Anda di halaman 1dari 9

NEUTRAL ZONE

Neutral zone adalah area dimana tekanan antara bibir, pipi, dan lidah dalam keadaan seimbang. Di
zona inilah gigi artificial seharusnya disusun dengan inklinasi dan posisi dengan benar. Pentingnya
konsep neutral zone pada pemasangan g igi tiruan adalah untuk menempatkan neutral zone pada
edentulous area dimana gigi artificial seharusnya disusun sehingga kekuatan yang diberikan oleh otot
yang cenderung memberikan kestabilan pada gigi tiruan.
Kehilangan tulang alveolar adalah faktor komplikasi utama dalam pembuatan gigi tiruan penuh.
Jumlah tulang yang tersisa akan menentukan stabilitas dan retensi dari gigi tiruan, dan dapat
dipengaruhi oleh faktor sistemik seperti diabetes mellitus. Untuk menanggulangi hal tersebut, teknik
neutral zone dapat digunakan. Konsep neutral zone dapat diaplikasikan pada pembuatan gigi tiruan
penuh, untuk meningkatkan retensi dan stabilitas gigi tiruan saat berbicara dan mengunyah. Konsep
ini mengacu kepada kontrol otot terhadap stabilitas gigi tiruan khususnya dari lidah, bibir, dan pipi,
sehingga teknik ini dapat mengurangi tergigitnya bibir, pipi dan lidah pasien, terjepitnya makanan
pada area molar, serta meningkatkan kenyamanan pasien.Gigi yang disusun langsung pada ridge akan
berkurang stabilitasnya karena gigi tidak didukung oleh otot-otot di sekitarnya. Dengan menggunakan
konsep neutral zone, gaya dari otot dapat memberi tekanan sebagai retensi dan stabilisasi. Dapat
disimpulkan bahwa Neutral Zone adalah salah satu teknik alternatif terbaik selain implan terutama
pada kasus-kasus atrofi mandibula. Pentingnya Neutral Zone dalam pembuatan gigi tiruan adalah
penentuan kembali daerah tersebut didalam mulut yang tidak bergigi dimana seharusnya elemenelemen gigi ditempatkan sehingga gaya-gaya yang dihasilkan oleh otot-otot tidak akan mempengaruhi
kestabilan gigi tiruan penuh. Teknik ini relatif sederhana namun membutuhkan waktu kerja yang lebih
banyak dan biaya yang tidak sedikit.
BITE RIM
Base plate yang telah bergabung dengan bite rim disebut occlusal bite rim atau tanggul
gigitan. Kegunaan bite rim adalah:

a.

Untuk melekatan gigi sebelum diganti dengan akrilik.

Untuk mencatat maxilo-mandibula relationship pada pasien

Artikulator mounting artinya adalah memasang occlusal bite rim rahang atas dan bawah dari
mulut pasien ke artikulator bersama modelnya setelah ditentukan dimensi vertikal maupun sentrik
oklusinya (Soelarko dan Harman, 1980). Vertikal dimensi disebut juga tinggi gigitan, dapat dicapai
dengan mengukur jarak pupil dengan sudut mulut akan sama dengan jarak hidung dengan dagu pasien
(PM=HD) dalam keadaan oklusi sentris (Soelarko dan Harman, 1980). Oklusi sentrik adalah
hubungan kontak maksimal dari gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan relasi sentris.
Relasi sentris adalah hubungan maksila dan mandibula dimana kedua condylus berada dalam keadaan
paling posterior dalam fossa glenoid (Swenson, 1964).
Untuk lengkung bite rim RB disesuaikan dengan alveolar ridge yang ada, sedangkan bite rim
untuk RA dibuat setinggi kurang lebih 2 mm dibawah bibir atas saat rest posisi. Tinggi bite rim RB
dibuat sejajar dengan tinggi retromolar pad.
Yang perlu diperhatikan dalam membuat bite rim :
Bite rim anterior atas harus sejajar dengan garis pupil (garis yang menghubungkan kedua pupil
dan jalannya sejajar dengan garis incisal).
Bite rim posterior sejajar dengan garis Chamfer, yaitu garis yang berjalan dari ala nasi sampai tragus

b.
c.
d.
e.

Bite rim atas harus kelihatan kira-kira 2 mm dibawah garis bibir pada saat rest position.
Median line pasien diambil sebagai terusan dari tengah lekuk bibir atas (philtrum) untuk
menentukan garis tengah yang memisahkan incisivus kanan dan kiri.
Garis caninus, tepat pada sudut mulut dalam keadaan rest position
Garis ketawa, yaitu pada saat tertawa gusi tidak terlihat.
Tahap Klinis
1

Insersi base plate, retensi dan stabilisasi diperhatikan. Retensi adalah daya tahan gigi tiruan
terhadap upaya pelepasan, sedangkan stabilisasi adalah daya tahan gigi tiruan untuk tetap di
tempat ketika funsi pengunyahan berlangsung. Retensi dapat di amati dengan memberikan
tekanan pada salah satu sisi gigi tiruan (jjika gigi tiruan terungkit, maka gigi tiruan tersebut
tidak retentif) atau dengan memberikan usaha pelepasan (gigi tiruan yang retentif adalah gigi
tiruan yang sulit dilepas). Stabilisasi dapat diamati dengan menggerakkan otot-otot pipi, lidah
dan mengucapkan ah. Gigi tiruan yang stabil merupakan gigi tiruan yang tidak berubah
tempat ketika difungsikan.

Retensi gigi tiruan ditentukan oleh letak seal dan adhesi/kohesi saliva. Kesesuaian letak seal
dilakukan dengan menggerakkan otot pipi. Jika alat terjatuh ketika otot digerakkan, berarti terdapat
over extension plat. Solusi keadaan ini adalah dengan mengurangi plat. Sebaliknya, jika seal pada
plat under extension, maka kohesi dan adhesi saliva berkurang, dan alat menjadi tidak retentif. Solusi
keadaan ini adalah dengan membuat plat yang baru.
2

Penentuan profil pasien. Profil pasien disesuaikan dengan ras pasien tersebut. Dalam kasus
ini, pasien termasuk ras mongoloid yang memiliki ciri khas profil cembung. Kecembungan
profil dibuat dengan tonus otot labial sebagai parameternya. Profil yang ideal, terbentuk jika
otot bibir dalam keadaan isotonus. Apabila bibir tampak hipertonus, maka bagian anterior bite
rim terlalu cembung sehingga harus dikurangi. Sebaliknya, jika bibir tampak hipotonus, maka
bite rim kurang cembung sehingga perlu ditambah dengan malam merah.

Pencatatan Maxillo-mandibular relationship (MMR), caranya:

Mula-mula pasien dipersilakan duduk pada dental chair, dataran oklusal diusahakan sejajar
dengan lantai. Tentukan garis chamfer dari titik di bawah ini :
4 mm dari meatus acusticus externus
telinga kanan dan kiri
spina nasalis anterior
Kemudian ketiga titik tersebut ditandai dengan benang dan diisolasi. Selanjutnya record blok
dipasang dengan posisi bite rim RA dan RB harus tertutup secara sempurna (tidak boleh ada celah dan
merupakan suatu garis lurus).
Kemudian dicari dimensi vertical (inter occlusal distance), didapatkan dengan cara mengukur
jarak pupil dengan sudut mulut sama dengan jarak hidung sampai dagu (PM = HD). Pada keadaan rest
posisi PM = HD.
Pengecekkan dimensi vertikal dapat dilakukan dengan mengucapkan huruf M. Huruf M
terdengar jelas jika dimensi vertikal cukup. Free way space dicek dengan pengucapan huruf S (huruf
S terdengar mendesis). Jika free way space kurang, maka huruf S sulit terucap, demikian halnya jika
free way space berlebihan (terasa semburan saliva ketika pengucapan huruf S).

Bite rim rahang atas dibuat sejajar dengan garis chamfer (garis yang berjalan dari ala nasi
sampai titik tertinggi dari porus acusticus externus) untuk bagian posterior dan sejajar garis pupil
untuk bagian anterior. Tinggi bite rim rahang atas 1,5-2 mm dibawah garis bibir atas/lower lip line
(pada waktu rest posisi). Alat yang digunakan adalah occlusal guide plane.
3. Centric relation record
Yaitu suatu relasi mandibula terhadap maksila pada suatu relasi vertikal yang ditetapkan pada
posisi mandibula paling posterior. HD = PM 2 mm. Pengurangan 2 mm diperoleh dengan cara
mengurangi bite rim rahang bawah dengan maksud sebagai free way space. Cara menentukan relasi
sentrik yaitu dengan mengintruksikan pasien untuk menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa
sehingga prosessus Condyloideus akan tertarik pada fossa bagian belakang karena tarikan dari otot
dan mengintruksikan untuk menelan berulang-ulang. Untuk mendapatkan sentrik relasi pasien disuruh
melakukan gerakan mandibula berulang-ulang sampai pasien biasa dengan oklusi tersebut.
Setelah mendapatkan posisi sentrik, bite rim diberi tanda tempat median line dan garis ketawa.
Median line, garis ketawa, high lip line, low lip line ditentukan kemudian dicek dengan cara
pasien dinstruksikan untuk membuka dan menutup mulut kemudian dilihat apakah garis tersebut
sudah tepat dan tetap kedudukannya dalam keadaan oklusi sentrik.
Rahang atas dan rahang bawah difiksasi dengan double V-groove shape, caranya: dibuat Vgroove pada rahang atas kira-kira P1 dan M1; pada rahang bawah daerah V-groove dikurangi kirakira 2 mm. Bite rim rahang bawah diberi gulungan malam kecil yang telah dilunakkan dibawah V
groove RA. V-groove pada rahang atas diolesi vaselin. Rahang atas dan bawah dikatupkan, mulut
dilihat apakah V-groove dan kontranya sudah tepat, kemudian lakukan membuka dan menutup
berulang-ulang.
4. Pemasangan pada articulator
Jenis articulator yang digunakan adalah anatomical type yang disebut free plane articulator.
Bagian-bagian articulator ini adalah: upper member, lower member, incisal guide pin dan mounting
table.
Cara kerja :
1. Tentukan besar derajat tonjol caninus superior dan premolar superior pertama.
2. Bite rim RA beserta modelnya diletakkan pada mounting table dengan pedoman : garis tengah bite rim
dan model RA berhimpit dengan garis tengah mounting table, tepi luar anterior bite rim RA
menyinggung garis incisal edge mounting table, jarum horizontal incisal guide pin ujungnya
menyentuh tepi luar anterior dari bite rim model RA dan tepat pada garis tengah bite rim.
3. Fiksasi dengan wax pada mounting table.
4. Buat adonan gips.
5. Upper member digerakkan ke atas dan adonan gips dituang perlahan pada bagian atas model kerja RA
lalu upper member digerakkan ke bawah sampai menekan gips yang ada pada model kerja RA.
6. Upper member dan lower member diikat dengan karet, rapikan gips yang memfiksir upper member
dengan model RA kemudian tunggu sampai keras.
7. Mounting table dilepas dari articulator kemudian articulator dibalik.
8. Bite rim RB diletakkan kembali pada bite rim RA sesuai dengan oklusinya.
9. Buat adonan gips, lower member diangkat ke atas dan adonan gips dituang pada model kerja RB
kemudian lower member digerakkan ke bawah sampai menekan adonan gips, setelah itu articulator
dibalik dan gips dirapikan.
PENYUSUNAN GIGI
Pemasangan gigi anterior:
11 21 : axisnya bersudut 5 terhadap mid. line

1.
2.
3.
1.

incisalnya menyentuh bite rim RB


bagian 1/3 permukaan labial agak depresi
12 22 : axisnya bersudut 10 terhadap mid. line
incisalnya berjarak 1-2 mm dari bite rim RB
permukaan labial agak ke palatal dan mengikuti lengkung bite rim
13 23 : axisnya tegak lurus/ hampir sejajar dengan median line
incisalnya menyentuh bite RB
bagian 1/3 labioservikal lebih prominent.
31 41 : bagian servikal permukaan labial sedikit depresi
axisnya tegak lurus dengan bidang insisal, sedikit ke labial
perhatikan overjet dan overbite
32 42 : axisnya sedikit miring ke mesial dengan permukaan labial tegak lurus
bidang insisal
letaknya diantara 12-11 dan 21-22
33 43 : axisnya sedikit ke mesial
bagian cervical permukaan labial lebih prominent
letak tonjolnya di antara 13-12 dan 22-23
Setelah pemasangan gigi anterior dilakukan try in untuk memeriksa:
Overbite dan overjet
Garis caninus (pada saat rest posisi terletak pada sudut mulut)
Garis ketawa (batas servikal gigi atas, gusi tidak terlihat saat ketawa)
Fungsi fonetik (pasien disuruh mengucapkan hurus s, f, t, r dan m)
Kunjungan V
Pada kunjungan ini sudah dilakukan pemasangan gigi-gigi posterior. Urutan pemasangan adalah gigi
posterior RA kemudian RB. Setelah itu try in pada pasien.
14 24: axis tegak lurus bite rim RB dan bidang oklusal
tonjol bukal dan lingual menyentuh bite rim RB, tonjol palatinal
menggantung 1 mm
15 25: axis tegak lurus bite rim RB
kedua tonjol menyentuh bite rim RB
16 26: sumbu gigi condong ke distal
tonjol mesiopalatinal menyentuh bite rim, tonjol lainnya menggantung

17 27: axis lebih miring daripada 6 6


semua tonjol menggantung
Untuk pemasangan gigi-gigi postrior rahang atas ini harus diperhatikan:
1.
dataran orientasi jika dilihat dari sagital harus membentuk kurva Manson
2.
dataran orientasi jika dilihat dari arah lateral harus membentuk kurva Von Spee
Gigi posterior RB yang harus dipasang pertama adalah gigi 36 dan 46
36 46: tonjol mesiopalatinal 16 26 tepat pada fossa central 36 46
relasi 16 26 terhadap 36 46 neutrooklusi (Klas I Angle)
34 44:- axisnya tegak lurus bite rim
letaknya di antara 13-14 dan 23-24 dengan tonjol bukal terletak di fossa sentral
antara
P1 dan Caninus RA
35 45:- axisnya tegak lurus bite rim
letaknya di antara 14-15 dan 24-25 dengan tonjol bukal terletak di fossa sentral
antara

P1 dan P2 RA
37 47: axisnya tegak lurus bite rim
tonjol mesiobukal 37 47 berada di antara tonjol mesiodistal 16 26 dan
tonjol mesio-bukal 17 27
Setelah pemasangan gigi posterior dilakukan try in.
Perhatikan inklinasi dan kontur gusi tiruannya. Perlu juga dilakukan pengamatan tehadap:
1.Oklusi.
2. Stabilisasi gaya working dan balancing side.
3. Estetis dengan melihat garis kaninus.
4. Fonetik dengan cara menyuruh pasien mengucapkan huruf S, D, O, M, R, A dan T dan lainnya
sebagainya dengan jelas dan tidak ada gangguan.
Dilakukan try in untuk mengevaluasi GTL sebelum diproses dengan cara melatih pasien untuk
memakai, merasakan dan beradaptasi dengan gigi tiruan tersebut :
1

Dilatih berfungsi : bicara, menelan, mengunyah

Bila ada kesulitan dalam berfungsi dicoba dengan latihan berkali-kali

Dicek estetis, retensi, stabilisasi, fonetik, dan oklusi sentrik

INSERSI
Saat ini protesa telah selesai diproses dan diinsersikan pada pasien. Hal yang perlu diperhatikan pada
pasien:
a. Retensi GTL, faktor yang mempengaruhi adalah:
1. Tepi GTL harus mengikuti batas forniks
2.
Jaringan keras harus dihindari untuk memberi kesempatan bergerak
3.
Protesa harus berelief sesuai dengan keadaan mulut
b. Stabilisasi, faktor yang mempengaruhi:
1.
Inklinasi gigi
2.
Lereng sendi / sudut luncur sendi
c. Oklusi
Pengecekan dilakukan dengan artikulating paper, bila ada traumatik oklusi dilakukan selective
grinding, yaitu penggerindingan permukaan oklusal gigi tiruan untuk mendapatkan suatu sentrik
oklusi gigi tersebut. Pengurangan menggunakan hukum BULL dan MUDL (pengurangan pada
permukaan bukal dan mesial pada rahang atas dan pengurangan permukaan lingual dan distal pada
rahang bawah), yakni pada working side.
d. Artikulasi
Fungsi fonetik mengucapkan huruf : s, r, m, p, d, f dan t.
e. Penyusunan gigi
Kemudian dilakukan pengecekan terhadap MMR, apakah ada perubahan atau tidak. Jika sudah tidak
ada perubahan dilakukan remounting.
Caranya: lakukan pencetakan RA dan RB dengan gigi tiruan masih terpasang dalam mulut pasien.
Pada waktu mengambil cetakan GTL, ikut terambil kemudian diisi dengan stone gips. Hasil cetakan
kemudian dipasang pada atikulator untuk mengecek kedudukan gigi tiruan terhadap gigi dan jaringan
pendukung gigi.
Tujuan dari remounting adalah :

Untuk mengecek oklusi protesa pada sebelum dan sesudah dipasang

1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.

1.
2.
3.
1.
2.
3.

Untuk mengetahui selektif grinding


Untuk mengetahui premature kontak
Apabila sudah tidak ada gangguan makan protesa dapat dipolis.
Instruksi untuk pemeliharaan protesa :
Protesa direndam dalam air sewaktu dilepas
Protesa dijaga kebersihannya
Protesa dijaga agar tidak mudah lepas
Instruksi Pasien:
Cara Pemakaian : pasien diinstruksikan untuk beradaptasi dengan protesa GTL yaitu dengan memakai
protesa tersebut secara terus menerus selama 2 x 24 jam kecuali pada waktu dibersihkan
Malam hari ketika tidur, protesa dilepas agar jaringan otot-otot di bawahnya dapat istirahat.
Pasien membersihkan protesanya setiap kali habis makan.
Apabila ada rasa sakit, gangguan bicara, protesa tidak stabil, pasien dianjurkan segera kembali ke
klinik.
Kontrol sesuai dengan waktu yang telah ditentukan guna pengecekan lebih lanjut dan bila nantinya
tidak ada gangguan, pasien bisa terus memakainya.
Prognosa: Baik, karena :
pasien kooperatif
kesehatan umum baik
kesehatan dan kebersihan mulut baik.
Kunjungan VII
Pasien datang untuk kontrol setelah pemakaian selama seminggu.
Kontrol pasien dilakukan untuk mengoreksi atau memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi. Pada
saat kontrol dilakukan pemeriksaan :
a. Subyektif :
ditanyakan apakah ada keluhan atau tidak.
ditanyakan apakah ada gangguan atau tidak.
ditanyakan apakah ada rasa sakit.
b. Obyektif;
dilihat keadan mukosa mulut, apakah ada peradangan atau perlukaan.
diperiksa retensi dan stabilisasi GTL.
diperiksa posisi GTL terhadap jaringan mulut.
MAKSILA MANDIBULA RELATIONSHIP

1.
2.
3.
4.

Oklusi sentrik adalah posisi kontak maksimal dari gigi geligi pada waktu mandibula dalam
keadaan sentrik, yaitu kedua kondisi berada dalam posisi bilateral simetris di dalam fossanya. Sentris
atau tidaknya posisi mandibula ini sangat ditentukan oleh panduan yang diberikan oleh kontak antara
gigi pada saat pertama berkontak. Keadaan ini akan mudah berubah bila terdapat gigi supra posisi
ataupun overhanging restoration.
Kontak gigi geligi karena gerakan mandibula dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Intercupal Contact Position (ICP), adalah kontak maksimal antara gigi geligi dengan antagonisnya
Retruded Contact Position (RCP), adalah kontak maksimal antara gigi geligi pada saat mandibula
bergerak lebih ke posterior dari ICP, namun RB masih mampu bergerak secara terbatas ke lateral.
Protrusif Contact Position (PCP) adalah kontak gigi geligi anterior pada saat RB digerakkan ke
anterior
Working Side Contact Position (WSCP) adalah kontak gigi geligi pada saat RB digerakkan ke lateral.

Selain klasifikasi diatas, secara umum pola oklusi akibat gerakan RB dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
1. Bilateral balanced occlusion, bila gigi geligi posterior pada kerja dan sisi keseimbangan, keduanya
dalam keadaan kontak
2. Unilateral balanced occlusion, bila gigi geligi posterior pada sisi kerja kontak dan sisi keseimbangan
tidak kontak
3. Mutually protected occlusion, dijumpai kontak ringan pada gigi geligi anterior, sedang pada gigi
posterior
4. Tidak dapat ditetapkan, bila tidak dikelompokkan dalamklasifikasi diatas. (Hamzah, Zahreni,dkk)
Oklusi memiliki 2 aspek. Aspek yang pertama adalah statis yang mengarah kepada bentuk, susunan,
dan artikulasi gigi geligi pada dan antara lengkung gigi, dan hubungan antara gigi geligi dengan
jaringan penyangga. Aspek yang kedua adalah dinamis yang mengarah kepada fungsi system
stomatognatik ang terdiri dari gigi geligi, jaringan penyangga, sendi
Dikenal 2 macam istilah oklusi yaitu:
Oklusi Ideal
Merupakan konsep teoretis dari struktur oklusal dan hubungan fungsional yang mencakup prinsip dan
karakteristik ideal yang harus dimiliki suatu keadaan oklusi. Menurut Kamus Kedokteran Gigi, oklusi
ideal adalah keadaan beroklusinya semua gigi, kecuali insisivus central bawah dan molar tiga atas,
beroklusi dengan dua gigi di lengkung antagonisnya dan didasarkan pada bentuk gigi yang tidak
mengalami keausan. Syarat lain untuk mendapatkan oklusi ideal antara lain:
Bentuk korona gigi berkembang dengan normal dengan perbandingan yang tepat antara dimensi
mesio-distal atau buko-lingual
Tulang, otot, jaringan disekitar gigi anatomis mempunyai perbandingan yang normal
Semua bagian yang membentuk gigi geligi geometris dan anatomis, satu dan secara bersama-sama
memenuhi hubungan yang tertentu
Gigi geligi terhadap mandibula dan cranium mempunyai hubungan geometris dan anatomis yang
tertentu
Karena gigi dapat mengalami atrisi akibat fungsi pengunyahan, maka bentuk gigi ideal jarang
dijumpai. Oklusi ini jarang ditemukan pada gigi geligi asli yang belum diperbaiki.
Oklusi Normal
Leory Johnson menggambarkan oklusi normal sebagai suatu kondisi oklusi yang berfungsi secara
harmonis dengan proses metabolic untuk mempertahankan struktur penyangga gigi dan rahang berada
dalam keadaan sehat. Oklusi dikatakan normal jika:
Susunan gigi di dalam lengkung gigi teratur dengan baik
Gigi dengan kontak proksimal
Hubungan seimbang antara gigi dan tulang rahang terhadap cranium dan muscular di sekitarnya
Kurva spee normal
Ketika gigi berada dalam kontak oklusal, terdapat maksimal interdigitasi dan minimal overbite dan
overjet
Cusp mesio-bukal molar 1 maksila berada di groove mesio-bukal molar 1 mandibula dan cusp distobukal molar 1 maksila berada di embrasure antara molar 1 dan 2 mandibla dan seluruh jaringan
periodontal secara harmonis dengan kepala dan wajah.
Klasifikasi dari Oklusi Gigi Geligi
Klasifikasi berikut berdasarkan pada klasifikasi Edward Angle (1899) walaupun berbeda
dalam beberapa aspek yang penting. Ini adalah klasifikasi dari hubungan antero-posterior lengkung
gigi-gigi atas dan bawah, dan tidak melibatkan hubungan lateral serta vertikal, gigi berjejal dan
malposisi lokal dari gigi-gigi.
1. Kelas 1

Hubungan ideal yang bisa ditolerir. Ini adalah hubungan antero-posterior yang sedemikian
rupa, dengan gigi-gigi berada pada posisi yang tepat di lengkung rahang, ujung gigi kaninus atas
berada pada bidang vertikal yang sama seperti ujung distal gigi kaninus bawah. Gigi-gigi premolar
atas berinterdigitasi dengan cara yang sama dengan gigi-gigi premolar bawah, dan tonjol antero-bukal
dari molar pertama atas tetap beroklusi dengan alur (groove) bukal dari molar pertama bawah tetap.
Jika insisivus berada pada inklinasi yang tepat, overjet inisisal adalah sebesar 3 mm.
Segitiga Sama Sisi Bonwill
Pada tahun 1899 untuk pertama kalinya, Bonwill menjelaskan bahwa pada orang dewasa laki-laki,
umumnya jarak antara titik tengah dari gigi seri tengah mandibula dan pusat-pusat di mana lengan
masing-masing sekitar 10,16 cm (empat inci) panjangnya. Itu disebut segitiga sama sisi Bonwill.

Kurva Kompensasi Oklusal dan Gigi


Semua permukaan lengkung gigi sesuai dengan lekukan. Jika dilihat dari aspek oklusal, setiap
lengkung gigi berbentuk huruf U. Tepi insisal dan ujung cusp bukal mengikuti garis melengkung di
sekitar tepi luar dari lengkung gigi; ujung cusp lingual gigi posterior mengikuti garis melengkung
hampir sejajar dengan ujung cusp bukal. Antara cusp bukal dan lingual adalah alur sulcular, yang
berjalan anteroposterior seluruh panjang gigi posterior. Lengkung mandibula cekung, sementara dan
lengkung rahang atas cembung. Antara satu lengkungan dengan lengkungan dikompensasi oleh
lengkungan lain, maka disebut kurva kompensasi.
Dalam pemuatan gigi tiruan, bidang oklusal merupakan pedoman yang penting dalam
penyusun gigi posterior dengan tujuan agar mastikasi menjadi efisien.Karena adanya inklinasi sagital
dari gigi-geligi posterior tersebut, maka bidang oklusal akan membentuk lengkung oklusal. Dari sisi
lateral, penyusunan morfologis ini disebut kurva Spee atau disut juga kurva kompensasi dimulai dari
kaninus hingga molar.
Secara fisiologis, terdapat kecenderungan alami bahwa kurva ini akan semakin dalam pada
masa pertumbuhan. Pertumbuhan RB ke arah bawah dan depan terkadang berlangsung lebih cepat dan
lama daripada RA. Jadi, selama masa pertumbuhan , kedalaman kurva Spee masih akan berubah-ubah
hingga kurva menjadi relative stabil pada dewasa muda.
Perubahan Kurva Spee secara patologis dapat menyebabkan berbagai hal. Perubahan ini
terjadi pada beberapa situasi seperti adanya geligi yang rotasi, tipping maupun ekstrusi. Melakukan

rotasi terhadap gigi yang sudah mengalami perubahan pada bidang oklusal dapat mengakibatkan
terjadi gangguan gerak protrusive posterior. Gangguan tersebut selanjutnya akan memulai terjadinya
aktivitas abnormal levator mandibula terutama otot masseter dan temporal yang selanjutnya dapat
menyebabkan keausan, fraktur rotasi dan disfungsi TMJ.
Tiga dimensi lengkung kurva pada gigi manusia
1. Kurva Spee (kurva anteroposterior dari bidang oklusal)
Graf Von Spee menggambarkan kelengkungan permukaan oklusal gigi dari ujung caninus mandibula
yang berjalan posterior mengikuti cusp bukal gigi posterior mandibula. Kurva ini berada dalam
bidang sagital saja. Efek dari Kurva Spee ditentukan dengan membandingkan bidang tiap gigi dalam
kurva dengan jalur putaran condycle. Lebih menyimpang bidang tiap gigi dari arah jalur putaran
condycle, semakin besar tinggi puncak. Lebih sejajar bidang tiap gigi dari jalur putaran condycle,
semakin pendek tinggi puncak.
Kedalaman kurva Spee dan kurva kompensasi merupakan hal yang penting dalam prosedur
perawatan. Kurva Spee dapat dijadikan referensi dalam merekonstruksi oklusal pada kasus kehilangan
gigi posterior sebagian atau seluruhnya. Tujuan utama yang paling penting adalah dalam hal ini untuk
mendapatkan stabilitas gigi tiruan. Perlu diperhatikan jika pada pasien yang telah mengalami
penurunan dimensi vertical, maka pembuatan cusp gigi yang tajam dengan kurva yang datar adalah
kontraindikasi karena dapat mengurangi freeway space. Pembuatan cups yang tajam, dalam, dan
curam yang tidak mengikuti kurva spee dalam bentuk fisiologis yang sebelumnya mengakibatkan
pengaruh traumatik pada jaringan penyangga sehingga jaringan periodontal dan tulang resopsi, dan
kehilangan lebih lanjut pada gigi sisa.
2.

Kurva Wilson (kurva dari sisi ke sisi)


Kurva wilson adalah kurva imajiner, medio-lateral dalam arah pada setiap sisi lengkung berisi tips
titik puncak pada gigi rahang bawah. dalam oklusi sentrik, gigi anterior rahang atas tumpang tindih
dengan gigi rahang bawah sekitar 2 mm.
3. Kurva Monson
Monson pada tahun 1920 menghubungkan kurva spee atau kelengkungan di bidang sagital dengan
lekukan kompensasi terkait dalam bidang vertikal dan mengusulkan bahwa pada rata-rata pada orang
dewasa bentuk lengkung mandibula sesuai sendiri ke suatu bagian dari lingkup 10,16 cm dengan jarijari tengahnya di glabella tersebut. kurva Monson didasarkan pada teori bola oklusi. itu menunjukkan
bahwa gigi mandibula bergerak di atas permukaan gigi rahang atas seperti pada permukaan lingkaran
dengan diameter 20,32 cm (8 inci).
Sudut Inklinasi Gigi Individual
Inklinasi masing-masing gigi terhadap bidang oklusal berbeda-beda. Inklinasi masing-masing
gigi meliputi inklinasi mesiodistal dan bukolingual atau bukopalatal.
Inklinasi gigi 1 :
Tepi incisal menempel bidang oklusi
Axis gigi dari sisi labial miring, membentuk sudut 5 derajat terhadap garis median
Inklinasi gigi 2
-Tepi incisal terletak 1-2 mm diatas bidang oklusal
- Axis gigi dari sisi labial lebih miring/membentuk sudut lebih dari 5 derajat dibanding gigi 1