (2.5)
Dimana: n = jumlah kendaraan yang diamati
Ui = spot speed tiap kendaraan yang diamati

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Atau
. (2.6)
Dimana: L = panjang ruas jalan yang ditempuh kendaraan
ti = waktu yang diperlukan tiap kendaraan yang diamati untuk
menempuh jarak L
Adapun space mean speed (SMS), merupakan kecepatan rata-rata
seluruh kendaraan yang menempati/melintasi penggalan jalan selama periode
waktu tertentu. Perhitungan SMS didasarkan pada rata-rata waktu tempuh (ti)
yang diambil dari seluruh kendaraan yang melintasi suatu panjang jalan L.
Tiap-tiap kendaraan melintas pada kecepatan Ui, sehingga waktu tempuhnya
untuk melintasi jarak L adalah :
..

(2.7)

Dengan demikian, rata-rata waktu tempuh dari n kendaraan adalah:


.

(2.8)

Adapun kecepatan rata-rata berdasarkan pada rata-rata waktu tempuh ( ),


yang merupakan space mean speed (SMS) adalah rata-rata harmonis dari spot
speed, yang dirumuskan :
.

(2.9)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

b. Kecepatan rata-rata bergerak dan kecepatan rata-rata perjalanan


Kecepatan rata-rata bergerak (average running speed) dan kecepatan
rata-rata perjalanan (average travel speed) adalah dua bentuk space mean
speed yang sering digunakan untuk menentukan ukuran-ukuran dalam bidang
rekayasa lalulintas. Prinsip keduanya sama yakni kecepatan yang merupakan
jarak tempuh dibagi dengan rata-rata waktu untuk menempuh bagian dari
suatu ruas jalan yang diukur.
Waktu perjalanan (travel time) adalah waktu keseluruhan yang
dipergunakan untuk melintasi bagian dari suatu jalan terukur, sedangkan
waktu bergerak (running time) adalah keseluruhan waktu yang diperlukan
oleh kendaraan pada saat bergerak untuk melintasi bagian dari jalan yang
terukur. Beda prinsip keduanya adalah travel time meliputi seluruh waktu
termasuk waktu berhenti, sedangkan running time hanya waktu saat
kendaraan bergerak saja.

2.4.2.3 Tingkat Pelayanan


Indikator Tingkat Pelayanan pada suatu ruas jalan menunjukkan kondisi
secara keseluruhan ruas jalan tersebut. Tingkat Pelayanan ditentukan berdasarkan
nilai kuantitatif seperti: VCR, kecepatan pergerakan, dan berdasarkan nilai kualitatif
seperti kebebasan pengemudi dalam bergerak/memilih kecepatan, derajat hambatan
lalulintas serta kenyamanan.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Terdapat dua definisi tentang tingkat pelayanan suatu ruas jalan, yaitu:
a. Tingkat pelayanan tergantung arus.
Hal ini berkaitan dengan kecepatan operasi atau fasilitas jalan, tergantung pada
perbandingan antara arus terhadap kapasitas. Oleh karena itu, tingkat pelayanan
pada suatu jalan tergantung pada arus lalulintas.
Adapun tingkat pelayanan pada ruas jalan menurut Peraturan Menteri
Perhubungan nomor KM 14 tahun 2006 tentang Manajemen dan Rekayasa
Lalulintas di Jalan diklasifikasikan atas:
I. Tingkat pelayanan A, dengan kondisi:
1) Arus bebas dengan volume lalu lintas rendah dan kecepatan tinggi;
2) Kepadatan lalu lintas sangat rendah dengan kecepatan yang dapat
dikendalikan

oleh

pengemudi

berdasarkan

batasan

kecepatan

maksimum/minimum dan kondisi fisik jalan;


3) Pengemudi dapat mempertahankan kecepatan yang diinginkannya tanpa
atau dengan sedikit tundaan.
II. Tingkat pelayanan B, dengan kondisi:
1) Arus stabil dengan volume lalu lintas sedang dan kecepatan mulai
dibatasi oleh kondisi lalu lintas;
2) Kepadatan lalu lintas rendah hambatan internal lalu lintas belum
mempengaruhi kecepatan;
3) Pengemudi masih punya cukup kebebasan untuk memilih kecepatannya
dan lajur jalan yang digunakan.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

III. Tingkat pelayanan C, dengan kondisi:


1) Arus stabil tetapi kecepatan dan pergerakan kendaraan dikendalikan oleh
volume lalu lintas yang lebih tinggi;
2) Kepadatan lalu lintas sedang karena hambatan internal lalu lintas
meningkat;
3) Pengemudi memiliki keterbatasan untuk memilih kecepatan, pindah lajur
atau mendahului.
IV. Tingkat pelayanan D, dengan kondisi:
1) Arus mendekati tidak stabil dengan volume lalu lintas tinggi dan
kecepatan masih ditolerir namun sangat terpengaruh oleh perubahan
kondisi arus;
2) Kepadatan lalu lintas sedang namun fluktuasi volume lalu lintas dan
hambatan temporer dapat menyebabkan penurunan kecepatan yang besar;
3) Pengemudi memiliki kebebasan yang sangat terbatas dalam menjalankan
kendaraan, kenyamanan rendah, tetapi kondisi ini masih dapat ditolerir
untuk waktu yang singkat.
V. Tingkat pelayanan E, dengan kondisi:
1) Arus lebih rendah daripada tingkat pelayanan D dengan volume lalu lintas
mendekati kapasitas jalan dan kecepatan sangat rendah;
2) Kepadatan lalu lintas tinggi karena hambatan internal lalu lintas tinggi;
3) Pengemudi mulai merasakan kemacetan-kemacetan durasi pendek.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

VI. Tingkat pelayanan F, dengan kondisi:


1) Arus tertahan dan terjadi antrian kendaraan yang panjang;
2) Kepadatan lalu lintas sangat tinggi dan volume rendah serta terjadi
kemacetan untuk durasi yang cukup lama;
3) Dalam keadaan antrian, kecepatan maupun volume turun sampai 0.

Tingkat pelayanan yang diinginkan pada ruas jalan pada sistem jaringan
jalan primer sesuai fungsinya, untuk:
a. jalan arteri primer, tingkat pelayanan sekurang-kurangnya B;
b. jalan kolektor primer, tingkat pelayanan sekurang-kurangnya B;
c. jalan lokal primer, tingkat pelayanan sekurang-kurangnya C;
d. jalan tol, tingkat pelayanan sekurang-kurangnya B.
Tingkat pelayanan yang diinginkan pada ruas jalan pada sistem jaringan
jalan sekunder sesuai fungsinya untuk:
a. jalan arteri sekunder, tingkat pelayanan sekurang-kurangnya C;
b. jalan kolektor sekunder, tingkat pelayanan sekurang-kurangnya C;
c. jalan lokal sekunder, tingkat pelayanan sekurang-kurangnya D;
d. jalan lingkungan, tingkat pelayanan sekurang-kurangnya D.

Tingkat pelayanan dan karakteristik operasi terkait untuk jalan arteri primer
menurut Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 14 tahun 2006 tentang
Manajemen dan Rekayasa Lalulintas di Jalan terlihat pada Tabel 2.6.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Tabel 2.6 Tingkat pelayanan dan karakteristik operasi untuk jalan arteri
primer
Tingkat
Karakteristik Operasi Terkait
Pelayanan
A

Arus bebas
Kecepatan lalu lintas > 100 km/jam
Jarak pandang bebas untuk mendahului harus selalu ada
Volume lalu lintas mencapai 20% dari kapasitas (yaitu 400
smp perjam, 2 arah)
Sekitar 75% dari gerakan mendahului dapat dilakukan dengan
sedikit atau tanpa tundaan

Awal dari kondisi arus stabil


Kecepatan lalu lintas > 80 km/jam
Volume lalu lintas dapat mencapai 45% dari kapasitas (yaitu
900 smp perjam, 2 arah)

Arus masih stabil


Kecepatan lalu lintas > 65 km/jam
Volume lalu lintas dapat mencapai 70% dari kapasitas (yaitu
1400 smp perjam, 2 arah)

Mendekati arus tidak stabil


Kecepatan lalu lintas turun sampai 60 km/jam
Volume lalu lintas dapat mencapai 85% dari kapasitas (yaitu
1700 smp perjam, 2 arah)

Kondisi mencapai volume kapasitas 2000 smp perjam, 2 arah


Kecepatan lalu lintas pada umumnya berkisar 50 km/jam

Kondisi arus tertahan


Kecepatan lalu lintas < 50 km/jam
Volume dibawah 2000 smp per jam

Sumber : Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 14 tahun 2006

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Hubungan Tingkat pelayanan dan arus lalulintas terlihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Tingkat pelayanan tergantung arus

Indikator yang dijadikan acuan tingkat pelayanan jalan adalah rasio antara volume
lalulintas terhadap kapasitas ruas jalan.
b. Tingkat pelayanan tergantung fasilitas.
Tingkat pelayanan tergantung pada jenis fasilitas dan bukan arusnya. Jalan bebas
hambatan mempunyai tingkat pelayanan yang tinggi, sedangkan jalan sempit
mempunyai tingkat pelayanan rendah (Gambar 2.3).

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Gambar 2.3 Hubungan antara nisbah waktu perjalanan (kondisi aktual/arus


bebas) dengan nisbah volume/kapasitas

2.4.3 Model Bangkitan Pergerakan


Tujuan dasar tahap bangkitan pergerakan adalah menghasilkan model hubungan
yang mengaitkan tata guna lahan dengan jumlah pergerakan yang menuju ke suatu
zona atau jumlah pergerakan yang meninggalkan suatu zona. Zona asal tujuan
pergerakan biasanya juga menggunakan istilah trip end. Model ini sangat dibutuhkan
apabila efek tata guna lahan dan pemilikan pergerakan terhadap besarnya bangkitan
dan tarikan pergerakan berubah sebagai fungsi waktu.
Tujuan dari model bangkitan pergerakan adalah untuk memprediksi besarnya
tarikan serta bangkitan suatu daerah (zona) di masa yang akan datang. Untuk itu,
model bangkitan pergerakan perlu dikalibrasi berdasarkan data pada saat sekarang.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Multiple Linear Regression Analysis adalah teknik statistik yang sering


digunakan dalam menurunkan memperkirakan Bangkitan Pergerakan pada masa yang
akan datang, dimana dua atau lebih variable (faktor) bebas yang mempengaruhi
jumlah pergerakan. Teknik ini mengukur sampai sejauh mana pengaruh dari setiap
faktor dalam hubungannya dengan faktor lainnya. Bentuk persamaan dari analisis
adalah sebagai berikut :
Y = k +b1X1 + b2X2 + ..... + bnXn

.......................................... (2.10)

Dimana:
Y - adalah pergerakan zona dalam bentuk orang atau barang,
X1 - hingga Xn adalah variable yang berhubungan dengan tata guna tanah,
karakteristik sosial-ekonomi.

2.5 Kriteria Umum Peningkatan Ruas Jalan


Beberapa kriteria umum yang digunakan dalam peningkatan jalan sebagai
berikut:
a. Evaluasi Penetapan Hirarki dan Kelas Jalan
Hirarki jalan sangat ditentukan oleh peranan pelayanan jasa distribusi untuk
pengembangan semua wilayah/kawasan di tingkat nasional dengan semua jasa
distribusi yang kemudian berwujud kita. Hal ini akan jelas jika dikaji terlebih
dahulu tata guna lahan (land use) atau master plan sehingga akan lebih
memberikan informasi tentang jenjang simpul distribusi jasa.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Dalam usaha mewujudkan pelayanan jasa distribusi yang seimbang, pembina


jalan wajib memperhatikan bahwa jalan merupakan satu kesatuan sistem
jaringan jalan terdiri dari sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan
jalan sekunder yang terjalin dalam hubungan hirarki.
b. Ruas Jalan
Ruas jalan tetap dibuat dengan mengutamakan ruas jalan yang sama. Bila
ternyata karena pertimbangan lalulintas selanjutnya dijumpai bagian-bagian
yang tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, barulah diadakan
pengembangan jaringan jalan.
c. Geometrik Jalan
Perencanaan geometrik jalan adalah bagian dari perencanaan jalan yang
menentukan dimensi yang nyata dari suatu jalan beserta bagian-bagiannya
yang disesuaikan dengan tuntutan lalulintas.
Faktor yang terikat dalam perencanaan geometrik jalan adalah sebagai berikut:
I.

Keadaan fisik dan topografi daerah


i. Segi fisik daerah (tanah baik tidak baik)
ii. Segi iklim (kering basah)
iii. Segi topografi (datar bukit gunung)

II.

Data lalulintas
i. Kendaraan standar (jenis ukuran)
ii. Tingkat Pelayanan (V/C dan kecepatan)
iii. Volume lalulintas

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

2.6 Standar Jaringan Jalan


Sistem jaringan jalan didasarkan pada Undang-undang No. 38 tahun 2004
tentang Jalan dan Peraturan Pemerintah No.34 tahun 2006 tentang Jalan. Sistem
jaringan jalan merupakan satu kesatuan jaringan jalan yang terdiri dari sistem
jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang terjalin dalam
hubungan hierarki.
Sistem jaringan jalan primer disusun berdasarkan rencana tata ruang dan
pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat
nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusatpusat kegiatan sebagai berikut:
a. Menghubungkan secara menerus pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan wilayah,
pusat kegiatan lokal sampai ke pusat kegiatan lingkungan
b. Menghubungkan antar pusat kegiatan nasional.

Sistem jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan rencana tata ruang wilayah
kabupaten/kota dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam
kawasan perkotaan yang menghubungkan secara menerus kawasan yang mempunyai
fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga,
dan seterusnya sampai ke persil.
Sistem jaringan jalan yang terdapat di wilayah studi termasuk ke dalam sistem
jaringan jalan primer. Berdasarkan sistem pengklasifikasian jaringan jalan dan fungsi

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

jalan, maka sistem jaringan jalan primer dapat digolongkan menjadi jalan arteri
primer, jalan kolektor dan jalan lokal primer.
Jalan provinsi sebagaimana dimaksud pada UU No.38 tahun 2004 tentang
Jalan merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antar ibukota
kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer
yang tidak termasuk pada jalan nasional dan provinsi, yang menghubungkan ibukota
kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, ibukota kabupaten
dengan pusat kegiatan lokal, antar pusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam
sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis
kabupaten.
Wewenang pemerintahan kabupaten meliputi :
a. Penyelenggaraan jalan kabupaten dan jalan desa.
b. Wewenang

pemerintah

kota

dalam

penyelenggaraan

jalan

meliputi

penyelenggaraan jalan kota.


c. Wewenang penyelenggaraan jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa
meliputi pengaturan,pembinaan, pembangunan, dan pengawasan.
d. Pemerintah kabupaten/kota belum dapat melaksanakan sebagian wewenangnya,
pemerintah kabupaten/kota dapat menyerahkan wewenang tersebut kepada
pemerintah provinsi.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Dalam kajian ini, ruas jalan yang ditinjau merupakan jalan-jalan kabupaten
dan jalan-jalan propinsi sehingga dibutuhkan kerja sama antara pihak Kabupaten dan
Propinsi mengingat jalan-jalan propinsi yang berada di Kabupaten Samosir yang juga
merupakan jalan antar kecamatan yang merupakan jalan kabupaten.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian adalah suatu kerangka pendekatan pola pikir dalam


rangka

menyusun

dan

melaksanakan

suatu

penelitian.

Tujuannya

adalah

mengarahkan proses berpikir untuk menjawab permasalahan yang akan diteliti lebih
lanjut.
3.1 Jenis penelitian
Penelitian tentang studi prioritas peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir
ini termasuk jenis penelitan survey karena dalam penelitian ini informasi
dikumpulkan melalui responden dengan menggunakan kuesioner sebagai alat
pengumpulan data primer. Data dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk
mewakili seluruh populasi.

3.2 Pendekatan studi


Dalam upaya memperkaya data dan lebih memahami fenomena penelitian,
terdapat usaha untuk menambahkan infomasi kualitatif pada data kuantitatif.
Disamping menggunakan kuesioner, metode ini disediakan apabila responden
memerlukan data keterangan kualitatif terhadap pertanyaan. Berhubung di dalam
penelitian ini bukan hanya data data numerik saja yang dihimpun, tetapi juga

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

informasi tentang keinginan dari beberapa pihak atau instansi maka pendekatan studi
penelitian ini menggunakan metode kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian


Sebelum pelaksanaan studi dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan survei
pendahuluan meliputi:
a. Survei tempat, bertujuan memilih daerah pengamatan yang tepat untuk
mengetahui kondisi dan keadaan lokasi penelitian
b. Survei terhadap data-data sekunder sebagai penunjang penelitian

3.4 Rancangan Penelitian


Dalam melaksanakan penelitian diperlukan suatu rancangan penelitian agar
dapat membantu dalam menentukan langkah penelitian. Rancangan penelitian
diharapkan dapat memperlancar dalam mencapai sasaran sesuai dengan yang
diinginkan. Kegiatan penelitian ini akan dilakukan secara teratur, yaitu dengan bentuk
pentahapan yang sistematis, berupa:
1. Pengumpulan data dasar penelitian yang dilakukan di lapangan dengan
pengambilan literatur data yang telah ada sebagai pendukung awal
2. Data dari lapangan kemudian diolah ke dalam bentuk perhitunganperhitungan sistematis yang saling terkait dan untuk selanjutnya dipakai
sebagai dasar analisis.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

3. Kajian tersebut dapat dilakukan melalui penganalisaan terhadap data primer


dan sekunder yang diperoleh dari survei ke lapangan dan kompilasi data
sekunder.
4. Berdasarkan suatu perumusan yang akan digunakan yang berasal dari studi
pustaka selanjutnya dilakukan analisis data. Hasil dari analisis data tersebut
akan dipakai sebagai dasar pembuatan kesimpulan sehingga akan muncul
saran-saran

Untuk dapat lebih mengarahkan pada jalannya penelitian dan dapat


menghasilkan penelitian yang cermat dan teliti, maka dibutuhkan adanya bagan alir
penelitian sebagai pedoman pelaksanaan. Bagan alir meliputi langkah dan hal-hal
yang perlu dipersiapkan sebagai dasar dalam pelaksanaan kegiatan yang meliputi
berbagai hal dan rencana konsep yang ada. Konsep perancangan pelaksanaan
penelitian dijelaskan pada Gambar 3.1.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Latar belakang:

Identifikasi Masalah:
Maksud
Untuk menyiapkan kerangka teknis bagi perencanaan
sistem transportasi di Kabupaten Samosir
Tujuan
Untuk menentukan prioritas dalam peningkatan ruas jalan
berdasarkan kriteria teknis sebagai dasar menentukan
kebijakan peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir

Data Primer :
1. Data Geometrik dan
panjang jalan
2. Data volume kendaraan
3. Data jaringan jalan
4. Data kondisi lingkungan

Pengumpulan Data

1.
2.
3.
4.

Data Sekunder :
Data pertanian
Data PDRB
Tinjauan RTRW
Data
literatur
dan
tulisan ilmiah terdahulu

Pemilihan Kriteria
Kuesioner
Cut off
Penentuan Kriteria
Analisis Data

Kuesioner

Analisis Prioritas (AHP)

Kesimpulan dan Rekomendasi

Gambar 3.1.Bagan alir penelitian

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

3.5 Teknik pengumpulan data


Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang akan digunakan untuk
mengumpulkan data, baik berupa alat penelitian, data primer maupun sekunder
melalui survei yang dilakukan pada wilayah studi.
3.5.1 Alat penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan alat sebagai sarana untuk mendapatkan
data yang dibutuhkan. Adapun alat tersebut adalah:
1. Formulir MKJI
2. Kamera
3. Kuesioner
4. Alat lain yang diperlukan dalam pengambilan data di lapangan.

3.5.2 Teknis Pelaksanaan


Teknis pelaksanaan studi adalah melakukan pengumpulan data untuk
dianalisis. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder.
A. Data Sekunder
Data sekunder berupa data penunjang yang dikumpulkan melalui studi
kepustakaan yang diambil dari instansi-instansi terkait seperti Bappeda, BPS,
Dinas PU, hasil peneliti terdahulu, data dari internet dan lain sebagainya.
Tujuan dari pengumpulan data sekunder ini adalah untuk mendapatkan data
instansional yang selanjutnya akan diolah dan dianalisis.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

B. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan ataupun diperoleh langsung di
lapangan. Tujuan dari pengambilan data primer adalah untuk mencari data
yang sifatnya tidak tertulis sekaligus merupakan data yang memiliki tingkat
keakuratan yang tinggi.
Survei yang dilakukan tersebut antara lain:
a. Observasi lapangan
Tujuannya untuk menghasilkan data-data tidak tertulis yang hanya bisa
didapatkan dengan pengamatan secara langsung mengenai kondisi
jaringan jalan di lapangan. Bentuk kegiatan yang dilakukan dapat berupa
pemotretan dan kunjungan ke lokasi studi
b. Pembuatan dan pengisian kuesioner
Untuk menggali referensi dari pihak yang terlibat langsung dalam
pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Samosir, mengenai pemilihan
prioritas yang sesuai masukan dari instansi yang ada di Kabupaten
Samosir

3.6 Populasi
Penelitian yang baik memerlukan obyek penelitian, lazim disebut dengan
populasi yang jelas dan sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan dalam hal ini
disebut responden. Pemilihan responden dilakukan dengan cara purposive sampling
atau pemilihan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa unsur-unsur yang

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

dikehendaki telah ada dalam anggota responden sampel yang diambil (Nasution,
2003). Responden merupakan orang yang mengerti masalah pengembangan jaringan
jalan dan kriteria-kriteria yang diteliti dari unsur pemerintah. Salah satu metoda
dalam purposive sampling adalah expert sampling dimana expert sampling terdiri dari
sampel orang yang diketahui mempunyai pengalaman atau keahlian dalam suatu
bidang. Oleh karena itu sampel ini dikenal juga sebagai "panel of experts."
Ada dua alasan mengapa expert sampling digunakan. Pertama, Ini adalah
cara terbaik untuk memperoleh sampel orang yang punya specific expertise. Dalam
hal ini, expert sampling adalah hal yang khusus dari purposive sampling. Alasan
lainnya adalah expert tersebut dapat digunakan sebagai bukti penguat validitas
sampel yang dipilih menggunakan metoda non probabilistik lainnya. (Wadjidi, 2008)
Responden yang dimaksud adalah responden yang terlibat langsung atau
responden yang dianggap mempunyai kemampuan dan mengerti permasalahan terkait
dengan pengembangan jaringan jalan khususnya di Kabupaten Samosir. Pemilihan
responden dalam AHP, diperoleh dengan melakukan kegiatan wawancara dengan
menggunakan kuisioner yang dilakukan terhadap 8 (delapan) responden, terdiri dari :
a. Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Samosir (4 orang)
b. Bappeda Tingkat II Kabupaten Samosir (4 orang)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

3.7 Teknik Analisa Data


Dalam teknik analisa data penelitian ini, berbagai analisa yang menjadi kunci
dalam pembahasan analisa ini adalah sebagai berikut:
a. Analisa Kecepatan
b. Analisa Derajat Kejenuhan (VCR)
c. Analisa Bangkitan Tarikan
d. Analisa Kepadatan Penduduk
e. Analisa Prioritas dengan AHP

Analisa hasil studi AHP digunakan untuk menarik kesimpulan tentang


pandangan para stakeholder mengenai prioritas pemanfaatan yang sebaiknya
dilakukan dalam pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Samosir. Hasil
kuesioner setiap responden dianalisa untuk dilihat tingkat konsistensinya dalam
menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner. Apabila nilai rasio
inkonsistensinya (inconcistency ratio) lebih besar dari 0,1 maka dilakukan revisi
pendapat. Namun jika nilai rasio inkonsistensinya sangat besar, maka responden
tersebut dihilangkan.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

4.1 Umum

Kabupaten Samosir terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Toba Samosir


berdasarkan Undang-undang No. 36 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003 dan
tanggal 7 Januari 2004 Menteri Dalam Negeri mencanangkan sebagai Hari Jadi
Kabupaten Samosir.
Tahun 2005, Bupati dan Wakil Bupati Samosir terpilih untuk Periode 20052010 yang dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati defenitif pada tanggal 13
September 2005 telah merencanakan dan melaksanakan Program Pembangunan
Kabupaten Samosir untuk memacu pembangunan yang telah tertinggal, dengan
melakukan berbagai terobosan-terobosan.

4.2 Geografi
Kabupaten Samosir memiliki luas wilayah 254.175 Km yang terdiri dari luas
daratan 1.419,05 Km dan Perairan Danau Toba seluas 110.260 Km terletak di
jajaran Pegunungan Bukit Barisan dengan posisi geografis pada 224 - 248 Lintang
Utara dan 9830 - 9905 Bujur Timur. Letak geografis per-kecamatan seperti terlihat
pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Letak geografis menurut kecamatan
No.

Kecamatan

Lintang Utara

Bujur Timur

Harian

224' - 236'

9830' - 9849'

Sianjur Mula mula

236' - 247'

9833' - 9842'

Nainggolan

226' - 234'

9850' - 9856'

Onan Runggu

226' - 233'

9854' - 9901'

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Palipi

228' - 236'

9845' - 9853'

Pangururan

232' - 245'

9842' - 9847'

Ronggur Nihuta

233' - 242'

9844' - 9850'

Simanindo

233' - 248'

9842' - 9856'

Sitiotio

224' - 230'

9842' - 98o46'

224' - 248'

9830' - 9901'

Samosir

(Sumber: BPS Samosir Dalam Angka 2006)

Kabupaten Samosir diapit tujuh kabupaten yaitu :


Sebelah Utara
:
Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun
Sebelah Timur

Kab. Tapanuli Utara dan Kab. Humbang Hasundutan

Sebelah Selatan

Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat

Sebelah Barat

Kabupaten Toba Samosir

Kabupaten Samosir terletak pada wilayah dataran tinggi, dengan ketinggian


antara 700 s/d 1.995 meter di atas permukaan laut, dengan komposisi:
a.

700 m s/d 1.000 m dpl

10 %

b.

1001 m s/d 1.500 m dpl

25 %

c.

> 1.500 m dpl

65 %

Topografi dan kontur tanah di Kabupaten Samosir pada umumnya berbukit


dan bergelombang, dengan komposisi kemiringan:
a.

0 20o (datar)

10 %

b.

20 15o (landai)

20 %

c.

15 40o (miring)

55 %

d.

> 40o (terjal)

15 %

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Ibukota kecamatan yang relatif dekat terhadap ibukota kabupaten, sehingga


memungkinkan untuk percepatan kegiatan pemerintahan berjalan dengan cepat dan
singkat. Jarak tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.2
Tabel 4.2 Jarak dari kota kecamatan ke ibukota Kabupaten Samosir
No.

Kecamatan

Ibu Kota Kecamatan

Jarak (km)

1.

Harian

Harianboho

16

2.

Sianjur Mula mula

Sagala

14

3.

Nainggolan

Nainggolan

24

4.

Onan Runggu

Onan Runggu

34

5.

Palipi

Mogang

16

6.

Pangururan

Pangururan

7.

Ronggur Nihuta

Ronggur Nihuta

18

8.

Simanindo

Ambarita

48

9.

Sitiotio

Sabulan

22

(Sumber: BPS Samosir Dalam Angka 2006)

4.3 Luas Wilayah


Kabupaten Samosir yang terdiri dari 9 kecamatan dengan luas dan rasio
seperti terlihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Luas wilayah, rasio luas, dan jumlah desa menurut kecamatan
No.

Kecamatan

Luas
(km)

Rasio luas
(%)

Jumlah desa

Harian

581,50

40,98

11

Sianjur Mula-mula

140,24

9,88

11

Nainggolan

87,86

6,19

12

Onan Runggu

59,14

4,17

12

Palipi

129,55

9,13

13

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Pangururan

84,65

5,97

28

Ronggur Nihuta

87,15

6,14

Simanindo

198,20

13,97

16

Sitio-tio

50,76

3,58

100,00

117

Jumlah

1.419,05

(Sumber :BPS Samosir dalam angka 2006)

Wilayah Kabupaten Samosir tidak hanya terdapat pada wilayah di Pulau


Samosir saja, tapi ada juga yang terdapat pada luar pulau atau berada pada wilayah
Pulau Sumatera seperti terlihat pada Gambar 4.1.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Gambar 4.1 Peta kecamatan di Kabupaten Samosir

4.4 Penduduk
Pada tahun 2004, jumlah penduduk Kabupaten Samosir sebesar 130.078 jiwa
dengan sejumlah 26.985 KK. Jumlah penduduk laki-laki di Kabupaten Samosir lebih
sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan (Tabel 4.4).

Tabel 4.4 Jumlah penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin


No.

Kecamatan

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Harian

3.998

4.034

8.032

Sianjur Mula mula

5.013

5.044

10.057

Nainggolan

7.149

7.758

14.907

Onan Runggu

5.544

6.375

11.919

Palipi

8.718

8.772

17.490

Pangururan

13.905

14.416

28.321

Ronggur Nihuta

4.370

4.673

9.043

Simanindo

10.786

11.227

22.013

Sitiotio

4.046

4.249

8.295

63.529

66.548

130.077

Jumlah
(Sumber : BPS Samosir dalam angka 2006)

Tingkat kepadatan penduduk tahun 2006 sebesar 91,67 jiwa/km. Kecamatan


Pangururan yang merupakan ibukota kabupaten, menjadi pusat perdagangan dan
pusat pemerintahan dengan kepadatan penduduk tertinggi, yaitu sebesar 334,56
jiwa/km. Kemudian disusul Kecamatan Onan Runggu dengan tingkat kepadatan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

sebesar 201,54 jiwa/km. Sedangkan Kecamatan Harian merupakan kecamatan


dengan tingkat kepadatan terkecil, yaitu hanya 13,81 jiwa/km. Pada Tabel 4.5
terlihat tingkat kepadatan penduduk menurut kecamatan.

Tabel 4.5 Luas wilayah, jumlah kk, penduduk dan kepadatan penduduk
menurut kecamatan
Luas
Jumlah
Kepadatan
Wilayah
KK
Penduduk
No.
Kecamatan
(jiwa/km)
(km)
(jiwa)
1

Harian

581,50

1.617

8.032

13,81

Sianjur Mula - mula

140,24

2.124

10.057

71,71

Nainggolan

87,86

3.038

14.908

169,68

Onan Runggu

59,14

2.707

11.919

201,54

Palipi

129,55

3.617

17.490

135,01

Pangururan

84,65

5.614

28.321

334,56

Ronggur Nihuta

87,15

1.794

9.043

103,76

Simanindo

198,20

4.728

22.013

111,07

Sitiotio

50,76

1.745

8.295

163,42

419,05

26.985

130.078

91,67

Jumlah

(Sumber: BPS Samosir Dalam Angka 2006)

4.5 Pemerintahan
Wilayah administrasi Pemerintahan Kabupaten Samosir tahun 2004 terdiri
dari 9 kecamatan dengan 117 desa/kelurahan, yaitu 111 desa dan 6 kelurahan.
Kecamatan Pangururan merupakan kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan
terbanyak, yaitu masing-masing 25 desa/kelurahan. Sedangkan Sitiotio merupakan
kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan yang paling sedikit, yaitu hanya 6 desa.
Pada Tabel 4.6 terlihat jumlah desa menurut kecamatan pada Kabupaten Samosir.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Tabel 4.6 Jumlah desa/kelurahan menurut kecamatan


Jumlah
Jumlah
Jumlah
No.
Kecamatan
Desa
Kelurahan
Total
1 Harian
11
11
2

Sianjur Mula - mula

11

11

Nainggolan

10

12

Onan Runggu

12

12

Palipi

13

13

Pangururan

25

28

Ronggur Nihuta

Simanindo

15

16

Sitiotio

111

117

Jumlah
Sumber :BPS Samosir dalam angka 2006

4.6 Transportasi
Wilayah Samosir yang umumnya berhubungan dengan danau, memiliki 2
(dua) jenis alat transportasi yaitu transportasi darat (jalan raya) dan transportasi
danau.
a. Jalan Raya
Jalan merupakan prasarana untuk menghubungkan antara suatu daerah
terhadap daerah lainnya. Selain itu jalan juga berfungsi untuk memperlancar dan
mendorong timbulnya kegiatan perekonomian. Defenisi dari jalan luar kota adalah
ruas jalan yang tidak ada pengembangan yang menerus pada sisi manapun, meskipun
mungkin terdapat pengembangan permanen yang jarang terjadi, seperti rumah makan,
pabrik atau perkampungan. Kios kecil dan kedai pada sisi jalan bukan merupakan
pengembangan permanen. Jenis jalan luar kota juga didefinisikan pada Manual

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Kapasitas Jalan Indonesia 1997 pada umumnya sama dengan jalan perkotaan, kecuali
dicantumkan jalan satu arah dalam daftar jenis jalan luar kota, yaitu:
a. Diantara dan tak terpengaruh oleh simpang utama, dan
b. Mempunyai rencana geometrik dan arus serta komposisi lalulintas yang serupa
di seluruh panjangnya.
Ruas jalan luar kota secara umum diharapkan jauh lebih panjang dari ruas
jalan perkotaan atau semi perkotaan karena pada umumnya karakteristik geometrik
dan karakteristik lainnya tidak sering berubah dan simpang utamanya tidak selalu
berdekatan. Panjangnya mungkin puluhan kilometer, tetapi perlu untuk menetapkan
batas ruas dimana terdapat perubahan karakteristik yang penting, walaupun ruas yang
dihasilkan lebih pendek.
Batas ruas harus ditempatkan dimana jenis medan berubah, walaupun karakteristik
lainnya untuk geometrik, lalulintas dan lingkungan (hambatan) tetap sama, tetapi
tidak perlu mempermasalahkan tentang perubahan kecil pada geometriknya (misalnya
perbedaan lebar jalur lalulintas yang kurang dari setengah meter, terutama jika
erubahan kecil tersebut jarang terjadi dan dalan rentang pendek).
Sebagai prasarana transportasi yang penting dari segi kuantitas selain harus
dapat menjangkau seluruh daerah untuk membuka daerah yang terisolir, juga
memperhatikan dari segi kualitas, yaitu kondisi/keadaan jalan serta rambu-rambu
jalan. Sejalan dengan laju pembangunan dituntut peningkatan pembangunan jalan
untuk semakin memudahkan mobilitas penduduk dan barang dari satu daerah ke

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

daerah lain. Panjang jalan di Kabupaten Samosir pada tahun 2006 mencapai 655 km
(Tabel 4.7)
Tabel 4.7 Panjang jalan kabupaten menurut kecamatan
No.

Kecamatan

Harian

Sianjur Mula-mula

Panjang Jalan
(km)

(%)

68,90

10,52

103,50

15,80

Nainggolan

37,50

5,73

Onan Runggu

33,50

5,11

Palipi

184,60

28,18

Pangururan

90,80

13,86

Ronggur Nihuta

69,20

10,56

Simanindo

67,00

10,23

Sitio-tio

655,00

100,00

Jumlah
(Sumber : BPS Samosir dalam angka 2006)

b. Angkutan Danau
Selain keindahan Danau Toba, perairan Danau Toba juga berfungsi sebagai
prasarana transportasi air yang menghubungkan antar daerah, khususnya
menghubungkan antara Pulau Samosir dengan daerah lainnya.
Jumlah kunjungan kapal, penumpang dan barang pada angkutan danau di Kabupaten
Samosir tahun 2003 dari 5 dermaga masing-masing 9.136 kunjungan kapal, 314.985
penumpang dan 11.224 ton barang. Dermaga Tomok merupakan dermaga yang
paling sibuk. Jumlah kunjungan kapal, penumpang dan barang di dermaga tersebut
tahun 2003 masing-masing 5.336 kunjungan kapal, 176.684 penumpang dan 7.025
ton barang. Jumlah kunjungan kapal, penumpang dan barang terlihat pada Tabel 4.8
Tabel 4.8 Jumlah Kunjungan Kapal, Penumpang dan Barang pada
Angkutan Danau menurut Dermaga
Jumlah
Jumlah
Jumlah
Kapal
Penumpang
No.
Kecamatan
Barang (ton)
(unit)
(orang)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Onan Runggu

689

23.455

732

Pangururan

1.035

44.650

998

Mogang (Palipi)

1.454

49.006

1.522

Nainggolan

622

21.180

947

Tomok (Simanindo)

5.336

176.694

7.025

(Sumber : BPS Samosir dalam angka 2006)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

BAB V
ANALISA DAN PEMBAHASAN
5.1 Pemilihan Kriteria Analisa

Sebelum dilakukan analisis prioritas, perlu dilakukan pemilihan kriteria yang


akan dianalisis. Menurut Maggie dan Tummala (2001) seperti yang dikutip oleh
Najid, Tamin, Sjafruddin dan Santoso (2005) mengatakan bahwa metode untuk
meyakinkan tingkat dari kriteria prioritas adalah dengan menggunakan Metode Cut
off. Berdasarkan evaluasi metode ini maka konsistensi kriteria dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu jika kriteria sangat penting maka diberi nilai 3, jika kriteria lebih
penting maka diberi nilai 2 dan jika kriteria kurang penting diberi skor 1. Evaluasi
dilakukan dengan melakukan questioner yang dibagikan kepada pihak yang ikut
terlibat dalam penentuan prioritas pengembangan jaringan jalan. Pihak-pihak yang
terlibat dalam kuesioner berjumlah 8 orang yang terdiri dari 4 (empat) orang dari
Dinas PU dan 4 (empat) orang dari Bappeda.
Hasil dari analisa dengan Metode cut off yang mempunyai nilai kurang dari
batas cut off tidak akan ikut untuk dianalisis dan dianggap pengaruhnya tidak terlalu
penting dalam peningkatan jaringan jalan.

Rumus untuk penilaian cut off adalah sebagai berikut:

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(5.1)
Kriteria yang digunakan harus lebih dari nilai cut off. Pada tabel 5.1 terlihat ada
empat kriteria yang lebih dari batas nilai cut off. Kriteria ini akan terus dilanjutkan
dengan analisa yang menjadi model kriteria.

Kriteria
VCR
Bangkitan Tarikan
Kecepatan
Kepadatan

Tabel 5.1 Seleksi Kriteria


Sangat Penting Kurang Skor
Penting
Penting Total
3
4
1
18
4
3
1
19
2
5
1
17
1
2
5
12

Total
Quesioner
8
8
8
8

Skor
Rata-rata
2,25
2,38
2,13
1,50

Dari hasil nilai cut off, kepadatan harus dikeluarkan dari kriteria model karena nilai
rata-ratanya kurang dari 2 dan dianggap kriteria kepadatan kurang terlalu
berpengaruh dalam penentuan prioritas peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir
sehingga yang lolos untuk menjadi model kriteria adalah:
1. VCR
2. Bangkitan tarikan
3. Kecepatan.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

5.2 Kondisi Jalan


5.2.1 Kondisi Ruas Jalan
Jalan merupakan prasarana untuk menghubungkan antara satu daerah dengan
daerah lainnya. Selain itu jalan juga berfungsi untuk memperlancar dan mendorong
timbulnya kegiatan perekonomian. Sebagai prasarana transportasi yang penting dari
segi kuantitas selain harus dapat menjangkau seluruh daerah untuk membuka daerah
yang terisolir, jalan juga memperhatikan segi kualitas yaitu keadaan/kondisi jalan
serta rambu-rambu jalan. Sejalan dengan laju pembangunan dituntut peningkatan
pembangunan jalan untuk semakin memudahkan mobilitas penduduk dan barang dari
satu daerah ke daerah lain.
Panjang jalan di Kabupaten Samosir pada tahun 2006 mencapai 655,0 km.
Kondisi Ruas Jalan di Kabupaten Samosir umumnya mempunyai lebar jalur lalulintas
4,5 m, tipe alinyemen Bukit dan Pegunungan, tipe perkerasan aspal lentur

dan

mempunyai hambatan samping rendah. Kondisi ruas jalan pada beberapa tempat di
Kabupaten Samsosir umumnya mengikuti lereng bukit ataupun gunung, sehingga
dalam pengembangan untuk pelebaran jalan akan sulit dilakukan. Banyak kondisi
ruas jalan di Kabupaten Samosir menggunakan tipe perkerasan aspal lentur tetapi
kondisinya sudah rusak parah, sehingga perlu dilakukan perawatan ataupun
pengaspalan ulang (Tabel 5.2).

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Tabel 5.2 Kondisi ruas jalan di Kabupaten Samosir


No

Nama Ruas

Lebar
jalur
(m)

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Pangururan-Simanindo
Simanindo-Onan Runggu
Onan Runggu-Nainggolan
Nainggolan-Palipi
Palipi-Pangururan
Pangururan-Sianjur Mulamula
Harian-Pangururan
Pangururan-Ronggur Nihuta
Harian-Sitiotio

4.5
4.5
4.5
4.5
4.5
4.5
5.0
4.5
4.5

Lebar
bahu
(m)

Tipe
Alinyemen

Tipe
Perkerasan

Kondisi
Perkerasan

Hambatan
Samping

Fungsi
Jalan

2
2
2
2
2
2
1
1
1

Bukit
Bukit
Bukit
Bukit
Bukit
Bukit
Gunung
Gunung
Gunung

Lentur
Lentur
Lentur
Lentur
Lentur
Lentur
Lentur
Lentur
Lentur

Sedang
Rusak
Rusak
Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Rusak
Rusak

Sedang
Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sedang
Sangat Tinggi
Rendah
Sangat rendah

Kolektor
Kolektor
Kolektor
Kolektor
Kolektor
Kolektor
Kolektor
Lokal
Lokal

(Sumber: Hasil survei data primer & PU Kab Samosir)


Keterangan : Kondisi perkerasan baik

: IRI 4.0 m/km

Kondisi perkerasan sedang

: 4.0 < IRI 8.0 m/km

Kondisi perkerasan rusak

: IRI > 12.0 m/km

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

5.2.2 Volume Lalulintas Rata-rata


Volume kendaraan

yang melewati ruas jalan di Kabupaten Samsosir

umumnya adalah kendaraan ringan dan sepeda motor. Hal ini jelas terlihat dari
kondisi ruas jalan yang terlihat lengang. Volume kendaraan hanya terlihat tinggi pada
saat terjadi pekan ataupun pasar yang biasanya terjadi dalam seminggu sekali pada
masing-masing kecamatan. Pada saat ini volume kendaraan bisa cukup tinggi
sehingga dapat menyebabkan terjadinya kemacetan pada sekitar pekan. Namun hal
tersebut biasanya hanya terjadi pada seminggu sekali setelah itu volume kendaraan
kembali lengang
Beberapa kendaraan berat seperti truk berat dan bus berat yang lewat dimana
kendaraan berat tersebut mengangkut hasil pertanian dari Kabupaten Samosir. Jalur
keluar dari Kabupaten Samosir hanya melalui Tele dan Tomok (Simanindo), dimana
jalur keluar melalui Tele (Harian) dapat dilewati dengan jalur darat sedangkan jalur
keluar melalui Tomok (Simanindo) harus dilewati dengan transportasi danau. Hal ini
terlihat pada Gambar 5.1.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Gambar 5.1 Peta jalur masuk dan keluar di Kabupaten Samosir

Hal ini membuat volume kendaraan yang melewati Tele (Harian) dan Tomok
(Simanindo) lebih tinggi dibandingkan dengan volume kendaraan yang menuju
daerah lainnya di Kabupaten Samosir. Volume lalulintas rata-rata di Kabupaten
Samosir terlihat pada Tabel 5.3.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Tabel 5.3 Volume Lalulintas rata-rata di Kabupaten Samosir


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Kend.
Ringan

Kend.
Menengah
Berat

Bis
Besar

Truk
Besar

Sepeda
Motor

Total

Pangururan-Simanindo

(Kend/j)
45

(Kend/j)
11

(Kend/j)
1

(Kend/j)
2

(Kend/j)
60

(Kend/j)
119

Simanindo-Pangururan

38

12

47

101

Simanindo-Onan Runggu

15

30

48

Onan Runggu-Simanindo

21

14

40

Onan Runggu-Nainggolan

22

43

73

Nainggolan-Onan Runggu

26

14

46

86

Nainggolan-Palipi

36

10

81

128

Palipi-Nainggolan

34

10

70

114

Palipi-Pangururan

54

13

83

152

Pangururan-Palipi

55

16

78

151

Pangururan-Sianjur Mulamula

12

20

35

Sianjur Mulamula-Pangururan

14

17

35

Harian-Pangururan

72

14

102

197

Pangururan-Harian

67

18

93

186

Pangururan-Ronggur Nihuta

21

30

Ronggur Nihuta-Pangururan

10

31

43

Harian-Sitiotio

12

13

Sitiotio-Harian

14

16

Nama Ruas

(Sumber: Hasil survei data primer)

5.2.3 Analisis VCR


Analisis VCR atau Derajat Kejenuhan merupakan rasio arus terhadap
kapasitas, digunakan sebagai factor kunci dalam penentuan perilaku lalulintas pada
suatu segmen jalan. Nilai VCR menunjukkan apakah segmen jalan akan mempunyai
masalah kapasitas atau tidak.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Rumus yang digunakan adalah:


..

(5.2)

Dimana :
DS

= Derajat Kejenuhan (VCR)

= Arus lalulintas (smp)

= Kapasitas ruas jalan

Derajat kejenuhan dihitung dengan menggunakan arus dan kapasitas yang


dinyatakan dalam smp/jam. Derajat Kejenuhan digunakan untuk analisa perilaku
lalulintas berupa kecepatan. Formulir IR-3 pada MKJI digunakan sebagai analisa
menentukan kecepatan arus bebas sesungguhnya dengan data masukan dari langkah
A (Formulir IR-1 dan IR-2).
Dari hasil perhitungan untuk mencari VCR dengan MKJI diperoleh hasil
analisis kecepatan seperti terlihat pada tabel 5.4.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Tabel 5.4 Hasil analisis VCR pada ruas jalan di Kabupaten Samosir
Nama Ruas
VCR
Pangururan Simanindo
0.16
Simanindo Onan Runggu
0.05
Onan Runggu Nainggolan
0.08
Nainggolan Palipi
0.12
Palipi Pangururan
0.16
Pangururan Sianjur Mulamula
0.04
Harian Pangururan
0.29
Pangururan Ronggur Nihuta
0.04
Harian Sitiotio
0.01

Dari tabel 5.4 diketahui bahwa ruas jalan yang mempunyai VCR yang
tertinggi adalah pada ruas jalan Harian - Pangururan, sedangkan nilai VCR yang
terendah adalah ruas jalan Harian-Sitiotio.
Pada umumnya dari hasil analisa VCR, ruas jalan yang diteliti masih cukup
baik dalam menampung volume lalulintas yang lewat dijalannya dengan Level of
service (LOS) A. Namun berdasarkan hasil analisa VCR, diketahui daerah yang
mempunyai prioritas pengembangan jalan adalah daerah yang mempunyai nilai VCR
terendah yaitu ruas jalan Harian Pangururan, dan yang mempunyai prioritas
terendah adalah ruas jalan Harian Sitio-tio.

5.3 Kecepatan Rata-rata


5.3.1 Data waktu tempuh kendaraan
Kecepatan rata-rata kendaraan pada suatu ruas jalan dapat dihitung dengan
menghitung jarak dan waktu tempuh dari suatu ruas jalan. Survei dilakukan dengan
mengamati waktu tempuh kendaraan ringan yang lewat sebanyak 6 kendaraan ringan.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Waktu tempuh kendaraan yang lewat kemudian dibagikan dengan jumlah kendaraan
untuk mendapatkan waktu tempuh rata-rata kendaraan ringan yang lewat.
Dari hasil survei terhadap kendaraan ringan yang melewati ruas jalan di Kabupaten
Samosir diperoleh data sebagai berikut:
a.

Ruas jalan Pangururan-Simanindo (48 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
48
1.23
2
48
1.00
3
48
1.08
4
48
1.12
5
48
1.03
6
48
1.18

b.

Ruas jalan Simanindo-Onan Runggu (39.7 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
39
0.97
2
39
0.83
3
39
0.78
4
39
0.82
5
39
0.83
6
39
0.77

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

c.

Ruas jalan Onan Runggu - Nainggolan (11.5 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
11.5
0.25
2
11.5
0.30
3
11.5
0.22
4
11.5
0.28
5
11.5
0.23
6
11.5
0.22

d. Ruas jalan Nainggolan - Palipi(11.9 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
11.9
0.28
2
11.9
0.25
3
11.9
0.27
4
11.9
0.27
5
11.9
0.32
6
11.9
0.25
e.

Ruas jalan Palipi - Pangururan (11.1 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
11.1
0.27
2
11.1
0.27
3
11.1
0.25
4
11.1
0.28
5
11.1
0.27
6
11.1
0.27

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

f.

Ruas jalan Pangururan - Sianjur Mulamula (6.02 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
10.02
0.23
2
10.02
0.25
3
10.02
0.22
4
10.02
0.22
5
10.02
0.22
6
10.02
0.23

g. Ruas jalan Pangururan-Harian (17.2 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
17.2
0.58
2
17.2
0.55
3
17.2
0.57
4
17.2
0.55
5
17.2
0.55
6
17.2
0.53
h.

Ruas jalan Pangururan-Ronggur Nihuta (13.9 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
13.9
0.33
2
13.9
0.38
3
13.9
0.33
4
13.9
0.33
5
13.9
0.35
6
13.9
0.37

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

i.

Ruas jalan Harian-Sitiotio (24.4 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
24.4
0.58
2
24.4
0.58
3
24.4
0.62
4
24.4
0.60
5
24.4
0.62
6
24.4
0.62

5.3.2 Analisis Kecepatan


Analisa kecepatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisa
kecepatan dengan metode kecepatan rata-rata waktu (time mean speed, TMS) dengan
meninjau waktu dari kendaraan ringan dalam menempuh suatu jarak dari ibukota
kecamatan yang satu dengan kecamatan lainnya pada ruas jalan di Kabupaten
Samosir.
Rumus yang dipergunakan adalah
..

(5.3)

Dimana: n = jumlah kendaraan yang diamati


Ui = spot speed tiap kendaraan yang diamati
Atau
..
Dimana:

(5.4)

L = panjang ruas jalan yang ditempuh kendaraan


ti = waktu yang diperlukan tiap kendaraan yang diamati untuk menempuh
jarak L

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

a. Ruas jalan Pangururan-Simanindo (48.2 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
48
1.23
2
48
1.00
3
48
1.08
4
48
1.12
5
48
1.03
6
48
1.18
288
6.65
Total
1.11
Rata-rata
b. Ruas jalan Simanindo-Onan Runggu (39.7 km)
Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
39
0.97
2
39
0.83
3
39
0.78
4
39
0.82
5
39
0.83
6
39
0.77
234
5.00
Total
0.83
Rata-rata
c. Ruas jalan Onan Runggu - Nainggolan (11.5 km)
Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
11.5
0.25
2
11.5
0.30
3
11.5
0.22
4
11.5
0.28
5
11.5
0.23
6
11.5
0.22
69
1.50
Total
0.25
Rata-rata

Kecepatan
d=b/c
38.92
48.00
44.31
42.99
46.45
40.56
261.23
43.54

Kecepatan
d=b/c
40.34
46.80
49.79
47.76
46.80
50.87
282.36
47.06

Kecepatan
d=b/c
46.00
38.33
53.08
40.59
49.29
53.08
280.36
46.73

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

d. Ruas jalan Nainggolan - Palipi(11.9 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
11.9
0.28
2
11.9
0.25
3
11.9
0.27
4
11.9
0.27
5
11.9
0.32
6
11.9
0.25
71.4
1.63
Total
0.27
Rata-rata
e. Ruas jalan Palipi - Pangururan (11.1 km)
Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
11.1
0.27
2
11.1
0.27
3
11.1
0.25
4
11.1
0.28
5
11.1
0.27
6
11.1
0.27
66.6
1.60
Total
0.27
Rata-rata
f.

Ruas jalan Pangururan - Sianjur Mulamula (6.02 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
10.02
0.23
2
10.02
0.25
3
10.02
0.22
4
10.02
0.22
5
10.02
0.22
6
10.02
0.23
60.12
1.37
Total
0.23
Rata-rata

Kecepatan
d=b/c
42.00
47.60
44.63
44.63
37.58
47.60
264.03
44.00

Kecepatan
d=b/c
41.63
41.63
44.40
39.18
41.63
41.63
250.08
41.68

Kecepatan
d=b/c
42.94
40.08
46.25
46.25
46.25
42.94
264.70
44.12

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

g. Ruas jalan Pangururan-Harian (17.2 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
17.2
0.58
2
17.2
0.55
3
17.2
0.57
4
17.2
0.55
5
17.2
0.55
6
17.2
0.53
103.2
3.33
Total
0.56
Rata-rata
h. Ruas jalan Pangururan-Ronggur Nihuta (13.9 km)
Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
13.9
0.33
2
13.9
0.38
3
13.9
0.33
4
13.9
0.33
5
13.9
0.35
6
13.9
0.37
83.4
2.1
Total
0.35
Rata-rata
i.

Ruas jalan Harian-Sitiotio (24.4 km)


Jarak
Waktu tempuh
No Kendaraan
(km)
(jam)
A
b
c
1
24.4
0.58
2
24.4
0.58
3
24.4
0.62
4
24.4
0.60
5
24.4
0.62
6
24.4
0.62
146.4
3.62
Total
0.60
Rata-rata

Kecepatan
d=b/c
29.49
31.27
30.35
31.27
31.27
32.25
185.91
30.98

Kecepatan
d=b/c
41.70
36.26
41.70
41.70
39.71
37.91
238.98
39.83

Kecepatan
d=b/c
41.83
41.83
39.57
40.67
39.57
39.57
243.03
40.50

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Dari hasil perhitungan untuk mencari kecepatan hasil analisis kecepatan seperti
terlihat pada Tabel 5.5
Tabel 5.5 Kecepatan rata-rata pada ruas jalan di Kabupaten Samosir
Nama Ruas
Kecepatan rata-rata
(Km/Jam)
Pangururan Simanindo
44
Simanindo Onan Runggu
47
Onan Runggu Nainggolan
47
Nainggolan Palipi
44
Palipi Pangururan
42
Pangururan Sianjur Mulamula
44
Harian Pangururan
31
Pangururan Ronggur Nihuta
40
Harian Sitiotio
40

Dari tabel 5.5 diatas diketahui bahwa ruas jalan yang mempunyai kecepatan
rata-rata yang tertinggi adalah pada ruas jalan Simanindo Onan Runggu, sedangkan
kecepatan rata-rata yang terendah adalah ruas jalan Harian Pangururan sehingga
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berdasarkan survei yang dilakukan, yaitu:
a. Lebar jalan yang masih sempit
b. Volume kendaraan yang tidak terlalu banyak
c. Hambatan samping yaitu sempitnya jalan karena kondisi jalan di daerah
bukit/gunung dan dekat dengan danau.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

5.4 Model Bangkitan Pergerakan


5.4.1 Data Bangkitan dan Tarikan
Model yang dikembangkan pada studi ini diperoleh dari bangkitan dan tarikan
pergerakan hasil studi O-D di Kabupatan Samosir (Dinas Pekerjaan Umum, 2006,
Penyusunan Rencana Induk Pengelolaan Jaringan Jalan (Road Management System)
Kabupaten Samosir) yang dikaitkan dengan tata guna tanah, karakteristik sosialekonomi. Model yang dibuat adalah untuk pergerakan penumpang dan barang di
wilayah studi dengan PDRB harga konstan (X) dan jumlah pergerakan (Y) dimana
satuan pergerakan penumpang (orang per tahun) dan pergerakan barang (ton per
tahun) sebagai berikut.:
Bangkitan untuk pergerakan penumpang adalah

: Y = 1,38208E-05X

Bangkitan untuk pergerakan barang adalah

: Y = 6,12509E-06X

Tarikan untuk pergerakan penumpang adalah

: Y = 1,18849E-05X

Tarikan untuk pergerakan barang adalah

: Y = 4,78960E-05X

Hasil bangkitan dan tarikan pergerakan dari model untuk penumpang dan barang
dapat dihitung dengan melihat PDRB Kabupaten Samosir per Kecamatan.

5.4.2 Data Struktur Ekonomi


Dalam struktur

perekonomian Kabupaten Samosir,

sektor

pertanian

merupakan sektor dominan. Sektor ini merupakan penyumbang terbesar dalam

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

perekonomian Kabupaten Samosir dengan kontribusi 47,54% pada tahun 2004.


Sektor lain yang relatif memberikan sumbangan berarti adalah sektor jasa
kemasyarakatan, sosial dan perorangan yaitu sebesar 22,24%. Kemudian disusul oleh
sektor industri sebesar 13,07%. Sektor kegiatan ekonomi lainnya memiliki kontribusi
di bawah 10% bahkan terdapat sektor pertambangan dan penggalian yang memiliki
kontribusi di bawah 1%. Dominasi sektor pertanian juga ditunjukkan oleh sebagian
besar penduduk di Kabupaten Samosir yang bekerja di sektor pertanian.
Hal ini dapat terlihat pada Gambar 5.2.

Pertanian
Jasa kemasyarakatan
Perekonomian
Industri
Pertambangan

Gambar 5.2 Diagram struktur ekonomi di Kabupaten Samosir

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

5.4.3 Analisis Bangkitan dan Tarikan


Sebagai salah satu dasar penentuan tingkat kebutuhan peningkatan ruas jalan
di Kabupaten Samosir, perlu diketahui besarnya kebutuhan pergerakan/volume dan
karakteristik lalu lintasnya dengan menetukan suatu model bangkitan dan tarikan
pada tiap zona yang ada di Kabupaten Samosir.
5.4.3.1 Penentuan Sistem zona
Sistem pembagian zona didasarkan pada sistem tata guna tanah dimana suatu
satuan tata guna tanah didapat dengan membagi wilayah studi menjadi bagian-bagian
yang lebih kecil (zona), yang dianggap mempunyai keseragaman tata guna tanah
tetapi menimbang ketersediaan data, penyederhanaan zona dilakukan dengan
mengikuti sistem administrasi pemerintahan.
Pada studi ini, daerah studi akan dibagi menjadi zona yang didasarkan pada
tingkat kecamatan 9 zona internal. Sistem zona dapat dilihat pada Tabel 5.6.

Kode
01
02
03
04
05
06
07
08
09

Tabel 5.6 Kode zona wilayah studi berdasarkan kecamatan


Kecamatan
Ibukota Kecamatan
Harian
Harian Boho
Sianjur Mula-mula
Sagala
Nainggolan
Nainggolan
Onan Runggu
Onan Runggu
Palipi
Mogang
Pangururan
Pangururan
Ronggur Nihuta
Ronggur Nihuta
Simanindo
Ambarita
Sitiotio
Sabulan

(Sumber : BPS Samosir Dalam Angka 2007)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

5.4.3.2 Analisa Bangkitan Pergerakan


Dari hasil pemodelan bangkitan dan tarikan yang diperoleh dari hasil studi OD di Kabupatan Samosir (Dinas Pekerjaan Umum, 2006, Penyusunan Rencana Induk
Pengelolaan Jaringan Jalan (Road Management System) Kabupaten Samosir) yang
dikaitkan dengan tata guna tanah, karakteristik sosial-ekonomi maka diperoleh model
untuk pergerakan penumpang dan barang di wilayah studi dengan PDRB harga
konstan (X) dan jumlah pergerakan (Y) dimana satuan pergerakan penumpang (orang
per tahun) dan pergerakan barang (ton per tahun) sebagai berikut:
Bangkitan untuk pergerakan penumpang adalah

: Y = 1,38208E-05X

Bangkitan untuk pergerakan barang adalah

: Y = 6,12509E-06X

Tarikan untuk pergerakan penumpang adalah

: Y = 1,18849E-05X

Tarikan untuk pergerakan barang adalah

: Y = 4,78960E-05X

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan ukuran kinerja makro


kegiatan ekonomi di suatu wilayah. PDRB suatu wilayah menggambarkan struktur
ekonomi daerah, peranan sektor-sektor ekonomi dan pergeserannya yang didasarkan
pada PDRB atas dasar harga berlaku. Disamping itu PDRB menunjukkan laju
pertumbuhan ekonomi baik secara total maupun per sektor dengan membandingkan
PDRB tahun berjalan terhadap tahun sebelumnya menggunakan atas harga tetap di
tahun tertentu.
PDRB Kabupaten Samosir atas dasar harga berlaku tahun 2006 sebesar
Rp1.796.604.980.000 rupiah. Sektor pertanian merupakan sektor yang memberi

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

peranan ata kontribusi yang terbesar terhadap PDRB tahun 2006. Tahun 2006 sektor
ini memberi andil terhadap PDRB sebesar 42.34 %. Sektor kedua yang memberi
kontribusi yang terbesar adalah sektor jasa sebesar 25.54 % (Gambar 5.3)

1%
3%

Pertanian

13%
42%

11%

Jasa-jasa
Keuangan
Transportasi
Perdagangan

3%
1%

26%

Konstruksi
Industri
Kehutananan

Gambar 5.3 Persentase distribusi PDRB atas harga berlaku di


Kabupaten Samosir

Dari data PDRB serta sumber masukan PDRB maka perlu dihitung besarnya
PDRB dari masing-masing kecamatan sehingga nilai pergerakan bangkitan dan
tarikan terhadap penumpang dan barang dapat dihitung. Sumber-sumber masukan
dari tiap kecamatan yang ditinjau dari bidang pertanian, jasa-jasa (pariwisata),
keuangan, transportasi (pengangkutan), perdagangan, konstruksi, industri, dan
kehutanan. Masukan PDRB dari tiap kecamatan di Kabupaten Samosir terlihat pada
Tabel 5.7.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Tabel 5.7 PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dari kecamatan di Kabupaten Samosir
No

Kecamatan

Pertanian

Jasa-jasa

Keuangan

Transportasi

Perdagangan

Konstruksi

Industri

Kehutananan

Jumlah

42.34%

25.54%

1.38%

2.87%

10.88%

2.62%

13.45%

0.92%

100%

Sianjur
Mula-mula

164,726,279,856

17,850,543,255

529,081,250

13,547,468,839

3,318,636,473

8,648,289,025

1,894,246,832

210,514,545,531

Harian

93,816,052,484

11,461,927,775

1,412,464,494

7,741,410,765

2,694,370,434

17,805,300,933

9,337,084,691

144,268,611,576

Sitio-tio

50,433,296,823

829,015,585

1,935,352,691

1,820,083,955

14,752,963,631

2,412,623,109

72,183,335,794

Onan
Runggu

84,201,678,174

11,274,027,319

3,014,668,471

7,741,410,765

3,811,099,849

12,209,349,211

122,252,233,790

Nainggolan

114,799,002,734

120,256,291,405

2,500,620,427

9,488,298,626

23,224,232,296

3,419,346,673

52,907,179,916

326,594,972,078

Palipi

117,851,988,261

87,749,512,635

5,989,345,698

1,705,270,260

13,547,468,839

5,938,259,963

71,729,926,617

516,461,425

305,028,233,697

Ronggur
Nihuta

19,397,421,855

2,372,473,300

1,935,352,691

2,667,272,630

22,383,806,888

104,432,659

48,860,760,023

Pangururan

69,156,025,744

155,581,577,005

7,651,609,519

7,815,822,025

118,056,514,171

7,738,477,093

28,997,204,377

394,997,229,933

Simanindo

46,300,802,601

54,679,032,498

493,869,980

32,553,172,015

7,741,410,765

15,663,503,405

12,209,349,211

2,263,917,101

171,905,057,578

760,682,548,532

458,852,911,892

24,793,148,724

51,562,562,926

195,470,621,824

47,071,050,476

241,643,369,810

16,528,765,816

1,796,604,980,000

Catatan: semua angka tertera dalam rupiah

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Dari hasil PDRB tiap kecamatan kemudian akan dimasukkan ke rumus


bangkitan dan tarikan terhadap penumpang dan barang.
Contoh:
Untuk Kecamatan Sianjur Mula-mula:
Jumlah PDRB (X) sebesar 210.514.545.531
Maka besar bangkitan penumpang (Y) adalah:
Y = 1,38208E-05X
Y = 1,38208E-05(210.514.545.531)
Y = 2.909.479

Besar bangkitan barang (Y) adalah:


Y = 6,12509E-06X
Y = 6,12509E-06(210.514.545.531
Y = 1.289.421

Selanjutnya hasil analisa bangkitan pergerakan dari model untuk penumpang dan
barang dapat terlihat pada Tabel 5.8.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tabel 5.8 Hasil analisa terhadap bangkitan penumpang dan bangkitan barang
Bangkitan penumpang Bangkitan barang Total Bangkitan
Kecamatan
Y = 1,38208E-05X
Y = 6,12509E-06X
Sianjur Mula-mula
2,909,479
1,289,421
4,198,900
Harian
1,993,908
883,658
2,877,566
Sitio-tio
997,631
442,129
1,439,761
Onan Runggu
1,689,624
748,806
2,438,430
Nainggolan
4,513,804
2,000,424
6,514,227
Palipi
4,215,734
1,868,325
6,084,060
Ronggur Nihuta
675,295
299,277
974,571
Pangururan
5,459,178
2,419,394
7,878,571
Simanindo
2,375,865
1,052,934
3,428,799

Dari hasil analisa terhadap bangkitan penumpang dan bangkitan barang, maka
Kecamatan Pangururan mempunya nilai bangkitan yang paling besar, sedangkan nilai
bangkitan yang paling rendah adalah Kecamtan Ronggur Nihuta.
Hal ini disebabkan karena Kecamatan Panguruaran merupakan ibukota Kabupaten
dan pusat pemerintahan dan perekonomian Kabupaten Samosir, sedangkan untuk
Kecamatan Ronggur Nihuta, bangkitan penumpang dan barang cenderung rendah
karena lokasi kecamatan yang di atas bukit serta kondisi jalan yang sangat buruk.
Untuk Tarikan penumpang di Kecamatan Sianjur Mula-mula:
Jumlah PDRB (X) sebesar 210.514.545.531
Maka besar Tarikan penumpang (Y) adalah:
Y = 1,18849E-05X
Y = 1,18849E -05(210.514.545.531)
Y = 2.501.944

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Besar Tarikan barang (Y) adalah:


Y = 7,78960E-06X
Y = 7,78960E-06(210.514.545.531
Y = 10.082.805
Selanjutnya hasil analisa bangkitan pergerakan dari model untuk penumpang dan
barang dapat terlihat pada Tabel 5.9.

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tabel 5.9 Hasil analisa terhadap tarikan penumpang dan bangkitan barang
Tarikan penumpang
Tarikan Barang
Total Tarikan
Kecamatan
Y = 1,18849E-05X
Y = 4,78960E-05X
Sianjur Mula-mula
2,501,944
10,082,805
12,58,749
Harian
1,714,618
6,909,889
8,624,507
Sitio-tio
857,892
3,457,293
4,315,185
Onan Runggu
1,452,956
5,855,393
7,308,349
Nainggolan
3,881,549
15,642,593
19,524,141
Palipi
3,625,230
14,609,632
18,234,862
Ronggur Nihuta
580,705
2,340,235
2,920,940
Pangururan
4,694,503
18,918,787
23,613,290
Simanindo
2,043,074
8,233,565
10,276,639

Dari hasil analisa terhadap tarikan penumpang dan barang, nilai tarikan yang paling
tinggi adalah Kecamatan Pangururan dan nilai tarikan penumpang dan barang yang
paling rendah adalah Ronggur Nihuta.Hal ini juga disebabkan oleh kondisi
Kecamatan Pangururan sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian sehingga
menyebabakan tingginya nilai tarikan untuk Kecamatan Pangururan.
Nilai tarikan untuk Kecamatan Ronggur Nihuta rendah karena kondisi jalan yang
rusak sehingga sulitnya menuju Kecamatan Ronggur Nihuta. Hal ini menyebabkan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

sulitnya mengangkut hasil pertanian dari Kecamatan Ronggur Nihuta ke daerahdaerah lain.

5.5 Analisis Prioritas Pengembangan Ruas Jalan


Tahapan penetapan prioritas pembangunan jaringan jalan di Kabupaten
Samosir melalui langkah langkah sebagai berikut :
a. Penetapan kantong-kantong produksi (skala kecamatan),
b. Identifikasi jaringan jalan yang melewati kantong-kantong produksi (sentra
ekonomi) baik kelas jalan, kondisi jalan dan kendaraan yang melewati.
c. Identifikasi perkembangan wilayah di sekitar kantong-kantong produksi
(sentra ekonomi),
d. Identifikasi skala potensi kantong-kantong produksi (sentra ekonomi) baik
skala lokal, regional, nasional maupun internasional.

Untuk lebih jelasnya penilaian terhadap sentra-sentra ekonomi di kabupaten


Samosir dapat dilihat dalam Tabel 5.14. Berdasarkan Tabel 5.14 tersebut maka nilai
tertinggi diprioritaskan untuk dibangun (perbaikan, pembangunan jalan baru,
peningkatan kelas) terlebih dahulu. Tahap selanjutnya adalah menetapkan apakah
perlu pembangunan jalan baru atau perbaikan jalan yang sudah ada, salah satu kriteria
yang dapat dipergunakan adalah nilai kestrategisan kawasan dalam skala yang lebih
luas

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Hal ini berarti :


1. Koridor jalan menjadi urat nadi utama bagi pengembangan wilayah
sekitarnya,
2. Di sepanjang koridor terdapat sentra-sentra ekonomi potensial,
3. Keberadaan koridor jalan membantu membuka keterisolasian wilayah.
Pola pikir untuk analisis prioritas dengan metode AHP, dapat digambarkan dalam
skema (bagan) terlihat pada Gambar 5.5.

Prioritas penentuan
peningkatan ruas jalan

Analisa
Kecepatan

Analisa Bangkitan
& Tarikan

Analisa VCR

Gambar 5.5 Skema hirarki untuk Analisis Prioritas Peningkatan Ruas Jalan di
Kabupaten Samosir
Keterangan:
A = Ruas Jalan Pangururan Simanindo
B = Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
C = Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
D = Ruas Jalan Nainggolan Palipi
E = Ruas Jalan Palipi Pangururan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

F = Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula


G = Ruas Jalan Harian Pangururan
H = Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta
I = Ruas Jalan Harian Sitiotio

Pemilihan responden dalam AHP, diperoleh dengan melakukan kegiatan wawancara


dengan menggunakan kuisioner yang dilakukan terhadap 8 (delapan) responden di
instansi pemerintahan, terdiri dari :
a. Dinas PU (4 orang)
b. Bappeda Tk II (4 orang)
Perbandingan karakteristik dari semua analisa dan setiap cara dinyatakan dalam
matriks pada Tabel 5.10.
Tabel 5.10 Matriks perbandingan dari semua analisa
Analisa
Analisa
Analisa
Kecepatan
VCR
Bangkitan & Tarikan
1
2
5
An. Kecepatan
An. VCR

0.5

An. Bangkitan & Tarikan

0.20

0.50

Perhitungan matriks untuk semua aspek:

kolom =

1
0,5
0,2
1,7

2
1
0,50
3,50

5
2
1
8 =

13,20 ( total)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Dengan unsur-unsur pada tiap kolom dibagi dengan jumlah kolom yang
bersangkutan, diperoleh matriks sebagai berikut:
0,59
0,29
0,12

0,57
0,29
0,14

0,63
0,25
0,13

Selanjutnya diambil rata-rata nilai untuk setiap baris, menghasilkan = 0,45; 0,21;
0,10.
Vektor kolom ini kemudian dikalikan dengan matriks semula, menghasilkan nilai
untuk tiap baris, yang selanjutnya setiap nilai dibagi kembali dengan nilai vektor
yang bersangkutan
Nilai rata-rata dari hasil pembagian ini merupakan principal eigen value maksimum
(maks)
0,45
0,21
0,10
maks =

1
0,50
0,20

2
1
0,50

9,017

5 =
2
1

3,006

1,34 :
0,62 :
0,29 :

0,45
0,21
0,10

=
=
=
=

3,010
3,004
3,002
9,017

mendekati 3

Consistency index (CI) diperoleh menurut rumus:


dengan n adalah banyaknya unsur dalam matriks
CI =

3,006 - 3
3 - 1

0.003

Selanjutnya Consistency Ratio (CR) dinyatakan dengan persamaan :

Dengan RI (Random Index), yang tergantung dari jumlah unsur dalam matriks (=n)
menurut Tabel 5.11.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Tabel 5.11 Nilai RI menurut jumlah unsur dalam matriks


n
RI
1
0,00
2
0,00
3
0,58
4
0,90
5
1,12
6
1,24
7
1,32
8
1,41
9
1,45
10
1,49
11
1,51
12
1,48
13
1,56
14
1,57
15
1,59
Sumber: Saaty, Thomas L., 1993
Untuk n = 3, RI = 0,90, maka:
0,003
=
0,58

CR =

0.005

Jadi maks = 3,006, mendekati n = 3; CI = 0.003


CR = 0,005

cukup kecil,
cukup kecil

Kesimpulan : hasil cukup konsisten


Untuk memperoleh vektor prioritas, setiap unsur di setiap baris dikalikan, dan
selanjutnya ditarik akar pangkat n
Hasil dari setiap baris ini kemudian dibagi dengan jumlah dari hasil semua baris
1
0,5
0,2

2
1
0,5

5
2
1

1x2x4x5

2,154

0.5 x 1 x 3 x 2

1,000

0.2 x 0.5 x 0.25 x 1

=
=

0,464
3,619

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

vektor prioritas :
2,154 : 3,619
1,000 : 3,619
0,464 : 3,619

=
=
=

0,595
0,276
0,128

Matriks perbandingan dari setiap analisa terhadap ke sembilan cara penanganan


lalulintas adalah sebagai berikut:
a. Hasil analisa kecepatan

A
B
C
D
E
F
G
H
I

A
1
1
1
1
0.5
1
0.25
0.5
0.5

B
1
1
1
0.5
0.33
0.5
0.2
0.25
0.25

C
1
1
1
0.5
0.33
0.5
0.2
0.25
0.25

D
1
2
2
1
0.5
1
0.25
0.33
0.33

E
2
3
3
2
1
1.00
0.33
0.5
0.5

F
1
2
2
1
1
1
0.25
0.5
0.5

G
4
5
5
4
3
4
1
1
1

H
2
4
4
3
2
2
1
1
1

I
2
4
4
3
2
2
1
1
1

4
5
5
4
3
4
1
1
1
28

2
4
4
3
2
2
1
1
1
20

2
4
4
3
2
2
1
1
1
20

Perhitungan Matriks untuk Analisa Kecepatan

kolom =

1
1
1
1
0.5
1
0.25
0.5
0.5
6.75

1
1
1
2
1
1
2
3
1
1
2
3
0.5
0.5
1
2
0.33 0.33
0.5
1
0.5
0.5
1
1
0.2
0.2
0.25 0.33
0.25 0.25 0.33
0.5
0.25 0.25 0.33
0.5
5.033 5.033 8.417 13.33

1
2
2
1
1
1
0.25
0.5
0.5
9.25

=115.817( total)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Dengan unsur pada setiap kolom dibagi dengan jumlah pada kolom masingmasing, diperoleh matriks sebagai berikut:
0.148
0.148
0.148
0.148
0.074
0.148
0.037
0.074
0.074

0.199
0.199
0.199
0.099
0.066
0.099
0.040
0.050
0.050

0.199
0.199
0.199
0.099
0.066
0.099
0.040
0.050
0.050

0.119
0.238
0.238
0.119
0.059
0.119
0.030
0.040
0.040

0.150
0.225
0.225
0.150
0.075
0.075
0.025
0.038
0.038

0.108
0.216
0.216
0.108
0.108
0.108
0.027
0.054
0.054

0.143
0.179
0.179
0.143
0.107
0.143
0.036
0.036
0.036

0.100
0.200
0.200
0.150
0.100
0.100
0.050
0.050
0.050

0.100
0.200
0.200
0.150
0.100
0.100
0.050
0.050
0.050

baris =
1.265
1.803
1.803
1.167
0.756
0.992
0.334
0.440
0.440

Hasil rata-rata untuk setiap baris (Jumlah tiap baris dibagi n =9):
0.141 0.200 0.200 0.130 0.084 0.110 0.037 0.049 0.049

Hasilnya dirata-ratakan menjadi eigen value maksimum (maks)


maks
0.141

= 1.293 : 0.141

=9.198

0.200

1.850 : 0.200

=9.234

0.200

1.850 : 0.200

=9.234

0.130

0.5

0.5

1.191 : 0.130

=9.186

0.084

0.5

0.5

0.770 : 0.084

=9.163

0.110

0.5

0.5

1.009 : 0.110

=9.156

0.037

0.25

0.2

0.2

0.338 : 0.037

=9.114

0.049

0.5

0.25 0.25 0.33

0.5

0.5

0.446 : 0.049

=9.111

0.049

0.5

0.25 0.25 0.33

0.5

0.5

0.446 : 0.049

=9.111

0.33 0.33

0.25 0.33 0.25

=82.507

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Untuk n = 9, RI = 1,45, maka:


maks =
CI =
CR =

82.507
9
9.167
9
0.021
1.45

9.167

mendekati 9
=

0.021
Cukup Kecil

0.014

Kesimpulan : hasil cukup konsisten


b. Hasil analisa VCR

A
B
C
D
E
F
G
H
I

A
1
2.5
2
1.33
1
4
0.33
4
5

B
0.4
1
0.5
0.4
0.25
1.25
0.17
1.25
2

C
0.5
2
1
0.67
0.5
2
0.2
2
4

D
0.75
2.5
1.5
1
0.67
2
0.2
2
5

E
1
4
2
1.5
1
2
0.2
2
5

F
0.25
0.8
0.5
0.5
0.5
1
0.17
1
4

G
3
6
5
5
5
6
1
5.00
5

H
0.25
0.8
0.5
0.5
0.5
1
0.20
1
4

I
0.20
0.5
0.25
0.2
0.2
0.25
0.20
0.25
1

Perhitungan Matriks untuk Hasil analisa VCR

kolom =

1
2.5
2
1.33
1
4
0.33
4
5
21.17

0.4
1
0.5
0.4
0.25
1.25
0.17
1.25
2
7.22

0.5
0.75
1
0.25
3
2
2.5
4
0.8
6
1
1.5
2
0.5
5
0.67
1
1.5
0.5
5
0.5
0.67
1
0.5
5
2
2
2
1
6
0.2
0.2
0.2 0.17
1
2
2
2
1
5
4
5
5
4
5
12.87 15.62 18.70 8.72 41.00

0.25
0.8
0.5
0.5
0.5
1
0.20
1
4
8.75

0.20
0.5
0.25
0.2
0.2
0.25
0.20
0.25
1
3.05 =137.08( total)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Dengan unsur pada setiap kolom dibagi dengan jumlah pada kolom masingmasing, diperoleh matriks sebagai berikut:

0.047
0.118
0.094
0.063
0.047
0.189
0.016
0.189
0.236

0.055
0.139
0.069
0.055
0.035
0.173
0.023
0.173
0.277

0.039
0.155
0.078
0.052
0.039
0.155
0.016
0.155
0.311

0.048
0.160
0.096
0.064
0.043
0.128
0.013
0.128
0.320

0.053
0.214
0.107
0.080
0.053
0.107
0.011
0.107
0.267

0.029
0.092
0.057
0.057
0.057
0.115
0.019
0.115
0.459

0.073
0.146
0.122
0.122
0.122
0.146
0.024
0.122
0.122

0.029
0.091
0.057
0.057
0.057
0.114
0.023
0.114
0.457

0.066
0.164
0.082
0.066
0.066
0.082
0.066
0.082
0.328

baris =
0.439
1.280
0.763
0.617
0.519
1.210
0.210
1.186
2.778

Hasil rata-rata untuk setiap baris (Jumlah tiap baris dibagi n =9):
0.049 0.142 0.085 0.069 0.058 0.134 0.023 0.132 0.309

Nilai vektor kolom ini selanjutnya dikalikan dengan matriks semula, dan hasil
perkalian kemudian dibagi kembali dengan nilai vektor kolom yang bersangkutan.
Hasilnya dirata-ratakan menjadi eigen value maksimum (maks)
maks
0.049
1
0.4 0.5 0.75 1 0.25
0.142 2.5
1
2
2.5
4
0.8
0.085
2
0.5
1
1.5
2
0.5
0.069 1.33 0.4 0.67
1
1.5 0.5
0.058
1
0.25 0.5 0.67 1
0.5
0.134
4
1.25
2
2
2
1
0.023 0.33 0.17 0.2 0.2 0.2 0.17
0.132
4
1.25
2
2
2
1
0.309
5
2
4
5
5
4

3
6
5
5
5
6
1
5
5

0.25
0.8
0.5
0.5
0.5
1
0.20
1
4

0.20 = 0.455 : 0.049 = 9.333


0.5
1.343 : 0.142 = 9.444
0.25
0.798 : 0.085 = 9.417
0.2
0.645 : 0.069 = 9.413
0.2
0.541 : 0.058 = 9.390
0.25
1.278 : 0.134 = 9.505
0.2
0.216 : 0.023 = 9.262
0.25
1.255 : 0.132 = 9.524
1
2.988 : 0.309 = 9.682
=84.970

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Untuk n = 9, RI = 1,45, maka:


84.970
=
9.441
mendekati 9
9
9.441
9
CI =
=
0.055
9
1
0.055
Cukup Kecil
CR =
=
0.038
1.45
Kesimpulan : hasil cukup konsisten
maks =

c. Hasil analisa Bangkitan & Tarikan

A
B
C
D
E
F
G
H
I

A
1
2.0
2
1.33
0.5
0.5
3
0.4
1.25

B
0.5
1
2.00
1.25
0.33
0.33
3
0.29
0.5

C
0.5
0.5
1
0.5
0.2
0.2
1.67
0.17
0.33

D
0.75
0.8
2
1
0.33
0.33
2.5
0.29
0.67

E
2
3
5
3
1
1.25
5
0.67
2

F
2
3
5
3
0.8
1
5
0.67
2

G
0.40
0.40
0.6
0.4
0.2
0.2
1
0.14
0.25

H
2.5
3.5
6
3.5
1.5
1.5
7
1
3

I
0.8
2
3
1.5
0.5
0.5
4
0.4
1

Perhitungan matriks untuk Hasil analisa Bangkitan Tarikan

kolom =

1
0.50
0.5
0.75
2
2
0.40
2
1
0.5
0.8
3
3
0.40
2
2.00
1
2
5
5
0.6
1.33 1.25
0.5
1
3
3
0.4
0.5
0.33
0.2
0.33
1
0.8
0.2
0.5
0.33
0.2
0.33 1.25
1
0.2
2.5
2.5
1.67
2.5
5
5
1
0.4
0.29 0.17 0.29 0.67 0.67 0.14
1.25
0.5
0.33 0.67
2
2
0.25
11.48 8.701 5.067 8.669 22.92 22.47 3.593

2.5 0.8
3.5
2
6
3
3.5 1.5
1.5 0.5
1.5 0.5
7
4
1 0.40
2.5
1
29 13.7 =125.60( total)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Dengan unsur pada setiap kolom dibagi dengan jumlah pada kolom masingmasing, diperoleh matriks sebagai berikut:

0.087
0.174
0.174
0.116
0.044
0.044
0.218
0.035
0.109

0.057
0.115
0.230
0.144
0.038
0.038
0.287
0.033
0.057

0.099
0.099
0.197
0.099
0.039
0.039
0.329
0.033
0.066

0.087
0.092
0.231
0.115
0.038
0.038
0.288
0.033
0.077

0.087
0.131
0.218
0.131
0.044
0.055
0.218
0.029
0.087

0.089
0.134
0.223
0.134
0.036
0.045
0.223
0.030
0.089

0.111
0.111
0.167
0.111
0.056
0.056
0.278
0.040
0.070

0.086
0.121
0.207
0.121
0.052
0.052
0.241
0.034
0.086

0.058
0.146
0.219
0.109
0.036
0.036
0.292
0.029
0.073

baris =
0.762
1.123
1.866
1.080
0.383
0.403
2.375
0.296
0.714

Hasil rata-rata untuk setiap baris (Jumlah tiap baris dibagi n =9):
0.085 0.125 0.207 0.120 0.043 0.045 0.264

0.033 0.079

Nilai vektor kolom ini selanjutnya dikalikan dengan matriks semula, dan hasil
perkalian kemudian dibagi kembali dengan nilai vektor kolom yang bersangkutan.
Hasilnya dirata-ratakan menjadi eigen value maksimum (maks)
maks
0.085
1
0.50 0.5 0.75
2
2
0.40
0.125
2
1
0.5 0.8
3
3
0.40
0.207
2
2.00
1
2
5
5
0.6
0.120 1.33 1.25 0.5
1
3
3
0.4
0.043 0.5 0.33 0.2 0.33
1
0.8 0.2
0.045 0.5 0.33 0.2 0.33 1.25
1
0.2
0.264 2.5 2.5 1.67 2.5
5
5
1
0.033 0.4 0.29 0.17 0.29 0.67 0.67 0.14
0.079 1.25 0.5 0.33 0.67
2
2
0.25

2.5 0.8
3.5
2
6
3
3.5 1.5
1.5 0.5
1.5 0.5
7
4
1 0.40
2.5
1

= 0.766 : 0.085 = 9.052


1.135 : 0.125 = 9.098
1.896 : 0.207 = 9.146
1.094 : 0.120 = 9.117
0.385 : 0.043 = 9.059
0.405 : 0.045 = 9.051
2.417 : 0.264 = 9.159
0.299 : 0.033 = 9.094
0.719 : 0.079 = 9.066
= 81.843

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Untuk n = 9, RI = 1,45, maka:


81.843

maks =

9.094

mendekati 9

9.094
9

CI =

0.012
1.45

CR =

9
1

0.012

Cukup Kecil

0.008

Kesimpulan : hasil cukup konsisten


Peringkat keseluruhan semua metode terhadap ke-3 aspek diperoleh matriks
berikut, selanjutnya dikalikan dengan vektor prioritas dari matriks pertama (dari
ketiga aspek) seperti yang terlihat pada Tabel 5.12.
Tabel 5.12 Matriks hubungan metode-metode pembenahan lalulintas dengan
ketiga aspek
Analisa
Kecepatan

Analisa VCR

Analisa Bangkitan
& tarikan

0,595

0,276

0,128

0,141

0,049

0,085

0,200

0,142

0,125

0,200

0,085

0,207

0,130

0,069

0,120

0,084

0,058

0,043

0,110

0,134

0,045

0,037

0,023

0,264

0,049

0,132

0,033

0,049

0,309

0,079

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Hasil Perhitungan:

A = 0.108
B = 0.175
C = 0.169
D = 0.111
E = 0.071
F = 0.108
G = 0.062
H = 0.070
I = 0.125

= 1.000
Maka, yang menjadi prioritas :
B = Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
C = Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
I = Ruas Jalan Harian Sitiotio
D = Ruas Jalan Nainggolan Palipi
F = Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula
A = Ruas Jalan Pangururan Simanindo
E = Ruas Jalan Palipi - Pangururan
H = Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta
G = Ruas Jalan Harian Pangururan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan
maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil analisa prioritas peningkatan ruas jalan menunjukkan bahwa ruas jalan
Simanindo Onan Runggu merupakan prioritas peningkatan ruas jalan yang
utama. Urutan prioritas peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir adalah
sebagai berikut:
I.

Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu

II.

Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan

III.

Ruas Jalan Harian Sitiotio

IV.

Ruas Jalan Nainggolan Palipi

V.

Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula

VI.

Ruas Jalan Pangururan Simanindo

VII.

Ruas Jalan Palipi Pangururan

VIII.

Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta

IX.

Ruas Jalan Harian Pangururan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

2. Ruas jalan Simanindo Onan Runggu duduk di peringkat pertama karena


berdasarkan observasi lapangan dapat dilihat bahwa ruas jalan tersebut
kondisinya sangat parah padahal ruas tersebut sangat penting perannya dalam
2 hal berikut. Pertama untuk menyambung jalan melingkar sepanjang pantai
Pulau Samosir dan kedua untuk mengembangkan potensi yang ada di
Kecamatan Onan Runggu. Sedangkan ruas jalan Harian - Pangururan di
urutan terakhir karena ruas jalan tersebut melalui daerah yang bertebing
curam, sehingga sangat sulit untuk dilakukan peningkatan.
3. Prioritas untuk peningkatan ruas jalan pada Kabupaten Samosir lebih
cenderung pada kriteria kecepatan dibandingkan dengan kapasitas, dan
bangkitan tarikan.
4. Berdasarkan hasil analisa, maka kriteria kepadatan penduduk kurang
berpengaruh dalam kriteria penentuan prioritas peningkatan ruas jalan di
Kabupaten Samosir.
5. Berdasarkan hasil analisa VCR, maka nilai VCR di Kabupaten Samosir masih
cenderung rendah dengan Level of service A sehingga masih sangat baik. Hal
ini disebabkan karena volume kendaraan yang lewat belum terlalu banyak
sehingga jalan masih terlihat lenggang. Volume kendaraan rendah disebabkan
oleh kondisi Kabupaten Samosir yang dikelilingi Danau Toba, sehingga
banyak aktivitas transportasi yang dilakukan tidak hanya melalui transportasi
darat, tetapi juga melalui danau.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

6. Berdasarkan LOS A seharusnya ruas jalan dapat dilalui dengan kecepatan


tinggi, namun dari hasil analisa kecepatan ternyata ruas jalan tidak dapat
dilalui dengan kecepatan tinggi dikarenakan ruas jalan yang masih cukup
sempit dan kondisi perkerasan jalan yang kurang baik.

6.2 Saran
Setelah mengamati dan menganalisa, maka penulis yakin perlu adanya tindak
lanjut dari apa yang telah dilakukan dan dianalisa, sehubungan dengan itu maka
penulis merekomendasikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan perluasan lingkup kuesioner kepada instansi lainnya serta
kepada pihak lain yang bukan hanya dari pihak pemerintahan yang
berhubungan dengan permasalahan.
2. Perlu dilakukan penelitian dengan lokasi studi yang lebih luas meliputi
seluruh jalan-jalan yang ada di Kabupaten Samosir.
3. Diperlukan kearifan dari pihak terkait/Pemda Kabupaten Samosir untuk
menerapkan prioritas peningkatan ruas jalan di Kabupaten Samosir sehingga
dapat terlaksana sesuai dengan kebutuhan.
4. Perlu dilakukan beberapa studi tambahan untuk dianalisa sebagai penunjang
dalam menentukan prioritas dalam peningkatan ruas jalan di Kabupaten
Samosir.

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kabupaten Samosir, Samosir dalam Angka 2006, Samosir
Badan Pusat Statistik Kabupaten Samosir, Samosir dalam Angka 2007, Samosir
Badan Pusat Statistik, Sumatera Utara dalam Angka 2007, Medan
Bapedda Pemerintahan Propinsi Banten, Studi Perencanaan Pengembangan
Jaringan Jalan di Wilayah Banten Selatan, Laporan Akhir, Banten, 2003
Budiarto, Arif, Amirotul M. H. Mahmudah, 2007, Rekayasa Lalulintas, Lembaga
Pengembangan Pendidikan UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS
Press)
Dinas Pekerjaan Umum, 2006, Penyusunan Rencana Induk Pengelolaan Jaringan
Jalan (Road Management System) Kabupaten Samosir
Dirjen Bina Karya (Persero), 1997, Manual Kapasitas dan Keamanan Jalan
Raya, Jakarta
Dirjen Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, 1997, Tata Cara Perencanaan
Geometrik Jalan Antar Kota, Jakarta
Direktorat Bina Program Jalan, Dirjen Bina Marga, 1995, Petunjuk Teknis
Perencanaan dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten, Jakarta
Hendayana. R., 2003, Aplikasi Metode Location Quotient (LQ) dalam Penentuan
Komoditas Unggulan Nasional, Jurnal Informasi Pertanian Volume 12, Bogor
Hudson, W. R., Ralph, H., Waheed U., 1997, Infrastructure Management, The
McGraw-Hill Company, United State of America
Indryani, R dan Bahri, S., 2007, Prioritas penanganan peningkatan jalan pada
ruas-ruas jalan di Kabupaten Kapuas dengan metode AHP, Tesis Program
Magister Manajemen Proyek dan Konstruksi, ITS, Surabaya
Nasution, R., 2003, Teknik Sampling, USU Digital Library, Medan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Nazir, M., 1988, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta


Nejad, Sanaei S.H., Badkoo B., Monajjem S., 2003, Using GIS for Priority
Assessment of Road Construction in Kermanshah Province,Jurnal, Iran
Peraturan Menteri Perhubungan No KM 14 tahun 2006 tentang Manajemen dan
Rekayasa Lalulintas di Jalan, Jakarta
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.34 tahun 2006 tentang Jalan,
Jakarta
Praktikno, 2005, Sketsa kebijakan desentralisasi di Indonesia, Format masa
depan otonomi menuju kemandirian daerah, Averroes Press, Malang
Riyadi, D.S.B., 2003, Perencanaan Pembangunan Daerah, Strategi Menggali
Potensi dalam Mewujudkan Otonomi Daerah, Jakarta
RICA, The World Bank, 2005 Pemeliharaan Jalan Kabupaten, Studi Kasus RICA
Kabupaten Mangarai, Flores, NTT
Rochim, S. dan Prajitno, A.F.H, 2007, Mehode Analitycal Hierarchy Process
untuk menentukan prioritas penanganan jalan di wilayah Balai Pemeliharaan
Jalan Mojokerto, Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V, Surabaya
Saaty, L. Thomas, 1993, Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin, Proses
Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks,
Penerbit PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta
Sembel, R. dan Sembel, S., 2003, Prioritas, Koran Harian Umum Sore Sinar
Harapan
Sukarto, H., 2006, Pemilihan model transportasi di DKI Jakarta dengan Analisis
Kebijakan Proses Hirarki Analitik, Jurnal Teknik Sipil, Vol. 3, No. 1, Jakarta
Susila, W.R., Ernawati, M., 2007, Penggunaan Analytical Hierarchy Process
untuk penyusunan prioritas penelitian, Jurnal Informatika Pertanian, Vol. 16
No.2, Surabaya
Sihaloho, A., 2007, Pembentukan Kabupaten Samosir dalam Kaitannya dengan
Pengembangan Wilayah, Tesis Program Magister Perencanaan Wilayah, USU,
Medan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Tamin, O. Z, 1999, Perencanaan dan Pemodelan Transportasi, Penerbit ITB,


Bandung
Tamin, O.Z, Najid, Ade Sjafruddin, Idwan Santoso, 2005, Determination priority
of road improvement alternatives based on region optimization. Case studi :
Bandung City Indonesia, Proceedings of the Eastern Asia Society for
Transportation Studies, Vol.5, pp 1040-1049
Undang-undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan, Jakarta
UU No. 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, Jakarta
Wadjidi, F., 2008, Jenis-jenis sampling, Tugas Mandiri.
Wiguna, P.A, Adnyana, I.B.P., 2007, Skala prioritas penanganan jaringan jalan
pada ruas-ruas jalan Kabupaten Bandung berdasarkan Metode Analytical
Hierachy Process (AHP), Tesis Program Magister Manajemen Proyek dan
Konstruksi, ITS, Surabaya

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

KUISIONER
Pemilihan Prioritas Pengembangan Jaringan Jalan Berdasarkan faktor-faktor analisis
yang mempengaruhi jaringan jalan di Kabupaten Samosir.
BIO DATA
Nama

Alamat

Umur

Jenis Kelamin

Pekerjaan/Profesi

A. Penjelasan
Pengembangan jaringan jalan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam
mengembangkan suatu daerah dimana dengan mengembangkan jaringan jalan,
maka pendistribusian jasa, pertanian, keuangan, perdagangan, konstruksi,
industri, dll akan semakin meningkat di setiap daerah

Perencanaan pengembangan jaringan jalan yang akan diambil oleh pemerintah


membutuhkan banyak biaya dalam pelaksanaannya, sehingga dibutuhkan prioritas
dalam pelaksanaan pengembangan jaringan jalan. Untuk itu ditentukan hal-hal
apa yang berpengaruh dalam pengembilan kebijakan oleh pemerintah yang dikaji
secara teknis yaitu dengan memperhatikan kondisi jalan dan kegunaan jalan
tersebut dengan melihat hasil

Analisis kecepatan, merupakan suatu kajian terhadap aksesibilitas di


Kabupaten Samosir dimana dapat melakukan suatu pergerakan dari suatu
tempat dengan cepat

Analisis Derajat Kejenuhan (VCR), merupakan suatu analisa terhadap


kemampuan suatu jalan

(Kapasitas) dalam menampung arus lalulintas

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(volume) atau biasa disebut (volume per kapasitas atau VCR). Dalam hal ini,
apabila kapasitas sudah mendekati angka 1 maka semakin buruklah tingkat
kemampuan jalan tersebut dalam menampung volume arus lalulintas yang
melewati jalan tersebut atau macet. Kapasitas jalan diartikan sebagai jumlah
maksimal kendaraan yang dapat dilewati suatu ruas jalan tertentu dalam
periode tertentu tanpa kepadatan lalulintas yang menyebabkan hambatan
waktu, bahaya atau mengurangi kebebasan pengemudi dalam menjalankan
kendaraanya pada kondisi jalan dan lalulintas yang ideal.

Bangkitan dan Tarikan, dimana tahap bangkitan pergerakan bertujuan untuk


menghasilkan model hubungan yang mengaitkan tata guna lahan dengan
jumlah pergerakan yang menuju ke suatu zona atau jumlah pergerakan yang
meninggalkan suatu zona.

Kondisi ini memberikan gambaran bahwa dalam menentukan suatu prioritas


pengembangan jalan haruslah ditinjau banyak aspek.

Dalam penetuan prioritas faktor-faktor yang mempengaruhi prioritas


pengembangan jaringan jalan ini, maka dilakukan pembobotan mengenai
perbandingan kepentingan dan ruas jalan yang paling diprioriaskan untuk
diterapkan di wilayah Kabupaten Samosir dimana yang menjadi kepentingan
dalam hal ini adalah ruas jalan yang menuju kecamatan-kecamatan di Kabupaten
Samosir.
Kriteria-kriteria yang digunakan terdiri dari:
A = Ruas Jalan Pangururan Simanindo
B = Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
C = Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
D = Ruas Jalan Nainggolan Palipi
E = Ruas Jalan Palipi Pangururan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

F = Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula


G = Ruas Jalan Harian Pangururan
H = Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta
I = Ruas Jalan Harian Sitiotio

B. Petunjuk Pengisian
Untuk menyamakan pemahaman dan prosedur, maka peneliti menyampaikan
kepada Bapak/Ibu/Saudara/i petunjuk pengisian kuesioner pembobotan berikut:
Pembobotan dilakukan dengan perbandingan berpasangan, yaitu membandingkan
kriteria penilaian dengan bantuan beberapa hasil analisa dari peneliti yaitu
terhadap analisa kecepatan, derajat kejenuhan (VCR) dan Bangkitan dan Tarikan.

Sesuai dngan kriteria yang digunakan diatas, isilah nomor urut kepentingan (1 s/d
5) sesuai dengan pendapat Bapak/Ibu/Saudara/i pada tabel yang ada berikut ini:

Kriteria

Nomor urut kepentingan

Ruas Jalan Pangururan Simanindo


Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
Ruas Jalan Nainggolan Palipi
Ruas Jalan Palipi Pangururan
Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula
Ruas Jalan Harian Pangururan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta


Ruas Jalan Harian Sitiotio

Berdasarkan nomor urut prioritas kepentingan yang Bapak/Ibu/Saudara/i pilih,


isilah penilaian Bapak Ibu/Saudara/i terhadap uraian berikut ini.
Sesuai keterangan di atas, Menurut Bapak/Ibu/Saudara/i, manakah yang benar
pernyataan di bawah ini? (beri tanda salah satu)
I. Penilaian terhadap kriteria
A. Kriteria Kecepatan
1. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Simanindo
(b) Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
2.

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja


kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Simanindo
(b) Ruas Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(1)
(2)
(3)
(4)

( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
3.

4.

5.

Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja


kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Simanindo
(b) Ruas Jalan Nainggolan Palipi
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Simanindo
(b) Ruas Jalan Palipi Pangururan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(a) Ruas Jalan Pangururan Simanindo


(b) Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
6.

7.

Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja


kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Simanindo
(b) Ruas Jalan Harian Pangururan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Simanindo
(b) Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting


( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
8.

9.

Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja


kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Simanindo
(b) Ruas Jalan Harian Sitiotio
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
(b) Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali

10. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(b) Ruas Jalan Nainggolan Palipi


Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
11. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
(b) Ruas Jalan Palipi Pangururan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

12. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
(b) Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula

Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(1)
(2)
(3)
(4)

( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
13. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
(b) Ruas Jalan Harian Pangururan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
14. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu
(b) Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
15. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(a) Ruas Jalan Simanindo Onan Runggu


(b) Ruas Jalan Harian Sitiotio
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
16. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
(b) Ruas Jalan Nainggolan Palipi
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
17. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
(b) Ruas Jalan Palipi Pangururan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting


( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
18. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
(b) Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
19. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
(b) Ruas Jalan Harian Pangururan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
20. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(b) Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta


Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
21. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Onan Runggu Nainggolan
(b) Ruas Jalan Harian Sitiotio
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

22. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Nainggolan Palipi
(b) Ruas Jalan Palipi Pangururan

Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(1)
(2)
(3)
(4)

( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
23. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Nainggolan Palipi
(b) Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
24. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Nainggolan Palipi
(b) Ruas Jalan Harian Pangururan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
25. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(a) Ruas Jalan Nainggolan Palipi


(b) Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
26. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Nainggolan Palipi
(b) Ruas Jalan Harian Sitiotio
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
27. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Palipi Pangururan
(b) Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting


( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
28. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Palipi Pangururan
(b) Ruas Jalan Harian Pangururan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
29. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Palipi Pangururan
(b) Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
30. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Palipi Pangururan

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(b) Ruas Jalan Harian Sitiotio


Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
31. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula
(b) Ruas Jalan Harian Pangururan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

32. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula
(b) Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta

Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(1)
(2)
(3)
(4)

( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
33. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Sianjur Mulamula
(b) Ruas Jalan Harian Sitiotio
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
34. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Harian Pangururan
(b) Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
35. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(a) Ruas Jalan Harian Pangururan


(b) Ruas Jalan Harian Sitiotio
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali
36. Ruas jalan manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi kinerja
kecepatan ruas jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Ruas Jalan Pangururan Ronggur Nihuta
(b) Ruas Jalan Harian Sitiotio
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
( ) Sama penting
( ) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting
( ) Sedikit lebih penting
( ) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting
( ) Lebih penting
( ) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting
( ) Sangat lebih penting
( ) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting
sekali
( ) Sangat lebih penting sekali

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

II. Penilaian terhadap tingkat kepentingan komponen peningkatan jaringan jalan


Isilah nomor urut kepentingan (1 s/d 4) sesuai dengan pendapat Bapak/Ibu
pada tabel di bawah ini:
Komponen Pengembangan Jaringan

Nomor urut kepentingan

Jalan
Kecepatan
Derajat kejenuhan (VCR)
Bangkitan dan Tarikan

Berdasarkan nomor urut prioritas kepentingan yang Bapak/Ibu pilih, isilah


penilaian Bapak/IBu terhadap penjelasan di bawah ini.
Dari keterangan di atas, Menurut Bapak/Ibu, manakah yang benar pernyataan
di bawah ini? (beri tanda salah satu)
A. Faktor manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi faktor
pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Hasil Analisa Kecepatan
(b) Hasil analisa Derajat Kejenuhan (VCR)
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
(

) Sama penting

(1)

) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting

(2)

) Sedikit lebih penting

(3)

) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting

(4)

) Lebih penting

(5)

) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting

(6)

) Sangat lebih penting

(7)

) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting

sekali

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

(8)

) Sangat lebih penting sekali

(9)

B. Faktor manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi faktor


pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Hasil Analisa Kecepatan
(b) Hasil Analisa Bangkitan dan Tarikan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
(

) Sama penting

(1)

) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting

(2)

) Sedikit lebih penting

(3)

) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting

(4)

) Lebih penting

(5)

) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting

(6)

) Sangat lebih penting

(7)

) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting

sekali

(8)

(9)

) Sangat lebih penting sekali

C. Faktor manakah yang lebih penting dalam mempengaruhi faktor


pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Samosir:
(a) Hasil Analisa Derajat Kejenuhan (VCR)
(b) Hasil Bangkitan dan Tarikan
Berdasarkan pilihan diatas (a) atau (b) maka, berapa besar perbedaan
kepentingannya?
(

) Sama penting

(1)

) Diantara nilai sama penting dengan sedikit lebih penting

(2)

) Sedikit lebih penting

(3)

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.

) Diantara nilai sedikit lebih penting dengan lebih penting

(4)

) Lebih penting

(5)

) Diantara nilai lebih penting dengan sangat lebih penting

(6)

) Sangat lebih penting

(7)

) Diantara nilai sangat lebih penting dengan sangat lebih penting

sekali

(8)

(9)

) Sangat lebih penting sekali

Irwan Suranta Sembiring : Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten
Samosir), 2008.