Anda di halaman 1dari 8

Manajemen Hemoroid Pada Praktek Klinis Pribadi

Latar belakang
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis manajemen pada pasien hemoroid.
Metode
Menggunakan catatan medis pasien hemorid yang konsultasi di praktek klinis
pribadi di Hurlingham, Nairobi.
Hasil
Total 300 pasien dengan hemoroid dengan 2/3 usia pasien berada di bawah 50
tahun. Rasio perbandingan pria-wanita adalah 2,15:1 dan paling banyak terdapat
kasus dengan hematokezia. Sekitar 25% pasien di diagnosis dengan inspeksi anal,
75% lainnya adalah hemoroid internal yang tidak mengalami prolaps. 96% pasien
diperiksa dengan kolonoskopi 60cm dan sekitar 2,8% pasien tersebut ditemukan
mengalami malignansi pada rektum. Pembedahan darurat dilakukan pada tujuh
pasien yang mengalami hemoroid eksternal dan hemoroidektomi dilakukan pada
21 pasien. metode Ligasi dilakukan pada 181 pasien. tidak ada pasien yang
dilakukan ligasi yang mengalami komplikasi mayor, dan terdapat 2 pasien
hemoroidektomi yang mengalami komplikasi mayor.
Kesimpulan
Hemoroid adalah masalah yang sering ditemukan di klinis dan seharusnya
didiagnosis dengan akurat karena dengan manajemen yang tepat dapat mencegah
naiknya angka morbiditas. Hemoroid juga dapat terjadi oleh adanya kelainan pada
rektum bagian proksimal. Teknik Band ligation dapat meringankan gejala-gejala
yang muncul dengan baik.
Saran
Disarankan untuk dilakukan kolonoskopi 60cm sebelum mengobati hemoroid.

Pendahuluan
Hemoroid adalah pembesaran pada sekitar anus, pada lapisan ano-rektal dan
di bawahnya terdapat pembesaran pada pleksus pembuluh darah, pada jaringan
ikat longgar.
Hemoroid dibagi dua, yaitu internal dan eksternal. Hemoroid internal
apabila pembuluh darah vena pada pleksus hemoroid superior terlapisi oleh
membran mukosa, dan hemoroid eksternal apabila pembuluh darah vena pada
pleksus hemoroidalis inferior terlapisi oleh epitel dan kulit dibawah junction
mukokutan dan dapat beredar ke sirkulasi sistemik, dan intero-eksternal apabila
kedua jenis hemoroid tersebut ini saling berkaitan.
Dalam memahami patologi dan penatalaksanaan dari hemoroid, harus
diketahui teori mengenai perubahan dari lapisan anus dan juga hemoroid adalah
bagian yang normal dari anatomi anus. Dengan memahami teori diatas diharapkan
dapat mengontrol gejala yang muncul dan membuang jaringan yang masih bagus.
Diperkirakan hampir pada 50% populasi mengalami hemoroid pada usia 50
tahun. Berdasarkan fakta dimana hemoroid menjadi masalah keshatan yang sering
ditemukan pada populasi manusia dan gejalanya bervariasi tergantung kondisi
pasiennya, penting untuk mendiagnosis penyakit ini, dan memberikan terapi
dengan tepat. perdarahan merupakan gejala awal yang biasanya sering ditemukan.
Prolaps, yaitu penonjolan rektum yang melalui anus merupakan gejala lanjut pada
hemoroid. Sering ditemukan discharge perianal dengan didahului pruritus pada
hemoroid yang mengalami prolaps. Biasanya tidak terdapat nyeri, kecuali pada
beberapa kasus dan komplikasi tertentu. Diagnosis hemoroid internal ditegakkan
dengan proktoskopi, sedangkan pada hemoroid eksternal dapat dengan inspeksi
pada anus.
Hemoroid internal yang mengalami perdarahan dan prolaps diklasifikasikan
berdasarkan derajat di bawah ini:
1. Derajat I
2. Derajat II
3. Derajat III

: hemoroid dengan perdarahan namun tidak terjadi prolaps


: hemoroid dengan prolaps dan berkurang secara spontan
: hemoroid dengan prolaps dan membutuhkan reduksi

dengan digital
4. Derajat IV

: mengalami prolaps yang tidak bisa direduksi

Hemoroid eksternal biasanya tidak mengalami perdarahan, namun dapat


menyebabkan trombus dan nyeri akut yang muncul dikenal dengan hematom
dengan disertai nyeri akut pada daerah perianal.
Hemoroid

sudah

ditemukan

sejak

zaman

dahulu.

Hipokrates

mendeskripsikan penggunaan spekulum untuk memeriksa pasien, dan mengobati


hemoroid dengan obat suppositoria, kauterisasi, dan eksisi. Penatalaksanaan dasar
hemoroid tidak banyak berubah dari zaman ke zaman, namun dengan
ditemukannya teknik-teknik dan metode terbaru dalam beberapa tahun terakhir
terdapat beberapa perubahan dalam manajemen penatalaksanaan hemoroid.
Saat ini ligasi arteri hemoroidalis dengan bantuan transduser Doppler,
menjadikan pilihan dalam penatalaksanaan hemoroid derajat ringan, karena tidak
bersifat invasif. Mukosektomi dengan staples, seperti yang dijelaskan oleh Longo
biasanya dilakukan untuk hemoroid derajat III dan IV.
Di negara berkembang sebagian besar pada pasien hemoroid dilakukan
skleroterapi atau ligasi dengan karet untuk hemoroid derajat rendah, atau
hemoroidektomi untuk derajat berat atau hemoroid intero-eksternal.
Sampel dan metode.
Penelitian ini didesain dengan analisis retrospektif dengan sampelnya yaitu
semua pasien yang ditangani oleh penulis artikel sendiri. Total 300 catatan medik
pasien dianalisis berdasarkan usia, jenis kelamin, gejala klinis yang muncul,
penatalaksanaan dan hasil dari tindakan yang dilakukan. Setelah diperiksa dan
ditegakkan diagnosis, hemoroid kemudian di tindak lanjuti segera atau dengan
permintaan pasien; dengan ligasi karet pada hemoroid eksternal atau
hemoroidektomi pada hemoroid intero-eksternal. Penanganan lainnya yaitu
dengan meningkatkan asupan serat dan air, pelunak feses, dan obat-obatan
supositoria.
Ligasi karet pada hemoroid dilakukan pada pasien dengan dilakukan sedasi
intravena sebelumnya. Proktoskopi dilakukan pada seluruh pasien dan hemoroid
yang prolaps setelah dilakukan tindakan tersebut juga dilakukan ligasi. Awalnya
hanya satu bagian hemoroid saja yang dilakukan ligasi namun untuk selanjutnya

dilakukan 2 sampai 3 ikatan tergantung pada ukuran dan daerah yang mengalami
hemoroid.
Tindakan pembedahan dilakukan pada hemoroid internal derajat III dan IV,
intero-eksternal, hemoroid eksternal dan pada beberapa pasien yang menunjukkan
gejala kronis. Setelah dilakukan eksisi, luka bekas operasi ditutup rapat jika tidak
terdapat masalah pada lumen. Pembedahan emergensi dilakukan pada Pasien
dengan hemoroid eksternal dengan trombus dan nyeri yang sangat hebat.
Hasil
Dari 300 pasien hemoroid, 72 pasien adalah ras kaukasian, 58 asia, dan 170
pasien adalah ras afrika. Range usia disajikan pada gambar 1. Rasio jenis kelamin
laki-laki-perempuan adalah 2,15 : 1. Tabel 1 menunjukkan kasus yang paling
banyak terjadi pada ke 300 pasien hemoroid yang dijadikan sampel penelitian.
Gambar 1. Distribusi usia (per dekade)

Tabel 1. Gejala klinis yang muncul


Gejala

Jumlah Pasien

Hematokezia

127

Massa/bengkak pada anus


Discharge/pruritus

45
39

Nyeri/tidak nyaman pada anus


Perubahan kebiasaan BAB

41
93

lainnya

11

Diagnosis hemoroid ditegakkan dengan inspeksi anal pada 24,6% pasien


hematom perianal dengan trombus, hemoroid intero-eksternal dan hemoroid
eksternal. Pada pasien hemoroid internal, diagnosis ditegakkan dengan
pemeriksaan proktoskopi (266 pasien / 75,3%). Keseluruhan, 288 (96%) pasien
dilakaukan kolonoskopi 60cm untuk menyingkirkan adanya lesi pada bagian
proksimal kolon. Malignansi pada rektum ditemukan pada 8 pasien (2,8%).
Kehamilan, sebagai penyebab sekunder dari hemoroid ditemukan pada 39 pasien
(41%) dari 95 (31,7) pasien perempuan yang diperiksa, dimana pada 9 pasien
terdapat gejala hemoroid yang disertai sakit saat mikturisi dan 74 pasien (24,5%)
mengalami hemoroid yang berhubungan dengan konstipasi kronis. Terdapat 235
pasien (78,3%) pasien dengan hemoroid internal, 11 pasien (3,7%) dengan
hemoroid eksternal dan 54 pasien (18%) dengan hemoroid intero-eksternal.
Tabel 2 menunjukkan derajat hemoroid pada 235 pasien hemoroid internal.
191 pasien (81,2%) mengalami hemoroid derajat II, dan hanya 2 pasien (0.8%)
yang mengalami hemoroid derajat IV.
Tabel 2. Derajat hemoroid internal pada 235 pasien
Hemoroid
Derajat I

Pasien
35

%
14,9

Derajat II
Derajat III

191
7

81,3
3.0

Derajat IV
Total

2
235

0.8
100

9 dari 11 pasien hemoroid eksternal menunjukkan gejala trombus, 7 orang


diantanya memerlukan evakuasi hematoma segera untuk meringankan nyeri

akutnya. Sisanya ditanganin secara konservatif karena tidak menunjukkan gejala


yang berat. Tidak ada pasien yang mengalami komplikasi.
Dua puluh satu pasien ditawarkan untuk dilakukan hemoroidektomi. Dari 21
pasien hemoroidektomi, 2 diantaranya mengalami komplikasi. Satu pasien
mengalami perdarahan post-operatif dan dilakukan pembedahan ulang, dan pasien
lainnya mengalami striktur post-operatif yang memerlukan tindakan dilatasi
secara berkala. Pada follow up, kedua pasien yang mengalami komplikasi tersebut
menunjukkan perbaikan setelah dilakukan tindakan selanjutnya.
181 pasien dilakukan pengikatan pada hemoroid, 29 diantaranya mengalami
komplikasi minor. 16 dari 181 pasien memerlukan pengikatan ulang karena
terlepas dan terjadi hemoroid lagi; 2 dari 16 pasien tersebut memerlukan
hemoroidektomi untuk menghilangkan gejala yang muncul. Sisanya, 8 orang
mengalami retensi urin sehingga memerlukan kateterisasi, dan lainnya ditangani
dengan cara mandi menggunakan air hangat. 5 pasien mengalami nyeri sedang
samapai berat sehingga membutuhkan analgesik narkotik peroral.
Pembahasan
Hemoroid sering dijumpai pada praktik kedokteran dan membutuhkan
penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang akurat. Hal tersebut didukung
oleh kondisi apabila hemoroid disebabkan oleh adanya penyakit keganasan pada
bagian proksimal, apabila telat didiagnosis dapat memperburuk hasil tindakan
pengobatan hemoroid.
Lebih dari 50% (61,7%) pasien berusia di bawah 50 tahun, dan hal ini sesuai
dengan penelitian lainnya. Pada negara berkembang dengan populasi yang lebih
banyak orang muda nya, hemoroid menjadi lebih sering ditemukan dan akan
berdampak pada keadaan ekonomi pasien tersebut.
Diagnosis hemoroid dapat dilakukan dengan hanya melakukan inspeksi anal
pada seperempat populasi yang dijadikan sampel. 75% lainnya didiagnosis dengan
proktoskopi, meskipun seharusnya dilakukan rectal touche pada seluruh pasien
hemoroid. Sebagai tambahan dalam mendiagnosis hemoroid, dapat dilakukan
pemeriksaan lesi kolorectal proksimal untuk menentukan apakah hemoroid
tersebut merupakan primer atau sekunder. Pada 2,8% kasus penelitian ini

hemoroid sekunder diebebakan oleh adanya karsinoma rektum yang semakin


mempertegas bahwa semua pasien hemoroid seharusnya dilakukan sigmoidoskopi
atau kolonoskopi 60cm, sebagai dasar untuk melakukan terapi definitif dalam
penatalaksanaan hemoroid tersebut.
Karena penelitian ini dilakukan dalam setting praktek pribadi, mayoritas
pasien adalah hemoroid derajat rendah yang dapat ditangani dengan tindakan
ligasi ikatan karet. Tindakan tersebut lebih disukai dibandingkan dengan
hemoroidektomi, karena alasan nyeri yang ditimbulkan, efikasi perawatan dan
komplikasi yang mungkin muncul.
Pada penelitian ini sebagian besar pasien yang dilakukan ligasi tidak
terdapat komplikasi mayor, sedangkan 2 dari 21 pasin dengan hemoroidektomi
mengalami komplikasi mayor. Lebih lanjut lagi, ligasi hemoroid dapat dilakukan
dengan mudah pada pasien rawat jalan dan dapat dilakukan tanpa menggunakan
sedasi. Ligasi pada pasien rawat jalan terbukti aman dan efektif pada hemoroid
derajat I, II, dan III dengan angka morbiditas yang minimal.
Referensi
1. Sardinha TC, Corman ML. Hemorrhoids. Surg Clin North Am 2002; 82:115367, vi.
2. Orlay George. Haemorrhoids-a review. Australian family physician, 2003; 32:
523-6.
3. Hetzer FH, Wildi S, Demartines N. (New modalities and concepts in the
treatment of hemorrhoids) Neus in der differenzierten Behandlung des
Hamorrhoidalleidens. Schweizerische Rundschau fur Medizin Praxis. 2003;
92 (38): 1579-83.
4. Muller-Lobeck H.

(Ambulatory

hemorrhoid

therapy)

Ambulante

Hamorrhoidaltherapie. Der Chirurg; Zeitschrift fur alle Gebiete der operativen


Medizen. 2001; 72: 667-76.
5. Finco Cristiano, Sarzo Giacomo, Parise Paolo, Savastano Silvia, Merigliano
Stefano. (Advantages of surgical treatment of hemoeehoids with mechanical
sutures) Vantaggi del trattamento chirurgico della malattia emorroidaria
consuturatrice meccanica. Chirurgia Italiana 2002; 54: 835-9.
6. Lehur PA, Gravie JF, Meurette G. Circular stapled anopexy for haemorrhoidal
disease: results. Colorectal Dis. 2001; 3: 374-9.

7. Orrom W, Hayashi A, Rusnak C, Kelly J. Initial experience with stapled


anoplasty in the operative management of prolapsing hemorrhoids and
mucosal rectal prolapse. Am J Surg. 2002; 183: 519-24.
8. Law WL, Tung HM, Chu Kw, Lee FCW. Ambulatory

stapled

haemorrhoidectomy: a safe and feasible surgical technique. Hong Kong


medical journal = Xianggang yi xue za zhi / Hong Kong Academy of
Medicine. 2003; 9: 103-7.
9. Gupta Pj, Novel technique: radiofrequency coagulation a treatment
alternative for early-stage hemorrhoids. MedGenMed 2002; 4:1.
10. Uba AF, Ihezue CH, Obekpa PO, Iya D, Legbo JN. Open haemorrhoidectomy
revisited. Nigerian journal of medicine journal of the National Association
of Resident Doctors of Nigeria. 2001; 10: 185-8.
11. Cheetham MJ, Phillips RK. Evidencebased practice in haemorrhoidectomy.
Colorectal Dis. 2001; 2: 126-34.
12. Perez VF, Fernandez FA, Arroyo SA,
13. Serrano PP, Costa ND, Candela PF, Ferrer RR, Oliver GI, Lacueva GFj,
Calpena RR. Effectiveness of rubber band ligation in haemorrhoids and
factors related to relapse. Revista Espanola de enfermedades digestivas
organo official de la Sociedad Espanola de Patologia Digestiva. 2003; 95:1104, 105-9.
14. Vrzgula A, Bober J, Valko M, Franko J, Lukacova Z, Seginak V, (Rubber band
ligation of hemorrhoids in ambulatory care) Elasticka ligutura hemoroidalnych
uzlov v ambulantnej praxi. Rozhledy v chirurgii mesicnik ceskoslovenske
chirurgicke spolecnosti. 2001; 80;(7): 353-5.