Anda di halaman 1dari 38

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK MELALUI

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED


INDIVIDUALIZATION (TAI) DENGAN MENGGUNAKAN MIND
MAPPING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR
EKONOMI SISWA KELAS XI IIS 1 SMA NEGERI 1 GODEAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

diajukan kepada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta


untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh
Gelar Guru Profesional

Oleh:
EKO PUTRI SETIANI, S. Pd
14819299006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................2
BAB 1......................................................................................................................3
A.

Latar Belakang Masalah............................................................................3

B.

Identifikasi Masalah..................................................................................6

C.

Pembatasan Masalah.................................................................................7

D.

Rumusan Masalah.....................................................................................7

E.

Tujuan Penelitian.......................................................................................8

F.

Manfaat Penelitian....................................................................................8

BAB II....................................................................................................................10
A.

Deskripsi Teori........................................................................................10
1.

Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik.........................................10

2.

Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualized...............14

3.

Mind Mapping.....................................................................................18

4.

Aktivitas Belajar..................................................................................20

B.

Hasil Penelitian yang Relevan.................................................................22

C.

Kerangka Berpikir...................................................................................24

D.

Hipotesis Penelitian.................................................................................27

BAB III..................................................................................................................28
A.

Jenis Penelitian........................................................................................28

B.

Setting Penelitian.....................................................................................29

C.

Subjek dan Objek Penelitian...................................................................30

D.

Teknik Pengumpulan Data......................................................................30

E.

Analisis Data...........................................................................................31

F.

Indikator Keberhasilan...........................................................................33

G.

Prosedur Penelitian..................................................................................35

H.

Jadwal Penelitian.....................................................................................37

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................38

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan di abad 21 yang begitu
cepat mengakibatkan perubahan-perubahan pada berbagai bidang kehidupan.
Dalam bidang pendidikan, pemerintah berupaya menyikapi perubahan itu dengan
mengembangkan kurikulum 2013. Diharapkan dengan adanya pengembangan
kurikulum tersebut dapat mencetak generasi yang siap dalam menghadapi
perubahan di masa depan.
Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan
Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap
(tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang
terintegrasi (kemdiknas, 2012). Untuk melahirkan peserta didik seperti yang
diharapkan dalam tema tersebut maka proses pembelajaran dilakukan dengan
mengimplementasikan pendekatan saintifik, meliputi kegiatan mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengomunikasikan.
Pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu cara untuk dapat
merangsang, memelihara, dan meningkatkan terciptanya proses berfikir dari setiap
individu yang belajar. Di dalam kata pembelajaran ditekankan pada kegiatan
belajar siswa, melalui usaha-usaha yang terencana dalam sumber-sumber belajar
agar terjadi proses belajar. Ciri utama dari pembelajaran adalah adanya interaksi

antara peserta didik dengan lingkungan belajarnya, baik itu dengan guru, temantemannya, tutor, media pembelajaran, dan sumber-sumber belajar yang lain.
Kegiatan belajar siswa tidak bergantung kepada kehadiran guru, namun
terdapat hubungan sebab akibat antara guru mengajar dan murid belajar. Oleh
karena itu salah satu tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran adalah
merancang dan melaksanakan proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga para
peserta didik dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran dimana peserta didik
dibiasakan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam
pembelajaran. Lakey (2010:14) mengungkapkan hal yang menarik berikut ini.
I assume that to learn, people need to risk: to revise their conceptual
framework, try a new skill, unlearn an old prejudice, admit theres
something they dont know. To risk, people need safety. To be safe,
they need a group and/or a teacher that supports them.
Jadi dengan adanya belajar secara kooperatif, individu dalam kelompok dapat
saling membantu untuk merevisi konsep mereka yang salah, menciptakan
kreativitas baru, melupakan nilai lama yang sudah diperbaharui, dan menambah
wawasan tentang suatu hal yang belum diketahui.
Salah

satu

tipe

pembelajaran

kooperatif

adalah

Team

Assisted

Individualization (TAI), frase ini dapat diterjemahkan sebagai Bantuan Individual


dalam Kelompok (BIDaK). Metode yang diprakarsai oleh Robert Slavin ini
merupakan perpaduan antara pembelajaran kooperatif dan pengajaran individual.
Dengan perpaduan antara pembelajaran kooperatif dan individual dapat diperoleh
dua keuntungan sekaligus, yaitu keuntungan dari pembelajaran kooperatif dan
keuntungan dari pengajaran secara individual. Siswa dalam kelompok akan

belajar mendengar ide atau gagasan orang lain, berdiskusi setuju atau tidak setuju,
menawarkan atau menerima kritikan yang membangun dan siswa tidak merasa
terbebani ketika ternyata pekerjaannya salah.
Untuk

mendukung

pembelajaran

kooperatif

tipe

Team

Assisted

Individualization ini maka dapat dikombinasikan dengan model pembelajaran


lain, salah satunya dengan mind mapping. Peta pikiran (mind mapping) adalah
suatu teknik mencatat yang mengembangkan gaya visual. Mind Mapping
memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat dalam diri
seseorang. Dengan adanya keterlibatan otak kiri dan otak kanan maka akan
memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi,
baik secara tertulis maupun secara verbal. Adannya kombinasi warna, simbol,
bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang
diterima.
Dalam Peminatan IIS (Ilmu-ilmu Sosial) di Sekolah Menengah Atas
(SMA) terdapat mata pelajaran ekonomi yang mempelajari bagaimana manusia
memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan paradigma belajar abad 21 menuntut
perubahan pengajaran ekonomi, peserta didik dituntut dapat mengaplikasikan
ilmu ekonomi dalam dunia nyata tidak semata pemahaman konsep. Sehingga
dibutuhkan sebuah pedoman yang dapat mengarahkan guru untuk mendesain dan
mempraktikkan pembelajaran di kelas sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.
Dari hasil observasi pembelajaran ekonomi di kelas XI IIS 2 SMA Negeri
1 Godean pada bulan April 2015 dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran
ekonomi masih belum dirancang untuk meningkatkan aktivitas siswa, sehingga

masih banyak siswa yang terlihat pasif dalam pembelajaran. Hanya beberapa
siswa yang aktif menjawab atau bertanya kepada guru. Saat pembelajaran
berlangsung, beberapa siswa ada yang berbicara sendiri dengan temannya, tidak
memperhatikan guru yang sedang berbicara di depan, bahkan ada yang bermain
handphone. Salah satu penyebabnya adalah skenario pembelajaran yang dibuat
guru kurang inovatif dalam membangkitkan aktivitas semua siswa.
Untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran ekonomi tersebut maka
penulis ingin menerapkan pendekatan saintifik melalui pembelajaran kooperatif
tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan menggunakan mind mapping.
Hal ini dipilih berdasarkan keunggulan metode ini yang telah dipaparkan
sebelumnya bahwa dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guna menghasilkan
insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif.
Dari bebagai hal di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tindakan kelas yang berjudul Penerapan Pendekatan Saintifik Melalui
Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan
Menggunakan Mind Mapping untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Ekonomi
Siswa Kelas XI IIS 1 SMA Negeri 1 Godean.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat diidentifikasi permasalahanpermasalahan sebagai berikut:
1. Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran ekonomi masih
belum optimal untuk menjadikan kegiatan belajar mengajar ekonomi lebih
kondusif.

2. Aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi belum optimal karena
pembelajaran di dalam kelas belum dirancang untuk meningkatkan aktivitas
belajar siswa.
3. Hanya siswa tertentu saja yang aktif dalam pembelajaran, sehingga sebagian
besar siswa terlihat pasif dalam pembelajaran.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah perlu adanya pembatasan masalah sebagai
berikut:
1. Penerapan pendekatan saintifik melalui pembelajaran kooperatif yang
digunakan adalah tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan
menggunakan mind mapping.
2. Peningkatan yang diharapkan adalah pada aktivitas belajar siswa pada mata
pelajaran Ekonomi siswa kelas XI IIS 1.

D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pelaksanaan pendekatan saintifik melalui pembelajaran
kooperatif tipe Team Assisted Individualization dengan menggunakan mind
mapping untuk meningkatkan aktivitas belajar Ekonomi siswa kelas XI IIS 1
SMA Negeri 1 Godean?
2. Apakah pendekatan saintifik melalui pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted Individualization dengan menggunakan mind mapping dapat

meningkatkan aktivitas belajar Ekonomi siswa kelas XI IIS SMA Negeri 1


Godean?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk

mendiskripsikan

pelaksanaan

pendekatan

saintifik

melalui

pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization dengan


menggunakan mind mapping untuk meningkatkan aktivitas belajar Ekonomi
siswa kelas XI IIS SMA Negeri 1 Godean.
2. Untuk meningkatkan aktivitas belajar Ekonomi siswa kelas XI IIS SMA
Negeri 1 Godean.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan konstribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada
khususnya, maupun bagi masyarakat luas pada umumnya mengenai
penerapan pendekatan saintifik melalui pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted Individualization dengan menggunakan mind mapping untuk
meningkatkan aktivitas belajar pada mata pelajaran ekonomi.
b. Sebagai bahan rujukan dan sumber untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru

Memberikan masukan dalam penerapan pendekatan saintifik melalui


pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individuaized dengan
menggunakan mind mapping pada mata pelajaran ekonomi.
b. Bagi Siswa
Meningkatkan aktivitas belajar pada mata pelajaran ekonomi.
c. Bagi Peneliti
Memberikan pengetahuan dan pengalaman menjadi pendidik dalam
menerapkan pendekatan saintifik melalui pembelajaran kooperatif tipe
Team Assisted Individuaized dengan menggunakan mind mapping pada
mata pelajaran ekonomi.

10

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik


Pembelajaran

dengan

pendekatan

saintifik

didefinisikan

sebagai

pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik secara aktif
memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui tahapan-tahapan
mengamati, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data/informasi dengan
berbagai teknik, mengolah/menganalisis data/informasi dan menarik kesimpulan
dan mengomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan dan mungkin juga
temuan lain yang di luar rumusan masalah. Langkah-langkah tersebut dapat
dilanjutkan dengan mencipta.
Penerapan

pendekatan

saintifik

dalam

pembelajaran

melibatkan

keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan,


menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses itu, bantuan guru
diperlukan, tetapi bantuan itu harus semakin berkurang ketika siswa semakin
bertambah dewasa atau semakin tinggi kelasnya. Pendekatan saintifik sangat
relevan dengan teori belajar Bruner, Piaget, dan Vygotsky berikut ini.
Teori belajar Bruner disebut juga teori belajar penemuan. Ada empat hal
pokok yang berkaitan dengan teori belajar Bruner (dalam Carin & Sund, 1975).
Pertama, individu hanya belajar dan mengembangkan pikirannya apabila ia

11

menggunakan pikirannya. Kedua, dengan melakukan proses kognitif dalam proses


penemuan, siswa akan memperoleh sensasi dan kepuasan intelektual yang
merupakan suatu penghargaan intrinsik. Ketiga, satu-satunya cara agar seseorang
dapat mempelajari teknik-teknik dalam melakukan penemuan adalah ia memiliki
kesempatan untuk melakukan penemuan. Keempat, dengan melakukan penemuan,
retensi ingatan siswa akan menguat. Empat hal di atas bersesuaian dengan proses
kognitif yang diperlukan dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik.
Berdasarkan teori Piaget, belajar berkaitan dengan pembentukan dan
perkembangan skema (jamak skemata). Skema adalah suatu struktur mental atau
struktur kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan
mengkoordinasi lingkungan sekitarnya (Baldwin, 1967). Skema tidak pernah
berhenti berubah. Skemata seorang anak akan berkembang menjadi skemata orang
dewasa. Proses yang menyebabkan terjadinya perubahan skemata disebut dengan
adaptasi.
Proses terbentuknya adaptasi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya
seseorang mengintegrasikan stimulus, yang dapat berupa persepsi, konsep,
hukum, prinsip, atau pengalaman baru, ke dalam skema yang sudah ada di dalam
pikirannya. Asimilasi terjadi jika ciri-ciri stimulus tersebut cocok dengan ciri-ciri
skema yang telah ada. Apabila ciri-ciri stimulus tidak cocok dengan ciri-ciri
skema yang telah ada, seseorang akan melakukan akomodasi.
Akomodasi dapat berupa pembentukan skema baru yang cocok dengan
ciri-ciri rangsangan yang ada atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga

12

cocok dengan ciri-ciri stimulus yang ada. Dalam pembelajaran diperlukan adanya
penyeimbangan atau ekuilibrasi antara asimilasi dan akomodasi. Apabila pada
seseorang akomodasi lebih dominan dibandingkan asimilasi, ia akan memiliki
skemata yang banyak tetapi kualitasnya cenderung rendah. Sebaliknya, apabila
asimilasi lebih dominan dibandingkan akomodasi, seseorang akan memiliki
skemata yang tidak banyak, tetapi cenderung memiliki kualitas yang tinggi.
Keseimbangan atau ekuilibrasi antara asimilasi dan akomodasi diperlukan untuk
perkembangan intelek seseorang, menuju ke tingkat yang lebih tinggi.
Piaget (dalam Carin & Sund, 1975) menyatakan bahwa pembelajaran yang
bermakna tidak akan terjadi kecuali siswa dapat beraksi secara mental dalam
bentuk asimilasi dan akomodasi terhadap informasi atau stimulus yang ada di
sekitarnya. Bila hal ini tidak terjadi, guru dan siswa hanya akan terlibat dalam
belajar semu (pseudo-learning) dan informasi yang dipelajari cenderung mudah
terlupakan.
Proses kognitif yang dibutuhkan dalam rangka mengonstruk konsep,
hukum, atau prinsip dalam skema seseorang melalui tahapan mengamati,
merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan
berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan yang terjadi dalam
pembelajaran dengan pendekatan saintifik selalu melibatkan proses asimilasi dan
akomodasi. Oleh karena itu, teori belajar Piaget sangat relevan dengan pendekatan
saintifik.
Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut:
a. meningkatkan kemampuan intelektual, khususnya kemampuan berpikir
tingkat tinggi siswa,
b. membentuk kemampuan siswa dalam menemukan jawaban terhadap suatu
pertanyaan secara sistematik,
c. meningkatkan pencapaian kompetensi yang tinggi,

13

d. melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, baik secara lisan maupun


tertulis, serta
e. mengembangkan karakter siswa.
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik antara lain didasarkan pada
prinsip-prinsip berikut:
a. berpusat pada siswa, yaitu kegiatan aktif siswa secara fisik dan mental dalam
membangun makna atau pemahaman suatu konsep, hukum/prinsip
b. membangun konsep berdasarkan pemahamannya sendiri,
c. menghindari verbalisme,
d. memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan
mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip,
e. mendorong terjadinya peningkatan kecakapan berpikir siswa,
f. meningkatkan motivasi belajar siswa,
g. memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam
mengomunikasikan gagasan,
h. memungkinkan adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip
yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya,
i. melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum,
atau prinsip,
j. melibatkan proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan
intelektual, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah
sebagai berikut:
a. mengamati aspek-aspek dari suatu fenomena misalnya dengan cara membaca,
mendengar,

menyimak,

melihat

(tanpa

mengidentifikasi masalah yang ingin diketahui,

atau

dengan

alat)

untuk

14

b. menanya, yaitu merumuskan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang


ingin diketahui dan menalar untuk merumuskan hipotesis atau jawaban
sementara berdasarkan pengetahuan yang dimiliki,
c. mencoba/mengumpulkan data atau informasi dengan berbagai teknik misalnya
membaca, survey, pengamatan, eksperimen, dan wawancara,
d. mengasosiasi /menganalisis data atau informasi untuk menjawab pertanyaan
atau menarik kesimpulan,
e. mengomunikasikan kesimpulan baik secara lisan maupun tertulis, dan
f. dapat dilanjutkan dengan mencipta, yaitu menginovasi, mendisain model,
rancangan, dan produk (karya) berdasarkan pengetahuan yang dipelajari.
Hasil yang diperoleh dari pembelajaran dengan pendekatan saintifik
berupa konsep, hukum atau prinsip yang dikonstruk oleh siswa dengan bantuan
guru. Pada kondisi tertentu, data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan
tidak mungkin diperoleh secara langsung oleh siswa karena kadang-kadang data
tersebut perlu dikumpulkan dalam waktu yang lama. Dalam hal ini guru dapat
memberikan data yang dibutuhkan untuk kemudian dianalisis oleh siswa.

2. Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualized


Team

Assisted

Individualized

(TAI)

merupakan

salah

satu

tipe

pembelajaran Cooperative Learning. Terjemahan bebasnya adalah Bantuan


Individual dalam Kelompok (BIDaK). Metode yang diprakarsai oleh Robert
Slavin ini merupakan perpaduan antara pembelajaran kooperatif dan pengajaran
individual. Dasar pemikiran Slavin merancang metode ini adalah untuk

15

mengadaptasikan pengajaran terhadap perbedaan individual berkaitan dengan


kemampuan siswa maunpun pencapaian prestasi siswa.
Dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted
Individualization) ini siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang
heterogen. Pembelajaran ini menitikberatkan pada proses belajar dalam kelompok
dimana para siswa bekerja dalam tim-tim pembelajaran kooperatif untuk saling
membantu satu sama lain dalam menghadapi masalah dan saling memberi
dorongan untuk maju (Slavin, 2005:189)
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)
merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered).
Penerapan model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization lebih
menekankan pada penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu dan
memperoleh kesempatan yang sama untuk berbagi hasil bagi setiap anggota
kelompok.
Robert Slavin mengembangkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI
ini di Johns Hopkins University bersama Nancy Madden dengan beberapa alasan
yaitu: (1) Model ini mengkombinasikan keunggulan kooperatif dan program
pengajaran individual; (2) Model ini memberikan tekanan pada efek sosial dari
belajar kooperatif; (3) TAI disusun untuk memecahkan masalah dalam program
pengajaran, misalnya dalam hal kesulitan belajar siswa secara individual.
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)
ini merupakan perpaduan antara pembelajaran kooperatif dan pengajaran
individual. Metode ini memperhatikan perbedaan pengetahuan awal tiap siswa

16

untuk mencapai prestasi belajar. Pembelajaran individual dipandang perlu


diaplikasikan karena siswa memasuki kelas dengan pengetahuan, kemampuan,
dan

motivasi

yang

berbeda-beda.

Saat

guru

mempresentasikan

materi

pembelajaran, tentunya ada sebagian siswa yang tidak memiliki pengetahuan


prasyarat untuk mempelajari materi tersebut. Ini tentu dapat menyebabkan siswasiswa yang tidak memiliki pengetahuan prasyarat itu akan gagal mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan guru.
Dengan perpaduan antara pembelajaran kooperatif dan invidual dapat
diperoleh dua keuntungan sekaligus, yaitu: (1) Pembelajaran kooperatif
merupakan upaya pemberdayaan teman sejawat, meningkatkan interaksi antar
siswa, serta hubungan yang saling menguntungkan antar mereka. Siswa dalam
kelompok akan belajar mendengar ide atau gagasan orang lain, berdiskusi setuju
atau tidak setuju, menawarkan, atau menerima kritikan yang membangun, dan
siswa tidak merasa terbebani ketika ternyata pekerjaannya salah. Siswa bekerja
dalam kelompok saling membantu untuk menguasai bahan ajar. (2) Pembelajaran
individual mendidik siswa untuk belajar secara mandiri, tidak menerima pelajaran
secara mentah dari guru. Melalui pembelajaran individual ini, siswa akan dapat
mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya sendiri untuk mempelajari
materi pelajaran, sehingga ia mengalami pembelajaran secara bermakna
(meaningful learning) sesuai faham konstruktivisme.
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization
memberi keuntungan baik pada guru, siswa kelompok atas maupun kelompok
bawah yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik, yaitu:

17

1) Siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu yang lemah dalam
kelompoknya. Dengan demikian siswa yang pandai dapat mengembangkan
kemampuan dan keterampilannya.
2) Siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami materi pelajaran.
3) Tidak ada persaingan antar siswa karena siswa saling bekerjasama untuk
menyelesaikan masalah dalam mengatasi cara berpikir yang berbeda.
4) Siswa tidak hanya mengharap bantuan dari guru, tetapi siswa juga termotivasi
untuk belajar cepat dan akurat pada seluruh materi.
5) Guru setidaknya hanya menggunakan setengah dari waktu mengajarnya
sehingga akan lebih mudah dalam pemberian bantuan secara individu.
Menurut Slavin (2005:195-200) model pembelajaran tipe TAI ini memiliki
8 tahapan dalam pelaksanaannya, yaitu : (1) Placement Test; (2) Teams; (3)
Teaching Group; (4) Student Creative; (5) Team Study; (6) Fact Test; (7) Team
Score dan Team Recognition; dan (8) Whole-Class Unit.
Tabel 3.1: Tahapan Pembelajaran Team Assisted Individualization
N
Tahap
Keterangan
o
1. Placement Pada langkah ini guru memberikan tes awal
Test
(pre-test) kepada siswa. Cara ini bisa
digantikan dengan mencermati rata-rata nilai
harian atau nilai pada bab sebelumnya yang
diperoleh
siswa
sehingga
guru
dapat
mengetahui kelemahan siswa pada bidang
tertentu.
2. Teams
Pada tahap ini guru membentuk kelompokkelompok yang bersifat heterogen yang terdiri
dari 4 - 5 siswa.
3. Teaching
Guru memberikan materi secara singkat

18

Group
4.

5.

6.
7.

8.

menjelang pemberian tugas kelompok.

Student
Creative

Guru perlu menekankan dan menciptakan


persepsi bahwa keberhasilan setiap siswa
(individu)
ditentukan
oleh
keberhasilan
kelompoknya
Team
Pada tahapan team study siswa belajar
Study
bersama dengan mengerjakan tugas yang
diberikan dalam kelompoknya. Pada tahapan
ini guru juga memberikan bantuan secara
individual kepada siswa yang membutuhkan,
dengan dibantu siswa-siswa yang memiliki
kemampuan akademis bagus di dalam
kelompok tersebut yang berperan sebagai
peer tutoring (tutor sebaya).
Fact Test
Guru memberikan tes-tes kecil berdasarkan
fakta yang diperoleh siswa, misalnya dengan
memberikan kuis
Team
Selanjutnya guru memberikan skor pada hasil
Score dan kerja kelompok dan memberikan gelar
Team
penghargaan terhadap kelompok yang berhasil
Recognitio secara cemerlang dan kelompok yang
n
dipandang
kurang
berhasil
dalam
menyelesaikan tugas.
WholeLangkah terakhir, guru menyajikan kembali
Class Unit
materi oleh guru kembali diakhir bab dengan
strategi pemecahan masalah untuk seluruh
siswa di kelasnya.

3. Mind Mapping
Mind mapping dapat diartikan sebagai proses memetakan pikiran untuk
menghubungkan konsep-konsep tentang permasalahan tertentu dari cabangcabang sel saraf membentuk korelasi konsep menuju pada suatu pemahaman dan
hasilnya dituangkan langsung di atas kertas dengan animasi yang disukai dan
gampang dimengerti oleh pembuatnya. Sehingga tulisan yang dihasilkan
merupakan gambaran langsung dari cara kerja koneksi-koneksi di dalam otak.

19

Mind mapping adalah cara mengembangkan kegiatan berpikir ke segala arah,


menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut. Hal ini sesuai dengan yang
diutarakan oleh Buzan (2008:4) bahwa mind mapping adalah cara termudah untuk
menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi itu ketika
dibutuhkan.
Mind mapping bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual
dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat
kembali

informasi

yang

telah

dipelajari

(Rostikawati,

2008:4)

Hasil dari mind mapping akan menggambarkan pola pikir seseorang secara
teratur, penuh dengan warna, garis lengkung, simbol, kata dan gambar yang sesuai
dengan satu rangkaian yang sederhana, mendasar, alami, dan sesuai dengan cara
kerja otak. Mind mapping bukan hal yang sukar dilakukan dan berharga mahal,
hanya membutuhkan kemauan untuk mengerti suatu materi. Karena menurut
Buzan (2008:4), orang yang memperkenalkan mind mapping untuk membuatnya
hanya diperlukan bahan-bahan berikut:
a. Kertas kosong tak bergaris
b. Pena dan pensil warna
c. Otak
d. Imaginasi
Mind mapping yang dilakukan oleh siswa harus diarahkan oleh guru agar
mind map siswa searah dengan inti materi yang disajikan guru. Oleh karena itu,
jika mind mapping diterapkan dalam pembelajaran maka harus melalui langkahlangkah konkrit membentuk sebuah model pembelajaran yang dapat mengubah

20

cara mencatat siswa dari linear panjang menjadi mind map sintaksnya adalah
sebagai berikut: Informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa
berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatif jawaban,
presentasi hasil diskusi kelompok, siswa membuat kesimpulan dari hasil setiap
kelompok, evaluasi dan refleksi.
4. Aktivitas Belajar
Belajar sangat dibutuhkan adanya aktivitas, dikarenakan tanpa adanya
aktivitas proses belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik. Pada proses
aktivitas pembelajaran harus melibatkan seluruh aspek peserta didik, baik jasmani
maupun rohani sehingga perubahan perilakunya dapat berubah dengan cepat,
tepat, mudah dan benar, baik berkaitan dengan aspek kognitif afektif maupun
psikomotor (Nanang Hanafiah, 2010:23).
Aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental.
Dalam proses belajar kedua aktivitas itu harus saling berkaitan. Lebih lanjut lagi
piaget menerangkan dalam buku Sardiman bahwa jika seorang anak berfikir tanpa
berbuat sesuatu, berarti anak itu tidak berfikir (Sardiman, 2011:100).
Nanang Hanafiah (2010:24) menjelaskan bahwa aktivitas belajar dapat
memberikan nilai tambah (added value) bagi peserta didik, berupa hal-hal berikut:
1) Peserta didik memiliki kesadaran (awareness) untuk belajar sebagai wujud
adanya motivasi internal untuk belajar sejati.
2) Peserta didik mencari pengalaman dan langsung mengalami sendiri, yang
dapat memberikan dampak terhadap pembentukan pribadi yang integral.
3) Peserta didik belajar dengan menurut minat dan kemampuannya.

21

4) Menumbuh kembangkan sikap disiplin dan suasana belajar yang demokratis di


kalangan peserta didik.
5) Pembelajaran dilaksanakan secara konkret sehingga dapat menumbuh
kembangkan pemahaman dan berfikir kritis serta menghindarkan terjadinya
verbalisme.
6) Menumbuh kembangkan sikap kooperatif dikalangan peserta didik sehingga
sekolah menjadi hidup, sejalan dan serasi dengan kehidupan di masyarakat di
sekitarnya.
Paul B. Diedrich yang dikutip dalam Nanang hanafiah (2010:24)
menyatakan, aktivitas belajar dibagi ke dalam delapan kelompok, yaitu:
1) Kegiatan-kegiatan visual (visual activities), yaitu membaca, melihat gambargambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran dan mengamati orang
lain bekerja atau bermain.
2) Kegiatan-kegiatan lisan (oral activities), yaitu mengemukakan suatu fakta atau
prinsip, menghubungkan suatu kejadian mengajukan pertanyaan, memberi
saran, mengemukakan pendapat, berwawancara diskusi dan interupsi
3) Kegiatan-kegiatan mendengarkan (listening activities), yaitu mendengarkan
penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, atau
mendengarkan radio.
4) Kegiatan-kegiatan menulis (writing activities), yaitu menulis cerita, menulis
laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan copy, membuat outline atau
rangkuman, dan mengerjakan tes serta mengisi angket.

22

5) Kegiatan-kegiatan menggambar (drawing activities), yaitu menggambar,


membuat grafik, diagram, peta dan pola.
6) Kegiatan-kegiatan motorik (motor activities), yaitu melakukan percobaan,
memilih

alat-alat,

melaksanakan

pameran,

membuat

model,

menyelenggarakan permainan, serta menari dan berkebun.


7) Kegiatan-kegiatan mental (mental activities), yaitu merenungkan mengingat,
memecahkan

masalah,

menganalisa

faktor-faktor,

melihat

hubungan-

hubungan, dan membuat keputusan.


8) Kegiatan-kegiatan emosional (emotional activities), yaitu minat, membedakan,
berani, tenang, merasa bosan dan gugup.
Dengan adanya pembagian jenis aktivitas di atas, menunjukkan bahwa
aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Jika kegiatan-kegiatan
tersebut dapat tercipta di sekolah, pastilah sekolah-sekolah akan lebih dinamis,
tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang
maksimal.

B. Hasil Penelitian yang Relevan


1. Penelitian yang dilakukan oleh Ranggi Ayu Rinaji tahun 2014 yang berjudul
Penerapan

Model

Pembelajaran

Kooperatif

tipe

Team

Assisted

Individualization untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X


Akuntansi 2 SMK YAPEMDA 1 Sleman Tahun Ajaran 2013/2014, yang
menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted Individualization dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada
kompetensi dasar membuat jurnal penyesuaian siswa kelas X Akuntansi 2

23

SMK YAPEMDA 1 Sleman tahun ajaran 2013/2014 yang dibuktikan dengan


adanya peningkatan persentase skor aktivitas belajar siswa sebesar 39,05%
dari sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted
Individualization sebesar 34,05% meningkat menjadi 73,10% pada siklus I.
Selanjutnya dari siklus I ke siklus II juga terjadi peningkatan sebesar 12,38%
yaitu pada siklus II sebesar 85,48%. Persamaan penelitian ini dengan
penelitian Ranggi Ayu Rinaji adalah sama-sama menggunakan pembelajaran
kooperatif tipe Team Assisted Individualization, perbedaannya adalah dalam
penelitian ini menggunakan mind mapping dalam pemebalajarannya. Selain
itu dalam penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran ekonomi.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Tri Jayanti pada tahun 2015 yang berjudul
implementasi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization
(TAI) dan penggunaan modul guna meningkatkan hasil belajar akuntansi
siswa kelas X Akuntansi 4 SMK Negeri 1 Klaten Tahun Ajaran 2012/2013,
yang menyimpulkan bahwa implementasi pembelajaran kooperatif tipe TAI
dan penggunaan modul mampu meningkatkan hasil belajar siswa, yang
dibuktikan dengan hasil belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatan
dibandingkan dengan siklus I. Pada siklus I jumlah siswa yang mencapai
KKM sebanyak 29 siswa (70,73%) dan pada siklus II naik menjadi 38 siswa
(92,68%). Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Tri
Jayanti adalah sama-sama menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted

Individualization,

perbedaanya

adalah

dalam

penelitian

ini

menggunakan mind mapping dan variabel penelitian ini adalah aktivitas

24

belajar siswa. Dalam penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran ekonomi
SMA bukan Akuntansi SMK.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Arif Rahman pada tahun 2012 dengan judul
implementasi penggunaan mind map dengan model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) dalam
meningkatkan kemampuan pemahaman matematika pada siswa SMP Negeri 3
Ceper Klaten, yang menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan
pemahaman konsep matematika dan adanya tanggapan positif dari siswa.
Berdasarkan hasil rata-rata nilai tes kemampuan pemahaman konsep, rata-rata
nilai tes siklus I adalah 65,06 sedangkan siklus II rata-rata nilainya adalah
80,05. Dan berdasarkan skala yang diberikan siswa, mendapatkan respon
positif sebesar 82,76%. Persamaan penelitian ini dengan penelitianyang
dilakukanoleh Arif Rahman adalah sama-sama menggunakan mind map dan
pembelajaran kooperatif, namun dalam penelitian ini menggunakan tipe Team
Assisted Individualization. Perbedaan yang lain adalah variabel penelitian
pada penelitian ini adalah aktivitas, tidak pemahaman konsep. Penelitian ini
juga dilaksanakan pada mata pelajaran ekonomi, bukan matematika.

C. Kerangka Berpikir
Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Pembelajaran yang berlangsung harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas
yang dimaksud di sini bukan hanya aktivitas fisik melainkan juga meliputi
aktivitas-aktivitas yang bersifat psikis. Aktivitas belajar menjadi hal yang sangat

25

penting dalam proses pembelajaran. Tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas yang
dilakukan. Aktivitas belajar dapat digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan
siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Penggunaan model pembelajaran yang tepat memiliki peran penting dalam
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Model pembelajaran tipe Team Assisted
Individualization merupakan model pembelajaran yang mengkombinasikan
keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini
dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena
itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah.
Ciri khas pada tipe Team Assisted Individualization adalah setiap siswa secara
individual belajar materi yang sudah disiapkan oleh guru. Hasil belajar individual
dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh
anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas
keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Keberhasilan kelompok
akan bergantung pada keberhasilan tiap individu. Pembentukan kelompok juga
dapat meningkatkan interaksi siswa yaitu melalui kerja sama mengerjakan tugas
dari guru, melakukan diskusi untuk memecahkan masalah yang ada, saling
bertanya dan mengemukakan pendapat.
Untuk

mendukung

pembelajaran

kooperatif

tipe

Team

Assisted

Individualization ini maka dapat dikombinasikan dengan model pembelajaran


lain, salah satunya dengan mind mapping. Peta pikiran (mind mapping) adalah
suatu teknik mencatat yang mengembangkan gaya visual. Mind Mapping
memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat dalam diri

26

seseorang. Dengan adanya keterlibatan otak kiri dan otak kanan maka akan
memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi,
baik secara tertulis maupun secara verbal. Adannya kombinasi warna, simbol,
bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang
diterima.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe Team Assisted Individualization dengan menggunakan mind
mapping dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar individu dalam kelompok.
Berdasarkan hal tersebut model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted
Individualization diharapkan mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas
XI IIS 1 SMA Negeri 1 Godean.
Dari paparan di atas, maka dapat digambarkan kerangka berpikir sebagai
berikut:
Kondisi Awal:
Aktivitas belajar siswa
yang rendah

Pelaksanaan Tindakan:
Penerapan pendekatan saintifik melalui pembelajaran
kooperatif tipe Team Assited Individualization dengan
menggunakan mind mapping

Kondisi Akhir:
Aktivitas belajar siswa
yang tinggi

27

Gambar 2.1 Bagan kerangka berpikir

D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Penerapan pendekatan saintifik melalui pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted

Individualization

dengan

menggunakan

mind

mapping

dapat

meningkatkan aktivitas belajar Ekonomi siswa kelas XI IIS SMA Negeri 1


Godean.
Sedangkan pertanyaan dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah
pelaksanaan pendekatan saintifik mealui pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted

Individualization

dengan

menggunakan

mind

mapping

untuk

meningkatkan aktivitas belajar Ekonomi siswa kelas XI IIS SMA Negeri 1


Godean?

28

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilaksanakan ini adalah Penelitian Tindakan Kelas
(Penelitian Tindakan Kelas) atau Classroom Action Research (CAR). Penelitian
Tindakan Kelas adalah pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah
tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi di dalam sebuah kelas secara
bersama (Arikunto, 2009:3). PTK merupakan suatu bentuk penelitian reflektif
yang dilakukan oleh pendidik sendiri terhadap kurikulum, pengembangan sekolah,
peningkatan prestasi belajar, pengembangan keahlian mengajar, dan sebagainya.
Dalam PTK, peneliti/guru dapat melihat sendiri praktik pembelajaran atau
bersama guru lain dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari segi
interaksinya dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, guru secara reflektif
dapat menganalisis, mensisntesis terhadap apa yang dilakukan di kelas. Sehingga
pada

akhirnya

pendidik

diharapkan

dapat

memperbaiki

praktik-praktik

pembelajaran hingga menjadi lebih efektif.


Adapun model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang digunakan dalam
penelitian ini adalah menggunakan model PTK dari Kurt Lewin, yang terdiri dari
4 komponen yaitu (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (action), (3)
pengamatan (observasi), (4) refleksi (reflection) (Kusumah, 2011:20).

29

permasalahan belum terselesaikan, dilanjutkan ke siklus selanjutnya

Fase penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam penelitian ini dapat
dilihat pada Gambar 3.1 sebagai berikut.
SIKLUS I

Pengamatan
SIKLUS II
Refleksi

Perencanaan

Refleksi

P
Pengamatan

Perencanaan

Gambar 3.1 Fase dalam Penelitian Tindakan Kelas

B. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Godean yang terletak di jalan
Sidokarto Nomor 5 Sidokarto Godean, Kec. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
55564, Telp. (0274) 798128. Tahap pelaksanaannya dilaksanakan pada bulan
Agustus 2015 Oktober 2015.

C. Subjek dan Objek Penelitian


Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IIS 1 SMA Negeri 1 Godean
Tahun Ajaran 2015/2016 yang berjumlah 32 siswa dan Guru yang melaksanakan

30

pembelajaran. Objek penelitian yang digunakan adalah Penerapan Pendekatan


Saintifik melalui Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualization
dengan menggunakan Mind Mapping untuk meningkatkan aktivitas belajar
ekonomi siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Godean.

D. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang siswa dalam proses
belajar mengajar di kelas. Observasi dilakukan dengan menggunakan
instrumen lembar observasi. Lembar observasi berupa lembar pengamatan
untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
2. Wawancara
Metode wawancara akan dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi
mengenai kondisi kelas XI IIS 1 di SMA Negeri 1 Godean. Selain wawancara
dengan guru, peneliti juga melakukan wawancara juga dengan siswa dengan
tujuan untuk memperoleh data yang lebih lengkap.
3. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai kondisi kelas.
Metode ini dilakukan dengan cara meneliti data sepert silabus, RPP, profil
sekolah, nilai harian siswa dan dokumentasi foto siswa pada saat proses
pembelajaran.
4. Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan catatan tertulis tentang apa yang dilihat,
didengar, dialami dan dipikirkan siswa dan guru dalam rangka pengumpulan
data dan refleksi terhadap data yang diperoleh berdasarkan pelaksanaan
tindakan penelitian.
5. Tes

31

Tes ini digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa setelah
diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization
dengan menggunakan mind mapping yang diperoleh dari pembelajaran
evaluasi pada siswa.
6. Angket
Angket digunakan untuk mengetahui respon atau tanggapan siswa atas
pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization dengan
menggunkan mind mapping pada mata pelajaran ekonomi.

E. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif (berupa kata
atau kalimat) dan kuantitatif (berupa angka). Teknik analisis data yang digunakan
adalah: (1) reduksi data, (2) paparan data, (3) penarikan kesimpulan dan refleksi.
1. Reduksi Data
Catatan-catatan dari hasil observasi dari awal sampai akhir penelitian
digunakan sebagai bahan mentah. Dari semua catatan ini kemudian dilakukan
penyederhanaan dengan cara memilih data-data yang sesuai dengan keperluan
penelitian. Penyederhanaan inilah yang disebut dengan reduksi data. Reduksi data
ini dilakukan untuk mengurangi data yang tidak diperlukan dalam penelitian
sehingga memudahkan dalam tahap analisis data selanjutnya.
2. Paparan Data
Setelah data-data hasil penelitian direduksi, selanjutnya data tersebut
dipaparkan dalam bentuk teks naratif. Paparan data secara naratif dilakukan agar
lebih mudah dalam melakukan analisis.
3. Penarikan Kesimpulan dan Refleksi

32

Menurut Kurniawan (2010:24) penarikan kesimpulan adalah pengambilan


intisari dari sajian data yang telah terorganisir dalam bentuk pertanyaan, kalimat
atau formula singkat padat tetapi mengandung pengertian luas yang mewakili
keseluruhan. Penarikan kesimpulan dilakukan pada temuan penelitian yang
selanjutnya dilakukan refleksi sehingga diperoleh kesimpulan. Refleksi ini
digunakan untuk menentukan tindakan berikutnya.
Analisis data kuantitatif pada penelitian ini menggunakan statistik
deskriptif yang digunakan untuk menentukan peningkatan aktivitas dan juga hasil
belajar siswa.

F. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah:
1. Keterlaksanaan penerapan pendekatan saintifik mealui pembelajaran
kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan
menggunakan mind mapping
Keterlaksanaan penerapan dendekatan saintifik melalui pembelajaran
kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan menggunakan mind
mapping diamati dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun oleh

33

peneliti. Lembar observasi tersebut merupakan lembar observasi tertutup yang


diisi dengan angka sesuai dengan skor yang telah ditentukan.
Kriteria pemberian skor keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted Individualization (TAI) dengan menggunakan mind mapping dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
Terlaksana dengan baik
:4
Terlaksana cukup baik
:3
Terlaksana kurang baik
:2
Tidak terlaksana
:1
Persentase keterlaksanaan pembelajaran dihitung dengan rumus:
F
x 100
Persentase =
(Arikunto, 2009: 25)
N
F : Jumlah nilai keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TAI
N : Jumlah nilai keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TAI
Hasil perhitungan kemudian diklasifikasikan menurut tabel klasifikasi
keberhasilan pelaksanaan pembelajaran.
Tabel 3.2 Kriteria Persentase Keterlaksanaan Pembelajaran
N Persentas
Klasifikasi
o.
e
1
86 100
Baik Sekali
Baik
2
66 85
Cukup Baik
3
46 65
Kurang Baik
4
25 45

2. Aktivitas Belajar Siswa


Aktivitas belajar siswa dapat diketahui melalui observasi saat proses
belajar mengajar berlangsung. Indikator siswa yang memiliki minat tinggi adalah:
1) Siswa membaca semua materi pelajaran atau semua topic dan menandai
hal-hal penting

34

2) Siswa fokus mendengarkan penjelasan dari guru begitu juga pada saat
diskusi dengan seksama
3) Siswa berpartisipasi aktif melakukan diskusi sesame anggota kelompok
untuk memecahkan masalah
4) Siswa secara mendiri bertanya pada guru saat kegiatan pembelajaran, dan
tanpa perlu disuruh untuk bertanya terlebih dahulu
5) Siswa secara mendiri mengungkapkan pendapat tanpa bertanya dengan
teman terlebih dahulu selama proses pembelajaran, dan tanpa perlu
disuruh oleh guru.
6) Siswa mencatat materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru, serta mencatat
hasil diskusi kelompok
7) Siswa aktif mengerjakan kuis secara individu tanpa meminta bantuan
jawaban kepada temannya
8) Siswa aktif memberi argumen dan membantu sesame anggota kelompok
saat kesulitan menguasai materi pelajaran, tanpa perlu dimintai bantuan.
9) Siswa secara mendiri aktif membuat kesimpulan tentang materi di akhir
pertemuan tanpa disuruh oleh guru
10) Siswa bersemangat dalam mengikuti pelajaran

35

G. Prosedur Penelitian
1. Tahap Pra Penelitian
a. Observasi langsung untuk mengamati proses pembelajaran di sekolah
b. Identifikasi masalah
c. Mendiskusikan solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di
sekolah
d. Menyusun jadwal pelaksanaan penelitian
2. Pelaksanaan Penelitian
Siklus I:
a. Perencanaan
Menyusun jadwal pelaksanaan
Menyusun RPP
Menyusun format lembar observasi
Menyusun angket
b. Pelaksanaan
Proses pembelajaran oleh guru di kelas menggunakan pembelajaran
kooperatif

tipe

Team

Assisted

Individualization

(TAI)

dengan

menggunakan mind mapping sesuai dengan RPP yang telah dibuat


sebelumnya.
c. Pengamatan
Peneliti dibantu observer mengamati dan mencatat semua kegiatan yang
terjadi di dalam kelas.
d. Refleksi
Melakukan evaluasi terhadap hasil observasi.
Analisis kelemahan dan kelebihan pada siklus I sebagai acuan
menyempurnakan tindakan pada siklus II.
Siklus II:
Pada siklus II, tahapan pelaksanaan penelitian sama dengan siklus I, yaitu
terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pelaksanaan
siklus II ini merupakan penyempurnaan tindakan dari kelemahan-kelemahan yang
ditemukan pada sikus I, sehingga diharapkan pelaksanaan siklus II dapat lebih
baik dari pada siklus I.

36

H. Jadwal Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yang terdiri dari tiga tahap yaitu
tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pelaporan. Rincian jadwal penelitian
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.3 Jadwal Penelitian

N
o.
1.
2.
3.

Kegiatan

1
1

Perencanaa
n
Pelaksanaa
n
Pelaporan

Bulan ke2
1 2 3 4

3
1

37

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. (2003). Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta :


Rineka Cipta. Agung.
A.M. Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rajawali.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Buzan, Tony.2008. Buku Pintar Mind Map. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hamalik, Oemar. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hanafiah, Nanang & Cucu Suhana. 2010. Konsep Strategi Pembelajaran.
Bandung: Refika Aditama.
Jayanti, Tri. 2015. Implementasi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted
Individualization (TAI) dan penggunaan modul guna meningkatkan hasil
belajar akuntansi siswa kelas X Akuntansi 4 SMK Negeri 1 Klaten Tahun
Ajaran 2012/2013. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Kemdiknas (Kementerian Pendidikan Nasional). 2012. Draft Kurikulum 2013.
(Online), (http://dikmen.kemdiknas.go.id), diakses tanggal 5 Juli 2015.
Kusumah, Wijaya. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Indeks.
Lakey, George. 2010. Facilitating Group Learning. San Francisco: Jossey Bass.
Permendikbud No. 104 Tahun 2014 Tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh
Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
Rahman, Arif. 2012. Implementasi penggunaan mind map dengan model
pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and
Composition) dalam meningkatkan kemampuan pemahaman matematika
pada siswa SMP Negeri 3 Ceper Klaten. Skripsi. Solo: Universitas Sebelas
Maret.
Rinaji, Ranggi Ayu. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Team
Assisted Individualization untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa
kelas X Akuntansi 2 SMK YAPEMDA 1 Sleman Tahun Ajaran
2013/2014. Skripsi. Yogyakarta: Universitas negeri Yogyakarta.

38

Rostikawati, T. R. (2008). Mind Map dalam Metode Quantum Learning


Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar dan Kreatifitas Siswa. (online).
(http://fkip-unpak.org/teti.htm), diakses tanggal 5 Juli 2015.
Slavin E, Robert. 2005. Cooperative Laerning: Teori, Riset dan Praktik.
Bandung: Nusa Media.